Anda di halaman 1dari 68

1

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA


PADA MATA PELAJARAN IPA BIOLOGI MELALUI PENDEKATAN
GUI DED I NQUI RY DI SMP ADVENT AMBIA














Oleh :

YANCE TASUMOLANG
10 310 831


SKRIPSI



Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)






JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MANADO
2014




2

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO :
Berdoa, tabah, sabar, penuh semangat dan
sikap pantang menyerah adalah kunci keberhasilan
Sebab Aku ini mengetahui rancangan rancangan apa yang ada padaKu mengenai
kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera
dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan
kepadamu hari depan yang penuh harapan
(Yeremia 29 :11)
Bermimpilah setinggi langit, karena jika seandainya anda terjatuh
maka anda akan jatuh diantara bintang-bintang...

PERSEMBAHAN :
Skripsi ini ku persembahkan kepada :
Tuhan Yesus Kristus sebagai sumber Kehidupan, Pengetahuan, Hikmat,
Kekuatan, dan Pengharapan.
Yang tercinta Mama
Kakak -kakakku yang tersayang
Almamater tercinta Universitas Negeri Manado





3

ABSTRAK
YANCE TASUMOLANG, 2014. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Mata
Pelajaran IPA Biologi Melalui Pendekatan Guided I nquiry di SMP Advent Ambia,
Jurusan Biologi, Fakultas Mate matika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri
manado 2010. Pembimbing (1) Dra. E, H. Adil, M.S. (2) Dra. F.N. Nanlohy, M.P,DHET

Latar belakang penelitian ini adalah kurangnya minat, keaktifan,, dan perhatian siswa
dalam belajar, yang disebabkan karena guru kurang inovatif dalam kegiatan pembelajaran
terhadap materi sistem gerak pada tumbuhan mengakibatkan hasil belajar yang diperoleh
siswa rendah. Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa
pada mata pelajaran IPA Biologi melalui pendekatan guided inquiry dengan pokok
bahasan sistem gerak pada tumbuhan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP
Advent Ambia Kabupaten Talaud. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar IPA
Biologi, khususnya pada pokok bahasan Sistem Gerak Tumbuhan saat dilakukan tindakan
mengalami peningkatan hasil belajar. Ini dapat di lihat pada siklus II dengan ketuntasan
belajar secara klasikal mencapai 91,42 % sehingga pelaksanaan tindakan dapat dikatakan
berhasil. Tindakan pembelajaran biologi dengan menggunakan Pendekatan guided
inquiry dapat meningkatkan hasil belajar siswa,

Kata kunci : Pembelajaran, IPA, Biologi, Model Pembelajaran, Guided I nquiry















4

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis naikkan hanya bagi Tuhan Yesus Kristus yang melalui Roh
Kudus telah memberikan kekuatan, anugerah, kemampuan dan segala pengertian sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul : Peningkatah Hasil Belajar Siswa
Pada Mata Pelajaran I PA Biologi Melalui Pendekatan Guided I nquiry Di SMP Advent
Ambia
Penulis menyadari dalam penyelesaian skripsi ini adalah hanya karena anugerah dari
Tuhan. Karena melihat keterbatasan yang dimiliki oleh penulis, membuktikan bahwa kita
sepenuhnya harus bergantung hanya kepada Tuhan. Tuhan memberikan petunjuk melalui
berbagai pihak yang dari pada merekalah penulis mendapat bimbingan dan arahan dalam
menyelesaikan skripsi ini.
Penelitian dan penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang
tulus dari hati dan penghargaan kepada :
1. Prof. Dr. Ph. E. A. Tuerah, M.Si, DEA, selaku Rektor Universitas Negeri Manado,
2. Prof. Dr. C. Poluakan,M.Si, selaku Dekan FMIPA UNIMA dan para Pembantu
Dekan.
3. Dr. Herry M. Sumampouw,M.Pd, selaku Ketua Jurusan Biologi FMIPA UNIMA,
4. Dra. E. H. Adil, M.S, selaku Pembimbing I dalam penulisan skripsi ini,
5. Dra. F. N. Nanlohy, MP, DHET selaku Pembimbing II dan sekaligus Pembimbing
Akademik selama studi,
6. Prof. Dr. S. Simanjuntak., M.S dan Dr. S. P. Gedoan, SP.M.P selaku Penguji yang
selalu membantu demi perbaikkan skripsi ini serta memberikan motivasi &
dorongan kepada penulis,
7. Seluruh Dosen Jurusan Biologi FMIPA UNIMA yang telah mendidik,
membimbing dan membantu penulis menyelesaikan studi,
8. Keluargaku yang kucintai Mamaku Tersayang Hulda Maniara, Mama ara, Kakak-
kakaku Usman dan Usi (Kel,Tasumolang-Pangisian), Nikson, Alma, Hosea,
Mahlon, Yeni, Ratni, Keluarga Parese-Tasumolang. Yang saya kasihi dan sayangi
(Miquel, Gabriel, Firdaus) Serta Feiby Umbas, tak lupa juga (Almarhuma) mama


5

tenga: Desterina Maniara yang saya cintai. bahkan semua keluarga yang tidak bisa
disebutkan satu-persatu yang dengan penuh cinta kasih selalu mendoakan,
memotivasi dan memberikan apa yang kubutuhkan serta menanti keberhasilanku
dalam penyelesaian studi,
9. Para Hamba Tuhan Gereja Pekabaran Injil Jalan Suci lokal Ensem: Keluarga
Tuwongkesong-Lalimbat, Papa Embo Saprianus Loronusa dan keluarga, serta Para
Penatua. Yang tak putus-putusnya mendoakan saya dalam masa studi,
10. Teman teman angkatan 2010, lebih spesialnya Biologi Kelas A (Stenli, Jurles,
Made, Risqi, Stefi, Olvi, Ita, Maya, Tiwi, Mario, Iko, Jir, Kris, ina, dan teman-
teman lainya yang selalu memberikan inspirasi bagi penulis,
11. Teman-teman kost Pondok Maria: Anggi, Iin, Rian, Wanto, Ino, Henra, Regen,
Stenli, Ekel Rihat dan semua teman yang tak di cantumkan namanya, yang tak
putus-putusnya memberikan semangat,
12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satupersatu, yang telah membantu
penulis dalam berbagai aspek selama penyelesaian studi.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih memiliki banyak kekurangan layaknya
penulis yang tidak sempurna. Karena itu, kritik dan saran yang membangun dari semua
pihak sangat penulis hargai dan harapkan demi kemajuan bersama. Harapan penulis,
semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua khususnya dalam kemajuan pendidikan
biologi.
Tondano April 2014

Penulis







6

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ..................................................................................................... i
MOTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................................................. iii
ABSTRAK ............................................................................................................................... iv
KATA PENGANTAR ............................................................................................................. v
DAFTAR ISI ............................................................................................................................ vii
DAFTAR TABEL .................................................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................................ xi

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah ................................................................................................. 1
B. Identifikasi Masalah ....................................................................................................... 4
C. Pembatasan Masalah ...................................................................................................... 4
D. Perumusan Masalah ........................................................................................................ 5
E. Tujuan Penelitian ............................................................................................................ 5
F. Manfaat Penelitian .......................................................................................................... 5
BAB II LANDASAN TEORI .................................................................................................. 6
A. Kajian Teori .................................................................................................................... 6
1. Model Pembelajaran .................................................................................................. 6
2. Pembelajaran Inquiry ................................................................................................. 7
3. Inquiry dan Pembelajaran IPA ................................................................................... 9
4. Guided Inquiry ........................................................................................................... 15
5. Langkah-Langkah Pembelajaran Guided Inquiry ...................................................... 16
6. Aktivitas Belajar ........................................................................................................ 18
7. Hasil Belajar .............................................................................................................. 19
B. Kerangka Berpikir .......................................................................................................... 20
BAB III METODE PENELITIAN .......................................................................................... 21
A. Rancangan Penelitian .................................................................................................... 21
B. Definisi Operasional ...................................................................................................... 23


7

C. Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................................................... 23
D. Teknik Pengumpulan Data ............................................................................................ 23
E. Analisis Data .................................................................................................................. 24
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ......................................................... 25
A. Hasil Penelitian ............................................................................................................. 25
1. Hasil Kegiatan Siswa ................................................................................................. 25
2. Hasil Evaluasi Tertulis ............................................................................................... 26
B. Pembahasan Hasil Penelitian ......................................................................................... 33
C. Refleksi Hasil Penelitian ............................................................................................... 35
BAB V PENUTUP .................................................................................................................. 37
A. Kesimpulan .................................................................................................................... 37
B. Saran .............................................................................................................................. 37
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 38
LAMPIRAN-LAMPIRAN ...................................................................................................... 39













8

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Nilai Hasil LKS Siklus I dan II .................................................................. 25
Tabel 2 Data Hasil Belajar Siswa Pra-Siklus .......................................................... 26
Tabel 3 Data Hasil Belajar Siswa Siklus I .............................................................. 28
Tabel 4 Data Hasil Belajar Siswa Siklus II ............................................................. 30
Table 5 Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Pra-tindakan s.d Siklus II ............... 32



















9

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Gambar Siklus PTK ............................................................................... 21
Gambar 2 Gambar Hasil Belajar Pra-Tindakan ...................................................... 27
Gambar 3 Gambar Hasil Belajar Siklus I ............................................................... 29
Gambar 4 Gambar Hasil Belajar Siklus II .............................................................. 31
Gambar 5 Gambar Hasil Belajar Pra-Tindakan s.d Siklus II .................................. 32




















10

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Lampiran 2 Skenario Pembelajaran Siklus I
Lampiran 3 Skenario Pembelajaran Siklus II
Lampiran 4 Lembar Kerja Siswa Siklus I
Lampiran 5 Lembar Kerja Siswa Siklus II
Lampiran 6 Soal Individu Siklus I
Lampiran 7 Soal Individu Siklus II
Lampiran 8 Lembara Pengamatan Proses KBM Responden Guru Siklus I
Lampiran 9 Lembara Pengamatan Proses KBM Responden Guru Siklus II
Lampiran 10 Lembar Pengamatan Siswa dalam KBM Siklus I
Lampiran 11 Lembar Pengamatan Siswa dalam KBM Siklus II















11

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Dunia pendidikan terutama di Indonesia selalu berusaha memperbaiki
mutunya, salah satu usaha yang dilakukan dengan memperbaharui kurikulum dan
perencanaan mengajar yang harus dilaksanakan secara berencana, terarah dan
bertujuan dalam rangka mengoptimalisasikan hasil belajar peserta didik. Salah satu
faktor yang menentukan hasil belajar adalah kemampuan guru dalam memilih dan
mendesain model mengajar serta menata kegiatan pembelajaran.
Perwujudan peserta didik yang nantinya menjadi masyarakat berkualitas
menjadi tanggung jawab pendidikan terutama dalam mempersiapkan peserta didik
menjadi subjek yang makin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang
tangguh, kreatif, mandiri dan profesional pada bidangnya masing-masing.
Di bidang pendidikan, model pembelajaran digunakan untuk dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan
Nasional juga mencanangkan Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan pada
tanggal 2 Mei 2002. Namun demikian berbagai indikator mutu pendidikan belum
menunjukkan peningkatan yang berarti. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota
menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang menggembirakan, namun
sebagian lainnya masih memprihatinkan. Dimaklumi bahwa hasil belajar siswa
tidak semata-mata ditentukan oleh proses pembelajaran, banyak faktor-faktor lain
yang berkontribusi antara lain, kualitas guru, sarana dan prasarana sekolah,
kurikulum, dan motivasi siswa. Banyak dari hal-hal tersebut berkaitan dengan
ruang lingkup nasional maupun ruang lingkup sekolah, (Sustrisno, 2000 : 31).


12

Untuk meningkatkan mutu pendidikan perlu perubahan pola pikir untuk
mengantisipasi perubahan yang akan terjadi. Pembelajaran pola pikir perlu diubah
karena dari sekedar memahami konsep dan prinsip keilmuan siswa juga harus
memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu dengan menggunakan konsep dan
prinsip keilmuan yang telah dimengertinya sekaligus mengembangkan
ketrampilanya.
Pembelajaran dengan inkuiri/penemuan merupakan satu pilar penting dalam
model pembelajaran IPA yang melibatkan proses ilmiah. Dengan pendekatan
pembelajaran guided inquiry/penemuan terbimbing ini sebagian besar melalui
keterlibatan aktif siswa dengan konsep dan prinsip. guided inquiry memberikan
pengalaman-pengalaman belajar yang nyata dan aktif kepada siswa mereka di latih
bagaimana memecahkan masalah, membuat keputusan dan mengembangkan
keterampilan di bawah bimbingan guru. Pembelajaran dengan guided inquiry
memotifasi mereka untuk melanjutkan pekerjaan hingga menemukan jawaban
karena kita mengajar suatu bahan kajian / konsep tidak untuk menghasilkan
perpustakaan hidup tentang konsep, tetapi lebih di tujukan untuk membuat siswa
mengembangkan pemikiran ke arah yang lebih objektif, rasional dan tidak
emosional sehingga dalam rangka menuju tingkat kedewasaannya mereka dapat
membuat keputusan, memahami dan menilai mana yang baik dan mana yang buruk
(Anas Sudijono 1995).
Strategi pembelajaran guided inquiry lebih menekankan pada proses
penemuan dan peranan aktif siswa baik fisik maupun mental dalam proses
pembelajaran, sehingga diperlukan berbagai latihan melalui proses ilmiah atau
eksperimen. Proses penemuan diberikan kepada siswa melalui prosedur pemecahan


13

masalah secara ilmiah, strategi pembelajaran dengan penemuan terbimbing mampu
meningkatkan minat belajar siswa, yang diharapkan dengan iklim kelas dan
motifasi siswa menjadi lebih baik Herron (1971: 171-212).
Berdasarkan informasi dari guru bidang studi biologi di SMP Advent
Ambia. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA Biologi belum maksimal atau
masih kurang, berdasarkan data raport kelas VIII semester I tahun ajaran 2013-
2014. Siswa yang mencapai 7,0 secara klasikal belum mencapai ketuntasan 85%
sedangkan yang bisa mencapai hanya 70%. Hal ini disebabkan karena banyak siswa
yang masih menemui kesulitan dalam proses belajar mengajar sikap siswa saat
pembelajaran masih kurang yaitu dengan belum fokus pada pelajaran. Iklim kelas
juga masih kurang baik karena siswa-siswa masih sering berbicara dengan teman-
temanya sehingga kelas menjadi ramai. Motivasi siswa masih rendah hal ini dapat
dilihat berdasarkan banyaknya siswa yang kurang memperhatikan saat proses
pembelajaran. Ketrampilan guru dalam mengajar masih kurang seperti kurangnya
ketrampilan memberikan variasi pembelajaran, Keterampilan bertanya,
keterampilan membuka dan menutup pembelajaran dan keterampilan dalam
diskusi. Hal ini merupakan masalah yang dihadapi dalam kelas tersebut. Kondisi
rendahnya kualitas pembelajaran seperti ini tentunya sangat tidak diharapkan dalam
proses belajar mengajar, sehingga membutuhkan solusi dalam memecahkan
masalah tersebut yaitu dengan penerapan suatu strategi pembelajaran. Penyampaian
materi pelajaran oleh guru lebih banyak dengan ceramah, memberikan informasi
dan menjelaskan . Hanya sebagian kecil waktu belajar mengajar digunakan untuk
kegiatan siswa, itupun hanya untuk mencatat dan melaksanakan evaluasi. Jika
dilihat dari keadaan tersebut siswa itu sendiri menjadi siswa yang pasif yang tidak


14

dapat menentukan atau menyimpulkan suatu konsep/prinsip dari materi yang telah
diterimanya, siswa juga tidak akan termotifasi untuk belajar dan menurunnya
aktivitas siswa sebagai subjek belajar. Dengan demikian sikap ilmiah yang
diharapkan dari dalam diri siswa tidak muncul dan akibatnya sangat mempengaruhi
hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran IPA Biologi.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti mengidentifikasi
masalah tersebut sebagai berikut:
1. Pemilihan pendekatan dan metode pembelajaran yang diberikan pada siswa
kurang tepat.
2. Proses belajar mengajar di kelas guru kurang memberikan kesempatan kepada
siswa untuk aktif
3. Metode pembelajaran yang paling banyak digunakan adalah metode ceramah.
4. Masih kurangnya penerapan model guided inquiry dalam proses pembelajaran.
C. Pembatasan Masalah
Masalah pokok dalam penelitian ini dibatasi pada peningkatan hasil belajar
siswa dalam mata pelajaran IPA Biologi dengan pokok bahasan sistem gerak pada
tumbuhan di SMP Advent Ambia kelas VIII Kepulauan Talaud.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah, maka dalam penelitian ini
dirumuskan sebagai berikut :
Apakah dengan pendekatan guided inquiry dapat meningkatkan hasil belajar siswa
pada mata pelajaran IPA Biologi dengan pokok bahasan sistem gerak pada
tumbuhan di kelas VIII SMP Advent Ambia Kabupaten Kepulauan Talaud ?



15

E. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA
Biologi melalui pendekatan guided inquiry dengan pokok bahasan sistem gerak
pada tumbuhan di kelas VIII SMP Advent Ambia Kabupaten Talaud.
F. Manfaat Penelitian
a. Dapat dijadikan bahan informasi ilmiah dan menambah wawasan tentang
manfaat penggunaan model pengajaran yang sesuai dengan situasi siswa dan
materi pelajaran
b. Bagi guru, sebagai bahan acuan dalam melaksanakan tugas profesi guru
yang profesional sebagai pendidik dan pengajar serta pembimbing.
c. Bagi siswa, sebagai wadah latihan, menarik kesimpulan, menerapkan dan
mengkomunikasikan, sikap berani mengemukakan pendapat, ide dan
menghargai pendapat orang lain.
d. Bagi sekolah, dapat dijadikan sebagai informasi dalam rangka
mengembangkan mutu proses pembelajaran.








16

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Model Pembelajaran
Model pembelajaran telah didefinisikan dalam bermacam-macam cara.
Beberapa model mengajar dikembangkan untuk menunjukan perbedaan-perbedaan
pendekatan dalam proses mengajar sehingga diharapkan terjadi perubahan tingkah
laku para siswa. Model mengajar dikembangkan dalam mengajar untuk mendorong
guru dalam meningkatkan kemampuan menyampaikan pelajaran yang dapat
menjangkau semua siswa.
Model mengajar didefinisikan sebagai suatu pola mengajar yang
memberikan proses spesifikasi dan penciptaan situasi lingkungan tertentu yang
menyebabkan para siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan khusus pada
tingkalaku mereka Hamalik (2006 : 28). Dengan kata lain, penciptaan suatu situasi
lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Model diartikan sebagai
kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman yang melakukan kegiatan.
Model dapat dipahami sebagai: (1). Suatu tipe atau desain, (2). Suatu deskripsi atau
analogi yang dipergunakan untuk membantu proses visualisasi sesuatu yang tidak
dapat dengan langsung di amati, (3). Suatu system asumsi-asumsi, data-data,dan
referensi yang dipakai untuk menggambarkan secara matematis suatu obyek atau
peristiwa, (4). Suatu desain yang disederhanakan dari suatu sistem kerja, suatu
terjemahan realita yang disederhanakan, (5). Suatu
deskripsi dari suatu sistem yang mungkin atau imajiner, dan (6). Penyajian yang
diperkecil agar dapat menjelaskan dan menunjukan sifat atau bentuk aslinya.
Komaruddin dalam Syaiful, 2006 : 175.


17

Atas dasar pengertian tersebut maka model mengajar dapat dipahami
sebagai kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang
sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk
mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perencanaan
mengajar bagi para guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran (Syaiful, 2006
: 176).
2. Pembelajaran Inkuiri
Salah satu model pembelajaran yang sangat konstruktivis adalah model
belajar inkuiri. Dalam model belajar ini siswa dilibatkan secara aktif berpikir dan
menemukan pengertian yang ingin diketahuinya. Dalam model pembelajaran ini
siswa dilibatkan dalam proses penemuan melalui pengumpulan data dan tes
hipotesis. Pengetahuan dan keterampilan yang siswa diperoleh siswa diharapkan
bukan hasil mengingat fakta-fakta, tetapi hasil dari penemuan sendiri. Jadi,
Pembelajaran biologi berbasis inkuiri akan mengarahkan siswa dalam kegiatan
yang akan mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep biologi
sebagaimana para saintis mempelajari dunia alamiah.
Gulo (2002: 84) dalam bukunya yang berjudul strategi belajar mengajar
menyebutkan bahwa: Pengertian inkuiri yang dalam bahasa inggris, berarti
pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Pembelajaran inkuiri berarti suatu
rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan
siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis,
sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya
diri. Keterlibatan siswa secara maksimal dalm proses kegiatan belajar adalah


18

kegiatan mental intelektual da sosial emosional, sehingga kegiatan dapat terarah
secara logis dan sistematis.
Sedangkan Trowbridge dan Bybee dalam Suparno 2007, bahwa secara
umum inquiry adalah proses para saintis mengajukan pertanyaan tentang alam
dunia ini dan bagaimana mereka secara sistematis mencari jawabannya . dari
pengertian tersebut dapat diartikan secara jelas bahwa model inkuiri ini
menggunakan prinsip metode ilmiah dalam menemukan suatu prinsip, hukum,
ataupun teori.
Mulyasa (2006) berpendapat bahwa pembelajaran inkuiri adalah model
pembelajaran yan mampu menggiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah
ditetapkan selama belajar. Inkuiri menempatakan peserta didik sebagai subyek
belajar yang aktif. Kendati siswa sebagai sebagi subyek dalam belajar yang harus
berperan aktif, namun peran guru tetap sangat penting sebagai komponen proses
belajar mengajar. Karena guru mempunyai kewajiban untuk mengarahkan siswa
untuk melakukan kegiatan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melontarkan
pertanyaan, memberikan komentar, dan saran kepada siswa.
Inkuiri adalah sebuah sistem atau cara dalam melihat sebuah pengetahuan
atau hal baru. Cara pandang Inkuiri membantu pengembangan pola dan cara
berpikir yang akan terus bertahan dan berkembang dalam perjalanan siswa sebagai
pembelajar. Apabila cara berpikir tersebut sudah menjadi cara berpikir siswa, maka
siswa akan menjadi pemikir yang kreatif dan pribadi yang mampu memecahkan
masalah.
Adapun ciri-ciri pembelajaran dengan menggunakan inkuiri adalah sebagai
berikut: a) Guru manyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk jadi, tetapi


19

siswalah yang diberi peluang untuk mengadakan penelaahan penyelidikan dan
menemukan sendiri jawabannya melalui teknik pemecahan masalah; b) Siswa
menemukan masalah sendiri atau mempunyai keinginan sendiri untukk
memecahkan masalah; c) Masalah dirumuskan seoperasional mungkin, sehingga
terlihat kemungkinannya untuk dipecahkan; d) Siswa merumuskan hipotesis, untuk
menuntun mencari data; e) Siswa menyusun cara-cara pengumpulan data dengan
melakukan eksperimen, mengadakan pengamatan, membaca atau memanfaatkan
sumber lain yang relevan; f) Siswa melakukan penelitian secara individual atau
kelompok untuk pengumpulan data; g) Siswa mengolah data dan mengambil
kesimpulan.
3. inquiry dalam Pembelajaran IPA
Membahas pendidikan berbasis inkuri, sama dengan kita membahas
pendekatan pendidikan multi dimensi. Ibrahim (2007: 1) memandang terdapat
banyak intepretasi mengenai inkuiri ini, mulai dari konstruktivisme, pendekatan
pemecahan masalah, pembelajaran berbasis projek dan sebagainya, kita akhirnya
akan menemukan bahwa inti dari inkuiri adalah proses yang berpusat pada siswa.
Semua pembelajaran dimulai dengan pebelajar. Apa yang diketahui siswa dan apa
yang ingin mereka lakukan dan pelajari merupakan dasar utama pembelajaran. Dari
sudut pandang siswa, metode pembelajaran ini merupakan akhir dari paradigm
kelas belajar melalui mendengar dan memberi mereka kesempatan mencapai tujuan
yang nyata dan autentik. Bagi guru, pendidikan berbasis inkuri merupakan akhir
dari paradigma berbicara untuk mengajar dan mengubah peran mereka menjadi
kolega dan mentor bagi siswanya. Dalam matapelajaran sains, Muslimin Ibrahim
(2007: 1) melihat inkuiri sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan proses


20

penyelidikan alam atau materi alam, dalam rangka menjawab pertanyaan dan
melakukan penemuan melalui penyelidikan untuk memperoleh pemahaman baru.
Selanjutnya, Ibrahim (2007: 1), mendefinisikan inkuiri sebagai suatu proses
untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan
atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap
pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis
dan logis. Secara umum, inkuiri merupakan proses yang bervariasi dan meliputi
kegiatan-kegiatan mengobservasi, merumuskan pertanyaan yang relevan, meng-
evaluasi buku dan sumber-sumber informasi lain secara kritis, merencanakan
penyelidikan atau investigasi, mereview apa yang telah diketahui, melaksanakan
percobaan atau eksperimen dengan menggunakan alat untuk memperoleh data,
menganalisis dan menginterpretasi data, serta membuat prediksi dan mengko-
munikasikan hasilnya. (Depdikbud, 1999) Menurut Standar Nasional Pendidikan
AS, Pendidikan Sains di Amerika Serikat, inkuiri digunakan dalam dua terminologi
yaitu sebagai pendekatan pembelajaran (scientific inquiry) oleh guru dan sebagai
materi pelajaran sains (science as inquiry) yang harus dipahami dan mampu
dilakukan oleh siswa. Sebagai strategi pembelajaran, inkuiri dapat
diimplementasikan secara terpadu dengan strategi lain sehingga dapat membantu
pengembangan pengetahuan dan pemahaman serta kemampuan melakukan
kegiatan inkuiri oleh siswa (National Science Education Standards, 1996).
Kuhlthau dan Todd (2007: 1) memaknai Guided Inquiry sebagai sebuah
cara guru dalam membimbing siswa membangun pengetahuan dan pemahaman
yang mendalam mengenai materi pelajaran, melalui inkuiri, yang direncanakan


21

dengan hatihati dan diawasi dengan seksama, namun gradual, juga membekali dan
menga-rahkan siswa menuju pembelajaran yang bebas.
Berdasarkan komponen-komponen dalam proses inkuiri yang meliputi topik
masalah, sumber masalah atau pertanyaan, bahan, prosedur atau rancangan
kegiatan, pengumpulan dan analisis data serta pengambilan kesimpulan. Muslimin
Ibrahim, (2007: 2) membedakan inkuiri menjadi lima tingkat yaitu praktikum
(tradisional hands-on), pengalaman sains terstruktur (structured science
experiences), inkuiri terbimbing (guided inkuiri), inkuiri siswa mandiri (student
directed inquiry), dan penelitian siswa (student research). Klasifikasi inkuiri
menurut Bonnstetter ini didasarkan pada tingkat kesederhanaan kegiatan siswa dan
dinyatakan sebaiknya penerapan inkuiri merupakan suatu kontinum yaitu dimulai
dari yang paling sederhana terlebih dahulu.
Praktikum (traditional hands-on) adalah tipe inkuiri yang paling sederhana.
Dalam praktikum, guru menyediakan seluruh keperluan mulai dari topik sampai
kesimpulan yang harus ditemukan siswa dalam bentuk buku petunjuk yang
lengkap. Pada tingkat ini komponen esensial dari inkuiri, yakni pertanyaan atau
masalah tidak muncul, oleh karena itu, Muslimin Ibrahim, (2007: 3), menyatakan
bahwa praktikum tidak termasuk kegiatan inkuiri. Tipe inkuiri berikutnya ialah
pengalaman sains terstruktur (structured science experiences), yaitu kegiatan
inkuiri di mana guru menentukan topik, pertanyaan, bahan dan prosedur sedangkan
analisis hasil dan kesimpulan dilakukan oleh siswa. Jenis yang ketiga ialah inkuiri
terbimbing (guided inquiry), di mana siswa diberikan kesempatan untuk bekerja
merumuskan prosedur, menganalisis hasil dan mengambil kesimpulan secara
mandiri, sedangkan dalam hal menentukan topik, pertanyaan dan bahan penunjang,


22

guru hanya berperan sebagai fasilitator. Inkuiri siswa mandiri (student directed
inquiry), dapat dikatakan sebagai inkuiri penuh, karena pada tingkatan ini siswa
bertanggungjawab secara penuh terhadap proses belajarnya, dan guru hanya
memberikan bimbingan terbatas pada pemilihan topik dan pengembangan
pertanyaan. Tipe inkuiri yang paling kompleks ialah penelitian siswa (student
research). Dalam inkuiri tipe ini, guru hanya berperan sebagai fasilitator dan
pembimbing sedangkan penentuan atau pemilihan dan pelaksanaan proses dari
seluruh komponen inkuiri menjadi tangungjawab siswa (Muslimin Ibrahim, 2007:
3).
Herron, (1971: 171-212), telah lebih dulu mengkaji guided inquiry ini. Ia
membagi guided inquiry ke dalam empat (4) tingkatan, ialah
Confirmation/Verification, Structured Inquiry, Guided Inquiry, dan Open Inquiry.
Macam bimbingan guru pada siswa untuk tiap tingkatan guided inquiry ini
ditabulasikan berikut.
Guided inquiry merupakan salah satu model pembelajaran yang berperan
penting dalam membangun paradigma pembelajaran konstruktivistik yang
menekankan pada keaktifan belajar siswa. Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk
menumbuhkan kemampuan siswa dalam menggunakan keterampilan proses dengan
merumuskan pertanyaan yang mengarah pada kegiatan investigasi, menyusun
hipotesis, melakukan percobaan, mengumpulkan dan mengolah data, mengevaluasi
dan mengkomunikasikan hasil temuannya dalam masyarakat belajar. Kegiatan
inkuiri sangat penting karena dapat mengoptimalkan keterlibatan pengalaman
langsung siswa dalam proses pembelajaran. Muslimin Ibrahim, (2007: 5)
menyatakan bahwa inkuiri perlu didesain untuk membelajarkan proses penelitian


23

yang dapat mempengaruhi cara siswa memproses informasi dan mengembangkan
komitmen terhadap inkuiri ilmiah. inkuiri juga dapat merangsang pengembangan
sikap keterbukaan dan kemampuan untuk mengambil keputusan dengan cara yang
tepat dan semangat kerjasama yang tinggi
Dalam prakteknya, menurut Bruce, Chip. (2001: 2-3), inquiry dapat
diterapkan pada tiap tahapan (sintaks) kerja ilmiah, misalnya pada tahapan
perumusan masalah, observasi, analisis, dan pengkomunikasian hasil. Sebagai
contoh pada tahapan perumusan masalah: peluang untuk mempertanyakan sesuatu
dapat diberikan untuk menemukan permasalahan yang berkait dengan situasi yang
sebenarnya (real situations), dan sesuai kebutuhan manusia (human needs). Pada
tahapan observasi konfrontasi intelaktual tersebut dapat diciptakan agar dalam
mengamati gejala, selalu mengaitkannya dengan dunia nyata (real world).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan guided inquiry
dapat meningkatkan respon siswa dalam pembelajaran biologi, namun belum secara
signifikan berpengaruh pada peningkatan penguasaan konsep biologi (Soesanti,
2005: 1). Namun demikian, dalam penelitiannya mengenai pengimplementasian
metode yang sama, Wahyu Hidayat (2005: 1) menemukan hasil yang agak berbeda,
ialah adanya pengaruh yang siginifikan metode guided inquiry terhadap
pemahaman konsep siswa, kemampuan afektif, dan psikomotor siswa. Hasil
penelitian Wahyu Hidayat ini mendukung hasil penelitian Nina Soesanti, dalam hal
respons siswa mengikuti pelajaran. Metode guided inquiry terbukti mampu
menumbuhkan respon positif siswa untuk mengikuti pelajaran.
Pembelajaran dengan mengimplementasikan guided inquiry, pada
prinsipnya sama dengan prinsip-prinsip pengimplementasian metode inquiry,
namun menuntut peran pembimbingan yang terstruktur. Pembelajaran inquiry
sendiri merupakan pembelajaran yang mengajak siswa untuk mengembangkan rasa


24

ingin tahu atas objek-objek yang dipelajari dan memberikan peluang bagi mereka
untuk menemukan sendiri jawaban dari pertanyaan/keingintahuannya itu. Menurut
Udin S. W, (1993: 159) meliputi 1) penyajian masalah (kawasan investigasi) 2)
Verifikasi dan penemuan jawaban dengan merancang suatu percobaan/investigasi
3) pengumpulan data 4) Perumusan penjelasan dengan menganaliais data 5)
Perumusan kesimpulan.
4. guided inquiry / Penemuan Terbimbing
Menurut Suparno, (2007: 68) inkuiri yang terarah adalah inkuiri yang
banyak dicampuri oleh guru. Guru benyak mengarahkan dan memberikan petunjuk
baik lewat prosedur yang lengkap dan pertanyaan-pertanyaan pengarahan selama
proses inquiry. Dalam bentuk inkuiri ini, guru sudah memiliki jawaban
sebelumnya. Sehingga siswa tidak begitu bebas mengembangkan gagasan dan
idenya. Masalah yang diberikan oleh guru dan siswa memcahkannya sesuai dengan
prosedur tertentu yang diarahkan oleh guru.
Peran guru dalam inkuiri terbimbing dalam memecahkan masalah yang
diberikan kepada siswa adalah dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dalam
proses penemuan sehingga siswa tidak akan kebingungan. Sehingga kesimpulan
akan lebih cepat dan mudah diambil. Guru bertindak sebagai penunjuk jalan,
membantu siswa agar menggunakan ide, konsep, dan keterampilan yang sudah
mereka pelajari sebelumnya untuk mendapatkan pengetahuan yang baru. Pengajuan
pertanyaan yang tepat oleh guru akan merangsang kreativitas siswa dan membantu
mereka dalam menemukan pengetahuan baru tersebut. Model pembelajaran
inkuiri terbimbing memang memerlukan waktu yang relatif banyak dalam
pelaksanaanya, akan tetapi hasil belajar yang dicapai tentunya sebanding dengan


25

waktu yang digunakan. Pengetahuan baru akan melekat lebih lama apabila siswa
dilibatkan secara langsung dalm proses.
5. Langkah-Langkah Pembelajaran guided inquiry
Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran guided inquiry meliputi:
a. Perumusan Masalah.
Langkah awal adalah menentukan masalah yang ingin didalami atau
dipecahkan dengan metode guided inquiry. Persoalan dapat disiapkan atau diajukan
oleh guru. Persoalan sendiri harus jelas sehingga dapat dipikirkan, didalami, dan
dipecahkan oleh siswa. Persoalan perlu diidentifikasi dengan jelas tujuan dari
seluruh proses pembelajaran atau penyelidikan. Bila persoalan ditentukan oleh guru
perlu diperhatikan bahwa persoalan itu real, dapat dikerjakan oleh siswa, dan sesuai
dengan kemampuan siswa. Persoalan yang terlalu tinggi akan membuat siswa tidak
semangat, sedangkan persoalan yang terlalu mudah yang sudah mereka ketahui
tidak menarik minat siswa. Sangat baik bila persoalan itu sesuai dengan tingkat
hidup dan keadaan siswa.
b. Menyusun hipotesis
Langkah berikutnya adalah siswa diminta untuk mengajukan jawaban
sementara tentang masalah itu. Inilah yang disebut hipotesis. Hipotesis siswa perlu
dikaji apakah jelas atau tidak. Bila belum jelas, sebaiknya guru mencoba membantu
memperjelas maksudnya lebih dahulu.
Guru diharapkan tidak memperbaiki hipotesis siswa yang salah, tetapi
cukup memperjelas maksudnya saja. Hipotesis yang salah, tetapi cukup
memperjelas maksudnya saja. Hipotesis yang salah nantinya akan kelihatan setelah
pengambilan data dan analisis data yang diperoleh.


26

c. Mengumpulkan data
Langkah selanjutnya adalah siswa mencari dan mengumpulkan data
sebanyak-banyaknya untuk membuktikan apakah hipotesis mereka benar atau
tidak. Dalam bidang biologi, untuk dapat mengumpulkan data, siswa harus
menyiapkan suatu peralatan untuk pengumpulan data. Maka guru perlu membantu
bagaimana siswa mencari peralatan, merangkai peralatan, dan mengoperasikan
peralatan sehingga berfungsi dengan baik. langkah ini adalah langkah percobaan
atau eksperimen. Biasanya dilakukan di laboratorium tetapi kadang juga dapat di
luar sekolah. Setelah peralaran berfungsi, siswa diminta untuk mengumpulkan data
dan mencatatnya dalam buku catatan.
d. Menganalisis data
Data yang sudah dikumpulkan harus dianalisis untuk dapat membuktikan
hipotesis apakah benar atau tidak. Untuk memudahkan menganalisis data, data
sebaiknya diorganisasikan, dikelompokkan, diatur sehingga dapat dibaca dan
dianalisis dengan mudah. Biasanya disusun dalam suatu tabel.
e. Menyimpulkan
Dari data yang telah dikelompokkan dan dianalisis, kemudian diambil
kesimpulan dengan generalisasi. Setelah diambil kesimpulan, kemudian
dicocokkan dengan hipotesis asal, apakah hipotesa kita diterima atau tidak.
6. Aktifitas Belajar
di dalam belajar diperlukan aktivitas. Sebab pada prinsipnya belajar adalah
berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada
belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktifitas merupakan asas yang
sangat penting didalam interaksi belajar mengajar (Sardiman 2006 : 95-96). Frobel


27

mengatakan bahwa manusia sebagai pencipta. Prinsip utama yang dikemukakan
probel bahwa anak itu harus bekerja sendiri.
Montessori (dalam Sardiman 2006), mengatakan bahwa anak-anak
memiliki tenaga-tenbaga untuk berkembang sendiri, membentuk sendiri. Pendidik
akan berperan sebagai pembimbing dan mengamati bagaimana perkembangan anak
didiknya. Pernyataan Montessori ini memberikan petunjuk bahwa yang lebih bnyak
melakukan aktivitas didalam pembentukan diri adalah anak itu sendiri, sedangkan
pendidik memberikan bimbingan dan merencanakan segala kegiatan yang akan
diperbuat oleh anak didik.
Dalam hal kegiatan belajar, Rousseau (dalam Sardiman, 2006 : 96)
memberikan penjelasan bahwa segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan
pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri dengan bekerja
sendiri, dengan fasilitas yang diciptakan sendiri. Tanpa ada aktivitas proses belajar
tidak mungkin berlangsung dengan baik.
Diedrich (dalam Sardiman 2006) membuat suatu daftar yang berisi 177
macam kegiatan yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Visual Activities. Misalnya, membaca, memerhatikan gambar demonstrasi,
percobaan.
2. Oral Activities. Misalnya, menyatakan, merumuskan, bertanya, diskusi.
3. Listening Activities. Sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan,
diskusi, pidato, musik.
4. Writing Activities. Misalnya, menulis cerita, laporan, angket.
5. Drawing Activities. Misalnya, menggambar, membuat grafik, peta, diagram.


28

6. Motor Activities. Antara lain: melakukan percobaan, model mereparasi,
berkebun, beternak.
7. Mental Activities. Misalnya, menanggapi, mengingat, memecahkan soal,
menganalisis, membuat hubungan, mengambil keputusan.
8. Emotional Activities. Misalnya, menaruh minat, merasa bosan, bergembira,
bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
7. Hasil Belajar
Berbagai pengertian tentang telah didefinisikan oleh para ahli pendidikan.
(Sudijono Anas 1995 : 60) mengutip pengertian tersebut diantaranya:
Menurut James O. Whittaker. Belajar sebagai proses dimana tingkah laku
ditimbulkan atau diubah melalui latihan dan pengalaman.
Menurut Howard L. Kingley. Belajar adalah proses dimana tingkah laku
ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.
Menurut Cronbach. Belajar ditunjukkan melalui perubahan tingkah laku
sebagai hasil dari pengalaman.
Berdasarkan pengertian dari para ahli di atas, maka hasil belajar merupakan
bagian dari proses yang diperoleh dari pengalaman. Untuk mengetahui bahwa
belajar terjadi dalam diri seseorang maka dapat diketahui dengan adanya hasil
belajar. Pendidikan di Indonesia merupakan kategori hasil belajar yang dikenal
dengan istilah Taksonomi Bloom sebagai jabaran dari hasil belajar yang terjadi
pada setiap individu. Menurut Benyamin S. Bloom dan Kawan-kawanya (dalam
soemanto 2000: 36) mengatakan bahwa taksonomi (ranah) tujuan pendidikan
senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain yang melekat pada diri siswa, yakni:
(a). domain kognitif untuk hasil belajar yang berkaitan dengan proses berpikir, (b).


29

domain efektif untuk hasil belajar yang berkaitan dengan nilai atau sikap, dan (c).
domain psikomotor untuk hasil belajar keterampilan gerak motorik.
B. Kerangka Berpikir
Mengajar merupakan suatu sistem kegiatan secara sengaja berkehendak
mengubah perilaku seseorang, untuk mencapai hal tersebut guru/pendidik berusaha
dengan melalui berbagai upaya pendekatan strategi/teknik pengembangan program
pengajaran.
Pembelajaran guided inquiry merupakan pembelajaran yang memacu
keinginan dalam keterlibatan siswa aktif dengan konsep dan prinsip, guru
mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang
memungkinkan mereka menemukan konsep dan prinsip untuk diri mereka sendiri.















30

BAB III
METODE PENELITIAN
A. RENCANA PENELITIAN
Penelitian yang digunakan adalah dengan metode penelitian tindakan kelas
(PTK). Metode penelitian ini digunakan karena sifat dan tujuan dari penelitian ini
yang menekankan pengembangan model pembelajaran sehingga siswa dapat
mencapai hasil belajar yang maksimal.
Menurut Kemmis dan Taggark (Dikutip depdikbud: 1999), PTK dilakukan
melalui proses perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.






Gambar 1. Siklus Penelitian Tindakan Kelas (Arikunto)
a. Perencanaan
Pada tahap ini disusun rencana pelajaran, menyusun tes, menyusun lembar
observasi, kegiatan dengan menggunakan Model Pembelajaran Guided Inquiry
yaitu siswa mencari jawaban dan pertanyaan.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum pelaksanaan tindakan adalah:
1. Memilih lokasi kegiatan
2. Bahan ajar
Perencanaan
Pelaksanaan
Pengamatan
Refleksi SIKLUS


31

3. Mengadakan analisis kurikulum (pokok bahasan), kondisi siswa dan kondisi
sekolah (sarana dan prasarana laboratorium).
4. Membuat perangkat pembelajaran biologi, yaitu Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan pendekatan guided inquiry.
5. Alat bantu pengajaran yang diperlukan dalam rangka mengoptimalkan proses
pembelajaran.
6. Menyiapkan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur tingkat penguasaan
siswa.
b. Pelaksanaan
Pada tahap ini kegiatan yang dilaksanakan dengan menggunakan
pendekatan guided inquiry berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
c. Observasi/Pengamatan
Pada tahap ini dilaksanakan tahap observasi terhadap pelaksanaan tindakan.
Alat observasi yang digunakan adalah lembar observasi yang telah disusun.
Sebagai observator pada kegiatan ini adalah dua orang guru.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil keseluruhan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan,
maka peneliti melakukan refleksi berupa analisis dan evaluasi terhadap keseluruhan
kegiatan yang telah dilakukan. Kegiatan refleksi ini selain menganalisis dan
melakukan penilaian terhadap penilaian kegiatan pembelajaran dikelas juga
ditujukan untuk mengetahui kembali keseluruhan rencana penelitian. Hasil yang
didapatkan dari kegiatan refleksi ini dijadikan sebagai acuan untuk pelaksanaan
kegiatan penelitian selanjutnya.
B. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL PENELITIAN


32

Defenisi oprasional adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan
penelitian atau faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan
diteliti (Sumadi Suryabrata, 1999). Adapun variable dalam penelitian ini adalah:
1. Evektivitas hasil belajar siswa pada materi sistem gerak tumbuhan
2. Lembar penilaian siswa dalam bentuk lembar kerja siswa pada materi sistem
gerak tumbuhan
3. Kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran guided
inquiry
C. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Advent Ambia Kabupaten Kepulauan
Talaud, dengan jumlah siswa 35 orang yang terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 19
orang siswa perempuan.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksankan pada semester genap tahun ajaran 2013-2014
pada bulan Januari sampai dengan Maret.
D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Untuk mendapatkan data, maka digunakan teknik observasi dan soal tes
yang disediakan oleh peneliti. Sumber data yang diperoleh dari siswa kelas VIII
SMP Advent Ambia Kabupaten Kepulauan Talaud dengan jumlah siswa 35 orang,
dan cara pengambilan data melalui :
1. Data tentang situasi belajar mengajar pada saat dilaksanakan tindakan dengan
menggunakan lembar observasi.


33

2. Data mengenai hasil belajar siswa diambil melalui penilaian lembar kerja
siswa sebelum dimulainya proses belajar mengajar yaitu fre tes setelah proses
belajar mengajar melalui pos tes.
E. ANALISIS DATA
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis
persentase hasil belajar siswa yakni (%) terhadap tercapainya indikator setiap
materi. Yang dijadikan dasar evaluasi dan refleksi adalah berupa prosentase dimana
evaluasi tes pada beberapa siklus. Nilainya diprosentasekan sehingga dapat
diketahui berapa % siswa yang berhasil dan berapa % siswa yang belum berhasil.
Indikator yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah
ketuntasan belajar. Ketuntasan belajar apabila telah terdpat 85% siswa pada kelas
tersebut telah memperoleh nilai minimal 7,0 ( Arikunto 1998)
P =
1

+ 100 %
Dimana :
P = Persentase ketuntasan belajar
1 = Jumlah siswa tuntas
= Jumlah total siswa

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini secara garis besar di bagi dua,
yaitu: hasil pra tindakan dan hasil setelah dilakukan tindakan. Selanjutnya data


34

yang diperoleh dianalisis, untuk lebih jelasnya deskripsi dan analisis mengenai
penerapan metode guided inquiry dan kaitannya dengan peningkatan hasil belajar
belajar pada Pokok Bahasan Sistem Gerak Tumbuhan di Kelas VIII SMP Advent
Ambia Kabupaten Kepulauan Talaud.
1. Hasil Kegiatan Siswa
Di dalam kegiatan proses pembelajaran, siswa dibagi dalam lima kelompok
eksperimen/praktikum. Setiap kelompok diberikan LKS untuk dikerjakan
menyangkut materi yang diajarkan kemudian diberikan penilaian atas hasil kerja
kelompok. Hasil tiap kelompok mencapai ketuntasan belajar pada siklus I dan
siklus II, dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Nilai Hasil LKS Siklus I dan Siklus II
Kelompok Nilai Ketuntasan
Siklus I Siklus II Ya Tidak
I 8 8.5
II 7 7
III 9 8.5
IV 7 8
V 8.5 9

2. Hasil Evaluasi
Untuk memperoleh data mengenai kondisi awal tentang hasil belajar siswa
pada pokok bahasan sistem gerak tumbuhan di kelas VIII SMP Advent Ambia
maka peneliti memberikan ulangan sebelum dimulai tindakan.
a. Hasil Pra Tindakan
Tabel 2. Data Hasil Belajar Siswa Pra Tindakan


35

No Nama Siswa Nilai Kriteria Ketuntasan
Minimal : 70
1 Angelia Barauntu 5 BT
2 Andika Marinu 7 T
3 Andra Sahoa 4 BT
4 Angreina Poae 5 BT
5 Angel Tampila 5 BT
6 Ario Sasue 7,5 T
7 Arten Maamea 6 BT
8 Beverly Salettia 6.5 BT
9 Dani Abdul 2 BT
10 Dicki Barahama 5 BT
11 Frisaldy Rabuisa 5 BT
12 Geby Maamea 4 BT
13 Geovanny Tumbal 7 T
14 Ghian Maharum 6.5 BT
15 Glendi Larenggam 6 BT
16 Iren Mamuane 7 T
17 Jeisi Sahoa 5.5 BT
18 Jeniati Rengki 7 T
19 Jodi Tempo 7 T
20 Josua Rumegang 5 BT
21 Joko Yura 5 BT
22 Kristin Madea 5 BT
23 Maria Latjandu 3 BT
24 Mahenra Tuage 7.5 T
25 Milani Sahoa 4 BT
26 Natalia Laliboso 6 BT
27 Noman Lumiru 6 BT
28 Riski R. Nae 6 BT
29 Selmiati barahama 3 BT
30 Susan Rorong 3.5 BT


36

31 Sunarjo Sahoa 6.5 BT
32 Tania Laluraa 5 BT
33 Tania Manurung 5 BT
34 Wanda Sasue 6.5 BT
35 Yulia Paradenti 3 BT
Jumlah keseluruhan (x) (x)=88 7 28
Rata-rata (X) (X)= .37 20 % 80 %

Berdasarkan hasil belajar siswa pada pra siklus (sebelum dilaksanakan
metode guided inquiry) dapat diketahui bahwa terdapat 7 orang siswa yang
mencapai ketuntasan belajar, sedangkan siswa yang belum mencapai ketuntasan
belajar berjumlah 28 orang. Untuk lebih jelas dapat di lihat pada gambar berikut :

Gambar 2. Hasil Belajar Siswa Pada Pra-Siklus
b. Hasil Tindakan (Siklus)
Tabel 3. Hasil Belajar Siswa Siklus I
No Nama Siswa Nilai Kriteria Ketuntasan
Minimal : 70
0
5
10
15
20
25
30
Tuntas Belum Tuntas


37

1 Angelia Barauntu 6 BT
2 Andika Marinu 8,5 T
3 Andra Sahoa 5 BT
4 Angreina Poae 7.5 T
5 Angel Tampila 7 T
6 Ario Sasue 9,5 T
7 Arten Maamea 7 T
8 Beverly Salettia 9 T
9 Dani Abdul 4 BT
10 Dicki Barahama 7 T
11 Frisaldy Rabuisa 7 T
12 Geby Maamea 5 BT
13 Geovanny Tumbal 8 T
14 Ghian Maharum 8 T
15 Glendi Larenggam 7.5 T
16 Iren Mamuane 9 T
17 Jeisi Sahoa 7 T
18 Jeniati Rengki 9 T
19 Jodi Tempo 8 T
20 Josua Rumegang 7.5 T
21 Joko Yura 7 T
22 Kristin Madea 7 T
23 Maria Latjandu 6 BT
24 Mahenra Tuage 9 T
25 Milani Sahoa 7 T
26 Natalia Laliboso 8 T
27 Noman Lumiru 7 T
28 Riski R. Nae 7 T
29 Selmiati barahama 4.5 BT
30 Susan Rorong 5.5 BT
31 Sunarjo Sahoa 5.5 BT
32 Tania Laluraa 6.5 BT


38

33 Tania Manurung 7 T
34 Wanda Sasue 7 T
35 Yulia Paradenti 4 BT
Jumlah keseluruhan (x) (x)=244 26 9
Rata-rata (X) (X)= 7.05 74.28 % 25.71 %

Pada awal pembelajaran ini, terjadi sedikit peningkatan hasil belajar, yakni
jumlah siswa yang belum tuntas dalam belajar ada 9 orang. Sedangkan siswa yang
telah mencapai ketuntasan dalam belajar yakni 26 orang. Namun demikian, hasil
belajar siswa masih sangat kecil dan belum menunjukkan keberhasilan proses
pembelajaran yang diharapkan.
Hal ini disebabkan oleh faktor kurangnya motivasi dan pemahaman siswa
dalam proses dan metode yang dilaksanakan. Dengan demikian guru
mempersiapkan metode pembelajaran dengan sebaik-baiknya terutama untuk
mendorong siswa agar bersikap lebih positif dan kritis dengan penerapan metode
guided inquiry.

Gambar 3. Hasil Belajar Siswa Siklus 1
0
5
10
15
20
25
30
Tuntas Belum Tuntas


39


Tabel 4. Hasil Belajar Siswa Siklus II
No Nama Siswa Nilai Kriteria Ketuntasan
Minimal : 70
1 Angelia Barauntu 7.5 T
2 Andika Marinu 9,5 T
3 Andra Sahoa 7 T
4 Angreina Poae 8.5 T
5 Angel Tampila 9 T
6 Ario Sasue 9,5 T
7 Arten Maamea 9 T
8 Beverly Salettia 9.5 T
9 Dani Abdul 6.5 BT
10 Dicki Barahama 9 T
11 Frisaldy Rabuisa 9 T
12 Geby Maamea 7 T
13 Geovanny Tumbal 9.5 T
14 Ghian Maharum 9 T
15 Glendi Larenggam 8.5 T
16 Iren Mamuane 9.5 T
17 Jeisi Sahoa 8.5 T
18 Jeniati Rengki 9.5 T
19 Jodi Tempo 8.5 T
20 Josua Rumegang 7.5 T
21 Joko Yura 8.5 T
22 Kristin Madea 8 T
23 Maria Latjandu 7 T
24 Mahenra Tuage 9.5 T
25 Milani Sahoa 8 T
26 Natalia Laliboso 9.5 T
27 Noman Lumiru 9 T
28 Riski R. Nae 8 T


40

29 Selmiati barahama 6.5 BT
30 Susan Rorong 7 T
31 Sunarjo Sahoa 8.5 T
32 Tania Laluraa 7 T
33 Tania Manurung 8.5 T
34 Wanda Sasue 8.5 T
35 Yulia Paradenti 6 BT
Jumlah keseluruhan (x) (x)=291 32 3
Rata-rata (X) (X)= 8.31 91.42 % 8.57 %

Pada siklus II ini terjadi peningkatan, jumlah siswa yang belum tuntas
dalam belajar, mengalami penurunan menjadi 3 orang, sedangkan siswa yang
mencapai ketuntasan belajar meningkat menjadi 32 orang.
Pembelajaran sudah sesuai dengan skenario yang direncanakan dengan
penggunaan metode pembelajaran berbasis metode guided inquiry menjadikan
pembelajaran berlangsung dengan suasana menarik dan hasil belajar siswa dapat
meningkat dengan signifikan, karena menghasilkan prestasi belajar yang lebih
tinggi karena pembelajaran dilakukan melalui proses, membantu siswa menemukan
suatu pengarahan untuk bergerak maju, suatu tujuan untuk pengajaan intelektual.
Selanjutnya jika digambarkan, maka kondisi hasil belajar siswa pada siklus II dapat
di lihat pada gambar berikut :

Gambar 4. Hasil Belajar Siswa Siklus II
0
5
10
15
20
25
30
35
Tuntas Belum Tuntas


41

Secara keseluruhan hasil penelitian yang telah dimulai dari tahap
perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan kondisi pra-tindakan sampai tahap
refleksi yang terlaksana pada siklus I dan Siklus II dapat digambarkan sebagai
berikut :
Tabel 5. Hasil Belajar Siswa Pra- Siklus s.d Siklus II
NO Hasil Belajar Tuntas Belum Persentase
Siswa Tuntas Ketuntasan
1 Pra Tindakan 7 28 20 %
2
3
Siklus I 26 9 74.28 %
Siklus II 32 3 91,42 %

Selanjutnya agar lebih jelas peningkatan hasil belajar siswa dari pra-tindakan
sampai dengan siklus II, dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 5. Hasil Belajar Siswa Pra-Siklus s.d Siklus II
Keterangan :
Ketuntasan
Belum Tuntas



0
5
10
15
20
25
30
35
Pra Siklus Siklus I Siklus II


42

B. PEMBAHASAN PENELITIAN
PTK atau Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan oleh guru dan
tenaga kependidikan lainnya, semakin dirasakan manfaatnya baik untuk
perbaikan maupun peningkatan mutu pembelajaran di kelas. Dalam istilah
aslinya penelitian tindakan kelas disebut dengan Classroom Action Research.
Belakangan ini, PTK telah berkembang pesat di negara-negara maju seperti
Amerika, Inggris, Australia dan Canada. Para ahli penelitian di Negara-
negara tersebut menaruh perhatian yang sangat besar terhadap penelitian
tindakan kelas. Faktor penyebabnya menurut Asrori (2007) adalah karena
jenis penelitian ini mampu menawarkan peningkatan profesional guru dalam
proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa. Seorang ahli
penelitian Mc. Niff dalam Asrori (2007) mengatakan dengan tegas bahwa
penelitian tindakan kelas merupakan bentuk penelitian yang dilakukan oleh
guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk
pengembangan dan perbaikan pembelajaran.
Menurut Suharsimi. A. (2007) ada tiga kata yang membentuk
pengertian PTK, yaitu penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian adalah
kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan aturan metodologi
tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam
meningkatkan mutu suatu hal, serta menarik minat dan penting bagi peneliti.
Tindakan adalah kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu.
Sedangkan kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama
menerima pelajaran yang sama dari seorang guru. Dalam hal ini kelas bukan
wujud ruangan tetapi diartikan sebagai sekelompok siswa yang sedang
belajar.
Suyanto (1997) secara singkat PTK dapat di definisikan sebagai suatu
bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan
tertentu, untuk memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik
pembelajaran di kelas secara lebih profesional. Oleh karena itu PTK terkait
erat dengan persoalan praktek pembelajaran sehari-hari yang dialami guru.


43

Dari beberapa definisi tersebut di atas, penelitian tindakan kelas dapat
didefinisikan sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan
melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki dan meningkatkan
praktik pembelajaran di kelas secara lebih berkualitas sehingga siswa dapat
memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Oleh karena itu, penelitian
tindakan kelas juga merupakan penelitian yang bersifat reparatif. Artinya,
penelitian yang dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran agar
siswa bisa mencapai hasil yang maksimal.
Berdasarkan hasil penelitian yaitu hasil belajar siswa dari pra-siklus
sampai dengan siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa
dengan menggunakan pendekatan guided inquiry. Pada setiap siklus peneliti
melontarkan pertanyaan untuk merangsang keaktifan siswa, dimana siswa
dituntut untuk cenderung lebih aktif dalam menyusun pengetahuan-
pengetahuan yang berorientasi pada proses yang melibatkan siswa baik
secara mental maupun fisik dalam memecahkan masalah. Mereka dibagi
dalam lima kelompok, kemudian diberikan LKS dan dituntun serta diberikan
penjelasan singkat guna menemukan sendiri konsep-konsep untuk
meningkatkan pemahaman mereka dalam pembelajaran biologi. Selain itu
mereka melakukan percobaan/eksperimen untuk memantafkan cara mereka
berpikir dan bertindak dalam memecahkan suatu masalah.
Setelah diadakan penelitian hasil belajar siswa pada pra-siklus atau
sebelum dimulai tindakan dari 35 siswa hanya 7 orang yang mencapai 7.0
keatas dengan capaian rata-rata 5.37 atau secara klasikal 20%. Dengan
demikian peneliti telah mendapat gambaran tentang keadaan kelas. Kemudian
setelah melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan metode guided
inquiry terjadi peningkatan persentase ketuntasan belajar pada pembelajaran
siklus I. Pada siklus ini dilaksanakan tindakan berdasarkan rencana
pembelajaran yang suda disiapkan sebelumnya dengan hasil tes dari 35 siswa,
26 orang yang mencapai ketuntasan 7.0 dengan capaian rata-rata 7.05 atau
secara klasikal 74.28 %, sedangkan 9 orang siswa belum mencapai
ketuntasan dalam belajar, penelitian ini menunjukkan ketuntasan daya serap


44

secara klasikal belum mencapai 85%. Diduga hal ini disebabkan karena siswa
belum sepenuhnya melibatkan diri dan belum terbiasa dalam pembelajaran
ini terlebih dalam penggunaan pendekatan guided inquiry. Dengan adanya
hasil tersebut maka dilaksanakan pembelajaran kembali lewat siklus II, pada
siklus ini kegiatan dilaksanakan seperti pada siklus sebelumnya dengan hasil
tes dari 35 orang siswa yaitu 32 siswa mencapai nilai yang baik dengan
capaian rata-rata 8.31, secara klasikal sebesar 91,42 % walaupu masih ada 3
orang siswa belum mencapai syarat tuntas.
Hal ini merupakan indikator bahwa pendekatan guided inquiry dalam
pembelajaran IPA biologi sangat berarti dalam peningkatan hasil belajar
siswa walaupun hasil belajar siswa dilaksanakan melalui dua siklus.
Gambaran ini menjelaskan bahwa pada penggunaan pendekatan ini sangat
perlu diberikan kepada siswa dalam pembelajaran sehingga dapat
menumbuhkan percaya diri dan merangsang anak didik berusaha lebih baik,
memupuk inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri sendiri.

C. REFLEKSI HASIL PENELITIAN
Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, khususnya pembelajaran IPA
biologi, maka sekolah sebagai lembaga terdepan berkewajiban untuk menyiapkan
siswa-siswa yang terampil memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-
masalah di sekitarnya.
Mengingat adanya masalah/kendala yang sering muncul dalam kelas
terutama keaktifan siswa maka dirasa perlu untuk mengadakan penelitian tentang
penggunaan pendekatan guided inquiry dalam pembelajaran.
Penelitian yang dilaksanakan pada siswa SMP Advent Ambia khususnya
kelas VIII telah dilaksanakan dalam dua tahapan penelitian. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh siswa dengan menggunakan
pembelajaran yang menekankan pada pendekatan guided inquiry adalah cukup baik
yaitu secara klasikal yang tuntas 91,42 %.


45

Dikatakan demikian dengan menggunakan pendekatan guided inquiry dapat
meningkatkan hasil belajar siswa terhadap pelajaran IPA biologi di kelas VIII SMP
Advent Ambia Kabupaten Kepulauan Talaud.






















46

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN

1. Penerapan rencana pembelajaran yang sudah diperbaiki peneliti dengan
menggunakan pendekatan pembelajaran guided inquiry / penemuan terbimbing
ternyata memiliki dampak positif bagi siswa, dimana siswa dilatih memecahkan
masalah, membuat keputusan dan mengembangkan keterampilan.
2. Tindakan pembelajaran IPA biologi dengan menggunakan pendekatan
pembelajaran guided inquiry / penemuan terbimbing dapat meningkatkan hasil
belajar siswa.
B. SARAN
1. Penelitian tindakan kelas, perlu diterapkan oleh semua guru mata pelajaran, hal ini
merupakan bagian yang sangat penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan
2. Penerapan penelitian tindakan kelas ini, kiranya memperoleh dukungan dari semua
pihak dalam upaya peningkatan kualitas mutu pendidikan.











DAFTAR PUSTAKA


47

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta :
Rineka Cipta
Ashori. 2007. Penelitian Tindakan Kelas, Bandung : CV Wacana Prima.
Bruce, Chip. 2001. Teaching Science: The Inquiry Process and Engaging
inInquiry.(Online).(http://www.isrl.uiuc.edu/~chip/teach/resources/D_Process
.shtml, [7 November 2013].
Depdikbud. 1999. Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta: Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
Gulo. 2008. Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta. Grasindo.
Hamalik Oemar 2006. Proses Belaar Mengajar. Bumi Aksara: Jakarta.
Herron, M.D. (1971). The nature of scientific enquiry. School Review, 79(2), 171-
212.(Onlinearticle). http://edweb.sdsu.edu/wip/four_levels.htm.htm,[5
November 2013].
Kuhlthau, dan Todd. 2007. Guided Inquiry: New Jersey: CISSL. (Online).
(http://cissl.-scils.rutgers.edu/guidedinquiry/introduction.-
html.htm,[5November 2013].
Kunandar. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Rajagrafindon Persada : Jakarta.
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik dan
implementasi.Remaja Rosdakarya: Bandung.
Muslimin Ibrahim. 2007. Pembelajaran Ikuiri. (Artikel Online).
(http://kpicenter.org/index.php?option=com_content&task=view&id=37&Ite
mid=4, [5 November 2013].
Nasution, S. 2000. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bumi
Aksara: Jakarta.
Sardiman, A. M. 2006, Interaksi Dan Motifasi Belajar Mengajar. Rajagrafindo:
Jakarta
Soesanti.N (2005). Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dan Inkuiri
Tidak Terbimbing terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Konsep
Struktur Tumbuhan.
Sudianto, A. 1995. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Rajagrafindo: Jakarta
Sudijono, A 1995. Pengantar Statistik, Jakarta: Rineka Cipta
Suharsimi. 2007.Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.
Suparno.P 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika. Yogyakarta: Universitas Sanata
Dharma.
Sustrisno, H. 2000. Metodologi Research. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
Suyanto. 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Pengenalan
Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Dirjen Dikti.
Syaiful Sagala. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Udin S. Winataputra. 1993. Strategi Belajar Mengajar IPA. Jakarta: Depdikbud.
Wahyu Hidayat. 2005. Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dengan Kegiatan
Laboratorium pada Pokok Bahasan Koloid. Abstrak
Thesis.(Online).http://www.pagesyourfavourite.com/ppsupi/abstrakipa
2005.html, [7 November 2013].






48















LAMPIRAN-LAMPIRAN














49







RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
PENDEKATAN GUI DED I NQURY
SEKOLAH : SMP ADVENT AMBIA
KELAS/SEMESTER : VIII / 2
MATA PELAJARAN : IPA-BIOLOGI
POKOK BAHASAN : GERAK PADA TUMBUHAN
a. Gerak Etinom
b. Gerak Endonom
ALOKASI WAKTU : 2 X 45 Menit
I . STANDAR KOMPETENSI
Memahami berbagai macam gerak pada tumbuhan
II. KOMPETENSI DASAR
Mengidentifikasi berbagai macam gerak pada tumbuhan.
III. INDIKATOR
a. Siswa dapat membedakan macam-macam gerak pada tumbuhan
b. Siswa dapat membedakan pengertian gerak etionom dan gerak endonom


50

c. Siswa dapat menyebutkan dan menjelaskan macam-macam gerak etionom dan gerak
endonom
d. Siswa dapat melakukan dan membuat laporan hasil percobaan gerak pada tumbuhan
e. Memberikan contoh tumbuhan yang melakukan gerak karna pengaruh macam-
macam sumber rangsangan
SIKLUS I
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah pembelajaran materi gerak pada tumbuhan, siswa di harapkan dapat:
1. Membedakan macam-macam gerak pada tumbuhan,
2. Menjelakan pengertian gerak etionom pada tumbuhan,
3. Menyebutkan dan menjelaskan macam-macam gerak etionom beserta contoh,
4. Melakukan percobaan gerak pada tumbuhan Karena pengaruh rangsangan,
5. Merangsang prosedur percobaan gerak pada tumbuhan berdasarkan faktor-
faktor yang mempengaruhi rangsangan,
6. Melakukan dan melaporkan hasil percobaan gerak pada tumbuhan.
B. Materi Pembelajaran
Gerak Etionom (gerak tropisme, gerak taktis, gerak nasti)
C. Pendekatan dan Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Guided I nquiry
2. Metode : Eksperimen, diskusi, Tanya jawab
D. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan Ke-1
1. Pendahuluan
- Guru mengabsen siswa untuk mengkondisikan siswa pada situasi belajar.
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan di capai siswa.
- Guru memberikan motivasi dan apresiasi dengan mengajukan pertanyaan.
Pernakah kalian melihat gerak pada tanaman kacang hijau yang baru bertumbuh?
Bagaimana arah geraknya?


51

2. Kegiatan Inti
- Guru menjelaskan dengan singkat materi pembelajaran kepada siswa.
- Siswa membntuk lima kelompok eksperimen, yang beranggotakan 6-7 orang.
- Siswa melakukan kegiatan percobaan.
- Siswa merancang prosedur percobaan gerak tropisme berdasarkan faktor-faktor
yang mempengaruhi.
- Setiap kelompok berdiskusi dalam kelompok untuk menyimpulkan hasil
pengamatan.
- Setiap kelompok mempresentasikan hasil pengamatan, dan kelompok lain
menanggapi.
- Guru membagikan LKS dalam bentuk pertanyaan kepada kelompok untuk
didiskusikan sesuai dengan pengamatan kelompok.
3. Penutup
- Guru bersama siswa membuat kesimpulan materi pembelajaran.
- Guru meminta siswa mengamati tumbuhan yang melakukan gerak karena penga
rangsangan cahaya , dan suhu di lingkungan rumah.
- Guru meminta siswa mempelajari materi selanjutnya.
- Menutup KBM
4. Penilaian
- Tes tertulis/individu
- Tes kinerja/kelompok
Pertemuan Ke-2
1. Kegiatan Pendahuluan
- Guru mengabsen siswa untuk mengkondisikan siswa pada situasi belajar.
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan di capai siswa.
- Guru member motivasi dan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan. Misalnya,
pernahkah kalian menyentuh daun putrid malu (Mimosa pudica) ? mengapa daun
putri malu akan menutup saat di sentuh ?.
2. Kegiatan Inti
- Guru menjelaskan dengan singkat materi pelajaran kepada siswa.


52

- Siswa membentuk lima kelompok eksperimen, yang beranggotakan 6-7 orang.
- Siswa melakukan kegiatan percobaan.
- Siswa merancang prosedur percobaan gerak nasti berdasarkan faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
- Setiap kelompok berdiskusi dalam kelompok untuk menyimpulkan hasil
pengamatan.
- Setiap kelompok mempresentasikan hasil pengamatan dan kelompok lain
menanggapi.
- Guru membagikan LKS dalam bentuk pertanyaan kepada kelompok untuk
didiskusikan sesuai dengn pengamatan kelompok.
- Guru melakukan tes tertulis pada siklus I untuk mengetahui tingkat penguasaan
siswa
3. Penutup
- Guru bersama siswa memberikan kesimpulan materi pembelajaran.
- Guru meminta siswa mengamati tumbuhan yang melakukan gerak karena pengaruh
rangsangan cahaya, dan suhu di lingkungan rumah.
- Guru meminta siswa mempelajari materi selanjutnya.
- Menutup KBM.
4. Penilaian
- Tes tertulis/individu
- Tes kinerja/kelompok
SIKLUS II
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi gerak pada tumbuhan, siswa diharapkan dapat:
1. Siswa dapat menjelaskan pengertian gerak endonom.
2. Siswa dapat menyebutkan dan menjelaskan macam-macam gerak endonom,
beserta contohnya.
3. Siswa dapat mengenali gerak endonom melalui pengamatan gerak.
4. Siswa dapat melakukan dan melaporkan hasil percobaan gerak pada tumbuhan.


53

B. Materi Pembelajaran
Gerak endonom (Ggerak nutasi, gerak higroskopis)
C. Pendekatan dan Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Guided I nquiry
2. Metode : Eksperimen, diskusi, tannya jawab
D. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan ke 3
1. Kegiaan Pendahuluan
- Guru mengabsen siswa untuk mengkondisikan siswa pada situasi belajar.
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan di capai siswa
- Guru memberikan motivasi dengan mengajukan pertanyaan jelaskan. perbedaan
gerak etionom? Atau sebutkan macam-macam sumber rangsangan tumbuhan
dapat bergerak.
2. Kegiatan Inti
- Guru menjelaskan dengan singkat materi pelajaran kepada siswa.
- Siswa membentuk kelompok eksperimen yang beranggotakan 6-7 orang.
- Siswa melakukan kegiatan percobaan.
- Siswa merancang prosedur percobaan gerak endonom berdasarkan faktor-faktor
yang mempengaruhi.
- Setiap kelompok berdiskusi dalam kelompok untuk menyimpulkan
hasilpengamatan.
- Setiap kelompok empresentasikan hasil pengamatan, dan kelompok lain
menanggapi.
- Guru membagikan LKS dalam bentuk pertanyaan kepada kelompok untuk
didiskusikan sesuai dengan pengamatan kelompok.
3. Penutup
- Guru bersama siswa memberikan kesimpulan materi pembelajaran.
- Menutup KBM.



54


4. Penilaian
- Tes tertulis/individu
- Tes kinerja/kelompok
Pertemuan Ke 4
Pada pertemuan keempat peneliti hanya memberikan post test.


Ambia Februari 2014
Mengetahui,
Guru Mata Pelajaran, Mahasiswa,


Hermina M. Rumegang, S.Pd Yance Tasumolang
NIP : 19771217 200903 2 001 Nim : 10 310 831

Kepala Sekolah,


J. Suoth, SE
NIP :



55









SKENARIO PEMBELAJARAN ( SIKLUS I)
PENDEKATAN GUIDED INKUIRI

Sekolah : SMP ADVENT AMBIA
Kelas/Semester : VIII/2
Pokok Bahasan : GERAK PADA TUMBUHAN
Sub Pokok Bahasan : Gerak Etionom
ALOKASI WAKTU : 2 x 45 Menit
NO

Tahapan Alokasi
Waktu
Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
1 Kegiatan
awal
15 - Memberi salam
- Absensi


- Mengatur suasana kelas

- Menyampaikan judul
materi pelajaran
- Memberi salam
- Merespon ketika
absensi

- Mengatur tempat
Duduk
- Menulis judul materi
pembelajaran

2 Kegiatan
inti
45 - Mempersiapkan siswa - Siswa membentuk


56

membentuk kelompok
ekperimen/diskusi

- Sebagai fasilitator dalam
kegiatan
percobaan/diskusi siswa
tentang materi gerak
etionom yang terdiri dari
gerak tropisme, gerak
taksis dan gerak nasti
- Membagikan LKS
kepada kelompok

- Membimbing siswa
dalam menyimpulkan
materi pelajaran
kelompok


- Melakukan kegiatan
percobaan dan
mempresentasikan
hasil kegiatan
kelompok



- Menjawab pertanyaan
lewat LKS
- Menyimpulkan materi
pelajaran
3 Kegiatan
penutup
30 - Mengadakan evaluasi
- Mengumpulkan lembar
jawab
- Menutup KBM
- Menjawab soal yang
di berikan

- Mengucapkan terima
kasih












57











SKENARIO PEMBELAJARAN ( SIKLUS II)
PENDEKATAN GUIDED INKUIRI

Sekolah : SMP ADVENT AMBIA
Kelas/Semester : VIII/2
Pokok Bahasan : GERAK PADA TUMBUHAN
Sub Pokok Bahasan : Gerak Endonom
ALOKASI WAKTU : 2 x 45 Menit
NO

Tahapan Alokasi
Waktu
Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
1 Kegiatan
awal
15 - Memberi salam
- Absensi


- Mengatur suasana kelas

- Menyampaikan judul
materi pelajaran
- Memberi salam
- Merespon ketika
absensi

- Mengatur tempat
Duduk
- Menulis judul materi
pembelajaran

2 Kegiatan 45 - Mempersiapkan siswa - Siswa membentuk


58

inti membentuk kelompok
ekperimen/diskusi

- Sebagai fasilitator dalam
kegiatan
percobaan/diskusi siswa
tentang materi gerak
endonom
- Membagikan LKS
kepada kelompok

- Membimbing siswa
dalam menyimpulkan
materi pelajaran
kelompok


- Melakukan kegiatan
percobaan dan
mempresentasikan
hasil kegiatan
kelompok



- Menjawab pertanyaan
lewat LKS
- Menyimpulkan materi
pelajaran
3 Kegiatan
penutup
30 - Mengadakan evaluasi
- Mengumpulkan lembar
jawab
- Menutup KBM
- Menjawab soal yang
di berikan

- Mengucapkan terima
kasih












59









LEMBAR KERJA SISWA ( LKS ) SIKLUS 1
GERAK NASTI PADA TUMBUHAN
A. Tujuan Percobaan : Siswa dapat menjelaskan gerak nasti pada tumbuhan putri
malu (Mimosa pudica) karena sentuhan dan suhu.
B. Alat dan bahan : Korek api, lidi, dan tanaman putri malu (Mimosa pudica)
C. Cara Kerja :
1. Carilah tanaman putri malu, kemudian lakukan sentuhan dengan lidi berturut pada
pangkal tangkai daun, tangkai anak daun, dan anak daun !
2. Dekatkan lilin yang membara berturut-turut pada pangkal tangkai daun, tangkai anak
daun dan anak daun !
3. Amatilah perubahan yang terjadi pada daun putri malu dalam waktu 15 menit!
4. Catatlah pengamatan pada tabel berikut!
D. Tabel Pengamatan
Rangsangan yang
diberikan pada
putri malu
Bagian yang dirangsang Perubahan
yang terjadi
saat dirangsang
Setelah 15 menit
1. Sentuhan a. Pangkal tangkai daun
b. Tangkai anak daun
c. Anak daun

2. Panas a. Pangkal tangkai daun
b. Tangkai anak daun



60

Anak daun

E. Pertanyaan
1. Apakah yang terjadi bila daun putri malu (Mimosa pudica) diberikan rangsang
sentuhan dan panas ?
2. Tumbuhan tidak mempunyai saraf, berdasarkan jawaban pada nomor 1, apa yang dapat
kamu katakan ?
3. Gerak pada tumbuhan putri malu (Mimosa pudica) dinamakan gerak nasti, apakah
maksudnya?
4. Sebutkan macam-macam gerak nasti !
5. Apakah kesimpulan dari percobaan yang kamu lakukan ?

EMBAR KERJA SISWA ( LKS ) SIKLUS II
GERAK PADA TUMBUHAN

A. Tujuan Percobaan : Membedakan macam-macam gerak pada tumbuhan
B. Alat dan bahan : Alat tulis
C. Cara Kerja : Isilah tabel di bawah ini !
D. Tabel :

No. Nama Gerak Penyebab Contoh
1. Autosom

2. Higroskopis
3. Haptonasti
4. Fototropisme
5. Geotropisme
6. Fototaksis
7. Kemotaksis
8. Niktinasti
9. Fotonasti
10. Nasti Komplek

E. Pertanyaan:
1. Jelaskan tentang iritabilitas!


61

2. Sebutkan macam-macam rangsang yang mempengaruhi terjadinya gerak pada
tumbuhan!
3. Jelaskan perbedaan gerak autosom dan esionom!
4. Jelaskan perbedaan gerak fototropisme positif dan gerak fototropisme negatif!
5. Jelaskan perbedaan gerak fototaksis dan niktinasti!






SOAL INDIVIDU
Siklus I
Bagian I
Pilihlah salah satu jawaban yang tepat !!!
1. Gerak bagian tumbuha yang arah geraknya di pengaruhi oleh arah datangnya rangsangan
adalah gerak
a. Tropisme c. Nasti
b. Taksis d. Otonom

2. Gerakan ujung batang tumbuhan yang membelok ke arah datangnya cahaya di sebut
a. Geotropism c. Kemotropisme
b. Fototropisme d. Tigmotropisme

3.

Gambar di atas menunjukkan gerak


62

a. Hidrotropisme c. Geotropism
b. Fototropisme d. Tigmotropisme

4. Gerak akar menuju tempat yang ada airnya atau basa merupakan contoh gerak
a. Geotropism c. Kemotaksis
b. Kemotropisme d. hidrotropisme

5. gerak bagian tumbuhan karena rangsangan zat kimia disebut
a. Kemotropisme c. tigmotropisme
b. Taksis d. Nasti

6. Gerak seluruh tubuh atau gerak berpindah tempat bagian dari tubuh tumbuhan yang arah
perpindahanya dipengaruhi rangsangan disebut gerak
a. Nasti c. Termonasti
b. Taksis d. Niktinasti

7. Gerak nasti yang disebabkan oleh suasana gelap, atau disebut juga gerak tidur,ini adalah
gerak
a. Fotonasti c. Niktinasti
b. Nasti kompleks d. Tigmonasti

8. Daun putri malu jika di sentuh akan menutup. Hal itu merupakan contoh gerak
a. Fototropisme c. Geotropisme
b. Tropisme d. Tigmonasti

9. Gerakan menggulungnya daun padi karena kekurangan air,contoh dari gerak
a. Taksis c. Taksis
b. Etionom d. Hidronasti

10. Gerakan membuka dan menutupnya stomata pada daun adalah gerak
a. Termonasti c. Haptonasti
b. Fotonasti d. Nasti Kompleks



63

Bagian II
ESSAY :
1) Mengapa tumbuhan dapat bergerak walau tidak memiliki sistem saraf ?
2) Jelaskan macam-macam penyebab gerak nasti ?
3) Berikan contoh tumbuhan yang melakukan gerak tropisme, gerak taksis dan gerak
nasti!.
4) rangsangan apakah yang yang mempengaruhi gerak perumbuhan akar menuju ke
tanah ? sebutkan nama geraknya
5) Buatlah cara kerja/prosedur percobaan dari kegiatan yang telah di lakukan !



SOAL INDIVIDU
Siklus II
Bagian I
Pilihlah satu jawaban yang tepat !!!
1. Faktor yang disebabkan oleh rangsangan yang diduka berasal dari dalam tumbuhan itu
sendiri disebut
a. gerak endonom c. gerak gravitasi
b. gerak otonom d. gerak nasti

2. berikut ini adalah macam-macam gerak endonom kecuali
a. nutasi c. higroskopis
b. siklosis d. nasti

3.gerak yang ujungnya sedang tumbuh yang membentuk lintasan melingkardiudara adalah
a. nasti c. nasti kompleks
b. nutasi d. nutasi kompleks

4. gerakan sitoplasma pada daun hydrillia adalah contoh dari gerak
a. fototropisme c. nutasi


64

b. tropisme d. nasti

5. gerak bagian tumbuhan yang disebabkan oleh perubahan kadar air pada bagian
tumbuhan adalah
a. higroskopis c. nasti kompleks
b. termonasti d. hiptonasti
ESSAY :
1. apa fungsi gerak sitoplasma pada sel-sel daun?
2. sebutkan dan jelaskan macam-macam gerak endonom!
3. berikan contoh gerak higriskopis!
4. terjadinya gerak nutasi disebabkan oleh apa ?
5. bagaimana perbedaan gerak endonom dan etionom !

LEMBAR PENGAMATAN PROSESE BELAJAR MENGAJAR
RESPONDEN GURU SIKLUS I dan II
Nama Sekolah : SMP Advent Ambia
Tahun Pelajaran : 2013/2014
Kelas/Semester : VIII/ II
Pokok Bahas : Sistem Gerak Pada Tumbuhan

No. KEGIATAN 4 3 2 1
1 Apersepsi
2 Penjelasan materi
3 Teknik pembagian kelompok
4 Pengelolaan kegiatan diskusi
5 Pemberian pertanyaan atau kuis
6 Kemampuan melakukan evaluasi
7 Memberikan penghargaan individu dan
kelompok

8 Menentukan nilai individu dan kelompok
9 Menyimpulkan materi pembelajaran
10 Menutup pembelajaran



KETERANGAN


65

SB = SANGAT BAIK (4)
B = BAIK (3)
C = CUKUP (2)
K = KURANG (1)

Mengetahui,
Guru Mata Pelajaran. Peneliti,


Hermina M. Rumegang, S.Pd Yance Tasumolang
NIP : 19771217 200903 2 001 NIM : 10 310 831


LEMBAR PENGAMATAN
AKTIVITAS SISWA DALAM KBM SIKLUS I dan II

Nama sekolah : SMP ADVENT AMBIA
Pokok Bahasan : Sistem Gerak Pada Tumbuhan
Kelas/Semester : VIII/ II
Petunjuk Pengisian :
Amatilah aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung kemudian isilah
lembar observasi dengan prosedur sebagai berikut :
1. Pengamat dalam melakukan pengamatan duduk ditempat yang memungkinkan dapat
melihat semua aktivitas siswa yang diamati.
2. Pengamat melakukan pengamatan aktivitas siswa, kemudian 30 detik berikutnya
pengamat menulis kode kategori pengamatan.
3. Kode-kode kategori dituliskan secara berurutan sesuai dengan kejadian pada baris dan
kolom yang tersedia.
4. Pengamatan dilakukan sejak proses belajar mengajar berlangsung.
Aktivitas siswa selama KBM
1. Keaktifan Siswa
2. Perhatian Siswa
3. Kedisiplinan


66

4. Penugasan/Resitasi
No Nama Siswa NIS Aktivitas Siswa Selama KBM
4 3 2 1
1 Angelia Barauntu
2 Andika Marinu
3 Andra Sahoa
4 Angreina Poae
5 Angel Tampila
6 Ario Sasue
7 Arten Maamea
8 Beverly Salettia
9 Dani Abdul
10 Dicki Barahama
11 Frisaldy Rabuisa
12 Geby Maamea
13 Geovanny Tumbal
14 Ghian Maharum
15 Glendi Larenggam
16 Iren Mamuane
17 Jeisi Sahoa
18 Jeniati Rengki
19 Jodi Tempo
20 Josua Rumegang
21 Joko Yura
22 Kristin V. Madea
23 Maria Latjandu


67

24 Mahenra Tuage
25 Milani Sahoa
26 Natalia Laliboso
27 Noman Lumiru
28 Riski R. Nae
29 Selmiati Barahama
30 Susan Rorong
31 Sunarjo Sahoa
32 Tania Laluraa
33 Tania Manurung
34 Wanda sasue
35 Yulia Paradenti

Keterangan
SB = Sangat Baik: Skor 4
B = Baik: Skor 3
C = Cukup; Skor 2
K = Kurang: Skor 1

Mengetahui,
Guru Mata Pelajaran. Peneliti,


Hermina M. Rumegang, S.Pd Yance Tasumolan
NIP : 19771217 200903 2 001 NIM : 10 310 831



68

RIWAYAT HIDUP
Yance Tasumolang, dilahirkan di Ensem pada tanggal 15 Januari 1991.
Penulis sebagai anak ke tiga dari tiga bersaudara dari ayah Hotman
Tasumolang dan ibu Hulda Maniara. Mengawali jenjang pendidikan di
SD YPK Petra Ensem pada tahun 1997 dan lulus tahun 2003. Tahun
2006, lulus dari SMP Negeri 4 Essang, dan pada tahun 2009 lulus dari
SMA Advent Ambia. Tahun 2010 mengikuti perkuliahan di Universitas
Negeri Manado (UNIMA) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam prodi
Pendidikan Biologi.