Anda di halaman 1dari 13

Pendidikan Kewarganegaraan Page 1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan bersama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat
ataupun bangsa, musyawarah mutlak diperlukan. Dalam proses musyawarah itu
berlangsung dialog dan komunikasi sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai
dalam musyawarah.
Musyawarah memiliki posisi mendalam dalam kehidupan masyarakat di
Indonesia. Bukan sekedar sistem politik pemerintahan, tapi juga merupakan
karakter dasar seluruh masyarakat. Seluruh persoalan didasarkan atas
musyawarah, lalu dari masyarakat, kemudian prinsip ini merambah ke
pemerintahan.
Dalam Islam, musyawarah telah menjadi wacana yang sangat menarik.
Hal itu terjadi karena istilah ini disebutkan dalam al-Quran dan Hadits, sehingga
musyawarah secara tekstual merupakan fakta wahyu yang tersurat dan bisa
menjadi ajaran normatif dalam Islam. Bahkan menjadi sesuatu yang sangat
mendasar dalam kehidupan umat manusia, yang dalam setiap detik perkembangan
umat manusia, musyawarah senantiasa menjadi bagian yang tidak terpisahkan di
tengah perkembangan kehidupan umat manusia terutama di Indonesia.
Musyawarah yang diajarkan oleh al-Quran bisa dianggap sebagai tawaran
konsep utuh yang selalu relevan dengan setiap perkembangan politik umat
manusia. Bagaimanapun bentuk konsep politik yang terjadi, musyawarah tetap
memiliki relevensi yang tidak terbantahkan, karena musyawarah merupakan
ajaran yang bersumber langsung dari Tuhan.
Musyawarah bukan hanya sebagai teoritis semata, tetapi merupakan
kebiasaan yang membumi di tengah-tengah masyarakat. Namun seiring dengan
perkembangan zaman kebudayaan akan bermusyawarah mulai luntur dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Misalkan demo masyarakat di
salah tempat, dikarenakan sebidang tanah yang cukup lama sebagai milik
Pendidikan Kewarganegaraan Page 2

pemerintah berpindah tangan ke segelintir orang. Tentunya masyarakat yang
bersangkutan bertanya, kenapa bisa berpindah tangan.
Jika saja segala sesuatunya dimusyawarahkan, dan tentunya sebagian
orang tidak begitu saja mengaku sesuatu yang bukan haknya. Maka segala sesuatu
yang menjadi pro kontra pun tidak akan menimbulkan permasalahan. Oleh karena
itu, sebagai masyarakat Indonesia yang berbudaya kita diwajibkan untuk dapat
mebangun kebiasaan bermusyawarah yang dilakukan secara sistematik dan
berdasarkan prinsip-prinsip yang ada.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan musyawarah?
b. Bagaimana cara membangun karakter musyawarah di Indonesia?
c. Apakah manfaat dari musyawarah?

1.3 Tujuan Perumusan Masalah
a. Mengetahui arti dari musyawarah
b. Mengetahui cara membangun karakter musyawarah di Indonesia
c. Mengetahui manfaat dari budaya bermusyawarah








Pendidikan Kewarganegaraan Page 3




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Musyawarah
Secara bahasa musyawarah berasal dari bahasa Arab yaitu syr yang
berarti mengambil, melatih, menyodorkan diri, dan meminta pendapat atau
nasihat; atau secara umum, asy-syr artinya meminta
sesuatu. Kata ( ) Syr terambil dari kata ( - -
) menjadi ( ) Syr.
Kata Syr bermakna mengambil dan mengeluarkan pendapat yang
terbaik dengan menghadapkan satu pendapat dengan pendapat yang lain. Dari
pengertian itu dapat disimpulkan, syura artinya memusyawarahkan perbedaan-
perbedaan pendapat atas sesuatu untuk melahirkan kebaikan dan kebenaran yang
ada di dalamnya.
Menurut istilah sebagaimana dikemukaan oleh Ar-Raghib Al-Ashfahani:
: : ( )
Musyawarah adalah mengeluarkan pendapat dengan mengembalikan sebagiannya
pada sebagian yang lain, yakni menimbang satu pendapat dengan pendapat yang
lain untuk mendapat satu pendapat yang disepakati.
Sedangkan dalam KBBI musyawarah berarti pembahasan bersama dengan
maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah (KBBI:768).
Dengan demikian pengertian musyawarah adalah suatu sistem pengambilan
keputusan yang melibatkan banyak orang dengan mengakomodasi semua
kepentingan sehingga tercipta satu keputusan yang disepakati bersama dan dapat
dijalankan oleh seluruh peserta yang mengikuti musyawarah.

Pendidikan Kewarganegaraan Page 4

2.2 Dalil Al-Quran dan Al Hadist yang Menjelaskan Tentang Musyawarah

a. Surat Al-Baqarah ayat 233:

:(

)
Artinya: Apabila keduanya (suami istri) ingin menyapih anak mereka (sebelum
dua tahun) atas dasar kerelaan dan permusyawarahan antara mereka. Maka
tidak ada dosa atas keduanya. (QS. Al-Baqarah: 233)

Ayat ini membicarakan bagaimana seharusnya hubungan suami istri saat
mengambil keputusan yang berkaitan dengan rumah tangga dan anak-anak, seperti
menceraikan anak dari menyusu ibunya. Didalam menceraikan anak dari menyusu
ibunya kedua orang tua harus mengadakan musyawarah, menceraikan itu tidak
boleh dilakukan tanpa ada musyawarah, seandainya salah dari keduanya tidak
menyetujui, maka orang tua itu akan berdosa karena ini menyangkut dengan
kemaslahan anak tersebut. Jadi pada ayat di atas, Alquran memberi petunjuk agar
setiap persoalan rumah tangga termasuk persoalan rumah tangga lainnya
dimusyawarahkan antara suami istri.
b. Surat Ali Imran ayat 159 :

: (

)
Artinya:
Maka disebabkan rahmat Allahlah, engkau bersikap lemah lembut
terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras.
Niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerena itu,
maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan tertentu. Kemudian
apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-
Nya. (QS. Ali Imran: 159)
Pendidikan Kewarganegaraan Page 5


c. Hadist dari Hasan ra

)) (

Hadtis yang diriwayatkan dari hasan semoga ridha Allah darinya: Allah
sungguh mengetahui apa yang mereka butuhkan dan tetapi yang ia inginkan
enam puluh orang. Dan dari Nabi saw: (suatu kaum memadai dalam
bernusyawarah tetang sesuatu kecuali mereka ditunjuki jalan yang lurus untuk
urusan mereka).


d. Hadits dari Imam Ahmad

3.2

).(

Telah bersabda Rasulullah SAW. Kepada Abu Bakar dan Umar : Apabila kalian
berdua sepakat dalam musyawarah, maka aku tidak akan menyalahi kamu
berdua. (HR. Ahmad)

e. Hadist dari Ibnu Majjah

) (



Apabila salah seorang kamu meminta bermusyawarah dengan saudaranya, maka
penuhilah. (HR. Ibnu Majah)

2.3 Nilai Musyawarah dalam Pancasila
Pendidikan Kewarganegaraan Page 6

Nilai-nilai Pancasila merupakan suatu pandangan hidup bangsa Indonesia.
Pancasila juga merupakan nilai-nilai yang sesuai dengan hati nurani bangsa
Indonesia, karena bersumber pada kepribadian bangsa. Nilai-nilai Pancasila ini
menjadi landasan dasar, serta motivasi atas segala perbuatan baik dalam
kehidupan sehari-hari dan dalam kenegaraan. Dalam kehidupan kenegaraan,
perwujudan nilai Pancasila harus tampak dalam suatu peraturan perundangan
yang berlaku di Indonesia. Karena dengan tampaknya Pancasila dalam suatu
peraturan dapat menuntun seluruh masyarakat dalam bersikap sesuai dengan
peraturan perundangan yang disesuaikan dengan Pancasila.
Salah satu nilai yang terkandung dalam pancasila yang terkandung dalam
sila keempat adalah: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Rakyat dalam hal ini merupakan
komunitas yang masing-masing individu memiliki kedudukan yang sama,
memiliki kewajiban dan hak yang sama. Inilah inti dari kehidupan demokrasi
yang ada di Indonesia yang memiliki ciri yang khas, yakni musyawarah untuk
mufakat, yang dijalankan secara jujur dan tanggung jawab. Nilai-nilai yang
terkandung pada sila keempat ini, antara laian: demokrasi, persamaan,
mengutamakan kepentingan negara, tidak memaksakan kehendak, musyawarah
untuk mufakat, semangat kekeluargaan, kesantunan dalam menyampaikan
pendapat, jujur dan tanggung jawab.

Dengan demikian betapa pentingnya nilai musyawarah yang harus dimiliki
oleh setiap masyarakat Indonesia sebagai perwujudan akan nilai pancasila yang
kelak akan menjadi karakter yang membangun bagi bangsa Indonesia.

2.4 Pendapat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang Budaya
Musyawarah yang Semakin Luntur

Saat memperingati Hari Konstitusi pada 18 Agustus 2011 lalu, Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono menekankan pentingnya kembali mengembangkan
Pendidikan Kewarganegaraan Page 7

budaya musyarawah untuk mufakat yang dinilai makin meluntur belakangan ini.
Padahal, pola ini yang dikembangkan oleh para pendiri dan pendahulu ketika
merintis Republik Indonesia.
Presiden mengungkapkan bahwa nilai budaya musyawarah dan mufakat
langsung berasal dari Pancasila sebagai dasar negara. Pengambilan keputusan
dengan konsensus dinilainya sebagai cara yang lebih tepat karena lebih
memungkinkan mencapai win-win solution dalam berbagai persoalan. Mungkin
waktu yang ditempuh akan lebih lama. Namun, ruang yang tersedia untuk
mendengarkan pandangan pihak lain akan menjadi proses yang baik untuk
menemukan pilihan terbaik.
Presiden juga berharap agar seluruh proses pengambilan keputusan tidak
bisa menggunakan metode pemungutan suara atau voting. "Voting atau
pemungutan suara memang tidak ditabukan dalam kehidupan demokrasi. Ada
kalanya ada masalah-masalah yang bisa dilakukan dengan pemungutan suara.
Presiden mengatakan bahwa tidak semua isu atau pilihan dapat tepat
diambil melalui pemungutan suara, apalagi jika menyangkut kebenaran dan
logika. Presiden mencontohkan dalam perumusan kandungan konstitusi UUD
yang menjadi sumber hukum yang penting dalam kehidupan bernegara. Menurut
Presiden, manakala diperlukan perubahan terhadap konstitusi, rakyat harus
dilibatkan.
Perubahan tak boleh hanya berdasarkan pada keinginan elit politik semata.
Apalagi hanya diputuskan melalui voting yang dinilainya hanya sebagai jalan
pintas. Akibatnya, substansi fundamental dari perubahan bisa saja diabaikan.
Padahal, konstitusi adalah mandat dari rakyat.
Jika voting itu tidak jernih untuk memilih opsi, termasuk disertai dengan
penyakit paling berbahaya dalam demokrasi, yaitu politik uang. Harus kita
jauhkan suasana-suasana seperti itu jika kita ingin ambil keputusan dengan
metodologi voting. Mari kita kembalikan mana yang sebaiknya dengan
Pendidikan Kewarganegaraan Page 8

musyawarah dan mana yang bisa diambil dengan voting kepada nilai-nilai
Pancasila, UUD 1945, dan nilai kebenaran dan logika.
2.5 Pendidikan Sebagai Sarana Mengembangkan Budaya Musyawarah
Dalam mengembangkan budaya musyawarah, salah satu usaha yang perlu
dilakukan adalah pengembangan di bidang pendidikan baik pendidikan formal
dari jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi, dan juga pendidikan informal
dari keluarga atau masyarakat. Karena fungsi alamiah pendidikan adalah
memberdayakan manusia tidak hanya menjadi pendukung sistem nilai yang
berlaku tetapi lebih menjadi pengolahnya hingga sesuai dengan tuntutan zaman,
bahkan juga menjadi salah satu kekuatan sosial yang ikut memberi bentuk, corak,
dan arah bagi kehidupan masyarakat di masa depan.
Dalam rangka mengembangkan kepercayaan masyarakat pada pentingnya
karakter musyawarah dan menjadikannya merupakan bagian dari nilai budaya
masyarakat Indonesia yang diyakini paling sesuai bagi masyarakat Indonesia
untuk menyelesaikan masalah bersama. Menurut Satjipto Rahardjo, pendidikan
niscaya menjadi andalan yang sangat penting pada waktu suatu bangsa merintis
suatu pengalaman baru.
Pendidikan formal dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi harus
mulai memperkenalkan, mengembangkan, mengkomunikasikan keluhuran nilai
budaya musyawarah dan paham perdamaian dalam lingkungan pergaulan mereka
melalui keteladanan dan contoh-contoh kongkrit yang terjadi di lingkungan
pergaulan masyarakat. Dalam sistem pendidikan Jepang misalnya, terdapat
paham fasifisme atau paham perdamaian yang terus menerus dianut sampai
sekarang. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat Jepang menjadi orang yang cinta
damai.
Pendidikan harus mampu membentuk hati dan perasaan murid karena
masalah nilai, jati diri, sikap egaliter, sikap pemaaf, dan mempercayai orang lain
adalah terutama masalah hati, masalah afeksi, dan bukan masalah pengetahuan
Pendidikan Kewarganegaraan Page 9

semata. Oleh karena itu, sekolah juga harus mengajarkan anak untuk menanamkan
budaya bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah. Berdasarkan hal itu,
sekolah harus melakukan pembinaan kognitif, afektif, dan konatif secara simultan
Namun demikian, kurikulum pendidikan di Indonesia selama ini justru
lebih menekankan aspek intelektualitas, dan mengabaikan segi afektivitas.
Padahal realitas membuktikan bahwa keberhasilan seorang di dalam masyarakat
tidak hanya ditentukan pada faktor intelgensi, tapi juga faktor emotional, dan
faktor spiritual quotient.
Berdasarkan hal itu yang mendesak sekarang ini adalah pembaharuan
paradigma pendidikan dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi yang
tidak lagi hanya memfokuskan atau memberi apresiasi hanya pada kemampuan
intelektual. Untuk itu birokrasi pendidikan pusat dan daerah, harus mulai
memberikan otonomi yang luas untuk mengembangkan kurikulum lokalnya, yang
memungkinkan guru-guru dalam praktek sehari-hari memberikan perhatian yang
sama pada pembinaan kemampuan kognitif, kepekaan afektif, dan kemampuan
konatif, serta memungkinkan guru mempunyai kebebasan untuk melakukan tugas
mereka secara kreatif. Berkaitan dengan penanaman nilai musyawarah, tenaga
pendidik (guru dan dosen) sebagai salah satu faktor kunci keberhasilan proses
pengembangan mekanisme bermusyawarah. Pada lingkungan pendidikan sekolah
dasar sampai sekolah lanjutan atas, di samping guru harus mengkomunikasikan
nilai-nilai musyawarah atau perdamaian secara kreatif melalui suatu pelajaran
seperti Budi Pekerti, juga harus bisa menjadikan nilai musyawarah atau
perdamaian merupakan bagian dalam kehidupan pergaulan (konatif) di sekolah
Tidak itu saja, masyarakatpun harus mendukung menciptakan situasi yang
responsif untuk pengembangan nilai-nilai tersebut.
2.6 Keluarga Sebagai Sarana Mengembangkan Budaya Musyawarah
Penghidupan kembali nilainilai musyawarah, perdamaian, dan tenggangrasa
bukan hanya tanggungjawab dunia pendidikan formal, tapi menjadi
Pendidikan Kewarganegaraan Page 10

tanggungjawab semua masyarakat, khususnya keluarga dan institusi-insitusi
publik. Pendidikan dari lingkungan keluarga merupakan basis utama dan kunci
tranformasi nilai-nilai moral pertamakali diperkenalkan oleh orang tua pada
seorang anak sebelum mengenal pendidikan formal. Pesan leluhur dalam Serat
Wulang Reh menyebutkan bahwa keluarga merupakan wadah:
1) pendidikan pergaulan,
2) pendidikan watak,
3) pendidikan norma sosial.
4) pendidikan tatakrama,
5) pendidikan tentang baik buruk, dan
6) pendidikan agama.
Dari berbagai unsur pendidikan ini tugas keluarga adalah mendidik anak
yang sebaik-baiknya. Selanjutnya dalam pandangan hidup tradisional (termasuk
yang semi modern) keluarga juga dianggap poros dan sel terhakiki dalam hidup
sosial. Mutu hidup sosial sangat tergantung pada hubungan intern keluarga, kalau
keluarga tidak pernah membekali anak-anaknya dengan teladan yang baik dan
nilai-nilai moral dalam hidup sosial, maka bukan mustahil bahwa anggota-anggota
keluarga tertentu akan mengalami krisis moralitas.
2.7 Intuisi Publik Sebagai Sarana Mengembangkan Budaya Musyawarah
Di samping keluarga, institusi publik seperti perusahaan jaringan telivisi
juga merupakan media yang paling strategis untuk mensosialisasikan pesan-pesan
moral, penciptaan karakter, kepribadian masyarakat. Dengan menekankan budaya
musyawarah yang sesuai dengan prinsip-prinsip tanpa harus dengan kekerasan
dalam menyelesaikan suatu perselisihan yang saat ini kerap terjadi.
Pendidikan Kewarganegaraan Page 11

2.8 Prinsip-prinsip dalam Musyawarah
Dalam melakukan proses musyawarah tidak dilakukan dengan begitu saja,
melainkan kita harus memiliki pedoman yang harus ditaati saat melakukan
musyawarah. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:
a. musyawarah bersumber pada paham sila keempat pancasila
b. setiap putusan yang diambil harus dapat di pertanggung jawabkan dan
tidak boleh bertentangan dengan pancasila dan UUD 1945.
c. setiap peserta musyawarah mempunyai hak dan kewajiban yang sama
dalam mengeluarkan pendapat.
d. setiap putusan, baik sebagai hasil mufakat maupun berdasarkan suara
terbanyak harus diterima dan di laksanakan.
e. apabila cara musyawarah untuk mufakat tidak dapat di capai dan telah
di upayakan berkali-kali maka dapat di gunakan cara lain yaitu dengan
pengambilan suara terbanyak(voting)
2.9 Manfaat Musyawarah
Musyawarah, mengandung banyak sekali manfaatnya. Diantaranya adalah
sebagai berikut:
a. Melalui musyawarah, dapat diketahui kadar akal, pemahaman, kadar
kecintaan, dan keikhlasan terhadap kemaslahatan umum,
b. Sesungguhnya akal manusia itu bertingkat-tingkat, dan jalan nalarnyapun
berbeda-beda. Oleh karena itu, di antara mereka pasti mempunyai suatu
kelebihan pandangan disbanding yang lain (dan sebaliknya), sekalipun di
kalangan para pembesar,
c. Sesungguhnya pendapat-pendapat dalam musyawarah
diuji keakuratannya, . Setelah itu, dipilihlah pendapat yang sesuai (baik
dan benar),
Pendidikan Kewarganegaraan Page 12

d. Di dalam musyawarah, akan tampak bersatunya hati untuk mensukseskan
suatu upaya dan kesepakatan hati. Dalam hal itu, memang, sangat
diperlukan untuk suksesnya masalahnya masalah yang sedang dihadapi.
e. Untuk menetapkan suatu keputusan dengan adil dan bijaksana,
f. Untuk mencari kebenaran, persetujuan, dan kesepakatan bersama yang
lebih baik,
g. Untuk menghilangkan sikap otoriter, diktator, dan sikap sewenang-
wenang,
h. Untuk belajar membiasakan mengemukakan pendapat, ide, atau gagasan
secara tepat.

Menurut Ali bin Abi Thalib ada tujuh manfaat musyawarah, antara lain:

a. Dapat mengambil kesimpulan yang benar.
b. Mencari kebenaran.
c. Menjaga diri dari kekeliruan.
d. Menghindarkan celaan.
e. Menciptakan stabilitas emosi
f. Keterpaduan hati.
g. Dan mengikuti atsar.

Dalam bukunya djoko sutopo pun berpendapat sama atas manfaat atau
faedah dari musyawarah yaitu untuk bertukar fikiran serta menguji suatu pendapat
yang layak dan patut untuk di ambil sebagai keputusan. Dalam musyawarah
berupaya untuk menyatukan gagasan yang keluardari pemikiran banyak orang.


Pendidikan Kewarganegaraan Page 13

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Musyawarah adalah suatu sistem pengambilan keputusan yang melibatkan
banyak orang dengan mengakomodasi semua kepentingan sehingga tercipta satu
keputusan yang disepakati bersama dan dapat dijalankan oleh seluruh peserta
yang mengikuti musyawarah.
Budaya musyawarah terkandung dalam pancasila sila keempat adalah:
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan. Inilah inti dari kehidupan demokrasi yang ada di
Indonesia yang memiliki ciri yang khas, yakni musyawarah untuk mufakat, yang
dijalankan secara jujur dan tanggung jawab.
Dalam mengembangkan budaya musyawarah dibutuhkan peran
pendidikan, keluarga, dan intuisi publik.
Manfaat melakukan musyawarah adalah Untuk menetapkan suatu
keputusan dengan adil dan bijaksana yang mufakat, Untuk mencari kebenaran,
persetujuan, dan kesepakatan bersama yang lebih baik, Untuk menghilangkan
sikap otoriter, diktator, dan sikap sewenang-wenang, Untuk belajar membiasakan
mengemukakan pendapat, ide, atau gagasan secara tepat