Anda di halaman 1dari 9

DOMESTIKASI IKAN BETOK (ANABAS TESTUDINEUS

BLOCH) DAN LANGKAH PEMULIAANNYA


Tugas Mata Kuliah Genetika Ikan (BDP 621)
Dosen
Dr. Ir. Dinar Tri Soelistyowati, DEA.
MAYOR ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
Oleh
RAHMAT HIDAYAT
C151130711
1 PENDAHULUAN


Produksi akuakultur di Indonesia pada umumnya didominasi oleh ikan-ikan
introduksi, di sisi lain ikan-ikan lokal yang mempunyai nilai ekonomis masih
sangat banyak dan berpotensi untuk dikembangkan budidayanya. Nilai ekonomis
ikan-ikan lokal beberapa diantaranya dipengaruhi oleh budaya dan adat
masyarakat lokal. Ikan betok (Anabas testudineus) adalah ikan asli Indonesia
yang tersebar di pulau Kalimantan, Jawa, Sumatera, Sumbawa, dan Manado
(www.fishbase.org). Ikan spesifik lokal ini digemari oleh masyarakat Kalimantan
Selatan. Tingginya harga dan permintaan untuk ikan lokal ini mendorong
eksploitasinya secara terus menerus melalui penangkapan dari alam yang
mengakibatkan ketersediaannya di alam semakin langka. Ikan betok di
Kalimantan Selatan terdiri dari dua varian berdasarkan warna badan, yaitu ikan
betok hijau dan galam meskipun keduanya memiliki karakter morfologi yang
sama. Ikan betok galam memiliki bentuk badan yang lebih kecil dibanding
dengan ikan betok hijau (Rohansyah dkk 2010).
Ikan betok memiliki nilai ekonomis tinggi karena permintaannya yang
semakin meningkat. Mahreda dkk. (2012) melaporkan bahwa ikan betok hasil
tangkapan alam di tingkat nelayan berharga Rp. 25.000,-/Kg, dengan jumlah
tangkapan 356,9 ton dan nilai produksi sebesar Rp. 8.887.500.000,- pada tahun
2010. Harga ikan betok di tingkat end user mencapai harga Rp. 50.000,- hingga
Rp. 80.000,- (DISPERINDAGKOP 2013). Oleh sebab itu, komoditas ikan ini
dimasukkan ke dalam komoditi/produk/jenis usaha (KPJU) unggulan usaha
mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada tahun 2012 (BI 2012). Peluang
investasi di usaha akuakultur sangat menjanjikan karena kegemaran masyarakat
mengkonsumsi ikan, berdasarkan data konsumsi ikan per/kapita penduduk
Kalimantan Selatan pada tahun 2008 telah melampaui ketentuan Widya Karya
Gizi Nasional 1993 (26,55 kg/kapita/tahun) yaitu sebesar 33,9 kg/kapita/tahun
(BKPM 2009), dan meningkat menjadi 44,7 kg/kapita/tahun pada tahun 2012
(KKP 2012). Data tersebut menjadi dasar bahwa usaha budidaya betok memiliki
potensi yang cukup menjanjikan
Berdasarkan uraian di atas, maka ikan betok di wilayah Kalimantan Selatan
merupakan komoditas yang memiliki potensi eknomis, sosial dan budaya.
Sehubungan dengan populasi ikan betok di alam yang semakin berkurang, maka
perlu dilakukan upaya antisipasi untuk mempertahankan eksistensi ikan betok di
alamnya, yaitu melalui kegiatan pemuliaan yang diawali dengan tahap
domestikasi.
Kegiatan domestikasi melalui pengembangan teknologi budidaya ikan betok
telah dilakukan di Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin sejak tahun 1996
(BBAT Mandiangin 2013). Tahap awal kegiatan domestikasi adalah melakukan
koleksi induk ikan betok dari alam pada tahun 1996 2006. Induk ikan betok
hasil koleksi ini disebut sebagai Parent (G
o
). Selama kegiatan koleksi juga
dilakukan uji coba pembenihan, hingga tahun 2009 diperoleh teknologi
pembenihan ikan betok secara massal menghasilkan benih ikan betok ukuran 1 3
cm umur 30 hari. Distribusi hasil uji coba pemijahan induk G0 pada tahun 2009
adalah 40.000 ekor, kemudian pada tahun 2010 telah diperoleh induk ikan betok
generasi satu (G1) hasil pembesaran selama 8 bulan di Instalasi Budidaya Ikan
2

Lahan Gambut. Induk G1 di Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin hingga kini
menjadi induk untuk memproduksi benih ikan betok generasi dua (G2), dengan
distribusi di masyarakat yang semakin meningkat pada tahun 2011 dan 2012
berturut-turut sebanyak 58.000 ekor dan 70.000 ekor. Kelebihan dari benih ikan
betok hasil domestikasi ini adalah lebih mudah diproduksi secara massal, dapat
dikendalikan produksinya, dan adaptif terhadap lingkungan budidaya, khususnya
dalam hal respon terhadap pakan pellet.


2 KARAKTERISTIK IKAN BETOK

Sistematika Ikan Betok

Ikan betok memiliki organ labirin (labyrinth organ) sebagai alat bantu
dalam memanfaatkan oksigen bebas secara langsung untuk bernafas saat ikan
mengalami kekeringan dan harus berpindah ke tempat lain yang masih berair.
betok mampu merayap naik dan berjalan di daratan dengan menggunakan tutup
insang yang dapat dimekarkan, dan berlaku sebagai semacam kaki depan. Pada
kondisi di daratan, ikan ini tidak dapat terlalu lama bertahan dan harus
mendapatkan air dalam beberapa jam. Menurut Kottelat, et. al. (1993), Saanin
(1984) dan dalam WWW.FISHBASE.COM, ikan betok termasuk dalam golongan ikan
yang memiliki sirip menyerupai sinar matahari (Actinopterygii), menyerupai
perca/perch (perciformes). Klasifikasikan ikan betok secara lengkap dipaparkan
sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub kelas : Actinopterygii
Infra kelas : Teleostei
Divisi : Euteleostei
Super ordo : Acanthopterygii
Series : Atherinoporho
Order : Perciformes
Family : Anabantidae
Genus : Anabas
Species : Anabas testudineus Bloch

3


Gambar 4. Taksonomi ikan betok (Anabas testudineus Bloch) (skala 1 :
1,3).


Induk Jantan dan Betina


Ciri ciri kelamin induk ikan betok secara morfologi diperlihatkan dengan
bentuk tubuh jantan yang cenderung ramping dan memanjang, sedangkan ciri
induk ikan betok betina ukuran tubuh relatif lebih besar dan melebar. Perbedaan
ciri kelamin sangat mudah dilakukan saat induk matang gonad. Induk ikan betok
jantan matang gonad bercirikan pada bagian lubang genital bila ditekan perlahan
akan mengeluarkan cairan sperma berwarna putih susu (gambar 1), sedangkan ciri
matang gonad untuk induk ikan betok betina adalah pada bagian perut membesar
ke arah anus, bila diraba terasa lembek dan lubang genital berwarna kemerahan
(gambar 2).


Gambar 1. Induk Betina


Gambar 2. Induk Jantan


4

3 DOMESTIKASI


Induk Dasar

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam kegiatan domestikasi adalah
melakukan koleksi induk dari alam. Induk ikan betok dikumpulkan dari hasil
penangkapan di alam oleh masyarakat/pemancing wilayah Kabupaten Banjar
Propinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2006 (tabel 1).
Tabel 1. Koleksi ikan betok (Anabas testudineus Bloch)
Waktu Asal
Jumlah
Total
(ekor)
Jenis kelamin
Kolektor
Jantan Betina
Jml
(ekor)
Bobot
Total (Kg)
Jml
(ekor)
Bobot
Total
(Kg)
Mei 2006
Sungai sipai/ Habitat
sungai gambut (Kab.
Banjar) 275 125 4,6 150 10,5
Bunasir
Juni 2006
Desa Akar Bagantung /
Habitat Rawa (Kab.
Banjar) 100 83 3,7 17 1,6
Bunasir,
Suryaman
Agustus
2006
Desa Sungai
batang/Habitat Sawah
(Kab. Banjar) 450 250 7,8 200 12,3
Bunasir, G.
Fauzan
Jumlah 825 458 16,10 381 24,40

Ikan tersebut selanjutnya diadaptasikan di kolam Balai Budidaya Air
Tawar Mandiangin untuk dilakukan uji truss morfometrik untuk mengamati
keragaman genetik pada tingkat fenotip dan juga dilakukan uji mtDNA untuk
mengamati keragaman genetik pada tingkat molekuler. Analisa truss morfometrik
menunjukkan bahwa jenis induk dari ketiga populasi tidak menunjukkan
perbedaan fenotip (tabel 2), karakteristik warna pipi, perut dan punggung tidak
menunjukkan perbedaan, hanya
Tabel 2. Hasil truss morfometrik pada induk ikan betok dari tiga populasi
berbeda
No Karakter
Asal Lokasi
Ds. Akar
Bagantung
Ds. Sungai
Batang
Ds. Sungai
Sipei
1 Sirip punggung (Dorsal fin)
XVII.8-9; XVII.8-9; XVII.8-9;
2 Sirip dada (Pectoral fin)
1415 1415 1415
3 Sirip perut (Ventral fin)
I.5 I.5 I.5
4 Sirip dubur (Anal fin)
X.9-10; X.9-10; X.9-10;
5 Sirip ekor (Caudal fin)
14 14 14
6 Jumlah sisik linea lateralis (LL)
26- 27 26- 27 26- 27


5

lanjutan Tabel 3
No Karakter
Asal Lokasi
Ds. Akar
Bagantung
Ds. Sungai
Batang
Ds. Sungai
Sipei
7 Warna pipi/operkulum Hitam kuning
keperakan
Hitam kuning
keperakan
Hitam kuning
keperakan
8 Warna perut putih
kekuningan
putih
kekuningan
putih
kekuningan
9 Warna punggung Gelap Coklat
Kehijauan
Gelap Coklat
Kehijauan
Gelap Coklat
Kehijauan
10. Fekunditas (butir /gram) 245 377 311 330 193 275
11. Awal matang gonad :
- Jantan
- Betina

30 45 g
41 50 g

25 37 g
35 47 g

37 50 g
43 55 g

- Umur awal matang gonad 9 bulan 9 bulan 9 bulan

Uji mtDNA juga tidak menunjukkan adanya perbedaan genotip pada
ketiga jenis populasi. Berdasarkan pemotongan daerah D-loop pada mtDNA pada
sampel genome DNA dengan primer mt DNA Anabas testudineus (MTA01 dan
MTA02) menunujukkan daerah yang terpotong berukuran 928 bp, lalu digunakan
4 jenis Enzyme restriksi (HindII, ApoI, AvaII dan BccI) untuk mengetahui
keragaman dearah D-loop tersebut ((Tabel 3). Penggabungan hasil digesti dari
semua sampel menunjukkan bahwa hanya ada 2 haplotipe yang teramati pada 25
sampel yang diperiksa yaitu Haplotipe AAAA (16%) dan AABA (84%) (Tabel 3
dan 4). Berdasarkan analisa mt DNA (daerah Dloop) ini menunjukkan bahwa
keragaman sampel sangat rendah atau induk yang digunakan masih berasal dari
populasi yang sama meski diambil dari habitat yang berbeda (tabel 4).
Tabel 3. Pola/haplotipe pemotongan ikan betok.
Sampel HindII ApoI BccI AvaII
POLA/
Haplotipe
1 A A A A AAAA
2 A A B A AABA
3 A A B A AABA
4 A A B A AABA
5 A A B A AABA
6 A A B A AABA
7 A A B A AABA
8 A A B A AABA
9 A A B A AABA
10 A A B A AABA
11 A A B A AABA
12 A A B A AABA
13 A A B A AABA
14 A A B A AABA
15 A A B A AABA
16 A A B A AABA
17 A A A A AAAA
18 A A B A AABA
19 A A A A AAAA
6

Lanjutan Tabel 5.
Sampel HindII ApoI BccI AvaII POLA/
Haplotipe
20 A A B A AABA
21 A A A A AAAA
22 A A B A AABA
23 A A B A AABA
24 A A B A AABA
25 A A B A AABA

Tabel 4. Persentase Haplotipe I dan Haplotipe II


Produksi

Kegiatan domestikasi dilakukan untuk mengubah pola hidup ikan betok
dari sifatnya yang liar menjadi jinak, yaitu dapat dipijahkan dalam lingkungan
buatan, mengalami perubahan pola jenis makanan yang mampu diberikan pakan
buatan, menghasilkan benih ikan betok yang adaptif dengan lingkungan budidaya,
serta benih yang dihasilkan tersebut mampu dipijahkan lagi saat mencapai umur
matang gonad. Ikan papuyu hasil koleksi (induk Parent/G0) dipilih dan
dipijahkan untuk memproduksi benih dan calon induk generasi pertama (G1).
Induk dipijahkan secara massal dalam satu bak gelas serat ukuran 1 m x 2 m
kedalaman air 45 cm dengan perbandingan berat induk jantan dan betina 1 : 1.
Pemijahan ikan papuyu dilakukan dengan secara alami dengan bantuan
rangsangan hormonal (Induced spawning), yakni dengan cara penyuntikan dengan
ovaprim dosis 0,2 ml/kg bobot induk. Penyuntikan dilakukan pada bagian
punggung induk papuyu. Induk jantan dan betina disuntik sebanyak 1 kali pada
siang atau sore hari (jam 14.00 15.00). Induk yang terpilih dipijahkan secara
massal dalam satu bak gelas serat (fiber) volume 1 m
3
, ketinggian air 0,4 m.
Induk papuyu biasanya akan memijah secara total dalam waktu 6-8 jam setelah
penyuntikan. Pada pemijahan secara masal ini biasanya induk betina yang
memijah mencapai 92 100 %. Benih hasil pemijahan tiap generasi dipelihara
secara terkontrol di kolam pembesaran, kemudian dipilih calon induk tiap
generasi untuk dipelihara hingga matang gonad dan dipijahkan lagi. Tahap
domestikasi telah menghasilkan ikan betok generasi ke-3 (tabel 5), sehingga
dikatakan bahwa kegiatan domestikasi ikan betok telah berhasil dilakukan.


Haplotipe HindII ApoI BccI AvaII Frekuensi
I
A
(644+271)
A
(786+135)
A
(527+323)
A
(928)
16 %
II
A
(644+271)
A
(786+135)
B
(585+335)
A
(928)
84 %
7

Tabel 5. Data pembesaran ikan betok dari generasi 1 hingga 3
Pembesaran Generasi 1 (G1) Generasi 2 (G2) Generasi 3 (G3)
Lokasi IBILAGA IBILAGA Instalasi Awang
Bangkal
Wadah Hapa Hapha Karamba Kayu
Ukuran wadah 2 m x 4 m x 1,25 m 2 m x 4 m x 1,25 m 2 m x 3 m x 1 m
Jumlah wadah 3 buah 3 buah 1 buah (sementara)
Jumlah benih 400 ekor/hapa 400 ekor/hapha
Jumlah total tebar 1,200 ekor 1.200 ekor 1.200 ekor
Padat tebar 50 ekor/m2 50 ekor/m
2
200 ekor/m
2

Bobot benih tebar 1,56 0,10 gram/ekor 1,63 0,093
gram/ekor
1,62 0,37 gram/ekor
Ukuran benih tebar 4 6 cm 4 6 cm 4 6 cm
Waktu tebar Desember 2009 Desember 2010 Agustus 2013
Masa budidaya 8 bulan 8 bulan
Rerata bobot ikan saat
panen
62,77 13,77 gram 67,35 12,63 gram
Total bobot panen 65,30 Kg 61,30 Kg
Produktivitas (kg/m
2
) 2,72 0,22 2,55 0,15
Laju pertumbuhan spesifik
(% per hari)
12,31 0,26 12,46 0,16
FCR 1,83 0,11 1,89 0,20
Jumlah Stok Induk Jantan 200 ekor 200 ekor
Bobot Rerata Stok Induk
Jantan
48,74 4,20 Gram 52,04 3,84 Gram
Jumlah Stok Induk Betina 100 ekor 100 ekor
Bobot Rerata Stok Induk
Betina
66,34 8,54 Gram 77,04 9,89 Gram



4 STRATEGI PEMULIAAN

Berdasarkan data hasil domestikasi yang telah diperoleh hingga generasi ke-
3 di atas, maka dapat dihitung nilai heritabilitasnya sebagai dasar strategi
pemuliaan. Jika nilai heritabilitasnya 0,25 maka dapat dilakukan seleksi famili,
sedangkan jika nilai heritabilitasnya 0,15 maka dapat dilakukan seleksi individu.
Akan tetapi, pendugaan untuk mengetahui besaranya heritabilitas pada ikan betok
hasil domestikasi ini dapat melihat hasil analisis mtDNA dan karakteristik fenotip
truss morfometrik yang menunjukkan keragaman sangat rendah. Selain itu, data
rerata bobot ikan saat panen pada kegiatan pembesaran tiap generasi menunjukkan
hasil panen yang bervariasi. Oleh sebab itu, metode seleksi yang tepat untuk
pemuliaan ikan betok adalah seleksi individu
Alternatif lain dalam rangka pemuliaan ikan betok adalah melakukan upaya
untuk mendatangkan induk baru dari daerah lain yang telah terdomestikasi yang
memiliki karakteristik genotip maupun fenotip jauh berbeda dengan induk ikan
betok generasi 3 BBAT Mandiangin untuk dilakukan seleksi famili. Adapun
prosedur pemuliaan dapat mengadopsi protokol seleksi individu pada ikan nila,
dengan sedikit perubahan tentunya khususnya dalam hal masa pemuliaan, karena
umur kematangan gonad ikan betok jauh lebih lama dibanding dengan ikan nila.

8

DAFTAR PUSTAKA




[Bank Indonesia]. 2012. Penelitian Pengembangan KPJ Unggulan UMKM di
Provinsi Kalimantan Selatan
[BBAT Mandiangin] Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin. 2013. Rilis
Domestikasi Ikan Papuyu (Anabas testudineus). Naskah Rilis. BBAT
Mandiangin Kementerian Kelautan dan Perikanan.
[BKPM] Badan Koordinasi Penanaman Modal. 2009. Profil Potensi Investasi
Provinsi Kalimantan Selatan
[DISPERINDAGKOP] Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Dan Usaha
Kecil Menengah Pemerintahan Kabupaten Tanah Bumbu. 2013. Monitoring
Harga Pasar [internet]. [diunduh 2014 Juni 10]; tersedia pada:
http://disperindagkop.tanahbumbukab.go.id/index.php?option=com_content
&view=article&id=123:monitoring-harga-pasar-juli-2013&catid=35:berita-
terkini&Itemid=28
[Kementerian Kelautan dan Perikanan]. 2012. Kelautan dan Perikanan dalam
Angka 2012. Statistik.kkp.go.id (diakses pada 16 Juni 2014).
Mahreda, Sri Emmy., dan T. Dekayanti. 2012. Potensi Sumberdaya Perikanan dan
Pengelolaannya untuk Mendukung Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat
di Rawa Danan Bangkau. Fakultas Perikananan. Universitas Lambung
Mangkurat.
Rohansyah, Elrifadah, Marlida R. 2010. Kaji Banding Karakter Morfologi Dua
Varian Ikan Papuyu (Anabas testudineus Bloch). Fakultas Pertanian
Universitas Achmad Yani Banjarmasin. Media SainS,Volume 2 Nomor 1,
April 2010 ISSN 2085-3548
www.fishbase.org. List of Fish Occurrence Records for Indonesia. [diakses 2014
Juni 10]; tersedia pada: http://www.fishbase.org/country/ Species
OccurrenceList.php? requesttimeout=999999&vc_code=360. [10 Juni
2014].