Anda di halaman 1dari 6

BAB 9 PERPAJAKAN INTERNASIONAL

PERPAJAKAN INTERNASIONAL
Tujuan Kebijakan Perpajakan Internasional
Untuk memajukan perdagangan antar negara, mendorong laju investasi
di masing-masing negara, pemerintah berusaha untuk meminimalkan
pajak yang menghambat perdagangan dan investasi tersebut. Salah satu
upaya untuk meminimalkan beban tersebut adalah dengan melakukan
penghindaraan pajak berganda internasional.
Teori
Apakah prinsip-prinsip yang harus dipahami dalam perpajakan
internasional?
Doernberg (1989) menyebut 3 unsur netralitas yang harus dipenuhi
dalam kebijakan perpajakan internasional:
1. Capital Export Neutrality (Netralitas Pasar Domestik): Kemanapun kita
berinvestasi, beban pajak yang dibayar haruslah sama. Sehingga tidak
ada bedanya bila kita berinvestasi di dalam atau luar negeri. Maka jangan
sampai bila berinvestasi di luar negeri, beban pajaknya lebih besar karena
menanggung pajak dari dua negara. Hal ini akan melandasi UU PPh Psl 24
yang mengatur kredit pajak luar negeri.
2. Capital Import Neutrality (Netralitas Pasar Internasional):
Darimanapun investasi berasal, dikenakan pajak yang sama. Sehingga
baik investor dari dalam negeri atau luar negeri akan dikenakan tarif
pajak yang sama bila berinvestasi di suatu negara. Hal ini melandasi hak
pemajakan yang sama denagn Wajib Pajak Dalam Negeri (WPDN)
terhadap permanent establishment (PE) atau Badan Uasah Tetap (BUT)
yang dapat berupa cabang perusahaan ataupun kegiatan jasa yang
melewati time-test dari peraturan yang berlaku.
3. National Neutrality: Setiap negara, mempunyai bagian pajak atas
penghasilan yang sama. Sehingga bila ada pajak luar negeri yang tidak
bisa dikreditkan boleh dikurangkan sebagai biaya pengurang laba.
Hasil atau Isi
Mengapa terjadi perpajakan berganda internasional?
Perpajakan berganda terjadi karena benturan antar klaim perpajakan. Hal
ini karena adanya prinsip perpajakan global untuk wajib pajak dalam
negeri (global principle) dimana penghasilan dari dalam luar negeri dan
dalam negeri dikenakan pajak oleh negara residen (negara domisili wajib
pajak). Selain itu, terdapat pemajakan teritorial (source principle) bagi
wajib pajak luar negeri (WPLN) oleh negara sumber penghasilan dimana
penghasilan yang bersumber dari negara tersebut dikenakan pajak oleh
negara sumber. Hal ini membuat suatu penghasilan dikenakan pajak dua
kali, pertama oleh negara residen lalu oleh negara sumber Misalnya: PT A
punya cabang di Jepang. Penghasilan cabang di jepang dikenakan pajak
oleh fiskus Jepang. Lalu di Indonesia penghasilan itu digabung dengan
penghasilan dalam negeri lalu dikalikan tarif pajak UU domestik
Indonesia.
Bentokran klaim lebih diperparah bila terjadi dual residen, dimana
terdapat dua negara sama-sama mengklaim seorang subjek pajak sebagi
wajib pajak dalam negerinya yang menyebabkan ia terkena pemajakan
global dua kali. Misalnya: Mr. A bekerja di Indonesia lebih dari 183 hari
namun setiap sabtu dan minggu ia pulang ke rumahnya di Singapura. Mr.
A dianggap WPDN oleh Indonesia dan juga Singapura sehingga untuk
wajib melapor dan membayar pajak untuk penghasilan globalnya pada
Indonesia maupun Singapura.
Apa saja upaya untuk menghindari perpajakan berganda internasional?
1. Tax Treaty (Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda/P3B): yaitu
perjanjian antara 2 negara untuk menghindari pajak berganda untuk
memajukan investasi antara 2 negara tersebut. Untuk active income,
Biasanya negara sumber hanya berhak memajaki penghasilan dari cabang
(BUT) dan penghasilan dari aset tak bergerak yang berhasil dari negara
sumber tersebut. Bila ekspor-impor biasa tanpa BUT maka negara sumber
tidak bisa memajaki. Penghasilan pegawai hanya boleh dipajaki bila
melewati time-test atau dibayar oleh WPDN ataupun BUT. Untuk passive
income seperti deviden, bunga dan royalti, kedua negara berhak
memajaki namun terdapat pengurangan tarif.
2. Kredit Pajak Luar Negeri: Yaitu jumlah pajak yang dibayarkan di luar
negeri dapat dijadikan pengurang pajak penghasilan secara keseluruhan.
Di Indonesia diatur dalam UU PPh pasal 24. Dimana kredit pajak luar
negeri hanya sebatas: Penghasilan LN/(Semua penghasilan LN dan DN) x
PPh terutang untuk semua penghasilan
Apa saja masalah-masalah dalam perpajakan internasional?
1. Transfer Pricing: Kegiatan ini adalah mentransfer laba dari dalam
negeri ke perusahaan dengan hubungan istimewa di negara lain yang tarif
pajaknya lebih rendah. Hal ini dapat dilakukan dengan membayar harga
penjualan yang lebih rendah dari harga pasar, membiayakan biaya-biaya
lebih besar daripada harga yang wajar, thin capitalization (memperbesar
utang dengan beban bunga untuk mengurangi laba). Misalnya: tarif pajak
di Indonesia 28%, di Singapura 25%. PT A punya anak perusahaan B Ltd
di Singapura, maka laba di PT A dapat digeser ke B Ltd yang tarifnya lbh
kecil dengan cara B LTd meminjamkan uang dengan bunga yang besar,
sehingga laba PT A berkurang, memang pendapatan B Ltd bertambah
namun tarif pajaknya lebih kecil. Hal bisa juga dilakukan dengan PT A
menjual rugi (mark down) barang dan jasa (harga jual di bawah ongkos
produksinya) ke B Ltd. Di Indonesia, transfer pricing dicegah dalam UU
PPh pasal 18 dimana pihak fiskus berhak mengkoreksi harga transaksi,
penghitungan utang sebagai modal dan DER (Debt Equity Ratio).
2. Treaty Shopping: Fasilitas di tax treaty justru bukannya
menghindarkan pajak berganda namun malah memberi kesempatan bagi
subjek pajak untuk tidak dikenakan pajak dimana-mana. Misalnya:
Investasi SBI di bursa singapura dibebaskan pajak. Treaty Shopping
diredam dengan ketentuan beneficial owner (penerima manfaat) dalam
tax treaty (P3B) baik yang memakai model OECD maupun PBB sehingga
tax treaty hanya berlaku bila penerima manfaat yang sebenarnya adalah
residen di negara yang menandatangani tax treaty.
3. Tax Heaven Countries: Negara-negara yang memberikan keringanan
pajak secara agresif seperti tarif pajak rendah, pengawasan pajak longgar
telah membuat penerimaan pajak dari negara-negara berkembang
merosot tajam. Negara tax heaven yang termasuk dalam KMK
No.650/KMK04/1994 antara lain Argentina, Bahrain, Saudi Arabia,
Mauritius, Hongkong, Caymand Island, dll. Saat ini negara tax heaven
sedang dimusuhi dunia internasional, pengawasan tax avoidance
(penghindaran pajak) di negara-negara tersebut sedang gencar-
gencarnya. Berinvestasi di negara tax heaven beresiko besar terkena
koreksi UU PPh Pasal 18. Lebih baik berinvestasi pada negara dengan tax
treaty.













Terjadinya Pajak Berganda Internasional
Pajak berganda internasional umumnya terjadi karena pada dasarnya tidak ada hukum
internasional yang mengatur hal tersebut sehingga terjadi bentrokan hukum antar dua negara
atau lebih. Velkenbond memberikan pengertian bahwa pajak berganda internasional terjadi
apabila pengenaan pajak dari dua negara atau lebih saling menindih sedemikian rupa,
sehingga orang-orang yang dikenakan pajak di negara-negara yang lebih dari satu memikul
beban pajak yang lebih besar daripada jika mereka dikenakan pajak di satu negara saja.
Beban tambahan yang terjadi tidak semata-mata disebabkan karena perbedaan tarif dari
negara-negara yang bersangkutan, melainkan karena dua negara atau lebih secara bersamaan
memungut pajak atas objek dan subjek yang sama.
Dari pengertian di atas jelas bahwa pajak berganda internasional akan timbul karena atas
suatu objek pajak dan subjek pajak yang sama dikenakan pajak lebih dari satu kali sehingga
menimbulkan beban yang berat bagi subjek pajak yang dikenakan pajak tersebut. Selanjutnya
Prof. Rochmat Soemitro menjelaskan bahwa ada beberapa sebab terjadinya pajak berganda
internasional, yaitu:
1. Subjek pajak yang sama dikenakan pajak yang sama di beberapa negera, yang
dapat terjadi karena:
a. Domisili rangkap
b. Kewarganegaraan rangkap
c. Bentrokan atas domisili dan asas kewarganegaraan.
2. Objek pajak yang sama dikenakan pajak yang sama di beberapa negara.
3. Subjek pajak yang sama dikenakan pajak di negara tempat tinggal berdasarkan
atas wold wide incom, sedangkan di negera domisili dikenakan pajak berdasarkan asas
sumber.
11.5 Cara Penghindaran Pajak Berganda Internasional
Mengingat besarnya akibat yang ditimbulkan oleh pajak ganda bagi atmosfir perekonomian
dan hubungan antarnegara, maka masalah pajak ganda ini harus segera diselesaikan. Dan
berikut adalah cara-cara penuntasan permasalahan tersebut3, yang penggunaannya
disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan negara yang bersangkutan.
1. Cara Unilateral (sepihak)
Penyelesaian dengan cara ini dilakukan dengan cara memasukkan ketentuan yang dapat
menghindarkan pajak ganda ke dalam undang-undang pajak nasional. Cara ini dapat
dilakukan dengan menggunakan berbagai metode antara lain :
1. Tax exemption, merupakan merupakan penghindaran pajak ganda yang
umumnya dilakukan oleh negara domosili yang mempunyai kewenangan pemungutan pajak
secara tak terbatas (world wide income). Dalam hal ini silakukan dengan melepaskan haknya
untuk memugut pajak terhadap objek pajak yang sumbernya atau asalnya dari luar negeri.
Dengan demikian hak untuk memungut pajak diserahkan kepada negara sumber. Metode ini
dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

a. Pure territorial principle
Apabila suatu negara menerapkan metode ini, maka negara tempat subyek pajak berdomisili
tersebut sama sekali tidak mengenakan pajak terhadap penghasilan yang di dapat atau
diperoleh dari luar negeri. Dengan kata lain, negara domisili melepaskan haknya untuk
memungut pajak terhadap penghasilan yang berasal dari luar negeri dengan menggunakan
asas world wide income.
b. Restricted territorial principle
Berbeda dengan Pure territorial principle, Restricted territorial principle memperhatikan
penghasilan subyek pajak yang diperoleh atau berasal dari luar negeri, dan digunakan untuk
menentukan tarif progressif pajak terhadap penghasilan yang diperoleh subyek pajak dari
dalam negeri.
2. Tax credit
Merupakan metode pengurangan pajak apabila penghasilan yang diperoleh subjek pajak dari
luar negeri dikenakan pajak baik di dalam negeri maupun di luar negeri (negara sumber).
Pemberian tax credit ini dilakukan apabila jumlah pajak yang dikenakan oleh negara sumber
tidak melebihi jumlah pajak yang dikenakan oleh negara domisili. Dengan kata lain, tax
credit ini hanya diberikan maksimum sebesar pajak yang dikenakan negara domisili. Metode
ini dapat berupa :
a. Direct tax credit
Metode ini banyak diberlakukan di negara-negara anglo saxon. Objek pajak dikenakan pajak
di negara domisili dengan menggunakan azas world wide income, dimana terhadap jumlah
pajak itu dapat dikurangkan dengan jumlah pajak yang dikenakan oleh negara sumber atas
penghasilan di negara sumber, asalakan penghasilan itu sudah termasuk dalam world wide
income dari subjek pajak yang bersangkutan. Apabila pajak yang dibayar di negara sumber
lebih kecil daripada yang dibayarkan di negara domisili, maka dapat dikurangkan sepenuhnya
(full tax credit), dimana hal seperti ini akan baikapabila tekanan dan tarif pajak di kedua
negara bisa seimbang. Apabila tarif di negara sumber lebih besar daripada di negara domisili,
maka dalam hal seperti ini tax credit hanya dapat diberlakukan sebagian saja (ordinary
credit).
b. Indirect tax credit
Metode ini dimaksudkan untuk memberikan tax credit kepada perusahaan induk di negara
domisili terhadap pajak yang dibayarkan subordinary-nya di negara sumber.
c. Fictitious tax credit atau tax sparing
Yang disebut dengan Fictitious tax credit merupakan perkembangan baru dalam hukum pajak
internasional. Dalam hubungan antara negara berkembang dengan negara maju sering sekali
negara sedang berkembang mempunyai kepentingan untuk mengundang investor asing
dengan memberikan berbagai tax incentive. Salah satunya dengan memberikan pengenaan
pajak dengan tarif yang diperendah dan tidak sama dengan tarif umum di negara tersebut atau
tidak mengenakan pajak sepanjang keuntungannya ditanam kembali di negara yang
bersangkutan. Sementara itu di negara maju tempat investor berdomisili, pengenaan pajak
dengan menerapkan tax credit terhadap penghasilan yang diperoleh sumber pajakyang
berdomisili di negara itu yang bersumber di negara asing, dimana pengenaan tax credit itu
berdasarkan pada tarif umum yang dikenakan kepada negara sumber. Dari kenyataan seperti
itu maka subjek pajak memperoleh keuntungan ganda, yaitu di negara sumber memperoleh
keringanan pajak atau bahkan tidak dikenakan pajak, sementara dari negara domisili
memperoleh keuntungan karena dikenakan tax credit.
d. .Reduced rate for foreign income
Merupakan metode penghindaran pajak ganda yang dilakukan negara domisili terhadap
subjek pajak yang berdomisili di negara tersebut yang bersumber dari luar negeri. Terhadap
penghasilan yang diperoleh atau bersumber dari luar negeri tersebut dikenakan pajak dengan
tarif yang diperingan atau tidak sama dengan tarif umum yang berlaku di negara domisili itu.
Jadi dalam hal ini negra domisili tidak melepaskan haknya untuk memungut pajak dar
penghasilan subjek pajak yang berdomisili di negara tersebut yang diperoleh dari luar negeri,
melainkan terhadap penghasilan yang bersumber dari luar negeri tersebut dikenakan pajak
dengan tarif yang diperingan (telah diturunkan).
e. Tax deduction for foreign income
Berbeda dengan metode-metode yang telah disebutkan sebelumnya, metode ini bukan tidak
mengenakan pajak sama sekali terhadap penghasilan luar negeri (credit of income againts
income), atau mengkreditkannya dengan pajak yang dibayarkan di dalam negeri(credit of tax
againts tax), melainkan dengan memasukkan pajak yang dibayar di luar negeri dalam
komponen biaya. Seperti diketahui bahwa untuk pengenaan pajak, pada umumnya yang
digunakan sebagai dasar pengenaan pajak (tax base) adalah laba bersih, yaitu laba kotor yang
telah dikurangi dengan biaya-biaya dan pengeluaran-pengeluaran tertentu yang oleh undang-
undang diperbolehkan untuk dikurangkan dari laba kotor.
2. Cara Bilateral (Timbal Balik Dua Negara)
Yaitu dengan menggunakan hukum internasional diantara dua negara yang terlibat, yang
isinya menyepakati untuk menghindari pajak ganda internasional. Penghindaran pajak
berganda internasional (tax treaty) seperti itu sering disebut dengan P3B (Perjanjian
Penghindaran Pajak Berganda). Biasanya di dalamnya menyepakati tentang hak pemungutan
pajak, yang dilakukan secara timbal balik, mengingat adanya kemungkinan dalam suatu
negara diterapkan lebih dari satu asas pengenaan pajak.
Dengan P3B sebenarnya ada keuntungan tertentu, yakni persoalan yang berkaitan dengan
pajak ganda nasional pada umumnya dapat terpecahkan hampir secara menyeluruh. Akan
tetapi, bukan berarti cara ini tidak mengandung kelemahan. Kelemahan yang sering kali
muncul adalah tidak mudahnya mencapai kesepakatan antara dua negara yang saling
berkepentingan. Demikian pula terjadinya kemungkinan akan menguntungkan salah satu
pihak.
Secara umum dikenal dua model P3B. Model pertama adalah model yang disusun oleh
komite fiskal organisasi kerja ekonomi dan pembangunan (organisation for economic
cooperation and development OECD), sedangkan yang kedua adalah model berdasarkan
konvensi PBB (UN-Model).
3. Cara Multilateral
Dalam cara ini, sejumlah negara menandatangani traktat yang isinya menyepakati
penghindaran pajak ganda internasional yang terjadi antara mereka terhadap subjek pajak
atau objek pajak tertentu. Dalam hal ini biasanya hak untuk mengenakan pajak diberikan
kepada negara sumber. Sementara negara domisili dan negara kebangsaan mengalah seperti
halnya konvensi Wina tahun 1961, di dalamnya juga memuat mengenai kemungkinan
dibebaskannya perwakilan negara yang ditempatkan di negara lain dari pengenaan pajak.
4. Cara Kebiasaan Internasional
Cara penyelesaian ini dilakukan, terutama apabila cara-cara seperti tersebut di atas tidak
dapat ditempuh. Pada umumnya dianut kebiasaan bahwa negara sumber diberikan hak
terlebih untuk memungut pajak, sementara negara domisili dan negara kebangsaan
melepaskan haknya. Hal tersebut dapat dipahamu mengingat negara domisili dan negara
kebangsaan akan memiliki banyak peluang untuk mengenakan pajak, tentunya apabila negara
tersebut menggunakan asas domisili untuk negara domisili dan asas kebangsaan di negara
dimana subjek pajak berkebangsaan.
5. Kedudukan Hukum Perjanjian Perpajakan
Bagaimana kedudukan hukum suatu perjanjian perpajakan yang diadakan antara Indonesia
dengan negara lain? Bila ditelusuri dasar hukum bisa diadakannya perjanjian perpajakan
antar negara, maka kita kembali pada konstitusi yaitu pasal 11 ayat (1) UUD 1945 beserta
perubahannya. Mengacu pada dasar hukum tersebut, tentu saja akan memerlukan waktu yang
cukup lama. Oleh karenanya, dengan pertimbangan kepraktisan khusus dalam lalu lintas
hukum internasional antara Indonesia dengan negara-negara lain yang cukup intensif, maka
tidak diperlukan lagi persetujuan DPR tetapi cukup diberitahukan saja.

Berdasarkan ketentuan Pasal 11 UUD 1945 di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
kedudukan hukum perjanjian perpajakan adalah sama dengan UU Nasional seperti UU
tentang PPh. Kedudukan hukum perjanjian perpajakan tidak lebih tinggi dari UU Perpajakan
Nasional.