Anda di halaman 1dari 29

0

MODUL ORGAN MENTAL-EMOSIONAL


Seorang wanita yang tiba-tiba berteriak-teriak dan mengamuk

KELOMPOK 1

030.08.128 IRFAN SUGIYANTO
030.09.244 SUREZA LARKE WAJENDRA
030.10.056 BIMA GHOVAROLIY
030.10.070 SARAH MARGARETH FELICIA
030.10.146 KAMILAH NASAR
030.10.184 MUHAMAD ALFI AULIYA RACHMAN
030.10.185 MUHAMAD ANDANU YUNUS SLAMET
030.10.186 MUHAMAD ARFAN ERIANSYAH
030.10.226 R. IFAN ARIEF FAHRUROZI
030.10.227 RACHEL SILENCY ARITONANG
030.10.228 RACHMA TIA WASRIL
030.10.261 SUMEET HARESH VASANDANI
030.10.262 SYARFINA ROSYADAH
030.10.263 TAHARI BARGAS PRAKOSO






FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA, 20 MEI 2013
1

BAB I
PENDAHULUAN

Salam sejahtera kami ucapkan pada semua dosen dan terima kasih atas bimbingan yang telah
diberikan untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti yang mengikuti modul
mental-emsosional. Pada tanggal 14 Mei 2013 telah dilakukan diskusi kelompok 1, kasus 4 sesi 1
yang berlangsung selama 2 jam. Perwakilan mahasiswa yang menjadi ketua adalah R. Ifan
Fahrurozi dan yang menjadi sekretaris adalah Sarah Margareth. Perilaku peserta diskusi aktif,
kontributif dan ikut berperan serta dalam jalannya diskusi. Topik diskusi kasus 4 ini ialah
seorang perempuan dengan keluhan tiba-tiba mengamuk, berteriak teriak serta hendak memukul
suaminya dengan linggis.
Hal-hal yang dibahas selama diskusi ini ialah analisis masalah, anamnesis yang
diperlukan, hipothesis yang mungkin pada pasien ini, pemeriksaan fisik serta rencana
pemeriksaan penunjang. Tutor kami membimbing kami dengan baik sehingga kami bisa
mengadakan diskusi yang terarah.
Pada tanggal 15 Mei 2013 telah dilakukan diskusi kelompok 1, kasus 4 sesi 2 yang
berlangsung selama 2 jam. Perwakilan mahasiswa yang menjadi ketua adalah Muhamad Andanu
dan yang menjadi sekretaris adalah Sarah Margareth. Perilaku peserta diskusi aktif, kontributif
dan ikut berperan serta dalam jalannya diskusi.
Hal-hal yang dibahas selama diskusi ini ialah pemeriksaan penunjang, diagnosis
multiaksial, patofisiologi dari penyakit yang dialami pasien ini serta penatalaksanaan. Tutor kami
membimbing kami dengan baik sehingga kami bisa menentukan diagnosis multiaksial dan
penatalaksanaan yang tepat untuk pasien ini.








2

BAB II
SKENARIO KASUS

Skenario 1
Ny. S 27 tahun, dibawa ke UGD RS Trisakti ileh keluarganya dengan keluhan tiba-tiba
mengamuk, berteriak-teriak serta hendak memukul suaminya dengan linggis
Skenario 2
Ketika ditanya mengapa, ia mengatakan ada suara bisikan yang menyuruh pasien untuk
memukul suaminya. Pasien mengatakan suaminya berselingkuh dengan perempuan lain serta
hendak mencelakakannya. Penampilan pasien agak lusuh, dandanannya kurang rapih, agak
kurus, kesadaran baik.
Skenario 3
Kejadian seperti diatas pernah dialami pasien sejak 3 tahun terakhir walaupun hanya kadang
kadang saja. Sebelum mengamuk, biasanya pasien sering menyendiri dalam kamar, melamun,
kadang kadang tertawa sendiri, bicaranya kacau. Pasien belum pernah berobat ke dokter tapi
hanya ke dukun saja. Karena tidak dapat dipertahankan di rumah, pasien dibawa ke RS Trisakti.
Skenario 4
Perkembangan Ny. S pada masa kanak dan remaja tidak ada kelainan fisik berarti, pasien
mempunyai perawakan yang kurus, jarang bergaul, mudah tersinggung, temannya yang akrab
hanya 1-2 orang saja. Pasien menikah pada usia 23 tahun, punya 2 orang anak. Laki-laki yang
berusia 1 dan 3 tahun, pasien jarang mengurus anaknya sendiri
Skenario 5
Pemeriksaan status mental :
Terdapat waham kejar, waham kebesaran, halusinias auditorik.
Afek tumpul dan tidak serasi
Pemeriksaan diagnostik lanjut :
Pemeriksaan fisik umum dalam batas normal
Pemeriksaan neurologic : tanpa deficit neurology
EKG normal
Laboratorium darah dan urine : tidak ada kelainan
3

BAB III
PEMBAHASAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
Umur : 27 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : -
Pendidikan : -
Pekerjaan : -
Agama : -
Suku bangsa : -
Status pernikahan : menikah

MASALAH
Masalah yang dialami Ny.S adalah sebagai berikut:
1. Pasien diantar oleh keluarganya ke UGD
2. Pasien tiba-tiba berteriak-teriak, mengamuk, dan hendak memukul suaminya dengan
linggis

Masalah Pengkajian Masalah
Pasien diantar oleh keluarganya ke UGD Melihat dari kondisi pasien yang harus di antar
oleh keluarganya ke UGD dapat disimpulkan
bahwa pasien tidak mampu untuk datang
sendiri ke rumah sakit atau perilaku pasien
sangat membahayakan sehingga tidak dapat
ditangani oleh keluarganya sendiri sehingga
mereka membawanya ke UGD
Pasien tiba-tiba berteriak, mengamuk, dan
hendak memukul suaminya dengan linggis.
Terdapat perilaku agresi yang datang tiba-tiba
(tiba-tiba berteriak, mengamuk, dan hendak
memukul suaminya dengan linggis) dan
4

berpotensial untuk membahayakan orang di
sekitarnya, misalnya suaminya sendiri. Perilaku
tersebut dapat disebabkan oleh bermacam-
macam faktor stressor yang harus diidentifikasi
lebih lanjut melalui anamnesis maupun
pemeriksaan-pemeriksaan lainnya.

HIPOTESIS
Hipotesis yang dapat ditentukan berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan status mental
pasien:
1. Amok
Dasar :
Pasien berteriak-teriak tiba-tiba
Pasien mengamuk dan hendak memukul suaminya dengan linggis.
Pedoman diagnostik :
Timbul mendadak atau didahului dengan tindakan ritualistik/meditasi.
Kesadaran berkabut atau menurun tanpa disertai epilepsi.
Bangkit dan bertindak agresif yang ditujuka kepada orang, hewan, dan benda di
sekitarnya. Setelah itu tenang dan kesadaran pulih kembali.
2. Skizofrenia paranoid
Dasar :
Ditemukannya halusinasi pada pasien.
(pasien mengaku mendengar suara bisikan yang menyuruh pasien untuk
memukul suaminya)
Adanya waham
(pasien juga mengatakan bahwa suaminya berselingkuh dengan perempuan lain
dan hendak mencelakakannya)
Abulia
(dinilai dari penampilan pasien yang agak lusuh, dandanannya kurang rapih, dan
tubuh pasien yang terlihat kurus. Pasien juga jarang mengurus anaknya sendiri)
5

Lamanya waktu pasien mengalami gejala ini
(dinilai dari hasil anamnesis yang mengatakan bahwa gejalagejala yang
dialami pasien sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir, walaupun hanya
kadang-kadang saja.)
Salah satu kriteria diagnosis skizofrenia merupakan lamanya pasien menderita
gejala-gejala psikotik (lebih dari enam bulan). Pada pasien ini dikatakan bahwa
gejala-gejala psikotik telah berlangsung selama tiga tahun dengan onset yang
kadang-kadang saja. Dengan demikian apabila kriteria lain memenuhi dapat
disimpulkan bahwa pasien mengidap skizofrenia kronis eksaserbasi akut.
Asosiasi longgar
(dinilai dari hasil anamnesis mengenai perilaku pasien yang mengatakan bahwa
sebelum mengamuk, pasien sering menyendiri dalam kamar, melamun, kadang
tertawa sendiri, serta bicaranya kacau)
Gejala negatif skizofrenia
(dinilai dari anamnesis: pasien jarang bergaul, mudah tersinggung , teman yang
akrab hanya 1 atau 2 orang saja)
Hipotesis skizofrenia juga dapat diambil berdasarkan pada pemeriksaan status
mental dimana pada pasien terdapat waham curiga, waham kejar, waham
kebesaran , halusinasi auditorik, asosiasi longgar , afek tumpul dan tidak serasi
serta perilaku gaduh gelisah.

ANAMNESIS
Anamnesis yang dilakukan kepada pasien pada kasus ini dapat dilakukan secara auto maupun
allo-anamnesis kepada keluarga yang mengantar mengingat kondisi pasien yang tampak kurang
kooperatif.
Riwayat Penyakit Sekarang
- kapan keluhan pada Ny.S pertama kali muncul?
- Apa yang menyebabkan pasien menjadi mengamuk? Apakah ada pencetusnya?
- Apakah pasien mempunyai pengalaman spiritual tertentu,seperti meditasi?
- Apakah ada gejala lain?
- Apakah pasien mempunyai masalah dengan keluarganya?
6

Riwayat Medik Lampau
- Apakah pasien pernah mengalami trauma pada daerah kepala sebelumnya?
- Pengobatan apa yang pernah diterima pasien?
Riwayat Psikiatrik Lampau
- Apa yang dirasakan pasien beberapa waktu terakhir ini?
- Apakah pasien memiliki kepribadian tertentu/perubahan kepribadian? Bila ya,
sejak kapan terjadinya?
- Apakah pasien pernah dirawat atau berobat ke dokter sebelumnya?
- Pengobatan apa yang telah diterima oleh pasien?
- Apakah pasien mengalami trauma psikis atau peristiwa hidup yang penuh stres?
- Bagaimana pandangan pasien terhadap dirinya?
Riwayat Perkembangan Sosial
- Bagaiman riwayat kelahiran pasien?
- Bagaimana perkembangan masa kecil pasien?
- Bagaimana hubungan pasien dengan orang tuanya?
- Bagaimana pola asuh orang tua pasien?
- Bagaimana hubungan pasien dengan saudaranya (bila ada)?
- Bagaimana hubungan pasien dengan suaminya?
- Bagaimana pendidikan pasien?
- Bagaimana hubungan pasien dengan lingkungan sosialnya? Pergaulannya?
- Apa pekerjaan pasien?
- Bagaimana perasaan pasien terhadap pekerjaannya dan lingkungan pekerjaannya?
- Apa hobi atau kebiasaan pasien?
Riwayat Keluarga
- Apakah di keluarga pasien ada yang pernah menderita gangguan jiwa?
- Apakah di keluarga pasien ada yang mengkonsumsi zat tertentu seperti alkohol
atau obat-obatan atau merokok?




7

STATUS MENTAL
Status Mental Pengkajian Status Mental

Gambaran Umum
1. Penampilan Umum:
Pasien perempuan.
Dilihat apakah pasien terlihat lebih tua dari usianya atau sesuai
dengan usianya.
Penampilan lusuh dan dandanannya agak kurang rapi,agak kurus
2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor:
Pasien banyak bicara.
Pasien marah-marah dan tertawa terbahak-bahak.
Pasien tampak gelisah dan tidak tenang.
Terlihat tremor kecil.
Pasien berkeringat banyak.
3. Sikap Terhadap Pemeriksa:
Sikap terhadap pemeriksa termasuk kooperatif.
4. Kesadaran: baik.
Mood dan Afek
1. Afek: Pada pasien didapatkan afek tumpul
Afek tumpul merupakan gangguan afek yang bermanifestasi
sebagai sangat berkurangnya intensitas tonus perasaan yang
diungkapkan.
Afek tidak serasi merupakan ketidakharmonisan antara irama
perasaan emosional dengan gagasan, pikiran, atau pembicaraan
yang menyertainya.
Persepsi
Pada pasien didapatkan halusinasi Auditorik yang merupakan persepsi
palsu akan bunyi,biasanya berupa suara-suara namun dapat pula berupa
bunyi-bunyian lain. Pasien mempunyai persepsi bahwa ada seseorang
yang berbisik menyuruhnya untuk memukul suaminya.
8

Pikiran
1. Isi Pikir: terdapat waham kejar dan waham kebesaran.
Waham kejar :kepercayaan yang salah pada seseorang yang merasa
dirinya dilecehkan,dicurangi,atau dikejar. Pada pasien mempunyai
pemikiran bahwa suaminya selingkuh dari dirinya.
Waham kebesaran : konsep seseorang akan arti penting
diri,kekuatan,atau identitasnya yang terlalu dilebih-lebihkan.
Sensorium dan
Kognitif
1. Kewaspadaan: perlu dinilai.
2. Orientasi: perlu dinilai terhadap waktu, tempat, dan orang.
3. Daya Ingat: perlu dinilai.
4. Konsentrasi dan Perhatian: perlu dinilai.
5. Kemampuan Membaca/Menulis/Visuospasial: perlu dinilai.
6. Pikiran Abstrak: perlu dinilai.
7. Kecerdasan: perlu dinilai.
Pengendalian
Impuls
Perlu dinilai.
Pertimbangan dan
Tilikan
1. Pertimbangan/Daya Nilai Sosial: perlu dinilai.
2. Tilikan/Daya Nilai Diri: perlu dinilai.

INTERPRETASI HASIL ANAMNESIS
Pada anamnesis didapatkan keterangan sebagai berikut:
1. Pasien datang diantar keluarganya karena tiba-tiba berteriak-teriak, mengamuk,
dan hendak memukul suaminya dengan linggis.
Tindakan pasien yang tiba-tiba berteriak-teriak serta mengamuk menunjukkan terdapat gangguan
mental yang onsetnya akut. Selain itu tindakan hendak memukul suaminya dengan linggis
menandakan gangguan yang dialami pasien berpotensi menimbulkan bahaya atau cedera pada
orang lain. Kemungkinan apa yang dialami pasien merupakan suatu kegawatdaruratan psikiatri.
2. Pasien mengaku alasan ia hendak memukul suaminya karena ada suara bisikan
yang menyuruhnya.
Kemungkinan suara bisikan yang menyuruh pasien untuk memukul suaminya adalah suatu
bentuk halusinasi auditorik.
3. Pasien mengatakan suaminya berselingkuh serta hendak mencelakakannya.
9

Hal ini harus dipastikan dengan melakukan wawancara dengan suami pasien. Seandainya hal
tersebut tidak benar dan hanya perasaan pasien saja perlu ditanyakan kepada pasien dari mana ia
mengetahui atau memiliki pikiran seperti itu. Hal ini juga dapat menimbulkan interpretasi
kemungkinan adanya waham paranoid pada pasien.
4. Pasien sering menyendiri, melamun, tertawa sendiri, dan bicaranya kacau.
Gejala yang ditunjukkan pasien mencakup gejala negatif dan gejala positif. Gejala negatif yang
ada adalah sering menyendiri dan melamun sedangkan gejala positifnya adalah tertawa sendiri.
Bicara yang kacau pada pasien menandakan adanya asosiasi yang longgar.
5. Kejadian ini dialami sejak tiga tahun terakhir dengan frekuensi kadang-kadang
saja. Sudah pernah berobat tetapi tidak diminum secara teratur.
Kami mendapatkan keterangan bahwa hal seperti ini bukanlah kejadian yang pertama, melainkan
sudah yang kesekian kalinya. Kemungkinan pasien mengalami kekambuhan atau episode relaps
akibat pengobatan yang tidak teratur.
6. Perkembangan masa kanak dan remaja.
Informasi yang didapat mengenai kepribadian pasien adalah pasien jarang bergaul, mudah
tersinggung, dan hanya memiliki teman akrab satu atau dua orang saja. Pasien jarang mengurus
anaknya sendiri yang berusia 3 dan 1 tahun. Berdasarkan data yang didapat kemungkinan
terdapat gangguan kepribadian pada pasien. Gangguan kepribadian yang terpenuhi dengan
kondisi pasien di atas adalah Gangguan Kepribadian Dissosial.



INTERPRETASI PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Hasil Interpretasi
Pemeriksaan fisik umum Dalam batas normal Tidak ditemukan kelainan organik
yang dapat mendasari terjadinya
gejala pada pasien seperti infeksi
atau trauma.
Pemeriksaan neurologis Tanpa deficit neurologi Tidak ditemukan kelainan organik
susunan saraf yang mendasari
terjadinya gejala pada pasien
seperti infeksi dan trauma.
EKG Normal Belum ditemukan kelainan pada
10

jantung
Laboratorium darah dan
urin
Tidak ada kelainan Tidak ditemukan tanda-tanda
infeksi, intoksikasi maupun
penyalahgunaan obat

Belum ada anjuran untuk melaksanakan pemeriksaan laboratorium tambahan.

DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Pedoman diagnosis yang kami gunakan adalah PPDGJ III. Diagnosis multi aksial pada kasus
ini menurut kelompok kami berdasarkan informasi yang didapat adalah:
Aksis I (F20.0) Skizofrenia Paranoid kronik eksaserbasi akut: 3tahun
Aksis II (F60.2) Gangguan Kepribadian Disossial
Aksis III tidak ada diagnosis
Aksis IV tidak ada diagnosis
Aksis V
GAF 20-11 : bahaya mencederai diri/orang lain, disabilitas
sangat berat dalam komunikasi dan mengurus diri

Pedoman diagnostik Aksis 1 Skizofrenia Paranoid menurut PPDGJ III, adalah:
- Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
- Sebagai tambahan :
o Halusinasi dan/atau waham harus menonjol;
a. Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau
halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling),
mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing)
b. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau brsifat seksual, atau lain-lain
perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tapi jarang menonjol
c. Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan
(delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence), atau passivity
(delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam,
adalah yang paling khas.;
11

o Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan serta gejala katatonik
secara relatif tidak nyata /tidak meonjol.
Skala GAF yang kami berikan pada pasien berkisar 20-11 bahaya mencederai diri/orang lain,
disabilitas sangat berat dalam komunikasi dan mengurus diri. Karena pada pasien memukul
suami karena terdapat bisikan, pasien agak lusuh, dandanannya kurang rapih, agak kurus.

PATOFISIOLOGI
Kelompok kami menetapkan diagnosis skizofrenia paranoid untuk pasien Ny.S. Etiologi dan
patofisiologi dari skizofrenia belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang
ditemukan berperan dalam proses terjadinya skizofrenia.


1. Faktor genetika:
Kejadian skizofrenia berhubungan erat dengan riwayat keluarga. Kecenderungan seseorang
untuk menderita skizofrenia berhubungan erat dengan ada atau tidak keluarga yang menderita
skizofrenia dan seberapa dekat hubungan orang tersebut dengan keluarga yang menderita
penyakit ini (misalnya first degree relative atau second degree relative). Ditemukan juga bahwa
kecenderungan seseorang untuk menderita skizofrenia berhubungan dengan usia ayah saat anak
dilahirkan. Sebuah studi dilakukan pada pasien skizofrenia yang tidak memiliki riwayat keluarga
dan ditemukan bahwa seseorang yang dilahirkan dari ayah yang lebih tua dari 60 tahun lebih
rentan untuk terjadinya skizofrenia. Pola transmisi genetik skizofrenia tidak diketahui namun
beberapa gen ditemukan berhubungan dengan kerentanan seseorang menderita skizofrenia yaitu
gen alpha-7-nicotinic receptor, DISC1, GRM3, COMT, NRG1, RGS4, dan G72. Mutasi dari gen
DTNBP1 dan neureglin 1 ditemukan berhubungan dengan gejala negatif dari skizofrenia.
Pada pasien ini tidak diberikan keterangan tentang adanya anggota keluarga yang menderita
gangguan jiwa atau skizofrenia. Perlu dilakukan anamnesis tambahan untuk mengetahui apakah
anggota keluarga pasien ada yang menderita gangguan jiwa atau skizofrenia. Hal ini
berhubungan dengan prognosis dari skizofrenia; dimana pasien dengan riwayat keluarga
gangguan mood memiliki prognosis yang baik, sedangkan pasien dengan riwayat keluarga
skizofrenia memiliki prognosis yang buruk.



12

2. Faktor biokimiawi:
Gangguan pada aktivitas biokimia otak atau neurotransmitter juga mempunyai peran yang
penting dalam terjadinya skizofrenia.
Dopamin: Hipotesis dopamin menyatakan bahwa skizofrenia timbul akibat
aktivitas dopaminergik yang berlebihan. Hipotesis ini dikembangan
berdasarkan dua alasan: 1.obat antipsikotik yang merupakan suatu antagonis
reseptor dopamine tipe 2 (D2) efektif dan poten menghilangkan gejala skizofrenia
dan 2.obat-obatan yang menyebabkan peningkatan aktivitas dopaminergik seperti
kokain dan amfetamin bersifat psikotomimetik. Jalur dopamin yang berhubungan
dengan kelainan dopamin ialah jalur mesokortikal dan jalur mesolimbik. Neuron
dopaminergik pada jalur ini keluar dari badan sel yang terdapat di midbrain
menuju ke neuron di sistem limbik dan korteks cerebri. Hiperaktivitas dopamin
pada jalur mesolimbik berhubungan dengan gejala positif pada skizofrenia,
sedangkan hipoaktivitas dopamin pada jalur mesokortikal berhubungan
dengan gejala negatif, gangguan kognitif, dan gangguan afek pada skizofrenia.

13


Serotonin: Pelepasan serotonin yang berlebihan berhubungan dengan terjadinya
gejala positif dan negatif pada skizofrenia. Dasar hipotesis ini didasarkan atas
penggunaan klozapin (antipsikotik generasi ke-2/ atipikal) yang efektif terhadap
gejala positif dan negatif dari skizofrenia, dimana obat ini merupakan suatu
antagonis reseptor serotonin.
Norepinefrin: Degenerasi selektif dari norepinefrin dikaitkan dengan gejala
anhedonia (gangguan kapasitas seseorang untuk mengalami rasa puas secara
emosional dan penurunan kemampuan seseorang untuk mengalami rasa senang)
pada pasien skizofrenia. Hipotesis ini belum dapat dibuktikan.
GABA: Pada beberapa pasien yang menderita skizofrenia, ditemukan bahwa
terjadi penurunan neuron GABAnergik di hipokampus. GABA, yang
merupakan suatu neurotransmitter inhibitor, mempunyai efek regulasi terhadap
aktivitas dopamin. Diduga bahwa hilangnya neuron GABAnergik menyebabkan
terjadinya hiperaktivitas neuron dopaminergik.
Asetilkolin: Studi postmortem pada pasien skizofrenia menunjukkan bahwa
reseptor muskarinik dan nikotinik menurun pada putamen caudatus,
hipokampus, dan bagian dari korteks prefrontal. Reseptor ini memiliki peran
14

dalam regulasi dari neurotransmitter yang berperan dalam kemampuan kognitif
seseorang. Penurunan reseptor muskarinik dan nikotinik dihubungkan dengan
gangguan kognitif pada pasien yang menderita skizofrenia.
Pada pasien ini ditemukan gejala positif, gejala negatif, serta gangguan afek yang
berhubungan dengan gangguan pada neurotransmitter dopamin, serotonin, serta GABA.
3. Faktor susunan saraf pusat:
Beberapa kelainan pada susunan saraf pusat telah ditemukan pada pasien skizofrenia yang
mungkin berhubungan dengan terjadinya skizofrenia. CT-scan dari penderita skizofrenia
menunjukkan pembesaran dari ventrikel lateralis dan ventrikel tiga dan penurunan volume
korteks cerebri. Penurunan volume substansia grissea dari korteks cerebri dapat ditemukan
pada tahap awal dari skizofrenia. Penurunan simetri juga ditemukan pada beberapa area otak
yaitu pada lobus temporal, lobus frontal, dan lobus oksipital. Penurunan simetri ini diduga
berasal dari masa fetus dimana dan merupakan indikasi terjadinya gangguan pada lateralisasi
otak saat perkembangan otak terjadi. Pada sistem limbik yang mengatur emosi dapat ditemukan
penurunan masa regio amigdala, hipokampus, dan girus parahipokampus (pada gambaran
MRI pasien skizofrenia). Kelainan anatomis dari korteks prefrontal juga ditemukan pada
pasien skizofrenia.
Pada pasien ini perlu dilakukan pemeriksaan CT-scan ataupun MRI untuk mengetahui adakah
kelainan pada susunan saraf pusat yang dapat menyebabkan terjadinya skizofrenia.

4. Faktor stress kehidupan:
Adolf Meyer menyatakan bahwa skizofrenia merupakan reaksi dari stres kehidupan.
Pada pasien ini kejadian skizofrenia diduga berhubungan dengan pernikahan dan kehamilan anak
pertama pasien ditinjau dari onset gejala skizofrenia yang dialami oleh pasien. Diduga bahwa
stres pada masa pernikahan dan masa kehamilan berperan dalam terjadinya skizofrenia pada
pasien ini. Selain itu, dari hasil anamnesis didapatkan bahwa pasien mengaku suaminya
selingkuh. Perlu dilakukan anamnesis tambahan kepada suami untuk mengetahui apakah hal
tersebut benar atau tidak. Bila suami memang selingkuh maka hal ini merupakan suatu stres
kehidupan yang berat bagi pasien yang memicu terjadinya skizofrenia pada pasien ini.


15

PENATALAKSANAAN
1.Rawat Inap karena :
- Tidak bisa mengurus diri
- Bahaya mencederai diri sendiri dan orang lain (membunuh)
- Agar pemberian terapi lebih teratur
2.Medikamentosa :
- Anti Psikotik : Risperidone minimal 4-6 minggu
3. Terapi Stabilisasi :
- Psikoterapi Supaya bisa bersosialisasi
4. Terapi Psikososial :
- Pelatihan keterampilan sosial Video
-PsikodramaLakukan rutinitas sehari-hari

PROGNOSIS
kami menetapkan prognosis pada pasien ini yaitu dubia ad malam, dengan alasan :
Prognosis baik Prognosis Buruk
Faktor pencetus yang jelas
Sistem pendukung yang baik
Menikah
Gejala positif
Onset Muda
Perilaku menarik diri, autistik
Gejala negatif
Tidak ada remisi dalam tiga tahun
Banyak relaps
Riwayat penyerangan













16

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

SKIZOFRENIA
Definisi Skizofrenia
Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang bersifat kronis atau kambuh ditandai dengan
terdapatnya perpecahan (schism) antara pikiran,emosi dan perilaku pasien yang terkena.
Perpecahan pada pasien digambarkan dengan adanya gejala fundamental (atau primer)
spesifik,yaitu gangguan pikiran yang ditandai dengan gangguan asosiasi, khususnya kelonggaran
asosiasi. Gejala fundamental lainnya adalah gangguan afektif, autisme, dan ambivalensi.
Sedangkan gejala sekundernya adalah waham dan halusinasi. Berdasarkan DSM-IV, skizofrenia
merupakan gangguan yang terjadi dalam durasi paling sedikit selama 6 bulan, dengan 1 bulan
fase aktif gejala (atau lebih) yang diikuti munculnya delusi, halusinasi, pembicaraan yang tidak
terorganisir, dan adanya perilaku yang katatonik serta adanya gejala negative.

Kriteria Diagnostik Skizofrenia
Menurut Kaplan & Sadock (2004), terdapat beberapa kriteria diagnostik skizofrenia di dalam
DSM-IV antara lain :
A. Karakteristik gejala
Terdapat dua (atau lebih) dari kriteria di bawah ini, masing-masing ditemukan secara signifikan
selama periode satu bulan (atau kurang,bila berhasil ditangani):
1) Delusi (waham)
2) Halusinasi
3) Pembicaraan yang tidak terorganisasi (misalnya, topiknya sering menyimpang atau tidak
berhubungan).
4) Perilaku yang tidak terorganisasi secara luas atau munculnya perilaku katatonik yang jelas.
5) Gejala negatif; yaitu adanya afek yang datar, alogia atau avolisi (tidak adanya kemauan).
Catatan : Hanya diperlukan satu gejala dari kriteria A, jika delusi yang muncul bersifat kacau
(bizzare) atau halusinasi terdiri dari beberapa suara yang terus menerus mengomentari perilaku
atau pikiran pasien, atau dua atau lebih suara yang saling berbincang antara satu dengan yang
lainnya.
17

B. Disfungsi sosial atau pekerjaan
Untuk kurun waktu yang signifikan sejak munculnya onset gangguan, ketidakberfungsian ini
meliputi satu atau lebih fungsi utama; seperti pekerjaan, hubungan interpersonal, atau perawatan
diri, yang jelas di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset (atau jika onset pada masa anak-
anak atau remaja, adanya kegagalan untuk mencapai beberapa tingkatan hubungan interpersonal,
prestasi akademik, atau pekerjaan yang diharapkan).

C. Durasi
Adanya tanda-tanda gangguan yang terus menerus menetap selama sekurangnya enam bulan.
Pada periode enam bulan ini, harus termasuk sekurangnya satu bulan gejala (atau kurang, bila
berhasil ditangani) yang memenuhi kriteria A (yaitu fase aktif gejala) dan mungkin termasuk
pula periode gejala prodromal atau residual. Selama periode prodromal atau residual ini, tanda-
tanda dari gangguan mungkin hanya dimanifestasikan oleh gejala negatif atau dua atau lebih
gejala yang dituliskan dalam kriteria A dalam bentuk yang lemah.

D. Di luar gangguan Skizoafektif dan gangguan Mood
Gangguan-gangguan lain dengan ciri psikotik tidak dimasukkan, karena :
1) Tidak ada episode depresif mayor, manik atau episode campuran yang terjadi secara
bersamaan yang terjadi bersama dengan gejala fase aktif.
2) Jika episode mood terjadi selama gejala fase aktif, maka durasi totalnya akan relatif lebih
singkat bila dibandingkan dengan durasi periode aktif atau residualnya.

E. Di luar kondisi di bawah pengaruh zat atau kondisi medis umum
Gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (penyalahgunaan obat,
pengaruh medikasi) atau kondisi medis umum.

F. Hubungan dengan perkembangan pervasive
Jika ada riwayat gangguan autistik atau gangguan perkembangan pervasive lainnya, diagnosis
tambahan skizofrenia dibuat hanya jika muncul delusi atau halusinasi secara menonjol untuk
sekurangkurangnya selama satu bulan (atau kurang jika berhasil ditangani). Klasifikasi
18

perjalanan gangguan jangka panjang (klasifikasi ini hanya dapat diterapkan setelah sekurang-
kurangnya satu tahun atau lebih, sejak onset awal dari munculnya gejala fase aktif) :
a) Episodik dengan gejala residual interepisode (episode ini dinyatakan dengan munculnya
kembali gejala psikotik yang menonjol); khususnya dengan gejala negatif yang menonjol.
b) Episodik tanpa gejala residual interepisodik.
c) Kontinum (ditemukan adanya gejala psikotik yang menonjol diseluruh periode observasi);
dengan gejala negatif yang menonjol.
d) Episode tunggal dalam remisi parsial; khususnya: dengan gejala negatif yang menonjol.
e) Episode tunggal dalam remisi penuh.
f) Pola lain yang tidak ditemukan (tidak spesifik).

Etiologi
Teori tentang penyebab skizofrenia, yaitu :
a. Diatesis-Stres Model
Teori ini menggabungkan antara faktor biologis, psikososial, dan lingkungan yang secara khusus
mempengaruhi diri seseorang sehingga dapat menyebabkan berkembangnya gejala skizofrenia.
Dimana ketiga faktor tersebut saling berpengaruh secara dinamis
b. Faktor Biologis
Dari faktor biologis dikenal suatu hipotesis dopamin yang menyatakan bahwa skizofrenia
disebabkan oleh aktivitas dopaminergic yang berlebihan di bagian kortikal otak, dan berkaitan
dengan gejala positif dari skizofrenia. Penelitian terbaru juga menunjukkan pentingnya
neurotransmiter lain termasuk serotonin, norepinefrin, glutamat dan GABA. Selain perubahan
yang sifatnya neurokimiawi, penelitian menggunakan CT Scan ternyata ditemukan perubahan
anatomi otak seperti pelebaran lateral ventrikel, atropi koteks atau atropi otak kecil (cerebellum),
terutama pada penderita kronis skizofrenia
c. Genetika
Faktor genetika telah dibuktikan secara meyakinkan. Resiko masyarakat umum 1%, pada orang
tua resiko 5%, pada saudara kandung 8% dan pada anak 12% apabila salah satu orang tua
menderita skizofrenia, walaupun anak telah dipisahkan dari orang tua sejak lahir, anak dari
kedua orang tua skizofrenia 40%. Pada kembar monozigot 47%, sedangkan untuk kembar dizigot
sebesar 12%
19

d. Faktor Psikososial
- Teori perkembangan
Ahli teori Sullivan dan Erikson mengemukakan bahwa kurangnya perhatian yang hangat dan
penuh kasih sayang di tahun-tahun awal kehidupan berperan dalam menyebabkan kurangnya
identitas diri, salah interpretasi terhadap realitas dan menarik diri dari hubungan sosial pada
penderita skizofrenia
- Teori belajar
Menurut ahli teori belajar (learning theory), anak-anak yang menderita skizofrenia mempelajari
reaksi dan cara berfikir irasional orang tua yang mungkin memiliki masalah emosional yang
bermakna. Hubungan interpersonal yang buruk dari penderita skizofrenia akan berkembang
karena mempelajari model yang buruk selama anak-anak
-Teori keluarga
Tidak ada teori yang terkait dengan peran keluarga dalam menimbulkan skizofrenia. Namun
beberapa penderita skizofrenia berasal dari keluarga yang disfungsional

Tipe-Tipe Skizofrenia
Berdasarkan definisi dan kriteria diagnostik tersebut, skizofrenia di dalam DSM-IV dapat
dikelompokkan menjadi beberapa subtipe, yaitu
a. Skizofrenia Paranoid
Tipe skizofrenia yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
A. Preokupasi dengan satu atau lebih delusi atau halusinasi dengar yang menonjol secara
berulang-ulang.
B. Tidak ada yang menonjol dari berbagai keadaan berikut ini :
Pembicaraan yang tidak terorganisasi, perilaku yang tidak terorganisasi atau katatonik, atau afek
yang datar atau tidak sesuai.

b. Skizofrenia Terdisorganisasi
Tipe skizofrenia yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
A. Di bawah ini semuanya menonjol :
1) Pembicaraan yang tidak terorganisasi.
2) Perilaku yang tidak terorganisasi.
20

3) Afek yang datar atau tidak sesuai.
B. Tidak memenuhi kriteria untuk tipe katatonik

c. Skizofrenia Katatonik
Tipe skizofrenia dengan gambaran klinis yang didominasi oleh sekurang-kurangnya dua hal
berikut ini :
1) Imobilitas motorik, seperti ditunjukkan adanya katalepsi (termasuk fleksibilitas lilin) atau
stupor.
2) Aktivitas motorik yang berlebihan (tidak bertujuan dan tidak dipengaruhi oleh stimulus
eksternal).
3) Negativisme yang berlebihan (sebuah resistensi yang tampak tidak adanya motivasi terhadap
semua bentuk perintah atau mempertahankan postur yang kaku dan menentang semua usaha
untuk menggerakkannya) atau mutism.
4) Gerakan-gerakan sadar yang aneh, seperti yang ditunjukkan oleh posturing (mengambil postur
yang tidak lazim atau aneh secara disengaja), gerakan stereotipik yang berulang-ulang,
mannerism yang menonjol, atau bermuka menyeringai secara menonjol.
5) Ekolalia atau ekopraksia (pembicaraan yang tidak bermakna).

d. Skizofrenia Tidak Tergolongkan
Tipe skizofrenia yang memenuhi kriteria A, tetapi tidak memenuhi kriteria untuk tipe paranoid,
terdisorganisasi, dan katatonik.

e. Skizofrenia Residual
Tipe skizofrenia yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
A. Tidak adanya delusi, halusinasi, pembicaraan yang tidak terorganisasi, dan perilaku yang
tidak terorganisasi atau katatonik yang menonjol.
B. Terdapat terus tanda-tanda gangguan, seperti adanya gejala negative atau dua atau lebih gejala
yang terdapat dalam kriteria A, walaupun ditemukan dalam bentuk yang lemah
(misalnya,keyakinan yang aneh, pengelaman persepsi yang tidak lazim).


21

Gejala dan Gambaran Klinis Skizofrenia
Berdasarkan DSM-IV, ciri yang terpenting dari skizofrenia adalah adanya campuran dari dua
karakteristik (baik gejala positif maupun gejala negatif). Secara umum, karakteristik gejala
skizofrenia (kriteria A), dapat digolongkan dalam tiga kelompok :
a. gejala positif,
b. gejala negatif, dan
c. gejala lainnya.
Gejala positif adalah tanda yang biasanya pada orang kebanyakan tidak ada, namun pada pasien
Skizofrenia justru muncul. Gejala positif adalah gejala yang bersifat aneh, antara lain berupa
delusi, halusinasi,ketidakteraturan pembicaraan, dan perubahan perilaku.
Gejala negatif adalah menurunnya atau tidak adanya perilaku tertentu, seperti perasaan yang
datar, tidak adanya perasaan yang bahagia dan gembira, menarik diri, ketiadaan pembicaraan
yang berisi, mengalami gangguan sosial, serta kurangnya motivasi untuk beraktivitas
Kategori gejala yang ketiga adalah disorganisasi, antara lain perilaku yang aneh (misalnya
katatonia, di mana pasien menampilkan perilaku tertentu berulang-ulang, menampilkan pose
tubuh yang aneh; atau waxy flexibility, yaitu orang lain dapat memutar atau membentuk posisi
tertentu dari anggota badan pasien, yang akan dipertahankan dalam waktu yang lama) dan
disorganisasi pembicaraan. Adapun disorganisasi pembicaraan adalah masalah dalam
mengorganisasikan ide dan pembicaraan, sehingga orang lain mengerti (dikenal dengan
gangguan berpikir formal). Misalnya asosiasi longgar, inkoherensi, dan sebagainya

Terapi
Tiga dasar akan pertimbangan pengobatan gangguan pada skizofrenia adalah:
1. Terlepas dari berbagai etiologi, skizofrenia terjadi pada seseorang yang memiliki sifat
individual, keluarga, serta sosial psikologis yang unik, maka pendekatan pengobatan
disusun berdasarkan bagaimana penderita telah terpengaruhi oleh gangguan dan
bagaimana penderita akan terobati oleh pengobatan yang dilakukan (terapi farmakologi).
2. Faktor lingkungan dan psikologi turut berperan dalam perkembangan skizofrenia, maka
harus dilakukan juga terapi non farmakologi. Skizofrenia adalah suatu gangguan yang
kompleks, dan tiap pendekatan terapetik jarang tercukupi untuk mengobati gangguan
yang memiliki berbagai macam bentuk.
22

SKIZOFRENIA PARANOID
Skizofrenia paranoid agak berlainan dari jenis jenis yang lain dalam jalannya penyakit.
Skizofrenia hebefrenik dan katatonik sering lama kelamaan menunjukkan gejala gejala
skizofrenia simplex, atau gejala gejala hebefrenik dan katatonik bercampuran. Tidak demikian
halnya dengan skizofrenia paranoid yang jalannya agak konstan. Gejala gejala yang mencolok
adalah waham primer, disertai dengan waham waham sekunder dan halusinasi. Baru dengan
pemeriksaan yang teliti ternyata ada juga gangguan proses berpikir, gangguan afek, emosi dan
kemauan.

Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah umur 30 tahun. Permulaannya mungkin subakut, tetapi
mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat digolongkan skizoid.
Mereka mudah tersinggung, suka menyendiri, agak congkak dan kurang percaya pada orang lain.


Pedoman Diagnostik
Gangguan kepribadian dengan ciri ciri :
Kepekaan berlebihan terhadap kegagalan dan penolakan ;
Kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam, misalnya menolak untuk memaafkan suatu
penghinaan dan luka hati atau masalah kecil ;
Kecurigaan dan kecenderungan yang mendalam untuk mendistorsikan pengalaman dengan
menyalah artikan tindakan orang lain yang netral atau bersahabat sebagai suatu sikap
permusuhan atau penghinaan ;
Perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa memperhatikan situasi yang ada (
actual situation ) ;
Kecurigan yang berulang, tanpa dasar ( justification ), tentang kesetiaan seksual dari
pasangannya ;
Kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan, yang bermanifestasi dalam
sikap yang selalu merujuk ke diri sendiri ( self referential attitude ) ;
Preokupasi dengan penjelasan penjelasan yang bersekongkol dan tidak substantif dari suatu
peristiwa, baik yang menyangkut diri pasien sendiri maupun dunia pada umumnya.

Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas

23

Penatalaksanaan

Skizofrenia merupakan kombinasi darigangguan pikiran, gangguan mood, dan gangguan
kecemasan. Pengelolaan skizofrenia memerlukan kombinasi antipsikotik, antidepresi, dan obat
anti ansietas.
Berdasarkan American Psychiatric Assosiations, penggunaan antipsikotik diindikasikan
untuk semua episode psikotik akut pada pasien dengan skizofrenia. Psikoterapi bukan pilihan
utama perawatan untuk orang dengan skizofrenia. Psikoterapi dapat membantu mempertahankan
individu di pengobatan mereka dan belajar keterampilan untuk bersosialisasi dengan masyarakat.
Pasien skizofrenia sering mengalami kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari seperti
memasak dan perawatan pribadi serta berkomunikasi dengan orang lain dalam keluarga dan di
lingkungan sekitar. Terapi rehabilitasi dapat membantu seseorang mendapatkan kembali
kepercayaan diri untuk mengurus diri sendiri.
Pasien skizofrenia perlu dirawat inap di rumah sakit untuk mengobservasi
perkemabngannya selama 2-3 bulan.
Obat antipsikotik membantu untuk menormalkan ketidakseimbangan biokimia yang
menyebabkan skizofrenia dan mengurangi timbulnya kekambuhan.ada dua jenis antipsikotik,
tradisional dan baru.
Antipsikotik tradisional efektif mengontrol halusinasi, delusi, dan kebingungan.
Haloperidol, chlorpromazine, dan fluphenazine bekerja dengan cara memblokir reseptor
dopamin dan efektif untuk mengobati gejala positif (yaitu, gejala akut seperti halusinasi, delusi,
gangguan berpikir, asosiasi longgar, ambivalensi, atau lability emosional), skizofrenia.
Efek samping yang dapat disebabkan ialah mulut kering, mata kabur, mengantuk,
gelisah, dan otot yang berkedut tidak terkoordinasi (tardive dyskinesia) yang dapat permanen,
tremor dan gejala ekstrapiramidal lainnya. Namun bisa juga mempengaruhi sistem saraf.
Antipsikotik baru seperti seroquel, risperdal, dan clozaril. Obat-obat ini bekerja pada
reseptor dopamin dan serotonin, sehingga dapat mengobati gejala positif dan negatif. Clozaril
tidak menimbulkan efek samping ekstrapiramidal, tetapi menghasilkan efek samping lainnya,
termasuk kemungkinan penurunan jumlah sel darah putih, kantuk, pusing, dan nafsu makan
meningkat. Berat badan, yang mungkin terkait dengan tingkat gula darah yang lebih tinggi, darah
24

tinggi tingkat lipid, dan kadang-kadang peningkatan tingkat hormon yang disebut prolaktin, juga
dapat terjadi.
Obat antipsikosis dapat mengobati psikosis akut dan mengurangi resiko kekambuhan
pada pasien. Pengobatan dilakukan dalam dua fase: fase akut, memerluakn dosis tinggi
dilanjutkan dengan fase perawatan yang bisa seumur hidup. Selama fase perawatan, dosis secara
bertahap dikurangi. Jika terjadi kekambuhan, dapat dilakukan peningkatan dosis sementara.
Mood stabilizer obat seperti lithium (Lithobid), divalproex (Depakote), carbamazepine
(Tegretol), dan lamotrigin (Lamictal) dapat berguna dalam mengobati perubahan suasana hati
yang kadang-kadang terjadi individu yang memiliki gangguan mood selain gejala psikotik
(misalnya , gangguan schizoaffective, depresi selain skizofrenia). Obat-obat ini bekerja lebih
lama dibandingkan dengan obat antipsikotik.
Obat antidepresan adalah perawatan medis utama untuk depresi yang sering dapat
menemani skizofrenia. Contoh antidepresan yang sering diberikan untuk tujuan yang mencakup
serotonergik (SSRI) obat yang mempengaruhi kadar serotonin seperti fluoxetine (Prozac),
sertraline (Zoloft), paroxetine (Paxil), citalopram (Celexa), dan escitalopram (Lexapro);
serotonergik kombinasi / adrenergik obat (SNRIs) seperti venlafaxine (Effexor) dan duloxetine
(Cymbalta), serta bupropion (Wellbutrin), yang merupakan obat dopaminergik antidepresan.
Untuk dapat menentukan apakah antipsikosis efektif atau tidak, harus mencoba untuk
setidaknya 6-8 minggu.
Kekambuhan pada pasien sering terjadi akibat dari penghentian penggunaan obat.
Penghentian obat sering dilakukan pasien karena efek samping yang ditimbulkan oleh obat
tersebut.
Pengobatan skizofrenia dapat dibantu dengan terapi psikososial. Terapi ini bertujuan
untuk memotivasi pasien, membuat pasien bisa melakukan kegiatan sehari-hari, dan membuat
pasien dapat berkomunikasi.
Rehabilitasi dapat mencakup pekerjaan dan konseling kejuruan, pemecahan masalah,
sosial pelatihan keterampilan, andeducation dalam manajemen uang. Dengan demikian, pasien
belajar keterampilan yang dibutuhkan untuk reintegrasi ke
dalam masyarakat setelah mereka keluar dari rumah sakit.
Terapi kelompok diperlukan untuk mendapatkan dukungan luar bagi anggota keluarga
penderita skizofrenia. Aliansi Nasional untuk mental III (Nami)adalah sumber daya
25

yang mendalam. Organisasi ini memberikan informasi tentang semua pengobatan untuk
skizofrenia, termasuk perawatan di rumah. Terapi kelompok, dikombinasikan dengan obat-
obatan, menghasilkan hasil yang lebih baik daripada pengobatan obat saja, terutama pasien rawat
jalan. Terapi kelompok sangat membantu dalam mengurangi isolasi sosial.
Edukasi keluarga diberikan untuk menjelaskan kepada anggota keluarga tentang gejala,
dan pengobatan skizofrenia, bentuk pengobatan terdiri dari menyediakan dukungan keluarga, dan
akses ke perawatan penyedia selama masa krisis. Hal ini juga membuat beban anggota keluarga
pasien skizofrenia berkurang, anggota keluarga cenderung lebih luas tentang gangguan tersebut
dan merasa lebih didukung oleh para profesional yang terlibat, dan hubungan keluarga
ditingkatkan. Keluarga pasien perlu menjaga agar jalur komunikasi terbuka tentang masalah atau
kekhawatiran pasien mungkin memiliki. Memahami bahwa untuk merawat pasien dapat secara
emosional dan fisik melelahkan. Luangkan waktu untuk diri sendiri. Bersabar dan tenang dalam
menghadapi kasus seperti ini. Mintalah bantuan jika Anda membutuhkannya; bergabung dengan
kelompok dukungan.
Komunitas pengobatan asertif (ACT) merupakan terapi yang terdiri dari sebuah tim
terapis dengan pasien, yang dilakukan dalam masyarakat (misalnya, rumah, kantor, atau tempat
lain orang dengan skizofrenia sering pergi). Tim pengobatan terdiri dari berbagai
profesional. Sebagai contoh, seorang psikiater, perawat, manajer kasus, konselor kerja, dan
penyalahgunaan zat-konselor sering membentuk tim ACT.
Pelatihan ketrampilan sosial mengajari pasien untuk menangani situasi sosial. Ini sering
melibatkan situasi yang terjadi dalam kehidupan sosial untuk mempersiapkan bagi mereka situasi
ketika mereka benar-benar terjadi. Jenis pengobatan telah ditemukan untuk membantu orang
dengan skizofrenia menolak menggunakan penyalahgunaan obat, serta meningkatkan hubungan
mereka dengan profesional kesehatan dan dengan orang di tempat kerja.
Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah terapi berbasis realitas yang berfokus pada
membantu klien memahami dan mengubah pola yang cenderung mengganggunya atau
kemampuannya untuk berinteraksi dengan orang lain. Kecuali untuk orang yang sedang
mengalami psikosis akut. CBT digunakan untuk membantu individu dengan gejala skizofrenia
yang sudah mereda dan meningkatkan kemampuan mereka untuk berfungsi sosial. Terapi ini
dapat dilakukan baik secara individu atau dalam sesi kelompok.

26

Prognosis
Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan skizofrenia atau gangguan
schizoaffective memiliki kualitas hidup yang lebih baik jika anggota keluarga mereka cenderung
lebih mendukung mereka.








































27

BAB VI
KESIMPULAN

Skizofrenia adalah salah satu gangguan jiwa yaitu adanya hendaya berat berat dalam menilai
realita. Pasien dapat didiagnosis skizofrenia dikarenakan adanya halusinasi auditorik, waham,
asosiasi longgar dan gejala negative yamg didapat dari hasil anamnesis dan hasil pemeriksaan
status mental



































28

DAFTAR PUSTAKA

1. Safitri A ,editor. Hipertiroidisme. At a Glance Medicine Patrick Davey.Jakarta :
Erlangga;2005.p.274.
2. Muttaqin H, Sihombing RNE, editor. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi
2. Jakarta : EGC ; 2010.
3. Muslim R, editor. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ
III.Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya ; 2001.p.48.
4. http://www.emedicinehealth.com/tremors/article_em.htm. Alvarez N. Tremor. Accessed
on May 16, 2013
5. Alfredo Berardelli. 5 Mei 2001. Patofisiologi bradykinesia pada penyakit Parkinson.
brain.oxfordjournals.org/content/.../2131.full. accessed on may 16, 2013
6. The American Heritage Medical Dictionary Copyright 2007 . available at:
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/cogwheel+rigidity. accessed on May 16,
2013
7. McNamara P, Parkinson Disease. 2009. . Available at:
http://parkinsons.about.com/od/glossary/g/masked_facies.htm . accessed on May 16,
2013
8. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry: Behavioral
Sciences/ Clinical Psychiatry. 10
th
ed. In: Grebb JA, Pataki CS, Sussman N; editors.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2007. p.468, 470-2, 1043-5.
9. Frankenburg FR. Schizophrenia: Pathophysiology. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/288259-overview#a0104. Accessed 05 May 16,
2013
10 Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan-Sadock Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan
Perilaku Psikiatri Klinis, Jilid 2. Tangerang: Binarupa Aksara Publisher; 2010. p.480-2.

Anda mungkin juga menyukai