Anda di halaman 1dari 56

Latar bel;akang

Metabolisme adalah seluruh proses biokimia yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup.
Metabolisme terdiri dari anabolisme dan katabolisme. Karena metabolisme sangat penting bagi
kita. Kita perlu untuk mempelajarinya dan membuktikan bahwa metabolisme memang terjadi
dan apa saja yang mempengaruhi prosesnya. Saat kita berada di bawah pohon yang rindang kita
akan merasa sejuk, rasa sejuk tersebut disebabkan kadar oksigen yang ada lebih banyak. Oksigen
ini dihasilkan dari tumbuhan yang memiliki zat hijau daun, melalui proses metabolisme.
Sel adalah struktural terkecil dan fungsional dari suatu makhluk hidup yang secara
independen mampu melakukan metabolisme, reproduksi dan kegiatan kehidupan lainnya yang
menunjang kelangsungan hidup sel itu sendiri. Suatu sel dikatakan hidup apabila sel tersebut
masih menunjukkan ciri-ciri kehidupan antara lain melakukan aktifitas metabolisme, mampu
beradaptasi dengan perubahan lingkungannya, peka terhadap rangsang, dan ciri hidup lainnya.
Suatu sel hidup harus memiliki protoplas, yaitu bagian sel yang ada di bagian dalam dinding sel.
Protoplas dibedakan atas komponen protoplasma dan non protoplasma. Komponen protoplasma
yaitu terdiri atas membran sel, inti sel, dan sitoplasma (terdiri dari organel-organel hidup).
Komponen non protoplasma dapat pula disebut sebagai benda ergastik.
Benda ergastik adalah bahan non protoplasma, baik organik maupun anorganik, sebagai
hasil metabolisme yang berfungsi untuk pertahanan, pemeliharaan struktur sel, dan juga sebagai
penyimpanan cadangan makanan, terletak di baigan sitoplasama, dinding sel, maupun di
vakuola. Dalam sel benda ergastik dapat berupa karbohidrat (amilum), protein (aleuron dan
gluten), lipid (lilin, kutin, dan suberin), dan Kristal (Kristal ca-oksalat dan silika). Seperti
dijelaskan sebelumnya bahwa benda ergastik memiliki banyak fungsi untuk sel, misalnya
penyimpanan cadangan makanan, contohnya amilum, pemeliharaan struktur (lilin) dan
perlindungan, misalnya adanya Kristal ca oksalat dalam suatu jaringan tumbuhan dapat
menyebabkan reaksi alergi bagi hewan yang memakannya, sehingga hewan tersebut tidak akan
bernafsu menyentuhnya untuk yang kedua kali.
Pada sel mati tidak dijumpai adanya organel-organel, di dalam sel hanya berupa ruangan
kosong saja. Sel mati sendiri asalnya dari sel hidup. Sel menjadi mati disebabkan karena
berbagai faktor, misalnya faktor genetik maupun faktor lingkungan. Sedangkan yang akan
dibahas dalam praktikum ini adalah sel mati karena faktor genetik, maksudnya sel tersebut mati
karena telah mencapai umur yang memang telah ditentukan secara genetik. Sel-sel tersebut
memang dalam perkembangannya terspesialisasi untuk menjadi suatu sel mati, yang memiliki
fungsi tertentu dalam bagi tumbuhan. Misalnya sel-sel xilem-xilem yang akan bersifat mati
secara khusus berguna untuk pengangkutan unsur mineral dari dalam tanah ke daun.




Sel merupakan unit kehidupan yang terkecil, oleh karena itu sel dapat menjalankan
aktivitas hidup, di antaranya metabolisme.
Metabolisme adalah proses-proses kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup/sel.
Metabolisme disebut juga reaksi enzimatis, karena metabolisme terjadi selalu menggunakan
katalisator enzim.
Anonim 2000 Metabolisme Sel.
http://bebas.vlsm.org/v13/Sponsor/_Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0114%20Bio%203-1c.htm
21 april 2014

Pengertian Proses Metabolisme- Seperti yang Anda ketahui dalam proses penyediaan energi,
baik pada tumbuhan maupun manusia, melalui rentetan reaksi kimia. Jika seluruh reaksi kimia
terjadi dalam sel makhluk hidup, maka reaksinya disebut reaksi biokima. Seluruh proses atau
reaksi biokimia yang terjadi dalam sel disebut metabolisme.
Metabolisme merupakan rangkaian reaksi kimia yang diawali oleh substrat awal dan diakhiri
dengan produk akhir, yang terjadi dalam sel. Perlu Anda ketahui reaksi tersebut meliputi reaksi
penyusunan energi (anabolisme) dan reaksi penggunaan energi (katabolisme). Dalam reaksi
biokimia terjadi perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk yang lain, misalnya energi kimia
dalam bentuk senyawa Adenosin Trifosfat (ATP) diubah menjadi energi gerak untuk melakukan
suatu aktivitas seperti bekerja, berlari, jalan, dan lain-lain.
Proses metabolisme yang terjadi di dalam sel makhluk hidup seperti pada tumbuhan dan
manusia, melibatkan sebagian besar enzim (katalisator) baik berlangsung secara sintesis
(anabolisme) dan respirasi (katabolisme). Apa peran enzim di dalam reaksi kimia yang terjadi di
dalam sel? Pada saat berlangsungnya peristiwa reaksi biokimia di dalam sel, enzim bekerja
secara spesifik. Enzim mempercepat reaksi kimia yang menghasilkan senyawa ATP dan
senyawa-senyawa lain yang berenergi tinggi seperti pada proses respirasi, fotosintesis,
kemosintesis, sintesis protein, dan lemak.
Senyawa Adenosin Trifosfat (ATP) merupakan molekul kimia berenergi tinggi. Berasal dari
manakah energi itu? Molekul Adenosin Trifosfat (ATP) berasal dari perubahan glukosa melalui
serangkaian reaksi kimia yang panjang dan kompleks. Energi yang terkandung dalam glukosa
tersebut berupa energi ikatan kimia yang berasal dari proses transformasi energi sinar matahari.
Transformasi energi tersebut dalam biologi dapat digambarkan melalui Gambar 2.2 sebagai
berikut.
Anonym 2014 http://smakita.net/pengertian-proses-metabolisme/


Kristy Y. 2014. Apakah itu metabolism sel. http://smakita.com/apakah-itu-metabolisme-sel.html
metabolisme sel adalah susunan dari proses kimia yang memungkinkan suatu organisme untuk merespon lingkungan,
mengekstrak energi, tumbuh, berkembang biak serta mempertahankan dirinya. Proses metabolisme sel dikelompokkan ke
dalam proses katabolik, yang terlibat dengan ekstraksi energi, dan proses anabolik, yang melibatkan penggunaan energi untuk
pertumbuhan dan perbaikan jaringan. Dalam sel, asam nukleat, protein, karbohidrat dan lemak adalah molekul utama yang
terlibat dalam metabolisme sel.
Asam nukleat

Metabolisme sel adalah susunan dari proses kimia yang memungkinkan suatu organisme untuk merespon lingkungan,
mengekstrak energi, tumbuh, berkembang biak serta mempertahankan dirinya
Inti dari sel dan kadang-kadang sitoplasma mengandung asam nukleat, yang merupakan perpustakaan informasi yang
mengarahkan serta menentukan fungsi utama dari sel. Ada dua jenis asam nukleat dalam sel: DNA serta RNA. DNA ditemukan
dalam nukleus dan template dari mana RNA dibuat. RNA diubah untuk menjadi mRNA segera setelah itu dibuat, ia
meninggalkan nukleus ke sitoplasma di mana ia digunakan untuk sintesis protein.
Protein
Sintesis protein terjadi di sitoplasma dan difasilitasi oleh mRNA yang menyediakan instruksi untuk membuat protein tertentu.
Protein hanya rantai asam amino. Ketika tubuh mendorong proses anabolik dalam sel, sintesis protein meningkat, proses
anabolik terhalang bila ada kekurangan protein dan asupan kalori. Ketika energi rendah dalam tubuh Anda, daripada membuat
protein menggunakan energi yang tersedia, protein dapat dipecah untuk melepaskan energi untuk sel sebuah proses
katabolik.
Karbohidrat
Karbohidrat, atau pati, adalah sumber energi yang paling tersedia untuk tubuh, mereka dengan cepat dimetabolisme untuk
melepaskan energi untuk tubuh. Panjang merantai atau kompleks karbohidrat juga dikenal sebagai polisakarida, mereka terdiri
dari unit kecil yang disebut monosakarida. Glukosa adalah monosakarida yang lebih disukai dan yang paling penting dalam
tubuh, monosakarida lain termasuk fruktosa dan galaktosa. Glikogen merupakan bentuk penyimpanan glukosa.
Lemak
Lemak yang terkandung dalam adiposit atau sel-sel lemak, terutama bentuk penyimpanan energi dalam tubuh. Setiap gram
lemak menyediakan dua kali lebih banyak kalori protein atau karbohidrat. Lemak cenderung menumpuk di tubuh selama
kondisi peningkatan kalori dan asupan lemak. Sebuah gaya hidup juga mendorong penumpukan lemak karena lebih sedikit
energi yang digunakan oleh tubuh. Lemak dipecah saat tubuh mengalami kekurangan pemasokan karbohidrat atau pengalaman
masalah dengan metabolisme karbohidrat. Diet untuk menurunkan berat badan adalah salah satu cara untuk membentuk
ketidakcukupan karbohidrat, diabetes mellitus adalah gangguan yang paling penting dari metabolisme karbohidrat.





Home
About
Blog
Gallery


Hidrolisis Pati
Posted by Februadi on Aug 11, 2012 in Ilmu Pangan | 2 comments

Pendahuluan
Produk hasil hidrolisa pati sangat banyak digunakan dan diterapkan dalam penggunaan pati pada
produk-produk pengolahan hasil pangan. Proses hidrolisa pati menggunakan asam maupun
enzim adalah proses yang umum digunakan untuk mengubah pati menjadi molekul yang lebih
kecil lagi bahkan hingga mengubah pati menjadi gula sederhana. Pada bab ini akan dibahas
mengenai proses-proses hidrolisa pati baik menggunakan asam maupun enzim. Masing-masing
proses hidrolisa baik menggunakan asam maupun enzim memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Hidrolisa asam menghasilkan proses yang lebih murah namun produk yang
dihasilkan tidak sebaik yang dihasilkan dari hidrolisis menggunakan enzim yang tentunya jauh
lebih mahal.

Hidrolisa

Gula merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, selama ini kebutuhan gula dipenuhi oleh
industri gula (penggilingan tebu). Industri kecil seperti gula merah, gula aren. Gula dapat berupa
glukosa, sukrosa, fruktosa, sakrosa. Gukosa dapat digunakan sebagai pemanis dalam makanan,
minuman, dan es krim.
Glukosa dibuat dengan jalan fermentasi dan hidrolisa. Pada proses hidrolisa biasanya
menggunakan katalisator asam seperti HCl, asam sulfat. Bahan yang digunakan untuk proses
hidrolisis adalah pati. Di Indonesia banyak dijumpai tanaman yang menghasilkan pati. Tanaman-
tanaman itu seperti padi, jagung, ketela pohon, umbi-umbian, aren, dan sebagainya
Hidrolisis merupakan reaksi pengikatan gugus hidroksil / OH oleh suatu senyawa. Gugus OH
dapat diperoleh dari senyawa air. Hidrolisis dapat digolongkan menjadi hidrolisis murni,
hidrolisis katalis asam, hidrolisis katalis basa, gabungan alkali dengan air dan hidrolisis dengan
katalis enzim. Sedangkan berdasarkan fase reaksi yang terjadi diklasifikasikan menjadi hidrolisis
fase cair dan hidrolisis fase uap.
Hidrolisis pati terjadi antara suatu reaktan pati dengan reaktan air. Reaksi ini adalah orde satu
karena reaktan air yang dibuat berlebih, sehingga perubahan reaktan dapat diabaikan. Reaksi
hidrolisis pati dapat menggunakan katalisator ion H+ yang dapat diambil dari asam. Reaksi yang
terjadi pada hidrolisis pati adalah sebagai berikut:
(C6H10O5)x + x H2O x C6H12O6
Variabel-variabel yang berpengaruh terhadap reaksi hidrolisa :
1. Katalisator
Hampir semua reaksi hidrolisa memerlukan katalisator untuk mempercepat jalannya reaksi.
Katalisator yang dipakai dapat berupa enzim atau asam sebagai katalisator, karena kerjanya lebih
cepat. Asam yang dipakai beraneka ragam mulai dari asam klorida (Agra dkk, 1973; Stout &
Rydberg Jr., 1939), Asam sulfat sampai asam nitrat. Yang berpengaruh terhadap kecepatan
reaksi adalah konsentrasi ion H, bukan jenis asamnya. Meskipun demikian di dalam industri
umumnya dipakai asam klorida. Pemilihan ini didasarkan atas sifat garam yang terbentuk pada
penetralan gangguan apa-apa selain rasa asin jika konsentrasinya tinggi. Karena itu konsentrasi
asa dalam air penghidrolisa ditekan sekecil mungkin. Umumnya dipergunkan larutan asam yang
mempunyai konsentrasi asam lebih tinggi daripada pembuatan sirup. Hidrolisa pada tekanan 1
atm memerlukan asam yang jauh lebih pekat.
2. Suhu dan tekanan
Pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi mengikuti persamaan Arhenius.makin tinggi suhu,
makin cepat jalannya reaksi. Untuk mencapai konversi tertentu diperlukan waktu sekitar 3 jam
untuk menghidrolisa pati ketela rambat pada suhu 100C. tetapi kalau suhunya dinaikkan sampai
suhu 135C, konversi yang sebesar itu dapat dicapai dalam 40 menit (Agra dkk,1973). Hidrolisis
pati gandum dan jagung dengan katalisator asam sulfat memerlukan suhu 160C. karena panas
reaksi hampir mendekati nol dan reaksi berjalan dalam fase cair maka suhu dan tekanan tidak
banyak mempengaruhi keseimbangan.
3. Pencampuran (pengadukan)
Supaya zat pereaksi dapat saling bertumbukan dengan sebaik-baiknya, maka perlu adanya
pencampuran. Untuk proses batch, hal ini dapat dicapai dengan bantuan pengaduk atau alat
pengocok (Agra dkk,1973). Apabila prosesnya berupa proses alir (kontinyu), maka pencampuran
dilakukan dengan cara mengatur aliran di dalam reaktor supaya berbentuk olakan.
4. Perbandingan zat pereaksi
Kalau salah satu zat pereaksi berlebihan jumlahnya maka keseimbangan dapat menggeser ke
sebelah kanan dengan baik. Oleh karena itu suspensi pati yang kadarnya rendah memberi hasil
yang lebih baik dibandingkan kadar patinya tinggi. Bila kadar suspensi diturunkan dari 40%
menjadi 20% atau 1%, maka konversi akan bertambah dari 80% menjadi 87 atau 99% (Groggins,
1958). Pada permukaan kadar suspensi pati yang tinggi sehingga molekul-molekul zat pereaksi
akan sulit bergerak. Untuk menghasilkan pati sekitar 20%.
Klasifikasi Hidrolisa
Klasifikasi proses hidrolisa dapat dibagi menjadi: (1) Hidrolisa fase gas: Sebagai penghidrolisa
adalah air dan reaksi berjalan pada fase uap. (2) Hidrolisa fase cair: Pada hidrolisa ini, ada 4 tipe
hidrolisa, yaitu: (a) Hidrolisa murni: Efek dekomposisinya jarang terjadi, tidak semua bahan
terhidrolisa. Efektif digunakan pada : Reaksi Grigrard dimana air digunakan sebagai
penghidrolisa, (b)Hidrolisa bahan-bahan berupa anhidrid asam Laktan dan laktanida. Hidrolisa
senyawa alkyl yang mempunyai komposisi kompleks, Hidrolisa asam berair. Pada umumnya
dengan HCl dan H2SO4, dimana banyak digunakan pada industri bahan pangan, misal: Hidrolisa
gluten menjadi monosodium glutamate, Hidrolisa pati menjadi glukosa. Sedangkan H2SO4
banyak digunakan pada hidrolisa senyawa organik dimana peranan H2SO4 tidak dapat diganti.
(c) Hidrolisa dengan alkali berair: Penggunaan konsentrasi alkali yang rendah dalam proses
hidrolisa diharapkan ion H+ bertindak sebagai katalisator sedangkan pada konsentrasi tinggi
diharapkan dapat bereaksi dengan asam yang terbentuk. (d) Hidrolisa dengan enzim Senyawa
dapat digunakan untuk mengubah suatu bahan menjadi bahan hidrolisa lain. Hidrolisa ini dapat
digunakan : Hidrolisa molase, Beer (pati maltosa/glukosa) dengan enzim amilase
Aplikasi hidrolisa Pati banyak digunakan dalam Industri makanan dan minuman menggunakan
sirup glukosa hasil hidrolisis pati sebagai pemanis. Produk akhir hidrolisa pati adalah glukosa
yang dapat dijadikan bahan baku untuk produksi fruktosa dan sorbitol. Hasil hidrolisis pati juga
banyak digunakan dalam industri obat-obatan. Dan juga glukosa yang dihasilkan dapat
digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioethanol. Penggunaan asam sebagai penghidrolisa
menghasilkan biaya produksi yang sedikit, namun produk yang dihasilkan tidak seragam dan
banyak senyawa pati yang rusak oleh asam tersebut, sedangkan penggunaan enzim sebagai
penghidrolisa menghasilkan produk yang seragam, lebih terkontrol, namun biaya produksi lebih
tinggi karena harga dari enzim sendiri lebih mahal jika dibandingkan dengan asam.
Hidrolisis Enzim
Enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang
mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia organik. Molekul
awal yang disebut substrat akan dipercepat perubahannya menjadi molekul lain yang disebut
produk. Jenis produk yang akan dihasilkan bergantung pada suatu kondisi/zat, yang disebut
promoter. Semua proses biologis sel memerlukan enzim agar dapat berlangsung dengan cukup
cepat dalam suatu arah lintasan metabolisme yang ditentukan oleh hormon sebagai promoter.
Enzim bekerja dengan cara bereaksi dengan molekul substrat untuk menghasilkan senyawa
intermediat melalui suatu reaksi kimia organik yang membutuhkan energi aktivasi lebih rendah,
sehingga percepatan reaksi kimia terjadi karena reaksi kimia dengan energi aktivasi lebih tinggi
membutuhkan waktu lebih lama. Sebagai contoh:
X + C XC (1)
Y + XC XYC (2)
XYC CZ (3)
CZ C + Z (4)
Meskipun senyawa katalis dapat berubah pada reaksi awal, pada reaksi akhir molekul katalis
akan kembali ke bentuk semula.
Sebagian besar enzim bekerja secara khas, yang artinya setiap jenis enzim hanya dapat bekerja
pada satu macam senyawa atau reaksi kimia. Hal ini disebabkan perbedaan struktur kimia tiap
enzim yang bersifat tetap. Sebagai contoh, enzim -amilase hanya dapat digunakan pada proses
perombakan pati menjadi glukosa.
Kerja enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama adalah substrat, suhu, keasaman,
kofaktor dan inhibitor. Tiap enzim memerlukan suhu dan pH (tingkat keasaman) optimum yang
berbeda-beda karena enzim adalah protein, yang dapat mengalami perubahan bentuk jika suhu
dan keasaman berubah. Di luar suhu atau pH yang sesuai, enzim tidak dapat bekerja secara
optimal atau strukturnya akan mengalami kerusakan. Hal ini akan menyebabkan enzim
kehilangan fungsinya sama sekali. Kerja enzim juga dipengaruhi oleh molekul lain. Inhibitor
adalah molekul yang menurunkan aktivitas enzim, sedangkan aktivator adalah yang
meningkatkan aktivitas enzim. Banyak obat dan racun adalah inihibitor enzim.
Dalam proses hidrolisis pati secara enzimatis, terdapat beberapa enzim penghidrolisis pati yang
bekerja spesifik yaitu ikatan glikosidik yang diputus, pola pemutusan, aktivitasnya dan spesifitas
substrat serta produk yang dihasilkan. Tingginya keragaman jenis pati dan spesifiknya kerja
enzim penghidrolisis pati, maka produk yang dibentuk akan mempunyai komposisi karbohidrat
yang beragam
Modifikasi pada pati juga dapat dilakukan dengan hidrolisis enzim. Modifikasi pati dengan
metode enzimatis. Pada modifikasi pati dengan metode enzimatis ini dapat dilakukan dengan
berbagai tahapan yaitu likuifaksi, sakarifikasi dan isomerisasi. Langkah yang pertama adalah
likuefaksi 30-40% suspensi padatan untuk menghasilkan maltodekstrin dengan menggunakan
enzim -amilase. Setelah likuifaksi dilakukan sakarifikasi menggunakan enzim glukoamilase
atau pullulanase untuk menghasilkan sirup glukosa atau sirup maltosa. Hasil sakarifikasi
dilakukan isomerisasi dengan enzim glukosa isomerase untuk menghasilkan sirup fruktosa.
Hidrolisis dengan enzim dapat menghasilkan beberapa produk hidrolisat pati dengan sifat-sifat
tertentu yang didasarkan pada nilai DE (ekuivalen dekstrosa). Nilai DE 100 adalah murni
dekstrosa sedangkan nilai DE 0 adalah pati alami. Hidrolisat dengan nilai DE 50 adalah maltosa,
nilai DE di bawah 20 adalah maltodekstrin, sedangkan hidrolisat dengan DE berkisar antara 20-
100 adalah sirup glukosa.
Beberapa jenis enzim yang sering digunakan dalam menghidrolisis pati yaitu: -amilase, -
amilase, pullunase, dan amiloglukosidase (AMG) yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda
satu-sama lainnya.
Enzim alfa amilase
Enzim alfa-amilase, atau yang biasa disebut juga 1,4-alpha-D-glucan glucanohydrolase (karena
hanya memotong pada ikatan 1,4 pada ikatan glikosida), biasa juga disebut pancreatic alpha-
amilase adalah salah satu enzim yang berperan dalam proses degradasi pati, sejenis
makromolekul karbohidrat. Struktur molekuler dari enzim ini adalah -1,4-glukanohidrolase.
Bersama dengan enzim pendegradasi pati lain, pululanase, -amilase termasuk ke dalam
golongan enzim kelas 13 glikosil hidrolase. Alpha-amilase ini memiliki beberapa sisi aktif yang
dapat mengikat 4 hingga 10 molekul substrat sekaligus sehingga proses hidrolisisnya lebih cepat.


Gambar 1. ikatan 1,4 glikosida yang diputus oleh Enzim alfa amilase
Alfa-amilase pada umumnya aktif bekerja pada kisaran suhu 25OC hingga 95OC. Penambahan
ion kalsium dan klorida dapat meningkatkan aktivitas kerja dan menjaga kestabilan enzim ini.
Alfa-amilase akan memotong ikatan glikosidik -1,4 (Gambar III-1) pada molekul pati
(karbohidrat) sehingga terbentuk molekul-molekul karbohidrat yang lebih pendek. Hasil dari
pemotongan enzim ini antara lain maltosa, maltotriosa, dan glukosa.

Gambar 2. Representatif lokasi pemutusan yang dilakukan secara acak oleh enzim alfa amilase
(segitiga hitam adalah lokasi untuk memotong)
Kerja enzim ini bersifat endo enzim yaitu memotong ikatan 1,4 glikosida pada amilosa ataupun
amilopektin dari dalam dan memotong secara acak (Gambar III-1), enzim ini juga bekerja pada
pati yang telah tergelatinisasi. Pada hidrolisis pati mentah enzim ini dihasilkan oleh
Saccaromyces cereviciae (Raw starch digesting amilase). Alfa amilase biasa juga disebut sebagai
liquifying enzim, karena enzim alfa amilase bekerja pada proses liquifikasi yg memecah pati
menjadi rantai yg lebih pendek.
Enzim alpha-amilase merupakan enzim yang banyak digunakan pada berbagai macam makanan,
minuman, detergen, industri pemrosesan dan industri tekstil. Enzim ini terdapat dialam misalnya
pada: Bisa dalam bentuk tepung malt, gandum yang berkecambah; berasal dari bakteri bacillus
Bacillus subtilis; Disintesa kapang Rhizopus oligosporus dan Rhizopus oryzae; Bisa berasal dari
cacing tanah; Pakai cendawan Aspergillus sp; Bisa berasal dari pancreas sapi dan babi; dan
banyak terdapat di air ludah dan pencernaan manusia.
Enzim -amilase yang diisolasi dari bacillus subtilis sangat stabil pada suhu tinggi. Tergantung
kepada pemanfaatannya, suhu optimum untuk enzim ini adalah 70-90OC. pada suhu rendah,
enzim ini masih cukup stabil meskipun pada pH dibawah 6. Walaupun demikian enzim ini tidak
dapat dihadapkan pada pH dibawah 5. Pada suhu 70OC enzim ini dengan cepat kehilangan
aktivitasanya jika pH dibawah 6. Namun pada suhu tersebut enzim ini cukup stabil dalam kisaran
antara 6-10. Kondisi optimum untuk proses hidrolisis pati dalam industri adalah pH 6-6,5.
Liquifaction tahap pertama dengan jet cooker dilakukan pada suhu 105OC. dan tahap berikutnya
pada 95OC selama 15-30 menit didalam tangki khusus. Bakteri lain yang menghasilkan -
amilase yaitu Bacillus licheniformis. pH optimum untuk enzim ini sekitar 6 pada suhu 60OC.
jika suhu ditingkatkan pH optimum juga meningkat sekitar 7. Jika -amilase yang diperoleh dari
B. subtilis menghidrolisis pati dengan hasil utama maltoheksosa, maltopentosa dan sedikit
glukosa (4-5%), maka -amilase yang dihasilkan oleh B. licheniformis menghasilkan maltosa,
maltoriosa, dan maltopentosa, glukosa yang dihasilkan agak lebih tinggi yaitu 8-10%.
Enzim -amilase yang diperoleh dari fungi banyak dihasilkan dari Aspergillus oryzae. Di dalam
hidrolisis, enzim ini mula-mula berkelakukan seperti maltenzyme atau enzim dari bakteri.
Namun pada tahap berikutnya, lebih banyak maltosa dan maltoriosa yang terbentuk. Sedikit atau
banyak -amilase dari fungi ini berkelakukan seperti gabungan antara dan amilase dari malt.
Meskipun enzim ini diperdagangkan dalam bentuk serbuk, namun enzim ini sangat mudah larut
dalam air. Suhu optimumnya yaitu pada suhu 50OC pada saat pelarutan, meskipun aktivitas
enzim meningkat pada suhu 55OC, namun aktivitas tersebut cepat menurun, demikian juga
stabilitasnya. Untuk reaksi dalam waktu pendek, pH optimum adalah sekitar 4,7.
Enzim beta-amilase
merupakan enzim golongan hidrolase yang digunakan dalam proses sakarifikasi pati.
Sakarifikasi banyak berperan dalam permecahan makromolekul karbohidrat. Pemecahan
makromolekul karbohidrat ini akan menghasilkan molekul karbohidrat rantai pendek.
Beta-amilase akan memotong ikatan glikosidik pada gugus amilosa, amilopektin, dan glikogen.
Amilosa merupakan struktur rantai lurus dari pati, sedangkan amilopektin merupakan struktur
percabangan dari pati. Hasil pemotongan oleh enzim ini akan didominasi oleh molekul maltosa
dan beta-limit dekstrin. Dalam industri pangan, pembentukan senyawa beta-limit dektrin
seringkali dihindari karena membentuk viskositas atau kekentalan yang terlalu pekat.
Enzim beta-amilase sama halnya dengan alfa amilase yang memotong ikatan 1,4 glikosidik,
namun proses pemotongannya sangat lambat, dan hanya memotong 2 unit glukosa setiap
potongannya, dan memotong satu-persatu dari ujung terluar amilosa atau amilopektin. Jika beta
amilase memotong pati rantai lurus maka produk akhir dari pemotongan enzim beta amilase
yaitu maltose dan maltotriosa dengan rasio 99:1%
Enzim beta-amilase banyak ditemukan pada tanaman tingkat tinggi, seperti gandum, ubi, dan
kacang kedelai. Di samping itu, beta-amilase juga dapat ditemui pada beberapa mikroorganisme,
antara lain Pseudomonas, Bacillus, Streptococcus, dan Clostridium thermosulfurigenes. Enzim
yang berasal dari C. thermosulfurigenes umumnya lebih disukai karena memiliki toleransi suhu
dan pH yang lebih tinggi.
Enzim Debranching Enzim (pullulanase)
Enzim ini memiliki spesifikasi memutus ikatan cabang pada 1,6 glikosida. Bersifat exoenzim
amilolitik. Contoh jenis enzim ini antara lain contoh iso-amilase dan limit dekstrinase. Hasil
pemutusan oleh ini enzim ini menghasilkan pati rantai panjang dan limit dekstrin. Dalam
berbagai pengolahan untuk menghasilkan gula, digunakan variasi penggunaan berbagai jenis
enzim yang digunakan secara bertahap.
Enzim Amiloglukosidase (AMG)/glukoamilase
Adalah salah satu yang berperan dalam proses sakarifikasi pati. Serupa dengan enzim beta-
amilase, glukoamilase dapat memecah struktur pati yang merupakan polisakarida kompleks
berukuran besar menjadi molekul yang berukuran kecil. Kelebihan enzim ini yaitu selain
memutus ikatan 1,4 glikosoda, juga memutus ikatan 1,6 glikosida. Enzim ini bersifat
eksoenzim. Pada umumnya, enzim ini bekerja pada suhu 45-60 C dengan kisaran pH 4,5-5,0.
Produk akhir yang dihasilkan dari enzim ini yaitu glukosa. Enzim ini memiliki peranan yang
cukup besar di dalam metabolisme energi di berbagai jenis organisme. Oleh karena itu, enzim ini
banyak ditemukan pada beragam jenis tanaman dan mikroorganisme, seperti Saccharomyces,
Endomycopsis, Aspergillus, Penicillium, Mucor, dan Clostridium.
Bahan Bacaan
BeMiller,J.N., and Whistler,R. 2009. Starch: Chemistry and Technology. Academic Press,Inc
Lehninger AL. 1993. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid 1. Thenawidjaja M, Penerjemah; Jakarta :
Erlangga. Terjemahan dari : Principles of Biochemistry
Tjokroadikoesoemo S, 1985. HFS dan Industri Ubi Kayu Lainnya. PT Gramedia Jakarta.
Semoga Bermanfaat.


Uji fisiologis bakteri dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri berdasarkan aktivitas
selnya. Bakteri yang dapat menghidrolisis pati mempunyai aktivitas amilolitik, yaitu
menghasilkan enzim amilase yang dapat mengubah pati menjadi molekul-molekul gula
sederhana (monosakarida) untuk kebutuhan metabolisme sel. Aktivitas tersebut ditandai
dengan adanya zona bening di sekeliling koloni pada uji hidrolisis pati (Hadioetomo,
1993).
Jenis bakteri yang dapat menghidrolisis protein adalah bakteri yang memproduksi
enzim proteinase ekstraseluler. Semua bakteri memiliki enzim proteinase tapi tidak
semuanya memiliki enzim proteinase ekstraseluler. Aktivitas enzim ini juga dapat
dibuktikan dengan adanya zona bening di sekeliling koloni pada hasil uji (Winarno et al.
1980).
Bakteri penghidrolisis lemak mampu mengubah senyawa menjadi asam lemak dan
gliserol. Bakteri dengan kemampuan hidrolisis lemak akan menimbulkan warna merah
kekuningan pada bagian bawah dan sekitar koloni. Fermentasi juga dapat menyebabkan
oksidasi yang berlanjut menjadi penyebab ketengikan, namun jika oksidasi belum berlanjut
dapat menciptakan cita rasa yang khas (Rahayu et al. 1992).
Mikroorganisme seperti juga makhluk hidup yang lainnya, memerlukan energi untuk
kelangsungan hidupnya. Energi ini diperoleh dari lingkungan sekitarnya dalam bentuk senyawa kimia
tertentu yang diurai melalui reaksi biokimia semu yang disebut reaksi metabolisme (Ristiati, 2000).
Reaksi metabolisme merupakan semua reaksi kimia yang terjadi dalam organisme hidup untuk
memperoleh dan menggunakan energi sehingga organisme dapat melaksanakan berbagai fungsi
hidupnya. Aktivitas metabolisme dilaksanakan oleh enzim-enzim, yaitu suatu biokatalisator yang dapat
mengkatalis reaksi kimia di dalam sel. Metabolisme juga berarti seretentan reaksi kimia yang terjadi di
dalam sel hidup. (Waluyo, 2004).
Beberapa mikroorganisme diketahui mempunyai enzim yang berguna untuk memecah senyawa-
senyawa komplek polisakarida. Enzim-enzim ini merupakan enzim ekstra seluler yang memecah
senyawa dengan hidrolisa. Karbohidrase adalah enzim yang menghidrolisa polisakarida menjadi maltose
dan glukosa, hasil hidrolisa dapat dideteksi dengan menggunakan lugol. Fermentasi karbohidrat yang
terjadi secara aerob dan anaerob merupakan aktivitas lanjutan reaksi enzimatis, terhadap glukosa
menjadi asam organik, alkohol atau gas CO
2

Karbohidrat merupakan sumber energy utama bagi kebanyakan mikroba. Masing-masing
mikroba berbeda dalam kemampuananya menggunakan berbagai karbohidrat dan dalam cara memecah
karbohidrat. Pemecahan karbohidrat (misalnya pati) menghasilkan mono- dan disakarida. Monosakarida
adalah karbohidrat yang paling sederhana, yaitu karbohidrat yang tidak dapat diuraikan atau dihidrolisis
menjadi karbohidrat yang lain. Macam monosakarida yaitu glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Disakarida
merupakan dimer monosakarida yang sejenis atau berbeda jenis, sehingga bila dihidrolisis akan
menghasilkan 2 monosakarida.
Karbohidrat merupakan substrat utama yang dipecah dalam proses fermentasi. Polisakarida
akan dipecah terlebih dahulu menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana, misalnya hidrolisis pati
menjadi unit-unit glukosa. Glukosa kemudian akan dipecah menjadi senyawa-senyawa lain tergantung
jenis fermentasinya. Hasil fermentasi glukosa dapat berupa asam atau gas. Gas yang dihasilkan dapat
dideteksi dengan menggunakan tabung durham. Gas-gas yang dihasilkan sebagai hasil pembongkaran
dapat berupa karbondioksida, hydrogen, hydrogen sulfide dan lain-lain. Asam yang timbul akibat
kegiatan bakteri dapat berupa asam organic maupun asam anorganik.
Kemampuan memfermentasikan berbagai karbohidrat dan produk fermentasi yang dihasilkan
merupakan ciri yang sangat berguna dalam identifikasi mikroorganisme. Hasil akhir dari fermentasi
karbohidrat ini ditentukan oleh sifat mikroba, media biakan yang digunakan, serta factor lingkungan
antara lain pH dan suhu. Media fermentasi harus mengandung senyawa yang dapat dioksidasi dan
difermentasikan oleh mikroorganisme. Glukosa merupakan senyawa yang paling sering digunakan oleh
mikroorganisme dalam proses fermentasi itu. Selain itu terdapat pula media sukrosa dan
laktosa.Beberapa mikroorganisme seperti E. coli, dapat menggunakan laktosa sebagai sumber karbon.
Bakteri Escherichia coli memiliki bentuk batang dan tergolong dalam bakteri Gram negatif.
Escherichia coli tumbuh pada suhu optimum 370C dan pada kisaran suhu 100C 400C. Nilai pH optimum
pertumbuhannya 7,0 7,5. Bakteri ini memiliki ukuran panjang 2,0 6,0 mikron, sering terdapat dalam
bentuk tunggal atau berpasangan, bersifat motil atau non motil dengan flagella peritrikat, bersifat
anarobik fakultatif, dan tergolong dalam famili Enterobactericeae .
Escherichia coli merupakan pengkatalisa karbohidrat dengan formasi asam dan gas. Escherichia
coli termasuk mikroorganisme tidak menguntungkan pada keadaan normal. Escherichia coli disebut juga
koliform fekal karena ditemukan dalam saluran usus hewan dan manusia. Selain itu E. coli juga sering
dijadikan indikator kontaminasi kotoran.
Bacillus subtilis termasuk jenis Bacillus. Bacillus sp merupakan bakteri Gram positif, berbentuk
batang, dapat tumbuh pada kondisi aerob dan anaerob. Bacillus secara alami terdapat dimana-mana,
dan termasuk spesies yang hidup bebas atau bersifat patogen. Beberapa spesies Bacillus menghasilkan
enzim ekstraseluler seperti protease, lipase, amilase, dan selulase yang bisa membantu pencernaan
dalam tubuh hewan (Wongsa dan Werukhamkul, 2007). Jenis Bacillus (B. cereus, B. clausii dan B.
pumilus) termasuk dalam lima produk probiotik komersil terdiri dari spora bakteri yang telah
dikarakterisasi dan berpotensi untuk kolonisasi, immunostimulasi, dan aktivitas antimikrobanya (Duc et
al., 2004).
Bacillus subtilis mempunyai kemampuan untuk membentuk endospora yang protektif yang
memberi kemampuan bakteri tersebut mentolerir keadaan yang ekstrim. B. subtilis tidak dianggap
sebagai manusia pathogen walaupun dapat mencemari makanan tetapi jarang menyebabkan keracunan
makanan. B. subtilis menghasilkan enzim proteolytic yang subtilisin. Spora B. subtilis dapat hidup yang
ekstrim pemanasan yang sering digunakan untuk memasak makanan, dan bertanggung jawab untuk
menyebabkan kekentalan yang lengket. Beberapa keunggulan dari bakteri ini adalah mampu
mensekresikan antibiotik dalam jumlah besar ke luar dari sel.
Pada prinsipnya pengamatan aktivitas biokimia atau metabolisme mikroorganisme yang
diketahui dari kemampuan mikroorgani sme untuk menggunakan dan menguraikan molekul
yang kompleks dan molekul -molekul sederhana. Selain itu, metabolisme seringkal i
menghasilkan hasil sampingan yang dapat digunakan untuk identifikasi (Harmita, 2008).
Di dalam proses metabolisme ada zat-zat yang masuk dan ada pula zat-zat yang dibongkar dan
kemudian dikeluarkan sisanya. Zat yang disusun atau dihasilkan dalam pnguraian tersebut disebut
metabolit. Bakteri memiliki zat-zat tertentu, baik untuk mengambil zat-zat makanan maupun untuk
membongkarnya. Zat-zat itu secara umum disebut sekret; enzim-enzim terutama dari golongan
hidrolase merupakan sekret yang banyak dihasilkan bakteri.
Laporan
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk
mengamatinya diperlukan alat bantuan.Mikroorganisme disebut juga organisme
mikroskopik.Mikroorganisme seringkali bersel tunggal (uniseluler) maupun bersel banyak
(multiseluler).Setiap mikroba juga melakukan aktivitas seperti makhluk hidup lainnya
Aktivitas mikroba diartikan sebagai kegiatan yang berkaitan dengan pertumbuhan,
perkembanganbiakan dan pembentukan sel-sel baru. Semua aktivitas sel tersebut dilakukan oleh
berbagai enzim yang terdapat dalam sel mikroba. Untuk berlangsungnya aktivitas tersebut, sel mikroba
akan menggunakan komponen-komponen dalam lingkungannya (substrat/medium) sebagai sumber
energinya.
Mikroba memiliki berbagai aktivitas biokimia (pertumbuhan dan perbanyakan) dengan
menggunakan raw material (nutrisi) yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Transformasi biokimia
dapat timbul didalam dan diluar dari bakteri yang diatur oleh katalis biologis yang dikenal sebagai enzim.
Setiap mikroba memiliki kemampuan dalam menggunakan enzim yang dimilikinya untuk degradasi
karbohidrat, lemak, protein, dan asam amino. Metabolisme atau penggunaan dari molekul organik ini
biasanya menghasilkan produk yang dapat digunakan untuk identifikasi dan karakterisasi mikroba.
Pengamatan aktivitas biokimia atau metabolisme mikroorganisme yang diketahui dari
kemampuan mikroorganisme untuk menggunakan dan menguraikan molekul yang kompleks seperti
karbohidrat, lemak, protein dan asam nukleat. Selain itu dilakukan pula pengamatan pada molekul-
molekul sederhana seperti asam amino dan monosakarida. Masing-masing mikroba berbeda dalam
kemampuannya menggunakan karbohidrat dan dalam cara pemecahan karbohidrat. Hasil akhir
pemecahan karbohidrat dapat dilihat melalui berbagai pereaksi. Terbenuknya asam dapat diketahui
dengan terjadinya perubahan pH medium, hal ini dapat diketahui dengan menambahkan indicator pada
medium sebelum dilakukan inokulasi, sedang dihasilkannya gas dapat ditampung menggunakan tabung
Durham.Seperti juga pemecahan pada makromolekul misalnya pati dan enzim amylase dapat diketahui
dengan menambahkan larutan yod pada akhir inkubasi. Sedangkan untuk pengujian hidrolisis protein
biasanya digunakan medium skim milk agar, jika disekitar koloni tampak jernih berarti terjadi hidrolisis
pada protein
Metabolisme seringkali menghasilkan hasil sampingan yang dapat digunakan untuk identifikasi
mikroorganisme. Pengamatan aktivitas metabolisme diketahui dari kemampuan mikroorganisme untuk
menggunakan dan menguraikan molekul yang kompleks seperti zat pati, lemak, protein dan asam
nukleat. Selain itu pengamatan juga dilakukan pada molekul yang sederhana seperti amino dan
monosakarida(Dwijoeseputro, 2004).Oleh karena itu pada praktikum ini akan melihat aktivitas mikroba
dari hasil samping metabolisme yang dihasilkannya dengan beberapa peraksi, yaitu bromo thymol blue
untuk uji mono & disakarida dan larutan yod untuk uji hidrolisis pati dan protein

B. Tujuan
Mempelajari aktivitas mikroba dalam pemecahan mono dan disakarida, polisakarida (pati) serta
polipeptida (protein)

II. TINJAUAN PUSTAKA

Mikroorganisme seperti juga makhluk hidup yang lainnya, memerlukan energi untuk
kelangsungan hidupnya. Energi ini diperoleh dari lingkungan sekitarnya dalam bentuk senyawa kimia
tertentu yang diurai melalui reaksi biokimia semu yang disebut reaksi metabolisme (Ristiati, 2000).
Reaksi metabolisme merupakan semua reaksi kimia yang terjadi dalam organisme hidup untuk
memperoleh dan menggunakan energi sehingga organisme dapat melaksanakan berbagai fungsi
hidupnya. Aktivitas metabolisme dilaksanakan oleh enzim-enzim, yaitu suatu biokatalisator yang dapat
mengkatalis reaksi kimia di dalam sel. Metabolisme juga berarti seretentan reaksi kimia yang terjadi di
dalam sel hidup. (Waluyo, 2004).
Beberapa mikroorganisme diketahui mempunyai enzim yang berguna untuk memecah senyawa-
senyawa komplek polisakarida. Enzim-enzim ini merupakan enzim ekstra seluler yang memecah
senyawa dengan hidrolisa. Karbohidrase adalah enzim yang menghidrolisa polisakarida menjadi maltose
dan glukosa, hasil hidrolisa dapat dideteksi dengan menggunakan lugol. Fermentasi karbohidrat yang
terjadi secara aerob dan anaerob merupakan aktivitas lanjutan reaksi enzimatis, terhadap glukosa
menjadi asam organik, alkohol atau gas CO
2

Karbohidrat merupakan sumber energy utama bagi kebanyakan mikroba. Masing-masing
mikroba berbeda dalam kemampuananya menggunakan berbagai karbohidrat dan dalam cara memecah
karbohidrat. Pemecahan karbohidrat (misalnya pati) menghasilkan mono- dan disakarida. Monosakarida
adalah karbohidrat yang paling sederhana, yaitu karbohidrat yang tidak dapat diuraikan atau dihidrolisis
menjadi karbohidrat yang lain. Macam monosakarida yaitu glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Disakarida
merupakan dimer monosakarida yang sejenis atau berbeda jenis, sehingga bila dihidrolisis akan
menghasilkan 2 monosakarida.
Karbohidrat merupakan substrat utama yang dipecah dalam proses fermentasi. Polisakarida
akan dipecah terlebih dahulu menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana, misalnya hidrolisis pati
menjadi unit-unit glukosa. Glukosa kemudian akan dipecah menjadi senyawa-senyawa lain tergantung
jenis fermentasinya. Hasil fermentasi glukosa dapat berupa asam atau gas. Gas yang dihasilkan dapat
dideteksi dengan menggunakan tabung durham. Gas-gas yang dihasilkan sebagai hasil pembongkaran
dapat berupa karbondioksida, hydrogen, hydrogen sulfide dan lain-lain. Asam yang timbul akibat
kegiatan bakteri dapat berupa asam organic maupun asam anorganik.
Kemampuan memfermentasikan berbagai karbohidrat dan produk fermentasi yang dihasilkan
merupakan ciri yang sangat berguna dalam identifikasi mikroorganisme. Hasil akhir dari fermentasi
karbohidrat ini ditentukan oleh sifat mikroba, media biakan yang digunakan, serta factor lingkungan
antara lain pH dan suhu. Media fermentasi harus mengandung senyawa yang dapat dioksidasi dan
difermentasikan oleh mikroorganisme. Glukosa merupakan senyawa yang paling sering digunakan oleh
mikroorganisme dalam proses fermentasi itu. Selain itu terdapat pula media sukrosa dan
laktosa.Beberapa mikroorganisme seperti E. coli, dapat menggunakan laktosa sebagai sumber karbon.
Bakteri Escherichia coli memiliki bentuk batang dan tergolong dalam bakteri Gram negatif.
Escherichia coli tumbuh pada suhu optimum 370C dan pada kisaran suhu 100C 400C. Nilai pH optimum
pertumbuhannya 7,0 7,5. Bakteri ini memiliki ukuran panjang 2,0 6,0 mikron, sering terdapat dalam
bentuk tunggal atau berpasangan, bersifat motil atau non motil dengan flagella peritrikat, bersifat
anarobik fakultatif, dan tergolong dalam famili Enterobactericeae .
Escherichia coli merupakan pengkatalisa karbohidrat dengan formasi asam dan gas. Escherichia
coli termasuk mikroorganisme tidak menguntungkan pada keadaan normal. Escherichia coli disebut juga
koliform fekal karena ditemukan dalam saluran usus hewan dan manusia. Selain itu E. coli juga sering
dijadikan indikator kontaminasi kotoran.
Bacillus subtilis termasuk jenis Bacillus. Bacillus sp merupakan bakteri Gram positif, berbentuk
batang, dapat tumbuh pada kondisi aerob dan anaerob. Bacillus secara alami terdapat dimana-mana,
dan termasuk spesies yang hidup bebas atau bersifat patogen. Beberapa spesies Bacillus menghasilkan
enzim ekstraseluler seperti protease, lipase, amilase, dan selulase yang bisa membantu pencernaan
dalam tubuh hewan (Wongsa dan Werukhamkul, 2007). Jenis Bacillus (B. cereus, B. clausii dan B.
pumilus) termasuk dalam lima produk probiotik komersil terdiri dari spora bakteri yang telah
dikarakterisasi dan berpotensi untuk kolonisasi, immunostimulasi, dan aktivitas antimikrobanya (Duc et
al., 2004).
Bacillus subtilis mempunyai kemampuan untuk membentuk endospora yang protektif yang
memberi kemampuan bakteri tersebut mentolerir keadaan yang ekstrim. B. subtilis tidak dianggap
sebagai manusia pathogen walaupun dapat mencemari makanan tetapi jarang menyebabkan keracunan
makanan. B. subtilis menghasilkan enzim proteolytic yang subtilisin. Spora B. subtilis dapat hidup yang
ekstrim pemanasan yang sering digunakan untuk memasak makanan, dan bertanggung jawab untuk
menyebabkan kekentalan yang lengket. Beberapa keunggulan dari bakteri ini adalah mampu
mensekresikan antibiotik dalam jumlah besar ke luar dari sel.
Pada prinsipnya pengamatan aktivitas biokimia atau metabolisme mikroorganisme yang
diketahui dari kemampuan mikroorgani sme untuk menggunakan dan menguraikan molekul
yang kompleks dan molekul -molekul sederhana. Selain itu, metabolisme seringkal i
menghasilkan hasil sampingan yang dapat digunakan untuk identifikasi (Harmita, 2008).
Di dalam proses metabolisme ada zat-zat yang masuk dan ada pula zat-zat yang dibongkar dan
kemudian dikeluarkan sisanya. Zat yang disusun atau dihasilkan dalam pnguraian tersebut disebut
metabolit. Bakteri memiliki zat-zat tertentu, baik untuk mengambil zat-zat makanan maupun untuk
membongkarnya. Zat-zat itu secara umum disebut sekret; enzim-enzim terutama dari golongan
hidrolase merupakan sekret yang banyak dihasilkan bakteri.
III. METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan
Alat:
1. cawan petri steril
2. jarum ose
3. lampu spirtus
4. tabung reaksi
5. tabung durham
6. bunsen
Bahan:
1. Medium air yang mengandung glukosa, fruktosa,sukrosa, dan laktosa serta indicator bromo tymol blue
2. Medium padat :medium agar pati dan skim milk agar, larutan yod
3. Kultur murni Bacillus subtilis dan E.coli

B. Prosedur Kerja
1. Uji pemecahan mono dan disakarida


2. Uji hidrolisis pati













3. Uji hidrolisis protein


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan yaitu mengenai aktivitas mikroba dalam
pemecahan mono dan disakarida, polisakarida (pati) serta polipeptida (protein), hasil pengamatan
mengenai adanya aktivitas mikroba pada pemecahan mono dan disakarida dapat dilihat pada table.1
dan table.2 sedangkan untuk hasil uji hidrolisis pati dan protein terhadap aktivitas mikroba dapat dilihat
dari gambar dibawah .
1. Uji pemecahan mono dan disakarida
Tabel.1 uji pemecahan mono dan disakarida oleh bakteri Eschericia coli
Medium Warna Gelembung Foto
Glukosa Biru kekuningan Ada

Fruktosa Kuning pekat Tidak ada

Sukrosa Kuning pekat Ada

Laktosa Kuning cerah Ada


Tabel.2 uji pemecahan mono dan disakarida oleh bakteri Bacillus subtilis
Medium Warna Gelembung Foto
Glukosa Berubah warna
menjadi hijau
Tidak ada
gelembung

Fruktosa Kuning (tidak
berubah)
Tidak ada
gelembung

Sukrosa Berubah warna
menjadi hijau
Tidak ada
gelembung

Laktosa Kuning (tidak
berubah)
Tidak ada
gelembung


Setiap makhluk hidup yang melakukan metabolisme pasti akan menghasilkan metabolit, yaitu
zat yang disusun atau dihasilkan pada saat penguraian tersebut. Begitu pula dengan bakteri, yang
menghasilkan metabolit saat melakukan aktivitas. Untuk mengetahui aktivitas bakteri tersebut
dilakukan uji pembentukan asam dan gas dengan menggunakan tabung Smith atau tabung Durham.
Pada praktikun ini akan membahas mengenai aktivitas mikroba pada pemecahan mono dan
disakarida. Monosakarida yang digunakan adalah glukosa dan fruktosa sedangkan disakarida yang
digunakan adalah sukrosa dan laktosa. Uji pemecahan mono dan disakarida dilakukan dengan
menginokulasikan bakteri ke dalam tabung reaksi berisi larutan glukosa, sukrosa, fruktosa, dan laktosa
yang mengandung indikator Bromothimol Blue dan didalamnya terdapat tabung Durham. Indikator
tersebut digunakan untuk mengetahui pembentukan asam. Bakteri yang digunakan pada praktikum ini
adalah Bacillus subtilis dan E. Coli.
Hasil pengamatan yang diperoleh dari praktikum yaitu pada tabung reaksi yang berisi larutan
glukosa, sukrosa, dan laktosa yang ditumbuhkan E. Coli terdapat gelembung di sekitar tabung, hal ini
menandakan bahwa di dalam tabung tersebut bakteri melakukan aktivitas atau metabolisme yang
menghasilkan gas yang dibuktikan dengan adanya gelembung yang ada pada tabung. Sedangkan pada
tabung reaksi yang berisi larutan fruktosa tidak ada gelembung. Hal ini berbeda dengan tabung reaksi
berisi larutan glukosa, fruktosa, sukrosa dan laktosa yang ditumbuhkan B. subtilis yang tidak terdapat
gelembung. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa terdapat aktivitas bakteri E.coli pada larutan
glukosa, sukrosa dan laktosa.
Selain adanya gelembung, aktivitas bakteri dapat ditandai dengan adanya perubahan warna.
Perubahan warna medium mejadi kuning disebabkan karena terdapatnya indicator brom timol blue
(BTB) dalam medium. Dimana penambahan indicator BTB ke dalam medium yang mengalami fermentasi
karbohidrat jadi asam dalam keadaan aerob, maka pH akan turun dan akhirnya indikator BTB ini akan
berubah warna menjadi kuning. Larutan yang telah diberi indikator BTB akan menghasilkan warna biru,
yang kemudian warna ini akan berubah bila ada aktivitas dari mikroorganisme.
Hasil pengamatan yang diperoleh yaitu, pada tabung reaksi berisi larutan fruktosa dan sukrosa
yang ditumbuhkan bakteri E. coli warnanya kuning pekat, pada larutan laktosa warnanya kuning cerah
dan pada larutan glukosa warnanya biru kekuningan. Sedangkan pada tabung reaksi yang berisi larutan
fruktosa dan laktosa yang ditumbuhkan bakteri B. subtilis warnanya kuning, pada larutan sukrosa pada
glukosa warnanya berubah menjadi hijau. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa terdapat aktivitas
bakteri E.coli pada larutan fruktosa, sukrosa, dan laktosan. Sedangkan aktivitas bakteri B.subtilis terlihat
pada larutan fruktosa dan laktosa.

2. Uji hidrolisis pati








Bacillus substilis
Zona bening Eschericia coli
Pati didegradasi oleh enzim amilolitik dari sejumlah mikroorganisme. amilase adalah salah
satu enzim yang paling penting dan banyak digunakan dalam bioteknologi sekarang ini. Amilase
merupakan enzim yang menghidrolisis molekul pati untuk memberikan produk yang bervariasi termasuk
dekstrin dan polimer-polimer kecil yang tersusun dari unit-unit glukosa. Spektrum pemakaian enzim
almilase secara luas digunakan di berbagai bidang seperti medis, kimia analisis, industry tekstil industry
makanan dan industry penyulingan (Pandey et al,2000)
Pemecahan pati dapat diketahui dengan menambahkan larutan yod pada akhir inkubasi. Jika
berwarna biru disekitar koloni berarti pati belum terhidrolisis oleh enzim, tetapi apabila disekitar koloni
Nampak zona jernih dan tidak berwarna maka mikroba telah menghodrolisis pati dengan enzim
amylase. Isolat bakteri yang mengindikasikan penghasil enzim amylase dilihat aktivitasnya dengan

















mengukur diameter zona bening disekitar isolate bakteri. Zona bening yang terbentuk disekitar isolate
bakteri menunjukkan bahwa isolate bakteri tersebut mampu menghidrolisis pati (Dirnawan et al,2000).
Besar kecilnya diameter zona bening yang terbentuk dari masing-masing isolate berbeda-beda. Hal ini
disebabkan kemampuan menghidrolisis pati dari setiap isolate juga berbeda-beda. Pada praktikum ini
dihasilkan zona bening diantara kedua bakteri. Hal tersebut menunjukkan adanya hidrolisis pati oleh
bakteri.
3. Uji hidrolisis protein









Zona Bening Bacillus substilis Eschericia coli
Protein berasal dari kata Yunani Proteios yang artinya pertama. Protein adalah poliamida dan
hidrolisis protein menghasilkan asam- asam amino. Bakteri melakukan hidrolisis berbagai protein






menjadi asam amino tunggal dengan tujuan menggunakan asam amino tersebut untuk sintesis protein
dan molekul seluler yang lain atau sebagai sumber energi (Kaiser, 2005).
Metode yang digunakan untuk mendeteksi adanya aktivitas bakteri proteolitik adalah dengan
menggunakan medium yang mengandung kasein yaitu Skim Milk Agar. Kasein adalah salah satu jenis
protein. Hidrolisis kasein digunakan untuk memperlihatkan aktivitas hidrolitik protease yang
memutuskan ikatan peptida CO-NH. Hidrolisis protein ditunjukkan dengan adanya zona bening di
sekeliling pertumbuhan bakteri (Susanti, 2003). Pengujian secara kualitatif dilakukan dengan cara
mengamati zona bening yang berada di sekitar koloni bakteri, kemudian membagi diameter zona bening
dengan diameter koloni bakteri. Hasil bagi diameter tersebut dinyatakan sebagai aktifitas protease
secara relatif .Pada praktikum uji hidrolisis protein ini terlihat bahwa bakteri B.subtilis dan E.coli mampu
menghidrolisis protein yang ditandai terbentuknya zona bening yaitu daerah yang terhidrolisis pada
bagian cawan petri. Aktivitas tersebut dapat berlangsung karena kedua mikroba tersebut mampu
memproduksi enzim protease untuk mengkatalisis protein yang terdapat pada medium susu skim agar
yang mempuyai kandungan protein tinggi
V. PENUTUP

A. Simpulan
Dari praktikum ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pada bakteri E.coli dan B.subtilis tidak
memecah semua jenis mono dan disakarida, hal ini terlihat dengan tidak semua jenis larutan mono dan
disakarida yang diuji memperlihatkan adanya aktivitas mikroba yang ditandai dengan adanya
gelembung dan perubahan warna setelah ditambah bromo tymol blue. Tetapi kedua bakteri itu dapat
menghidrolisis pati dan protein, hal ini telihat terbentuknya zona bening pada medium pati dan susu
skim agar. Kedua bakteri dapat menghidrolisis pati karena adanya enzim amilase yang dimiliki oleh
bakteri sedangkan pada protein dapat dihidrolisis karena kedua bakteri tersebut mampu memproduksi
enzim protease untuk mengkatalisis protein

B. Saran
Pada praktikum diharapkan lebih hati-hati lagi dalam mengambil mikroba yang digunakan untuk
pengujian sehingga agar yang digunakan untuk menumbuhkan mikroba tidak terambil dan juga lebih
berhati-hati dalam menuangkan media agar, supaya hasilnya bisa lebih mudah diamati
DAFTAR PUSTAKA

Dirnawan, et al.2000.Eksplorasi bakteri termofil penghasil enzim hidrolitik ekstraseluler dari sumber air panas
Gunung Pancar.Hayati 7: 52-55.
Duc LH, Hong HA, Barbosa TM, Henriques AO, Cutting SM. 2004. Characterization of Bacillus probiotics available
for human use. J Appl Environ Microbiol 70(4): 21612171.
Dwijoeseputro. 2003. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.
Harmita, dkk. 2008. Buku Ajar Analisis Hayati. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Kaiser C, Van der Merwe R, Bekker TF, Labuschagne. 2005. In-vitro inhibition of mycelial growth of several
phytopathogenic fungi, including Phytophthora cinnamomi by soluble silicon. South African Avocado
Growers Association Yearbook. 28: 70-74.
Pandey, et al.2000.Advances in microbial amylase.Biotechnol.Appl.Biochem 31:135-152.
Ristiati NP. 2000. Pengantar Mikrobiologi Umum. Proyek Pengembangan Guru sekolah Menengah IBRD Loan No
3979, Jakarta.
Susanti, V.H.2003. Isolasi dan Karakterisasi Protease dari Bacillus subtilis 1012M15. Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.
Waluyo, Iud. 2004. Mikrobiologi Umum. Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.
Wongsa P, Werukhamkul P. 2007. Product development and technical service, biosolution international.
Bangkadi Industrial Park 134/4, Thailand.
http://dyahitp12.blogspot.com/2014/02/aktivitas-mikroba.html setyawati d. 2014



suhu dan pertumbuhan
Suhu dan Pertumbuhan Bakteri


Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran atau subtansi atau masa zat suatu
organisme, misalnya kita makhluk makro ini dikatakan tumbuh ketika bertambah tinggi,
bertambah besar atau bertambah berat. Pada organisme bersel satu pertumbuhan lebih diartikan
sebagai pertumbuhan koloni, yaitu pertambahan jumlah koloni, ukuran koloni yang semakin
besar atau subtansi atau masssa mikroba dalam koloni tersebut semakin banyak, pertumbuhan
pada mikroba diartikan sebagai pertambahan jumlah sel mikroba itu sendiri.

Pertumbuhan merupakan suatu proses kehidupan yang irreversible artinya tidak dapat dibalik
kejadiannya. Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan kuantitas konstituen seluler dan
struktur organisme yang dapat dinyatakan dengan ukuran, diikuti pertambahan jumlah,
pertambahan ukuran sel, pertambahan berat atau massa dan parameter lain. Sebagai hasil
pertambahan ukuran dan pembelahan sel atau pertambahan jumlah sel maka terjadi pertumbuhan
populasi mikroba (Sofa, 2008).
Pertumbuhan mikroba dalam suatu medium mengalami fase-fase yang berbeda, yang berturut-
turut disebut dengan fase lag, fase eksponensial, fase stasioner dan fase kematian. Pada fase
kematian eksponensial tidak diamati pada kondisi umum pertumbuhan kultur bakteri, kecuali
bila kematian dipercepat dengan penambahan zat kimia toksik, panas atau radiasi (Sofa, 2008).
Dalam pertumbuhannya setiap makhluk hidup membutuhkan nutrisi yang mencukupi serta
kondisi lingkungan yang mendukung demi proses pertumbuhan tersebutt, termasuk juga bakteri.
Menurut Darkuni (2001) pertumbuhan bakteri pada umumnya akan dipengaruhi oleh faktor
lingkungan. Pengaruh faktor ini akan memberikan gambaran yang memperlihatkan peningkatanb
jumlah sel yang berbedadan pada akhirnya memberikan gambaran pula terhadap kurva
pertumbuhannya.
Sedangkan menururt Tarigan (1988) kebutuhan mikroorganisme untuk pertumbuhan dapat
dibedakan menjadi dua kategori, yaitu: kebutuhan fisik dan kebutuhan kimiawi atau kemis.
Aspek-aspek fisik dapat mencakup suhu, pH dan tekanan osmotik. Sedangkan kebutuhan kemis
meliputi air, sumber karbon, nitrogen oksigen, mineral-mineral dan faktor penumbuh.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hastuti (2007) bahwa terdapat beberapa faktor abiotik yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan bakteri, antara lain: suhu, kelembapan, cahaya, pH, AW dan nutrisi.
Apabila dfaktor-faktor abiotik tersebut memenuhi syarat, sehingga optimum untuk pertumbuhan
bakteri, maka bakteri dapat tumbuh dan berkembang biak.
Bakteri merupakan organisme kosmopolit yang dapat kita jumpai di berbagai tempat dengan
berbagai kondisi di alam ini. Mulai dari padang pasir yang panas, sampai kutub utara yang beku
kita masih dapat menjumpai bakteri. Namun bakteri juga memiliki batasan suhu tertentu dia bisa
tetap bertahan hidup, ada tiga jenis bakteri berdasarkan tingkat toleransinya terhadap suhu
lingkungannya:
Mikroorganisme psikrofil yaitu mikroorganisme yang suka hidup pada suhu yang dingin, dapat
tumbuh paling baik pada suhu optimum dibawah 20
o
C.
Mikroorganisme mesofil, yaitu mikroorganisme yang dapat hidup secara maksimal pada suhu
yang sedang, mempunyai suhu optimum di antara 20
o
C sampai 50
o
C
Mikroorganisme termofil, yaitu mikroorganisme yang tumbuh optimal atau suka pada suhu yang
tinggi, mikroorganisme ini sering tumbuh pada suhu diatas 40
o
C, bakteri jenis ini dapat hidup di
tempat-tempat yang panas bahkan di sumber-sumber mata air panas bakteri tipe ini dapat
ditemukan, pada tahun 1967 di yellow stone park ditemukan bakteri yang hidup dalam sumber
air panas bersuhu 93-94
o
C (Anonim, 2008).
Mikroorganisme termasuk di dalamnya dari golongan bakteri, kebanyakan hidup dalam range
atau kisaran suhu tertentu saja, mereka memiliki suhu maksimum dan minimum. Apabila kondisi
suhu lingkungsn keluar dari kisaran tersebut maka bakteri tersebut pertumbuhannya akan
terhambat, bahkan mati.
Dalam pertumbuhannya bakteri memiliki suhu optimum dimana pada suihu tersebut
pertumbuhan bakteri menjadi maksimal. Dengan membuat grafik pertumbuhan suatu
mikroorganisme, maka dapat dilihat bahwa suhu optimum biasanya dekat puncak range suhu. Di
atas suhu ini kecepatan tumbuh mikroorganisme akan berkurang. diperlukan suatu metode.
Metode pengukuran pertumbuhan yang sering digunakan adalah dengan menentukan jumlah sel
yang hidup dengan jalan menghitung koloni pada pelat agar dan menentukan jumlah total
sel/jumlah massa sel. Selain itu dapat dilakukan dengan cara metode langsung dan metode tidak
langsung. Dalam menentukan jumlah sel yang hidup dapat dilakukan penghitungan langsung sel
secara mikroskopik, melalui 3 jenis metode yaitu metode: pelat sebar, pelat tuang dan most-
probable number (MPN). Sedang untuk menentukan jumlah total sel dapat menggunakan alat
yang khusus yaitu bejana Petrof-Hausser atau hemositometer. Penentuan jumlah total sel juga
dapat dilakukan dengan metode turbidimetri yang menentukan: Volume sel mampat, berat sel,
besarnya sel atau koloni, dan satu atau lebih produk metabolit. Penentuan kuantitatif metabolit
ini dapat dilakukan dengan metode Kjeldahl (Sofa, 2008).

daftar pustaka:
Hastuti, Utami Sri. 2008. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: Universitas Negeri
Malang.
Darkuni, Noviar. 2001. Mikrobiologi. Malang: JICA
Tarigan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan
Tenaga Kependidikan.
http://www.iqbalali.com/2013/02/suhu-dan-pertumbuhan-bakteri.html

lapran 2
Populasi mikroba di alam sekitar kita sangat banyak, mereka berasal dari Air, Tanah dan
Atmosfer. Masing-masing mikroorganisme memiliki cara tersendiri utnuk hidup mulai dari
lingkungan maupun cara untuk hidup.
Kehidupan mikroorganisme pada umumnya sangat tergantung pada faktor lingkungan.
Faktor lingkungan ini meliputi faktor biotik dan faktor abiotik.
Faktor abiotik adalah faktor luar seperti pada pengaruh suhu, pengaruh pH, pengaruh
tekanan osmose dan lain-lain. Sedangkan pengaruh faktor biotik adalah dari mikrooganisme itu
sendiri.
Faktor-faktor biotik tersebut meliputi faktor fisik (suhu, pH, tekanan osmose) faktor kimia
(senyawa racun), dan faktor biologi (interaksi dengan mikroorganisme lainnya). Faktor inilah
yang sering terjadi dan dialami didalam pertumbuhan suatu mikroorganisme yang banyak dari
organisme tersebut suatu senyawaan dapat berlaku sebagai sumber energi.
Oleh karena itu dilakukan percobaan ini, untuk mengetahui bagaimana pengaruh
lingkungan sehingga mikroorganisme tersebut dapat hidup dan berkembang biak untuk
melangsungkan kehidupannya.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada praktikum ini adalah Bagaimana pengaruh lingkungan
terhadap pertumbuhan suatu mikroba ?
C. Maksud Praktium
Maksud dari praktikum ini adalah mengetahui dan memahami pengaruh lingkungan
terhadap pertumbuhan mikroba seperti pengaruh suhu, pH, cahaya matahari, zat-zat kimia dan
logam berat.
D. Tujuan Praktikum
Adapun Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan pengaruh suhu, pH, cahaya
matahari, zat-zat kimia dan logam terhadap pertumbuhan Bacillus subtilis.
E. Manfaat Praktikum
Dengan melakukan percobaan ini kita dapat mengetahui pengaruh lingkungan yang
mempengaruhi pertumbuhan suatu mikroorganisme.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Teori Umum
Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berhubungan dengan berbagai macam
mikroorganisme yang dapat menginfeksi yang dapat membahayakan atau merusak inang. Akan
tetapi, agar dapat memahami lebih banyak masalah dalam mendiagnosis dan pencegahan
infeksi, maka perlu diketahui bahwa mikroorganisme yang telah menemukan tempat yang tetap
pada bagian-bagian tubuh manusia disebut flora normal kita (M. Natsir Djide, 2004).
Mikroorganisme mempunyai penyebaran yang sangat luas, ada di dalam air, di udara,
bahan makanan, minuman, dalam sediaan farmasi, dalam tubuh manusia, bahkan
mikroorganisme masih dapat ditemukan di atmosfer sampai ketinggian 10 km (M. Natsir Djide,
2004).
Adapun Pengaruh lingkungan pada pertumbuhan dan perkembangan bakteri (Entjang,
2003);
a. Pengaruh suhu
1) Pengaruh suhu rendah
Suhu rendah sampai di bawah suhu minimumnya, menyebabkan bakteri tidak dapat
berkembang biak, pada umumnya tidak segera mematikan bkteri, bahkan ada yang tahan
bertahun-tahun pada suhu minus 70C (tujuh puluh derajat Celcius). Bakteri yang pathogen
pada manusia umumnya cepat mati pada suhu 0C (nol derajat Celcius).
2). Pengaruh suhu tinggi
Suhu tinggi lebih membahayakan kehidupan bakteri dibandingkan dengan suhu rendah. Bila
bakteri dipanaskan pada suhu di atas maksimumnya, akan segera mati. Semua bakteri, baik
yang pathogen maupun tidak, dalam bentuk vegetatifnya mati dalam waktu 30 (tiga puluh)
menit pada suhu 60 - 65C. Kenyataan ini merupakan dasar tindakan pasteurisasi.
b. Cahaya
Sebagian besar bakteri adalah chemotrophe, karena itu pertumbuhannya tidak bergantung
pada adanya cahaya matahari. Pada beberapa species, cahaya matahari dapat membunuhnya
karena pengaruh sinar ultraviolet.
c. Pengeringan (kelembaban)
Air sangat penting untuk kehidupan bakteri terutama karena bakteri hanya dapat mengambil
makanan dari luar dalam bentuk larutan (holophytis). Semua bakteri tumbuh baik pada media
yang basah dan udara yang lembab., dan tidak dapat tumbuh pada media dan udara yang
kering.
d. Keasaman (pH)
Umumnya asam mempunyai pengaruh buruk terhadap pertumbuhan bakteri. Kebanyakan
bakteri lebih baik hidup dalam suasana netral (pH 7,0) atau sedikit basa (pH 7,2 - 7,4), tetapi
pada umumnya dapat hidup pada pH 6,5 7,5.
Bakteri-bakteri yang pathogen pada manusia tumbuh baik pada pH 6,8 7,4 yaitu sama
dengan pH darah.
e. Pengaruh O
2
dari udara
Untuk melangsungkan hidupnya, manusia dan binatang membutuhkan O2 (oxygen) yang
diambil dari udara melalui pernapasan. Fungsi O2 ini sudah jelas, yaitu untuk pembakaran zat-
zat makanan didalam sel-sel jaringan, sehingga dihasilkan panas dan tenaga.
f. Pengaruh tekanan osmotik
Air ke luar masuk sel bakteri melalui proses osmosis, karena perbedaan tekanan osmotic
antara cairan yang ada di dalam dengan yang di luar sel bakteri.
g. Pengaruh mikroorganisme di sekitarnya
Kehidupan suatu organisme di alam tidak dapat dipisahkan dari adanya organisme lain, seperti
halnya manusia tidak dapat hidup bila tidak ada tumbuhan ataupun hewan. Organisme-
organisme ini di alam berada dalam suatu keseimbangan yang disebut keseimbangan biologis.
Demikian pula, bakteri di alam selalu bercampur dengan bakteri yang lainnya, tidak pernah
didapatkan keadaan murni seperti halnya pada biakan murni yang sengaja dibuat di
laboratorium.


h. Pengaruh zat kimia (desinfektan) terhadap mikroba
1) Mengubah permeabilitas membran cytoplasma sehingga lalu lintas zat-zat yang keluar masuk
sel mikroba menjadi kacau.
2) Oksidasi. Beberapa oksidator kuat dapat mengoksidasi unsur sel tertentu sehingga fungsi unsur
itu terganggu, misalnya mengoksidasi suatu enzym.
3) Terjadinya ikatan kimia ion-ion logam tertentu dapat mengikatkan diri pada beberapa enzym
sehingga fungsi enzym itu terganggu.
4) Memblokir beberapa reaksi kimia. Misalnya preparat sulfa memblokir syntesa folic acid di dalam
sel mikroba.
5) Hydrolysa asam atau basa kuat dapat menghydrolisakan struktur sel sehingga hancur.
6) Mengubah sifat colloidal protoplasma sehingga menggumpal dan selnya mati.
Dalam kehidupan sehari-hari , banyak bahan kimia dapat digunakan untuk pengendalian
mikroorganisme. Karena diketahui bahwa zat-zat kimia dapat menghambat atau mematikan
mikroorganisme. Bahan-bahan tersebut dapat digunakan pada bidang kedokteran, farmasi,
pertanian, pengawetan makanan/minuman dan laboratorium mikrobiologi. Beberapa
diantaranya zat-zat kimia tersebut dapat digunakan pada jaringan manusia dan juga dapat
digunakan pada benda mati atau kedua-duanya (M. Natsir Djide, 2004).

B. Uraian Bahan
1. Air suling (Dirjen POM,1979)
Nama resmi : Aqua destillata
Nama lain : Aquadest, air suling.
RM / BM : H
2
O / 18,02
Pemeriaan : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai pelarut.
2. Agar (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : Agar
Sinonim : Agar-Agar
Pemerian : Berkas potongan memanjang, berlekatan atau berbentuk keping,
serpih atau butiran, jingga lemah kekuningan sampai kuning pucat atau berwarna, tidak berbau
atau lemah, rasa berlendir.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air , dan larut dalam air mendidih.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai bahan pemadat medium NA.


3. Asam sitrat (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : ACIDUM CITRICUM
Nama lain : Asam sitrat
RM / BM : C
6
H
8
O
7
. H2O / 210,34
Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk putih, tidak berbau, rasa sangat asam, agak higroskopik,
merapuh dalam udara kering dan panas
Kelarutan : Larut dalam kurang dari 1 bagian air dan dalam 1,5 bagian etanol (95%) P, sukar larut dalam
eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Menghilangkan sifat alkali dari logam
2. Ekstrak Beef (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : Beef extrak
Sinonim : Kaldu nabati dan kaldu hewani.
Pemerian : Berbau dan berasa pada lidah.
Kelarutan : Larut dalam air dingin.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Komposisi NA dan NB
4. HCl (Dirjen POM,1979)
Nama resmi : Acidum Hydrochloridum
Nama lain : Asam klorida
RM/BM : HCl / 36,46
Pemeriaan : Cairan tidak berwarna, berasap, bau merangsang.
Kelarutan : Larut dalam 2 bagian air.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai pemberi suasana pengasam
3. Pepton (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : Pepton
Sinonim : Pepeton Kering
Pemerian : Serbuk; kuning kemerahan sampai coklat; bau khas, tidak busuk.
Kelarutan : Larut dalam air; memberikan larutan berwarna coklat kekuningan yang bereaksi agak asam;
praktis tidak larut dalam etanol (95 %) P dan dalam eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai sumber nutrien mikroba.


C. Uraian Mikroba Uji
1. Bacillus cereus ( Garrity,2004)
a. Klasifikasi
Donami : Bacteria
Phylum : Firmicutes
Class : Bacilli
Order : Bacillales
Family : Bacillaceae
Genus : Bacillus
Species : Bacillus cereus
b. Morfologi bakteri (Jawet,1980)
Bacillus cereus merupakan bakteri Gram-positif, aerob fakultatif, dan dapat membentuk
spora. Selnya berbentuk batang besar dan sporanya tidak membengkakkan sporangiumnya.
Sifat-sifat ini dan karakteristik-karakteristik lainnya, termasuk sifat-sifat biokimia, digunakan
untuk membedakan dan menentukan keberadaan B. cereus , walaupun sifat-sifat ini juga
dimiliki oleh B. cereus var. mycoides , B. thuringiensis dan B. anthracis . Organisme-organisme
ini dibedakan berdasarkan pada motilitas/gerakan (kebanyakan B. cereus motil/dapat
bergerak), keberadaan kristal racun (pada B. thuringiensis ), kemampuan untuk
menghancurkan sel darah merah (aktivitas hemolytic ) ( B. cereus dan lainnya bersifat beta
haemolytic sementara B. anthracis tidak bersifat hemolytic ), dan pertumbuhan rhizoid (struktur
seperti akar), yang merupakan sifat khas dari B. cereus var. mycoides.
D. Uraian Sample
1. Carex handwash
Komposisi : aqua, sodium laurethsulfate, glycerin, lauramidopropyl betaine, sodium choloride, laureth-4,
lactid acid, polyquaternium-39, parfum, sodium benzoat, tetra sodium EDTA, Cocamidopropyl
P6-Dimonium choride phosphate, sodium benzotriazolylbutylphenol sulfonate, buteth-3, tributyl
citrate, mel, methyl paraben, propylparaben, potassium sorbate, Cl 60736
Kegunaan : Membunuh kuman




BAB III
KAJIAN PRAKTIKUM
A. Alat
Adapun Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah Autoklaf, Cawan petri,
Inkubator, Lampu spiritus, Tabung reaksi, Rak tabung, Spoit, Labu Erlenmeyer, Pinset, Pipet
tetes dan Peper disk.

B. Bahan
Adapun Bahan yang digunakan adalah Aquadest steril, Alkohol 70%, Asam Sitrat,
Bacillus subtilis, NaOH, Kapas, Label, Medium PDA/ PDB, Kertas karbon, Desinfektan,
Antiseptik, Antibiotik dan Uang logam.

C. Cara Kerja
1). Pengaruh suhu
1. Disuspensikan Bacillus subtilis pada tabung.
2. Diambil Bacillus subtilis dengan menggunakan spoit, kemudian dipindahkan ke tabung reaksi
yang telah berisi medium PDB sebanyak 9 ml.
3. Ditutup, kemudian disimpan pada suhu 5C (kulkas), 27C (enkas), dan 37C (inkubator).


2). Pengaruh pH
1. Disuspensikan Bacillus subtilis pada tabung.
2. Diambil Bacillus subtilis dengan menggunakan spoit, kemudian dipindahkan ke tabung reaksi
yang telah berisi medium PDB sebanyak 9 ml.
3. Disimpan pada pH 3, 7, 9.
3). Pengaruh Zat Kimia
1. Diambil suspensi Bacillus subtilis, dan dipindahkan ke dalam cawan petri.
2. Ditambahkan dengan medium PDA, biarkan memadat.
3. Dimasukkan piperdisk yang telah dicampur dengan bahan-bahan kimia (antibiotik, antiseptik,
desinfektan), yang sebelumnya cawan petri telah dibagi menjadi 3 bagian.
4. Disimpan ke dalam inkubator.
4). Pengaruh Cahaya.
1. Diambil suspensi Bacillus subtilis, dipindahkan ke dalam 3 cawan petri.
2. Ditambah dengan 5 ml medium PDA, biarkan memadat.
3. Cawan petri yang pertama dibungkus dengan kertas karbon, dan dipaparkan pada sinar
matahari, cawan petri yang kedua dibungkus dengan kertas karbon tetapi tidak dipaparkan
pada sinar matahari, cawan petri yang ketiga tidak dibungkus dengan kertas karbon dan
dipaparkan pada sinar matahari dan cawan petri ketiga tidak dibungkus dengan kertas karbon
dan tidak di paparkan pada sinar matahari.
5). Pengaruh uang logam.
1. Diambil suspensi Bacillus subtilis, dipindahkan ke dalam cawan petri.
2. Ditambahkan dengan 10 ml medium PDA, biarkan memadat.
3. Uang logam direndam dengan asam sitrat, kemudian dialiri dengan aquadest, lalu masukkan ke
dalam cawan petri yang tadi.


BAB IV
KAJIAN HASIL PRAKTIKUM
A. Hasil Pengamatan

1. Tabel Hasil Pengamatan
1. Pengaruh Suhu & pH

Mikroba Uji
Pengaruh pH Suhu
3 7 9 Kontrol 5
0
25
0
37
0
Kontrol
Bacillus
subtilis
+ + - + + + ++ +
Keterangan :
+ = ditumbuhi sedikit Mikroorganisme
++ = ditumbuhi banyak Mikroorganisme
- = tidak ditumbuhi mikroorganisme
2. Pengaruh Logam dan Zat Kimia
Nama Sample Diameter Zona
Hambatan (mm)
Ciprofloksasin 36,7
Wipol 23,3
Carex 25
Uang Koin Taiwan 24,3

3. Pengaruh Cahaya


Mikroba Uji
Perlakuan
Dibungkus,
dipaparkan
Dibungkus,
tdk
dipaparkan
Tdk
dibungkus,
dipaparkan
Tdk
dibungkus,
tdk
dipaparkan
Bacillus
subtilis
TBUD TBUD 988 TBUD
B. Pembahasan
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas kehidupan mikroba antara lain faktor
abiotik yang meliputi temperatur, kelembaban, tekanan osmosis, pengaruh pH, pengaruh logam
berat serta pengaruh zat-zat kimia. Sedangkan faktor biotik meliputi bebas hama serta asosiasi.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka dilakukanlah pengamatan tentang pengaruh suhu, pH,
cahaya, zat kimia dan logam berat terhadap pertumbuhan bakteri. Perlu diketahui bahwa
aktivitas kehidupan suatu jasad memerlukan keadaan sekitar yang sesuai, yang dapat
mempengaruhi sifat morfologi dan fisiologi dari jasad akan menyesuaikan dengan keadaan
sekitar yang ada pada waktu itu.
Pada percobaan ini dilakukan pengamatan terhadap mikroba akibat pengaruh faktor
lingkungan yang meliputi faktor abiotik. Faktor abiotik adalah faktor luar yang dapat berupa
faktor kimia dan faktor fisika. Dalam percobaan ini dilihat faktor fisika meliputi pengaruh suhu,
pengaruh pH dan pengaruh cahaya (sinar matahari). Adapun faktor kimia digunakan zat-zat
kimia untuk melihat bagaimana penghambatan pertumbuhan mikroba yang bersangkutan.
Dalam mengamati pertumbuhan mikroba, digunakan sampel mikroba uji Bacillus subtilis
Dan medium yang digunakan untuk menginokulasikannya adalah PDA dan PDB. Metode yang
digunakan adalah metode agar tuang yakni salah satu metode penginokulasian mikroba
dengan cara menuangkan medium padat kedalam cawan petri yang sebelumnya telah
dimasukkan mikroba uji. Selanjutnya medium dengan mikroba uji langsung dihomogenkan dan
dibiarkan memadat. Setelah memadat, maka dapat dilakukan pengerjaan selanjutnya.
Sementara untuk medium cair, sebaliknya dimana kedalamtabung reaksi dimasukkan terlebih
dahulu medium yang selanjutnya diambil biakan mikroba untuk dimasukkan dalam medium
tersebut.
1. Pengaruh Suhu
Pada percobaan dengan pengaruh suhu, dilakukan perlakuan pengamatan pertumbuhan
mikroba Bacillus subtilis dengan variasai suhu yakni 5
o
C, 27
o
C dan 37
o
C. Mikroba dapat
bertahan hidup dalam suatu batas-batas temperatur tertentu, jadi dengan variasi tersebut dapat
diketahui ketahanan tubuh suatu mikroba. Batas-batas tersebut dinamakan suhu minimum dan
suhu maksimum, sementara suhu yang paling baik bagi mikroba untuk tumbuh disebut suhu
optimum.
2. Pengaruh pH
Perubahan pH dalam lingkungan mikroba dpat mempengaruhi proses pertumbuhan
mikroba tersebut. Pada waktu pertumbuhan suatu mikroba, konsentrasi ion hidrogen (pH)
didalam media tempat tumbuhnya mempengaruhi protein (baik enzim dan sistem
pengangkutannya) yang terdapat pada membran selnya. Struktur protein itu akan berubah bila
pH dalam media juga berubah. Mikroba memiliki enzim yang berfungsi sempurna pada kisaran
pH tertentu, yang jika terjadi penyimpanan pH maka pertumbuhan maupun metabolismenya
dapat terhenti. Biasanya, mikroba tumbuh pada pH sekitar 7,0 namun adapula yang dapat
tumbuh pada pH 2,0 dan pH 10,0. bakteri tumbuh pada kisaran pH agak basa yaitu 5,8 sampai
6. karena pada pH 5,7 bakteri dapat terhambat pertumbuhannya,
Dari hasil percobaan mikroba uji diinokulasaikan dalam medium PDB pada 3 variasi pH
yaitu pH asam (3,0), pH netral (7,0) dan pH basa (9,0). Untuk pH 3, media ditambahkan larutan
asam klorida dengan tujuan untuk mengasamkan media yang ber-pH netral sekitar (7,0).
Dengan menambahkan beberapa tetes HCl maka pH media akan berubah menjadi pH asam
sampai pada pH yang diinginkan. Sementara untuk pH 9,0 maka media ditambahkan reagen
basa yaitu NaOH beberapa tetes untuk menaikkan pH media ke pH 9,0. Setelah inkubasi,
diamati pertumbuhannya dan hasilnya yaitu pada Bacillus subtilis, ada pertumbuhan pada pH 3
dan 7 namun untuk pH basa tidak terdapat pertumbuhan bakteri yang ditandai dengan jenihnya
medium PDB. Artinya bakteri ini tidak mengalami pertumbuhan optimum pada suasana basa.
3. Pengaruh cahaya
Pada daerah atau tempat yang kurang mendapatkan cahaya (sinar matahari)
biasanya pertumbuhan mikroorganismenya lebih baik dibandingkan dengan daerah yang
terkena langsung dengan sinar matahari. Karena cahaya umumnya dapat merusak mikroba
yang tidak mempunyai pigmen fotosintesis. Cahaya mempunyai pengaruh germisida, terutama
cahaya bergelombang pendek dan bergelombang panjang. Pengaruh germisida dari sinar
bergelombang panjang disebabkan oleh panas yang ditimbulkannya, misalnya sinar inframerah.
Sinar x (0,005- 1,0 Ao), sinar ultra violet (4000-2950 Ao), dan sinar radiasi lain dapat
membunuh mikroba. Apabila tingkat radiasi yang diterima sel mikroba rendah, maka dapat
menyebabkan terjadinya mutasi pada mikroba.
Pada dasarnya, rangkaian reaksi dapat dibagi menjadi dua bagian utama: reaksi
terang (karena memerlukan cahaya) dan reaksi gelap (tidak memerlukan cahaya tetapi
memerlukan karbon dioksida). Reaksi terang terjadi pada grana (tunggal: granum), sedangkan
reaksi gelap terjadi di dalam stroma. Dalam reaksi terang, terjadi konversi energi cahaya
menjadi energi kimia dan menghasilkan oksigen (O
2
). Sedangkan dalam reaksi gelap terjadi seri
reaksi siklik yang membentuk gula dari bahan dasar CO
2
dan energi (ATP dan NADPH) Energi
yang digunakan dalam reaksi gelap ini diperoleh dari reaksi terang. Pada proses reaksi gelap
tidak dibutuhkan cahaya Matahari. Reaksi gelap bertujuan untuk mengubah senyawa yang
mengandung atom karbon menjadi molekul gula.
Pada percobaan ini dilakukan 4 perlakuan yang berbeda pada suspensi biakan-biakan
mikroba. Pada cawan petri I dipaparkan pada sinar matahari dan dibungkus karbon. Pada
cawan petri II tidak dipaparkan di bawah sinar matahari dan dibungkus dengan karbon. Cawan
petri III dipaparkan pada sinar matahari selama 15 menit tanpa dibungkus karbon. Cawan petri
IV tidak dipaparkan pada sinar matahari dan tidak dibungkus karbon. Kertas karbon merupakan
bahan yang digunakan untuk menghambat pencahayaan langsung sinar matahari sehingga
menghambat pertumbuhan mikroba.
Berdasarkan data pengamatan yang diperoleh, Basillus subtilis banyak yang tumbuh
pada semua cawan sehingga termasuk golongan bakteri autotrof, Bakteri autotrof adalah
bakteri yang memperoleh energinya umumnya dari proses fotosintetis dengan kata lain
membutuhkan karbondioksida sebagai sumber karbonnya..
4. Pengaruh Zat kimia
Pengamatan pengaruh zat-zat kimia dilakukan dengan mengukur zona hambatan
terhadap masing-masing zat kimia. Pada percobaan ini digunakan antibiotika, desinfektan
maupun antiseptik. Antiseptik adalah zat-zat yang digunakan untuk mematikan / menghentikan
pertumbuhan kuman pada jaringan hidup, khususnya diatas kulit atau selaput mukosa.
Desinfektan adalah zat-zat yang digunakan untuk mencegah infeksi dengan jalan pemusnahan
hama patogen pada benda-benda tak hidup. Sementara antibiotik adalah zat-zat kimia yang
dihasilkan oleh mikroba, terutama bakteri dan fungi, yang berkhasiat mematikan atau
menghambat pertumbuhan mikroba lain yang toksisitasnya bagi manusi relatif kecil. Pada
percobaan ini di peroleh data bahwa Ciprofloksasin menpunyai zona hambat 36,7mm, Wipol
23,3mm, Carex 25mm. Disini kita dapat menarik kesimpulan bahwa Ciprofloksasin lebih ampuh
membunuh mikroba.
5. Pengaruh Logam
Untuk pengaruh logam sampel yang digunakan adalah uang logam dari negara Taiwan.
Sebelum dimasukkan dalam cawan petri uang logam terlebih dahulu dicuci dengan asam sitrat
untuk menghilangkan sifat alkali dari uang logam tersebut dan agar menghilangkan karatan.
Berdasarkan data pengamatan untuk bakteri Bacillus subtilis memiliki zona hambatan 24,3
mm.



BAB V
KESIMPULAN dan SARAN
A. Kesimpulan

B. Saran



DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2012.Penuntun Praktikum Mikrobilogi Farmasi Dasar. Fakultas Farmasi UMI : Makassar.

Dirjen POM 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI : Jakarta.

Dirjen POM 19. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI : Jakarta.

Entjang, Indan.2003.Mikrobiologi dan Parasitologi.PT.Citra Aditya Bakti : Bandung.
Natsir Djide, M, .Drs .2003. Bakteriologi. Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin : Makassar.

Suriawiria (1986). Pengantar Mikrobiologi Umum. Angkasa : Bandung.
Suhu

alah satu faktor lingkungan yang berpengaruh adalah suhu atau temperatur. Mikrobia memiliki
batas toleransi masing-masing terhadap suhu. Efek dari suhu yang ekstrim pada mikrobia adalah
enzim menjadi inaktif dan kemungkinan hal yang sama terjadi pada beberapa struktur sell
lainnya. Tetapi pada kondisi optimumnya mikrobia akan memiliki produktivitas yang optimal.
Ada 3 jenis mikrobia berdasarkan kisaran suhunya yaitu, psikrofilik dengan suhu minimum 5-
0
o
C, optimum 5-15
o
C, dan maksimum15-20
o
C, mikrobia mesofilik dengan suhu minimum10-
20
o
C, optimum 20-40
o
C, maksimum 40-45
o
C, dan mikrobia termofilik dengan suhu minimum
25-45
o
C, optimim 45-60
o
C, maksimum 60-50
o
C (Moat, 1979).
Pada praktikum ini dilakukan pengamatan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan bakteri
Eschericia coli dan Bacillius subtillis. Faktor luar yang pertama adalah suhu. Pada temperatur
5C E. coli tumbuh sedang (++) sedangkan B. subtillis tumbuh hanya sedikit saja (+). Hal ini
berarti suhu ini masih dalam kisaran hidup E. coli dan B. subtillis karena masih dapat melakukan
aktivitas dan kedua bakteri ini termasuk jenis bakteri psikrofilik. Pada suhu 25
o
C pertumbuhan
kedua bakteri ini tumbuh dengan subur / banyak (+++), maka kedua bakteri ini termasuk dalam
bakteri mesofilik karena temperaturnya berada pada suhu diantara 20-45
o
C. Pada suhu 35
o
C,
kedua bakteri ini tumbuh dengan sangat lebat (++++) dan masih termasuk jenis bakteri
mesofilik. Pada suhu 55
o
C, tidak ada pertumbuhan pada E. coli dan B. subtillis karena kedua
bakteri ini tidak dapat hidup pada suhu yang lebih dari suhu optimumnya. Pada suhu paling
tinggi aktivitas metabolisme akan meningkat dengan drastis sehingga dapat menyebabkan
denaturasi karena proses enzim yang berlebihan sedangkan pada suhu paling rendah
metabolisme akan terhambat karena enzim akan menjadi inaktif.

DAFTAR PUSTAKA
Dee. 2010. Pengaruh Faktor Luar. http://deethebiokidz.blogspot.com/ 2 April 2011.
Dwidjoseputro, D. 1987. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambaran. Jakarta.
Hadioetomo, R.S. 1993. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium Mikrobiologi. Gramedia.
Jakarta.
Moat, A.G. 1979. Microbial Physiology. John Wiley & Sons, Inc. Canada.
Pelczar, M.J. dan Chan, E.C.S. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI-Press. Jakarta.
Volk, A.W dan Wheeler, M.F. 1993. Mikrobiologi Dasar jilid 1. Erlangga. Jakarta.

Suhu aureus

Staphylococcus aureus (Staphylococcus pyogenes) merupakan kokus Gram positif, berbentuk
lonjong atau bulat, tidak bergerak, tidak bersimpai dan tidak berspora. Tersusun dalam kelompok
seperti buah anggur. S. aureus bersifat anaerob dan tumbuh dengan baik pada temperatur
optimum 37
o
C dan pH 7,4. Pada perbiakan cair, S. aureus menyebabkan kekeruhan merata dan
memperlihatkan pertumbuhan khas berupa endapan di dasar tabung. S. aureus merupakan salah
satu kuman yang cukup kebal di antara organisme-organisme tak berspora. Tahan dipanaskan
pada 60
o
C selama 30 menit (Gupte, 1990). Sumber lain mengatakan bahwa temperatur optimum
30-37
o
C, range 6-48
o
C. Sedangkan pH optimum pertumbuhannya 6-7, pH minimum
pertumbuhan 4.2 dan maksimum 9.3 (Bremer et.al, 2004).

Dari hasil pengamatan di atas dapat diketahui bahwa medium dengan perlakuan suhu 35
o
C dan
pH 7 memiliki kekeruhan yang paling tinggi. Kekeruhan di sini menunjukkan adanya
pertumbuhan bakteri (Gupte, 1990). Hal ini sesuai teori yang menyatakan bahwa S. aureus
tumbuh dengan baik pada temperatur optimum 30-37
o
C dan pH 6-7 (Gupte, 1990; Bremer et.al,
2004). S. aureus termasuk jenis kuman yang paling kuat daya tahannya. Pada agar miring dapat
tetap hidup sampai berbulan-bulan, baik dalam lemari es maupun pada suhu kamar (Arif et al,
2000). Hal ini menjelaskan mengapa S. aureus tidak mati pada suhu 13
o
melainkan hanya
tertidur dan ketika medium dimasukkan ke dalam inkubator dengan suhu 35
o
C, bakteri
tersebut dapat kembali tumbuh. Menurut Brooks (2001) berkaitan dengan efeknya pada
pertumbuhan bakteri, temperatur yang ekstrim (temperatur tinggi) akan membunuh bakteri. Teori
tersebut menjelaskan mengapa pada suhu 100
o
C tidak terdapat kekeruhan yang berarti tidak
terdapat pertumbuhan S. aureus. Hal inilah yang mendasari dipakainya suhu tinggi untuk proses
sterilisasi.
remer PJ, et.al. 2004. Staphylococcus aureus. New Zealand: New Zealand Institute for Crop &
Food Research Limited.
Emmerson M. 1994. Nosocomial Staphylococcal Outbreaks. Scan. J. Infect. Dis. 93 (Suppl.), 47-
54.
Ena J., et.al. 1994. Epidemiology of Staphylococcus aureus Infections in Patients on
Hemodialysis. Infect. Immun. 66, 573-580.
Gupte Satish. 1990. Mikrobiologi Dasar Edisi Ketiga. Jakarta: Binarupa Aksara
Joklik W K., et.al. 1992. Zinsser microbiology. 20th ed. California: Appleton and Lange.
Mansjoer Arif, et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III Jilid 2. Jakarta : Media
Aesculapiusn FK UI.
Brooks G F, et.al. 2001. Jawetz, Melnick, & Adelbergs Medical Microbiology. 22
th
Ed. New
York: Lange Medical Books.
Todar Kenneth. 2008. Staphylococcus aureus and Staphylococcal Disease. http://www.
textbookofbacteriology.net/staph.html. (diunduh tanggal 21 November 2009)




Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya. Suhu pertumbuhan suatu
mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum, optimum dan maksimum. Berdasarkan atas
perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil, mesofil, dan
termofil. Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik kematian termal (thermal
death point) dan waktu kematian termal (thermal death time)-nya. Daya tahan terhadap suhu itu
tidak sama bagi tiap-tiap spesies. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa
menit di dalam cairan medium pada suhu 60C, sebaliknya ,bakteri yang membentuk spora
seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di panasi dengan uap 100C atau
lebih selama kira-kira setengah jam. Untuk sterilisali, maka syaratnya untuk membunuh setiap
spesies untuk membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan
15 pound serta suhu 121C di dalam autoklaf.
Di dalam keadaan basah, maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di
dalam keadaan kering, pada temperatur yang sama. Berdasarkan ini, maka sterilisasi barang-
barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121 C dan
waktu yang lebih lama daripada 15 menit. Sedikit perubahan pH menuju ke asam atau ke basa itu
sangat berpengaruh kepada pemanasan. Berhubung dengan ini, maka buah-buahan yang masam
itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging. Untuk menentukan suhu maut
bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah
suhu yang serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam standard
medium selama 10 menit.Tapi tidak semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama
pada suatu suhu tertentu. Biasanya, individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain
terhadap suatu pemanasan. Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada
perusahaan pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu, maka lamanya pemanasan
merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap spesies. Biasanya standard suhu itu diatas
titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora. Umumnya
bakteri lebih tahan suhu rendah daripada suhu tinggi. Hanya beberapa spesies neiseria mati
karena pendinginan sampai 0 C dalam kedaan basah. Bakteri patogen yang biasa hidup di dalam
tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku.
Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora, karena spora sangat sedikit
mengandung air. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada kalau
pembekuan itu di dalam buih, buih tidak membeku sekeras air beku. Bahwa pembekuan air itu
menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi, tentang efek yang lain
misalnya secara kimia, kita belum tahu. Pembekuan secara perlahan-lahan dalam suhu -16C ( es
campur garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190C).
Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada pembekuan secara terus
menerus. Sebagai contoh, piaraan basil tipus mati setelah dibekukan putus putus dalam waktu 2
jam, sedang piaraan itu dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus.
Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi, maka seperti halnya dengan mahluk-
mahluk lain, mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu. Batas-
batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum, sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan
hidup itu disebut suhu optimum.

GRAFIK SUHU PADA BAKTERI
Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri, yaitu:

Bakteri termofil (politermik), yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada suhu setinggi
55 sampai 65C, meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih
tinggi daripada itu, yaitu dengan batas-batas 40C sampai 80C. Golongan ini terutama terdapat
didalam sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55C.

Bakteri mesofil (mesotermik), yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5 dan 60C, sedang suhu
optimumnya ialah antara 25 sampai 40C, minimum 15C dan maksimum di sekitar 55C.
Umumnya hidup di dalam alat pencernaan, kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan
baik pada suhu 40C atau lebih.

Bakteri psikrofil (oligotermik), yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0 sampai 30C, sedang
suhu optimumnya antara 10 sampai 20C. Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-
tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan.
Golongan bakteri yang dapat hidup pada batas-batas suhu yang sempit, misalnya, Gonococcus
itu hanya dapat hidup subur antara 30 dan 40 C, jadi batas antara minimum dan maksimum
tidak terlampau besar, maka bakteri semacam itu kita sebut stenotermik. Sebaliknya Escherichia
coli tumbuh baik antara 8 C sampai 46C, jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di
sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas, maka Escherichia coli itu termasuk golongan
bakteri yang kita sebut euritermik. Pada umumnya dapat di pastikan, bahwa suhu optimum itu
lebih mendekati suhu maksimum daripada suhu minimum.Hal ini nyata benar bagi Gonococcus
dan Escherichia coli, keduanya mempunyai optimum suhu 37 C.

BAKTERI GONOCOCCUS

BAKTERI ESCHERICHIA COLI
Bakteri yang diplihara di bawah Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan
menyebabkan denaturasi protein dan enzim. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme.
Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum, mikroba akan mengalami kematian. Titik
kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-
rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10
menit dalam kondisi tertentu. Laju kematian termal (thermal Deat Rate) adalah kecepatan
kematian mikroba akibat pemberian temperatur. Hal ini karena tidak semua spesies mati
bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. Biasanya, spesies yang satu lebih tahan dari pada
yang lain terhadap suatu pemanasan, oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka
kematian pada suatu temperatur. Waktu kematian temal (Thermal Death Time) merupakan waktu
yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap.
Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain ialah waktu, temperatur,
kelembaban, bentuk dan jenis spora, umur mikrroba, pH dan komposisi medium. Contoh waktu
kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut
:
Nama mikroba Waktu
(menit)
Suhu (0C)
Escherichia coli 20-30 57
Staphylococcus aureus 19 60
Spora Bacilus subtilis 20-50 100
Spora Clostridium botulinum 100-330 100