Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH REAKSI SUBSTITUSI

PEMBUATAN NITRO BENZEN

DISUSUN OLEH:
HADZALIE GHARAUFI
0807113457

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA S1


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2009

1
Kata Pengantar

Penulisan makalah “Reaksi substitusi pembuatan nitro benzene” ini didasarkan


pada hasil kesepakatan dengan asisten praktikum kimia organik, bersumberkan dari
bnyak literature-literatur yang didapatkan dari internet sebagai bahan referensi untuk
menyelesaikan makalah ini.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
 Allah SWT.
 Kedua orang tua yang selalu memberikan doanya kepada penulis.
 Yuliza fuji lestari yang selalu memberi arti, semangat dan cerianya kepada
penulis.
 Teman-teman yang telah memberi saran maupun masukan yang tidak
mungkin disebutkan namanya satu persatu
 Yamaha Jupiter-Z cw biru putih manis BM 4792 QE yang selalu setia
menemani dan mengantarkan penulis kemanapun pergi.
 Semua pihak yang telah membantu dan memberikan saran dalam membuat
makalah ini.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam makalah ini,
baik yang bersifat prinsip maupun penunjang. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan saran dan masukan dari pembaca yang membangun demi
kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya kelak.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Pekanbaru, 16 November 2009

penulis

2
DAFTAR ISI

i. Kata pengantar ………………………………………………………..…1


ii. Daftar isi ………………………………………………………................2
iii. Bab I Pendahuluan
Latar belakang …….…………………………………………................3
Tujuan…………………………………………………………..………...4
Ruang lingkup materi……………………………………………………4
iv. Bab II Dasar teori
Benzen……………………………………………………………..……..5
Asam nitrat pekat …………………..…………………………………...6
Asam sulfat pekat……………………………………………………….9
Reaksi substitusi……………………………………………………….18
v. Bab IV Pembahasan
Pembuatan nitro benzen………………………………………………20
vi. Bab V Penutup
Kesimpulan…………………………………………………………..…25
vii. Daftar Pustaka …………………………………………………………26

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dengan semakin pesatnya pertumbuhan penduduk maka semakin banyak


juga konsumsi akan bahan-bahan kebutuhan, baik itu kebutuhan pokok maupun
kebutuhan pelengkap. Tapi karena keterbatasan sumber daya alam yang tidak
terus-menerus bias memenuhi kebutuhan manusia tersebut, maka mulailah para
ahli-ahli menciptakan produk-produk buatan (sintesis) dari bahan-bahan organic
maupun non-organik untuk menggantikan sumber daya alam yang tidak
mencukupi.
Berbagai percobaan dilakukan untuk menghasilkan produk-produk yang di
inginkan. Misalnya pembuatan serat-serat sintesis untuk menggantikan
penggunaan kapas yang tidak selalu mencukupi untuk digunakan sebagai bahan
baku pembuatan pakaian, dll.
Dengan berbagai pecobaan, berbagai reaksi seperti reaksi substitusi maka
didapatlah produk-produk yang diinginkan.Demikan juga dalam hal pembuatan
senyawa-senyawa kimia yang dibutuhkan termasuk Nitrobenzene (C6H5NO2)
yang digunakan dalam pembuatan aniline dan zat aditif pada karet sebagai anti-
oksidant (zat aditif dalam pembuatan karet yang dapat mencegah terjadinya
oksidasi).
Latar belakang pembuatan makalah ini selain untuk menambah ilmu saya
tentang reaksi-reaksi pembuatan produk dari bahan-bahan kimia juga untuk
memenuhi nilai respon praktikum kimia organic yang diberikan oleh asisten
dosen yang bernama Zaid Isramar Hardani.

4
1.2 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memahami seluk beluk
reaksi substitusi pembuatan nitro benzene secara lengkap, detail, dan mendalam
yang akan memudahkan saya dalam praktikum pembuatan produk tersebut
nantinya.
Disamping itu juga selain untuk memenuhi nilai response, makalah ini
semoga dapat berguna bagi pembaca dan teman-teman maupun adik-adik tingkat
nantinya. Semoga makalah ini bermanfaat dan memudahkan siapapun yang ingin
mengetahui tentang pembuatan nitro benzene kelak.
Harapan saya di masa depan akan tumbuh enginer-enginer berkualitas di
bidang teknik kimia dari universitas riau yang mampu bersaing dengan lulusan-
lulusan dari universitas lain, bahkan ITB sekalipun.
Marilah kita menjadi tuan rumah ditanah sendiri.

1.3 Ruang Lingkup Materi

Adapun ruang lingkup materi yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
mengenai reaksi-reaksi yang terjadi di dalam pembuatan nitro benzene itu sendiri,
yaitu reaksi substitusi. Reaksi yang merupakan penggantian atom senyawa
hidrokarbon oleh atom senyawa lain. Reaksi substitusi pada umumnya terjadi
pada senyawa jenuh (alkana). Selain itu juga terjadi pada gugus aromatic,
substitusi aromatik elektrofilik adalah reaksi organik dimana sebuak atom,
biasanya hidrogen, yang terikat pada sistem aromatis diganti dengan elektrofil.
Contoh dari rekasi substitusi aromatic elektrofilik adalah: Nitrasi aromatik yang
membentuk senyawa nitro terjadi dengan pembentukan ion nitronium dari asam
nitrat dan asam sulfat.Nitrobenzen dapat didefinisikan sebagai senyawa sederhana
yang didapatkan dari mensubstitusikan elektrofil nitronium ke inti benzene.
Substitusi elektrofilik terjadi pada banyak reaksi yang mengandung cincin
Benzene.

5
BAB II
DASAR TEORI

2.1. Benzen

Benzena, juga dikenal dengan nama C6H6, PhH, dan benzol, adalah senyawa
kimia organik yang merupakan cairan tak berwarna dan mudah terbakar serta mempunyai
bau yang manis. Benzena adalah sejenis karsinogen. Benzena adalah salah satu
komponen dalam bensin dan merupakan pelarut yang penting dalam dunia industri.
Benzena juga adalah bahan dasar dalam produksi obat-obatan, plastik, bensin, karet
buatan, dan pewarna. Selain itu, benzena adalah kandungan alami dalam minyak bumi,
namun biasanya diperoleh dari senyawa lainnya yang terdapat dalam minyak bumi.

Benzena ditemukan pada tahun 1825 oleh seorang ilmuwan Inggris, Michael
Faraday, yang mengisolasikannya dari gas minyak dan menamakannya bikarburet dari
hidrogen. Pada tahun 1833, kimiawan Jerman, Eilhard Mitscherlich menghasilkan
benzena melalui distilasi asam benzoat (dari benzoin karet/gum benzoin) dan kapur.
Mitscherlich memberinya nama benzin. Pada tahun 1845, kimiawan Inggris, Charles
Mansfield, yang sedang bekerja di bawah August Wilhelm von Hofmann, mengisolasikan
benzena dari tir (coal tar). Empat tahun kemudian, Mansfield memulai produksi benzena
berskala besar pertama menggunakan metode tir tersebut.

Benzena dan turunannya termasuk senyawa aromatik. Istilah senyawa aromatik


sebelumnya digunakan untuk menggambarkan senyawa yang beraroma sedap. Namun,
dalam senyawa organik, istilah aromatik digunakan untuk menunjukkan macam ikatan
untuk senyawa tertentu. Pada umumnya, senyawa aromatik merupakan senyawa siklik
dengan rumus yang mengandung ikatan tunggal dan rangkap. Suatu senyawa harus
mengandung atom hibrid sp2 dalam cincinnya agar bersifat aromatik. Hibridisasi itu
menyebabkan letak ikatan tunggal dan rangkap selang-seling seperti yang terjadi pada

6
benzen. Akan tetapi, tidak setiap senyawa siklik yang mengandung atom hibrid dalam
sistem cincin bersifat aromatik.

Benzena berupa zat cair pada suhu kamar, mudah menguap, bersifat nonpolar
sehingga tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut nonpolar, dan sangat beracun.
Secara kimia, benzena tidak reaktif, tetapi mudah terbakar menghasilkan banyak jelaga
dan mudah mengalami reaksi substitusi. Reaksi yang dapat dialami oleh benzena antara
lain halogenasi, nitrasi, sulfonasi, alkilasi, dan asilasi. Banyak senyawa yang dijumpai
dalam ter batu bara yang mengandung empat cincin benzena terpadu atau lebih, bersifat
karsinogenik (menyebabkan kanker). Nitrobenzen dan anilin merupakan golongan
senyawa aromatik. Anilin bersifat basa lemah dan merupakan bahan baku pembuatan zat
warna.

2.2. Asam nitrat pekat

Asam sulfat, H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini
larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan
merupakan salah satu produk utama industri kimia. Produksi dunia asam sulfat pada
tahun 2001 adalah 165 juta ton, dengan nilai perdagangan seharga US$8 juta. Kegunaan
utamanya termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan
pengilangan minyak.

Asam nitrat pertama kali disintesis sekitar 800 M oleh alkimiawan Jabir ibnu
Hayyan, yang juga menemukan distilasi modern dan proses kimiawi dasar lainnya yang
masih digunakan sekarang ini.

Asam nitrat murni (100%) merupakan cairan tak berwarna dengan berat jenis
1.522 kg/m³. Ia membeku pada suhu -42 °C, membentuk kristal-kristal putih, dan
mendidih pada 83 °C. Ketika mendidih pada suhu kamar, terdapat dekomposisi
(penguraian) sebagian dengan pembentukan nitrogen dioksida sesudah reaksi:

4HNO3 → 2H2O + 4NO2 + O2 (72 °C)

7
yang berarti bahwa asam nitrat anhidrat sebaiknya disimpan di bawah 0 °C untuk
menghindari penguraian. Nitrogen dioksida (NO2) tetap larut dalam asam nitrat yang
membuatnya berwarna kuning, atau merah pada suhu yang lebih tinggi. Manakala asam
murni cenderung mengeluarkan asap putih ketika terpapar ke udara, asam dengan
nitrogen dioksida terlarut mengeluarkan uap berwarna coklat kemerah-merahan, yang
membuatnya dijuluki "asam berasap merah" atau "asan nitrat berasap". Asam nitrat
berasap juga dirujuk sebagai asam nitrat 16 molar (bentuk paling pekat asam nitrat pada
temperatur dan tekanan standar).

Asam nitrat bercampur dengan air dalam berbagai proporsi dan distilasi
menghasilkan azeotrop dengan konsentrasi 68% HNO3 dan titik didih 120,5 °C pada 1
atm. Terdapat dua hidrat padat yang diketahui, yaitu monohidrat (HNO3·H2O) dan
trihidrat (HNO3·3H2O).

Nitrogen oksida (NOx) larut dalam asam nitrat dan sifat ini mempengaruhi semua
sifat fisik asam nitrat yang tergantung pada konsentrasi oksida (seperti tekanan uap di
atas cair, suhu didih, dan warna yang dijelaskan di atas).

Peningkatan konsentrasi asam nitrat dipengaruhi oleh dekomposisi termal maupun


cahaya, dan hal ini dapat menimbulkan sejumlah variasi yang tak dapat diabaikan pada
tekanan uap di atas cairan karena nitrogen oksida yang diproduksi akan terlarut sebagian
atau sepenuhnya di dalam asam.

Sebagai mana asam pada umumnya, asam nitrat bereaksi dengan alkali, oksida
basa, dan karbonat untuk membentuk garam, seperti amonium nitrat. Karena memiliki
sifat mengoksidasi, asam nitrat pada umumnya tidak menyumbangkan protonnya (yakni,
ia tidak membebaskan hidrogen) pada reaksi dengan logam dan garam yang dihasilkan
biasanya berada dalam keadaan teroksidasi yang lebih tinggi.Karenanya, perkaratan
(korosi) tingkat berat bisa terjadi. Perkaratan bisa dicegah dengan penggunaan logam
ataupun aloi anti karat yang tepat.

8
Asam nitrat memiliki tetapan disosiasi asam (pKa) 1,4: dalam larutan akuatik,
asam nitrat hampir sepenuhnya (93% pada 0.1 mol/L) terionisasi menjadi ion nitrat NO3
dan proton terhidrasi yang dikenal sebagai ion hidronium, H3O+.

HNO3 + H2O → H3O+ + NO3-

Sebagai sebuah oksidator yang kuat, asam nitrat bereaksi dengan hebat dengan
sebagian besar bahan-bahan organik dan reaksinya dapat bersifat eksplosif. Produk
akhirnya bisa bervariasi tergantung pada konsentrasi asam, suhu, serta reduktor. Reaksi
dapat terjadi dengan semua logam kecuali deret logam mulia dan aloi tertentu.
Karakteristik ini membuat asam nitrat menjadi agen yang umumnya digunakan dalam uji
asam. Sebagai kaidah yang umum, reaksi oksidasi utamanya terjadi dengan asam pekat,
memfavoritkan pembentukan nitrogen dioksida (NO2).

Cu + 4H+ + 2NO3- → Cu+2 + 2NO2 + 2H2O

Sifat-sifat asam cenderung mendominasi pada asam nitrat encer, diikuti dengan
pembentukan nitrogen oksida (NO) yang lebih diutamakan.

3Cu + 8HNO3 → 3Cu(NO3)2 + 2NO + 4H2O

Karena asam nitrat merupakan oksidator, hidrogen (H2) jarang terbentuk. Hanya
magnesium (Mg), mangan (Mn), dan kalsium (Ca) yang bereaksi dengan asam nitrat
dingin dan encer yang dapat menghasilkan hidrogen:

Mg(s) + 2HNO3(aq) → Mg(NO3)2(aq) + H2(g)

Asam nitrat mampu menyerang dan melarutkan semua logam yang ada pada tabel
periodik, kecuali emas dan platina.

Kendati kromium (Cr), besi (Fe), dan aluminium (Al) akan terlarut dalam asam
nitrat yang encer, asam pekat akan membentuk sebuah lapisan logam oksida yang
melindungi logam dari oksidasi lebih lanjut. Hal ini disebut dengan pemasifan.
Konsentrasi pemasifan yang umum berkisar dari 18% sampai 22% berat.

9
Ketika asam nitrat bereaksi dengan berbagai unsur non-logam, terkecuali silikon
serta halogen, biasanya ia akan mengoksidasi non-logam tersebut ke keadaan oksidasi
tertinggi dengan asam nitrat menjadi nitrogen dioksida untuk asam pekat dan nitrogen
monoksida untuk asam encer.

C + 4HNO3 → CO2 + 4NO2 + 2H2O

ataupun

3C + 4HNO3 → 3CO2 + 4NO + 2H2O

Asam nitrat dibuat dengan mencampur nitrogen dioksida (NO2) dengan air.
Menghasilkan asam nitrat yang sangat murni biasanya melibatkan distilasi dengan asam
sulfat, karena asam nitrat membentuk sebuah azeotrop dengan air dengan komposisi 68%
asam nitrat dan 32% air. Asam nitrat kualitas komersial biasanya memiliki konsentrasi
antara 52% dan 68% asam nitrat. Produksi komersial dari asam nitrat melalui proses
Ostwald yang ditemukan oleh Wilhelm Ostwald.

2.3. Asam sulfat pekat


Asam sulfat, H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini
larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan
merupakan salah satu produk utama industri kimia. Produksi dunia asam sulfat pada
tahun 2001 adalah 165 juta ton, dengan nilai perdagangan seharga US$8 juta. Kegunaan
utamanya termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan
pengilangan minyak.

Asam sulfat murni yang tidak diencerkan tidak dapat ditemukan secara alami di
bumi oleh karena sifatnya yang higroskopis. Walaupun demikian, asam sulfat merupakan
komponen utama hujan asam, yang terjadi karena oksidasi sulfur dioksida di atmosfer
dengan keberadaan air (oksidasi asam sulfit). Sulfur dioksida adalah produk sampingan
utama dari pembakaran bahan bakar seperti batu bara dan minyak yang mengandung
sulfur (belerang).

10
Asam sulfat terbentuk secara alami melalui oksidasi mineral sulfida, misalnya
besi sulfida. Air yang dihasilkan dari oksidasi ini sangat asam dan disebut sebagai air
asam tambang. Air asam ini mampu melarutkan logam-logam yang ada dalam bijih
sulfida, yang akan menghasilkan uap berwarna cerah yang beracun. Oksidasi besi sulfida
pirit oleh oksigen molekuler menhasilkan besi(II), atau Fe2+:

2 FeS2 + 7 O2 + 2 H2O → 2 Fe2+ + 4 SO42− + 4 H+

Fe2+ dapat kemudian dioksidasi lebih lanjut menjadi Fe3+:

4 Fe2+ + O2 + 4 H+ → 4 Fe3+ + 2 H2O

Fe3+ yang dihasilkan dapat diendapkan sebagai hidroksida:

Fe3+ + 3 H2O → Fe(OH)3 + 3 H+

Besi(III) atau ion feri juga dapat mengoksidasi pirit. Ketika oksidasi pirit besi(III) terjadi,
proses ini akan berjalan dengan cepat. Nilai pH yang lebih rendah dari nol telah terukur
pada air asam tambang yang dihasilkan oleh proses ini.

Asam sulfat diproduksi di atmosfer bagian atas Venus dari karbon dioksida, sulfur
dioksida, dan uap air secara fotokimia oleh cahaya matahari. Foton ultraviolet dengan
panjang gelombang kurang dari 169 nm dapat mengakibatkan fotodisosiasi karbon
dioksida menjadi karbon monoksida dan oksigen atomik.

Oksigen atomik sangatlah reaktif. Ketika ia bereaksi dengan sulfur dioksida yang
merupakan sekelumit bagian dari atmosfer Venus, sulfur trioksida dihasilkan, dan ketika
bergabung dengan air, akan menghasilkan asam sulfat.

CO2 → CO + O
SO2 + O → SO3
SO3 + H2O → H2SO4

11
Di bagian atas atmosfer Venus yang lebih dingin, asam sulfat terdapat dalam
keadaan cair, dan awan asam sulfat yang tebal menghalangi pandangan permukaan Venus
ketika dipandang dari atas. Awan permanen Venus menghasilkan hujan asam yang pekat
sama halnya atmosfer bumi menghasilkan air hujan.

Atmosfer Venus menunjukkan adanya siklus asam sulfat. Setelah tetesan hujan
asam sulfat jatuh ke lapisan atmosfer yang lebih panas, asam sulfat akan dipanaskan dan
melepaskan uap air, sehingga asam sulfat tersebut menjadi lebih pekat. Ketika mencapai
temperatur di atas 300 °C, asam sulfat mulai berdekomposisi menjadi sulfur trioksida dan
air (dalam fase gas). Sulfur trioksida sangatlah reaktif dan berdisosiasi menjadi sulfur
dioksida dan oksigen atomik, yang akan kemudian mengoksidasi karbon monoksida
menjadi karbon dioksida.

Sulfur dioksida dan uap air kemudian naik secara arus konveksi dari lapisan
tengah atmosfer menuju lapisan atas, di mana keduanya akan diubah kembali lagi
menjadi asam sulfat, dan siklus ini kemudian berulang.

Spektrum inframerah dari misi Galileo NASA menunjukkan adanya absorpsi


khusus pada satelit Yupiter Europa yang mengindikasikan adanya satu atau lebih hidrat
asam sulfat. Interpretasi spektrum ini kontroversial. Beberapa ilmuwan planet lebih
condong menginterpretasikan spektrum ini sebagai ion sulfat, kemungkinan sebagai
bagian dari mineral Europa.[1]

Asam sulfat diproduksi dari belerang, oksigen, dan air melalui proses kontak.

Pada langkah pertama, belerang dipanaskan untuk mendapatkan sulfur dioksida:

S (s) + O2 (g) → SO2 (g)

Sulfur dioksida kemudian dioksidasi menggunakan oksigen dengan keberadaan katalis


vanadium(V) oksida:

2 SO2 + O2(g) → 2 SO3 (g) (dengan keberadaan V2O5)

12
Sulfur trioksida diserap ke dalam 97-98% H2SO4 menjadi oleum (H2S2O7), juga dikenal
sebagai asam sulfat berasap. Oleum kemudian diencerkan ke dalam air menjadi asam
sulfat pekat.

H2SO4 (l) + SO3 → H2S2O7 (l)


H2S2O7 (l) + H2O (l) → 2 H2SO4 (l)

Perhatikan bahwa pelarutan langsung SO3 ke dalam air tidaklah praktis karena reaksi
sulfur trioksida dengan air yang bersifat eksotermik. Reaksi ini akan membentuk aerosol
korosif yang akan sulit dipisahkan.

SO3(g) + H2O (l) → H2SO4(l)

Sebelum tahun 1900, kebanyakan asam sulfat diproduksi dengan proses bilik.

Walaupun asam sulfat yang mendekati 100% dapat dibuat, ia akan melepaskan SO3
pada titik didihnya dan menghasilkan asam 98,3%. Asam sulfat 98% lebih stabil untuk
disimpan, dan merupakan bentuk asam sulfat yang paling umum. Asam sulfat 98%
umumnya disebut sebagai asam sulfat pekat. Terdapat berbagai jenis konsentrasi asam
sulfat yang digunakan untuk berbagai keperluan:

• 10%, asam sulfat encer untuk kegunaan laboratorium,


• 33,53%, asam baterai,
• 62,18%, asam bilik atau asam pupuk,
• 73,61%, asam menara atau asam glover,
• 97%, asam pekat.

Terdapat juga asam sulfat dalam berbagai kemurnian. Mutu teknis H2SO4 tidaklah
murni dan seringkali berwarna, namun cocok untuk digunakan untuk membuat pupuk.
Mutu murni asam sulfat digunakan untuk membuat obat-obatan dan zat warna.

Apabila SO3(g) dalam konsentrasi tinggi ditambahkan ke dalam asam sulfat, H2S2O7
akan terbentuk. Senyawa ini disebut sebagai asam pirosulfat, asam sulfat berasap,
ataupun oleum. Konsentrasi oleum diekspresikan sebagai %SO3 (disebut %oleum)

13
atau %H2SO4 (jumlah asam sulfat yang dihasilkan apabila H2O ditambahkan); konsentrasi
yang umum adalah 40% oleum (109% H2SO4) dan 65% oleum (114,6% H2SO4). H2S2O7
murni terdapat dalam bentuk padat dengan titik leleh 36 °C.

Asam sulfat murni berupa cairan bening seperti minyak, dan oleh karenanya pada zaman
dahulu ia dinamakan 'minyak vitriol'.

H2SO4 anhidrat adalah cairan yang sangat polar. Ia memiliki tetapan dielektrik
sekitar 100. Konduktivitas listriknya juga tinggi. Hal ini diakibatkan oleh disosiasi yang
disebabkan oleh swa-protonasi, disebut sebagai autopirolisis.[3]

2 H2SO4 → H3SO4+ + HSO4−

Konstanta kesetimbangan autopirolisisnya adalah[3]

Kap(25 °C)= [H3SO4+][HSO4−] = 2,7 × 10−4.

Dibandingkan dengan konstanta keseimbangan air, Kw = 10−14, nilai konstanta


kesetimbangan autopirolisis asam sulfat 1010 (10 triliun) kali lebih kecil.

Walaupun asam ini memiliki viskositas yang cukup tinggi, konduktivitas efektif
ion H3SO4+ dan HSO4− tinggi dikarenakan mekanisme ulang alik proton intra molekul,
menjadikan asam sulfat sebagai konduktor yang baik. Ia juga merupakan pelarut yang
baik untuk banyak reaksi.

Kesetimbangan kimiawi asam sulfat sebenarnya lebih rumit daripada yang


ditunjukkan di atas; 100% H2SO4 mengandung beragam spesi dalam kesetimbangan
(ditunjukkan dengan nilai milimol per kg pelarut), yaitu: HSO4− (15,0), H3SO4+ (11,3),
H3O+ (8,0), HS2O7− (4,4), H2S2O7 (3,6), H2O (0,1).

Reaksi hidrasi asam sulfat sangatlah eksotermik. Selalu tambahkan asam ke


dalam air daripada air ke dalam asam. Air memiliki massa jenis yang lebih rendah
daripada asam sulfat dan cenderung mengapung di atasnya, sehingga apabila air

14
ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, ia akan dapat mendidih dan bereaksi dengan
keras. Reaksi yang terjadi adalah pembentukan ion hidronium:

H2SO4 + H2O → H3O+ + HSO4-


HSO4- + H2O → H3O+ + SO42-

Karena hidrasi asam sulfat secara termodinamika difavoritkan, asam sulfat adalah
zat pendehidrasi yang sangat baik dan digunakan untuk mengeringkan buah-buahan.
Afinitas asam sulfat terhadap air cukuplah kuat sedemikiannya ia akan memisahkan atom
hidrogen dan oksigen dari suatu senyawa. Sebagai contoh, mencampurkan pati
(C6H12O6)n dengan asam sulfat pekat akan menghasilkan karbon dan air yang terserap
dalam asam sulfat (yang akan mengencerkan asam sulfat):

(C6H12O6)n → 6n C + 6n H2O

Efek ini dapat dilihat ketika asam sulfat pekat diteteskan ke permukaan kertas.
Selulosa bereaksi dengan asam sulfat dan menghasilkan karbon yang akan terlihat seperti
efek pembakaran kertas. Reaksi yang lebih dramatis terjadi apabila asam sulfat
ditambahkan ke dalam satu sendok teh gula. Seketika ditambahkan, gula tersebut akan
menjadi karbon berpori-pori yang mengembang dan mengeluarkan aroma seperti
karamel.

Sebagai asam, asam sulfat bereaksi dengan kebanyakan basa, menghasilkan


garam sulfat. Sebagai contoh, garam tembaga tembaga(II) sulfat dibuat dari reaksi antara
tembaga(II) oksida dengan asam sulfat:

CuO + H2SO4 → CuSO4 + H2O

Asam sulfat juga dapat digunakan untuk mengasamkan garam dan menghasilkan
asam yang lebih lemah. Reaksi antara natrium asetat dengan asam sulfat akan
menghasilkan asam asetat, CH3COOH, dan natrium bisulfat:

H2SO4 + CH3COONa → NaHSO4 + CH3COOH

15
Hal yang sama juga berlaku apabila mereaksikan asam sulfat dengan kalium
nitrat. Reaksi ini akan menghasilkan asam nitrat dan endapat kalium bisulfat. Ketika
dikombinasikan dengan asam nitrat, asam sulfat berperilaku sebagai asam sekaligus zat
pendehidrasi, membentuk ion nitronium NO2+, yang penting dalam reaksi nitrasi yang
melibatkan substitusi aromatik elektrofilik. Reaksi jenis ini sangatlah penting dalam
kimia organik.

Asam sulfat bereaksi dengan kebanyakan logam via reaksi penggantian tunggal,
menghasilkan gas hidrogen dan logam sulfat. H2SO4 encer menyerang besi, aluminium,
seng, mangan, magnesium dan nikel. Namun reaksi dengan timah dan tembaga
memerlukan asam sulfat yang panas dan pekat. Timbal dan tungsten tidak bereaksi
dengan asam sulfat. Reaksi antara asam sulfat dengan logam biasanya akan menghasilkan
hidrogen seperti yang ditunjukkan pada persamaan di bawah ini. Namun reaksi dengan
timah akan menghasilkan sulfur dioksida daripada hidrogen.

Fe (s) + H2SO4 (aq) → H2 (g) + FeSO4 (aq)


Sn (s) + 2 H2SO4 (aq) → SnSO4 (aq) + 2 H2O (l) + SO2 (g)

Hal ini dikarenakan asam pekat panas umumnya berperan sebagai oksidator,
manakala asam encer berperan sebagai asam biasa. Sehingga ketika asam pekat panas
bereaksi dengan seng, timah, dan tembaga, ia akan menghasilkan garam, air dan sulfur
dioksida, manakahal asam encer yang beraksi dengan logam seperti seng akan
menghasilkan garam dan hidrogen.

Asam sulfat menjalani reaksi substitusi aromatik elektrofilik dengan senyawa-senyawa


aromatik, menghasilkan asam sulfonat terkait:

16
Asam sulfat merupakan komoditas kimia yang sangat penting, dan sebenarnya
pula, produksi asam sulfat suatu negara merupakan indikator yang baik terhadap
kekuatan industri negara tersebut. Kegunaan utama (60% dari total produksi di seluruh
dunia) asam sulfat adalah dalam "metode basah" produksi asam fosfat, yang digunakan
untuk membuat pupuk fosfat dan juga trinatrium fosfat untuk deterjen. Pada metode ini,
batuan fosfat digunakan dan diproses lebih dari 100 juta ton setiap tahunnya. Bahan-
bahan baku yang ditunjukkan pada persamaan di bawah ini merupakan fluorapatit,
walaupun komposisinya dapat bervariasi. Bahan baku ini kemudian diberi 93% asam
suflat untuk menghasilkan kalsium sulfat, hidrogen fluorida (HF), dan asam fosfat. HF
dipisahan sebagai asam fluorida. Proses keseluruhannya dapat ditulis:

Ca5F(PO4)3 + 5 H2SO4 + 10 H2O → 5 CaSO4•2 H2O + HF + 3 H3PO4

Asam sulfat digunakan dalam jumlah yang besar oleh industri besi dan baja untuk
menghilangkan oksidasi, karat, dan kerak air sebelum dijual ke industri otomobil. Asam
yang telah digunakan sering kali didaur ulang dalam kilang regenerasi asam bekas (Spent
Acid Regeneration (SAR) plant). Kilang ini membakar asam bekas dengan gas alam, gas
kilang, bahan bakar minyak, ataupun sumber bahan bakar lainnya. Proses pembakaran ini
akan menghasilkan gas sulfur dioksida (SO2) dan sulfur trioksida (SO3) yang kemudian
digunakan untuk membuat asam sulfat yang "baru".

Amonium sulfat, yang merupakan pupuk nitrogen yang penting, umumnya


diproduksi sebagai produk sampingan dari kilang pemroses kokas untuk produksi besi
dan baja. Mereaksikan amonia yang dihasilkan pada dekomposisi termal batu bara
dengan asam sulfat bekas mengijinkan amonia dikristalkan keluar sebagai garam (sering
kali berwarna coklat karena kontaminasi besi) dan dijual kepada industri agrokimia.

Kegunaan asam sulfat lainnya yang penting adalah untuk pembuatan aluminium
sulfat. Alumunium sulfat dapat bereaksi dengan sejumlah kecil sabun pada serat pulp
kertas untuk menghasilkan aluminium karboksilat yang membantu mengentalkan serat
pulp menjadi permukaan kertas yang keras. Aluminium sulfat juga digunakan untuk

17
membuat aluminium hidroksida. Aluminium sulfat dibuat dengan mereaksikan bauksit
dengan asam sulfat:

Al2O3 + 3 H2SO4 → Al2(SO4)3 + 3 H2O

Asam sulfat juga memiliki berbagai kegunaan di industri kimia. Sebagai contoh,
asam sulfat merupakan katalis asam yang umumnya digunakan untuk mengubah
sikloheksanonoksim menjadi kaprolaktam, yang digunakan untuk membuat nilon. Ia juga
digunakan untuk membuat asam klorida dari garam melalui proses Mannheim. Banyak
H2SO4 digunakan dalam pengilangan minyak bumi, contohnya sebagai katalis untuk
reaksi isobutana dengan isobutilena yang menghasilkan isooktana.

Tetesan 98% asam sulfat akan dengan segera membakar kertas tisu menjadi
karbon. Sifat-sifat asam sulfat yang korosif diperburuk oleh reaksi eksotermiknya dengan
air. Luka bakar akibat asam sulfat berpotensi lebih buruk daripada luka bakar akibat asam
kuat lainnya, hal ini dikarenakan adanya tambahan kerusakan jaringan dikarenakan
dehidrasi dan kerusakan termal sekunder akibat pelepasan panas oleh reaksi asam sulfat
dengan air.

Bahaya akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi asam


sulfat. Namun, bahkan asam sulfat encer (sekitar 1 M, 10%) akan dapat mendehidrasi
kertas apabila tetesan asam sulfat tersebut dibiarkan dalam waktu yang lama. Oleh
karenanya, larutan asam sulfat yang sama atau lebih dari 1,5 M diberi label
"CORROSIVE" (korosif), manakala larutan lebih besar dari 0,5 M dan lebih kecil dari
1,5 M diberi label "IRRITANT" (iritan). Asam sulfat berasap (oleum) tidaklah dianjurkan
untuk digunakan dalam sekolah oleh karena bahaya keselamatannya yang sangat tinggi.

Perawatan pertama yang standar dalam menangani tumpahnya asam sulfat ke


kulit adalah dengan membilas kulit tersebut dengan air sebanyak-banyaknya. Pembilasan
dilanjutkan selama 10 sampai 15 menit untuk mendinginkan jaringan disekitar luka bakar
asam dan untuk menghindari kerusakan sekunder. Pakaian yang terkontaminasi oleh
asam sulfat harulah dilepaskan dengan segera dan segera bilas kulit yang berkontak
dengan pakaian tersebut.

18
Pembuatan asam sulfat encer juga berbahaya oleh karena pelepasan panas selama
proses pengenceran. Asam sulfat pekat haruslah selalu ditambahkan ke air, dan bukannya
sebaliknya. Penambahan air ke asam sulfat pekat dapat menyebabkan tersebarnya aerosol
asam sulfat dan bahkan dapat menyebabkan ledakan. Pembuatan larutan lebih dari 6 M
(35%) adalah yang paling berbahaya, karena panas yang dihasilkan cukup panas untuk
mendidihkan asam encer tersebut.

Walaupun asam sulfat tidak mudah terbakar, kontak dengan logam dalam kasus
tumpahan asam dapat menyebabkan pelepasan gas hidrogen. Penyebaran aerosol asam
dan gas sulfur dioksida menambah bahaya kebakaran yang melibatkan asam sulfat.

Asam sulfat dianggap tidak beracun selain bahaya korosifnya. Resiko utama asam
sulfat adalah kontak dengan kulit yang menyebabkan luka bakar dan penghirupan aerosol
asap. Paparan dengan aerosol asam pada konsentrasi tinggi akan menyebabkan iritasi
mata, saluran pernafasan, dan membran mukosa yang parah. Iritasi akan mereda dengan
cepat setelah paparan, walaupun terdapat risiko edema paru apabila kerusakan jaringan
lebih parah. Pada konsentrasi rendah, simtom-simtom akibat paparan kronis aerosol asam
sulfat yang paling umumnya dilaporkan adalah pengikisan gigi. Indikasi kerusakan kronis
saluran pernafasan masih belum jelas. Di Amerika Serikat, batasan paparan yang
diperbolehkan ditetapkan sebagai 1 mg/m³. Terdapat pula laporan bahwa penelanan asam
sulfat menyebabkan defisiensi vitamin B12 dengan degenarasi gabungan subakut.

Perdagangan internasional asam sulfat dikontrol oleh Konvensi Perserikatan


Bangsa-Bangsa Tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika
tahun 1988, yang meletakkan asam sulfat di Tabel II konvensi tersebut sebagai bahan
kimia yang sering diguakan dalam produksi gelap narkotika ataupun psikotropika. Di
Indonesia, konvensi ini disahkan oleh Undang-Undang Dasar Nomor 7 Tahun 1997.

2.4. reaksi substitusi

Reaksi substitusi adalah reaksi penggantian atom senyawa hidrokarbon oleh atom
senyawa lain. Reaksi substitusi pada umumnya terjadi pada senyawa jenuh (alkana).
Alkana dapat mengalami reaksi substitusi dengan halogen.

19
Reaksi secara umum:

R-H + X2 R–X + H–X


Alkana halogen haloalkana asam klorida

Contoh:

CH3-CH3 (g) + Cl2 (g) CH3-CH2-Cl (g) + HCl (g)


Etana gas klor kloroetana asam klorida

20
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pembuatan nitro benzene

Benzen merupakan senyawa aromatik paling sederhana yang memiliki bau khas
dan memiliki rumus struktur C6H6. Benzen berwujud cair pada suhu kamar, sangat mudah
menguap, dan bersifat racun dan karsinogen, dan dapat merusak saluran pernafasan.
Benzen bersifat tidak reaktif, mudah terbakar, sukar mengalami reaksi adisi, tetapi mudah
mengalami reaksi substitusi.
Rumus struktur :

Benzen tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik seperti dietil eter,
karbon tetra klorida, atau heksana. Benzen sendiri digunakan secara meluas sebagai
pelarut. Benzen meleleh pada suhu 5,5 oC, sedangkan titik didihnya 80 oC. Benzen mudah
terbakar dan harus ditangani dengan hati-hati.
Reaksi yang paling umum pada senyawa aromatik ini adalah substitusi atom atau
gugus lain terhadap hidrogen pada cincin. Reaksi kebanyakan berlangsung pada suhu 0 –
50 oC. Nitrobenzen merupakan senyawa turunan benzen. Nitrobenzen dapat dibuat
dengan mereaksikan benzen dengan asam nitrat dengan bantuan asam sulfat pekat
sebagai katalisator. Reaksi tanpa katalis akan berjalan lambat. Katalis bertindak sebagai
asam lewis yang akan mengubah elektrofil lemah menjadi elektrofil kuat. Ion nitronium
(NO2+ dari HNO3) merupakan elektrofil pada proses ini. Adanya substituen lain pada
cincin aromatic sebelum dinitrasi dapat mempercepat reaksi dan ada juga yang
memperlambat reaksi. Substituen CH3 akan mempercepat reaksi, karena ia akan membuat
cincin lebih reaktif, sedangkan substituen Cl- dapat memperlambat nitrasi.
Nitrasi aromatic melalui 2 tahap, yaitu :
• Tahap 1 (Tahap lambat)
Serangan elektrofilik, dimana yang bertindak sebagai elektrofilnya adalah NO2+ .

21
• Tahap 2 (Tahap cepat)
Hasil serangan pertama berupa ion benzenonium yang mengalami pelepasan H+
dengan cepat. H+ ini bergabung dengan HSO4- menghasilkan kembali katalis H2SO4.
Rumus Struktur Nitrobenzen :

NO2

Rumus molekulnya : C6H5 - NO2

I. Manfaat Nitrobenzen dalam industri :


• Pembuatan aniline
• Bahan pokok industri celup
• Sebagai wangi-wangian sabun yang cukup murah harganya.

II. Alat-Alat Yang Digunakan


1. Labu didih leher 2
2. Labu destilasi
3. Pendingin Liebig
4. Erlenmeyer
5. Gelas piala
6. Corong pemisah
7. Gelas ukur
8. Thermometer

III. Bahan-Bahan Yang Digunakan


1. Benzen
2. Asam nitrat pekat
3. Asam sulfat pekat
4. Natrium karbonat
5. CaCl2 anhidrat

22
IV. Prosedur Percobaan
1. Ke dalam labu didih leher dua, masukkan 35 ml HNO3 pekat dan beberapa tetes
H2SO4 pekat sambil didinginkan dalam air. Lakukan penambahan dalam lemari
asam.
2. Masukkan 30 ml benzene sedikit demi sedikit, goyang terus sampai campuran
tercampur sempurna, tetap lakukan dalam air (suhu jangan naik).
3. Pasangkan pendingin refluk, panaskan sampai suhu 60 oC pada waterbath selama
45 menit sambil digoyang.
4. Tuangkan campuran reaksi ke dalam corong pemisah, kocok dengan kuat dan
hati-hati. Diamkan beberapa menit sampai terlihat dua lapisan.
5. Lapisan atas adalah nitrobenzene yang masih kotor. Lapisan bawah adalah sisa
asam. Pisahkan keduanya.
6. Cuci lapisan nitrobenzene dengan 100 ml aquades, kocok sebentar, lalu buang
lapisan airnya (sebelah bawah).
7. Cuci lapisan nitrobenzene dengan 50 ml Na2CO3 5 %.
8. Cuci lagi dengan 100 ml aquades, terakhir keringkan dengan 5 gram CaCl2
anhidrat.
9. Pisahkan campuran nitrobenzen dan kristal CaCl2.
10. Hitung volume nitrobenzene yang diperoleh.

V. Rangkaian Alat

23
Air Keluar

Air Keluar

Labu
Didih

Penangas
Air Gambar Unit Pembuatan Nitrobenzene
VI. Data Pengamatan
• 35 ml HNO3 (bening) + 10 tetes H2SO4  Larutan berwarna bening
Kemudian ditambahkan 30 ml benzene  Larutan tetap bening
• Larutan kemudian dipanaskan pada suhu 60 oC selama 45 menit dalam penangas
air. Larutan berwarna kuning bening.
• Larutan dimasukkan dalam corong pemisah dan terdapat 2 lapisan. Lapisan
bawah merupakan sisa asam (dibuang), dan lapisan atas merupakan nitrobenzen
yang masih kotor.
• Lapisan atas (nitrobenzen) tersebut dicuci dengan aquades 100 ml dan terbentuk 2
lapisan, yaitu lapisan bawah (aquades) dan lapisan atas (nitrobenzen).
• Lapisan atas tersebut dicuci dengan 50 ml Na2CO3 5 %, terbentuk 2 lapisan, yaitu
lapisan bawah Na2CO3 5 % (dibuang), dan lapisan atas merupakan nitrobenzene.
• Lapisan atas tersebut dicuci dengan aquades 100 ml, terbentuk 2 lapisan, yaitu
lapisan bawah aquades (dibuang), dan lapisan atas nitrobenzen.
• Lapisan atas terakhir tsb dikeringkan dengan 5 gram CaCl2 anhidrat untuk
mengikat sisa-sisa air pada nitrobenzene.
• Volume nitrobenzen yang diperoleh : 20 ml berwarna kuning bening.

VII. Reaksi – Reaksi


NO2
H2SO4

24
+ HNO3 + HO
o
50 C

NO2+ H+

Lambat Cepat

Benzen Ion benzenonium Nitrobenzen

VIII. Hasil / Perhitungan

Volum nitrobenzene yang dihasilkan sebanyak 20 ml.

IX. Pembahasan
• Pada saat mereaksikan benzene pada campuran HNO3 dengan H2SO4, sambil
digoyang agar campuran homogen dan dilakukan dalam ember berisi air agar
suhu tetap terjaga dan tidak terjadi penguapan.
• Nitrobenzene yang masih kotor dicuci dengan aquades sehingga dihasilkan warna
kuning bening.
• Campuran reaksi yang dimasukkan dalam corong pemisah dikocok dengan kuat,
fungsinya untuk mendapat campuran yang homogen.
• Perbedaan lapisan yang terbentuk antara nitrobenzene dan asam, diakibatkan
karena perbedaan berat jenisnya. Berat jenis asam lebih besar dari pada berat jenis
benzene.
• Pencucian dengan aquades berfungsi mengikat pengotor yang mungkin masih
terikat dari pereaksi atau pelarut.
• Setelah nitrobenzene dicuci dengan aquades, dicuci lagi dengan natrium
bikarbonat, menghasilkan warna kuning bening.
• Nitrobenzene yang dihasilkan dikeringkan dengan kalsium klorida anhidrat,
sehingga dihasilkan nitrobenzene murni.

25
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
• Benzene akan mengalami nitrasi bila direaksikan dengan HNO3 pekat dengan
menggunakan katalisator H2SO4 pekat.
• Nitrasi aromatic berupa reaksi dua tahap. Tahap pertama (tahap lambat) adalah
serangan elektrofilik. Dalam nitrasi, elektrofiliknya adalah NO2+. Tahap kedua
adalah hasil serangan pertama berupa ion benzenonium yang mengalami
pelepasan H+ dengan cepat.
• Katalis adalah zat yang mempercepat laju reaksi. Dalam hal ini digunakan asam
sulfat pekat, selain sebagai katalis juga bermanfaat untuk bereaksi dengan basa
(HNO3) membentuk NO2+.
• Lapisan nitrobenzene kotor dicuci dengan aquades dan natriumbikarbonat agar
dihasilkan nitrobenzene yang lebih bersih.
• Pengeringan dilakukan dengan kalsium klorida anhidrat karena kalsium klorida
anhidrat akan mengikat air dan melepaskannya melalui penguapan sehingga
dihasilkan nitrobenzene murni.

26
Daftar Pustaka

http://majarimagazine.com/2009/06/a-look-at-common-industrial-chemicals/

http://www.chem-is-
try.org/materi_kimia/mekanisme_reaksi_organik/substitusi_elektrofilik1/nitrasi_dari_
benzen/

http://www.chem-is-
try.org/materi_kimia/kimia_organik_dasar/konvensi_pada_kimia_organik/penamaan_
senyawa_aromatis/

Hs. Irdhoni, Nirwana. Hz, 2009, Modul pratikum Kimia Organik, Fakultas Teknik
Universitas Riau, Pekanbaru.

27
28