Anda di halaman 1dari 16

PENGENDALIAN MUTU RUMAH SAKIT

Senin, 08 Agustus 2011 oleh. Administrator


Hits : 11883 Share :
Mutu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh ada tidaknya kritikan dan keluhan dari
pasiennya, lembaga sosial atau sadaya masyarakat dan bahkan pemerintah sekalipun. Mutu
akan diu!udkan !ika telah ada dan berakhirnya interaksi antara penerima pelayanan dan
pemberi pelayanan. "ika pemerintah yang menyampaikan kritikan ini dapat berarti baha
masyarakat mendapatkan legalitas baha memang benar mutu pelayanan kesehatan harus
diperbaiki. Mengukur mutu pelayanan dapat dilakukan dengan melihat indikator#indikator
mutu pelayanan rumahsakit yang ada di beberapa kebi!akan pemerintah, sudahkan kita
mengetahuinya. Analisa indikator akan mengantarkan kita bagaimana sebenarnya kualitas
mana!emen input, mana!emen proses dan output dari proses pelayanan kesehatan se$ara
mikro maupun makro.
%ari de&inisi, 'umahsakit menurut (H) *+pert ,ommittee )n )rgani-ation )& Medi$al
,are: .is an integral part o& so$ial and medi$al organi-ation, the &un$tion o& hi$h is to
pro/ide &or the population $omplete health $are, both $urati/e and pre/enti/e and hose
outpatient ser/i$e rea$h out to the &amily and its home en/ironment0 the hospital is also a
$entre &or the training o& health orkers and &or bioso$ial resear$h1, yang dalam bahasa
2ndonesianya !ika diter!emahkan se$ara bebas dapat berarti: suatu bagian menyeluruh dari
organisasi dan medis, ber&ungsi memberikan pelayanan kesehatan lengkap kepada
masyarakat baik kurati& maupun rehabilitati&, dimana output layanannya men!angkau
pelayanan keluarga dan lingkungan, rumah sakit !uga merupakan pusat pelatihan tenaga
kesehatan serta untuk penelitian biososial.
%e&inisi rumah sakit menurut 3eputusan Menteri 'epublik 2ndonesia nomor
483.M*53*S6S361442 mengenai pedoman rumah sakit umum dinyatakan baha: 1'umah
Sakit 7mum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersi&at dasar,
spesialistik dan pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan1. Sementara itu menurut Siregar
820039 menyatakan baha rumah sakit adalah suatu organisasi yang kompleks, menggunakan
gabungan ilmiah khusus dan rumit, dan di&ungsikan oleh berbagai kesatuan personel terlatih
dan terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah medik modern, yang semuanya
terikat bersama#sama dalam maksud yang sama, untuk pemulihan dan pemeliharaan
kesehatan yang baik.
%e&inisi rumahsakit ini di setiap peraturan daerah pada umumnya sama, hanya sa!a terdapat
perbedaan pada tugas pokoknya, yang diantaranya adalah: luas tidaknya lingkup spesialistik
yang dimiliki, kekhususan menyertainya dengan adanya rumah sakit yang dibina dir!en
yanmed %pekes '2 yang se$ara &isik berada di daerah kabupaten, kota ataupun di pro/insi.
:erikut merupakan tugas sekaligus &ungsi dari rumah sakit se$ara lengkap, yaitu:
Melaksanakan pelayanan medis, pelayanan penun!ang medis,
Melaksanakan pelayanan medis tambahan, pelayanan penun!ang medis tambahan,
Melaksanakan pelayanan kedokteran kehakiman,
Melaksanakan pelayanan medis khusus,
Melaksanakan pelayanan ru!ukan kesehatan,
Melaksanakan pelayanan kedokteran gigi,
Melaksanakan pelayanan kedokteran sosial,
Melaksanakan pelayanan penyuluhan kesehatan,
Melaksanakan pelayanan raat !alan atau raat darurat dan raat tinggal 8obser/asi9,
Melaksanakan pelayanan raat inap,
Melaksanakan pelayanan administrati&,
Melaksanakan pendidikan para medis,
Membantu pendidikan tenaga medis umum,
Membantu pendidikan tenaga medis spesialis,
Membantu penelitian dan pengembangan kesehatan,
Membantu kegiatan penyelidikan epidemiologi,
;ugas dan &ungsi ini berhubungan dengan kelas dan type rumah sakit yang di 2ndonesia
terdiri dari rumah sakit umum dan rumah sakit khusus, kelas .a, b, $, d1. berbentuk badan dan
sebagai unit pelaksana teknis daerah. <erubahan kelas rumah sakit dapat sa!a ter!adi
sehubungan dengan turunnya kiner!a rumahsakit yang ditetapkan oleh Menteri 3esehatan
2ndonesia melalui 3eputusan %ir!en =an Medik.
%ari Sumberdaya 3esehatan yang ada di rumahsakit:
819 ;enaga kesehatan terdiri dari :
tenaga medis0
tenaga keperaatan0
tenaga ke&armasian0
tenaga kesehatan masyarakat0
tenaga gi-i0
tenaga keterapian &isik0
tenaga keteknisian medis.
829 ;enaga medis meliputi dokter dan dokter gigi.
839 ;enaga keperaatan meliputi peraat dan bidan.
8>9 ;enaga ke&armasian meliputi apoteker, analis &armasi dan asisten apoteker.
8?9 ;enaga kesehatan masyarakat meliputi epidemiolog kesehatan, entomolog kesehatan,
mikrobiolog kesehatan, penyuluh kesehatan, administrator kesehatan dan sanitarian.
8@9 ;enaga gi-i meliputi nutrisionis dan dietisien.
8A9 ;enaga keterapian &isik meliputi &isioterapis, okupasiterapis dan terapis i$ara.
889 ;enaga keteknisian medis meliputi radiogra&er, radioterapis, teknisi gigi, teknisi
elektromedis, analis kesehatan, re&raksionis optisien, otorik prostetik, teknisi trans&usi dan
perekam medis.
Sebagai unsur mana!emen, sumber daya manusia kesehatan yang dimiliki oleh rumahsakit
akan mempengaruhi di&erensiasi dan kualitas pelayanan kesehatan, keterbatasan
keanekaragaman !enis tenaga kesehatan akan menghasilkan kiner!a rumahsakit dalam
pen$apaian indikator mutu pelayanan rumahsakit. 3ekhususan ini sangatlah tidak mungkin
dimana!emeni se$ara umum, karena S%M kesehatan adalah S%M &ungsional yang kepadanya
melekat &ungsi pro&esi berdasarkan latar belakang pendidikan kesehatannya.
%ari Struktur )rganisasi %aerah: rumahsakit dapat berdiri dengan legalitas dan ilegal karena
ada rumahsakit dengan i!in penyelenggaraan dan tidak ada i!in, rumahsakit dapat merupakan
unit pelaksana teknis dinas dan atau sebagai institusi yang bertanggung!aab kepada bupati
dan atau rumahsakit /ertikal yang ada di daerah. 3ondisi ini akan berhubungan dengan
kemapanan dukungan kebi!akan dan dukungan anggaran yang pada akhirnya berdampak pada
kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
<ada kebanyakan daerah di 2ndonesia, rumahsakit daerah di!adikan sumber pendapatan
daerah dan dalam laporan pertangggung!aaban pemerintah daerah keberhasilan $apaian
indikator pelayanan kesehatan rumahsakit !arang dan bahkan tidak pernah di!adikan data
atau in&ormasi dalam penyusunan peren$anaan dan penyusunan kebi!akan, biasanya hanya
dilaporkan sebagai hasil dari akumulasi seluruh indikator, yang sebenarnya satu indikator
gagal dapat menyebabkan perubahan penilaian kiner!a. Hal ini dikarenakan adanya indikator
/ital dalam proses dan atau dalam output sistem pelayanan kesehatan. Sebagai $ontoh:
peningkatan penerimaan daerah dari retribusi pelayanan kesehatan akan tidak ada artinya
apa#apa !ika $akupan angka ru!ukan ke rumahsakit /ertikal atau ke kabupaten lain lebih
tinggi dari angka kun!ungan 7B% rumahsakit yang bersangkutan atau angka pasien raat
inap kelas 222.
'umahsakit dengan angka ru!ukan yang !umlahnya mendekati setengah dari !umlah
kun!ungan patut dipertanyakan, !aabannya akan berhubungan dengan ketersediaan
sumberdaya manusia kesehatan dan kualitasnya. Ada apa dengan kompetensi mereka dalam
memberikan pelayanan, bagaimana komunikasi dan mana!emennya dilakukan di rumahsakit
tersebut.
%apat ditambahkan lagi dengan adanya permasalahan kelembagaan, dimana ada kotak
kelompok tenaga &ungsional dalam bagan struktur organisasi tidak ada isinya dan tidak ada
koordinasinya. "ika kelompok ini ada maka tenaga &ungsional tersebut dapat di!adikan media
in&ormasi guna penyusunan kebi!akan yang a!eg dan mumpuni se$ara keilmuan. 3eberadaan
resident tanpa pengaasan satuan pengaas internal rumahsakit dapat dipersepsikan berbagai
rupa oleh masyarakat dengan latar belakang pengalaman dan pengetahuan yang berbeda#
beda, kenapa tidak, karena merekakan sedang dalam pendalaman ilmu kedokteran, tetapi !ika
tak ada rotan maka akarpun !adilah sehingga kualitas yang diharapkan belum tentu dapat
dinikmati sebagai akhir dari pelayanan yang bermutu.
:eperapa peraturan daerah diimplementasikan dengan tidak paripurna, karena apa, karena
yang diperlukan hanya pe!abat struktural yang mengepalai beberapa bidang dan bagian,
sedangkan komite medik0 komite keperaatan0 komite rekam medik0 satuan pengaas
internal0 dan kelompok &ungsional tidak dilantik oleh bupati kepala daerah padahal struktur
organisasi rumah sakit sudah men!elaskannya, mungkin berhubungan dengan ketidak tahuan
dan ketidak mampuan membayar atau belum ada dasar hukumnya 8padahal peraturan
pemerintah sudah men!elaskan hal itu9
%ari Mana!emen Cintas <rogram dan Cintas Sektor
'umahsakit sebagai pintu gerbang dan unsur /ital dalam penilaian adipura, di banyak daerah
rumahsakit daerah sebagai penghasil pendapatan asli daerah terbesar. Sesuatu yang riskan
!ika <A% di!adikan ukuran keberhasilan pelayanan kesehatan karena nominal <A% adalah
rupiah yang dibayarkan pasien, rasionalitasnya !ika makin banyak penerimaan berarti makin
banyak masyarakat yang menggunakan &asilitas sumberdaya di rumah sakit, makin banyak
masyarakat yang menggunakan berarti masih ada masyarakat yang sakit, masih adanya
masyarakat yang sakit berarti dera!at kesehatan masyarakat belum optimal, untuk
pembuktiannya diperlukan analisa lebih lan!ut, tentang bagaimana dan seterusnya masyarakat
di rumahsakit tersebut. Ada item rupiah yang bisa dirin$i !umlahnya dari pola tari& yang ada.
Apa yang mereka bayar dari pelayanan yang mereka terima dapat men$erminkan tingkatan
kesehatan masyarakat tersebut. *pidemiolog dapat menyampaikan laporan ini !ika
dibutuhkan. Hanya tinggal lagi epidemiolognya berpihak kepada siapa.
Ada beberapa instansi yang memiliki keterkaitan dengan rumahsakit daerah, dan itu dalam
penyusunan program kegiatan dan anggaran rasanya belum pernah ada yang duduk bersama
menyatukan pernyataan dan kesimpulan. Sesuatu yang aneh memang. Sebagai $ontoh:
3ebi!akan berobat gratis, da&tar nama keluarga dan anggotanya bersumber dari :33:5,
bukan dari ';#'( dan Cingkungan, bersumber dari oknum pegaai di tingkatan tersebut,
dan dalam data base saat per!alanannya rumahsakit harus memberikan pelayanan seperti yang
diharapkan mereka, bukan berdasarkan kemampuan yang dapat diberikan oleh rumahsakit,
mengapa karena ada pasien yang berobat dari keluarga miskin yang benar#benar miskin
dengan nama yang tak ada dalam data base yang diberikan oleh pemerintah, bermun$ullanlah
pahlaan dengan pamrih disini, dan mereka yang berobat dengan &asilitas kartu miskin saat
akan diraat minta diraat dengan &asilitas D2<. %unia pelayanan kesehatan semakin hitam
!adinya.
%ari Akreditasi 'umahsakit, rumahsakit terkareditasi ? 8lima9 pelayanan, 8 8delapan9
pelayanan dan 13 8tiga belas9 pelayanan. 'umahsakit dengan standar 2S) 1>000 dan 2S)
2000, dan kelompok rumahsakit yang belum terakreditasi dan atau yang belum terstandar.
%epartemen kesehatan dengan 3omite Akreditasi 'umahsakit terus berupaya agar semua
rumah sakit daerah harus terakreditasi minimal ? 8lima9 pelayanan, yaitu:
819 <elayanan Baat %arurat,
829 <elayanan Medik,
839 <elayanan Administrasi,
8>9 <elayanan 3eperaatan dan
8?9 <elayanan 'ekam Medik
;u!uan pemerintah dengan akreditasi ini adalah untuk: agar kualitas pelayanan diintegrasikan
dan dibudayakan ke dalam sistem pelayanan di rumah sakit. 'S %aerah didukung anggaran
belum !uga mampu menyelesaikan proyek ini, karena apa, !aabnya dapat bersumber dari
kualitas dan kuantitas sumber daya yang ada di rumahsakit tersebut, <ernyataan !elasnya
adalah sumberdaya manusia kesehatan yang ada di rumahsakit tersebut. <e!abat dengan latar
belakang pendidikan dan pengalaman yang sedikitpun tidak menun!ang dipilih untuk
memimpin roda proses pelaksanaan tugas pokok dan &ungsi organisasi rumahsakit, menurut
beberapa pengamat adalah sangat tidak masuk akal !ika tidak ingin dianggap aneh.
<roses akreditasi telah berlangsung hampir lebih dari ? 8lima9 tahun, tetapi nyatanya budaya
akreditasi belum sama sekali mendarah daging di institusi 'S. Ada apa,EF <ertanyaan yang
seharusnya di!aab dengan lintas sektor dan lintas program, bukan hanya oleh masyarakat
rumahsakit, tetapi bagaimanapun !uga S%M rumahsakit harus terlebih dahulu men!aabnya
dengan pernyataan yang diikuti oleh sikap yang terakreditasi pula.
%ari %ukungan 3ebi!akan
5ah ini yang lebih perlu mendapat perhatian, begitu banyak peraturan daerah disusun dengan
$ara studi banding, di$opi dan dipastekan kemudian diedit agar men!adi sesuai dengan
keadaan riel daerah. Masih belum terlihat !ia pemiliknya dalam peraturan ini. <edoman
umum mengenai persentase anggaran kesehatan dari total anggaran daerah masih perlu
dipertanyakan lebih lan!ut lagi, masih perlu dianalisa dan disikapi dengan !alinan koordinasi
dan pengaasan yang komprehensi&. Menurut 'usli, anggaran e&ekti& !ika rasio antara
pembiayaan dan penerimaan berkisar 0,1G, sebenarnya tidak berlaku di institusi pelayanan
rumahsakit, karena rumahsakit daerah bukan badan pro&it, tetapi lembaga non pro&it.
3ema!uan pertumbuhan dan pengembangan rumahsakit men!adikan rumahsakit sebagai
lembaga pro&it tetapi tidak meninggalkan unsur sosialnya telah mengubah persepsi sumber
daya manusia kesehatan dari non material men!adi sangat material, karena disini setiap
peker!aan yang diker!akan dan yang seharusnya diker!akan bukan lagi berdasarkan panggilan
hati nurani, bukan lagi panggilan pro&esi, tetapi telah bergeser men!adi panggilan pemenuhan
kebutuhan ekonomi. "ika ini berlan!ut dapat dibayangkan bagaimana pemenuhan hak pokok
masyarakat sebagai pasien !ika mereka tidak mampu membayar.
<eruntukan anggaran tentu membutuhkan kebi!akan paripurna yang proporsional, kalau
tigaperempat anggarannya hanya untuk &isik, kapan S%M kesehatannya mau manggung
dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
%ari mutu pelayanan kesehatan.
Mutu <elayanan 3esehatan yang mengemuka sebagai panglima program unggulan %epkes
dengan nama Huality Assuran$e 8HA, !aminan mutu9 pada tahun 144@, pihak 2nstitusi
pelayanan kesehatan6rumahsakit sebagai 8lagi#lagi9 pihak pelaksana, dibuat terperangah oleh
program tersebut. Sebagai suatu pernyataan akhir dari sebuat proses pelayanan kesehatan.
Sebagai sebuah proses, pelayanan kesehatan dapat berbentuk makro dan berbentuk mikro.
3edua bentuk ini saling bersimbiose mutalisme dalam sebuah sistem.
:erbagai de&inisi mutu yang dikaitkan dengan patient sa&ety selan!utnya dia!ukan, dan salah
satu de&inisi yang umum digunakan antara lain menyebutkan baha mutu pelayanan
kesehatan adalah .tingkat di mana pelayanan kesehatan untuk indi/idu maupun populasi
mampu menghasilkan out$ome pelayanan sesuai dengan yang diharapkan dan konsisten
dengan pengetahuan pro&esional terkini1 82)M, 20019. 5amun demikian mengingat de&inisi
tersebut dianggap terlalu luas, berbagai peneliti telah men$oba mengembangkannya untuk
men!amin agar pengukuran mutu pelayanan kesehatan lebih spesi&ik. Salah satunya adalah
yang dia!ukan oleh %onabedian 814809, yaitu berpedoman pada struktur, proses, dan
out$ome. Sementara itu the 2)M 814449 dan 5ational Health Ser/i$e menggunakan konsep
mutu pelayanan kesehatan dalam @ aspek, yaitu sa&ety, e&&e$ti/eness, timeliness, e&&i$ien$y,
eIuity, dan patient aareness.
,hassin mengusulkan metode lain yang menekankan pada 3 area utama, yaitu under use, o/er
use, dan misuse o& health $are ser/i$es. 7nder use dide&inisikan sebagai kegagalan untuk
memberikan pelayanan yang e&ekti& padahal !ika dilakukan dapat menghasilkan out$ome
yang diharapkan 8misalnya tidak memberikan imunisasi atau gagal untuk melakukan bedah
katarak9. %isebut o/eruse apabila pelayanan kesehatan yang dilakukan ternyata memberi
dampak risiko yang lebih besar daripada potensi man&aat yang dapat ditimbulkan 8misalnya
memberikan antibiotika untuk kasus#kasus $ommon $old9. Sedangkan misuse dide&inisikan
sebagai komplikasi yang sebenarnya dapat dihindari !ika pelayanan kesehatan dilakukan
se$ara seksama.
%ari beberapa konsep tersebut kemudian dikembangkan se!umlah indikator untuk
mengkuanti&ikasikan mutu pelayanan kesehatan. Salah satunya adalah indikator mutu
pelayanan yang disusun oleh A,HS yang merupakan instrumen untuk mengidenti&ikasi area
pelayanan kesehatan yang masih memerlukan perbaikan se$ara &undamental. %engan metode
kuanti&ikasi ini selan!utnya dapat dilakukan analisis statistik untuk menilai area#area
pelayanan yang dianggap memiliki de&isiensi dalam menghasilkan out$ome yang diharapkan.
7paya yang sama !uga dilakukan oleh ;he Agen$y &or Health$are 'esear$h and Huality
8AH'H9 yang mengembangkan beberapa indikator yaitu <re/ention Huality 2ndi$ators,
2npatient Huality 2ndi$ators, dan <atient Sa&ety 2ndi$ators 8<S2s9.
;etapi sebagai institusi baahan %epkes, lagi#lagi 2nstitusi pelayanan kesehatan6rumahsakit
berada di posisi tak berdaya dan lagi#lagi hanyalah sebagai terminal akhir pembuangan dan
berposisi layaknya sandal !epit. Mungkin %epkes lupa baha para dokter yang ada di
2nstitusi pelayanan kesehatan6rumahsakit adalah seorang sar!ana !uga seperti halnya para
petinggi %epkes. Cupa mungkin karena tampilan dokter institusi pelayanan
kesehatan6rumahsakit yang tak pernah berdasi dan naik kendaraan dinas apa adanya kala
tugas, tidak seperti teman#temannya di %epkes yang sebagian diantaranya berdasi dan naik
mobil dinas mulus#mulus dan baru#baru.
Mungkin ini !alan keluar, Hidup sehat merupakan kebutuhan utama 8primer9 setiap orang.
)leh karenanya, hak atas pelayanan kesehatan adalah bagian dari hak asasi manusia 8HAM9.
%alam hal ini, pemerintah dan praktisi kesehatan masyarakat bertanggung !aab untuk
berupaya merealisasikan adanya kebi!akan yang lebih baik, sistem yang berkualitas, dana
yang $ukup, &asilitas dan tenaga medis yang memadai guna men!amin terlaksananya program
kesehatan masyarakat.
<elayanan yang baik dan memuaskan bisa diu!udkan se$ara bersama antara pengguna !asa
pelayanan dan petugas kesehatan. Artinya, kritik, $omplain maupun keluhan konsumen
semestinya tidak diartikan sebagai serangan, tetapi diterima sebagai koreksi terhadap $ara
berpikir dan $ara melayani konsumen. %ari keluhan konsumen, petugas kesehatan dapat
mengetahui keinginan konsumen dan kekurangan yang dimilikinya. 5amun, kondisi ini harus
disertai pula dengan perbaikan pada aspek kebi!akan dan mana!emen. Sehubungan dengan
hal ini, ada beberapa kondisi yang tampak dalam pelayanan kesehatan.
Jasilitas kesehatan 8&ormal9 yang tersedia masih relati& baru, dan belum mengakar atau
belum dirasakan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, tetapi tidak tersedia standar
Iuality o& $are yang berbasis konsumen. Sebaliknya, masyarakat memiliki sistem pengobatan
atau pengetahuan mengenai peraatan kesehatan 8biomedis9, yang relati& berakar dari tradisi
dan kebudayaan mereka. 3ondisi budaya ini di satu sisi men!adi kendala dalam pelayanan
medis, di sisi lain mampu memenuhi kebutuhan masyarakat se$ara murah dan mudah.
3e$enderungan perilaku para praktisi medis yang tidak mempertimbangkan proses#proses
komunikasi atau pertukaran in&ormasi, dan interaksi sosial yang saling menguntungkan.
'osalia S$iortino dalam .Menu!u 3esehatan Madani1 81444:A89 menyebut adanya
.konstruksi rahasia1 yang dipertahankan petugas kesehatan.
<ada umumnya konsumen sebagai pengguna !asa kesehatan seperti pasien, klien tidak
menyadari baha mereka memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang memuaskan.
Artinya, seorang pasien berhak untuk mempertanyakan pelayanan dokter yang dirasakannya
tidak !elas, bahkan memberatkan konsumen itu sendiri.
Memahami Hak dan 3ea!iban 3onsumen
%alam berbagai kesempatan diskusi dengan kelompok konsumen, pertanyaan yang sering
mun$ul adalah apa sa!a hak#hak konsumen dalam pelayanan kesehatan, bagaimana sebaiknya
pelayanan yang berkualitasF
<ertama#tama perlu ditegaskan baha istilah konsumen dalam pelayanan kesehatan
men$akup pengertian mereka yang menerima pelayanan !asa maupun obat#obatan dari
petugas kesehatan 8paramedis, bidan, dokter9, yang se$ara khusus disebut klien, pasien.
Sedangkan yang dimaksud pelayanan yang berkualitas biasanya menga$u pada pengertian
Huality o& ,are atau standar pelayanan yang berkualitas, yakni pelayanan yang menghormati
hak#hak konsumen. Setiap konsumen memiliki hak yang dilindungi undang#undang. Sebagai
pasien, konsumen berhak:
Mendapatkan in&ormasi yang dapat dipahaminya mengenai penyakit yang diderita, $ara
pengobatan, prosedur peraatan, e&ek samping pengobatan, kelebihan maupun kekurangan
pengobatan, biaya, pendapat dari petugas kesehatan lainnya, hal#hal dirahasiakan, $atatan
medis petugas kesehatan, dan i-in persetu!uan pasien bila ingin akan dioperasi.
Memperoleh rasa aman dari semua proses pelayanan, dan !aminan
keamanan6keselamatannya.
Mendapatkan ganti rugi apabila ter!adi malpraktek yang dilakukan petugas kesehatan.
,ontoh aktual adalah bayi yang dilahirkan $a$at 8tanpa tangan9 di 'S7% :ayu Asih
<urakarta 83ompas, 2@ "uni 144A9. )rang tua bayi itu menuduh pihak 'S, dalam hal ini
bidan, karena ke$erobohan dalam pelayanannya, telah menyebabkan anak mereka $a$at
seumur hidup. 3asus ini kemudian dibaa ke pengadilan dengan tuntutan 1 milyar rupiah,
meskipun akhirnya ditempuh !alan damai dengan ganti rugi 2? !uta rupiah.
Memilih tempat pelayanan yang diinginkannya, membatalkan persetu!uan seaktu#aktu,
dan !ika dianggap perlu, ia menolak suatu metode pengobatan atau tindakan medis tertentu.
Sebagai pasien, konsumen memiliki kea!iban, yaitu:
Mengetahui se!arah atau riayat pengobatannya0
Menepati !an!i dengan petugas kesehatan0
:ersedia beker!a sama dan mematuhi peraatan yang diberikan0
Memberitahu petugas kesehatan !ika ia menerima peraatan dari dokter yang lain0
"ika menggunakan !asa asuransi, ia berkea!iban mengetahui apa yang dapat atau tidak
dapat diatasi oleh perusahaan asuransi.
3ebanyakan konsumen !uga petugas kesehatan tidak mengetahui hak#hak dan kea!iban
konsumen. Hanya sebagian ke$il konsumen menyadari hak#haknya, tetapi tidak merasa
per$aya diri untuk mengemukakannya di tenpat pemeriksaan. Sebaliknya, petugas kesehatan
yang mengerti hak#hak konsumen tidak mau peduli. :anyak alasan yang seringkali
dikemukakan, misalnya keterbatasan petugas dan &asilitas tidak memadai, yang tidak
seimbang dengan banyaknya pasien yang berkun!ung setiap hari ker!a. :ahkan petugas
kesehatan menyadari baha masyarakat tidak mengerti $ara hidup sehat, tidak disiplin, dan
seterusnya. <adahal masyarakat tidak pernah bela!ar di sekolah kesehatan.
%ari persoalan ini sebenarnya tuntutan akan pelayanan kesehatan yang memuaskan
8berkualitas9 semakin kompleks. 5amun harus diyakini baha ukuran kepuasan tidak bisa
bertolak dari kepentingan indi/idu sa!a karena kepuasan indi/idual tidak ada batasnya.
7kuran standar yang bisa di!adikan pedoman adalah kebutuhan orang banyak yang selama ini
sudah dibakukan, misalnya oleh 2<<J 82nternational <lanned <arenthood Jederation9,
organisasi 3: dunia, yang merumuskan 10 hak#hak klien 3: antara lain: hak atas in&ormasi,
menentukan pilihan, mendapatkan pelayanan kapan dan di mana sa!a 8akses9, hak atas
keamanan, kenyamanan, kerahasiaan, hak menga!ukan protes 8berpendapat9, dan kemudian
ditambahkan oleh =C32 dan <3:20 hak ganti rugi. )leh sebab itu, proses pen$apaian
pelayanan yang memuaskan tidak bisa tidak melibatkan orang banyak. 3onsumen dan
pengelola pelayanan kesehatan bisa bersama#sama merumuskan standar pelayanan yang
berkualitas 8Iuality o& $are9, di tingkat desa sekalipun.
:ertolak dari .Huality o& ,are1
3onsep Iuality o& $are adalah istilah yang digunakan se$ara luas dalam pelayanan kesehatan,
yang dapat dipandang dari pro/ider 8penyedia !asa9 dan klien 8konsumen9. %ari sisi pro/ider,
standar Iuality o& $are di 2ndonesia belum !elas. 3onsep ini biasanya diru!uk pada prinsip#
prinsip mana!emen pengaasan kualitas terhadap &asilitas pelayanan kesehatan umum, yakni
penyediaan pelayanan kesehatan yang terus menerus memperbaiki diri dengan
memperhatikan kebutuhan dan tuntutan pasien, dokter, petugas, dan komunitas setempat.
%asarnya adalah .problem sol/ing1, yaitu pemantauan masalah dan men$ari !alan keluar
dengan memperbaiki akar masalah se$ara berkelan!utan 8;he <opulation ,oun$il, 144>9.
%ari sisi klien, ukuran standar pelayanan $ukup !elas, yakni menga$u pada pemenuhan hak#
hak pasien, atau hak#hak klien kesehatan reproduksi, atau pun hak#hak konsumen
sebagaimana yang diatur dalam 77<3 5o. 8 5o. 1444, <asal >.
7kuran pen$apaian pelayanan kesehatan selama ini lebih berorientasi pada pen$apaian target
sarana pelayanan dan penerima layanannya. Be!ala seperti ini terutama ter!adi di tingkat
pelayanan kesehatan dasar di pedesaan, dan pinggiran kota. Aspek pemenuhan kualitas
kesehatan, tanggung !aab sosial, dan pembela!aran kesehatan bagi pengguna 8konsumen9
terabaikan. 3onsumen tidak memperoleh man&aat yang optimal dari pelayanan kesehatan.
<ada tahun 1440, "udith :ru$e dari <opulation ,oun$il menempatkan enam elemen dasar
yang kemudian dikenal dengan .:ru$e Jrameork1 dan men!adi sumber utama bagi
penelitian mengenai kualitas pelayanan 3: dan kesehatan reproduksi dari sisi tenaga
kesehatan.
<ilihan terhadap Metode Cayanan. Setiap metode layanan 83:9 tersedia bagi perempuan
dan laki#laki yang ingin meren$anakan keluarganya.
2n&ormasi untuk 3lien. 2n&ormasi yang berkualitas dapat berdampak pada bagaimana klien
menggunakan metode kontrasepsi. 2n&ormasi yang diberikan harus berisi pula in&ormasi
mengenai tiap metode, $ara penggunaan metode, dan e&ek sampingnya.
3eterampilan ;eknis. Mempertahankan kondisi asepti$, men!alankan protokol 8aturan9 dan
sta& yang kompeten melakukan teknis klinik.
Hubungan Antarpribadi. :agaimana klien berinteraksi dengan tenaga kesehatan, apakah
$ukup simpatik dan $ukup aktu untuk bertemu dengan kliennya.
Mekanisme untuk Mendorong 3eberlan!utan. 3lien dapat didorong meneruskan
penggunaan kontrasepsi yang e&ekti& melalui berbagai $ara, termasuk kartu untuk
mengingatkan dan kun!ungan rumah.
<elayanan yang ;erpadu. 3lien memerlukan pelayanan yang nyaman dan terpadu.
Misalnya, pelayanan 3: terpadu dengan pelayanan kesehatan ibu dan anak, pelayanan pas$a
persalinan, dan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya.
"adi, strategi dasar yang penting dilakukan akti&is organisasi konsumen yang melakukan
pendampingan konsumen kesehatan adalah dengan memperkuat pengorganisasian dan
pendidikan kritis bagi kelompok#kelompok konsumen yang rentan seperti petani, perempuan,
buruh dan kaum miskin kota. <endamping atau organi-er bersama kelompok konsumen
merumuskan:
Masalah dan akar masalah,
:entuk#bentuk kasus yang dialami konsumen,
2nstansi dan orang#orang yang terlibat dan bertanggung !aab,
2nisiati& konsumen sendiri dalam mengatasi masalahnya,
7saha 8aksi#aksi9 bersama menggugat petugas kesehatan di tempat pelayanan,
7sulan, konsep, $ara pandang konsumen terhadap pelayanan yang diinginkan atau
pelayanan yang berkualitas 8Iuality o& $are /ersi konsumen9,
<enyebarluasan in&ormasi terus#menerus kepada konsumen yang lain.
Mengingat gerakan konsumen saat ini didukung oleh kebi!akan yang relati& !elas dengan
adanya 7ndang#7ndang <erlindungan 3onsumen 877<39, maka organisasi konsumen dapat
mengambil peran dengan melakukan ad/okasi kebi!akan dan pembelaan hukum. :ukan hal
yang mustahil, bila suatu aktu konsumen dapat mengadili pro/ider pelayanan kesehatan
atas dasar pelanggaran terhadap hak#hak konsumen se$ara perorangan atau pun berkelompok
8$lass#a$tion9.
Seperti yang disarankan oleh ;he 5ursing and Midi&ery ,oun$il, 820029, baha
memelihara kualitas 'M akan membantu dalam memelihara ketrampilan dan kemandirian
dalam asuhan keperaatan, untuk ini diperlukan:
19 deskripsikan dengan !elas hasil pengka!ian, ren$ana keperaatan dan ren$ana
tindakan yang akan dilakukan,
29 dokumentasikan in&ormasi yang berhubungan dengan pasien dan apa yang akan
dilakukan dalam merespon kebutuhan pasien,
39 !ika sudah diketahui dengan baik kondisi pasien lakukan tindakan yang dapat
diterima dan dapat dilakukan dengan tahapan yang baik dan benar saat melaksanakan
peraatan kepada pasien dan !elaskan baha setiap tindakan tidak selalu berbahaya untuk
selalu untuk keselamatan dan membatu mereka, dan
>9 menuliskan peren$anaan peraatan agar dapat diteruskan oleh se!aat dalam
peraatan berikutnya dan selalu menuliskan tindakan keperaatan yang telah dilaksanakan,
dan dapat ditambahkan baha
Saran untuk %okter penyelenggara utama peraatan dan pengobatan pasien di instalasi raat
inap diantaranya adalah: :ertugas berdasarkan standar Beneral Medi$al ,oun$il seperti:
pemberian pelayanan kepada pasien merupakan hal yang utama, memperlakukan setiap
pasien dengan sopan dan sea!arnya, menghormati pri/asi dan kehormatan pasien,
mendengarkan dan menghormati pandangan#pandangan pasien, memberikan in&ormasi yang
dapat dimengerti pasien, menghormati hak pasien dalam keterlibatan se$ara akti& pada
pengambilam keputusan, selalu memperbaharui pengetahuan dan ketrampilan, menyadari
berbagai keterbatasan yang dimilikinya, !u!ur dan dapat diper$aya, menghargai dan men!aga
in&ormasi tentang pasiennya, menghindarkan pasien dari resiko &isik dan &inansial akibat
tindakan medis, beker!asama dengan para se!aat untuk kebaikan pasien#pasien yang
diraat.
Saran untuk komite sta& &ungsional diantaranya adalah:
19 Mematuhi tugas pokok dan &ungsinya seperti yang tergambarkan dalam <eraturan %aerah
tentang struktur organisasi dan tata ker!a 'S.
29 Melaksanakan semua tugas sesuai dengan kompetensi dan kode etik pro&esi0
39 Men!adikan 'S bukan sebagai tempat men$ari sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan
hidup tetapi !uga men!adikannya sebagai tempat ibadah dan &ungsi sosial.
Saran untuk mana!emen 'S% diantaranya adalah:
19 :erusaha mengetahui keinginan pelanggan dengan melakukan sur/ey pasar, diantaranya
sur/ey kepuasan, sur/ey kebutuhan pelayanan dan sur/ey tingkat utilisasi pelayanan
kesehatan rumahsakit0
29 Menyusun berbagai prosedur dan standar pelayanan sesuai dengan hasil tingkat kebutuhan
dan hasil dari penelitian ini, diantaranya:
a. <rosedur dan Standar <elayanan Caboratorium
b. <rosedur dan Standar <elayanan 'adiologi
$. <rosedur dan Standar <elayanan 3amar )perasi
d. <rosedur dan Standar <elayanan Anastesi
e. <rosedur dan Standar <elayanan 'aat 2nap dengan 3egaatan
&. <rosedur dan Standar <elayanan 'ekam Medik.
39 Memastikan baha prosedur dan standar yang telah disusun diterapkan dan dilaksanakan
dengan baik. Hal ini dilakukan dengan audit internal se$ara rutin dan melakukan management
ri/ie guna membahas tindak lan!ut yang perlu dilakukan agar pelayanan yang diberikan
selalu konsisten sesuai prosedur dan standar yang telah ditetapkan0
>9 Men!alin komunikasi yang baik dengan pelanggan guna mensosialisasikan !asa#!asa
pelayanan yang mampu diberikan oleh rumahsakit, misalnya dengan membuat brosur#brosur,
in&ormation desk, terminal komputer yang dapat diakses oleh pelanggan0
?9 Membumikan paradigma baha dari pasien kita mendapatkan !asa pelayanan yang
mendukung kese!ahteraan dan kepada pasien seharusnya tumbuh keinginan untuk
membebaskan masalah kesehatannya0
@9 Menyusun dan memberlakukan sistem pengaasan dan pemantauan pelayanan kesehatan
yang diberikan dengan e&ekti&0
A9 Melaksanakan saran#saran ini dengan dukungan sumber daya manusia kesehatan dan
anggaran kesehatan beserta kebi!akan#kebi!akan kesehatan0
89 <erlu adanya dukungan sistem pengelolaan 'M yang baik dan benar, mustahil tata tertib
administrasi rumahsakit akan berhasil seperti apa yang telah distandarisasikan oleh
pemerintah maka oleh karena itu diperlukan adanya komitment bersama untuk sepakat
menyusun pedoman 'M dan melaksanakannya dengan pertanggung!aaban pro&esi. Seperti
diketahui baha tata tertib administrasi merupakan salah satu &aktor yang menentukan di
dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di rumahsakit0
49 Mengin/etarisir akar penyebab masalah dari &aktor internal yang mempengaruhi kualitas
layanan kesehatan dan administrasi 'M terutama dalam bidang: &aktor pendidikan S%M,
&aktor pelatihan dan tambahan pengetahuan, &aktor masa ker!a dan lama "abatan, &aktot beban
ker!a, &aktor &asilitas dan peralatan, &aktor Standart )perating <ro$edure dan atau instruksi
ker!a, &aktor administrasi dan alur layanan, &aktor pengendalian dan e/aluasi, &aktor
mana!emen raat inap dan &aktor sta& medis &ungsional.
%ian!urkan pula langkah#langkah umum sebagai berikut untuk peme$ahan masalah mutu dan
e&isiensi dan e&ekti&itas pelayanan rumah sakit:
19 Meme$ahkan struktur masalah yang sudah teridenti&ikasi kedalam komponen#
komponennya, menganalisis komponen#komponen itu sehingga ditemukan akar masalah.
Akar masalah adalah penyebab paling dasar dari masalah etika yang ter!adi. 2a dapat berupa
kelemahan pada manusia, kepemimpinan, mana!emen, budaya organisasi, sarana, alat, sistem,
prosedur, atau &aktor#&aktor lain0
29 Melakukan analisis lebih dalam tentang akar masalah yang sudah ditemukan 8root $ause
analysis9, untuk menetapkan arah peme$ahannya0
39 Menetapkan dan memilih alternati& untuk peme$ahan akar masalah0
>9 Memantau dan menge/aluasi penerapan upaya peme$ahan masalah yang sudah
dilaksanakan0
?9 Melakukan tindakan koreksi !ika masalah etika belum terpe$ahkan atau terulang lagi
ter!adi. ;indakan koreksi yang dapat menimbulkan masalah etika baru adalah !ika manusia
sebagai penyebab akar masalah yang berulang#ulang dikeluarkan dari rumah sakit.
Saran untuk <emerintah %aerah, sesuai dengan beberapa kebi!akan nasional pembangunan
kesehatan di 2ndonesia diharapkan pemerintah daerah dapat:
19 Men!adi stake holder yang berpihak dan mendukung dalam berbagai aspek mana!emen
pelayanan kesehatan0
29 :erperan sebagai regulator yang melindungi dan menumbuh kembangkan kemampuan
pro&esionalisme tenaga pemberi pelayanan kesehatan0
39 men!adi &asilitator dalam akselerasi peningkatan kemampuan pemberian pelayanan
kesehatan sesuai dengan upaya pen$apaian tu!uan pembangunan kesehatan daerah.
Saran untuk pasien, diantaranya adalah:
19 sebelum penyakit men!adi lebih parah 8persepsi masyarakat9 sebaiknya segera
meman&aatkan sarana pelayanan kesehatan yang terdekat,
29 bertanya dengan petugas kesehatan tidak dengan emosi tentang keadaan penyakit,
diagnosanya, kemungkinan kesembuhan dan tindakan apa sa!a yang akan dilakukan dan
selalulah memulai komunikasi dengan kata Kmaa&., Ktolong., dan Ktolonglah saya. atau
Ktolonglah kami..
39 mengikuti semua kebi!akan sarana pelayanan dan saran dari petugas kesehatan dengan
!u!ur dan bertanggung!aab, !ika ragu dan meragukan mintalah pen!elasan lebih lan!ut
tentang kebi!akan dan atau saran tersebut,
>9 selalu menyediakan tabungan kesehatan saat sehat dan mampu melaksanakan akti&itas
memenuhi kebutuhan dasar sebagai manusia.
<eningkatan mutu pelayanan kesehatan mengandung arti baha sarana pelayanan kesehatan
dan tenaga pro&esi kesehatan harus mampu menun!ukkan akuntabilitas sosial untuk
memberikan pelayanan prima kepada konsumen, yakni pelayanan yang sesuai dengan standar
yang diakui sehingga dapat memenuhi atau bahkan melebihi harapan konsumen.
7ntuk itu perlu dikembangkan suatu sistem dan mekanisme yang e&ekti& guna ter$apainya
pelayanan prima tersebut.
Hal lain adalah <elaksanaan <rogram kendali mutu harus berdasarkan &alsa&ah bersama untuk
mempertahankan dan meningkatkan pelayanan yang diberikan oleh tim pelayanan dari
berbagai disiplin ilmu.
Jalsa&ah yang mendasari program kendali mutu antara lain:
Masing#masing disiplin telah mengidenti&ikasi dan menyetu!ui &alsa&ah dasar untuk
dikembangkan men!adi tu!uan masing#masing pelayanan.
Masing #masing disiplin menyepakati untuk mengka!i pelayanan yang diberikan oleh
anggotanya.
Semua sta& memberikan perhatian untuk men$apai tu!uan institusi yang dalam hal ini
memberikan e&ek terhadap pelayanan pada klien.
<raktek peraatan tidak akan mungkin meningkatkan ke$uali masalah dapat diidenti&ikasi
dan dipe$ahkan.
Sta& mempunyai pengetahuan yang $ukup dan memiliki ide#ide yang kreati& untuk
meme$ahkan masalah#masalah dalam peker!aannya
Sta& dapat meme$ahkan masalah !ika $ukup in&ormasi#in&ormasi yang diperlukan .
<eker!a pada umumnya merasakan kepuasan ker!a dan lebih produkti& bila mereka dibantu
dengan men$iptakan lingkungan ker!a yang baik dengan mengurangi hambatan dalam
peker!aannya. <rogram kendali mutu perlu dilaksanakan dan dibuat se$ara teratur dan terus
menerus untuk meningkatkan mutu pelayanan.
%engan melakukan pendekatan konkuren maupun retrospekti& terhadap lingkup struktur,
proses dan hasil maka semua aspek#aspekantara lain: ;enaga keperaatan, asuhan
keperaatan dan kepuasan klien harus dinilai dengan menggunakan standar#standar yang
tepat, alaupun demikian baiknya program kendali mutu ini dilakukan se$ara terpadu tetapi
tetap ada kendala kendala yang perlu diperhatikan.
%engan melibatkan semua sta& keperaatan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan program
pengendalian mutu ini, maka tu!uan akhir dari program pengendalian mutu yaitu
meningkatnya mutu pelayanan keperaatan berdasarkan standar akan dapat di$apai dengan
baik.
%ari 77 <erlindungan 3onsumen rumahsakit adalah: salah satu institusi pemberi pelayanan
dibidang kesehatan, hubungan yang !elas adalah pelayanan !asa kesehatan. 3esehatan adalah
hak a-a-i manusia. Maka manusia sebagai konsumen rumahsakit berhak sesuai dengan <asal
? 7ndang#undang <erlindungan 3onsumen, seperti:
Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan6atau
!asa0
Hak untuk memilih barang dan6atau !asa serta mendapatkan barang dan6atau !asa tersebut
sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta !aminan yang di!an!ikan0
Hak atas in&ormasi yang benar, !elas dan !u!ur mengenai kondisi dan !aminan barang
dan6atau !asa0
Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan6atau !asa yang digunakan0
Hak untuk mendapatkan ad/okasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa
perlindungan konsumen se$ara patut0
Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen0
Hak untuk diperlakukan atau dilayani se$ara benar dan !u!ur serta tidak diskriminati&0
Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi6penggantian, apabila barang dan6atau !asa
yang diterima tidak sesuai dengan per!an!ian atau tidak sebagaimana mestinya0
Hak#hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang#undangan lainnya.
:ila menyimak surat pemba$a di media $etak, banyak sekali keluhan dari konsumen yang
merasa dirugikan. Misalnya soal layanan listrik <C5, <%AM, delay pesaat, layanan
barang6!asa yang buruk, mutu barang yang tidak bagus, tindak kriminal di kereta api,
pelayanan rumahsakit dan bahkan pelayanan pa!ak dan lain sebagainya. Semua itu adalah
persoalan yang kerap kali mun$ul di 2ndonesia. Maka inilah realitas ketertindasan konsumen
dalam menghadapi pilihan#pilihan barang6 !asa harus mereka konsumsi.
2ronisnya, keluhan yang disampaikan kebanyakan hanya leat surat pemba$a di media
massa. ,ara ini terlalu sederhana dan tidak menyelesaikan masalah. ,ara lain yang lebih
kreati& adalah langsung mengadu ke pengurus harian =ayasan Cembaga 3onsumen 2ndonesia
8=C329 atau lembaga perlindungan konsumen sadaya masyarakat.
Memang pada kenyataannya konsumen kerap berada dalam posisi yang tidak berimbang
dibanding dengan posisi produsen. Maka untuk mengurangi keseang#enangan para
produsen barang dan !asa, sebagai konsumen kita perlu mengetahui &aktor#&aktor yang
melemahkan konsumen, antara lain:
Masih rendahnya tingkat kesadaran konsumen akan hak#haknya.
:elum terkondisikannya .masyarakat konsumen1 karena memang sebagian masyarakat
ada yang belum mengetahui tentang apa sa!a hak#haknya dan ke mana hak#haknya dapoat
disalurkan !ika mendapat kesulitan atau kekurangan dari standar barang atau !asa yang
sea!arnya.
Masyarakat belum memiliki kemauan untuk menuntut hak#haknya.
<roses peradilan yang ruet dan memakan aktu yang berkepan!angan.
<osisi konsumen yang selalu lemah 8lemah in&ormasi dan lemah kondisi sehingga tak
berani menyangga seperti kasus <rita9, apa kata dokter6peraat mereka iyakan.
<adahal bisa !adi kala sekolah dahulu, yang di %epkes tidak lebih pandai dari yang di institusi
pelayanan kesehatan 6rumahsakit. <un demikian pula setelahnya, lebih#lebih kala berbi$ara
kepekaan terhadap keperluan masyarakat terhadap layanan kesehatan, di!amin dokter di
institusi pelayanan kesehatan6rumahsakit lebih peka dibanding dokter di %epkes alau
sepan!ang apapun gelarnya. =ang membedakan hanyalah kekuasaan. 2tulah kira#kira
gambaran umum, mengapa hingga kini institusi pelayanan kesehatan6rumahsakit ibarat
tempat u!i $oba, trial and error aneka ma$am program dari depkes, dan dokter yang
berpraktik di rumahsakitpun dalam memberikan pelayanan kesehatannya.
"aminan mutu produk tahun 144@ yang lalupun, konon hasil pemikiran grusa#grusu karena
ada .!a!an1 berupa pin!aman 2MJ 8maksudnya hutang yang harus dibayar9, yang mana
depkes tidak mau kalah dengan departemen lain untuk ikut men$i$ipi !a!an 2MJ. %an supaya
dapat dana segar nan besar, nama programnya pun dibuat .greng1, maka bim salabim lahirlah
Huality Assuran$e atau "aminan Mutu. <arameterpun disiapkan, demikian pula pelatihan,
panduan, monitor dan e/aluasinya, baik terhadap item kegiatan ataupun terhadap program
besarnya.
Menyimak produk %epkes tahun 1488, yang mana dalam <edoman 3er!a 2nstitusi pelayanan
kesehatan6rumahsakit sudah sangat !elas dan rin$i berisi panduan tatalaksana setiap kegiatan
di 2nstitusi pelayanankesehatan6rumahsakit yang menga$u kepada 7<3, termasuk panduan
pengobatan, maka program HA adalah sebuah langkah kebimbangan dan ambi/alensi.
Artinya mengulang program mapan yang sudah terintegrasi dengan keseharian para petugas
2nstitusi pelayanan kesehatan6rumahsakit dengan mengganti nama HA yang !ustru lebih
sempit tapi tidak lebih mendalam. :edanya hanya di segi dana yang luar biasa besar dan
pelatihan berulang yang !ustru buang#buang aktu.
7ntuk meningkatkan mutu layanan, tidak $ukup dengan ka!ian monopoli petinggi %epkes,
lebih dari itu ada ukuran non teknis yakni keinginan dan harapan arga. Sayangnya yang ini
tidak pernah tersentuh, artinya pengguna !asa pelayanan 2nstitusi pelayanan
kesehatan6rumahsakit tak lebih hanyalah obyek semata yang tak punya hak suara. Siklus
demikian mestinya tidak boleh terulang.
Akreditasi rumahsakit di$anangkan se!ak tahun 200A dan sampai tahun 2004 ini $apaiannya
sangat menyedihkan, dari ratus rsd dan puluh rsp serta ratus rss, hanya 1>G yang sudah
terakreditasi, !ianya masih nol saya rasa, karena prosesnya sendiri tidak terakreditasi. 'S%
3ol Abund!ani saat ini sedang dalam proses akreditasi yang pelaksanaannya setengah isi dan
setengah kosong.
<elayanan rumah sakit diera sekarang tidak terlepas dari perkembangan ekonomi
masyarakat . Hal ini ter$ermin pada perubahan &ungsi klasik rumah sakit yang pada aalnya
hanya memberi pelayanan yang bersi&at kurati& 8penyembuhan9 sa!a terhadap pasien melalui
raat inap dan raat !alan bergeser ke pelayanan yang lebih komprehensi& meliputi promoti&,
pre/enti&, kurati& dan rehabilitati&.
<engaruh perubahan dinamika lingkungan usaha rumah sakit yang ter!adi tidak sa!a di
2ndonesia tetapi hampir diberbagai pen!uru dunia. Hal ini menuntut para mana!er untuk lebih
memperhatikan se$ara saksama dinamika lingkungan yang ada yang kemungkinan besar akan
merubah system mana!emen yang dipergunakan. Sistem mana!emen yang berlaku global
mempengaruhi pola ber&ikir mana!er rumah sakit, dengan menekankan pada aspek e&isiensi,
e&ekti& dan produkti&itas serta memperhatikan pemerataan pelayanan. Bambaran lain adalah
tehnologi kedokteran dan obat#obatan yang berkembang pesat disisi lain rumah sakit adalah
lembaga pemberi !asa pelayanan kesehatan yang tergantung pada perkembangan tehnologi
kedokteran.
;ehnologi kedokteran mempengaruhi biaya pelayanan rumah sakit. Menurut ;risnantoro
8200?9 saat ini sektor kesehatan berbeda !auh dengan keadaan ?0 tahun lalu. ;ehnologi yang
digunakan saat ini sangat $anggih, sebagi $ontoh operasi dengan menggunakan peralatan
mikro merupakan suatu tindakan yang sama $anggihnya dengan tehnologi program ruang
angkasa dan militer yang tentu sa!a memerlukan S%M yang berkompetensi untuk
mengelolanya.
Salah satu tehnologi tinggi adalah obat yang dihasilkan oleh industri &armasi. )bat
merupakan barang yang sangat dibutuhkan oleh rumah sakit. 3ebutuhan akan obat ini sering
disertai dengan biaya yang besar. :esarnya omset untuk obat#obatan men$apai ?0#@0G dari
seluruh anggaran rumah sakit. 'umah sakit dapat meningkatkan pendapatan dengan
memperbesar omset pen!ualan obat.
Hal inilah men!adikan rumah sakit men!adii lembaga yang bersi&at padat modal, padat karya
dan padat tehnologi 3etiga si&at tersebut menuntut pengelolaan keuangan rumah sakit yang
lebih pro&essional, berdasarkan hitungan#hitungan ekonomi. ,ost re$o/ery rate 8,''9 rumah
sakit men!adi hal yang sangat penting, penentuan tari& lebih rasional, disertai peningkatan
kuantitas dan kualitas pelayanan serta mampu berkembang 8groth9 dan sur/i/e.
<engertian rumah sakit menurut (H) adalah suatu bagian penyeluruh dari organisasi sosial
dan medis ber&ungsi memberikan pelayanan 3esehatan yang lengkap kepada masyarakat,
baik kurati& maupun rehabilitati&, dimana pelayanan keluarga men!angkau pelayanan keluarga
dan lingkungan, rumah sakit !uga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan, serta untuk
penelitian biososial.
%ari de&inisi diatas baha rumah sakit disamping memberikan pelayanan kesehatan se$ara
komprehensi& kepada masyarakat !uga sebagai pusat pendidikan $alon tenaga kesehatan. %an
yang lebih penting lagi adalah baha rumah sakit !uga harus men!alankan &ungsi sosialnya.
7ntuk men!alankan &ungsi sosialnya ini sebaiknya anggaran untuk pos sosial tersebut tersedia
dalam A<:% dan diatur dengan kemudahan#kemudahan pengelolaannya tetapi tetap dengan
pengaasan yang ketat. 3ita pela!ari
%alam perkembangannya rumah sakit sasta yang dikelola oleh yayasan keagamaan seperti
rumah sakit 2slam sangat kesulitan dalam memenuhi &ungsi sosialnya oleh karena kesulitan
dalam hal pendanaan. Hal ini membuat banyak rumah sakit sasta bahkan yang dikelola oleh
yayasan keagamaanpun berubah men!adi lembaga &or pro&it sebagai !aaban terhadap
perubahan lingkungan yang ter!adi diluar rumah sakit akibat pengaruh globalisasi.
(alaupun demikian masih banyak rumah sakit keagamaan masih melihat perubahan yang
ada tanpa strategi pengembangan yang !elas 8;risnantoro, 200?9. Hal ini dapat membaa
suatu resiko yaitu rumah sakit keagamaan akan men!adi lembaga usaha yang praktis untuk
men$ari keuntungan atau menghidupi S%M, akibat hilangnya subsidi dan semakin mahalnya
alat dan tenaga kesehatan yang pada akhirnya menuntut pendapatan yang tinggi.
Subsidi yang menge$il atau bahkan tidak ada sama sekali menyebabkan rumah sakit
keagamaan kesulitan men$ari sumber dana bagi orang miskin yang sakit, sementara
penggalian dana#dana kemanusiaan sama sekali tidak dikelola se$ara sistematis. <enerapan
subsidi silang dari kelas atas 8D2<9 ke kelas baah 82229 tidak rasional.
<enelitian Abeng dan ;risnantoro 8144A9 disebuah rumah sakit sasta menun!ukkan baha
tari& kamar D2< berada dibaah unit $ost. Hal yang dikhaatirkan adalah pasien dikelas
baah !ustru mensubsidi pasien kelas atas. 3enyataan menun!ukkan baha konsep subsidi
silang sebenarnya tidak ada ataupun !ika ada subsidi silang akan menggerogoti aset dan
kemampuan in/estasi rumah sakit.
Hal yang penting adalah masalah biaya operasional dan pemeliharaan yang tidak semudah
biaya in/estasi untuk memperolehnya. Akibatnya banyak rumah sakit sasta keagamaan
yang mempunyai &asilitas &isik dan peralatan yang memadai tetapi kesulitan dalam men$ari
dana operasional, sehingga menaikan tari& akan men!adi pilihan, disamping itu belum ada
standar sumber pendanaan termasuk pembagian sumber pendapatan 8keuntungan9 apakah
untuk pemilik atau untuk pengembangan.
:erdasarkan kenyataan diatas maka rumah sakit mulai berubah men!adi lembaga usaha yang
membutuhkan berbagai konsep ekonomi dalam mana!emen yang mungkin asing bagi para
dokter atau pemilik rumah sakit. 'umah sakit tidak lagi harus dipandang sebagai suatu
lembaga yang harus bersandar pada norma#norma dan etika pro&esi dokter, tetapi lebih
mengarah pada suatu lembaga yang harus hidup dan bermutu, berkembang dan mempunyai
dasar etika berbagai pro&esi dan mempunyai etika bisnis. %engan demikian rumah sakit
bukanlah lembaga yang hanya menggunakan prinsip kedokteran dan kesehatan. 'umah sakit
merupakan lembaga multipro&esional yang menghasilkan berbagai produk pelayanan
kesehatan yang bermutu dengan tetap memperhatikan aspek sosialnya. 2mplementasinya
adalah penerapan ekonomi dalam pelayanan kesehatan harus dilakukan diantaranya dengan
melakukan analisis biaya di rumah sakit.