Anda di halaman 1dari 2

Laporan Wartawan Tribun Kaltim / Syaiful

TRIBUNNEWS.COM BALIKPAPAN, - Pemerintah Kota (Pemkot)


Balikpapan meyakini eksploitasi gas metan batu bara atau coal bed
methane (CBM) tidak akan menimbulkan dampak lingkungan, seperti
perubahan iklim atau efek gas rumah kaca. Keyakinan ini sekaligus
menjawab pernyataan tim ahli Universitas Indonesia (UI) dalam acara
workshop CBM yang digagas Komisi III DPRD Balikpapan, beberapa
waktu lalu.
"Saya baru dengar kok ada pendapat bahwa ini (CBM) akan berdampak
terhadap emisi gas rumah kaca, malah justru gas yang terpendam di
dalam bumi lalu diambil itu bagus. Itu (CBM) lebih ramah lingkungan
ketimbang batu baranya ditambang," ujar Kepala Badan Perencana
Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Balikpapan Suryanto, Sabtu
(2/11/2013).
Suryanto meragukan pendapat tim ahli UI yang menyebut eksploitasi
CBM secara berlebihan dapat menimbulkan perubahan iklim. "Terlalu
besar kalau sampai ke perubahan iklim, justru perubahan iklim akan
besar kalau batu baranya digali. Mungkin dia (tim ahli) tidak
membandingkan berapa besar kerusakan kalau batu bara itu digali
ketimbang disuntik gasnya," tegasnya.
Menurutnya, pengelolaan CBM adalah cara cerdas yang dipilih
Balikpapan dalam memanfaatkan sumber daya alam demi kepentingan
hajat hidup orang banyak. Cara ini dinilai efektif dan ramah lingkungan
ketimbang melakukan penambangan batu bara secara besar-besaran,
seperti yang ditempuh daerah lainnya di Kalimantan Timur.
Saat ini program CBM di Balikpapan masih memasuki tahap eksplorasi
(penelitian) oleh PT Virginia Indonesia Company (Vico). Perusahaan
asal Amerika itu tampil sebagai satu-satunya perusahaan yang
dipercaya pemerintah untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi CBM
di seluruh Indonesia. Tahap eksplorasi (penelitian) ini diperkirakan
memerlukan waktu selama tiga tahun untuk penentuan kelayakan
produksi CBM. (*)