Anda di halaman 1dari 9

KUALITAS AIR SUMUR

Terbentuknya air tanah bermula dari siklus hidrologi, dimana awan tersusun oleh jutaan
tetes kecil air, yang sangat ringan, sehingga tetesan ini dapat melayang di udara, kemudian
terangkat oleh aliran udara hangat dari darat dan akhirnya dapat berubah menjadi air hujan yang
jatuh ke bumi. Air tersebut meresap dan tersimpan ke bawah permukaan tanah, yang kemudian
karena pengaruh gaya gravitasi bergerak secara vertikal menembus lapisanlapisan tanah hingga
mencapai zona jenuh air dan akhirnya tersimpan di dalam lapisan batuan pembawa air yang
disebut akuifer.





Air-air yang tersimpan dalam tanah inilah yang digunakan manusia sebagai air sumur
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ilmu hidrologi dalam mendeskripsikan kualitas air tanah
adalah mengklasifikasikannya dari segi kejernihan, warna, bau, dan juga rasa.






1. Kejernihan/Kekeruhan
Air yang memiliki kualitas baik pastilah memiliki kejernihan yang tinggi. Tingkat kejernihan
dapat terlihat dari keruh tidaknya air. Misalkan air yang diambil dalam sebuah wadah lalu
dicelupkan sebuah batu. Air yang jernih akan memperlihatkan batu dalam wadah dengan sangat
jelas. Sedangkan air yang keruh tidak dapat memperlihatkan batu dalam wadah dengan jelas atau
mungkin dapat memperlihatkan tetapi tidak begitu jelas (buram) akibat keruhnya air.
2 Tidak berbau
Klasifikasi yang kedua dalam mengukur kualitas air adalah bau. Air dengan kualitas yang baik
pastilah tidak berbau entah itu berbau busuk atau berbau logam. Air yang berbau busuk
mengindikasikan bahwa air tersebut telah terkontaminasi oleh kotoran / bakteri begitu juga air
yang berbau logam, yang mengindikasikan air tersebut terkontaminasi bahan-bahan kimia . Air
yang berbau busuk maupun berbau logam sangat tidak dianjurkan diminum oleh manusia karena
dapat membahayakan kesehatan walaupun sudah direbus hingga suhu 100 derajat celcius.



3. Rasa
Air yang memiliki kualitas baik seharusnya juga tidak berasa. Baik itu berasa asin maupun pahit.
Seperti halnya proses subduksi yang mengakibatkan air permukaan laut merembes ke permukaan
tanah yang mengakibatkan air menjadi asin (seperti air pada pemukiman pesisir). Seperti yang
kita tahu tidak semua air termasuk air laut dapat diminum dengan cara direbus saja tetapi harus
melalui proses penyulingan secara kimiawi seperti halnya di negara Arab.
4. Warna
Warna juga menjadi salah satu kriteria air dikatakan memiliki kualitas yang baik. Air dengan
kualitas yang baik pastilah tidah berwarna (bening) jika air sudah berwarna, contohnya berwarna
hitam. Maka air tersebut telah terkontaminasi limbah dan tentu saja air yang terkontaminasi
limbah tidak layak konsumsi karena berbahaya bagi kesehatan manusia




Oleh sebab itu dalam pembuatan sumur (penggalian air tanah) haruslah sesuai dengan
persyaratan-persyaratan tertentu demi menjamin kualitas air yang didapatkan dalam air tanah.
Berikut persyaratannya:
(a) untuk menghindari pencemaran langsung harus memperhatikan jarak antara sumur dengan
lubang sampah dan dengan lubang galian untuk air limbah, jaraknya adalah 10 m dan diusahakan
agar letaknya tidak berada di bawah tempat-tempat sumber pencemaran;
(b) dibuat di tempat yang ada airnya di dalam tanah;
(c) jangan dibuat di tanah yang rendah yang mungkin terendam bila terjadi banjir atau hujan.
Kedua, syarat konstruksi;
(a) dinding sumur 3 m dalamnya dari permukaan tanah dan dibuat dari tembok yang tidak
tembus air agar tidak terjadi rembesan;
(b) lantai harus kedap air dengan lebar minimal 1 meter dan miring agar air mudah mengalir ke
saluran air limbah; (c) diatas tanah dibuat tembok (bibir sumur) yang kedap air minimal 80 cm
untuk mencegah pengotoran dari permukaan dan untuk keselamatan si pemakai;
(d) jika pengambilan air dengan timba, sebaiknya selalu digantung dan tidak diletakkan di lantai
sumur;
(e) saluran pembuangan air limbah di sekitar sumur dibuat dari tembok kedap air yang
panjangnya minimal 10 m atau dibuat lubang dengan menggali tanah sepanjang 10 m atau lebih.

DAFTAR PUSTAKA
file:///C:/Users/user/Documents/komunitas/index.php.htm
file:///C:/Users/user/Documents/komunitas/m5o11z-wow-tempat-pembuangan-sampah-jadi-obyek-
wisataartike.htm
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-16528-2208100660-Chapter2.pdf
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/rekayasa_lingkungan/bab2_sistem_penyedian_air_bersih.pdf




















TUGAS (II) HIDROLOGI DASAR
(GEL1202)




Disusun Oleh :
Nama : Intansania Nurmalasari
NIM : 13/348120/GE/07580
Dosen Pengampu: Dr. Ig.L.Setyawan Purnomo, MSi







FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

TUGAS (I) HIDROLOGI DASAR
(GEL1202)




Disusun Oleh :
Nama : Intansania Nurmalasari
NIM : 13/348120/GE/07580
Dosen Pengampu: Dr. Ig.L.Setyawan Purnomo, MSi







FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
AIR TANAH SEBAGAI SUMBER DAYA AIR YANG POTENSISL UNTUK AIR MINUM

Kapilaritas didefinisikan sebagai peristiwa naik turunnya zat cair melalui celah-celah

akan air secara horizontal disebut juga pergerakan air lateral. Pergerakan air vertikal dapat
berupa pergerakan air ke bawah yang dipengaruhi oleh gerak gravitasi melalui infiltrasi dan
perkolasi serta pergerakan air ke atas melalui gerak kapilaritas air tanah yang dipengaruhi oleh
porositas tanah dan temperatur tanah. Air tanah yang berada di bawah zona perakaran tanaman
akan mengalir menuju zona perakaran tanaman disebabkan oleh kemampuan kapiler (cappilary
rise) yang dimiliki oleh tanah. Air akan bergerak dari tanah yang lembab menuju tanah yang
lebih kering. Pada tanah lembab yang jumlah persentase airnya lebih tinggi, gardien tegangannya
lebih besar dan lebih cepat perpindahannya. Pola kapilaritas air tanah dipengaruhi oleh besarnya
pengembangan tegangan dan daya hantar pori-pori dalam tanah. Nilai efek kapilaritas tidak
beraturan pada setiap bagian tanah, karena ukuran pori-pori yang dilewatinya bersifat acak pula.
Pada jenis tanah yang berbeda akan memberikan pola pergerakan air tanah yang berbeda pula
karena pola pergerakan air tanah yang berupa gerak kapiler ini sangat dipengaruhi oleh tekstur
dari tanah tersebut, oleh karena itu kecepatan pergerakan air vertikal ke bawah dan pergerakan
horizontal di dalam tanah bergerak agak cepat sampai agak lambat. (Craig, 1991)
Tanah merupakan media penting bagi tumbuhan karena tanah menyedikan berbagai
macam kebutuhannya. Tanah berperan penopang tegaknya tumbuhan,disamping menyupplai
seluruh nutrisi yang dibutuhkan.Air merupakan salah satu komponen tanah sebagai pelarut dan
media reaksi kimia dalam tanah.
Keberadaan air dalam tanah terdapat dalam beberapa bentuk,meliputi air gravitasi,air
kimia,air hidroskopis dan air kapiler.Air kapiler dan air hidroskpis dapat dimanfaatkan akar
tumbuhan,sedangkan yang lain tidak.Kesedian air dalam tanah sangat dipengaruhi oleh strukrur
dan tektur tanah itu sendiri.Tanah bertektur pasir,debu dan liat memiliki daya ikat air yang
berbeda. (Muharram, 2011)
Kadar air tanah dinyatakan dalam persen volume yaitu persentase volume air terhadap
volume tanah. Cara ini mempunyai keuntungan karena dapat memberikan gambaran tentang
ketersediaan air bagi tanaman pada volume tanah tertentu. Cara penetapan kadar air dapat
dilakukan dengan sejumlah tanah basah dikering ovenkan dalam oven pada suhu 100
0
C
110
0
C untuk waktu tertentu. Air yang hilang karena pengeringan merupakan sejumlah air yang
terkandung dalam tanah tersebut. Air irigasi yang memasuki tanah mula-mula menggantikan
udara yang terdapat dalam pori makro dan kemudian pori mikro. Jumlah air yang bergerak
melalui tanah berkaitan dengan ukuran pori-pori pada tanah. Air tambahan berikutnya akan
bergerak ke bawah melalui proses penggerakan air jenuh. Penggerakan air tidak hanya terjadi
secara vertikal tetapi juga horizontal. Gaya gravitasi tidak berpengaruh terhadap penggerakan
horizontal (Hakim, dkk, 1986).
Air tersedia biasanya dinyatakan sebagai air yang terikat antara kapasitas lapangan dan
koefisien layu. Kadar air yang diperlukan untuk tanaman juga bergantung pada pertumbuhan
tanaman dan beberapa bagian profil tanah yang dapat digunakan oleh akar tanaman. Tetapi untuk
kebanyakan mendekati titik layunya, absorpsi air oleh tanaman kurang begitu cepat, dapat
mempertahankan pertumbuhan tanaman. Penyesuaian untuk menjaga kehilangan air di atas titik
layunya telah ditunjukkan dengan baik (Kartasaputra,dkk, 1991).
Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Tanah-tanah
bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada tanah bertekstur halus. Oleh
karena itu, tanaman yang ditanam pada tanah pasir umumnya lebih mudah kekeringan daripada
tanah-tanah bertekstur lempung atau liat. Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air dapat
mengganggu pertumbuhan tanaman. Ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi: banyaknya curah
hujan atau air irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya evapotranspirasi (penguapan
langsung melalui tanah dan melalui vegetasi), tingginya muka air tanah, kadar bahan organik
tanah, senyawa kimiawi atau kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atau lapisan
tanah (Foth, Henry D, 1988).

a. Tabel gerak kapilaritas air selama satu minggu
Sampel
Perubahan setiap 2 hari sekali
Hari ke-0 Hari ke-2 Hari ke-4 Hari ke-6
Tanah liat
0 77 cm 72 cm 60 cm
Tanah kebun
0 68 cm 70 cm 68 cm
Tanah pasir
0 52 cm 53 cm 45 cm

b. Tabel kemampuan tanah mengikat air selama satu minggu
Sampel
Perubahan setiap 2 hari sekali
Hari ke-0 Hari ke-2 Hari ke-4 Hari ke-6
Tanah liat
58 gr 68 gr 58 gr 58 gr
Tanah kebun
57 gr 69 gr 57 gr 55 gr
Tanah pasir
57 gr 67 gr 59 gr 58 gr

Dari hasil percobaan diatas, kesimpulannya untuk gerak kapilaritas air percobaannya belum
berhasil atau gagal, dimana hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan lietratur yang ada. Tapi
secara umum daya gerak kapilaritas air pada tanah liatpaling tinggi dibandingkan dengan tanah
kebun dan tanah pasir.Walaupun pada pengamatan setiap tanh mengalami penurunan data yang
diperoleh.
Pada percobaan kemampuan tanah mengikat air percobaan ini terbilang sukses, dimana tanah
liat mampu menahan lebih banyak air yang tersedia bagi tumbuhan. Tanah yang kaya akan tanah
liat dan humus (atau tanah bertekstur sedang) mampu menahan air paling banyak. Begitu juga
dengan tanah kebun,kemampuan tanah mengikat air tergolong tinggi namun lebih kecil dari
tanah liat . dan pada tanah pasir percobaan nya gagal dilakukan dikarenakan banyak faktor yang
mempengaruhi sehingga hasil yang didapat tidak sesuai dengan literatur yang ada.
Untuk memperoleh air tanah ini dengan melakukan penggalian atau pengeboran tanah. Kedalaman menggali
dan mengebor tanah sangat bergantung pada struktur tanah setempat. Dengan terbentuknya awan
dari titik-titik air dan proses pengembunan dan titik air tersebut bergabung terjadilah hujan.
Hujan ini mengakibatkan tanah menjadi basah dan meresap ke dalam permukaan tanah dan
sebagian yang lain masuk ke saluran dan akhirnya masuk sungai. Lewat cara demikian ini maka
di dalam tanah terdapat cadangan air yang sangat banyak. Cadangan air dalam tanah inilah yang
memberikan kesempatan kepada kita untuk memperoleh air bersih dengan cara menggalinya.



Ada kalanya dengan menggali sebentar telah diperoleh sumber mata air, namun ada kalanya
harus dikerjakan berhari-hari baru diperoleh sumber mata air. Dengan diperolehnya batuan yang
kedap air, hal ini merupakan faktor yang penting bagi diperolehnya air tanah yang dapat
disimpan. Penggalian sumur dapat diupayakan mencapai zona air jenuh sehingga air tanah dapat
tertampung. Zona air jenuh merupakan daerah yang pori-pori tanahnya menyimpan air melebihi
daya tampungnya. Zona air terbuka merupakan daerah yang pori-porinya belum jenuh
dengan air.
Sumur artesis merupakan sumur yang dapat memancarkan air secara langsung. Sumur ini dibuat
pada daerah cekungan yang struktur cadangannya melengkung. Dengan menggali pada daerah
cekungan ini akan diperoleh air yang dapat memancar ke luar.

distribusi air dalam tanah yang dimulai dari adanya hujan, air meresap dalam tanah yang tak
jenuh. Pada derah tak jenuh ini air masih terus mrembes menuju ke tempat yang rendah dan
jenuh lalu ditampung. Lapisan tak permiabel merupakan bagian yang menahan air.
Sumur artesis terbentuk bila pada saat menggali berada pada daerah yang cekung/rendah dan
penggalian lapisan tanah mencapai daerah akuiver yang jenuh dengan air. Untuk menemukan
sumber air dalam tanah diperlukan penguasaan ilmu tentang struktur bumi dan lapisan-
lapisannya.



DAFTAR PUSTAKA
Craig, Houston. 1991. Kapilaritas air (ilmu tanah). Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Foth, Henry D, 1988, Dasar-dasar Ilmu Tanah, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Hakim, Nurhajati dkk, 1986, Dasar-dasar Ilmu Tanah, Universitas Negeri Lampung, Lampung
Kartasaputra,dkk, 1991, Teknologi konservasi tanah dan air, Rineka cipta, Jakarta.
Muharram, saleh. 2011. Laporan hubungan air, jaringan, dengan
tanah. http://www.blogger.com/commentiframe.g?blogID=9013688878540559303&postID=6
772098206643350043&blogspotRpcToken=5291475 (diunduh 10 mei 2013)
Salisbury, 1995. Fisiologi tumbuhan Hubungan Air Dengan Tanah.Gajah Mada University Press,
Yogyakarta.