Anda di halaman 1dari 5

Kota Bogor Dalam Sejarah

Bogor adalah salah satu Kabupaten atau Kota Jawa Barat yang dikenal dengan julukan kota hujan,
karena memiliki tingkat curah hujan yang sangat tinggi. Nama Resmi kota Bogor adalah Kabupaten
Bogor dengan ibukota Cibinong, yang berada di sebelah utara Kota Bogor. Memiliki luas wilayah
298.838.304 Ha dan jumlah Penduduk di tahun 2012 sebanyak 4.966.621 Jiwa (menurut catatan resmi
jabarprov.go.id).
Kota Bogor mempunyai sejarah yang panjang dalam Pemerintahan,mengingat sejak zaman Kerajaan
Pajajaran sesuai dengan bukti-bukti yang ada seperti dari Prasasti Batu Tulis, nama-nama kampung
seperti dikenal dengan nama Lawanggintung, Lawang Saketeng, Jerokuta, Baranangsiang dan Leuwi
Sipatahunan diyakini bahwa Pakuan sebagai Ibukota Pajajaran terletak di Kota Bogor.
Sejarah Kota Bogor
Pakuan sebagai pusat Pemerintahan Pajajaran sudah terkenal sejak pemerintahan Prabu Siliwangi (Sri
Baginda Maharaja) yang dinobatkan tepat pada tanggal 3 Juni 1482 dengan upacara Kuwedabhakti.
Tanggal itulah yang kemudian ditetapkan sebagai hari Jadi Bogor yang secara resmi dikukuhkan melalui
sidang pleno DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor pada tanggal 26 Mei 1972.
Terdapat berbagai pendapat tentang l ahirnya nama Bogor. Salah satu pendapat menyatakan bahwa
nama Bogor berasal dari kata Baghar atau Baqar yang berarti sapi dengan alasan terdapat bukti berupa
patung sapi di Kebun Raya Bogor. Pendapat lainnya menyebutkan bahwa nama Bogor berasal dari kata
Bokor yang berarti tunggul pohon enau (kawung).
Pendapat-pendapat tersebut memiliki dasar dan alasan tersendiri yang diyakini kebenarannya oleh
setiap ahlinya. Namun berdasarkan catatan sejarah, bahwa pada tanggal 7 April 1752, telah muncul kata
Bogor dalam sebuah dokumen dan tertulis Hoofd Van de Negorij Bogor, yang berarti kepala kampung
Bogor. Pada dokumen tersebut diketahui pula bahwa kepala kampung itu terletak di dalam lokasi Kebun
Raya yang mulai dibangun pada tahun 1817.

Lepas dari pendapat-pendapat tersebut diatas, Perjalanan sejarah Bogor memiliki keterkaitan erat
dengan zaman kerajaan yang pernah memerintah di wilayah tersebut.
Pada empat abad sebelumnya, Sri Baduga Maharaja dikenal sebagai raja yang mengawali zaman
kerajaan Pajajaran. Raja tersebut terkenal dengan ajaran dari leluhur yang dijunjung tinggi guna
mengejar kesejahteraan. Sejak saat itu secara berturut-turut tercatat dalam sejarah adanya kerajaan-
kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah tersebut, yaitu :
Kerajaan Taruma Negara, diperintah oleh 12 raja. Berkuasa sejak tahun 358 hingga tahun 669
Kerajaan Galuh, diperintah oleh 14 raja. Berkuasa sejak 516 hingga tahun 852
Kerajaan Sunda, diperintah oleh 28 raja. Berkuasa sejak tahun 669 sampai dengan tahun 1333
Kerajaan Kawali yang diperintah oleh 6 raja. Berkuasa sejak tahun 1333 hingga 1482
Kerajaan Pajajaran, berkuasa sejak tahun 1482 hingga tahun 1579.
Sebagai akibat penyerbuan tentara Banten ke Pakuan Pajajaran, menjadikan catatan mengenai Kota
Pakuan tersebut hilang dan baru terungkap kembali setelah datangnya rombongan ekspidisi orang-
orang Belanda yang dipimpin oleh Scipio dan Riebeck pada tahun 1687. Mereka meneliti Prasasti
Batutulis dan situs-situs lainya serta meyakini bahwa Bogor adalah pusat Pemerintahan Pakuan
Pajajaran.
Pada tahun 1745, cikal bakal masyarakat Bogor, semula berasal dari sembilan kelompok pemukiman
digabungkan oleh Gubernur Baron Van Inhof menjadi inti kesatuan masyarakat Kabupaten Bogor. Pada
waktu itu, Bupati Demang Wartawangsa berupaya meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan
kesejahteraan rakyat yang berbasis pertanian dengan menggali terusan dari Ciliwung ke Cimahpar dan
dari Nanggewer sampai ke Kalibaru/Kalimulya. Penggalian untuk membuat terusan kali dilanjutkan di
sekitar pusat pemerintahan namun pada tahun 1754 pusat pemerintahan yang terletak di Tanah Baru,
dipindahkan ke Sukahati (Kampung Empang sekarang).
Pada masa pendudukan Inggris, Thomas Stamford Raffles menjabat sebagai Gubernur Jendral. Ia cukup
berjasa dalam mengembangkan Kota Bogor, dimana Istana Bogor direnofasi dan sebagian tanahnya
dijadikan Kebun Raya (Botanikal Garden). Ia juga mempekerjakan seorang Planner yang bernama
Carsens untuk menata Bogor sebagai tempat peristirahatan, yang dikenal dengan nama Buitenzoorg.


Setelah Pemerintahan kembali kepada Hindia Belanda pada tahun1903, terbit Undang-undang
Desentralisasi yang bertujuan menghapus sistem pemerintahan tradisional diganti dengan sistem
administrasi pemerintahan modern sebagai realisasinya dibentuk Staadsgemeente. Antara lain :
Gemeente Batavia ( S. 1903 No.204 )
Gemeente Meester Cornelis ( S. 1905 No.206 )
Gemeente Buitenzoorg ( S. 1905 No.208 )
Gemeente Bandoeng ( S. 1906 No.121 )
Gemeente Cirebon ( S. 1905 No.122 )
Gemeente Soekabumi ( S. 1914 No.310 )
(Regeringsalmanak Voor Nederlandsh Indie 1928 : 746-748)

Pembentukan Gemeente tersebut bukan untuk kepentingan penduduk Pribumi namun lebih untuk
kepentingan orang-orang Belanda dan masyarakat Golongan Eropa serta yang dipersamakan (yang
menjadi Burgermeester dari Staatsgemeente Buitenzoorg selalu orang-orang Belanda dan baru tahun
1940 diduduki oleh orang Bumiputra yaitu Mr. Soebroto).

Pada tahun 1922 sebagai akibat dari ketidakpuasan terhadap peran desentralisasi yang ada, maka
terbentuklah Undang-undang perubahan tata Pemerintahan Negeri Hindia Belanda atau Bestuursher
Voorings Ordonantie (Staatsblad 1922 No. 216), sehingga pada tahun 1992 terbentuklah Regentschaps
Ordonantie (Ordonantie Kabupaten) yang membuat ketentuan-ketentuan daerah Otonomi Kabupaten
(Staatsblad 1925 No. 79).

Propinsi Jawa Barat dibentuk pada tahun 1925 (Staatsblad 1924 No. 378 bij Propince West Java) yang
terdiri dari 5 keresidenan, 18 Kabupaten (Regentscape) dan Kotapraja (Staads Gemeente), dimana
Buitenzoorg (Bogor) salah satu Staads Gemeente di Propinsi Jawa Barat yang dibentuk berdasarkan
(Staatsblad 1905 No. 208 jo. Staatsblad 1926 No. 368), dengan pripsip Desentralisasi Modern, dimana
kedudukan Bugermeester menjadi jelas.

Pada masa pendudukan Jepang kedudukan pemerintahan di Kota Bogor menjadi lemah karena
pemerintahan dipusatkan pada tingkat keresidenan yang berkedudukan di Kota Bogor, pada masa itu
nama-nama lembaga pemerintahan berubah menjadi :
Keresidenan menjadi Syoeoe
Kabupaten/Regenschaps menjadi ken
Kota/Staads Gemeente menjadi Si
Kewedanaan menjadi/Distrik menjadi Gun
Kecamatan/Under Districk menjadi Soe dan desa menjadi Koe
Pada masa setelah kemerdekaan, yaitu setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia,
Pemerintahan di Kota Bogor kembali berganti nama menjadi Kota Besar Bogor yang dibentuk
berdasarakan Udang-undang Nomor 16 Tahun 1950.

Selanjutnya pada tahun 1957 nama Pemerintahan berubah menjadi Kota Praja Bogor, sesuai dengan
Undang-undang No. 1 Tahun 1957. Kemudian dengan Undang-undang No. 18 Tahun 1965 dan Undang-
undang No. 5 Tahun 1974, berubah kembali menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor.

Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor
dirubah menjadi Kota Bogor.
Pada tahun 1975, Pemerintah Pusat (dalam hal ini Menteri Dalam Negeri) menginstruksikan bahwa
Kabupaten Bogor harus memiliki Pusat Pemerintahan di wilayah Kabupaten sendiri dan pindah dari
Pusat Pemerintahan Kotamadya Bogor. Atas dasar tersebut, pemerintah daerah Tingkat II Bogor
mengadakan penelitian dibeberapa wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor untuk dijadikan calon ibu
kota sekaligus berperan sebagai pusat pemerintahan. Alternatif lokasi yang akan dipi lih diantaranya
adalah wilayah Kecamatan Ciawi (Rancamaya), Leuwiliang, Parung dan Kecamatan Cibinong (Desa
Tengah).

Hasil penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa yang diajukan ke pemerintah Pusat untuk mendapat
persetujuan sebagai calon ibu kota adalah Rancamaya wilayah Kecamatan Ciawi namun pemerintah
Pusat menilai bahwa Rancamaya masih relatif dekat letaknya dengan pusat pemerintahan Kotamadya
Bogor dan dikhawatirkan akan masuk dalam rencana perluasan dan pengembangan wilayah Kotamadya
Bogor. Oleh karena itu Pemerintah Pusat memberi petunjuk agar pemerintah daerah Tingkat II Bogor
mengambil salah satu alternatif wilayah dari hasil penelitian lainnya.
Dalam sidang Pleno DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor tahun 1980, ditetapkan bahwa calon ibu
kota Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor terletak di Desa Tengah Kecamatan Cibinong. Penetapan calon
ibu kota tersebut diusulkan kembali ke pemerintah Pusat dan mendapat persetujuan serta dikukuhkan
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1982, yang menegaskan bahwa ibu kota pusat
pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor berkedudukan di Desa Tengah Kecamatan Cibinong.
Sejak saat itu dimulailah rencana persiapan pembangunan pusat pemerintahan ibu kota Kabupaten
Daerah Tingkat II Bogor dan pada tanggal 5 Oktober 1985 dilaksanakan peletakkan batu pertama oleh
Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bogor.
Nara Sumber : jabarprov.go.id, Achmad Juniarto
Penulis : Nunik Sumasni, tangguh Sutjaksono, Ardiatmiko