Anda di halaman 1dari 17

I.

TUJUAN
Menyediakan informasi praktis tentang pengobatan crohn disease yang dapat
digunakan apoteker dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di tempat pelayanan.
Meningkatkan pengetahuan apoteker tentang crohn disease dan penatalaksanaannya.
Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan pasien crohn disease serta mencegah
morbiditas terkait obat.
Meningkatkan pengetahuan tentang crohn disease di lingkungan tenaga kefarmasian
dan keluarga pasien crohn disease
II. DASAR TEORI
Inflammatory Bowel Disease atau penyakit radang usus merupakan salah satu
kelompok penyakit gangguan saluran cerna yang berupa inflamasi pada dinding usus.
Inflammatory Bowel Disease adalah radang usus yang kronis, ditandai dengan remisi
(waktu berkurangnya gejala penyakit) dan kekambuhan lebih dari beberapa tahun.
enyakit ini sering ditandai dengan diare yang kerap serta terdapat darah dan lender pada
feses.
Inflammatory Bowel Disease lebih sering dijumpai pada orang kulit putih.
!ngka kejadiannya adalah "# $$$ % &$ $$$ kasus per tahun dengan pre'alensi ($ $$$)*$
$$$ penduduk, tetapi di Indonesia tidak sebesar itu. !ngka kejadian antara pria dan
wanita adalah seimbang. uncak kejadian adalah antara usia "#)&# tahun, manakala
puncak usia kedua adalah sekitar #$ % +$ tahun. Inflammatory Bowel Disease terbagi
kepada ( macam yaitu, ,olitis -lceratif dan enyakit .hron. ,olitis -lceratif sering
terjadi di usus besar (kolon) manakala enyakit .hron lebih sering terjadi di usus halus.
,olitis -lceratif adalah kondisi peradangan yang terspesifikasi pada rektum
dan kolon. ,edalaman luka hanya terbatas pada mukosa hingga sub mukosa. enyakit
.hron pula adalah peradangan mukosa saluran cerna yang dapat terjadi pada semua
bagian saluran cerna. /uka pada kondisi ini dapat sampai melintasi membrane, sehingga
luka lebih dalam.
0ecara teoritis, penyakit Inflammatory Bowel Disease terkait dengan fakor infeksi dan
imunologis. Berikut disertakan tabel untuk menunjukkan faktor)faktor penyebab
Inflammatory Bowel Disease
Definisi Chrons Disease
enyakit .rohn (1nteritis 2egionalis, Ileitis 3ranulomatosa, Ileokolitis) adalah peradangan
menahun pada dinding usus. enyakit ini mengenai seluruh ketebalan dinding usus.
,ebanyakan terjadi pada bagian terendah dari usus halus (ileum) dan usus besar, namun
dapat terjadi pada bagian manapun dari saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai anus,
dan bahkan kulit sekitar anus.
ada beberapa dekade yang lalu, penyakit .rohn lebih sering ditemukan di negara barat dan
negara berkembang. 4erjadi pada pria dan wanita, lebih sering pada bangsa 5ahudi, dan
cenderung terjadi pada keluarga yang juga memiliki riwayat kolitis ulserati'a.
,ebanyakan kasus muncul sebelum umur &$ tahun, paling sering dimulai antara usia "*)(*
tahun.
enyakit ini mempengaruhi daerah tertentu dari usus, kadang terdapat daerah normal diantara
daerah yang terkena. ada sekitar &# 6 dari penderita penyakit .rohn, hanya ileum yang
terkena. ada sekitar ($6, hanya usus besar yang terkena. Dan pada sekitar *# 6, ileum
maupun usus besar terkena.
Penyebab
enyebab pasti penyakit .rohn masih belum diketahui. 4erdapat beberapa penyebab
potensial yang diperkirakan secara bersama)sama menimbulkan .rohn7s disease, yang paling
mungkin adalah infeksi, imunologis, dan genetik. ,emungkinan lain adalah faktor
lingkungan, diet, merokok, penggunaan kontrasepsi oral, dan psikososial.
8aktor Infeksi
Meskipun terdapat beberapa agen)agen infeksi yang diduga merupakan penyebab potensial
.rohn7s disease, namun terdapat dua agen infeksi yang paling menarik perhatian yaitu
mycobacteria, khususnya Mycobacterium paratuberculosis dan 'irus measles. Infeksi lain
yang diperkirakan menjadi penyebab .rohn7s disease adalah Chlamydia, Listeria
monocytogenes, Pseudomonas sp, dan retro'irus.
8aktor Imunologis
,elainan)kelainan imunologis yang telah ditemukan pada pasien)pasien dengan .rohn7s
disease mencakup reaksi)reaksi imunitas humoral dan seluler yang menyerang sel)sel saluran
cerna, yang menunjukkan adanya proses autoimun. 8aktor)faktor yang diduga berperanan
pada respons inflamasi saluran cerna pada .rohn7s disease mencakup sitokin)sitokin, seperti
interleukin (I/))", I/)(, I/)+, dan 498 (tumor necroting factor). eranan respons imun pada
.rohn7s disease masih kontro'ersial, dan mungkin timbul sebagai akibat dari proses penyakit
dan bukan merupakan penyebab penyakit.
8aktor 3enetik
8aktor genetik tampaknya memegang peranan penting dalam patogenesis .rohn7s disease,
karena faktor risiko tunggal terkuat untuk timbulnya penyakit ini adalah adanya riwayat
keluarga dengan .rohn7s disease. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa penyakit
.rohn mungkin memiliki link genetik. enyakit ini berjalan dalam keluarga dan mereka yang
memiliki saudara dengan penyakit tersebut adalah &$ kali lebih mungkin untuk
mengembangkannya daripada populasi normal. 0ekitar " dari # pasien dengan .rohn7s
disease (($6) mempunyai setidaknya satu anggota keluarga dengan penyakit yang sama.
ada berbagai penelitian didapatkan bahwa .rohn7s disease berhubungan dengan kelainan
pada gen)gen HLA-DR1 dan DQ!" /atar belakang etnis juga merupakan faktor risiko.
8aktor)faktor lingkungan
Diet ini diyakini terkait dengan pre'alensi yang lebih tinggi di bagian dunia industri.
Merokok telah terbukti dapat meningkatkan risiko kembalinya penyakit aktif, atau :flare:.
engenalan kontrasepsi hormonal di !merika 0erikat pada tahun ";<$ terkait dengan
peningkatan dramatis dalam angka kejadian penyakit .rohn. Meskipun hubungan kausal
belum efektif ditampilkan, masih ada kekhawatiran bahwa obat)obatan ini bekerja pada
sistem pencernaan dengan cara yang mirip dengan merokok.
8aktor)faktor /ain
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian !0I merupakan faktor proteksi terhadap
timbulnya .rohn7s disease. Merokok dan penggunaan kontrasepsi oral meningkatkan risiko
timbulnya .rohn7s disease dan risiko ini meningkat sejalan dengan lamanya penggunaan.
Patologi
0tadium dini .rohn7s disease ditandai dengan limfedema obstruktif dan pembesaran folikel)
folikel limfoid pada perbatasan mukosa dan submukosa. -lserasi mukosa yang menutupi
folikel)folikel limfoid yang hiperplastik menimbulkan pembentukkan ulkus aptosa. ada
pemeriksaan mikroskopis, ulkus aptosa terlihat sebagai ulkus)ulkus kecil yang berbatas tegas
dan tersebar, dengan diameter sekitar & mm dan dikelilingi oleh daerah eritema. 0ebagai
tambahan, lapisan mukosa menebal sebagai akibat dari inflamasi dan edema, dan proses
inflamasi tersebut meluas hingga melibatkan seluruh lapisan usus.
-lkus aptosa cenderung membesar atau saling bersatu, menjadi lebih dalam dan sering
menjadi bentuk linear. 0ejalan dengan makin buruknya penyakit, dinding usus menjadi
semakin menebal dengan adanya edema dan fibrosis, dan cenderung menimbulkan
pembentukkan striktura. ,arena lapisan serosa dan mesenterium juga mengalami inflamasi,
maka lengkungan)lengkungan usus menjadi saling menempel. !kibatnya, ulkus)ulkus yang
telah meluas hingga keseluruhan dinding usus akan membentuk fistula antar lengkungan usus
yang saling menempel. 4etapi lebih sering terjadi saluran sinus yang berakhir buntu ke dalam
suatu ca'itas abses di dalam ruang peritoneal, mesenterium, atau retroperitoneum.
Geala
3ejala awal yang paling sering ditemukan adalah diare menahun, nyeri kram perut, demam,
nafsu makan berkurang dan penurunan berat badan. ada pemeriksaan fisik ditemukan
benjolan atau rasa penuh pada perut bagian bawah, lebih sering di sisi kanan. ,omplikasi
yang sering terjadi dari peradangan ini adalah penyumbatan usus, saluran penghubung yang
abnormal (fistula) dan kantong berisi nanah (abses). 8istula bisa menghubungkan dua bagian
usus yang berbeda. 8istula juga bisa menghubungkan usus dengan kandung kemih atau usus
dengan permukaan kulit, terutama kulit di sekitar anus. !danya lobang pada usus halus
(perforasi usus halus) merupakan komplikasi yang jarang terjadi.
=ika mengenai usus besar, sering terjadi perdarahan rektum. 0etelah beberapa tahun, resiko
menderita kanker usus besar meningkat.
0ekitar sepertiga penderita penyakit .rohn memiliki masalah di sekitar anus, terutama fistula
dan lecet (fissura) pada lapisan selaput lendir anus. enyalit .rohn dihubungkan dengan
kelainan tertentu pada bagian tubuh lainnya, seperti batu empedu, kelainan penyerapan >at
gi>i dan penumpukan amiloid (amiloidosis). Bila penyakit .rohn menyebabkan timbulnya
gejala)gejala saluran pencernaan, penderita juga bisa mengalami ?
) peradangan sendi (artritis)
) peradangan bagian putih mata (episkleritis)
) luka terbuka di mulut (stomatitis aftosa)
) nodul kulit yang meradang pada tangan dan kaki (eritema nodosum) dan
) luka biru)merah di kulit yang bernanah (pioderma gangrenosum).
=ika penyakit .rohn tidak menyebabkan timbulnya gejala)gejala saluran pencernaan,
penderita masih bisa mengalami ?
) peradangan pada tulang belakang (spondilitis ankilosa)
) peradangan pada sendi panggul (sakroiliitis)
) peradangan di dalam mata (u'eitis) dan
) peradangan pada saluran empedu (kolangitis sklerosis primer).
ada anak)anak, gejala)gejala saluran pencernaan seperti sakit perut dan diare sering bukan
merupakan gejala utama dan bisa tidak muncul sama sekali.
3ejala utamanya mungkin berupa peradangan sendi, demam, anemia atau pertumbuhan yang
lambat.
ola umum dari penyakit .rohn
3ejala)gejala penyakit .rohn pada setiap penderitanya berbeda, tetapi ada * pola yang umum
terjadi, yaitu ?
". eradangan ? nyeri dan nyeri tekan di perut bawah sebelah kanan
(. enyumbatan usus akut yang berulang, yang menyebabkan kejang dan nyeri hebat di
dinding usus, pembengkakan perut, sembelit dan muntah)muntah
&. eradangan dan penyumbatan usus parsial menahun, yang menyebabkan kurang gi>i dan
kelemahan menahun
*. embentukan saluran abnormal (fistula) dan kantung infeksi berisi nanah (abses), yang
sering menyebabkan demam, adanya massa dalam perut yang terasa nyeri dan penurunan
berat badan.
Diagnosis
!namnesis
3ambaran klinis umum pada .rohn7s disease adalah demam, nyeri abdomen, diare, dan
penurunan berat badan. Diare dan nyeri abdomen merupakan gejala utama keterlibatan colon.
erdarahan per rectal lebih jarang terjadi. ,eterlibatan usus halus dapat berakibat nyeri yang
menetap dan terlokalisasi pada kuadran kanan bawah abdomen .
emeriksaan 8isik
ada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri pada kuadran kanan bawah abdomen yang dapat
disertai rasa penuh atau adanya massa. asien juga dapat menderita anemia ringan,
leukositosis, dan peningkatan /1D.
@bstruksi saluran cerna merupakan komplikasi yang paling sering terjadi. ada stadium dini,
obstruksi pada ileum yang terjadi akibat edema dan inflamasi bersifat re'ersibel. 0ejalan
dengan makin memburuknya penyakit, akan terbentuk fibrosis, yang berakibat
menghilangnya diare yang digantikan oleh konstipasi dan obstruksi sebagai akibat
penyempitan lumen usus.
embentukkan fistula sering terjadi dan menyebabkan abses, malabsorpsi, fistula cutaneus,
infeksi saluran kemih yang menetap, atau pneumaturia. Meskipun jarang, dapat terjadi
perforasi usus sebagai akibat dari keterlibatan transmural dari penyakit ini .
emeriksaan enunjang
emeriksaan penunjang yang disarankan adalah A)foto polos, A)foto kontras tunggal saluran
cerna bagian atas dengan follo-though usus halus atau enteroclysis dengan .4, dan
pemeriksaan kontras ganda usus halus. -03 dan M2I dapat digunakan sebagai penunjang
jika terdapat masalah dengan penggunaan kontras.
Bingga saat ini tidak ada pemeriksaan laboratorium spesifik yang berguna dalam diagnosis
.rohn7s disease, atau yang berhubungan dengan akti'itas klinis penyakit.
Penatala!sanaan
engobatan ditujukan untuk membantu mengurangi peradangan dan meringankan
gejalanya. ,ram dan diare bisa diatasi dengan obat)obat antikolinergik, difenoksilat,
loperamide, opium yang dilarutkan dalam alkohol dan codein. @bat)obat ini diberikan per)
oral (melalui mulut) dan sebaiknya diminum sebelum makan. -ntuk membantu mencegah
iritasi anus, diberikan metilselulosa atau preparat psillium, yang akan melunakkan
tinja.0ering diberikan antibiotik berspektrum luas.
!ntibiotik metronida>ole bisa membantu mengurangi gejala penyakit .rohn, terutama
jika mengenai usus besar atau menyebabkan terjadinya abses dan fistula sekitar anus.
enggunaan metronida>ole jangka panjang dapat merusak saraf, menyebabkan perasaan
tertusuk jarum pada lengan dan tungkai. 1fek samping ini biasanya menghilang ketika
obatnya dihentikan, tapi penyakit .rohn sering kambuh kembali setelah obat ini dihentikan.
0ulfasala>ine dan obat lainnya dapat menekan peradangan ringan, terutama pada usus besar.
4etapi obat)obat ini kurang efektif pada penyakit .rohn yang kambuh secara tiba)tiba dan
berat.
,ortikosteroid (misalnya prednisone), bisa menurunkan demam dan mengurangi
diare, menyembuhkan sakit perut dan memperbaiki nafsu makan dan menimbulkan perasaan
enak. 4etapi penggunaan kortikosteroid jangka panjang memiliki efek samping yang serius.
Biasanya dosis tinggi dipakai untuk menyembuhkan peradangan berat dan gejalanya,
kemudian dosisnya diturunkan dan obatnya dihentikan sesegera mungkin.
@bat)obatan seperti a>atioprin dan mercaptopurine, yang merubah kerja dari sistim
kekebalan tubuh, efektif untuk penyakit .rohn yang tidak memberikan respon terhadap obat)
obatan lain dan terutama digunakan untuk mempertahankan waktu remisi (bebas gejala) yang
panjang. @bat ini mengubah keadaan penderita secara keseluruhan, menurunkan kebutuhan
akan kortikosteroid dan sering menyembuhkan fistula.4etapi obat ini sering tidak
memberikan keuntungan selama &)< bulan dan bisa menyebabkan efek samping yang serius.
@leh karena itu, diperlukan pengawasan yang ketat terhadap kemungkinan terjadinya alergi,
peradangan pankreas (pankreatitis) dan penurunan jumlah sel darah putih.
8ormula diet yang ketat, dimana masing)masing komponen gi>inya diukur dengan
tepat, bisa memperbaiki penyumbatan usus atau fistula, minimal untuk waktu yang singkat
dan juga dapat membantu pertumbuhan anak)anak. Diet ini bisa dicoba sebelum pembedahan
atau bersamaan dengan pembedahan. ,adang)kadang >at makanan diberikan melalui infus,
untuk mengkompensasi penyerapan yang buruk, yang sering terjadi pada penyakit .rohn.
Bila usus tersumbat atau bila abses atau fistula tidak menyembuh, mungkin
dibutuhkan pembedahan. embedahan untuk mengangkat bagian usus yang terkena dapat
meringankan gejala namun tidak menyembuhkan penyakitnya. eradangan cenderung
kambuh di daerah sambungan usus yang tertinggal. ada hampir #$6 kasus, diperlukan
pembedahan kedua. ,arena itu, pembedahan dilakukan hanya bila timbul komplikasi atau
terjadi kegagalan terapi dengan obat.
"o#$li!asi
Manifestasi ekstraintestinal .rohn7s disease mencakup aptosa oral, ulkus, eritema nodosum,
osteomalacia dan anemia sebagai akibat dari malabsorpsi kronisC osteonekrosis sebagai akibat
terapi steroid kronisC pembentukkan batu empedu sebagai akibat keterlibatan ileus yang
menyebabkan gangguan reabsorpsi garam empeduC batu oksalat ginjal sebagai akibat dari
penyakit colonC pancreatitis sebagai akibat dari terapi sulfasala>ine, mesalamine, a>athioprine
atau <)mercaptopurineC pertumbuhan bakteri yang berlebihan rebagai akibat reseksi bedahC
dan manifestasi)manifestasi lainnya seperti amyloidosis, komplikasi tromboembolik,
penyakit hepatobiliaris, dan kolangitis sklerosis primer.
!bses
!bses terbentuk pada sekitar "# % ($6 pasien dengan .rohn7s disease sebagai akibat dari
pembentukkan saluran sinus atau sebagai komplikasi pembedahan. !bses dapat ditemukan di
mesenterium, ca'um peritoneal, atau retroperitoneum, atau di lokasi ekstraperitoneal. /okasi
tersering abses retroperitoneal adalah fossa ischiorectal, ruang presacral, dan regio iliopsoas.
Ileum terminal merupakan lokasi tersering sumber abses. !bses merupakan salah satu
penyebab utama kematian pada .rohn7s disease.
@bstruksi
@bstruksi terjadi pada ($ % &$6 pasien dengan .rohn7s disease. ada awal perjalanan
penyakit, terlihat adanya obstruksi yang re'ersibel dan hilang timbul pada saat setelah makan,
yang disebabkan oleh edema dan spasme usus. 0etelah beberapa tahun, inflamasi yang
menetap ini akan secara bertahap memburuk hingga terjadi penyepitan dan striktur lumen
akibat fibrostenotik.
8istula
embentukkan fistula merupakan komplikasi yang sering dari .rohn7s disease pada colon.
,omplikasi fistula yang disertai abses atau penyakit berat paling sulit ditangani. Bal ini
terjadi pada pasien dengan .rohn7s disease. eranan terapi medikamentosa hanyalah untuk
mengontrol obstruksi, inflamasi, atau proses)proses supuratif sebelum dilakukannya terapi
definitif, yaitu pembedahan. erlu dilakukan operasi untuk meng)e'akuasi abses dan, jika
tidak ada kontraindikasi berupa sepsis, dilanjutkan dengan reseksi usus yang sakit. 8istula
dapat berakibat perforasi usus spontan pada " % (6 pasien.
,eganasan
,eganasan saluran cerna merupakan penyebab utama kematian pada .rohn7s disease.
!denocarcinoma biasanya timbul pada daerah)daerah dimana terjadi penyakit kronis.
0ayangnya, sebagian besar kanker yang berhubungan dengan .rohn7s disease tidak terdeteksi
hingga tahap lanjut dan mempunyai prognosis yang buruk. 0elain keganasan saluran cerna,
keganasan ekstraintestinal (misalnya, sDuamous cell carcinoma pada pasien dengan penyakit
kronis di daerah perianal, 'ul'a atau rectal) dan limfoma Bodgkin atau non)Bodgkin juga
terbukti lebih sering terjadi pada pasien)pasien dengan .rohn7s disease
III. URAIAN "ASUS
!94, seorang perempuan, berumur &# tahun, yang berprofesi sebagai penyanyi datang ke
20 dengan keluhan diare dengan berak darah dan merasa lemah, demam disertai dengan
nyeri perut. asien mengalami B!B kadang bisa lebih dari E kali dalam sehari. 0ejak "$
tahun yang lalu !94 mulai merokok dan sudah menjadi perokok berat. 3ejala ini mulai
dirasakan sejak * hari yang lalu. Dia pernah menderita hal serupa sejak " tahun terakhir
yang belum pernah diobati, karena merasa masih kuat menahan. ,emudian di 20
dilakukan beberapa pemeriksaan diantaranyaC
Pe#eri!saan en%os!o$i ? luka pada saluran cerna (usus) cenderung dalam
Diagnosa ? .rohn7s disease
Pe#eri!saan fisi!
4B ? "<$ cm 9ormal ? &Ec
BMI ? ";,"* kg 9ormal ? <$)"$$A
0uhu ? &+c 9ormal ? ($)&$A
9adi ? ;#A 9ormal ? "($F+$mmBg
22 ? (EA
4D ? "(EF+$mmBg
Data &aborat'ri'#
Bb ? "$gFDl 9ormal ? "()"# gFd/
1ritrosit ? E," A "$
"(
F/ 9ormal ? *)<,( G "$
"(
F/
8erritin ? EmcgF/ 9ormal ? "$)"#$mcgF/
0erum iron ? &E mmolF/ 9ormal ? #,*)&",& mmolF/
/eukosit ? "$.$$$ Ful 9ormal ? #$$$)"$$$$ Ful
0erum albumin ? (,#gFd/ 9ormal ? &,( % # gFd/
9a ? "&$ m1DF/ 9ormal ? "&<)"*# m1DF/
, ? *,#m1DF/ 9ormal ? &,E)#,< m1DF/
.l ? ;#m1DF/ 9ormal ? ;#)"$# m1DF/
3lukosa ? "$$ m1DF/ 9ormal ? E$)""$ mgFd/
-rea ? "EmgFd/ 9ormal ? #)($ mgFd/
,reatini ? ",$ mgFd/ 9ormal ? $,#)",#mgFDl
Basil biopsi dan endoskopiFkolonoskopi ? menunujukkan adanya luka agak dalam ileum
disisi kanan
Tera$i
0alofak +g A "
/eAacort & A " tab
@ralit
!rfen & A " tab
8ola'it "A tab
I(. ANA&ISIS SOAP
SU)JECTI(E
Identitas pasien ? ny ,!94 , umur &# th,
,eluhan pasien ?
o Diare, dengan berak darah
o Merasa lemah
o Demam, disertai nyeri perut
o B!B, lebih dari E kali sehari
riwayat penyakit keluarga ? )
riwayat penyakit penderita ? )
riwayat pengobatan ?
o salofalk + gr A "
o leAacort & A " tab
o oralit
o arfen & A " tab
o fola'it " A " tab
kebiasaanFperilaku hidup ? sejak "$ tahun lalu ny. !94 mulai merokok dan
sudah menjadi perokok berat
O)JECTI(E
Data Hital 0ign
". emeriksaan pertama
- 4B ? "<$ cm
- BMI ? ";,"* kg
- 0uhu ? &+
o
c
- 9adi ? ;#A
- 22 ? (EA
- 4D ? "(EF+$ mmhg
(. emeriksaan penunjang ? )
Data /aboratorium ?
Bb ? "$gFdl
1ritrosit ? E,"."$
"(
F /
8erritin ? E mcg F/
0erum iron ? &E umolFliter
0erum albumin ? (,# gFd/
9a ? "&$ m1DF/
, ? *,# m1DF/
.l ? ;# m1DF/
3lukosa ? "$$ m1DF/
-rea ? "E mgFdl
,reatinin ? ",$ mgFd/
Basil biopsi dan endoskopiFkolonoskopi ? menunjukana adanya luka agak dalam
ileum di sisi kanan
ASSES*ENT
a. roblem medik
". .hron7s disease
(. emeriksaan endoskopi ? luka pada saluran cerna (usus) cenderung dalam
b. 4erapi yang diperoleh?
o 0alofalk + gr A "
o leAacort & A " tab
o oralit
o arfen & A " tab
o fola'it " A " tab
c. D2
D2s yang ditemukan dalam kasus ini antara lain ?
". @'erdose ? salofalk seharusnya ",# % * gr
(. -nderdose ?
&. emilihan obat yang tidak tepat ?
*. !D2 ? 4idak ada
#. Interaksi obat ?
o /eAacort dengan salofalkminor? leAacort menurunkan le'el dari salofalk
(medscape)
o !rfen dan salofalk arfen meningkatkan efek dari salofalk (medscape)
o 0alofalk dengan fola'it salaofalk menurunkan efek fola'it
o !rfen dengan leAacort meningkatkan toksisitas keduanya dan
meningkatkan resiko ulkus 3I
o 0alofalk dengan arfen menigkatkan toksisitas keduanya
<. @bat tanpa Indikasi ? )
E. Indikasi tanpa obat ? )
+. ,epatuhan (compliance) pasien ? atuh
P&AN
a. enetapan tujuan terapi
". -ntuk membantu mengurangi peradangan
(. Mengurangi rasa nyeri
&. Menghilangkan gejala penyakit
b. 0olusi dari problem D2s
". enghentian pemberian leAacort
(. enggantian arfen dengan paracetamol
c. emilihan terapi farmakologi berdasarkan farmakoterapi rasional meliputi *4"I
+T, -.
A. TEPAT INDIKASI
a. Salofalk : Pengobatan fase akut ringan sampai sedang, penakit
radang usus, dan untuk pen!ega"an kekambu"anna.
b. #e$a!ort : !"ron%s disease, autoimun "epatitis, pneumo!stis,
ekstrapulmonar tuber!ulosis, r"eumatoid art"ritis, asma a!ute.
!. &ralit : tepat
d. Ar'ent : neri, demam, radang, dismenorae, ost"eo
art"ritis, (A.
e. )ola'it : suplemen nutrisi, kekurangan asam folat,
toksisitas metanol, neural tube defe!t.
f. Para!etamol : demam, neri.
*. TEPAT PASIEN
a. Salofalk : ulkus peptik aktif, kelainan fungsi "ati dan gin+al berat,
pembekun dara" ang abnormal, dan "ati dan infant
b. #e$a!ort : "ipersensiti'itas ter"adap prednison, 'ari!ela.
!. &ralit : tepat
d. Ar'ent : Alergi aspirin, Pendara"an ,I, Trombositopenia.
e. )ola'it : "persensiti'itas.
f. Para!etamol : "ipersensiti'itas, "epatitis atau gangguan gin+al dan
"ati, alko"olik.
-. TEPAT D&SIS
a. Salofalk : de.asa : untuk penakit -"ron : /,0 1 0,2 g3"ari dibagi
dalam 4 dosis
b. #e$a!ort : 25 1 65 mg per oral per "ari
!. &ralit : tepat
d. Ar'ent : 255 1 755 mg per oral tiap 6 1 7 8am, tidak bole"
lebi" dari 4,9 g3"ari.
e. )ola'it : 255 1 755 m!g3"ari
f. Para!etamol : 490 1 605 3oral tiap 2 +am +ika perlu.
D. TEPAT &*AT
a. Salofalk : mengurangi pembekakan pada usus se"ingga
mengurangi ge+ala ang disebabkan penakit.
b. #e$a!ort : mengontrol atau men!ega" radang dengan !ara
mengontrol +umla" sintesis protein, menekan migrasi dari
Polmorp"onu!lear leuko!tes :P;Ns< dan 'ibroblas.
!. &ralit : tepat
d. Ar'ent : meng"ambat sintesis prostaglandin di +aringan
tubu" dengan !ara meng"ambat isoen=m -&>/ Dan -&>9
e. )ola'it : meds!ape
f. Para!etamol : beraksi di "potalamus untuk memproduksi antipiretik.
E. ?ASPADA E)EK SA;PIN,
a. Salofalk : bronkospasme, demam, eksantema alergi, smdroma
menerupai lupus eritametosis.
b. #e$a!ort : allergi, anafilaksis, dan angiodema.
!. &ralit : tepat
d. Ar'ent : Pusing, Neri epigastrum, mual, munta", edema,
rus", fluid retension.
e. )ola'it : bronkospasm, eritema, malais, pruritus.
f. Para!etamol : angiodema, disorientasi, pusing, ras", urti!aria, dsb.

d. emberian informasi kepada penderita (,onseling Informasi 1dukasi J ,I1)
!jarkan panduan pemberian oralit 0atu bungkus oralit dapat digunakan untuk
membuat ($$ ml (" gelas) larutan oralit.
Beritahukan agar @bat disimpan dalam tempat yang kering dan sejuk atau pada
suhu ruangan.
astikan pasien meminum obat secara teratur, informasikan kepada keluarga
pasien agar selalu mengingatkan pasien untuk minum obat secara teratur.
!ir dapat dikonsumsi untuk mengganti kehilangan cairan tubuh. !kan tetapi,
penggunaan air soda
sebaiknya jangan diberikan karena dapat memperparah kembung dan buang angin
pada penderita emberian buah)buahan sebaiknya buah)buahan yang sedikit serat
dan rendah fruktosa seperti air kelapa
0ebaiknya menghindari minuman yang mengandung kafein dan minuman
beralkohol dan makanan yang dapat menghasilkan alkohol seperti durian dan
nangka.
e. ilihan obat yang tepat untuk pasien
o Salofal!
o Oralit
o /ola0it
o $ara1eta#ol
f. Memonitor efek pengobatan yang terjadi
Monitor untuk perbaikan gejala pada pasien seperti pengurangan diare, sakit
perut, demam dan detak jantung.
Monitoring efek samping obat.
Melakukan endoskopi setiap setahun sekali.
Monitoring serum albumin, transferrin, dan marker inflamasi, darah lengkap
g. 4erapi non farmakologi
". Mengurangi kebiasaan merokok
(. PE*)A2ASAN
enyakit .rohn sering terjadi tanpa penyebab yang jelas (idiopatik). ada kasus
asien ini seorang perokok berat. Dapat dimungkinkan crohn disease yang dialami
pasien berasal dari paparan rokok ini. 9ikotin dalam rokok akan menstimulasi reseptor
!setilkolin nikotinik yang nantinya akan meningkatkan akti'itas saraf otonom di saluran
pencernaan. asien datang ke rumah sakit dengan keluhan diare dengan berak darah dan
merasa lemah, demam disertai dengan nyeri perut. asien mengalami buang air besar
kadang bisa lebih dari E kali dalam sehari. 0elain itu, dari hasil pemeriksaan endoskopi
didapatkan luka pada saluran cerna (ileum) yang cenderung dalam. Bal ini yang menjadi
dasar diagnosa crohn disease pada pasien.
4atalaksana terapi pada kasus ini yaitu diberikan terapi non farmakologi terlebih
dahulu untuk mengembalikan kondisi tubuh pasien 4erapi non farmakologi yang dapat
diberikan kepada pasien berupa pemberian nutrisi. 9utrisi berupa suplemen elektrolit
diberikan kepada pasien yang mengalami diare hingga mengganggu keseimbangan
cairan dan elektrolit dalam tubuh. 4ujuanannya adalah untuk mempertahankan
keseimbangan elektrolit dalam batas normal agar tidak memperparah kondisi pasien.
0edangkan terapi farmakologi yang diberikan bersifat mengontrol penyakit, tetapi
tidak bersifat kuratif. @bat)obat yang biasa diberikan adalah dari golongan
aminosalisilat, kortikosteroid dan imunosupresif. @bat lini pertama untuk merawat
penyakit .hron ringan hingga sedang adalah 0ulfasala>ine oral atau Mesalamine. ada
pasien dipilihkan mesalamine tunggal karena tidak terdapat infeksi, sehingga tidak perlu
diberikan sulfasala>ine yang mengandung antibiotic sulfapiridin. 0elain itu, karena
mesalamine menurunkan absorbsi asam folat yang penting dalam proses metabolism
tubuh. Maka perlu diberi tambahan suplemen asam folat untuk menggantikan deficit
asam folat di dalam tubuh.
!r'ent dalam kasus ini kamu ganti dengan paracetamol.aracetamol disini berfungsi
sebagai antipiretik karena dari hasil pemeriksaan fisik suhu tubuh pasien adalah &+
$
..!lasan lainnya ar'ent diganti dengan paracetamol karena kandungan ar'ent yaitu
ibuprofen mempunyai kontra indikasi dengan pasien tukak peptik karena ibuprofen
merupakan golongan obat 90!IDs.=ika tetap diberikan ar'ent dikhawatirkan akan
memperparah kondisi saluran pencernaan pasien.
(I. "ESI*PU&AN
enyakit .rohn (1nteritis 2egionalis, Ileitis 3ranulomatosa, Ileokolitis) adalah
peradangan menahun pada dinding usus. enyakit ini mengenai seluruh ketebalan
dinding usus.
4erapi yang diberikan adalah salofalk,oralit,fola'it,dan paracetamol.
DA/TAR PUSTA"A
!nonim, ($$E, M#M$ Petun%u& 'onsultasi (disi ), Info Master, =akarta.
!nonim, ($$+, #nformasi $pesialite *bat #ndonesia +olume ,-, enerbit Ikatan 0arjana
8armasi Indonesia, =akarta.
Dipiro, =oseph 4., et al, ($$+, Pharmacotherapy. A Pathophysiologic Approach $e/enth
(dition, Mc 3raw)Bill, 9ew 5ork.
,at>ung, B., ($$", 0arma&ologi Dasar dan 'lini&, diterjemahkan oleh rof. Dr. Ba>war,
1disi II, "#+)"+$, 13., =akarta
/acy, .harles 8., et al (1d.), ($$+, Drug #nformation Handboo& 1)th (dition, /eAi).omp,
Budson.
Muchid, !bdul, dkk, ($$#, harmaceutical .are untuk enyakit Diabetes Melitus,
Departemen ,esehatan 2I, =akarta.
0ukandar, dkk, ($$+, ISO Farmakoterapi3 PT. IS/I Penerbitan3 Ja!arta.
4jay, 4au Boan, ,irana 2ahardja, ($$(, *bat-*bat Penting. 'hasiat" Penggunaan1 dan
(fe&-(fe& $ampingnya (disi +1 1leA Media .omputindo, =akarta.
Iells, Barbara 3., et al, ($$;. Pharmacotherapy Handboo& $e/enth (dition. 9ew 5ork? Mc
3raw)Bill.