Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Gastroesofageal Reflux (GER ) adalah phasase isi lambung ke dalam
esofagus yang berlangsung secara involunter. Asal usul isi lambung dapat
bervariasi, dari air liur, makanan dicerna dan minuman untuk lambung, pankreas
atau sekresi empedu.

GER adalah refluks isi lambung ke kerongkongan dengan atau tanpa


regurgitasi dan muntah. GER adalah proses fisiologi normal yang ter!adi beberapa
kali per hari pada bayi sehat, anak"anak, dan orang de#asa, pada individu sehat
GER ter!adi $% menit. RGE patologis yang dikenal sebagai Gastroesofageal
Reflux Diseae GER& ter!adi ketika refluks isi lambung menyebabkan ge!ala
bermasalah dan atau komplikasi.
,'
2.2 Epidemiologi
(asih sedikit data yang ditemukan mengenai prevalensi dan insidensi
GER& pada anak. )ebuah studi di *+ pada tahun ',,,"',,- ditemukan .,,
anak dengan diagnosis a#al GER& dan angka ke!adianya adalah sekitar ,,/0 per
,,, anak per tahun. 1nseden ini menurun pada anak umur "' tahun dan
meningkat ke!adianya hingga berumur 2". tahun.
%
3eberapa populasi pediatrik esofagus berisiko tinggi GER& !uga telah
diidentifikasi, termasuk anak"anak dengan gangguan neurologis, gangguan
3
4
genetik tertentu, dan atresia esofagus. GER& terdapat hampir lebih .-4 pada
anak dengan kelainan neurologi. 5al ini dihubungkan dengan kurangnya kordinasi
antaara peristaltik esophagus dan peningkatan tekanan intra abdominal yang
berasal dari hipertonus otot.
&i 1ndonesia belum ada data epidemiologi mengenai penyakit ini, namun
di &ivisi Gastroenterohepatologi &epartemen 16& 7+*1" R)*68 9ipto
(angunkusumo :akarta, didapatkan kasus esofagitis sebanyak '',/4 dari semua
pasien yang men!alani pemeriksaan endoskopi atas indikasi dispepsia.
'
GER& pada bayi;
< paling banyak ter!adi pada bayi sehat berumur 0 bulan, dengan = x episode
regurgitasi
< 6ada umur 2 > . bulan, ge!ala berkurang dari 24 men!adi '4
< 5anya -4 bayi berumur ' bulan yang masih mengalami RGE

2.3 Etiologi
7aktor"faktor yang mempengaruhi posisi sfingter dalam abdomen, sudut
insersi esofagus ke dalam lambung dan tekanan sfingter. )ering terkena sfingter
turun secara spontan merupakan mekanisme utama refluks, tetapi refluks melalui
yang lemah kornis sering ter!adi inflamasi dan ter!adi esofagitis. +apasitas
penampung esofagus bayi yang kecil memberi kecenderungan untuk muntah.
%
1nflamasi esophagus bagian distal ter!adi ketika cairan lambung dan
duedonum, termasuk asam lambung, pepsin, tripsin dan asam empedu mengalami
regurgitasi ke dalam esophagus. 6enurunan tonus spingter esophagus bagian
5
ba#ah dan gangguan motilitas meningkatkan #aktu pengosongan esophagus dan
menyebabkan GER. 1nflamasi esophagus nantinya dapat mengakibatkan
kedua mekanisme diatas, seperti lingkaran setan.
%
2.4 Patogenesis
Gastroesophageal reflux adalah suatu proses fisologi normal yang muncul
beberapa kali sehari pada bayi, anak dan de#asa yang sehat, umumnya
berlangsung kurang dari % menit, ter!adi setelah makan dan menyebabkan
beberapa ge!ala atau tanpa ge!ala.
%,0
Refluks pada bayi dapat ter!adi pada bayi sehat. 6ada bayi, Lower
Esofagus Sfingter (?E)) kemungkinan belum berkembang, atau dapat ter!adi
relaksasi pada #aktu yang tidak sesuai, membuat isi lambung kembali ke dalam
kerongkongan. (en!adi tetap datar selama #aktu makan atau berbaring setelah
makan mengakibatkan refluks karena gravitasi tidak bisa membantu men!aga
makanan di dalam perut mengalir kembali naik ke kerongkongan. (akan
berlebihan dan minum minuman berkarbonat memberi kecendrungan refluks
dengan meningkatkan tekanan di dalam perut. Asap rokok (seperti asap bekas)
dan kafein (pada minuman ringan atau air susu ibu) mengendurkan bagian ba#ah
esophageal sphincter, membuat refluks ter!adi lebih sering. +afein dan nikotin
(pada air susu ibu) !uga merangsang produksi asam sehingga setiap refluks yang
ter!adi lebih bersifat asam. Alergi makanan atau tidak bisa menerima makanan
!uga membuat refluks, tetapi hal ini adalah penyebab yang kurang sering ter!adi.
-
6
6atogenesis ter!adinya GER& menyangkut keseimbangan antara faktor
defensif dari esofagus dan faktor ofensif dari bahan refluksat. @ang termasuk
faktor defensif esofagus, yaitu;
%,-
a. 6emisah antirefluks
?E) memiliki peran terbesar seagai pemisah antirefluks.
(enurunnya tonus ?E) dapat menyebabkan timbulnya refluks retrograde
pada saat ter!adinya peningkatan tekanan intraabdomen.
)ebagian besar pasien GER& ternyata mempunyai tonus ?E) yang
normal. 7aktor"faktor yang dapat menurunkan tonus ?E) adalah adanya
hiatus hernia, pan!ang ?E) (makin pendek ?E), makin rendah tonusnya),
obat"obatan (misal antikolinergik, beta adrenergik, teofilin, opiate, dll),
dan faktor hormonal. )elama kehamilan, peningkatan kadar progesteron
dapat menurunkan tonus ?E).
8amun dengan perkembangan teknik pemeriksaan manometri,
tampak bah#a pada kasus"kasus GER& dengan tonus ?E) yang normal
yang berperan dalam ter!adinya proses refluks ini adalah transient LES
relaxation (A?E)R), yaitu relaksasi ?E) yang bersifat spontan dan
berlangsung lebih kurang - detik tanpa didahului proses menelan. 3elum
diketahui bagaimana ter!adinya A?E)R ini, tetapi pada beberapa individu
diketahui ada hubungannya dengan pengosongan lambung yang lambat
(delayed gastric emptying) dan dilatasi lambung.
6eranan hiatus hernia pada patogenesis ter!adinya GER& masih
kontroversial. 3anyak pasien GER& yang pada pemeriksaan endoskopi
7
ditemukan hiatus hernia, namun hanya sedikit yang memperlihatkan ge!ala
GER& yang signifikan. 5iatus hernia dapat memperpan!ang #aktu yang
dibutuhkan untuk bersihan asam dari esofagus serta menurunkan tonus
?E).
b. 3ersihan asam dari lumen esofagus
7aktor"faktor yang berperan dalam bersihan asam dari esofagus
adalah gravitasi, peristaltik, ekskresi air liur, dan bikarbonat. )etelah
ter!adi refluks, sebagian besar bahan refluksat akan kembali ke lambung
dengan dorongan peristaltik yang dirangsang oleh proses menelan. )isanya
akan dinetralisir oleh bikarbonat yang disekresi oleh kelen!ar saliva dan
kelen!ar esofagus. (ekanisme bersihan ini sangat penting, karena makin
lama kontak antara bahan refluksat dengan esofagus (#aktu transit
esofagus) makin besar kemungkinan ter!adinya esofagitis. 6ada sebagian
besar pasien GER& ternyata memiliki #aktu transit esofagus yang normal
sehingga kelainan yang timbul disebabkan karena peristaltik esofagus yang
minimal.
c. +etahanan epitelial esofagus
3erbeda dengan lambung dan duodenum, esofagus tidak memiliki
lapisan mukus yang melindungi mukosa esofagus. (ekanisme ketahanan
epithelial esofagus terdiri dari;
) (embran sel
') 3atas intraselular (intracellular junction) yang membatasi difusi 5B ke
!aringan esofagus
8
%) Aliran darah esofagus yang mensuplai nutrien, oksigen, dan bikarbonat,
serta mengeluarkan ion 5B dan 9C'
0) )el"sel esofagus memiliki kemampuan untuk mentransport ion 5B dan
9l" intraseluler dengan 8aB dan bikarbonat ekstraseluler.
8ikotin dapat menghambat transport ion 8aB melalui epitel esofagus,
sedangkan alkohol dan aspirin meningkatkan permeabilitas epitel terhadap ion 5.
@ang dimaksud dengan faktor ofensif adalah potensi daya rusak refluksat.
+andungan lambung yang menambah potensi daya rusak refluksat terdiri dari
59l, pepsin, garam empedu, dan enDim pankreas.
7aktor ofensif dari bahan refluksat bergantung dari bahan yang
dikandungnya. &era!at kerusakan mukosa esofagus makin meningkat pada p5 $
', atau adanya pepsin atau garam empedu. 8amun yang memiliki potensi daya
rusak paling tinggi adalah asam.
7aktor"faktor lain yang berperan dalam timbulnya ge!ala GER& adalah
kelainan di lambung yang meningkatkan ter!adinya refluks fisiologis, antara lain
dilatasi lambung, atau obstruksi gastric outlet dan delayed gastric emptying.
Ealaupun belum !elas benar, akhir akhir ini telah diketahui bah#a non"acid reflux
turut berperan dalam patogenesis timbulnya ge!ala GER&. @ang dimaksud
dengan nonacid reflux adalah berupa bahan refluksat yang tidak bersifat asam atau
refluks gas. &alam keadaan ini, timbulnya ge!ala GER& diduga karena
hipersensitivitas viseral.
9
2. !e"ala Klinis
Gastroesophageal reflux disease (GER&) dikaitkan dengan berbagai ge!ala
diantaranya termasuk rasa panas dalam perut, regurgitasi, dan disfagia. 8amun,
diagnosis GER& berdasarkan adanya ge!ala khas hanya .,4 pasien. )elain
ge!ala"ge!ala ini khas, refluks yang abnormal bisa menyebabkan atypical
(extraesophageal) ge!ala, seperti batuk malam hari, nyeri dada, dan mengi. 6ada
anak dengan Refluks Gastroesophageal biasanya menangis dan gangguan tidur
serta penurunan nafsu makan. Aanda dan ge!ala gastroesophageal reflux pada bayi
dan anak ;
,.
a. Ge!ala
) Regurgitasi berulang dengan F tanpa muntah
') 3erat badan atau berat badan yang buruk
%) 5eartburn atau nyeri dada
0) 5ematemesis
-) &isfagia
2) (engi
.) )tridor
/) 3atuk
G) )uara serak
b. Aanda
) Esofagitis
') )triktur esofagus
%) 3arrett esophagus
10
0) 6eradangan laring F faring
-) 6neumonia berulang
2) Anemia
.) Erosi gigi
/) 7eeding penolakan
G) &istonik leher sikap (sindrom )andifer)
3atuk, stridor dan faringitis semuanya telah dikaitkan dengan gastroesophageal
refluks. Regurgitasi makanan merupakan salah satu ge!ala presentasi yang paling
umum pada anak"anak, berkisar dari air liur sampai muntah proyektil. Esophagitis
dapat bermanifestasi sebagai tangisan dan re#el pada bayi yang belum bicara.
+egagalan berkembang dakibat asupan kalori yang kurang karena muntah
berulang. 9egukan, gangguan tidur dan sindrom sandifer (hiperekstensi
punggung) !uga telah terbukti berhubungan dengan gastroesophageal refluks dan
esofagitis.

2. Diagnosis
)trategi menggunakan tes diagnostik untuk mendiagnosa GER& mungkin
!uga penuh dengan kompleksitas, karena tidak ada tes tunggal yang dapat
memerintah dalam atau keluar. Aes diagnostik harus digunakan secara bi!aksana
dan serial untuk mendokumentasikan kehadiran refluks isi lambung di
kerongkongan, untuk mendeteksi komplikasi, untuk membangun hubungan kausal
antara refluks dan ge!ala, untuk mengevaluasi efektivitas terapi, dan untuk
mengecualikan kondisi lain. (etode diagnostik yang paling umum digunakan
11
untuk mengevaluasi pasien anak dengan ge!ala GER& adalah pencernaan bagian
atas ( G1 ) saluran kontras radiografi, p5 esofagus danFatau pemantauan
impedansi, dan endoskopi atas dengan biopsi esofagus .
,',0,2
a. Anamnesa dan 6emeriksaan 7isik
6ada bayi dan balita, tidak ada ge!ala symptomor kompleks yang of GER&
or diagnostik memprediksi respon terhadap terapi. 6ada anak yang lebih
tua dan rema!a, seperti pada orang de#asa pasien, se!arah dan pemeriksaan
fisik mungkin cukup untuk mendiagnosa GER& !ika ge!ala yang khas.
Regurgiatas atau muntah, sakit perutm dan batuk adalah ge!ala paling
sering dilaporkan pada anak"anak dan rema!a dengan GER&.
b. Endoskopi
6emeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas merupakan standar baku
untuk diagnosis GER& dengan ditemukannya mucosal break di esopfagus.
&engan melakukan pemeriksaan endoskopi dapat dinilai perubahan
makroskopik dari mukosa esofagus. :ika tidak ditemukan mucosal break
pada pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas pada pasien dengan
ge!ala khas GER&, keadaan ini disebut non"erosive reflux disease
(8ER&). &itemukannya kelainan esofagitis pada pemeriksaan endoskopi
yang dipastikan dengan pemeriksaan histopatologi (biopsi), dapat
mengkonfirmasikan bah#a ge!ala heartburn atau regurgitasi tersebut
disebabkan oleh GER&.
12
c. +ontras 3arium
7luoroskopi dan kontras barium merupakan metode yang kurang peka
untuk diagnosis GER& tetapi berguna untuk mengkonfirmasi atau
menyingkirkan kelainan anatomi pencernaan bagian atas. 6ada keadaan
yang lebih berata , gambaran radiologi dapat berupa penebalan dinding
dan lipatn mukosa, ulkus atau penyempitan lumen. Ealaupun pemeriksaan
ini sangat tidak sensitif ntuk mendiagnosa GER&, namun pada keadaaan
tertentu pemeriksaan ini mempunyai nilai lebih dari endoskopi, yaitu pada;
) )tenosis esofagus akibat esofagitis peptik dengan ge!ala disfagia
') 5iatus 5ernia
d. Esophageal p5 monitoring
6emantauan 65 esofagus adalah prosedur untuk mengukur refluks asam
dari lambung ke esofagus yang ter!adi pada penykit refluks
gastroesophageal. 8ormal p5 esofagus berkisar -".. 6aparan asam dalam
esofagus adlah p5 $ 0,, p5 yang terkait dengan keluhan sakit magh.
(onitoring p5 esofagus bertu!uan untuk mendiagnosa efek GER&, untuk
menentukan evektivitas obat yang diberikan untuk mencegah refluks asam,
dan untuk menentukan apakah episode refluks asam yang menyebabkan
episode nyeri dada. 6emantauan p5 esofagus !uga dapat menentukan
pakah asam mencapai faring dan mungkin bertanggung !a#ab atas ge!ala
batuk, suara serak dan sakit tenggorokan.
13
e. 3iopsi esofagus
&engan esofagoskopoy dan pemeriksaan 6A pada pasien GER&,
didapatkan proliferasi lapisan basal esofagus yang meningkat. Eritema
mukosa, pucat dan pola penurunan vaskular sangat subyektif. Endoskopi
biopsi penting untuk mengidentifikasi atau mengesampingkan penyebab
lain dari esofagitis, dan untuk mendagnosa dan memantau 3arret
Esophagus.
f. Aes penghambat pompa proton
Aes ini merupakan terapi empiric untuk menilai ge!ala dari GER& dengan
memberikan 661 dosis tinggi selama "' minggu. Aes ini terutama
dilakukan !ika tidak tersedia modalitas diagnostic seperti endoskopi, p5
metri, dll. Aes ini dianggap positif !ika terdapat perbaikan dari -,4".-4
ge!ala yang ter!adi. Aes ini dian!urkan dalam algoriteme tatalaksana GER&
pada pasien yang tidak disertai ge!ala alarm yang meliputi; berat badan
turun, anemia, hematemesisFmelena, disfagia, dan umur =0, tahun.
2.# Diagnosis Banding
a. 5ernia 5iatus
5ernia hiatus melalui hiatus esofagus dapat ter!adi sebagai hernia geser
biasa, dimana sambungan esofagus lambung bergeser masuk ke dalam
toraks atau merupakan hernia paraesofagus, dimana sebagian lambung
menyelinap masuk di samping sambungan gastroesofagus ke dalam hiatus.
5ernia hiatus seringkali disertai dengan gastroesofagus refluks, terutama
pada anak yang menderita retradasi.
',%
14
b. Akhalasia
Akalasia adalah gangguan motilitas yang !arang dimana obstruksi relatif
pada sambungan gastroesofagus men!adi lebih !elek karena tidak adanya
gelombang peristaltik pada esofagus. )pasme esofagus dapat menimbulkan
obstruksi partial pada daerah perbatasan gaster esophagus, dimana pada
foto rontgen barium tampak adanay konstriksi esophagus bagian terminal
dan bagian atas melebar. Ge!ala"ge!alanya meliputi kesulitan menelan,
regurgitasi makanan, batuk karena cairan dalam trakea dan gagal tumbuh.
'
c. Atresia duodenum
Atresia duodenum adalah suatu keadaan kegagalan kanalis pada masa
embrional disertai atresia di bagian usus lainya. Ge!ala klinis yang sering
ter!adi adalah muntah"muntah yang mengandung empedu. Ge!ala lainnya
yaitu mekonium tidak keluar dalam #aktu lebih dari '0 !am.
%
2.$ Penatala%sanaan
6engobatan GER& melibatkan pendekatan bertahap. Au!uan pengobatan GER&
adalah untuk mengendalikan ge!ala, menyembuhkan esofagitis, dan untuk
mencegah esofagitis berulang atau kompliasi lain.
a. +onserfatif
) 6erubahan posisi
6osisi terlentang mengurangi !umlah paparan asam lambung pada
esofagus yang bisa diketahui melalui pemeriksaan 65, dibandingkan
15
dengan posisi telungkup. Aetapi pada posisi terlentang dan posisi lateral
berhubungan dengan meningktnya angka ke!adian sindrom bayi mati
mendadak atau Suddent infant death syndrom (SIDS) Cleh karena resiko
tersebut, maka posisi telentang atau lateral tidak terlalu direkomendasikan
untuk bayi dengan GER&, tetapi sebagian besar bayi usia diba#ah '
bulan lebih disarankan untuk ditidurkan dengan posisi telungkup.

3ayi dengan GER& berat harus ditidurkan telungkup dengan posisi


kepala lebih tinggi (%,
,
). )etelah menetek atau minum susu formula bayi
digendong detinggi payudara ibu, dengan muka mengadap dada ibu (sepeti
metode kanguru). 9ara ini membuat bayi lebih tenang sehingga
mengurangi refluks.
,.,/
9ara menyususi ;
a) 3ayi hanya menetek pada satu payudara sampai habis.
b) 3iarkan bayi terus menghisap (#alaupun payudara telah kosong)
sampai bayi tertidur. )elama bayi menghisap payudara, gerangkan
menghisap lidah bayi merupakan tigger terhadap kontraksi lambung,
sehingga refluks tidak akan ter!adi.
c) 5indaari perlakuan yang kasar atau tergesa"gesa atau perlakuan yang
tidak perlu.
d) )etelah menyusui, bayi !angan langsung ditidurkan. 3ayi baru
ditidurkan dengan posisi kepa lebih tinggi dan miring ke sebelah kiri,
paling cepat setengah !am setelah menyusu atau minum susu formula.
16
') 5indari paparan asap rokok dan konsumsi kopi pada ibu (caffein yang
berlebih pada ibu mempengaruhi ter!adiny GER& pada bayi).
%) 5indari pemakaian ba!u yang ketat.
0) 7ormula anti regurgitasi
6enambahan agen pengental seperti beras seral pada susu formula tidak
mengurangi durasi p5 $0 (indek refluks) yang terukur pada saat
monitoring p5 esofagus, tetapi bisa menurunkan frekuensi dan ke!adian
regurgitasi.
3eras sereal adalah agen penggental yang paling sering di
tambahkan pada susu formula. )usu formula yang dikentalkan dengan
beras sereal menurunkan volume regurgitas tetapi bisa menyebabkan batuk
selama pemberian. )usu formula yang dikentalkan dengan seeal bila
diberikan melalui botol dot maka lubang pada dot harus dilebarkan
sehingga susu dikentalkan tersebut bisa keluar dengan lancar. 1ntake energi
yang berlebihan adalah masalah yang sering ter!adi pada pemberian susu
formula yang dikentalkan dengan seral.
.,/
:ika bayi yang sering muntah dengan berat badan tidak bertambah, maka
penting untuk melakukan evaluasi dignostik lebih lan!ut. 6emeriksaan untuk
menemukan penyebab muntah (seperti pemeriksaan darah lengkap, elektrolit,
bikarbonat, nitrogen urea, kreatinin, alanin aminotransferase, amonia, glukosa,
urinalisa, keton urin dan reduksi, dan skrining galaktosemia dan penyakit Hmaple
sugar urine!. 6emeriksaan anatomi saluran gastrointestinal atas !uga dian!urkan.
17
:ika tidak ditemukan kelainan, tatalaksana termasuk terapi medis, ra#at inap dan
biopsi endoskopi
,.
Ra#at inap untuk observasi interaksi orangtua"anak dan mengoptimalkan
tatalaksana. 3iopsi endoskopi bermanfaat untuk menemukan adanya esofagitis
dan untuk menyingkirkan penyebab lain yang menimbulkan muntah dan tidak
bertambahnya berat badan. *ntuk meningkatkan asupan kalori pada bayi
dilakukan dengan meningkatkan densitas formula, dan penggunaan tube
nasogastrik atau transpilorik. Aerapi bedah !arang dilakukan. 7ollo#"up
diperlukan untuk memastikan penambahan berat badan yang adekuat.
/
Gambar ; Algoritma tatalaksana pada bayi dengan muntah berulang dan berat
badan tidak bertambah
18
b. 7armakologi
) Antogonis reseptor 5' dan proton pump inhibitor
Agen farmakologi utama yang biasanya digunakan untuk
mengatasi GER& pada anak adalah agen buffering asam lambung,
pertahanan mukosa, dan agen antisekretorik lambung. 6otensi efek
samping dari penekanan sekresi asam lambung, termasuk peningkatan
resiko pneumonia community"acIuired dan infeksi saluran
pencernaan, perlu diimbangi dengan manfaat terapi.
',%
6ada bayi yang didiagnosa GER&, diperlukan mana!emen
pengobatan yang tepat. Cbat penekan asam lambung berguna dalam
mengobati esofagitis yang disebabkan oleh refluks asam, bisa
digunakan sebagai terapi tunggal maupun kombinasi dengan agen
prokinetik. Antagonis reseptor 5' (5'RAsJ eg, ranitidine, cimetidine,
famotidine, niDatidine) dan penghambat pompa proton inhibitors
(661sJ eg, omepraDole, esomepraDole, lansopraDole) terbukti efektif
dalam penatalaksanaan GER&. )e!umlah studi telah
mendemonstrasikan efektivitas dari 5'RA pada orang de#asa dengan
reflux, dan % u!i coba acak terkontrol pada anak menun!ukkan bah#a
5'RA efektif dalam mengurangi ge!ala dan menyembuhkan
esofagitis.
.
19
Antagonis reseptor histamin 5' secara kompetitif menghambat
aksi histamin pada reseptor histamin 5' pada sel parietal lambung.
Cbat ini sangat selektif pada reseptor histamin 5' dan memiliki
sedikit atau tanpa efek pada reseptor histamin 5. )el parietal
memiliki reseptor untuk histamin, asetilkolin, dan gastrin, yang
semuanya dapat merangsang sekresi asam hidroklorida ke dalam
lumen gaster. Antagonis reseptor histamin 5' menghambat sekresi
asam yang dihasilkan oleh reseptor histamin, tapi tidak memiliki efek
pada sekresi asam yang dihasilkan oleh asetilkolin atau gastrin.
.
Cbat yang termasuk golongan ini adalah 9imetidin, Ranitidine,
7amotidine, dan 8iDatidine. Antagonis reseptor histamin 5' dapat
menurunkan penyerapan obat yang memerlukan suasana asam
(ketokonasol, itrakonasol). )imetidin menghambat enDim sitrokom 6"
0-, dan memiliki potensi untuk berinteraksi dengan obat lain yang
dimetabolisme oleh isoenDim ini (misalnya fenitoin, propanolol,
teofilin, #arfarin).
Ranitidin dan famotidin tampaknya sama efektifnya dengan
simetidin dan niDatidin. )uatu penelitian mengenai farmakokinetik dan
farmako dinamikranitidin (-mgFkg) pada bayi berusia 2 minggu
sampai 2 bulan yang menderita refluks gastroesofageal yang diberi
ranitidin dengan dosis - mgFkg 33, ternyata p5 esofagus paralel
dengan konsentrasi ranitidin dalam p5 dan p5 dalam lambung tetap
diatas 0 selama G !am setelah pemberian obat ini. 6ada pasien anak
20
anak berumur 2 bulan sampai % tahun dan mengalami esofagitis yang
refrakterdengan dosis normal ranitidin adalah / mgFkgFhari.
6enggunaan ranitidin dosis tinggi (', mgFkgFhari) dapat mengurangi
ge!ala dan memberikan penyembuhan. 1nhibitor pompa proton terikat
dengan hydrogenFpotassium adenosine triphospatase, suatu enDim
yang berperan sebagai pompa proton pada sel parietal, karena itu
dapat menghambat pertukaran ion yang merupakan langkah akhir
pada sekresi asam hidroklorida. Cbat ini menghambat sekresi asam
tanpa memandang apakah distimulasi oleh histamine, asetilkolin, atau
gastrin. *ntuk sekresi dari sel parietal inhibitor pompa proton
memerlukan aktivasi dalam lingkungan. )upaya makanan tidak dapat
mempengaruhi absorpsi dan konsentrasi puncak obat dalam plasma,
obat ini paling baik diminum sekitar %, menit sebelum makan. Cbat
ini kurang efektif selama kondisi puasa saat kondisi asam lebih
rendah.
1nhibitor pompa proton dinonaktifkan oleh asam lambung. Cleh
karena itu obat ini diformulasi dengan enteric coating" sehingaa obat
ini mampu mele#ati lambung dalam keadaan utuh dan memasuki
usus, dimana 65 nya kurang asam dan obat diserap. 1nhibitor pompa
proton memiliki elimanis #aktu paruh yang pendek namun durasi aksi
yang pan!ang karena ikatan dengan pompa proton irreversibel dan
penghentian aktifitas farmakologi memerlukan sintesis enDim yang
21
baru. 1nhibitor pompa proton tidak mempengaruhi motilitas lambung
atau sekresi enDim lambung yang lainnya.
%,.
Cmeprasol dan lansoprasol golongan inhibitor pompa proton telah
dii!inkan penggunaanya oleh 7&A pada pasien anak. +eduanya
tersedia dalam bentuk kapsul yang mengandung granula salut enteric.
?ansoprasol !uga tersedia dalam bentuk granual untuk penggunaanya
dalam suspense oral dan secara oral dalam betuk tablet yang
mengandung mikrogranula salut enteric. Cleh karena itu obat ini tidak
boleh dikunyah, harus ditelan dalam bentuk utuh karena akan
menurunkan efektifitasnya. Esomeprasol (bentuk isomer ) dari
omeprasol) tersedia sebagai kapsul yang mengandung enteric coated
pellet , dan rabeprasol, sedangkan pantoprasol tersedia dalam bentuk
enteric coated ta#lets

Cmeprasol dan lansoprasol sebaiknya diminum dengan sedikit !us


buah yang agak asam (!us apel, !eruk) atau yoghurt. 6ada penelitian
yang dilakukan pada pasien anak"anak yang menderita esofagitis yang
resisten terhadap antagonis reseptor histamin 5', omeprasol efektif
dalam memeperbaiki ge!ala dan menyembuhkan esofagitis.
6engobatan selama / minggu dengan omeprasol 0, mgFhariF,.% m'
luas permukaan tubuh atau ranitidin dosis tinggi (', mgFkgFhari)
mengurangi paparan asam pada esofagus dan mempercepat
kesembuhan pada '- orang bayi dan anak"anak yang berusia 2 bulan
sampai % tahun dengan refluks esofagitis yang berat. &osis
22
omeprasol yang diperlukan untuk menyembuhkan esofagitis kronik
dan berat pada pasien anak"anak adalah ,,."%,- mgFkgFhari).
,%
1nhibitor pompa proton lebih efektif daripada antagonis reseptor
histamine 5' dalam mengurangi sekresi asam, mengurangi ge!ala
RGE, dan emnyembuhkan esofagitis. 1nhibitor pompa proton !uga
lebih efektif daripada antagonis reseptor histamine 5' dalam
mempertahankan remisi.
') 6rokinetik
Agen 6rokinetik meningkatkan gerakan peristaltik esofagus,
mempercepat pengosongan lambung, dan meningkatkan tonus sfingter
esofagus bagian distal. 9isapride efektif dalam menurunkan refluks,
namun obat tersebut telah ditarik dari pasaran karena efek toksik pada
!antung berpotensi menyebabkan kematian dan tersedia hanya dalam
protokol penggunaan yang terbatas. (etoclopramid adalah obat
antidopaminergik dan kholinomimetik yang telah digunakan medis
pengelolaan GER&.
,%
9isaprid merupakan campuran agen seratonergic yang
memfasilitasi pelepasan asetilkolin pada sinaps dalam pleksus
mienterikus sehingga meningkatkan pengosongan lambung dan
esofagus, serta gerakan peristaltik saluran cerna. )etelah diketahui
bah#a cisapride bisa menyebabkan peman!angan inteval KA pada
E+G, sehingga meningkatkan angka kematian mendadak. Cleh karena
23
itu obat ini penggunaanya terbatas pada program"program yang
dia#asi oleh ahli gastroenterologi anak untuk percobaan klinis.
,%
c. Aerapi 3edah
Cperasi antirefluks harus dipertimbangkan bila terapi medis gagal,
misalnya, ge!ala terus berlan!ut atau timbul komplikasi GER&. 6embedahan
biasanya diindikasikan untuk pasien dengan refluks yang berlan!ut dan komplikasi
esophagitis meskipun sudah diberi terapi medis. 8issen fundoplication merupakan
prosedur operasi yang paling umum dilakukan. Aindakan yang dilakukan berupa
pembungkusan fundus lambung %2,, sekitar esofagus distal.
/
Alternatif dari nissen fundoplication adalah prosedur Ahal (fundoplication
/,L anterior), prosedur Aoupet (fundoplication '.,, posterior), prosedur 3oix"
Cchoa (pemulihan esofagus intra"abdomen), dan Eatson fundoplication
(fundoplication ',, anterior ). 6erbandingan antara berbagai operasi ini telah
menun!ukkan tingkat setara dengan komplikasi, revisi, dan kepuasan !angka
pan!ang. 6rosedur 8issen dan prosedur terkait lainnya dapat dilakukan secara
laparoskopi. 7undoplication laparoskopik telah diteliti dengan baik dan telah
disetarakan dengan prosedur terbuka pada de#asa.
2,/
8issen fundoplication telah secara luas dilakukan sebagi terapi bedah
untuk kasus GER&, namun prosedur ini berhubungan dengan tingginya angka
ke!adian disfagia pasca operasi dan angka ke!adian rekuren yang tinggi pada anak
24
dengan disa#ility Cleh karena itu, prosedur Ahal fundoplication pada kemudian
mulai dipopulerkan dan digunakan oleh banyak ahli bedah hingga saat ini.
25
Gambar; 6rosedur nissen fundoplication
Gambar; A. $issen fundoplication 3. %hal fudoplication 9. %oupet
fundoplication
26
2.& Kompli%asi
Esofagitis bisa bermanifestasi sebagai irritabilitas, anak tidak mau makan,
nyeri pada dada atau epigastrium pada anak yang lebih tua, dan !arang ter!adi
hematemesis, anemia, atau sindrom )andifer. Esofagitis yang berkepan!angan dan
parah dapat menyebabkan pembentukan striktura, yang biasanya berlokasi di
distal esophagus, yang menhasilkan disfagia, dan membutuhkan dilatasi
esophagus yang berulang dan fundoplikasi. Esofagitis yang berlangsung lama !uga
bisa menyebabkan perubahan metaplasia dari epitel skuamosa yang disebut
dengan 3arret Esofagus, suatu precursor untuk ter!adinya adenocarcinoma
esophagus.
%
2.' P(ognosis
)ebagian besar pasien dengan GER& akan membaik dengan pengobatan,
#alaupun relaps mungkin akan muncul setelah terapi dan memerlukan terapi
medis yang lebih lama.

1dentifikasi subgrup pasien yang kemungkinan besar berkembang


mengalami komplikasi GER& dan penting untuk dilakukan pera#atan secara
agresif. 6ada pasien ini kemungkinan besar diindikasikan untuk mendapatkan
terapi pembedahan pada staium a#al. )etelah laparoskopi $issen fundoplication"
ge!ala teratasi pada G'4 pasien.
,%