Anda di halaman 1dari 29
  • A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Era globalisasi dan era informasi yang akhir-akhir ini mulai masuk ke Indonesia telah membuat tuntutan-tuntutan baru di segala sektor dalam Negara kita. Tidak terkecuali dalam sektor pelayanan kesehatan, era globalisasi dan informasi seakan telah membuat standar baru yang harus dipenuhi oleh seluruh pemain di sektor ini. Hal tersebut telah membuat dunia keperawatan di Indonesia menjadi tertantang untuk terus mengembangkan kualitas pelayanan keperawatan yang berbasis teknologi informasi. Namun memang kita tidak bisa menutup mata akan hambatan-hambatan yang dihadapi oleh keperawatan di Indonesia, diantaranya adalah keterbatasan SDM yang menguasai bidang keperawatan dan teknologi informasi secara terpadu, masih minimnya infrastruktur untuk menerapkan sistem informasi di dunia pelayanan, dan masih rendahnya minat para perawat di bidang teknologi informasi keperawatan.

Kualitas atau mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit bergantung kepada kecepatan, kemudahan, dan ketepatan dalam melakukan tindakan keperawatan yang berarti juga pelayanan keperawatan bergantung kepada efisiensi dan efektifitas struktural yang ada dalam keseluruhan sistem suatu rumah sakit. Pelayanan rumah sakit setidaknya terbagi menjadi dua bagian besar yaitu pelayanan medis dan pelayanan yang bersifat non- medis, sebagai contoh pelayanan medis dapat terdiri dari pemberian obat, pemberian makanan, asuhan keperawatan, diagnosa medis, dan lain-lain.

Namun ada hal yang perlu kembali dipahami oleh semua tenaga kesehatan yang menggunakan teknologi informasi yaitu semua teknologi yang berkembang dengan pesat ini hanyalah sebuah alat bantu yang tidak ada gunanya tanpa intelektualitas dari penggunanya dalam hal ini adalah perawat dengan segala pengetahuannya tentang ilmu keperawatan.Contoh nyata yang dapat kita lihat di dunia keperawatan Indonesia yang telah menerapkan sistem informasi yang berbasis komputer adalah terobosan yang diciptakan oleh kawan-kawan perawat di RSUD Banyumas. Sebelum menerapkan sistem ini hal pertama yang dilakukan adalah membakukan klasifikasi diagnosis keperawatan yang selama ini dirasa masih rancu, hal ini dilakukan untuk menghilangkan ambiguitas dokumentasi serta memberikan manfaat lebih lanjut terhadap sistem kompensasi,

penjadwalan, evaluasi efektifitas intervensi sampai kepada upaya identifikasi error dalam manajemen keperawatan.

  • B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat ditentukan rumusan masalah

dalam makalah ini seperti :

  • 1. Apa pengertian tentang teknologi secara umum?

  • 2. Apa pengertian teknologi keperawatan tentang ELECTROCONVULSI THERAPY (ECT) dan CARDIOTOCOGRAPHY (CTG)?

  • 3. Bagaimana sejarah ECT ?

  • 4. Bagaimana perkembangan teknik ECT ?

  • 5. Bagaimana prinsip terapi ECT & CTG?

  • 6. Apa saja indikasi dari ECT & CTG?

  • 7. Apa saja kontra indikasi dalam pemberian ECT & CTG?

  • 8. Apa saja efek samping dari ECT & CTG ?

  • 9. Bagaimana prosedur dalam terapi ECT & CTG?

    • 10. Bagaimana anastesi dalam pemeberian terapi ECT?

    • 11. Apa saja peran perawat dalam pemberian terapi ECT?

    • 12. Apa saja alat yang di gunakan dalam pemberian terapi ECT & CTG?

    • 13. Apa saja persiapan yang dilakukan kepada klien sebelum melakukan terapi ECT & CTG?

    • 14. Bagaimana penatalaksanaan dalam pemberian terapi ECT & CTG?

    • 15. Apa yang dilakukan setelah selesai ECT & CTG?

  • C. Tujuan Penulisan

    • 1. Menjelaskan pengertian tentang teknologi secara umum.

    • 2. Menjelaskan pengertian teknologi keperawatan tentang ELECTROCONVULSI THERAPY (ECT) dan CARDIOTOCOGRAPHY (CTG).

    • 3. Menjelaskan sejarah ECT.

    • 4. Menjelaskan perkembangan teknik ECT.

    • 5. Menjelaskan prinsip terapi ECT & CTG.

    • 6. Menjelaskan indikasi dari ECT & CTG.

    • 7. Menjelaskan kontra indikasi dalam pemberian ECT & CTG.

    • 8. Menjelaskan efek samping dari ECT & CTG.

9.

Menjelaskan prosedur dalam terapi ECT & CTG.

  • 10. Menjelaskan anastesi dalam pemberian terapi ECT.

  • 11. Menjelaskan peran perawat dalam pemberian terapi ECT.

  • 12. Menjelaskan alat yang di gunakan dalam pemberian terapi ECT & CTG.

  • 13. Menejelaskan persiapan yang dilakukan kepada klien sebelum melakukan terapi ECT & CTG.

  • 14. Menjelaskan penatalaksanaan dalam pemberian terapi ECT & CTG.

  • 15. Menjelaskan yang dilakukan setelah selesai ECT & CTG.

  • D. Metode Penulisan Adapun metode penulisan yang digunakan dalam menyusun makalah ini adalah metode studi kepustakaan. Studi kepustakaan, mengumpulkan teori teori dari berbagai sumber seperti buku tentang Teknologi secara umum & Teknologi Keperawatan seperti ECT dan CTG, serta internet yang berhubungan dengan Teknologi secara umum & Teknologi Keperawatan seperti ECT dan CTG.

  • E. Sistematika Penulisan Adapun sistematika penulisan dalam makalah ini terdiri dari 3 bab, yaitu : BAB I Pendahuluan, terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II Pembahasan, terdiri dari pengertian teknologi keperawatan tentang ELECTROCONVULSI THERAPY (ECT) dan CARDIOTOCOGRAPHY (CTG), sejarah ECT, perkembangan teknik ECT, prinsip terapi ECT & CTG, indikasi dari ECT & CTG, kontra indikasi dalam pemberian ECT & CTG, efek samping dari ECT & CTG, prosedur dalam terapi ECT & CTG, anastesi dalam pemeberian terapi ECT, peran perawat dalam pemberian terapi ECT, alat yang di gunakan dalam pemberian terapi ECT & CTG, persiapan yang dilakukan kepada klien sebelum melakukan terapi ECT & CTG, penatalaksanaan dalam pemberian terapi ECT & CTG, dan dilakukan setelah selesai ECT & CTG. BAB III Penutup, yang terdiri dari kesimpulan.

  • A. TEKNOLOGI

BAB II PEMBAHASAN

Teknologi diartikan sebagai ilmu terapan dari rekayasa yang diwujudkan dalam bentuk karya cipta manusia yang didasarkan pada prinsip ilmu pengetahuan. Menurut Prayitno dalam Ilyas (2001), teknologi adalah seluruh perangkat ide, metode, teknik benda- benda material yang digunakan dalam waktu dan tempat tertentu maupun untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sedangkan menurut Mardikanto (1993), teknologi adalah suatu perilaku produk, informasi dan praktek-praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima dan digunakan atau diterapkan oleh sebagian warga masyarakat dalam suatu lokasi tertentu dalam rangka mendorong terjadinya perubahan individu dan atau seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. Soeharjo dan Patong (1984) dalam Wasono (2008) menguraikan makna teknologi dalam tiga wujud yaitu cara lebih baik, pemakai peralatan baru dan penambahan input pada usahatani. Lebih lanjut dikatakan bahwa teknologi hendaknya memiliki syarat-syarat sebagai berikut :

  • 1. teknologi baru hendaknya lebih unggul dari sebelumnya;

  • 2. mudah digunakan; dan

  • 3. tidak memberikan resiko yang besar jika diterapkan.

Mosher (1985), teknologi merupakan salah satu syarat mutlak pembangunan pertanian. Dari

beberapa pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa teknologi adalah hal-hal yang baru yang belum diketahui, diterima dan digunakan banyak orang dalam suatu lokasi

tertentu baik berupa ide maupun berupa benda atau barang.

  • B. TEKNOLOGI KEPERAWATAN

    • 1. ELECTROCONVULSI THERAPY (ECT)

ECT (Electro Convulsive Therapy) merupakan perawatan untuk gangguan psikiatrik dengan menggunakan aliran listrik singkat melewati otak pasien yang berada dalam pengaruh

anestesi dengan menggunakan alat khusus. Pasien berada di bawah anestesi umum. Terdapat kejang yang telah dimodifikasi

anestesi dengan menggunakan alat khusus. Pasien berada di bawah anestesi umum. Terdapat kejang yang telah dimodifikasi oleh muscle relaxant. ECT bertujuan untuk menginduksi suatu kejang klonik yang dapat memberi efek terapi (therapeutic clonic seizure) setidaknya selama 15 detik. Kejang yang dimaksud adalah suatu kejang dimana seseorang kehilangan kesadarannya dan mengalami rejatan. Tentang mekanisme pasti dari kerja ECT sampai saat ini masih belum dapat dijelaskan dengan memuaskan. Namun beberapa penelitian menunjukkan kalau ECT dapat meningkatkan kadar serum brain-derived neurotrophic factor (BDNF) pada pasien depresi yang tidak responsif terhadap terapi farmakologis. Terapi ini menghasilkan kejang-kejang karena pengaruh aliran listrik yang diberikan pada pasien melalui elektroda-elektroda pada lobus frontalis. Dalam electroconvulsive terapi, arus listrik dikirim melalui kulit kepala ke otak. Elektroda ditempatkan pada kepala pasien dan dikendalikan, menyebabkan kejang-kejang singkat di otak. Pada saat terapi ini dijalankan, pasien akan kejang-kejang dan kehilangan kesadaran, kemudian kejang-kejang lambat laun hilang. Sebelum ECT, pasien diberi relaksan otot setelah anestesi umum. Bila ECT dilakukan dengan benar, akan menyebabkan pasien kejang, dan relaksasi otot diberikan untuk membatasi respon otot selama episode. Karena otot rileks, penyitaan biasanya akan terbatas pada gerakan kecil tangan dan kaki. Pasien dimonitor secara hati-hati selama perawatan. Pasien terbangun beberapa menit kemudian, tidak ingat kejadian seputar perlakuan atau perawatan, dan sering bingung.

  • a. Pengertian ECT

Terapi ECT adalah suatu pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mal secara artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui electrode yang dipasang pada satu atau dua temples. (Stuart Sundeen, 1998).

Electro Convulsive Therapy/ ECT merupakan suatu pengobatan untuk penyakit psikiatri berat dimana pemberian arus listrik singkat pada kepala digunakan untuk kejang tonik klonik umum. (Szuba and Doupe, 1997).

  • b. Sejarah ECT

Terapi dengan konvulsi sebenarnya telah dikenal sejak abad 16. Paraselsus (140- 1541) menggunakan camphor atau kamper atau kini disebut kapur barus. Kamper ini diberikan secara oral untuk menginduksi kejang sebagai terapi pada pasien gangguan mental. Penggunaan kamper ini bertahan sampai abad ke-18. Pada sekitar tahun 1917, Julius Wagner- Jaugregg, seorang psikiater dari Wina, mulai menggunakan malaria sebagi penginduksi demam untuk mengobati pasien dengan paresis umum pada pasien gangguan mental (sipilis terminal). Pada tahun 1093, mulai dikenal pula penggunaan insulin dan psychosurgery. Manfred Sakel dari Wina mengumumkan kesuksesan pengobatan skizofrenia dengan insulin. Insulin ini digunakan untuk menginduksi koma yang pada beberapa pasien menyebabkan kejang. Kejang ini yang diperkirakan menyebabkan perbaikan pada pasien. Pada tahun 1934, Ladislaus von Meduna dari Budapest meninjeksi kamper dalam minyak untuk menginduksi kejang pada pasien dengan skizofrenia katatonik. Ini merupakan terapi konvulsi modern pertama. Terapi dinyatakan berhasil, demikian juga dengan sejumlah pasien psikotik lainnya. Von Medunna mengobservasi bahwa pada otak pasien epilepsi ditemukan jumlah sel glia yang lebih banyak dari orang nomal, sementara pada pasien skizofrenia jumlah sel glia lebih sedikit. Dengan hal ini dikemukakan hipotesa bahwa ada antagonisme biologis antara kejang dan skizofrenia. Karena sifatnya yang long acting, kamper kemudian digantikan oleh pentylenetrazol, namun zat ini sering menimbulkan keluhan sensasi keracunan pada kondisi pasien sadar, disebabkan aktivitas antagonis GABAnya. Pada tahun 1938, di Roma, Ugo Cerleti dengan asistennya Lucio Bini melakukan ECT pertama pada pasien skizofrenia. ECT dilakukan sebanyak 11 kali dan pasien memberikan respons yang bagus. Pengunaan ECT kemudian menyebar luas di seluruh dunia. Kini ECT digunakan terutama pada depresi mayor dan skizofrenia.

Ugo Cerletti (1877-1963)

b. Sejarah ECT Terapi dengan konvulsi sebenarnya telah dikenal sejak abad 16. Paraselsus (140- 1541) menggunakan
b. Sejarah ECT Terapi dengan konvulsi sebenarnya telah dikenal sejak abad 16. Paraselsus (140- 1541) menggunakan
  • c. Perkembangan Teknik ECT

ECT telah digunakan secara berkelanjutan selama lebih dari 70 tahun. Bagaimanapun, telah dilakukan beberapa perkembangan teknis:

  • a. Pengenalan anestesi pada pelaksanaan ECT yang mengurangi distress pada pasien dalam proses ECT

  • b. Anestesi juga diizinkan untuk digunakannya muscle relaxant yang mengurangi ketegangan pada sistem muskuloskeletal, mengurangi cedera

  • c. Pre-oksigenasi dan ventilasi terpimpin selama pemulihan yang mengurangi efek samping

  • d. Stimulus listrik terutama didisain untuk menghasilkan kejang yang bersifat terapeutik tanpa memberikan energi listrik yang tidak perlu pada otak.

  • e. Penempatan elektroda yang beragam yang dapat dipilih berdasarkan kebutuhan klinis kasus.

  • f. Metode monitoring aktivitas otak dan tubuh sebelum, selama, dan setelah kejang.

    • d. Prinsip Terapi

Secara umum, diperlukan 2 atau 3 kali perawatan sebelum efek terlihat, dan 4-5 kali pengobatan untuk perbaikan nyata. Kini, jumlah tindakan yang dilakukan merupakan rangkaian yang bervariasi pada tiap pasien tergantung pada masalah pasien dan respons terapeutik sesuai hasil pengkajian selama tindakan.

  • 1. Biasanya diberikan satu terapi per hari berselang-seling.

  • 2. Rentang jumlah yang paling umum dilakukan pada pasien dengan gangguan afektif atau depresi antara 6 sampai 12 kali, mania dan katatonik membutuhkan 10-20 terapi, sedangkan pada pasien skizofrenia biasanya diberikan sampai 30 kali.

  • 3. ECT biasanya diberikan sampai tiga kali seminggu atau setiap beberapa hari, selama dua hingga empat minggu. Jika efektif, perubahan perilaku sudah mulai terlihat setelah 2-6 terapi.

  • 4. Antidepresan rumatan, antipsikotik dan lithium dilanjutkan sesudah ECT berhasil karena dapat mencegah kekambuhan. Tanpa medikasi, angka kekambuhan tinggi.

  • 5. ECT harus segera dihentikan setelah pasien pulih atau jika mereka mengatakan mereka tidak ingin menjalaninya lagi.

  • e. Indikasi ECT

1)

Episode Depresi mayor. Depresi mayor merupakan kondisi yang paling sering diberlakukan ECT. Hal ini terutama diindikasikan jika pengobatan secara medikamentosa telah gagal atau terdapat resiko yang besar akan bunuh diri. ECT aktif telah dikatakan superior daripada placebo pada banyak penelitian. ECT juga dikatakan superior daripada obat antidepresan pada lusinan penelitian. Bentuk penelitian umumnya subyek dibagi menjadi dua grup dimana satu grup menerima ECT dan obat placebo, grup yang lain menerima ECT placebo dan obat.

2)

Mania Mania merupakan keadaan kenaikan mood atau iritabilitas dan aktivitas fisik berlebih. Pengobatan diperlukan untuk memastikan asupan obat dan cairan dan menghindari kelelahan dan cedera fisik. Populasi ini sulit diteliti karena beberapa alasan. Pengalaman klinis secara luas menunjukkan bahwa ECT merupakan pengobatan yang efektif dan dapat menjadi tindakan penyelamatan. ECT telah ditunjukkan superior daripada litium karbonat pada mania akut.

3)

Schizophrenia Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Medunna menggunakan kamper untuk meninduksi kejang pada skizofrenia, dan orang pertama yang menerima ECT merupakan penderita gangguan psikotik. ECT saat ini digunakan pada skizofrenia ketika ditemukan gambaran katatonik dengan asupan makanan dan cairan yang terbatas dan jika gejala psikotik tidak resonsif terhadap medikamentosa.

4)

Gangguan Postpartum Beberapa gangguan psikiatrik dapat muncul mengikuti proses kelahiran. Sebagian besar dapat ditangani dengan dukungan dan penggunaan medikasi. Gangguan yang kuat, berat dapat berkembang, dan ibu dapat menghadirkan bahaya kepada dirinya sendiri mauun bayinya. Sebagai generalisasi, mayoritas kondisi postpartum berat menyerupai episode depresi mayor, dan lainnya adalah episode psikotik, dengan delusi atau halusinasi. ECT sangat berguna pada kasus-kasus berat tersebut. ECT menginduksi remisi secara cepat sehingga resiko pada ibu maupun bayi menurun

dengan cepat, sehingga kegiatan menyusui dan pengikatan ibu-anak dapat dilakukan tanpa penundaan. Juga, ECT dapat menghindari penggunaan obat dosis tinggi, sehingga meminimalisir pengobatan yang mencapai bayi yang sdang menyusui.

5)

ECT rumatan Saat pengobatan telah gagal dan ECT dibutuhkan untuk mengiduksi remisi pada depresi mayor dan pengobatan gagal mencegah relapse, ECT rumatan dipertimbangkan. Hal ini dilakukan pada pasien rawat jalan. Frekuensi ECT ditentukan menurut respon klinis. Seringkali, untuk melengkapi rangkaian ECT, ketika remisi telah dicapai, ECT terus diberikan dengan interval seminggu. Kemudian jarak terapi ini diperpanjang hingga empat sampai enam minggu. National Institute for Clinical Evidence (NICE) tidak merekomendasikan CT rumatan, namun American Psychiatric Association (APA) merekomendasikan metode ini.

  • f. Kontra Indikasi Pemberian ECT

Pasien dengan gangguan mental disertai adanya gangguan system kardiovaskuler dan adanya

tumor pada otak.

  • 1. Resiko sangat tinggi

    • a. Pasien dengan masalah pernapasan berat yang tidak mampu mentolerir efek anestesi umum.

    • b. Peningkatan tekanan intracranial (karena tumor otak, hematoma, stroke yang berkembang, aneurisma yang besar, infeksi SSP), ECT dengan cepat meningkatkan tekanan SSP dan resiko herniasi tentorium. Selalu periksa adanya papiledema sebelum melakukan ECT.

    • c. Infark Miokard baru atau penyakit miokard berat : ECT sering menyebabkan aritmia (aritmia menimbulkan CVP pasca kejang atau kapan saja saat melakukan prosedur ECT) berakibat fatal jika terdapat kerusakan otot jantung. Tunggu hingga enzim dan EKG stabil.

  • 2. Resiko sedang

    • a. Osteoartritis berat, osteoporosis atau fraktur yang baru : siapkan selama terapi (pelemas otot)

    • b. Penyakit kardiovaskuler (misal hipertensi, angina aneurisma/ Angina tidak terkontrol, aritmia, Gagal jantung kongestif), berikan premedikasi dengan hati-hati, dokter spesialis jantung hendaknya berada di sana. ECT untuk sementara

  • meningkatkan tekanan darah, sehingga hipertensi primer berat harus terkontrol, paling tidak sebelum setiap pengobatan. c. Infeksi berat, cedera serebrovaskular (Cerebrovascular accident/ CVA) baru, kesulitan bernafas yang kronis, ulkus peptic yang akut, Osteoporosis berat, fraktur tulang besar, glaukoma, retinal detachment.

    • g. Efek Samping dari Pemberian ECT

    Efek samping ECT secara fisik hampir mirip dengan efek samping dari anesthesia umum. Secara psikis efek samping yang paling sering muncul adalah kebingungan dan memory loss (75% kasus) setelah beberapa jam kemudian (biasanya hilang satu minggu sampai beberapa bulan setelah perawatan). Biasanya ECT akan menimbulkan amnesia retrograde terhadap peristiwa tepat sebelum masing-masing pengobatan dan anterograde, gangguan kemampuan untuk mempertahankan informasi baru. Beberapa ahli juga menyebutkan bahwa ECT dapat merusak struktur otak. Namun hal ini masih diperdebatkan karena masih belum terbukti secara pasti.

    Efek samping khusus yang perlu diperhatikan :

    Cardiovaskuler :

    • a) Segera : stimulasi parasimpatis (bradikardi, hipotensi)

    • b) Setelah 1 menit : Stimulasi simpatis (tachycardia, hipertensi, peningkatan konsumsi oksigen otot jantung, dysrhythmia)

    • c) ECT dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, atau kematian (kasus yang sangat jarang). Orang dengan masalah jantung tertentu biasanya tidak diindikasikan untuk ECT.

    Efek Cerebral :

    • a) Peningkatan konsumsi oksigen.

    • b) Peningkatan cerebral blood flow

    • c) Peningkatan tekanan intra cranial

    • d) Amnesia (retrograde dan anterograde) bervariasi, dimulai setelah 3-4 terapi, berakhir 2-3 bulan atau lebih. Lebih berat pada terapi dengan metode bilateral, jumlah terapi yang semakin banyak, kekuatan listrik yang meningkat dan adanya organisitas sebelumnya.

    Efek lain :

    • a) Peningkatan tekanan intra okuler

    • b) Peningkatan tekanan intragastric

    • c) Kebingungan (biasanya hanya berlangsung selama jangka waktu yang singkat), pusing.

    • d) Mual, Headache/ sakit kepala, nyeri otot.

    • e) Fraktur vertebral dan ekstremitas dan Rahang sakit. Efek ini dapat berlangsung dari beberapa jam sampai beberapa hari. Jarang terjadi bila relaksasi otot baik.

    • f) Resiko anestesi pada ECT

    • g) Kematian dengan angka mortalitas 0,002%

    • h. Prosedur ECT

    Persiapan termasuk didalamnya diagnosis yang akurat, komunikasi dengan keluarga dan pasien, pemeriksaan anestesi, dan menentukan penempatan elektroda yang sesuai. Secara umum, stimulus diberikan menggunakan satu atau dua susunan elektroda. Pada stimulasi bilateral, satu elektroda diletakkan pada kedua sisi pelipis dan listrik melintas melalui kedua sisi otak. Pada stimulasi unilateral, satu elektroda menempel pada satu sisi pelipis dan satu lagi pada bagian atas kepala pada sisi yang sama. Dengan stimulasi unilateral, aliran listrik umumnya hanya satu sisi kepala, meskipun jika terjadi kejang, meluas pada kedua belah otak. Dua set elektroda ditempelkan pada pasien untuk memonitor aktivitas otak sebelum, selama, dan setelah pemberian ECT. Satu set diletakkan pada kepala (EEG) dan satu set lagi pada ekstrimitas. Pasien berbaring di troli. Seorang dokter anestesi, psikiater, dan paling sedikit dua perawat dibutuhkan. Dokter anestesi memasukkan kanula, perawat anestesi memasang elektroda EKG, dan psikiater serta perawat psikiater memasang ECT, EEG, dan elektroda otot perifer. Anestesi dimasukkan. Saat muscle relaxant mulai bekerja, stimulus ECT mulai dilakukan. Ini merupakan square wave dengan lebar pulse 1,0 milidetik. Menggunakan sebuah alat populer (Thymatron), stimulus diberikan pada frekuensi maksimum 70 pulse per detik. Karenanya, dalam satu detik stimulus berjalan selama 0,14 detik. Stimulus terpanjang yang bisa diteruskan oleh alat ini adalah delapan detik. Maka, dengan setting maksimal, stimulus dapat berjalan untuk waktu total sedikit lebih dari satu detik (1,12 detik). Konvulsi kini telah banyak termodifikasi. Biasanya ada penekukan siku dan penunjukkan ibu jari kaki.

    Saat kejang telah berhenti (biasanya kurang dari 30 detik), pasien kemudian dimiringkan ke satu sisi dan kemudian dibawa ke ruang pemulihan. Seluruh prosedur dari kedatangan sampai keberangkatan dari ruang prosedur memakan waktu kurang lebih 10 menit.

    Pemasangan elektroda

    Seperti telah disebutkan, ada dua teknik penempatan elektroda, yaitu bilateral dan unilateral. Efek samping yang paling menyulitkan adalah memori. Memori tidak terletak pada lokasi tertentu pada otak. Saat ini dipercaya memori bergantung pada banyak regio pada otak yang secara anatomis maupun fungsional terhubung. Diketahui bahwa masalah memori yang berat terjadi ketika struktur kedua belah otak rusak. Ini merupakan bukti yang

    mengindikasikan bahwa ECT bilateral memiliki efek antidepresan yang lebih kuat daripada unilateral. Namun, ECT bilateral juga dipercaya berkaitan dengan gangguan ingatan yang lebih besar daripada ECT unilateral. Bukti menunjukkan bahwa memberikan energi listrik unilateral dalam jumlah besar (selama dalam bentuk square wave singkat) dari yang dibutuhkan hanya sekedar untuk memicu kejang (seizure threshold) dapat membuat efek antidepresan serupa dengan ECT bilateral, namun dengan gangguan memori yang lebih ringan. Teknik "ECT unilateral dosis tinggi" ini sekarang merupakan bentuk yang paling sering dipilih. Bagaimanapun, saat efek antidepresan maksimum dibutuhkan, ECT bilateral mungkin tetap penting untuk dipilih.

    Saat kejang telah berhenti (biasanya kurang dari 30 detik), pasien kemudian dimiringkan ke satu sisi dan
    Saat kejang telah berhenti (biasanya kurang dari 30 detik), pasien kemudian dimiringkan ke satu sisi dan
    • i. Anestesi Pada ECT

    Anestesi pada ECT harus diberikan oleh dokter anestesi berpengalaman, mampu menangani kemungkinan komplikasi pada lokasi yang jauh dari rumah sakit utama, dibantu oleh asisten yang terlatih. Dokter anestesi akan mengawasi pemeriksaan pasien, menyiapkan pemberian anestesi yang sesuai dan monitoring. Pemeriksaan awal dapat dilakukan oleh psikiater atau perawat klinik ECT senior atau perawat tertentu. Adanya guideline berbentuk checklist dapat membantu staff untuk mengidentifikasi potensi masalah dengan anestesi. Riwayat penyakit harus digaris bawah jika terdapat kondisi yang dapat mempengaruhi anestesi seperti: angina, infark miokard baru, cerebrovascular accident, diabetes, hipertensi, hernia, adanya alergi obat, atau telah adanya efek samping terhadap penggunaan obat anestesi sebelumnya

    Pemeriksaan Laboratorium

    • a. Pemeriksaan darah lengkap

    • b. Urea dan elektrolit (pada pasien pengguna lithium, diuretik, atau obat vaskonstriksi lain, diabetes, atau gangguan ginjal)

    • c. Fungsi hati (pada pasien dengan kaheksi, sejarah penggunaan alkohol, dan adanya riwayat penyalahgunaan obat atau overdosis

    • d. International normalized ratio untuk pasien yang menggunakan antikoagulan

    • e. Status antigen hepatitis B ada penyalahguna obat

    • f. Kadar gula darah (jika urinalisis positif)

      • g. Elektrokardiogram pada pasien dengan penyakit kardiovaskular, pernafasan, dan ginjal, denyut irregular atau murmur, hipertensi, pasien dengan diabetes di atas 40tahun, dan semua pasien di atas 50 tahun

      • h. X-ray dada pada pasien dengan suspek infeksi dada, kardiomegali, gagal jantung kongestif, emboli paru

      • i. Tes fungsi paru pada pasien dengan penyakit obstruksi jalan nafas kronis berat, atau nafas pendek saat istirahat

  • j. Tes kehamilan jika diperlukan

  • List pemeriksaan standar ini diperlukan sebelum dilakukan ECT dan disetujui oleh dokter anestesi.

    Obat-obatan yang digunakan dalam proses anestesi

    Anesthetic agents

    Tujuan: agen anestesi yang diberikan bertujuan membuat pasien tidak menyadari adanya sensasi yang mungkin menakutkan, terutama kelumpuhan otot dan perasaan tercekik dan gambaran kilatan sinar yang mungkin mengiringi permulaan stimulus, tanpa menghambat kejang. Prinsipnya adalah mendukung anestesi umum yang ringan dan sangat singkat. Dosis anestesi yang berlebih dapat menyebabkan ketidaksadaran pasien dan apneu bertambah lama, memberikan efek antikonvulsan, meningkatkan resiko komplikasi kardiovaskular, dan meningkatkan amnesia. Agen induksi yang ideal untuk ECT bertujuan ketidaksadaran yang cepat, injeksi tanpa nyeri, tanpa efek hemodinamik, tanpa properti antikonvulsan, memberikan pemulihan yang cepat, dan tidak mahal. Belum ada obat yang memenuhi semua karakter tersebut. Namun, methohexital memenuhi banyak kriteria yang telah disebutkan di atas, thiopental, ketamin, propofol, dan etomidate juga telah berhasil digunakan pada terapi ECT.

    Agen-agen induksi yang biasa digunakan

    • 1. Methohexital memiliki onset yang cepat dan durasi yang cepat, toksisitas kardio rendah, efek antikonvulsan yang minimal, dan menimbulkan rasa nyeri pada lokasi injeksi. Efek samping lain termasuk hipotensi, menggigil, dan nekrosis jaringan lunak pada lokasi penyuntikan. APA Task Force on ECT merekomendasikan penggunaannya agen induksi pilihan. Dosis tipikal adalah 0,5-1mg/kg.

    • 2. Thiopental memiliki efek entikonvulsi yang lebih besar dan durasi yang lebih lama daripada methohexital. Pasien dengan penyakit kardiovaskulaar yang diinduksi dengan thiopental dapat memiliki insidensi yang lebih besar untuk abnormalitas EKG postiktal dibanding dengan methohexital. Seperti halnya methohexital, thiopental dapat menyebabkan hipotensi dan menyebabkan nekrosis pada lokasi injeksi. Dosisnya adalah 2-4 mg/kg.

    • 3. Ketamine. Merupakan derivat dari phencyclidine, yang menghambat glutamate subtipe N-methyl-D-aspartate (NMDA). Dibanding methihexital, ketamin memiliki onset yang lebih lambat, pemulihan yang lebih lambat, dan meningkatan insidensi nausea, hipersalivasi, 'bad trips', dan ataksia selama pemulihan. Direkomandasikan bagi pasien dengan peningkatan ambang kejang sehingga pemunculan kejang menjadi sulit, dan dosisnya adalah 0,5-2 mg/kg.

    4.

    Propofol memiliki onset cepat, durasi yang singkat, dan sering dikaitkan dengan nyeri lokasi injeksi. Efek samping lainnya termasuk hipotensi, apneu, bradikardi.

    • 5. Etomidate, berkaitan dengan nyeri pada lokasi injeksi seperti halnya methohexital, dan menyebabkan aktivitas mioklonik menonjol selama induksi. Etomidate memberika keuntungan akan efek kontraktibilitas dan kardiak output yang minimal. Etomidate direkomendasikan pada pasien dengan penurunan.kardiak output dan atau peningkatan ambang kejang. Dosis adalah 0,15-0,3 mg/kg

    • 6. Muscle relaxant Pemberian muscle relaxant bertujuan untuk mencegah cedera pada sistem muskuloskeletal dan meningkatkan manajemen jalan nafas. Prinsipnya adalah menyediakan relaksasi otot . secara umum, paralisis penuh tidak dibutuhkan ataupun diinginkan karena dapat dikaitkan dengan apneu yang memanjang. Sebagai tambahan, intensitas dan durasi gerakan motor kejang harus diobservasi dan dimonitor. Paralisis otot bukan hanya memfasilitasi oksigenasi, namun juga menurunkan penggunaan oksigen oleh otot selama kejang. Pertimbangan harus diberikan pada penggunaan muscle relaxant dosis tinggi pada pasien dengan resiko fraktur tulang patologis. Kecukupan pemberian muscle relaxant harus ditentukan sebelum pemberian stimulus ECT. Proses ini dilakukan dengan tes reduksi refleks tendon dalam dan tonus otot. Pada pasien yang diberikan succinylcholine dosis tinggi, stimulator saraf perifer harus digunakan.

    • 7. Antikolinergik Tujuan antikolinergik adalah untuk melindungi terhadap bradikardi atau asistol karena parasimpatis. Prinsipnya adalah menurunkan efek dari stimulasi vagal karena ECT. Vagal refleks terjadi segera setelah stimulus ECT tanpa bergantung besar alira listrik, dan dapat mengakibatkan bradikardi atau asistol transien. Jika aliran listrik mendekati atau melebihi ambang kejang, kejang tonik-klonik dapat terjadi dengan disertai stimulasi simpatis. Peningkatan aktivitas simpatis ini mengimbangi efek stimulasi vagal. Namun jika aliran listrik gagal mencapai kejang (stimulasi subkonvulsi), ketakutan akan terjadinya bradikardi mengikuti stimulus menjadi besar karena proteksi yang diberikan takikardi postiktal tidak ada.

    • 8. Agen yang memodifikasi respon kardiovaskular

    Tujuannya adalah untuk menurunkan respon kardiovaskular karena ECT. Komplikasi kardiovaskular, aritmia, infark miokardial, gagal jantung kongestif, dan henti jantung merupakan penyebab kematian paing sering. APA Task Force on ECT menyarankan penggunaan yang tidak berdasar harus dihindarkan. Selama kejang karena ECT, aliran darah otak meningkat hingga 300%, penggunaan oksigen dan metabolisme meningkat hingga 200%. Karenanya, aliran darah perifer sangat penting untuk memenuhi kebutuhan ini, dan menyediakan sulai oksigen dan karbohidrat pada otak. Karena hal tersebut, pertimbangan sangat dibutuhkan saat akan menggunakan agen ini. Rekomendasi

    • 1. Over-treatment lebih berbahaya daripada under-treatment. Karenanya, pemberian antihipertensi profilaksis rutin pada semua pasien tidak direkomendasikan.

    • 2. Usaha awal harus diarahka untuk mendapatkan control tekanan darah dan denyut jantung dengan administrasi harian agen oral sebelum memulai ECT

    • 3. Pada pasien yang beresiko untuk komplikasi kardiovaskular, seperti aneurisma tak stabil, pencegahan total akan perubahan hemodinamik karena ECT direkomendasikan.

    • 4. Hipertensi yang bertahan atau aritmia yang signifikan setelah kejang diterapi secara akut, dan profilaksis dipertimbangkan untuk penatalaksanaan berikutnya Agen yang biasa digunakan Beberapa antihipertensi memiliki potensi untuk membatasi efek hemodinamik ECT. Mereka memiliki perbedaan dalam onset dan durasi, dampak terhadap tekanan darah versus denyut jantung, efek terhadap kerja miokard, dan durasi kejang.

    • 1. Beta blocker. Literature untuk beta blocker sangat luas. Efek samping mayornya adalah adanya property antikonvulsa. Labetalol merupakan beta-blocker yang paling banyak digunakan sekarang ini.

    • 2. Nitrogliserin. Mendilatasi sistem vena dengan sedikit efek pada kontraktibilitas miokard. Ada banyak sdiaaan, seperti spray, injeksi, dan salep. Pada prakteknya, nitrogliserin diberikan secara spray sublingual (0,4 mg/spray) beberpa menit sebelum ECT mulai menurunkan hipertansi.

    • 3. Trimethaphan, merupakan agen bloking ganglionik, merupakan salah satu entihipertensi intravena yang direkomandasikan untuk ECT. Agen ini menginhibisi sistem saraf simpatis dan parasimpatis sekaligus dengan efek pada arteriol, dan meningkatkan vasodilatasi tanpe menginduksi refleks takikardi. Hanya tersdia dalam bentuk parenteral dan memiliki onset dalam beberapa menit,. Bolus trimethaphan

    menurunkan tekanan darah dan denyut jantung selama ECT tanpa menimbulkan hipertensi rebound, perpanjangan hipotensi, aritmia, atau efek pada durasi kejang.

    • 4. Nicardipine memberikan control yag adekuat untuk MAP, namun denyut jantung biasanya meningkat sebelum, selama, dan setelah ECT. Tidak ada efek pada durasi kejang.

    • 5. Nitropruside juga dapat digunakan untuk emngontrol tekanan darah namun memiliki insiden yang lebih besar untuk hipotensi post-ECT. Agen ini merupakan vasodilator poten yang mempengaruhi sistem arteriol dan vena, dan dapat menghasilkan reflaks takikardi. Beberapa anestesi mempertimbangkan monitoring intra arterial sementara menggunakan agen ini.

      • j. Peran Perawat Dalam Pemberian ECT

    Pasien dan keluarganya biasanya takut karena sering beranggapan ECT bisa merusak otak, kehilangan ingatan dan kematian. Perawat harus mengkaji pengetahuan dan pendapat pasien dan keluarganya tentang ECT, memberikan penjelasan dan dukungan agar mereka tidak cemas. Langkah-langkah yang harus diberikan adalah :

    • 1. Memberikan dukungan emosi dn penjelasan kepada pasien dan keluarganya.

    • 2. Mengkaji kondisi fisik pasien

    • 3. Menyiapkan pasien

    • 4. Mengamati respon pasien setelah ECT

    • 5. Pastikan pasien atau keluarganya sudah memberikan inform consent.

      • k. Persiapan Alat

    Adapun alat-alat yang perlu disiapkan sebelum tindakan ECT, adalah sebagai berikut:

    • a. Konvulsator set (diatur intensitas dan timer)

    • b. Tounge spatel atau karet mentah dibungkus kain

    • c. Kain kasa

    • d. Cairan Nacl secukupnya

    • e. Spuit disposibel

    • f. Obat SA injeksi 1 ampul

    • g. Tensimeter

    • h. Stetoskop

    • i. Slim suiger

    • j. Set konvulsator

      • l. Persiapan Klien

    • a. Anjurkan klien dan keluarga untuk tenang dan beritahu prosedur tindakan yang akan dilakukan.

    • b. Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk mengidentifikasi adanya kelainan yang merupakan kontraindikasi ECT

    • c. Siapkan surat persetujuan

    • d. Klien berpuasa 4-6 jam sebelum ECT

    • e. Lepas gigi palsu, lensa kontak, perhiasan atau penjepit rambut yang mungkin dipakai klien

    • f. Klien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan defekasi

    • g. Klien jika ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam sebelum ECT

    • h. Jika klien menggunakan obat antidepresan, antipsikotik, sedatif-hipnotik, dan antikonvulsan harus dihentikan sehari sebelumnya. Litium biasanya dihentikan beberapa hari sebelumnya karena berisiko organik.

    • i. Premedikasi dengan injeksi SA (sulfa atropin) 0,6-1,2 mg setengah jam sebelum ECT. Pemberian antikolinergik ini mengembalikan aritmia vagal dan menurunkan sekresi gastrointestinal.

      • m. Pelaksanaan

    • a. Setelah alat sudah disiapkan, pindahkan klien ke tempat dengan permukaan rata dan cukup keras. Posisikan hiperektensi punggung tanpa bantal. Pakaian dikendorkan, seluruh badan di tutup dengan selimut, kecuali bagian kepala.

    • b. Berikan natrium metoheksital (40-100 mg IV). Anestetik barbiturat ini dipakai untuk menghasilkan koma ringan.

    • c. Berikan pelemas otot suksinikolin atau Anectine (30-80 mg IV) untuk menghindari kemungkinan kejang umum.

    • d. Kepala bagian temporal (pelipis) dibersihkan dengan alkohol untuk tempat elektrode menempel.

    • e. Kedua pelipis tempat elektroda menempel dilapisi dengan kasa yang dibasahi caira Nacl.

    • f. Penderita diminta untuk membuka mulut dan masang spatel/karet yang dibungkus kain dimasukkan dan klien diminta menggigit

    • g. Rahang bawah (dagu), ditahan supaya tidak membuka lebar saat kejang dengan dilapisi kain

    • h. Persendian (bahu, siku, pinggang, lutu) di tahan selama kejang dengan mengikuti gerak kejang

    • i. Pasang elektroda di pelipis kain kasa basah kemudia tekan tombol sampai timer berhenti dan dilepas

    • j. Menahan gerakan kejang sampai selesai kejang dengan mengikuti gerakan kejang (menahan tidak boleh dengan kuat).

    • k. Bila berhenti nafas berikan bantuan nafas dengan rangsangan menekan diafragma

    • l. Bila banyak lendir, dibersihkan dengan slim siger

    • m. Kepala dimiringkan

    • n. Observasi sampai klien sadar

    • o. Dokumentasikan hasil di kartu ECT dan catatan keperawatan

      • n. SETELAH ECT

      • a. Observasi dan awasi tanda vital sampai kondisi klien stabil

      • b. Jaga keamanan

      • c. Bila klien sudah sadar bantu mengembalikan orientasi klien sesuai kebutuhan, biasanya timbul kebingungan pasca kejang 15-30 menit.

        • 2. CTG (CARDIOTOCOGRAPHY)

    CARDIOTOCOGRAPHY adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur DJJ pada saat kontraksi maupun tidak. Jadi bila doppler hanya menghasilkan DJJ maka pada CTG kontraksi ibu juga terekam dan kemudian dilihat perubahan DJJ pada saat kontraksi dan diluar kontraksi. Bila terdapat perlambatan maka itu menandakan adanya gawat janin akibat fungsi plasenta yang sudah tidak baik.

    Cara pengukuran CTG hampir sama dengan doppler hanya pada CTG yang ditempelkan 2 alat yang satu untuk mendeteksi DJJ yang satu untuk mendeteksi kontraksi, alat ini ditempelkan selama kurang lebih 10-15 menit

    Pada saat pemeriksaan CTG, posisi pasien tidak boleh tidur terlentang, tetapi harus setengah duduk atau tidur miring (Gambar 1).

    Cara pengukuran CTG hampir sama dengan doppler hanya pada CTG yang ditempelkan 2 alat yang satu
    • a. Pengertian Umum Cardiotocography (CTG)

    Cara pengukuran CTG hampir sama dengan doppler hanya pada CTG yang ditempelkan 2 alat yang satu

    Suatu alat untuk mengetahui kesejahteraan janin di dalam rahim, dengan merekam pola denyut jantung janin dan hubungannya dengan gerakan janin atau kontraksi rahim.

    Dikenal dua jenis kardiotokografi, yaitu CTG konvensional dan CTG terkomputerisasi (Computerized cardiotocography).

    • 1. Kardiotokografi konvensional adalah peralatan kardiotokografi yang hasil interpretasinya dilakukan oleh dokter pemeriksa.

    • 2. Kardiotokografi terkomputerisasi adalah peralatan kardiotokografi yang sebagian hasil interpretasi pemeriksaan CTG dilakukan oleh komputer yang ada didalam

    Cara pengukuran CTG hampir sama dengan doppler hanya pada CTG yang ditempelkan 2 alat yang satu

    peralatan CTG tersebut berdasarkan suatu ”data-base”.

    • b. Pemeriksaan CTG:

      • a. Sebaiknya dilakukan 2 jam setelah makan.

      • b. Waktu pemeriksaan selama 20 menit,

      • c. Selama pemeriksaan posisi ibu berbaring nyaman dan tak menyakitkan ibu maupun bayi.

      • d. Bila ditemukan kelainan maka pemantauan dilanjutkan dan dapat segera diberikan pertolongan yang sesuai.

    Pemeriksaan CTG penting dilakukan pada setiap ibu hamil untuk pemantauan kondisi janin terutama dalam keadaan:

    • a. Kehamilan dengan komplikasi (darah tinggi, kencing manis, tiroid, penyakit infeksi kronis, dll)

    • b. Kehamilan dengan berat badan janin rendah (Intra Uterine Growth Retriction)

    • c. Oligohidramnion (air ketuban sedikit sekali)

    • d. Polihidramnion (air ketuban berlebih)

    • c. Syarat Pemeriksaan CTG

      • 1. Usia kehamilan28 minggu.

      • 2. Ada persetujuan tindak medik dari pasien (secara lisan).

      • 3. Punktum maksimum denyut jantung janin (DJJ) diketahui.

      • 4. Prosedur pemasangan alat dan pengisian data pada komputer (pada CTG terkomputerisasi) sesuai buku petunjuk dari pabrik

        • d. Indikasi Pemeriksaan CTG

    Pemeriksaan CTG biasanya dilakukan pada kehamilan resiko tinggi,dan indikasinya terdiri dari :

    • 1. Pada IBU a. Pre-eklampsia-eklampsia

    • b. Ketuban pecah

    • c. Diabetes melitus

    • d. Kehamilan40 minggu

    • e. Vitium cordis

    • f. Asthma bronkhiale

    • g. Inkompatibilitas Rhesus atau ABO

    • h. Infeksi TORCH

    • i. Bekas SC

    • j. Induksi atau akselerasi persalinan

    • k. Persalinan preterm

    • l. Hipotensi

    • m. Perdarahan antepartum

    • n. Ibu perokok

    • o. Ibu berusia lanjut

    • p. Lain-lain : sickle cell, penyakit kolagen, anemia, penyakit ginjal, penyakit

    • q. paru, penyakit jantung, dan penyakit tiroid.

    • 2. Pada Janin

      • a. Pertumbuhan janin terhambat (PJT)

      • b. Gerakan janin berkurang

      • c. Suspek lilitan tali pusat

      • d. Aritmia, bradikardi, atau takikardi janin

      • e. Hidrops fetalis

      • f. Kelainan presentasi, termasuk pasca versi luar.

      • g. Mekoneum dalam cairan ketuban

      • h. Riwayat lahir mati

      • i. Kehamilan ganda dll

    • e. Mekanisme Pengaturan DJJ

    Denyut jantung janin diatur oleh banyak faktor, yaitu :

    • 1. Sistem Saraf Simpatis

    Distribusi saraf simpatis sebagian besar berada di dalam miokardium. Stimulasi saraf simpatis, misalnya dengan obat beta-adrenergik, akan meningkatkan frekuensi DJJ, menambah kekuatan kontraksi jantung, dan meningkatkan volume curah jantung. Dalam keadaan stress, system saraf simpatis berfungsi mempertahankan aktivitas pemompaan darah. Inhibisi saraf simpatis, misalnya dengan obat propranolol, akan menurunkan frekuensi DJJ dan sedikit mengurangi variabilitas DJJ.

    • 2. Sistem saraf Parasimpatis

    Sistem saraf parasimpatis terutama terdiri dari serabut nervus vagus yang berasal dari batang otak. Sistem saraf ini akan mengatur nodus SA, nodus VA, dan neuron yang terletak di antara atrium dan ventrikel jantung. Stimulasi nervus vagus, misalnya dengan asetil kolin akan menurunkan frekuensi DJJ; sedangkan inhibisi nervus vagus, misalnya dengan atropin, akan meningkatkan frekuensi DJJ.

    • 3. Baroreseptor

    Reseptor ini letaknya pada arkus aorta dan sinus karotid. Bila tekanan darah meningkat, baroreseptor akan merangsang nervus vagus dan nervus glosofaringeus pada batang otak. Akibatnya akan terjadi penekanan aktivitas jantung berupa penurunan frekuensi DJJ dan curah jantung.

    • 4. Kemoreseptor

    Kemoreseptor terdiri dari dua bagian, yaitu bagian perifer yang terletak di daerah karotid dan korpus aortik; dan bagian sentral yang terletak di batang otak. Reseptor ini berfungsi mengatur perubahan kadar oksigen dan karbondioksida dalam darah dan cairan serebro-spinal. Bila kadar oksigen menurun dan karbondioksida meningkat, akan terjadi refleks dari reseptor sentral berupa takikardia dan peningkatan tekanan darah. Hal ini akan memperlancar aliran darah, meningkatkan kadar oksigen, dan menurunkan kadar karbondioksida. Keadaan hipoksia atau hiperkapnia akan mempengaruhi reseptor perifer dan

    menimbulkan refleks bradikardia. Interaksi kedua macam reseptor tersebut akan menyebabkan bradikardi dan hipotensi.

    • 5. Susunan Saraf Pusat

    Aktivitas otak meningkat sesuai dengan bertambahnya variabilitas DJJ dan gerakan janin. Pada keadaan janin tidur, aktivitas otak menurun, dan variabilitas DJJ-pun akan berkurang.

    • 6. Sistem Pengaturan Hormonal

    Pada keadaan stres, misalnya hipoksia intrauterin, medula adrenal akan mengeluarkan epinefrin dan nor-epinefrin. Hal ini akan menyebabkan takikardia, peningkatan kekuatan kontraksi jantung dan hipertensi.

    • 7. Sistem kompleks proprioseptor, serabut saraf nyeri, baroreseptor, stretchreceptors dan pusat pengaturan(Lauren Ferrara, Frank Manning, 2005).

    Akselerasi DJJ dimulai bila ada sinyal aferen yang berasal dari salah satu tiga sumber, yaitu (1) priprioseptor dan ujung serabut saraf pada jaringan sendi; (2) serabut saraf nyeri yang terutama banyak terdapat di jaringan kulit; dan (3) baroreseptor di aorta askendens dan arteri karotis, dan stretch receptors di atrium kanan. Sinyal-sinyal tersebut diteruskan kecardioregulatory center (CRC) kemudian kecardiac vagus dan saraf simpatis, selanjutnya menuju nodus sinoatrial sehingga timbullah akselerasi DJJ

    f. Karakteristik Gambaran DJJ

    Gambaran DJJ dalam pemeriksaan CTG dapat digolongkan ke dalam 2 bagian besar, yaitu:

    • 1. Denyut jantung janin dasar (baseline fetal heart rate). Yang termasuk disini adalah frekuensi dasar dan variabilitas DJJ.

    • 2. Perubahan periodik / episodik DJJ. Yang dimaksud dengan perubahan periodik djj adalah perubahan djj yang terjadi akibat kontraksi uterus; sedangkan perubahan episodik djj adalah perubahan DJJj yang bukan disebabkan oleh kontraksi uterus (misalnya gerakan janin dan refleks tali pusat).

    Baseline Rate

    Normal 120-160dpm, ada juga yang membuat 120-150 dpm. Takhikardi jika djj > 160dpm, dan bradikardi jika djj < 120dpm.

    Takhikardi dapat terjadi pada keadaan : (Hipoksia janin (ringan / kronik), Kehamilan preterm (<30 minggu), Infeksi ibu atau janin, Ibu febris atau gelisah, Ibu hipertiroid, Takhiaritmia janin, Obat-obatan (mis. Atropin, Betamimetik.).

    Variabilitas DJJ

    suatu gambaran osilasi yg tdk teratur yg tampak pada rekaman djj, dan merupakan hasil dari interaksi antara s.simpatis (kardioakselerator) dg s.para (kardiodeselerator). Pada keadaan hipoksia variabilitas akan menurun sampai menghilang. Dibedakan atas dua :

    variabilitas jangkla pendek dan jangka panjang. Jangka panjang dibedakan lagi : normal (6-25dpm), berkurang (2-5dpm), menghilang (<2dpm) dan saltatory (>25dpm).

    Perubahan periodik djj

    suatu perubahan pola djj yang berhubungan dengan kontraksi & gerakan janin (akselerasi dan deselerasi)

    Indikasi CTG : Hipertensi, DMG, gerak janin kurang, riwayat obstetri jelek, PRM, postterm, oligohidramnion, polihidramnion, gamelli, kehamilan dengan anemia.

    Frekuensi dasar DJJ

    Frekuensi dasar DJJ adalah frekuensi rata-rata DJJ yang terlihat selama periode 10 menit, tanpa disertai periode variabilitas DJJ yang berlebihan (lebih dari 25 dpm), tidak terdapat perubahan periodik atau episodik DJJ, dan tidak terdapat perubahan frekuensi dasar yang lebih dari 25 denyut per menit (dpm).

    Dalam keadaan normal, frekuensi dasar DJJ berkisar antara 120 160 dpm (pendapat ini yang dianut di Indonesia). Frekuensi dasar DJJ yang lebih dari 160 dpm disebut takhikardia; bila kurang dari 120 dpm disebut bradikardia. Ada juga yang memakai batasan normal 115 160 dpm,2 atau 110 160 dpm (RCOG, National Institute for Clinical Excellence UK, 2001)

    Takhikardia dapat terjadi pada keadaan hipoksia janin, akan tetapi gambaran tersebut biasanya tidak berdiri sendiri. Bila takhikardia diserta dengan variabilitas DJJ yang normal, biasanya janin masih dalam keadaan baik.

    Bradikardia dapat terjadi sebagai respons awal keadaan hipoksia akut. Pada hipoksia ringan frekuensi DJJ berkisar antara 100-120 dpm dan variabilitas DJJ masih normal. Hal ini menunjukkan bahwa janin masih mampu mengadakan kompensasi terhadap stres hipoksia. Bila hipoksia semakin berat janin akan mengalami dekompensasi terhadap stres tersebut. Pada keadaan ini akan terjadi bradikardia yang kurang dari 100 dpm, disertai dengan berkurang atau menghilangnya variabilitas DJJ.

    Variabilitas Djj

    Variabilitas DJJ adalah gambaran osilasi ireguler yang terlihat pada rekaman DJJ. Fisiologi terjadinya variabilitas DJJ masih mengandung perdebatan, diduga akibat adanya keseimbangan interaksi sistem saraf simpatis (kardioakselerator) dan parasimpatis (kardiodeselerator). Tetapi ada bukti lain bahwa variabilitas DJJ terjadi akibat stimulus di daerah korteks serebri yang merangsang pusat pengatur denyut jantung di batang otak dengan perantaraan nervus vagus.

    Penilaian variabilitas DJJ yang paling mudah adalah dengan mengukur besarnya amplitudo dari variabilitas (long term variability). Berdasarkan besarnya amplitudo tersebut, variabilitas DJJ dapat dikategorikan sebagai berikut:

    • 1. Variabilitas normal: amplitudo berkisar antara 5 25 dpm.

    • 2. Variabilitas berkurang: amplitudo 2 5 dpm.

    • 3. Variabilitas menghilang: amplitudo kurang dari 2 dpm.

    • 4. Variabilitas berlebih(saltatory): amplitudo lebih dari 25 dpm.

    Takhikardia dapat terjadi pada keadaan hipoksia janin, akan tetapi gambaran tersebut biasanya tidak berdiri sendiri. Bila
    • g. Persiapan Pasien

    • a. Persetujuan tindak medik (Informed Consent) : menjelaskan indikasi, cara pemeriksaan dan kemungkinan hasil yang akan didapat. Persetujuan tindak medik ini dilakukan oleh dokter penanggung jawab pasien (cukup persetujuan lisan).

    • b. Kosongkan kandung kencing.

    • c. Periksa kesadaran dan tanda vital ibu.

    • d. bu tidur terlentang, bila ada tanda-tanda insufisiensi utero-plasenter atau gawat janin, ibu tidur miring ke kiri dan diberi oksigen 4 liter / menit.

    • e. Lakukan pemeriksaan Leopold untuk menentukan letak, presentasi dan punktum maksimum DJJ

    • f. Pemeriksaan Kardiotokografi :

    1) Hitung DJJ selama satu menit; bila ada his, dihitung sebelum dan segera setelah kontraksi berakhir .. 2) Pasang transduser untuk tokometri di daerah fundus uteri dan DJJ di daerah punktum maksimum.

    3) Setelah transduser terpasang baik, beri tahu ibu bila janin terasa bergerak, pencet bel yang telah disediakan dan hitung berapa gerakan bayi yang dirasakan oleh ibu selama perekaman CTG.

    4)

    Hidupkan komputer dan Kardiotokograf.

    5) Lama perekaman adalah 30 menit (tergantung keadaan janin dan hasil yang ingin dicapai).

    6)

    Lakukan pencetakkan hasil rekaman CTG.

    7)

    Lakukan dokumentasi data pada disket komputer (data untuk rumah sakit).

    8) Matikan komputer dan mesin kardiotokograf. Bersihkan dan rapikan kembali alat

    9)

    pada tempatnya. Beri tahu pada pasien bahwa pemeriksaan telah selesai.

    10) Berikan hasil rekaman CTG kepada dokter penanggung jawab atau paramedik membantu membacakan hasi interpretasi komputer secara lengkap

    BAB III KESIMPULAN

    Teknologi diartikan sebagai ilmu terapan dari rekayasa yang diwujudkan dalam bentuk karya cipta manusia yang didasarkan pada prinsip ilmu pengetahuan. teknologi adalah hal-hal yang baru yang belum diketahui, diterima dan digunakan banyak orang dalam suatu lokasi tertentu baik berupa ide maupun berupa benda atau barang.

    ECT (Electro Convulsive Therapy) merupakan perawatan untuk gangguan psikiatrik dengan menggunakan aliran listrik singkat melewati otak pasien yang berada dalam pengaruh anestesi dengan menggunakan alat khusus. ECT bertujuan untuk menginduksi suatu kejang klonik yang dapat memberi efek terapi (therapeutic clonic seizure) setidaknya selama 15 detik. Kejang yang dimaksud adalah suatu kejang dimana seseorang kehilangan kesadarannya dan mengalami rejatan.

    CTG (CARDIOTOCOGRAPHY) adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur DJJ pada saat kontraksi maupun tidak. Jadi bila doppler hanya menghasilkan DJJ maka pada CTG kontraksi ibu juga terekam dan kemudian dilihat perubahan DJJ pada saat kontraksi dan diluar kontraksi. Bila terdapat perlambatan maka itu menandakan adanya gawat janin akibat fungsi plasenta yang sudah tidak baik.

    DAFTAR PUSTAKA

    Royal College of Psychiatrists Special Comitee on ECT. The ECT Handbook 2 nd Edition. 2004 Pridmore. Download of Psychiatry Chapter 28: Electro Convulsive Therapy. Februari 2009 wir-nursing.blogspot.com/2011_03_01_archive.html http://ners-blog.blogspot.com/2011/10/terapi-somatik-dan-psikofarmaka.html http://www.fetal.freeserve.co.uk/ctg.html http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2060372-pengertian-