Anda di halaman 1dari 16

METODE TIM

Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok perawat dan


sekelompok klien. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman serta
memiliki pengetahuan dalam bidangnya (registered nurse). Pembagian tugas di dalam kelompok
dilakukan oleh pimpinan kelompok/ketua grup. Selain itu ketua grup bertanggung jawab dalam
mengarahkan anggota grup/tim. Sebelum tugas dan menerima laporan kemajuan pelayanan
keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila menjalani
kesulitan. Selanjutnya ketua grup yang melaporkan pada kepala ruangan tentang kemajuan
pelayanan/asuhan keperawatan terhadap klien.
Pengembangan metode tim ini didasarkan pada falsafah mengupayakan tujuan dengan
menggunakan kecakapan dan kemampuan anggota kelompok. Metode ini juga didasari atas
keyakinan bahwa setiap pasien berhak memperoleh pelayanan terbaik. Selain itu, setiap staf
berhak menerima bantuan dalam melaksanakan tugas memberikan asuhan keperawatan yang
terbaik sesuai kemampuannya. Dalam keperawatan, metode tim ini diterapkan dengan
menggunakan satu tim perawat yang heterogen, terdiri dari perawat profesional, non profesional,
dan pembantu perawat untuk memberikan asuhan keperawatan kepada sekelompok pasien.
Ketua tim (perawat profesional) memiliki tanggung jawab dalam perencanaan, kelancaran, dan
evaluasi dari asuhan keperawatan untuk semua pasien yang dilakukan oleh tim di bawah
tanggung jawabnya. Di samping itu, ketua tim juga mempunyai tugas untuk melakukan supervise
kepada semua anggota tim dalam implementasi dari tindakan keperawatan, dan melakukan
evaluasi hasil dari asuhan keperawatan.
Tujuan pemberian metode tim dalam asuhan keperawatan adalah untuk memberikan
asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan objektif pasien sehingga pasien merasa puas.
Selain itu, metode tim dapat meningkatkan kerjasama dan koordinasi perawat dalam
melaksanakan tugas, memungkinkan adanya transfer of knowledge dan transfer of
experiences di antara perawat dalam memberikan asuhan keperawatan dan meningkatkan
pengetahuan serta ketrampilan dan motivasi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.
Sesuai dengan tujuan tersebut maka tugas dan dan tanggung jawab keperawatan harus
benar-benar diarahkan dan direncanakan secara matang untuk keberhasilan asuhan
keperawatan. Sebagaimana diketahui bahwa satu tim keperawatan terdiri dari 2 orang perawat
atau lebih yang bekerja sama dalam pemberian asuhan keperawatan. Ketua tim seharusnya
perawat profesional yang sudah berpengalaman dalam memberikan asuhan keperawatan
dan ditunjuk oleh perawat kepala ruang (nurse unit manager). Selanjutnya, ketua tim akan
melaksanakan tugas yang didelegasikan oleh perawat kepala ruang bersama-sama dengan
anggota tim. Tugas dan tanggung jawab ketua tim menjadi hal yang harus diperhitungkan
secara cermat. Tugas dan tanggung jawab tersebut diarahkan untuk melakukan
pengkajian dan penyusunan rencana keperawatan untuk setiap pasien yang berada dibawah
tanggung jawabnya, membagi tugas kepada semua anggota tim dengan mempertimbangkan
kemampuan yang dimiliki anggota tim dan kebutuhan pasien yang harus dipenuhi, mengontrol
dan memberikan bimbingan kepada anggota tim dalam melaksanakan tugasnya apabila
diperlukan, melakukan evaluasi terhadap hasil kerja anggota tim, menerima laporan tentang
perkembangan kondisi pasien dari anggota tim.
KELEBIHAN
a) Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif dan holistik.
b) Memungkinkan pencapaian proses keperawatan
c) Konflik atau perbedaan pendapat antar staf daapt ditekan melalui rapat tim, cara
ini efektif untuk belajar.
d) Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal
e) Memungkinkan menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman
dan efektif.
f) Memberikan kepuasan pada pasien & perawat
g) Produktif karena kerjasama, komunikasi dan moral
h) Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyuluruh
i) Mendukung pelaksanaan proses keperawatan
j) Memungkinkan komunikasi antar tim, sehingga konflik mudah diatasi dan memberi
kepuasan kepada anggota tim.
KEKURANGAN / KELEMAHAN
a) Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim ditiadakan atau
terburu-buru sehingga dapat mengakibatkan komunikasi dan koordinasi antar anggota tim
terganggu sehingga kelancaran tugas terhambat.
b) Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau
berlindung kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.
c) Akontabilitas dalam tim kabur.
d) Tidak efektif bila pengaturan tidak baik
e) Membutuhkan banyak kerjasama dan komunikasi
f) Membingungkan bila komposisi tim sering dirubah


1. Konsep keperawatan tim
Secara garis besar, konsep keperawatan tim ini terdiri atas beberapa poin yang harus
dilaksanakan, yaitu :
- Ketua tim sebagai perawat professional harus mampu menggunakan berbagai tehknik
kepemimpinan
- Komunikasi yang efektif sangat penting, agar kontinuitas rencana keperawatan
terjamin.
Kepala ruangan
Ketua tim Ketua tim
Staf perawat
Pasien / klien
Pasien / klien
Staf perawat
Ketua tim
Pasien / klien
Staf perawat
- Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim
- Peran kepala ruangan dalam metode tim ini sangat penting. Artinya, metode tim ini
akan berhasil dengan baik hanya bila didukung oleh kepala ruangan.
2. Tanggung jawab anggota tim
Tanggung jawab anggota tim yaitu :
- Memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang berada dibawah tanggung
jawabnya
- Bekerja sama dengan anggota tim dan antar tim
- Memberikan laporan
3. Tanggung jawab ketua tim
Tanggung jawab ketua tim yaitu :
- Membuat perencanaan
- Membuat penugasan, supervisi, dan evaluasi
- Mengenal atau mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat kebutuhan pasien
- Mengembangkan kemampuan anggota
- Menyelenggarakan conferensi
4. Tanggung jawab kepala ruangan
Secara garis besar, tanggung jawab kepala ruangan terbagi menjadi 4 yaitu : perencanaan
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.
a) Perencanaan
Perencanaan seharusnya menjadi tanggung jawab kepala ruangan pada tahap
perencanaan. Tugas bagian perencanaan ialah :
- Menunjuk ketua tim untuk bertugas diruangan masing-masing
- Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya
- Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien, seperti pasien gawat, pasien transisi,
atau pasien persiapan pulang, bersama ketua tim
- Identifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas dan kebutuhan
klien bersama ketua tim, serta mengatur penugasan atau jadwal
- Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan
- Mengikuti visit dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologi, tindakan medis yang
dilakukan, program pengobatan dan mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan
yang akan dilakukan terhadap pasien.
- Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan. Dalam hal ini, dapat dilakukan
yaitu membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan, membimbing penerapan proses
keperawatan dan menilai asuhan keperawatan, mengadakan diskusi untuk pemecahan
masalah, serta memberikan informasi kepada pasien atau keluarga yang baru masuk.
- Membantu mengembangkan niat untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan diri
- Membantu membimbing peserta didik keperawatan
- Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan rumah sakit.
b) Pengorganisasian
Tahap pengorganisasian dalam melaksanakan tugas meliputi :
- Merumuskan metode penugasan yang digunakan
- Merumuskan tujuan metode penugasan
- Membuat rentang kendali kepala ruangan yang membawahi dua ketua tim dan ketua
tim yang membawahi 2 3 perawat
- Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota tim secara jelas
- Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan, membuat proses dinas, mengatur
tenaga yang ada setiap hari dll
- Mengatur dan mengendalikan logistic keuangan
- Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktik
- Mendelegasikan tugas saat tidak berada di tempat kepada kedua tim
- Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi pasien
- Mengatur penugasan jadwal pos dari pakarnya
- Mengidentifikasi masalah dan cara penanganan
c) Pengarahan
Tahap pengarahan meliputi :
- Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim
- Memberi pujian kepada anggota tim yang melaksanakan tugas dengan baik
- Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap
- Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan asuhan
keperawatan pasien
- Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan
- Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam melakukan tugasnya
- Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain
d) Pengawasan
Pengawasan terbagi menjadi dua bagian, yaitu :
1) Melalui komunikasi
mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim maupun pelaksana
mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien
2) Melalui supervise
Supervisi dapat dilakukan dengan cara :
- Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati sendiri, atau melalui
laporan langsung secara lisan dan memperbaiki / mengawasi kelemahan-
kelemahan yang ada saat itu juga
- Pengawasan tidak langsung, yaitu mengecek daftar hadir ketua tim, membaca,
dan memeriksa rencana keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan
sesudah proses keperawatan dilakukan (didokumentasikan). Selain itu,
mendengar laporan ketua tim tentang pelaksanaan tugas
- Evaluasi, yaitu mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan
rencana keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim
- Audit keperawatan
Kegiatan Perawat Dalam Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim
Terdapat 4 metode pemberian asuhan keperawatan yaitu metode fungisonal, metode
kasus, metode tim dan metode keperawatan primer (Gillies, 1989). Dari keempat metode ini,
metode yang paling memungkinkan pemberian pelayanan profesional adalah metode tim dan
primer. Dalam hal ini adanya sentralisasi obat, timbang terima, ronde keperawatan dan supervisi
(Nursalam, 2002).
A. Sentralisasi Obat
Kontroling terhadap penggunaan dan konsumsi obat, sebagai salah satu peran perawat
perlu dilakukan dalam suatu pola/ alur yang sistematis sehingga penggunaan obat benar
benar dapat dikontrol oleh perawat sehingga resiko kerugian baik secara materiil maupun
secara non material dapat dieliminir.
1. Tujuan
1) Tujuan Umum
- Meningkatkan mutu pelayanan kepada klien, terutama dalam pemberian
obat.
- Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat secara hukum maupun secara
moral.
- Mempermudah pengelolaan obat secara efektif dan efesien.
2) Tujuan Khusus
- Menyeragamkan pengelolaan obat.
- Mengamankan obat obat yang dikelola.
- Mengupayakan ketepatan pemberian obat dengan tepat klien, dosis,
waktu, dan cara.
2. Tehnik pengelolaan obat kontrol penuh ( sentralisasi)
Tehnik pengelolaan obat kontrol penuh ( sentralisasi) adalah pengelolaan obat
dimana seluruh obat yang akan diberikan pada pasien diserahkan sepenuhnya
pada perawat. Pengeluaran dan pembagian obat sepenuhnya dilakukan oleh
perawat.
a) Penanggung jawab pengelolaan obat adalah kepala ruangan yang secara operasional
dapat didelegasikan pada staf yang ditunjuk.
b) Keluarga wajib mengetahui dan ikut serta mengontrol penggunaan obat.
c) Penerimaan obat :
Obat yang telah diresepkan dan telah diambil oleh keluarga diserahkan kepada
perawat dengan menerima lembar serah terima obat.
Perawat menuliskan nama pasien, register, jenis obat, jumlah dan sediaan dalam
kartu kontrol dan diketahui oelh keluarga / klien dalam buku masuk obat.
Keluarga atau klien selanjutnya mendapatkan penjelasan kapan/ bilamana obat
tersebut akan habis.
Klien/ keluarga untuk selanjutnya mendapatkan salinan obat yang harus diminum
beserta sediaan obat.
Obat yang telah diserahkan selanjutnya disimpan oleh perawat dalam kotak obat.
d) Pembagian obat
Obat yang diterima untuk selanjutnya disalin dalam buku daftar pemberian obat.
Obat obat yang telah disiapkan untuk selanjutnya diberikan oleh perawat
dengan memperhatikan alur yang etrcantum dalam buku daftar pemberian obat,
dengan terlebih dahulu dicocokkan dengan terapi di instruksi dokter dan kartu
obat yang ada pada klien.
Pada saat pemberian obat, perawat menjelaskan macam obat, kegunaan obat,
jumlah obat dan efek samping.
Sediaan obat yang ada selanjutnya dicek tiap pagi oleh kepala ruangan/ petugas
yang ditunjuk dan didokumentasikan dalam buku masuk obat. Obat yang hampir
habis diinformasikan pada keluarga dan kemudian dimintakan kepada dokter
penanggung jawab pasien.
e) Penambahan obat baru
Informasi ini akan dimasukkan dalam buku masuk obat dan sekaligus dilakukan
perubahan dalam kartu sediaan obat.
Obat yang bersifat tidak rutin maka dokumentasi hanya dilakukan pada buku
masuk obat dan selanjutnya diinformasikan pada keluarga dengan kartu khusus
obat.
f) Obat Khusus
Sediaan memiliki harga yang cukup mahal, menggunakan rute pemberian obat
yang cukup sulit, memiliki efek samping yang cukup besar.
Pemberian obat khusus menggunakan kartu khusus.
Informasi yang diberikan kepada keluarga/ klien : nama obat, kegunaan, waktu
pemberian, efek samping, penanggung jawab obat, dan wadah obat. Usahakan
terdapat saksi dari keluarga saat pemberian obat.
3. Pengelolaan obat tidak penuh ( desentralisasi)
a) Penerimaan dan pencatatan obat
- Obat yang telah diambil oelh keluarga diserahkan pada perawat.
- Obat yang diserahkan dicatat dalam buku masuk obat.
- Perawat menyerahkan kartu pemberian obat kepada keluarga / pasien.
- Penyluhan tentang : rute pemberian obat, waktu pemberian, tujuan,
efek samping.
- Perawat menyerahkan kembali obat pada keluarga / pasien dan
menandatangani lembar penyuluhan.
b) Pemberian obat
- Perawat melakukan kontroling terhadap pemberian obat.
- Dicek apakah ada efek samping, pengecekan setiap pagi hari untuk
menentukan obat benar benar diminum sesuai dosis.
- Obat yang tidak sesuai/ berkurang dengan perhitungan diklarifikasi
dengan keluarga.
c) Penambahan obat
- Penambahan obat dicatat dalam buku masuk obat.
- Melakukan penyuluhan oabt baru sebelum diserahkan pada pasien.
d) Obat khusus
- Penyuluhan obat khusus diberikan oleh perawat primer.
- Pemberian obat khusus sebaiknya oleh perawat.
B. Timbang Terima
Adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima sesuatu ( laporan ) yang berkaitan
dengan keadaan klien.
1. Tujuan
- Menyampaikan kondisi atau keadaan secara umum klien.
- Menyampaikan hal penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya.
- Tersusun rencana kerja untuk dinas berikutnya.
2. Langkah langkah
- Kedua shif dalam keadaan siap.
- Shif yang akan menyerahkan perlu mempersiapkan hal apa yang akan
disampaikan.
- Perawat primer menaympaikan kepada penanggung jawab shif yang selanjutnya
meliputi ; kondisi, tindak lanjut, rencana kerja.
- Dilakukan dengan jelas dan tidak terburu buru.
- Secara langsung melihat keadaan klien.
3. Prosedur timbang terima
a) Persiapan
Kedua kelompok sudah siap.
Kelompok yang bertugas menyiapkan buku catatan.
b) Pelaksanaan
Timbang terima diloaksanakan setiap pergantian shif.
Dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima
dengan mengkaji secara komperhensif yang berkaitan tentang masalah
keperawatan, rencana tindakan yang sudah dan belum dilakukan serta hal
penting lannya.
Hal yang bersifat khusus dan memerlukan perincian yang lengkap dicatat
secara khusus untuk kemudian diserahkan kepada perawat jaga berikutnya.
Hal yang perlu diberitahukan dalam timbang terima: identitas dan diagnosa
medis, masalah keperawatan, tindakan yang sudah dan belum dilakukan,
intervensi.
4. Alur Timbang Terima



Pasien
Diagnosa medis masalah
kolaburatif
Yang telah dilakukan
Perkembangan keadaan
klien
Yang akan dilakukan
Rencana tindakan
Diagnosa Keperawatan
Masalah:
Teratasi
Belum
C. Ronde Keperawatan
Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang
dilaksanakan oleh perawat, disamping pasien dilibatkan untuk membahas dan
melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi pada kasus tertentu harus dilakukan oleh
perawat primer atau konselor, kepala ruangan, perawat assosciate yang perlu juga
melibatkan seluruh anggota tim.
1. Tujuan
- Menumbuhkan cara berpikir secara kritis.
- Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berasal dari
masalah klien.
- Meningkatkan validitas data klien.
- Menilai kemampuan justifikasi.
- Meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja.
- Meningkatkan kemampuan untuk memodifikasi rencana perawatan.
2. Peran
a) Ketua Tim dan Anggota Tim
- Menjelaskan keadaan dan data demografi klien.
- Menjelaskan masalah keperawata utama.
- Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan.
- Menjelaskan tindakan selanjutnya.
- Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil.
b) Peran Ketua Tim lain dan atau konselor
- Memberikan justifikasi
- Memberikan reinforcement.
- Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta
tindakan yang rasional.
- Mengarahkan dan koreksi.
- Mengintegrasi teori dan konsep yang telah dipelajari.
3. Persiapan
- Penetapan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan ronde.
- Pemberian inform consent kepada klien/ keluarga.
4. Pelaksanaan
- Penjelasan tentang klien oleh perawat primer dalam hal ini penjelasan
difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau
telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan.
- Diskusikan antar anggota tim tentang kasus tersebut.
- Pemberian justifikasi oleh perawat primer atau perawat konselor/ kepala
ruangan tentang masalah klien serta tindakan yang akan dilakukan.
- Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan yang akan
ditetapkan.
5. Langkah langkah















Gambar Langkah langkah ronde keperawatan
6. Pasca Ronde
Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta menetapkan
tindakan yang perlu dilakukan.
D. Sistem Kategori Asuhan Keperawatan
Katagori asuhan keperawatan pasien :
1) Askep minimal, kriteria :
PP
MASALAH
TERATASI
Aplikasi hasil analisa
dan diskusi
Penyajian data
- Apa yang menjadikan masalah
- Cross cek data yang ada
- Apa yang menyebabkan masalah yang
tersebut
- Bagaimana pendekatan ( proses,
SAK,SOP)
Proposal
Tahap praronde
Penetapan pasien
Validasi data
Tahap ronde pada
bed pasien
Persiapn pasien:
- inform consent.
hasil pengkajian/ intervensi data
Diskusi karu, PP, perawat konselor
Analisis data
Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
Makan dan minum dilakukan sendiri
Ambulasi dg pengawasan
Observasi ttv dilakukan setiap shift
Pengobatan minimal, status psikologis stabil
2) Askep sedang, kriteria :
Kebersihan diri dibantu. Makan minum dibantu
Observasi TTV setiap 4 jam
Ambulasi dibantu pengobatan lebih dari sekali
3) Askep agak berat, kriteria :
Sebagian besar aktifitas dibantu
Observasi ttv setiap 2-4 jam sekali
Terpasang folley catheter. Intake output dicatat
Terpasang infus
Pengobatan lebih dari sekali
Persiapan pengobatan memerlukan prosedur
4) Askep maksimal, kriteria :
Segala akifitas diberikan oleh perawat
Posisi diatur, Observasi TTV setiap 2 jam
Makan memerlukan NGT. Terapi intravena
Penggunaan suction
Gelisah/disorientasi
Clasification Categories in Medical-Surgical Unit (K.Johnson,1984)
a) Kategori I-Self Care
ADL :
- Makan sendiri atau butuh sedikit bantuan
- Berpakaian sendiri
- Eliminasi Ketoilet sendiri
- Comfort terpenuhi sendiri
Keadaan umum baik. Masuk RS untuk pemeriksaan diagnostik, tindakan
sederhana,atau bedah kecil.
Kebutuhan pendidikan dan dukungan emosi penjelasan yg bersifat tindakan
rutin. Pasien tdk mengalami disorientasi.
Tindakan/pengobatan tindakan sederhana/pengobatan sederhana.
b) Kategori II minimal care
ADL :
- Makan dibantu dlm persiapan makan, pengaturan posisi, atau butuh
dorongan untuk makan. Dapat makan sendiri.
- Berpakaian bantuan minimal.
- Eliminasi Dibantu ke toilet
- Kenyamanan bergerak dengan perlu bantuan
Keadaan umum Gejala ringan/penyakit ringan
Pendidikan dan dukungan emosibutuh 5-10 menit/shift. Pasien nampak agak
bingung, gelisah tetapi sadar akan pengobatannya.
Tindakan/pengobatan 20-30 menit/shift. Observasi status mental setiap 2 jam
c) Kategori III Moderate care
ADL :
- Makan perlu bantuan, tetapi dapat mengunyah/menelan
- Berpakaian Tidak mampu melakukan sendiri
- Eliminasi butuh bedpan dan urinal, inkontinen 2 kali/shift.
- Kenyamanan sangat tergantung dan butuh bantuan, perubahan posisi
dengan satu orang
Keadaan.umum gejala akut. Butuh monitoring dan evaluasi fisik dan emosi 2-4
kali/jam
Pendidikan dan dukungan emosi 10-30 menit/jam. Pasien mengalami
kebingungan. Dipasang WSD/ infus dan perlu dimonitor 1 kali/jam. Pasien
mengalami confusio, gelisah.
Tindakan/pengobatan 30-60 menit/shift.Memerlukan observasi yang sering
terhadap side effect/reaksi alergi. Observasi status mental setiap jam.
d) Kategori IV Extensive Care
ADL
- Makan tidak dapat melakukan sendiri. Kesulitan menguyah dan menelan.
Dipasang NGT.
- Berpakaian dimandikan/pwt rambut dan mulut, tidak seluruhnya dibantu.
- Eliminasi Inkontinen lebih dari 2 kali/shift
- Kenyamanan tidak bisa merubah posisi sendiri, dibantu oleh dua orang
Keadaan umum penyakit serius menunjukkan adanya gelaja akut perdarahan dan
atau kehilangan cairan.
Pendidikan dan dukungan emosi. Butuh lebih 30 menit/shift. Pasien confusion,
gelisah tidak mampu mengontrol pengobatannya/tindakan
Tindakan/pengobatan lebih dari 60 menit/shift. Observasi status mental sesering
mungkin, minimal setiap jam.
e) Kategori V Intensive care
Monitoring secara terus menerus setiap shift.