Anda di halaman 1dari 8

2.

1 Definisi

Sindroma kompartemen adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan
intertisial di dalam ruangan yang terbatas, yaitu di dalam kompartemen osteofasial
yang tertutup. Ruangan tersebut berisi otot, saraf dan pembuluh darah. Ketika tekanan
intrakompartemen meningkat, perfusi darah ke jaringan akan berkurang dan otot di
dalam kompartemen akan menjadi iskemik.
1

2.2 Epidemiologi

Di Amerika, ekstremitas bawah distal anterior adalah yang paling banyak
dipelajari untuk sindroma kompartemen. Dianggap sebagai yang kedua paling sering
untuk trauma sekitar 2-12%. Dari penelitian McQueen (2000), sindroma
kompartemen lebih sering didiagnosa pada pria daripada wanita, tapi hal ini memiliki
bias, dimana pria lebih sering mengalami luka trauma. McQueen memeriksa 164
pasien yang didiagnosis sindroma kompartemen, 69% berhubungan dengan fraktur
dan sebagian adalah fraktur tibia. Menurut Qvarfordt, sekelompok pasien dengan
nyeri kaki, 14% pasien dengan sindroma kompartemen anterior. Sindroma
kompartemen ditemukan 1-9% fraktur pada kaki.
2,3


2.3 Anatomi

Secara anatomik, sebagian besar kompartemen terletak di anggota gerak.
Kompartemen osteofasial merupakan ruangan yang berisi otot, saraf dan pembuluh
darah yang dibungkus oleh tulang dan fasia serta otot-otot yang masing-masing
dibungkus oleh epimisium. Berdasarkan letaknya, kompartemen terdiri dari beberapa
jenis, antara lain:
4

1. Anggota gerak atas
a. Lengan atas:
1. Kompartemen volar, berisi otot flexor pergelangan tangan dan jari tangan,
nervus ulnar dan nervus median.
2. Kompartemen dorsal, berisi otot ekstensor pergelangan tangan dan jari
tangan, nervus interosseous posterior.

b. Lengan bawah:
a. Kompartemen volar, berisi otot flexor pergelangan tangan dan jari tangan,
nervus ulnar dan nervus median.
b. Kompartemen dorsal, berisi otot ekstensor pergelangan tangan dan jari
tangan, nervus interosseous posterior.
c. Mobile wad, berisi otot ekstensor carpi radialis longus, otot ekstensor carpi
radialis brevis, otot brachioradialis.

c. Wrist joint:
1. Kompartemen I, berisi otot abduktor pollicis longus dan otot ekstensor
pollicis brevis.
2. Kompartemen II, berisi otot ekstensor carpi radialis brevis, otot ekstensor
carpi radialis longus.
3. Kompartemen III, berisi otot ekstensor pollicis longus.
4. Kompartemen IV, berisi otot ekstensor digitorum communis, otot ekstensor
indicis.
5. Kompartemen V, berisi otot ekstensor digiti minimi.
6. Kompartemen VI, berisi otot ekstensor carpi ulnaris.

2. Anggota gerak bawah
a. Tungkai atas : terdapat tiga kompartemen, yaitu: anterior, medial dan
posterior
b. Tungkai bawah (regio cruris):
1. Kompartemen anterior, berisi otot tibialis anterior dan ekstensor ibu jari
kaki, nervus peroneal profunda.
2. Kompartemen lateral, berisi otot peroneus longus dan brevis, nervus
peroneal superfisial.
3. Kompartemen posterior superfisial, berisi otot gastrocnemius dan soleus,
nervus sural.







4. Kompartemen posterior profunda, berisi otot tibialis posterior dan flexor ibu
jari kaki, nervus tibia












c
Sindrom kompartemen paling sering terjadi pada daerah tungkai bawah (yaitu
kompartemen anterior, lateral, posterior superfisial dan posterior profundus) serta
lengan atas (kompartemen volar dan dorsal).



II.3. Klasifikasi :
Sindroma kompartemen dibagi menjadi dua tipe, yaitu :
1. Sindroma Kompartemen Akut.
Sindroma kompartemen akut merupakan suatu tanda kegawatan medis.
Ditandai dengan pembengkakan dan nyeri yang terjadi dengan cepat. Tekanan
dalam kompartemen yang meningkat dengan cepat dapat menyebabkan
tekanan pada saraf, arteri dan vena sehingga tanpa penanganan yang tepat
akan terjadi paralisis, iskemik jaringan bahkan kematian. Penyebab umum
terjadinya sindroma kompartemen akut adalah fraktur, trauma jaringan lunak,
kerusakan pada arteri dan luka bakar
( 1, 4 )
.
2. Sindroma Kompartemen Kronik.
Sindroma kompartemen kronik bukan merupakan suatu kegawatan
medis dan seringkali dikaitkan dengan nyeri ketika aktivitas olahraga.
Ditandai dengan meningkatnya tekanan kompartemen ketika melakukan
aktivitas olahraga saja. Gejala ini dapat hilang dengan hanya menghentikan
aktivitas olahraga tersebut . Penyebab umum sindroma kompartemen kronik
biasa terjadi akibat melakukan aktivitas berulang ulang, misalnya pelari
jarak jauh, pemain basket, sepak bola dan militer
( 1, 4 )
.

II.4. Etiologi :
Ada banyak penyebab yang dapat meningkatkan tekanan jaringan lokal yang
kemudian menyebabkan sindroma kompartemen, akan tetapi ada tiga mekanisme
yang seringkali mendasari terjadinya sindroma kompartemen yaitu adanya
peningkatan akumulasi cairan dalam ruang kompartemen, menyempitnya ruang
kompartemen dan tekanan dari luar yang menghambat pengembangan volume
kompartemen
( 2 )
.
1. Peningkatan akumulasi cairan dalam ruangan kompartemen.
Merupakan mekanisme yang paling sering menyebabkan sindroma kompartemen. Hal
ini dapat disebabkan oleh hal hal dibawah ini :
Fraktur, terutama fraktur tibia merupakan penyebab yang paling sering
menyababkan peningkatan akumulasi cairan dalam ruangan kompartemen.
Cedera pada pembuluh darah besar, dapat menyebabkan sindroma
kompartemen melalui tiga mekanisme yaitu :
I. Perdarahan yang masuk ke dalam ruang kompartmen.
II. Sumbatan partial pada pembuluh darah sedang tanpa disertai adanya
sirkulasi kolateral yang adekuat.
III. Pembengkakan post iskemia dan sindroma kompartemen terjadi bila
perbaikan arteri dan sirkulasi tertunda terlebih dari enam jam.
Olahraga berat, dapat menyebabkan sindroma kompartemen akut dan kronik.
Seringkali dihubungkan nyeri pada kompartemen anterior pada tungkai. Bila
gejala ini timbul maka olahraga tersebut harus segera dihentikan.
Luka bakar, selain dapat menyebabkan penyempitan ruang kompartemen.
Luka bakar juga dapat meningkatkan akumulasi cairn dalam ruang
kompartemen dengan timbulnya edema yang massif. Maka dekompresi
melalaui escharotomy harus segera dilakukan untuk menghindari tamponade
kompartemen.
Penyebab lain akumulasi cairan adalah perdarahan akibat pemeberian antikoagulan,
infiltrasi cairan dalam ruang kompartemen, gigitan ular dan lain lain
( 2 )
.

2. Menyempitnya ruang kompartemen.
Jahitan tertutup pada fascia, seringkali terjadi pada atlit marathon yang
memiliki otot hernia serta kerusakan fascia. Hernia biasanya bilateral dan
berkembang pada sepertiga tungkai bawah pada kompartemen anterior dan
lateral. Selama ini seringkali dilakukan jahitan ketat pada hernia otot yang
mengalami kerusakan fascia. Hal ini mengakibatkan terjadinya pengurangan
volume kompartemen dan meningkatkan tekanan intra kompartemen sehingga
menimbulkan sindroma kompartemen akut. Oleh karena itu terapi utama pada
pelari dengan nyeri pada tungkai dan hernia otot adalah fascial release bukan
fascial closure.
Luka bakar derajat tiga, luka bakar ini mengurangai ukuran kompartemen dan
menimbulkan jaringan parut pada kulit, jaringan subkutan dan fascia menjadi
satu. Hal ini membutuhkan dekompresi escharotomy segera
( 2 )
.

3. Tekanan dari luar.
Intoksikasi obat, ketidaksadaran akibat penggunaan obat yang overdosis dapat
memicu tidak hanya multiple sindroma kompartemen akan tetapi sindroma
crush bila orang tersebut berbaring dengan tungkai terjepit. Tertekannya
lengan serta tungkai menghasilkan peningkatan tekanan intra kompartemen
lebih dari 50 mmHg.
Penggunaan gips yang terlalu ketat, hal ini dapat menimbulkan tekanan
eksternal dikarenakan membatasi perkembangan dari kompartemen
( 2 )
.


dafpus :
1. Azar Frederick. Compartment syndrome in Campbell`s operative
orthopaedics. Ed 10th. Vol 3. Mosby. USA. 2003. p : 2449-57.
2. Paula Richard. Compartment syndrome, extremity. Available at
http://www.emedicine.com. Accessed on Juny 28th 2014.
3. Rasul Abraham. Compartment syndrome. Available at
http://www.emedicine.com. Accessed on Juny 28
th
2014.
4. Marc F Swiontkowski. Compartmental syndromes in Manual of
orthopaedics. Ed 5th. Lippincott Williams & Wilkins. USA. 2001. p : 20-
8.