Anda di halaman 1dari 2

KEWIRAUSAHAAN

PERSAINGAN USAHA YANG TIDAK SEHAT



Oleh : Krisna Irkhas Pratama
Kelas : 1D
Nim : 1231120094



Contoh kasus :
Pemonopolian jenis usaha yang terjadi di pasar tradisional. Bentuk pemonopoliannya
adalah dengan melarang pedagang lain untuk menjual barang-barang sembako.
Pemonopoliann ini dapat terjadi karena orang yang memonopoli itu memiliki kuasa di daerah
pasar tersebut.

Komentar :
Tindakan pemonopoliaan ini adalah sebuah persaingan usaha yang tidak sehat, karena
dapat merugikan para pengusaha/pedagang dan para konsumen. Kerugian dari sisi pedegang
dapat dilihat dengan berkurangnya keleluasaan mereka dalam menentukan barang
dagangannya sekaligus bisa menyebabkan kerugian juga, karena barang yang mereka jual
memiliki kesamaan dengan pedagang lainnya. Kemudian kerugian yang dapat dilihat dari sisi
konsumen adalah terpakunya/kurang leluasanya berbelanja kebutuhan pokok (sembako),
harga sembako tidak dapat bervariasi karena hanya 1 toko saja yang menjual barang tersebut.
Hal ini juga memungkinkan toko tersebut menetapkan harag yang mahal untuk setiap barang
yang dijualnya, dan konsumen mau tidak mau harus membeli barang tersebut karena sudah
menjadi kebutuhan pokok dirinya yang sama sekali tidak bisa ditinggalkan. Apabila hal ini
terus terjadi maka kesejahteraan di pasr akan menurun/berkurang, sedikit demi sedikit
konsumen akan tidak mau pergi ke pasar untuk berbelanja dengan alasan barang-barang di
pasar tergolong mahal, kemudian konsumen akan ebih memilih membeli kebutuhan pokok
mereka di warung-warung kecil yang mendapat supplai barang pokok yang langsung dari
para petani, tentu harganya akan lebih murah.

Persaingan usaha yang tidak sehat ini sebenarnya sudah dilarang sejak jaman
penjajahan dulu, yaitu pemonopolian yang dilakukan oleh pihak Portugis di Indonesia.
Merekapun sebenarnya sudah menjelaskan bahwa pemonopolian sangat merugikan pihak
yang dimonopoli. Pemonopolian juga telah dilarang dalam undang-undang Republik
Indonesia nomor 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak
sehat yan berisi :


PERJANJIAN YANG DILARANG

Pasal 4
(1) Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk secara
bersama sama melakukan penguasaan produksi dan atau pemasaran barang dan atau
jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan
usaha tidak sehat.

(2) Pelaku usaha patut diduga atau dianggap secara bersama-sama melakukan penguasaan
produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa, sebagaimana dimaksud ayat (1),
apabila 2 (dua) atau 3 (tiga) pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai
lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa
tertentu.


Pasal 17

(1) Pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran
barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat.

(2) Pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasaan atas produksi dan
atau pemasaran barang dan atau jasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila:
a. barang dan atau jasa yang bersangkutan belum ada substitusinya; atau
b. mengakibatkan pelaku usaha lain tidak dapat masuk ke dalam persaingan
usaha barang dan atau jasa yang sama; atau
c. satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50%
(lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.


Pasal 18

(1) Pelaku usaha dilarang menguasai penerimaan pasokan atau menjadi pembeli tunggal
atas barang dan atau jasa dalam pasar bersangkutan yang dapat mengakibatkan
terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

(2) Pelaku usaha patut diduga atau dianggap menguasai penerimaan pasokan atau
menjadi pembeli tunggal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila satu pelaku
usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (Iima puluh persen)
pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.