Anda di halaman 1dari 12

1

BAB I
LAPORAN KASUS
A. Identitas
Nama : Ny.SS
Usia : 32 tahun
Alamat : Kupang Dukuh 03/02 Ambarawa, Kab. Semarang
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMU
Kelompok pasien : Umum
Tanggal masuk : 04 April 2014
Nomor RM : 056049-2014

B. Anamnesis
Keluhan Utama : Keluar flek-flek darah, warna kemerahan
selama seminggu ini
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke IGD dengan G
2
P
0
A
1
, UK
9 minggu mengeluh keluar darah dari jalan
lahir sejak semingguu ini. Darah awalnya
hanya berupa flek berwarna kemerahan
namun semakin lama semakin banyak dan
darah keluar mengalir, dalam sehari 1x ganti
pembalut. Pasien juga merasa mules-mules
seperti melilit disertai nyeri pada perut
bagian bawah. Pasien mengaku telah ke
bidan dan diberi suntikan vitamin dan obat
penguat kandungan kemarin, tetapi darah
tetap keluar. Pasien mengatakan sudah
melakukan cek urin dan hasil PP test (+).
HPHT : 24 Januari 2014
HPL : 31 Oktober 2014
2

Riwayat Haid : Menarche 13 tahun, siklus haid teratur
(28hari), lamanya 6 hari
Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien tidak pernah mengalami penyakit
serupa sebelumnya, DM (-), Hipertensi (-),
Asma (-), Alergi (-)
Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat asma(-), DM (-), penyakit jantung(-)
Hipertensi (-)
Riwayat Obstetri : G
2
P
0
A
1
Riwayat Anak : Keguguran saat usia kehamilan 6 bulan,
tahun 2010
Riwayat Perkawinan : Menikah 1x, 5 tahun yang lalu

C. Pemeriksaan Fisik
Kondisi Umum : Baik, Composmentis, tidak tampak anemis
Vital Sign : TD : 120/80 mmHg RR : 22 x/menit
HR : 80 x/menit T : 37C
Status Generalisata : Kepala : mesocephal
Mata : conjungtiva anemis (-/-), sclera
icteric (-/-)
Hidung : simetris, tidak ada deformitas,
sekret (-/-)
Mulut : bibir tidak tampak sianosis
Leher : pembesaran limfonodi (-)
Thorax : simetris, ketinggalan gerak (-/-),
sonor (+/+) normal, vocal fremitus (+/+)
normal, vesikular (+/+) normal, COR S1>S2
regular
Abdomen :supel, peristaltik (+) normal,
nyeri tekan (+), timpani (+), tidak ada tanda
peradangan, tidak ada sikatrik
Extremitas : akral hangat, nadi cukup, edema
(-/-)
3

Kulit : turgor dan elastisitas kulit baik,
kelainan kulit (-)

Status Ginekologi : Pemeriksaan Luar :
Inspeksi : sikatrik (-), tanda radang (-),
dinding perut datar, terdapat perdarahan
pervaginam
Palpasi : supel (+), nyeri tekan (+) 2 jari di
atas simfisis, TFU belum dapat diukur
Vaginal Toucher : V/U tenang, dinding vagina
licin, serviks teraba tebal lunak, tidak ada
pembukaan, sarung tangan lendir darah (+)
D. Diagnosa Banding
Abortus Iminens
Pada abortus iminens, perdarahan pervaginam terjadi pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu, dari anamnesa dan pemeriksaan
fisik mulas pada perut bagian bawah, tanpa disertai kontraksi dan
status ginekologi didapatkan perdarahan pervaginam, OUI masih
tertutup.
Blighted Ovum
Dipertahankan, karena dari anamnesa pasien mengeluh keluar darah
menggumpal dari jalan lahir (minor vagina) disertai lendir, mules-mules
seperti melilit disertai nyeri pada perut bagian bawah, dan hasil PP test
(+). Dari pemeriksaan fisik, didapatkan nyeri tekan pada perut bagian
bawah dan status ginekologi terdapat perdarahan pervaginam.
dipastikan dengan pemeriksaan USG

E. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium : Hb: 13,0gr/dL Ht: 37,0%
Leukosit : 8900 Trombosit : 230000
Eritrosit : 4,18 juta
Golongan darah : O
4

F. Diagnosis Kerja
G
2
P
0
A
1
, uk 9 minggu dengan Abortus Iminens
G. Terapi
Observasi keadaan umum dan vital sign
Inf. Ringer Laktat 20 tpm

Follow Up
05 April 2014 (pukul 06.00)
S : Pasien mengeluh perdarahan pervaginam (+), nyeri perut bawah(+)
O : KU : baik, CM, tak tampak anemis
VS : TD : 130/80 mmHg RR : 24 x/menit
HR : 90 x/menit T : 36,3 C
Kepala : conjungtiva anemis (-/-)
Thorax : pulmo : vesikular (+/+), COR : S1>S2 regular
Abdomen : nyeri tekan (+) regio suprapubica, bising usus (+)
Extremitas : akral hangat, edema - -
- -
USG : GS (+), FP (-), tidak tampak massa intrauterine











A : G
2
P
0
A
1
, uk 9 minggu dengan Blighted Ovum


5

P :
Observasi vital sign dan perdarahan
Infus Ringer Laktat 20tpm
Proster tab per vaginam/6 jam
Curetase jika jaringan sudah keluar
Extra Celodim 2gr

06 April 2014 (pukul 06.00)
S : Perdarahan pervaginam (+), nyeri tekan perut bawah (+)
O : KU : baik, CM, tak tampak anemis
VS : TD : 120/80 mmHg RR : 20 x/menit
HR : 88 x/menit T : 36,7 C
Kepala : conjungtiva anemis (-/-)
Thorax : pulmo : vesikular (+/+), COR : S1>S2 regular
Abdomen : nyeri tekan (+) regio suprapubica, bising usus (+)
Extremitas : akral hangat, edema - -
- -
A : G
2
P
0
A
1
, uk 9 minggu dengan Blighted Ovum
P :
Observasi vital sign dan perdarahan
Infus Ringer Laktat 20tpm
Proster tab per vaginam/6 jam
Curetase jika jaringan sudah keluar

Post-Curretage
07 April 2014 (pukul 06.00)
S : Perdarahan pervaginam (+), nyeri tekan perut bawah(-)
O : KU : baik, CM, tak tampak anemis
VS : TD : 110/70 mmHg RR : 20 x/menit
HR : 92 x/menit T : 36,2 C
Kepala : conjungtiva anemis (-/-)
Thorax : pulmo : vesikular (+/+), COR : S1>S2 regular
6

Abdomen : nyeri tekan (-), bising usus (+)
Extremitas : akral hangat, edema - -
- -
A : Post Curretage Blighted Ovum
P :
Observasi vital sign dan perdarahan
Infus Ringer Laktat 20tpm
Rencana pulang, dengan obat yang dibawa pulang:
- Maxpro tab 100mg 3x1
- Antalgin tab 500mg 3x1














7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Blighted ovum adalah keadaan dimana seorang wanita merasa
hamil tetapi tidak ada bayi di dalam kandungan. Seorang wanita yang
mengalaminya juga merasakan gejala-gejala kehamilan seperti terlambat
menstruasi, mual dan muntah pada awal kehamilan (morning sickness),
payudara mengeras, serta terjadi pembesaran perut, bahkan saat dilakukan
tes kehamilan baik test pack maupun laboratorium hasilnya pun positif.
Blighted ovum (kehamilan anembryonic) yang terjadi ketika
ovum yang telah dibuahi menempel pada dinding uterus, tetapi embrio
tidak berkembang. Sel berkembang membentuk kantung kehamilan, tetapi
tidak membentuk embrio itu sendiri. Blighted ovum biasanya terjadi dalam
trimester pertama sebelum seorang wanita tahu tentang kehamilannya.
Tingginya tingkat kelainan kromosom biasanya menyebabkan tubuh
wanita secara alami mengalami keguguran.

B. Etiologi
Blighted ovum biasanya merupakan hasil dari masalah kromosom
dan penyebab sekitar 50% dari keguguran trimester pertama. Tubuh
wanita mengenali kromosom abnormal pada janin dan secara alami tubuh
berusaha untuk tidak meneruskan kehamilan karena janin tidak akan
berkembang menjadi bayi normal dan sehat. Hal ini dapat disebabkan oleh
pembelahan sel yang abnormal, atau kualitas sperma atau ovum yang
buruk.
Sekitar 60% blighted ovum disebabkan kelainan kromosom
dalam proses pembuahan sel telur dan sperma. Infeksi TORCH, rubella
dan streptokokus, penyakit kencing manis (diabetes mellitus) yang tidak
terkontrol, rendahnya kadar beta HCG serta faktor imunologis seperti
adanya antibodi terhadap janin juga dapat menyebabkan blighted ovum.
8

Risiko juga meningkat bila usia suami atau istri semakin tua karena
kualitas sperma atau ovum menjadi turun.

C. Patofisiologi
Pada saat konsepsi, sel telur (ovum) yang matang bertemu
sperma. Namun akibat berbagai faktor maka sel telur yang telah dibuahi
sperma tidak dapat berkembang sempurna, dan hanya terbentuk plasenta
yang berisi cairan. Meskipun demikian plasenta tersebut tetap tertanam di
dalam rahim. Plasenta menghasilkan hormon HCG (human chorionic
gonadotropin) dimana hormon ini akan memberikan sinyal pada indung
telur (ovarium) dan otak sebagai pemberitahuan bahwa sudah terdapat
hasil konsepsi di dalam rahim. Hormon HCG yang menyebabkan
munculnya gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah, ngidam dan
menyebabkan tes kehamilan menjadi positif. Karena tes kehamilan baik
test pack maupun laboratorium pada umumnya mengukur kadar hormon
HCG (human chorionic gonadotropin) yang sering disebut juga sebagai
hormon kehamilan.

D. Gejala dan Tanda
Blighted ovum sering tidak menyebabkan gejala sama sekali.
Gejala dan tanda-tanda mungkin termasuk:
periode menstruasi terlambat
kram perut
minor vagina atau bercak perdarahan
tes kehamilan positif pada saat gejala
ditemukan setelah akan tejadi keguguran spontan dimana muncul
keluhan perdarahan
hampir sama dengan kehamilan normal



9

E. Diagnosis
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan Penunjang (USG) diagnosis pasti, bisa dilakukan
saat kehamilan memasuki usia 6-7 minggu. Sebab saat itu diameter
kantung kehamilan sudah lebih besar dari 16 milimeter sehingga
bisa terlihat lebih jelas. Dari situ juga akan tampak, adanya
kantung kehamilan yang kosong dan tidak berisi janin. Diagnosis
kehamilanan embriogenikdapat ditegakkan ilapada kantong gestasi
yang berdiameter sedikitnya 30 mm, tidak dijumpai adanya
strukturmudigah dan kantong kuning telur.

Gambar 1 : Blighted Ovum Gambar 2 : Kehamilan Normal
F. Pencegahan
Dalam banyak kasus blighted ovum tidak bisa dicegah. Beberapa
pasangan seharusnya melakukan tes genetika dan konseling jika terjadi
keguguran berulang di awal kehamilan. Blighted ovum sering merupakan
kejadian satu kali, dan jarang terjadi lebih dari satu kali pada wanita.
Untuk mencegah terjadinya blighted ovum, maka dapat dilakukan
beberapa tindakan pencegahan seperti pemeriksaan TORCH, imunisasi
rubella pada wanita yang hendak hamil, bila menderita penyakit
disembuhkan dulu, dikontrol gula darahnya, melakukan pemeriksaan
kromosom terutama bila usia di atas 35 tahun, menghentikan kebiasaan
10

merokok agar kualitas sperma/ovum baik, memeriksakan kehamilan yang
rutin dan membiasakan pola hidup sehat.

G. Penatalaksanaan
Jika telah didiagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya
adalah mengeluarkan hasil konsepsi dari rahim (kuretase). Hasil kuretase
akan dianalis untuk memastikan apa penyebab blighted ovum lalu
mengatasi penyebabnya. Jika karena infeksi maka maka dapat diobatai
agar tidak terjadi kejadian berulang. Jika penyebabnya antibodi maka
dapat dilakukan program imunoterapi sehingga kelak dapat hamil
sungguhan. Penyebab blighted ovum yang dapat diobati jarang ditemukan,
namun masih dapat diupayakan jika kemungkinan penyebabnya diketahui.
Sebagai contoh, tingkat hormon yang rendah mungkin jarang
menyebabkan kematian dini ovum. Dalam kasus ini, pil hormon seperti
progesteron dapat bekerja. Namun efek samping dari pemakaian hormon
adalah sakit kepala, perubahan suasana hati, dan lain-lain. Jika terjadi
kematian telur di awal kehamilan secara berulang, maka pembuahan
buatan mungkin efektif dalam memproduksi kehamilan. Dalam hal ini
perlu donor sperma atau ovum untuk memiliki anak. Akan tetapi,
pembuahan buatan itu mahal dan tidak selalu bekerja dan risiko kelahiran
kembar seringkali lebih tinggi. Jika belum berhasil maka adopsi adalah
pilihan lain bagi banyak pasangan.
Pada pasien diterapi dengan pemberian preparat misoprostol,
setelah terjadi dilatasi serviks kemudian dilakukan kuretase.






11

BAB III
PEMBAHASAN
Pada kasus ini pasien G
2
P
0
A
1
, UK 9 minggu mengeluh keluar
darah menggumpal dari jalan lahir sejak seminggu ini. Darah awalnya
berupa flek berwarna merah namun semakin lama semakin banyak dan
mengalir. Dalam sehari 1x ganti pembalut. Pasien juga merasa mules-
mules seperti melilit disertai nyeri pada perut bagian bawah. Pasien
mengaku sudah berobat ke bidan kemarin dan mendapatkan suntikan
vitamin dan obat penguat kandungan tetapi darah masih tetap keluar.
Pasien mengatakan sudah melakukan cek urin dan hasil PP test (+). Dari
gejala tersebut dimungkinkan bahwa pasien mengalami abortus. Akan
tetapi perlu dipastikan melalui pemeriksaan penunjang USG mengenai
kondisi dalam rahim ibu sehingga dapat disimpulkan diagnosis pasti yang
ada.
Pada pemeriksaan USG terlihat kantung kehamilan tanpa massa
intrauterin didalamnya. Disimpulkan diagnosis dari kasus ini adalah
blighted ovum atau kehamilan kosong dimana terbentuk kantung
kehamilan dan plasenta tetapi tidak ada pembentukan embrio. Blighted
ovum pada awalnya tidak dapat dibedakan gejalanya dari kehamilan biasa
hingga terjadi abortus spontan dan telah dilakukan pemeriksaan USG.
Setelah dicapai diagnosis pasti blighted ovum, tindakan selanjutnya
adalah kuretase jaringan untuk menghentikan perdarahan, membersihkan
sisa-sisa jaringan, mencegah infeksi, sehingga rahim siap untuk kehamilan
berikutnya. Selain itu sisa jaringan yang diambil dapat juga digunakan
sebagai sampel laboratorium untuk mengetahui penyebab terjadinya
blighted ovum. Penatalaksanaan post kuretase diberikan antibiotika untuk
mencegah terjadi infeksi (maxpro tab 100mg 3x1) dan analgetik untuk
mengurangi nyeri (antalgin tab 500mg 3x1).

12

DAFTAR PUSTAKA

Anne Jackson Bracker. 2006. Blighted Ovum / Anembryogenic Pregnancy.
http://www.miscarriageassociation.org.uk/ma2006/downloads/Blighted%20ovum.pdf
Alan H., et al. 2006. Blighted Ovum. Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis
& Treatment-Ninth Ed. DeCherney. http://www.marchofdimes.com
Juminten Saimin, Eddy R. Moeljono, Retno B. Farid. 2008. Pemakaian Tablet
Misoprostol 100 Mikrogram Per Vaginam Untuk Dilatasi Servix Sebelum
Tindakan Kuretase. Subbagian Fetomaternal Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
Sarwono. 2008. Blighted Ovum. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka.