Anda di halaman 1dari 20

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.

1. Landasan Teori

II.

1. 1. Masa Remaja

II.

1. 1. 1. Definisi

Masa remaja atau masa adolensensi adalah suatu fase perkembangan yang dinamis dalam kehidupan seorang individu. Masa ini merupakan periode transisi dari masa anak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial yang berlangsung pada dekade kedua masa kehidupan. (Pardede, 2002)

pada dekade kedua masa kehidupan. (Pardede, 2002) II. II. Pubertas adalah masa sistem reproduksi mengalami

II.

II.

Pubertas adalah masa sistem reproduksi mengalami kematangan. Pubertas ditandai dengan periode preeliminary selama satu tahun atau lebih yang disebut prapubertas, ketika karakteristik sekunder muncul. Pada saat ini kelenjar endokrin terutama kelenjar pituitary dan gonad mulai memproduksi hormon-hormonnya dalam jumlah besar, sehingga menyebabkan perubahan dalam bentuk tubuh,

1. 2. Pubertas

1. 2. 1. Definisi

kecepatan pertumbuhan, dan perkembangan organ-organ tubuh (Waryana, 2010) Pubertas juga bisa disebut sebagai masa transisi antara masa anak dan dewasa, dimana terjadi suatu percepatan pertumbuhan (growth spurt), timbul ciri- ciri seks sekunder dan terjadi perubahan psikologis yang mencolok (Pardede,

2002).

Sarwono (2007) mengemukakan bahwa pubertas pada wanita dimulai dengan awal berfungsinya ovarium dan berakhir pada saat ovarium sudah berfungsi dengan baik dan teratur.

7

8

II. 1. 2. 2. Fisiologi pubertas Menurut Ganong (2003),Perubahan pada pubertas ditandai dengan 2 proses fisiologis yaitu gonadarche dan adrenarche. Gonadarche merupakan suatu keadaan pertumbuhan dan kematangan dari gonad dan dihubungkan dengan peningkatan sekresi seks steroid serta dimulainya folikulogenesis dan ovulasi pada remaja putri akibat peningkatan kepekaan aksis hipotalamus - pituitari. Gonadarche ditandai dengan thelarche yaitu pembentukan payudara dan menarche yaitu periode menstruasi pertama Adrenarche merupakan maturasi dari korteks adrenal yang ditandai dengan peningkatan sekresi androgen adrenal yaitu dehydroepiandrosteron (DHEA), dehydroepiandrosteron sulfat (DHEAS) dan androstenedion. Adrenarche menyebabkan terjadinya pubarche atau perkembangan rambut pubis dan ketiak

pubarche atau perkembangan rambut pubis dan ketiak II. 1. 2. 3. Perubahan pubertas Sekresi estrogen yang

II. 1. 2. 3. Perubahan pubertas Sekresi estrogen yang dihasilkan oleh ovarium aktif akan menginduksi pertumbuhan dan pematangan saluran reproduksi wanita serta perkembangan karakteristik seks sekunder wanita. Efek yang menonjol pada perkembangan karakteristik seks sekunder tersebut adalah mendorong penimbunan lemak di lokasi-lokasi strategis, misalnya payudara, bokong, dan paha, sehingga terjadi perubahan bentuk tubuh pada remaja putri. Tiga buah perubahan pubertas lainnya pada remaja putri, pertumbuhan rambut ketiak dan pubis, lonjakan pertumbuhan pubertas dan munculnya libido disebabkan oleh lonjakan sekresi androgen adrenal pada pubertas. (Sherwood, 2007) Tanda pubertas dapat dilihat pada tabel Skala Tanner (Marshall dan Tanner, 1969 dalam Nelson, 2000) :

9

Tabel 1. Tingkatan Maturitas Wanita Berdasarkan Skala Tanner

Sumber : Ilmu Kesehatan Anak Nelson, 2000

Stadium Rambut pubis Payudara Perubahan lainnya 1 Pra-pubertas Pra-pubertas 2 Jarang, sedikit berpigmen, lurus
Stadium
Rambut pubis
Payudara
Perubahan
lainnya
1 Pra-pubertas
Pra-pubertas
2 Jarang, sedikit
berpigmen, lurus
batas medial
labia. (9-13,4) th
Payudara dan
papila menonjol,
A1 (rambut
aksila) pra-
pubertas
diameter aerola
bertambah. (8,9-
A2
12,9) th
pertumbuhan
3 Lebih hitam,
rambut aksila
mulai keriting,
(12 tahun)
jumlah
bertambah. (9,6-
Perkembangan
14,1) th
Payudara dan
aerola membesar,
tidak ada pemisah
garis bentuk (9,9-
13,9) th
jerawat (13,2
4 Kasar, keriting,
banyak tapi
lebih sedikit dari
orang dewasa.
(10,4-14,8) th
Aerola dan papila
membentuk bukit
kedua. (10,5-
15,3) th
tahun)
Adrenarche: 9
tahun
5
Segitiga wanita
Bentuk dewasa,
Menarche: usia
dewasa,
papila menonjol.
12,7 tahun
menyebar ke
Aerola bentuk
(10,8-14,5
medial paha.
umum payudara
tahun)
(13-16) th
(13-16) th

10

10 Kesehatan Anak Nels on, 2000 debris end ometrium d ari rongga Ga mbar 1. Sk
Kesehatan Anak Nels on, 2000 debris end ometrium d ari rongga
Kesehatan
Anak Nels on, 2000
debris end ometrium d ari rongga

Ga mbar 1. Sk ala Tanner pada rema ja putri

Su mber : Ilmu

II. 1. 3. Me nstruasi

II.

(Guyton, 2 000) serta uterus mela lui vagina kontraksi m iometrium

pengeluaran

akibat dari

uterus (Sher wood, 2007 ). Siklus discharge

uterus yang tidak hamil . Dibawah

biasanya int erval sekita r empat min ggu , tanpa adanya keh amilan sela ma periode

reproduktif

vagina dari

kendali hor monal dan b erulang sec ara normal,

1. 3. 1. D efinisi Menst ruasi adala h proses de skuamasi e ndometrium

darah dan

stimulasi o leh prostag landin terha dap ritme

fisiologik d arah dan jar ingan muko sa melalui

(pubertas s ampai men opause) pa da wanita

dan bebera pa spesies

primata. Me rupakan pun cak siklus

menstruasi ( Dorland, 20 02)

II. 1. 3. 2. F isiologis me nstruasi Fung si menstrua si normal

hipofisis, da n ovarium d engan peru bahan-perub ahan terkait pada jaring an sasaran

hasil interak si antara hi potalamus,

merupakan

pada salura n reproduks i normal, o varium me mainkan pe ranan penti ng dalam

11

proses ini, karena tampaknya bertanggung jawab dalam pengaturan perubahan- perubahan siklik maupun lama siklus menstruasi (Bobak, 2004).

II. 1. 3. 3. Siklus menstruasi Menurut Bobak (2004), ada beberapa rangkaian dari siklus menstruasi,

yaitu:

A. Siklus Endometrium Siklus endometrium menurut Bobak (2004), terdiri dari empat fase, yaitu:

a. Fase Menstruasi Pada fase ini, endometrium terlepas dari dinding uterus dengan disertai pendarahan, debris endometrium, dan lapisan yang masih utuh hanya stratum basale. Rata-rata fase ini berlangsung selama lima hari (rentang 3-6 hari). Pada awal fase menstruasi, kadar estrogen, progesteron, dan Luteinizing Hormone (LH) menurun atau berada pada kadar terendahnya selama siklus. Pada fase ini kadar Follicel- Stimulating Hormone (FSH) baru mulai meningkat.

Follicel- Stimulating Hormone (FSH) baru mulai meningkat. b. Fase Proliferasi Endometrium mulai memperbaiki dirinya

b. Fase Proliferasi Endometrium mulai memperbaiki dirinya dan mengalami proliferasi di bawah pengaruh estrogen yang berasal dari folikel ovarium. Estrogen merangsang epitel, kelenjar, dan pembuluh darah.Permukaan endometrium secara lengkap kembali normal sekitar 4 hari atau menjelang perdarahan berhenti. Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal ± 3,5 mm atau sekitar 8-10 kali lipat dari semula, yang akan berakhir saat ovulasi.

c. Fase sekresi/luteal Fase sekresi berlangsung sejak hari ovulasi. Korpus luteum mengeluarkan sejumlah besar progesteron dan estrogen. Progesteron bekerja pada endometrium tebal untuk mengubahnya menjadi jaringan yang kaya pembuluh dan sekresi kelenjar.

d. Fase iskemi/premenstrual Implantasi atau nidasi ovum yang dibuahi terjadi sekitar 7 sampai 10 hari setelah ovulasi. Apabila tidak terjadi pembuahan dan implantasi,

12

korpus luteum yang mensekresi estrogen dan progesteron berdegenerasi. Penurunan kadar hormon-hormon ovarium itu merangsang pengeluaran prostaglandin uterus yang menyebabkan vasokontriksi pembuluh-pembuluh endometrium. Penurunan oksigenasi menyebabkan kematian endometrium. Perdarahan yang timbul melalui disintegrasi pembuluh darah itu membilas jaringan endometrium yang mati ke lumen uterus.

B. Siklus Ovarium

Menurut Sherwood (2007), folikel ovarium mengeluarkan estrogen di bawah pengaruh FSH, LH dan estrogen itu sendiri. Kadar estrogen yang rendah tetapi terus meningkat tersebut akan menghambat sekresi FSH dan menekan sekresi LH secara inkomplit. Pada saat estrogen mencapai puncaknya memicu terjadinya lonjakan LH ini menyebabkan ovulasi folikel yang matang. Sekresi estrogen menurun. Sel folikel ini kemudian mengalami transformasi struktural membentuk korpus luteum, yang mengeluarkan progesteron dalam jumlah besar dam estrogen dalam jumlah yang lebih sedikit. Progesteron menghambat FSH dan LH.

Apabila ovum yang dikeluarkan tidak dibuahi dan tidak tertanam di uterus. Korpus luteum dalam waktu 2 minggu akan berdegenerasi. Kadar progesteron dan estrogen akan menurun, sehingga tidak ada lagi pengaruh inhibitorik pada sekresi FSH dan LH. Kadar kedua hormon hipofisis anterior ini kembali meningkat dan merangsang berkembangnya folikel-folikel baru.

meningkat dan merangsang berkembangnya folikel-folikel baru. C. Aksis hipofisis-hipotalamus Menurut Bobak (2004),

C. Aksis hipofisis-hipotalamus

Menurut Bobak (2004), Menjelang akhir siklus menstruasi yang normal, kadar estrogen dan progesteron darah menurun. Kadar hormon ovarium yang rendah dalam darah ini menstimulasi hipotalamus untuk mensekresi Gonadotropin Realising Hormone (Gn-RH). Sebaliknya, Gn-RH menstimulasi sekresi FSH. FSH menstimulasi perkembangan folikel de graaf ovarium dan produksi estrogennya. Kadar estrogen yang semakin meningkat memicu hipofisis anterior untuk mengeluarkan LH. LH mencapai puncak pada sekitar hari ke-13 atau ke-14 dari siklus 28 hari. Apabila tidak terjadi fertilisasi dan

13

implantasi ovum pada masa ini, korpus luteum berdegenerasi, sehingga kadar estrogen dan progesteron menurun, maka terjadi menstruasi.

estrogen dan progesteron menurun, maka terjadi menstruasi. Gambar 2. Perubahan kadar hormon selama siklus menstruasi
estrogen dan progesteron menurun, maka terjadi menstruasi. Gambar 2. Perubahan kadar hormon selama siklus menstruasi

Gambar 2. Perubahan kadar hormon selama siklus menstruasi

Sumber :Fisiologi Manusia Sherwood, 2007

II. 1. 4. Menarche II. 1. 4. 1. Definisi Menarche adalah siklus menstruasi pertama sekali yang dialami wanita. Menarche terjadi akibat peningkatan FSH dan LH yang merangsang sel target ovarium. FSH dan LH berkombinasi dengan reseptor FSH dan LH yang selanjutnya akan meningkatkan laju kecepatan sekresi, pertumbuhan dan proliferasi sel. Hampir semua perangsangan ini dihasilkan dari pengaktifan sistem second messenger adenosine-monophosphate cyclic dalam sitoplasma sel ovarium

14

sehingga menstimulus ovarium untuk memproduksi estrogen dan progesteron. Estrogen dan progesteron akan menstimulus uterus dan kelenjar payudara agar kompeten untuk memungkinkan terjadinya ovulasi. Ovulasi yang tidak dibuahi akan memicu terjadinya menstruasi (Guyton, 1997)

II. 1. 4. 2. Usia Menarche Menurut Proverawati (2009). Usia seorang anak perempuan mulai mendapatkan menstruasi sangat bervariasi. Ada yang mendapatkan menstruasi pertama kali saat berusia 12 – 16 tahun. Usia normal menarche remaja putri pada usia 12-13 tahun (Bagga, 2000)

II. 1. 4. 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi menarche Menurut Adair (2001), ada tiga faktor yang mempengaruhi menarche

yaitu:

1. Faktor keturunan Menarche juga ditentukan oleh pola genetik dalam keluarga, sebagaimana menurut Silva (2005) bahwa usia menarche dari ibu turut memberikan kontribusi terhadap usia menarche anak.

turut memberikan kontribusi terhadap usia menarche anak. 2. Keadaan gizi Semakin baik keadaan nutrisi maka semakin

2. Keadaan gizi Semakin baik keadaan nutrisi maka semakin cepat usia menarche. Beberapa ahli mengatakan anak perempuan dengan jaringan lemak yang lebih banyak, lebih cepat mengalami menarche dari pada anak yang kurus.

3. Kesehatan umum Badan yang lemah atau penyakit yang diderita seorang anak gadis seperti penyakit kronis, terutama yang mempengaruhi asupan makanan dan oksigenasi jaringan dapat memperlambat menarche.

Menurut Silva (2005), gaya hidup juga memiliki pengaruh dalam induksi menarche. Remaja dengan gaya hidup modern, misalnya mereka yang sering menonton televisi, jarang beraktivitas ataupun yang sering mengkonsumsi fast food mengalami menarche yang lebih dini.

15

Dalam penelitian yang dilakukan Bagga dan Kulkarni (2000). terhadap remaja perempuan di India, didapatkan beberapa faktor yang mempengaruhi usia menarche, antara lain.

1. Sosioekonomi Remaja perempuandari keluarga dengan tingkat ekonomi kurang akan mendapatkan menarche 12 bulan lebih lambat daripada mereka yang berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke atas.

2. Pola makan Nutrisi merupakan faktor utama yang berperan. Penelitian menunjukkan bahwa gadis vegetarian mengalami menarche 6 bulan lebih lambat daripada nonvegetarian.

3. Aktivitas fisik Remaja perempuandengan aktivitas fisik yang berlebihan, misalnya atlet cenderung mengalami menarche di atas usia 12-13 tahun. Hal ini diduga berhubungan dengan inhibisi hormon reproduksi yang menginduksi menstruasi.

inhibisi hormon reproduksi yang menginduksi menstruasi. 4. Indeks Massa Tubuh (IMT) Sebagian besar remaja dengan

4. Indeks Massa Tubuh (IMT) Sebagian besar remaja dengan usia menarche dini (9-11 tahun) memiliki kelebihan berat badan sebesar 5 kg dibanding dengan rata-rata berat badan remaja seusianya. Di sisi lain, gadis dengan menarche terlambat kekurangan berat badan sebesar 4,5 kg. Penelitian menunjukkan pula bahwa tinggi badan memiliki asosiasi positif terhadap usia menarche dini.

Menurut Amira, Nur (2011). Pengaruh tekanan dan lingkungan sosial berpengaruh terhadap usia menarche. Namun, dibandingkan dengan pengaruh

genetik, nutrisi dan keadaan umum kesehatan, pengaruh sosial adalah lebih kecil dan bergeser hanya beberapa bulan. Bagian dari lingkungan psikososial anak yang paling penting adalah keluarga. Beberapa aspek dari struktur dan fungsi keluarga dilaporkan adalah secara independen berkaitan dengan menarche yang awal.

a. Insidensi obesitas pada anak yang meningkat

16

b. Pendidikan orang tua

c. Pekerjaan orang tua.

d. Pendapatan keluarga

II. 1. 5. Status gizi Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu. Status gizi juga merupakan keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut, atau keadaan fisiologik akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluruh tubuh (Supariasa dkk, 2001). Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi (Almatsier, 2009).

makanan dan penggunaan zat-zat gizi (Almatsier, 2009). II. 1. 5. 1. Penilaian Status gizi Penilaian status

II. 1. 5. 1. Penilaian Status gizi Penilaian status gizi secara langsung dapat dengan menggunakan 4 cara menurut Supariasa (2001):

A.

Secara klinis Penilaian status gizi secara klinis sangat penting sebagai langkah

pertama untuk mengetahui keadaan gizi penduduk. Karena hasil penilaian dapat memberikan gambaran masalah gizi yang nyata. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.

B. Secara Biokimia

Penilaian status gizi secara biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji laboratorium yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urin, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Salah satu ukuran yang sangat sederhana dan sering digunakan adalah pemeriksaan hemoglobin sebagai indeks dari anemia.

C. Secara Biofisik

Penilaian status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat

17

tanda dan gejala kurang gizi. Pemeriksaan dengan memperhatikan rambut, mata, lidah, tegangan otot dan bagian tubuh lainnya.

D. Secara antropometri

Secara umum, antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Penilaian secara antropometri adalah suatu pengukuran dimensi tubuh dan komposisi dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri digunakan untuk

melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi

Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga (Supariasa dkk, 2001) yaitu :

A.

Survei Konsumsi Makanan

(Supariasa dkk, 2001) yaitu : A. Survei Konsumsi Makanan Survei konsumsi makanan adalah penentuan status gizi

Survei konsumsi makanan adalah penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang di konsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga, dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan zat gizi.

B.

Statistik Vital

Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisisdata beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi. Penggunaan penilaian status gizi dengan statistik vital dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.

C. Faktor Ekologi

Menurut Bengoa dalam Supariasa dkk (2002), mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis, dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi, dan lain – lain.

18

Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi.

II. 1. 5. 2. Pengukuran Antropometri Menurut Supariasa (2002), antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan denga mengukur beberapa parameter. Parameter untuk menentukan status gizi, antara lain:

1. Umur Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interpretasi status gizi salah.

umur akan menyebabkan interpretasi status gizi salah. 2. Berat Badan Berat badan menggambarkan jumlah dari

2. Berat Badan Berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air dan mineral pada tulang. Pada remaja, lemak cenderung meningkat dan protein otot menurun.

3. Tinggi Badan Merupakan parameter yang penting, jika umur tidak diketahui. Dengan menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan.

4. Lingkar Lengan Atas Dilakukan karena mudah, dan tidak memerlukan peralatan yang sulit diperoleh.

5. Lingkar Kepala Adalah standar prosedur ilmu kedokteran anak, yang biasanya untuk memeriksa keadaan patologi dari besarnya kepala

6. Lingkar Dada Biasanya dilakukan pada anak usia 2-3 tahun. Sebagai indikator menentukan KEP (Kekurangan Energi Protein)

7. Jaringan Lunak Dapat diukur dari jaringan otot maupun lemak.

19

Tabel 2. Parameter yang Diajukan WHO untuk Diukur dalam Survei Gizi

Usia

Pengamatan di lapangan

Pengamatan lebih rinci

0-1 tahun

Berat

badan

dan

panjang

Panjang batang badan; lingkar kepala dan dada; diameter krista iliaka, lipat kulit dada, trisep dan subskapula

badan

1-5 tahun

Berat badan dan panjang (sampai 3 tahun), tinggi badan (diatas 3 tahun), lipat kulit bisep dan trisep, lingkar lengan

Panjang batang badan (3 tahun), tinggi duduk (diatas 3 tahun), lingkar kepala dan dada (inspirasi setengah), diameter bikristal, lipat kulit dada & sub-skapula, lingkar betis, rontgen postero- anterior tangan dan kaki

Berat badan dan tinggi badan, lipat kulit trisep
Berat badan dan tinggi
badan, lipat kulit trisep

5-20 tahun

Tinggi duduk, diameter bikristal, diameter biakromial, lipat kulit di tempat lain, lingkar lengan dan betis, rontgen postero- anterior tangan dan kaki

>20 tahun

Berat badan dan tinggi badan, lipat kulit trisep

Lipat kulit di tempat lain, lingkar lengan dan betis

Sumber : Supariasa, 2007

Pengukuran dengan cara-cara yang baku dilakukan beberapa kali secara berkala pada berat dan tinggi badan, lingkaran lengan atas, lingkaran kepala, tebal lipatan kulit (skinfold) diperlukan untuk penilaian pertumbuhan dan status gizi pada bayi dan anak (Narendra, 2006). Jenis pengukuran antropometri, antara lain :

20

A. Berat dan Tinggi Badan terhadap Umur

Pengukuran antropometri jenis ini sesuai dengan cara-cara yang baku, beberapa kali secara berkala misalnya berat badan anak diukur tanpa baju,

mengukur panjang bayi dilakukan oleh 2 orang pemeriksa pada papan pengukur (infantometer), tinggi badan anak diatas 2 tahun dengan berdiri diukur dengan stadiometer.

B. Lingkar kepala, lingkar lengan, lingkaran dada diukur dengan pita

pengukur. Baku Nellhaus dipakai dalam menentukan lingkaran kepala (dikutip oleh Behrman, 1968). Sedangkan lingkaran lengan menggunakan baku dari Wolanski, 1961 yang berturut-turut diperbaiki pada tahun 1969

C.

Tebal kulit di ukur dengan alat Skinfold caliper pada kulit lengan, subskapula dan daerah pinggul. Penting untuk menilai kegemukan. Memerlukan latihan karena sukar

untuk menilai kegemukan. Memerlukan latihan karena sukar melakukannya dan alatnya pun mahal ( Harpenden Caliper ).

melakukannya dan alatnya pun mahal (Harpenden Caliper).

II. 1. 5. 3. Indeks Masa Tubuh (IMT) IMT adalah Quetelet’s index memiliki formula berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m2). IMT mulai disosialisasikan untuk penilaian status mutrisi pada anak dalam kurva CDC (Center for Disease Center) tahun 2004. Tingkat kelebihan berat badan harus dinyatakan dengan SD dari mean (rata-rata) IMT untuk populasi umur tertentu. Mean IMT juga bervariasi seperti pada berat badan normal pada status gizi dan frekuensi kelebihan berat pada rerata IMT dan standard deviasi yang dihitung (Narendra, 2006).

21

Tabel 3. Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT) berdasarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia

IMT (kg/m2)

Kategori

<17

Kekurangan berat badan tingkat berat

Kurus

17 – 18,4

Kekurangan berat badan tingkat ringan

18,5 – 25

Normal

Normal

25,1 – 27

Kelebihan berat badan tingkat ringan

Gemuk

>27,1

Kelebihan berat badan tingkant berat

Gemuk >27,1 Kelebihan berat badan tingkant berat Sumber : Depkes R.I, 1994 dalam Sofia, 2009 Tabel

Sumber : Depkes R.I, 1994 dalam Sofia, 2009

Tabel 4. Definisi pada CDC, Indeks Masa Tubuh terhadap umur

Kurang

IMT – Umur < persentil 5

Normal

Persentil 5 > BMI – Umur < persentil 85

Resiko kegemukan

BMI – Umur > persentil 85

Kegemukan

BMI – Umur > persentil 95

II. 1. 6. Aktivitas fisik II. 1. 6. 1. Definisi Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik yang tidak ada (kurangnya aktivitas fisik) merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kronis, dan secara keseluruhan diperkirakan menyebabkan kematian secara global (WHO,

2010)

22

II. 1. 6. 2. Macam-macam aktivitas fisik Menurut Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI (2006). Ada 3 tipe/macam/sifat aktivitas fisik yang dapat kita lakukan untuk mempertahankan kesehatan tubuh yaitu:

A. Ketahanan (endurance) Aktivitas fisik yang bersifat untuk ketahanan, dapat membantu jantung,

paru-paru, otot, dan sistem sirkulasi darah tetap sehat dan membuat kita lebih bertenaga. Untuk mendapatkan ketahanan maka aktivitas fisik yang dilakukan selama 30 menit (4-7 hari per minggu). Contoh beberapa kegiatan yang dapat dipilih seperti:

1.

2.

3.

4.

5.

Berjalan kaki

Lari ringan Berenang dan senam Bermain tenis Berkebun dan kerja di taman. fisik yang bersifat
Lari ringan
Berenang dan senam
Bermain tenis
Berkebun dan kerja di taman.
fisik
yang
bersifat
untuk

B.

Kelenturan (flexibility)

Aktivitas

kelenturan dapat membantu

pergerakan lebih mudah, mempertahankan otot tubuh tetap lemas (lentur) dan sendi berfungsi dengan baik. Untuk mendapatkan kelenturan maka aktivitas fisik yang dilakukan selama 30 menit (4-7 hari per minggu).

Contoh beberapa kegiatan yang dapat dipilih seperti:

1. Peregangan

2. Senam taichi dan yoga

3. Mencuci pakaian, mobil

4. Mengepel lantai.

C. Kekuatan (strength)

Aktifitas fisik yang bersifat untuk kekuatan dapat membantu kerja otot tubuh dalam menahan sesuatu beban yang diterima, tulang tetap kuat, dan

mempertahankan bentuk tubuh serta membantu meningkatkan pencegahan

23

terhadap penyakit seperti osteoporosis. Untuk mendapatkan kelenturan maka aktivitas fisik yang dilakukan selama 30 menit (2-4 hari per minggu). Contoh beberapa kegiatan yang dapat dipilih seperti:

1. Push-up,

2. Naik turun tangga

3. Angkat berat/beban

4. Membawa belanjaan

5. Mengikuti kelas senam terstruktur dan terukur (fitness)

termasuk juga kegiatan sekolah, aktivitas sosial, bermain,

berolahraga, jalan-jalan, rekreasi, dan olahraga. Kegiatan yang di rekomendasikan oleh WHO (2010), untuk anak usia 5 – 17 tahun:

Aktivitas fisik

1. Dalam 1 hari minimal melakukan aktivitas fisik sedang-berat selama 60menit/hari. 2. Dalam 1 minggu
1. Dalam 1 hari minimal melakukan aktivitas fisik sedang-berat selama
60menit/hari.
2. Dalam 1 minggu minimal melakukan olahraga aerobik (bulu tangkis,
bersepeda, basket, dan berenang ) paling tidak 3x seminggu.
Aktivitas fisik berupa olahraga yang dapat dilakukan antara lain:
1.
Jalan sehat dan jogging
2.
Bermain tenis
3.
Bermain bulu tangkis
4.
Sepakbola
5.
Senam aerobik
6.
Senam pernapasan
7.
Berenang
8.
Bermain bola basket
9.
Bermain voli
10.
Bersepeda
11.
Latihan beban: dumble dan modifikasi lain
12.
Mendaki gunung, dll

24

II. 1. 7. Hubungan Status Gizi dengan Usia Menarche

Pada remaja dengan kelebihan nutrisi (kelebihan berat badan), menarche juga terjadi lebih dini. Hal ini diasosiasikan dengan kadar leptin yang disekresikan

oleh kelenjar adiposa. Peningkatan kronik dari konsentrasi leptin di perifer turut memacu peningkatan serum LH, baik pada siang maupun malam hari. Menurut Wilson dkk. (2003) dalam Uche-Nwachi dkk. (2007), LH merupakan hormon yang dihasilkan di hipofisis anterior dan dapat dijadikan parameter menilai pubertas pada wanita. Serum LH yang meningkat lebih dini dari seharusnya berimbas kepada peningkatan serum estradiol yang kemudian berakhir dengan menarche dini (Uche-Nwachi dkk., 2007). Menurut Matkovic dkk. (1997), leptin sebagai produk dari gen ob pada penderita obesitas mempengaruhi maturasi ovarium. Hasil tersebut didapatkan dari penelitian in vivo terhadap tikus, sementara penelitian pada manusia belum dilakukan.

tikus, sementara penelitian pada manusia belum dilakukan. II. 1. 8. Hubungan Aktivitas fisik dengan Usia Menarche

II.

1. 8. Hubungan Aktivitas fisik dengan Usia Menarche

Penundaan menarche yang berhubungan dengan aktivitas fisik ini telah diteliti bahwa terdapatnya penundaan sekresi dari hormon-hormon spesifik yang ada di dalam tubuh terhadap kematangan seksualitas remaja putri. Percepatan usia menarchepada remaja perempuan dapat terjadi apabila hanya melakukan olahraga sesekali. (Bagga, 2000) Menurut Purwadi (1999), latihan fisik berat dapat memacu sekresi glukokortikoid dari kelenjar supra renalis melalui rangsangan adrenocorticotropin hormone (ACTH) di hipofisis oleh rangsangan cortisol releasing hormone(CRH) di supra hipotalamus. Kadar glukokortikoid yang meningkat, akan menekan produksi estradiol (estrogen) melalui inhibisi GnRH di hipotalamus, inhibisi hipofisis dan inhibisi langsung pada ovarium sehingga terjadi atresia folikuler. Sehingga terjadi hipoestrogenisme yang mengakibatkan gangguan menstruasi.

II. 2. Kerangka teori

25

Faktor-faktor yang mempengaruhi usia menarche

Status Gizi • IMT/Usia Aktivitas fisik • Indeks kerja • Indeks olahraga • Indeks waktu
Status Gizi
• IMT/Usia
Aktivitas fisik
• Indeks kerja
• Indeks olahraga
• Indeks waktu luang
Faktor Genetik
Usia Menarche
Faktor lingkungan
• Lokasi kediaman
• Pendapatan keluarga
• Besarnya keluarga
• Tingkat pendidikan orang tua
Keterpaparan media massa
• Televisi
• Majalah
• Radio

= Faktor-faktor yang mempengaruhi usia menarche yang akan Faktor-faktor yang mempengaruhi usia menarche yang akan

diteliti

= Faktor-faktor yang mempengaruhi usia menarche yang tidak uhi usia menarche yang tidak

di teliti

26

II. 3. Kerangka konsep

Variabel Dependen

Variabel Independen

Status Gizi

• Kurus

Normal

• Berisiko kegemukan

• kegemukan

Kurus • Normal • Berisiko kegemukan • kegemukan Usia Menarche • Cepat • Normal • Lambat

Usia Menarche

• Cepat

• Normal

Lambat

Aktivitas fisik

• Ringan

Sedang

• Berat

Aktivitas fisik • Ringan • Sedang • Berat II. 4. Hipotesis 2) Terdapat hubungan antara status

II. 4. Hipotesis

2) Terdapat hubungan antara status gizi dengan usia menarche pada remaja

kelas VII, VIII dan IX di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama Bekasi

3) Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan usia menarche pada

remaja kelas VII, VIII dan IX di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama

Bekasi