Anda di halaman 1dari 128

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Berkaitan dengan Letter Of Intent (LOI) yang ditandatangani oleh Pemerintah

Indonesia dan International Monetary Fund (IMF), yang mencantumkan jadwal

perbaikan pengelolaan perusahaan-perusahaan di Indonesia, Komite Nasional Kebijakan

Corporate Governance (KNKCG) berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan di

Indonesia mempunyai tanggung jawab untuk menerapkan standar good corporate

governance yang telah diterapkan ditingkat internasional.1

Menurut Paul Krugman runtuhnya perekonomian Indonesia juga disebabkan oleh

karena tidak adanya good corporate governance didalam pengelolaan Perusahaan, kajian

Booz-Allen & Hamilton pada tahun 1998 menunjukkan bahwa indeks good corporate

governance Indonesia adalah yang paling rendah di Asia Timur yaitu 2,88 dibandingkan

Malaysia (7,72), Thailand (4,89), Singapura (8,93) dan Jepang (9,17). Perhitungan

indeks adalah 0 untuk kondisi paling buruk dan indeks 10 untuk kondisi paling baik.2

Tidak adanya good corporate governance diperparah oleh inefisiensi hukum dan

peradilan di Indonesia yang hanya 2,5 jauh apabila dibandingkan dengan Malaysia

1
Good Corporate Governance: Bisakah Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat?,
http://artikel.us/sulistyanto1.html
2
Good Corporate Governance, Djalil A Sofyan, disampaikan pada Seminar Corporate Governance di
Universitas Sumatera Utara pada tanggal 26 Juni 2000, hal. 3.
2

(9,00), Thailand (3,25), Singapura (10,00) dan Jepang (10,00) dengan perhitungan

indeks 0 untuk kondisi yang paling buruk dan indeks 10 untuk kondisi paling baik.3

Corporate Governance merupakan proses dan struktur yang digunakan untuk

mengarahkan dan mengelola bisnis dan urusan-urusan perusahaan dalam rangka

meningkatkan kemakmuran bisnis dan akuntabilitas perusahaan dengan tujuan utama

mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan

kepentingan stakeholders yang lain.

Good corporate governance merupakan konsep yang menekankan pentingnya

hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar, akurat, dan tepat

waktu serta kewajiban perusahaan untuk mengungkapan (disclosure) secara akurat, tepat

waktu, dan transparan mengenai semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan

stakeholder.

Pada dasarnya prinsip corporate governance meliputi empat komponen utama

yang diperlukan untuk meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan pemegang

saham tanpa mengabaikan kepentingan stakeholders, yaitu :4

1. Prinsip keadilan (fairness).

2. Prinsip transparansi (transparancy).

3. Akuntabilitas (accountability).

4. Responsibilitas (responsibility).

3
Ibid,
4
FCGI, “Seri Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) Jilid II : Peranan Dewan Komisaris dan
Komite Audit dalam pelaksanaan Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan)”, Hal. 1.
3

Prinsip corporate governance diharapkan dapat meningkatkan kualitas laporan

keuangan, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan pemakai laporan keuangan,

termasuk investor yang merupakan pemegang saham minoritas sehingga para investor

khususnya investor asing dapat menanamkan modalnya di Indonesia melalui Pasar

Modal.

Dalam kondisi sosial ekonomi Indonesia saat ini, BAPEPAM sebagai regulator

Pasar Modal, mempunyai peranan penting dalam mengupayakan penerapan good

corporate governance oleh perusahaan terbuka. Salah satu upaya yang dilakukan

BAPEPAM adalah memperbaiki dan menerbitkan peraturan-peraturan baru yang

berkaitan dengan aspek corporate governance.

Pada bulan Maret 2000, BAPEPAM merevisi peraturan VIII. G. 7 tentang

Pedoman Penyajian Laporan Keuangan. Selain dalam rangka meningkatkan kualitas

keterbukaan laporan keuangan, latar belakang direvisinya peraturan tersebut adalah

dalam rangka harmonisasi dengan PSAK-PSAK baru dan International Accounting

Standards (IAS).

Kemudian sejalan dengan komitmen untuk meningkatkan keandalan informasi

dalam laporan keuangan, BAPEPAM juga telah menerbitkan Surat Edaran SE-O3/ PM/

2000 tanggal 5 Mei 2000 yang merekomendasikan perusahaan terbuka untuk

membentuk komite audit.

Komite audit berfungsi membantu dewan komisiaris meningkatkan kualitas

laporan keuangan, menciptakan iklim disiplin dan pengendalian yang dapat mengurangi

kesempatan terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan perusahaan, meningkatkan


4

efektivitas fungsi internal audit maupun eksternal audit, dan mengidentifikasi hal-hal

yang memerlukan perhatian dewan komisaris.5

BAPEPAM juga merevisi dan menerbitkan beberapa peraturan lainnya seperti

peraturan IX. H. 1 tentang pengambilalihan perusahaan terbuka, peraturan IX. F. 1

tentang Penawaran Tender, dan peraturan IX. E. 2 tentang Transaksi Material dan

Perubahan Kegiatan Usaha.

Pada saat yang bersamaan, BAPEPAM mencabut peraturan VIII. G. 10 yang

mengatur tentang penangguhan rugi selisih kurs, agar ketentuan BAPEPAM sesuai

dengan standar internasional. Saat ini BAPEPAM dalam proses merevisi beberapa

peraturan lainnya antara lain peraturan IX. E. 1 tentang Transaksi yang Mengandung

Benturan Kepentingan Tertentu.

Kesemuanya ini merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas keterbukaan di

Pasar Modal. BAPEPAM juga berupaya meningkatkan fungsi corporate secretary agar

lebih aktif menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan dan operasional

perusahaan kepada publik dan memastikan bahwa manajemen selalu menyediakan

informasi tersebut secara memadai dan tepat waktu.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, diharapkan BAPEPAM akan menerapkan

sistem pelaporan elektronik karena diseminasi informasi yang tepat waktu dan akurat

akan dapat berjalan secara lebih efektif dan efisien. Disamping itu, BAPEPAM akan

melakukan koordinasi dengan Self Regulatory Organisations (SROs) seperi bursa efek

5
Peranan BAPEPAM dalam penegakkan Corporate Governance, http://www.nccg-
indonesia.org/lokakarya/yogyaherwit.html,
5

untuk menentukan hal-hal apa saja yang menjadi kewajiban perusahaan terbuka dalam

penerapan corporate governance.

Tidak kalah pentingnya adalah upaya BAPEPAM melakukan law enforcement

secara efektif. BAPEPAM merasakan pentingnya ketersediaan penyidik yang handal

dengan menyelenggarakan pendidikan penyidik, baik di tingkat eksekutif maupun staff.

Kegiatan penegakan hukum semakin ditingkatkan dan pada semester pertama tahun

2000.

BAPEPAM telah menjatuhkan sanksi kepada sembilan Emiten sehubungan

dengan pelanggaran atas ketentuan transaksi yang benturan kepentingan dan

keterbukaan informasi. Dengan ditingkatkannya kapasitas penegakan hukum,

diharapkan tidak hanya mendorong perubahan dalam kultur corporate governance, tetapi

juga akan menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan Pasar Modal.

Walaupun perangkat hukum sehubungan dengan keterbukaan dan perlindungan

hak-hak pemegang saham dalam rangka pelaksanaan RUPS telah komprehensif dan

memadai, namun terdapat beberapa faktor yang menyebabkan perusahaan terbuka dapat

melaksanakan kehendak bisnis mereka dengan sedikit mempertimbangkan kepentingan

pemegang saham minoritas.

Pertama, mayoritas perusahaan terbuka di Indonesia dikendalikan oleh keluarga,

kelompok atau konglomerasi yang memegang lebih dari 50% saham yang beredar.

Kondisi ini menyebabkan pihak pengendali dapat dengan mudah memperoleh


6

persetujuan atas proposal yang mereka ajukan, karena mereka memegang mayoritas hak

suara. Peranan BAPEPAM dalam Penegakan Corporate Governance.

Kedua, walaupun dalam hal transaksi yang mengandung benturan kepentingan

memerlukan persetujuan pemegang saham minoritas (independen), dalam prakteknya

adalah sulit bagi BAPEPAM untuk mengontrol dan memonitor. Biasanya pemegang

saham minoritas tidak menggunakan kesempatan untuk hadir dalam RUPS pertama,

mengharuskan dilaksanakannya RUPS yang kedua, dengan kewajiban kuorum yang

lebih rendah. Hal ini memungkinkan pengambilan suara dapat dengan mudah

dimenangkan oleh pihak pengendali yang berkepentingan.

Ketiga, walaupun keterbukaan yang dilakukan perusahaan kurang memadai atau

menyesatkan dapat dijadikan dasar untuk mengajukan tuntutan terhadap direksi

perusahaan ke pengadilan dan, dalam beberapa hal, merupakan kasus pidana, namun

belum ada pihak yang melakukan hal tersebut sejak Undang-undang Pasar Modal

diberlakukan mulai tanggal 1 Januari 1996. Dengan demikian, belum ada yurisprudensi

atau preseden bagi perlindungan hukum hak-hak pemegang saham minoritas.

Keempat, karakteristik pasar keuangan Indonesia didasari oleh hubungan yang

dimotori perbankan, dimana pemegang saham utama suatu perusahaan sering kali juga

memiliki usaha di bidang perbankan. Pemberian kredit yang tidak didasari oleh

keputusan yang wajar (arm length) telah mengakibatkan berkurangnya good will dari

pemegang saham di pasar modal. Dengan demikian, pemegang saham pengendali


7

perusahaan terbuka tidak termotivasi menjalankan bisnis secara wajar dan adil dengan

pemegang saham minoritas.

Pengalaman yang terjadi di Indonesia mengindikasikan bahwa peraturan

perundangan yang memadai telah tersedia untuk memastikan keterbukaan dan perlakuan

yang wajar bagi pemegang saham minoritas. Namun, ada dua elemen utama yang terkait

dengan good governance.

Pertama, mayoritas perusahaan terbuka dan pemegang saham pengendali harus

dengan tulus mempercayai bahwa adalah demi kepentingan ekonomis mereka jugalah

untuk memperlakukan pemegang. saham minoritas secara wajar. Dengan demikian,

harus ada good will untuk merubah kultur dan memasukkan konsep kewajiban fidusiari

dalam menjalankan kegiatan usaha mereka.

Kedua, harus ada penegakan hukum yang berarti dari pengadilan yang

memperkenankan tuntutan baik dari regulator dan publik untuk memperoleh ganti rugi

baik perdata maupun pidana. Walau di lingkungan yang menerapkan standar etika yang

tertinggipun, masih selalu akan ada pihak yang melakukan penyimpangan. Dengan

demikian, publik harus memiliki persepsi bahwa dalam hal-hal sebagaimana disebutkan

sebelumnya, mereka dapat menggunakan jalur hukum melalui pengadilan.

Di Indonesia, BAPEPAM telah memulai menciptakan kondisi yang kondusif

bagi penerapan good corporate governance dengan mengeluarkan perangkat peraturan

yang memenuhi standar internasional, namun masih banyak hal yang harus dilakukan
8

untuk mengubah persepsi dan motivasi perusahaan terbuka dan meningkatkan sistem

peradilan kita guna mendukung penegakan peraturan-peraturan tersebut.

Secara umum dirasakan bahwa kerangka peraturan perundangan di Indonesia

sudah memadai untuk menjamin aspek keterbukaan dan pelaksanaan sebagai bagian dari

perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham di Pasar Modal, namun guna

meningkatkan penerapan good corporate governance, tidaklah cukup bagi kita untuk

menitikberatkan dari segi peraturan dan perundangan saja, dimana peraturan tersebut

berasal dari pemerintah.

Oleh karena itu BAPEPAM juga menghargai upaya-upaya dari setiap asosiasi

atau organisasi profesi untuk menyusun kesepakatan-kesepakatan, norma-norma, kode

etik, best practices, atau perangkat aturan sebagai pedoman dalam menjalankan

kegiatannya atas inisiatif internal masing-masing asosiasi atau organisasi.

Hal ini dikarenakan pada umumnya aturan yang diciptakan dan disepakati para

pihak yang menjadi objek dari ketentuan tersebut akan menghasilkan implementasi yang

lebih baik dibandingkan apabila aturan atau regulasi tersebut disusun oleh pihak lain

seperti Pemerintah.

BAPEPAM juga sangat mendukung setiap lembaga atau pihak yang

mensosialisasikan pentingnya penerapan good corporate governance. BAPEPAM juga

sekaligus mendukung didirikannya lembaga yang turut aktif mendorong penerapan

corporate governance di Indonesia seperti Forum of Corporate Governance Indonesia

(FCGI) yang disponsori oleh Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) dan Indonesian
9

Financial Executive Association (IFEA) serta rencana pendirian Asosiasi Komisaris atau

Non Executive Directors Institute yang akan dikembangkan oleh beberapa pihak.

Tentu kita juga harus memberikan perhatian yang sama besarnya untuk

meningkatkan hal-hal penting lain yang terkait seperti penegakan hukum, pemahaman

para praktisi hukum tentang pelaporan keuangan, sistem peradilan yang efektif, dan

itikad baik serta motivasi setiap pihak untuk menerapkan corporate governance.

B. Perumusan Masalah.

Dari uraian pendahuluan, terdapat beberapa hal yang dijadikan perumusan

masalah dalam penulisan tesis ini, yaitu :

1. Bagaimana aspek hukum Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate

Governance) di Pasar Modal ?

2. Bagaimana peranan BAPEPAM dalam penerapan Pengelolaan Perusahaan yang

baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal ?

3. Bagaimana penyelesaian pelanggaran penerapan Pengelolaan Perusahaan yang

baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal yang dilakukan oleh

BAPEPAM ?

C. Tujuan Penulisan.

Adapun yang menjadi tujuan penulisan tesis ini adalah :

1. Mengetahui tentang aspek hukum aspek hukum Pengelolaan Perusahaan yang

baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal.

2. Mengetahui peranan BAPEPAM dalam penerapan Pengelolaan Perusahaan yang

baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal.


10

3. Mengetahui cara menyelesaikan pelanggaran penerapan Pengelolaan Perusahaan

yang baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal yang dilakukan oleh

BAPEPAM.

D. Kerangka Teori dan Konsepsi

Untuk menganalisis data mengenai prinsip pengelolaan Perusahaan yang baik

(Good Corporate Governance) yang dilaksanakan oleh Perusahaan Publik dengan

memasukkan peranan BAPEPAM dan BEJ penulis menggunakan dua teori yaitu teori

tentang sistem hukum dan teori hukum adalah kontrol sosial dari Pemerintah.

Alasan menggunakan teori–teori tersebut, karena penulis berpendapat bahwa

prinsip Good Corporate Governance merupakan elemen substansi dalam sistem hukum

yang merupakan hasil dari perubahan hukum dan memiliki karakteristik hukum tertentu.

Mengenai sistem hukum (legal system).

Friedman menyatakan bahwa sistem hukum terdiri atas tiga elemen, yaitu elemen

struktur (structure), substansi (substance), budaya hukum (legal culture), elemen

Struktur dirumuskan oleh Friedman sebagai berikut :

“The structure of a legal system consists of elements of this kind : the number and size
of courts; their yurisdiction (that is, what kind of cases they hear, and how and why), and
modes of appeal from one court to another. Structure also means how the legislature is
organized, how many members sit on the Federal Trade Commission, what a president
can (legally) do or not do, what procedures the police department follows, and so on.6

Friedman mengatakan bahwa struktur dari sistem hukum terdiri dari unsur

berikut ini : jumlah dan ukuran pengadilan, yurisdiksinya (yaitu jenis kasus yang mereka

6
Lawrence M. Friedman, American Law, Penguin Books Canada Ltd, 1984, hal. 5.
11

periksa, dan bagaimana serta mengapa), dan cara naik banding dari satu pengadilan ke

pengadilan lainnya.

Struktur juga berarti bagaimana badan legislatif ditata, berapa banyak anggota

yang duduk di Komisi Dagang Federal, apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh

seorang Presiden, prosedur apa yang diikuti oleh departemen kepolisian, dan sebagainya.

Mengacu kepada rumusan Friedman maka Badan Pengawas Pasar Modal

(BAPEPAM) merupakan elemen struktur dari sistem hukum dikarenakan Bapepam

mempunyai kewenangan melakukan pembinaan, pengaturan dan pengawasan sehari-hari

kegiatan Pasar Modal kinerja Pasar Modal.

Bapepam mempunyai kewenangan untuk membuat peraturan mengenai

penerapan Good Corporate Governance di Pasar Modal dan dapat melakukan

penyelidikan pelanggaran sekaligus memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang

melakukan kegiatan di Bursa Saham apabila melakukan pelanggaran.

Elemen kedua dari sistem hukum adalah substansi hukum, yaitu :

“By this is meant the actual rules, norms, and behavior patterns of people inside the
system. This is, first of all, “the law” in the popular sense of the term the fact that the
speed limit is fifty-five miles an hour, that burglars can be sent to prison, that “by law” a
pickle maker has to list his ingredients on the label of the jar.7

Friedman mengatakan bahwa yang dimaksud dengan substansi hukum adalah

peraturan perundang-undangan yang ada, norma-norma dan aturan tentang perilaku

manusia atau yang biasa dikenal orang sebagai hukum adalah substansi hukum,

berdasarkan teori ini maka Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal

7
Ibid, Hal. 6
12

yang dilengkapi Keputusan Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan, Keputusan

Ketua Bapepam maupun Surat Edaran (SE) Bapepam.

Undang-Undang Pasar Modal memberikan kewenangan Bapepam untuk

membuat aturan yang mengatur pelaksanaan Good Corporate Governance di Pasar

Modal dan berhak melakukan pemeriksaan bagi pihak yang diduga melakukan atau

terlibat dalam pelanggaran terhadap Undang-Undang Pasar Modal dan/atau peraturan

pelaksanaannya.

Apabila Bapepam berpendapat bahwa pelanggaran tersebut mengakibatkan

kerugian bagi kepentingan Pasar Modal maka Bapepam dapat melakukan tindakan

lanjutan berupa penyidikan dan dapat memberikan sanksi administratif bagi para pihak

yang memperoleh izin, persetujuan atau pendaftaran dari Bapepam.

Bursa Efek baik Jakarta maupun Surabaya beserta Lembaga Kliring dan

Penjaminan dan Lembaga Penyimpanan Dan Penyelesaian merupakan Special

Regulatory Organization (SRO) yang mempunyai kewenangan membuat peraturan

mengenai pelaksanaan Pasar Modal khususnya peraturan pelaksanaan Good Corporate

Governance.

Mengenai budaya hukum, Friedman mengartikannya sebagai sikap dari

masyarakat terhadap hukum dan sistem hukum, tentang keyakinan, nilai, gagasan serta

harapan masyarakat tentang hukum yang dirumuskan sebagai berikut :

“By this we mean the actual rules, norms, and behavior patterns of people inside the
system. This is, firs of all, “the law” in the popular sense of the term the fact that the
13

speed limit is fifty-five miles and hour, that burglars can be sent to prison, that “by law”
a pickle maker has to list his ingredients on the label of the jar.8

Undang-Undang Pasar Modal memberikan kewenangan kepada Bapepam untuk

membuat aturan yang mengatur Pasar Modal dan berhak melakukan pemeriksaan bagi

pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran di Pasar Modal. Dalam

rangka kewenangan berkaitan dengan pengenaan sanksi, Bapepam tetap mengedepankan

unsur pembinaan dengan tetap berdasarkan kepada ketentuan peraturan perundang-

undangan di bidang Pasar Modal yang berlaku.

Bapepam dalam mengenakan sanksi administratif tetap memperhatikan aspek

pembinaan terhadap Pihak-pihak yang diduga melakukan pelanggaran sesuai dengan

penjelasan Pasal 102 ayat (1) UUPM. Penjelasan Pasal 102 ayat (1) UUPM, yaitu :

“Dalam menerapkan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102 ayat
(1), Bapepam perlu memperhatikan aspek pembinaan terhadap Pihak dimaksud.”

Aspek pembinaan dilakukan untuk merubah budaya hukum (legal culture)

masyarakat pasar modal agar menjalankan Good Corporate Governance sebaik mungkin

untuk menciptakan suasana pasar modal yang teratur, wajar dan efisien sehingga tidak

merugikan masyarakat sebagai investor yang merupakan pemegang saham minoritas.

Menurut Black, semua hukum adalah kontrol sosial, namun tidak semua kontrol

sosial adalah hukum karena masih ada jenis kontrol sosial lainnya seperti Guru

menggunakan aturan agar anak-anak didiknya berprilaku baik atau orang tua membuat

8
Ibid, Hal. 6
14

aturan bagi anaknya di rumah, hal ini dilakukan dengan harapan membentuk perilaku

untuk masa depan.9

Bentuk kontrol sosial ini bukan berasal dari Pemerintah sehingga bentuk ini tidak

resmi (unofficial) dan bukan bagian dari alat negara. Menurut definisi Black bentuk ini

bukan hukum karena hukum adalah kontrol sosial dari Pemerintah.

Peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal terdiri dari Undang-

Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal yang dilengkapi Peraturan

Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan dan Keputusan Ketua Bapepam merupakan

bentuk kontrol sosial untuk menciptakan Pasar Modal yang teratur, wajar dan efisien.

Perubahan hukum sebagaimana yang digambarkan oleh Friedman pada dasarnya

akan melahirkan beberapa karakteristik hukum dipandang dari posisi dan hubungannya

dengan masyarakat, yaitu substansi hukum yang bersifat represif, otonom dan responsif.

Hukum yang represif bersifat pasif dan oportunis terhadap sosial dan politik.

Artinya hukum berorientasi pada kepentingan politik dan kekuasaan. Dalam konteks

hukum perusahaan, maka hukum yang represif adalah hukum yang dibangun hanya

mengutamakan kebijaksanaan atau kepentingan pemerintah dan perusahaan karena

perusahaan dianggap memiliki andil yang kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan

perekonomian negara.

Sedangkan hukum yang otonom adalah hukum yang dibentuk tidak memiliki

dampak atau pengaruh terhadap stakeholders dan pemegang saham minoritas, ada

perubahan tetapi manfaat bagi stakeholders tidak tidak dirasakan atau terpenuhi.

9
Ibid, Hal. 4.
15

Selanjutnya hukum yang responsif adalah hukum yang mengakomodasi dan kondusif

bagi pembangunan, termasuk melindungi kepentingan stakeholders dan pemegang

saham minoritas.

Dengan mengacu kepda kerangka teori diatas, maka secara teoritis pemelitian ini

merupakan suatu studi terhadap hukum perusahaan agar tercipta suatu hukum yang

respionsif sehingga dalam mengelola perusahaan haruslah memperhatikan kepentingan

stakeholders dan pemegang saham minoritas dengan menerapkan prinsip-prionsip Good

Corporate governance, Transparansi, Akuntabilitas, fairness dan responsibilitas agar

terciptanya pengelolaan perusahaan yang baik dan dapat menarik investor.

E. Metode Penelitian.

Penelitian mengenai Penerapan Perusahaan Yang Baik (Good Corporate

Governance) bagi Perusahaan Publik merupakan suatu penelitian yuridis normatif, maka

penelitian ini berbasis pada analisis terhadap norma hukum yaitu dalam peraturan

perundang-undangan (law as it is written in the books).

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah pengumpulan data yang

sudah ada dilapangan, baik berupa data primer maupun data sekunder. Data primer

diperoleh dengan cara pengamatan di lapangan serta wawancara dengan pihak-pihak

yang terkait, terutama dari BAPEPAM.

Data sekunder yang ada digolongkan dalam dua bahan hukum yaitu bahan

primer (primary sources) dan bahan sekunder (secondary sources), bahan primer

meliputi produk lembaga legislatif, dalam konteks penelitian ini bahan yang dimaksud
16

adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal beserta Peraturan

Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan dan Keputusan Ketua Bapepam.

Bahan-bahan Hukum primer yang sama dengan Undang-Undang adalah putusan-

putusan Bapepam, hal ini dikarenakan Undang-Undang Pasar Modal memberikan

kewenangan kepada Bapepam untuk melakukan pemeriksaan bagi pihak yang diduga

melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap Undang-Undang Pasar Modal

dan/atau peraturan pelaksanaannya.

Bursa Efek baik Jakarta maupun Surabaya beserta Lembaga Kliring dan

Penjaminan dan Lembaga Penyimpanan Dan Penyelesaian merupakan Special

Regulatory Organization (SRO) yang mempunyai kewenangan membuat peraturan

mengenai pelaksanaan Pasar Modal sehingga juga dimasukkan sebagai bahan hukum

primer.

Bahan-bahan sekunder berupa tulisan-tulisan, makalah dalam buku, jurnal,

majalah ilmiah tentang Hukum Pasar Modal serta buku-buku lainnya yang berkaitan

dengan topik ini. Sedangkan penelitian kepustakaan antara lain dilakukan di beberapa

perpustakaan di Universitas Indonesia, Bapepam dan BEJ. Pengumpulan data melalui

wawancara dilakukan terhadap beberapa narasumber (informan) yang dinilai memahami

Good Corporate Governance di Pasar Modal.

Data hasil penelitian ini dianalisis secara kualitatif, artinya data kepustakaan dan

hasil wawancara dianalisis secara mendalam, menyeluruh dan merupakan satu kesatuan

yang bulat dengan mendeskripsikan keadaan dilapangan serta membandingkannya

dengan peraturan yang telah disediakan.


17

F. Sistematika Penulisan

Bab I Pendahuluan, dalam bab ini menjelaskan tentang latar belakang, perumusan

masalah, tujuan penulisan, metode penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II Aspek hukum Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate

Governance) di Pasar Modal.

Bab III Peranan BAPEPAM dan Bursa Efek dalam penerapan Pengelolaan

Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal

Bab IV Penyelesaian pelanggaran penerapan Pengelolaan Perusahaan yang baik

(Good Corporate Governance) di Pasar Modal.

Bab V Penutup, bab ini menjelaskan tentang kesimpulan dan saran.


18

BAB II

ASPEK HUKUM PENGELOLAAN PERUSAHAAN YANG BAIK (GOOD

CORPORATE GOVERNANCE) DI PASAR MODAL

A. Konsep Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).

Salah satu penyebab timbulnya krisis ekonomi disejumlah negara-negara di Asia

yang disebabkan oleh karena lemahnya penegakan dan kepastian hukum didalam bidang

ekonomi. Penegakan hukum didalam bidang ekonomi tidak berlangsung secara

seimbang yang dikarenakan kebijakan untuk memacu pertumbuhan ekonomi tidak

diikuti dengan langkah untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi hukum sebagai desain yang

dapat mengontrol sekaligus mendorong timbulnya praktek-praktek yang jujur dan

transparan dikalangan dunia usaha.

Kondisi ini telah meracuni setiap bagian yang melekat dengan aktifitas

perekonomian kita, dimana perilaku-perilaku yang tidak jujur dari perusahaan-

perusahaan di Indonesia menimbulkan berbagai kesulitan khususnya dalam aspek

yuridis untuk meminta pertanggungjawaban dari perbuatan-perbuatan hukum yang

dibuat perseroan.

Krisis moneter yang melanda Indonesia telah menimbulkan kesadaran baru

bahwa satu-satunya jalan agar penyelesaian krisis ini dapat segera teratasi maka tidak

ada pilihan selain mendesain ulang seluruh komponen supra struktur dan infra struktur

sistem dan mekanisme finansial.

Didalam era ekonomi baru maka perkembangan atas kajian tentang prinsip

prinsip good corporate governance telah bergerak sangat pesat karena adanya tuntutan
19

terhadap perilaku usaha (business behavior) agar mereka dapat membenahi anatomi

korporasi mereka dengan cara menerapkan sistem yang saling mengontrol antara

pengurus dan pemegang saham.10

Realitas menunjukkan prilaku emiten atau perusahaan publik yang memiliki

komisaris atau direktur yang berhubungan langsung dengan pemegang saham utama,

telah menimbulkan benturan kepentingan (conflict of interest). Sering kepentingan

pemegang saham lainnya terabaikan, perkembangan usaha perseroan ditentukan oleh

keinginan pemegang saham utama tanpa melibatkan minoritas.

Kondisi ini mempegaruhi substansi independensi pengurus perseroan dalam hal

menyampaikan informasi material kepada pemegang saham lainnya. Perseroan yang

ingin terus berkembang harus mendisain kerangka hukum perseroan dengan menerapkan

prinsip-prinsip good corporate governance yang implikasinya positif dari partisipasi

pemodal lainnya.

Konsep Good Corporate Governance adalah konsep pengimplementasikan

perusahaan-perusahaan di Indonesia karena melalui konsep yang menyangkut struktur

perseroan yang terdiri dari unsur-unsur RUPS, Direksi dan komisaris dapat terjalin

hubungan dan mekanisme kerja, pembagian tugas, kewenangan dan tanggung jawab

yang harmonis baik secara intern maupun ekstern dengan tujuan meningkatkan nilai

perusahaan demi kepentingan shareholders dan stakeholders.

10
http://216.239.57.104/search?
q=cache:94hc_1VFofsJ:www.safitri.com/lawoffice/indo/aspek_good_corporate_governance.htm+makalah
+good+corporate+governance&hl=en&ie=UTF-8
20

Keberhasilan Good Corporate Governance tergantung kepada berfungsinya

organ-organ perseroan secara efektif, berfungsinya sistem yang mengatur hubungan

struktural antar ketiga organ perseroan, shareholders dan stakeholders yang dalam

pelaksanaannya harus didukung oleh ketiga organ Perseroan Terbatas itu.

Pengaturan hubungan yang harus seimbang dan harmonis antar pihak-pihak yang

berperan dalam perseroan merupakan salah satu usaha sistem Good Corporate

Governance untuk melindungi kepentingan seluruh pemegang saham termasuk

pemegang saham minoritas.

Good Corporate Governance terkait erat dengan usaha mengurangi Korupsi,

Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam transaksi atau perundingan bisnis, Good Corporate

Governance berusaha mencegah malpraktik dan kecurangan, Good Corporate

Governance menjadikan tindak pidana Korupsi, Kolusi dan Nepotisme menjadi sulit

berkembang dan Good Corporate Governance mencegah dan mengeliminasi

penyimpangan yang menghambat pengembangan perusahaan.

Untuk memulihkan krisis ekonomi yang berkepanjangan ini implementasi Good

Corporate Governance merupakan suatu metode yang tidak dapat ditawar lagi untuk

memulihkan krisis ekonomi yang terjadi selama ini, pelaku usaha Indonesia harus

menerapkan Good Corporate Governance karena Good Corporate Governance tidak

membiarkan adanya korupsi dan praktik KKN lainnya dalam dunia usaha yang sehat.

Implementasi Good Corporate Governance adalah langkah nyata untuk meningkatkan

efisiensi dan efektivitas kerja dunia usaha.


21

Good Corporate Governance diharapkan mampu mengusahakan keseimbangan

antara berbagai kepentingan yang dapat memberi keuntungan antara berbagai

kepentingan yang dapat memberi keuntungan bagi perusahaan secara menyeluruh,

dengan demikian implementasi Good Corporate Governance menjadi penting karena

kemampuan pengelolaan perusahaan berakibat pada efisiensi yang digunakan oleh suatu

perusahaan untuk menarik modal berisiko kecil, kemampuan perusahaan untuk

memenuhi harapan masyarakat dan kinerja secara keseluruhan.

B. Aspek Hukum Pengelolaan Perusahaan yang baik di Pasar Modal.

Prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang diimplementasikan pada

perusahaan-perusahaan di Indonesia berasal dari Organization for Economy Cooperation

and Development (OECD) yang mengatur empat prinsip dasar Good Corporate

Governance yaitu diperlukannya sebuah sistem yang mampu menjamin berlangsungnya

praktek-praktek usaha yang berdasarkan kepada keterbukaan (transparency),

pertanggungjawaban (responsibility), keadilan (fairness) dan akuntabilitas

(accountability).

Prinsip Fairness atau keadilan yang berlaku di Pasar Modal mengutamakan pada

persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham dan adanya perlindungan

hukum terhadap pemegang saham minoritas, karena investor baik asing maupun lokal

dalam pasar modal berkedudukan sebagai pemegang saham minoritas sehingga perlu

lebih diperhatikan perlindungan hukumnya.11

11
Anis Baridwan, Corporate Governance dari sudut pandang pasar modal, disusun oleh Sofyan Djalil
22

Prinsip Transparency atau transparansi yang ada di Pasar Modal adalah

Perusahaan wajib mendisclose material yang akurat, memadai serta tepat waktu

sehingga pemegang saham maupun investor dapat menggunakan informasi tersebut

dalam mengambil keputusan investasinya.

Prinsip Accountability atau akuntabilitas pada pasar modal dimana pengurus

perusahaan wajib melakukan pengelolaan perusahaan dengan sungguh-sungguh serta

melakukan hal terbaik untuk kepentingan perusahaan (fiduciary duties).

Berdasarkan hal diatas dapat dikatakan bahwa Corporate Governance pada

Perusahaan yang mendaftarkan sahamnya di Pasar Modal (Emiten) berupa :

1. Perlindungan hak-hak pemegang saham.

2. Persamaan perlakuan terhadap pemegang saham.

3. Peranan pengurus perusahaan.

4. Peranan stakeholder.

5. Aspek keterbukaan.

Perlindungan hak-hak pemegang saham terdiri atas hak atas keamanan

pencatatan kepemilikan saham, hak untuk mendapatkan informasi tentang perusahaan,

hak untuk hadir dan bersuara dalam Rapat Umum Pemegang Saham, hak untuk

memperoleh bagian dari keuntungan perusahaan.

Perseroan Terbatas (PT) merupakan badan hukum (legal entity) yang mandiri

(persona standi in judicio) yang memiliki sifat dan ciri kualitas yang berbeda dari bentuk

usaha yang lain sebagai karakteristik suatu PT antara lain adanya :

1. Pemisahan fungsi antara pemegang saham dan pengurus atau direksi.


23

2. Memiliki komisaris yang berfungsi sebagai pengawas.

3. Kekuasaan tertinggi berada pada Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS.12

Dengan demikian Perseroan Terbatas mempunyai tiga organ Perseroan agar masing-

masing organ independen (tidak dipengaruhi oleh organ lainnya) namun diharapkan juga

tercipta adanya check and balance antara tiga organ Perseroan tersebut.

Pengelolaan Perseroan Terbatas diberikan kepada Direksi yang dianggap sebagai

tenaga profesional dan bertugas untuk kepentingan Perseroan dan menjalankan

manajemen Perseroan agar diharapkan Perseroan berkembang dengan pesat dan

mendapat untung yang besar sehingga diharapkan Perseroan dan para pemegang saham

memperoleh keuntungan yang maksimal dengan biaya seefisien mungkin.

Hal ini mencerminkan prinsip akuntabilitas dimana Direksi dapat dipercaya

untuk mewakili perusahaan baik didalam maupun diluar pengadilan karena perusahaan

merupakan suatu yang abstrak dan segala hal yang dilakukan oleh perusahaan tersebut

dilakukan oleh Direksi beserta jajarannya.

Didalam mengelola Perseroan Terbatas Direksi harus memperhatikan hak-hak

para pemegang saham melalui prosedur yang memadai yang ditetapkan oleh Perseroan

yang pada dasarnya terdiri atas :

1. Hak untuk menghadiri dan memberikan suara pada RUPS berdasarkan prinsip

satu saham satu suara.

12
Widjaya, I.G. Rai, Hukum Perusahaan, (Jakarta : Mega Poin, 2000), Hal. 143.
24

Hal ini mencerminkan prinsip keadilan (fairness) karena saham menunjukkan

partisipasi investor di perusahaan tersebut, dengan demikian semakin banyak saham

yang dipunyai semakin besarlah peranannya di perusahaan tersebut.

2. Hak untuk mendapatkan informasi mengenai Perseroan secara tepat waktu dan

teratur yang memungkinkan seorang pemegang saham membuat keputusan yang

baik mengenai investasi yang berkaitan dengan sahamnya dalam Perseroan.

Hal ini mencerminkan prinsip transparansi (transparency) karena Perseroan

melakukan keterbukaan (disclosure), memberikan informasi sebenarnya tentang

Perseroan tersebut saat ini (up to date) dan tidak menyembunyikan apapun sehingga

pemegang saham dapat memperhitungkan tindakannya dan tidak terjebak akan

informasi yang menyesatkan.

3. Hak untuk ikut serta dalam pembagian keuntungan dengan menerima pembagian

keuntungan.13

Hal ini mencerminkan prinsip keadilan (fairness) dimana pembagian keuntungan

didasarkan atas banyaknya saham yang dimiliki, hal ini dikarenakan saham

merupakan wujud partisipasi individu didalam Perseroan.

Definisi mengenai Pemegang Saham Mayoritas menurut sistem hukum Common

Law adalah sebagai berikut :

“Majority stockholder : One who owns or controls more than 50% (percent) of the stock
of a corporation, through effective control may be maintained with far less than 50
(fifty) percent if most of the stock is widelyheld. In close corporation, majority
shareholders may owe fiduciary, partner like duties to minority shareholders.

13
A. Djalil Sofyan, Hukum Perusahaan Dan Kepailitan, (Jakarta : FHUI, 2002), Hal. 12.
25

Majority Shareholder : A shareholder who owns or controls more than half the
corporation’s stock”.

Menurut Rudhi Prasetya, pemegang saham minoritas adalah satu atau sejumlah

pemegang saham yang relatif menguasai lebih banyak saham yang dikeluarkan oleh

perseroan. Definisi pemegang saham minoritas menurut sistem hukum Common Law

adalah sebagai berikut :

“Minority stockholder : Those stockholders of a corporation who hold so few shares in


relation to the total outstanding that they are unable to control the management of the
corporations or to elect directors.
Minority shareholders : A shareholder who own less than half the total shares
outstanding and thus cannot control the corporation’s management or singlehandedly
elect directors”.

Menurut Rudhi Prasetya, pemegang saham minoritas adalah satu atau sejumlah

pemegang saham yang relatif hanya menguasai sejumlah saham, yang kalah banyaknya

terhadap satu atau sekelompok pemegang saham lainnya.

Dalam suatu Perseroan Terbatas apabila terdapat perbedaan pemilikkan saham

Perseroan dengan selisih jumlah yang begitu besar maka akan dijumpai adanya

pemegang saham mayoritas dipihak yang satu dan dipihak lain adalah pemegang saham

minoritas, juga dengan perbedaan jumlah suara yang mencolok.

Prinsip mayoritas sering menyebabkan pemegang saham minoritas berada pada

posisi yang tidak berdaya dan kurang menguntungkan dalam menegakkan

kepentingannya karena kedudukan Hukum para pemegang saham minoritas ini jauh

lebih lemah dan tidak mampu menghadapi tindakan Direksi atau Komisaris yang
26

merugikan Perseroan disebabkan oleh kedudukan pemegang saham mayoritas yang

identik dengan kedua organ Perseroan tersebut, baik secara fisik maupun kepentingan.14

Para pemegang saham harus diperlakukan secara adil berdasarkan prinsip

kesetaraan maka para pemegang saham harus mempunyai hak penuh yang tidak

dilanggar untuk memberikan satu suara untuk setiap saham dan Perseroan harus

memberikan informasi kepada pemegang saham sehingga memungkinkan pemberian

suara yang bermanfaat dan dalam hal ini Perseroan dan Direksi sebagai pengelola

Perseroan tidak boleh berpihak.15

Prinsip one share, one vote didasarkan pada suatu pemikiran bahwa pemegang

saham mayoritas sebagai penyandang dana utama selalu dihadapkan pada dua sisi yang

kontradiktif, disatu sisi berharap mendapatkan deviden yang besar tetapi disisi lain

kuatir akan menanggung resiko kerugian yang besar juga sesuai jumlah saham yang

dimilikinya.

Prinsip one share, one vote merupakan prinsip dasar dan hakikat dari maksud

berdirinya suatu PT. Manning Gilbert Warren III dalam bukunya A Perception of

Legitimacy menyatakan :

“One vote one share rule is based on the principle of apportioning voting power
commensurate with the investment risk taken by common stockholders as residual
owners”.

14
Widjaya, I.G. Rai, loc. Cit., Hal. 203.
15
A. Djalil Sofyan, loc. Cit., Hal. 12-13.
27

Para pemegang saham minoritas juga mempunyai hak-hak yang telah diatur

secara jelas didalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 mengenai Perseroan Terbatas

yaitu :

1. Hak untuk mengawasi atau menerima informasi dari Perseroan berdasarkan Pasal

63 Ayat 2 Undang-Undang PT.

2. Hak untuk meminta diadakannya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

berdasarkan Pasal 66 Ayat 2 dan Pasal 67 (1) UUPT.

3. Hak untuk memeriksa Perseroan berdasarkan Pasal 110 UUPT.

4. Hak mendapat ganti rugi dalam bentuk pembelian kembali saham yang telah

ditempatkan oleh Perseroan dengan dana yang bukan berasal dari laba, diatur

dalam Pasal 30 Ayat 3 UUPT.

5. Hak menuntut karena tindakan yang tidak adil atau tidak perlu berdasarkan Pasal

52 (2) UUPT.

6. Hak menuntut karena kelalaian atau kesalahan manajemen (Pasal 85 (3) dan 98

(2) UUPT.

7. Hak mayoritas khusus yang berupa pembelian kembali saham yang telah

ditempatkan berdasarkan Pasal 31 (2) UUPT.

8. Hak melakukan perubahan Anggaran Dasar berdasarkan Pasal 75 UUPT.

9. Konsolidasi, penggabungan, pengambilalihan, pailit atau pembubaran

berdasarkan Pasal 76 UUPT.

10. Penjualan atau pemberian jaminan atas kekayaan Perseroan berdasarkan Pasal 88

UUPT.
28

11. Hak untuk keluar dari Perseroan karena likuidasi berdasarkan Pasal 117 (1) b

UUPT.

12. Pembelian kembali saham yang telah ditempatkan (Pasal 55 UUPT).

13. Peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM)

juga memberikan perlindungan terhadap para pemegang saham minoritas dalam

hubungannya dengan transaksi yang mengandung pertentangan kepentingan dan

pengambilalihan tertentu.16

Hak untuk mengawasi atau menerima informasi Perseroan dari Direksi atau

Komisaris dapat dilakukan oleh pemegang saham didalam Rapat Umum Pemegang

Saham berdasarkan Pasal 63 Ayat 2 Undang-Undang Perseroan Terbatas. Hak meminta

diadakannya Rapat Umum Pemegang Saham (Pasal 66 Ayat 2 dan Pasal 67 (1) UUPT)

dimintakan kepada Direksi atau Komisaris oleh pemegang saham minoritas.

Apabila lewat tiga puluh hari terhitung sejak permintaan tidak melakukan

pemanggilan RUPS maka pemegang saham minoritas dapat mengajukan permohonan

kepada Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan

Perseroan untuk dapat memberikan izin kepada Pemohon melakukan sendiri

pemanggilan RUPS tahunan atau melakukan sendiri pemanggilan RUPS lainnya atas

permohonan pemegang saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (2), apabila

Direksi atau Komisaris setelah lewat waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak

permintaan tidak melakukan pemanggilan RUPS lainnya.17

16
Ibid., Hal. 14
17
http://www.theceli.com/dokumen/produk/1995/uu1-1995.htm.
29

Penetapan Ketua Pengadilan Negeri ini merupakan penetapan instansi pertama

dan terakhir (Pasal 67 (4)), yang karena itu tidak dapat dimintakan banding seperti

putusan Pengadilan Negeri lainnya karena hal ini merupakan suatu kekhususan yang

diberikan Undang-Undang dalam rangka penegakan kepentingan pemegang saham

minoritas agar pelaksanaan RUPS tidak tertunda.

Pemegang saham minoritas pemegang saham minoritas dapat mengajukan

permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat

kedudukan Perseroan untuk melakukan pemeriksaan terhadap Perseroan apabila

permintaan kepada Perseroan untuk memperoleh data-data atau keterangan yang

diperlukan ditolak atau tidak diperhatikan oleh Perseroan dan apabila ada dugaan :

a. Perseroan melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan pemegang

saham atau pihak ketiga; atau

b. Anggota Direksi atau Komisaris melakukan perbuatan melawan hukum yang

merugikan perseroan atau pemegang saham atau pihak ketiga.

Pemeriksaan tersebut diatas hanya dapat dilakukan oleh pemegang saham atas

nama diri sendiri atau atas nama Perseroan apabila mewakili paling sedikit 1/10 bagian

dari jumlah seluruh saham dengan hak suara yang sah, pihak lain yang dalam Anggaran

Dasar Perseroan atau perjanjian dengan Perseroan diberi wewenang untuk mengajukan

permohonan pemeriksaan dan Kejaksaan dalam hal mewakili kepentingan umum.

Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas semua kerugian yang

diderita pemegang saham termasuk pemegang saham minoritas yang beritikad baik,

yang timbul akibat batal demi hukum dikarenakan perolehan saham, baik secara
30

langsung maupun tidak langsung bertentangan dengan pembelian kembali saham yang

telah dikeluarkan Perseroan dengan ketentuan dibayar dari laba bersih sepanjang tidak

menyebabkan kekayaan bersih Perseroan menjadi lebih kecil dari jumlah modal yang

ditempatkan ditambah cadangan yang diwajibkan sesuai dengan ketentuan Undang-

undang ini dan jumlah nilai nominal seluruh saham yang dimiliki perseroan bersama

dengan yang dimiliki oleh anak perusahaan dan gadai saham yang dipegang, tidak

melebihi 10 % (sepuluh persen) dari jumlah modal yang ditempatkan.

Pemegang saham selaku subjek Hukum mempunyai hak perseorangan atau

(personal right) yang dapat dipertahankan serta dapat menuntut pelaksanaan haknya

termasuk dengan mengajukan gugatan terhadap Perseroan melalui Pengadilan Negeri

yang daerah Hukumnya meliputi tempat kedudukan Perseroan apabila Perseroan

merugikan pemegang saham minoritas dikarenakan tindakan Perseroan yang tidak adil

(unfair) dan tanpa alasan yang wajar sebagai akibat keputusan RUPS, Direksi atau

Komisaris.18

Hak perseorangan dimaksudkan agar dapat memberikan perlindungan yang baik

terhadap pemegang saham namun yang lebih memanfaatkan ketentuan tersebut adalah

pemegang saham minoritas karena pemegang saham ini bisa menolak suatu tindakan

yang hendak dilakukan oleh Perseroan meskipun hal tersebut telah diputuskan oleh

RUPS.19

18
Widjaya, I.G. Rai, loc. Cit., Hal. 203.
19
Ibid., Hal. 204.
31

Gugatan yang berdasarkan atas hak utama dari Perseroan tetapi dilaksanakan

oleh pemegang saham atas nama Perseroan dinamakan gugatan derivative (derivative

suit), jadi gugatan diajukan bukan untuk kepentingan pribadi pemegang saham

melainkan untuk Perseroan sehingga segala hasil dari gugatan tersebut menjadi milik

Perseroan.20

Gugatan Derivatif merupakan gugatan pengecualian (abnormal) sebab dalam

kasus-kasus normal yang bertindak sebagai pihak yang mewakili Perseroan bukan

pemegang saham melainkan pihak Direksi atau yang dikuasakan/didelegasikan oleh

Direksi, seperti yang biasanya ditentukan dalam anggaran dasarnya.

Undang-Undang Perseroan Terbatas memberikan hak suara khusus kepada

pemegang saham minoritas untuk dapat bertindak selaku wakil perseroan dalam

memperjuangkan kepentingan Perseroan terhadap tindakan Perseroan yang merugikan

sebagai akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan baik oleh anggota direksi

dan/atau komisaris (Pasal 85 Ayat 3 jo. Pasal 98 ayat 2).

Dalam hal tindakan Direksi merugikan Perseroan maka pemegang saham yang

memenuhi persyaratan mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh saham

dengan hak suara yang sah dapat mewakili Perseroan untuk melakukan tuntutan atau

gugatan terhadap Direksi dan atau Komisaris melalui Pengadilan.

Tidak semua gugatan yang diajukan oleh pemegang saham dari suatu Perseroan

dapat digolongkan sebagai guatan derivative karena banyak model gugatan lain yang

20
Fuady, Munir, Doktrin-Doktrin Modern Dalam Corporate Law, (Bandung : PT. CITRA ADITYA
BAKTI, 2002), Hal. 74-75
32

dilakukan oleh pemegang saham yang tidak tergolong ke dalam gugatan derivative,

yaitu gugatan langsung (Direct Action), gugatan kelompok (Class Action) dan gugatan

representatif (Representative Action).

Perbedaan antara gugatan langsung dengan gugatan derivatif adalah jika pada

gugatan derivatif gugatan diajukan kepada pihak yang telah merugikan Perseroan,

diajukan oleh pemegang saham yang bertindak untuk dan atas nama Perseroan

sedangkan pada gugatan langsung pihak pemegang saham mengajukan gugatan juga

kepada pihak yang merugikan Perseroan tetapi pemegang saham tersebut bertindak

untuk dan atas namanya sendiri karenanya sering disebut juga gugatan individu

(individual action).21

Gugatan Derivatif pemegang saham jangan disamakan dengan gugatan class

action karena gugatan class action atau gugatan kelompok adalah gugatan yang

dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang dalam suatu kelompok orang yang

mempunyai kepentingan yang sama, gugatan mana dilakukan secara hukum, tidak

membutuhkan surat kuasa yang dianggap dilakukan untuk dan atas nama seluruh

anggota kelompok tersebut, bila diajukan oleh pemegang saham maka pemegang saham

tersebut secara hukum dianggap mewakili seluruh kelompok pemegang saham yang

mempunyai kepentingan yang sama.22

21
D. Cox James, Hazeen Thomas Lee dan O’Neal R. Hodge, Corporations, Aspen Law & Business, (USA
: A Division of Aspen Publishers, Inc, 1997), Hal. 400.
22
Ibid., Hal. 398.
33

Pengadilan Negeri dapat membubarkan Perseroan atas permohonan satu orang

pemegang saham atau lebih yang mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh

saham dengan hak suara yang sah berdasarkan Pasal 117 Ayat 1 b UUPT.

Apabila Perseroan melakukan perbuatan hukum penggabungan, peleburan dan

pengambilalihan Perseroan harus memperhatikan kepentingan Perseroan, pemegang

saham minoritas, karyawan Perseroan, kepentingan masyarakat dan persaingan sehat

dalam melakukan usaha.

Penggabungan, peleburan dan pengambilalihan Perseroan tidak mengurangi hak

pemegang saham minoritas untuk menjual sahamnya dengan harga yang wajar

sebagaimana diatur dalam Pasal 55 Ayat 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1995, yaitu :

Setiap pemegang saham berhak meminta kepada Perseroan agar sahamnya dibeli dengan

harga yang wajar apabila yang bersangkutan tidak menyetujui tindakan Perseroan yang

merugikan pemegang saham atau Perseroan, berupa :

1. Perubahan Anggaran Dasar.

2. Penjualan, penjaminan, pertukaran sebagian besar atau seluruh kekayaan

Perseroan.

3. Penggabungan, peleburan atau pengambilalihan Perseroan.

Undang-Undang No. 1 Tahun 1995 mengenai Perseroan Terbatas telah cukup

untuk melindungi kepentingan pemegang saham minoritas namun dalam menghadapi

globalisasi ekonomi Perseroan harus mengupayakan keseimbangan dengan

memperhatikan tidak hanya kepentingan shareholder saja melainkan juga stakeholder

untuk mempertahankan eksistensinya dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat.


34

Berkaitan dengan hal tersebut Perseroan harus melaksanakan Pengelolaan Perusahaan

Yang Baik (Good Corporate Governance) yang mengatur mengenai aspek-aspek yang

terkait dengan :

1. Keseimbangan hubungan antara organ-organ Perusahaan yaitu RUPS, Direksi

dan Komisaris yang mencakup hal-hal yang berkaitan dengan struktur kelembagaan

dan mekanisme operasional ketiga organ Perusahaan tersebut (keseimbangan

internal).

2. Pemenuhan tanggung jawab Perusahaan sebagai entitas bisnis dalam masyarakat

kepada seluruh stakeholder yang mencakup hal-hal yang terkait dengan pengaturan

hubungan antara Perusahaan dengan seluruh stakeholder (keseimbangan eksternal)

untuk mewujudkan Perusahaan sebagai good Corporate Citizen.23

Corporate Governance merupakan proses dan struktur yang digunakan untuk

mengarahkan dan mengelola bisnis dan urusan-urusan Perusahaan dalam rangka

meningkatkan kemakmuran bisnis dan akuntabilitas Perusahaan dengan tujuan utama

mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan

kepentingan stakeholders yang lain.

Stakeholders terdiri atas karyawan, pemasok, pelanggan, distributor, pesaing,

pemerintah serta masyarakat yang ikut memberikan kontribusi terhadap keberhasilan

perusahaan dan yang ikut pula menanggung dampak dari kegiatan operasional

perusahaan.

23
A. Djalil Sofyan, loc. Cit., Hal. 18.
35

Mereka adalah Stakeholders yang mempunyai kepentingan dalam kemakmuran

perusahaan tesebut, oleh karena itu perusahaan harus mengupayakan keseimbangan

dengan memperhatikan tidak hanya kepentingan shareholder saja tetapi juga stakeholder

untuk mepertahankan eksistensinya dan bermanfaat bagi seluruh entitas masyarakat.24

Pemenuhan tanggung jawab perusahaan sebagai entitas bisnis dalam masyarakat

kepada seluruh stakeholder, yang mencakup hal-hal yang terkait dengan pengaturan

hubungan antara perusahaan dengan seluruh stakeholder (keseimbangan eksternal) untuk

mewujudkan perusahaan sebagai good corporate citizen.

Hak atas keamanan pencatatan kepemilikan saham yang terdiri atas adanya

perlindungan hukum terhadap pemegang saham dari kemungkinan saham rusak, hilang,

palsu, dicuri merupakan bagian dari Good Corporate Governance yang dilaksanakan di

Pasar Modal.

Pencatatan kepemilikan saham dilakukan oleh Biro Administrasi Efek (BAE)

yang merupakan pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana

untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan

memperdagangkan efek diantara mereka.25

Pengertian emiten adalah pihak yang melakukan penawaran umum sedangkan

efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial,

saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak

berjangka atas efek dan setiap derivatif dari efek.


24
ibid, hal 5
25
Wijatno, H. R, Djokomartono, R, Suhendar Wahyu, Samad Usman, Anwar Mohamad dan Chanif Abu,
Reformasi Pasar Modal dan Strategi bermain saham, kerukunan pensiun Departemen Keuangan RI,
Jakarta 2002, hal. 431.
36

Hak atas keamanan pencatatan kepemilikan saham juga diatur dalam pasal 56

sampai dengan Pasal 61 Undang-Undang Pasar Modal yang mengatur bahwa penitipan

kolektif pada Kustodian :

1. Lembaga Penyimpan dan Penyelesaian/Kustodian wajib mencatat efek dalam

buku daftar pemegang efek Emiten.

2. Emiten wajib menerbitkan sertifikat atau konfirmasi sebagai bukti pencatatan

efek.

3. Pemegang rekening yang efeknya tercatat dalam penitipan kolektif berhak

mengeluarkan suara dalam RUPS.

Kustodian hanya dapat mengeluarkan efek atau dana yang tercatat pada rekening

efek atas perintah tertulis dari pemegang rekening atau pihak yang diberi wewenang

untuk bertindak atas namanya. Kustodian wajib memberikan ganti rugi kepada

pemegang rekening atas setiap kerugian yang timbul akibat kesalahannya.

Ketentuan ini menganut prinsip asas akuntabilitas dimana Kustodian diharuskan

untuk bekerja secara professional dan tanpa kesalahan dan setiap kesalahan dapat

langsung diketahui merupakan kesalahannya dan tidak dapat mengelak untuk membayar

ganti rugi atas kerugian yang ditimbulkannya.

Kustodian atau pihak terafiliasinya dilarang memberikan keterangan mengenai

rekening efek nasabah kepada pihak manapun, kecuali kepada :

1. Pihak yang ditunjuk secara tertulis oleh pemegang rekening atau ahli waris

pemegang rekening.

2. Polisi, jaksa atau hakim untuk kepentingan peradilan perkara pidana.


37

3. Pengadilan untuk kepentingan peradilan perkara perda atas permintaan pihak-

pihak yang berperkara.

4. Pejabat pajak untuk kepentingan perpajakan.

5. BAPEPAM, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Emiten, Biro

Administrasi Efek atau kustodian lain dalam melaksanakan fungsinya masing-

masing.

6. Pihak yang memberikan jasa kepada kustodian termasuk konsultan, konsultan

hukum dan akuntan.

Dengan demikian dapat disimpulkan kustodian melaksanakan prinsip

akuntabilitas yaitu tanggung jawabnya untuk merahasiakan keterangan mengenai efek

nasabah kepada pihak manapun sehingga apabila terjadi kebocoran maka pihak

kustodianlah yang harus bertanggung jawab.

Kustodian bagaimanapun tidak terlepas dari tugasnya melaksanakan transparansi

kepada masyarakat khususnya apabila terjadi penyalahgunaan fasilitas dimana

digunakan untuk tindak pidana misalnya tindak pidana pencucian uang, apabila terjadi

maka kustodian harus mengungkapkan keterangan mengenai rekening efek nasabah

kepada aparat Pemerintah yang berwenang.

Hak untuk mendapatkan informasi tentang perusahaan :

1. Tersedianya informasi yang lengkap bagi investor sebagai dasar keputusan

investor.

2. Kewajiban untuk menyampaikan keterbukaan informasi sejak suatu perusahaan

berstatus emiten atau perusahaan publik.


38

3. Pasal 85 mengatur bahwa kewajiban pihak-pihak yang memperoleh izin,

persetujuan atau pendaftaran dari BAPEPAM untuk menyampaikan laporan kepada

BAPEPAM.

Hak untuk mendapatkan informasi juga diatur dalam Pasal 86 Undang-Undang

Pasar Modal yang mengatur bahwa kewajiban emiten atau perusahaan publik untuk

menyampaikan laporan kepada BAPEPAM.

1. Berkala.

2. Peristiwa atau fakta material.

Pasal 87 Undang-Undang Pasar Modal juga mengatur bahwa kewajiban direksi,

komisaris serta pemegang saham yang kepemilikannya melampaui batas tertentu untuk

mengungkapkan kepemilikan serta perubahan kepemilikannya.

Pasal 89 Undang-Undang Pasar Modal mengatur bahwa semua informasi yang

disampaikan kepada BAPEPAM tersedia untuk umum, peraturan BAPEPAM No.

IX.C.2.IX.D3 secara lebih mendalam mengatur keterbukaan informasi yang harus

diungkapkan dalam prospektus penawaran umum atau right issue.

Peraturan BAPEPAM No. X.K.I mengatur bahwa informasi material yaitu akhir

hari kerja kedua sejak terjadinya harus disampaikan kepada BAPEPAM dan masyarakat,

Peraturan BAPEPAM No. X.K.2 mengatur mengenai laporan keuangan berkala yang

terdiri atas laporan keuangan tahunan dan laporan keuangan tengah tahunan dan

peraturan BAPEPAM No. X.K.5 mengatur mengenai keterbukaan informasi dalam hal

kepailitan.
39

Hak untuk hadir dan bersuara dalam Rapat Umum Pemegang Saham diatur

dalam Pasal 60 Undang-Undang Pasar Modal dimana pemegang rekening yang efek

(saham)nya tercatat dalam penitipan kolektif berhak mengeluarkan suara dalam Rapat

Umum Pemegang Saham.

Peraturan No. IX.D.1 mengatur mengenai penambahan modal melalui right issue

harus memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (pada prinsipnya korum

rapat sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas).

Hak untuk hadir dan bersuara dalam Rapat Umum Pemegang Saham juga diatur

didalam peraturan No. IX.E.1 yang mengatakan bahwa jika suatu Transaksi dimana

seorang komisaris, direktur atau pemegang saham utama mempunyai benturan

kepentingan maka transaksi dimaksud harus disetujui oleh para pemegang saham

independen.

Peraturan No. IX.E.2 juga mengatur mengenai semua transaksi material dan

perubahan kegiatan utama perusahaan harus disetujui oleh Rapat Umum Pemegang

Saham. Peraturan No. IX.G.1 mengatur mengenai penggabungan dan peleburan

Perusahaan Publik harus disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham. Peraturan No.

IX.J.1 mengatur bahwa setiap penambahan modal melalui pengeluaran efek bersifat

ekuitas disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham.

Masalah-masalah Good Corporate Governance yang perlu diatur lebih tegas

dalam peraturan perundang-undangan, yaitu :


40

1. Pasal 71 Undang-Undang Perseroan Terbatas yang mengatur bahwa pemegang

saham dengan hak suara yang sah, baik sendiri maupun dengan kuasa tertulis berhak

mengadiri Rapat Umum Pemegang Saham dan menggunakan hak suaranya.

Namun demikian, prosedur atau tata cara pemberian hak suara belum diatur secara

tegas dalam peraturan perundang-undangan.

2. Peranan Stakeholder, ketentuan yang berkaitan dengan stakeholder diatur dalam

perundang-undangan lain seperti perundang-undangan dibidang ketenagakerjaan,

kepailitan, lingkungan hidup, perbankan, perasuransian dan lain-lain.

3. Keterbukaan atas gaji dewan direksi, pada dasarnya Undang-Undang Perseroan

Terbatas dan peraturan perundang-undangan dibidang pasar modal sudah mengatur

secara cukup mengenai keterbukaan dan transparansi namun demikian pada

umumnya perusahaan belum secara rinci mengungkapkan besarnya gaji anggota

dewan komisaris dan direksi dan dalam rangka Good Corporate Governance perlu

diatur agar perusahaan mengungkapkan rincian gaji setiap anggaran dewan

komisaris dan direksi.

Pembentukan komite audit ditentukan oleh BAPEPAM dengan menerbitkan

Surat Edaran (SE-03/PM/2000) yang menghimbau agar Emiten dan Perusahaan Publik

mempunyai Komite Audit yang mempunyai tugas membantu komisaris dalam rangka

peningkatan kualitas laporan keuangan dan peningkatan efektivitas internal audit dan

eksternal audit.

Salah satu langkah kongkret yang sudah diambil oleh otoritas pasar modal adalah

keharusan bagi perusahaan publik untuk membentuk Komite Audit. Sebagai komite
41

yang membantu fungsi pengawasan Komisaris, Komite Audit memiliki fungsi dalam

hal-hal yang terkait dengan proses dan peran audit bagi perusahaan terutama dalam

pelaporan hasil audit keuangan perusahaan yang dipaparkan untuk publik.

Membangun komite audit yang efektif tidak boleh terlepas dari kacamata

penerapan prinsip Corporate Governance secara keseluruhan disuatu perusahaan dimana

Independency, Transparency and Disclosure, Accountability and Responsibility, serta

Fairness menjadi landasan utama tata kelola perusahaan.

Komite Audit harus independen, dimulai dengan dipersyaratkannya Komisaris

Independen sebagai ketua Komite Audit, seorang Komisaris Independen sebagai wakil

dari pemegang saham minoritas dapat diharapkan untuk bersikap independen terhadap

kepentingan pemegang saham mayoritas.26

Anggota Komite Audit lainnya pun harus benar-benar independen terhadap

perusahaan, dalam arti mereka tidak memiliki hubungan bisnis apapun dengan

perusahaan, dan tidak memiliki hubungan kekeluargaan apapun dengan Direksi dan

Komisaris perusahaan. Nama anggota Komite Audit harus diumumkan ke publik

sehingga terjadi kontrol sosial terhadap independensinya.

Komite Audit harus transparan, dimulai dengan keharusan adanya audit charter

dan agenda program kerja tahunan tertulis dari Komite Audit yang kemudian didukung

dengan adanya rapat Komite Audit yang teratur dan selalu menghasilkan risalah rapat

tertulis.

26
Alijoyo F Antonius, Komite Audit yang efektif : Belajar dari kasus Enron, Forum for Corporate
Governance in Indonesia (FCGI).
42

Komite Audit harus menyiapkan laporan tertulis kepada Komisaris tentang

pencapaian tugas-tugas mereka selama periode penugasan, dan disarankan laporan

tersebut tertuang di laporan tahunan perusahaan untuk konsumsi publik, terutama hal-hal

yang menyangkut identifikasi dan penanganan resiko yang penting bagi perusahaan.

Komite Audit harus memiliki akuntabilitas tinggi, dimulai dengan pemenuhan

persyaratan generik dari anggota komite audit, yang secara team setidaknya memiliki

kompetensi dan pengalaman sangat cukup antara lain dalam hal, yaitu :

1. Audit, Akuntansi dan Keuangan

Pemahaman mendalam konsep dan praktek mengenai Financial Engineering,

Corporate Finance, Auditing (Audit keuangan, Audit Operasional, dan Audit

Khusus), dan Fraud Examination.

2. Peraturan dan Perundangan

Pemahaman mendalam konsep dan praktek peraturan dan perundangan mengenai

Pasar Modal, Pasar Uang, Pasar Komoditi berjangka, Bursa Saham, Undang-undang

PT, dan GCG.

3. Proses Bisnis Industri terkait

Pemahaman konsep dan praktek bisnis industri terkait, misal: Industri Perbankan,

Industri Tambang, dan Industri Produk Konsumen.

Dengan keberadaan tiga kompetensi generik di atas, diharapkan Komite Audit

mampu baik secara pro-aktif maupun evaluatif menelaah semua hal-hal penting

pelaporan keuangan perusahaan dalam waktu yang sangat singkat yaitu dalam rapat

kerja yang berkisar 2-3 jam setiap rapat dan berjumlah 4-6 rapat setiap tahunnya.
43

Penting pula untuk dicatat apabila ada masukan-masukan dari komite lain

terutama Komite Risk Management mengenai identifikasi dan penanganan resiko

penting di perusahaan. Dalam hal ini, Komite Audit harus dapat meyakini bahwa

perusahaan sudah memiliki mekanisme dan cakupan yang cukup dalam penanganan

resiko penting perusahaan, sehingga pelaporan audit yang terkait juga diselaraskan

dengan cakupan dan prioritas resiko perusahaan tersebut.

Masyarakat diharapkan waspada terhadap kemungkinan adanya komite audit

yang seakan-akan independen tetapi belum tentu independen misalnya seseorang yang

berasal dari suatu organisasi yang menerima sumbangan (baik sumbangan

kemasyarakatan maupun pendidikan), atau bisnis tidak langsung dari perusahaan

(misalnya supplier dari distributor perusahaan yang masih memiliki hubungan keluarga).

Komite Audit harus transparan yang dimulai dengan keharusan adanya audit

charter dan agenda program kerja tahunan tertulis dari komite audit yang kemudian

didukung dengan keteraturan rapat komite audit yang selalu menghasilkan risalah rapat

tertulis.

Komite Audit harus menyiapkan laporan tertulis kepada dewan komisaris tentang

pencapaian tugas-tugas mereka selama periode penugasan, dan disarankan laporan

tersebut tertuang di laporan tahunan perusahaan untuk konsumsi publik, terutama hal-hal

yang menyangkut identifikasi dan penanganan resiko yang penting bagi perusahaan.

Dengan disclosure atau keterbukaan tersebut maka masyarakat akan mengetahui

seberapa komprehensif komite audit perusahaan tersebut telah menyusun dan mentaati

agenda kerja mereka untuk setahun periode penugasan, informasi-informasi apa saja
44

yang telah ditelaah dan didiskusikan dalam rapat komite audit sehingga masyarakat

dapat meyakini bahwa hal-hal prioritas dan penanganan resiko penting perusahaan telah

dijalani dengan cukup baik.

Dengan keberadaan kompetensi generik di atas, dapat diharapkan bahwa komite

audit mampu baik secara pro-aktif maupun evaluatif menelaah semua hal-hal penting

pelaporan keuangan perusahaan dalam waktu yang sangat singkat yaitu dalam rapat

kerja yang berkisar 3-4 jam setiap rapat dan berjumlah 4-6 rapat setiap tahun.

Untuk lebih efektif, komite audit juga harus memperoleh masukan dari sub-

komite lain terutama komite Risk Management mengenai identifikasi dan penanganan

resiko penting perusahaan. Dalam hal ini, komite audit harus dapat meyakini bahwa

perusahaan sudah memiliki mekanisme dan cakupan yang cukup dalam penanganan

resiko penting perusahaan, sehingga pelaporan audit yang terkait juga diselaraskan

dengan cakupan dan prioritas resiko perusahaan tersebut.

Di perusahaan yang berukuran sedang atau kecil, umumnya anggota komite audit

juga merangkap anggota komite risk management yang bertanggung jawab

memformulasikan Risk Policy perusahaan, serta menjaga ketaatannya di tingkat

kepatuhan operasional terhadap kebijakan yang telah ditetapkan tersebut.

Selain hal yang disebutkan diatas, komite audit harus komunikatif terutama

dengan pihak Auditor Eksternal dan pihak internal audit, sehingga mereka memiliki

jalur cepat dalam mengkomunikasikan hal-hal yang signifikan perlu diketahui oleh

komite audit, terutama dalam hal-hal terjadinya penyimpangan yang kritis di

perusahaan.
45

Komite Audit harus selalu bersikap adil dalam pengambilan keputusan, Komite

Audit harus benar-benar melandaskannya pada sikap adil kepada semua pihak, terutama

dalam hal penelaahan terhadap kesalahan asumsi maupun pelanggaran terhadap resolusi

Dewan Direksi.

Untuk itu, semua keputusan harus didasarkan pada fakta dan dokumen penunjang

yang cukup. Bila diperlukan, Komite Audit dapat meminta bantuan pihak eksternal

terhadap penyidikan hal-hal tertentu misalnya meminta bantuan pihak luar untuk

mengadakan Audit Forensik terhadap terjadinya suatu fraud yang signifikan di

perusahaan.

Komite Audit harus memiliki Charter Komite Audit untuk digunakan sebagai

rujukan internal tentang bagaimana sebaiknya mereka mengatur diri sendiri sehingga

tujuan terbentuknya Komite Audit di perusahaan tersebut untuk meningkatkan

keterbukaan dan akuntabilitas perusahaan tercapai seperti yang diharapkan.

Walaupun bentuk, isi dan fokus dalam Charter Komite Audit dari satu

perusahaan ke perusahaan lainnya dapat berlainan, tetapi ada beberapa elemen umum

atau generik yang harus tercakup dalam Charter tersebut. Untuk itu, FCGI atau Forum

for Corporate Governance memberikan saran bahwa Komite Audit harus memiliki suatu

Charter atau terms of reference yang secara jelas mendefinisikan peran dan tanggung

jawab Komite Audit serta kerangka kerja fungsional mereka.

Tanpa adanya charter akan sulit atau bahkan mustahil Komite Audit dapat

berperan dengan baik. Merujuk pada beberapa praktek-praktek terbaik di dunia (best

practices), ada enam elemen umum dan dasar dari Charter Komite Audit, yaitu :
46

1. Tujuan dibentuknya Komite Audit (Purpose of the Audit Committee).

2. Kekuasaan atau hak yang diberikan kepada Komite Audit (Powers of the Audit

Committee).

3. Fungsi dari pihak-pihak yang terkait dengan Komite Audit (Function of

Respective Parties).

4. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit (Duties of the Audit Committee).

5. Keanggotaan dan Chairmanship Komite Audit (Eligibility).

6. Rapat-rapat Komite Audit (Meetings)

FCGI membagi dan mengelompokkan elemen-elemen umum dan dasar yang

harus ada dalam Charter Komite Audit menjadi tujuh elemen sebagai berikut :

1. Tujuan Umum dan Otoritas Komite Audit (Overall objectives and authority),

2. Peran dan Tanggung Jawab Komite Audit (Roles and responsibilities),

3. Struktur Komite Audit (Structure),

4. Syarat-syarat Keanggotaan (Membership requirements),

5. Rapat rapat Komite Audit (Meetings),

6. Pelaporan Komite Audit (Reporting), dan

7. Kinerja Komite Audit (Performance).

Baik best practices maupun FCGI pada dasarnya memberikan rujukan yang sama

namun ada sedikit perbedaan kecil dimana FCGI menyarankan ada elemen tentang

Kinerja Komite Audit, sedangkan best practices menyarankan adanya pengaturan

bagaimana hubungan fungsional antara Komite Audit dengan pihak-pihak lain yang

terkait.
47

Untuk pembahasan lebih lanjut, akan dipakai kedua rujukan tersebut sekaligus,

yang berarti ada delapan komponen Charter Komite Audit yang dapat dipakai sebagai

masukan pembuatan Charter Komite Audit di BUMN dan Perusahaan Publik di

Indonesia.

Menurut Kep. Men 117/2002 tujuan dibentuknya Komite Audit adalah

membantu Komisaris atau Dewan Pengawas dalam memastikan efektivitas sistem

pengendalian internal dan efektivitas pelaksanaan tugas auditor eksternal dan internal

auditor.

Bapepam berdasarkan Surat Edaran 03 mengatakan bahwa tujuan Komite Audit

adalah membantu Dewan Komisaris untuk :

1. Meningkatkan kualitas Laporan Keuangan.

2. Menciptakan iklim disiplin dan pengendalian yang dapat

mengurangi kesempatan terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan perusahaan.

3. Meningkatkan efektivitas fungsi internal audit maupun eksternal

audit; dan

4. Mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Dewan

Komisaris.

Beberapa rujukan perusahaan Amerika yang mengacu pada SEC (Securities and

Exchange Commission), pada umumnya mencantumkan dalam Charter Komite Audit

mereka bahwa tujuan Komite Audit adalah membantu Dewan Komisaris untuk

mengawasi :

1. Integritas dari Laporan Keuangan perusahaan.


48

2. Kualifikasi dan Kemandirian Auditor independen atau Auditor

Eksternal.

3. Kinerja dari Auditor Internal perusahaan dan Eksternal Auditor

4. Kepatuhan Perusahaan terhadap undang-undang dan peraturan yang

berlaku.

Beberapa variasi dapat dikemukakan tetapi pada prinsipnya memiliki prinsip dan

isi yang sama. Beberapa perusahaan yang sangat besar atau dalam suatu kondisi spesifik,

dapat mencantumkan beberapa tujuan lain secara eksplisit, misalnya :

1. Membantu Dewan Komisaris dalam mereview efektivitas Komite

Audit anak-anak perusahaan.

2. Membantu Dewan Komisaris dalam mereview setiap adanya due

diligence dan/atau tindakan pengawasan dari badan atau otoritas tertentu.

Yang harus digarisbawahi adalah tujuan dari Komite Audit di manapun di dunia

adalah untuk membantu fungsi pengawasan Dewan Komisaris (atau yang sejenis

fungsinya misal Dewan Pengawas untuk tipe tertentu BUMN, dan Board of Directors di

Amerika Serikat).

Komite Audit tidak pernah memiliki tujuan tersendiri yang terpisah dari peran,

kepentingan, dan akuntabilitas Dewan Komisaris. Seiring dengan karakterisktik tersebut,

otoritas Komite Audit juga terkait dengan batasan mereka sebagai alat bantu Dewan

Komisaris.

Mereka tidak memiliki otoritas eksekusi apapun dan hanya memberikan

rekomendasi kepada Dewan Komisaris kecuali untuk hal spesifik yang telah
49

memperoleh hak kuasa eksplisit dari Dewan Komisaris misalnya mengevaluasi dan

menentukan kompensasi Auditor Eksternal, dan memimpin suatu investigasi khusus.

Dalam menjalankan perannya, Komite Audit harus memiliki hak terhadap akses

tidak terbatas kepada Direksi, Auditor Internal, Auditor Eksternal, dan semua informasi

yang ada di perusahaan. Tanpa otoritas atau hak atas akses tersebut, akan tidak mungkin

Komite Audit dapat menjalankan perannya dengan efektif.

Peran dan tanggung jawab Komite Audit secara spesifik akan tergantung pada

situasi dan kondisi perusahaan dimana mereka berada, setiap perusahaan dapat memiliki

variasi spesifik yang berbeda satu dengan yang lain, namun secara umum dapat

dikelompokkan menjadi tiga bagian besar, yaitu :

1. Pelaporan Laporan Keuangan (Financial reporting) yang

mencakup :

a. Melakukan pengawasan proses pembuatan laporan keuangan, dengan

penekanan pada kepatuhan terhadap standard dan policy akuntansi yang berlaku.

b. Melakukan review atas laporan-laporan keuangan terhadap standard dan

policy di atas, dan konsistensi terhadap informasi yang diketahui oleh anggota

Komite Audit.

c. Melakukan pengawasan Audit Eksternal, dan melakukan assessment

mengenai kualitas jasa Audit yang dilakukan, dan mengenai kepantasan fees

yang dibebankan oleh Auditor eksternal.

2. Manajemen Pengendalian dan Resiko (Risk and control

management) yang mencakup:


50

a. Melakukan pengawasan proses manajemen resiko dan pengendalian,

termasuk pengidentifikasian dari resiko-resiko dan evaluasi dari pengendalian

yang dapat memperkecil baik kemungkinan terjadinya maupun dampak dari

resiko-resiko tersebut.

b. Melakukan pengawasan terhadap cakupan Audit Internal dan Audit

Eksternal dalam rangka memastikan bahwa semua resiko utama dan bentuk

pengendaliannya telah dipertimbangkan oleh para auditor.

c. Meyakini bahwa Manajemen telah melaksanakan pengendalian resiko-

resiko sesuai dengan rekomendasi dari para auditor, internal dan eksternal.

3. Corporate Governance yang mencakup :

a. Pengawasan terhadap proses corporate governance di perusahaan.

b. Memastikan bahwa manajemen puncak mempromosikan budaya yang

kondusif bagi tercapainya good corporate governance.

c. Memonitor kepatuhan terhadap code of conduct perusahaan.

d. Memahami semua permasalahan yang dapat mempengaruhi baik kinerja

keuangan maupun non keuangan perusahaan.

e. Memonitor kepatuhan terhadap segala undang-undang maupun peraturan-

peraturan lain yang berlaku untuk perusahaan.

f. Meminta agar Auditor Internal melaporkan secara tertulis setiap enam

bulan sekali mengenai cakupan review terhadap praktek corporate governance di

perusahaan, dan memberikan laporan bila terdapat penyimpangan yang serius.


51

Walaupun hubungan kerja (working relationships) antara Komite Audit dengan

beberapa pihak terkait sudah secara tidak langsung tersirat dalam komponen peran dan

tanggung jawab Komite Audit di atas, di dalam Charter Komite Audit perlu dimasukkan

secara eksplisit bagaimana hubungan kerja dan atau fungsi dari pihak-pihak yang terkait

dengan Komite Audit.

Umumnya ada tiga pihak utama yang terkait, yaitu Auditor Internal, Auditor

Eksternal, dan Manajemen. Rincian hubungan kerja mereka sebagai berikut :

1. Auditor eksternal melapor kepada direktur yang bertanggung jawab

dalam hal aktivitas keuangan perusahaan, namun, dalam keterkaitan dengan fungsi

melakukan pengawasan.

2. Komite Audit harus memberikan rekomendasi akan penunjukkan

dan atau pemberhentian Auditor Eksternal, melakukan review atas engagement letter

antara perusahaan dengan Auditor Eksternal.

3. Melakukan review atas cakupan dan perencanaan Audit Eksternal

serta atas fee yang dibebankan oleh mereka, melakukan review atas laporan Audit

Eksternal serta management letter, dan

4. Memonitor kinerja Auditor Eksternal dan memastikan bahwa

mereka patuh terhadap standard-standard profesional, terutama yang berkaitan

dengan independensi mereka sebagai Auditor Eksternal

Institute of Internal Auditors (IIA) menyadari bahwa Komite Audit dan Auditor

internal memiliki tujuan yang sama dan suatu hubungan kerja yang baik dengan auditor
52

internal akan membantu Komite Audit dalam menjalankan tanggung jawabnya kepada

Dewan Komisaris.

Beberapa hal spesifik yang dapat dipertimbangkan untuk dimasukkan ke dalam

Charter adalah walaupun Kepala Internal Audit adalah bagian dari manajemen dan

melapor kepada Presiden Direktur, kepala Internal Audit sebaiknya memiliki jalur atau

akses ke Komite Audit.

Oleh karena itu, dalam hubungan dengan perannya untuk melakukan

pengawasan terhadap fungsi internal audit, Komite Audit harus :

1. Memberikan persetujuan atas penunjukkan dan atau pemberhentian

ketua Internal Audit perusahaan yang diajukan oleh Presiden Direktur.

2. Melakukan review atas charter dari Internal Audit.

3. Melakukan review atas struktur fungsi internal audit.

4. Melakukan review atas rencana audit tahunan,

5. Memastikan bahwa fungsi internal audit memiliki metodologi, alat

bantu, dan sumber daya yang tepat dan cukup sehingga dapat memenuhi charter

mereka, dan menyelesaikan rencana tahunan internal audit.

6. Melakukan review atas semua laporan internal audit.

7. Memonitor kinerja fungsi internal audit, dan

8. Memastikan bahwa fungsi internal audit patuh terhadap standard-

standard profesional yang berlaku.

Manajemen, sebagai tambahan dari area spesifik atas laporan keuangan, resiko

dan pengendalian, dan corporate governance, Komite Audit dapat mempertimbangkan


53

beberapa isue yang lebih lebar yang dapat secara spesifik didelegasikan oleh Dewan

Komisaris.

Untuk pendalaman hal ini, dan seiring dalam menjalankan fungsi

pengawasannya, Komite Audit harus bertemu secara teratur dengan pihak manajemen

untuk mendiskusikan secara terbuka segala isue yang dapat mempengaruhi perusahaan

secara serius baik dalam bidang keuangan maupun non-keuangan.

Struktur Komite Audit di tiap negara mungkin tidak sama, karena tergantung

pada rujukan resmi yang harus dipatuhi, misal peraturan bursa saham dimana mereka

terdaftar. Untuk perusahaan di Indonesia, rujukan resmi bagi Perusahaan BUMN adalah

Kep. Men. No. 117 Tahun 2002, sedangkan bagi Perusahaan Publik adalah keputusan

Bursa Efek Jakarta dan Peraturan Bapepam yang relevan.

Ditambah dengan beberapa best practice, dapat disusun hal-hal utama yang harus

mendapat perhatian dari Struktur Komite Audit, yaitu :

1. Pembentukan Komite Audit harus berdasarkan penetapan dan

pengesahan Dewan Komisaris.

2. Ketua dan Anggota Komite Audit harus ditunjuk dan diangkat oleh

Dewan Komisaris.

3. Komite Audit harus terdiri dari Komisaris yang tidak memiliki

tanggung jawab manajemen sehari-hari, atau terdiri dari pihak luar dan independen.

4. Jumlah anggota Komite Audit sedikitnya tiga orang, berdasarkan

pengalaman di banyak perusahaan Internasional, Komite Audit memiliki jumlah

anggota antara 3 sampai dengan 5 orang.


54

5. Setiap anggota baru Komite Audit harus menerima induksi atau

orientasi ke dalam organisasi perusahaan, peran dan tanggung jawabnya, serta

kerangka kerja fungsional mereka.

6. Ketua Komite Audit harus seorang Komisaris Independen,

sedangkan anggotanya boleh komisaris independen lainnya yang memenuhi

persyaratan dan atau pihak luar yang independen dan memenuhi persyaratan.

7. Anggota Komite Audit termasuk ketuanya, harus ditunjuk untuk

periode paling sedikit satu tahun penugasan (sebagai catatan, pengalaman di banyak

perusahaan internasional, masa penugasan anggota Komite Audit yang efektif adalah

antara 1 sampai dengan 3 tahun.

8. Karena sifat jangka panjang dari aktivitas Komite Audit, menjaga

keseimbangan antara kesinambungan keanggotaan adalah hal yang penting. Di sisi

lain, ada kebutuhan untuk menjaga kesegaran dan independensi anggota.

9. Untuk menjaga keseimbangan antara kedua hal tersebut, banyak

perusahaan internasional menerapkan best practice dengan cara melakukan rotasi

anggotanya. Penunjukkan dan masa akhir tugas yang berlainan akan membantu

untuk mencapai keseimbangan tersebut, sehingga dapat mencegah terjadinya

peristiwa penggantian semua anggota yang berpengalaman pada saat bersamaan.

Sejalan dengan Struktur Komite Audit, persyaratan keanggotaan Komite Audit

dapat tidak seratus persen sama di tiap negara, karena tergantung pada rujukan resmi

yang harus dipatuhi, misalnya peraturan bursa saham dimana mereka terdaftar.
55

Untuk perusahaan di Indonesia, rujukan resmi bagi Perusahaan BUMN adalah

Kep Men No. 117 Tahun 2002 sedangkan bagi Perusahaan Publik adalah keputusan

Bursa Efek Jakarta dan Peraturan Bapepam yang relevan. Ditambah dengan beberapa

best practices, dapat disusun syarat-syarat keanggotaan agar Komite Audit dapat

berperan efektif sebagai berikut, yaitu :

1. Para anggota secara bersama-sama memiliki keseimbangan antara

skill dan pengalaman dengan latar belakang pemahaman yang luas mengenai bisnis

secara umum

2. Anggota dari Komite Audit harus independen, obyektif, dan

profesional.

3. Anggota dari Komite Audit harus memiliki integritas, dedikasi,

pemahaman yang baik tentang organisasi, pemahaman yang baik tentang lingkungan

bisnis, dan pemahaman yang baik tentang resiko dan pengendalian.

4. Sedikitnya satu anggota Komite Audit memiliki pemahaman yang

baik mengenai laporan keuangan perusahaan.

5. Di atas semua persyaratan di atas, Ketua Komite Audit harus

memiliki kemampuan komunikasi dan kepemimpinan yang sangat bagus dan efektif.

Jumlah rapat dan bagaimana rapat harus dilaksanakan, misalnya ada agenda dan

risalah tertulis cukup baku hampir di semua negara. Beberapa variasi yang ada

umumnya sangat kecil. Secara umum, dapat disusun pengaturan rapat-rapat Komite

Audit sebagai berikut :

1. Komite Audit harus rapat sedikitnya satu kali setiap kuartal.


56

2. Para anggota Komite Audit harus hadir di rapat-rapat tersebut,

dengan kemungkinan mengundang beberapa pihak lain bilamana diperlukan. Mereka

yang diundang mungkin komisaris, direktur, manajemen senior, Ketua Internal

Audit, dan atau pihak Auditor Eksternal perusahaan.

3. Rapat harus diselenggarakan berdasarkan undangan dan agenda

yang sudah disepakati sebelum rapat dilakukan.

Hasil-hasil dari rapat-rapat tersebut harus tercatat dalam risalah resmi dan terinci,

dan dibagikan kepada semua yang hadir di dalam rapat. Pada umumnya, proses

pelaporan Komite Audit cukup standard, yaitu :

1. Komite Audit melapor langsung kepada Komisaris Utama.

2. Komite Audit harus memberikan laporan sedikitnya satu kali dalam

setahun, dengan memberikan rincian apakah mereka berhasil menjalankan peran dan

tanggung jawabnya sebagaimana yang tertulis di dalam charter.

3. Komisaris Utama harus menerima salinan-salinan dari semua

risalah rapat dan laporan-laporan yang ada.

4. Kinerja Komite Audit sebaiknya dievaluasi paling sedikit satu tahun

sekali baik secara self assessment or evaluation maupun oleh pihak independen di

luar Komite Audit, misalnya anggota komite lain dari Dewan Komisaris, atau semua

anggota Dewan Komisaris di luar eksekutif yang menjadi anggota Komite Audit.

Evaluasi tersebut membandingkan kinerja aktual Komite Audit terhadap peran dan

tanggung jawab mereka yang tercakup dalam rencana kerja tahunan Komite Audit

ada.
57

Kewenangan Komite Audit dibatasi oleh fungsi mereka sebagai alat bantu DK,

sehingga tidak memiliki otoritas eksekusi apapun (hanya sebatas rekomendasi kepada

DK), kecuali untuk hal spesifik yang telah memperoleh hak kuasa eksplisit dari DK,

misalmya mengevaluasi dan menentukan komposisi auditor eksternal, dan memimpin

suatu investigasi khusus.

Pada akhirnya, suatu Dewan Komisaris yang aktif, canggih, ahli, beragam dan

yang terpenting independen yang menjalankan fungsinya secara efektif dan dibantu oleh

Komite Audit adalah yang paling baik untuk ditempatkan dalam memastikan

implementasi Good Corporate Governance berjalan dengan baik sehingga kecurangan

(fraud) maupun keterpurukan bisnis dapat dihindari.

Pembentukan komisaris independen, emiten dan perusahaan publik harus

memiliki sekurang-kurangnya satu komisaris independen, komisaris independen berasal

dari luar perusahaan serta tidak mempunyai hubungan bisnis dengan perusahaan atau

afiliasinya.

Dewan Komisaris (DK) memegang peranan penting dalam implementasi Good

Corporate Governance (GCG), karena DK merupakan inti dari corporate governance

yang bertugas untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen

dalam mengelola perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas.

Dalam prakteknya, di Indonesia sering terjadi anggota DK sama sekali tidak

menjalankan peran pengawasannya yang sangat mendasar terhadap Dewan Direksi

(DD). DK seringkali dianggap tidak memiliki manfaat, hal ini dapat dilihat dalam fakta,
58

bahwa banyak anggota DK tidak memiliki kemampuan dan tidak dapat menunjukkan

independensinya.27

Dalam banyak kasus, DK juga gagal untuk mewakili kepentingan stakeholders

lainnya selain daripada kepentingan pemegang saham mayoritas. Untuk menjamin

pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) diperlukan anggota DK yang memiliki

integritas, kemampuan, tidak cacat hukum dan independen; serta yang tidak memiliki

hubungan bisnis (kontraktual) ataupun hubungan lainnya dengan pemegang saham

mayoritas (pemegang saham pengendali) dan Dewan Direksi (manajemen) baik secara

langsung maupun tidak langsung. Komisaris independen diusulkan dan dipilih oleh

pemegang saham minoritas yang bukan merupakan pemegang saham pengendali dalam

RUPS.

Beberapa usulan penyempurnaan Undang-Undang Pasar Modal, yaitu

demutualisasi bursa efek, transaksi yang mengandung benturan kepentingan, saham

tanpa nilai nominal perluasan pengertian efek. Demutualisasi bursa efek adalah yang

dapat menjadi pemegang saham Bursa Efek adalah Perusahaan Efek.

Demutualisasi Bursa Efek memungkinkan pihak lain selain perusahaan efek

dapat menjadi anggota atau pemegang saham bursa efek dan akan dibedakan antara

pemegang saham bursa dengan anggota bursa sehingga ada kemungkinan bursa berubah

dari Non Profit Oriented menjadi Profit Oriented.28

27
Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit Dalam rangka Implementasi GCG,
http://www.reindo.co.id/reinfokus/edisi24/peranan.htm
28
Bapepam, Annual Report 2002, http://www.bapepam.go.id/profil/annual/PE_2002.htm
59

Untuk melakukan restrukturisasi Industri Efek Pasar Modal Indonesia, Ketua

Bapepam telah membentuk dua Tim yang bertugas melakukan kajian atas rencana

Demutualisasi Bursa Efek dan rencana Pengembangan Perusahaan Efek. Kedua Tim

tersebut telah menyelesaikan laporan hasil studinya pada semester pertama tahun 2002.

Hasil studi telah disosialisasikan kepada segenap pimpinan Bapepam, direksi SRO, dan

pengurus Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI).

Bapepam dan SRO terus melakukan pertemuan dengan semua Perusahaan Efek

dan Asosiasi-asosiasi pasar modal guna memberikan gambaran tentang rencana

demutualisasi Bursa Efek dan pengembangan Perusahaan Efek, termasuk persiapan dan

langkah-langkah yang harus dilakukan kedepan.

Berikut adalah gambaran singkat rencana demutualisasi Bursa Efek dan

pengembangan Perusahaan Efek yang dikutip dari Laporan Hasil Studi Demutualisasi

Bursa Efek dan Pengkajian Pengembangan Perusahaan Efek. Demutualisasi Lembaga

Bursa Efek Indonesia perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dana Lembaga Bursa

Efek, peningkatan penerapan good corporate governance, pengembangan produk,

pengembangan infrastruktur, peningkatan nilai saham Lembaga Bursa Efek dan saham

Anggota Bursa, pengembangan pasar yang berkelanjutan, dan sarana pelepasan

kepemilikan saham tanpa kehilangan hak keanggotaan.

Berdasarkan hasil kajian Tim, maka model demutualisasi lembaga Bursa Efek

yang diusulkan adalah Model Operating Holding Company SRO. Pada model ini,

pemegang saham lembaga Bursa Efek (PT BEJ, PT BES, PT KPEI dan PT KSEI) secara
60

bersama-sama mendirikan Perusahaan Induk sebagai pemegang saham mayoritas

Lembaga Bursa Efek.

Perusahaan Induk akan melakukan kegiatan yang mendukung kegiatan

Perusahaan Anak yaitu kegiatan investasi dan kegiatan supporting services bagi

Perusahaan Anak, tetapi tidak melakukan kegiatan sebagai SRO. Implementasi

demutualisasi Lembaga Bursa Efek Indonesia dilakukan dalam empat tahapan, yaitu :

1. Tahap sosialisasi hasil studi kepada pemegang saham SRO, anggota Dewan

Perwakilan Rakyat (DPR), Departemen Kehakiman dan Hak Azasi Manusia dan

masyarakat umum.

2. Tahap Pembentukan komite restrukturisasi SRO, komite pendirian Perusahaan

Induk.

3. Tahap Pendirian Perusahaan Induk dan

4. Tahap pengembangan usaha dan penyebaran kepemilikan saham Perusahaan

Induk.

Khusus tahap ketiga dan keempat baru bisa dilaksanakan apabila usulan

perubahan UUPM tentang demutualisasi efektif berlaku. Sedangkan tahap pertama dan

kedua dapat dilaksanakan pada tahun 2002 dan 2003. Di samping itu dalam rangka

implementasi demutualisasi lembaga Bursa Efek, terdapat beberapa rekomendasi yang

perlu diperhatikan terkait dengan aspek kepemilikan, tata kelola, operasional dan bisnis,

dan regulasi.

Pengertian mengenai transaksi yang mengandung benturan kepentingan adalah

perbedaan antara kepentingan ekonomis perusahaan dengan kepentingan ekonomis


61

pribadi direktur, komisaris atau pemegang saham utama perusahaan. Hal ini ditujukan

untuk lebih melindungi hak-hak pemegang saham minoritas dari transaksi yang

mengandung benturan kepentingan.

Yang dimaksud dengan transaksi yang mempunyai benturan kepentingan yaitu

apabila suatu Transaksi dimana seorang direktur, komisaris, pemegang saham utama

atau Pihak terafiliasi dari direktur, komisaris atau pemegang saham utama mempunyai

Benturan Kepentingan maka transaksi dimaksud terlebih dahulu harus disetujui oleh

para Pemegang Saham Independen atau wakil mereka yang diberi wewenang untuk itu

dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Persetujuan mengenai hal tersebut harus

ditegaskan dalam bentuk akta notariil.

BAPEPAM Perlu mempertimbangkan perluasan subyek transaksi di masa

mendatang dengan menambahkan setiap pihak yang terafiliasi dengan direksi, komisaris

serta pemegang saham utama.

Pada umumnya negara-negara yang pasar modalnya telah maju seperti Amerika

Serikat, Jepang, Australia memperbolehkan perusahaan untuk menerbitkan saham tanpa

nilai nominal, dalam praktek di pasar modal dapat dikatakan bahwa nilai nominal suatu

saham tidak lagi merefleksikan nilai ekonomis perusahaan apabila saham tersebut telah

diperdagangkan.

Saham emiten dan Perusahaan pada umumnya merupakan saham yang telah

diperdagangkan secara luar sehingga terhadap perusahaan tersebut perlu diperbolehkan

menerbitkan saham tanpa nilai nominal.


62

Perluasan pengertian efek dimana efek adalah surat berharga, yaitu surat

pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti hutang, unit

penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek dan setiap derivatif

dari efek.

Saat ini banyak pelaku usaha lain seperti koperasi yang bermaksud menghimpun

dana melalui pasar modal namun masih mengalami hambatan dari aspek hukum

mengenai instrumen yang dimilikinya. Pengertian efek perlu diperluas antara lain

dengan menambahkan Modal penyertaan koperasi.

Corporate Secretary memiliki peranan kunci dalam pelaksanaan Corporate

Governance, khususnya pada perusahaan publik dan emiten di bursa. Ini tidak dapat

dipungkiri karena posisi dan tugas yang dipikul Corporate Secretary sangat strategis dan

menentukan. Namun, di Indonesia banyak masyarakat sebagai stakeholders perusahaan,

termasuk perusahaan itu sendiri, belum menyadari strategisnya peranan dan fungsi

Corporate Secretary.

Contoh yang banyak terjadi adalah masyarakat belum bisa membedakan profesi

Corporate Secretary (yang kemudian diterjemahkan menjadi “Sekretaris Perusahaan”)

dengan profesi sekretaris eksekutif yang menjadi sekretarisnya direktur, komisaris, atau

eksekutif lainnya di perusahaan. Dilain pihak, banyak juga perusahaan menempatkan

pejabat pada posisi yang strategis tersebut terkesan “asal-asalan” tanpa kompetensi dan

kualifikasi yang memenuhi persyaratan formal sebagai Corporate Secretary yang

profesional.
63

Keberadaan Corporate Secretary di Indonesia tidak dikenal dalam Undang-

Undang Perseroan Terbatas (UUPT) maupun Undang-Undang Pasar Modal (UUPM)

yang saat ini berlaku. Namun, Keberadaan Corporate Secretary diatur dalam Keputusan

Ketua BAPEPAM No. 63 tahun 1996.

Dalam keputusan itu disebutkan, bahwa dalam rangka meningkatkan

pelayanannya terhadap investor, emiten dan perusahaan publik diwajibkan membentuk

Corporate Secretary paling lambat 1 Januari 1997. Apabila diteliti, keputusan Ketua

BAPEPAM tersebut diberlakukan jauh sebelum isu Corporate Governance populer di

Indonesia.

Prinsip Corporate Governance sudah terkandung di dalamnya meskipun dalam

pengertian yang sangat terbatas yaitu dalam hal meningkatkan pelayanan terhadap

investor. Dalam keputusan Ketua BAPEPAM tersebut diatur empat peranan dan fungsi

pokok Corporate Secretary, yaitu :

1. Mengikuti perkembangan Pasar Modal khususnya peraturan-peraturan yang

berlaku di Pasar Modal.

2. Memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat yang berkaitan dengan

kondisi emiten atau perusahaan publik.

3. Memberikan masukan kepada Direksi dalam rangka mematuhi ketentuan

Undang-Undang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya.

4. Menjadi penghubung antara perusahaan dengan BAPEPAM dan perusahaan

dengan masyarakat.
64

Keputusan Ketua BAPEPAM tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan

keputusan direksi BEJ yang terakhir diberlakukan melalui Keputusan Direksi BEJ No.

339 tahun 2001. Dalam keputusan direksi BEJ ini kewajiban membentuk Corporate

Secretary (selain Komite Audit dan Komisaris Independen) semakin dikukuhkan dengan

fungsi yang semakin diperluas, yaitu termasuk didalamnya :

1. Menyiapkan Daftar Khusus yang berkaitan dengan direksi, komisaris, dan

keluarganya dalam perusahaan tersebut yang mencakup kepemilikan saham,

hubungan bisnis, dan peranan lainnya yang dapat menimbulkan benturan

kepentingan.

2. Membuat daftar pemegang saham termasuk kepemilikan 5 % saham atau lebih.

3. Menghadiri rapat direksi dan membuat berita acara rapat.

4. Bertanggung jawab dalam penyelenggaraan RUPS perusahaan.

Dari uraian kedua keputusan otoritas pasar modal tersebut dapat kita tarik

kesimpulan Corporate Secretary setidaknya memiliki fungsi investor relations,

compliance officer, dan liason officer. Dengan ketiga kategori fungsi tersebut,

berdasarkan international best practices seorang Corporate Secretary diharapkan

memiliki kemampuan dan kualitas pemahaman di bidang manajerial, komunikasi dan

interpersonal skills, pengelolaan keuangan perusahaan, dan legal.

Mengingat kompleksnya fungsi Corporate Secretary ini, keputusan direksi BEJ

memberikan semacam “kelonggaran” jabatan Corporate Secretary dapat dirangkap oleh

salah satu direktur perusahaan (disamping bisa juga dijabat oleh eksekutif perusahaan

yang khusus ditunjuk menjadi Corporate Secretary).


65

Hal ini dikarenakan Corporate Secretary juga harus memiliki akses terhadap

informasi material yang relevan dengan masalah disclosure perusahaan, namun

“kelonggaran” yang diberikan tersebut seharusnya bersifat temporer saja karena jangan

sampai posisi Corporate Secretary menjadi semacam “side job” semata.

Profesi Corporate Secretary harus benar-benar menjadi karir yang pantas untuk

dirintis sehingga suatu saat nanti sebagai profesi Corporate Secretary memiliki akreditasi

profesional yang menjadikannya sejajar dengan profesi dokter, akuntan, pengacara dan

profesi lainnya yang memiliki kode etik profesi. Ini tentunya agar Corporate Secretary

menjadi independen dalam memastikan perusahaan dijalankan berdasarkan kaidah-

kaidah Corporate Governance.

C. Good Corporate Governance pada Rancangan Perubahan Undang-Undang No.

8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal.

Sesuai dengan amanat rakyat Indonesia yang tertuang dalam Garis-Garis Besar

Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004 telah menyebutkan bahwa untuk menciptakan

industri pasar modal yang efektif dan efisien maka perlu dibentuk suatu lembaga

independen yang mengawasi kegiatan perekonomian di bidang pasar modal.

Berdasarkan Pasal 34 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang

Bank Indonesia, disebutkan pula bahwa pengawasan industri pasar modal dilakukan oleh

Lembaga Pengawas Sektor Jasa Keuangan. Oleh karena itu, dalam draft RUU Perubahan

Undang-undang Pasar Modal ini, telah disepakati bersama oleh Pemerintah bahwa

pengawasan pasar modal (Bapepam) nantinya akan digabungkan dengan Lembaga


66

Pengawas Sektor Jasa Keuangan, yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Otoritas

Jasa Keuangan (OJK) bersama-sama dengan pengawasan sektor jasa keuangan lainnya,

yaitu pengawasan bank, asuransi, dan dana pensiun.

Namun, dalam draft RUU Perubahan UUPM ini, tidak secara langsung ketentuan

pasal-pasal yang terkait dengan struktur Bapepam akan diubah, akan tetapi diatur

beberapa ketentuan peralihan yang akan menjembatani peleburan Bapepam ke dalam

Otoritas Jasa Keuangan, yaitu Pasal 114A RUUPM.

Sesuai visi dan misi Pasar Modal Indonesia yang difokuskan pada

pengembangan infrastruktur Pasar Modal, maka sasaran pengembangan dalam

perubahan pasar yang dinamis dilakukan melalui restrukturisasi Bursa Efek (Bursa),

Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP), dan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian

(LPP) di Indonesia.

Kegiatan restrukturisasi ini akan diikuti dengan demutualisasi yang pada

dasarnya memisahkan kepemilikan saham dengan keanggotaan. Demutualisasi ini sangat

diperlukan mengingat lembaga Bursa yang memiliki kualitas produk yang baik dan

variasi produk yang lengkap, infrastruktur serta tata kelola yang baik akan dapat

meningkatkan daya saing globalnya secara konsisten.

Adapun kajian mengenai demutualisasi Lembaga Bursa Efek di Indonesia telah

merekomendasikan model demutualisasi “Operating Holding Company Non SRO”.

Untuk itu diperlukan suatu ketentuan yang mengakomodir konsep Demutualisasi

Lembaga Bursa Efek.

Untuk memberikan dasar hukum bagi demutualisasi Bursa Efek dimaksud, maka
67

ketentuan Pasal 8 Undang-undang Pasar Modal diusulkan untuk direvisi sehingga

berbunyi: “Yang dapat menjadi pemegang saham Bursa Efek adalah orang perseorangan

dan atau badan hukum.

Sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang

Perseroan Terbatas (UUPT), pengeluaran saham harus dengan nilai nominal dan wajib

disetor secara tunai. Ketentuan tersebut menjadi kendala bagi Emiten yang akan

melakukan restrukturisasi permodalan perusahaan dan penyehatan dunia usaha.

Hal ini disebabkan karena nilai saham perusahaan yang diperdagangkan di Bursa

Efek telah mengalami penurunan harga hingga di bawah nilai nominal, sehingga

penerbitan saham baru oleh perusahaan menjadi tidak dapat membantu upaya

restrukturisasi dimaksud.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, diperlukan adanya suatu ketentuan yang

memungkinkan Emiten dapat mengeluarkan saham tanpa nilai nominal dan dengan

demikian besarnya penyetoran saham tersebut ditentukan berdasarkan nilai pasar. Hal ini

akan dimasukkan dalam ketentuan Pasal 84 A RUUPM.

Terhadap permasalahan penerbitan saham tanpa nilai nominal yang bertentangan

dengan konsep Undang-Undang Perseroan Terbatas telah dikoordinasikan dengan

Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, yang saat ini juga tengah melakukan

perubahan UUPT, dan telah disepakati untuk dimungkinkannya penerbitan saham tanpa

nilai nominal. Oleh karena itu, ketentuan dalam UUPM yang berkaitan dengan

penerbitan saham tanpa nilai nominal nantinya tidak akan bertentangan dengan

ketentuan dalam UUPT.


68

Dewasa ini banyak Emiten yang mengalami krisis keuangan yang sangat berat

yang antara lain disebabkan oleh anggota direksi dan komisaris yang saling terafiliasi

sehingga dalam mengambil keputusan cenderung untuk mendahulukan kepentingan

pribadi atau kelompok daripada kepentingan pemegang saham.

Hal tersebut tentunya bertentangan dengan prinsip-prinsip pengelolaan

perusahaan yang baik (good corporate governance). Oleh karena itu, dalam rangka

pelaksanaan prinsip-prinsip good corporate governance bagi Emiten atau Perusahaan

Publik sehingga kepentingan pemegang saham akan lebih terlindungi, maka dalam

ketentuan Pasal 84 B Rancangan Perubahan UUPM akan ditegaskan bahwa Bapepam

dapat mewajibkan Emiten atau Perusahaan Publik untuk memiliki komisaris

independen, direktur independen, komite audit dan/atau sekretaris perusahaan.

Dalam rangka menciptakan Pasar Modal yang teratur, wajar dan efisien, serta

untuk melindungi kepentingan investor, maka salah satu faktor yang sangat penting

adalah penegakan peraturan-peraturan yang berlaku di pasar modal. Untuk dapat

meningkatkan efektivitas penegakan peraturan tersebut, maka dalam Rancangan

Perubahan UUPM akan ditegaskan beberapa ketentuan sebagai berikut :

a. Penambahan kewenangan Bapepam seperti mewajibkan Pihak tertentu

mengungkapkan kepemilikan Efeknya, melarang Pihak tertentu melakukan kegiatan

secara langsung maupun tidak langsung di bidang Pasar Modal, mewajibkan Pihak

tertentu melakukan tindakan tertentu dan melakukan kerjasama dengan otoritas pasar

modal di negara lain dan/atau Pihak lain. (Pasal 5na, Pasal5nb, Pasal 5nc dan Pasal

5pa RUUPM).
69

b. Perumusan Sanksi Secara Lebih Tegas.

Pasar Modal Indonesia selain menitikberatkan pada prinsip efektif dan efisien,

juga harus mengutamakan keamanan dari Pasar Modal itu sendiri. Di dalam praktek

masih sering dijumpai adanya pelanggaran-pelanggaran terhadap Undang-Undang Pasar

Modal dan peraturan pelaksanaannya.

Untuk mengantisipasi kejadian-kejadian tersebut di atas, maka dalam Rancangan

Perubahan UUPM diperlukan ketentuan baru antara lain :

1. Kewenangan bagi PPNS Bapepam untuk melakukan cegah dan

tangkal (Pasal 101 huruf j RUUPM).

2. Penyempurnaan ketentuan Pasal 102 ayat (1) tentang sanksi

administratif.

3. Penambahan jenis sanksi administratif berupa Pembekuan atau

pembatalan hak dan manfaat atas Efek serta Pembatasan melaksanakan kegiatan

tertentu (Pasal 102 ayat (2) RUUPM).

4. Sanksi pidana berupa denda atas tindak pidana yang dilakukan oleh

korporasi (Pasal 108A RUUPM).

5. Sanksi Pidana bagi Perusahaan Efek, Penasihat Investasi atau Pihak

terafiliasinya yang memberikan keterangan mengenai nama dan kegiatan nasabah

tanpa hak (Pasal 107A RUUPM).

6. Sanksi Pidana bagi Kustodian atau Pihak terafiliasinya yang

memberikan keterangan mengenai rekening Efek tanpa hak (Pasal 107B RUUPM).
70

7. Sanksi Pidana bagi Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bapepam, yang

memanfaatkan untuk diri sendiri atau mengungkapkan informasi yang diperoleh

tanpa hak (Pasal 107C RUUPM).

Sejak diberlakukannya UUPM muncul masalah yang berkaitan dengan

karakteristik Perusahaan Publik di Indonesia, yaitu penyebaran pemilikan yang belum

merata atau sebagian besar Perusahan Publik di Indonesia masih dimiliki oleh

perorangan atau institusi yang terafiliasi.

Dalam rangka melindungi kepentingan pemegang saham dari adanya transaksi

yang berbenturan kepentingan, maka dalam ketentuan Pasal 82 ayat (2) Rancangan

Perubahan UUPM akan diatur bahwa Pihak yang mempunyai benturan kepentingan

termasuk pula Pihak yang terafiliasi dengan direktur, komisaris, atau pemegang saham

utama Emiten atau Perusahaan Publik.

Selain itu, untuk menghilangkan benturan kepentingan dan meningkatkan

internal kontrol Perusahan Efek yang melakukan usahanya di bidang Pasar Modal, maka

dalam Pasal 30 ayat (2) Rancangan Perubahan UUPM diatur ketentuan yang melarang

Perusahaan Efek yang melakukan kegiatan usaha sebagai Penjamin Emisi Efek dan atau

Perantara Pedagang Efek, untuk merangkap sebagai Manajer Investasi.

Pasal 55 ayat (4) UUPM mengatur bahwa untuk menjamin penyelesaian

Transaksi Bursa, Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP) dapat menetapkan Dana

Jaminan. Mengingat Dana Jaminan diperlukan untuk mewujudkan terjaminnya

penyelesaian Transaksi Bursa secara pasti dan aman sehingga tercipta perdagangan Efek

yang teratur, wajar dan efisien, maka Dana Jaminan dibentuk dari sumbangan wajib
71

pemodal yang melakukan kegiatan perdagangan Efek dan tidak dapat ditarik kembali,

serta bukan merupakan milik LKP.

Mengingat status hukum Dana Jaminan selama ini belum jelas diatur dalam

Undang-undang, maka dalam ketentuan Pasal 55 ayat (6) Rancangan Perubahan UUPM

ini Dana Jaminan diusulkan sebagai suatu bentuk hukum baru seperti perlakuan atas

dana pensiun.

Dalam rangka memberikan perlindungan hukum terhadap investor, maka dalam

ketentuan Pasal 82 ayat (2a) Rancangan Perubahan UUPM akan ditentukan bahwa

Emiten atau Perusahaan Publik yang melakukan transaksi Material dan Perubahan

Kegiatan Usaha Utama wajib memperoleh persetujuan mayoritas pemegang saham.

Dalam ketentuan Pasal 68A Rancangan Perubahan Undang-Undang Pasar Modal

ditentukan Profesi Penunjang Pasar Modal yaitu Konsultan Hukum untuk melaporkan

kepada Bapepam setiap indikasi adanya pelanggaran yang ditemukan berkaitan dengan

pelaksanaan tugas profesionalnya.

Salah satu bentuk perlindungan kepada investor adalah berkaitan dengan

legalitas data elektronik dalam hukum pembuktian di pasar modal. Oleh karena itu

dengan adanya ketentuan Pasal 112A Rancangan Perubahan UUPM ini, diharapkan

tidak lagi timbul keraguan mengenai kekuatan hukum dari alat elektronik sebagai alat

bukti untuk hukum beracara di pengadilan.

Disamping Bursa saat ini ada kecenderungan Pihak lain selain Bursa Efek

menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana perdagangan Efek yaitu

Penyedia Sistem Perdagangan Alternatif Atas Efek (PSPA). Untuk menampung Pihak-
72

pihak yang karena kemajuan teknologi informasi dapat menyediakan sarana

perdagangan Efek selain Bursa Efek yang saat ini kita kenal, maka dalam ketentuan

Pasal 30 ayat (3a) dan Pasal 41A Rancangan Perubahan UUPM diatur mengenai PSPA

tersebut.

Dalam Rancangan Perubahan UUPM ini yaitu dalam ketentuan Pasal 112B

nantinya akan diusulkan satu ketentuan yang mengatur bahwa tagihan negara

berdasarkan Undang-undang ini yaitu tagihan yang berasal dari sanksi-sanksi

administratif berupa denda yang dikenakan oleh Bapepam kepada para pelaku pasar

mempunyai hak yang mendahului atas segala tagihan terhadap harta yang berutang.

Hal ini terjadi dalam hal Pihak-pihak yang belum membayar sanksi administratif

berupa denda oleh Bapepam tersebut dalam keadaan pailit dan dilikuidasi. Dalam

Rancangan Perubahan UUPM ini yaitu dalam ketentuan Pasal 112C nantinya akan

diusulkan satu ketentuan yang mengatur bahwa setiap Pihak dapat melakukan kegiatan

di bidang Pasar Modal dengan menggunakan prinsip-prinsip Syariah.


73

BAB III

PERANAN BAPEPAM DAN BURSA EFEK DALAM PENERAPAN

PENGELOLAAN PERUSAHAAN YANG BAIK (GOOD CORPORATE

GOVERNANCE) DI PASAR MODAL

A. Pengertian Pasar Modal.

Peranan pemerintah, otoritas pasar modal dan Self Regulatory Organization

(SRO) disebuah negara berfungsi sebagai external kontrol, dengan menciptakan hukum

yang mensyaratkan implementasi terhadap kaedah-kaedah good corporate qovernance

bagi perusahaan yang tunduk dalam wilayah hukum tertentu.

Corporate Govenance yang telah diformulasikan oleh OECD (Organization for

Economic Cooperation and Development) dalam bentuk pedoman prinsip corporate

governance (OECD Principles of Corporate Governance) yang menjadi pedoman praktis


74

secara universal bagi negara dan perusahaan dalam mengimplementasikan prinsip

prinsip tersebut.

Untuk kepentingan kegiatan usaha acuan tentang prinsip-prinsip pengelolaan

usaha yang baik telah dirumuskan oleh Komite Nasional Kebijakan Good Corporate

Governance dan ditindaklanjuti dengan dibuatnya ketentuan mengenai persyaratan yang

berhubungan dengan kewajiban bagi setiap emiten untuk memiliki adanya komisaris

independen, komite audit dan sekretaris perusahaan diatur didalam peraturan yang

dikeluarkan oleh otoritas pasar modal dan bursa efek.

Perkembangan dari pada aspek hukum ini akan banyak memberikan pengaruh

kepada tatanan yuridis yang mengikat struktur organisasi perseroan terbatas, kewajiban

dalam menjalankan prinsip keterbukaan dan informasi laporan keuangan, kepatuhan atas

ketentuan hukum yang berhubungan dengan transaksi emiten dan pengawasan atas

praktek kejahatan korporasi dan pasar modal.

Pada dasarnya, pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai

instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk

hutang ataupun modal sendiri. Kalau pasar modal merupakan pasar untuk surat berharga

jangka panjang, maka pasar uang (money market) pada sisi yang lain merupakan pasar

surat berharga jangka pendek. Baik pasar modal maupun pasar uang merupakan bagian

dari pasar keuangan (financial market).

Jika di pasar modal diperjualbelikan instrumen keuangan seperti saham, obligasi,

waran, right, obligasi konvertibel, dan berbagai produk turunan (derivatif) seperti opsi

(put atau call), maka di pasar uang diperjualbelikan antara lain Sertifikat Bank Indonesia
75

(SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU), Commercial Paper, Promissory Notes, Call

Money, Repurchase Agreement, Banker’s Acceptence, Treasury Bills dan lain-lain.

Undang-Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 memberikan pengertian Pasar

Modal yang lebih spesifik yaitu “kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum

dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang

diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek”.

Pasar Modal memiliki peran besar bagi perekonomian suatu negara karena pasar

modal menjalankan dua fungsi sekaligus, fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar

modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena pasar menyediakan fasilitas atau

wahana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang memiliki kelebihan

dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer).

Dengan adanya pasar modal maka pihak yang memiliki kelebihan dana dapat

menginvestasikan dana tersebut dengan harapan memperoleh imbalan (return)

sedangkan pihak issuer (dalam hal ini perusahaan) dapat memanfaatkan dana tersebut

untuk kepentingan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari operasi

perusahaan.

Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena pasar modal

memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik

dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih. Dengan adanya pasar modal

diharapkan aktivitas perekonomian menjadi meningkat karena pasar modal merupakan

alternatif pendanaan bagi perusahaan-perusahaan sehingga perusahaan dapat beroperasi


76

dengan skala yang lebih besar dan pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan

perusahaan dan kemakmuran masyarakat luas.

Adapun manfaat dari keberadaan pasar modal, yaitu :29

1. Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha sekaligus

memungkinkan alokasi sumber dana secara optimal.

2. Memberikan wahana investasi bagi investor sekaligus memungkinkan upaya

diversifikasi.

3. Menyediakan leading indicator bagi trend ekonomi negara.

4. Penyebaran kepemilikan perusahaan sampai lapisan masyarakat menengah.

5. Penyebaran kepemilikan, keterbukaan dan profesionalisme, menciptakan iklim

berusaha yang sehat.

6. Menciptakan lapangan kerja atau profesi yang menarik.

7. Memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat dan mempunyai

prospek.

8. Alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan risiko yang

bisa diperhitungkan melalui keterbukaan, likuiditas, dan diversifikasi investasi.

9. Membina iklim keterbukaan bagi dunia usaha, memberikan akses kontrol sosial.

10. Pengelolaan perusahaan dengan iklim keterbukaan, mendorong pemanfaatan

manajemen profesional.

11. Sumber pembiayaan dana jangka panjang bagi emiten.

B. Sejarah BAPEPAM.

29
Mengenal Pasar Modal http://www.jsx.co.id/education.asp?cmd=menu1
77

Pasar Modal dihidupkan kembali pada tahun 1976 dan dibentuklah Bapepam

yang merupakan singkatan dari Badan Pelaksana Pasar Modal. Menurut Keppres No. 52

Tahun 1976, Bapepam mempunyai tugas :

1. Mengadakan penilaian terhadap perusahaan-perusahaan yang akan menjual

saham-sahamnya melalui Pasar Modal apakah telah memenuhi persyaratan yang

ditentukan dan sehat serta baik;

2. Menyelenggarakan Bursa Pasar Modal yang efektif dan efisien.

3. Terus-menerus mengikuti perkembangan perusahaan-perusahaan yang menjual

saham-sahamnya melalui pasar modal.

Bapepam dipimpin oleh seorang ketua yang diangkat oleh Presiden dan dalam

melaksanakan tugasnya ia bertanggung-jawab kepada Menteri Keuangan. Pada mulanya,

selain bertindak sebagai penyelenggara, Bapepam sekaligus merupakan pembina dan

pengawas.

Pada tahun 1990 dualisme pada diri Bapepam ditiadakan pada tahun 1990

dengan keluarnya Keppres No. 53/1990 dan SK Menkeu No. 1548/1990. Keluarnya

Keppres 53 tentang Pasar Modal dan SK Menkeu No. 1548 tahun 1990 itu menandai era

baru bagi perkembangan pasar modal dimana dualisme fungsi Bapepam dihapus

sehingga lembaga ini dapat memfokuskan diri pada pengawasan pembinaan pasar

modal.

Dengan fungsi ini, Bapepam dapat mewujudkan tujuan penciptaan kegiatan pasar

modal yang teratur wajar, efisien, serta melindungi kepentingan pemodal dan

masyarakat. Tugas ini mempunyai persamaan dengan tugas pokok Securities Exchange
78

Commission (SEC) di Amerika Serikat dimana SEC bertugas menjaga keterbukaan

pasar modal secara penuh kepada masyarakat investor dan melindungi kepentingan

masyarakat investor dari malpraktik di pasar modal.30

C. Peranan BAPEPAM dan Bursa Efek dalam penerapan Pengelolaan Perusahaan

yang baik (Good Corporate Governance) di Pasar Modal.

Berdasarkan Undang-undang No. 8 Tahun 1995, kebijakan umum di bidang

pasar modal ditetapkan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia sedangkan

pembinaan, pengaturan dan pengawasan sehari-hari dilakukan oleh Bapepam yang

berada dibawah kewenangan dan bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan

Republik Indonesia.

Selain tugas tersebut, dalam rangka menciptakan pasar modal yang tepat, teratur

dan efisien Bapepam memiliki wewenang sebagai berikut :31

1. Menyusun peraturan dibidang pasar modal.

2. Menegakkan peraturan dibidang Pasar Modal.

3. Memberi ijin usaha kepada bursa efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan,

Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, reksa dana, perusahaan efek, penasehat

investasi, Biro Administrasi Efek dan pihak lain yang bergerak di Pasar Modal;

4. Menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan perusahaan bagi Emiten dan Perusahaan

Publik.

30
http://www.bapepam.go.id/profil/sejarah/sejarah_bapepam.htm
31
Industri Pasar Modal di Indonesia http://www.asiasecurities-online.com/prospektus/struktur_pmi.htm
79

5. Memberi ijin orang perseorangan bagi Wakil Penjamin Emisi Efek, Wakil

Perantara Pedagang Efek dan Wakil Manajer Investasi;

6. Memberi persetujuan bagi bank kustodian;

7. Mewajibkan pendaftaran Profesi Penunjang Pasar Modal dan Wali Amanat;

8. Menetapkan persyaratan dan tata cara, menunda atau membatalkan pernyataan

pendaftaran;

9. Mengadakan pemeriksaan dan penyidikan terhadap para pihak;

10. Melakukan pemeriksaan terhadap setiap emiten atau perusahaan publik; dan

11. Membekukan atau membatalkan pencatatan suatu efek pada bursa efek atau

menghentikan transaksi bursa atas efek tertentu untuk jangka waktu tertentu guna

melindungi kepentingan pemodal.

12. Menyelesaikan keberatan yang diajukan oleh pihak yang dikenakan sanksi oleh

Bursa Efek, Lembaga Kliring dan penjaminan dan Lembaga penyimpanan dan

Penyelesaian.32

Struktur pasar modal Indonesia dapat digambarkan dalam skema berikut ini :

DEPARTEMEN

KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA

LEMBAGA KLIRING DAN LEMBAGA PENYIMPANAN DAN


BURSA EFEK
PENJAMINAN PENYELESAIAN
PERUSAHAAN EFEK LEMBAGA PROFESI PENUNJANG PERUSAHAAN PUBLIK

- Penjamin Emisi Efek PENUNJANG - Akuntan Publik - Emiten

- Perantara Pedagang Efek - BAE - Konsultan Hukum - Perusahaan Publik Reksa Dana

32
Badan Pengawas Pasar Modal, Departemen Keuangan RI, Sekilas Pasar Modal Indonesia, Hal. 16.
80

- Manajer Investasi - Bank Kustodian - Penilai

- Penasehat Investasi - Notaris

- Pemeringkat Efek

Dalam rangka menuju era globalisasi dan perkembangan Pasar Modal yang

pesat, BAPEPAM selalu berusaha untuk mengikuti dan mengakomodasi, serta

melindungi kepentingan investor, pelaku pasar modal dan masyarakat umum dengan

membuat peraturan-peraturan baru dan merevisi peraturan yang telah ada.

Hal diatas dilakukan dengan pertimbangan bahwa Pasar Modal merupakan

sumber dana jangka menengah dan jangka panjang yang sangat penting bagi

pembangunan Nasional, pasar modal memungkinkan bagi dunia usaha yang

membutuhkan dana atau modal untuk menggerakkan roda usaha dengan memperoleh

langsung dari masyarakat melalui penerbitan saham atau berbagai jenis efek lainnya.

Dengan demikian Pasar Modal mempunyai peran penting dalam

mengembangkan dan menjaga stabilitas sistem ekonomi secara keseluruhan. Dengan

pertimbangan pentingnya Pasar Modal bagi perekonomian Nasional maka independensi

BAPEPAM sebagai regulatory organization sangat diperlukan.

Independensi tersebut dimaksudkan untk menegakkan persatuan, konsistensi dan

efisiensi dalam pengawasan dan pengembangan Pasar Modal. Saat ini BAPEPAM

sedang diarahkan untuk menjadi suatu lembaga independen dan keinginan pemerintah

untuk mewujudkan hal tersebut secara jelas tertuang dalam Garis-Garis Besar Haluan

Negara (GBHN). Sebagai implementasinya saat ini BAPEPAM sedang merevisi


81

Undang-Undang Pasar Modal, dimana salah satu masalah yang akan ditegaskan adalah

masalah independensi BAPEPAM.

Kebijakan umum adalah kebijakan dibidang Pasar Modal yang secara langsung

atau tidak langsung berkaitan dengan kebijakan fiskal, moneter dan kebijakan ekonomi

makro pada umumnya. Menteri Keuangan menetapkan kebijakan umum dibidang Pasar

Modal.

Selaras dengan dikeluarkannya Undang-Undang Pasar Modal yaitu Undang-

Undang No. 8 Tahun 1995 maka Pemerintah juga telah mengeluarkan peraturan

pelaksanaannya yaitu Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1995 tentang

penyelenggaraan kegiatan di Pasar Modal dan PP No. 46 Tahun 1995 Tentang

Pemeriksaan di Bidang Pasar Modal.

Sejalan dengan perkembangan ekonomi nasional dibidang Pasar Modal telah

banyak dilakukan penyempurnaan dan pembaharuan dalam upaya mendorong

masyarakat termasuk pihak asing untuk memiliki saham perusahaan berdasarkan

Keputusan Menteri Keuangan No. 90/KMK/010/2001 tanggal 20 Februari 2001 tentang

Pemilikan Saham perusahaan efek oleh pemodal asing.

Pasar modal yang fair, teratur dan efisien adalah pasar modal yang memberi

pelindungan kepada investor publik terhadap praktik bisnis yang tidak sehat dan tidak

jujur sehingga setiap badan yang ada di Pasar Modal semuanya harus mendapat izin dari

BAPEPAM.

Hal ini menunjukkan prinsip akuntabilitas, pihak yang menjalankan kegiatan

memang yang ahli dibidangnya dan telah mendapat ijin untuk bekerja di pasar modal
82

sehingga apabila terjadi kerugian akibat kelalaiannya maka dengan jelas pihak tersebut

harus mendapatkan sanksi, kerugian yang dimaksud disini adalah diluar normal business

risk.

Resiko diluar normal business risk yang mengharuskan pemerintah untuk

mengatur dan mengawasi pasar menyangkut :

1. Integritas finansial para perantara (intermediaries) dimana aset investor yang

dititipkan uang maupun efek kepada broker-dealer tidak hilang karena broker-dealer

mengalami bangkrut, mismanagement atau kelalaian, karenanya Undang-Undang

Pasar Modal mengharuskan seluruh financial intermediaries diaudit oleh akuntan

publik yang terdaftar di BAPEPAM.

2. Penipuan efek (securities fraud), penipuan didefinisikan dalam Undang-Undang

Hukum Pidana akan tetapi dalam rangka menjalankan fungsinya untuk melindungi

investor, BAPEPAM perlu diberi wewenang untuk investigasi dan menyeret pelaku

penipuan ke pengadilan. Alasan kewenangan tersebut karena securities fraud

menyangkut tehnik tinggi dan memerlukan keahlian khusus untuk dapat menyeret

pelaku ke pengadilan, penipuan yang paling umum adalah menggunakan pernyataan

yang salah atau menyesatkan yang mengakibatkan suatu pihak membeli atau

menjual efek. Mengingat efek merupakan intangible legal rights maka investor harus

mengandalkan statement yang dibuat intermediary tersebut. Dalam rangka

membatasi kemungkinan securities fraud pasar modal menerapkan sanksi yang berat

bagi siapa saja yang tanpa izin bertindak sebagai financial intermediaries di pasar

modal dan bagi siapa saja yang terlibat aktivitas penipuan tersebut.
83

3. Manipulasi pasar (market manipulation).

Investor di pasar modal berhak mengetahui bahwa harga yang dibentuk di bursa

merupakan hasil proses permintaan dan penawaran yang fair dan bukan harga yang

terbentuk dari hasil kolusi karena harga tersebut bukan merupakan parameter

investasi yang tepat. Undang-Undang Pasar Modal mengatur bahwa barang siapa

yang memberikan gambaran yang salah mengenai transaksi yang ada di bursa

merupakan perbuatan melawan hukum.

4. Jenis manipulasi lainnya adalah menciptakan gambaran yang salah mengenai

harga saham sehingga mendorong terjadinya jual beli saham pada harga yang

sebenarnya merupakan harga rekayasa (artificial). BAPEPAM mempunyai

wewenang untuk memonitor pasar agar dapat dideteksi kemungkinan adanya

aktivitas manipulasi.

5. Ketentuan emiten, keterbukaan dipasar modal terutama ditujukan kepada

keterbukaan perusahaan yang menawarkan efeknya dipasar modal atau emiten.

Emiten dituntut untuk mengungkapkan informasi mengenai keadaan bisnisnya

masyarakat, informasi tersebut haruslah dijamin kebenarannya dan emiten harus

bertanggung jawab atas kerugian yang diderita masyarakat investor.

Peraturan BAPEPAM yang disempurnakan diantaranya adalah Peraturan Nomor

IX.A.2 mengenai Tata Cara Pendaftaran Dalam Rangka Penawaran Umum yang

dimaksudkan untuk menyederhanakan proses dan mempersingkat jangka waktu

penawaran umum dari 90 hari kerja menjadi maksimum 15 hari kerja.


84

Sementara itu penyempurnaan Peraturan IX.A.8 mengenai Prospektus Awal dan

Info Memo dimaksudkan untuk mengatur ketentuan tentang Penawaran Awal (book

building) sehingga Emiten dan Penjamin Emisi dapat melakukan Penawaran Awal

setelah pengumuman Prospektus Ringkas.

Penawaran Awal (book building) adalah ajakan baik secara langsung maupun

tidak langsung dengan menggunakan Prospektus Awal yang bertujuan untuk mengetahui

minat calon pembeli atas efek yang akan ditawarkan dan atau perkiraan harga

penawaran efek.

Peraturan ini menganut asas transparansi (keterbukaan) kepada masyarakat agar

masyarakat tertarik untuk membeli perusahaan tersebut namun informasi yang diberikan

haruslah benar, bukan penipuan dan tidak ada yang disembunyikan karena investor

berhak akan informasi yang sebenar-benarnya.

Selanjutnya untuk memfasilitasi percepatan pemulihan ekonomi, Bapepam telah

menyempurnakan Peraturan Nomor IX.E.1 mengenai Benturan Kepentingan Transaksi

Tertentu. Penyempurnaan peraturan ini dimaksudkan untuk memperluas pengertian

benturan kepentingan dan pengertian Pemegang Saham Independen sehingga

mempermudah penentuan Pihak yang berhak hadir dan memberikan hak suara dalam

Rapat Umum Pemegang Saham Independen apabila terdapat suatu transaksi yang

mempunyai benturan kepentingan. Dengan penyempurnaan peraturan ini maka

perlindungan kepada pemegang saham, khususnya Pemegang Saham Independen

meningkat.
85

Dibidang penegakan hukum, seiring dengan meningkatnya tuntutan masyarakat

terhadap perlindungan hukum di bidang pasar modal, Bapepam bersikap lebih proaktif

terhadap dugaan pelanggaran peraturan perundang-undangan pasar modal. Upaya

tersebut tercermin dari meningkatnya jumlah pemeriksaan dan penyidikan serta

meningkatnya keterbukaan dalam pelaporan hasil-hasil pemeriksaan kepada para pelaku

pasar dan masyarakat pada umumnya.33

Selain memberikan sanksi administratif, Bapepam juga mewajibkan kepada

pihak yang melanggar ketentuan pasar modal untuk melakukan tindakan tertentu antara

lain meminta Emiten untuk melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

Independen, melakukan pemaparan publik, menanggung biaya registrasi saham dalam

rangka scripless trading dan mengenakan denda kepada pengurus Emiten dengan

membayar sejumlah uang kepada kas negara.

Sejalan dengan perkembangan keadaan pasar, saat ini Bapepam juga lebih aktif

dalam mencermati kecenderungan (trend) pelanggaran yang terjadi seperti adanya

Perusahaan yang melakukan kegiatan yang menyerupai Perusahaan Efek tanpa terlebih

dahulu memperoleh izin dari Bapepam. Pemeriksaan terhadap kasus yang menyangkut

pelanggaran keterbukaan informasi merupakan kasus terbanyak, kemudian diikuti

dengan pemeriksaan terhadap pelanggaran benturan kepentingan dan manipulasi pasar.

Di bidang penegakan hukum, pada tahun 2000 ini Bapepam lebih proaktif dan

dinamis dalam menangani sekaligus menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran. Dari 39

kasus yang ditangani, 28 di antaranya dapat diselesaikan di tahun 2000. Jenis sanksi juga
33
Annual Report Bapepam 2000, http://www.bapepam.go.id/profil/annual/hukum_2000.htm
86

lebih variatif, dengan lebih menekankan pada upaya penanaman kesadaran kepada

manajemen Emiten dan Perusahaan Publik serta Perusahaan Efek agar menjunjung

tinggi sekaligus menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance.34

Disamping itu, perlu kiranya disadari oleh semua pihak bahwa penerapan

prinsip-prinsip corporate governance tidak hanya memerlukan perangkat regulasi dan

penegakan atas peraturan tersebut saja. Namun jauh lebih penting adalah upaya

penanaman pemahaman atas pentingnya penerapan prinsip tersebut oleh semua pihak.

Berdasarkan hal tersebut, Bapepam senantiasa mendukung upaya berbagai pihak

seperti Komite Nasional Corporate Governance, Indonesian Institute on Corporate

Governance (IICG) dan Forum on Corporate Governance in Indonesia (FCGI) untuk

lebih memasyarakatkan penerapan prinsip-prinsip good corporate governance.

Ringkasan hasil pemeriksaan suatu kasus berikut sanksi yang dijatuhkan kepada

pelanggar juga diumumkan secara luas kepada masyarakat pada saat yang bersamaan

dengan diputuskannya suatu sanksi. Hal ini selain sebagai perwujudan dari

pertanggungjawaban Bapepam kepada masyarakat (public accountability) juga

dimaksudkan agar masyarakat dapat memberikan penilaian, kritik, saran dan

komentarnya guna lebih meningkatkan lagi kinerja Bapepam di masa mendatang.

Dari sisi regulasi, selain penerbitan beberapa aturan yang berkaitan dengan

kemajuan dan kegiatan yang telah diutarakan sebelumnya, telah diterbitkan pula aturan

34
http://www.bapepam.go.id/old/profil/annual/pembaca2000.htm
87

lain dengan standar dan kualifikasi internasional baik baru maupun yang bersifat

penyempurnaan.

Aturan dibidang penawaran efek selain semakin menyederhanakan proses emisi

juga memungkinkan penerapan book building system yang di negara lain terbukti

mampu meningkatkan animo masyarakat terhadap penawaran efek dari suatu emiten.

Dapat dicatat pula bahwa beberapa aturan yang dikeluarkan di tahun 2000 seperti aturan

mengenai benturan kepentingan, penawaran tender, transaksi material maupun

perubahan kegiatan usaha, serta pengambilalihan perusahaan terbuka, langsung tidak

langsung turut memberikan kontribusi dalam proses percepatan pemulihan

perekonomian nasional.

Akhirnya, yang juga sangat penting untuk dicatat di tahun 2000 adalah

penyusunan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Perubahan Undang-undang

Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, yang selain dimaksudkan guna

meningkatkan independensi Bapepam selaku lembaga pengawas sebagaimana

diamanatkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), juga sebagai respon

untuk menyesuaikan Pasar Modal Indonesia dengan perkembangan dan perubahan

paradigma yang terjadi di pasar modal dunia, seperti kecenderungan untuk mengizinkan

Bursa Efek dimiliki pihak lain di luar Anggota Bursa atau demutualisasi bursa.

Momentum penyusunan RUU tersebut juga merupakan kesempatan berharga

bagi pelaku Pasar Modal Indonesia sebagai salah satu warga industri sekuritas dunia,

untuk menunjukkan kepada masyarakat pasar modal internasional mengenai

komitmennya dalam memenuhi resolusi yang dikeluarkan oleh IOSCO, khususnya yang
88

berkaitan dengan pemenuhan terhadap Objectives and Principles of Securities

Regulation.

Dengan semakin majunya infrastruktur, semakin berdayanya pelaku pasar,

semakin efektifnya penegakan hukum, dan semakin sempurnanya regulasi yang

dipayungi pula oleh keberadaan Undang-Undang Pasar Modal dengan standar dan

kualifikasi internasional.

Standar dan kualifikasi internasional selain akan meningkatkan daya saing Pasar

Modal Indonesia di tingkat internasional, juga akan semakin mendekatkan Bapepam

pada pencapaian visinya, yakni "Menjadi otoritas pasar modal yang berkualitas

internasional, yang mampu mendorong, mengawasi, dan memelihara pasar sehingga

berdaya saing global, dan mampu mendukung perkembangan ekonomi nasional".

Memang diakui bahwa Disclosure merupakan terminologi yang teramat sering

dikumandangkan dalam dunia hukum pasar modal dan hukum pasar modal sendiri

seakan belum sah jika belum mengatur tentang disclosure ini, karenanya banyak

peraturan perundang-undangan mengaturnya secara cukup rinci.

Ada suatu dilema dalam hukum pasar modal itu sendiri apabila satu pihak hukum

terus mengejar dengan memperinci sedetil-detilnya tentang hal-hal apa saja yang mesti

didisclose oleh pihak-pihak penyandang kewajiban disclosure akan tetapi di lain pihak

hukum juga harus memproteksi kepentingan-kepentingan tertentu dari pihak yang

diwajibkan membuka informasi tersebut.

Kepentingan tersebut seringkali bertentangan dengan kewajiban disclosure.

Misalnya kepentingan suatu emiten untuk tidak mendisclose tentang informasi


89

yang.tergolong rahasia perusahaan. Dalam hal ini, sektor hukum harus jeli menimbang-

nimbang dan menyelaraskan kepentingan investor dan pasar terhadap suatu disclosure,

dengan kepentingan emiten atau pihak-pihak lain pemilik informasi.

Keselarasan diantara dua kepentingan yang kontradiktif tersebut tercermin dalam

prinsip yuridis yang menyatakan bahwa suatu disclosure di pasar modal tidaklah semata-

mata "full" tetapi juga mestilah "fair," seperti yang tersinipul dalam istilah full and fair

disclosure.

Selain daripada itu, sebagaimana diketahui bahwa dalam sistem hukum Perdata

kita, secara hukum dalam suatu jual beli, si penjual antara lain drwajibkan untuk

"menanggung" atas seluruh cacat yang tersembunyi dari barang yang dijualnya tersebut,

tetapi didalam jual beli saham di pasar modal, kewajiban menanggung cacat yang

tersembunyi saja masih belum cukup.

Untuk itu berkembanglah suatu teori hukum tentang kewajiban bagi suatu

perusahaan terbuka, yaitu yang dikenal dengan kewajiban "buka-bukaan" yang dalam

bahasa lnggrisnya disebut full and fair disclosure. Doktrin hukum tentang kewajiban

buka-bukaan bagi suatu perusahaan terbuka ini mempunyai karakteristik yuridis sebagai

berikut :

1. Prinsip ketinggian derajat akurasi informasi.

2. Prinsip ketinggian derajat kelengkapan informasi.

3. Prinsip equilibrium antara efek negatif kepada emiten di satu pihak,

dengan dipihak lain efek positif kepada publik jika dibukanya informasi tersebut.
90

Di samping itu, beberapa hal yang seringkali dilarang dalam hal keterbukaan

informasi adalah sebagai berikut :

1. Memberikan informasi yang salah sama sekali.

2. Memberikan informasi yang setengah benar.

3. Memberikan informasi yang tidak lengkap.

4. Sama sekali diam terhadap fakta atau informasi material.

Keempat model pelanggaran ini dilarang karena oleh hukum dianggap dapat

menimbulkan "misleading" bagi investor dalam memberikan judgementnya untuk

membeli atau tidak membeli suatu efek. Alasan utama mengapa suatu disclosure

diperlukan adalah agar pihak investor dapat melakukan suatu informed decision untuk

membeli atau tidak membeli suatu efek.

Harga pasar dari suatu efek dipengaruhi oleh informasi yang diberikan kepada

publik, jadi informasi publik tersebutlah yang menentukan apakah seseorang akan

melakukan tindakan jual-beli atau hold suatu efek. Karena itu, kedudukan suatu

prospektus tentunya sangat penting.

Hal ini melahirkan teori Market Hypothesis dan teori ini sangat mengecam

tindakan insider trading karena dengan informasi yang tidak kesampaian kepada publik

tersebut, berarti publik sangat dirugikan, dan seorang insider dapat mengail di air keruh.

Selain teori tersebut diatas ada juga teori Capital Asset Pricing yang

membedakan antara risk yang sistematis dan risk yang tidak sisteniatis, dan mengajarkan

pula bahwa risiko dalam melakukan investasi di pasar modal dapat dieliminir dengan

melakukan diversifikasi. Karena itu, informasi tentang suatu perusahaan tertentu tidak
91

begitu penting. Yang terpenting justru apa yang disebut sebagai Beta dari suatu efek.

Yang dimaksud dengan "beta" dari suatu efek adalah semacam pengukuran terhadap

suatu efek dalam hubungan dengan pasar secara keseluruhan.

Dari teori-teori tersebut diatas terlihat bahwa informasi tentang sesuatu

perusahaan, antara lain seperti yang terdapat dalam prospektus, ditempatkan pada posisi

yang berbeda-beda. Tentu saja semua teori tersebut masih menganggap bahwa informasi

tersebut perlu, tetapi tingkat keperluannya yang berbeda-beda. Bahkan ada yang

meyakini bahwa keadaan dan data industri dan ekonomi secara makro justru lebih

penting dan mempengaruhi harga pasar ketimbang informasi tertertu dari suatu

perusahaan.

Peraturan perundang-undangan dan praktek di pasar modal Indonesia

meniperkenalkan 3 macam prospektus sebagai berikut :

1. Prospektus biasa.

2. Prospektus ringkas (wajib dimuat dalam dua surat kabar).

3. Prospektus dalam rangka penawaran umum oleh perusahaan menengah atau

kecil.

Undang-undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 memberikan rambu-rambu

yuridis bagi suatu prospektus, yaitu sebagai berikut :

1. Dilarang memuat hal-hal :

a. Keterangan yang tidak benar tentang fakta material.

b. Tidak memuat keterangan yang benar tentang fakta material.


92

2. Memuat semua rincian tentang fakta material yang dapat mempengaruhi

keputusan pemodal.

3. Fakta dan pertimbangan yang paling penting ditempatkan pada tempat yang

paling awal.

4. Extra hati-hati dalam menggunakan foto, diagram atau tabel karena sangat

potensial untuk terjadinya misleading.

5. Diungkapkan dalam bahasa yang jelas dan komunikatif.

6. Pengungkapan fakta material harus ditekankan sesuai bidang usaha atau sektor

industrinya.

7. Mestilah terdapat pernyataan bahwa semua lembaga dan profesi penunjang pasar

modal yang disebut dalam prospektus tersebut bertanggung jawab sepenuhnya atas

data yang disajikan sesuai dengan fungsi mereka, sesuai dengan peraturan yang

berlaku diwilayah Republik Indonesia dan kode etik, norma serta standar profesi

masing-masing.

Selanjutnya harus ada pula pernyataan bahwa sehubungan dengan penawaran

umum setiap pihak terafiliasi dilarang memberikan keterangan atau pernyataan

mengenai data yang tidak dimasukkan dalam prospektus tanpa persetujuan tertulis dari

emiten dan penjamin pelaksana emisi.

Menurut penjelasan atas Pasal 78 ayat (3) dan Undang-Undang Pasar Modal No.

8 Tahun 1995, maka suatu prospektus sekurang-kurangnya harus memuat :

1. Uraian tentang penawaran umum.

2. Tujuan dan Penggunaan Dana Penawaran umum.


93

3. Analisis dan pembahasan mengenai.kegiatan dan keuangan.

4. Risiko usaha.

5. Data keuangan.

6. Keterangan dari segi hukum.

7. Informasi mengenai pemesanan pembelian efek, dan

8. Keterangan tentang Anggaran dasar.

9. Harus ada "klausula Huruf Besar" (yakni klausula yang dicetak dengan huruf

besar), yaitu terhadap hal-hal sebagai berikut :

“ BAPEPAM TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU

TIDAK MENYETUJUI EFEK INI. TIDAK JUGA MENYATAKAN

KEBENARAN ATAU KECUKUPAN ISI PROSPEKTUS INI. SETIAP

PERNYATAAN YANG BERTENTANGAN DENGAN HAL-HAL TERSEBUT

ADALAH PERBUATAN MELANGGAR HUKUM “

“ EMITEN DAN PENJAMIN EMISI EFEK (Jika ada) BERTANGGUNG JAWAB

SEPENUHNYA ATAS KEBENARAN SEMUA INFORMASI ATAU FAKTA

MATERIAL SERTA KEJUJURAN PENDAPAT YANG TERCANTUM DALAM

PROSPEKTUS INI.”

Apabila direncanakan untuk menstabilisasi harga efek tertentu, maka mesti ada

klausula huruf besar sebagai berikut :

“ DALAM RANGKA MEMPERTAHANKAN HARGA PASAR EFEK YANG SAMA,

BAIK JENIS MAUPUN KELASNYA, DENGAN YANG DITAWARKAN PADA

PENAWARAN UMUM INI, PENJAMIN EMISI DAPAT MELAKUKAN


94

STABILISASI HARGA PADA TINGKAT HARGA YANG LEBIH TINGGI DARI

YANG MUNGKIN TERJADI DI BURSA EFEK SEKIRANYA TIDAK DILAKUKAN

STABILISASI HARGA. JIKA PENJAMIN EMISI MELAKUKAN STABILISASI

HARGA, MAKA BAIK STABILISASI HARGA MAUPUN PENAWARAN UMUM

TERSEBUT DAPAT DIHENTIKAN SEWAKTU-WAKTU.”

Pada kenyataannya, isi dari suatu prospektus mempunyai ciri-ciri, yaitu :

1. Informasi banyak bersifat kualitatif.

Umumnya informasi yang disajikan mernang banyak yang bersifat kualitatif, yang

diduga banyak berpengaruh terhadap jalannya suatu perusahaan.

2. Taksiran-taksiran.

Kalaupun ada informasi yang kuantitatif, umumnya dibuat atas dasar taksiran-

taksiran atau dengan menggunakan metode-metode penilaian.

3. Belum Siap Pakai

Banyak informasi dalam prospektus yang belum siap pakai, sehingga agar dapat

dipakai untuk pengambilan keputusan perlu interpretasi dan analisis lebih lanjut.

Membahas prinsip full dislosure didalam kacamata yuridis, berarti kita

membicarakan sesuatu yang bersifat filosofis tentang sistem dan mekanisme yang

berlaku di industri sekuritas tersebut. Prinsip keterbukaan itu sendiri memiliki implikasi

dan pengertian yang sangat luas, sehingga untuk membahasnya kita harus dapat

mengerti terlebih dahulu hubungan dan prinsip dasar yang saling terkait.35

35
Prinsip Full Disclosure Di Pasar Modal, Analisa Yuridis oleh Indra Safitri,
http://business.fortunecity.com/buffett/842/art220299_prinsipfulldisc.htm
95

Aspek keterbukaan adalah aspek yang mengukur sejauh mana integritas pelaku

pasar menjalankan kewajiban transparansi dan good corporate governance didalam

penyelenggaraan usaha perseroan. IOSCO didalam guidelines yang disampaikan kepada

anggotanya, menekankan penerapan ketentuan pasar modal yang mengandung

kewajiban dan kepatuhan dalam menjalankan prinsip-prinsip keterbukaan.

Dalam impelementasinya yang tertuang didalam peraturan-peraturan yang

dikeluarkan oleh regulator maupun SRO, kewajiban transparansi diwajibkan kepada

setiap pihak yang termasuk didalam komponen utama industri sekuritas dalam bentuk

kepetahuan untuk memberikan dan menetapkan informasi yang segera untuk

disampaikan kepada publik, dimana informasi tersebut tidak dimanfaatkan untuk tujuan

yang dapat menyesatkan pasar.

Kepatuhan inilah yang menjadi wewenang dari regulator dan SRO untuk setiap

saat menetapkan kewajiban dan sanksi-sanksi bila timbulnya pelanggaran. Prinsip

keterbukaan dapat dirumuskan didalam setiap keputusan tanpa harus menegaskan

adanya keberlukaan dari prinsip transparansi itu sendiri. Namun didalam

pelaksanaannya secara praktis pihak-pihak yang menjadi objek dari peraturan itu sendiri

memiliki kewajiban untuk menyampaikan dan membuat laporan ataupun pernyataan

yang dapat digolongkan sebagai informasi dengan cara dan waktu yang ditentukan.

Tingkat kepatuhan untuk menjalankan kewajiban itu sendiri harus dapat diawasi

dan diberikan reaksi yang cepat dari pihak yang mengawasi, sehingga pelanggaran atas

kewajiban itu sendiri tidak dijadikan sebagai sarana atau kesempatan untuk
96

memanfaatkan atau menyimpan informasi tersebut untuk tujuan dan kepentingan mereka

dan bukan untuk publik.

Secara yuridis prinsip keterbukaan tersebut, yang secara tegas dapat dilihat

didalam peraturan-peraturan di pasar modal, adalah meyangkut kewajiban-kewajiban

untuk menyampaikan informasi material, kewajiban pelaporan keuangan, dan

kewajiban-kewajiban lainnya yang dirasakan perlu dan dapat mempengaruhi jalan usaha

perseroan. Prinsip keterbukaan tersebut secara yuridis memiliki derajat hukum dengan

sanksi yang sangat berat karena prinsip keterbukaan tersebut memang bersifat

fundamental.

Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal memberikan

kewenangan penyidikan kepada Bapepam untuk melakukan penyidikan sehubungan

dengan pelanggaran atas ketentuan hukum yang berlaku di pasar modal. Kewenangan

untuk melakukan penyidikan merupakan kewenangan yang dilakukan oleh para penyidik

pegawai negeri sipil (PPNS) yang bila terbukti adanya pelanggaran maka proses

pemeriksaan akan dapat dilanjutkan ketingkat penyidikan yang untuk selanjutnya akan

diserahkan kepada pihak kejaksaan untuk selanjutnya diajukan kepengadilan.

Ketentuan yang berhubungan dengan tata cara pemeriksaan dan penyidikan oleh

Bapepam diatur didalam Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 1995 tentang Tata Cara

Pemeriksaan di Pasar Modal. Ketentuan yang mengatur tentang pemeriksaan di pasar

modal oleh Bapepam secara jelas menekankan perlunya integritas yang tinggi bagi para

penyidik dalam menjalankan pemeriksaan. Tidak hanya integritas namun diperlukan


97

kemandirian serta kejujuran agar proses pemeriksaan dapat berlangsung tanpa

merugikan pihak yang diperiksa.

Begitu pula bursa efek memiliki mekanisme yang berkaitan dengan pemeriksaan

yang dilakukan terhadap anggota bursa, dimana tim pemeriksa tersebut dibentuk dengan

tujuan agar anggota bursa dapat mematuhi segala sesuatu yang telah diatur dan

ditentukan oleh bursa efek, terutama yang berhubungan dengan ketentuan yang

berkaitan dengan standar operasional yang wajib dijalankan oleh setiap anggota bursa.

Didalam menjalankan tugas-tugas tersebut maka tim pemeriksa bursa wajib menjalankan

tugas serta kewenangan yang diberikan sesuai dengan tujuan dari pemeriksaan itu

sendiri.

Para pemeriksa ataupun penyidik yang menjalankan tugas dituntut memiliki

sikap dan perbuatan yang menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah, serta dilarang

menggunakan kewenangan tersebut demi kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Arogansi didalam menjalankan tugas adalah sikap yang sangat bertentangan dengan

tujuan dari pemeriksaan itu sendiri.

Oleh sebab itu bila ditemukan perilaku pemeriksa yang bertujuan untuk menekan

ataupun bersifat ancaman dalam menjalankan tugasnya, maka pihak ataupun anggota

bursa dapat menolak atau setidak-tidaknya melakukan klarifikasi atas pemeriksaan

tersebut.

Pihak yang diperiksa berhak untuk menolak suatu pemeriksaan yang tidak

berlandaskan kepada ketentuan yang berlaku ataupun yang ditentukan oleh bursa efek.

Penolakan untuk diperiksa tentunya harus berlandaskan kepada hal-hal yang secara jelas
98

memang tidak berhubungan dengan tujuan pemeriksaan. Langkah lainnya dapat juga

meminta kepada Bapepam ataupun pimpinan bursa efek agar dibentuk tim pemeriksa

yang baru sehingga kekhawatiran tindakan yang merugikan pihak yang diperiksa dapat

dicegah.

Bagaimanapun juga ketentuan tentang tata cara pemeriksaan dipasar modal

senantiasa berlandaskan kepada hal-hal yang berhubungan dengan integritas, kejujuran

dan kemandirian dari pihak yang melakukan pemeriksaan. Oleh sebab itu arogansi yang

diwujudkan dengan cara-cara yang mengintimidasi pihak yang diperiksa bukan

merupakan pola yang diperkenankan didalam ketentuan hukum tentang pemeriksaan

dipasar modal. Untuk itu diperlukan keberanian dari pihak ataupun anggota bursa untuk

menolak atau tidak melayani tata cara pemeriksaan yang tidak sesuai dengan ketentuan

hukum yang berlaku.36

36
Siapa-siapa pemeriksa dan penyidik yang “Galak” di Bursa,
http://business.fortunecity.com/buffett/842/art000026_siapapemeriksa.htm
99

BAB IV

PENYELESAIAN PELANGGARAN PENERAPAN PENGELOLAAN

PERUSAHAAN YANG BAIK (GOOD CORPORATE GOVERNANCE) DI

PASAR MODAL

A. Kasus Pelanggaran Good Corporate Governance di Pasar Modal.

1. Kasus Divestasi Saham PT. INDONESIAN SATELLITE

CORPORATION Tbk. Oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara.

Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) pada tanggal 23 Mei 2002, telah

mengeluarkan Surat Perintah Pemeriksaan No. SPRIN-22/PM/2002. terhadap

pelaksanaan divestasi saham PT. Indonesian Satellite Corporation Tbk., (Selanjutnya

disingkat “ISAT”) yang dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini
100

melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (Selanjutnya disingkat “Kementerian

BUMN”).

Pemeriksaan BAPEPAM dilaksanakan dengan menggunakan metode

pemeriksaan setempat, pemeriksaan melalui pemanggilan dan pemeriksaan dokumen-

dokumen dan untuk memperoleh fakta yang akurat berkaitan dengan adanya dugaan

pelanggaran yang dilakukan oleh para Pihak, Bapepam telah melakukan pemeriksaan

dengan metode dan kepada pihak-pihak sebagai berikut :

1. Pemeriksaan setempat dilakukan kepada PT. Danareksa Sekuritas,

Credit Suisse First Boston, PT. Merril Lynch Indonesia, PT. Nusantara Capital dan

PT. ABN AMRO Asia Securities Indonesia.

2. Pemeriksaan melalui pemanggilan kepada PT. Danareksa Sekuritas,

Credit Suisse First Boston, PT. Merril Lynch, PT. Nusantara Capital, PT. ABN

AMRO Asia Securities Indonesia, PT. Indonesian Satellite Corporation Tbk,

Kementerian BUMN, Direksi PT. Bursa Efek Jakarta, PT. Trimegah Securities Tbk,

PT. Trimegah Asset Management, PT. Jamsostek, PT. Net Securities, PT. Namalatu

Ronesina, PT. Semesta Indovest, Kantor Konsultan Hukum Makes & Partner,

Milbank, Tweed, Hadley & Mc Cloy LLP, Hong Kong, Merril Lynch Singapura;

dan Reuters.

3. Pemeriksaan Konfrontasi antara Sdr. Agus Prodjosasmito dengan

Sdr. Helman Sitohang, Sdr. Jimmy Ganda, Sdr. James dan Sdri. Atty A. Abidin, Sdr.

Jimmy Ganda dengan Sdri. Atty A. Abidin, Pemeriksaan Dokumen kepada 68


101

Perusahaan Efek yang melakukan transaksi saham ISAT pada tanggal 15 Mei 2002

dengan lawan transaksi PT. Danpac Securities untuk kepentingan PT. Jamsostek.

4. Pemeriksaan dokumen dilakukan pula atas dokumen-dokumen

lainnya yang dianggap perlu.

Guna memberikan arah yang jelas dalam proses pemeriksaan, Bapepam telah

membatasi ruang lingkup pemeriksaan, dengan pengertian sebagai berikut :

Pemeriksaan dilakukan secara independen guna menemukan kemungkinan telah

dilakukannya pelanggaran atas peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal

dalam proses divestasi saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia. Pemeriksaan secara

independen yang dilakukan oleh Bapepam dilandaskan pada kewenangan Bapepam

sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 100 ayat (1) UUPM, yaitu :

“Bapepam dapat mengadakan pemeriksaan terhadap setiap Pihak yang diduga


melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di
bidang Pasar Modal.”

Kesimpulan beserta jenis pelanggaran yang dipersangkakan sebagaimana

dimaksudkan dalam hasil pemeriksaan ini adalah diambil semata-mata berdasarkan hasil

pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim Pemeriksa Bapepam, hal ini sesuai dengan apa

yang dimaksud dalam penjelasan Pasal 100 ayat (2) UUPM, penjelasan dari Pasal 100

ayat (2) UUPM mengatur, yaitu :

”…dengan kewenangannya, Bapepam dapat mengumpulkan data, informasi, dan


atau keterangan lain yang diperlukan sebagai bukti atas pelanggaran terhadap peraturan
perundang-undangan di bidang Pasar Modal”.

Dalam rangka kewenangan berkaitan dengan pengenaan sanksi, Bapepam tetap

mengedepankan unsur pembinaan dengan tetap berdasarkan kepada ketentuan peraturan


102

perundang-undangan di bidang Pasar Modal yang berlaku. Kecuali terhadap keputusan

Bapepam untuk melakukan penyidikan, maka Bapepam dalam mengenakan sanksi

administratif tetap memperhatikan aspek pembinaan terhadap Pihak-pihak yang diduga

melakukan pelanggaran atas ketentuan peraturan perundang-undangan yang

dipersangkakan dalam kasus ini.

Hal ini sejalan dengan apa yang dimaksud pada penjelasan Pasal 102 ayat (1)

UUPM. Penjelasan Pasal 102 ayat (1) UUPM mengatur :

“Dalam menerapkan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102 ayat
(1), Bapepam perlu memperhatikan aspek pembinaan terhadap Pihak dimaksud.”

Atas dasar hasil pemeriksaan yang dilakukan, Bapepam memperoleh temuan dan

fakta yang secara kronologis dapat disampaikan sebagai berikut :

1. Bahwa pada tanggal 14 Desember 1998, ISAT telah

menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang

telah menyetujui dilakukannya pengeluaran saham dalam portepel dan/atau

menerbitkan obligasi konversi dan/atau waran dan/atau Efek lainnya tanpa

melakukan Penawaran Umum Terbatas kepada para pemegang saham.

2. Bahwa hingga saat ini persetujuan RUPSLB sebagaimana tersebut

pada angka 1 belum direalisasikan oleh pihak manajemen ISAT.

3. Bahwa divestasi saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia telah

dilakukan pada tanggal 16 Mei 2002, dimana Kementerian BUMN berhasil

melakukan penjualan saham ISAT sebanyak 83,5 juta saham ISAT pada harga Rp.
103

12.000 per saham dari target yang direncanakan semula yaitu sebanyak 117,2 juta

saham.

4. Bahwa dalam proses divestasi yang dilaksanakan oleh Kementerian

BUMN, PT. Danareksa Sekuritas (Selanjutnya disebut “OD”) bertindak sebagai

penasihat keuangan. Surat penunjukkan dikeluarkan oleh Menteri Keuangan pada

tanggal 17 Mei 2001 melalui suratnya Nomor S-297/MK.05/2001 perihal

Penunjukkan PT. Danareksa Sekuritas dan PT. Bahana Securities. Credit Suisse First

Boston International (Selanjutnya disebut “CSFB”) ditunjuk sebagai International

Financial Advisor setelah melalui tahapan beauty contest yang dilakukan oleh OD.

5. Bahwa sebelum dilakukannya penjualan saham ISAT oleh

Pemerintah Indonesia (16 Mei 2002), terjadi ketidakpastian informasi yang dimiliki

oleh masyarakat sehingga mengakibatkan pergerakan harga yang sangat signifikan

atas saham ISAT di PT. Bursa Efek Jakarta (Selanjutnya disebut “BEJ”). Terdapat

upaya untuk mencegah jatuhnya harga saham ISAT di BEJ melalui suspensi oleh

BEJ. Kementerian BUMN serta OD mengajukan permohonan kepada Bapepam, BEJ

dan PT. Bursa Efek Surabaya (BES) untuk hal tersebut.

6. Bahwa selain berencana untuk melakukan corporate action berupa

penambahan modal sebagaimana telah disetujui oleh RUPSLB, ISAT telah dan

berencana pula untuk melakukan beberapa corporate action sebagai berikut :

a. Melakukan pembelian 25% saham PT. Satelindo milik De Te Asia

Holding GMBH (Selanjutnya disebut “DT”).

b. Menerbitkan Obligasi;
104

c. Transaksi silang antara ISAT dan PT. Telkom; dan

d. Corporate Action PT. Satelindo, yang merupakan anak perusahaan ISAT.

7. Bahwa berkaitan dengan pembelian saham PT Satelindo yang

dimiliki oleh DT, Tim Pemeriksa Bapepam telah menemukan fakta bahwa telah

terjadi upaya penyampaian informasi yang menyesatkan berkaitan dengan sumber

dana pembelian. Analisa fakta atas upaya tersebut, adalah sebagai berikut :

a. Pengumuman ISAT pada media massa/konferensi pers pada tanggal 15

Mei 2002 sore, disebutkan bahwa pembayaran atas pembelian saham PT

Satelindo yang dimiliki oleh DT, bersumber dari kombinasi antara :

1. Pengeluaran saham baru.

2. Penerbitan instrumen hutang; dan

3. Dana internal perusahaan/kas perusahaan.

b. Berdasarkan hasil rapat yang dilakukan oleh Pihak ISAT, diketahui

bahwa pembayaran atas pembelian saham PT Satelindo yang dimiliki oleh DT,

bersumber dari pola pendanaan melalui beberapa alternatif, yaitu :

1. Pengeluaran saham baru;

2. Penerbitan instrumen hutang; dan

3. Dana internal perusahaan/kas perusahaan.

c. Berdasarkan pernyataan yang disampaikan oleh manajemen ISAT kepada

Tim pemeriksa Bapepam, pengumuman yang disampaikan oleh ISAT kepada

masyarakat, melalui media massa, dilakukan mengingat bahwa berdasarkan hasil

rapat pada tanggal 15 Mei 2002 pagi bersama dengan Kementerian BUMN,
105

diperoleh kepastian bahwa Pemerintah Indonesia menyetujui dilaksanakannya

pengeluaran saham baru namun diminta untuk dilaksanakan setelah divestasi

saham ISAT oleh pemerintah;

d. Berdasarkan keterangan Sdr. Habimono Koesoebjono (Direktur

Keuangan dan Administrasi ISAT) diperoleh fakta bahwa sebenarnya untuk

pembayaran tahap pertama (28 Juni 2002) pembelian saham PT Satelindo yang

dimiliki oleh DT sebesar 65 juta US Dollar cukup diambil dari dana internal

ISAT atau tidak perlu dilakukan pengeluaran saham baru;

e. Berkaitan dengan keterangan kepada Bapepam, Sdr. Hari Kartana, dalam

kapasitasnya sebagai Direktur Utama ISAT, menyatakan bahwa kalimat

“kombinasi” seharusnya adalah “alternatif” karena adanya ketidakpastian

pelaksanaan corporate action ISAT, sedangkan pembelian saham PT Satelindo

adalah merupakan sesuatu yang harus dilakukan;

f. Terhadap fakta-fakta tersebut di atas, dapat dianalisa bahwa :

1. Antara pengumuman yang dikeluarkan oleh ISAT yang

menyatakan bahwa pendanaan berasal dari “kombinasi” beberapa corporate

action, serta fakta hasil rapat pihak manajemen ISAT yang menyepakati

pendanaan diperoleh dari “alternatif” atas beberapa corporate action, kedua

fakta tersebut apabila dianalisa akan memiliki pengertian yang sangat

berbeda bagi kepentingan keputusan investasi investor;

2. Pengumuman ISAT pada tanggal 15 Mei 2002 mengisyaratkan

bahwa ISAT akan segera melakukan pengeluaran saham baru sebanyak 54,5
106

juta saham untuk pembiayaan pembelian saham PT Satelindo milik DT, hal

ini mengingat bahwa berdasarkan keterangan Pihak manajemen ISAT,

pemerintah Indonesia telah meminta kepada ISAT untuk melaksanakan

pembelian saham PT Satelindo yang dimiliki oleh DT beserta seluruh

prosesnya selesai dilakukan sebelum akhir bulan Juni 2002;

3. Akibat pengumuman ISAT, yang mempunyai perbedaan waktu

yang hampir bersamaan dengan pengumuman pemerintah tentang divestasi

pemerintah atas saham ISAT, maka terdapat fakta kurangnya minat investor

dalam dan luar negeri untuk membeli saham ISAT dalam proses divestasi

oleh Pemerintah, sementara investor lebih memilih untuk menunggu kegiatan

pengeluaran saham baru sebanyak 54,5 juta saham oleh ISAT, fakta ini

didukung oleh fakta-fakta lain sebagai berikut :

1. Menurunnya harga saham ISAT pada periode pelaksanaan divestasi

oleh Pemerintah,

2. Tidak tercapainya target penjualan sebanyak 11,32% saham ISAT

milik Pemerintah Indonesia sebagaimana yang direncanakan semua.

3. Minimnya minat investor dalam negeri, diluar PT. Jamsostek dan

OD, untuk melakukan pembelian saham ISAT dalam proses divestasi

oleh Pemerintah Indonesia.

4. Hingga saat dibuatnya release ini ternyata manajemen ISAT belum

melakukan kegiatan pengeluaran saham baru sebanyak 54,5 juta saham,

sebagaimana telah diumumkan pada 15 Mei 2002;


107

5. Selain hal tersebut pada huruf (c) diatas, pengumuman yang telah

dikeluarkan oleh ISAT telah terbukti pula memberikan pengaruh terhadap

keputusan investasi masyarakat atas saham ISAT. Pengaruh tersebut

secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Pada tanggal 15 Mei 2002, Kementerian BUMN mengumumkan

rencana penjualan 11,32% atau sebanyak 117,2 juta saham ISAT;

b. Pada tanggal 15 Mei 2002, ISAT mengeluarkan pengumuman

berkaitan dengan pendanaan pembelian saham PT Satelindo yang

dimiliki oleh DT;

c. Pada tanggal 16 Mei 2002, Reuters memberitakan target

penjualan saham ISAT oleh Kementerian BUMN sebesar Rp.1, 4

triliun;

d. Pengumuman yang mengatakan bahwa pendanaan berasal dari

kombinasi corporate action memiliki pengertian bahwa pembelian

saham PT Satelindo yang dimiliki oleh DT akan dilakukan ISAT

dengan terlebih dahulu melakukan beberapa corporate action

diantaranya pengeluaran saham baru ISAT;

e. Bahwa pengumuman pembelian saham PT Satelindo yang

dimiliki oleh DT memberikan isyarat akan segera dilakukannya

pengeluaran saham baru ISAT;

f. Bahwa adanya hubungan antara direleasenya berita oleh Reuters

mengenai target pendapatan atas penjualan 11,32% saham ISAT


108

sebesar Rp. 1,4 triliun, analisa atas berita ini dapat diprediksikan

bahwa harga saham ISAT untuk setiap saham yaitu Rp. 11.950,-,

sementara pada hari yang sama, harga saham ISAT di BEJ berkisar

antara Rp. 12.600,- s/d Rp. 13.200,-;

g. Pengumuman ISAT berkaitan dengan pembelian saham PT

Satelindo yang dimiliki oleh DT, analisa atas pengumuman ini adalah

bahwa akan dilakukannya pengeluaran saham baru oleh ISAT, hal ini

berarti kepemilikan atas saham ISAT periode sebelum dilakukannya

pengeluaran saham baru oleh ISAT akan mengakibatkan terdilusinya

saham yang dimiliki oleh publik/masyarakat;

h. Baik pengumuman ataupun release mengenai target pendapatan

yang dikeluarkan oleh Kementerian BUMN dan Reuters berkaitan

dengan pelaksanaan divestasi saham ISAT dan pengumuman yang

dikeluarkan oleh ISAT berkaitan dengan pembelian saham PT

Satelindo yang dimiliki oleh DT saling memiliki hubungan dan

pengaruh secara signifikan. Analisa atas pengaruh tersebut adalah

sebagai berikut :

1. Pengumuman Kementerian BUMN serta release Reuters

berdampak terhadap analisa investor mengenai harga saham

ISAT;

2. Pengumuman ISAT berkaitan dengan pembelian saham

PT. Satelindo yang dimiliki oleh DT berdampak terhadap prediksi


109

masyarakat bahwa akan dilakukannya pengeluaran saham baru

oleh ISAT;

3. Bahwa pengumuman Kementrian BUMN dan release

Reuters serta diumumkannya pembelian saham PT. Satelindo

yang dimiliki oleh DT kemudian mengakibatkan dilakukannya

penjualan saham ISAT oleh investor;

4. Terdapat fakta terjadinya penurunan harga dilakukannya

stabilisasi harga oleh OD serta suspensi oleh BEJ; dan

5. Kemudian masyarakat lebih memilih untuk menunggu

pelaksanaan pengeluaran saham baru oleh ISAT yang telah

diperediksikan akan dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu

lama setelah dilakukannya divestasi saham ISAT milik

Pemerintah.

Bahwa berkaitan dengan pelaksanaan beberapa corporate action oleh ISAT

sebagaimana tersebut diatas, terdapat kesimpangsiuran sehubungan dengan penunjukkan

penasihat keuangan ISAT. Kesimpangsiuran dimaksud tercermin dari :

a. Adanya pernyataan dari manajemen ISAT kepada Bapepam bahwa PT

Mandiri Sekuritas (Selanjutnya disebut “CC”) tidak pernah ditunjuk sebagai

penasihat keuangan atas beberapa corporate action ISAT;

b. Adanya pernyataan dari Pihak CC kepada Bapepam bahwa pihaknya

adalah merupakan penasihat keuangan yang sah dari ISAT;


110

c. Keabsahan dokumen surat perjanjian yang meragukan dari segi hukum,

berkaitan dengan tanda tangan para Pihak, lingkup mandat yang diberikan,

penanggalan dan perbedaan dokumentasi yang dimiliki oleh masing-masing Pihak.

d. Diserahkannya dokumen surat perjanjian penunjukkan CC sebagai

penasihat keuangan ISAT oleh pihak ISAT, tanpa terlebih dahulu melakukan

penelitian terhadap keabsahan dokumen dimaksud;

e. Terdapatnya perbedaan pernyataan diantara direksi ISAT berkaitan

dengan prosedur dan kewenangan penunjukkan penasihat keuangan ISAT;

f. Terdapatnya indikasi yang kuat atas penyalahgunaan wewenang oleh

beberapa pihak direksi ISAT berkaitan dengan pelaksanaan corporate action,

khususnya pembelian saham PT Satelindo milik DT;

g. Tidak terdapatnya koordinasi yang baik diantara manajemen ISAT

berkaitan dengan corporate action, khususnya pembelian saham PT Satelindo milik

DT.

h. Keikutsertaan PT Merril Lynch Indonesia (Selanjutnya disebut “ML”)

dalam beberapa pembicaraan antara ISAT, dan CC. ML menyatakan bahwa

pihaknya diminta oleh CC untuk membantu pelaksanaan corporate action ISAT.

Antara CC dan ML tidak ada perjanjian tertentu yang menyatakan bahwa ML adalah

Pihak yang terlibat dalam proses corporate action ISAT.

Bahwa berkaitan dengan proses corporate action yang dilakukan oleh ISAT,

telah terjadi beberapa pertemuan diantara para Pihak, termasuk pertemuan di Singapura

pada tanggal 8 Mei 2002. Berkaitan dengan pernyataan Pihak ML sehubungan dengan
111

pertemuan pada tanggal 7 dan 8 Mei di Hotel Ritz Carlton Singapura, diperoleh fakta

bahwa Merril Lynch Singapura (Selanjutnya disebut “MLS”), yang berada dalam satu

group dengan ML, memiliki pendapat dan telah pernah mengusulkan bahwa proses

divestasi saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia serta penjualan saham baru oleh ISAT

untuk dilakukan dalam waktu yang bersamaan.

Analisa pihak MLS adalah :

1. Apabila tidak dilakukan dalam waktu yang bersamaan, hasilnya

akan buruk; dan

2. Apabila tidak dilakukan dalam waktu yang bersamaan akan dapat

mempengaruhi harga saham ISAT.

Terdapat perbedaan analisa antara pihak Merril Lynch dan pihak penasihat

keuangan pemerintah dalam proses divestasi, khususnya mengenai apakah divestasi

saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia dan pengeluaran saham baru oleh ISAT dapat

dilakukan dalam waktu yang bersamaan atau harus dilakukan secara terpisah;

Usulan pihak Merril Lynch tersebut diatas dinyatakan tidak disetujui pada saat

rapat tanggal 15 Mei 2002 dan pihak Merril Lynch telah menyampaikan hal tersebut

kepada Merril Lynch Hong Kong dan Singapura. Bahwa berkaitan dengan proses

divestasi saham ISAT yang dimiliki oleh Pemerintah Indonesia, adalah benar terdapat

Pihak dari CSFB (Sdr.Helman Sitohang/HS) dan Pihak dari PT Nusantara Capital (Sdr.

Agus Prodjosasmito/AP) yang telah melakukan pembicaraan berkaitan dengan program

divestasi saham ISAT yang dilakukan oleh Kementerian BUMN. AP adalah Penasihat

dari PT Nusantara Capital (Selanjutnya disebut “NC”);


112

Berdasarkan perjanjian diantara para Pihak berkaitan dengan proses divestasi

saham ISAT yang dimiliki oleh Pemerintah Indonesia, OD dan CSFB masing-masing

bertindak sebagai Pihak yang menawarkan saham ISAT kepada lokal investor dan

internasional investor.

Terdapat fakta bahwa AP dan HS pernah melakukan pertemuan membahas

permasalahan divestasi saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia, AP dan HS beberapa

kali melakukan pembicaraan melalui telepon membahas permasalahan divestasi saham

ISAT oleh Pemerintah Indonesia dan AP dan HS telah secara sadar mengetahui

kapasitas masing-masing Pihak dengan pengertian bahwa NC dan CSFB bukan

merupakan Pihak yang telah memiliki izin dari Bapepam untuk melakukan aktifitas di

Pasar Modal Indonesia; dan berdasarkan perjanjian antara OD, CSFB dan Kementerian

BUMN, CSFB berkedudukan sebagai international financial advisor yang melakukan

penjualan saham ISAT kepada investor luar negeri.

Sdr. Robby Christian Winarta (RCW) dari CSFB yang merupakan staff HS, pada

tanggal 16 Mei 2002 telah secara sengaja mengirimkan jadual tentative timetable

pelaksanaan divestasi saham ISAT kepada Sdri. Atty A. Abidin (AA) yang merupakan

staff dari NC, dokumen tersebut dikirimkan setelah terlebih dahulu AA dan RCW

melakukan pembicaraan melalui telepon;

Dokumen sebagaimana disebutkan diatas, yang dikirimkan melalui fax adalah

merupakan dokumen rahasia yang dikirimkan kepada Pihak ketiga yaitu NC, karena

(berdasarkan pengakuan RCW) dia telah diberitahu oleh AA bahwa AP telah meminta

langsung kepada HS berkaitan dengan hal tersebut (telah ada kerjasama);


113

Atas dasar beberapa kali pembicaraan dan dikirimkannya copy timetable, Pihak

NC beranggapan bahwa CSFB telah memberikan kewenangan kepada NC untuk

melakukan penawaran guna mencari data minat investor atas penjualan saham ISAT

oleh Kementerian BUMN, hal tersebut ditindaklanjuti dengan terlebih dahulu membuat

formulir pemesanan.

Formulir pemesanan mencantumkan NC dan kontak person AA dan Sdr. Jimmy

Ganda, Sdr. Jimmy Ganda (JG) adalah merupakan pegawai/sales dari PT. Namalatu

Ronesina (Selanjutnya disebut “LH”), surat pengangkatan JG sebagai pegawai

ditandatangani oleh Direksi LH pada tanggal 3 Juni 2002. NC adalah tercatat sebagai

nasabah institusi dari LH.

Berdasarkan hasil pemeriksaan konfrontasi, baik JG maupun AA terbukti

mengetahui dan secara sengaja mencantumkan nama mereka pada formulir pemesanan.

Pada tanggal 15 Mei 2002 telah dilakukan rapat dikantor Kementerian BUMN yang

melakukan pembahasan mengenai divestasi saham ISAT dan program pengeluaran

saham baru oleh ISAT, rapat dihadiri oleh penasihat keuangan Kementerian BUMN, CC

dan ML.

Rapat dilaksanakan sebanyak 3 (tiga) kali, pagi, siang dan malam. Rapat yang

dilaksanakan malam hari dihadiri oleh Pihak ISAT serta CC dan ML. Pihak ML

diperkenalkan oleh CC selaku Pihak yang akan membantu CC sebagai penasihat

keuangan.

Terdapat pernyataan dari pihak manajemen ISAT bahwa ISAT tidak berkenan

atas kehadiran pihak ML dalam rapat dimaksud. Pada tanggal 16 Mei 2002, ML
114

melakukan penjualan saham ISAT sebanyak 4.135.500 lembar dari 2 (dua) nasabahnya

yaitu Merril Lynch Pierce, Fenner and Smith Inc., (MLPFNS) sebanyak 3.535.500

lembar dan Merril Lynch International (MLI) sebanyak 600.000 lembar dengan total

volume perdagangan sebesar 39,48% dari seluruh volume transaksi saham ISAT pada

tanggal 16 Mei 2002.

Berkaitan dengan kemungkinan terjadinya perdagangan orang dalam pada

perdagangan saham ISAT, Tim Pemeriksaan Bapepam telah menemukan beberapa fakta

yang relevan, sebagai berikut :

1. Keikutsertaan pihak ML dalam beberapa pertemuan dan

pembicaraan berkaitan dengan corporate action ISAT.

2. Adanya hubungan antara CC dengan pihak ML dimana CC

merupakan pihak yang menyatakan diri sebagai penasihat keuangan ISAT dan

memiliki informasi berkaitan dengan corporate action ISAT;

3. CC menyatakan bahwa memang benar CC meminta bantuan ML

secara lisan bagi kepentingan kedudukannya sebagai penasihat keuangan ISAT

dalam corporate action ISAT;

4. Adanya analisa pihak ML berkaitan dengan waktu pelaksanaan

divestasi dan corporate action ISAT yang dapat dilakukan secara bersamaan atau

terpisah tersebut dapat berpengaruh terhadap harga saham ISAT;

5. Adanya keputusan untuk memisahkan waktu pelaksanaan divestasi

dan corporate action ISAT yang diketahui oleh pihak ML pada tanggal 15 Mei 2002;

dan
115

6. Adanya penjualan saham ISAT yang dilakukan oleh ML pada

tanggal 16 Mei 2002.

Bahwa hingga saat ini Bapepam masih melakukan pemeriksaan berkaitan dengan

beneficial owners atas transaksi yang dilakukan oleh ML pada tanggal 16 Mei 2002. Hal

ini perlu dilakukan mengingat bahwa berdasarkan ketentuan peraturan perundang-

undangan yang berlaku, dalam membuktikan unsur pelanggaran perdagangan orang

dalam, wajib dipenuhinya secara kumulatif unsur-unsur sebagai berikut :

a. Adanya orang dalam;

b. Adanya informasi orang dalam; dan

c. Adanya transaksi yang dilakukan berdasarkan informasi orang dalam.

Berkaitan dengan kemungkinan terjadinya informasi yang menyesatkan

(misleading information) dalam proses divestasi saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia

serta corporate action ISAT, Tim Pemeriksaan Bapepam telah menemukan beberapa

fakta yang relevan, sebagai berikut :

1. Terdapat Pihak pada Kementerian BUMN yang telah membuat

pernyataan atau memberikan keterangan secara tidak cukup berhati-hati dalam hal

mana terdapat kemungkinan bahwa keterangan yang diberikan secara material

adalah tidak benar atau menyesatkan.

2. Pernyataan ataupun keterangan dimaksud berkaitan dengan:

a. Pencapaian target pendapat dari divestasi yang akan dilakukan;

b. Adanya dugaan atau tuduhan telah terjadinya Insider Trading yang

dilakukan oleh Pihak tertentu.


116

c. Direlease-nya berita oleh Reuters berkaitan dengan target privatisasi

pemerintah atas saham ISAT sebesar Rp. 1.4 Trilliun dari penjualan sebanyak

11.32 persen saham ISAT yang dimiliki oleh Pemerintah;

d. Tidak terdapat upaya memberikan kepastian berkaitan dengan rencana

pengeluaran saham baru ISAT, yang seharusnya dilakukan oleh Pihak

management ISAT, hal ini dibuktikan dengan munculnya ketidakpastian di

tengah masyarakat berkaitan dengan corporate action ISAT, serta proses

divestasi saham ISAT oleh Kementerian BUMN sehingga mengakibatkan

dilakukannya suspensi saham ISAT di BEJ pada tanggal 16 Mei 2002 (Sekitar

jam 15.32 waktu JATS) pada harga Rp. 12.600,-.

Berdasarkan fakta-fakta serta analisa hukum sebagaimana telah disampaikan

diatas serta berdasarkan ketentuan Pasal 100, Pasal 101 serta pasal 102 UUPM, maka

Bapepam memutuskan untuk melakukan tindakan hukum kepada Pihak-pihak, sebagai

berikut :

1. Kepada ISAT, atas pelanggaran ketentuan Pasal 93 UUPM,

serta dengan mempertimbangkan bahwa berdasarkan fakta-fakta yang telah

ditemukan berkaitan dengan pelanggaran yang telah dilakukan oleh ISAT

sebagaimana telah disebutkan diatas, akan ditingkatkan ketahap penyidikan;

2. Berdasarkan penjelasan atas ketentuan Pasal 100 ayat (2),

disebutkan bahwa :

“Apabila Bapepam berpendapat bahwa suatu kegiatan yang dilakukan itu merupakan
pelanggaran terhadap UUPM dan atau peraturan pelaksanaannya dan mengakibatkan
117

kerugian terhadap kepentingan Pasar Modal dan atau membahayakan kepentingan


pemodal dan masyarakat, maka tindakan penyidikan dapat mulai dilakukan”

3. Mempertimbangkan bahwa berdasarkan fakta-fakta yang telah

ditemukan berkaitan dengan NC, dan CSFB sebagaimana telah disebutkan diatas,

walaupun tidak terdapat fakta berkaitan dengan adanya kepentingan Pasar Modal

yang dirugikan dan atau kepentingan pemodal dan masyarakat yang berada dalam

bahaya akibat tindakan yang dilakukan oleh beberapa Pihak yang bekerja pada NC

dan CSFB tersebut, Bapepam, berdasarkan kewenangan yang dimilikinya,

memutuskan untuk tetap mengenakan sanksi kepada para Pihak, dengan keterangan

sebagai berikut :

a. Sanksi yang dikenakan adalah sebagai sanksi administratif

sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 102 ayat (1) dan ayat (2) UUPM;

b. Kepada CSFB, Bapepam berpendapat bahwa tindakan

yang telah dilakukan oleh CSFB adalah semata-mata berkaitan dengan

permasalahan perdata (diluar yurisdiksi Pasar Modal) diantara para Pihak yang

mengikatkan diri dalam perjanjian sebagai penasihat keuangan berkaitan dengan

pelaksanaan divestasi saham ISAT yang dimiliki oleh Kementerian BUMN,

maka Bapepam tidak memiliki kewenangan untuk mengenakan sanksi kepada

pihak CSFB.

c. Namun demikian, kepada CSFB, apabila Bapepam

dikemudian hari menemukan adanya indikasi pelanggaran atas peraturan


118

perundang-undangan di bidang Pasar Modal, maka Bapepam akan melakukan

pemeriksaan lebih lanjut terhadap CSFB;

d. Bahwa, berdasarkan fakta-fakta yuridis atas keterlibatan

beberapa Pihak yang bekerja pada NC dalam kasus yang berawal sejak

dilakukannya divestasi saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia ini, yang

dinyatakan telah berhasil melakukan penjualan namun tidak tercapainya target,

maka kepada pihak NC kiranya perlu dipertimbangkan unsur-unsur meringankan

dan memberatkan sebagai berikut :

1. Terdapat indikasi sangat kuat bahwa beberapa

Pihak yang bekerja pada NC melakukan tindakan menawarkan saham ISAT

dalam proses divestasi saham ISAT oleh pemerintah Indonesia karena adanya

dorongan kuat dari CSFB yang tidak memiliki kemampuan cukup untuk

melakukan penjualan kepada investor luar negeri dalam jumlah yang

diharapkan.

2. Tindakan yang telah dilakukan oleh beberapa

Pihak yang bekerja pada NC tidak terbukti telah memberikan dampak

terhadap pelaksanaan divestasi saham ISAT milik pemerintah;

3. Tindakan yang telah dilakukan oleh beberapa

Pihak yang bekerja pada NC tidak terbukti telah mempengaruhi harga

perdagangan saham ISAT di Bursa Efek maupun harga penawaran atas

saham ISAT oleh Pemerintah Indonesia;


119

4. Tindakan yang dilakukan oleh beberapa Pihak

yang bekerja pada NC berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dalam proses

pemeriksaan adalah lebih disebabkan karena kurang professionalnya

beberapa Pihak pada NC (yang telah mendapatkan izin dari Bapepam) dalam

melakukan aktifitas usahanya;

5. NC tidak memiliki izin dari Bapepam; dan

6. Para Pihak adalah mereka yang telah memiliki izin

di pasar Modal Indonesia, sepatutnya mengetahui bahwa aktifitas yang

mereka lakukan hanya dapat dilakukan oleh Perusahaan Efek yang telah

mendapatkan izin dari Bapepam.

Dengan mempertimbangkan pula penjelasan atas ketentuan Pasal 102 ayat (1)

UUPM, maka kepada AP, AA, RR dan RS. Bapepam memutuskan untuk mengenakan

sanksi administratif berupa :

a. Denda kepada AP sebesar Rp.

100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

b. Denda kepada AA, RR, dan RS masing-

masing sebesar Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah); dan

c. Menetapkan bahwa kepada para Pihak,

apabila dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari kerja sejak ditetapkannya sanksi

Bapepam tidak melaksanakan kewajibannya untuk membayar denda, maka Bapepam

akan memberikan tambahan sanksi, dengan ketentuan sebagai berikut :


120

Larangan melakukan kegiatan di Pasar Modal Indonesia dan Melakukan hubungan

usaha dalam bentuk apapun dengan Pihak sebagaimana dimaksud dalam penjelasan

Pasal 102 ayat (1) UUPM untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan

Pasar Modal Indonesia, larangan tambahan dimaksud berlaku kepada AP selama 2

(dua) tahun dan kepada AA, RR, dan RS selama 1 (satu) tahun sejak Bapepam

menetapkan bahwa para Pihak tidak melaksanakan kewajibannya

Berdasarkan keputusan Bapepam berkaitan dengan pengenaan sanksi ini

Bapepam memberikan larangan melakukan kegiatan di Pasar Modal selama 5 (lima) hari

kerja kepada JG yang terbukti telah turut serta berpartisipasi dalam upaya menawarkan

saham ISAT dalam proses divestasi saham ISAT milik Pemerintah.

Berdasarkan ketentuan Pasal 31, maka kepada LH diberikan peringatan keras

sebagai bentuk pertanggungjawaban Perusahaan Efek atas perilaku pegawainya. Kepada

Pihak-pihak lainnya, berdasarkan hasil temuan yang diperoleh Bapepam dalam proses

pemeriksaan, mengingat terdapat beberapa permasalahan yang merupakan permasalahan

perdata diantara para Pihak dan bukan merupakan suatu tindakan hukum yang berada

dibawah yurisdiksi Pasar Modal Indonesia, maka Bapepam membuka seluas-luasnya

kemungkinan dilakukannya tindakan hukum oleh para pihak atas permasalahan perdata

diantara mereka berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku

untuk itu.

Bahwa berkaitan dengan dugaan adanya perdagangan orang dalam, hingga saat

ini Bapepam masih perlu melakukan pemeriksaan berkaitan dengan adanya

kemungkinan dilakukan transaksi saham ISAT atas informasi orang dalam. Hingga saat
121

ini Bapepam masih mengupayakan diperolehnya data-data transaksi secara lengkap

khususnya kepada pihak-pihak atau badan-badan hukum luar negeri yang terbukti

melakukan transaksi atas saham ISAT.

Berkaitan dengan hal tersebut, saat ini Bapepam mengupayakan melakukan

kerjasama dengan otoritas Pasar Modal lainnya berdasarkan kesepakatan yang telah

ditetapkan oleh IOSCO (Organisasi Pengawas Pasar Modal Internasional). Bahwa

dengan diumumkannya hasil pemeriksaan ini kepada masyarakat, diharapkan kepada

seluruh Pihak untuk kiranya dapat memberikan informasi, fakta dan bukti-bukti kepada

Bapepam berkaitan dengan pelanggaran maupun kejahatan dalam perdagangan saham

ISAT.
122

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan.

1. Aspek hukum Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance)

di Indonesia mengambil dari Organization for Economy Cooperation and

Development (OECD) yang mengatur empat prinsip dasar Good Corporate

Governance yaitu diperlukannya sebuah sistem yang mampu menjamin

berlangsungnya praktek-praktek usaha yang berdasarkan kepada keterbukaan

(transparency), pertanggungjawaban (responsibility), keadilan (fairness) dan

akuntabilitas (accountability).

Prinsip Fairness atau keadilan yang berlaku di Pasar Modal mengutamakan pada

persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham dan adanya perlindungan

hukum terhadap pemegang saham minoritas, karena investor baik asing maupun

lokal dalam pasar modal berkedudukan sebagai pemegang saham minoritas sehingga

perlu lebih diperhatikan perlindungan hukumnya.

Prinsip Transparency atau transparansi yang ada di Pasar Modal adalah Perusahaan

wajib mendisclose material yang akurat, memadai serta tepat waktu sehingga

pemegang saham maupun investor dapat menggunakan informasi tersebut dalam

mengambil keputusan investasinya.

Prinsip Accountability atau akuntabilitas pada pasar modal dimana pengurus

perusahaan wajib melakukan pengelolaan perusahaan dengan sungguh-sungguh serta

melakukan hal terbaik untuk kepentingan perusahaan (fiduciary duties).


123

Berdasarkan hal diatas dapat dikatakan bahwa Corporate Governance pada

Perusahaan yang mendaftarkan sahamnya di Pasar Modal (Emiten) berupa :

1. Perlindungan hak-hak pemegang saham.

2. Persamaan perlakuan terhadap pemegang saham.

3. Peranan pengurus perusahaan.

4. Peranan stakeholder.

5. Aspek keterbukaan.

2. Good Corporate Governance telah cukup baik dilaksanakan di Pasar Modal oleh

BAPEPAM yang berkedudukan sebagai pembina dan pengawas Pasar Modal yang

membuat peraturan pasar modal dengan mendasarkan pada Komite Nasional Bagi

Pengelolaan Perusahaan dan OECD’S GCG.

Dalam rangka menuju era globalisasi dan perkembangan Pasar Modal yang pesat,

BAPEPAM selalu berusaha untuk mengikuti dan mengakomodasi, serta melindungi

kepentingan investor yang merupakan pemegang saham minoritas, pelaku pasar

modal dan masyarakat umum dengan membuat peraturan-peraturan baru dan

merevisi peraturan yang telah ada.

Hal diatas dilakukan dengan pertimbangan bahwa Pasar Modal merupakan sumber

dana jangka menengah dan jangka panjang yang sangat penting bagi pembangunan

Nasional, pasar modal memungkinkan bagi dunia usaha yang membutuhkan dana

atau modal untuk menggerakkan roda usaha dengan memperoleh langsung dari

masyarakat melalui penerbitan saham atau berbagai jenis efek lainnya.


124

Dengan demikian Pasar Modal mempunyai peran penting dalam mengembangkan

dan menjaga stabilitas sistem ekonomi secara keseluruhan. Dengan pertimbangan

pentingnya Pasar Modal bagi perekonomian Nasional maka independensi

BAPEPAM sebagai regulatory organization sangat diperlukan.

3. Penyelesaian pelanggaran penerapan Pengelolaan Perusahaan yang baik (Good

Corporate Governance) di Pasar Modal yang dilakukan oleh BAPEPAM dilakukan

dengan prinsip kehati-hatian dan keterbukaan agar investor tidak dirugikan dengan

informasi yang menyesatkan.

B. Saran.

1. Peraturan perundang-undangan yang ada saat ini yaitu Undang-

Undang Perseroan Terbatas dan Undang-Undang Pasar Modal sebaiknya

diamandemen dengan memasukkan unsur-unsur Good Corporate Governance.

2. Rancangan Undang-Undang Pasar Modal sebaiknya mengatur

independensi BAPEPAM dan sebaiknya berfungsi seperti pengadilan yang khusus

menangani pengawasan di Pasar Modal.

3. BAPEPAM sebaiknya mempunyai divisi atau bagian yang khusus

menangani Good Corporate Governance.


125

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Good Corporate Governance: Bisakah Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat?,

http://artikel.us/sulistyanto1.html.

Sofyan A Djalil, Good Corporate Governance, disampaikan pada Seminar Corporate

Governance di Universitas Sumatera Utara pada tanggal 26 Juni 2000.

FCGI, “Seri Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) Jilid II : Peranan Dewan

Komisaris dan Komite Audit dalam pelaksanaan Corporate Governance (Tata Kelola

Perusahaan)”

Peranan BAPEPAM dalam penegakan Corporate Governance, http://www.nccg-

indonesia.org/lokakarya/yogyaherwit.html

http://216.239.57.104/search?

q=cache:94hc_1VFofsJ:www.safitri.com/lawoffice/indo/aspek_good_corporate_governa

nce.htm+makalah+good+corporate+governance&hl=en&ie=UTF-8

Anis Baridwan, Corporate Governance dari sudut pandang pasar modal, disusun oleh

Sofyan A. Djalil, Hukum Perusahaan dan Kepailitan, Fakultas Hukum Universitas

Indonesia Program PascaSarjana, Jakarta, 2002.

Widjaya, I.G. Rai, Hukum Perusahaan, (Jakarta : Mega Poin, 2000).

Sofyan Djalil A, Hukum Perusahaan Dan Kepailitan, (Jakarta : FHUI, 2002).

http://www.theceli.com/dokumen/produk/1995/uu1-1995.htm

Munir Fuady, Doktrin-Doktrin Modern Dalam Corporate Law, (Bandung : PT. CITRA

ADITYA BAKTI, 2002), Hal. 74-75


126

Industri Pasar Modal di Indonesia http://www.asiasecurities-

online.com/prospektus/struktur_pmi.htm

D. Cox James, Hazeen Thomas Lee dan O’Neal R. Hodge, Corporations, Aspen Law &

Business, (USA : A Division of Aspen Publishers, Inc, 1997), Hal. 400.

Wijatno, H. R, Djokomartono, R, Suhendar Wahyu, Samad Usman, Anwar Mohamad

dan Chanif Abu, Reformasi Pasar Modal dan Strategi bermain saham, kerukunan

pensiun Departemen Keuangan RI, Jakarta 2002, hal. 431.

Alijoyo F Antonius, Komite Audit yang efektif : Belajar dari kasus Enron, Forum for

Corporate Governance in Indonesia (FCGI).

Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit Dalam rangka Implementasi GCG,

http://www.reindo.co.id/reinfokus/edisi24/peranan.htm

Bapepam, Annual Report 2002, http://www.bapepam.go.id/profil/annual/PE_2002.htm

Mengenal Pasar Modal http://www.jsx.co.id/education.asp?cmd=menu1

http://www.bapepam.go.id/profil/sejarah/sejarah_bapepam.htm

Industri Pasar Modal di Indonesia http://www.asiasecurities-

online.com/prospektus/struktur_pmi.htm

Badan Pengawas Pasar Modal, Departemen Keuangan RI, Sekilas Pasar Modal

Indonesia,

Annual Report Bapepam 2000,

http://www.bapepam.go.id/profil/annual/hukum_2000.htm

http://www.bapepam.go.id/old/profil/annual/pembaca2000.htm
127

Prinsip Full Disclosure Di Pasar Modal, Analisa Yuridis oleh Indra Safitri,

http://business.fortunecity.com/buffett/842/art220299_prinsipfulldisc.htm.

Siapa-siapa pemeriksa dan penyidik yang “Galak” di Bursa,

http://business.fortunecity.com/buffett/842/art000026_siapapemeriksa.htm
128

LAMPIRAN