Anda di halaman 1dari 9

RUMAH SAKIT UMUM

DAERAH BANYUMAS



PENDIDIKAN KESEHATAN : MANAJEMEN NYERI

Jl. Rumah Sakit No.1
Banyumas
No. Dokumen
......../IK/2012
No. Revisi

Halaman

PROSEDUR TETAP
DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR RSU BANYUMAS




dr. GEMPOL SUWANDONO, MM
Pembina Utama Muda
NIP. 19620831 198901 1 002
I. PENGERTIAN : Menyiapkan pasien dan keluarga tentang strategi mengurangi nyeri
atau menurunkan nyeri ke level kenyamanan yang diterima oleh
pasien
II. TUJUAN : Memfasilitasi pasien untuk tindakan pengurangan nyeri
III. KEBIJAKAN : Dilakukan pada pasien yang mengalami nyeri
IV. PROSEDUR : 1. Lakukan pengkajian yang komprehensif tentang nyeri,
termasuk lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas, atau beratnya nyeri dan faktor presipitasi
2. Amati perlakuan non verbal yang menunjukkan
ketidaknyamanan, khususnya ketidakmampuan komunikasi
efektif
3. Pastikan pasien menerima analgesik yang tepat
4. Gunakan strategi komunikasi terapeutik yang dapat diterima
tentang pengalaman nyeri dan merasa menerima respon
pasien terhadap nyeri
5. Identifikasi dampak pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup
6. Evaluasi pasca mengalami nyeri termasuk riwayat individu dan
keluarga mengalami nyeri kronik atau yang menimbulkan
ketidakmampuan
7. Evaluasi bersama klien tentang efektifitas pengukuran kontrol
paska nyeri yang dapat digunakan
8. Bantu pasien dan keluarga untuk memperoleh dukungan
9. Bersama keluarga mengidentifikasi kebutuhan untuk mengkaji
kenyamanan pasien dan merencanakan monitoring tindakan
10. Beri informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa
lama berakhir, antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur
11. Ajarkan kepada pasien untuk mengontrol faktor lingkungan
yang dapat mempengaruhi respon pasien mengalami
ketidaknyamanan (misal: temperature ruangan, cahaya,
kebisingan)
12. Mengajarkan pada pasien bagaimana mengurangi atau
menghilangkan faktor yang menjadi presipitasi atau
meningkatkan pengalaman nyeri (misal: ketakutan,
kelemahan, monoton, dan rendahnya pengetahuan)
13. Pilih dan implementasikan berbagai pengukuran (misal:
farmakologi, nonfarmakologi, dan interpersonal) untuk
memfasilitasi penurun nyeri
14. Mengajarkan kepada pasien untuk mempertimbangkan jenis
dan sumber nyeri ketika memilih strategi penurun nyeri
15. Anjurkan pasien untuk memantau nyerinya sendiri dan
intervensi segera
16. Ajarkan teknik penggunaan nonfarmakologi (misal:
biofeedback, TENS, hypnosis, relaksasi, guided imagery,
terapi musik, distraksi, terapi bermain, terapi aktivitas,
acupressure, terapi dingin/panas, dan pijatan)
17. Jelaskan tentang penggunaan analgetik untuk penurun nyeri
yang optimal
18. Gunakan pengukuran control nyeri sebelum nyeri meningkat
19. Lakukan verifikasi tingkat ketidaknyamanan dengan pasien,
catat perubahan pada rekam medik.
20. Evaluasi keefektifan pengukuran kontrol nyeri yang dilakukan
dengan pengkajian terus-menerus terhadap pengalaman nyeri
21. Modifikasi pengukuran kontrol nyeri pada respon pasien
22. Dorong istirahat yang adekuat/tidur untuk memfasilitasi
penurunan nyeri
23. Anjurkan pasien untuk mendiskusikan pengalaman nyeri,
sesuai keperluan
24. Beri informasi yang akurat untuk mendukung pengetahuan
keluarga dan respon untuk pengalaman nyeri
25. Melibatkan keluarga dalam modalitas penurun nyeri, jika
mungkin
26. Pantau kepuasan pasien dengan manajemen nyeri pada
rentang spesifik
V. UNIT TERKAIT : Instalasi Rawat Inap
ICU


SOP
MANAJEMEN NYERI


DEFINISI :
cara meringankan nyeri atau mengurangi nyeri sampai tingkat kenyamanan yang dapat diterima klien
1. Distraksi
Suatu metode untuk menghilangkan nyeri dengan cara mengalihkan perhatian klien pada hal-hal lain
sehingga klien akan lupa terhadap nyeri yang dialami

Tipe Distraksi
1. Distraksi visual
- Membaca/ menonton TV
- Menonton pertandingan
- Imajinasi terbimbing
2. Distraksi Auditori
- Humor
- Mendengar musik
3. Distraksi Taktil
- Bernapas perlahan & berirama
- Masase
- Memegang mainan
4. Distraksi Intelektual
- Teka teki silang
- Permainan kartu
- Hobi (menulis cerita)





2. RELAKSASI
Pengertian
Merupakan metode efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada klien yang mengalami nyeri kronis. Rileks
sempurna yang dapat mengurangi ketegangan otot, rasa jenuh, kecemasan sehingga mencegah
menghebatnya stimulus nyeri.
Tiga hal utama yag dibutuhkan dalam teknik relaksasi
- Posisi klien yang tepat
- Pikiran istirahat
- Lingkungan yang tenang
Prosedur pelaksanaan
1. Atur posisi klien agar rileks, posisi dapat duduk atau berbaring
2. Instruksikan klien untuk menghirup nafas dalam sehingga rongga paru berisi udara yang bersih
3. IIInstruksikan klien secara perlahan untuk menghembuskan udara dan membiarkannya keluar dari
setiap anggota bagian tubuh. Bersamaan dengan ini minta klien untuk memusatkan perhatian betapa
nikmat rasanya
4. Instruksikamklien untuk bernafas dengan irama normal beberapa saat (1-2 menit)
5. Instruksikan klien untuk nafas dalam, kemudian menghenbuskan perlahan-lahan dan merasakan saat
ini udara mengalir dari tangan, kaki menuju ke paru kemudian udara dibuaang keluar. Minta klien
memusatkan perhatian pada kaki dan tangan, udara yan dikeluarkan dan merasakan kehangatannya
6. Instruksikan klien untuk mengulangi prosedur no.5 dengan memusatkan perhatian pada kaki, tangan,
punggung, perut dan bagian tubuh yang lain.
7. Setelah klien merasa rileks, minta klien secara perlahan menanbah irama pernafasan. Gunakan
pernafasan dada atau abdomen. Jika nyeri bertambah gunakan pernafasan dangkal dengan frekuensi
yang lebih cepat.
RELAKSASI PROGRESIF
Pengertian
Teknik relaksasi otot dalam yang tidak memerlukan imajinasi, ketekunan atau sugesti
Pelaksanaan Prosedur
1. Beritahu klien bagaimana cara kerja relaksasi progresif
a. Jelaskan tujuan dan prosedur
b. Demonstrasikan metode menegangkan dan relaksasi otot
2. Cuci tangan
3. Berikan privasi klien
4. Bantu klien ke posisi yang nyaman (pastikan bagian tubuh disangga dan sendi agak fleksi tanpa ada
tegangan atau tarikan otot)
5. Anjurkan klien untuk mengistirahatkan pikiran (meminta klien untuk memandang sekeliling ruangan
secara perlahan)
6. Minta klien untuk menegangkan dan merelaksasi setiap kelompok otot
- Lakukan pada setiap kelompok otot, dimulai dari sisi yang dominan:
a. Tangan dan lengan bawah
b. lengan atas
c. Dahi
d. Wajah
e. Leher
f. Dada, bahu dan punggung
g. Abdomen
h. Paha
i. Otot betis
j. Kaki
7. Dorong klien untuk bernapas perlahan dan dalam.
8. Bicara dengan suara tenang yang mendorong relaksasi dan pimpin klien untuk berfokus pada setiap
kelompok otot (missal buat kepalan tangan yang kuat, genggam kepalannya dengan sangat kuat, tahan
tegangan 5-7 detik, lepaskan seluruh tegangan dan nikmati perasaan saat ototmu menjadi relaks dan
mengendur)
9. Kerutkan dahi keatas pada saat yang sama, tekan kepala sejauh mungkin ke belakang, putar searah
jarum jam dan kebalikannya, kemudian anjurkan klien untuk mengerutkan otot muka : cemberut, mata
dikedip-kedipkan, bibir dimonyongkan kedepan, lidah ditekan ke langit-langit dan bahu dibungkukkan 5-7
detik. Bimbing klien ke arah otot yang tegang, anjurkan klien untuk memikirkan rasanya, dan tegangkan
otot sepenuhnya kemudian rileks 12-30 detik.
10. Lengkungkan punggung ke belakang sambil menarik nafas dalam, tekan keluar lambung, tahan lalu
rileks. Tarik nafas dalam, tekan keluar perut, tahan, rileks.
11. Tarik jari dan ibu jari ke belakang mengarah ke muka, tahan, rileks. Lipat ibu jari secara serentak,
kencangkan betis paha dan pantat selama 5-7 detik, bimbing klien ke arah otot yang tegang, anjurkan
klien untuk merasakannya, dan tegangkan otot sepenuhnya, kemudian rileks selama 12-30 detik
12. Ulangi prosedur untuk kelompok otot yang tidak rileks
13. Akhiri latihan relaksasi
- Minta klien untuk menggerakkan badan secara perlahan dari tangan, kaki, lengan, tungkai, dan
terakhir kepala, leher.
14. Dokumentasikan


3. IMAJINASI TERBIMBING

Persiapan
Sediakan lingkungan yang nyaman dan tenang
Pelaksanaan
1. Jelaskan tujuan prosedur
2. Cuci tangan
3. Berikan privasi klien
4. Bantu klien ke posisi yang nyaman
- Posisi bersandar dan minta klien untuk menutup matanya
- Gunakan sentuhan jika klien terasa nyaman
5. Implementasikan tindakan untuk menimbulkan relaksasi
- Minta klien untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan atau pengalaman yang membantu
penggunaan semua indra dengan suara yang lembut.
- Ketika klien rileks, klien berfokus pada bayangannya dan saat itu perawat tidak perlu bicara lagi
- Jika klien menunjukkan tanda-tanda agitasi, gelisah atau tidak nyaman, hetikan latihan dan
memulainya lagi ketika klien telah siap.
- Relaksasi akan mengenai seluruh tubuh. Setelah 15 menit, klien harus memperhatikan tubuhnya.
Biasanya klien rileks setelah menutup mata atau mendengarkan musik yang lembut sebagai bagroud
yang membantu
- Catat hal-hal yang digambarkan klien dalam pikiran untuk digunakan pada latihan selanjutnya dengan
menggunakan informasi spesifik yang diberikan klien dan tidak membuat perubahan pernyataan klien.


4. PEMIJATAN (MASASE)
Pengertian
Pengurutan dan pemijatan yang menstimulasi sirkulasi darah serta metabolisme dalam jaringan.
Tujuan
- Mengurangi ketegangan otot
- Meningkatkan relaksasi fisik dan psikologis
- Mengkaji kondisi kulit
- Meningkatkan sirkulasi/peredaran darah pada area yang dimasase.
Persiapan Alat
- Pelumas (minyak hangat/lotion)
- Handuk
Prosedur pelaksanaan
1. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan
2. Identifikasi klien
3. Jelaskan tujuan dan prosedur
4. Cuci tangan
5. Atur klien dalam posisi telungkup. Jika tidak bisa, dapat diatur dengan posisi miring.
6. Letakkan Sebuah bantal kecil di bawah perut klien untuk menjaga posisi yang tepat
7. Tuangkan sedikit lotion ke tangan. Usap kedua tangan sehingga lotion rata pada permukaan tangan.
8. Lakukan masase pada punggung. Masase dilakuka dengan menggunakan jari-jari dan telapak
tangan, dan tekanan yang halus.
9. Metode masase :
- Selang-seling tangan. Masase punggung dengan tekanan pendek, cepat,
bergantian tangan



http://mutupelayanankesehatan.net/index.php/component/content/article/19-headline/513
Sakit Tetapi Tidak Boleh Nyeri: Standar Manajemen
Nyeri di RS
Gambaran menjadi pasien di rumah sakit yang identik dengan berbagai jenis pelayanan kesehatan yang
diberikan oleh pihak rumah sakit, acap kali memberikan ketakutan tersendiri bagi pasien akan rasa nyeri
yang dapat menyertai proses pemberian pelayanan kesehatan tersebut. Sebagai contoh, bagaimana
proses transfusi darah dapat memberikan rasa nyeri bagi si pasien, ataupun tindakan medis lainnya yang
dapat memberikan rasa nyeri pada pasien. Sumber-sumber nyeri dapat meliputi; prosedur tindakan
medis, tindakan keperawatan, dan prosedur diagnostik.
Nyeri sendiri dapat didefinisikan sebagai "pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan
yang berhubungan dengan kerusakan jaringan, baik aktual maupun potensial atau dilukiskan dalam istilah
seperti kerusakan" (The International Association for the Study of Pain, 1979).
Namun dewasa ini, banyak rumah sakit yang telah melakukan upaya intensif untuk mengelola rasa nyeri
tersebut, sehingga rasa nyeri yang menyertai tindakan medis, tindakan keperawatan, ataupun prosedur
diagnostik pada pasien dapat diminimalkan atau dilakukan tindak lanjut yang teratur, sesuai dengan
kriteria yang dikembangkan oleh rumah sakit dan kebutuhan pasien. Nyeri yang dirasakan pasien dikelola
dengan melakukan pemantauan secara kontinyu dan terencana. Bahkan dalam akreditasi Joint
Commission International (JCI) isu manajemen nyeri ini menjadi salah satu elemen penilaian yang
dipersyaratkan untuk dipenuhi oleh pihak rumah sakit. Berbagai bentuk pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada pasien harus mengacu pada pedoman pengelolaan rasa nyeri. Hal ini seperti tercantum
dalam standar akreditasi JCI berikut:
1. Patient and Family Rights (PFR)
PFR 2.4 Rumah sakit mendukung hak pasien untuk mendapatkan asesmen dan pengelolaan rasa sakit
yang tepat.
2. Assessment of Patients (AOP)
AOP 1.7 Semua pasien rawat inap dan rawat jalan diperiksa apakah mengalami rasa nyeri dan diperiksa
mengenai rasa nyeri tersebut jika ada.
3. Care of Patients (COP)
COP 6. Pasien didukung secara efektif dalam mengelola rasa nyerinya.
COP 7.1. Perawatan pasien dalam keadaan menjelang ajal mengoptimalkan kenyamanan dan
martabatnya.
Proses penerapan manajemen nyeri ini memerlukan peran aktif dari seluruh civitas hospitalia yang
memberikan pelayanan kesehatan pada pasien, serta peran langsung dari pasien itu sendiri, dimana
pasien didorong untuk menyampaikan rasa nyeri yang mereka alami. Sedangkan pada proses
pelaksanaannya, pihak rumah sakit dapat mempergunakan beberapa alternatif tools yang dapat
dipergunakan untuk mengukur dan mengkaji intensitas nyeri. Skala pengukuran nyeri sendiri dapat
didasarkan pada self report, observasi (perilaku), atau data fisiologis.
Berikut adalah beberapa tools yang dapat dipergunakan berdasar pada 'self report' pasien :
1. Verbal Rating Scale (VRS): Verbal Rating Scale merupakan jenis pengukuran nyeri yang telah lama
dipergunakan dan merupakan pengukuran nyeri dalam bentuk sederhana. Dapat berupa pertanyaan
sederhana 'apakah anda merasa nyeri?', yang dapat dijawab pasien dengan 'iya' atau 'tidak'. Namun,
biasanya dalam pengukuran ini mempergunakan 4 sampai dengan 5 titik intensitas skala dengan
deskripsi seperti; tidak nyeri, sedikit nyeri, nyeri sedang, sangat nyeri.
2. Visual Analog Scale (VAS): Visual Analog Scale (VAS) adalah instrumen untuk mengukur besarnya
nyeri pada garis sepanjang 10 cm. Biasanya berbentuk horizontal atau vertikal, dan garis ini digerakkan
oleh gambaran intensitas nyeri yang memiliki range dari tidak nyeri sampai dengan rasa nyeri yang
ekstrim.
3. Numerical Rating Scale (NRS): Numerical Rating Scale (NRS) hampir sama dengan Visual Analog
Scale, tetapi memiliki angka-angka sepanjang garisnya, kisaran angka 0-10 dan pasien diminta untuk
menunjukkan rasa nyeri yang dirasakannya.
4. Faces Rating Scale dari Wong Baker: Instrumen dengan menggunakan Faces Rating Scale terdiri dari
6 gambar skala wajah yang bertingkat dari wajah yang tersenyum untuk "no pain" sampai wajah yang
berlinang air mata. Pasien dapat menunjukkan dengan gambar, tingkat rasa nyeri yang dirasakannya.
Manajemen nyeri menjadi salah satu isu penting dalam proses pemberian layanan kesehatan kepada
pasien. Pada implementasinya pelayanan bermutu diberikan dengan mempedulikan rasa nyeri yang
dialami pasien, didukung dengan tools pengkajian nyeri yang sesuai dan terdokumentasi dengan baik
serta pemberian manajemen nyeri sesuai pedoman yang ditetapkan.
Referensi:
D. Gould et al. (2001). Journal of Clinical Nursing. Blackwell Science Ltd.
Hockenberry MJ, Wilson D (2009). Wong's Essentials of Pediatric Nursing. 8th Edition. St. Louis. Mosby.
John Hughes. (2008). Pain Management: From Basic to Clinical Practice, 1st Edition. Churchill
Livingstone Elsevier.
Joint Commission International Standar Akreditasi Rumah Sakit. Edisi Ke-4. Tahun 2010.