Anda di halaman 1dari 7

BISNIS INTERNASIONAL

Disusun Oleh:
Nama : Haniel Ari W
NIM : A01.12.0189
Prodi : Manajemen

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI
PELITA NUSANTARA
SEMARANG


I. Pengertian Bisnis
Bisnis merupakan suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen
atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Hal itu dirangkum menurut ilmu
ekonomi. Secara historis kata bisnis dari bahasa inggris business, dari kata dasar busy
yang berarti sibuk dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam
artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan.
Sedangkan dalam ekonomi kapitalis, dimana kebanyakan bisnis dimiliki oleh pihak
swasta, bisnis dibentuk untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran
para pemiliknya. Pemilik dan operator dari sebuah bisnis mendapatkan imbalan sesuai
dengan waktu, usaha, atau kapital yang mereka berikan. Namun tidak semua bisnis
mengejar keuntungan seperti ini, misalnya bisnis kooperatif yang bertujuan
meningkatkan kesejahteraan semua anggotanya atau institusi pemerintah yang
bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Model bisnis seperti ini kontras dengan
sistem sosialistik, dimana bisnis besar kebanyakan dimiliki oleh pemerintah,
masyarakat umum, atau serikat pekerja.

a) Aktivitas aktivitas Bisnis
1. Ekspor Insidentil
2. Ekspor Aktif
3. Penjualan Lisensi
4. Franchising
5. Pemasaran di Luar Negeri
6. Produksi dan Pemasaran di Luar Negeri


b) Globalisasi dan Bisnis Internasional
Globalisasi telah menjadi fenomena yang tidak dapat dihindarkan dalam dunia bisnis.
Perekonomian dunia semakin terbuka dan mengarah pada suatu kesatuan global. Lalu
lintas barang dan jasa telah melewati batas-batas negara. Barang dan jasa yang
diproduksi tidak hanya dikonsumsi oleh negera tersebbut, namun sudah dikonsumsi
oleh negara-negara lain. Globalisasi telah membuat batas-batas geografis dan teritorial
suatu negara menjadi semakin kabur. Globalisasi dapat didefinisikan sebagai suatu
kondisi saling tergantung dalam jaringan internasional meliputi transportasi,
distribusi, komunikasi, dan ekonomi yang melampaui garis batas teritorial negara.
Kegiatan produksi dan konsumsi sudah menjadi suatu kegiatan bersama di muka
bumi ini.

Salah satu bentuk globaliasasi ekonomi adalah tumbuhnya bisnis dalam skala global.
Dewasa ini, perusahaan-perusahaan berskala multinasional yang memiliki jaringan
bisnis global berkembang semakin banyak. Perusahaan-perusahaan seperti IBM, Coca
Cola, Philip Morris, Sony, Toyota, General Motor, DHL, UPS, Caltex, adalah
beberapa perusahaan yang beroperasi di banyak negara. Setelah berhasil
mengembangkan bisnis di negara asal, mereka kemudian melebarkan bisnisnya
memasuki pasar global.
Para penantang atau penghambat globalisasi berpendapat bahwa globalisasi membawa
implikasi timbulnya perdagangan bebas. Perdagangan bebas dipandang dapat
mematikan perusahaan domestik. Banyaknya perusahaan lokal yang bangkrut akan
menyebabkan bertambahnya pengangguran dan menurunnya daya beli konsumen.
Konsumen pun tidak akan mampu membeli barang-barng kebutuhannya.
Pada akhirnya, sudah tidak ada lagi negara yang dapat bertahan hidup dalam
mencukupi kebutuhannya sendiri jika negara tersebut mengabaikan sektor luar negeri.
Globalisasi ekonomi telah dipandang sebagai fakta yang tidak dapat dihindari oleh
semua negara di dunia. Kesiapan negara-negara di dunia dalam menghadapi era
globaliasasi akan menentukan survive tidaknya ekonomi suatu negara.





c) Pasar Global dan Pusat Pusat Bisnis
Pasar Internasional adalah pasar yang melakukan transaksi jual beli barang-barang
keperluan masyarakat internasional. Contohnya pasar kopi di Santos (Brasil).
Pasar Amerika Utara
-amerika serikat
-kanada
-meksiko
-amerika tengah dan karibia

Pasar Eropa Timur dan Eropa Tengah
-Bekas Uni soviet
-Eropa tengah

Pasar Asia
-Jepang
-Australia dan selandia Baru
-Keempat macan
-cina
-india
-Afganistan dan negara-negara republik di Asia Tengah
-Negara-negara Asia Tenggara

Pasar Afrika dan Timur Tengah
-Afrika
-Timur Tengah

II. Lingkungan Hukum
Hukum dapat dibagi dalam berbagai bidang, antara lain hukum pidana /hukum
publik, hukum perdata /hukum pribadi, hukum acara, hukum tata negara, hukum
administrasi negara /hukum tata usaha negara, hukum internasional, hukum
adat, hukum islam, hukum agraria, hukum bisnis, dan hukum lingkungan.

Lingkungan Teknologi
Teknologi yang semakin canggih telah mengantar dunia industri ke dalam era
otomasi. Otomasi banyak membantu kegiatan manajemen perusahaan dalam hal
efisiensi dan produktivitas. Dengan demikian kemajuan di bidang otomasi patut
dipertimbangkan oleh manajemen perusahaan sebagai bagian perencanaan yang
strategik. Dalam lingkungan dunia usaha kita, otomasi tetap menimbulkan
permasalahan, karena otomasi ini akan menghemat tenaga kerja sehingga kebanyakan
perusahaan cenderung untuk membatasi jumlah mereka. Sementara itu kita masih
menghadapi masalah penciptaan dan perluasan kesempatan kerja.
Meskipun otomasi dihadapi dengan sikap ragu-ragu, perusahaan yang ingin bertahan
dan berkembang tidak mempunyai pilihan lain kecuali melakukan investasi di bidang
tersebut akibat kemajuan teknologi yang berlangsung terus dan cepat. Di samping itu
seperti telah dikemukankan bahwa adanya persaingan yang ketat semakin menuntut
manajemen untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya baik dengan
mengoptimalkan pendayagunaan sumber daya manusia maupun peraltan teknologi.
Bila perusahaan tersebut tidak melakukan strategi persaingan di bidang teknologi,
maka perusahaan saingannya akan mengunggulinya karena mampu memproduksi dan
memasarkan produk dengan biaya yang lebih rendah.




Lingkungan Politik
Rio Declaration, menyatakan bahwa Negara dalam hukum internasional adalah
pemiliki kedaualatan untuk mengeksploitasi sumber daya alamnya yang mengikuti
kebijakan lingkungan dan pembangunan mereka. Permasalahan inilah yang dipandang
oleh kelompok peduli lingkungan bahwa dibutuhkannya sebuah otoritas kedaulatan
diatas Negara untuk bisa mengatur permasalahan lingkungan. Hal ini dibutuhkan
untuk melindungi negara-negara tersebut dari degradasi lingkungan yang akan
mengurangi kualitas hidup manusia. Permasalahan lingkungan tentu akan
bertentangan dengan pembangunan ekonomi di negara-negara seperti Indonesia,
Brazil, dan China yang sedang memacu pertumbuhan perekonomiannya. Maka
sangatlah dibutuhkan transfer teknologi dan bantuan finansial agar negara-negara ini
bisa melindungi lingkungannya.
Selain dominasi antara Negara-negara Utara terhadap Negara-negara Selatan, kini
munculah Transnational Corporation (TNCs). Menurut analis peduli lingkungan
aktor baru yang muncul ini akan menjadi hambatan dalam menghadapi pembangunan
yang efektif dari rezim berbasiskan lingkungan. Hal ini bermula dari Konferensi
Bretton Woods pada tahun 1944, setelah berakhirnya Perang Dunia II Amerika
Serikat melihat bahwa tata tertib perekonomian dunia kedepannya akan berbasiskan
pada prinsip pasar bebas. Berdasarkan Konferensi Bretton Woods maka dibentuklah
institusi seperti World Trade Organisation (WTO), International Monetary Fund
(IMF) dan World Bank. Lembaga-lembaga ini berfungsi untuk memberikan modal
pinjaman bagi berbagai negara yang membutuhkan dengan syarat harus
menderegulasikan sistem keuangan mereka, dengan kata lain harus menerima prinsip
pasar bebas. Hal tersebut semakin terlihat perbedaannya pada akhir tahun 1990an,
terbentuknya iklim perekonomian global dan masuknya TNC dan pasar keuangan
global.





Lingkungan Budaya

Dalam bisnis lintas budaya kita akan dihadapakan pada perbedaan dalam lingkungan
budaya yang berbeda yang ditandai dengan perbedaan bahasa, sistem nilai yang unik,
keyakinan serta sikap masyarakat yang berbeda. Faktor-faktor ini jelas mempengaruhi
dimensi bisnis internasional. Resiko lintas budaya diartikan sebagai sebuah keadaan
atau kejadian dimana miskomunikasi kebudayaan meletakkan nilai manusia pada
suatu tingkatan tertentu. Sementara itu juga budaya merujuk pada pembelajaran, sikap
berbagi, serta tatanan pola kehidupan kekal dalam lingkup suatu masayarakat.
Untuk menghindari kesalahan fatal yang diakibatkan oleh kesalahfahaman budaya
atau salah pengertian yang dapat merugikan serta dapat menghancurkan bisnis lintas
budaya maka pelaku bisnis diharapakan agar selalu meningkatkan pengertian dan
penghargaan atas perbedaan-perbedaan pola budaya yang akan dihadapi serta
meningkatkan sensitifitas atas segala perbedaan yang ada.