Anda di halaman 1dari 22

Trend Celana Bermodel Pensil Dan Spanyol

Jika kita teliti memperhatikan, ternyata dua model celana fenomenal ini bagaikan perputaran
roda. Ketika yang satu sedang naik daun, yang satunya akan tenggelam. Setelah itu tren berubah,
dimana yang tadinya tenggelam sekarang menjadi populer dan yang tadinya populer sekarang
menjadi tenggelam. Siklus itu kembali berulang dan berulang lagi. Sebagai orang yang sudah
hidup lebih kurang selama 20 tahun, artinya saya sudah melewati 2 siklus serta informasi dari
orang-orang yang lebih tua, ternyata ketika terjadinya pasang surut tersebut masih ada orang
yang tidak terpengaruh dengan model celana tersebut. Mereka menggunakan model celana yang
sama, terus menerus, bahkan ketika model sudah berganti 2 periode emas. Apakah mereka
memang tidak begitu tertarik dengan model yang sedang tren dan merasa nyaman dengan model
yang ia kenakan sehingga terus mempertahankannya, atau mereka takut kalau-kalau mereka
tidak percaya diri jika mengikuti mode yang sedang in. Entahlah..Yang jelas, mau mengikuti
mode atau tidak, bukanlah hal yang wajib dan siapapun berhak menentukan pilihannya.
Pertanyaan yang muncul : kenapa hanya dua model ini saja yang terus eksis dalam kancah
pergantian tren model celana?
Padahal sebagaimana kita ketahui juga, khususnya di daerah pusat mode Indonesia (Jakarta,
Bandung dan Jogja) juga getol mengeluarkan model celana yang berbeda dan inovatif. Ada
model gombrong, ada model sayap(karena di sisi kira kanan celana ada sayapnya..hehe), dll.
Sayangnya celana-celana alternatif ini cepat luntur pamornya, sehingga ketika tren sudah
berganti model-model celana ini sudah tidak laku lagi di pasaran. Bahkan terasa aneh jika ada
orang yang masih memaksakan untuk memakainya.
Sekarang kita tinggal menunggu kapan zaman keemasan celana pensil yang tengah berkibar ini
akan luntur dan digantikan oleh celana pria cutbrai yang kata orang zaman sekarang, itu mah
model zaman kapan tau
Sumber - rezkyanadralee.wordpress.com






Parfum Murah10 Ide Kreatif Mengubah Celana
Jeans Bekas
by Benedictus Budi on Aug 27, 2013 16:20

Siapa yang tidak mengenal celana jeans? Celana paling populer di seluruh dunia ini menjadi
celana paling banyak dipakai di seluruh dunia. Selain nyaman dipakai, celana jeans juga cocok
dipadukan dengan berbagai pakaian. Bahkan perancang busana kenamaan, mendiang Yves Saint
Laurent, menyebut blue jeans sebagai karya yang paling spektakuler, paling praktis, paling
rileks, dan tidak ambil pusing.
Pada artikel ini kita akan mengulas berbagai ide ide kreatif untuk mengubah dan mengolah jeans
bekas menjadi barang yang dapat digunakan kembali. Mulai dari mengubah jeans bekas menjadi
tas yang unik, sarung untuk smartphone, hingga menjadi sepatu. Dengan sedikit ketrampilan
seperti menjahit dan menggunakan jarum/benang, kamu sendiri pun dapat mengolah jeans yang
sudah tidak terpakai menjadi barang yang berguna dengan keunikan tersendiri.
Temukan juga berbagai ide-ide kreatif di munabiru.com

1. Mengubah Jeans Bekas Menjadi Tote Bag


Tote bag dengan sentuhan tali merah ini juga dibuat dengan bahan jeans bekas. Didesain
oleh Bar Rucci salah satu penggiat DIY dari Perancis, DIY tote bag ini dapat kamu buat sendiri
dengan ketrampilan menjahit. Bagi kamu yang gemar atau memiliki hobi dengan menjahit, kamu
dapat mencobanya sendiri. Untuk mempermudah pembuatan tas unik ini, kamu dapat
mendownload pola yang disediakan disini.
Via: artbarblog.com

2. Mengubah Jeans Bekas Menjadi Pouch
Bag

Pouch Bag cantik ini didesain oleh Jessica Rebelo yang juga berprofesi sebagai desainer grafis.
Proses pembuatan tas ini cukup mudah, dengan bahan jeans bekas, peralatan jahit dan sentuhan
artistik tas ini memiliki tampilan yang unik. Untuk pembuatan selengkapnya dapat dilihat disini.

3. Mengubah Jeans Bekas Menjadi Smartphone Case

Berbagai macam sarung kamera smartphone dapat kita jumpai di berbagai toko, namun
bagaimana jika kamu dapat membuatnya sendiri dengan memanfaatkan jeans bekas. Tentunya
akan menjadi sarung yang unik dan yang paling penting dapat membuat kamu tampak berbeda.
Untuk mengetahui lebih lengkap pembuatan sarung smartphone unik ini dapat kamu lihat disini.
Via: blog.freepeople.com

4. Mengubah Jeans Bekas Menjadi Tas Kamera

Jeans bekas juga dapat mempermudah dan melindungi kamera poket kesayangan kamu. Jika
kamu tertarik membuat tas ini, sang desainer juga menyediakan pola yang dapat kamu download
disini. Untuk melihat penjelasnnya lebih lanjut dapat dilihat disini.
Via: evilmadscientist.com

5. Mengubah Jeans Bekas Menjadi Tas
Gadget

Sarung penyimpanan gadget ini didesain untuk melindungi gadget-gadget kesayangan kamu,
terutama dari goresan kunci, pena dan benda-benda lain yang ada di tas. Dengan menambahkan
tali, sarung ini juga dapat berfungsi seperti tas, dengan desain yang compact dan terlihat unik.
Proses pembuatan dan penjelasan lebih lanjut dapat kamu lihat disini.
Via: instructables.com

6. Mengubah Jeans Bekas Menjadi Tas Makanan (Snack Bag)

Tas Makanan (Snack Bag) ini salah satu favorit saya, selain memiliki tampilan desain yang
cantik, tas ini dibuat dengan sederhana. Material utama yang diperlukan sangat mudah untuk
dijumpai, seperti jeans bekas dan tali/ikat pinggang bekas. Dibuat oleh blogger between the lines,
dalam blognya kamu juga akan menjumpai berbagai macam karya yang unik dan banyak yang
dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas. Untuk melihat penjelasan dan proses
pembuatannya lebih lanjut dapat dilihat disini.
Via: betweenthelines.blogspot.com

7. Mengubah Jeans Bekas Menjadi Sepatu

Desain sepatu slipper ini dibuat oleh Sarah Anderson, dengan menggunakan material yang
mudah dijumpai dan sedikit ketrampilan, membuat sepatu dari jeans bekas ini juga dapat kamu
lakukan sendiri. Pada situsnya kamu juga dapat mendownload pola sepatu.
Via: donight.com

8. Mengubah Jeans Bekas Menjadi Tempat Pensil

Siapa yang mengira jeans bekas juga dapat digunakan untuk membuat tempat pensil unik ini.
Tempat pensil ini dibuat dengan bahan-bahan bekas seperti styrofoam dan tentunya celana jeans
bekas. Untuk mengetahui proses pembuatannya lebih lanjut dapat dilihat disini.
Via: craftsandcoffee.com

9. Mengubah Jeans Bekas Menjadi Sampul Buku Agenda

Bosan dengan penampilan buku agenda kamu? Mungkin kamu dapat membuat tampilan agenda
kamu menjadi lebih unik dengan menggunakan jeans bekas. Sesuai dengan namanya The Green
Journal buku agenda dari bahan jeans bekas ini dibuat untuk mendukung gerakan hijau. Proses
pembuatannya dapat kamu lihat disini.

10. Mengubah Jeans Bekas Menjadi Sandal


Ingin merubah tampilan sandal jepit kamu, mungkin kamu dapat melakukannya dengan
menambahkan jeans bekas seperti pada foto diatas. Selengkapnya dapat dilihat disini.
Via: instructables.com

Merk Indonesia Dari Jaman Dulu Yang Bertahan Sampai Sekarang
Blue Band [1936]


BLUE Band pertama kali diproduksi di Batavia pada 1936. Blue Band juga menjadi produk makanan
pertama yang dihasilkan Van den Bergh NV, milik Unilever, gabungan perusahaan margarin asal
Belanda, Margarine Unie, dan pabrik sabun Lever Brothers asal Inggris. Sejak pertama kali diluncurkan,
Blue Band sudah menjadi merek kuat yang memimpin pasar dengan kompetitor utama mentega dan
margarin impor, seperti Palmboom, kata Agus Nugraha, Brand Manager Blue Band PT Unilever
Indonesia.

Permen Davos [1931]


SOEYATI Soekirman tak pernah luput membawa Davos. Nenek 68 tahun warga Banyumas ini sudah
puluhan tahun menggemari permen itu. Orang-orang tua memang konsumen loyal kami, kata
Nicodemus Hardi, Managing Director Operasional PT Slamet Langgeng, produsen permen Davos.
Permen ini dirintis oleh Siem Kie Djian pada 28 Desember 1931. Lokasi pabriknya tetap sama hingga kini:
Jalan Ahmad Yani 67, Kelurahan Kandang Gampang, Purbalingga, Jawa Tengah. Perusahaan dilanjutkan
anaknya, Siem Tjong An. Enam tahun berikutnya, bisnis diteruskan lagi ke anak dan menantu Tjong An:
Toni Siswanto Hardi dan Corrie Simadibrata. Kini perusahaan tersebut dipimpin oleh Budi Handojo
Hardi, generasi ketiga pendiri bisnis ini.

Wajik Week [1939]


SEMULA, pada 1939, Nyonya Ong Kiem Lien hanya memasak kue untuk dijual ke tetangga. Ada wajik,
onde-onde, keripik tempe, rempeyek kacang, dan jadah (kue dari ketan dan kelapa parut). Usaha ini
dilanjutkan oleh anaknya, Ong Gwek Nio, yang kemudian hanya berkonsentrasi pada wajik.

Siroop Tjap Buah Tjampolay [1936]


RASANJA sedap, baoenja wangi. Itulah yang tertera dalam kemasan sirup Tjap Buah Tjampolay.
Minuman legendaris asal Cirebon ini pertama kali dibuat oleh Tan Tjek Tjiu pada 11 Juli 1936. Hingga
kini kemasan dan labelnya tak berubah.

Sarang Sari [1934]


Botolnya hijau, mirip botol bir. Tulisan dalam kemasannya tak berubah sejak 75 tahun lalu:
Limonadestroop. Sarang Sari, begitulah nama sirup berbotol serupa bir itu, bertahan di tengah gempuran
minuman berkarbonat. Cikal bakal sirup ini dimulai dari De Wed Bijlsma, pengusaha asal Groningen,
Belanda, yang mendirikan NV Conservenbedrijf de Friesche Boerin pada 1934.

Ting-ting Jahe [1935]


NJOO Tjhay Kwee menunggang sepeda pancal mengitari Pasuruan. Kala itu, tahun 1935, Njoo sedang
merintis usaha kembang gula Sin A di Pasuruan, Jawa Timur. Kisah ini dituturkan Dyah Purwaningsih,
General Manager PT Sindu Permata, perusahaan yang memproduksi ting-ting jahe. Ayu adalah cucu Njoo
alias generasi ketiga pemilik perusahaan ini.

Tahu Yun Yi [1940]


DALAM bahasa Mandarin, yun yi artinya bermanfaat atau beruntung. Perusahaan tahu yang didirikan
pada 1940 itu memang beruntung masih eksis hingga kini. Bisnis tahu Yun Yi dirintis oleh Liauw Hon
Tjan di Jalan Jenderal Sudirman Belakang 231, Bandung. Pabrik tahu ini tak pernah berpindah hingga
sekarang.

Teh Cap Botol [1940]


RIBUAN botol plastik hijau itu bergerak dalam irama teratur di atas jalur roda berjalan. Lalu, plop, plop,
plop: letupan mesin memasangkan plastik kemasan ke satu per satu botol yang berisi teh amat panas.
Antrean lantas menjalar ke mesin berikut yang memasangkan tutup botol. Dari sini jalur roda bergerak
lagi menuju pengemasan akhir. Maka jadilah teh botol merek Joy Tea Green, yang siap dikirim ke jutaan
konsumen di seluruh Indonesia serta mancanegara.

B29 [1930]


PASAR Pagi Jakarta, akhir 1930-an. Sekumpulan ibu-ibu yang sedang belanja di Toko Sewu Gunawan
meriung bicara soal sabun. Sabun Cap Tangan, produk Unileverketika itu satu-satunya sabun cuci yang
beredar di pasarmendadak langka. Jikapun ada, harganya mahal. Para ibu mengeluh: mereka tak bisa
mencuci baju, piring, bahkan mandi.

Dji Sam Soe [1913]


RUMAH kuno itu tak lagi berpenghuni. Pagarnya tertutup seng. Ketika didatangi Tempo tiga pekan lalu,
tampak empat petugas bergantian menjaga rumah. Di rumah inilah Liem Seeng Tee, pendiri HM
Sampoerna, mengawali sejarah pada 1927.

Beralamat di Jalan Ngaglik, Surabaya, rumah iniselain menjadi tempat tinggaldulunya berfungsi
sebagai gudang tembakau dan pabrik rokok. Selama lima tahun Seeng Tee menguji berbagai campuran
rempah dan cengkeh di rumah ini. Dji Sam Soe salah satu produknya. Dari rumah ini pula Dji Sam Soe
mulai diproduksi secara masif.

Kopi Warung Tinggi [1878]


Beberapa kali berhenti berproduksi, tetap hidup berkat kepercayaan pelanggan. Dulu resep lisan, kini
tersimpan di komputer.

BATAVIA, 1878. Restoran di tepian Moolen Vliet Oostkini Jalan Hayam Wuruk Jakarta, itu berbeda
dengan bangunan lain di sekitarnya. Tampak lebih bagus, lebih besar, dan tinggi. Masyarakat di tepian
Ciliwung lalu menyebutnya Waroeng Tinggi. Adalah Liaw Tek Soen, perantau asal Tiongkok, yang
membangun warung itu bersama istrinya.

Kecap Bango [1928]
Kemasan diremajakan, rasa dipertahankan, penetrasi pasar diperkuat. Jurus inovatif memperpanjang
umur.


BANGO itu terbang tinggi. Dari jago lokal, dia menjadi bintang di tingkat nasional. Bermula dari pojok
kampung di daerah Benteng, Tangerang, pada 1928, kini sang Bango mudah dijumpai di toko kelontong
di hampir seluruh penjuru Indonesia. Delapan puluh satu tahun silam, suami-istri Tjoa Pit Boen (Yunus
Kartadinata) dan Tjoa Eng Nio mengawali cikal bakal Kecap Bango di rumah mereka di Benteng. Sayang,
jejak awal sudah amat samar. Napak tilas Tempo di kawasan Benteng tak menemukan sarang pertama
sang Bango.

Bata[1939]


BERJAM-jam sepatu berbahan kanvas itu mengendap di ember penuh air. Basah kuyup, tapi tetap baik
kondisinya. Wilfried Tampubolon, pemilik sepatu itu, cuma bisa memandanginya dengan kecewa. Pupus
harapannya untuk mendapat sepatu baru. Dua tahun sepatu saya tidak diganti, makanya sepatu itu
sengaja saya rendam, kata Wilfried tertawa mengenang kenakalannya semasa kanak-kanak. Ibunya
hanya mau membelikan sepatu baru kalau sepatu lama sudah rusak.

Batik Oey Soe Tjoen (1925)


PEMBUATAN selembar batik Oey Soe Tjoen bak ritual panjang. Awalnya, Muayah, pekerja di situ,
menggoreskan lilin pada motif daun. Ia lalu menyerahkan hasil kerjanya kepada sang bos, Widianti
Widjaja, yang lalu memeriksanya dengan teliti. Bila dianggap oke, kain akan diambil alih pekerja lain. Ia
meneruskan pekerjaan untuk motif lamongan.