Anda di halaman 1dari 18

KONFLIK-PEMIKIRAN DAN INTEGRASI-

SINERJIK ULAMA MINANGKABAU


1903-1937 M
Oleh H. Shofwan Karim

I. PENDAHULUAN
Islam masuk ke Minangkabau melalui beberapa periode1 dan sejak
abad ke-15 M. proses islamisasi itu tidak pernah lagi berhenti. Kontinuitas
dan perubahan ( Continuity and Change) dalam transformasi dan corak
islamisasi masyarakat Minangkabau di awal abad ke-20, seperti awal abad
sebelumnya, dikendalikan oleh kaum ulama. Secara relatif untuk hal-hal
tertentu mereka tetap dipengaruhi intelektual Timur Tengah dalam
meneruskan misinya. Di dalam perkembangan selanjutnya kaum ulama
itu terpilah kepada dua faksi. Mereka yang tetap mempertahankan tradisi-
tradisi yang ada dan menjaga kemapanan dan mereka yang ingin mengubah
apa yang sudah ada kepada suatu yang baru yang mereka yakini sebagai
suatu yang benar.
Konflik antara kedua faksi itu tampaknya tak bisa dihindari. Oleh
karena pada dasarnya kedua faksi itu adalah ulama dan di dalam struktur
elit stategis kepemimpinan Minangkabau mereka adalah perpaduan "tigo
tungku sajarangan dan tigo tali sapilin" (tiga tungku sejerangan dan tiga
tali sepilin): ninik-mamak, alim-ulama dan cerdik-pandai, sebagai
representasi adat, Islam dan tokoh bebas,2 maka konflik itu menjadi sangat
penting dalam rangka studi dan memamahi Islam di Minangkabau.

1
Periode I abad ke 7 di masa pemerintahan Dinasti Umayyah Islam masuk di
wilayah Minangkabau Timur. Perkembangan itu terhenti sampai abad ke-8 oleh
"counter action" Dinasti T'ang dari Cina karena perebutan dominasi ekonomi.
Periode II antara abad ke 10 sampai abad ke-12 ketika Dinasti Fatimiyah di Mesir
(976-1168 M.) mengirim misinya dan menyebarkan Islam Syi'ah. Periode III pada
abad ke-15 kembali Islam masuk dan pada pertengahan abad ke-16 Sultan Alif
keluarga raja Minangkabau memeluk Islam beserta seluruh warga Minangkabau.
Lihat M.D. Mansoer, Et. al., Sejarah Minangkabau (Jakarta: Bhratara, 1970), h.
44, 45, 47, 48, 49, 63; lihat juga, HAMKA, Ayahku: Riwayat Hidup DR. H. Abdul
Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera, (Jakarta: UMMINDA,
1982) h. 3, 14-20. Juga B.J.O. Schrieke, Pergolakan Agama di Sumatera Barat
(Jakarta: Bhratara, 1973), h. 11-23.

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


Studi ini menyangkut refleksi konflik-pemikiran dan integrasi-sinerjik
antara kedua faksi dalam kalangan cendekiawan dan ulama yang disebut
Kaum Tua dan Kaum Muda. Fenomena konflik kedua faksi itu dimulai
sejak terjadinya perbedaan pendapat di dalam memahami persoalan thariqat
(selanjutnya ditulis: tarikat) dan kemudian merebak ke berbagai masalah
lainnya. Konflik itu bermula dari tahun 1903 M. sebagai yang akan
dilihat dalam bahasan ini, dan berlanjut dua dekade berikutnya. Bukan
saja dalam bidang agama dalam makna sempit, konflik itu bahkan
menyeruduk ke lembaga sosial, pendidikan dan politik. Diperkirakan pada
1930 M., konflik itu tereliminasi dan untuk hal-hal tertentu, misalnya ketika
mulai menyangkut kepentingan bersama di mana ancaman terhadap agama
muncul ke permukaan, maka konflik itu berubah menjadi integrasi.
Konflik-pemikiran dapat diartikan sebagai pertentangan pemikiran
yang bersifat langsung atau tidak, yang disadari antara individu-individu
atau kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan yang sama. 3 Tujuan yang
sama antara Kaum Tua dan Kaum Muda tentulah supaya Islam semakin
diamalkan di Minangkabau. Sedangkan integrasi ialah penyatuan kelompok
atau individu yang mungkin sebelumnya terpisah dengan menghilangkan
perbedaan sosial dan budaya yang ada.4 Penyatuan persepsi, misi dan visi
antara individu dan kelompok yang saling memperkokoh dan menguntungkan,
dalam tulisan ini disebut integrasi-sinerjik. Artinya, perbedaan pemikiran
dalam pemahaman agama antara Kaum Tua dan Kaum Muda dapat
dikesampingkan ketika mereka bersatu menghadapi tantangan dari luar.
Keadaan itu tampak dengan jelas dalam perjalanan masa 1930-1937 M.
Studi ini ingin menjawab pertanyaan mengapa terjadi konflik-
pemikiran, apa substansi konflik dan dalam hal apa terjadinya integrasi-
sinerjik di kalangan ulama Minangkabau dalam kurun waktu 1903-1937
M. Untuk menjawab pertanyaan itu maka analisis ini berusaha menjelaskan
latar belakang munculnya Kaum Tua dan Kaum Muda, dinamika sosio-
kultural dan substansi konflik. Kemudian integrasi-sinerjik yang bagaimana
yang muncul belakangan dan diakhiri dengan kesimpulan yang diharapkan
dapat menambah khazanah ilmiah kajian Islam di Minangkabau sebagai
bagian perkembangan modern dalam Islam di Indonesia pada pertigaan awal
abad ke-20 ini.

2
Lihat Herman Sihombing, "Hukum Adat Minangkabau Mengenai Tungku
Tiga Sejerangan dan Tali Tiga Sepilin: Hukum Adat Minangkabau Dewasa ini dan
di Kemudian Hari", dalam A.A. Navis, Ed., Dialektika Minangkabau: dalam
Kemelut Sosial dan Politik (Padang: Genta Singgalang Press, 1983), h. 40-55.
Lihat juga, Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia
(Jakarta: LP3ES, 1987), h. 222-223
3
Lihat, Achmad Fedyani Saifuddin, Konflik dan Integrasi: Perbedaan Faham
dalam Agama Islam (Jakarta: Rajawali, 1986), h. 7
4
Ibid.

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


II. KAUM TUA DAN KAUM MUDA
Istilah Kaum Tua dan Kaum Muda muncul antara tahun 1903-1907 M.
Istilah itu bukan semata ungkapan kata biasa tetapi menjelma menjadi
entitas dua firkah (golongan) yang merupakan abstraksi corak pemikiran
keagamaan, sosial dan politik. Kaum Tua menjadi tesa dan Kaum Muda
menjadi anti-tesa. Istilah Kaum Muda, awalnya berasal dari Datuk Sutan
Maharaja. Maharaja seorang tokoh adat yang berasal dari Minangkabau
Darat yang menetap di Padang (Minangkabau Rantau). Ia tidak senang
dengan pengaruh Aceh atas masyarakat Pesisir Barat wilayah ini yang
katanya sudah meninggalkan adat lama pusaka usang asli Minangkabau.
Adat Aceh sudah mulai dipakai oleh Regen (sekarang baca: Bupati)
bersama kaum bangsawan kota Padang.5
Sutan Maharaja melakukan gerakan kembali ke adat Minang dan
menyebut orang yang setuju dengan gerakan itu sebagai Kaum Muda.
Sedangkan Regen dan bangsawan di Padang ia sebut sebagai Kaum Tua.
Istilah itu ia gunakan sebagai perumpamaan seolah-olah apa yang mereka
lakukan sama dengan gerakan Kaum Muda di Turki yang pada masa itu
sedang melakukan perlawanan keras terhadap kekuasaan Sultan Abdul
Hamid penguasa kekhalifahan Turki Usmani.6. Bersamaan dengan suasana
lingkungan sosial gejolak kaum adat di masa itu, muncul pula gerakan
pembaruan di kalangan kaum agama.
Gerakan ini melakukan pembaruan yang ditekankan kepada
pemurnian di bidang akidah dan ibadah serta untuk beberapa hal mu'amalah.
Oleh karena itu mereka disebut pula sebagai golongan reformis. Mereka
menolak berbagai macam kebiasaan beragama di masyarakat Minangkabau
yang tidak sesuai dengan al-Qur'an, hadist dan sunnah Nabi. Mereka
menolak bid'ah, khurafat, dan takhayul. Mereka menolak taqlid sembari
memperbarui corak pemikiran, menghindari sifat jumud, beku dan statis
dalam beragama. Mereka menginginkan agama difahami dengan rasio dan
ilmu pengetahuan. Mereka melakukan berbagai upaya modernisasi termasuk
di dalamnya bidang pendidikan, sosial dan politik. Oleh karena itu mereka
juga disebut golongan modernis.7
Oleh karena gerakan pembaruan ini tampak melawan kelompok
mapan dalam beragama, maka gerakan ini mendapat simpati pada mulanya
dari Kaum Muda adat tadi. Datuk Sutan Maharaja yang bersahabat
dengan Abdullah Ahmad--seorang tokoh di antara kaum pembaru agama
ini-- menyebut golongan agama yang pro-perubahan ini dengan sebutan
5
Lihat, Taufik Abullah, Shools and Politics: The Kaum Muda Movement in
West Sumatra (1927-1933), selanjutnya disebut Taufik Abdullah, Schools...(Ithaca
New York: Cornell University, 1971), h.12-13.
6
Ibid
7
Lihat, Murni Djamal, DR. H.Abdul Karim Amrullah His Influence in the
Islamic Reform Movement in Minangkabau in the Early Twentieth Century,
(Montreal: McGill University, 1975),h.1-5.

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


Kaum Muda pula sebagaimana gerakan yang ia pimpin di kalangan aktivis
adat.8
Belakangan, karena beberapa sikap Kaum Muda agama ini tidak
sesuai dengan corak berfikir Kaum Muda adat, mengakibatkan golongan
kedua ini beraliansi dengan lawan yang pertama yaitu Kaum Tua agama.
Sejak itu istilah Kaum Muda luntur di kalangan adat karena mereka dalam
hal beragama dan praktik keagamaan lebih cendrung mengadopsi corak
keagamaan Kaum Tua agama. Istilah Kaum Muda selanjutnya hanya berlaku
terhadap Kaum Muda agama yang di dalam gerakannya vis-a-vis Kaum Tua
agama. Seterusnya apa yang disebut Kaum Tua dan Kaum Muda adalah
dalam rangka yang terakhir ini.
Kaum Tua di dalam beragama berpegang kepada tradisi-tradisi
sebagai sesuatu yang tak berubah dalam proses kelangsungan (continuity)
dan pewarisan apa yang sudah ada. Oleh karena itu mereka disebut pula
kaum tradisonalis sebagai lawan kaum modernis. Mereka bersikaf
konservatif dan oleh lawan-lawannya disebut kaum kolot atau kaum kuno.
Kaum Tua ini dalam corak pemikiran keagamaan mempunyai prinsip-
prinsip:(1) dalam bidang akidah menyebut dirinya ahl sunnah wa al-jama'ah
dengan corak kalam al-Asy'ariah; (2) dalam fikih menganut mazhab Syafi'i;
(3) mereka mempertahankan aliran-aliran tarikat yang muktabarah (sah
diamalkan menurut prinsip mereka); (4) tradisi, adat kebiasaan yang melekat
dalam berbagai macam amalan keagamaan yang dianggap oleh Kaum Muda
sebagai bid'ah tetap mereka pegang; (5) pintu ijtihad bagi mereka sudah
tertutup karena kehadiran mujtahid-mutlak sudah berakhir pada abad ke-3
H. Oleh karena itu yang berlaku di kalangan umat Islam adalah ittiba' dan
taqlid.9
Berbeda dengan Kaum Tua, terhadap kelima prinsip itu Kaum Muda
berpendapat : (1) mereka mengaku berakidah menurut ahl sunnah wa al-
jama'ah tetapi tidak terang-terangan menganut kalam al-Asy'ariah dan
menempatkan peranan akal lebih dominan sesudah al-Qur'an dan Hadist; (2)
tidak mengikatkan diri hanya kepada satu mazhab fikih. Mazhab-mazhab
lain sepanjang bersandarkan kepada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah
dianggap mempunyai nilai kebenaran yang sama; (3) menganggap tarikat
yang berkembang di Minangkabau waktu itu adalah ghairu mu'tabarah,
karena itu mereka menentang tarikat-tarikat tersebut; (4) tradisi keagamaan
yang tak berdasarkan al-Qur'an dan Hadist yang kuat ditolak dan dianggap
bid'ah dhalalah; (5) pintu ijtihad senantiasa terbuka untuk ulama-ulama yang
mempunyai kapasitas dan kapabilitas atau kompetensi tinggi.10.

8
Lihat, M. Sanusi Latief, Gerakan Kaum Tua di Minangkabau 1907-1969,
(Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, Disertasi doktor, 1988),h.131
9
Ibid., h. 133-141
10
Ibid.,h.135

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


Perbedaan prinsip antara Kaum Tua dan Kaum Muda di atas
ternyata berkembang di Minangkabau secara akumulatif (turun-naik)
antara dekade pertama dan ketiga abad ini sebagai konflik pemikiran
keagamaan. Analisis berikut memaparkan latar belakang sosio-kultural,
proses terjadi, substansi dan berkembangnya konflik tersebut yang terfokus
kepada aktivitas tokoh-tokoh Kaum Tua dan Kaum Muda serta interaksi
kedua pihak.

III. DINAMIKA SOSIO-KULTURAL DAN SUBSTANSI KONFLIK


Minangkabau di peralihan abad 19-20 termasuk wilayah yang sudah
maju di bidang pendidikan di bandingkan wilayah lain di Indonesia selain
beberapa kota besar di Jawa. Mobilitas geografis dan sosialpun di
kalangan masyarakat ranah ini ke luar daerah cukup tinggi. Hubungan ke
Timur Tengah yang memang sudah berjalan lancar sejak lama, pada
peralihan abad ini dimanfaatkan oleh orang Minangkabau bukan saja untuk
menunaikan ibadah haji, tetapi sekaligus menambah cakrawala dan
wawasan dengan menetap di Mekah beberapa lama dalam rangka menuntut
ilmu agama.11
Di antara orang-orang Minangkabau yang pergi haji ke Mekah dan
bermukim di sana beberapa lama menimba ilmu pengetahuan agama
termasuk tokoh-tokoh Kaum Tua dan Kaum Muda. Mereka yang dari Kaum
Tua adalah : (1) Syekh H. Abbas Qadhi (1863-1949 M.) dari desa Ladang
Laweh, Bukitinggi. Ia belajar agama di kampungnya kemudian berangkat
ke Mekah serta belajar di sana sampai sekitar 1910 M.; (2) Syekh H.
Sulaiman al-Rasuli (1871-1970 M.), anak seorang ulama di Candung, Agam,
belajar agama di berbagai tempat di Minangkabau kemudian belajar di
Mekah (1903-1907 M.); (3) Syekh H. Khatib Muhammad Ali (1861-1936
M.), lahir di Solok putra ulama di situ, setelah belajar agama di berbagai
tempat, ia belajar di Mekah (1882-1889 M.). 12
Seperti Kaum Tua, tokoh dari kalangan Kaum Muda juga mempunyai
latar belakang pendidikan dan sosial yang tidak jauh berbeda, mereka adalah
: (1)Syekh H. Muhammad Jamil Jambek (1862-1947 M.), anak seorang
bangsawan adat di Bukittinggi yang naik haji dan bermukim di Mekah
(1896-1903 M.); (2) Syekh DR. H. Abdul Karim Amrullah (1879-1945 M.),
putra seorang ulama di Maninjau, Agam, setelah belajar agama di
kampungnya berangkat naik haji dan bermukim memperdalam ilmu di
Mekah (1894-1906 M.); (3) Syekh DR. H. Abdullah Ahmad (1878-1933 M.),
putra seorang pedagang di Padang Panjang, setelah belajar agama di tempat

11
Taufik Abdullah, Schools...Op.Cit., h.23
12
Lihat Edwar, Ed.,Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera
Barat, (Padang: Islamic Center Sumbar, 1981), H. 55, 107, 123.

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


kelahirannya ia berangkat naik haji ke Mekah dan memperdalam ilmu di sana
(1895-1899 M.).13
Di Mekah, semua pemimpin Kaum Muda termasuk Syekh Sulaiman
al-Rasuli dan Syekh Jamil Jaho dari Kaum Tua sempat belajar ilmu agama
kepada seorang tokoh Minangkabau yang sudah lebih dulu bermukim di
kota suci ini. Tokoh itu adalah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi
(lh.1855 M.) yang mulai menetap di Mekah 1876 M., kemudian mengajar
di Masjid al-Haram. Ahmad Khatib adalah ulama terkemuka mazhab Syafi'i.
Sampai akhir hayatnya (1916 M.), ia termasuk ulama populer yang banyak
didatangi oleh murid-murid bukan saja dari Minangkabau tetapi juga jawa
dan lain-lain.14
Selain mengajar Ahmad Khatib juga menulis kitab dan risalah dalam
bahasa Arab dan Melayu. Dalam bahasa Arab : (1) Al-Nafahat (Usul Fikih),
(2) Istbat al-Zain, (3) Shulh al-Jama'atain (mengenai salat jum'at),(4) al-
Da'il Masmu' (hukum pembagian pusaka), (5) Raf'u al-Iltibas, (6) Iqna'u al-
Nufus (hukum zakat uang kertas), (7) Irsyad al-Hayat (penolak tuduhan
kaum Kristen dan pembuktian kebenaran Islam), (8) Tanbih al-Awam
(mengenai organisasi Syarikat Islam). Kemudian dalam bahasa Melayu: (1)
al-Manhaj al-Masyru'(hukum pembagian pusaka), (2) al-Khuththat al-
Mardliyah (hukum melafazkan niat), (3) Riyadl al-Wardiyah(hukum
Fikih), (4) Risalah Membantah Martabat Tujuh, (5) Izhar Zaghli al-
Kazibin(fatwa tentang tarikat Naksyabandi, (6) al-Ayat al-Baiyinat
(penolak atas bantahan kitab Izhar ..., (7) al-Saif al-Battar (masalah tarikat
Naksyabandi).15
Walaupun Ahmad Khatib ulama mazhab Syafi'i tetapi ia tidak
melarang murid-muridnya membaca dan mempelajari tulisan dari penerbit
yang berasal dari luar Mekah seperti Mesir dan lainnya. Mereka bebas
memahami tulisan Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid
Ridha atau tokoh lain. Meskipun maksudnya supaya murid-muridnya itu

13
Ibid.,h.21, 67, 77. Gelar Doktor Honoris Causa diperoleh Abdul Karim
Amrullah dan Abdullah Ahmad dari Kongres Khilafat di Mesir 1926 M. Ketua
Kongres itu adalah Syekh Husain Wali, Guru Besar Universitas al-Azhar, Kairo,
Mesir. Lihat HAMKA, Ayahku: Riwayat Hidup DR. H. Abdul Karim Amrullah dan
Perjuangan Kaum Agama di Sumatera, (Jakarta: Umminda, 1982),h.160.
14
Ibid.,h.15. Tentang tahun lahir, ke Mekah, belajar dan mulai mengajar di
kota suci ini oleh Akhria Nazwar mengutip HAMKA dikatakan Ahmad Khatib
Lahir 26 Mei 1860 M., ke Mekah diajak ayahnya 1871 M., belajar dan tamat 1876.
Nazwar menyebut masa belajar Ahmad Khatib 9 tahun. Jadi mestinya tamat 1880
M. Tahun wafat Ahmad Khatib oleh Nazwar, 1916 M. sama dengan Edwar. Lihat
Akhria Nazwar, Syekh Ahmad Khatib: Ilmuwan Islam di Permulaan Abad ini,
(Jakarta: Panjimas, 1983), h.11-15.
15
Lihat, Al-'Alamah Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Lathif Imam,Khatib dan
Guru Besar di Mesjidil Haram, disalin oleh A. Mm. Arief, Fatwa tentang :
Tharikat Naqasyabandiyah, (Medan: Islamiyah, 1978), h.3. Selanjutnya ditulis
Lathif, Fatwa...

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


dapat menolak pendapat dan pemikiran tokoh-tokoh tersebut yang termuat
di dalam majalah al-Urwat al-Wustqa, tafsir al-Manar dan lain-lain. Namun
ia tentu menyadari peringatan Imam Syafi'i bila terdapat di dalam fatwanya
yang berlawanan dengan Qur'an, hadist dan sunnah Nabi, maka fatwanya itu
harus ditolak.16
Sikap demikian ternyata merupakan salah satu faktor yang membuat
murid-muridnya setelah kembali ke Minangkabau melakukan perbandingan
pemikiran. Akibat dari perbandingan pemikiran itu, di antara mantan murid-
murid Ahmad Khatib itu melakukan gerakan pembaruan yang pada dasarnya
dapat dikatakan menjadi salah satu di antara latar belakang lahirnya gerakan
Kaum Muda di Minangkabau. Sebagai buah dari kemerdekaan berfikir
dalam studi Islam yang dikembangkan Ahmad Khatib mengakibatkan
alumnus lingkaran studinya di Masjid al-Haram meneruskan kiprah
intelektual dan mengkaji kembali praktik amalan agama di Minangkabau.
Dalam kaitan itulah, salah satu di antaranya menjadi dasar munculnya
konflik pertama antara Kaum Muda dan Kaum Tua. Pangkal konflik adalah
fatwa Ahmad Khatib tentang Tarikat Naksyabandiyah ketika menjawab
surat H. Abdullah Ahmad tahun 1324 H/1903 M. yang dikirim kepadanya
berbunyi:17

Tarikat Naksyabandiyah Khalidiyah adakah baginya asal pada syara'


atau tiada?. Dan adakah salasilahnya sampai kepada Rasulullah swa.
atau tiada? Dan adakah bagi meninggalkan makan daging asal pada
syara' atau tiada? Dan adakah suluk 40 hari dan 20 hari dan 10 hari
baginya asal daripada syara' atau tiada? Dan rabithah adakah asalnya
pada syari'at atau tiada? Hendaklah dijawab soal itu dengan maujud
pada syara'. Jika maujud padanya hendaklah dinyatakan dalilnya
kepada kami. Dan jika tiada maujud padanya maka hendaklah
nyatakan pula pada kami. Karena telah hasil di negeri kami persalahan
besar pada masalah ini.

Pertanyaan itu dijawab oleh Ahmad Khatib18di dalam kitabnya


Izharu Zaghli al-Kazibin fi Tasyabbuhihim bi al-Shadiqin (menyatakan
kelancungan pendusta-pendusta yang menyamar sebagai orang-orang yang
benar). Di situ Ahmad Khatib menjelaskan bahwa tarikat Naksyabandi yang
berkembang pada masa itu tidak mempraktikkan akidah, syari'at dan tasawuf
yang sesuai dengan ajaran Rasulullah.19 Ia membatalkan segala amalan

16
Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942,
(Jakarta:LP3ES, 1980),h.39-40.
17
HAMKA, Ayahku..., Op.Cit., h.290.
18
Lihat, Lathif, Fatwa... Op.Cit.,h.4.
19
Ibid., h. 14, 37-47.

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


tarikat yang telah ditanyakan oleh Abdullah tadi dengan alasan al-Qur'an
dan Hadist, termasuk yang berkenaan dengan wasilah, rabithah, wirid-
wirid, dan kaifiat yang dipakai di dalamnya. 20. Fatwa ini diperkuat pula
oleh fatwa-fatwa Mufti dan Ulama Mekah Mazhab Syafi'i dan Maliki
lainnya.21
Fatwa Ahmad Khatib itu mendapat kecaman pedas dari Kaum Tua.
Bantahan terhadap fatwa itu sebagai mewakili pandangan Kaum Tua datang
dari Syekh Sa'ad Mungka. Syekh Mungka mempertahankan tarikat
Naksyabandi dan menulis sebuah kitab sebagai bantahan atas kitab Ahmad
Khatib tadi yang dinamakannya Irghami al-Unufi al-Muta'annitin. Menolak
bantahan itu Ahmad Khatib pada 1325 H/1904 M. kembali menulis kitab
al-Ayat al-Bayinat li al-Munsifina fi Izalati Khurafati Ba'd al-Muta'al-
Sibina (penerangan yang jelas bagi orang-orang yang insaf untuk
menghilangkan khurafat sebagian di antara mereka yang fanatik).22 Pada
gilirannya perdebatan-perdebatan itu berkepanjangan dengan mengeluarkan
kitab-kitab yang saling menyerang dan melibatkan pula tokoh-tokoh lainnya
dari kalangan Kaum Tua yang ikut bersama Syekh Mungka menyerang
Ahmad Khatib. Misalnya sepucuk surat dari Syekh Abdullah bin Abdullah
al-Kahlidi dari Tanah Datar yang tetap mempertahankan tarikat
Naksyabandi dan menyalahkan Ahmad Khatib. Untuk yang terakhir ini
Khatib menulis lagi satu risalah Al-Saif al-Battar.23
Sebaliknya Kaum Muda sepenuhnya berpihak kepada pendapat-
pendapat Ahmad khatib yang menolak keabsahan berbagai amalan tarikat
di atas. Abdullah Ahmad tampaknya menjadi poros-tengah dalam
mensosialisasikan pendapat-pendapat Ahmad Khatib dalam menyuarakan
gerakan anti tarikat itu ke sesama Kaum Muda. Di antara Kaum Muda lain
yang aktif menolak tarikat dan mempertahankan pendapat Ahmad Khatib
adalah Syekh H. Abdul Karim Amrullah dengan menulis kitab berjudul,
Qath'iu Riqabi al-Mulhidina (pemancung leher orang-orang yang terpesona).
Konflik pemikiran keagamaan berkembang pula dari masalah tarikat
kepada masalah-masalah lain yang pada mulanya bersifat khilafiah. Antara
lain mengucapkan ushalli sebagai lafaz niat salat, menghadiahkan do'a,
berdiri membaca riwayat Nabi ketika merayakan Maulid, membakar

20
Ibid., h.47-134. Lihat juga HAMKA, Op.Cit.,, h.291. Yang dimaksud dengan
wasilah dan rabithah di sini ialah beribadat kepada Tuhan serta memohon kepada
Tuhan dengan terlebih dulu membayangkan guru, pemimpin atau mursyid tarikat
sebagai perantara. Wirid-wirid di sini ialah bacaan-bacaan yang dianggap
berpahala dan dirutinkan. Kaifiat ialah cara-cara yang lazim dilaksanakan dalam
beribadah menurut tuntunan yang telah ditentukan, dalam hal ini menurut versi
tarikat Naksyabandi
21
Ibid.,h.138-141.
22
Lihat, Lathif, Op.Cit., h.4.
Tokoh lain yang ikut dari Kaum Tua ialah Syekh Khatib Ali di Padang. Lihat,
23

HAMKA, Ibid.

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


kemenyan sebelum berdo'a dalam acara syukuran atau selamatan dan lain-
lain.24 Pertikaian itu kemudian berkembang menjadi kubu-kubu perjuangan
yang bisa disebut sebagai konflik institusional. Kaum Muda karena selalu
berfikir ke depan selalu berorientasi kepada "kemajuan". Kemajuan adalah
kosa kata yang amat populer pada dekade-dekade awal abad ke-20 M. Kata
ini mengandung pengertian cara-cara hidup yang meniru bangsa modern di
zaman itu, melalui adaptasi terhadap kehidupan Barat, antara lain orang-
orang Belanda dan apa yang menjadi gambaran dalam surat kabar yang
terbit waktu itu. Bagi Kaum Muda kata kemajuan diseleksi. Cara hidup Barat
yang tak sesuai Islam ditolak. Mereka lebih menekankan kepada gaya
hidup dan cara berfikir yang progresif dan modern. 25 Untuk menyesuaikan
arah baru dalam berfikir dan corak kehidupan, berkaitan dengan agama,
maka Kaum Muda berpendapat pintu ijtihad selalu terbuka dan senantiasa
mengembangkan akal fikiran. Mereka mempergunakan institusi moderen
dalam memperjuangkan dan menegakkan faham mereka.
Kaum Muda membangun organisasi sebagai wadah pergerakan, juga
yayasan-yayasan, menggunakan media massa pers, mendirikan sekolah-
sekolah moderen dan meninggalkan sistem tradisional. Sistem belajar
halaqah (siswa duduk di lantai melingkari guru) berubah menjadi baru
dengan sistem kelas. Kaum Muda giat melakukan tabligh dan da'wah secara
terbuka. Tabligh terbuka ini menjadikan gerakan Kaum Muda lebih
dinamis, progresif, bersifat massal dan semarak. Hal ini tentu bertolak
belakang dengan Kaum Tua yang senantiasa menjalankan sistem pengajian
tertutup dan untuk murid-murid tertentu seperti yang lazim berlaku di
kalangan pengikut tarikat.
Secara institusional, Syarikat Oesaha (1909 M) dapat dianggap
organisasi pertama Kaum Muda yang berhasil mendirikan Sekolah
Adabiah. Organisasi ini kemudian menjadi yayasan yang dipimpin oleh
Abdullah Ahmad. Dari aktivitas organisasi itu pula diterbitkan majalah al-
Munir di Padang pada 1911-1916 M. Berikutnya, organisasi Persatuan
Guru-guru Agama Islam (PGAI) didirikan 1918 M., juga oleh Abdullah
Ahmad dan teman-temannya sesama Kaum Muda. PGAI mendapat
pengakuan hukum pada 1922 M. Organisasi ini mendirikan sekolah Normal
Islam pada 1930 M. Sekolah agama merupakan ciri khusus yang
dilaksanakan PGAI, sedangkan Adabiah bersifat pendidikan umum.26
Sebelum pindah ke Padang Panjang, di negeri kelahirannya
Maninjau, tokoh Kaum Muda Syekh Amrullah sudah membina organisasi
Sendi Aman Tiang Selamat. Di Padang Panjang Kaum Muda yang semula
melakukan aktivitas pengajian di Surau Jembatan Besi mendirikan

24
Lihat M. Sanusi Latief, Op.Cit., h.135 dan HAMKA, Op.Cit.,h.292.
25
Kata "kemajuan" mula-mula diterbitkan oleh Insoelinde dalam jurnal untuk
para guru dan pegawai pemerintah yang pribumi di seantero tanah air. Lihat Taufik
Abdullah, Schools... Op.Cit.,h.11.
26
Lihat, Deliar Noer, Op.Cit.,h.46-48.

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


Madrasah Sumatera Tawalib pada 1918 M. Begitu pula di Parabek,
Bukittinggi dan Padang Japang, Payakumbuh antara 1920-1930 M. berdiri
pula sekolah atau madrasah agama yang sekaligus menerbitkan media
pers27 sebagai sarana komunikasi-informasi interen dan eksteren. Gebyar
penerbitan pers di kalangan Kaum Muda marak pada 1910-1930 M. Selain
Al-Munir dan Al-Munir al-Manar antara 1911-1922 M. di Padang dan
Padang Panjang ada lagi Al-Ittiqan di Maninjau, Al-Bayan di Parabek,
Al-Basyir, di Sungayang, Batu Sangkar, dan Al-Imam di Padang Japang,
Payakumbuh.
Institusi Kaum Muda diperkuat lagi dengan lahirnya Muhammadiyah
yang semula di Maninjau kemudian berbasis di Padang Panjang (1925
M).28 Melalui institusi organisasi, sekolah atau madrasah dan lembaga pers
itu ide-ide pembaruan Kaum Muda menjalar dan menggema ke berbagai
tempat dan wilayah, bukan saja di Minangkabau bahkan juga keluar
daerah. Bila aktivitas pers, sekolah dan madrasah di Padang dan Padang
Panjang dimotori oleh Abdullah Ahmad dan Abdul Karim Amrullah, maka
tabligh-tabligh terbuka sangat menonjol dilakukan oleh Syekh Jamil Jambek
yang menyebarkan kegiatannya dari Bukittinggi sebagai pusat. Reaksi Kaum
Tua terhadap gerakan bersifat individual, institusional dan kolektif Kaum
Muda itu tampak cukup hangat. Kaum Tua tak ketinggalan melakukan
upaya-upaya individual, kolektif dan institusional pula dalam menyuarakan
dan mensosialisasikan faham mereka serta mempertahankan tradisi-tradisi
yang mereka anut. Oleh karena itu, meskipun pemikiran Kaum Tua dapat
dikategorikan tradisonal namun dalam metode perjuangan, seakan mengikuti
perkembangan zaman mereka juga menggunakan sistem, metoda, sarana,
prasarana dan cara-cara modern.
Kalau Kaum Muda berbasis di organisasi dan sekolah, Kaum Tua
yang sudah berbasis di Madrasah mulai pula memperkuat barisan bersama.
Begitu pula kalau Kaum Muda mempunyai terbitan-terbitan pers, Kaum
Tua juga melakukan hal-hal yang sama. Berdirinya organisasi Persatuan
Ulama (Ittihad al-Ulama) pada 1922-1928 M. oleh Kaum Tua dapat
dainggap sebagai sandingan atau bahkan saingan atas berdirinya PGAI
oleh Kaum Muda pada 1918. Selanjutnya untuk menyuarakan faham Kaum
Tua ke tengah masyarakat diterbitkan pula Suluh Melayu oleh Syaikh
Khatib Ali di Padang pada 1913 M. dan al-Mizan di Maninjau, Agam

27
Lihat, HAMKA, Op.Cit.,h.101.
28
Muhammadiyah lahir di Minangkabau berdasarkan inspirasi Abdul Karim
Amrullah setelah melawat ke Jawa 1917 dan 1925. Beliau mengikuti
perkembangan Muhammadiyah (yang lahir 1912 di Yogyakarta didirikan oleh KH
Ahmad Dahlan). Organisasi ini di dalam gerakan dan pemikirannya sama dengan
Kaum Muda. Dengan begitu tempat aktivis Kaum Muda bergerak menjadi banyak
antara lain SI Putih, PGAI, Adabiyah, Sumatera Thawalib dan kemudian ketika
Diniyah putri (1923) dan Diniyah Putra berdiri pula di Padang Panjang, sekolah ini
juga termasuk beraliran Kaum Muda. Lihat juga HAMKA, Op.Cit., h.115-118,
148-150. Untuk Diniyah Putri dan Putra, lihat Edwar, ED., Op.Cit.,h. 209-218.

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


pada 1921 M.29 Berikutnya sebagai lembaga pembina kader Kaum Tua
mendirikan pula madrasah-madrasah bernama Madrasah Tarbiyah
Islamiyah. Madrasah-madrasah ini banyak yang berasal dari surau-surau
Kaum Tua yang berganti memakai bangku dan ruangan kelas. Pada tahun
1928 M. madrasah-madrasah tersebut berhimpun dalam organisasi
Persatuan Madrasah tarbiyah Islamiyah. Kemudian dari sifat persatuan
madrasah itu, Kaum Tua mempermanenkannya menjadi himpunan
gerakan semua orang yang sefaham dengan Kaum Tua dari berbagai aspek
pendidikan, faham keagamaan, kecendrungan politik, membina kemajuan
sosial yang mereka sebut sebagai Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) pada
20 Mei 1930 M.30 Sejalan dengan itu semua untuk menandingi kegiatan
tabligh terbuka yang banyak dilakukan Kaum Muda, Kaum Tua juga aktif
mengunjungi berbagai daerah yang menonjol dilakukan oleh Syaikh
Khatib Ali dari Padang dan Syaikh Sulaiman al-Rasuli di Candung, Agam.31
Konflik Kaum Muda dan Kaum Tua tadi adakalanya tampak keras
dan dilakukan dengan lantang, terutama bila membicarakan masalah tarikat
yang terlihat dari judul-judul buku yang mereka sajikan.32 Tokoh Kaum Muda
Syaikh Abdul Karim Amrullah serta tokoh Kaum Tua Syaikh Khatib Ali dan
Syaikh Saad Mungka dapat dikategorikan kepada mereka yang bergaris
keras. Sebaliknya ada yang bersifat diplomatis dan kelihatan lunak seperti
yang dilakukan oleh Syaikh Abdullah Ahmad dalam artikel-artikelnya dan
Jamil Jambek dalam tablighnya, di kalangan Kaum Muda. Sementara yang
lunak ini di kalangan Kaum Tua adalah Syaikh Sulaiman al-Rasuli serta
Syaikh Abbas Qadhi dari Padang Laweh di dalam artikel-artikel dan tabligh
mereka.
Sikap keras dan lunak, baik di kalangan Kaum Muda maupun Kaum Tua
tidak selalu konstan (tetap). Pada saat tertentu yang lunak bisa keras atau
sebaliknya. Kemudian adanya forum-forum bersama yang membuat
mereka tidak mungkin menghindar bahkan saling bekerjasama, maka
antara Kaum Muda dan Kaum Tua dalam tenggat waktu 1907-1937 M.,
juga terjadi pola hubungan integrasi yang bersifat sinerjik. Di dalam hal apa
saja proses integrasi itu terjadi, berikut ini akan ditelusuri dan dianalisis.

IV. INTEGRASI-SINERJIK YANG DINAMIS


Sebagai orang yang sesama beriman dan beragama Islam, apalagi
tokoh-tokoh Kaum Tua dan Kaum Muda pada umumnya adalah ulama
terkemuka di bidangnya,33 pemimpin masyarakat, pemimpin lembaga
pendidikan, pemimpin organisasi dan media pekabaran (pers), maka konflik-

29
Lihat HAMKA,Op.Cit.,h.292.
30
Lihat Edwar, Ed.,Op.Cit.,h.80.
31
Ibid., h. 37
32
Lihat HAMKA, Loc.Cit.,h.291.

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


konflik yang terjadi antara kedua golongan tadi bukanlah suatu permusuhan
abadi. Ketegangan itu pun tidak bersifat individual, apalagi menyangkut
harga diri (muru'ah) dan martabat perseorangan tetapi dalam gagasan dan
pemikiran serta pemahaman atas berbagai masalah keagamaan, sosial
kemasyarakatan dan politik. Di saat pergesekan mereda, yang terlihat di
antara mereka adalah hubungan yang bersifat integratif-sinerjik, penyatuan
dengan saling memperkokoh eksistensi dan hal ini berlaku secara alamiah.
Hubungan itu kelihatan adakalanya merenggang dan kadang-kadang merapat.
Ketika Syarikat Islam (SI) masuk ke Sumatera Barat, masyarakat
Minangkabau yang gandrung kepada "kemajuan" melihat organisasi yang
pada dasarnya memperhatikan rakyat dalam bidang ekonomi yang kemudian
berkembang ke politik, telah menjadi tempat bernaung beberapa tokoh kedua
golongan itu, baik Kaum Tua mupun Kaum Muda. SI sendiri di beberapa
tempat di luar Minangkabau banyak dipimpin oleh tokoh perantau Minang.
Untuk tingkat pusat yang menonjol adalah H. Agus Salim dan Abdul Mu'is.34
Atas saran tokoh-tokoh perantau Minang35 di sini berdiri cabang SI.
Pendirinya adalah ulama-pedagang, Haji Ahmad dan tokoh Kaum Tua
Syaikh Khatib Ali. Pengikut SI di masa-masa awal ini kebanyakan petani
dan pedagang yang juga simpatisan Kaum Tua. Lantaran perjuangan SI
waktu itu antara lain mengeritik pelaksanaan administrasi pemerintahan
Belanda di pantai barat Sumatera di dalam Kongres SI di Bandung 1916
M., maka simpati golongan intelektual Minangkabau muncul. Mereka yang
terakhir ini masuk pula ke dalam SI. Ternyata kaum intelektual ini mayoritas
adalah Kaum Muda yang segera mendominasi kepengurusuan daerah SI,
kebanyakan di antara mereka adalah guru-guru dan pegawai pemerintah
yang simpati kepada perjuangan kebangsaan dan Islam.36 Kaum Muda seakan
mendapat motivasi lebih tinggi lagi untuk berkiprah dalam SI karena Syekh

33
Menurut pembicaraan dari mulut ke mulut dalam pertemuan dengan penulis
dengan beberapaulama yang ada di Sumbar beberapa tahun lalu, Syekh DR. H.
Abdul Karim Amrullah dianggap sangat dalam ilmunya di bidang usul fikih, fikih,
dan ilmu kalam (tauhid). Syekh H. Ibrahim Musa Parabek adalah ahli Tata Bahasa
Arab. Syekh H. Jamil Jambek di samping ahli pidato adalah ahli Ilmu Falak dan
ahli Ilmu Hisab. Syekh DR. H. Abdullah Ahmad adalah ahli jurnalisitik dan ia
pernah menjabat Ketua Wartawan Padang pada 1914. Begitu pula di kalangan
Kaum Tua, Syekh H. Sulaiman al-Rasuli ahli fikih dan tarikat, begitu pula Syekh
Khatib Ali adalah ahli fikih dan tarikat. Pada umumnya ulama Kaum Tua adalah
penganut tarikat.
34
Lihat Taufik Abdullah, Schools...Op.Cit.,h.24. Lihat pula Seratus Tahun Haji
Agus Salim, (Jakarta: Panitia Buku 100 Tahun Haji Agus Salim, Sinar Harapan,
1984),h.57-63.
35
Dalam tenggat waktu 1916-1927 M., Moeis dan Salim sangat menonjol di
dalam kepemimpinan SI. Abdul Moeis (lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, 1878 M.)
pernah menjadi Wakil Presiden Centraal Sarekat Islam dan H. Agus Salim ( lahir
di Koto Gadang, Bukittinggi 1884 M.) sebagai pemimpin deretan atas SI. Lihat
Deliar Noer, Op.Cit.,h. 122-123. Perkiraan kedua tokoh ini memberi pengaruh atas
berdirinya SI di Padang.

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


Ahmad Khatib menyokong ummat Islam Indonesia menggerakkan SI dalam
kitabnya Tanbih al-'Awam. Kitab ini dapat dianggap jawaban atas tulisan
seorang ulama dari Jawa Syekh Hasyim Asy'ari yang menentang berdirinya
SI dalam tulisan "Kafful 'Awami 'anil Khaudi fi Syirkat al-An'am fi al-raddi
'ala Risalat Kaffi al-'Awam." Ahmad Khatib sangat "anti Belanda".37
Integrasi-sinerjik Kaum Tua dan Kaum Muda di dalam SI tak
berjalan lama. Karena kekurang-mampuan memimpin dan keuangan dari
para pendiri SI di Minangkabau yang ternyata adalah mayoritas Kaum Tua,
maka Kaum Muda yang semakin dominan, berinisiatif mendirikan sendiri
cabang SI di wilayah ini. Krisis internal selanjutnya sudah tidak
terhindarkan lagi. SI di daerah ini pecah menjadi dua. Pertama, SI yang
dipimpin H. Abdullah Ahmad dan Abdullah Basa Bandaro yang juga aktivis
organisasi Syarekat Usaha yang merupakan kampiun Kaum Muda dan
menggunakan identitas Kartu Putih. Kedua, SI yang tetap di bawah
kepemimpinan Haji Ahmad dan Syaikh Khatib Ali yang menggunakan
identitas Kartu Merah SI. Di dalam kebijaksanaan organisasi kedua faksi ini
juga berbeda. Yang pertama lebih dapat bekerjasama dengan pemerintah
Belanda bahkan menerima subsidi untuk sekolah HIS-Adabiah yang
menggunakan bahasa pengantar bahasa Belanda. Yang kedua tidak
disenangi oleh Resident, petinggi Belanda dan stafnya di Padang. Belakangan,
yang diakui oleh Central SI adalah kelompok SI kedua atau SI Kartu Merah.
Kemudian disusul pengakuan sebagai cabang lepas (kusus) untuk yang
pertama (SI Kartu Putih), karena cabang ini mulai melakukan oposisi
moderat terhadap pemerintah.38
Sikap oposisi terhadap pemerintah ini dalam bentuk lain juga
mengakibatkan tergalangnya kesamaan visi dan misi yang menyebabkan
merajut kembali emosi integrasi yang belakangan agak terganggu antara
Kaum Tua dan Kaum Muda. Meskipun integrasi itu kelihatan semu, tetapi
hasilnya cukup konkret. Misalnya ketika perkumpulan-perkumpulan agama
dan ulama-ulama Minangkabau yang dipelopori Kaum Tua dan Kaum Muda
melakukan penolakan peraturan pemerintah yang disebut Guru Ordonansi,
1928 M.39 Dikatakan integrasi semu ialah karena sebelum penolakan secara
resmi di hadapan sekitar 2000 orang tokoh masyarakat dan ulama tanpa
perbedaan aliran dan golongan pada 18 Agustus 1928, beberapa tokoh
Kaum Muda di antaranya Abdullah Ahmad, dan Kaum Tua Syaikh Khatib
Ali, Syaikh Sulaiman Al-Rasuli terlebih dulu sudah dipengaruhi DR. de Vires
utusan pemerintah pusat Batavia untuk menerima peraturan itu.40

36
Lihat Taufik Abdullah, Schools...Op.Cit.,h.25.
37
Lathif, Op.Cit.,h.3. Lihat, Edwar, Op.Cit., h.19, dan lihat juga Deliar Noer,
Op.Cit.,h. 38.
38
Ibid., h. 29
39
Lihat HAMKA, Op.Cit.,h.166.
40
Ibid.,h.176-171.

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


Akan tetapi karena DR. Abdul Karim Amrullah yang berhaluan keras
dapat menggalang solidaritas hadirin dalam pertemuan akbar itu penuh
retorika dan imbauan yang memikat mengakibatkan peraturan Guru
Ordonansi itu ditolak. Penolakan inilah yang merupakan hasil konkret.
Penolakan itu dilakukan secara massal, di situ bergabung Kaum Tua dan
Kaum Muda. Keadaan serupa selanjutnya terjadi ketika pemerintah Belanda
hendak menerapkan pula peraturan Ordonansi Sekolah Liar pada 1932 M.
Kembali ulama Kaum Tua dan Kaum Muda menolaknya dengan ketua
panitia DR. Syekh H. Abdul Karim Amrullah. Pada 1937 M. pemerintah
hendak menerapkan lagi peraturan Nikah Bercatat. Kali ini yang tampil
menjadi ketua panitia penolakan ialah dari Kaum Tua , yaitu Syekh H.
Sulaiman Al-Rasuli.41
Secara internal perbedaan pendapat untuk beberapa hal pun semakin
berkurang dan ada persoalan yang disepakati antara lain pembagian harta
warisan yang diatur menurut adat dan menurut syariat. Walaupun guru
yang amat disegani di Mekah Syekh Ahmad Khatib mengatakan harta pusaka
Minangkabau itu Syubuhat, tetapi Kaum Tua dan Kaum Muda dalam hal ini
tampak melakukan kompromi. Hal itu tercemin pada pendapat Abdul
Karim Amrullah seperti dikatakan HAMKA:42
Tetapi ayah saya DR. Syekh Abdul Karim Amrullah berfatwa
bahwa Harta pusaka tinggi adalah sebagai wakaf juga, atau sebagai
harta Mussabalah yang pernah dilakukan Umar bin Khatab pada
hartanya sendiri di Khaibar, yang boleh diambil isinya tetapi tidak
boleh di-Tasharruf-kan tanahnya. Beliau mengemukakan Qaidah
Ushul yang terkenal, yaitu"Al'Adatu Muhak Kamatun, wal 'Urfu
Qa-Dhin". Melihat jalan fikiran ulama di Minangkabau sendiri, harta
itu dibagi dua: pertama harta pusaka tinggi. Kedua, harta pencaharian.
Harta pusaka tinggi tidak boleh diganggu-gugat, tetapi dalam
keadaannya semula : Dijual tidak dimakan beli, digadai tidak
dimakan sando. Tetapi harta pencaharian, hendaklah di- Faraidh-kan
menurut Agama.
Secara perorangan integrasi antar tokoh Kaum Tua dan Kaum Muda
juga kelihatan dengan nyata. Meskipun ada perbedaan prinsip dalam masalah
agama, namun demi untuk memajukan umat Islam di ranah ini ditambah
pula oleh pengalaman yang menunjukkan bahwa pemerintah Belanda
semakin memperluas intervensinya dalam berbagai lapangan kehidupan,
maka kedua golongan itu semakin akrab. Hubungan silaturrahmi dan
ukhuwah Islamiah antara pribadi tokoh Kaum Muda dan Kaum Tua pada
1930-an dapat diketahui oleh masyarakat dalam berbagai kegiatan agama
dan kemasyaraktan. Abdul Karim Amrullah, Ibrahim Musa Parabek dan
Sulaiman al-Rasuli seakan mewakili sosok integrasi-sinerjik pribadi-pribadi

41
Lihat juga HAMKA, Ibid.,h.172-174.
42
Lihat HAMKA, Islam dan Adat Minangkabau, (Jakarta: Pustaka Panjimas,
1984), h.103.

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


Kaum Muda dan Kaum Tua, etika mereka pada 1930-an, pergi bersama-sama
turun ke desa-desa menyampaikan dakwah dan tabligh. Ketiganya berjanji
akan sama-sama membawa umat ini kepada satu tujuan, yaitu persatuan.43
Di balik itu semua, secara diam-diam untuk hal-hal yang krusial
seperti masalah tarikat dan pelaksanaan salat dengan lafaz niat ushalli dan
lain-lain mereka tetap berpegang dengan pendirian masing-masing. Untuk
yang terakhir ini, sekan-akan terjadilah suatu "kesepakatan untuk tidak
sepakat" (agreement to disagree).
V. KESIMPULAN
Konflik-pemikiran dan integrasi-sinerjik Kaum Tua dan Kaum Muda
di Minangkabau pada 1903-1937 M. tampaknya merupakan friksi dan
rekonsiliasi intern ulama. Kaum ulama sebagai komponen kepemimpinan
masyarakat Minangkabau pada kurun ini sangat intensif melakukan
pengkajian, pendalaman ajaran dan praktik agama serta terlibat penuh
dalam berbagai aspek dan dinamika kehidupan fisik-jasmani dan mental-
ruhani di wilayah ini. Hal itu didorong oleh faktor dalam (intern), dinamika
masyarakat serta tingkat pendidikan yang semakin maju dan faktor luar
(ekstern), pengaruh interaksi dengan mancanegara, antara lain ketika
beberapa tokoh kedua golongan tersebut pulang setelah belajar di Timur
Tengah.
Kedua kelompok merupakan partisipan aktif "anak zaman"-nya
antara mereka yang mapan dan ingin melanjutkan tradisi (continuity) dan
mereka yang ingin berubah ke arah kebaikan (ishlah) atau positive-change
sebagai reformis. Kelompok mapan tampaknya berbasis di lapisan bawah
yang agak merata di pedesaan terutama berlatar belakang tarikat dan
lingkaran pengajian tradisional. Sementara kelompok reformis, lebih
berbasis kelas menengah perkotaan, pedagang dan cendekiawan. Pada
mulanya mereka dari kalangan tradisional juga namun cepat menyambut
perubahan zaman dalam berbagai lapangan. Keduanya baik yang mapan
maupun yang pro-perubahan, masing-masing mengelompok dalam institusi
sosial, pendidikan, pers bahkan politik.
Bila ditilik dari sumber konflik, persoalan tarikat merupakan faktor
dominan pada awalnya (1903M.). Kemudian hal itu berkembang ke
masalah khilafiah (fikih), lalu ke pemikiran keagamaan, pro-kontra
terbuka dan tertutupnya pintu ijtihad serta penggunaan akal. Di dalam
dinamika konflik itu seakan Kaum Muda merupakan anti tesa pendobrak
kemapanan Kaum Tua yang menjadi tesa. Dari tesa dan anti-tesa itu
lahirlah sintesa yang secara relatif dapat dianggap sebagai integrasi-sinerjik
dinamis, penjelmaan pandangan dunia (world-view) yang baru bagi kedua
pihak. Walaupun dalam sektor tertentu, integrasi ini tidak mengubah hal-hal
mendasar, namun ada manfaatnya. Antara lain masyarakat Minangkabau
semakin terbuka dan semakin dapat menggunakan sarana, prasarana serta

43
Lihat HAMKA, Ayahku... Ibid.,h.293

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


institusi moderen dalam kehidupan beragama, sosial, pendidikan, pers
bahkan politik.
Integrasi sosial dan pemikiran yang muncul belakangan, boleh jadi
akibat kearifan kedua pihak, plus tantangan dari luar yang mereka anggap
musuh bersama. Mereka bersatu menolak Ordonansi Guru, Ordonansi
Sekolah Liar, dan nikah bercatat (1937M.). Secara internal mereka juga
menemukan solusi soal pewarisan harta pusaka tinggi menurut adat dan
harta hasil pencaharian (pusaka rendah) menurut agama.
Selebihnya integrasi itu dapat diartikan sebagai sikap memahami
pendapat masing-masing tanpa mengubah prinsip pihaknya sendiri. Pada
dekade-dekade berikutnya hal itu menjadi modal dasar bagi kedua kelompok
khususnya dan masyarakat Minangkabau pada umumnya dalam
menyelesaikan dan menghadapi masalah-masalah agama yang kian menyatu
dengan seluruh aspek kehidupan. Tugas menghadapi masa depan tak
pernah putus dalam dua garis yang saling berinteraksi antara kemapanan
dan perubahan. Semua itu menjadi refleksi dinamika kaum agama di
Minangkabau menurut zamannya. Bagaimana paradigma ulama dan umat
selanjutnya dalam kontinuitas dan perubahan Islam di Minangkabau, tentu
meminta pembahasan tersendiri. ***

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdullah, Taufik, Schools and Politics: The Kaum Muda Movement in
West Sumatra (1927-1933),Ithaca Nework, Cornell University, 1971.
------- Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia, Jakarta, LP3ES,
1987.
Djamal, Murni, DR. H. Abdul Karim Amrullah His Influence in the Islamic
Reform Movement in Minangkabau in the Early Twentieth Century,
Montreal, McGill University, 1975.
Edwar, Ed., Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera
Barat, Padang, Islamic Center, 1981.
HAMKA, Ayahku: Riwayat Hidup DR. H. Abdul Karim Amrullah dan
Perjuangan Kaum Agama di Sumatera, Jakarta, UMMINDA, 1982.
------- ,Islam dan Adat Minangkabau, Jakarta, Pustaka Panjimas, 1984.
Lathif, Al-'Alamah Syekh Ahmad Khatib bin Abdul, A. Mm. Arief
(Penyalin), Fatwa tentang : Tharikat Naqasyabandiyah, Medan,
Islamiyah, 1978.
Latief, M. Sanusi, Gerakan Kaum Tua di Minangkabau 1907-1969,
(Disertasi Doktor) Jakarta, IAIN Syarif Hidayatullah, 1988.
Mansoer, M.D., Et. al., Sejarah Minangkabau, Jakarta, Bhratara,
1970.

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


Navis, A.A., Dialektika Minangkabau: dalam Kemelut Sosial dan Politik,
Padang, Genta Singgalang Press, 1983.
Nazwar, Akhria, Syekh Ahmad Khatib: Ilmuwan Islam di Permulaan
Abad ini,Jakarta, Panjimas, 1983
Noer, Deliar, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942,Jakarta,
LP3ES, 1980.
Saifuddin, Achmad Fedyani, Konflik dan Integrasi: Perbedaan Faham
dalam Agama Islam, Jakarta, Rajawali, 1986.
Salim, Panitia Buku 100 Tahun Haji Agus, Seratus Tahun Haji Agus Salim,
Jakarta, Sinar Harapan, 1984.
Schrieke, B.J.O., Pergolakan Agama di Sumatera Barat, Jakarta, Bhratara,
1973.

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999


BIO DATA RINGKAS PENULIS

SHOFWAN KARIM, Penata Muda Tk. I (III/b) Asisten Ahli Perkembangan


Modern Dalam Islam, Lulusan Pascasarjana/S2, IAIN Jakarta,1991 dan
sedang menyelesaikan Pascasarjana/S3 IAIN Jakarta. Tulisannya nomor
ini, Konflik-Pemikiran dan Integrasi-Sinerjik Ulama Minangkabau 1903-
1937

TAJDID No. 6, Vol. 2, Th. 1999