Anda di halaman 1dari 51

Laporan Praktek Kerja Lapangan

Pusdiklat Migas Cepu 2014



Jurusan Kimia
Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang
1
BAB I
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

1.1 Sejarah Perusahaan
Pusdiklat Migas Cepu merupakan instansi Pemerintahan yang
menyelenggarakan tugas dan tujuannya sebagai Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Minyak dan Gas Bumi. Untuk menunjang kegiatan Pusdiklat Migas
Cepu dilengkapi sarana pendidikan berupa Kilang pengolahan minyak mentah
atau Crude Oil yang dihasilkan oleh Pertamina. Crude Oil Pertamina yang
ditambang dari sumur daerah Kawengan dan Ledok dengan bantuan pompa
dialirkan ke unit Kilang Cepu untuk diolah menjadi produk seperti Pertasol,
Solar dan Residu.
Pusdiklat Migas selain sebagai penghasil minyak juga merupakan
pelaksana tugas di bidang pengembangan tenaga perminyakan dan gas bumi.
Dalam melaksanakan tugasnya, Pusdiklat Migas bertanggung jawab kepada
Kepala Badan Diklat dan Sumber Daya Mineral (Surat Keputusan Menteri
Sumber Daya dan Mineral No. 150 Tahun 2001) yang diperbaharui dengan
Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 18 Tahun 2010.
Fungsi Pusdiklat Migas Cepu :
1. Penyiapan penyusunan kebijakan teknis, rencana dan program di bidang
Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi.
2. Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi.
3. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas di bidang
Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi.
4. Pelaksanaan administrasi Pusat Pelatihan dan Pendidikan Minyak dan Gas
Bumi.
Ditinjau dari sejarah berdirinya Pusat Pendidikan dan Pelatihan Minyak
dan Gas Bumi banyak mengalami pergantian nama sejak ditemukan minyak di
Cepu sampai sekarang. Kilang minyak di daerah Cepu yang terletak antara
Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan tempat berdirinya Kilang minyak
kedua di Indonesia setelah Wonokromo.
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
2
Berdasarkan sejarah berdirinya, umur Kilang minyak Cepu telah
mencapai 100 tahun lebih dan telah mengalami banyak perubahan nama.
1.1.1 Jaman Hindia Belanda (1886 1942)
Pada awal berdirinya, Pusdiklat Migas Cepu bernama Dordtsche
Petroleum Maatschappij (DPM). DPM didirikan oleh Adrian Stoop, anak
kelima dari sebelas bersaudara. Adrian Stoop dilahirkan dari keluarga
pengusaha sebuah bank kecil di kota Dordecht (Holand). Setelah
menyelesaikan pendidikan di HBS (SLTA) pada tahun 1973 melanjutkan
pendidikan di bidang Geologi di Fakultas Teknik Universitas DELFT dan
berhasil meraih gelar sarjana pertambangan. Pada tahun 1879 diangkat
menjadi teknisi muda pada groundpeilwezen di Jawa yang bertugas
mengebor air minum. Dalam menjalankan tugasnya Adrian menemukan
sedikit kandungan minyak di dalamnya.
Pada tahun 1886 Adrian pergi ke Amerika selama 1 tahun untuk
belajar bagaimana orang Amerika mengebor dan mengelola usaha di bidang
perminyakan. Dalam laporannya yang dipublikasikan di Jaarboek voor het
mijnwezen van nederlandche indie pada 1888, dapat disimpulkan bahwa
usaha perminyakan di Indonesia memiliki prospek yang cukup baik. Dengan
modal sebesar F.150.000 didirikan DPM. Peralatan yang digunakan dipesan
dari USA dan tiba di Surabaya dalam waktu 6 bulan melalui Asterdam dan
Rotterdam. Pengeboran pertama dilakukan di Surabaya Selatan pada tahun
1888 dan menghasilkan minyak yang cukup berkualitas untuk bahan bakar
mesin uap. Kemudian dibangun Kilang kecil di Desa Medang dan di
Wonokromo.
Selain di Surabaya Adrian Stoop juga mengadakan pengeboran
minyak di daerah Rembang. Pada bulan januari 1893, dari Ngawi dengan
menggunakan alat rakit, Adrian Stoop menyusuri Bengawan Solo menuju
Ngareng dan Cepu (Panolan). Pengeboran yang dilakukan di Ngareng
berhasil memuaskan. Di daerah ini kemudian didirikan perusahaan minyak
yang akhirnya menjadi Pusdik Migas. Organisasinya berpusat di Jawa
Timur yang dikuasai oleh Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM).

Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
3
1.1.2 Jaman Jepang (1942 - 1945)
Perang Eropa merangsang pemerintah Jepang memperluas kekuasaan
di Asia. Pada tanggal 8 Desember 1941 Pearl Harbour yang terletak di
Hawaii di Bom Jepang. Pengeboman ini menyebabkan meluasnya
peperangan di Asia. Pemerintah Belanda di Indonesia merasa kedudukannya
terancam, sehingga untuk menghambat laju serangan Jepang mereka
menghancurkan instalasi atau Kilang minyak yang menunjang perang,
karena pemerintah Jepang sangat memerlukan minyak untuk diangkut ke
negerinya. Perusahaan minyak terakhir yang masih dikuasai Belanda yang
terdapat di Pulau Jawa yaitu Surabaya, Cepu dan Cirebon. Dimana pada
waktu itu produksi di Cepu merupakan produksi yang paling besar dengan
total produksi 5,2 juta barrel per tahun.
Jepang menyadari bahwa pengeboman atas daerah minyak akan
merugikan diri sendiri. Sehingga perebutan daerah minyak jangan sampai
menghancurkan fasilitas lapangan dan Kilang minyak. Meskipun sumber-
sumber minyak dan Kilang sebagaian besar rusak akibat taktik bumi hangus
Belanda, Jepang berusaha agar minyak mengalir kembali secepatnya.
Tentara Jepang tidak mempunyai kemampuan di bidang perminyakan
sehingga untuk memenuhi kebutuhan tenaga terampil dan terdidik dalam
bidang perminyakan, Jepang mendapat bantuan tenaga sipil yang pernah
bekerja di perusahaan minyak Belanda, kemudian menyelenggarakan
pendidikan di Indonesia.
Kehadiran Lembaga Pendidikan Perminyakan di Cepu diawali oleh
Belanda bernama Midlebare Petroleum School dibawah bendera NV.
Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Setelah Belanda menyerah dan
Cepu diduduki Jepang maka lembaga itu dibuka kembali dengan nama
Shokko Gakko.
1.1.3 Masa Indonesia Merdeka (1945 - sekarang)
Setelah proklamasi kemerdekaan, lahir Perusahaan Tambang Minyak
Negara (PTMN) di Cepu. Daerah operasinya meliputi lapangan minyak
Wonocolo, Nglobo, Kawengan, Ledok dan Semanggi. Administrasi Sumber
Minyak (ASM), menyerahkan pada pemerintah sipil. Untuk itu dibentuk
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
4
panitia kerja yaitu Badan Penyelenggara Perusahaan Negara (BPPN) yang
kemudian melahirkan Perusahaan Tambang Rakyat Indonesia. Untuk
mengatasi kesulitan yang dihadapi perusahaan, maka pada tahun 1957,
PTMRI diubah menjadi Perusahaan Tambang Minyak Nglobo CA.
perusahaan ini dikelola oleh pemerintah. Sejak PTMRI sampai Perusahaan
Tambang Minyak Nglobo CA banyak mengalami kemajuan.
Pada tahun 1966 Tambang Minyak Nglobo CA diubah menjadi
PERMIGAN, sedang Kilang minyak Cepu dan lapangan minyak Kawengan
dibeli oleh pemerintah Indonesia dari ASM dan pada tahun 1962
pengolahannya dilimpahkan pada PN PERMIGAN pada tanggal 4 Januari
1966 PN PERMIGAN dijadikan Pusat Pendidikan dan Latihan
Perindustrian.
Pusat Pendidikan Minyak dan Gas Bumi (PUSDIK MIGAS) yang
berkantor pusat di Cipulir Jakarta. Sejak saat itu kilang beserta lapangan
berfungsi sebagai alat peraga pendidikan. Pada tanggal 7 Februari 1967
diresmikan Akademi Minyak dan Gas Bumi (AKAMIGAS) angkatan 1.
Berdasarkan pada Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi
pada 26 Desember 1977, organisasi LEMIGAS diubah menjadi Pusat
Pengembangan Perminyakan dan Gas Bumi (PPT MGB LEMIGAS).
Berdasarkan Kepres Nomor 15 tanggal 6 Maret 1988 semua lapangan
minyak di daerah Cepu di usahakan oleh Pertamina. Sedangkan PPT
MIGAS sesuai dengan Kepres No.15 Tahun 1987 hanya berfungsi sebagai
pengilangan dan sebagai pusat pendidikan di bidang minyak dan gas bumi
serta sebagai pusat latihan khusus. Tahun 2001, PPT MIGAS kembali
menjadi PUSDIKLAT MIGAS dengan keputusan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral No. 018 tahun 2010, tanggal 22 November 2010.
Pusdiklat Migas Cepu dikepalai oleh Kepala Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Minyak dan Gas Bumi yang mengawasi beberapa Bidang yaitu
Bidang Tata Usaha yang terdiri dari Sub bagian Kepegawaian dan Umum,
dan Sub bagian Keuangan; Bidang Program dan Kerjasama yang terdiri dari
Sub bidang Rencana dan Program, dan Sub bidang Kerjasama dan
Informasi; Bidang Penyelenggaraan dan Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
5
terdiri dari Sub bidang Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan, dan Sub
bidang Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan; Bidang Sarana dan Prasarana
Teknis terdiri dari Sub bidang Kilang dan Utilitas, dan Sub bidang
Laboratorium dan Bengkel; dan Kelompok Jabatan Fungsional.

1.2 Visi dan Misi Pusdiklat Migas Cepu
1.2.1 Visi
Visi dari Pusdiklat Migas Cepu adalah Menjadi Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Minyak dan Gas Bumi yang unggul dengan mewujudkan tata
pemerintahan yang bersih, baik, transparan dan terbuka.

1.2.2 Misi
Adapun misi dari Pusdiklat Migas Cepu adalah :
1. Meningkatkan kapasitas aparatur Negara dan Pusdiklat Migas untuk
mewujudkan tata pemerintahan yang baik.
2. Meningkatkan kompetensi tenaga kerja sub sektor migas untuk
berkompetensi melalui mekanisme ekonomi pasar.
3. Meningkatkan kemampuan perusahaan minyak dan gas bumi menjadi
lebih kompetitif melalui program pengembangan Sumber Daya Manusia.

1.3 Struktur Organisasi
Struktur organisasi adalah unit-unit kerja dalam organisasi yang
menunjukkan adanya pembagian kerja dan bagaimana fungsi-fungsi yang
berbeda tersebut dapat dikoordinasi. Pusdiklat Migas Cepu merupakan
instansi yang berada di bawah pengawasan Badan Pendidikan Pelatihan
Energi dan Sumber Daya Mineral.
Struktur organisasi yang ada di Pusdiklat Migas Cepu tersusun atas
pimpinan tertinggi sebagai kepala Pusdiklat Migas Cepu. Pimpinan tertinggi
membawahi kepala bagian dan kepala bidang yang bertugas memimpin unit-
unit di Pusdiklat Migas Cepu. Kepala bagian dan kepala bidang membawahi
sub bagian dan sub bidang dari unit-unit yang terkait. Di setiap unit terdapat
pengawas unit dan pengelola unit yang dipimpin oleh sub bagian masing-
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
6
masing unit yang memiliki karyawan dengan kemampuan dan keahlian di
setiap bidang.
Pusdiklat Migas Cepu memiliki tugas untuk melaksanakan Pendidikan
dan Pelatihan di bidang Migas serta bertanggung jawab langsung kepada
Badan Diklat Energi dan Sumber Daya Mineral sesuai peraturan Mineral
Energi dan Sumber Daya Mineral No. 0030 Tahun 2005 Tanggal 20 Juli 2005
yang diperbaharui Peraturan Menteri No. 18 Tahun 2010 Tanggal 22
November 2010, dan berdasarkan peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Nomor 18 Tahun 2010 tanggal 22 November 2010, Pusdiklat Migas
Cepu memiliki beberapa bidang sebagai berikut :
1. Bidang Tata Usaha (BDMU)
Bagian tata usaha bertugas untuk mengatur urusan dan kepegawaian,
rumah tangga, ketatausahaan, serta keuangan Pusdiklat Migas Cepu.
Berdasarkan Peraturan Menteri No. 18 Tahun 2010 Tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementrian ESDM Pasal 810, Bidang Tata Usaha memiliki fungsi:
a. Pelaksanaan urusan ketatausahaan, kearsipan, perlengkapan, rumah
tangga, kepegawaian, organisasi, tata laksana, hukum, hubungan
masyarakat, serta keprotokolan.
b. Pelaksanaan urusan keuangan dan administrasi barang milik Negara
Berdasarkan pasal 812 dan 813 menyebutkan bahwa Bidang Tata Usaha
terdiri atas :
a. Sub Bagian Kepegawaian dan Umum
b. Sub Bagian Keuangan
2. Bidang Program dan Kerjasama (BDMP)
Bidang Program dan Kerjasama bertugas melaksanakan penyiapan
penyusunan kebijakan teknis, rencana, program, anggaran, kerja sama dan
pelaporan di bidang Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi.
Berdasarkan Peraturan Menteri No. 18 tahun 2010 tentang organisasi dan Tata
Kerja Kementrian ESDM Pasal 814, Bidang Program dan Kerjasama memiliki
fungsi:
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
7
a. Penyiapan bahan penyusunan pedoman, standar, prosedur, kriteria,
rencana, program dan anggaran, serta penyusunan laporan di bidang
Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi.
b. Penyiapan kerja sama dan pengolahan informasi di bidang Pendidikan
dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi, serta pelayanan sertifikasi
kompetensi tenaga minyak dan gas bumi.
Berdasarkan pasal 816 dan 817 Bidang Program dan Kerjasama terdiri atas :
a. Sub Bidang Rencana dan Program
b. Sub Bidang Kerjasama dan Informasi
3. Bidang Penyelenggaraan dan Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan
(BDMD)
Bidang Penyelenggaraan dan Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan
bertugas melaksanakan penyelenggaraan. Pemantauan, dan evaluasi di bidang
Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi. Menurut Peraturan Menteri
No. 18 tahun 2010 tentang organisasi dan Tata Kerja Kementrian ESDM Pasal
818, Bidang Penyelenggaraan dan Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan
berfungsi untuk :
a. Penyiapan penyelenggaraan dan pelayanan jasa di bidang Pendidikan dan
Pelatihan Minyak dan Gas Bumi.
b. Penyiapan pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang Pendidikan dan
Pelatihan Minyak dan Gas Bumi.
Berdasarkan pasal 820 dan 821 Bidang Penyelenggaraan dan Evaluasi
Pendidikan dan Pelatihan terdiri atas :
a. Sub Bidang Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan
b. Sub Bidang Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan
4. Bidang Sarana dan Prasarana Teknis (BDMS)
Bidang Sarana dan Prasarana Teknis memiliki tugas untuk
melaksanakan pengolahan sarana dan prasarana teknis di bidang Pendidikan
dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi. Menurut Peraturan Menteri No. 18
tahun 2010 tentang organisasi dan Tata Kerja Kementrian ESDM Pasal 822,
Bidang Sarana dan Prasarana Teknis memiliki fungsi untuk :
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
8
a. Pengelolaan dan pelayanan jasa serta tempat uji kompetensi sarana dan
prasarana teknis Kilang dan Utilitas
b. Pengelolaan dan pelayanan jasa serta tempat uji kompetensi sarana dan
prasarana teknis uji laboratorium dan bengkel
Berdasarkan Pasal 824 dan 825 Bidang Sarana dan Prasarana Teknis terdiri
atas :
a. Sub Bidang Kilang dan Utilitas
b. Sub Bidang Laboratorium dan Bengkel
5. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok Jabatan Fungsional berada di bawah dan bertanggung jawab
kepada Sekretaris Badan atau Kepala Pusat yang bersangkutan. Kelompok
Jabatan Fungsional di lingkungan Badan Pendidikan dan Sumber Daya
Mineral bertugas untuk melaksanakan dan memberikan pelayanan jasa
Pendidikan dan Pelatihan, serta tugas lainnya yang berdasarkan pada keahlian
atau ketrampilan tertentu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
yang memiliki 3 Sub Bidang, yaitu :
a. Widyaiswara bidang pendidikan
b. Widyaiswara bidang teknologi industri
c. Widyaiswara bidang manajemen/umum

1.4 Sistem Produksi
1.4.1 Bahan Baku dan Produk
Proses produksi di Pusdiklat Migas Cepu terdapat di unit Kilang dengan
bahan baku berupa minyak mentah (Crude Oil). Pengolahan minyak
dilakukan dengan proses distilasi atmosferik yaitu, pemisahan minyak
berdasarkan titik didihnya dengan tekanan 1 atm.
Unit distilasi atmosferik atau crude distillation unit (CDU) yang berada
di Kilang Pusdiklat Migas Cepu mengolah minyak mentah yang berasal dari
sumur-sumur minyak yang terdapat di Kawengan, Ledok, Ngoblo, dan
Semanggi yang bernaung dibawah PT. Pertamina EP Region Jawa area Cepu
serta sumur minyak di Wonocolo yang merupakan pertambangan rakyat di
bawah pengawasan PT. Pertamina EP Region Jawa area Cepu.
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
9
Umpan unit distilasi di Pusdiklat Migas Cepu adalah minyak mentah
jenis HPPO (High Power Point Oil) yang merupakan campuran antara minyak
mentah dari sumur Kawengan yang berjenis LPPO (Light Power Point Oil)
dan bersifat naftanis. Produk-produk yang dihasilkan dari unit distilasi
Pusdiklat Migas Cepu adalah:
Pertasol CA, CB, dan CC
Solar
Residu
1.4.2 Kapasitas Pabrik
Kapasitas operasi di Kilang Pusdiklat Migas Cepu adalah 305 kL/hari,
sedangkan kapasitas maksimal furnace mencapai 330 500 kL/hari dengan
minyak mentah atau crude oil dan kontrak dagang dengan Pertamina.
Unit kilang Pusdiklat Migas Cepu mengolah Crude Oil menjadi Pertasol
CA, CB, CC, Solar, dan Residu.
1.4.3 Uraian Proses Produksi
Minyak mentah atau Crude Oil yang akan diolah oleh unit Kilang
Pusdiklat Migas Cepu terlebih dahulu dihilangkan ampuritasnya oleh
Pertamina (Treatment), kemudian diproses dengan tahap-tahap pengolahan
selanjutnya, sebagai berikut ini:
1.4.3.1 Pemanasan awal di Heat Exchanger
Minyak mentah dari tangki penampungan T.101/102 yang bersuhu +
46.9C dialirkan dengan pompa P-3/4/5 menuju ke HE-4,5 kemudian ke HE-1
dan HE-2,3 untuk pemanasan hingga mencapai suhu 127,7C. media
pemanas yang digunakan pada HE-4,5 adalah residu, sedangkan pada HE-1
menggunakan nafta dan HE-2,3 menggunakan Solar. Pemanasan awal
dilakukan untuk memperingan kerja furnace sehingga menghemat bahan
bakar.
1.4.3.2 Pembakaran di Furnace
Proses berikutnya setelah pemanasan di HE, Crude Oil dimasukkan ke
stabilizer V-3 kemudian dipanaskan ke furnace F-5 hingga mencapai suhu
330C. Bahan bakar yang digunakan merupakan campuran udara, fuel gas,
fuel oil (residu), dan steam.
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
10
Steam digunakan untuk proses atomizing (pengkabutan) fuel oil agar
pembakaran berlangsung lebih cepat dan sempurna. Suhu pada furnace dijaga
agar tidak melebihi 370C, karena pada suhu tersebut Crude Oil akan
mengalami cracking dan menghambat perpindahan panas, sehingga
menurunkan efisiensi furnace.
Api dalam furnace tidak mati seluruhnya jika furnace tidak sedang
bekerja karena masih terdapat api yang berasal dari fuel gas. Hal ini bertujuan
untuk mencegah terjadinya flash back (penyalahan api yang mendadak dari
furnace sehingga terjadi perbedaan tekanan antara bagian dalam dan luar
furnace yang terlalu besar).
Hasil pembakaran dari funace berupa gas CO
2
, O
2
excess, N
2
inert, CO
dan uap air yang dialirkan melalui cerobong yang dilengkapi dengan stack
dumper untuk mengatur keluarnya gas buang (fuel gas).
1.4.3.3 Penguapan dalam Evaporator
Crude Oil yang keluar dari furnace sekitar 60% berubah menjadi uap
kemudian masuk ke evaporator V-1 untuk memisahkan fase cair dan fase uap.
Fase uap atau fase ringan yang berupa fraksi produk campuran Pertasol dan
Solar akan keluar dari puncak V-1 pada suhu 290,4C dan dialirkan menuju
ke kolom fraksinasi C-1, sedangkan fase cair atau fase berat berupa Residu
keluar dari dasar V-1 pada suhu 281,8C dan dimurnikan ke residu stripper
C-5 dengan bantuan steam injection (steam streapping).
Injeksi steam menggunakan steam kering yang bertujuan untuk
memperkecil tekanan parsial hidrokarbon. Hal ini dikarenakan jika tekanan
parsial hidrokarbon turun maka penguapan hidrokarbon penguapan menjadi
lebih besar sehingga pemisahan uap hidrokarbon dari liquid menjadi lebih
sempurna. Apabila steam mengandung air, sedangkan suhu evaporator lebih
tinggi dari suhu steam maka air yang masuk akan menguap dalam evaporator
dan memperbesar tekanan total. Steam kering diperoleh dari steam yang
dilewatkan akumulator terlebih dahulu sehingga steam yang masih
mengandung air akan dipisahkan menjadi steam kering dan kondensat.


Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
11
1.4.3.4 Pemisahan pada Residu Stripper C-5
Fraksi produk dibagian bawah C-5 yang berupa Residu siap pakai diolah
lebih lanjut dan didestilasi (pengolahan residu cracking ). Residu tersebut
digunakan sebagai pemanas pada HE-4,5 kemudian didinginkan dalam box
cooler BC.02 suhu 75C dan ditampung ke tangki T.104,122,123. Fraksi
ringan akan keluar dari puncak residu stripper C-5 kemudian masuk ke kolom
fraksinasi C-1.
1.4.3.5 Pemisahan pada kolom fraksinasi C-1
Fraksi ringan dikolom C-1 akan naik ke atas kolom dan akan terjadi
perpindahan panas dan massa melalui try yang bertipe buple cup try
(pemisahan fraksi ringan berupa campuran Pertasol CA, CB, CC dari side
stream terdapat produk Pertsol CC langsung bisa dipakai pelarut (tinner).
1.4.3.6 Pemisahan pada kolom fraksinanasi C-2
pruduk atas dari kolom C-1 dipisahkan kekolom C-2 .produk atas yang
keluar dari C-2 merupakan uap yaitu pertasol CA dari side stream C-2
dihasilkan produk nafta yang keluar pada suhu 100-120C.
1.4.3.7 Pendinginan dan Pengembunan pada cooler dan kondensor
Produk dari kolom fraksinasi dari kolom stripper didinginkan pada
cooler atau diembunkan dengan kondensor sebelum ditampung di tangki
penampungan.
Produk atas kolom fraksinasi C-2 yang berupa Pertasol CA masuk ke
kondensor CN-1,2,3,4 dan CN -5,6,7,8,9,10,12 sehingga terjadi
pengembunan dan keluar pada suhu 48-50C. Fraksi yang melalui
kondensor CN-5,6,7,8,9,10,12 didinginkan pada cooler CM.3,4
sedangkkan fraksi yang melalui kondensor CN-1,2,3,4 didinginkan di box
cooler BC. 03,04,05,06.
Pertasol CB dari side stream C-2 masuk ke dalam cooler CL.5 dan CL.9
pada suhu 98C dan keluar pada suhu 58C
Produk bawah dari kolom C-2 berupa nafta yang keluar pada suhu 117C
didinginkan ke cooler CL.13,14 dan keluar pada suhu 48C .
Pertasol CC dari side stream kolom C-1 didinginkan ke cooler CL.1,2 .
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
12
Solar yang merupakan produksi C-4 ,setelah masuk ke HE-2,3 didinginkan
ke cooler CL.6,10,11.
Residu yang keluar dari HE-4,5 didinginkan dengan box cooler BC.02.
1.4.3.8 Pemisahan dalam separator dan penampungan
Produk yang telah dihasilkan,dipisahkan telah lebih dahulu dengan air
yang menggunakan separator dalam tamgki penampungan.
Pertasol CA dengan separator S-1 dan S-2 kemudian disimpan di tangki
T.114-116-117.
Pertasol CB menggunkan separator S-4 dan ditampung di tangki T.110.
Pertasaol CC menggunakan separator S-8 dan disimpan di tangki T.112.
Solar menggunakan separator S-6 dan ditampung di tangki T.111,120,127.
Residu ditampung di tangki T.104,122,123.
Selain distilasi atmosferik terdapat proses pengolahan lainya yaitu proses
Treating dan proses Blending.
a. Proses Treating
Proses ini merupakan proses pengurangan atau penghilangan
impuritas yang terdapat di minyak bumi di unit pengolahan Kilang
pengolahan Pusdiklat Migas Cepu. Proses ini dilakukan dengan
penambahan NaOH terhadap Pertasol untuk mengurangi kadar H
2
S
dan RSH. Impuritas dalam produk perlu dihilangkan karena dapat
mengakibatkan:
Menurunkan stabilitas
Timbulnya bau yang tidak enak dari pembakaran
Korosif terhadap peralatan
Turunnya mutu cat
Proses treating hanya dilakukan pada produk Pertasol CA, Nafta, dan
Pertasol CC yaitu dengan injeksi NH
3
pada puncak kolom dan proses
pencucian dengan NaOH. Reaksi yang terjadi sebagai berikut:
RSH + NaOH RSNa + H
2
O.(1)
H
2
S + 2NaOH Na
2
S + 2H
2
O(2)

Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
13

b. Proses Blending
Proses Blending dilakukan dengan mencampur dua zat atau lebih yang
mempunyai komposisi berbeda untuk memperoleh hasil yang telah
ditentukan .fungsi dari proses ini adalah:
Meningkat mutu produk
Membuat produk baru
Menekan biaya
Proses Blending dilakukan untuk menghasilkan minyak BOD yang
merupakan campuran AFO dengan Solar. Kegunaannya adalah untuk
meredam goni supaya tahan lama dan R30 yang merupakan campuran
antara Solar dengan Residu sebagai bahan bakar industri.

1.4.4 Utilitas
Utilitas merupakan bagian dari suatu pabrik yang berfungsi untuk
menyediakan bahan-bahan pembantu proses sebagai sarana untuk
memperlancar proses operasi di Kilang dan keperluan lainnya. Sebagai
proses kegiata ini meliputi :
1. Penyedia air industri
2. Penyedia air minum
3. Penyedia steam atau uap bertekanan
4. Penyedia tenaga listrik
5. Penyedia bahan bakar
1.4.4.1 Unit Boiler
Boiler merupakan suatu unit yang memproduksi uap bertekanan
(steam), air pendingin kilang dan air lunak. Pada unit boiler terdapat 3 boiler
merk Wanson buatan prancis, dimana 2 boiler beroperasi sedangkan 1 boiler
untuk cadangan.
Uap yang dihasilkan merupakan boiler tekanan rendah dengan jenis
boiler pipa api (fire tube) dan satu sumbu api (single burner). Bahan bakar
yang digunakan untuk penyalaan pertama berupa gas LPG dengan ignitor
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
14
pada busi (nyala busi) dan diikuti terbukanya control valve bahan bakar
solar. Unit boiler memiliki beberapa fungsi sebagai berikut :
1) Penyedia uap bertekanan
Proses penyediaan uap bertekanan (steam) yaitu air umpan yang
masuk kedalam drum dan dipanaskan dari hasil pembakaran bahan
bakar menjadi uap bertekanan (steam) dengan tekanan 6 kg/cm
2
.
Kebutuhan uap air (steam) digunakan untuk berbagai keperluan
antara lain : proses kilang, pemanas dan media penggerak pompa torak
serta turbin uap. Pada unit boiler tersedia tiga unit ketel uap pipa api
Wanson dengan tekanan kerja normal 7 kg/cm
2
dengan suhu operasi
superhead steam 170
o
C.
Setelah boiler dapat menghasilkan uap bertekanan, maka tangki
bahan bakar Residu dipanaskan sampai temperatur 100
o
C, kemudian
bahan bakar Solar diganti Residu denganm tekanan supply (pasok) 16
kg/cm
2
, sedangkan udara pembakaran dihasilkan dari blower yang
digerakkan oleh motor listrik.
2) Penyedia udara bertekanan
Dalam penyedian uap bertekanan diperoleh dari udara atmosfer
yang dimasukkan kedalam kompresor. Udara bertekanan digunakan
sebagai :
a. Penggerak alat-alat kontrol (instrumentasi) yang ada di unit Kilang.
b. Untuk back wash pada bak penyaringan air di unit water treatment.
c. Untuk pengadukan dan pembersih filter.
Pada unit boiler terdapat 4 buah kompresor yaitu 2 buah jenis
screw (ulir) yang berkapasitas 174 Nm
3
/jam dan 2 buah jenis
reciprocating (torak) yang berkapasitas 250 Nm
3
/jam.
3) Penyedia Air Lunak
Air industri yang berasal dari unit water treatment dimasukkan ke
dalam softener agar kesadahan air turun. Air lunak digunakan untuk
umpan air ketel dan air pendingin mesin. Air yang digunakan untuk
umpan ketel harus memenuhi beberapa syarat yang telah ditetapkan
diantaranya pH air sekitar 8,5-9,5 dengan kesadahan total mendekati
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
15
nol. Persyaratan tersebut dibuat oleh organisasi pembuat boiler di
Amerika yaitu ABMA (American Boiler Manufacturing Association).
Hal ini dimaksudkan agar dalam ketel atau boiler tidak cepat terbentuk
karak atau scale sehingga tidak menurunkan efisiensi ketel uap. Kerak
dapat menjadi isolasi sehingga permukaan perpindahan panas dapat
terhalang serta dapat menimbulkan kerusakan pada pipa.
4) Penyedia Air Pendingin
Sistem pendingin di Pusdiklat Migas Cepu menggunakan sistem
semi open circuit. Keadaan normal air pendingin mempunyai pH
antara 6-7. Proses penyediaan air pendingin dengan melewatkan air
bekas pemanas dari cooler dan kondensor pada cooling tower sehingga
dapat menghasilkan air pendingin. Kegunaan dari air pendingin adalah
untuk mendinginkan minyak-minyak panas di dalam cooler maupun di
dalam kondensor.
5) Penyedia Air Umpan Boiler
Air umpan boiler adalah air yang dimasukkan ke dalam boiler
untuk mengganti kehilangan air karena penguapan atau Blow down
(pembuangan air boiler) selama operasi berjalan. Jika air umpan boiler
bermutu rendah maka dapat menimbulkan kerak pada permukaan pipa
atau seluruh sistem boiler.
Air umpan boiler berasal dari bak segaran yang sebagian dipompa
dengan pompa centrifugal single stage menuju unit CPI (Corrugated
Plate Interceptor). Air yang akan masuk ke CPI ditambahkan atau
diinjeksi tawas dan kaporit terlebih dahulu. Dari unit CPI air masuk ke
bak air industry (BAI) yang berkapasitas 100 m
3
. Dari BAI, air
dialirkan menuju ke pressure sand filter untuk menurunkan turbiditas
air menjadi 10 ppm SiO
2
. Oleh karena kesadahan air masih tinggi
maka air harus dilunakkan dalam softener untuk menghilangkan atau
mengurangi kandungan ion Ca
2+
dan Mg
2+
.
6) Penyedia Air Pemadam Kebakaran
Air dari sungai Bengawan Solo yang telah melalui proses
screening di pompa ke bak segaran sehingga terjadi pengendapan
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
16
secara gravitasi. Air dari bak segaran dipompa dengan pompa
sentrifuge menuju ke unit safety and fire sebagai air pemadam
kebakaran untuk didistribusikan ke hydrant-hydrant yang ada di pabrik
dan perkantoran.
1.4.4.2 Unit Power Plant
Unit penyediaan listrik di Pusdiklat Migas Cepu diperoleh dari
generator pembangkit tenaga listrik yang ada di lokasi pabrik. Pembangkit
listrik di Pusdiklat Migas Cepu menggunakan generator set dengan
penggerak mesin diesel. Pemilihan mesin diesel sebagai penggerak
generator ini dikarenakan beberapa faktor yaitu:
Perawatannya mudah
Suku cadangnya mudah didapat
Bahan bakarnya dapat dipenuhi sendiri yaitu Solar.
Fungsi PLTD yang ada di Pusdiklat Migas Cepu adalah untuk
melayani kebutuhan listrik di unit kilang. PLTD di Pusdiklat Migas Cepu
didrikan pada tahun 1972. Unit power plant memiliki 8 buah generator
sebagai mesin untuk pembangkit listrik yang terdiri dari:
3 buah generator dengan kapasitas 820 KVA
2 buah generator dengan kapasitas 400 KVA
3 buah generator dengan kapasitas 1000 KVA
Kebutuhan bahan bakar Solar = 9000-9500 liter/hari
Kebutuhan pelumas = 100-125 liter/hari
Kebutuhan air pendingin = 15 m
3

1.4.4.3 Unit Water Treatment
Water treatment merupakan unit pengolahan air yang digunakan
untuk memenuhi kebutuhan manusia dan untuk menunjang kebutuhan
operasi dan pabrik. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan tersebut
diperlukan air yang bersih, jernih dan bebas dari kuman penyakit. Air
mudah didapat dari perukaan bumi, tetapi air dengan mutu yang sesuai
dengan penggunaannya masih sulit untuk diperoleh. Untuk memenuhi
kebutuhan tersebut maka Pusdiklat Migas Cepu mengambil air dari sungai
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
17
Bengawan Solo untuk diolah lebih lanjut sehingga dapat memenuhi
berbagai kebutuhan.
Hasil proses pengolahan air di unit water treatment Pusdiklat
Migas Cepu digunakan untuk:
Air minum
Air industri
Air untuk pemadam kebakaran
1.4.5 Laboratorium
Laboratorium merupakan salah satu unit penunjang yang penting,
terutama untuk menganalisa hasil maupun feed dari pengolahan Kilang, air
minum, dan Wax plant secara rutin. Di Pusdiklat Migas Cepu terdapat 2
laboratorium kontrol kualitas, yaitu:
1. Laboratorium Analisa Minyak
2. Laboratorium Analisa Air
Laboratorium ini berfungsi untuk menguji karakteristik bahan baku dan
kualitas produk yang dihasilkan di Pusdiklat Migas Cepu, apakah sesuai
dengan standar dan spesifikasi bahan yang telah ditetapkan.
1.4.5.1 Laboratorium Analisa Minyak
Dalam laboratorium ini menganalisa Crude Oil dan produk yang
dihasilkan dari Kilang dan Wax plant untuk mengendalikan mutu bahan
baku dan produknya. Metode analisa yang digunakan berdasarkan standar
ASTM (American Society for Testing). Metode-metode analisa yang
digunakan adalah:
Density at 15
o
C (ASTM D-1298)
Merupakan suatu perbandingan antara massa cairan pada volume
dan suhu tertentu. Tujuannya untuk menentukan Density at 15
o
C
dengan menggunakan alat hydrometer. Hasil ini dikoreksi dengan
menambahkan faktor koreksi sehingga menjadi standar pada
temperatur 15
o
C.
Metode : sampel dengan volume tertentu dituangkan ke
hidrometer silinder dengan termometer didalamnya. Setelah
hidrometer terapung bebas dan termometer menunjukkan temperatur
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
18
konstan maka pembacaan pada hidrometer sebagai densitas
observation.
Penentuan Warna (ASTM D-1500)
Tujuannya untuk mengetahui warna secara visual dari produk
minyak. Metode : sampel dimasukkan ke dalam tabung gelas dan
akuades diisikan pada tabung lain. Cahayakan keduanya pada
calorimeter, kemudian di bandingkan hasilnya dan dicatat skalanya
saat kedua warnanya sama.
Flash Point
Flash point merupakan suhu terendah dimana campuran uap
minyak dan udara akan menyala apabila terkena api pada kondisi
tertentu. Tujuannya untuk menentukan flash point dari produk minyak
bumi. Metode yang digunakan adalah ASTM D-92 untuk Pelumas,
Residu dan pH Solar sedangkan ASTM D-93 untuk Guel Oil dan Gas
Oil.
Metode : sampel dimasukkan dalam cup sebanyak jumlah
tertentu tang dilengkapi dengan termometer dan dipanaskan. Pada
temperatur tertentu, api pengujian diarahkan pada permukaan sampel
karena sampel menguap maka uap sampel akan menyala. Flash point
dicatat sebagai titik terendah dimana uap menyala.
Distilasi (ASTM D-86)
Tujuannya untuk mengetahui trayek titik didih dari beberapa
produk minyak. Metode : sampel dengan volume 100 mL dimasukkan
ke labu kemudian didistilasi. Temperatur dimana untuk pertama kali
terjadi tetesan kondensat dicatat sebagai Initial Boiling Point (IBP).
Selanjutya setiap kenaikan 10% volume kondensat dicatat
temperaturnya. Final Boiling Point (FBP) diperoleh pada temperatur
maksimum yang dapat dicapai.
Pour Point (ASTM D-97)
Tujuannya untuk menngetahui temperatur terendah dimana
minyak masih dapat mengalir apabila didinginkan pada kondisi
tertentu. Metode : sampel dengan volume tertentu dipanaskan
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
19
kemudian didinginkan dalam refrigerator. Sampel diperiksa setiap
periode penurunan tertentu sampai temperatur dimana sampel tidak
dapat dituang, ditambah 5F dilaporkan sebagai Pour Point.
Uji Lempeng Tembaga (ASTM D-130)
Tujuannya untuk mengetahui tingkat korosivitas dari produk
minyak. Metode : kepingan tembaga digosok dengan kertas amplas
dan dibersihkan dengan Iso-oktana kemudian dimasukkan kedalam
sampel dan dipanaskan dalam water bath selama waktu tertentu.
Setelah itu, kepingan tembaga diambil dan dicuci dengan aseton
kemudian dibandingkan warnanya dengan ASTM D-130 Copperstrip
Corrotion Standart.
Water Content (ASTM D-95)
Untuk menentukan besarnya kandungan air dalam Crude Oil
dan produk minyak. Metode : sampel dengan volume 100 mL
ditambahkan solven 100 mL kemudian didistilasi secara refluks.
Solven dan air akan terkondensasi dalam kondensor sehingga air akan
memisah dan berada pada bagian bawah kondensor, sedangkan pelarut
dan sampel akan kembali kedalam labu distilasi. Jumlah kandungan air
dibaca pada skala yang ada.
1.4.5.2 Laboratorium Analisa Air
Laboratorium ini untuk menganalisa kualitas air baku (air
Bengawan Solo) dan air olahan dari unit water treatment berupa air
Utilitas (air minum, air filter dan air CPR), dari Boiler Plant berupa air
boiler (air softener, air elektromagnetik dan air blow down) dan air
pendingin (pada Kilang,dan Power plant).
Analisa-analisa yang dilakukan adalah :
Pemeriksaan pH
Tujuannya untuk mengetahui tingkat keasaman air. Metode : sampel
dengan volume tertentu dimasukkan kedalam pH-meter dan dibaca
skalanya secara elektronik. Sebelum digunakan pH-meter dikalibrasi
terlebih dahulu dengan larutan buffer pada pH 4 dan 7.

Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
20

Total Alkalinity
Tujuannya adalah untuk mengetahui kadar anion karbonat. Metode :
100 ml sampel dimasukkan kedalam Erlenmeyer dan ditambahkan
indicator MO kemudian dititrasi dengan larutan HCl standar 0.1 N
sampai terjadi perubahan warna menjadi merah lembayung.
Total Hardness
Tujuannya untuk mengetahui tingkat kesadahan air yang disebabkan
oleh adanya ion-ion Ca dan Mg. Metode : 100 ml sampel dimasukkan
kedalam Erlenmeyer dan ditambahkan larutan buffer dan indikator
EDTA sampai terjadi perubahan warna menjadi biru.
Total Solid
Tujuannya untuk mengetahui jumlah solid yang terkandung dalam air.
Metode : sampel dengan volume tertentu dipanaskan dalam oven
hingga kering kemudian didinginkan dan dihitung secara gravimetry.
Turbidity
Tujuannya untuk mengetahui tingkat kekeruhan air yang dinyatakan
dalam NTU SiO
2.
Metode : sampel dimasukkan kedalam tabung gelas
dan ditutup kemudian diukur dengan alat Nephelometer.
Klor Aktif
Tujuannya untuk mengetahui kadar klor bebas dalam air. Metode : 100
ml sampel ditambahkan dengan indicator Ortholuidine kemudian
dibandingkan dengan sampel lain tanpa ditambah larutan Ortholuidine
dan dimasukkan kedalam alat Lofibond Komparator untuk diukur
kandungan klornya.
Bilangan KmnO
4

Tujuannya untuk mengetahui kandungan zat organik yang terdapat
dalam air.
1.5 Hasil Produksi dan Pemasaran
1.5.1 Hasil Produksi
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
21
Pusdiklat Migas Cepu mengolah minyak mentah yang berasal dari
PERTAMINA dengan kapasitas kurang lebih 305 kL/hari. Produk utama
dari pengolahan minyak mentah Pusdiklat Migas Cepu adalah sebagai
berikut:
1. Pertasol CA, CB dan CC
Pertasol ini merupakan campuran hidrokarbon cair yang mempunyai
trayek didih 45-250 C. Pertasol atau gasoline merupakan produk yang
terpenting karena digunakan sebagai pelarut (solvent), pembersih dan
lain-lain.
a. Penggunaan Pertasol CA :
1. Digunakan pada industri cat, lacquers, varnish
2. Digunakan untuk tinta cetak.
3. Digunakan pada cleaning dan degreasing
Penggunaan komponen dalam proses antara lain:
1. Pembuatan bahan karet pada pabrik ban, vulkanisir, dan lain-lain.
2. Adhesive (lem).
3. Industry farmasi
b. Penggunaan Pertasol CB :
1. Digunakan pada industri cat, lacquers, thiner
2. Digunakan untuk tinta cetak.
3. Digunakan pada cleaning
4. Industry tekstil (printing)
c. Penggunaan Pertasol CC :
1. Untuk bahan kosmetik
2. Solar atau Gas Oil
Solar atau gas oil mempunyai trayek titik didih 250-350C
3. Residu
Residu merupakan fraksi berat dari minyak bumi yang mempunyai titik
didih paling tinggi yaitu 350 C. Residu biasanya digunakan sebagai
bahan bakar dalam pabrik karena mempunyai heating value yang tinggi.
1.5.2 Pemasaran Hasil Produksi
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
22
Untuk pemasaran hasil produksi tidak dilakukan oleh Pusdiklat Migas
Cepu melainkan dilakukan oleh pihak PERTAMINA. Karena pada dasarnya
disisni Pusdiklat Migas Cepu hanya mengolah minyak mentah milik
PERTAMINA.

1.6 Lokasi Pusdiklat Migas Cepu
Pusdiklat Migas Cepu mempunyai luas area sekitar 120 ha yang
berbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pusdiklat Migas
Cepu terletak di jalan Sorogo No.1 Kelurahan Karangboyo Kecamatan Cepu
Kabupaten Blora yang berjarak 750 km dari Jakarta, 160 km dari Semarang,
125 km dari Solo dan 160 km dari Surabaya.

1.7 Personalia
1.7.1 Jumlah Karyawan
Karyawan merupakan salah satu aset utama yang dimiliki oleh suatu
perusahaan. Karyawan memiliki peran yang sangat penting, bahkan
sukses tidaknya suatu perusahaan sangat tergantung dari karyawan.
Sistem kerja yang berlaku di Pusdiklat Migas Cepu adalah Sistem
Pegawai Negeri Sipil (PNS), dimana sehabis masa kerjanya akan
mendapat pensiun. Saat ini karyawan yang ada di Pusdiklat Migas Cepu
sebanyak 548 karyawan yang terdiri dari:
Tabel 1.1 Daftar Karyawan Pusdiklat Migas Cepu
No. Jabatan Jumlah
1. Kepala Pusdiklat Migas Cepu 1 orang
2. Kepala Bagian / bidang 4 orang
3. Kepala Sub Bagian 2 orang
4. Kepala Sub Bidang 6 orang
5. Pengawas Unit 23 orang
6. Pengelola Unit 75 orang
7. Karyawan Tetap 406 orang
8. Karyawan Honorer 31 orang
Total Karyawan 548 orang

Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
23
1.7.2 Jam Kerja/Shift Karyawan
Karyawan di Pusdiklat Migas Cepu terbagi menjadi dua kelompok yaitu
karyawan non shift dan karyawan shift.
a. Karyawan non shift terdiri dari karyawan tetap dan honorer.
Hari dan jam kerja karyawan yang ada di Pusdiklat Migas Cepu adalah:
Tabel 1.2 Hari dan Jam Kerja Karyawan Non Shift Pusdiklat Migas Cepu
Hari Jam Kerja Istirahat
Senin
07.30-16.30
12.00-13.00
Selasa
07.30-16.30 12.00-13.00
Rabu
07.30-16.30 12.00-13.00
Kamis
07.30-16.30 12.00-13.00
Jumat 07.30-16.30
12.00-13.00
Sabtu Libur Libur
Sumber : Pusdiklat Migas Cepu

b. Karyawan shift terdiri dari karyawan tetap dan honorer yang merupakan
karyawan yang bekerja pada bagian-bagian yang memerlukan
pengawasan selama 24 jam misalnya bagian pengolahan, keamanan dan
laboratorium kontrol kualitas.
Tabel 1.3 Hari dan Jam Kerja Karyawan Shift Pusdiklat Migas Cepu
Shift Jam Kerja
Shift I Mulai pukul 08.00-16.00
Shift II
Mulai pukul 16.00-24.00
Shift III
Mulai pukul 24.00-08.00

1.7.3 Organisasi Perusahaan
Pusdiklat Migas merupakan pelaksana tugas di bidang Pendidikan dan
Pelatihan Minyak dan Gas Bumi yang bertanggung jawab kepada
Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral. Pimpinan tertinggi di
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
24
Pusdiklat Migas Cepu dipegang oleh seorang kepala yang bertanggung
jawab kepada Kementrian Energi dan Sumber Daya mineral.
1.7.4 Kesejahteraan Karyawan
Pusdiklat Migas Cepu mempunyai berbagai fasilitas yang disediakan
untuk kesejahteraan karyawan-karyawan antara lain:
a. Fasilitas Pendidikan
Sarana-sarana yang terdapat di fasilitas pendidikan meliputi:
laboratorium dasar, bengkel, ruang peraga dan perpustakaan dengan
tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan karyawan.
b. Fasilitas Perumahan
c. Fasilitas Olahraga
Sarana yang tersedia berupa GOR, lapangan sepak bola, lapangan
atletik, tenis, golf, dan kolam renang.
d. Fasilitas Kesenian dan Hiburan
Sarana yang tersedia berupa peralatan band, kulintang, karawitan, dan
sanggar tari.
e. Fasilitas lain meliputi: cuti selama 12 hari dalam 1 tahun, koperasi,
pensiun, dan dana gotong royong.














Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
25
BAB II
PENDAHULUAN
2.1.Latar Belakang
Saat ini seluruh negara dan mayoritas manusia membutuhkan minyak dan
gas bumi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, mulai dari
bensin,minyak tanah,solar,LPG,avtur,dan sebagainya. Karena begitu pentingnya
benda yang satu ini,maka umat manusia dapat berperang satu dengan yang lainnya
demi mendapatkannya.Seperti yang terjadi pada negara Amerika Serikat yang
menyerang Irak tidak lain karena kepentingan yang tinggi akan migas,bukan
semata-mata bencinya dengan Saddam Husain,melainkan Irak termasuk salah satu
negara yang menyimpan cadangan migas terbesar di dunia.
Untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari,kualitas dari suatu produk
merupakan faktor yang penting yang membawa keberhasilan pemasaran. Kualitas
dari suatu produk dapat diartikan sebagai aspek penentu kepuasan konsumen
terhadap produk yang dihasilkan. Sehingga apabila produk atau barang yang
dihasilkan benar benar berkualitas, maka dengan harga tinggi sekalipun
konsumen akan tetap rela untuk membeli barang tersebut. Dengan demikian,
maka dapat disimpulkan bahwa kualitas merupakan faktor utama yang
mempengaruhi keputusan konsumen untuk memilih suatu produk.
Untuk mendapatkan kualitas produk yang baik dan sesuai dengan standart
yang telah ditetapkan, maka banyak faktor yang harus diperhatikan seperti,
kualitas bahan baku yang digunakan, cara pengolahan, dan uji kelayakan produk
yang dihasilkan. Bahan baku adalah komponen yang penting dalam suatu proses
produksi. Dimana kualitasnya harus benar-benar dijaga agar setelah dilakukan
pemrosesan, maka dihasilkan output yang berkualitas baik dan sesuai dengan
spesifikasi yang telah ditentukan.
Pusdiklat Migas Cepu merupakan instansi yang mempunyai salah satu
program kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam pengolahan minyak mentah
(Crude Oil). Minyak bumi melewati beberapa tahap pengolahan sebelum dapat
digunakan secara langsung. Pada proses pengolahan minyak bumi akan
didapatkan berbagai macam fraksi/produk. Salah satu produk yang diuji pada
Pusdiklat Migas Cepu adalah Avtur.
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
26
Avtur adalah salah satu jenis bahan bakar berbasis minyak bumi yang
berwarna bening hingga kekuning-kuningan, memiliki rentang titik didih antara
145 hingga 300
o
C, dan digunakan sebagai bakar pesawat terbang. Secara umum,
avtur memiliki kualitas yang lebih tinggi dibandingkan bahan bakar yang
digunakan untuk pemakaian yang kurang genting seperti pemanasan atau
transportasi darat. Avtur biasanya mengandung zat aditif tertentu untuk
mengurangi resiko terjadinya pembekuan atau ledakan akibat temperatur tinggi
serta sifat-sifat lainnya.
Sebelum dipasarkan,avtur harus melalui serangkaian pengujian
berdasarkan spesifikasi yang telah ditetapkan. Spesifikasi memberikan suatu
batasan nilai minimum dan maksimum dari parameter ukur terhadap suatu
produk. Tujuan dari spesifikasi ini adalah untuk melindungi keselamatan
konsumen baik orang maupun peralatannya serta untuk mengurangi pencemaran
lingkungan. Oleh karena itulah, perlu dilakukan penjagaan terhadap kualitas
Avtur yang dihasilkan melalui pengujian sifat fisik dan sifat kimia Avtur.
Namun,kami hanya menganalisis pengujian sifat fisik dari avtur melalui uji
penyerapan atomic,uji konduktivitas dan uji ketahanan panas.
Oleh karena itu, praktikan mengambil judul Analisis Sifat Fisika Avtur
melalui Uji Penyerapan Atomic, Konduktivitas Listrik dan ketahanan Panas

di Pusdiklat Migas Cepu.

2.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka rumusan masalah
yang dapat diambil yaitu:
a. Bagaimana pengujian penyerapan atomik pada avtur?
b. Bagaimana pengujian konduktivitas listrik pada avtur?
c. Bagaimana pengujian ketahanan panas pada avtur?
2.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui proses pengujian penyerapan atomik pada avtur
b. Untuk mengetahui proses pengujian konduktivitas pada avtur.
c. Untuk mengetahui proses pengujian ketahanan panas pada avtur.
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
27
2.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian yang dilakukan ini antara lain sebagai
berikut:
1. Manfaat bagi perusahaan
Sebagai masukan dalam peningkatan kualitas produksi avtur untuk
kemudian dilakukan identifikasi dan pengendalian kualitas dari timbulnya
kontaminan terhadap fraksi/produk lain.
2. Manfaat bagi praktikan
Mahasiswa dapat mengaplikasikan pengetahuan yang telah didapat di
bangku kuliah dalam dunia kerja nyata serta untuk menambah wawasan,
pengetahuan, dan pengalaman di lapangan.

2.5 Waktu dan Lokasi Penelitian
Kerja Praktek ini dilaksanakan sekitar 1 bulan,terhitung mulai 1 Juni
hingga 30 Juni 2014.
2.6 Batasan Masalah
Adapun batasan-batasan masalah yang ada dalam penelitian ini adalah:
1. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Minyak Bumi dan Kimia
Pusdiklat Migas Cepu, Blora, Jawa Tengah.
2. Produk yang diteliti adalah produk Avtur.
3. Parameter yang digunakan adalah Temperatur, dan Konduktivitas,
4. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2014.










Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
28
BAB III
METODELOGI
3.1 Metode
Kerja praktek yang dilakukan berupa pengamatan percobaan analisis di
Laboratorium Minyak Bumi dan Kimia di PUSDIKLAT MIGAS CEPU.
Untuk mencapai tujuan yang direncanakan maka dilakukan dalam
beberapa tahapan yaitu :
3.1.1 Tahap Persiapan
a.Studi Pustaka Umum
Pemahaman tentang avtur,uji penyerapan atomic,uji konduktivitas dan uji
ketahanan panas.
b.Penyusunan Proposal
Penentuan topik berdasarkan hasil studi pustaka dan diskusi diwujudkan
dalam bentuk proposal yang kemudian diajukan ke PUSDIKLAT MIGAS CEPU.
c.Penentuan Pembimbing
Pembimbing ditentukan oleh pihak PUSDIKLAT MIGAS CEPU.
d.Penempatan
Setelah penentuan pembimbing,maka dilakukan penempatan yaitu di
Laboratorium Minyak Bumi dan Kimia PUSDIKLAT MIGAS CEPU.
3.1.2 Tahap Kerja Praktek
a.Studi Pustaka
Penyesuaian topik yang dilakukan oleh PUSDIKLAT MIGAS CEPU
mendorong mahasiswa untuk memperdalam pemahaman mengenai inti
permasalahan yang berkembang baik itu dari laporan yang ada maupun berbagai
literatur yang dimiliki oleh perusahaan.
b.Pengamatan
Setelah melakukan studi pustaka,maka Praktikan melakukan pengamatan
dengan Petugas Lab di gedung Laboratorium Minyak Bumi dan Kimia
PUSDIKLAT MIGAS CEPU.
c.Pengumpulan Data
Dari pengamatan,maka akan mendapat data. Lalu data tersebut dicatat.

Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
29
BAB IV
LANDASAN TEORI
4.2.1 Minyak Mentah (Crude Oil)
Teori yang menyatakan asal usul minyak bumi adalah Organic Source
Materials. Teori ini mengatakan bahwa binatang dan tumbuh tumbuhan
berakumulasi dalam suatu tempat selama berjuta juta tahun yang lalu.
Contohnya dalam swaps, delta terkomposisi oleh reaksi bakteri, karbohidrat,
dan protein dipecah menjadi gas atau komponen yang larut dalam air dan
dalam tanah. Bahan yang larut dalam lemak diubah menjadi minyak bumi
melalui suatu reaksi pada suhu rendah. Cairan minyak bumi ini kemudian
berpindah ke pasir alam atau reservoir batu kapur.
Senyawa minyak bumi tersusun dari hydrogen dan karbon menjadi
hidrokarbon, juga terdapat senyawa lain yang mengandung sejumlah kecil
belerang, nitrogen, oksigen, dan logam. Komposisi kimia dan fisis minyak
bumi mentah sangat bervariasi tetapi komposisi elementer pada umumnya
terdiri dari: Karbon C : 83 87%; Oksigen (O) : 0,1 2%; Logam : 0 0,1%
(Gruce dan Steven, 1985).
Setiap ladang minyak bumi menghasilkan minyak mentah yang berbeda-
beda sehingga diperlukan suatu cara untuk menentukan jenis minyak yang
akan dapat mempermudah gambaran mengenai produk produk minyak
mentah tersebut. Komposisi minyak mentah mempunyai variasi yang tak
terhingga sehingga klasifikasinya menjadi sulit dan sampai sekarang belum
ada klasifikasi yang memuaskan. Adapun beberapa klasifikasinya, antara lain:
1. Klasifikasi Berdasarkan API Gravity
Klasifikasi ini merupakan klasifikasi yang sederhana dimana ada
suatu kecenderungan bahwa jika API Gravity minyak mentah makin
tinggi, maka minyak mentah tersebut mengandung fraksi ringan dalam
jumlah besar, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.1 (Konstanta
Lemigas).

Tabel 3.1 Klasifikasi Minyak Mentah Berdasarkan API Gravity.
(Kontawa, Minyak Bumi Pengklasifikasian dan Evaluasi, Lemigas)
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
30
Jenis Minyak Bumi API Gravity Spesific Gravity
Ringan >39,0
<0,830
Ringan sedang
39,0 35,0
0,830 0,850
Berat sedang
35,0 32,1
0,850 0,865
Berat
32,1 24,8
0,865 0,905
Sangat berat
<24,8
>0,905

2. Klasifikasi Berdasarkan Senyawa yang Terkandung
Berdasarkan kandungannya, minyak mentah dibagi menjadi (Hardjono,
2001):
a) Parafine Crude Oil
Minyak mentah jenis ini banyak mengandung paraffin. Sesuai
dengan karakteristik paraffin yang memiliki kestabilan tinggi karena
merupakan senyawa jenuh, dimana pada suhu kamar tidak bereaksi dengan
alkali pekat, asam sulfat, dan asam nitrat, tetapi tidak bereaki dengan klor
dengan bantuan sinar matahari. Contoh dari senyawa paraffin adalah
alkane. Minyak mentah ini apabila telah diolah menjadi produk, memiliki
ciri ciri, antara lain mempunyai viskositas tinggi, mengandung sulfur
yang rendah, dan memiliki bilangan oktan yang rendah.
b) Naptha Crude Oil
Jenis ini banyak mengandung nafta, yang mempunyai formula
hampir sama dengan olefin (ethylene) hanya saja olefin merupakan
senyawa tak jenuh karena memiliki ikatan rangkap. Setelah diolah
minyak mentah ini memiliki ciri ciri, antara lain mempunyai viskositas
yang rendah, sedikit mengandung lilin, dapat diproses menjadi produk
secara sederhana, dan mengandung aspal.
c) Intermediate (mixed) Crude Oil
Minyak mentah jenis intermediet setelah diolah memiliki ciri
ciri, antara lain kaya akan straight run gasoline, banyak mengandung
lilin, dan bilangan oktannya rendah.

Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
31
d) Aromatic Base Crude Oil
Jenis ini sering disebut seri benzene aktif, karena dapat diolah
menjadi senyawa anorganik dan banyak mengandung hydrogen aromatis.
3. Klasifikasi Berdasarkan Kandungan Kimia
Klasifikasi ini diajukan oleh Sachanen yang didasarkan pada
komposisi kimia fraksi minyak bumi yang mempunyai daerah titik didih
antara 250 - 300C, seperti terlihat pada tabel 3.2 dibawah ini:
Tabel 3.2 Klasifikasi Minyak Mentah menurut Sachanen Van Nes dan Van
Westen, Aspects of the Constitution of Mineral Oils, Elsevier.
Komposisi fraksi 250 - 300 C
Golongan % Paraf % Nafta % Arom % Malam % Aspal
Parafin 46 61 22 23 12 25 1,5 10 0 6
Par-Naft 42 45 38 39 16 20 16 0 6
Naften 16 26 61 67 8 13 Sedikit 0 6
Par-Naft-
Arom
27 35 36 47 26 33 0,5 1 0 10
Naft-Arom 0 - 8 57 78 20 25 0 0,5 0 20

4. Klasifikasi Menurut U.S. Bureau of Mines
Klasifikasi minyak bumi yang sekarang banyak digunakan adalah
klasifikasi menurut Lane dan Garton dari U.S Bureau of Mines. Adapun
klasifikasi minyak bumi menurut U.S Bureau of Mines pada tabel 3.3
berikut ini:
Tabel 3.3 Klasifikasi Minyak Bumi menurut U.S Bureau of Mines
Golongan Dasar Gravitas API
Fraksi kunci nomor 1 Fraksi kunci nomor 2
Paraffin paraffin >40 >30
Paraffin tengahan >40 20 30
Paraffin naften >40 <20
Tengahan paraffin 33 40 >30
Tengahan tengahan 33 40 20 30
Tengahan naften 33 40 <20
Naften paraffin <33 >30
Naften tengahan <33 20 30
Naften naften <33 <20

Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
32
Sebagai dasar klasifikasinya gravitasi API fraksi kunci nomor 1 dan
nomor 2, yang diperoleh dengan jalan distilasi dengan alat distilasi sampel
standard. Fraksi kunci nomor 1 adalah fraksi minyak bumi yang mendidih
pada suhu 482 527F pada 1 atm, sedang fraksi kunci nomor 2 adalah
fraksi minyak bumi yang mendidih pada suhu 527 - 572F.

5. Klasifikasi Menurut Distribusi Atom Karbon
Klasifikasi ini diajukan oleh Van Ness dan Van Westen yang
didasarkan pada distribusi karbon parafinik, naftenik, dan aromatik dalam
minyak mentah. Klasifikasi ini menggunakan diagram segitiga, dimana
ketiga titik sudutnya masing masing menunjukkan 100% karbon paraffin
Cp, 100% karbon naften C
N
, dan 100% karbon aromatic C
A
. Jadi titik yang
ada di dalam diagram menunjukkan distribusi struktur karbon paraffin,
naften, dan aromatik dalam suatu minyak mentah.

6. Klasifikasi Berdasarkan Faktor Karakterisasi
Klasifikasi ini diajukan oleh Watson dari Universitas Oil Product
Company yang mendefinisikan faktor karakterisasi Watson K, sebagai
berikut:


Dimana Tb mula mula didefinisikan sebagai titik didih rerata molal
kemudian berubah menjadi titik didih rerata Kubik dan akhirnya menjadi
titik didih rerata tengahan dalam R, dan S adalah berat jenis pada 60/60F.
klasifikasi ini juga berlaku untuk fraksi minyak bumi langsung (Straight
Run Fraction). Adapun faktor karakterisasi untuk berbagai golongan
minyak mentah adalah :
a. Minyak mentah dasar paraffin : K>12,1
b. Minyak mentah dasar tengahan : K = 11,5 12,1
c. Minyak mentah dasar naften : K = 10,5 11,45
d. Minyak mentah dasar aromat : K<10,5

Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
33
7. Klasifikasi Berdasarkan Indeks Korelasi
Klasifikasi ini dikembangkan oleh H.M. Smith dari U.S Bureau of
Mines yang juga berlaku untuk fraksi minyak bumi. Indeks ini diperoleh
dengan jalan melukiskan kebalikan titik didih rata rata volumetrik suatu
fraksi terhadap berat jenis pada 60/60F di dalam suatu diagram referensi
dimana di dalam diagram ini terdapat garis garis untuk setiap jenis
hidrokarbon. Untuk senyawa hidrokarbon paraffin normal garis ini diberi
angka nol, sedangkan untuk benzene diberi angka 100. Berdasarkan grafik
tersebut didapat persamaan empiric sebagai berikut :
I.K = 473,7.S 456,8 + 48,640/K
Dimana I.K adalah indeks korelasi, S adalah gravitas jenis pada 60/60F,
dan K adalah titik didih rerata dalam K. Harga indeks antara 0 15
merupakan hidrokarbon paraffin fraksi dominan; harga indeks 15 50
merupakan hidrokarbon naften atau campuran hidrokarbon paraffin,
naften, dan aromat fraksi dominan; dan harga indeks di atas 50 merupakan
hidrokarbon aromat fraksi dominan.

8. Klasifikasi Minyak Bumi Lainnya
Klasifikasi minyak bumi yang lain yaitu berdasarkan pada kandungan
belerang. Minyak mentah digolongkan menjadi 3 golongan minyak
mentah, yaitu minyak mentah dengan kandungan belerang rendah
(<0,1%), minyak mentah dengan kandungan belerang sedang (0,1 1,0%),
dan minyak mentah dengan kandungan belerang tinggi (>1,0%).
Disamping itu, minyak mentah dapat juga dibagi kedalam minyak mentah
masam (sour crude) dan minyak mentah manis (sweet crude) yang tidak
didasarkan pada kandungan belerang, tetapi kandungan hydrogen sulfit.
Batas kandungan hydrogen sulfit adalah 0,05ft
3
/100 galon minyak mentah.

4.2.2 Proses Pengolahan
Pada umumnya proses pengolahan minyak bumi terdiri atas empat
golongan proses, yaitu pemisahan fisik (Physical Separation), blending
(blending proccess), conversion proccess, dan treating proccess. Beberapa
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
34
proses yang dipakai dalam pengolahan minyak bumi untuk menghasilkan
produk-produk yang diinginkan antara lain: distillation, solvent extraction,
absorption, cracking, reforming, alkilation, isomerisasi dan polimerisasi
(Nelson, 1958).
a. Distilasi
Distilasi merupakan teknik pemisahan dengan memanfaatkan titik
didih masing-masing komponen dalam campuran dalam suatu kolom yang
memiliki beberapa tray di dalamnya. Tujuan distilasi ini adalah untuk
memisahkan komponen volatile sebagai gas dari bagian atas kolom dan
mengambil fraksi-fraksi lain berdasarkan titik didihnya serta mengambil
fraksi terberatnya sebagai produk bawah. Untuk pemisahan yang
kompleks dan sulit digunakan beberapa kolom.
b. Solven Extraction
Solvent extraction merupakan pemisahan komponen-komponen dari
campuran dengan menggunakan liquid yang memiliki karakteristik
tertentu. Operasi ini biasa dipakai untuk pemisahan senyawa aromatik
dengan parafin.
c. Absorption
Komponen gas atau cairan yang teruapkan dipisahkan melalui
absorpsi selektif, biasanya dalam pelarut liquid. Dalam industri minyak
bumi (Petroleum Industries), operasi ini biasanya berlangsung di dalam
packed tower.
d. Cracking
Cracking adalah pemecahan molekul hidrokarbon besar menjadi
molekul lebih kecil. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan
temperatur tinggi (thermal cracking) atau kombinasi antara temperatur
tinggi dengan pemakaian katalis.
e. Reforming
Reforming bertujuan untuk meningkatkan kualitas gasoline. Dengan
menggunakan thermal atau catalytic reforming, straight run gasoline
dimodifikasi struktur molekulnya sehingga mempunyai bilangan oktan
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
35
yang lebih tinggi. Untuk saat ini, reforming biasanya menggunakan katalis
dan gas hidrogen.
f. Alkilation
Alkilation merupakan reaksi penggabungan hidrokarbon rantai lurus
dan bercabang dengan molekul kompleks yang baru. Dalam industri
minyak bumi, proses serupa dipakai untuk memproduksi gasoline dengan
nilai oktan tinggi. Contoh produk alkilation adalah iso-oktan.
g. Isomerisasi
Isomerisasi merupakan proses pengaturan kembali atom dalam
molekul, misalnya konversi dari normal-parafin menjadi iso-parafin.
Isomerisasi metasiklopentana menjadi sikloheksana adalah salah satu
contoh yang menggunakan teknik catalytic reforming menjadi produk
aromatik.
h. Polimerisasi
Polimerisasi merupakan reaksi kimia yang menggabungkan molekul-
molekul tunggal menjadi molekul yang lebih besar. Produk awal disebut
monomer dan produk akhir disebut polimer. Bila dua atau lebih monomer
terlihat dalam proses dinamakan kopolimerisasi. Kombinasi dua molekul
monomer disebut dimer, kombinasi tiga monomer disebut trimer, dan bila
dua sampai sepuluh molekul monomer membentuk polimer disebut
oligomerisasi.

4.2.3 Produk Minyak Bumi
Komponen produk minyak bumi terdiri dari parafin, olefin, naften
dan aromat. Hal tersebut tergantung dari jenis pengolahannya. Besarnya
kandungan komponen dalam produk minyak bumi akan berpengaruh
terhadap sifat-sifat produk yang dihasilkan. Pada proses pengolahan minyak
bumi tidak pernah diperoleh pemisahan senyawa-senyawa hidrokarbon
murni, melainkan berupa campuran yang sangat kompleks. Produk-produk
yang dihasilkan berupa fraksi-fraksi sebagai yang ditunjukkan oleh tabel 2.2
(Harjono, 2001).

Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
36
Tabel 3.4 Fraksi-fraksi produk minyak bumi
No Fraksi
Titik didih
(
o
C)
Kegunaan
1 Fuel gas -160 40 Bahan bakar revinery
2 Propana -40 12 LPG
3 Butana -12 1 Menaikkan volatilitas gasoline
4
Light naptha
-1 150
- komponen gasoline
- reformer feed-stocke
5 Gasoline -1 180 Bahan bakar motor
6
Heavy naphta
150 205
- Reformer feed stoke
- Jet fuel
7 Kerosene 205 260 Fuel oil
8 Stove oil 205 290 Fuel oil
9
Light gas oil
260 315
- Fuel oil furnace
- Komponen bahan bakar
diesel
10
Heavy gas oil
315 425
Feed stock untuk katalitik
kraker
11 Lubricating oil >400 Minyak lumas
12 Vacuum gasoil 425 600 Feed stock untuk katalitik
13
Residu
>400
- Heavy fuel oil
- Aspal

4.2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Blending
Pada saat melakukan proses pencampuran, diharapkan semua
komponen dapat bercampur dengan merata menjadi suatu larutan yang
homogen. Faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah :
1. Temperatur
Setiap komponen yang akan dicampur untuk dijadikan minyak
bakar industri harus betul-betul dalam keadaan cair. Perlu diingat bahwa
untuk memanaskan suatu komponen, maka dibutuhkan temperatur yang
cukup akan tetapi tidak melebihi flash pointnya, guna memudahkan
pengadukan.
2. Komponen-komponen
Penentuan komposisi komponen harus sesuai denga yang
diinginkan agar diperoleh minyak bakar yang memenuhi spesifikasi
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
37
yang telah ditentuan. Perbandingan komposisi yang dicanpur didapat
melalui perhitungan pendekatan berdasarkan data analisis masing-
masing komponen.
3. Pengadukan
Sistem atau cara pengadukan terhadap komponen-komponen yang
telah di campur, akan sangat berpengaruh terhadap homogenitas
campuran yang dihasilkan, antara lain yaitu sistem mixer atau juga
sistem sirkulasi.
(Mudjiraharjo, 2002)
4.2.5 Avtur
Avtur memiliki sifat yang menyerupai kerosin karena memiliki rentang
panjang rantai C yang sama. Komponen-komponen kerosin dan avtur terutama
adalah senyawa-senyawa hidrokarbon parafinik (CnH2n+2) dan monoolefinik
(CnH2n) atau naftenik (sikloalkan, CnH2n) dalam rentang C10 C15. Sifat ini
dipilih karena memiliki beberapa keunggulan dibandingkan bahan bakar jenis
lain. Contohnya adalah volatilitas; dibandingkan dengan bensin, avtur memiliki
volatilitas yang lebih kecil sehingga mengurangi kemungkinan kehilangan bahan
bakar dalam jumlah besar akibat penguapan pada ketinggian penerbangan. Hal
lain yang menguntungkan dari avtur adalah kandungan energi per volumnya lebih
tinggi dibandingkan dengan bensin sehingga mampu memberikan energi bagi
pesawat untuk penerbangan jarak yang lebih jauh.
Avtur sebagai bahan bakar pesawat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu
yang berbasis bahan mirip kerosin (Jet A dan Jet A1) dan yang berbasis campuran
nafta-kerosin (Jet B). Tabel 2.1. menampilkan spesifikasi persyaratan mutu jenis-
jenis avtur tersebut menurut standar ASTM. Jet A1 adalah jenis avtur yang paling
sering digunakan untuk bahan bakar pesawat di seluruh dunia karena memenuhi
standar ASTM, standar spesifikasi Inggris DEF STAN 91-91, dan NATO Code F-
35. Jet A adalah bahan bakar pesawat yang memiliki sifat yang sangat mirip
dengan kerosin, diproduksi hanya untuk memenuhi standar ASTM sehingga
umumnya hanya dapat ditemukan di kawasan Amerika Serikat. Jet B jarang
digunakan karena sulit untuk ditangani (mudah meledak), dan hanya digunakan
pada daerah beriklim sangat dingin.
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
38
BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Uji Penyerapan Atomik
5.1.1 Pendahuluan
Teknik analisa dari spektrofotometer serapan atom (atomik absorption
spectrophotometry, AAS) pertama kali diperkenalkan oleh Welsh (Australia) pada
tahun 1955. Merupakan metoda yang popular untuk analisa logam karena di
samping relatif sederhana ia juga selektif dan sangat sensitif. Merupakan metoda
yang popular untuk analisa logam karena di samping relatif sederhana ia juga
selektif dan sangat sensitif. Sebagian besar atom akan berada pada ground state,
dan sebagian kecil (tergantung suhu) yang tereksitasi akan memancarkan cahaya
dengan panjang gelombang yang khas untuk atom tersebut ketika kembali ke
ground state. Beberapa metode yang sejenis seperti spektrometri emisi nyala
(flame emission spectrometry, FES) telah dikenal lebih dahulu, sedangkan
spektrometri fluoresensi atom (atomic fluorescence spectrometry, AFS) adalah
teknik yang baru dan masih dalam pengembangan . Prinsip analisis dengan AAS
adalah interaksi antara energi radiasi dengan atom unsur yang dianalisis. AAS
banyak digunakan untuk analisis unsur. Atom suatu unsur akan menyerap energi
dan terjadi eksitasi atom ke tingkat energi yang lebih tinggi. Keadaan ini tidak
stabil dan akan kembali ke tingkat dasar dengan melepaskan sebagian atau seluruh
tenaga eksitasinya dalam bentuk radiasi. Frekuansi radiasi yang dipancarkan
karakteristik untuk setiap unsur dan intensitasnya sebanding dengan jumlah atom
yang tereksitasi yang kemudian mengalami deeksitasi. Teknik ini dikenal dengan
SEA (spektrofotometer emisi atom). Untuk AAS keadaan berlawanan dengan cara
emisi yaitu, populasi atom pada tingkat dasar dikenakan seberkas radiasi, maka
akan terjadi penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada tingkat
dasar tersebut. Penyerapan ini menyebabkan terjadinya pengurangan intensitas
radiasi yang diberikan. Pengurangan intensitasnya sebanding dengan jumlah atom
yang berada pada tingkat dasar tersebut.
Larutan sampel diaspirasikan ke suatu nyala dan unsur-unsur di dalam
sampel diubah menjadi uap atom sehingga nyala mengandung atom unsur-unsur
yang dianalisis. Beberapa diantara atom akan tereksitasi secara termal oleh nyala,
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
39
tetapi kebanyakan atom tetap tinggal sebagai atom netral dalam keadaan dasar
(ground state). Atom-atom ground state ini kemudian menyerap radiasi yang
diberikan oleh sumber radiasi yang terbuat dari unsur-unsur yang bersangkutan.
Panjang gelombang yang dihasilkan oleh sumber radiasi adalah sama dengan
panjang gelombang yang diabsorpsi oleh atom dalam nyala. Absorpsi ini
mengikuti hukum Lambert-Beer. yakni absorbansi berbanding lurus dengan
panjang nyala yang dilalui sinar dan konsentrasi uap atom dalam nyala. Kedua
variabel ini sulit untuk ditentukan tetapi panjang nyala dapat dibuat konstan
sehingga absorbansi hanya berbanding langsung dengan konsentrasi analit dalam
larutan sampel.
5.1.2. Pengertian
Spektrofotometri serapan atom atau Atomic Absorption Spectophotometer
atau AAS adalah salah satu metode analisis yang dapat digunakan untuk
penentuan konsentrasi semua logam dan semilogam dengan kepekaan yang tinggi.
Pelatihan ini akan memberikan pemahaman yang mendalam tentang metodologi
spektrofotometri serapan atom, disertai dengan aplikasinya untuk menganalisa
kandungan logam berat antara lain : Pb, Cd, Cu, Cr, Fe, Zn, Mn, Ni dan lain-lain,
baik berupa sampel Padat, Cair, Gas Makanan dan Tanaman.
Radiasi dari sumber cahaya (hollow cathode lamp) dengan energi yang
sesuai dengan energi yang dibutuhkan oleh atom-atom dari unsur yang diperiksa
untuk melakukan transisi elektronik, dipancarkan melalui nyala. Pada nyala
tersebut, atom-atom dari zat yang diperiksa akan meresap radiasi tadi sesuai
dengan konsentrasi zat tersebut yaitu sesuai dengan populasi atom-atom pada
level energi terendah (ground state). AAS tidak tergantung dari suhu, sedangkan
pada FES di mana jumlah atom yang tereksitasi yang menentukan intensitas emisi
berubah-ubah secara eksponensial sesuai dengan temperatur. Di samping itu juga
terdapat perbedaan pada bentuk (design) dari pembakar (burner) dan pada AAS
radiasi lampu ditahan-diteruskan berganti-ganti menggunakan chopper untuk
membedakannya dengan radiasi yang dipancarkan oleh nyala api.
Atom-penyerapan (AAS) menggunakan spektroskopi penyerapan cahaya
untuk mengukur konsentrasi gas-fase atom.. Karena biasanya sampel cairan atau
makanan padat, maka atom atau ion analisa harus menguap dalam api atau grafit
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
40
furnace. Atom menyerap cahaya ultraviolet atau terlihat dan membuat transisi
elektronik yang lebih tinggi tingkat energi. Analisa konsentrasi yang ditentukan
dari jumlah penyerapan.. Menerapkan hukum Beer-Lambert yang berbunyi
:Schematic of an atomic-absorption experiment Skematis dari atom-percobaan
penyerapan. Hukum ini langsung dalam spektroskopi AAS sulit karena variasi
dalam atomisasi efisiensi dari matriks sampel, dan nonuniformity konsentrasi dan
panjang jalan analisa atom (dalam tungku grafit AAS). Konsentrasi pengukuran
biasanya ditentukan dari kurva kerja setelah kalibrasi instrumen dengan standar
yang diketahui konsentrasi.
5.1.3. Prinsip Kerja
Sampel yang digunakan biasanya berbentuk cairan, oleh karena itu analat
(atom atau ion) harus diuapkan terlebih dahulu. Dalam AAS, ada tiga metode
untuk menambahkan energi panas ke sampel, yaitu :
1. Flame AAS
Flame Atomizer merupakan perangkat Spektroskopi Atomik yang proses
pengatomannya dilakukan melalui pemanasan media api. Flame atomizer dapat
digunakan untuk AES, AFS, dan AAS. Bentuk umumnya dari Atomizer flame
adalah sebuah pipa konsentrik, dimana sampel larutan dihisap ke dalam pipa
kapilernya.
Flame AAS menggunakan api sebagai nebulizer untuk memanaskan
sampel sehingga teratomisasi menjadi gas. Flame (energi panas) menyebabkan
atom mengalami transisi dari ground state ke excited site. Ketika atom melakukan
transisi, atom menyerap beberapa cahaya dari sumber beam (HCL = Hollow
Cathode Lamp). Hollow Cathode Lamp (HCL) adalah sumber radiasi yang umum
dipakai pada AAS. Di dalam lampu, yang terisi dengan gas argon atau neon,
terdapat katoda logam yang mengandung logam yang akan tereksitasi dan sebuah
anoda. Ketika beda potensial yang tinggi dilalui ke katoda dan anoda, partikel gas
akan terionisasi. Pada pertambahan beda tegangan, ion gas memiliki energy yang
cukup untuk mengeluarkan atom logam dari katoda. Beberapa atom akan
tereksitasi dan mengemisikan cahaya dengan frekuensi yang sesuai dengan logam
yang ada. Semakin besar konsentrasi larutan, semakin banyak energi yang akan
diserap. Light beam (HCL) harus diletakkan secara tepat pada bagian terpanas dari
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
41
api dan mengalirkannya ke detektor. Detektor akan mengukur intensitas cahaya.
Ketika beberapa cahaya diserap, intensitas dari beam akan berkurang. Detektor
akan menyimpan reduksi cahaya tersebut sebagai absorpsi.
Nebulization - Pengubahan sampel cairan menjadi fine spray / aerosol
Desolvation - Padatan atom dicampur dengan gaseous fuel
Volatilization - Padatan atom dirubah menjadi uap di dalam flame.
Pengaruh suhu terhadap Atomizer Flame:
Suhu semakin tinggi -> meningkatkan jumlah populasi atom di dalam flame,
dan meningkatkan sensitivitasnya.
Suhu Flame menentukan -> jumlah relatif dari atom yang tereksitasi ataupun
yang tidak tereksitasi di dalam sebuah flame.
2. Graphite furnace AAS
Menggunakan tabung grafit dengan energi listrik yang besar untuk
memanaskan dan mengatomisasi sampel. Teknik GF-AAS sering digunakan
untuk analisis unsur-unsur logam dengan sensitivitas dan batas pendeteksian 20
sampai 1000 kali lebih baik dari pada teknik FAAS. Teknik GF-AAS
menggunakan proses electrothermal heating karena menggunakan pemanasan
sampel terprogram dengan energi listrik berdasar pada prinsip yang sama seperti
atomisasi nyala. Perbedaanya hanya terletak pada tempat pembakar sampel
(burner) dalam nyala api digantikan dengan atomizer atau furnace yang
dipanaskan dengan listrik. Dalam system pemanasan tersebut terdapat power
supply dan controller yang dapat diatur sedemikian rupa sehingga mengendalikan
perubahan temperatur dalam atomizer tersebut. Terdapat tiga bagian utama dalam
teknik GF-AAS yaitu sumber cahaya, tempat sampel dan alat pendeteksi serapan.
Sumber cahaya yang digunakan dapat menggunakan Hollow Cathode
Lamp (HCL) atau Electrodeless Discharge Lamp (EDL). Katoda lampu umumnya
adalah Hollowed-out Cylinder terbuat dari logam spesifik tempat penghasilan
spektrum cahaya. Anoda dan Katoda terlapisi di dalam silinder kaca yang berisi
gas neon atau argon bertekanan rendah. Pada ujung HCL terdapat jendela
(Window) untuk memancarkan radiasi. Tempat sampel dapat berupa burner
maupun atomizer. Dalam GF-AAS tempat sampel menggunakan atomizer yang
merupakan tempat proses pembentukan atom (atomisasi) terbuat dari karbon
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
42
grafit berbentuk tabung (graphite tube), dialiri gas inert seperti argon (Ar)
sehingga tidak bereaksi terhadap atom -atom sampel. Ukurannya sangat kecil
mempunyai panjang 3 cm diameter dalam 4 -6 mm.
Bagian kelompok pembacaan serapan terdiri dari monokromator, detektor,
penguat signal (amplifier), CPU (untuk tampilan signal serapan dan penyimpanan
data). Cahaya dari sumber lampu harus terfokus pada sampel dan diarahkan pada
monokromator dimana lampu akan dihamburkan dan melalui grating (terali
pemisah) sehingga yang diinginkan saja yang difokuskan ke detektor. Sebelum
masuk ke detector spektrum garis spesifik dari monokromator diperkuat oleh
amplifier terkebih dahulu. Pembacaan sinyal absorpsi akan dideteksi oleh detekt
or dan ditampilkan pada monitor CPU untuk kemudian dilakukan analisis data.
Analisis GF-AAS memiliki beberapa kelebihan dibandingkan FAAS di
antaranya yaitu memiliki kepekaan yang tinggi untuk analisis sampel yang minim
kuantitasnya, teknik GF-AAS lebih tepat daripada FAAS karena dapat dilakukan
dengan berat dan volume sampel yang kecil (analisis mikro), analisis dapat
dilakukan tanpa preparasi sampel, sehingga injeksi sampel dapat langsung
dilakukan ke dalam atomizer untuk sampel cair yang kental (viscous) termasuk
urine, serum, darah, plasma, bahan makanan cair (susu).
3. Electrothermal
Electrothermal atomizer adalah metode Spektroskopi Atomik yang proses
atomisasinya menggunakan pemanasan oleh arus listrik. Electrothermal Atomizer
umumnya digunakan untuk AAS dan AFS.
Keuntungan: sampel dibutuhkan hanya sedikit dan dalam konsentrasi
sangat rendah.
1.Sampel diinjeksikan kedalam pembakar grafit. Selanjutnya sampel diuapkan
dan kemudian diabukan.
2.Setelah sampel berbentuk abu. Tegangan pada pembakar grafit dinaikkan
hingga 2000oC hingga 3000oC. Sampel pada saat ini mengalami atomisasi.
3.Sampel yang mengalami atomisasi kemudian ditembak dengan lampu hollow
cathode atau flourescense sebelum dianalisa akhirnya.
5.1.4 Bagian-Bagian AAS
1. Lampu Katoda (Hollow Chatode Lamp)
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
43
Lampu katoda merupakan sumber cahaya pada AAS. Lampu katoda
memiliki atau umur pemakaian selama 1000 jam. Lampu katoda pada setiap unsur
yang akan diuji berbeda-beda tergantung unsur yang akan diuji, seperti lampu
katoda Cu, hanya bisa digunakan untuk pengukuran unsur Cu. Lampu katoda
terbagi menjadi dua macam, yaitu :
Lampu Katoda Monologam : Digunakan untuk mengukur 1 unsur.
Lampu Katoda Multilogam : Digunakan untuk pengukuran beberapa
logam sekaligus.
Soket pada bagian lampu katoda yang hitam, yang lebih menonjol
digunakan untuk memudahkan pemasangan lampu katoda pada saat lampu
dimasukkan ke dalam soket pada AAS. Bagian yang hitam ini merupakan bagian
yang paling menonjol dari ke-empat besi lainnya. Lampu katoda berfungsi
sebagai sumber cahaya untuk memberikan energi sehingga unsur logam yang
akan diuji, akan mudah tereksitasi. Selotip ditambahkan, agar tidak ada ruang
kosong untuk keluar masuknya gas dari luar dan keluarnya gas dari dalam, karena
bila ada gas yang keluar dari dalam dapat menyebabkan keracunan pada
lingkungan sekitar.
Sumber cahaya biasanya merupakan lampu katoda cekung dari elemen
yang sedang diukur. Laser juga digunakan dalam instrumen penelitian. Karena
laser yang cukup intens untuk membangkitkan atom ke tingkat energi yang lebih
tinggi, mereka mengijinkan AAS dan fluoresensi atom pengukuran dalam satu
instrumen. Kerugian dari sempit-band ini sumber cahaya adalah bahwa hanya satu
elemen yang dapat diukur pada suatu waktu.
2. Tabung Gas
Tabung gas pada AAS yang digunakan merupakan tabung gas yang berisi
gas asetilen. Gas asetilen pada AAS memiliki kisaran suhu 20000K, dan ada
juga tabung gas yang berisi gas N2O yang lebih panas dari gas asetilen, dengan
kisaran suhu 30000K. regulator pada tabung gas asetilen berfungsi untuk
pengaturan banyaknya gas yang akan dikeluarkan, dan gas yang berada di dalam
tabung. Spedometer pada bagian kanan regulator. Merupakan pengatur tekanan
yang berada di dalam tabung.

Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
44
3. Ducting
Ducting merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa
pembakaran pada AAS, yang langsung dihubungkan pada cerobong asap bagian
luar pada atap bangunan, agar asap yang dihasilkan oleh AAS, tidak berbahaya
bagi lingkungan sekitar. Asap yang dihasilkan dari pembakaran pada AAS, diolah
sedemikian rupa di dalam ducting, agar polusi yang dihasilkan tidak berbahaya.
Penggunaan ducting yaitu, menekan bagian kecil pada ducting kearah miring,
karena bila lurus secara horizontal, menandakan ducting tertutup. Ducting
berfungsi untuk menghisap hasil pembakaran yang terjadi pada AAS, dan
mengeluarkannya melalui cerobong asap yang terhubung dengan ducting.
4. Kompresor
Kompresor merupakan alat yang terpisah dengan main unit, karena alat ini
berfungsi untuk mensuplai kebutuhan udara yang akan digunakan oleh AAS, pada
waktu pembakaran atom. Kompresor memiliki 3 tombol pengatur tekanan,
dimana pada bagian yang kotak hitam merupakan tombol ON-OFF, spedo pada
bagian tengah merupakan besar kecilnya udara yang akan dikeluarkan, atau
berfungsi sebagai pengatur tekanan, sedangkan tombol yang kanan merupakan
tombol pengaturan untuk mengatur banyak/sedikitnya udara yang akan
disemprotkan ke burner. Bagian pada belakang kompresor digunakan sebagai
tempat penyimpanan udara setelah usai penggunaan AAS. Alat ini berfungsi
untuk menyaring udara dari luar, agar bersih.posisi ke kanan, merupakan posisi
terbuka, dan posisi ke kiri merupakan posisi tertutup. Uap air yang dikeluarkan,
akan memercik kencang dan dapat mengakibatkan lantai sekitar menjadi basah,
oleh karena itu sebaiknya pada saat menekan ke kanan bagian ini, sebaiknya
ditampung dengan lap, agar lantai tidak menjadi basah., dan uap air akan terserap
ke lap.
5. Burner
Burner merupakan bagian paling terpenting di dalam main unit, karena
burner berfungsi sebagai tempat pancampuran gas asetilen, dan aquabides, agar
tercampur merata, dan dapat terbakar pada pemantik api secara baik dan merata.
Lobang yang berada pada burner, merupakan lobang pemantik api, dimana pada
lobang inilah awal dari proses pengatomisasian nyala api.
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
45
Perawatan burner yaitu setelah selesai pengukuran dilakukan, selang
aspirator dimasukkan ke dalam botol yang berisi aquabides selama 15 menit, hal
ini merupakan proses pencucian pada aspirator dan burner setelah selesai
pemakaian. Selang aspirator digunakan untuk menghisap atau menyedot larutan
sampel dan standar yang akan diuji. Selang aspirator berada pada bagian selang
yang berwarna oranye di bagian kanan burner. Sedangkan selang yang kiri,
merupakan selang untuk mengalirkan gas asetilen. Logam yang akan diuji
merupakan logam yang berupa larutan dan harus dilarutkan terlebih dahulu
dengan menggunakan larutan asam nitrat pekat. Logam yang berada di dalam
larutan, akan mengalami eksitasi dari energi rendah ke energi tinggi. Nilai eksitasi
dari setiap logam memiliki nilai yang berbeda-beda. Warna api yang dihasilkan
berbeda-beda bergantung pada tingkat konsentrasi logam yang diukur. Bila warna
api merah, maka menandakan bahwa terlalu banyaknya gas. Dan warna api paling
biru, merupakan warna api yang paling baik, dan paling panas, dengan
konsentrasi.
6. Buangan Pada AAS
Buangan pada AAS disimpan di dalam drigen dan diletakkan terpisah
pada AAS. Buangan dihubungkan dengan selang buangan yang dibuat melingkar
sedemikian rupa, agar sisa buangan sebelumnya tidak naik lagi ke atas, karena
bila hal ini terjadi dapat mematikan proses pengatomisasian nyala api pada saat
pengukuran sampel, sehingga kurva yang dihasilkan akan terlihat buruk.
Tempat wadah buangan (drigen) ditempatkan pada papan yang juga
dilengkapi dengan lampu indicator. Bila lampu indicator menyala, menandakan
bahwa alat AAS atau api pada proses pengatomisasian menyala, dan sedang
berlangsungnya proses pengatomisasian nyala api. Selain itu, papan tersebut juga
berfungsi agar tempat atau wadah buangan tidak tersenggol kaki. Bila buangan
sudah penuh, isi di dalam wadah jangan dibuat kosong, tetapi disisakan sedikit,
agar tidak kering.
7. Unit Atomisasi
A. Atominasi nyala
Tujuan Atomisasi nyala : untuk mendapatkan atom-atom netral. Atomisasi
dapat dilakukan dengan nyala api (paling banyak digunakan) atau tanpa nyala.
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
46
Pemilihan pasangan fuel-oksidan sangat tergantung dari temperatur nyala yang
diperlukan untuk proses atomisasi, meskipun faktor-faktor yang mereduksi
pembentukan oksida logam juga penting. Juga diusahakan agar latar belakang
emisi dari nyala tidak mengganggu analisa.
Fungsi dari atomisasi nyala yaitu:
a. Mengubah zat yang diperiksa dari larutan atau bentuk padat menjadi bentuk gas
penguapan.
b. Mengubah molekul dalam bentuk uap menjadi atom atomisasi.
c. Pada FES untuk mengeksitasi uap atom/molekul sehingga menghasilkan radiasi
emisi.
d. Komponen-komponen dari gas-gas pembentuk nyala membatasi daerah analisa
pada panjang gelombang di luar daerah resapan atmosfer, yaitu pada panjang
gelombang di atas 210 nm.
Perbandingan dari bahan bakar dan oksidan juga menentukan suhu dan
komposisi nyala gas yang terjadi. Bila jumlah oksidan lebih banyak dari bahan
bakan maka nyala yang terjadi disebut oxidising flame dan bila sebaliknya disebut
reducing flame. Nyala jenis mana yang dipakai tergantung dari sifat unsur yang
diperiksa. Misalnya unsur-unsur yang cenderung utnuk membentuk oksida yang
stabil (Al,Si, Ti, dan Lantanida) diperlukan nyala dengan suhu tinggi dengan
lingkungan yang dapat mereduksi, misalnya nyala asetilendinitrogen monoksida.

B. Sistem Atomisasi Dengan Elektrothermal (Tungku)
Sistem nyala api ini lebih dikenal dengan nama GFAAS. GFAAS dapat
mengatasi kelemahan dari sistem nyala seperti, sensitivitas, jumlah sampel dan
penyiapan sampel. Ada tiga tahap atomisasi dengan tungku yaitu:
a. Tahap pengeringan atau penguapan larutan
b. Tahap pengabuan atau penghilangan senyawa-senyawa organik dan
c. Tahap atomisasi
Unsur-unsur yang dapat dianalsis dengan menggunakan GFAAS adalah
sama dengan unsur-unsur yang dapat dianalisis dengan sistem nyala. Beberapa
unsur yang sama sekali tidak dapat dianalisis dengan GFAAS adalah tungsten, Hf,
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
47
Nd, Ho, La, Lu, Os, Br, Re, Sc, Ta, U, W, Y dan Zr, hal ini disebabkan karena
unsur tersebut dapat bereaksi dengan graphit.
Petunjuk praktis penggunaan GFAAS:
1. Jangan menggunakan media klorida, lebih baik gunakan nitrat.
2. Sulfat dan fosfat bagus untuk pelarut sampel, biasanya setelah sampel
ditempatkan dalam tungku.
3. Gunakan cara adisi sehingga bila sampel ada interferensi dapat terjadi pada
sampel dan standard.
8. Monokromator
Monokromator celah dan kisi difraksi.Kesulitan : monokromator tidak
dapat menghalangi radiasi nyala menuju detector. Radiasi nyala dan radiasi yang
diteruskan akan bergabung menuju detector.
9. Detektor
Fungsi : mengubah intensitas radiasi yang datang menjadi arus listrik.
Umum digunakan : tabung penggandaan foto ( PMT = Photo Multiplier Tube
Detector).
5.1.5 Keuntungan dan Kelemahan Metode AAS
Keuntungan metode AAS dibandingkan dengan spektrofotometer biasa
yaitu spesifik, batas deteksi yang rendah dari larutan yang sama bisa mengukur
unsur-unsur yang berlainan, pengukurannya langsung terhadap contoh, output
dapat langsung dibaca, cukup ekonomis, dapat diaplikasikan pada banyak jenis
unsur, batas kadar penentuan luas (dari ppm sampai %).
Sedangkan kelemahannya yaitu pengaruh kimia dimana AAS tidak
mampu menguraikan zat menjadi atom misalnya pengaruh fosfat terhadap Ca,
pengaruh ionisasi yaitu bila atom tereksitasi (tidak hanya disosiasi) sehingga
menimbulkan emisi pada panjang gelombang yang sama, serta pengaruh matriks
misalnya pelarut.
5.1.6. Jenis-Jenis Gangguan pada AAS
1. Gangguan Spektra
Gangguan spektra terjadi bila panjang gelombang (atomic line) dari unur
yang diperiksa berimpit dengan panjang gelombang dari atom atau molekul lain
yang terdapat dalam larutan yang diperiksa.
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
48
2. Gangguan Fisika
Sifat-sifat fisika dari larutan yang diperiksa akan menentukan intensitas
dari resapan atau emisi dari larutan zat yang diperiksa. Kekentalan mempengaruhi
laju penyemprotan ke dalam nyala dan ketegangan muka, bobot jenis, kekentalan
serta kecepatan gas menentukan besar butir tetesan. Oleh karena itu sifat-sifat
fisika dari zat yang diperiksa dan larutan pembanding harus sama. Efek ini dapat
diperbaiki dengan menggunakan pelarut organik di mana sensitivitas dapat
dinaikkan sampai 3 atau 5 kali bila dibandingkan dengan pelarut air. Ini
disebabkan karena pelarut organik mempercepat penyemprotan (kekentalannya
rendah), cepat menguap, mengurangi penurunan suhu nyala, menaikkan kondisi,
mereduksi nyala.
3. Gangguan Kimia
a.Bentuk uap
Gangguan kimia biasanya memperkecil populasi atom pada level energi
terendah. Telah disebutkan bahwa dalam nyala, atom dalam bentuk uap dapat
berkurang karena terbentuknya senyawa seperti oksida atau klorida, atau karena
terbentuknya ion.
b. Bentuk padat
Gangguan ini karena terbentuknya senyawa yang sukar menguap atau
sukar terdisosiasi dalam nyala. Hal ini terjadi pada nyala ketika pelarut menguap
meninggalkan partikel-partikel padat.

5.2. Uji Konduktivitas Listrik (Electrical Conductivity)
5.2.1. Pendahuluan
Tujuan dari uji konduktivitas listrik adalah mengetahui kemampuan bahan
bakar (Avtur) untuk menghilangkan (dissipate) muatan yang terbentuk selama
pumping dan filtering dikontrol dengan ukuran daya hantar listrik yang sangat
tergantung pada kandungan spesi ion (anion dan kation). Bila konduktivitas
sangat tinggi, penghilangan muatan cukup cepat untuk mencegah akumulasi dan
potensi bahaya yang terjadi dalam tangki penerima dapat dihindari.
Dalam pengujian konduktivitas listrik fuel terdapat dua metode yaitu,
metode pengukuran Portabel (Portable Meter Method) dan Metode Pengukuran
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
49
In-Line (Continuous In-Line Conductivity Monitor Method). Keduanya memiliki
peran pengukuran yang disesuaikan dengan tempat pengukuran. Untuk
pengukuran langsung di dalam tangki atau pengukuran laboratorium biasa
digunakan Metode Pengukuran Portabel. Sedangkan, Metode Pengukuran In-Line
biasa digunakan untuk mengetahui konduktivitas listrik di dalam sistem distribusi
bahan bakar.

5.2.2. Metode Pengukuran Portabel (Portable Meter Method)
Peralatan yang digunakan:
1. Peralatan pengukuran Konduktivitas dan Arus (Conductivity Cell And current-
Measuring Apparatus). Karena hidrokarbon memiliki konduktivitas yang jauh
lebih rendah dibandingkan larutan lainnya, maka diperlukan peralatan yang
kompatibel agar memberikan hasil respon pengukuran yang sesuai dengan besar
tegangan yang dikenakan.
2. Termometer (Thermometer). Digunakan untuk memastikan sampel yang akan
diuji berada pada range suhu yang sesuai dengan referensi.
3. Wadah sampel/ Tempat mengukur (Measuring Vessel). Wadah sampel lebih
efektif menggunakan wadah yang berbentuk silinder agar elektrode dapat ter-
cover dengan sampel dengan menyeluruh. Volume wadah yang dianjurkan lebih
dari 1 Liter.
Reagen dan Material:
Solvent Pembersih (Cleaning Solvents) menggunakkan Isopropil
Alkohol (IPA). Jika alat diindikasikan mengandung air, dapat dibersihkan dengan
menggunakan Toluen (terdiri dari campuran 50% Isopropil dan 50% Heptana).
Persiapan yang dilakukan:
Pengujian hendaknya dilakukan secara in situ atau pada titik sampel secara
langsung untuk menghindari perubahan keadaan sampel selama pengujian. Jika
cell berkontakan dengan air sedangkan pada saat itu peralatan dalam keadaan
menyala, maka secara cepat skala pengukuran akan terlihat. Apabila cell
berkontakan dengan air, hal itu dapat dibasuh dengan solvent pembersih (IPA)
dan dikeringkan dengan pengering. Dalam kondisi itu, proses kondensasi dapat
berlangsung yang menyebabkan abnormal pada keadaan titik nol, pengkalibrasian
dan pembacaan sampel. Hal ini dapat dihindari dengan menyimpan cell pada
Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
50
temperatur 2 hingga 5
o
C lebihnya dari suhu sekitar pengujian. Volume sampel
yang disiapkan tidak kurang dari 1 L. Keadaan penyinaran matahari dapat dapat
mempengaruhi tingkat pembacaan konduktivitas listrik sampel (Metode D 4306).
Prosedur Pengujian:
Hasil Pengujian:

5.2.3. Metode Pengukuran Continuous In-Line (Continuous I n-Line
Measuring Method)
Peralatan yang digunakan:
Pengukuran terus-menerus digunakan ketika tepat untuk mengurangi
muatan statis sebelum aliran bahan bakar melewati saluran cell In-Line. Aliran
secara terus-menerus ke cell menghalangi kekurangan ion. Hal itu setara dengan
konduktivitas sisa yang menunjukkan pengukuran berkelanjutan.

Prosedur pengujian:
Mengguyur cell dengan aliran bahan bakar yang terkontrol dan terukur.
Kemudian membersihkan cell dan mengguyurnya selama beberapa menit.
Guyuran yang lama dianjurkan ketika melakukan kalibrasi alat. Kontrol aliran
disesuaikan dengan rekomendasi pabrikan.
Setelah dikalibrasi, kemudian menentukan skala instrumen secara
pendekatan untuk aliran fuel dan pengukuran konduktivitas bahan bakar secara
berkelanjutan. Kemudian mengukur suhu test cell (dengan menggunakan
termometer) yang merupakan suhu bahan bakar dalam sistem.
Hasil pengujian:
Hasil pengukuran konduktivitas listrik bahan bakar yang diukur
merupakan hasil yang didapatkan ketika melakukan pengukuran (Lihat Catatan
A1.1). Ketika penunjuk skala pengukuran menunjukkan hasil berosilasi selama
pengukuran, maka dianjurkan untuk mengganti baterai instrumen.



Laporan Praktek Kerja Lapangan
Pusdiklat Migas Cepu 2014
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang
51
BAB VI
PENUTUP

6.1. Kesimpulan
Dari semua metode analisa yang telah dilakukan untuk mengetahui
sifat fisika, sifat kimia, dan kualitas dari Pertasol CA yang terkontaminasi
Pertasol CB, dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Pengaruh kontaminan Pertasol CB terhadap kualitas Pertasol CA dari
parameter uji yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Pertasol CA
yang terkontaminasi Pertasol CB kualitasnya sudah tidak bagus lagi
karena densitas maupun FBP yang dihasilkan sudah tidak memenuhi
spesifikasi yang sudah ditetapkan. Sehingga Pertasol CA yang sudah
terkontaminasi Pertasol CB tidak layak untuk di perjual belikan.
2. Pertasol CA yang terkontaminasi Pertasol CB sudah tidak memenuhi
spesifikasi Pertasol CA yang telah ditentukan karena dalam parameter
uji Density at 15
o
C, dan FBP tidak memenuhi spesifikasi meskipun
dalam Uji Colour Saybolt, Aromatic Content, dan Doctor Test masih
memenuhi spesifikasi. Sementara produk Pertasol CA murni dengan
semua parameter pengujian hasilnya telah memenuhi spesifikasi yang
telah ditentukan.

6.1.2. Saran
Saran yang dapat kami berikan untuk Pusdiklat Migas Cepu :
1. Kedisiplinan dan efisiensi kerja yang selam ini telah dilaksanakan agar
tetap dijaga dan terus berusaha ditingkatkan semaksimal mungkin.
2. Pemeliharaan dan perawatan hendaknya dilakukan secara berkala
terhadap seluruh peralatan yang ada di unit laboratorium, khususnya di
Laboratorium Penguji Hasil Produk Kilang
3. Penyediaan alat seperti pipet tetes, pipet volume, pengaduk gelas dan
bola hisap seharusnya ditambah untuk mempermudah praktikan dalam
melakukan analisis.

Anda mungkin juga menyukai