Anda di halaman 1dari 8

0

GENERAL BUSINESS ENVIRONMENT


NATURAL ENVIRONMENT

Pentingnya Pengelolaan Limbah B3 Hasil Industri
Terhadap Sustainability Perusahaan

Pengajar:
Prof. Shalihuddin Djalal Tandjung, Ph.D



Oleh:
Robi Aprilianto
12/343598/PEK/18014
Angkatan 61 Reguler Kelas B


MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013
1


I. Pendahuluan
Secara umum bisnis diartikan sebagai usaha yang dilakukan oleh perseorangan atau
umum dengan menjual barang dan/atau jasa dengan tujuan untuk mencari keuntungan. Dalam
pelaksanaannya karena bisnis merupakan suatu kegiatan yang melibatkan lebih dari satu
pihak dengan syarat-syarat tertentu maka akan terdapat banyak faktor yang memiliki
pengaruh terhadap bisnis. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi bisnis salah satunya
adalah faktor lingkungan. Studi lingkungan dalam hal ini adalah sistem ekologi yaitu studi
yang mempelajari hubungan antara organisme dan lingkungannya menjadi subyek dan topik
yang penting dan relevan bagi semua orang. Bisnis dengan lingkungan memiliki hubungan
timbal balik yang sangat erat dimana dalam pengelolaan bisnis membutuhkan sumber daya
yang salah satunya berasal dari alam namun juga implikasi dari kegiatan bisnis juga
menghasilkan limbah yang bila tidak dikelola dengan baik akan mengakibatkan pencemaran
terhadap lingkungan yang akan merugikan ekosistem. Terkait dengan lingkungan, untuk
mencapai sustainable development perusahaan dalam menjalankan bisnisnya juga harus
melaksanakan konservasi sumber daya alam dengan cara melindungi dan mengelola
lingkungan hidup (Tandjung, 2012). Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu
untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan,
kontrol, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.
Salah satu implikasi dari kegiatan bisnis adalah adanya limbah atau buangan yang
dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga).
Pengelolaan limbah ini menjadi hal yang sangat penting dan mempengaruhi sustainability
terhadap bisnis. Kegagalan pengelolaan limbah yang menyebabkan timbulnya dampak yang
merugikan sistem lingkungan bisa mengancam keberlangsungan bisnis suatu perusahaan.
Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas mengenai pentingnya pengelolaan limbah
B3 hasil industri terhadap sustainability perusahaan.

II. Bentuk Tanggung Jawab Perusahaan Terhadap Lingkungan
Di dalam sebuah perusahaan, baik itu perusahaan besar maupun perusahaan kecil,
dalam peningkatan kualitas hasil produk diperlukan adanya tanggung jawab sosial baik itu
terhadap konsumen maupun lingkungan disekitar tempat usaha. Tanggung jawab sosial atau
dalam bahasa inggrisnya Corporate Social Responsibility adalah suatu konsep bahwa
organisasi, khususnya perusahaan memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen,
2

karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional
perusahaan. Selain memiliki tanggung jawab terhadap konsumen, perusahaan juga memiliki
tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar, mengingat lingkungan juga merupakan
komponen penting untuk memajukan sebuah perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan
dituntut untuk ramah lingkungan. Bentuk tanggung jawabnya antara lain seperti :
Membuang limbah pada tempat yang seharusnya;
Meminimalisir limbah perusahaan yang dapat mencemari lingkungan sekitar;
Kebersihan peralatan yang dipakai dan tidak merugikan masyarakat disekitar
perusahaan;
Perusahaan memberikan solusi untuk mendaur ulang limbah yang bisa di usahakan
sehingga sisa bahan produk tidak terbuang percuma.
Di Indonesia, kewajiban pelaku bisnis untuk ikut menjaga likungan sudah diatur
dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Dalam UU ini,
lingkungan hidup didefinisikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, potensi, kondisi
dan organisme hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan
hidup dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya. Perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan
fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan,
pengawasan, dan penegakan hukum. Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan
terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi
pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan,
kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Oleh karena itu
dengan adanya undang-undang ini diharapkan perusahaan dalam menjalankan bisnisnya tetap
memperhatikan dan mengelola lingkungan hidup serta memberikan pelayanan yang prima
dan memuaskan.

III. Pengelolaan Limbah B3 Hasil Industri
Secara umum yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu
kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan, dan
sebagainya. Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas dan debu, cair atau padat. Di antara
berbagai jenis limbah ini ada yang bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal sebagai
3

limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3). Definisi limbah B3 berdasarkan
BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan sisa (limbah) suatu kegiatan proses produksi yang
mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) karena sifat (toxicity, flammability,
reactivity, dan corrosivity) serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung
maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan
kesehatan manusia. Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya
dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses,
dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus. Bahan-bahan ini
termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih karakteristik berikut: mudah meledak,
mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lain-
lain, yang bila diuji dengan toksikologi dapat diketahui termasuk limbah B3.
Tujuan pengelolaan limbah B3 adalah untuk mencegah dan menanggulangi
pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah B3 serta
melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai dengan
fungsinya kembali. Dari hal ini jelas bahwa setiap kegiatan/usaha yang berhubungan dengan
B3, baik penghasil, pengumpul, pengangkut, pemanfaat, pengolah dan penimbun B3, harus
memperhatikan aspek lingkungan dan menjaga kualitas lingkungan tetap pada kondisi
semula. Dan apabila terjadi pencemaran akibat tertumpah, tercecer dan rembesan limbah B3,
harus dilakukan upaya optimal agar kualitas lingkungan kembali kepada fungsi semula.
Di Indonesia pengelolaan limbah B3 telah diatur di dalam KepMenLH No. 18 Tahun
2009 Tentang Tata Cara Perizinan Pengelolaan Limbah B3, namun sepertinya penerapan
dilapangan masih belum optimal baik dikarenakan dari kinerja pemerintah yang belum bisa
dinilai efektif untuk menanggulangi permasalahan tersebut dalam hal pengawasan,
pembinaan, penetapan sanksi, dan lain-lain, serta dari berbagai pihak lapisan masyarakat
yang mungkin masih belum banyak yang mendapatkan informasi mengenai bahaya yang
ditimbulkan dari limbah B3 atau sengaja menyalah gunakan limbah B3 tersebut untuk
kepentingan pribadi. Pembuangan limbah ke lingkungan akan menimbulkan masalah yang
merata dan menyebar di lingkungan yang luas yang pada akhirnya akan memberikan dampak
yang buruk terhadap kerusakan lingkungan dan kesehatan manusia.

IV. Implikasi Pengelolaan Limbah Terhadap Sustainability Perusahaan
Keberhasilan atau kegagalan perusahaan dalam pengelolaan limbah yang
dihasilkannya akan memberikan dampak yang signifikan terhadap keberlangsungan atau
sustainability perusahaan itu sendiri. Banyaknya kasus pencemaran lingkungan yang
4

berdampak pada kesehatan manusia seperti kasus pencemaran di Buyat Minahasa dan pada
bulan maret 2012 ditemukannya ratusan kontainer berisi sampah yang mengandung bahan
berbahaya dan beracun (B3) yang diimpor dari negara lain di Pelabuhan Tanjung Priok
menyebabkan pemerintah berusaha memperbaiki aturan terkait pengelolaan limbah dengan
menyusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya
dan Beracun (B3), Limbah B3 dan Dumping Limbah B3. Hal ini bisa diartikan bahwa
pemerintah mulai memberi perhatian yang serius terhadap pengelolaan limbah dikarenakan
sudah banyak jatuh korban dari kegagalan perusahaan dalam pengelolaan limbah yang
berbahaya. Oleh karena itu perusahaan sebagai pelaku bisnis harus benar-benar serius dalam
mengelola limbah yang dihasilkannya dalam upaya menjaga keutuhan lingkungan hidup serta
keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi
masa depan.
Implikasi kegagalan pelaku bisnis dalam pengelolaan limbah bisa memberikan
dampak yang buruk terhadap sustainability perusahaan, hal ini disebabkan karena dengan
adanya pencemaran lingkungan yang dilakukannya akan mengurangi kepercayaan konsumen
terhadap produk yang dihasilkannya apalagi pengaruhnya terhadap tipikal konsumen yang
aware terhadap lingkungan akan menghentikan mengkonsumsi produk perusahaan bahkan
mengkampanyekan untuk memboikotnya. Selain itu sanksi dari pemerintah berupa penutupan
atau pelarangan operasi juga menjadi titik berakhirnya sustainability perusahaan apabila
gagal mengelola limbah sehingga mencemari lingkungan dan menimbulkan banyak korban.
Contoh kasus hal ini terjadi pada PT Dongwoo Environmental Indonesia (DWEI) tahun 2006
yang bergerak di bidang jasa daur ulang limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (B3) menjadi
produk dan selaku pemengang ijin pengelolaan limbah B3 yang dikeluarkan oleh Kementrian
Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia dimana dalam operasinya perusahaan ini
terbukti membuang sebagian besar limbah yang seharusnya diolah pada lahan terbuka di
Bekasi sehingga menyebabkan kualitas tanah berubah ( tekstur tanah mengeras, menghitam,
berbau ) dan air di lokasi tersebut berwarna hitam dan berbau. Akibatnya sebanyak 144 orang
warga Kampung Kramat RT 003/03, Desa Pasir Gombong, Kecamatan Cikarang Bekasi yang
terdiri dari anak-anak dibawah usia lima tahun hingga orang dewasa dilarikan ke RS Medika
Cikarang akibat menderita keracunan dan gangguan infeksi saluran pernapasan atas, batuk-
batuk, kepala pusing, serta muntah muntah akibat dari pembuangan limbah B3 tersebut.
Akhirnya PT DWEI ditutup dan dilarang beroperasi oleh pemerintah dan enam orang direksi
dan pegawainya divonis bersalah oleh pengadilan dan mendapatkan hukuman.
5

Sebaliknya apabila pelaku bisnis sukses dalam pengelolaan limbah yang
dihasilkannya disertai dengan dilaksanakannya kegiatan perusahaan yang mendukung
tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan maka akan sangat menguntungkan
bagi perusahaan. Setidaknya ada empat keuntungan yang akan diperoleh perusahaan yaitu :
1. Pengembangan reputasi atau citra perusahaan di mata konsumen dan investor.
Perusahaan yang concern dengan lingkungan akan memperoleh reputasi yang baik
dari konsumen sehingga tercipta image perusahaan yang baik serta dianggap oleh
investor sebagai perusahaan yang memiliki resiko bisnis yang rendah (low risk
business) dan sangat menguntungkan pada akhirnya akan memiliki harga saham yang
baik dipasaran.
2. Mengeliminasi konflik lingkungan dan sosial disekitar perusahaan.
Dengan terjaganya lingkungan serta program tanggung jawab sosial perusahaan
terhadap masyarakat sekitarnya akan mampu menjaga kondisi lingkungan dan sosial
yang kondusif sehingga meminimalisir terjadinya gesekan atau konflik.
3. Meningkatkan kerja sama dengan para pemangku kepentingan.
Dalam implementasi bekerja sama dengan pemangku kepentingan dalam melakukan
konservasi lingkungan, maka perusahaan dapat dengan mudah menciptakan sebuah
relasi yang baik dengan para pemangku kepentingan tersebut.
4. Membedakan perusahaan dengan para pesaingnya.
Jika kegiatan CSR terhadap lingkungan dilakukan oleh sebuah perusahaan,
perusahaan tersebut akan memiliki kemampuan dan kesempatan dalam menonjolkan
keunggulan komparatifnya (comparative advantage) sehingga dengan mudah dapat
memberikan nilai plus yang berbeda dengan para pesaingnya yang tidak melakukan
kegiatan sosial terhadap lingkungan.
Dengan diperolehnya keuntungan-keuntungan tersebut maka keberhasilan perusahaan dalam
mengelola limbah sebagai usaha perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup akan
berdampak positif terhadap kinerja perusahaan sehingga mampu menjaga sustainability
perusahaan dalam menjalankan bisnisnya.
V. Kesimpulan
Lingkungan ekosistem sebagai salah satu faktor eksternal yang mampu
mempengaruhi bisnis dimana memiliki hubungan timbal balik yang sangat erat dimana dalam
pengelolaan bisnis membutuhkan sumber daya yang salah satunya berasal dari alam namun
juga implikasi dari kegiatan bisnis juga menghasilkan limbah yang bila tidak dikelola dengan
6

baik akan mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan yang akan merugikan ekosistem.
Kegagalan pengelolaan limbah yang menyebabkan timbulnya dampak yang merugikan
sistem lingkungan akan mengancam keberlangsungan bisnis suatu perusahaan. Sebaliknya
apabila pelaku bisnis sukses dalam pengelolaan limbah yang dihasilkannya disertai dengan
dilaksanakannya kegiatan perusahaan yang mendukung tanggung jawab sosial perusahaan
terhadap lingkungan maka akan sangat menguntungkan bagi perusahaan sehingga mampu
menjaga sustainability perusahaan dalam menjalankan bisnisnya.

7

Referensi
Tandjung, Shalihuddin Djalal, 2012. Natural Environment. Bahan ajar disampaikan dalam
kelas General Business Environment MMUGM.
Kementerian Lingkungan Hidup, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009
tentangPerlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Kementerian Lingkungan Hidup, 2013. RPP Tentang B3, Limbah B3 dan Dumping Limbah
B3. Diakses dari http://www.menlh.go.id/rancangan-peraturan-pemerintah-rpp-
tentang-pengelolaan-bahan-berbahaya-dan-beracun-b3-limbah-b3-dan-dumping-
limbah-b3/
Blog Geografi, 2012. Mengenal Limbah Dan Masalah Limbah Di Indonesia. Diakses dari
http://rizarinzani.wordpress.com/2012/06/07/mengenal-limbah-dan-masalah-limbah-
di-indonesia/
BBC Indonesia, 2012. Pemerintah temukan 118 kontainer sampah B3. Diakses dari
http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2012/03/120301_sampahb3.shtml
Kementerian Lingkungan Hidup, 2008. Direktur Utama PT Dongwoo Environmental
Indonesia di Vonis 6 Tahun Penjara. Diakses dari http://www.menlh.go.id/direktur-
utama-pt-dongwoo-environmental-indonesia-di-vonis-6-enam-tahun-penjara/
Ivyanno, 2012. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Terhadap Lingkungan. Diakses dari
http://ivyannoproject.com/2012/08/01/tannggung-jawab-sosial-perusahaan-terhadap-
lingkungan/