Anda di halaman 1dari 32

Manajemen Puskesmas dan Posyandu

Latar Belakang.
Kesehatan merupakan kebutuhan pokok manusia oleh karena itu kesehatan adalah hak azasi
manusia. Keberhasilan pembangunan kesehatan secara makro akan mempengaruhi kinerja
pembangunan sektor lain seperti pembangunan ekonomi, pendidikan, sosial, pertahanan dan
keamanan, secara mikro akan meningkatkan derajat kesehatan individu. Derajat kesehatan yang
optimal akan mewujudkan sumber daya manusia yang sehat dan kuat baik jasmani maupun
rohani. Sumber daya manusia yang demikian ini dibutuhkan dalam kita memasuki abad 21. Abad
yang ditandai dengan persaingan yang ketat baik ditingkat nasional, regional maupun
internasional. Pembangunan kesehatan terus harus diupayakan untuk dapat meningkatkan
kualitas, dan pemerataan jangkauan pelayanan kesehatan masyarakat.
Pada tahun 1969-1971 Departemen Kesehatan menata kembali strategi pembangunan kesehatan
jangka panjang melalui PAKERNAS I untuk merumuskan rencana pembangunan kesehatan
jangka panjang sebagai awal Repelita I. Kemudian dari sinilah konsep Pusat Kesehatan
Masyarakat (puskesmas) mulai diperkenalkan.
Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri dari komponen (subsistem) yang saling terkait /
tergantung satu sama lain dan bekerja untuk mencapai suatu tujuan, Sistem dapat dianggap
sebagai suatu sistem tertutup atau sistem terbuka. Sistem terbuka sangat dipengaruhi oleh suatu
perubahan lingkungan dan harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Dalam konsep
sistem, ada hubungan hirarkhi antara berbagai subsistem yang lebih rendah dan supra sistem
yang lebih tinggi. Dalam sistem Kesehatan Propinsi, maka sistem Kesehatan Nasional
merupakan suprasistem dan sistem Kesehatan Kabupaten/Kota merupakan subsistem. Sistem
akan berfungsi optimal bila sub sistemnya berfungsi sebagaimana seharusnya. Secara hubungan
dengan lingkungan, dimana suatu sistem harus berhadapan dengan lingkungan maka system
menerima berbagai masukan (input), kemudian berproses menghasilkan luaran (output) serta
hasil akhir adalah outcome (dampak)

Ruang lingkup dan batasan puskesmas
Wilayah kerja Puskesmas meliputi satu kecamatan atau sebagian dari kecamatan. Faktor
kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan geografik dan keadaan infrastruktur lainnya
merupakan bahan pertimbangan dalam menentukan wilayah kerja Puskesmas
Sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah Puskesmas rata-rata 30.000 penduduk setiap
Puskesmas. Untuk perluasan jangkauan pelayanan kesehatan maka Puskesmas perlu ditunjang
dengan unit pelayanan kesehatan yang lebih sederhana yang disebut Puskesmas Pembantu dan
Puskesmas Keliling. Khusus untuk kota besar dengan jumlah penduduk satu juta atau lebih,
wilayah kerja Puskesmas bisa meliputi 1 Kelurahan. Puskesmas di ibukota Kecamatan dengan
jumlah penduduk 150.000 jiwa atau lebih, merupakan Puskesmas Pembina yang berfungsi
sebagai pusat rujukan bagi Puskesmas kelurahan dan juga mempunyai fungsi koordinasi.
Program pokok Puskesmas dan kegiatan terpadu program Puskesmas
Pelaksanaan kegiatan pokok Puskesmas diarahkan kepada keluarga sebagai satuan masyarakat
terkecil. Karenanya, kegiatan pokok Puskesmas ditujukan untuk kepentingan kesehatan keluarga
sebagai bagian dari masyarakat di wilayah kerjanya. Setiap kegiatan pokok Puskesmas
dilaksanakan dengan pendekatan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa ( PKMD ).
Disamping penyelenggaraan usaha-usaha kegiatan pokok Puskesmas seperti tersebut di atas,
Puskesmas sewaktu-waktu dapat diminta untuk melaksanakan program kesehatan tertentu oleh
Pemerintah Pusat (contoh: Pekan Imunisasi Nasional ). Dalam hal demikian, baik petunjuk
pelaksanaan maupun perbekalan akan diberikan oleh Pemerintah Pusat bersama Pemerintah
Daerah. Keadaan darurat mengenai kesehatan dapat terjadi, misalnya karena timbulnya wabah
penyakit menular atau bencana alam. Untuk mengatasi kejadian darurat seperti di atas bias
mengurangi atau menunda kegiatan lain.



Program yang dilaksanakan di Puskesmas ada 2 kategori :
a. Program Pokok
Penyelenggaraan program pokok meliputi upaya kesehatan wajib yang ditetapkan berdasarkan
komitmen nasional, regional, dan global, serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan yang wajib diselenggarakan oleh
Puskesmas adalah promosi kesehatan, pelayanan pengobatan, kesehatan ibu dan anak,
pemberantasan penyakit menular, kesehatan lingkungan, dan gizi. Rincian informasi yang
dikumpulkan adalah apakah masing-masing upaya kesehatan wajib tersebut diselenggarakan atau
tidak.
Program pokok yang dilaksanakan di Puskesmas sebagai berikut :
a. Promosi Kesehatan: adalah informasi mengenai apakah program promosi
kesehatan diselenggarakan oleh Puskesmas yang bersangkutan atau tidak.
b. Pelayanan Pengobatan: adalah informasi mengenai apakah program pelayanan
pengobatan diselenggarakan oleh Puskesmas yang bersangkutan atau tidak.
c. Kesehatan Ibu dan Anak/Keluarga Berencana (KIA/KB): adalah informasi
mengenai apakah program kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana
diselenggarakan oleh Puskesmas yang bersangkutan atau tidak.
d. Pemberantasan Penyakit Menular (PPM) adalah; informasi mengenai apakah
program pemberantasan penyakit menular diselenggarakan oleh Puskesmas yang
bersangkutan atau tidak.
e. Kesehatan Lingkungan (Kesling): adalah informasi mengenai apakah program
kesehatan lingkungan diselenggarakan oleh Puskesmas yang bersangkutan atau
tidak.
f. Gizi: adalah informasi mengenai apakah program gizi diselenggarakan oleh
Puskesmas yang bersangkutan atau tidak.


b. Program Pengembangan
Penyelenggaraan program pengembangan adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan
permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang disesuaikan dengan
kemampuan Puskesmas. Program pengembangan yang diselenggarakan Puskesmas di antaranya
perawatan kesehatan masyarakat (PHN), usaha kesehatan sekolah, usaha kesehatan usila, usaha
kesehatan kerja, usaha kesehatan gigi dan mulut masyarakat desa (UKGMD), usaha kesehatan
jiwa, usaha kesehatan mata, imunisasi, usaha kesehatan tradisional, laboratorium kesehatan
sederhana. Program pengembangan tersebut sebagai berikut :
a. Perawatan Kesehatan Masyarakat (PHN) adalah informasi mengenai apakah program
perawatan kesehatan masyarakat (PHN) diselenggarakan oleh Puskesmas yang
bersangkutan atau tidak.
b. Upaya Kesehatan Sekolah: adalah informasi mengenai apakah program upaya kesehatan
sekolah diselenggarakan oleh Puskesmas yang bersangkutan atau tidak.
c. Upaya Kesehatan Usia Lanjut adalah informasi mengenai apakah program upaya
kesehatan usia lanjut diselenggarakan oleh Puskesmas yang bersangkutan atau tidak.
d. Upaya Kesehatan Kerja adalah informasi mengenai apakah program upaya kesehatan
kerja diselenggarakan oleh Puskesmas yang bersangkutan atau tidak.
e. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut Masyarakat Desa (UKGMD) adalah informasi
mengenai apakah program upaya kesehatan gigi dan mulut masyarakat desa (UKGMD)
diselenggarakan oleh Puskesmas yang bersangkutan atau tidak.
f. Upaya Kesehatan Jiwa adalah informasi mengenai apakah program upaya kesehatan jiwa
diselenggarakan oleh Puskesmas yang bersangkutan atau tidak.
g. Upaya Kesehatan Mata adalah informasi mengenai apakah program upaya kesehatan
mata diselenggarakan oleh Puskesmas yang bersangkutan atau tidak.
h. Upaya Kesehatan Olahraga
Penerapan sistem manajemen di puskesmas
Untuk dapat melaksanakan usaha pokok Puskesmas secara efisien, efektif, produktif, dan
berkualitas, pimpinan Puskesmas harus memahami dan menerapkan prinsip-prinsip manajemen.
Manajemen bermanfaat untuk membantu pimpinan dan pelaksana program agar kegiatan
program Puskesmas dilaksanakan secara efektif dan efisien. Penerapan manajemen kesehatan di
Puskesmas terdiri dari Micro Planning (MP) yaitu peraencanaan tingkat Puskesmas.
Pengembangan program puskesmas selama lima tahundisusun dalam Micro Palanning.
Lokakarya Mini Puskesmas (LKMP) yaitu bentuk penajabaran Micro Planning ke dalam paket-
paket kegiatan program yang dilaksanakan oleh staf, baik secara individu maupun berkelompok.
LKMP dilaksanakan setiap tahun. Local Area Monitoring (LAM) atau PIAS-PWS (Pemantauan
Ibu dan Anak- Pemantauan Wilayah Setempat) adalah sistem pencatatan dan pelaporan untuk
pemantauan penyakit pada ibu dan anak atau untuk penyakit menular yang dapat dicegah dengan
imunisasi.
Sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas (SP2TP) adalah kompilasi pencatatan
program yang dilkukan secara terpadu setiap bulan. Stratifikasi Puskesmas merupakan kegiatan
evaluasi program yang dilakukukan setiap tahun untuk mengetahu pelaksanaan manajemen
progaram Puskesmas secara menyeluruh. Penilaian dilakukan oleh tim dari Dinas Kesehatan
Provinsi dan Kabupaten/Kota. Dan SP2TP dimanfaatkan oleh Puskesmas untuk penilaian
stratifikasi. Supervisi rutin oleh pimpinan Puskesmas dan rapat-rapat rutin untuk koordinasi dan
memantau kegiatan program. Supervisi oleh pimpinan, monitoring dan evaluasi merupakan
penjabaran fungsi manajemen (pengawasan dan pengendalian) di Puskesmas.
Bagan di bawah menjelaskan fungsi manajemen yang dijabarkan di puskesmas
Kegiatan Pelayanan Kesehatan Kegiatan Manajemen
Pelayanan kesehatan umum :
1. Kunjungan rumah
2. Penyuluhan kesehatan
3. Usaha kesehatan sekolah
4. Uji kualitas air minum penduduk
1. Perencanaan
2. Manajemen personalia
3. Pelatihan staf, dukun, kader, guru
4. Supervisi, monitoring dan evaluasi
5. Manajemen keunagan
6. Manajemen logistic
7. Monitoring program
8. Kerja sama/koordinasi
9. Kerjasama dengan kelompok
kelompok masyarakat
10. Pencatatan pelaporan
11. Kepemimpinan
Perawatan kesehatan ibu :
1. ANC
2. Pertolongan persalinan
3. Perawatan ibu masa nifas
4. KB

Perawatan anak :
1. Menyusui
2. Penimbangan anak Balita
3. Imunisasi
4. Pemberian Oralit


Pada bagan di atas untuk menunjukan perbedaan antara kegiatan pelayanan kesehatan (health
services) dengan komponen kegiatan penunjang manajemen pelayanan (management support
service). Di bagian kiri adalah contoh komponen pelayanan kesehatan dasar untuk pelayanan
kesehatan umum, perawatan ibu, dan anak, upaya pengobatan dan sebagainya. Contoh tersebut
dapat dikenbangkan sesuai dengan kegiatan prorgam Puskesmas. Di bagian kanan adalah contoh
komponen penunjang manajemen. Semua program pelayanan kesehatan dasar di sebelah kiri
mempunyai komponen penunjang manajemen yang sama. Dengan mengembangkan komponen
penunjang manajemen, komponen pelayanan kesehatan dasar akan dapat dilaksanakan secara
efektif, efisien, rasional dan berkualitas.
Dalam upaya menunjang pengembangan program pokok Puskesmas, Puskesmas juga
mempunyai empat subsistem manajemen yaitu:
Subsistem manajemen keuangan
a. Pengertian
Tatanan yang menghimpun berbagai upaya penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan
sumberdaya keuangan secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat
kesehatan masyarakat. Sistem keuangan kesehatan dalam era desentralisasi (otonomi) maka ini
tidak lagi semua tergantung pada kemampuan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Kemampuan pemerintah dalam pembiayaan pembangunan kesehatan sangat rendah.
b. Tujuan
Tersedianya pembiayaan kesehatan dengan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara
adil dan termanfaatkan secara efisien dan efektif.
c. Prinsip
Penggalian dana dilaksanakan secara bertanggungjawab sesuai peraturan perundangan
yang berlaku
Pengalokasian anggaran didasarkan pada paradigma sehat, komitmen global/ nasional/
regional, regulasi dan program prioritas
Pembelanjaan harus transparan, akuntabel, efisien dan mengacu pada peraturan
perundangan yang berlaku
d. Sumber: Masyarakat (perorangan dan kelompok dunia usaha, serta dari lembaga non
pemerintah) dan Pemerintah: (APBN, APBD Prov, APBD kab/kota masing-masing sekurang-
kuragnya 15% dari total anggaran pendapatan).


Subsistem Managemen Logistik
Logistik yang tersedia di Pukesmas direncanakan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan
program pokok Puskesmas. Setiap program membutuhkan dukungan logistik yang jumlah dan
jenisnya berbeda-beda. Misalnya program P2M membutuhkan termos, kulkas, jarum dan spuit,
termomater, alat semprot nyamuk untuk pembarantasan vektor, vaksin dan sebagainya. Program
KB membutuhkan alat-alat kontrasepsi, spekulum, obat-obat efek samping, sarung tangan,
yodium dan sebagainya. Jenis dan jumlah logistik ditentukan berdasarkan kebutuhan Puskesmas
setahun, disusun dalam suatu perencanaan. Kebutuhan ini disusun dalam Lokakarya Mini
Puskesmas (LKMP). Standar minimal jumlah peralatan Puskesmas untuk setiap program harus
ditentukan oleh pimpinan dan staf T.U.
Kebutuhan logistic Puskesmas di satu Kabupaten/Kota biasanya disediakan oleh pihak kantor
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan BKKBN (khusus untuk kebutuhan program KB). Jumlah
dan jenisnya disesuaikan dengan perencanaan yang telah diajukan oleh masing-masing
Puskesmas. Dana proyek untuk pengadaan logistik dan obat-obatan di Puskesmas biasanya sudah
dialokasikan setiap tahun.
Pencatatan dan pelaporan
Pencatatan penerimaan dan pengeluaran barang harus dibuat oleh petugas dalam bentuk
inventaris Puskesmas. Demikian pula dengan penerimaan dan pemakaian obat-obatan. Pimpinan
Puskesmas mempunyai wewenang dan wajib memeriksa administrasi barang dan obat secara
rutin. Penyusunan perencanaan kebutuhan logistik dan obat didasarkan pada pencatatan barang
dan obat yang habis dan yang masih tersedia (pola konsumsi). Khusus untuk manajemen obat,
penyimpanan dan pengeluarannya mengikuti system first in and first out (FIFO) untuk
mencegah obat kadaluarsa.
Subsistem Manajemen Personalia
Staf adalah sumber daya manusia (SDM) yang utama yang dimiliki Puskesmas. Oleh karena itu,
SDM Puskesmas perlu dibina dan dikembangkan baik motivasi, inisiatif dan keterampilannya
agar mereka dapat bekerja lebih produktif. Sesuai dengan system manajemen modern, staf
Puskesmas merupakan faktor produksi utama untuk menghasilkan pelayanan kesehatan yang
bermutu. Untuk meningkatkan motivasi kerja staf, system intensif perlu diterapkan sesuai
dengan ketentuan yang disepakati bersama. Sistem kerja yang bersifat integratif dan
berkelompok juga dapat dikembangkan di Puskesmas. Selain itu, pemberian penghargaan oleh
pimpinan kepada staf yang berprestasi juga akan membantu untuk meningkatkan motivasi
mereka. Keterbukaan pimpinan dalam pengelolaan keuangan Puskesmas juga akan lebih
meningkatkan rasa kebersamaan staf dalam melaksanakan tugas-tugas pokoknya.
Untuk Puskesmas yang jumlah tenaganya masih terbatas, Puskesmas menganut sistem kerja
integratif. Tiap-tiap staf diberikan satu tugas pokok dan tugas-tugas tambahan lainnya. Tugas
tambahan ini merupakan tugas yang bersifat integratif. Contoh: staf yang mendapat tugas pokok
menangani program KIA, KB atau gizi masih dapat diberikan tugas tambahan lainnya seperti
mengorganiasasikan kegiatan Posyandu, kunjungan ke sekolah, ke rumah penderita dalam
rangka PHN, penyuluhan kepada kelompok-kelompok masyarakat di wilayah binaan.
Keterbatasan jumlah tenaga yang tesedia di Puskesmas juga dapat diatasi dengan melaksanakan
beberapa program prioritas sesuai dengan masalah kesehatan masyarakat yang potensial
berkembang di wilayah kerja Puskesmas. Program pokok yang wajib dilaksanakan di puskesmas
adalah pengobatan, KIA, PKM, P2M, Kesehatan lingkungan, gizi dan lab. Puskesmas tidak
diwajibkan untuk melaksanakan semua program pokok Puskesmas yang ada pada Buku
Pedoman Kerja Puskesmas.
Untuk manajemen personalia di Puskesmas, dokter selaku manajer Puskesmas tidak diberikan
wewenang untuk mengangkat staf kecuali Puskesmas dapat menyisihkan dana sendiri untuk
membayar honor staf. Ia berhak mengusulkan kebutuhan staf (jumlah dan jenis) ke Dinkes
Kabupaten/Kota. Untuk mengatasi keterbatasan jumlah staf, dokter sebagai pimpinan Puskesmas
wajib memberikan bimbingan teknis kepada staf agar mereka lebih terampil mengatur dan
melaksanakan tugas pokok dan tugas integratifnya. Pimpinan Puskesmas juga wajib
mengembangkan motivasi kerja, merencanakan tugas-tugas dan mensupervisi kegiatan mereka.
Untuk menilai perstasi kerja staf, dokter Puskesmas wajib memantau pelaksanaan kegiatan
harian staf. Salah satu cara yang dapat dikembangkan oleh pimpinan Puskesmas adalah dengan
mengevaluasi buku laporan harian staf atau mengadakan supervisi langsung kepada staf dan unit
kerjanya masing-masing.
Pertemuan antara pemimpin dengan staf sebaiknya diadakan secara rutin. Pertemuan rutin (rapat
bulanan dan mingguan) yang merupakan penjabaran fungsi actuating, perlu diarahkan untuk
mengkaji kemajuan dan hambatan pelaksanaan program untuk mencapai tujuan operasional
program yang sudah disepakati. Pertemuan rutin juga dapat dimanfaatkan untuk
mengembangkan koordinasi tugas-tugas lintas program, penyampaian hasil supervisi pimpinan
terhadap pelaksanaan kegiatan program di lapangan, atau untuk mengumumkan kebijaksanaan
pimpinan, dan umpan balik dari staf terhadap penerapan kebijakan pimpinan.
Subsistem manajemen pencatatan dan pelaporan program
Setiap progam akan menghasilkan data. Data yang dihasilkan perlu dicatat, dianalisis dan dibuat
laporan. Data yang disajikan adalah informasi tentang pelaksanaan progam dan perkembangan
masalah kesehatan masyarakat. Informasi yang ada perlu dibahas, dikoordinasikan,
diintegrasikan agar menjadi pengetahuan bagi semua staf puskesmas.
Pencatatan kegiatan harian progam puskesmas dapat dilakukan di dalam dan di luar gedung.
Pelaporan yang dibuat dari dalam gedung Puskesmas adalah semua data yang diperoleh dari
pencatatan kegiatan harian progam yang dilakukan dalam gedung puskesmas seperti tekanan
darah, laboratorium, KB dan lain-lain. Data yang berasal dari luar gedung adalah data yang
dibuat berdasarkan catatan harian yang dilaksanakan diluar gedung Puskesmas seperti Kegiatan
progam yandu, kesehatan lingkungan, UKS, dan lain-lain.
Pencatatan harian masing-masing progam Puskesmas dikompilasi menjadi laporan terpadu
puskesmas atau yang disbut dengan system pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas
(SP2TP). SP2TP ini dikirim ke dinas kesehatan Kabupaten atau kota setiap awal bulan,
kemudian DINKES kabupaten atau kota mengolahnya dan mengirimkan umpan baliknya ke
DINKES propinsi dan Depkes pusat. Umpan balik tersebut harus dikirimkankembali secara rutin
ke Puskesmas untuk dapat dijadikan evaluasi keberhasilan progam. Namun sejak otonomi daerah
dilaksanakan puskesmas tidak punya kewajiban lagi mengirimkan laporan ke DEPKES pusat
tetapi dinkes kabupaten/kota lah yang berkewajiban menyampaikan laporan rutinnya ke depkes
pusat.
Analisis data hasil kegiatan progam puskesmas akan diolah dengan menggunakan statistic
sederhana dan distribusi masalah dianalisis menggunakan pendekatan epidemiologis deskriptif.
Data tersebut akan disusun dalam bentuk table dan grafik informasi kesehatan dan digunakan
sebagai masukkan untuk perencanaan pengembangan progam puskesmas. Data yang digunakan
dapat bersumber dari pencatatan masing-masing kegiatan progam kemudian data dari pimpinan
puskesmas yang merupakan hasil supervisi lapangan.
Standar keberhasilan program puskesmas
Dinkes Kabupaten / Kota dan propinsi secara rutin menetapkan target atau standart keberhasilan
masing-masing kegiatan progam. Standart pelaksanaan progam merupakan standart untuk kerja
(Standart Performance). Staf standart untuk kerja merupakan ukuran kualitatif keberhasilan
progam. Tingkat keberhasilan progam secara kuantitatif diukur dengan membandingkan target
yang sudah ditetapkan dengan output (cakupan pelayanan) kegiatan progam.
Secara kualitatif keberhasilan progam diukur dengan membandingkan standart prosedur kerja
untuk masing-masing kegiatan progam dengan penampilan (kemampuan) staf dalam
melaksanakan kegiatan masing-masing progam. Cakupan progam dapat dianalisis secara
langsung oleh staf puskesmas dengan menganalisis data harian setiap kegiatan progam.
Perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat (effect progam) dan dampak progam
(impact) seperti tingkat kematian, kesakitan (termasuk gangguan gizi), tingkat kelahiran dan
kecacatan tidak diukur secara langsung oleh puskesmas. Dampak progam diukur setiap lima
tahun melalui survei kesehatan rumah tangga (SKRT) atau surkesmas (Survei Kesehatan
Nasional) Depkes. Khusus untuk perkembangan masalah gizi dipantau setiap lima tahun, tetapi
hanya sampai tingkat kabupaten. Standart pelayanan minimal progam kesehatan pokok mulai
diterapkan oleh Depkes tahun 2003 untuk menjamin bahwa dilaksanakan tugas utama
pemerintah menyediakan pelayanan kesehatan masyarakat yang essensial di daerah.



Imunisasi dasar
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Jadi Imunisasi adalah suatu tindakan
untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh manuasia.
Sedangkan kebal adalah suatu keadaan dimana tubuh mempunyai daya kemampuan mengadakan
pencegahan penyakit dalam rangka menghadapi serangan kuman tertentu. Kebal atau resisten
terhadap suatu penyakit belum tentu kebal terhadap penyakit lain. (Depkes RI, 1994)
Dalam ilmu kedokteran, imunitas adalah suatu peristiwa mekanisme pertahanan tubuh
terhadap invasi benda asing hingga terjadi interaksi antara tubuh dengan benda asing tersebut.
Adapun tujuan imunisasi adalah merangsang sistim imunologi tubuh untuk membentuk antibody
spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan
Imunisasi (PD3I).
Departemen Kesehatan RI (2004), menyebutkan imunisasi adalah suatu usaha yang
dilakukan dalam pemberian vaksin pada tubuh seseorang sehingga dapat menimbulkan
kekebalan terhadap penyakit tertentu.
Program Imunisasi
Di Indonesia, program imunisasi telah dimulai sejak abad ke 19 untuk membasmi penyakit
cacar di Pulau Jawa. Kasus cacar terakhir di Indonesia ditemukan pada tahun 1972 dan pada
tahun 1974 Indonesia secara resmi dinyatakan Negara bebas cacar. Tahun 1977 sampai dengan
tahun 1980 mulai diperkenal kan imunisasi BCG, DPT dan TT secara berturut-turut untuk
memberikan kekebalan terhadap penyakit-penyakit TBC anak, difteri, pertusis dan tetanus
neonatorum. Tahun 1981 dan 1982 berturut-turut mulai diperkenalkan antigen polio dan campak
yang dimulai di 55 buah kecamatan dan dikenal sebagai kecamatan Pengembangan Program
Imunisasi (PPI). (Depkes RI, 2000)
Pada tahun 1984, cakupan imunisasi lengkap secara nasional baru mencapai 4%. Dengan
strategi akselerasi, cakupan imunisasi dapat ditingkatkan menjadi 73% pada akhir tahun 1989.
Strategi ini terutama ditujukan untuk memperkuat infrastruktur dan kemampuan manajemen
program. Dengan bantuan donor internasional (antara lain WHO, UNICEF, USAID) program
berupaya mendistribusikan seluruh kebutuhan vaksin dan peralatan rantai dinginnya serta
melatih tenaga vaksinator dan pengelola rantai dingin . Pada akhir tahun 1989, sebanyak 96%
dari semua kecamatan di tanah air memberikan pelayanan imunisasi dasar secara teratur.
Dengan status program demikian, pemerintah bertekad untuk mencapai Universal Child
Immunization (UCI) yaitu komitmen internasional dalam rangka Child Survival pada akhir tahun
1990. Dengan penerapan strategi mobilisasi social dan pengembangan Pemantauan Wilayah
Setempat (PWS), UCI ditingkat nasional dapat dicapai pada akhir tahun 1990. Akhirnya lebih
dari 80% bayi di Indonesia mendapat imunisasi lengkap sebelum ulang tahunnya yang pertama.
(Depkes RI, 2000)
Pentingnya Imunisasi dan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam mencegah penyakit dan
merupakan bagian kedokteran preventif yang mendapatkan prioritas. Sampai saat ini ada tujuh
penyakit infeksi pada anak yang dapat menyebabkan kematian dan cacat, walaupun sebagian
anak dapat bertahan dan menjadi kebal. Ketujuh penyakit tersebut dimasukkan pada program
imunisasi yaitu penyakit tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak dan hepatitis-B.
Standar keberhasilan program puskesmas
Dinkes Kabupaten / Kota dan propinsi secara rutin menetapkan target atau standart keberhasilan
masing-masing kegiatan progam. Standart pelaksanaan progam merupakan standart untuk kerja
(Standart Performance). Staf standart untuk kerja merupakan ukuran kualitatif keberhasilan
progam. Tingkat keberhasilan progam secara kuantitatif diukur dengan membandingkan target
yang sudah ditetapkan dengan output (cakupan pelayanan) kegiatan progam.
Secara kualitatif keberhasilan progam diukur dengan membandingkan standart prosedur kerja
untuk masing-masing kegiatan progam dengan penampilan (kemampuan) staf dalam
melaksanakan kegiatan masing-masing progam. Cakupan progam dapat dianalisis secara
langsung oleh staf puskesmas dengan menganalisis data harian setiap kegiatan progam.
Perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat (effect progam) dan dampak progam
(impact) seperti tingkat kematian, kesakitan (termasuk gangguan gizi), tingkat kelahiran dan
kecacatan tidak diukuar secara langsung oleh puskesmas. Dampak progam diukur setiap lima
tahun melalui survei kesehatan rumah tangga (SKRT) atau surkesmas (Survei Kesehatan
Nasional) Depkes. Khusus untuk perkembangan masalah gizi dipantau setiap lima tahun, tetapi
hanya sampai tingkat kabupaten. Standart pelayanan minimal progam kesehatan pokok mulai
diterapkan oleh Depkes tahun 2003 untuk menjamin bahwa dilaksanakan tugas utama
pemerintah menyediakan pelayanan kesehatan masyarakat yang essensial di daerah.
Pelayanan kesehatan terpadu (yandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan
yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas. Pelaksanaan pelayana program terpadu
dilakukan dib alai dusun, balai kelurahan, RW, dan sebagainya yang disebut dengan Pos
Pelayanan Terpadu (Posyandu). Pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di Posyandu antara lain:
KIA (Keseehatan Ibu dan Anak), KB (Keluarga Berencana),P2M (Imunisasi dan
Penanggulangan Diare), dan Gizi (penimbangan balita). Sedangkan sasaran penduduk posyandu
ialah ibu hamil, ibu menyusui, pasangan usia subur (PUS),dan balita.
Program yandu merupakan strategi pemerintah dalam menurunkan angka kematian bayi (Infant
mortality- IMR), angka kelahiran (Birth Rate-BR), dan angka kematian ibu (Maternal Mortality
Rate-MMR). Turunnya IMR, BR, dan MMR di suatu wilayah merupakan standar keberhasilan
pelaksanaan program terpadu di wilayah tersebut.Untuk mempercepat penurunan IMR, BR, dan
MMR tsb,secara nasional diperlukan tumbuhnya peran serta masyarakat dalam mengelola dan
memanfaatkan posyandu karena posyandu adalah milik masyarakat.Untuk mengembangkan
peran serta masyarakat di posyandu dapat dilakukan dengan penerapan asas-asas manajemen
kesehatan.
Sistem merupakan suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu sama lain dan mempunyai
suatu tujuan yang jelas. Komponen suatu sistem terdiri dari input, proses, output, effect,
outcome, dan mekanisme umpan baliknya.
Input
Yaitu sumber daya atau masukan yang dikonsumsikan oleh suatu system yang disingkat dengan
6M yaitu:
1. Man adalah kelompok penduduk sasaran yang akan diberikan pelayanan, Staf
Puskesmas, kecamatan, kelurahan, kader, pemuka masyarakat, dan sebagainya.
2. Money adalah dana yang dapat digali dari swadaya masyarakat dan yang disubsidi oleh
pemerintah.
Masyarakat: perorangan dan kelompk dunia usaha, serta dari lembaga non pemerintah
Pemerintah: APBN, APBD Prov, APBD kab/kota masing-masing sekurang-kuragnya
15% dari total anggaran pendapatan.

3. Material adalah vaksin, jarumsuntik, KMS, alat timbang, obat-obatan, dan sebagainya.
4. Method adalah cara penyimpanan vaksin,cara menimbang, cara memberikan vaksin, cara
mencampur oralit, dan sebagainya.
5. Minute adalah waktu yang disediakan oleh staf Puskesmas untuk melaksanakan kegiatan
yandu dan waktu yang disediakan oleh ibu untuk suatu kegiatan dan sebagainya.
6. Market adalah masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti lokasi
kegiatan yandu, transport, system kepercayaan masyarakat di bidang kesehatan ,dan
sebagainya.

Proses
Fungsi manajemen yang dipakai ialah perencanaan, pengorganisasian, penggerakan-pelaksanaan
dan pengawasan. Tiga prinsip pokok penerapan asas-asas manajemen pada pengembangan
program kesehatan adalah upaya peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya untuk
menunjang pelaksanaan program,peningkatan efektifitas pelaksanaan kegiatan untuk mencapai
target program, dan setiap pengambilan keputusan dapat dilakukan secara rasional karena sudah
didasari pemanfaatan data secara tepat.


Untuk lebih jelasnya bagaimana penerapan keempat fungsi manajemen tersebut pada program
pelayanan terpadu, berikut ini akan dijelaskan keempat fungsi manajemen tersebut
1. Perencanaan
Dari keempat rangkaian fungsi manajemen tersebut, perencanaan merupakan fungsi yang
terpenting karena awal dan arah dari proses manajemen posyandu secara keseluruhan.
Perencanaan program yandu dimulai di tingkat Puskesmas yang bersifat operasional karena
langsung dilaksanakan di lapangan. Perencanaan program yandu terdiri dari lima langkah
penting yakni:
1. Menjelaskan berbagai masalah
Untuk dapat menjelaskan masalah program yandu diperlukan upaya analisis situasi.
Sasaran analisis situasi adalah berbagai aspek penting pelaksanaan program yandu di
berbagai wilayah Puskesmas. Dari analisis situasi akan dihasilkan berbagai macam data
yang terdiri dari berbagai aspek.
Aspek epidemiologis yakni kelompok penduduk sasaran (who) yang menderita kejadian
tersebut, dimana, kapan masalah tersebut terjadi. Misalnya: data jenis penyakit yang
dapat dicegah dari imunisasi.Aspek demografis berdasarkan kelompok umur, jumlah
kelahiran dan kematian.Aspek geografis semua informasi karakteristik wilayah yang
dapat mempengaruhi masalah tersebut.
Aspek sosial ekonomi adalah pendapatan, tingkat pendidikan, norma sosial, dan sistem
kepercayaan masyarakat.
Aspek organisasi pelayanan meliputi motivasi kerja staf dan kader, keterampilan,
persediaan vaksin, alat dan sebagainya.
2. Menentukan prioritas masalah
Prioritas masalah secara praktis dapat ditetapkan berdasarkan pengalaman staf, dana, dan
mudah tidaknya masalah dipecahkan. Prioritas masalah dijadikan dasar untuk menentukan
tujuan.
3. Menetapkan tujuan dan indikator keberhasilan
Contoh tujuan program
Meningkatkan cakupan vaksinasi
Mengintensifkan imunisasi campak di wilayah binaan.
Mengkaji hambatan dan kendala
Sebelum menentukan tolak ukur, perlu dipelajari hambatan-hambatan program kesehatan
yang pernah dialami atau diperkirakan baik yang bersumber dari masyarakat, lingkungan,
Puskesmas maupun dari sektor lainnya.
4.Menyusun rencana kerja operasional
Dengan Rencana Kerja Operasional akan memudahkan pimpinan mengetahui sumber daya yang
dibutuhkan dan sebagai alt pemantau. Contoh format RKO:
1. jenis kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan
2. Lokasi kegiatan
3. Metode pelaksanaan
4. Sasaran penduduk
5. Penanggung Jawab
6. Dana dan sarana
7. Waktu Pelaksanaanya
Pengorganisasian
Dari struktur organisasi Puskesmas dapat diketahui mekanisme pelimpahan wewenang dari
pimpinan kepada staf sesuai tugas yang diberikan. Masing-masing kelompok terdiri dari 2 atau 3
staf yang tiap staf disesuaikan dengan jumlah yang tersedia dan jumlah kelompok yang
diperlukan. Setiap kelompok dikoordinasikan oleh satu orang senior. Mereka bersama kader
akan memberikan pelayanan di Posyandu, membuat laporan, menganalisis cakupan dan
mengevaluasi pelaksanaan program di lapangan. Tugas-tugas mereka hendaknya dibuat jelas dan
sederhana disesuaikan dengan rata-rata tingkat pendidikan mereka.
Penggerakan-pelaksanaan
Keberhasilan pengembangan fungsi manajemen ini amat dipengaruhi oleh keberhasilan
pimpinan Puskesmas menumbuhkan motivasi kerja staf dan semangat kerja sama antara staf
dengan staf lainnya di Puskesmas (lintas program), antara staf puskesmas dengan masyarakat,
dan antara staf puskesmas dengan pimpinan instansi di tingkat kecamatan (lintas sektoral).
Mekanisme komunikasi yang dikembangkan oleh pimpinan puskesmas dengan stafnya, demikian
pula antara pimpinan puskesmas dengan camat dan pimpinan sektor lainnya di tingkat
kecamatan, termasuk dengan aparat di tingkat desa akan sangat berpengaruh pada keberhasilan
fungsi manajemen ini. Melalui loka karya mini puskesmas, kesepakatan kerjasama lintas
program dan sektoral dapat dirumuskan. Perwujudan kerjasama lintas sektoral akan ditentukan
oleh peranan camat dan ketua penggerak PKK di tingkat kecamatan. Keterampilan untuk
mengembangkan hubungan antar manusia sangat diperlukan dalam penerapan fungsi manajemen
ini.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk melaksanakan program yandu adalah:
Kembangkan mekanisme kerjasama yang positif antara dinas-dinas sektoral di tingkat
kecamatan, antara staf puskesmas sendiri dan organisasi formal dan informasi di tingkat
desa/ dusun.
Gali potensi masyarakat dan kembangkan kerjasama yang ada (terutama dengan PKK)
untuk dapat menunjang kegiatan program yandu.
Kembangkan motivasi kader dan staf kesehatan sebagai anggota kelompok kerja program
yandu, sehingga peran serta mereka yang optimal dapat ditingkatkan untuk menunjang
pelaksanaan program yandu. Dalam hal ini hubungan antar manusia (HAM) perlu terus
dibina dan dikembangkan untuk menjamin tumbuhnya suasana kerja yang harmonis dan
merangsang inisiatif anggota kelompok kerja posyandu.
Pengawasan dan Pengendalian
Setelah fungsi pergerakan dan pelaksanaan program yandu, maka fungsi selanjutnya yang
dilakukan adalah fungsi pengawasan dan pengendalian. Dalam hal ini, pimpinan Puskesmas dan
koordinator program Yandu dapat mengevaluasi keberhasilan program dengan menggunakan
Rencana Kerja Operasional sebagai tolak ukur/ standar dan membandingkan hasil kegiatan
program di masing-masing posyandu.

Aspek-aspek yang diawasi selama program yandu di lapangan adalah:
Keterampilan kader melakukan penimbangan program yandu
Membuat pencatatan program yandu
Membuat pelaporan program yandu
Untuk tanggung jawab pengawasan program yandu tetap di tangan pimpinan puskesmas tetapi
wewenang pengawasan di lapangan dilimpahkan pada koordinator program.
Beberapa langkah penting dalam fungsi Wasdal program yandu ini adalah:
1. Menilai apakah ada kesenjangan antara target dan standard dengan cakupan dan
kemampuan staf dan kader untuk melaksanakan tugas-tugasnya (aspek pengawasan).
2. Analisis faktor-faktor penybab timbulnya kesenjangan tersebut.
3. Merencanakan dan melaksanakan langkah-langkah untuk mengatasi permasalahan yang
muncul berdasarkan factor- faktor penyebab yang sudah diidentifikasi (aspek
pengendalian).

Pengawasan dan pengendalian program yandu dilaksanakan secara rutin dengan menggunakan
tolok ukur keberhasilan program atau RKO sebagai pedoman kerja dan hasilnya akan dapat
digunakan sebagai umpan balik atau informasi untuk memperbaiki proses perencanaan program
yandu. Pimpinan puskesmas hendaknya selalu mengadakan pemantauan secara menyeluruh
terhadap pelaksanaan program dengan menggunakan laporan staf, analisis cakupan program,
laporan masyarakat dan hasil observasi atau supervisi di lapangan sebagai bahan penilaian.
Penilaian Keberhasilan Program
Pada penjelasan fungsi sebelumnya bahwa untuk mengetahui keberhasilan program yandu,
kajian output (cakupan) masing-masing program yang dibandingkan dengan targetnya adalah
salah satu cara yang dapat dipakai sebagai bahan penilaian.
Cakupan program adalah hasil langsung (output) kegiatan program yandu yang dapat dapat
dihitung segera setelah pelaksanaan kegiatan program. Perhitungan cakupan ini dapat dilakukan
dengan menggunakan statistik sederhana yaitu jumlah orang yang mendapatkan pelayanan dibagi
dengan jumlah penduduk sasaran setiap program. Jumlah penduduk sasaran dapat dihitung
secara langsung oleh staf puskesmas melalui pencatatan data jumlah penduduk sasaran yang ada
di Desa atau dusun. Penduduk sasaran program yandu lebih sering dihitung berdasarkan
perkiraan (estimasi). Estimasinya dtetapkan oleh dinas kesehatan tingkat I atau Kanwil Depkes.
Jumlah penduduk sasaran nyata sering jauh lebih rendah dari jumlah penduduk yang dihitung
dengan menggunakan estimasi sehingga hasil analisis cakupan program di puskesmas selalu jauh
lebih rendah.
Dalam usaha peningkatan effiensi dan efektivitas penatalaksanaan program yandu, staf
puskesmas perlu dilatih keterampilan dan ditingkatkan kepekaannya mengkaji masalah program
dan masalah kesehatan masyarakat yang berkembang di wilayah binaannya. Keterampilan
seperti ini dapat dilatih secara langsung pada saat supervisi. Mereka juga diarahkan untuk
mencari upaya pemecahan masalah sesuai dengan kewenangan yang diberikan dengan
melibatkan tokoh dan kelompok masyarakat setempat. Semua kegiatan tersebut diatas adalah
bagian dari proses manajemen program yandu.
Pengamatan terhadap persiapan pelaksanaan program yandu, kegiatan di lapangan dan
evaluasinya terhadap laporan program merupakan cara terbaik untuk mengetahui penerapan
manajemen Program Yandu di Puskesmas.
Output; merupakan produk program misalnya jumlah anak yang di imunisasi, dan ibu hamil
yang diimunisasi.
Macam macam imunisasi
Tuberkulosis
Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman
TB (Mycobacterium tuberculosis). Penyakit TBC ini dapat menyerang semua golongan umur
dan diperkirakan terdapat 8 juta penduduk dunia diserang TB dengan kematian 3 juta orang per
tahun. Di negara-negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang
sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Diperkirakan 95% penderita TBC berada di Negara
berkembang. (Depkes RI, 1992).
Difteri
Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae
merangsang saluran pernafasan terutama terjadi pada balita. Penyakit difteri mempunyai kasus
kefatalan yang tinggi. Pada penduduk yang belum divaksinasi ternyata anak yang berumur 1-5
tahun paling banyak diserang karena kekebalan (antibodi) yang diperolah dari ibunya hanya
berumur satu tahun.
Pertusis
Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Bordotella
pertusis pada saluran pernafasan. Penyakit ini merupakan penyakit yang cukup serius pada bayi
usia dini dan tidak jarang menimbulkan kamatian. Seperti halnya penyakit infeksi saluran
pernafasan akut lainnya, pertusis sangat mudah dan cepat penularannya.
Tetanus
Penyakit tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman bakteri Clostridium
tetani. Kejadian tetanus jarang dijumpai di negara yang telah berkembang tetapi masih banyak
terdapat di negara yang sedang berkembang, terutama dengan masih seringnya kejadian tetanus
pada bayi baru lahir (tetanus neonatorum). Penyakit terjadi karena kuman Clostridium tetani
memasuki tubuh bayi lahir melalui tali pusat yang kurang terawat. Kejadian seperti ini sering
kali ditemukan pada persalinan yang dilakukan oleh dukun kampong akibat memotong tali pusat
memakai pisau atau sebilah bambu yang tidak steril. Tali pusat mungkin pula dirawat dengan
berbagai ramuan, abu, daun-daunan dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk mencegah kejadian
tetanus neonatorum ini adalah dengan pemberian imunisasi.
Poliomielitis
Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh virus polio. Berdasarkan hasil surveilans AFP
(Acute Flaccide Paralysis) dan pemeriksaan laboratorium, penyakit ini sejak tahun 1995 tidak
ditemukan di Indonesia. Namun kasus AFP ini dalam beberapa tahun terkahir kembali
ditemukan di beberapa daerah di Indonesia.
Campak
Penyakit campak (Measles) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus campak, dan
termasuk penyakit akut dan sangat menular, menyerang hampir semua anak kecil. Penyebabnya
virus dan menular melalui saluran pernafasan yang keluar saat penderita bernafas, batuk dan
bersin (droplet). Penyakit ini pada umumnya sangat dikenal oleh masyarakat terutama para ibu
rumah tangga. Dibeberapa daerah penyakit ini dikaitkan dengan nasib yang harus dialamai oleh
semua anak, sedangkan di daerah lain dikaitkan dengan pertumbuhan anak.
Hepatitis B
Penyakit hepatitis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus hepatitis B.
Penyakit ini masih merupakan satu masalah kesehatan di Indonesia karena prevalensinya cukup
tinggi. Prioritas pencegahan terhadap penyakit ini yaitu melalui pemberian imunisasi hepatitis
pada bayi dan anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar mereka terlindungi dari penularan hepatitis
B sedini mungkin dalam hidupnya. Dengan demikian integrasi imunisasi Hepatitis B ke dalam
imunisasi dasar pada kelompok bayi dan anak-anak merupakan langkah yang sangat diperlukan.
Tujuan Pelaksanaan Imunisasi
Tujuan pemberian imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya infeksi penyakit yang dapat
menyerang anak-anak. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian imuniasi sedini mungkin kepada
bayi dan anak-anak.
Menurut Depkes RI (2001), tujuan pemberian imunisasi adalah untuk mencegah penyakit
dan kematian bayi dan anak-anak yang disebabkan oleh wabah yang sering muncul. Pemerintah
Indonesia sangat mendorong pelaksanaan program imunisasi sebagai cara untuk menurunkan
angka kesakitan, kematian pada bayi, balita/ anak-anak pra sekolah.

Jadwal Pemberian Imunisasi
Vaksinasi BCG
Vaksinasi BCG diberikan pada bayi umur 0-12 bulan secara suntikan intrakutan dengan
dosis 0,05 ml. Vaksinasi BCG dinyatakan berhasil apabila terjadi tuberkulin konversi pada
tempat suntikan. Ada tidaknya tuberkulin konversi tergantung pada potensi vaksin dan dosis
yang tepat serta cara penyuntikan yang benar. Kelebihan dosis dan suntikan yang terlalu dalam
akan menyebabkan terjadinya abses ditempat suntikan. Untuk menjaga potensinya, vaksin BCG
harus disimpan pada suhu 2
0
C. (Depkes RI, 2005)
Vaksinasi DPT
Kekebalan terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus adalah dengan pemberian vaksin
yang terdiri dari toksoid difteri dan toksoid tetanus yang telah dimurnikan ditambah dengan
bakteri bortella pertusis yang telah dimatikan. Dosis penyuntikan 0,5 ml diberikan secara
subkutan atau intramuscular pada bayi yang berumur 2-12 bulan sebanyak 3 kali dengan interval
4 minggu. Reaksi spesifik yang timbul setelah penyuntikan tidak ada. Gejala biasanya demam
ringan dan reaksi lokal tempat penyuntikan. Bila ada reaksi yang berlebihan seperti suhu yang
terlalu tinggi, kejang, kesadaran menurun, menangis yang berkepanjangan lebih dari 3 jam,
hendaknya pemberian vaksin DPT diganti dengan DT. (Depkes RI, 2005)
Vaksinasi Polio
Untuk kekebalan terhadap polio diberikan 2 tetes vaksin polio oral yang mengandung viruis
polio yang mengandung virus polio tipe 1, 2 dan 3 dari Sabin. Vaksin yang diberikan melalui
mulut pada bayi umur 2-12 bulan sebanyak 4 kali dengan jarak waktu pemberian 4 minggu.
(Depkes RI, 2005)
Vaksinasi Campak
Vaksin yang diberikan berisi virus campak yang sudah dilemahkan dan dalam bentuk bubuk
kering atau freezeried yang harus dilarutkan dengan bahan pelarut yang telah tersedia sebelum
digunakan. Suntikan ini diberikan secara subkutan dengan dosis 0,5 ml pada anak umur 9-12
bulan. Di negara berkembang imunisasi campak dianjurkan diberikan lebih awal dengan maksud
memberikan kekebalan sedini mungkin, sebelum terkena infeksi virus campak secara alami.
Pemberian imunisasi lebih awal rupanya terbentur oleh adanya zat anti kebal bawaan yang
berasal dari ibu (maternal antibodi), ternyata dapat menghambat terbentuknya zat kebal campak
dalam tubuh anak, sehingga imunisasi ulangan masih diberikan 4-6 bulan kemudian. Maka untuk
Indonesia vaksin campak diberikan mulai abak berumur 9 bulan. (Depkes RI, 2005)
Tabel 2.1 Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Anak
Jenis Imunisasi
Umur (bulan)

Lahir 1 2 3 4 5 6 9 10
Program Pengembangan Imunisasi (PPI), diwajibkan

BCG BCG


Hepatitis B Hepatitis B1




Hepatitis B2

Hepatitis B3
DPT

DPT1



DPT2



DPT3

Polio Polio 1

Polio 2



Polio 3



Polio 4

Campak

Campak



Untuk tercapainya program tersebut perlu adanya pemantauan yang dilakukan oleh semua
petugas baik pimpinan program, supervisor dan petugas imunisasi vaksinasi. Tujuan pemantauan
menurut Azwar (2003) adalah untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan kerja, mengetahui
permasahan yang ada. Hal ini perlu dilakukan untuk memperbaiki program.

Hal-hal yang perlu dilakukan pemantauan (dimonitor) sebagaimana disebutkan oleh
Sarwono (1998) adalah sebagai berikut :
Pemantauan ringan adalah memantau hal-hal sebagai berikut apakah pelaksanaan
pemantauan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, apakah vaksin ckup tersedia,
pengecekan lemari es normal, hasil imunisasi dibandingkan dengan sasaran yang telah
ditetapkan, peralatan yang cukup untuk penyuntikan yang aman dan sterl, apakah diantara 6
penyakit yang dapat discegah dengan imunisasi dijumpai dalam seminggu.
Cara memantau cakupan imunisasi dapat dilakukan melalui cakupan dari bulan ke bulan
dibandingkan dengan garis target, dapat digambarkan masing-masing desa. Untuk mengetahui
keberhasilan program dapat dengan melihat seperti, bila garis pencapaian dalam 1 tahun terlihat
antara 75-100% dari target, berarti program sangat berhasil. Bila garis pencapaian dalam 1 tahun
terlihat antara 50-75% dari target, berarti prgram cukup berhasil dan bila garis pencapaian dalam
1 tahun dibawah 50% dari target berabrti program belum berhasil. Bila garis pencapaian dalam 1
tahun terlihat dibawah 25% dari target berarti program sama sekali tidak berhasil. Untuk tingkat
kabupaten dan provinsi, maka penilaian diarahkan pada penduduk tiap kecamatan dan
kabupaten.
Disamping itu, pada kedua tingkat ini perlu mempertimbangkan pula memonotoring evaluasi
pemakaian vaksin.
Dampak
Imunisasi bertujuan untuk merangsang system imunologi tubuh untuk membentuk antibody
spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit. (Musa, 1985). Walaupun
cakupan imunisasi tidak sama dengan 100% tetapi sudah mencapai 70% maka anal-anak yang
tidak mendapatkan imunisasi pun akan terlindungi oleh adanya suatu herd immunity.
Berdasarkan hasil penelitian Ibrahim (1991), menyatakan bahwa bila imunisasi dasar
dilaksanakan dengan lengkap dan teratur, maka imunisasi dapat menguragi angka kesakitan dan
kematian balita sekitar 80-95%. Pengertian teratur dalam hal ini adalah teratur dalam mentaati
jadwal dan jumlah frekuensi imunisasi, sedangkan yang dimaksud imunisasi dasar lengkap
adalah telah mendapat semua jenis imunisasi dasar (BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 4 kali dan
Campak 1 kali) pada waktu anak berusia kurang dari 11 bulan. Imunisasi dasar yang tidak
lengkap, maksimal hanya dapat memberikan perlindungan 25-40%. Sedangkan anak yang sama
sekali tidak diimunisasi tentu tingkat kekebalannya lebih rendah lagi.
Pemberian tetanus toksoid pada ibu hamil dapat mencegah terjadinya tetanus neonatorum
pada bayi baru lahir yang ditolong dengan tidak steril dan pemotongan tali pusat memakai alat
tidak steril. Imunisasi terhadap difteri dan pertusis dimulai sejak umur 2-3 bulan dengan selang
4-8 minggu sebanyak 3 kali akan memberikan perlindungan mendekati 100% sampai anak
berusia 1 tahun. Imunisasi campak diberikan 1 kali akan memberikan perlindungan seumur
hidup. Imunisasi poliomyelitis dapat memberikan perlindungan seumur hidup apabila telah
diberikan 4 kali. (Ibrahim, 1991).
Vaksin sebagai suatu produk biologis dapat memberikan efek samping yang tidak
diperkirakan sebelumnya dan tidak selalu sama reaksinya antara penerima yang satu dengan
penerima lainnya. Efek samping imunisasi yang dikenal sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi
(KIPI) atau Adverse Events Following Immunization (AEFI) adalah suatu kejadian sakit yang
terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga berhubungan dengan imunisasi. Penyebab
kejadian ikutan pasca imunisasi terbagi atas empat macam, yaitu kesalahan program/tehnik
pelaksanaan imunisasi, induksi vaksin, faktor kebetulan dan penyebab tidak diketahui. Gejala
klinis KIPI dapat dibagi menjadi dua yaitu gejala lokal dan sistemik. Gejala lokal seperti nyeri,
kemerahan, nodelle/ pembengkakan dan indurasi pada lokasi suntikan. Gejala sistemik antara
lain panas, gejala gangguan pencernaan, lemas, rewel dan menangis yang berkepanjangan.
(Depkes, 2000)
Karakteristik Ibu
Penyebaran masalah kesehatan berbeda untuk tiap individu, kelompok dan masyarakat
dibedakan atas tiga macam yaitu : Ciri-ciri manusia/karakteristik, tempat dan waktu. Menurut
Azwar,Azrul (1999) salah satu faktor yang menentukan terjadinya masalah kesehatan di
masyarakat adalah ciri manusia atau karakteristik .Yang termasuk dalam unsur karakteristik
manusia antara lain: umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan,status sosial
ekonomi,ras/etnik,dan agama.Sedangkan dari segi tempat disebutkan penyebaran masalah
kesehatan dipengaruhi oleh keadaan geografis, keadaan penduduk dan keadaan pelayanan
kesehatan.Selanjutnya penyebaran masalah kesehatan menurut waktu dipenaguruhi oleh
kecepatan perjalanan penyakit dan lama terjangkitnya suatu penyakit. Begitu juga halnya dalam
masalah status imunisasi dasar bayi juga dipengaruhi oleh karakteristik ibu dan faktor
tempat,dalam hal ini adalah jarak rumah dengan puskesmas/tempat pelayanan kesehatan. Pada
penelitian ini ,karakteristik ibu yang peneliti diteliti adalah :
1. Umur
Umur merupakan salah satu sifat karakteristik tentang orang yang sangat utama.Umur
mempunyai hubungan dengan tingkat keterpaparan, besarnya risk serta sifat resistensi.
Perbedaan pengalaman terhadap masalah kesehatan/penyakit dan pengambilan keputusan
dipengaruhi oleh umur individu tersebut.
Beberapa studi menemukan bahwa usia ibu, ras,pendidikan, dan status sosial ekonomi
berhubungan dengan cakupan imunisasi dan opini orang tua tentang vaksin berhubungan dengan
status imunisasi anak mereka.( Ali, Muhammad, 2002) .
2. Pendidikan
Pendidikan seseorang merupakan salah satu proses perubahan tingkah laku, semakin tinggi
pendidikan seseorang maka dalam memilih tempat-tempat pelayanan kesehatan semakin
diperhitungkan. Suatu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang dan pendidikan dapat
mendewasakan seseorang serta berperilaku baik, sehingga dapat memilih dan membuat
keputusan dengan lebih tepat.
3. Status Sosial Ekonomi
Terdapatnya penyebaran masalah kesehatan yang berbeda berdasarkan status sosial ekonomi
pada umumnya dipengaruhi oleh 2 (dua) hal, yaitu
a).Karena terdapatnya perbedaan kemampuan ekonomis dalam mencegah penyakit atau
mendapatkan pelayanan kesehatan,
b).Karena terdapatnya perbedaan sikap hidup dan perilaku hidup yang dimiliki..Status sosio
ekonomi erat hubungannya dengan pekerjaan/jenisnya, pendapatan keluarga, daerah tempat
tinggal/geografis, kebiasaan hidup dan lain sebagainya.Status ekonomi berhubungan erat pula
dengan faktor psikologi dalam masyarakat.
4. Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Program Imunisasi
Pengetahuan adalah seluruh pemikiran, gagasan, ide, konsep dan pemahaman yang dimiliki
manusia tentang dunia dan segala isinya termasuk manusia dan kehidupan. Pengetahuan
mencakup penalaran, penjelasan dan pemahaman manusia tentang segala sesuatu, termasuk
praktek atau kemauan teknis dalam memecahkan berbagai persoalan hidup yang belum
dibuktikan secara sistimatis
Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan
terhadap objek tertentu melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan domain yang sangat
penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.. Evaluasi ini terkait dengan kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Tanggung jawab keluarga terutama para ibu terhadap imunisasi bayi/ balita sangat
memegang peranan penting sehingga akan diperoleh suatu manfaat terhadap keberhasilan
imunisasi serta peningkatan kesehatan anak. Pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh
komponen-komponen pendorong yang menggambarkan faktor-faktor individu secara tidak
langsung berhubungan dengan penggunaan pelayanan kesehatan yang mencakup beberapa
faktor, terutama faktor pengetahuan ibu tentang kelengkapan status imunisasi dasar bayi atau
anak. Komponen pendukung antara lain kemampuan individu menggunakan pelayanan
kesehatan yang diperkirakan berdasarkan pada faktor pendidikan, pengetahuan, sumber
pendapatan atau penghasilan. (Depkes RI, 2000)
Pengetahuan ibu dapat diperoleh dari pendidikan atau pengamatan serta informasi yang
didapat seseorang. Pengetahuan dapat menambah ilmu dari seseorang serta merupakan proses
dasar dari kehidupan manusia. Melalui pengetahuan, manusia dapat melakukan perubahan-
perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas yang
dilakukan para ibu seperti dalam pelaksanaan imunisasi bayi tidak lain adalah hasil yang
diperoleh dari pendidikan.
Berdasarkan hasil penelitian Cahyono,K.D.,(2003) memberikan gambaran bahwa anak
mempunyai kesempatan lebih besar untuk tidak diimunisasi lengkap bagi yang ibunya tinggal di
perdesaan, berpendidikan rendah,kurang pengetahuan, tidak memiliki KMS (Kartu Menuju
Sehat), tidak punya akses ke media massa ( surat kabar/majalah, radio, TV), dan ayahnya
berpendidikan SD ke bawah. Semakin banyak jumlah anak, semakin besar kemungkinan seorang
ibu tidak mengimunisasikan anaknya dengan lengkap.
Semakin tinggi tingkat pendidikan atau pengetahuan seseorang maka semakin
membutuhkan pusat-pusat pelayanan kesehatan sebagai tempat berobat bagi dirinya dan
keluarganya. Dengan berpendidikan tinggi, maka wawasan pengatehuan semakin bertambah dan
semakin menyadari bahwa begitu penting kesehatan bagi kehidupan sehingga termotivasi untuk
melakukan kunjungan ke pusat-pusat pelayanan kesehatan yang lebih baik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kejadian drop out
atau tidak lengkapnya status imunisasi bayi adalah : pengetahuan ibu tentang imunisasi , faktor
jumlah anak balita, faktor kepuasan ibu terhadap pelayanan petugas imunisasi, faktor
keterlibatan pamong dalam memotivasi ibu dan faktor jarak rumah ke tempat pelayanan
imunisasi.





Kesimpulan
Peningkatan cakupan imunisasi melalui pendidikan orang tua telah menjadi strategi populer
di berbagai negara. Strategi ini berasumsi bahwa anak-anak tidak akan diimunisasi secara benar
disebabkan orang tua tidak mendapat penjelasan yang baik atau karena memiliki sikap yang
buruk tentang imunisasi. Program imunisasi dapat berhasil jika ada usaha yang sungguh-sungguh
dan berkesinambungan pada orang- orang yang memiliki pengetahuan dan komitmen yang tinggi
terhadap imunisasi. Jika suatu program intervensi preventif seperti imunisasi ingin dijalankan
secara serius dalam menjawab perubahan pola penyakit dan persoalan pada anak dan remaja,
maka perbaikan dalam evaluasi perilaku kesehatan masyarakat dan peningkatan pengetahuan
sangat diperlukan. Faktor pendukung bagi seorang ibu untuk melakukan imunisasi dasar pada
bayi antara lain kemampuan individu menggunakan pelayanan kesehatan yang diperkirakan
berdasarkan pada faktor pendidikan, pengetahuan, sumber pendapatan atau
penghasilan.Kepercayaan dan perilaku kesehatan ibu juga hal yang penting, karena penggunaan
sarana kesehatan oleh anak berkaitan erat dengan perilaku dan kepercayaan ibu tentang
kesehatan dan mempengaruhi status imunisasi. Masalah pengertian dan keikutsertaan orang tua
dalam program imunisasi tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan kesehatan
yang memadai tentang hal itu diberikan.Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah
penting. Karenanya suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan
tersebut.







Daftar Pustaka
1. Muninjaya aag. Manajemen Kesehatan edisi 2. Jakarta: EGC, 2004
2. Picket g,hanlon jj. Kesehatan Masyarakat.admistrasi dan praktik. Edisi 9. Jakarta: EGC,
2009
3. Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie, Laporan Tahunan Subdin P2P Dinkes Kab. Pidie,
2006
4. Ali,Muhammad , Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja
Tentang Imunisasi, Medan,2002.http://library.usu.ac.id/modules.php. op=modload [16
Januari,2008]
5. Cahyono, K.D, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Ketidaklengkapan Imunisasi Anak
Usia 12-23 Bulan Di Indonesia Tahun 2003 (berdasarkan Data SDKI 2002-2003) .
http : //www.youngstatistician.com. [ 15 Januari, 2008]
6. Dinas Provinsi NAD, Rencana Strategis Pembangunan Kesehatan Prov.NAD Tahun
2006-2010,Banda Aceh,2006
7. Ibrahim,D.P., Hubungan Karakteristik Ibu dengan Status Imunisasi Campak Anak Umur
9-36 Bulan di Sulawesi Selatan Tahun 1991.(published
2001).http://digilib.litbang.depkes.go.id/go [ 21 januari 2008 ]
8. Kartono, Psikologi Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta, 2001
9. Notoatmodjo, Soekidjo, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta, 2003
10. Ramli,R.M,Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Drop Out/ Tidak Lengkap Hasil Imunisasi
di Desa Kesongo Semarang Jawa Tengah Tahun 1988 : Skripsi-1988.
http://www.journal.unair.ac.id/ [15 Januari,2008)
11. Supraptini,dkk, Cakupan Imunisasi Balita dan ASI Ekslusif di Indonesia ,Hasil Survei
Kesehatan Nasional 2001.http://digilib.litbang.depkes.go.id/go [ 21 januari 2008 ]
12. Syahrul,Fariani,dkk, Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Imunisasi Ibu Hamil
di Kabupaten Lumajang. Jurnal Penelitian Medika Eksakta Vol. 3 No. 1 April 2002: 80-
88, Jakarta,2002.http://www.pdpersi.co.id.[17Januari,2008]
13. Aktivitas Millennium Challenge Corporation Indonesia : Proyek Program Immunisasi
Rutin,Desember 2007. http://indonesia.usaid.gov.[21 Januari 2008]