Anda di halaman 1dari 40

Oleh:

Nur Isa Bagus P.


2007.04.0.0086
Pembimbing:
dr. Heru Seno W., SpB(K)BD

Esophagus merupakan saluran tempat masuk nya
makanan setelah pertama kali masuk melalui mulut.
Esophagus berfungsi sebagai saluran perantara antara
mulut dan lambung. Makanan yang akan dicerna
dilambung harus melewati esophagus. Seperti saluran
cerna lainnya di esophagus dapat tumbuh tumor baik jinak
maupun ganas.

Ada berbagai subtipe , squamous cell carcinoma paling
banyak ditemukan ( sekitar 90-95 % dari semua kanker
kerongkongan di seluruh dunia ) dan adenokarsinoma
(sekitar 50-80 % dari semua kanker kerongkongan di
Amerika Serikat ) . Squamous cell carcinoma berasal dari
sel-sel yang melapisi bagian atas esophagus .
Adenokarsinoma muncul dari sel kelenjar yang ada di
pertemuan esophagus dan lambung.


- Esofagus merupakan saluran menghubungkan
dan menyalurkan makanan dari rongga mulut
sampai ke lambung

- Panjang rata-rata esophagus 25 cm

- Di esophagus terdapat empat penyempitan.
Penyempitan yang pertama di sfingter
krikofaringeal,lalu penyempitan pada persilangan
aorta, penyempitan pada persilangan bronkus
kiri, dan penyempitan pada diafragma(hiatus
esophagus).

Fungsi utama esophagus adalah menyalurkan
makanan dan minuman dari rongga mulut
sampai ke lambung. Proses ini dimulai dengan
pendorongan makanan oleh lidah ke belakang,
penutupan glotis dan nasofaring serta relaksasi
sfingter esophageal.

Di esophagus, makanan turun karena adanya
peristaltic dan gaya gravitasi. Makanan dari
esophagus dapat masuk ke lambung karena ada
relaksasi dari sfingter esofagheal inferior. Setelah
makanan masuk ke lambung maka sfingter ini
akan kembali ke posisi semula.
Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal.
Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak
terkendali, dan akan terus membelah diri, selanjutnya
menyusup ke jaringan sekitarnya (invasive) dan terus
menyebar melalui jaringan ikat, darah, dan menyerang
organ-organ penting.

Dalam keadaan normal, sel hanya akan membelah diri jika
ada penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak.
Sebaliknya sel kanker akan membelah terus meskipun
tubuh tidak memerlukannya, sehingga akan terjadi
penumpukan sel baru yang disebut tumor ganas.
Penumpukan sel tersebut mendesak dan merusak jaringan
normal, sehingga mengganggu organ yang ditempatinya.

Kanker esofagus dibagi berdasarkan jenis sel
yang terlibat.
Jenis kanker esofagus antara lain:
1. Adenocarcinoma terjadi paling sering pada
bagian bawah esofagus.
2. Squamous cell carcinoma sering terjadi di
bagian atas dantengah esofagus. Biasanya timbul
karena factor lingkungan terutama riwayat
merokok dan alcohol.
3. Jenis lainnya, misalnya leiomiosarkoma,
fibrosarkoma,atau melanoma maligna sangat
jarang terjadi.

Ada empat stadium kanker esophagus yaitu:
1. Stadium I. Kanker ditemukan hanya pada lapisan-lapisan atas dari
sel-sel yang melapisi esophagus.


2. Stadium II. Kanker melibatkan lapisan-lapisan yang lebih dalam dari
lapisan esophagus, atau ia telah menyebar ke nodus-nodus limfa yang
berdekatan. Kanker masih belum menyebar ke bagian-bagian lain
tubuh.

3. Stadium III. Kanker telah menyerang lebih dalam kedalam dinding
esophagus atau telah menyebar ke jaringan-jaringan atau nodus-nodus
limfa dekat esophagus. Ia masih belum menyebar ke bagian-bagian lain
tubuh.

4. Stadium IV. Kanker telah menyebar ke bagian-bagian lain tubuh.
Kanker esophagus dapat menyebar hampir kemana saja dalam tubuh,
termasuk hati, paru-paru, otak, dan tulang-tulang.


Kanker esofagus terbanyak dijumpai antara
usia 50-70 tahun. Perbandingan faktor resiko
antara pria dan wanita adalah 3:1. Di Amerika
, squamous cell carcinoma lebih banyak
terjadi pada orang kulit hitam dibanding kulit
putih. Pecandu alkohol dan perokok berat
meningkatkan faktor resiko squamous cell
carcinoma. Resiko squamous sel karsinoma
juga meningkat pada pasien yang menderita
tylosis, achalasia, divertikula esofagus, dan
bulimia.
Sebagian besar adenokarsinoma terjadi
karena komplikasi dari metaplasia barret
sindrom karena kronik gastroesofagus
refluks. Sehingga adenocarcinoma banyak
terjadi pada 1/3 distal esofagus. obesitas
juga sangat berperan pada adenocarcinoma.
Beberapa sumber mengatakan bahwa iritasi
kronik misalnya merokok, minum alkohol,
kebiasaan minum panas dan faktor diit pada
beberapa penderita dapat menimbulkan
terjadinya karsinoma. Sedangkan sumber lain
mengatakan bahwa berdasarkan pengalaman
menunjukan kebanyakan penderita yang
menderita karsinoma di esofagus mempunyai
riwayat penyakit corrosive injuries yang lama,
striktura kronis dan akhalasia.
1. Umur. Kanker esophagus lebih sering terjadi pada orang
tua; kebanyakan orang yang menderita kanker esophagus
adalah berumur diatas 60 tahun.

2. Sex . Kanker esophagus sering pada pria daripada pada
wanita.

3. Merokok adalah salah satu dari faktor risiko utama
untuk kanker esophagus.

4. Pemakaian Alkohol. Penggunaan alkohol yang berat
adalah faktor risiko utama yang lain yang menyebabkan
kanker esophagus. Orang-orang yang menggunakan
memakai alkohol dan merokok mempunyai risiko tinggi
menderita kanker esophagus.

5. Barrett's Esophagus. Iritasi jangka panjang dapat
meningkatkan risiko kanker esophagus. Jaringan-
jaringan pada dasar dari kerongkongan dapat menjadi
teiritasi jika asam lambung secara sering balik masuk
kedalam esophagus (gastric reflux). Dalam jangka
waktu tertentu, sel-sel dibagian yang teriritasi dari
esophagus berubah menyerupai sel-sel yang melapisi
lambung. Kondisi ini, dikenal sebagai Barrett
esophagus, adalah yang dapat menyebabkan
adenocarcinoma dari esophagus.

6. Iritasi atau kerusakan yang signifikan pada lapisan
esophagus, seperti menelan cairan alkali atau
senyawa-senyawa caustic lain, dapat meningkatkan
risiko terjadinya kanker esophagus.

7. Riwayat Medis. Pasien-pasien yang pernah
menderita kanker kepala dan leher lainya
meningkatkan resiko terjadinya suatu kanker kedua
pada area kepala dan leher, termasuk kanker
esophagus.

Adanya salah satu dari faktor risiko ini
meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker
esophgus. Meski demikian, kebanyakan orang-
orang dengan satu atau bahkan beberapa dari
faktor-faktor ini tidak menderita penyakit ini.
Dan kebanyakan orang-orang yang menderita
kanker esophagus tidak mempunyai satupun dari
faktor risiko yang diketahui.

Mengidentifikasi faktor yang meningkatkan
kemungkinan seseorang menderita kanker
esophagus adalah langkah pertama sebagai
pencegahan penyakit. Cara terbaik untuk
mencegah kanker ini adalah berhenti (atau tidak
pernah memulai) merokok dan meminum alkohol

Karsinoma sel skuamosa terjadi akibat stimulus iritasi
kronik agen iritan. Alkohol, tembakau, dan beberapa
komponen nitrogen diidentifikasi sebagai penyebeab
iritan dari karsinoma.
Penggunaan alkohol dan tembakau menjadi faktor
risiko utama terbentuknya karsinoma sel skuamosa.
American Cancer Society mencatat bahwa kombinasi
yang lama antara minum alkohol dan tembakau akan
meningkatkan faktor risiko sangat tinggi terjadinya
karsinoma esophagus. Nitrosamina dan komponen
lain nitrosil di dalam acar (asinan), daging bakar, atau
makanan ikan yang diasinkan memberikan kontribusi
peningkatan karsinoma sel skuamosa pada esofagus .

Beberapa kondisi medis yang dipercaya
meningkatkan karsinoma sel skuamosa
seperti akalasia, striktur, tumor kepala dan
leher, penyakit plummer-vinson syndrome,
serta terpajan dari radiasi.

Pada pasien striktur, akibat kondisi kontak
dengan cairan alkali akan meningkatkan
sekitar 3 % karsinoma sel skuamosa setelah
20-40 tahun. Tumor kepala dan leher di
hubungkan dengan karsinoma sel skuamosa
yang disebabkan oleh faktor penggunaan
alkohol dan tembakau penyakit plummer-
vinson syndrome akan mengalami disfagia,
dan anemia defisiensi besi.
Adenokarsinoma esofagus sering terjadi pada bagian
tengah dan bagian bawah esofagus. Peningkatan
abnormal mukosa esofageal sering dihubungkan
dengan refluks gastroesofageal kronik. Metaplasia
pada stratifikasi normal epitelium skuamosa bagian
distal akan terjadi dan menghasilkan epitelium
glandular yang berisi sel-sel goblet yang disebut
epitel barret. Perubahan genetik pada epitelium
meningkatkan kondisi dysplasia dan secara progresif
membentuk adenokarsinoma pada esophagus.

Penyakit refluks gastroesofageal merupakan faktor
penting terbentuknya epitel barret pada pasien
dengan penyakit refluks gastroesofageal., sekitar 10
% menghadirkan epitel barret dan pada pasien
dengan adanya epitel barret sekitar 1 % akan
terbentuk adenokarsinoma esofagus. Oleh karena itu
diperlukan untuk dilakukan biopsi endoskopik untuk
menurunkan risiko keganasan pada esofagus .

Adanya kanker esofagus bisa menghasilkan
metastasis ke jaringan sekitar akibat invasi jaringan
dan efek kompresi oleh tumor. Selain itu, komplikasi
dapat timbul. Invasi ke aorta mengakibatkan
perdarahan masif, innvasi ke perikardium terjadi
tamponade jantung atau sindrom vena cava superior,
invasi ke serabut saraf menyebabkan suara serak
atau disfagia, invasi ke saluran napas mengakibatkan
fistula trakeoesofageal dan esofagopulmonal, yang
merupakan komplikasi serius dan progresif
mempercepat kematian. Sering terjadi obstruksi
esofagus dan komplikasi yang paling sering terjadi
adalah pneumonia aspirasi yang pada gilirannya akan
menyebabkan abses paru dan empiema. Selain itu,
juga dapat terjadi gagal napas yang disebabkan oleh
obstruksi mekanik atau perdarahan. Perdarahan yang
terjadi pada tumornya sendiri dapat menyebabkan
anemia defisiensi besi sampai perdarahan akut masif.
Pasien sering tampak malnutrisi, lemah, dan
gangguan sistem imun yang kemudian akan
menyulitkan terapi
Tanda dan gejala kanker esofagus antara lain:

Sulit menelan, nyeri saat menelan, terasa ada
benda asing

Penurunan berat badan

Nyeri pada dada

Lelah

Regurditasi atau muntah

Diagnosis kanker esofagus dapat
ditegakkan dengan anamnesis dan
pemeriksaan penunjang.

1. Laboratorium : Pada pemeriksaan darah
rutin didapatkan anemia dan
hipoalbuminemia.

Barium swallow

Pada uji ini, cairan yang disebut barium di telan.
Barium akan melapisi dinding esofagus. Ketika
dilakukan penyinaran (sinar X), barium akan
membentuk esofagus dengan jelas.

Tes ini dapat digunakan untuk melihat apakah ada
kelainan pada permukaan dinding esofagus. Tes
barium biasanya menjadi pilihan utama untuk melihat
penyebab disfagia. Bahkan sebagian kecil tumor,
dapat terlihat dengan menggunakan tes ini. Tes
barium tidak dapat digunakan untuk menentukan
seberapa jauh kanker telah bermetastase

CT Scan
CT Scan penting untuk menilai ukuran tumor
dan membantu dalam menentukan
penyebaran dari kanker esofagus. CT Scan
dapat menunjukkan lokasi dimana kanker
esofagus berada dan dapat membantu dalam
menentukan apakah pembedahan merupakan
tatalaksana terbaik untuk kanker esofagus.

A. Biopsi Endoskopi merupakan uji diagnostic yang paling
utama untuk mendiagnosis kanker esofagus. Dengan
bantuan endoskopi, dokter dapat melihat kanker melalui
selang dan melakukan biopsy terhadap jaringan kanker
maupun jaringan lain yang ada di sekitar kanker yang
tampak tidak normal. Pemeriksaan ini penting dalam
tindakan operatif pada penatalaksanaan terapi.

B. Endoscopic ultrasound Merupakan jenis endoskopi yang
menggunakan gelombang suara untuk melihat gambar
bagian dalam tubuh. Endoskopi jenis ini sangat berguna
untuk menentukan ukuran dari kanker esofagus dan
seberapa jauh kanker tersebut telah menyebar ke jaringan
lain. Uji ini tidak memiliki dampak radiasi, sehingga aman
untuk digunakan.

Bronkoskopi dan Mediastinokopi
Bronkoskopi biasanya dilakukan, khususnya
pada tumor pada sepertiga tengah dan atas
esofagus, untuk menentukan apakah trakea
telah terkena dan untuk membantu dalam
menentukan apakah lesi dapat diangkat.
Sedangkan mediastinoskopi digunakan untuk
menentukan apakah kanker telah menyebar
ke nodus dan struktur mediastinal lain
Penanganan kanker esophagus bergantung dari stadium dan letak
tumor. Tumor yang belum menembus lapisan mukosa, dapat dilakukan
reseksi mukosa secara endoskopik. Untuk tumor yang sudah menembus
lapisan mukosa atau lapisan lain yang lebih dalam tapi belum mengenai
organ sekitar dapat dilakukan pembedahan. Pengobatan paliatif pada
penderita kemoterapi.

Pembedahan, reseksi karsinoma esophagus diikuti dengan rekontruksi.
Rekontruksi dapat dilakukan dengan mengadakan anastomosis antara
esophagus proksimal dan pipa yang dibuat dari lambung, sebagai kolon
atau yeyunum. Rekontruksi yang paling sering dibuat ialah rekontruksi
lambung-pipa. Pembedahan paling sering dilakukan melalui insisi
laparotomy dan torakotomi kanan.

Bila tumor tidak dapat direkseksi lagi, dipasangkan tabung secara
endoskopik menembus tumor agar penderita bisa makan dan minum.
Gastrostomy dilakukan bila pemasangan tabung tidak bisa dilakukan.
Operasi untuk menghilangkan beberapa atau
sebagian besar esophagus disebut
esophagectomy . Seringkali sebagian dari
lambung akan ikut diambil. Bagian atas dari
esofagus kemudian dihubungkan dengan
bagian yang tersisa dari lambung . Bagian
dari lambung ditarik sampai ke dada atau
leher menjadi esofagus baru. Banyaknya
esophagus yang diambil tergantung pada
stage tumor dan di mana letak tumor
tersebut
Jika kanker berada di bagian bawah esofagus ( dekat
lambung ) atau di tempat di mana esophagus dan
lambung bertemu (gastroesophageal atau GE junction
) , ahli bedah akan mengambil bagian dari lambung ,
bagian dari esofagus yang mengandung kanker , dan
sekitar 3 sampai 4 inci esophagus normal diatasnya .
Kemudian lambung dihubungkan dengan yang tersisa
dari esofagus baik setinggi di dada atau di leher . Jika
tumor di bagian atas atau tengah esofagus , sebagian
besar kerongkongan perlu harus dikeluarkan untuk
memastikan bahwa kanker sudah terangkat .
Lambung kemudian akan ditarik dan dihubungkan ke
esophagus di leher . Jika lambung tidak dapat
digunakan untuk ganti kerongkongan , ahli bedah
dapat menggunakan usus sebagai gantinya
Ketika usus digunakan , maka pembuluh darah
harus tidak boleh rusak . Jika pembuluh darah
rusak, maka usus tidak akan mendapat cukup
darah , sehingga jaringan usus akan mati .
Esophagectomy dapat dilakukan dengan
menggunakan salah satu dari 2 teknik . Tipe
Standar , open technique menggunakan satu atau
lebih sayatan besar ( incisi ) di leher , dada, atau
perut untuk melakukan operasi . Dalam operasi
minimal invasif , ahli bedah melakukan operasi
melalui beberapa sayatan kecil menggunakan
instrument yang panjang dan tipis yang khusus .
Open esophagectomy : Banyak pendekatan yang berbeda
dapat digunakan dalam operasi pada kanker esophagus.
Untuk esophagectomy transthoracic , esophagus diambil
dengan sayatan utama di perut dan dada . Jika sayatan
utama di perut dan leher , itu disebut esophagectomy
transhiatal . Beberapa pendekatan menggunakan sayatan
di leher , dada , dan perut .

Esophagectomy minimal invasif : Untuk beberapa kanker
yang baru terjadi ( kecil ) , esophagus dapat diambil
melalui beberapa sayatan kecil , bukan 1 atau 2 sayatan
besar . Dokter bedah menempatkan mikroskop ( seperti
teleskop kecil ) melalui salah satu sayatan untuk melihat
selama operasi . Kemudian instrumen bedah masuk
melalui sayatan kecil lainnya . Untuk melakukan jenis
prosedur ini dengan baik , ahli bedah harus sangat
terampil dan memiliki banyak pengalaman mengambil
kerongkongan dengan cara ini . Karena menggunakan
sayatan kecil , esophagectomy minimal invasive dapat
memungkinkan pasien meninggalkan rumah sakit lebih
cepat dan pemulihannya juga lebih cepat
Tidak peduli mana yang digunakan ,
esophagectomy bukanlah operasi sederhana ,
dan mungkin memerlukan waktu tinggal di
rumah sakit yang lama (opname). Jika kanker
belum menyebar di luar esophagus , mengambil
esophagus dapat menyembuhkan kanker.
Sayangnya , kanker esophagus sering tidak
ditemukan cukup dini bagi dokter untuk
menyembuhkan mereka dengan operasi .

Lymph node removal : Untuk kedua jenis
esophagectomy , kelenjar getah bening juga
diambil selama operasi. Kemudian diperiksa
untuk melihat apakah mengandung sel-sel
kanker . Jika kanker telah menyebar ke kelenjar
getah bening , prognosa tidak baik , dan dokter
mungkin menyarankan pengobatan lain (seperti
kemoterapi dan atau radiasi ) setelah operasi
Biasanya prognosis pada pasien ca esophagus
cukup jelek, karena kebanyakan pasien
terlambat menyadari penyakitnya, sehingga
saat ditemukan pasien sudah berada pada
stadium yang tinggi. Hal ini disebabkan
karena gejala dysphagia dimulai saat ca
esophagusnya sudah berkembang cukup
baik.

Dari paparan referat ini dapat disimpulkan bahwa kanker
esofagus merupakan keganasan yang terjadi pada
esofagus. Keganasan yang paling sering menyerang adalah
jenis squamous cell carsinoma dan adenocarsinoma.
Sedangkan jenis lainnya leomiosarkoma, fibrosarkoma,
atau melanoma malignum sangat jarang terjadi.

Penyebab kanker esofagus belum diketahui dengan pasti
akan tetapi para peneliti percaya bahwa beberapa faktor
resiko seperti merokok dan alkohol, dapat menyebabkan
kanker esofagus dengan cara merusak DNA sel yang
melapisi bagian dalam esofagus, akibatnya DNA sel
tersebut menjadi abnormal. Iritasi yang berlangsung lama
pada dinding esofagus, seperti yang terjadi pada GERD,
Barretts esophagus dan akhalasia dapat memicu
terjadinya kanker.
Kanker esofagus ditegakkan berdasarkan gejala klinis
yang dialami pasien, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium dan penunjang lainnya. Dari gejala klinis, hal
yang paling sering menjadi keluhan pasien adalah disfagia
(sulit menelan), dan penurunan berat badan. Kadang
pasien juga merasakan benjolan pada tenggorokan dan
rasa nyeri saat menelan. nyeri pada dada, regurgitasi
makanan yang tak tercerna dengan bau nafas dan akhirnya
cegukan serta perdarahan. Pada tahap lanjut, dapat
ditemukan pembesaran kelenjar getah bening daerah
supraklavikula dan aksila, serta hepatomegali.

Pada pemeriksaan darah rutin didapatkan diantaranya
anemia dan hipoalbuminemia. Dari pemeriksaan
penunjang lainnya seperti barium swallow, dapat terlihat
gambaran yang khas pada sebagian besar kasus di mana
akan terlihat tumor dengan permukaan yang erosif dan
kasar pada bagian esofagus yang terkena. Pemeriksaan
endoskopi dan biopsi sangat penting untuk mendiagnosis
karsinoma esofagus, terutama untuk membedakan antara
squamous cell carcinoma dan adenokarsinoma.
Penatalaksanaan pada pasien dengan
esophagus biasa dilakukan dengan tindakan
operatif, chemoterapi, maupun radioterapi.
Hasil dari penatalaksaan sangat bergantung
pada stage dari kanker esophagus tersebut.

Tetapi biasanya prognosis dari pasien buruk
dikarenakan keterlambatan dalam
mengidentifikasikan penyakitnya