Anda di halaman 1dari 6

V.

FAKTOR LINGKUNGAN TANAMAN


1. EDAFIK
A. Jenis tanah (genesa, komposisi, jenis, profil)
a. bergantung kpd proses genesanya
b. proses pembentukannya ditentukan oleh iklim, bahan
induk , iklim, makhluk hidup/vegetasi, topografi, dan
waktu
c. Iklim klimosekuen
d. Batuan/bahan induk lithosekuen
Tuf volkan tanah latosol, andosol
Batuan metamorf podzolik merah
Batuan sedimen, batu pasir/liat podzolik merah
kuning
Batu gamping rensina
e. Makhluk hidup (vegetasi) tanah-tanah organosol,
gambut.
f. Topografi toposekuen
g. Waktu kronosekuen :
Contoh : lithosol inceptisol alfisol
ultisol oxisol
h. Peranan tanah
Tempat bertumpu dan tegaknya tanaman
Sumber hara dan air bagi pertumbuhan
tanaman
Sumber udara bagi respirasi akar
i. Komposisi tanah
1) Padatan tanah :
a) Bahan organik : undecomposed, partly
decomposed, & humus
b) Bahan anorganik :
Mineral primer pasir (sand)
Mineral sekunder liat (clay) & debu
(silt)
Oksida-oksida Fe3O2 (merah
kuning coklat),
Fe2O2 (biru kelabu), SiO2 (putih
pucat)
Garam sisa asam + sisa basa
MgSO4, NaCl.
2) Cairan tanah : air tanah, larutan ion, larutan
kimia lain
3) Udara tanah : O2, CO2, H2, N2, uap air dll.
|CO2| krn dekomposisi b.o., respirasi akar
& respirasi m.o.
Komposisi ideal :
45% bahan anorganik, 5% bahan organik., 25% air
tanah, dan 25% udara tanah.
B. Sifat fisik (struktur, tekstur, warna, porositas, atmosfer
tanah : udara, suhu, air tanah).
Fraksi tanah : butir-butir tanah yang beranekaragam
bentuk & ukuran Contoh : a.d. ukurannya pasir kasar,
pasir hal;us, debu, liat
Struktur tanah : susunan butir-butir tanah pada suatu
massa tanah Contoh : lempeng (plate), tiang (columnar),
prisma, gumpal (blocky), butir (granule), dan remah
(crumb).
Tekstur tanah : perbandingan kandungan fraksi pasir,
debu dan liat dari suatu massa tanah .
Ada 12 kelas tekstur tanah : pasir (sand), pasir berdebu
(loamy sand), geluh (loam), geluh berpasir (sandy loam)
dsb.
Porositas : banyaknya pori-pori makro & mikro,
yang terdapat pada suatu massa tanah.
Warna tanah dipengaruhi oleh oksida, mineral,
b.o. & garam
Pemahaman warna tanah berguna untuk :
Memprediksi kandungan bahan organik
Menilai keadaan drainase tanah
Menaksir derajad pelapukan tanah
Menaksir kandungan mineral
Menunjukkan kondisi profil (horizon) tanah
Status air dalam tanah :
a) Kapasitas menahan maksimal (maximum
retentive capacity) ialah jumlah maksimal
air tanah yang dapat ditampung tanah stlh
hujan turun. air mengisi semua pori-pori
tanah.
b) Kapasitas lapang (field capacity) jumlah
air yang terdapat dlm tanah sesudah air
gravitasi turun. sebagian besar air mengisi
pori-pori mikro dan menyelaputi agregat
tanah.
c) Titik layu permanen (permanent wilting point)
jumlah air tanah yang terdapat dalam
tanah saat tanaman menjadi layu permanen
(layu tetap).
d) Titik higroskopis jumlah air yang terdapat
dalam tanah sebagai air higroskopis yang
terikat erat menyelaputi agregat tanah.
C. Sifat kimia (pH, kandungan hara, KTK,
KB, )
Sifat kimia tanah yang penting :
1) kandungan (status) hara dalam tanah
2) pH / kemasaman tanah :
Berkaitan dengan keseimbangan ion H
+
dan
OH
-
di dalam tanah.
Pada tanah masam kepekatan H
+
> OH
-
,
sebaliknya pada tanah alkalin H
+
> OH
-
.
Topografi b.i. batu pasir b.i. tuf volkan
Datar Hidromorf kelabu,
glei humus
Latosol merah
kecoklatan
Berbukit Podzolik merah
kuning
Latosol coklat
Bergunun
g
- Andosol
Pengaruh pH tanah terhadap tanaman :
Langsung terhadap protoplasma dan
protein dalam sel-sel akar jika pH s 4 maka
terjadi koagulasi protein dan tidak berfungsinya
protoplasma akar rusak/mati.
3) Kapasitas Tukar Kation (KTK)
Menunjukkan kemampuan tanah dalam
menyimpan ion jika KTK tinggi berarti
tanah tersebut mampu menyimpan hara
lebih banyak.
Tinggi rendahnya KTK bergantung pada
macam komplek jerapan-nya. koloid liat
atau koloid humus.
4) Kejenuhan basa (KB) :
Menunjukkan banyaknya kation (ion
positif) yang terkandung dalam tanah.
Jika KB tinggi (> 40%) berarti hara yang
terkandung makin tinggi.
Jika KB rendah (< 30%) berarti tanah
tersebut miskin hara.
5) Kandungan bahan organik/humus :
Pengaruh bahan organik terhadap tanah :
Memperbaiki sifat fisik tanah (terutama
tekstur).
Meningkatkan KTK (Cation Exchange
Capacity)
Meningkatkan KMA (Water Holding
Capacity)
Menyediakan unsur hara
Menurunkan pH (jika berlebihan) b.o.
ideal sekitar 5 10%..
D. Kondisi permukaan lahan (topografi) :
1. Elevasi / altitude : ketinggian tempat dari
permukaan air laut (m dpl.)
Ada 3 penggolongan elevasi (faktor pembatas
: suhu)
a) Dataran rendah ( 0 300 m dpl.)
b) Dataran medium ( 300 800 m dpl.)
c) Dataran tinggi ( > 800 m dpl.)
Hubungan antara elevasi dan peruntukannya
2. Topografi/relief lahan
3. Kelas kemampuan lahan :
Dari segi aplikasi, pemanfaatan lahan tsb.
sbb. :
Kelas I, II, III dapat dimanfaatkan untuk tanaman
pangan
Kelas IV marginal untuk tanaman pangan
Kelas V sesuai utk tan. tahunan dan padang
pemggembalaan
Kelas VI sesuai untuk perhutanan
VII dan VIII hanya sesuai untuk hutan lindung &
cagar alam.
E. Sifat Biologi/Hayati Tanah
- Mikrobia tanah terdiri atas mikroflora (algae,
fungi, bakteri), dan mikrofauna (protozoa,
collembola).
- Makrofauna meliputi insekta, sentipoda,
nematoda, semut & hewan pemakan sisa
lainnya.

Tanah adalah entitas yang hidup dan bukan
sekedar benda mati yang mendukung kehidupan
(Lovelock, 2002).
Dalam segenggam tanah terdapat : 125 juta
bakteri, 100 juta fungi, 12,5 juta algae, 7,5 juta mikro
fauna, 100 serangga & tungau, 250 nematoda, dan 25
ribu colembolla.
Peranan utama jasad hidup di dalam tanah
adalah :
Dekomposisi bahan organik perombakan b.o.
dari susunan komplek menjadi sederhana.
Mineralisasi penguraian mineral tanah dan
membebaskan unsur hara (fosfat, kalsium,
kalium, magnesium, nitrat, sulfat dsb.)
Ketersediaan nitrogen tanah beberapa jenis
bakteri secara langsung menambah ketersediaan
N melalui proses nitrifikasi, amonifikasi, dan
fiksasi N dari udara (simbiotik & non-
simbiotik).
2. KLIMATIK
Cahaya, Suhu, Presipitasi/Hujan, dll.

B. FAKTOR KLIMATIK
Beberapa unsur iklim yang penting ialah : cahaya, suhu
dan presipitasi.
1. Cahaya
Unsur cahaya yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman antara lain :
kualitas cahaya, fotoperiodik, intensitas cahaya.
Kualitas cahaya :
Cahaya merupakan sumber energi utama bagi
tanaman
Sumber cahaya yang paling dominan adalah
matahari

C. BIOTIK Merugikan : hama, m.o. patogen,
gulma Menguntungkan : leguminosae,
tanaman pupuk hijau, cover crops, pohon
pelindung, m.o. antagonis, predator,
parasitoid dll.
Elevasi (m dpl) Peruntukan
- Dataran rendah Tanaman tropika
- Dataran
medium
Tan. tropika, adaptasi tan.
tropika, trans-genic tan.
sub-tropika
- Dataran tinggi Tan. sub-tropika
VI. CROPPING SYSTEMS
Sistem bertanam adalah cara membudidayakan
tanaman yang meliputi pola pergiliran tanaman dan pola
bertanam.1. Pergiliran tanaman (crop rotation):
pengaturan periode tanam untuk tanaman semusim
yang disesuaikan dengan kondisi musim atau untuk
tujuan tertentu"
Istilah ini umum digunakan untuk tanaman
padi dan palawija.
Pada tanaman tahunan tidak dilakukan
pergiliran tanaman, tetapi peremajaan bertahap
atau penggantian tanaman secara total.
Manfaat pergiliran tanaman:
Pemanfaatan sumber daya lahan dan air menjadi lebih efisien,
Memberi kesempatan tanah utk istirahat atau self recovery,
Memutus siklus hidup OPT, Untuk menghindari kondisi
iklim/musim yang ekstrim, Mengatur keseimbangan demand
dan supply (permintaan dan penawaran pasar) dengan
pengaturan on season atau off season.
2. Pola bertanam (cropping patern) adalah
pengaturan kombinasi jenis tanaman yg dibudidayakan
menurut dimensi ruang (spatial) dan waktu (temporal).
Pola bertanam dapat dibedakan menjadi : .
Pola bertanam tunggal (monokultur/solo
cropping): pembudidayaan satu jenis tanaman pada
lahan yang sama secara terus menerus selama satu
musim tanam atau satu tahun.
Pola bertanam ganda (multiple cropping):
pembudidayaan dua atau lebih jenis tanaman pada lahan
yang sama selama satu musim tanam atau satu tahun
secara bersamaan atau pada waktu yang berbeda.
Multiple Cropping memiliki makna yang
berbeda dengan mixed farming atau intergrated farming:
Mixed farming:
Budidaya berbagai jenis tanaman pada satu
bidang lahan, tanpa memperhatikan hubungan ekologis
antar masing-masing jenis tanaman. Intergrated
farming:
Usaha pertanian dalam arti luas (pertanian,
peternakan, perikanan) pada satu bidang lahan dengan
memperhatikan hubungan ekologis antar masing-masing
komponen.
1. Pola bertanam ganda (multiple cropping):
pembudidayaan dua atau lebih jenis tanaman pada
lahan yang sama selama satu musim tanam atau satu
tahun secara bersamaan atau pada waktu yang
berbeda.
Beberapa bentuk bertanam ganda:
a. Tumpangsari (intercropping),
Menanam dua jenis tanaman atau lebih secara serentak
pada lahan yang sama dalam satu periode waktu. Artinya,
dalam periode yang sama petani mengelola lebih dari satu
jenis tanaman pada lahan yang sama, yang terdiri atas:
a). Tumpang sari acak : menanam dua jenis tanaman atau
lebih secara serentak tanpa susunan baris yang jelas.
b). Tumpang sari baris : menanam dua jenis tanaman
atau lebih secara serentak dengan satu jenis tanaman
atau lebih yang ditanam dalam barisan.
c). Tumpang sari jalur : menanam dua jenis tanaman
atau lebih secara serentak dalam jalur berbeda-beda
yang cukup lebar untuk memungkinkan pengolahan
secara leluasa, tetapi cukup sempit bagi tanaman untuk
dapat berinteraksi secara menguntungkan dari segi
pengusahaan pertanian.
d). Tumpang sari sisipan : menanam dua jenis tanaman
atau lebih secara serentak sesuai dengan daur hidup
masing-masing jenis tanaman. Tanaman kedua ditanam
setelah tanaman pertama mencapai tahap reproduksi,
tetapi belum siap dipanen.
2. Tumpang gilir (relay cropping), Menanam dua
tanaman atau lebih secara berurutan pada lahan
yang sama dalam satu periode waktu. Artinya,
setelah tanaman pertama dipanen kemudian disusul
dg menanam tanaman berikutnya. Intensifikasi
pertanaman dilakukan hanya dengan mengelola
satu jenis tanaman saja pada suatu periode waktu
di lahan yang sama. Beberapa bentuk tumpang
gilir antara lain:
a). Tanam gilir ganda dua: menanam 2 jenis tan.
secara berturutan dalam satu tahun.
b). Tanam gilir ganda tiga: menanam 3 jenis tan.
secara berturutan dalam setahun.
c). Tanam gilir ganda empat:: menanam 4 jenis tan.
secara berturutan dalam setahun.
d). Tanam turiang: menanam turiang (anakan) setelah
panen, walaupun tidak harus untuk diambil bijinya.

3. Pertanaman bertingkat (multi-storey cropping),
Cara ini diterapkan pada kebun atau lahan kering
yang ditanami tan. tahunan, dengan memadukan satu atau
lebih jenis tanaman yang memiliki habitus berbeda terutama
dalam hal ketinggian batang tanaman.
dengan pola bertingkat tidak akan terjadi persaingan
dalam menerima cahaya matahari, maupun
sumberdaya lahan lainnya. Contoh: durian dengan
kopi atau kakao; cengkeh dengan kopi, dll.
4. Pertanaman lorong (alley cropping),
Cara ini biasanya diterapkan pada tahap
peremajaan kebun, di mana tanaman pokok sudah
berumur 3 4 tahun tetapi belum berproduksi dan tajuk
(canopy) antar baris tanaman masih berjauhan. Lahan
terbuka di antara barisan tanaman dimanfaatkan dengan
menanam tan. semusim atau tanaman perdu.
prinsip dasar dari pola tanam ini adalah pemanfaatan
ruang terbuka agar lahan dapat didayagunakan
secara efisien dan optimal.
5. Sistem surjan (alternating bed system),
Sistem surjan diterapkan pada lahan pasang
surut atau lahan yang tergenang air sepanjang tahun.
Pada lahan dibuat bedengan yang luas dan posisinya
lebih tinggi daripada permukaan air saat musim
hujan. Bagian bedengan dimanfaatkan untuk
tanaman semusim (sayuran, semangka, blewah,
cabai, dll) dan atau tan. tahunan berbentuk perdu
(jeruk, dll). Bagian bawah yang selalu tergenang
air ditanami padi sawah.

VII. PERTANIAN BERKELANJUTAN

A. LATAR BELAKANG
Revolusi hijau, (diawali dg ditemukannya VU
gandum & jagung pada tahun 1960-an di
Meksiko dan IR 8) telah merubah pertanian
subsisten menjadi pertanian modern.
Pertanian modern (pert. konvensional)
berorientasi pada produktivitas tinggi dengan
input yang tinggi pula (benih hibrida, pupuk
pestisida zpt kimia, irigasi berlebihan, dan
mekanisasi (Energi BBM)).
Perkembangan terakhir adalah introduksi benih
GMO (Genetic Modified Organism) hasil
bioteknologi transgenik. (REVOLUSI
GENETIK)
Kemajuan Pert. Modern menyebabkan dampak
( + ) maupun ( ) bagi ekosistem pertanian,
lingkungan dan manusia.
Dampak positif Pertanian Modern :
a) Diperolehnya bahan pangan dan sandang
yang berkuantitas & berkualitas tinggi
dalam waktu relatif singkat.
b) Pelaksanaannya mudah, praktis, cepat dan
relatif murah.
c) Kendala proses produksi dapat ditangani
secara cepat dan tuntas, seperti serangan
OPT, rendahnya kesuburan tanah,
gangguan fisiologis tan., dan hambatan
agroklimat secara makro ataupun mikro.
d) Diperolehnya hasil tanaman sesuai dengan
tuntutan pasar/konsumen.
Dampak negatif Pertanian Modern :
(Schaller, 1993 & Miller, 1996)
a) Tanah :
Kerusakan fisik tanah (erosi, pemadatan
tanah, rusaknya bentang lahan), penurunan
kesuburan tanah, matinya biota tanah
(proses dekomposisi dan daur ulang nutrisi
terhambat, terganggunya ekosistem biosfer),
salinitas & reduktivitas, merosotnya
produktivitas lahan, dll.
b) Perairan :
Eutrofikasi (nitrogen & fosfat), matinya
biota akuatik (karena pestisida atau
rendahnya DO), tercemarnya air tanah
(pestisida, nitrat, garam-garam).
c) Udara :
Pencemaran udara dalam bentuk uap/droplet
pestisida, emisi gas buang alsintan,
partikel padat dan asap pembakaran
(smoke).
d) Tanaman pokok :
Erosi genetik, mutasi dan terbentuk kultivar
baru yang tidak sesuai hukum alam.
e) Biota lain :
Gangguan keseimbangan agroekosistem
(matinya biota bukan sasaran, rusaknya
rantai/jaring
2
makanan, gangguan
nisia/niche), berkembangnya OPT
(resurjensi, co-evolusi, biomagnifikasi,
eksplosi OPT sekunder), mati- nya hewan
ternak/perikanan.
f) Manusia (petani dan konsumen) :
Gangguan kesehatan (polusi dan paparan
pestisida, residu pestisida pada bahan
pangan, dampak negatif GMO).
g) Ekonomi :
Ketergantungan yang makin kuat pada
pasokan benih hibrida/GMO, pupuk dan
pestisida kimia (sementara nilai jual produk
rendah).
Upaya alternatif ad. mengembangkan
konsep budidaya yang berorientasipada
pemanfaatan sekaligus pelestarian sumber daya &
lingkungan guna memperoleh produksi optimal
untuk masa sekarang maupun yang akan datang.
B. Pertanian Berkelanjutan (Sustainable
Agriculture)
Pertanian Berkelanjutan :
+ CGIAR, 1988 : (Consultative group on
International Agricultural Research)
Pengelolaan SDP untuk memenuhi perubahan
kebutuhan manusia sambil mempertahankan atau
meningkatkan kualitas lingkungan serta
melestarikan SDA
+ Miller, 1996 :
Metode budidaya tanaman yang berbasis pada
aplikasi pupuk organik, konservasi tanah & air,
pengendalian hayati, dan minimasi pemakaian
sumberdaya yang tak terbaharui
+ Soemarwoto, 2001 :
Metode budidaya tanaman yg dilaksanakan
berdasarkan prinsip-prinsip ekologi, dan
berorientasi untuk mencukupi kebutuhan hidup
generasi sekarang maupun generasi yang akan
datang.

Pengertian berkelanjutan adalah :
Menjaga agar suatu upaya dapat terus
berlangsung.
Kemampuan untuk bertahan dan menjaga
agar tidak merosot.
Kemampuan untuk tetap produktif
sekaligus tetap mempertahankan basis
sumber daya.

Bentuk-bentuk Pertanian Berkelanjutan
- Pertanian organik / organic farming
(Astawan, 2001) :
Penggunakan input produksi berupa
bahan-bahan yang benar-benar alami
sejak proses budidaya hingga
pengolahannya (from the form to the
table).
- Pertanian Ekologi / ecofarming (Bergeret,
1987) :
Sistem pertanian yang dilaksanakan
melalui pendekatan ekologi (ecolo-gical
approach), dengan mengembangkan
mekanisme dan dinamika agroekosistem
yang ada secara alami.
- LEISA (Reinjtjes dkk., 1999) :
LEISA (Low External Input Sustainable
Agriculture) atau Pertanian Berkelanjutan
dengan Input Luar Rendah adalah sistem
pertanian yang memanfaatkan dan
sekaligus mempertahankan kemampuan
SDA lokal dan agroekosistem untuk
memperoleh hasil ekonomi yang
berlanjut, melalui pendekatan proses
biologis (self regulation), adil dan
manusiawi.
C. Pertanian Organik
Prinsip dasar :
SPO merupakan sistem pertanian yg
mendorong terbentuknya tanah serta tanaman
dan hewan yg sehat, dengan melakukan
tindakan budidaya seperti daur ulang hara,
rotasi tanaman, pengolahan tanah yang tepat,
serta meng-hindarkan penggunaan bahan
kimia yang berupa pupuk, pestisida dan zpt.
SPO berpijak pada kesuburan tanah sebagai
kunci keberhasilan produksi, dengan
memperhatikan kemampuan alami dari tanah,
tanaman dan hewan.
SPO secara drastis mengurangi input luar dg
menghentikan aplikasi pupuk dan pestisida
kimia.
Tujuan SPO :(IFOAM, 1999 = Int. Federation of
Organic Agriculture Movements)
a) Menghasilkan bahan pangan yang berkualitas
nutrisi tinggi dlm jumlah cukup.
b) Mengembangkan interaksi dan daur ulang
alamiah yang mendukung semua bentuk
kehidupan.
c) Mendorong dan meningkatkan daur ulang dlm
sistem usaha tani, dg meng-aktifkan kehidupan
mikroba, flora dan fauna, tanah, tanaman serta
hewan.
d) Mendorong dan meningkatkan kesuburan tanah
secara berkelanjutan.
e) Menggunakan sebanyak mungkin sumber daya
terbaharui yang berasal dari sistem usaha tani
itu sendiri.
f) Membatasi semua bentuk pencemaran
lingkungan dari kegiatan pertanian.
g) Mempertahankan keanekaragaman (diversitas)
hayati termasuk pelestarian habitat tanaman dan
hewan.
h) Meningkatkan harkat petani sebagai produsen
serta memperbaiki lingkungan kerja yang aman
dan sehat.
Tindakan Budidaya SPO
Pengolahan tanah:
Prinsip : tanah adalah entitas yg hidup,
bukan sekedar sistem pendukung
kehidupan (Lovelock, 2002).
Dalam segenggam tanah terdapat :
125 juta bakteri, 100 juta fungi, 12,5 juta
algae, 7,5 juta mikro fauna, 100 serangga
& tungau, 250 nematoda, dan 25 ribu
colembolla.
O.k.i. dlm pengolahannya harus
berorientasi pada pelestarian sifat fisik
kimia biologi tanah, serta relief asli
lahan.
Sistem pengolahan tanah yang relevan
adalah :
+ PTM (minimum tillage)
+ TOT (zero tillage) atau TABELA
+ Sistem buruhan dangkal ( < 40 cm)
secara tradisional (TK manusia &/
hewan) dan tidak menggunakan
mekanisasi berat.
Pemupukan :
menambahkan pupuk organik alami ke
dalam tanah agar kondisi fisik, kimia &
biologi tanah dapat diperbaiki, sehingga
mendukung pertumbuhan dan hasil
tanaman yg diusahakan.
Jenis pupuk organik alami yang digunakan
:
+ Tanaman pupuk hijau (pada periode
bero): Calopogonium mu-conoides,
Centrosema pubescens, Vigna husei, dll.
+ Pupuk kandang, kompos, pupuk organik
cair (UH + probiotik), eksremen
hewan/manusia, pupuk an-organik alam
(guano, sal-peter chili, rock phosphat),
abu bakar, dsb.
Tabel VII.1. Kadar unsur hara dalam
berbagai pupuk kandang (%)
Jenis
Pupuk
Kandang
Kadar Unsur Hara :
N
P2
O5
K2
O
1. Kuda
1,
95
0,3
2
2,0
0
2. Kerbau
1,6
0
0,7
0
1,6
0
3. Sapi
1,4
0
0,7
0
1,6
0
4. Kambin
g
2,1
0,4
3
1,9
7
5. Babi
1,3
5
0,5
5
2,5
5
6. Ayam
1,0
0
0,8
0
0,4
0
Pengendalian OPT :
Prinsip :
+ Populasi patogen/hama tidak
dimusnahkan secara total, tapi
dikendalikan hingga batas Ambang
Ekonomi-nya.
+ Mengembangkan ekosistem pertanaman
agar dinamika po-pulasi antar komponen
seimbang.
+ Mencegah musnahnya biota berguna
bagi tanaman pokok maupun kondisi
tanah.
Pestisida yang digunakan ialah pestisida nabati,
serta peman-faatan agen hayati (mikroba
antagonis, parasitoid predator):
+ Insektisida : ekstrak bunga piretrum,
biji bengkuan, daun serai, akar tuba, biji
srikaya, daun nilam, kulit biji mete, dll.
+ Molusksida : ekstrak daun
sembung & patah tulang, akar tuba.
+ Repellent (penolak serangga) : daun
tembakau
+ Fungisida :
. ekstrak daun cengkih : menghambat
Fusarium spp.
.Thionella cylindrica (bunga karang)
sebagai antibiosis Fusarium dan Legendium sp.
. Agen hayati : jamur Beauveria bassiana,
Trichoderma sp., & Metarrizium sp.; bakteri
Pseudomonas florescens, B. subtilis.
Aplikasi ZPT :
+ Auxin alami : air kelapa (kinetin), kecambah, biji
jagung muda,
+ Gibberelin alami : jamur Gibberilla fujikuroi
Penggunaan Kultivar Lokal, berupa kultivar endemik atau
varietas unggul yang adapted .. lebih efisien dlm
pemanfaatan SDA yang ada di wilayah ybs.
Problematik SPO :
Kandungan UH pupuk organik rendah : . produksi
rendah dan sulit diterapkan untuk produksi pangan
yang bersifat strategis dan massal; . biaya produksi
lebih tinggi.
Hambatan OPT tidak sepenuhnya dapat diatasi
Dosis pupuk dan pestisida sulit ditetapkan secara tepat.
D. LEISA
Prinsip Dasar (FAO, 1996) :
1. Penggunaan sumber daya lokal yang tersedia.
2. Penggunaan input eksternal yang efisien, bersifat
melengkapi dan memperbaiki teknologi budidaya.
3. Tujuan budidaya bukan untuk memperoleh produksi
maksimal dalam jangka pendek, tetapi mengacu pada
produksi yang stabil dan berkelanjutan (long lasting
production).
4. Memelihara dan jika mungkin meningkatkan
kemampuan SDA.
5. Produksi tidak hanya untuk pasar, tetapi juga
memanfaatkan kembali (mendaur ulang) nutrisi dari
pasar ke lahan.
6. Dalam mengembangkan pertanian berwawasan
lingkungan (Ecological Agriculture), LEISA tidak
hanya memperbaiki ekosistem tanaman tetapi juga
status sosial ekonomi dari SDM petani marginal
(miskin).
7. Merancang teknologi tepat guna, dengan mengacu
pada kon-disi biogeofisik wilayah, sosial ekonomi
dan teknik budidaya setempat.
8. Penerapan teknik budidaya harus menyeluruh dan
terpadu (tidak sepotong-potong seperti mulsa atau
pemupukan saja).
9. Pengelolaan lahan melibatkan petani setempat yang
terdiri atas keluarga-keluarga (bukan individu). .
Com. / Corp. Farming.
10. Memantapkan sistem informasi dasar yg
terdesentralisasi dan terintegrasi dengan
komunitas petani setempat.
11. Petani dilatih memahami dan membuat
perencanaan berdasar-kan kondisi ekosistem
pertanian di wilayahnya (termasuk sosio
ekologisnya). . Pendekatan PRA.
12. Pemanfaatan Agroecozone utk menentukan
tindakan-tindakan budidaya yang tepat.
13. Penghargaan dan pemanfaatan indigenuous
knowledge (IK) atau pengetahuan asli, atau
Local Wisdom.