Anda di halaman 1dari 3

satriyo has posted a new reply. Turn off e-mail alerts for this post.

Oct 7, '05 2:41


K.H. Ahmad Dahlan: Reformis dan Pembaharu Ajaran
AM
Agama
for everyone
“Semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi
Muhammad”, itulah ajaran utama dari K.H.
Ahmad Dahlan. Ajaran ini terus dipegang oleh anggota Muhammadiyah sampai
sekarang. Ini juga reformasi yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan terhadap
ajaran agama yang berlangsung saat itu di Jawa. Oleh karena itulah Ahmad
Dahlan mengatakan ziarah kubur dan meminta kepada kuburan dilarang.

Ahmad Dahlan juga melarang penyembahan dan perlakuan yang berlebihan


terhadap pusaka-pusaka keraton seperti keris, kereta kuda, dan tombak tapi
pihak keraton tetap saja melakukan. Ahmad Dahlan juga hendak membetulkan
arah kiblat di Masjid Keraton tapi pihak keraton menolak.

Ahmad Dahlan lalu berhenti dari pekerjaannya sebagai ‘ketib’ (khatib) keraton.
Dahlan juga mereformasi sistem pendidikan pesantren yang menurutnya tidak
jelas jenjangnya dan tidak efektif metodenya karena mengutamakan menghafal
serta tidak merespons ilmu pengetahuan umum, Dahlan juga memurnikan
agama Islam dari percampurannya dengan agama Hindu, Budha, animisme,
dinamisme, dan kejawen.

Karena gerakan reformasinya Ahmad Dahlan juga sering diteror seperti diancam
dibunuh, rumahnya dilempari batu dan kotoran binatang. Tapi Ahmad Dahlan
Maju terus pantang mundur, ia merasa beginilah resiko pejuang reformasi atau
dalam bahasa Arabnya disebut Mushlih (dari akar katanya Ishlah) atau
pembaharu ajaran agama yang dalam bahasa Arabnya disebut Mujaddid.
Sebenarnya siapakah Ahmad Dahlan yang pemberani dan keras kepala dalam
menegakkan kebenaran ini?

Ahmad Dahlan dilahirkan di daerah Kauman kota Yogyakarta dengan nama


Muhammad Darwis pada tahun 1869, sumber lain mengatakan tahun 1868.
Memang kelahiran Ahmad Dahlan agak gelap tanggal pastinyapun tidak terlacak.
Okelah kita tidak mempermasalahkan kelahirannya melainkan karyanya.
Organisasi yang dia dirikan yaitu Muhammadiyah sekarang menjadi maju dan
menjadi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia dari segi
anggotanya.

Ahmad Dahlan adalah anak seorang kyai tradisional yaitu K.H. Abu Bakar bin
Kyai Sulaiman, seorang khatib di Masjid Sultan di kota itu. Ibunya Siti Aminah
adalah anak Haji Ibrahim, seorang penghulu. Ahmad Dahlan adalah anak
keempat dari tujuh bersaudara.

Sebagaimana anak seorang kyai pada masa itu pemuda Darwis juga menimba
ilmu ke banyak kyai. Ia belajar ilmu fikih kepada KH Muhammad Shaleh, ilmu
Nahwu-Sharaf (tata bahasa) kepada KH Muhsin, ilmu falak (astronomi) kepada
KH Raden Dahlan, ilmu hadis kepada kyai Mahfud dan Syekh KH Ayyat, ilmu Al
Qur-an kepada Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock, dan ilmu pengobatan dan
racun binatang kepada Syekh Hasan.

Ia juga pernah sekamar dengan KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU) ketika beguru
kepada KH Sholeh Darat di Semarang. Berarti juga Ahmad Dahlan, Hasyim
Asy’ari, dan RA Kartini satu guru satu ilmu yaitu KH Sholeh Darat. Berarti
gerakan Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama dan Gerakan Feminis berasal dari
satu guru.
Sebagaimana gerakan Islam, Nasionalis, dan Komunis berasal dari satu guru
yaitu HOS Tjokroaminoto.

Ketika berumur 21 tahun (1890), KH Ahmad Dahlan pergi ke tanah suci Mekkah
untuk naik haji dan menuntut ilmu di sana. Ia belajar selama setahun. Salah
seorang gurunya adalah Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.
Dahlan satu guru satu ilmu lagi dengan KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU). Ia juga
satu guru dengan Haji Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka) dan Syekh
Muhammad Djamil Djambek. Kedua orang ini adalah pendiri gerakan “Kaoem
Moeda” di Sumatra Barat. Haji Agus Salim juga berguru pada Syekh Ahmad
Khatib. Agus Salim nantinya menjadi wakil ketua Sarekat Islam dan Pembina
Jong Islamieten Bond. Jadi seluruh gerakan Islam di Indonesia yang menjadi
mainstream sumbernya satu yaitu Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi yang
menjadi Imam Masjidil Haram di Mekkah.

Dari Ahmad Khatib inilah Dahlan berkenalan dengan pemikiran trio pembaharu
dan Reformis Islam dari Timur Tengah yaitu Sayid Jamaluddin Al Afghani, Syekh
Muhammad Abduh, dan Syekh Muhammad Rasyid Ridha.
Akhirnya Dahlan membawa gerakan Reformasi ini ke Indonesia.

Dahlan mulai mengintrodusir cita-cita reformasinya itu mulanya dengan mencoba


mengubah arah kiblat di Masjid Sultan di Keraton Yogyakarta ke arah yang
sebenarnya yaitu Barat Laut (sebelumnya ke Barat). Dahlan juga memperbaiki
kondisi higienis di daerah Kauman bersama kawan-kawannya.

Perubahan-perubahan ini, walaupun bagi kita sekarang sangat kecil artinya,


memperlihatkan kesadaran Dahlan tentang perlunya membuang kebiasaan-
kebiasaan yang tidak baik dan yang menurut pendapatnya memang tidak sesuai
dengan ajaran Islam. Jadi ia ingin membersihkan Islam dan umat Islam baik
secara fisik (dengan membuat higienis kampungnya) maupun mental spiritual
(dengan memberantas tradisi yang bercampur dengan ajaran Hindu, Budha,
Animisme, Dinamisme, dan kebatinan).

Ahmad Dahlan berhasil membangun mushala yang tepat mengarah ke kiblat.


Tapi ia gagal dalam mengubah posisi kiblat di masjid Sultan di Yogyakarta. Ia
kecewa dan ingin meninggalkan kota kelahirannya tersebut. Tetapi salah
seorang keluarganya menghalangi maksudnya itu dengan membangun sebuah
langgar
(mushala) yang lain, dengan jaminan bahwa ia dapat mengajarkan dan
mempraktekkan ajaran agama dan keyakinannya berdasarkan interpretasinya di
sana.

Dalam tahun 1909, ia masuk Boedi Oetomo dengan maksud mengajarkan


agama kepada para anggotanya.
Pelajaran-pelajaran yang diberikan Dahlan kelihatannya memenuhi harapan dan
keperluan anggota-anggota Boedi Oetomo tadi. Sebagai bukti, mereka
menyarankan agar Dahlan membuka sekolah sendiri yang diatur dengan rapi
dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen untuk menghindarkan
nasib seperti pesantren tradisional yang terpaksa ditutup bila kyai yang
bersangkutan meninggal dunia. Dahlan menuruti saran itu. Ia mendirikan
Muhammadiyah dan keluar dari Boedi Oetomo. Demikianlah kisah K.H.
Ahmad Dahlan dan awal mula berdirinya organisasi yang nantinya menjadi
organisasi massa Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Semoga bisa
menjadi pelajaran berharga. Wallahu A’lam Bish Shawab.

Agung Pribadi

Sejarawan, Peneliti di Yayasan Harkat Bangsa


Tags: biografi
Prev: Tentang Cinta
Next: RA Kartini: Memberontak dari Tradisi tapi Menyerah pada Tradisi
reply share