Anda di halaman 1dari 28

IKATAN HIDROGEN DAN APLIKASINYA SEBAGAI ROMPI ANTI PELURU

Makalah
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ikatan Kimia









KELOMPOK 3
Ridhia Haffiyani (1111096000014)
Syahrullah (1111096000016)
M. Didik Setyawan (1111096000019)
Dea Justina (1111096000025)
Annisa Fasya (1111096000027)

PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014 M
i

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Makalah ikatan kimia yang berjudul Ikatan Hidrogen dan
aplikasinya sebagai rompi anti peluru. Makalah ini disusun untuk memenuhi
salah satu tugas pada mata kuliah Ikatan Kimia.
Dalam pelaksanaan penyusunan makalah ini, penulis mendapat banyak
bantuan, bimbingan, dan arahan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu dalam
kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus
kepada:
1. Keluarga tercinta yang telah membantu penulis dengan Doa dan
dukungan dalam berbagai hal.
2. Bapak Dede Sukandar M.Si selaku Dosen Pada Mata kuliah Kimia Bahan
Alam.
3. Rekan-rekan senasib dan seperjuangan yang telah memberikan bantuan,
masukan, kritikan dan saran-saran.
Semoga arahan, motivasi, dan bantuan yang telah diberikan menjadi amal
ibadah bagi keluarga, bapak, dan rekan-rekan, sehingga memperoleh balasan yang
lebih baik dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun untuk kesempurnaan makalah atau tulisan penulis berikutnya.
ii

Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca serta dapat dijadikan sebagai
sumbangan pikiran untuk perkembangan pendidikan khususnya dibidang Ikatan
Kimia.

Ciputat, Desember 2014

Penulis











iii

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ....................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Tujuan ........................................................................................... 2
BAB II. PEMBAHASAN .................................................................................. 3
2.1 Definisi Ikatan Hidrogen .............................................................. 3
2.2 Sifat Umum .................................................................................. 4
2.3 Klasifikasi Ikatan Hidrogen .......................................................... 5
2.4 Pengaruh Ikatan Hidrogen Terhadap Sifat Fisik .......................... 7
2.5 Proses Terjadinya Ikatan Hidrogen .............................................. 9
2.6 Contoh Ikatan Hidrogen ............................................................... 9
2.7 Aplikasi Ikatan Hidrogen.............................................................. 16
BAB III. PENUTUP .......................................................................................... 23
3.1 Kesimpulan ................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 24






1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Semua zat pada dasarnya terdiri dari atom-atom. Dialam terdapat 92 jenis
atom (sesuai dengan jenis unsur alam. Atom-atom sejenis bergabung membentuk
molekul unsur, sementara atom-atom yang berbeda jenis bergabung membentuk
molekul senyawa pembentukan molekul-molekul ini terjadi karena adanya ikatan
melalui gaya tarik menarik antar molekul-molekul tersebut.
Dalam kimia, ikatan hidrogen adalah sejenis gaya tarik antarmolekul yang
terjadi antara dua muatan listrik parsial dengan polaritas yang berlawanan.
Walaupun lebih kuat dari gaya antarmolekul lainnya, ikatan hidrogen jauh lebih
lemah dari ikatan kovalen dan ikatan ion. Dalam makromolekul seperti protein
dan asam nukleat, ikatan ini dapat terjadi antara dua bagian dari molekul yang
sama. dan berperan sebagai penentu bentuk molekul keseluruhan yang penting.
Ikatan hidrogen terjadi ketika sebuah molekul memiliki atom N, O, atau F
yang mempunyai pasangan elektron bebas (lone pair electron). Hidrogen dari
molekul lain akan berinteraksi dengan pasangan elektron bebas ini membentuk
suatu ikatan hidrogen dengan besar ikatan bervariasi mulai dari yang lemah (1-2
kJ mol
-1
) hingga tinggi (>155 kJ mol
-1
).
Kekuatan ikatan hidrogen ini dipengaruhi oleh perbedaan elektronegativitas
antara atom-atom dalam molekul tersebut. Semakin besar perbedaannya, semakin
2

besar ikatan hidrogen yang terbentuk. Ikatan hidrogen memengaruhi titik didih
suatu senyawa. Semakin besar ikatan hidrogennya, semakin tinggi titik didihnya.
Namun, khusus pada air (H
2
O), terjadi dua ikatan hidrogen pada tiap molekulnya.
Akibatnya jumlah total ikatan hidrogennya lebih besar daripada asam florida (HF)
yang seharusnya memiliki ikatan hidrogen terbesar (karena paling tinggi
perbedaan elektronegativitasnya) sehingga titik didih air lebih tinggi daripada
asam florida.

1.2 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui sifat-sifat dan
proses pembentukan ikatan hidrogen dalam suatu molekul dan contohnya. Selain
itu, untuk mengetahui aplikasinya sebagai sebagai rompi anti peluru.








3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Ikatan Hidrogen
Ikatan Hidrogen merupakan ikatan antar molekul yang memiliki atom H
yang terikat pada atom yang memiliki keelektronegatifitas yang tinggi seperti N,
O dan F.

Gambar 1. Tabel Elektronegatifitas unsur
Ikatan Hidrogen juga dapat didefinisikan sebagai sejenis gaya tarik antar
molekul terjadi antara dua muatan listrik parsial dengan polaritas yang
berlawanan. Walaupun lebih kuat dari kebanyakan gaya antarmolekul, ikatan
hidrogen jauh lebih lemah dari ikatan kovalen dan ikatan ion. Ikatan hidrogen
seperti interaksi dipol-dipol dari Van der Waals. Perbedaannya adalah muatan
parsial positifnya berasal dari sebuah atom hidrogen dalam sebuah molekul.
Sedangkan muatan parsial negatifnya berasal dari sebuah molekul yang dibangun
oleh atom yang memiliki elektronegatifitas yang besar, seperti atom Flor (F),
4

Oksigen (O), Nitrogen (N). Muatan parsial negatif tersebut berasal dari pasangan
elektron bebas yang dimilikinya.

2.2 Sifat Umum
Tarikan antar molekul yang luar biasa kuatnya, dapat terjadi antara
molekul-molekul, jika satu molekul mempunyai sebuah atom hidrogen yang
terikat pada sebuah atom berelektronegatifavitas besar dan molekul sebelahnya
mempunyai sebuah atom berelektronegativitas tinggi yang mempunyai sepasang
elektron menyendiri.
Adapun kekuatan ikatan hidrogen ini dipengaruhi oleh perbedaan
elektronegativitas antara atom-atom dalam molekul tersebut. Semakin besar
perbedaannya, semakin besar ikatan hidrogen yang terbentuk. Contoh senyawa
yang mempunyai ikatan hidrogen adalah HF, H
2
O dan NH
3
.

Gambar 2. Ikatan hidrogen pada HF, H
2
0 dan NH
3

Hidrogen tertarik secara langsung pada salah satu unsur yang paling
elektronegatif, menyebabkan hidrogen memperoleh jumlah muatan positif yang
signifikan. Tiap-tiap unsur yang membuat hidrogen tertarik padanya tidak hanya
5

negatif secara signifikan, tetapi juga memiliki sedikitnya satu pasangan elektron
bebas yang aktif.
Dalam wujud cair, ikatan hidrogen antara satu molekul H
2
O dengan
molekul H
2
O yang lain mudah putus, akibat gerak termal atom-atom H dan O.
Namun, dapat tersambung dengan molekul H
2
O yang letaknya relatif lebih jauh.
Sedangkan dalam wujud padat, ikatan hidrogennya lebih stabil karena energi
termalnya lebih rendah dari energi ikat hidrogen, contohnya kristal es (suhunya
lebih rendah).

2.3 Klasifikasi Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen dapat terjadi intermolekul dan intramolekul. Jika ikatan
hidrogen terjadi diantara molekul-molekul yang berbeda maka disebut ikatan
hidrogen intermolekul atau antar molekul, seperti senyawa 1,4-dihidroksi
benzena. Sedangkan jika ikatan hidrogen terjadi antara atom-atom dalam molekul
yang sama maka disebut ikatan hidrogen intramolekul atau didalam
molekul,seperti senyawa 1,2-dihidroksi benzena.

6


Gambar 3. Struktur molekul 1,4-dihidroksi benzena dan 1,4-dihidroksi benzena
Letak gugus hidroksi (OH) 1,4-dihidroksi benzena saling berjauhan sehingga
tidak memiliki ikatan hidrogen intramolekul. Berbeda halnya dengan Senyawa
1,2-dihidroksi benzena yang memiliki ikatan hidrogen intramolekul karena atom
H dan atom O letaknya berdekatan dalam satu molekul.

2.3.1 Ikatan Hidrogen Intramolekuler
yaitu ikatan hidrogen yang terjadi pada satu molekul (dalam satu
senyawa). Contohnya molekul air (H
2
O), dalam air terdapat ikatan hidrogen
sejumlah pasangan elektron bebas pada pusat senyawa.

Gambar 4. Ikatan hidrogen yang terbentuk dalam senyawa air (H
2
O).
7

2.3.2 Ikatan Hidrogen Intermolekuler
ikatan hidrogen yang terjadi pada molekul yang berbada (antar molekul).
Contohnya reaksi antara H
2
O dengan Cl
-
(aq)
terdapat beberapa ikatan hidrogen
yang terjadi antar molekul, yaitu H
+
dan Cl
-
sebanyak pasangan elektron bebas
disekitar ion Cl. (4 pasang elektronbebas)

Gambar 5. Ikatan hidrogen yang terbentuk melalui ikatan intermolekular
(antarmolekul).

2.4 Pengaruh Ikatan Hidrogen Terhadap Sifat Fisik Suatu Senyawa
Ikatan hidrogen mempengaruhi titik didih suatu senyawa. Semakin banyak
ikatan hidrogennya, maka semakin tinggi titik didihnya. Namun, khusus pada air
(H
2
O), terjadi dua ikatan hidrogen pada tiap molekulnya. Akibatnya jumlah total
ikatan hidrogennya lebih besar daripad asam florida (HF) yang seharusnya
memiliki ikatan hidrogen terbesar (karena paling tinggi perbedaan
elektronegativitasnya) sehingga titik didih air lebih tinggi daripada asam florida.
8

2.4.1 Ikatan Hidrogen dan Kelarutan
Ikatan hidrogen tidak hanya berpengaruh pada titik didih dan titk leleh
suatu zat tetapi juga kalarutannya dalam suatu pelarut. Senyawa yang berikatan
hidrogen mudah larut dalam senyawa lain yang juga berikatan hidrogen.
Contohnya NH
3
dalam H
2
O seperti pada gambar 6.

Gambar 6. Ikatan hidrogen antara NH
3
dengan air
Senyawa organik-alkohol, asam karboksilat, amina, glukosa-larut dalam air
karena membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air.

Gambar 7. Ikatan hidrogen antarmolekul etanol dengan air
Senyawa yang memiliki ikatan hidrogen akan memilih titik didih lebih tinggi
daripada molekul yang memiliki ikatan Van der Waals atau gaya tarik dipol-dipol.
9

2.5 Proses Terjadinya Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen pada suatu molekul terjadi karena adanya gaya
elektrostatik antarmolekul yang saling berikatan. Ikatan tersebut terbentuk dari
interaksi antarmolekul senyawa kovalen polar yang memiliki nilai
keelektronegatifan (momen dipol) yang besar antara hidrogen dengan unsur yang
berikatan dengannya. Ikatan hidrogen tersebut dapat terjadi pada senyawa-
senyawa yang memiliki gugus NH- atau -OH pada senyawa-senyawa organik
yaitu golongan-golongan amina dan alkolhol (Yossy dan Muhammad, 2005).

2.6 Contoh Ikatan Hidrogen
2.6.1 Ikatan Hidrogen Pada Air
Harus diperhatikan bahwa tiap molekul air dapat berpotensi
membentuk empat ikatan hidrogen dengan molekul air disekelilingnya.
Terdapat jumlah hidrogen + yang pasti dan pasangan mandiri karena itu tiap
masing-masing molekul air dapat terlibat dalam ikatan hidrogen. Hal inilah
yang menjadi sebab kenapa titik didih air lebih tinggi dibandingkan amonia
atau hidrogen fluorida. Pada kasus amonia, jumlah ikatan hidrogen dibatasi
oleh fakta bahwa tiap atom nitrogen hanya mempunyai satu pasang elektron
mandiri. Pada golongan molekul amonia, tidak terdapat cukup pasangan
mandiri untuk mengelilinginya untuk memuaskan semua hidrogen. Pada
hidrogen fluorida, masalah yang muncul adalah kekurangan hidrogen. Pada
molekul air, hal itu terpenuhi dengan baik. Air dapat digambarkan sebagai
sistem ikatan hidrogen yang sempurna (Syarifudin, 1994).
10


Gambar 8. Contoh yang Lebih Kompleks dari Ikatan Hidrogen
Ketika sebuah substansi ionik dialrutkan dalam air, molekul air
berkelompok disekeliling ion yang terpisah. Proses ini disebut hidrasi.Air
seringkali terikat pada ion positif melalui ikatan koordinasi (kovalendativ). Air
berikatan dengan ion negatif menggunakan ikatan hidrogen. Gambar 9.
menunjukkan potensi terbentuknya ikatan hidrogen pada ionklorida, Cl-.
Meskipun pasangan mandiri pada ion klor terletak padatingkat-3 dan secara
normal tidak akan cukup aktif utnuk membentukikatan hidrogen, pada kasus
ini mereka terbentuk lebih atraktif melaluimuatan negatif penuh pada klor
(Chang, 2005).

Gambar 9. Ikatan Hidrogen pada Klorida
11

Meskipun ion negatif rumit, hal itu akan selalu menjadi pasangan
mandiri yang mana atom hidrogen dari molekul air dapat membentuk ikatan
hidrogen juga (Yossy dan Muhammad, 2005).

2.6.2 Ikatan Hidrogen Pada Alkohol
Alkohol adalah molekul organik yang mengandung gugus -OH. Setiap
molekul yang memiliki atom hidrogen tertarik secara langsung ke oksigen atau
nitrogen adalah ikatan hidrogen yang cakap. Seperti molekul yang akan selalu
memiliki titik didih yang tinggi dibandingkan molekul yang berukuran hampir
sama yang mengandung gugus -OH atau NH. Ikatan hidrogen membuat
molekul lebih melekat (stickier), dan memerlukan lebih banyak energi kalor
untuk memisahkannya. Etanol, CH
3
CH
2
-O-H, dan metoksimetana, CH
3
-O-
CH
3
, keduanya memiliki rumus molekul yang sama, C
2
H
6
O (Thomas, 2002).
Ethanol CH
3
CH
2
OH BUAT
MOLEKULNYA CIL
Methoxymetana CH
3
OCH
3


Keduanya memiliki jumlah elektron yang sama, dan panjangmolekul
yang sama. Daya tarik van der Waals (baik antara gaya dispersi dan daya tarik
dipol-dipol) pada keduanya akan sama. Bagaimanapun, etanol memiliki atom
hirogen yang tertarik secara langsung pada oksigen dan oksigen tersebut masih
memiliki dua pasangan mandiri seperti pada molekul air. Ikatan hidrogen dapat
12

terjadi antara molekul etanol, meskipun tidak seefektif pada air. Ikatan
hidrogen terbatas oleh fakta bahwa hanya ada satu atom hidrogen pada tiap
molekul etanol dengan cukup muatan positif (Yossy dan Muhammad, 2005).
Alkohol seperti juga air , membentuk asosiasi molekul dengan ikatan hidrogen

Gambar 10. Ikatan Hidrogen Intramolekul Dalam Etanol dan Intermolekul
Antara Etanol Dengan Air.
Pada metoksimetana, pasangan mandiri pada oksigen masih terdapat
disana, tetapi hidrogen tidak cukup + untuk pembentukan ikatan hidrogen.
Kecuali pada beberapa kasus yang tidak biasa, atom hidrogen tertarik secara
langsung pada atom yang sangat elektronegatif untuk menjadikan ikatan
hidrogen. Titik didih etanol dan metoksimetana menunjukkan pengaruh yang
dramatis bahwa ikatan hidrogen lebih melekat pada molekul etanol (Chang,
2005).
Ikatan hidrogen pada etanol menghasilkan titik didih sekitar100C.
Sangat penting untuk merealisasikan bahwa ikatan hidrogen eksis pada
penambahan (in addition) dayatarik van der Waals. Sebagai contoh, semua
13

molekul berikut ini mengandung jumlah elektron yang sama, dan dua yang
pertama memiliki panjang yang sama. Titik didih yang paling tinggi butan-1-ol
berdasarkan pada penambahan ikatan hidrogen (Yossy dan Muhammad, 2005).
Pentana CH
3
CH
2
CH
2
CH
2
CH
3
36,3
o
C
Butan-1-ol CH
3
CH
2
CH
2
CH
2
OH 117
o
C
2-metilpropan-1-ol CH
3
CHCH
2
OH
CH
3

108
o
C
Tabel 1. Pengaruh Ikatan Hidrogen pada Titik Didih Alkohol
Dengan membandingkan dua alkohol (yang mengandung gugus -OH),
kedua titik didih adalah tinggi karena penambahan ikatan hidrogen berdasarkan
pada tertariknya hidrogen secara langsung pada oksigen tetapi sebenarnya tidak
sama. Titik didih 2-metilproan-1-ol tidak cukup tinggi seperti butan-1-ol
karena percabangan pada molekul menjadikan dayatarik van der Waals kurang
efektif dibandingkan pada butan-1-ol yang lebih panjang.

2.6.3 Ikatan Hidrogen Pada Molekul Organik Yang Mengandung
Nitrogen
Ikatan hidrogen juga terjadi pada molekul organik yangmengandung
gugus N-H pendeknya terjadi juga ada amonia. Contohnya adalah molekul
sederhana seperti CH
3
NH
2
(metilamin) sampai molekul yang panjang seperti
protein dan DNA. Dua untai double helix yang terkenal pada DNA berikatan
14

satu sama lain melalui ikatan hidrogen antara atom hidrogen yang tertarik oleh
nitrogen pada salah satu untai, dan pasangan mandiri pada nitrogen atau
oksigen yang lain yang terletak pada untai yang lain (Thomas, 2002).
Amina-amina primer dan sekunder membentuk ikatan hidrogen ,sedang
amina tersier tidak, karena tidak lagi mempunyai atom H di atom N-nya. Titik
didih dimetil amina (7
o
C ) lebih tinggi daripada Trimetil Amina (4
o
C) (Yossy
dan Muhammad, 2005).
2.6.4 Ikatan Hidrogen Dalam Protein Dan Asam Nukleat
Protein tersusun dari satuan-satuan dasar asam amino. R dapat
berupagugus metil CH3- , seperti dalam alanin atau gugus yang lebih sulit,
seperti:
C
H
COOH
CH
2 CH
2
S CH
3
H
2
N

C
CH
3
COOH
H
HN
2

Gambar 11. Ikatan Hidrogen pada Asam Amino
Gugus -NH
2
berikatan dengan gugus COOH dari molekul asam amino
yang lain, dengan membentuk ikatan peptida:

Gambar 12. Ikatan Peptida
15

Dua asam amino dapat membentuk dipeptida, tiga asam
membentuktripeptida, dan seterusnya. Protein adalah polipeptida dengan
beratus-ratus ikatan peptida. Protein berbeda-beda tergantung dari panjangnya
rantai dan bentuk rantainya. Ikatan-ikatan melintang terjadi bila dalam molekul
terdapat atom S: -S S - . Dalam molekul protein terdapat banyak sekali
ikatanikatan hidrogen yaitu antara gugus NH - - - O = C (Mulyani, 2000).
Ikatan hidrogen juga terdapat dalam asam nukleat, misalnya DNA
(deoxyribonucleicacid). Asam nukleat DNA tersusun dari satuan H
3
PO
4
,
deoksiribose dan basa purin (adenin dan guanin) atau pirimidin (sitosin dan
timin) (Thomas, 2002).
Tiap asam fosfat, deoksiribose dan satu basa, membentuk nukleotida,
misalnya: deoksitimidin 5 fosfat.
C
HC
C
H
N
C
H
N
CH
O
OH
CH
2
O
P OH OH
O

Gambar 13. Nukleotida
Nukleotida ini ini saling berikatan melalui gugusan fosfat, hingga
terbentuk molekul yang besar, yaitu asam nukleat. Basa satu dengan basa lain,
berikatan dengan ikatan hidrogen, namun adenin hanya dapat berikatan dengan
timin, dan guanin dengan sitosin.
16


Gambar 14. Ikatan Hidrogen pada DNA

2.7 Aplikasi Ikatan Hidrogen
2.7.1 Pengertian Kevlar dan Sejarah
Material ini ditemukan tahun 1964, oleh Stephanie Kwolek, seorang ahli
kimia berkebangsaan Amerika, yang bekerja sebagai peneliti pada perusahaan
DuPont. Aramid adalah kependekan dari kata aromatic polyamide. Aramid
memiliki struktur yang kuat, alot (tough), memiliki sifat peredam yang bagus
(vibration damping) , tahan terhadap asam (acid) dan basa (leach) dan selain itu
dapat menahan panas hingga 370C,sehingga tidak mudah terbakar.Karena
sifatnya yang demikian, aramid juga digunakan di bidang pesawat terbang, tank,
dan antariksa (roket). Produk yang dipasarkan dikenal dengan nama Kevlar.
Kevlar memiliki berat yang ringan, tapi 5 kali lebih kuat dibandingkan besi.

17


Gambar 15. Stephanie Kwolek

2.7.2 Struktur Kevlar
Kevlar adalah salah satu tipe aramida, yang terdiri dari rantai panjang
polimer dengan orientasi paralel. Aramida sendiri merupakan suatu serat sintetik
yang berupa rantai panjang poliamida sintetik dengan paling sedikit 85 persen
sambungan amidanya menempel secara langsung pada dua rantai aromatik (gugus
amida dan gugus aromatik berselang-seling). Kekuatan kevlar diperoleh dari
ikatan hidrogen intra-molekuler dan interaksi tumpukan aromatik-aromatik antar
lembaran. Interaksi-interaksi ini lebih kuat dari pada interaksi Van der Waals yang
terdapat dalam polimer-polimer sintetik lain dan serat-serat seperti dyneema (serat
yang terbuat dari rantai polietilena yang sangat panjang, yang tersusun searah).
Keberadaan garam-garam dan impuritis lain, biasanya kalsium, dapat
mengganggu interaksi pada lembaran polimer dan harus dihilangkan dalam proses
produksi. Kevlar terdiri dari molekul-molekul yang relatif rigid, yang membentuk
struktur seperti lembaran-lembaran datar pada protein sutra.
Serat Kevlar termasuk kelompok serat poliarnida yang mempunyai berat
jenis 1,44 dan mempunyai kekuatan tarik (tensile strength) kurang lebih 3620
18

MPa. Polimer Kevlar mempunyai gugus amida dan oksigen secara beraturan
sehingga dapat menciptakan ikatan-ikatan hidrogen yang teratur.
Pada polimer kevlar, terjadi cross linking berupa ikatan hidrogen yang
mengakibatkan kevlar menjadi sangat kuat.

Gambar 16. Stuktur molekul Kevlar: Bagian bergaris tebal merupakan unit
monomer, garis-garis menunjukan ikatan hidrogen

2.7.3 Sifat-sifat Kevlar
Kevlar merupakan serat berwarna kuning yang keras, kasar, anti gores, dan
memiliki kestabilan bentuk yang tinggi. Kevlar memiliki massa jenis 1,44 g/cm3,
kekuatan tegangan (tensile strength) 3,6 4,1 Gpa. Sebagai perbandingan, baja yang
memiliki massa jenis 7,8 g/cm3 memiliki tensile strength 1,65 GPa.
Kevlar tahan terhadap api, memiliki kalor pembakaran 35x10
6
J/Kg dan
kalor jenis 1400 J/Kg K. Kevlar tahan terhadap temperatur yang sangat tinggi.
Kevlar tidak memiliki titik lebur, pada temperatur 427
o
C akan terdekomposisi
menjadi gas. Kekuatan kevlar semakin besar pada temperatur yang rendah. Pada
19

temperatur yang tinggi kekuatan kevlar menurun, seperti pada temperatur 160
o
C
kekuatan kevlar menurun 10% setelah 500 jam, dan pada temperatur 260
o
C
kekuatan kevlar menurun 50% setelah 70 jam.

2.7.4 Sintesis Kevlar
Secara umum, kevlar disintesis melalui reaksi polikondensasi antara
tereftaloil klorida dan p-fenilenadiamina. Reaksi ini merupakan reaksi interfacial
polymerization , yaitu polimerisasi yang membutuhkan dua macam pelarut yang
tidak saling bercampur. Monomer dalam pelarut pertama akan bereaksi dengan
monomer lain pada pelarut kedua. Reaksi polimerisasi ini terjadi dalam waktu
yang sangat cepat. Hasil samping yang diperoleh adalah asam klorida.
Gambar 17. reaksi polikondensasi antara tereftaloil klorida dan p-
fenilenadiamina
Kevlar pertama kali disintesis oleh S. L. Kwolek, P. W. Morgan, dan W.
R. Gorenson, dipatenkan dalam U. S. Patent No. 3,063,966 (1962.). Bahan-bahan
yang mereka gunakan adalah :

Tabel 2. Bahan-bahan yang digunakan untuk sintesis kevlar
20

Langkah sintesis yang dilakukan adalah sebagai berikut: Pada awalnya
diamina dilarutkan dalam campuran pelarut heksametilfosforamida (HMPA) dan
dimetilasetamida (DMAC) (2:1) dalam suatu ketel yang disertai dengan pengaduk
dan nitrogen inlet atau ceruk nitrogen. Lalu campuran didinginkan hingga 3
o
C
dengan penangas es. Setelah itu serbuk tereftaloil klorida ditambahkan dan segera
diaduk dengan cepat. Reaksi tersebut menghasilkan cairan pasta yang kental, lalu
cairan tersebut dibiarkan selama satu malam. Campuran kemudian diaduk dengan
blender untuk memisahkan pelarut, dan polimer yang terbentuk lalu disaring dan
dikeringkan hingga diperoleh berat yang konstan. Sintesis juga dapat dilakukan
dengan variasi pelarut yang lain yaitu mengganti dimetilasetamida (DMAC)
dengan N-methyl pyrrolidone (NMP) atau tetrahidrofuran (THF). Kevlar yang
terbentuk dari proses sintesis di atas merupakan Kevlar dengan susunan acak
sehingga masih belum bisa dimanfaatkan. Untuk dapat digunakan, bahan dasar
kevlar yang terbentuk harus dipintal (spun) terlebih dahulu melalui proses wet
spinning dengan menggunakan spinneret yaitu sebuah alat untuk menghasilkan
serat yang panjang, tipis, dan kuat. Sebelum dipintal, kevlar dilarutkan dahulu
dalam asam sulfat anhidrat 100%. Proses inilah yang mengakibatkan biaya
produksi kevlar menjadi sangat mahal. Reaksi sintesis kevlar akan terhambat
dengan adanya air, karena dapat menghidrolisis monomer tereftaloil klorida
sehingga akan terjadi terminasi pertumbuhan rantai.
Sebagai suatu catatan, pada umumnya reaksi polikondensasi berlangsung
selama berjam-jam, karena merupakan reaksi yang bertahap (stepwise chain
reaction). Namun pada reaksi polikondensasi kevlar, hampir semua monomer
telah bereaksi setelah 50 detik, dan koagulasi terjadi setelah 330 detik (6,5 menit).
21

Reaksi koagulasi terus berlanjut hingga 8 jam.

2.7.5 Prinsip Kerja
Prinsip kerjanya adalah dengan mengurangi sebanyak mungkin lontaran
energi kinetik peluru, dengan cara menggunakan lapisan-lapisan kevlar untuk
menyerap energi laju tersebut dan memecahnya kepenampang baju yang luas,
sehingga energi tersebut tidak cukup lagi untuk membuat peluru dapat menembus
baju. Analoginya seperti laju bola yang dapat ditahan oleh jaring gawang. Jaring
gawang terdiri dari rangkaian tali yang saling terhubung satu sama lain. Apabila
bola tertangkap oleh jaring gawang, maka energi laju (kinetik) bola tersebut akan
diserap oleh jaring gawang, yang menyebabkan tali disekitarnya bertambah
panjang (extend) dan kemudian tekanan (tarikan) tali akan dialirkan ke tiang
gawang. Dalam menyerap laju energi peluru, baju (kevlar) mengalami deformasi
yang menekan ke arah dalam (shock wave), tekanan kedalam ini akan diteruskan
sehingga mengenai tubuh pengguna. Batas maksimal penekanan kedalam
tidak boleh lebih dari 4,4 cm (44 mm). Jika batasan tersebut dilewati, maka
pengguna baju akan mengalami luka dalam (internal organs injuries), yang
tentunya akan membahayakan keselamatan jiwa
22


Tabel 3.Hubungan waktu reaksi dengan viskositas
Pada awal proses pencampuran, temperatur yang rendah dibutuhkan
untuk reaksi polikondensasi. Namun setelah campuran mengental, tidak lagi
dibutuhkan temperatur yang rendah. Bahkan temperatur yang lebih tinggi akan
meningkatkan derajat kekentalan (viskositas) yang juga berarti memperbesar berat
molekul kevlar.

2.7.6 Keunggulan dan Kelemahan Kevlar
Keunggulan Kevlar antara lain adalah kekuatan yang sangat luar biasa (cukup
tinggi) tapi ringan, Bahkan Kevlar 5x lebih kuat dari baja (pada bobot ringan yang
sama dan dimensi yang sama). Selain itu bahan Kevlar yang mempunyai gaya
tarik tinggi, struktur dasar yang stabil, konduksi listriknya sangat rendah,
Ketahanan pada bahan kimia yang cukup tinggi dan tahan panas dan tahan bakar
serta rendah dalam menghantar panas. Tetapi dibalik kelebihannya Kevlar juga
memiliki kelemahan yaitu harga bahan serat Kevlar yang cukup mahal.
23

BAB III
KESIMPULAN

1. Ikatan Hidrogen terjadi antara atom hidrogen dengan atom lain yang memiliki
keelektronegatifan cukup besar.
2. Semakin besar perbedaan keelektronegatifan pada suatu molekul, maka
semakin kuat gaya tarikan hidrogen (ikatan hidrogen).
3. Semakin banyak pasangan elektron bebas (pasangan elektron tak berikatan),
maka semakin mudah senyawa tersebut membentuk ikatan hidrogen.
4. Besarnya gaya dalam ikatan hidrogen dapat mempengaruhi titik didih
senyawa yang berikatan.
5. Salah satu aplikasi ikatan hidrogen adalah polimer kevlar, dimana terjadi cross
linking berupa ikatan hidrogen antar molekulnya yang mengakibatkan kevlar
menjadi sangat kuat.







24

DAFTAR PUSTAKA

Alaudin, M. 2007. Misteri dibalik rompi anti-peluru. http://www.chem-is-
try.org/artikel_kimia/kimia_material/misteri_di_balik_rompi_anti_peluru
/. diakses 8 juni 2014 pukul 18: 21
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti. Edisi III. Jakarta
Erlangga.
Faqihuddin, Z 2011. Teknologi Polimer Kevlar Dan Pemanfaatannya.
http://www.scribd.com/doc/116786388/Teknologi-Polimer-Kevlar-Dan-
Pemanfaatannya diakses 8 juni 2014 pukul 18: 20
Fessenden, Ralph J. 1986. Kimia Organik Jilid 1 Edisi ketiga. Jakarta: Erlangga.
Keenan, C W. 1984. Kimia untuk Universitas Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Sukandar, Dede. 2010. Ikatan Kimia. Jakarta: GP Press
Petrucchi, Ralph. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 3.
Erlangga: Jakarta