Anda di halaman 1dari 10

IFE Matrix dan Analisis Rantai Nilai

Nature of Strategy Analysis and Choice


Income Statement : Concept, Elements, and Format
Februari 13, 2011 oleh akusukamenulis


Oleh : Nurfita Kusuma Dewi
.
FASB dalam SFAC Nomor 1 telah menerangkan tujuan utama pelaporan keuangan adalah untuk
menyediakan informasi tentang kinerja perusahaan melalui ukuran pendapatan. Income
Statement (Laporan Laba Rugi) merupakan sesuatu yang utama bagi perusahaan terkait ukuran
pendapatan. Income statement memiliki nilai prediktif sesuai karakteristik kualitatif yang
didefinisikan dalam SFAC Nomor 2. Income statement memiliki nilai sebagai ukuran arus kasa
masa depan, yakni sebagai ukuran dari efisiensi manajemen dan panduan dalam pencapaian
tujuan manajerial.
Di sisi yang lain, investor merupakan fokus utama dalam lingkungan pelaporan keuangan.
Sumber daya investor (current resources) yang digunakan perusahaan untuk memperoleh
keuntungan mengandung sifat ketidakpastian atas arus kas masa depan (future-uncertain
resources). Sebagai konsekuensinya, investor dalam kondisi seperti ini memerlukan informasi
yang yang dapat membantu mereka untuk menilai arus kas di masa yang akan datang.
Seperti kita ketahui bersama, pelaporan keuangan memiliki beberapa konsekuensi ekonomis
(economic consequences of financial reporting) yakni:
1 Informasi keuangan dapat mempengaruhi distribusi kekayaan diantara investor. Investor yang
memperoleh informasih lebih banyak (mempekerjakan analis sekuritas) mungkin mampu
meningkatkan kekayaan mereka daripada investor yang kurang informasi.
2. Informasi keuangan dapat mempengaruhi tingkatan risiko yang diterima perusahaan. Fokus
pada jangka pendek, memiliki risiko lebih kecil, tetapi mungkin mengandung efek-efek jangka
panjang yang merugikan (long-term detrimental effects).
3. Informasi keuangan dapat mempengaruhi tingkat formasi modal dalam ekonomi dan
menghasilkan realokasi kekayaan antara konsumsi dan investasi dalam ekonomi.
4. Informasi keuangan dapat mempengaruhi bagaimana investasi dialokasikan dalam
perusahaan.
Konsekuensi-konsekuensi ekonomis inilah yang seharusya dipertimbangkan oleh FASB dan
SEC, sebagai organisasi penyusun standar akuntansi, mengingat pengaruh yang ditimbulkan oleh
masing-masing konsekuensi di atas akan berbeda-beda bagi para pengguna informasi keuangan.
.
INCOME STATEMENT ELEMENTS
Penekanan fungsi income statement sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan penilaian
kinerja kepada investor menyebabkan pembahasan berkelanjutan diantara para akuntan tentang
identifikasi yang tepat atas elemen-elemen yang dikandungnya, yakni pendapatan, keuntungan,
beban, dan kerugian.
.
SFAC Nomor 6
FASB menerbitkan SFAC no.6 yang mendefinisikan elemen-elemen income statement sebagai
berikut :
1. Pendapatan, merupakan arus masuk atau peningkatan aset lainnya dari suatu entitas ATAU
pengurangan kewajiban (ATAU gabungan keduanya) selama periode tertentu, yang diperoleh
dari penjualan barang, penyediaan jasa atau aktifitas lain yang merupakan operasi utama
perusahaan.
2. Keuntungan, merupakan peningkatan aset bersih yang berasal dari transakti peripheral atau
insidental suatu entitas DAN dari transaksi lainnya, kegiatan lainnya, dan keadaan-keadaan yang
mempengaruhi entitas tersebut selama satu periode KECUALI yang berasal dari pendapatan atau
investasi dari pemilik.
3. Beban, arus keluar atau penggunaan aset lainnya ATAU timbulnya kewajiban (ATAU
kombinasi keduanya) selama satu periode mulai dari penyerahan atau produksi barang,
pemberian jasa atau aktifitas lain yang merupakan operasi utama perusahaan.
4. Kerugian, penurunan nilai aset bersih yang berasal dari transaksi yang bersifa peripheral atau
insidental dari suatu entitas DAN dari semua transaksi lain serta dari peristiwa lain DAN
keadaan-keadaan yang mempengaruhi entitas tersebut selama satu periode KECUALI yang
termasuk beban atau distribusi kepada pemilik.
.
Dari definisi elemen-elemen income statement diatas, tampak bahwa FASB berusaha menggeser
terminologi APB yang menekankan pada arus masuk dan arus keluar, realisasi, dan konsep
penandingan. FASB telah menggunakan perubahan aset dan/atau kewajiban dalam kriteria
pengakuan dan pengukuran. Dan sebagai dampaknya, kini neraca tampil lebih dari sekedar
tempat menyimpan NILAI SISA dalam proses penentuan pendapatan.
Perbandingan atas kedua konsep diatas adalah :
No. FASB (perubahan aktiva/kewajiban) APB (inflows/outflows)
1. Sebagai alat ukur perubahan sumber
daya ekonomi
Sebagai alat ukur efektifitas perusahaan
2. Tergantung pada definisi aktiva dan
kewajiban untuk menentukan laba
Tergantung pada definisi pendapatan dan
beban dan menandingkan keduanya untuk
menentukan income
3. Mengakui hal-hal yang ditangguhkan
hanya saat merupakan sumber daya
atau kewajiban ekonomi
Membentuk biaya dan hutang yang
ditangguhkan dan cadangan ketika
menghitung income
4. Keduanya sepakat bahwa laporan laba rugi lebih penting dari neraca karena dapat
meramal arus sumber daya dia masa yang akan dating
5. Membatasi populasi pada kejadian-
kejadian yang mengakibatkan
perubahan sumber daya ekonomis
Pendapatan dan beban meliputi seluruh
item yang diperlukan untuk menandingkan
pendapatan dan biaya
.
Dalam teori akuntasni dikenal dua pendekatan dalam menilai hubungan antara balance sheet dan
income statement, yakni articulated dan non-articulated. Pendekatan articulated berarti income
statement dianggap sebagai subklasifikasi dari pos modal. Laba rugi hanya merupakan hasil
matematis yang berasal dari perubahan modal dari satu periode ke periode yang lainnya.
Dalam pendekatan articulated ada dua konsep, yaitu konsep revenue-expense approach dan
asset-liability approach. Dalam konsep pertama, revenue expense, income statement diaggap
laporan yang paling utama dimana semua transaksi dpandang sebagai pos revenue dan expense,
semua transaksi dinggap sebagai pengakuan laba (matching), pengukuran laba dan alokasi ke
laba rugi.
Dalam konsep ini yang dipindahkan ke neraca adalah by product dari hasil pengakuan laba atau
matching tadi. Artinya yang dicatat ke neraca hanya deferred credits (liabilities) dan deferred
charges (asset).
Sementara dalam pendekatan non-articulated, balance sheet dan income statement secara
matematis independen satu sama lain. Pendekatan ini banyak menjadi perhatian karena ada
transaksi yang tidak memengaruhi laba tetapi langsung dipindah ke pos yang bukan hasil dan
bukan biaya. Misalnya, ada kerugian sementara yang langsung dianggap merupakan
penyesuaian terhadap unrealized capital (SFAS No. 12)
INCOME STATEMENT FORMAT
Pertanyaan yang kemudian timbul adalah : format income statement seperti apakah yang
diinginkan oleh berbagai pengguna laporan keuangan? Dua pendapat yang kemudian
mendominasi diskusi ini adalah current operating performance concept dan all-inclusive
concept.
.
Current Operating Performance Concept
Konsep ini berpendapat bahwa hanya perubahan dan kejadian yang dapat dikendalikan oleh
manajemen yang dihasilkan dari keputusan periode sekarang yang seharusnya dimasukkan dalam
laba. Hanya hal-hal yang NORMAL dan BERULANG yang seharusnya membentuk ukuran
dasar kinerja perusahaan. Maka LABA BERSIH pun harus mencerminkan AKTIFITAS HARI
KE HARI.
All-inclusive Concept
Konsep ini berpendapat bahwa laba bersih harus mencerminkan SEMUA ITEM yang
mempengaruhi KENAIKAN atau PENURUNAN ekuitas pemegang saham selama satu periode,
dengan pengecualian dari transaksi modal. LABA BERSIH TOTAL ditentukan dengan
MENJUMLAHKAN LABA BERSIH PERIODIK.
FASB dalam SFAC No.5 mencatat bahwa laporan laba rugi menurut all-inclusive dimaksudkan
untuk menghindari penghapusan informasi secara bebas dari laporan keuangan, walaupun
pencantuman keuntungan atau kerugian yang tidak biasa dan tidak berulang-ulang mungkin
dapat mengurangi fungsi dari laporan laba rugi dalam satu tahun untuk tujuan prediksi.
.
Kedua konsep ini hanya berkontroversi dalam bagaimana informasi keuangan ditampilkan,
tempat dimana pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian ditampilkan. Namun yang lebih
penting, sejatinya kedua konsep ini setuju dengan informasi yang harus disajikan. Sedangkan
penelitian menunjukkan bahwa investor tidak terpengaruh dengan tempat dimana item
dilaporkan dalam laporan keuangan selama pernyataan itu menyajikan informasi yang sama.
Dengan kata lain, kontroversi dari kedua konsep ini menjadi suatu yang TIDAK PENTING.
.
APB OPINION NO. 9
Salah satu masalah yang pertama kali dipelajari APB adalah apa yang termasuk dalam laba
bersih. Kurangnya batasan formasl mengenai penyesuaian laba ditahan ternyata menghasilkan
banyak ketidakseragaman dalam praktik bisnis.
Dalam salah satu hasil studinya tentang penyalahgunaan laporan dan peninjauan umum secara
menyeluruh dari pendapatan, APB kemudian menerbitkan APB No.9 tentang Reporting The
Result of The Operation. APB No.9 mencoba untuk mengambil jalan tengah antara current
operating performance concept dan all-inclusive concept.
Secara umum, APB No.9 memberi ketentuan bahwa semua item dianggap NORMAL dan
BERULANG kecuali jika memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk pengklasifikasian baik
sebagai extraordinary item maupun penyesuain periode sebelumnya. APB No. 9 mewajibkan
penyusun laporan keuangan untuk menentukan apakah pendapatan, beban, keuntungan, dan
kerugian secara tepat diklasifikasikan sebagai :
1. hal normal yang berulang-ulang,
2. kejadian luar biasa (extraordinary item),
3. penyesuaian terhadap periode sebelumnya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan .
Maka LABA BERSIH seharusnya menggambarkan seluruh pos keuntungan dan kerugian yang
diakui selama periode, dengan pengecualian penyesuaian terhadap periode sebelumnya. Format
laporan yang ditentukan memuat dua bentuk laba, yakni laba bersih dari operasi dan laba bersih
operasi ditambah extraordinary item. Hal ini memberikan kemampuan bagi pengguna laporan
keuangan untuk melakukan evaluasi hasil operasi normal atau total laba setelah extraordinary
item sesuai dengan kebutuhan mereka.
.
1. Income from Continuing Operations
Jumlah yang diperlihatkan untuk laba dari operasi berkelanjutan adalah pendapatan dan beban
normal perusahaan yang berulang-ulang. ANGKA LABA menggambarkan jumlah yang dapat
diperoleh kembali di masa depan. Bahkan sering merujuk pada laba perusahaan yang dapat
dipertahankan sebagai titik awal bagi investor untuk memprediksi pendapatan masa depan.
2. Income from Nonrecurring Items
Ada tiga macam pendapatan tidak biasa yang mungkin diperoleh oleh sebuah perusahaan yang
harus diungkapkan, yakni : operasi yang dihentikan, extraordinary item, dan perubahan prinsip
akuntansi.
Discontinued Operations
Sebuah studi menyebutkan bahwa terjadi beberapa penyimpangan dalam pelaporan terkait
penerapan opini APB no.9 terkait penyajian hasil penjualan bagian aset sebagai extraordinary
namun memasukkan pendapatan dari bagian ini selama periode penjualan sebagai laba biasa.
Maka APB No. 30 diterbitkan untuk menyimpulkan kriteria tambahan untuk mengidentifikasi
bagian bisnis yang akan dijual dengan mensyaratkan penyajian terpisah atas :
(1) hasil operasi dari segmen yang dihentikan,
(2) keuntungan atau kerugian pada penjualan aset untuk segmen yang dihentikan termasuk
adanya keuntungan dan kerugian operasional selama periode penghentian.
Total keuntungan atau kerugian ditentukan dengan menjumlahkan semua keuntungan atau
kerugian pada penjualan bagian aset, dan keuntungan atau kerugian yang dihasilkan oleh
kegiatan penghapusan segmen selama masa penghapusan.
APB No.30 kemudian diamandemen dengan SFAS No. 144 tentang Accounting for Impairment
or Disposal of Long-Lived Assets. Untuk memenuhi syarat untuk diperlakukan sebagai sebuah
operasi yang dihentikan harus memenuhi beberapa kriteria, yakni :
(1) Unit yang dihentikan harus dianggap sebagai sebuah komponen bisnis. Definisi
komponen didasarkan pada pengertian operasi dan arus kas yang dapat dibedakan.
Komponen ini dapat berupa segmen, bagian, divisi operasi, lini bisnis, anak perusahaan, dan
lain-lain, tergantung kegiatan bisnis dimana entitas beroperasi.
Sedangkan untuk mengasumsikan sebuah komponen sebagai kegiatan operasi yang dihentikan
harus memenuhi dua kriteria tambahan, yaitu :
(i) operasi dan arus kas dari komponen yang dihentikan harus dihilangkan dari hasil transaksi
operasional dan arus kas entitasnya,
(ii) entitas tidak boleh memiliki keterlibatan yang signifikan dalam operasi komponen setelah
penjualan berlangsung.
(2) Saat manajemen memutuskan untuk menjual suatu komponen, maka aktiva dan kewajiban
komponen diklasifikasikan held for sale di dalam balance sheet. Kemudian, apabila
penghentian komponen telah dilakukan, hasil dari operasi komponen harus dilaporkan dalam
income statement sebagai discontinued operations dan dicantumkan tepat dibawah bagian
income from continuing operations. Hasil ini dilaporkan bersih setelah dikurangi pajak.
Keuntungan atau kerugian penjualan kemudian baru diungkapkan di catatan atas laporan
keuangan (CaLK).
.
Extraordinary Items
APB No.9 mendefinisikan extraordinary item sebagai kejadian dan transaksi yang mempunyai
efek material yang tidak diharapkan sering terjadi dan tidak dianggap sebagai faktor yang
berulang-ulang dalam setiap evaluasi proses bisnis yang wajar.
APB kemudian membuat review di tahun 1973 tentang kegunaan definisi extraordinary item
yang ternyata mendapatkan kesimpulan bahwa pendapatan dan beban tidak dikelompokkan
dengan cara yang sama melalui spektrum bisnis perusahaan. Bisnis tidak mengintepretasikan
APB No. 9 dengan cara yang sama dan lebih banyak kriteria spesifik yang dibutuhkan untuk
menjamin intepretasi yang lebih seragam atas ketetapannya.
Maka diterbitkanlah APB No. 30 tentang Reporting The Result of Operations yang
mendefiniskan extraordinary item sebagai kejadian dan transaksi yang dibedakan oleh sifat
sebagai berikut :
(1) Unusual nature, kejadian atau transaksi harus memiliki tingkat ketidakwajaran yang tinggi
dan tidak berhubungan atau hanya secara kebetulan berhubungan dengan aktivitas biasa.
Karena suatu perubahan filosofi, beberapa hal yang dulunya didefinisikan sebagai extraordinary
item dalam APB No.9 kini dikeluarkan dari APB No. 30 yakni :
- penurunan dan penghapusan piutang, persediaan, peralatan yang dileasing kepada pihak lain,
biaya penelitian dan pengembangan yang ditangguhkan, atau aset tidak berwujud lainnya,
- keuntungan atau kerugian dari penjualan bagian bisnis,
- keuntungan atau kerugian lainnya dalam penjualan atau penghancuran properti (kekayaan),
pabrik, dan peralatan yang digunakan dalam bisnis,
- akibat pemogokan,
- penyesuaian kontrak jangka panjang akrual.
Hal ini menyebabkan jumlah pendapatan dan beban yang diijinkan untuk dilaporkan sebagai
extraordinary item berkurang signifikan.
(2) Infrequency of occurance, kejadian atau transaksi tersebut secara masuk akal diperkirakan
tidak akan terjadi lagi di masa yang akan datang.
Dalam APB No.9 pemisahan extraordinary item dari item lainnya dalam laporan laba rugi tidak
dipisahkan menurut item yang berulang dan tidak berulang. Item yang jarang terjadi namun
bukan tidak biasa diklasifikasikan sebagai laba non operasi dalam kelompok keuntungan dan
kerugian lainnya dalam income statement. Penelitian mengindikasikan persyaratan ini sebagai
sebuah inkonsistensi kecuali FASB mewajibkan catatan kaki pengungkapan atas efek kejadian
tidak teratur pada laba dan pendapatan per lembar saham (EPS).
.
Perubahan Prinsip Akuntansi
Standar akuntansi atas kekonsistenan menyatakan bahwa transaksi yang sama seharusnya
dilaporkan dengan cara yang sama setiap tahun. Namun manajemen seharusnya memilih
perangkat praktik akuntansi yang paling tepat menyajikan sumber daya dan kinerja unit
pelaporan dan terus menggunakan praktik tersebut setiap tahunnya. Sehingga terkadang,
perusahaan dapat menjumpai bahwa pelaporan berkembang oleh perubahan metode atau
perubahan prosedur mungkin diperintahkan oleh FASB atau SEC.
Pertanyaan mendasar yang kemudian muncul adalah : haruskah laporan keuangan yang telah
diterbitkan sebelumnya diubah untuk menggambarkan metode atau prosedur yang baru?
Dalam APB no. 20 tentang Accounting Channges mengindentifikasikan tiga jenis perubahan
akuntansi dan mendiskusikan penyiapan laporan keuangan. Bahkan dewan merekomendasikan
sebuah kelayakan penyajian retroaktif (bergaya membalik) atas ketiga macam perubahan prinsip
akuntansi dan error di bawah ini.
(i) Perubahan dalam prinsip-prinsip akuntansi
Jenis perubahan ini terjadi jika suatu entitas mengadopsi GAAP yang berbeda dari yang
sebelumnya digunakan untuk tujuan pelaporan. Contohnya perubahan penghitungan persediaan
dari LIFO ke FIFO.
Jika prinsip akuntansi diubah, maka perusahaan menampilkan laporan keuangan tahun-tahun
sebelum perubahan dilakukan. Efek perubahan dikumulatifkan pada tahun perubahan dilakukan
dan ditampilkan diantara laba bersih dan extraordinary item.
SFAS No. 154 tentang Accounting Changes and Error Corrections mensyaratkan aplikasi
retrospective ke periode sebelumnya.
1. Aplikasi prinsip yang baru ke dalam periode akuntansi sebelumnya sebagaimana jika
perubahan prinsip diterapkan di periode-periode sebelumnya
2. Penyesuaian laporan keuangan yang diterbitkan sebelumnya untuk menunjukkan
perubahan entitas pelaporan
3. Revisi laporan keuangan yang diterbitkan sebelumnya untuk menunjukkan koreksi atas
kesalahan
(ii) Perubahan dalam estimasi akuntansi
Penyajian laporan keuangan mensyaratkan estimasi dari kejadian di masa depan dan estimasi
seperti itu adalah sasaran dilakukannya review berkala (akibat dari kebutuhan penyajian
periodok). Contohnya perubahan perkiraan umur aktiva yang dapat didepresiasi atau estimasi
kolektabilitas piutang.
Perubahan ini tidak membutuhkan penyesuaian terhadap laporan keuangan tahun-tahun
sebelumnya yang telah diterbitkan. Perubahan yang terjadi hanya berpengaruh pada tahun
terjadinya perubahan dan tahun-tahun berikutnya.
(iii) Perubahan entitas pelaporan
Perubahan jenis ini disebabkan oleh perubahan unit pelaporan yang mungkin disebabkan oleh
penggabungan usaha, perubahan spesifik anak perusahaan, atau perubahan konsolidasi.
Perubahan dalam pelaporan harus diungkapkan secara retroaktif dengan menyatakan kembali
laporan keuangan tahun-tahun sebelumnya dengan asumsi unit pelaporan baru telah diterapkan
di laporan keuangan tahun-tahun sebelumnya. Penerbitan kembali laporan laporan keuangan
tahun sebelumnya bertujuan untuk membandingkan hasil dari perubahan pelaporan keuangan
yang baru dan yang lama. Selain itu, efek perubahan pelaporan terhadap pendapatan operasi,
laba bersih, dan laba per saham terkait harus diungkapkan sebagai perbandingan.
(iv) Error
Kesalahan tidak dipandang sebagai suatu perubahan akuntansi, namun hasil dari kesalahan
perhitungan matematis dan penggunaan metode akuntansi yang salah. Error didefinisikan
sebagai prior period adjustment. Contoh error adalah :
1. Perubahan praktek akuntansi yang awalnya tidak diterima menjadi diterima.
2. Kesalahan matematis, klerikal.
3. Kelalaian menambahkan atau menangguhkan pendapatan dan biaya di akhir periode
akuntansi.
4. Salah pengklasifikasian biaya dan beban.
Dalam SFAS No. 16, periode dimana error ditemukan, jenis kesalahan dan efeknya terhadap
pendapatan operasi, laba bersih dan laba per saham terkait harus diungkapkan. Persyaratan ini
merupakan perluasan logis dari perbaikan secara retroaktif yang diperlukan untuk perubahan-
perubahan akuntansi. Dengan menyediakan perbaikan retroaktif, pengguna bisa mempredikasi
dengan lebih baik prestasi perusahaan seiring berjalannya waktu dengan tepat.
Terdapat error yang bersifat counterbalanced apabila error tidak ditemukan dalam dua tahun.
Error ini tidak memerlukan penyesuaian apabila ditemukan setelah dua tahun. Apabila error
tidak bersifat counterbalanced, maka penyesuaian harus diungkapkan. (blog.akusukamenulis)
.
::: Aksi COPYPASTE tanpa menyebutkan sumber tulisan adalah
sebuah PLAGIASI! :::
.
Sumber :
Schroeder, G. Richard. Financial Accounting Theory and Analysis. Hermitage Publishing
Services. 2001 : New York.
Harahap, Syafri Sofyan. Teori Akuntansi Edisi Revisi 10. Rajawali Pers. 2008 : Jakarta.
Hartantyo, Heru dan Romatan Alex Y. Resume Laporan Keuangan I : Income Statement. 2011
: Jakarta.
Sukono, dkk. Konsep Penghasilan dan Laporan Laba Rugi. 2008 : Jakarta.


http://akusukamenulis.wordpress.com/2011/02/13/income-statement-concept-elements-and-format/

SFAC 8
http://adri-accounting.blogspot.com/2011/01/statement-of-financial-accounting.html