Anda di halaman 1dari 9

TUGAS

PRAKTEK TELEKOMUNIKASI ANALOG


KELOMPOK 2

PERCOBAAN 3
TEKNIK ELEKTRO
JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
1B
2014

M. ROBITH ZAKKI 1341160036 5
M. IRFAN ILHAM 1341160027 7
M. FEBRI FIRMANSYAH 1341160026 8
M. ISKANDAR Z 1341160019 9





















PERCOBAAN 3
Pengukuran Penguat Daya Transistor
PRAKTIKUM TELEKOMUNIKASI ANALOG

3.1 Tujuan :
1. Merangkai Penguat Daya Transistor Kelas A.
2. Mengetahui Penguatan Tegangan dari rangkaian yang dibuat.
3. Menganalisa aliran arus DC pada rangkaian yang dibuat.

4. Menganalisa sinyal AC yang diproses pada rangkaian yang dibuat.
5. Mengitung dan membandingkan perhitungan dan hasil percobaan.

3.2 Peralatan yang Digunakan :
1 Oscilloscope 40 MHz dan passive probe

1 Generator Fungsi 10 Mhz
1 Power Suplai

1 Kabel penghubung BNC -

2 Kabel penghubung BNC -

1 Modul Praktikum

3.3 Diagram Rangkaian :













Gambar 3.1 Rangkaian Pengukuran Pengau Daya Transistor

3.4 Teori Dasar :
Penguat daya tipe kelas A dibuat dengan mengatur arus bias yang sesuai di titik tertentu

yang ada pada garis bebannya. Sedemikian rupa sehingga titik Q ini berada tepat di tengah garis
beban kurva VCE-IC dari rangkaian penguat tersebut.



3.5 Titik Kerja Q
Perhatikan gambar berikut.































Gambar 3.2 Titik Kerja Transistor
Dalam keadaan tidak ada sinyal input, arus dan tegangan kolektor disebut arus dan

tegangan kolektor stasioner. Misalkan bahwa arus kolektor stasioner adl 2 mA, maka tegangan
kolektor-emiter stasioner adalah:
VCE = VCC IC(RC + RE) = 30 0,002 (3000 + 7500) = 9 V
Sehingga koordinat titik Q adalah 2 mA dan 9 V atau Q (0.002, 9), lihat gambar b.

3.5.1 Garis Beban DC
Garis beban DC menyatakan semua titik operasi DC yang mungkin. Jika transistor pd

gambar di atas jenuh, maka:




Dan jika transistor dioperasikan pd daerah cut-off maka tegangan kolektor-emiter adalah:
VCE(cut-off) = VCC = 30 V
Gambar berikut memperlihatkan garis beban DC dengan titik Q yang telah diperoleh
sebelumnya.











Gambar 3.3 Garis Beban DC















3.5.2 Garis Beban AC
Garis beban AC menyatakan semua titik operasi AC yang mungkin. Gambar berikut
memperlihatkan rangkaian ekivalen AC penguat yang sama. Dari rangkaian ekivalen diperoleh:























Gambar 3.4 Rangkaian Ekivalen AC

Jika sinyal AC menggerakkan penguat, sinyal akan menyebabkan perubahan arus dan
tegangan kolektor. Perubahan ini diberikan oleh:






Dengan IC dan VCE adalah arus dan tegangan kolektor DC, serta ICQ dan VCEQ adalah arus
dan tegangan kolektor stasioner. Dengan menyusun kembali maka diperoleh hubungan antara IC
dan VCE sbb:





Grafik persamaan diatas ditunjukkan pada gambar berikut, dan disebut garis beban AC.
Garis beban AC memperagakan bagaimana operasi sinyal besar. Selama setengah periode

positif tegangan sumber AC, arus kolektor berayun dari titik Q ke atas (arah saturasi atau
penjenuhan).


























Gambar 3.5 Garis Beban AC
Sedangkan selama setengah periode negatif tegangan sumber AC, arus kolektor berayun
dari titik Q ke bawah (arah cut-off). Utk sinyal AC yang besar, operasi dapat bergerak
sepenuhnya menuju penjenuhan dan sepenuhnya menuju cut-off (menggunakan hampir semua

daerah aktif), seperti gambar berikut.















Gambar 3.6 Bentuk Sinyal Output
Jika rangkaian dalam percobaan ini menggunakan rancangan seperti dalam gambar

berikut ini:


















Gambar 3.7 Rangkaian Percobaan Penguat Kelas A









Ada beberapa hal yang harus ditentukan terlebih dahulu, antara lain Frekeunsi kerja yang
diinginkan agar rangkaian dapat bekerja dalam frekuensi pada gelombang radio MF dan HF
(Medium Frequency dan High Frequency), yaitu antara 300 Khz 30 Mhz.

Selain itu ditentukan pula tegangan kerja yaitu bekerja pada VCC = 12 Volt, bekerja pada beban
output 1 K Ohm, dan impedansi input tidak ditentukan.
Dari pertimbangan ini kemudian dari Datasheet Transistor dipilih menggunakan Transistor
jenis 2SC829, dan akan bekerja pada frekuensi 3 Mhz. Komponen pasif yang ditentukan terlebih

dahulu adalah RFC yang nilainya 2,5 mH karena ini yang ada dipasaran dan nilainya sesuai. Cin
dan Cout bisa kita tentukan terlebih dahulu karena fungsinya sebagai kopling dari rangkaian
sebelumnya ke rangkaian berikutnya, jika kita berikan nilai 1nF maka jika dihitung pada
frekuensi 3 MHz akan ketemu nilainya masing-masing reaktansi kapasitip XC = 53 Ohm, nilai

ini cukup rendah dan tidak terlalu menghambat sinyal yang masuk dan keluar.
Untuk perhitungan selanjutnya kita gunakan grafik karakteristik transistor dari datasheet
sebagai berikut:






















Gambar 3.8 Karakteristik Output dan Input Transistor 2SC829
Jika Vcc adalah 12 Volt, kemudian kita tarik garis beban ke titik Ic = 7.5 mA dan dalam

hal ini nanti kita hanya memperhitungkan nilai RE saja karena resistansi RFC dianggap ideal = 0
Ohm.
Selanjutnya dari grafik berikut dibawah ini bisa kita tentukan titik kerja Q, jika kita
kehendaki arus basis Ib = 40 uA, maka titik kerja Q pada VCE = 6 Volt dan Ic = 3.8 mA dimana

pada nilai ini tegangan dan arus stasioner bekerja.





































Gambar 3.9 Seting Garis Beban dan Titik Kerja
Dengan nilai Vce sebesar 6 Volt maka diperoleh Tegangan Emitor VE = 12-6 = 6 Volt,

dan karena Transistor 2SC829 terbuat dari bahan silikon maka tegangan Vbe = 0.7 Volt,
sehingga kita peroleh tegangan VB=VE+Vbe atau VB=6+0.7 jadi VB=6.7 Volt.
Selanjutnya kita harus menentukan nilai-nilai Ra dan Rb agar menghasilkan tegangan VB
sebesar 6.7 Volt dengan Vcc = 12 Volt, apabila kita menentukan nilai Rb sebesar 3.8 K Ohm

(dengan komponen yang ada dipasaran 3.9 K Ohm) maka dengan Rumus pembagian tegangan
akan kita peroleh nilai Ra sebesar 3 K Ohm.
Untuk menghitung RE diperoleh dari pembagian tegangan VE dengan Ic+Ib tetapi karena
Ib sangat kecil maka dalam hal ini bisa kita abaikan, sehingga RE= 6 Volt / 3.8 mA, ketemu RE

= 1579 Ohm (digunakan nilai yang ada dipasaran 1.6 K Ohm).
Sinyal AC yang sampai pada Emitor harus disalurkan atau ditiadakan, karena kita tentukan
keluarannya melalui Kolektor maka yang ada di Emitor kita buang ke Ground, untuk itu kita
harus membuatkan saluran sinyal AC ini dengan membuat saluran bypass menggunakan

kapasitor yaitu CE yang nilai reaktansi kapasitip XC nya harus jauh lebih kecil dari RE yang
dalam hal ini sudah kita hitung sebesar 1.6 K Ohm, selanjutnya kita tentukan saja nilai reaktansi
kapasitip XC sebesar 50 Ohm, lalu kita gunakan rumus:









Akan ketemu nilai C = 1060 pF, sesuai dengan komponen yang paling dekat ada di pasaran
kita gunakan nilai CE = 1 nF. Sehingga dapat kita peroleh rangkaian dengan nilai-nilai
komponennya pada gambar berikut ini:



















Gambar 13.10 Nilai Komponen Hasil Rancangan

3.6 Prosedur Percobaan :
1. Set-up peralatan seperti pada gambar di atas. Dengan nilai-nilai komponen konsultasikan
terlebih dahulu dengan pengajar.

2. Hubungkan Osciloscope dengan sumber daya. amplitudo seperti berikut ini.


Tabel 3.1 Pengukuran Penguatan Tegangan




TP Perhitungan Pengukuran
VB 4.05 3.89
VE 3.35 3.23
VBE 0.7 0.66
VC 4.75 4.59
VRC 0.9 0.72