Anda di halaman 1dari 30

MODUL ORGAN SISTEM SARAF

PEREMPUAN DENGAN NYERI PINGGANG


Kelompok 6
Farida Apriani

0302007089

Al Adip Indra Mustafa

0302009007

Ade Laksono

0302010002

Alhan Rao

0302010019

Anita Damar Riyanti

0302010034

Bella Ammara Karlinda

0302010051

Cinthya Andini Pangesti

0302010066

Diana Nur Julyani

0302010080

Elfinsa Ismi Istiqomah

0302010092

Fendy Ferdian

0302010105

Hidris Damanik

0302010124

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI


Jakarta, 17 Juli 2012
1

II. DAFTAR ISI


I.

COVER

II.

DAFTAR ISI

III.

PENDAHULUAN

IV.

LAPORAN KASUS

V.

PEMBAHASAN KASUS

A.

IDENTIFIKASI MASALAH DAN HIPOTESIS

B.

ANAMNESIS

10

C.

PEMERIKSAAN FISIK DAN INTERPRETASI

12

D.

PEMERIKSAAN PENUNJANG DAN INTERPRETASI

15

E.

DIAGNOSIS

18

F.

PENATALAKSANAAN

19

G.

KOMPLIKASI

20

H.

PROGNOSIS

20

VI.

VII.

TINJAUAN PUSTAKA

22

A.

25

HERNIA NUKLEUS PULPOSUS

KESIMPULAN

32

VIII. DAFTAR PUSTAKA

33

III. PENDAHULUAN

Diskus intervertebral dibentuk oleh dua komponen yaitu; nukleus pulposus yang terdiri
dari serabut halus dan longgar, berisi sel-sel fibroblast dan dibentuk oleh anulus fibrosus yang
mengelilingi nukleus pulposus yang terdiri dari jaringan pengikat yang kuat.
Nyeri tulang belakang dapat dilihat pada hernia diskus intervertebral pada daerah
lumbosakral, hal ini biasa ditemukan dalam praktek neurologi. Hal ini biasa berhubungan
dengan beberapa luka pada tulang belakang atau oleh tekanan yang berlebihan, biasanya
disebabkan oleh karena mengangkat beban/ mengangkat tekanan yang berlebihan (berat).
Hernia nukeleus pulposus merupakan salah satu dari sekian banyak "low back pain" .Hernia
Nukleus pulposus (HNP) atau potrusi Diskus Intervertebralis (PDI)adalah suatu keadaan
dimana terjadi penonjolan pada diskus intervertebralis ke dalam kanalis vertebralis (protrusi
diskus ) atau nucleus pulposus yang terlepas sebagian tersendiri di dalam kanalis vertebralis
(rupture discus).
Hernia nucleus pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau di bawahnya. Bisa juga
menjebol langsung ke kanalis vertbralis. . Robekan sirkumferensial dan radikal pada nucleus
fibrosus diskus intervertebralis berikut dengan terbentuknya nodus schomorl merupakan
kelainan mendasari low back painsub kronik atau kronik yang kemudian disusun oleh nyeri
sepanjang tungkai yang dikenal sebagai ischialgia
3

Nukleus pulposus terdiri dari jaringan penyambung longgar dan sel-sel kartilago yang
mempunyai kandungan air yang tinggi. Nukleus pulposus bergerak, cairan menjadi padat dan
rata serta melebar dibawah tekanan dan menggelembungkan annulus fibrosus..
HNP sering terjadi pada daerah L4-L5 dan L5 S1 kemudian pada C5-C6 dan paling jarang terjadi
pada daerah torakal, sangat jarang terjadi pada anak-anak dan remaja tapi kejadiannya meningkat dengan
umur setelah 20 tahun. Insidens pada lumbo sakral lebih dari 90% sedangkan pada daerah servikal 5-10%

IV. LAPORAN KASUS


KASUS 4: NYERI PINGGANG

Lembar 1
Seorang perempuan 37 tahun dengan nyeri pinggang bawah yang menjalar ke tungkai.
Anda sebagai dokter yang bertugas di UGD RS Jakarta Selatan, kedatangan seorang
perempuan Ny. Rita umur 37 tahun dengan keluhan nyeri hebat pada pinggang bawah,
bokong dan nyeri menjalar ke tungkai. Nyeri yang dirasakan Ny. Rita sangat hebat
setelah menggendong anaknya yang berusia 5 tahun kemarin. Nyeri pinggang, rasaa
baal dan merasa lemah di tungkai sudah berlangsung selama 2 tahun, hilang timbul
yang berlangsung dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan kemudian sembuh
dan timbul kembali. Nyeri dirasakan bertambah berat selama 2 bulan terutama saat
mau duduk dan mau berdiri. Akhir-akhir ini ia mulai merasakan nyeri menjalar
sepanjang tungkai kiri, nyeri makin bertambah bila pasien duduk atau saat berdiri
membungkuk, bersin, batuk atau tertawa dan kekuatan otot tungkai kiri agak lemah
disertai rasa baal pada punggung kaki dan rasa kesemutan tapak kaki.
Ny. Rita bekerja sebagai tukang jahit di perusahaan konveksi sejak umur 25 tahun.
Pasien tidak pernah merasa terjatuh atau tertabrak kendaraan selama ini.
BAB dan BAK pasien tidak terganggu.

Lembar 2
Pada pemeriksaan fisik didapatkan:
Tinggi badan 165 cm, berat 80 kg, nadi 70 kali/menit, regular, TD 130/80 mmHg, suhu
36,5oC, pernapasan 18 kali/menit, kesadaran komposmentis.
Kepala: normocephalic
Leher: gerakan normal, tidak ada nyeri gerak atau nyeri tekan, tidak ada kaku kuduk.
Cor / Pulmo: normal
Abdomen lemas, tidak ada nyeri tekan, tidak kembung, tidak ada hepatosplenomegali
atau massa.
Tulang belakang lurus / tidak ada skoliosis, ada nyeri tekan regio lumal bawah, bokong
dan regio gluteal kiri. Nyeri lebih berat bila pasien duduk dengan melakukan gerak
antefleksi batang badan dan menjalar ke belakang tungkai kiri.
Ekstremitas atas: gerakan normal, tidak ada rasa nyeri.
Ekstremitas bawah: simetris, gaya jalan kelihatan normal, kekuatan: otot kiri 4, otot
kanan 5.
Nyeri tungkai atas kiri sisi dorsal bila di fleksi pasif pada articulatio coxae kiri dengan
tungkai bawah dalam keadaan lurus hanya terbatas 40 derajat karena sakit, nyeri
bertambah bila dilakukan dorsofleksi pada pergelangan kaki kiri.
Nyeri tungkai atas kiri sisi dorsal bila tungkai kanan di fleksi pasif pada articulatio
coxae kanandengan tungkai bawah dalam keadaan lurus.
Tidak didapatkan nyeri pada saat tungkai kiri dilakukan fleksi, abduksi dan eksorotasi.
Sensibilatas dorsum pedis dan plantar pedis kiri berkurang, yang kanan normal.
Refleks fisiologis KPR normal, dan APR kiri menurun, kanan normal.
Refleks patologis -/-

Lembar 3
Pada pemeriksaan neurologik:
Pupil bulat, isokor, refleks cahaya langsung +/+, tidak langsung +/+
Gerakan kedua bola mata: normal
Nervi 1 s/d 12 normal
Tidak terdapat kaku kuduk
Ekstremitas atas: gerakan bahu, siku, pergelangan tangan dan lengan bawah bilateral
normal, tidak ada deformitas atau nyeri tekan.
Status neurologik ektremitas superior kekuatan otot 5/5, tidak ada nyeri tekan atau
rasa baal.
Status neurologik ekstremitas inferior kekuatan otot 5/4, nyeri bertambah hebat bila
dilakukan gerak fleksi tungkai atas dalam keadaan tungkai bawah diluruskan,
digerakan fleksi pasif pada artuculatio coxae kiri hanya sebatas 40 derajat karena sakit.
Koordinasi dan keseimbangan baik,
Refleks fisiologis kanan normal, APR kiri menurun
Refleks patologis -/Lembar 4
Pada pemeriksaan MRI didapatkan hasil :

V. PEMBAHASAN

IDENTIFIKASI MASALAH DAN HIPOTESIS 3,5

A.
Identitas
Nama

: Ny. Rita

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 37 tahun

Alamat

:-

ANALISIS MASALAH

No.

Masalah

1.

Interpretasi

Anda sebagai dokter

Hipotesis

Adanya keluhan nyeri hebat Osteoporosis

yang bertugas di UGD RS pada pinggang bawah, bokong

Osteomyelitis

Jakarta Selatan, kedatangan dan nyeri menjalar ke tungkai


seorang perempuan Ny. Rita menandakan low back pain dan
umur

37

tahun

dengan radicular

pain

akibat

iritasi,

keluhan nyeri hebat pada peregangan


pinggang
dan

bawah,

nyeri

tungkai.

suatu Spondilitis
dan

Ankilosing

bokong penekanan radix dari berbagai

menjalar
Nyeri

Rhematoid arthritis

ke hal, seperti ; penekanan vena Spondilitis tuberkulosis


yang jugularis,

kenaikan

tekanan Spondilolisthesis

dirasakan Ny. Rita sangat intraspinal, ataupun parestesi dan


HNP

hebat setelah menggendong hipestesi saraf.


anaknya
2.

yang

Kemungkinan Nyeri Osteoporosis

dan merasa lemah di tungkai pinggang, rasa baal dan merasa


sudah berlangsung selama 2 lemah

di

tungkai

berlangsung dalam beberapa menandakan chronic low back


beberapa pain

yang

jelas

bulan kemudian sembuh dan berlangsungnya


timbul

kembali.

Rhematoid arthritis

sudah

tahun, hilang timbul yang berlangsung selama 2 tahun

sampai

Nukleus

Pulposus)

berusia 5

tahun kemarin.
Nyeri pinggang, rasa baal

minggu

(Hernia

dari
nyeri

masa
nmun

Spondilitis
Spondilitis tuberkulosis
HNP

(Hernia

Nukleus

Pulposus)

Nyeri dengan hilang timbulnya gejala

dirasakan bertambah berat tsnds

kemungkinan

dari

selama 2 bulan terutama saat eksaserbasi.


mau duduk dan mau berdiri.

Rasa

baal

dan

melemah

diperkirakan

akibat

adanya

kompresi dari saraf itu sendiri.


Memberat saat mau duduk dan
berdiri memperjelas bahwa tanda
low back pain dengan adanya
tumpuan

dari

badan

bagian

lumbo-sakral.

3.

Akhir-akhir ini ia mulai

Adanya penambah nyeri bila Osteoporosis

merasakan nyeri menjalar pasien duduk atau saat berdiri

Osteomyelitis

sepanjang tungkai kiri, nyeri membungkuk, bersin, batuk atau


makin bertambah bila pasien tertawa
duduk

atau

saat

menandakan

berdiri tekanan

membungkuk, bersin, batuk berbagai

abdominal
hal

atau

adanya

Rhematoid arthritis

akibat Spondilitis
gerakan

Ankilosing

atau tertawa dan kekuatan susunan tulang belakang yang


otot tungkai kiri agak lemah menekan diskus interkalaris dan Spondilitis tuberkulosis
disertai

rasa

baal

pada selanjutnya kompresi radix.

punggung kaki dan rasa


kesemutan tapak kaki.

Pelemahan

dan

Spondilolisthesis

kesemutan HNP

(Hernia

Nukleus

menjelaskan adanya kompresi Pulposus)


ataupun lesi pada saraf seperti
penjelasan

sebelumnya

tidak

diragukan lagi.

Ny. Rita bekerja sebagai

Pekerjaan dengan jenis Osteoporosis

tukang jahit di perusahaan berulang dalam jangka waktu

Spondilolisthesis

konveksi sejak umur 25 yang lama seperti tukang jahit


tahun. Pasien tidak pernah merupakan salah satu faktor
merasa

terjatuh

ini.

Tidak

pernah

terjatuh

(Hernia

Nukleus

Pulposus)

atau resiko dari berbagai hal.

tertabrak kendaraan selama

HNP

atau

tertabrak diaplikasikan bahwa

BAB dan BAK pasien tidak tidak


terganggu.

adanya

trauma

yang

menjadi penyebab dari berbagai


gejala.
BAB dan BAK yang tidak
terganggu

menandakan

tidak

adanya ganguan sistem kemih


maupun sistemik.

Berdasarkan analisis keterangan di atas hipotesis pada kasus kali ini, antara lain:
1. Low Back Pain
nyeri yang dirasakan daerah punggung bawah, dapat merupakan nyeri lokal maupun
nyeri radikuler atau keduanya.

2. HNP (Hernia Nukleus Pulposus)


keluarnya nucleus pulposus dari discus melalui robekan annulus fibrosus keluar ke
belakang/dorsal menekan medulla spinalis atau mengarah ke dorsolateral menakan
saraf spinalis sehingga menimbulkan gangguan.

3. Spondilolisthesis
10

pergeseran vertebra kedepan terhadap segment yang lebih rendah,yang biasa terjadi
pada lumbal vertebra ke 4 atau ke 5 akibat kelainan pada pars interartikularis

4. Spondilitis tuberkulosis
peradangan granulomatosa yg bersifat kronisdestruktif olehMycobacterium
tuberculosis

5. Spondilitis Ankilosing
merupakan penyakit jaringan ikat yang ditandai dengan peradangan pada tulang
belakang dan sendi-sendi yang besar, menyebabkan kekakuan dan nyeri.

6. Rhematoid arthritis
merupakan suatu penyakit autoimun kronis dengan gejala nyeri, kekakuan, gangguan
pergerakan, erosi sendi dan berbagai gejala inflamasi lainnya.

7. Osteomyelitis
infeksi tulang yang biasanya disebabkan oleh bakteri, tetapi kadang-kadang
disebabkan oleh jamur.

8. Osteoporosis
suatu keadaan yang ditandai dengan massa (berat) tulang yang rendah dan kerusakan
pada jaringan di dalam tulang.

Disamping hal tersebut diatas terdapat juga klasifikasi patologi yang klasik yang juga dapat
dikaitkan LBP. Klasifikasi tersebut adalah :
1. Kongenital
2. Infeksi
3. Neoplasma
11

4. Trauma
5. Degenerasi dan lain-lain

ANAMNESIS 4

B.
Anamnesis

Sebelumnya, identifikasi dari pasien sebaiknya dilengkapi, seperti agama, pekerjaan, dan
alamat tempat tinggal. Hal ini perlu dilakukan, karena dapat dijadikan suatu bahan observasi
yang dapat mengeliminasi ataupun memperkuat dari hipotesis yang telah dibuat.

Adapun anamnesis yang dibutuhkan, untuk mempermudah, dapat dibagi menjadi beberapa
topik utama, yaitu riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit
keluarga, riwayat kebiasaan, dan riwayat pengobatan.
1. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS)

12

Riwayat penyakit sekarang perlu digali dengan tujuan untuk mengetahui secara rinci
perjalanan dari keluhan utama tersebut. Hal yang perlu digali mengenai:
Seberapa sering pasien mengalami sakit pinggang?
Sejak kapan dan sudah berapa lama pasien mengalami nyeri pinggang?
Bagaimana sifat rasa nyeri pinggang yang di rasakan pasien?
Apakah pasien mengalami sakit atau nyeri kepala?
Apakah pasien merasakan nyeri dibagian lain?
Apakah pasien mengalami gangguan BAK atau BAB?
Apakah pasien pernah mengalami trauma sebelumnya?
Apakah ada mual dan muntah?
Apakah ada penurunan nafsu makan atau berat badan yang menurun drastis?
Apakah ada demam atau gejala lainnya?
Bagaimana siklus menstuasi pasien ?
Apakah pekerjaan pasien?
Bagaimana aktifitas pasien? Apakah melakukan pekerjaan yang berat seperti
memikul?
Apakah ada hal yang bisa memperberat atau meperingan nyeri pinggang pasien?

13

2. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD)


Riwayat penyakit dahulu perlu ditanyakan dengan tujuan untuk mengetahui adanya penyakit
lain, yang dahulu pernah diderita untuk penanganan resiko komplikasi dan tatalaksana yang
lebih baik. Adapun pertanyaan yang perlu diajukan,antara lain:
Apa saja riwayat penyakit dahulu pasien?
3. Riwayat Penyakit Keluarga (RPK)
Riwayat penyakit keluarga ditanyakan dengan tujuan mengeliminasi kemungkinan penyakit
yang herediter dan penyakit yang disebabkan karena terjadinya penularan antar anggota
keluarga. Adapun pertanyaan yang perlu diajukan:
Apakah ada anggota keluarga pasien yang pernah mempunyai riwayat yang
sama seperti pasien?
4. RiwayatPengobatan
Tanyakan kepada pasien apakah sebelumnya pasien sudah pernah berobat
sebelumnya dengan keluhan yang sama?

C.

PEMERIKSAAN FISIK DAN INTERPRETASI 1,6

Pemeriksaan Fisik
14

TB/BB

Hasil Didapat

Keterangan

165cm/80kg

Obesitas,

pada

pasien

dapat memperberat gejala


yang

diderita

kelebihan

karena

beban

tubuh

untuk ditopang
Heart Rate

70x/menit Regular

Normal

Tekanan Darah

130/80

High-Normal

Suhu

36.5oC

Normal

Pernafasan

18x/menit Regular

Normal

Kesadaran

Compos Mentis

Normal

Kepala

Normosefalik

Normal,

tidak

peningkatan

ada
tekanan

intracranial

yang

menyebabkan hidrosefalus
Leher

Tidak nyeri gerak maupun tekan, Normal,


kaku kuduk negatif

tidak

ada

rangsang meningeal yang


menyebabkan kaku kuduk
ataupun

kelainan

musculoskeletal

yang

menyebabkan

nyeri

tekan/gerak pada pasien


Jantung/ Paru

Normal

Abdomen

Lemas, tidak nyeri tekan, kembung, Normal, tidak merupakan


hepatosplenomegali atau massa

Normal

peradangan

peritoneum
15

yang

menyebabkan

defense musculair, tidak


ada

kelainan

hepar

maupun limpa, atau tumor.


Tulang

Skoliosis (-)

Normal

Nyeri tekan lumbal bawah, gluteal Gangguan

sistem

saraf

kiri

sensoris

Ekstremitas atas

Tidak ada kelainan

Normal

Ekstremitas

Simetris, gaya jalan normal

Normal

Kekuatan otot kiri 4

Dapat melawan tahanan

bawah

ringan, namun tidak dapat


melawan tahanan berat

Normal, dapat melawan


Kekuatan otot kanan 5

tahanan berat.

Reflek fisiologis KPR normal


kiri

APR menurun

Refleks

APR

diperkirakan

menurun
karena

gangguan jaras sacral 1


yang
bagian

mempersarafi

otot

belakang

16

(gastrocnemius & soleus)


untuk plantar fleksi
Reflek patologis

Negatif

Normal

Terdapat nyeri tekan region lumbal bawah, gluteal kiri dan memberat jika pasien
duduk dengan gerak antefleksi batang badan dan nyeri menjalar ke belakang
tungkai kiri. Dapat disimpulkan dengan adanya nyeri yang menjalar, rasa sakit
ditimbulkan akibat salah 1 jaras dari sistem sensoris daerah lumbosakral mengalami
gangguan seperti terjepit, trauma repetitive, dan sebagainya.
Nyeri didapat pada tungkai atas kiri dorsal bila di fleksi pasif hingga 40 derajat, nyeri
juga bertambah bila dilakukan dorsofleksi pada pergelangan kaki yang merupakan
gejala akibat gangguan jaras di regio lumbal 2- lumbal 5.
Nyeri didapat pada tungkai atas kiri bagian dorsal yang merupakan gangguan
penjarasan pada region lumbal 5- sacral 1.
Sensibilitas dorsum pedis dan plantar pedis kiri berkurang dimana merupakan
gangguan pada regio lumbal 4 sacral 1.
Refleks fisiologis KPR (Knee-Pattela Reflek) normal dan APR (Achilles Plantar
Reflek) menurun juga menandakan adanya gangguan pada lumbal 4-sacral 1 sesuai
gambar berikut ini.

17

Pemeriksaan neurologic pasien menunjukkan tidak ada tanda-tanda kelainan nervi


cranialis, tidak terdapat rangsang meningeal seperti kaku kuduk dan koordinasi serta
keseimbangan pasien baik.
Sehingga dapat disimpulkan dari pemeriksaan fisik, diperkirakan pasien mengalami
gangguan sistem jaras radix pada daerah lumbal 2- sacral 5 yang akan diperkuat
dengan pemeriksaan penunjang seperti MRI untuk memeriksa lokasi pasti lesi
tersebut.
Patofisiologi

Daerah lumbal adalah daerah yang paling sering mengalami herniasi nukleus pulposus.
Kandungan air diskus berkurang bersamaan dengan bertambahnya usia (dari 90% pada bayi

18

menjadi 70% pada saat orang lanjut usia). Selain itu, serabut-serabut menjadi kasar dan
mengalami hialinisasi yang ikut membantu terjadinya perubahan ke arah hernia nukleus
pulposus melalui anulus dan menekan radiks saraf spinal.
Sebagian besar dari herniasi diskus terjadi di daerah lumbal pada ruang antar vertebra L4-5
atau L5-S1. Arah herniasi yang paling sering adalah posterolateral. Karena radiks saraf pada
daerah lumbal miring ke bawah sewaktu berjalan keluar melalui foramina neuralis, maka
herniasi diskus antara L5-S1 akan lebih mempengaruhi radiks saraf S1 daripada L5. Herniasi
diskus antara L4-5 akan menekan radiks saraf L5.
Pada umumnya penderita memberikan riwayat adanya episode nyeri dan hilangnya mobilitas
tulang belakang yang berlangsung secara perlahan-lahan. Walaupun penderita cenderung
menghubungkan masalah ini denan insidens mengangkat atau membungkuk, herniasi
merupakan proses lambat yang ditandai oleh periode penenkanan radiks saraf (menyebabkan
banyak gejala dan periode penyesuaian kembali secara anatomis).

D.

PEMERIKSAAN PENUNJANG DAN INTERPRETASI 5

19

MRI merupakan pemeriksaan gold standard untuk HNP lumbalis, selain itu MRI juga dapat
mendeteksi kelainan jaringan lunak, seperti otot, tendon, ligamen, dan diskus intervertebralis
serta odema yang terjadi di sekitar HNP. MRI mempunyai akurasi 70-80%, sehingga pada
grade awalpun dapat terlihat dengan MRI.
Hasil pemeriksaan MRI pada pasien ini:

Pada kasus ini MRI memberi gambaran berupa herniasi pada Lumbal 1-Sakral 1 (L1-S1) ke
arah postero-lateral, sehigga dapat disimpulkan bahwa pasien menderita Herniasi Nukleus
Pulposus (HNP).

E.

DIAGNOSIS

Diagnosis Klinis

: Nyeri pinggang bawah dan bokong,

menjalar ke tungkai kiri, baal dan kesemutan (parastesia) pada


plantar dan dorsal tungkai kiri, kelemahan otot tungkai kiri,
20

overweight,
Laseq positif, APR kiri melemah

Diagnosis topis

Diagnosis Patologi

: Herniasi dari Nucleus Pulposus

Diagnosis Etiologi

: Trauma Repetitive

F.

PENATALAKSANAAN

: Radix L1-S1

2,7,8

Terapi konservatif
Medikamentosa:
- Analgetik
- OAINS
- Injeksi kortikosteroid, apabila pasien tidak mampu melakukan terapi fisik karena nyeri

Non medikamentosa:
- Tirah baring selama 1-2 minggu diatas kasur yang keras dan rata
- Terapi fisik dan olahraga untuk mengurangi tekanan dan kompresi saraf, menguatkan otot
punggung dan abdomen untuk membantu menyokong vertebrae

21

- Imobilisasi dengan menggunakan lumbosacral brace atau korset


- Diet untuk mengurangi berat badan
- Traksi lumbal
- Edukasi, pasien perlu membatasi tindakan mengangkat barang serta menggunakan
mekanika tubuh secara benar

G.

KOMPLIKASI

H.

PROGNOSIS

Ad Vitam

: Ad bonam

Ad Fungtionam

: Dubia ad bonam

Ad Sanationam

: Dubia ad bonam

Kebanyakan orang akan membaik dengan pengobatan. Sebagian kecil dapat terus
memiliki sakit punggung bahkan setelah pengobatan. Ini mungkin membutuhkan beberapa
bulan untuk sampai tahun atau lebih untuk kembali ke semua aktivitas tanpa rasa sakit. Orang
yang bekerja dalam pekerjaan yang melibatkan angkat berat atau regangan kembali mungkin
perlu mengubah kegiatan tugas mereka untuk menghindari cedera bertambah parah atau
berulang.
22

IX.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hernia Nukleus Pulposus

Definisi
Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan
diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul.
Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus. HNP merupakan
rupturnya nukleus pulposus.
Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau bawahnya, bisa juga langsung
ke kanalis vertebralis.
HNP (Hernia Nukleus Pulposus) yaitu : keluarnya nucleus pulposus dari discus melalui
robekan annulus fibrosus keluar ke belakang/dorsal menekan medulla spinalis atau mengarah
ke dorsolateral menakan saraf spinalis sehingga menimbulkan gangguan
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah penonjolan diskus inter vertabralis dengan piotusi
dan nukleus kedalam kanalis spinalis pumbalis mengakibatkan penekanan pada radiks atau
cauda equina.
HNP adalah suatu penekanan pada suatu serabut saraf spinal akibat dari herniasi dan nucleus
hingga annulus, salah satu bagian posterior atau lateral
Anatomi Fisiologi
Columna vertebralis adalah pilar utama tubuh. Merupakan struktur fleksibel yang dibentuk
oleh tulang-tulang tak beraturan, disebut vertebrae.
Vertebrae dikelompokkan sebagai berikut :
Cervicales (7)
Thoracicae (12)
Lumbales (5)
Sacroles (5, menyatu membentuk sacrum)
Coccygeae (4, 3 yang bawah biasanya menyatu)

23

Tulang vertebrae ini dihubungkan satu sama lainnya oleh ligamentum dan tulang rawan.
Bagian anterior columna vertebralis terdiri dari corpus vertebrae yang dihubungkan satu sama
lain oleh diskus fibrokartilago yang disebut discus invertebralis dan diperkuat oleh
ligamentum longitudinalis anterior dan ligamentum longitudinalis posterior.
Diskus invertebralis menyusun seperempat panjang columna vertebralis. Diskus ini paling
tebal di daerah cervical dan lumbal, tempat dimana banyak terjadi gerakan columna
vertebralis, dan berfungsi sebagai sendi dan shock absorber agar kolumna vertebralis tidak
cedera bila terjadi trauma.
Discus intervertebralis terdiri dari lempeng rawan hyalin (Hyalin Cartilage Plate), nucleus
pulposus (gel), dan annulus fibrosus. Sifat setengah cair dari nukleus pulposus,
memungkinkannya berubah bentuk dan vertebrae dapat mengjungkit kedepan dan kebelakang
diatas yang lain, seperti pada flexi dan ekstensi columna vertebralis.
Dengan bertambahnya usia, kadar air nucleus pulposus menurun dan diganti oleh
fibrokartilago. Sehingga pada usia lanjut, diskus ini tipis dan kurang lentur, dan sukar
dibedakan dari anulus.
Ligamen longitudinalis posterior di bagian L5-S1 sangat lemah, sehingga HNP sering terjadi

24

di bagian postero lateral.

Penyebab
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya HNP
1. Aliran darah ke discus berkurang
2. Beban berat
3. Ligamentum longitudinalis posterior menyempit
Jika beban pada discus bertambah, annulus fibrosus tidak kuat menahan nucleus pulposus
akan keluar, akan timbul rasa nyeri oleh karena nucleus pulposus yang berada di canalis
vertebralis menekan radiks.
Patofisiologi
Protrusi atau ruptur nukleus pulposus biasanya didahului dengan perubahan degeneratif yang
terjadi pada proses penuaan. Kehilangan protein polisakarida dalam diskus menurunkan
kandungan air nukleus pulposus. Perkembangan pecahan yang menyebar di anulus
25

melemahkan pertahanan pada herniasi nukleus. Setela trauma (jatuh, kecelakaan, dan stress
minor berulang seperti mengangkat) kartilago dapat cedera.
Pada kebanyakan pasien, gejala trauma segera bersifat khas dan singkat, dan gejala ini
disebabkan oleh cedera pada diskus yang tidak terlihat selama beberapa bulan maupun tahun.
Kemudian pada degenerasi pada diskus, kapsulnya mendorong ke arah medula spinalis atau
mungkin ruptur dan memungkinkan nukleus pulposus terdorong terhadap sakus dural atau
terhadap saraf spinal saat muncul dari kolumna spinal.
Hernia nukleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nukleus pulposus menekan pada
radiks yang bersama-sama dengan arteria radikularis berada dalam bungkusan dura. Hal ini
terjadi kalau tempat herniasi di sisi lateral. Bilamana tempat herniasinya ditengah-tengah
tidak ada radiks yang terkena. Lagipula,oleh karena pada tingkat L2 dan terus kebawah sudah
tidak terdapat medula spinalis lagi, maka herniasi di garis tengah tidak akan menimbulkan
kompresi pada kolumna anterior. Setelah terjadi hernia nukleus pulposus sisa duktus
intervertebralis mengalami lisis sehingga dua korpora vertebra bertumpang tindih tanpa
ganjalan.
Manifestasi Klinis
Nyeri dapat terjadi pada bagian spinal manapun seperti servikal, torakal (jarang) atau lumbal.
Manifestasi klinis bergantung pada lokasi, kecepatan perkembangan (akut atau kronik) dan
pengaruh pada struktur disekitarnya. Nyeri punggung bawah yang berat,
Tanda dan Gejala
1.Mati rasa, gatal dan penurunan pergerakan satu atau dua ekstremitas.
2.Nyeri tulang belakang
3.Kelemahan satu atau lebih ekstremitas
4.Kehilangan control dari anus dan atau kandung kemih sebagian atau lengkap.
Gejala Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah adanya nyeri di daerah diskus yang
mengalami herniasasi didikuti dengan gejala pada daerah yang diinorvasi oleh radika spinalis
yang terkena oleh diskus yang mengalami herniasasi yang berupa pengobatan nyeri kedaerah
tersebut, matu rasa, kelayuan, maupun tindakan-tindakan yang bersifat protektif. Hal lain
yang perlu diketahui adalah nyeri pada hernia nukleus pulposus ini diperberat dengan
meningkatkan tekanan cairan intraspinal (membungkuk, mengangkat, mengejan, batuk,
bersin, juga ketegangan atau spasme otot), akan berkurang jika tirah baring.
Komplikasi
1.RU
2.Infeksi luka
3.Kerusakan penanaman tulang setelah fusi spinal.
Pemeriksaan Diagnostik

Motoris

26

Gaya jalan yang khas, membungkuk dan miring ke sisi tungkai yang nyeri dengan
fleksi di sendi panggul dan lutut, serta kaki yang berjingkat.
Motilitas tulang belakang lumbal yang terbatas.

Sensoris
Lipatan bokong sisi yang sakit lebih rendah dari sisi yang sehat.
Skoliosis dengan konkavitas ke sisi tungkai yang nyeri, sifat sementara.

Tes-tes Khusus
1. Tes Laseque (Straight Leg Raising Test = SLRT)
Tungkai penderita diangkat secara perlahan tanpa fleksi di lutut sampai sudut 90.
2. Gangguan sensibilitas, pada bagian lateral jari ke 5 (S1), atau bagian medial dari ibu jari
kaki (L5).
3. Gangguan motoris, penderita tidak dapat dorsofleksi, terutama ibu jari kaki (L5), atau
plantarfleksi (S1).
Tes dorsofleksi : penderita jalan diatas tumit
Tes plantarfleksi : penderita jalan diatas jari kaki
4. Kadang-kadang terdapat gangguan autonom, yaitu retensi urine, merupakan indikasi untuk
segera operasi.
5. Kadang-kadang terdapat anestesia di perincum, juga merupakan indikasi untuk operasi.
6. Tes kernique

Tes Refleks
Refleks tendon achilles menurun atau menghilang jika radiks antara L5
terkena.

S1

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Darah
Tidak spesifik
Urine
Tidak spesifik
Liquor Serebrospinalis
Biasanya normal. Jika terjadi blok akan didapatkan peningkatan kadar protein ringan dengan
adanya penyakit diskus. Kecil manfaatnya untuk diagnosis.
1. RO Spinal : Memperlihatkan perubahan degeneratif pada tulang belakang

27

2. M R I : untuk melokalisasi protrusi diskus kecil sekalipun terutama untuk penyakit spinal
lumbal.
3. CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan patologiknya tidak terlihat pada M R I
4. Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang terkena.
Penatalaksanaan medik.
1. Pembedahan
Tujuan : Mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan mengubah defisit
neurologik.
Macam :
a. Disektomi : Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus intervertebral
b. Laminektomi : Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada kanalis
spinalis, memungkinkan ahli bedah untuk menginspeksi kanalis spinalis, mengidentifikasi
dan mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medula dan radiks
c. Laminotomi : Pembagian lamina vertebra.
d. Disektomi dengan peleburan.
2. Immobilisasi
Immobilisasi dengan mengeluarkan kolor servikal, traksi, atau brace.
3. Traksi
Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada katrol dan
beban.
4. Meredakan Nyeri
Kompres lembab panas, analgesik, sedatif, relaksan otot, obat anti inflamasi dan jika perlu
kortikosteroid.

VII.

KESIMPULAN

28

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan


pemeriksaan penunjang, kami mendiagnosis Ny. Rita berumur 37 tahun ini menderita
HNP (Hernia Nukleus Pulposus) karena tanda dan gejala yang telah ditemukan seperti
radicular pain ataupun low back pain. Dimana prognosis dari gejala ini adalah baik
dikarenakan harapan dari hasil pelayanan terapi yang juga baik.
Dengan pelayanan non- medikamentosa berupa rawat jalan, fisioterapi dan
pemberian edukasi diet untuk pasien diharapkan kesembuhan penuh dapat tercapai.
Dengan sejalannya waktu pengobatan dan fisioterapi seperti traksi dengan harapan
kembalinya herniasi atau kompresi dari nukleus pulposus itu sendiri, serta pemberian
analgesik dan AINS yang hanya merupakan obat obatan simptomtik saja sudah
cukup membatu untuk proses penyembuhan.
Perlunya evaluasi serta edukasi yang tepat untuk jadwal minum obat, nutrisi
diet dan olahraga ringan sangat mempengaruhi kesejahteraan pasien.

29

VIII. DAFTAR PUSTAKA


1.

Price SA, Wilson LM.Evaluasi pasien neurologik. In: Patofisiologi: gangguan sistem
neurologik Vol 2. 6th ed. Jakarta:EGC;2006.p.1045-61 (PEMERIKSAAN NEURO)

2.

Sylvia a. Price, Lorraine m. Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Hartanto H, Susi N, Wulansari P, Mahanani D A. Ed 6. Volume 2. Jakarta:
EGC.2005. p. 1099 1101

3.

Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: PT. Dian rakyat. 2010.
P.90-14

4.

Natadidjaja H. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik Penyakit Dalam. 2012. Tangerang


Selatan : Binarupa Aksara Publisher. 15-22

5.

Birney M.H, Brady C.L, et al. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC. 2011. p. 4158

6.

Staff.

Nerve

Distribution:

Dermatomes.

Available

at

http://classes.kumc.edu/sah/resources/handkines/nerves/c6.htm Accessed on: July.


13rd, 2012
7.

Herniated

Nucleus

Pulposus.

Avalable

at

http://emedicine.medscape.com/article/1263961-overview#aw2aab6b7 Accessed on:


July. 13rd, 2012
8.

Herniated

disk:

MedlinePlus

Medical

Encyclopedia.

Avalable

at

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000442.htm Accessed on: July.


13rd, 2012

30

Anda mungkin juga menyukai