Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 mendapatkan angka kematian bayi
(AKB) di Indonesia !" bayi per #000 ke$ahiran hidup% Bi$a dirin&ikan #"7%000 bayi meningga$ per tahun
atau '!0 bayi per hari% Beberapa penyebab kematian bayi disebabkan berat badan $ahir rendah asfiksia
tetanus infeksi dan masa$ah pemberian minum%1(enyebab kematian neonata$ ke$ompok umur 0)7 hari
ada$ah prematuritas dan berat badan $ahir rendah*low birth weight (+B,) !"- diikuti o$eh asfiksia
$ahir !!.-% Sedangkan penyebab kematian neonata$ ke$ompok umur /)2/ hari ada$ah infeksi "7#-
(termasuk tetanus sepsis pnemonia diare) dan masa$ah minum #'!-%"
Sepsis neonatorum sampai saat ini masih merupakan masalah utama di bidang pelayanan dan
perawatan neonatus. dan merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak pada neonatus.
Menurut perkiraan World Health Organization (WHO), terdapat !uta kematian neonatus setiap
tahun dengan angka mortalitas neonatus (kematian dalam "# hari pertama kehidupan) adalah $%
per 1&&& kelahiran hidup, dan '#( kematian tersebut berasal dari negara berkembang ()epkes,
"&&*). )imana angka ke!adian sepsis neonatorum di negara berkembang +ukup tinggi (1,#,
1#-1&&& kelahiran hidup), sedangkan di negara ma!u (1,-1&&& kelahiran). (.erdes,"&&).
Se+ara khusus angka kematian neonatus di /sia 0enggara adalah $' per 1&&& kelahiran hidup.).
.ambaran klinis tidak menentu
)iagnosis dan tata laksana dini sangat penting dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian
pada neonatus. 0ata laksana sepsis, khususnya pilihan antibiotik seharusnya didasarkan pada
bakteri penyebab in1eksi yang diperoleh dari biakan darah dan hasil u!i sensiti2itas antibiotik
terhadap bakteri tersebut. 3amun karena pemeriksaan biakan bakteri dan u!i sensiti2itas
membutuhkan waktu yang +ukup lama (%#,*" !am). 4ada sepsis neonatorum antibiotik harus
diberikan sesegera mungkin, maka sebaiknya diketahui pola kuman penyebab sepsis di ruang
perawatan neonatus sebagai pedoman pemberian antibiotik empris tanpa menunggu hasil kultur
dan u!i sensiti2itas.
5
1
BAB II
SEPSIS NEONATORUM
)e1inisi
Sepsis pada bayi baru lahir (667) adalah in1eksi aliran darah yang bersi1at in2asi2e dan ditandai
dengan ditemukannya bakteri dalam +airaan tubuh seperti darah, +airan sumsum tulang atau air
kemih. Se!ak adanya +onsensus dari /meri+an 8ollage o1 8hest 4hysi+ians- So+iety o1 8riti+al
8are Medi+ine (/884-S88M) telah timbul berbagai istilah dan de1ine di bidang in1eksi yang
banyak pula dibahas pada kelompok 667 dan penyakit anak. 9sitilah-de1ines tersebut antara lain
Sepsis merupakan sindrom respon in1lamasi sistemik (Systemi+ 9n1lammatory :espons
Syndrome , S9:S) yang ter!adi sebagai akibat in1eksi bakteri, 2irus, !amur, atauoun
parasite
Sepsis berat adalah keadaan sepsis yang disertai dis1ungsi organ kardio2akulardan
ganguan napaas akut atau terdapat gangguan dua organ lain (seperti gangguan neurologi,
hematologi, urogenital, dan hepatologi).
Syok sepsis ter!adi apabila bayi masih dalam keadaan hipotensi walaupun telah
mendapatkan +airan adekuat.
Sindroma dis1ungsi multi organ ter!adi apabila bayi tidak mampu lagi mempertahan
homeostasis tubuh sehingga ter!adi perubahan 1ungsi dua atau lebih organ tubuh. (idai)
;lasi1ikasi
Sepsis neonatal biasanya dibagi dalam " kelompok yaitu awitan dini dan awitan lambat. 4ada
awitan dini, kelainan ditemukan pada hari hari pertama kehidupan (umur dibawah $ hari). 9n1eksi
ter!adi se+ara 2erti+al karena penyakit ibi atau in1eksi yang diderita ibu selama persalinan atau
kelahiran. 4ada awitan lambat ter!adi disebabkan oleh kuman yang berasal dari lingkungan di
sekitar bayi setelah hari ke $ lahir. 4roses in1eksi ma+am ini disebut !uga in1eksi dengan
transmisi horizontal dan termasuk didalamnya in1eksi karena kuman nosokomial. Selain
perbedaan waktu paparan kuman, kedua bentuk in1eksi !uga berbeda dalam ma+am kuman
2
penyebab in1eksi. Selan!utnya baik pathogenesis, gambaran klinis ataupun pentalaksaan
penderita tidak banyak berbeda dan sesuai dengan per!alanan sepsisnya yang dikenal dengan
+as+ade sepsis. (idai)
Faktor Resiko
Sepsis lebih sering ter!adi pada bayi beresiko, misalnya pada bayi kurang bulan, bayi berat badan
lahir rendah, bayi dengan sindrom gangguan na1as atau bayi yang lahir dari ibu bersiko. <aktor
resiko ibu adalah demam intrapartum lebih $#
&
8, persalinan kurang bulan, ketuban pe+ah dini
lebih dari 1# !am, as1iksia antenatal atau intrapartum, in1eksi saluran kemih ibu, 1aktor so+ial
ekonomi serta gizi ibu, ibu dengan diabetes melitus dan +horioamnionitis. <aktor resiko dari
riwayat kelahiran adalah persalinan lama dan persalinan dengan tindakan. <aktor resiko neonatal
adalah berat badan lahir rendah, kelahiran kurang bulan, neonates dengan selang endotrakea,
akses 2ena sentral, katetar in1us, dan neonates minum susu 1ormurla.(asuhan ponek), dan
kelainan bawaan.
pene$itian kami menun0ukkan bah1a usia gestasi 2!7
minggu dan ni$ai A(3A4 rendah merupakan faktor
risiko independen berdasarkan ana$isis mu$tivariat
terhadap ter0adinya sepsis neonatorum a1itan dini%
(ada neonatus yang $ahir di 4S56 bi$a terdapat
faktor risiko prematur (usia gestasi 2!7 minggu) dan*
atau ni$ai A(3A4 yang rendah maka harus di$akukan
skrining sepsis pemantauan ketat terhadap timbu$nya
S7AD bi$a me$akukan tindakan intervensif maka
harus dengan tindakan septik)antiseptik yang idea$ dan
pemberian antibiotik empiris dapat dipertimbangkan% (dafpus ")
Epidemiologi
)i negara ma!u angka ke!adiannya sekitar $ per 1&&& kelahiran hidup dengan angka kematian
1&,$(, sedangkan di negara sedang berkembang angka ke!adian sepsis lebih tinggi yaitu 1,#=1#
per 1&&& kelahiran hidup dengan angka kematian 1"(=5#(.1
4ada bayi laki=laki sepsis " kali lebih besar dari bayi perempuan. ;e!adian sepsis !uga
meningkata pada bayi kurang bulan dan berat badan lahir rendah. 4ada bayi berat badan amat
rendah ( >1&&& gram) ke!adian sepsis ter!adi pada "5 perseribu kelahiran dan keadan ini berbeda bermakna dengan berat lahir anatara 1&&& = "&& gram yang angka
ke!adiannya antara # =' perseribu kelahiran. )emikian pula resiko kematian bayi berat lahir rendah penderita sepsis lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayi +ukup bulan.
3
)i :S?4 )r. ;ariadi Semarang angka ke!adian in1eksi pada neonatus pada tahun "&&% adalah
sebesar $$,1( dengan angka kematian "&,$(, di :S 8ipto Mangunkusumo @akarta tahun "&&
sekitar 1$,5#( ter!adi in1eksi dari seluruh kelahiran hidup dengan angka kematian men+apai
1%,1#(. Sedangkan di :S?) dr H /bdul Moeloek 7ampung, angka ke!adian in1eksi pada tahun
"&&' adalah sebesar $&,1( dengan angka kematian %&(.
%
Cara i!eksi
1. 9n1eksi antenatal
;uman men+apai !anin melalui sirkulasi ibu ke plasenta dan kuman yang bisa menyerang
!anin
a. Airus B :ubella, poliomyelitis, 2ariola
b. Spiro+haeta B Syphilis
+. 6akteriB C +oli,listeria,mono+ytogenes
". 9n1eksi intranatal
7ebih sering ter!adi, mikroorganisme dapat masuk ke dalam rongga amnion
$. 9n1eksi postnatal
0er!adi setelah bayi lahir dan merupakan in1eksi yang di dapat akibat pemakaian alat
yang terkontaminasi atau sebagai in1eksi silang. 9n1eksi ter!adi dengan +ara
a. 4emeberian susu 1ormula, bisa !adi karena pengolahan kurang bersih dan
kontaminasi dari lingkungan
b. Masusknya mikroorganiem melaluli umbili+us, 1aring, telings, system perna1asan,
saluran kemih, gastrointestinal.
+. ;ontaminasi dengan bayi, indi2idu atau lingkungan seperti pemakaian alat=akat
kesehatan.
1&
Fisiologi dasar i!eksi eoates
Se!ak masa kehamilan sampai ketuban pe+ah, !anin relati1 terlindungi dari 1lora mikroba ibu oleh
membran-dinding korioamniotik, plasenta, dan 1aktor antibakteria dalam air ketuban. 6eberapa
tindakan medis yang mengganggu integritas isi rahim seperti amniosintesis, cervical cerclage,
pengambilan +ontoh 2ili korialis transser2ikal, atau pengambilan +ontoh darah perkutaneus,
dapat memudahkan organisme normal kulit atau 2agina masuk sehingga menyebabkan
amnionitis dan in1eksi sekunder pada !anin. 6ila ketuban pe+ah lebih dari "% !am, bakteri 2agina
dapat bergerak naik dan pada beberapa kasus menyebabkan in1lamasi pada membran !anin, tali
pusat, dan plasenta. 9n1eksi pada !anin dapat disebabkan oleh aspirasi air ketuban yang terin1eksi,
dapat mengakibatkan neonatus lahir mati, persalinan kurang bulan, atau sepsis neonatal.
Organisme yang paling sering ditemukan dari air ketuban yang terin1eksi adalah bakteri
anaerobik, streptokokus kelompok 6, Eschericia coli, dan mikoplasma daerah genital. 9n1eksi
pada ibu saat proses kelahiran terutama in1eksi genital adalah !alur utama transmisi maternal dan
4
dapat berperan penting pada ke!adian in1eksi neonatal. 9n1eksi hematogen transplasental selama
atau segera sebelum persalinan (termasuk saat pelepasan plasenta) dapat ter!adi walau in1eksi
lebih mungkin ter!adi saat neonatus melewati !alan lahir. 6anyak komplikasi penyakit dan
gangguan kandungan yang ter!adi sebelum dan sesudah proses persalinan yang berkaitan dengan
peningkatan risiko in1eksi pada neonatus baru lahir. ;omplikasi ini meliputi persalinan kurang
bulan, ketuban pe+ah dini yang berkepan!angan, inersia uterin dengan ekstraksi 1orseps tinggi,
dan demam pada ibu. Saat bakteri men+apai aliran darah, sistem monosit=makro1ag dapat
menyingkirkan organisme tersebut se+ara e1isien dengan opsonisasi oleh antibodi dan
komplemen sehingga bakteriemi hanya ter!adi singkat. 6akteremia tergantung dari usia pasien,
2irulensi dan !umlah bakteri dalam darah, status nutrisi dan imunologis, waktu dan asal
inter2ensi terapi, menyebabkan respon in1lamasi sistemik dari sumber in1eksi berkembang luas.
"
.e!ala dan tanda
Sepsis pada bayi baru lahir memiliki gejala yang bervariasi dan
umumnya bayi terlihat tidak seperti biasanya. Gejala-gejala yang
dapat muncul sepsis pada bayi baru lahir
0idak mau minum /S9 ataupun muntah
Suhu tubuh D $#
o
8 di ukur melalui anus atau lebih rendah dari norma, rewel
7emas dan tidak resonsi1
0idak akti1 bergerak
4erubahan 1rekuensi !antung (pada awal sepsis akan +epat kemudian men!adi pelan)
6erna1as sangat +epat atau kesulitan berna1as
6ayi henti na1as lebih dari 1& detik
4erubahan warna kulit (pu+at atau biru)
;uning pada kulit atau mata
:uam kemerahan
;urang produksi urin
1&
)iagnosa
4emeriksaan kultur merupakan baku emas dalam penegakan diagnosis pasti sepsis neonatorum.
4enderita yang diduga sepsis harus dilakukan kultur, dengan spesimen dapat berupa darah, urin,
5
atau +airan serebrospinal. Sepsis merupakan keadaan kedaruratan dimana keterlambatan
pengobatan dapat menyebabkan kematian. Sehingga kultur harus dilan!utkan dengan u!i
sensiti2itas antibiotika sehingga terapi antibiotika yang diberikan tepat sesuai dengan pola
kepekaan antibiotik pada bakteri penyebab sepsis pada penderita. 4enggunaan antibiotik
spektrum luas yang berdampak buruk, mengingat semakin tingginya tingkat resistensi dan
toksisitasnya. Selain itu, perawatan di :umah Sakit men!adi lebih lama dan berdampak pada
biaya serta meningkatkan risiko in1eksi nosokomial
$
;riteria diagnostikB
)iagnosis tersangka sepsis bila didapatkan 1 1aktor E " 1aktor minor !uga disertai pemeriksaan
penun!ang seperti B 7ekosit >&&&-mm$ atau D $&&&&-mm$, 0rombosit >$ 1&&&&-mm$, 90 rasio
D &," atau 90 rasio D nilai normal sesuai umur, 8:4 D 1mg-d7, ;ultur darah positi1,
Hipoglikemia - hiperlikemia, /sidosis metaboli+, ;adar bilirubin meningkat.
<aktor mayor B
1. :uptur membran ibu yang lama D 1#!am
". 9bu dengan demam intrapartum D$#F8
$. ;orioamnionitis
%. Heart :ate !anin D15&G-menit
. ;etuban berbau.
<aktor minorB
1. :uptur membrane ibu yang lama D 1" !am
". 9bu dengan demam intrapartum D $*,F8
$. /pgar skor rendah
%. 6erat badan lahir sangat rendah
. ?sia .ra2ida > $* minggu
5. ;ehamilan ganda
*. ;eputihan pada ibu yang tidak diobati
#. 9bu 9S; atau tersangka 9S; yang tidak diobati
#,'
4emeriksaan laboratorium
8emato$ogi
Darah rutin termasuk kadar hemog$obin 8bhematokrit 8t $eukosit dan hitung 0enis trombosit% (ada
umumnya terdapat neutropeni (67 2#/00*$ trombositopeni 2#"0%000*$(spesifisitas tinggi
6
sensitivitas rendah) neutrofi$ muda meningkat 9#"00*$ rasio neutrofi$ imatur: tota$ 902% Adanya
reaktan fase akut yaitu 54( (konsentrasi tertinggi di$aporkan pada infeksi bakteri kenaikan sedang
didapatkan pada kondisi infeksi kronik) +;D 35S< (granulocyte colonystimulating factor)
sitokin I+)#= I+). dan >7<(tumour necrosis factor)% Biakan darah atau &airan tubuh $ainnya
(&airan serebrospina$is) serta u0i resistensi pe$aksanaan pungsi $umba$ masih kontroversi dian0urkan
di$akukan pada bayi yang menderita ke0ang kesadaran menurun k$inis sakit tampak makin berat dan
ku$tur darah positip% Bi$a ada indikasi dapat di$akukan biakan tin0a dan urin% (emeriksaan apusan
3ram dari bahan darah maupun &airan $i?uor serta urin% +ain)$ain misa$nya bi$irubin gu$a darah dan
e$ektro$it (natrium ka$ium)%
Pemeriksaan Radiologi
(emeriksaan radio$ogi yang diper$ukan ia$ah foto dada abdomen atas indikasi dan gin0a$%
(emeriksaan @S3 gin0a$ skaning gin0a$ sistouretrografi di$akukan atas indikasi%
Pemeriksaan Penunjang Lain
(emeriksaan p$asenta dan se$aput 0anin dapat menun0ukkan adanya korioamnionitis yang merupakan
potensi ter0adinya infeksi pada neonatus%
Tatalaksana
Eliminasi kuman penyebab merupakan pilihan utama dalam tata laksana sepsis neonatorum,
sedangkan penentuan kuman penyebab membutuhkan waktu dan mempunyai kendala
tersendiri. Hal ini merupakan masalah dalam melaksanakan pengobatan optimal karena
keterlambatan pengobatan akan berakibat peningkatan komplikasi yang tidak diinginkan.
Sehubungan dengan hal tersebut, penggunaan antibiotik seara empiris dapat dilakukan
dengan memperhatikan pola kuman penyebab yang tersering ditemukan di klinik tersebut.25
!ntibiotik tersebut segera diganti apabila sensiti"itas kuman diketahui. Selain itu, beberapa
terapi suporti# (adjuvant) $uga sudah mulai dilakukan walaupun beberapa dari terapi tersebut
belum terbukti menguntungkan. %erapi suporti# meliputi trans#usi granulosit, intravenous
immune globulin &'(')* replacement, trans#usi tukar &exchange transfusion* dan penggunaan
sitokin rekombinan
+ada bayi dengan sepsis awitan dini, terapi empirik harus meliputi S),, E. coli, dan Listeria
monocytogenes.1- .ombinasi penisilin atau ampisilin ditambah aminoglikosida mempunyai
akti"itas antimikroba lebih luas dan umumnya e#ekti# terhadap semua organisme penyebab
S!/.1-,22 .ombinasi ini sangat dian$urkan karena akan meningkatkan akti"itas antibakteri.1-
.ombinasi penisilin atau ampisilin dengan aminoglikosida dapat $uga digunakan untuk terapi
awal S!0. +ada beberapa rumah sakit, strain penyebab in#eksi nosokomial telah mengalami
1
perubahan selama 22 tahun terakhir ini karena telah ter$adi peningkatan resistensi terhadap
kanamisin, gentamisin, dan tobramisin. 3leh karena itu, pada in#eksi nosokomial lebih dipilih
pemakaian netilmisin atau amikasin. !mikasin resisten terhadap proses degradasi yang
dilakukan oleh sebagian besar en4im bakteri yang diperantarai plasmid, begitu $uga yang dapat
menginakti#kan aminoglikosida lain.1-
BAB III
MI"OROR#ANISME PEN$EBAB SEPSIS NEONATORUM
4ola kuman sepsis tidak selalu sama antara satu rumah sakit dengan rumah sakit yang lain.
4erbedaan tersebut terdapat pula antar suatu negara dengan negara lain. 4erbedaan pola kuman
ini akan berdampak terhadap pemilihan anitbiotik yang dipergunakan pada pasien. 4erbedaan
pola kuman mempunyai kaitan pula dengan prognosa serta komplikasi !angka pan!ang yang
mungkin didertia 667. Hampir sebagian besar kuman penyebab di negara berkembang adalah
kuman .ram negati1 berupa kuman enterik seperti Enterobacter sp., Klebsiella sp dan Coli sp.
Sedangkan di /merika ?tara dan Cropa barat %&( penderita terumata disebabkan oleh
Streptokokus grup B. Selan!utnya Coli sp, Listeria sp dan Cntero2irus ditemukan dalam !umlah
yang sedikit. Streptococcus grup 6 dilaporkan sebagai etiologi tersering dari sepsis neonatorum
di 3egara ma!u dan bertanggu !awab atas morbiditas dan mortalitas yang tinggi.
11
9ndonesia sebagai salah satu 3egara yang sedang berkembang pola kuman yang terlihat !uga
tidak banyak berbeda dengan kuman di 3egara berkembang lainnya. ;arakteristik
mikroorganisme penyebab sepsis di beberapa rumah sakit di 9ndonesia
0abel 1. ;uman 4enyebab Sepsis 667 di 9ndonesia di beberapa rumah sakit 9ndonesia
Peeliti Tempat %&mla' "&lt&r
dara' positi!
Mikroorgaisme
ter(a)ak
S&ar*a +,--./ :S Sanglah )epansar 1&% Staohylococcus
coagulated-negative,
Entereobacter sp,
Klebsiella
S&0ato +,--./ 398? :S Harapan
;ita, @akarta
"5% Serrasia sp,
Klebsiella pneumonia,
-
Enterobacter
aerogenes, klebsiella
sp, aeroginosa
Ro'sis0atmo +,--1/ :S8M @akarta $"& Acinetobacter
calciaceticus,
enterobacter sp,
Staphylococcus sp,
Staphylycoccus
epidermidis,
$&liaa +,--2/ :S Hasan Sadikin,
6andung
$ burkholderia cepacia,
Klebsiella penumonia
So!ia' +,--2/ :S Moh, Huseinn,
4alembang
$5 Acinobacter
calcoaceticus,
klebsiella pneumonia,
Staphylococcus
epidermidis,
Streptococcus
viridans
Ra'ma +,--2/ :S Sutomu, Surabaya $5 Staphylo+o++us
+oagulated=negati2e,
a+ineba+ter,
enteroba+ter
aoregenes, klebsiella
pneumonia.
4eneltiain !uga dilalkukan oleh :uang 4eristi level 99 :S )r. M. )!amil 4adang periode 1 @anuari
= , $& @uni "&&'. Cnam puluh sembilan neonatus dirawat dengan diagnosis sepsis neonatorum
awitan dini, sedangkan yang memenuhi kriteria penelitian $ neonatus 6erdasarkan hasil
penelitian, bakteri terbanyak penyebab sepsis adalah Staphylococcus aureus ($&,"() diikuti oleh
Klebsiella sp dan Enterobacter sp (masing=masing "",5(). @umlah bakteri penyebab sepsis yang
lain, seudomonas aeruginosa, Cilobacter, Serratia mescescen dan Candida spesies hanya
berkisar antara 1,'(=$,#(.
5
0abel ". Mikroorganisme pada biakan darah (nH$)
Aenis mikroorganisme Aum$ah
Staphylococcus aureus
#.
Klebsiella spesies
#2
Enterobacter spesies
#2
Staphylococcus epidermidis
.
Pseudomonas aerugenosa
2
Citobacter
2
Serratia mescescen
2
Candida spesies
#
6akteri penyebab sepsis neonatal awitan dini terbanyak di :S )r. M )!amil 4adang adalah
Staphylococcus aureus diikuti Klebsiella sp dan Enterobacter sp. Hasil yang sama dilaporkan
oleh Wilar :, Susanto <5 di :S ;andou Manado periode @uli , )esember "&&*, Staphylococucs
aureus sebagai bakteri terbanyak penyebab sepsis neonatorum. !orld "ealth #rgani$ation
%oung &n'ants Study (roup pada tahun 1''' !uga menemukan Staphylococcus aureus ("$()
sebagai bakteri terbanyak yang ditemukan pada biakan darah di empat negara sedang
berkembang (Cthiopia, 4hilipina, 4apua 3ew .uinea, dan .ambia). Sedangkan )i2isi
4erinatologi )epartemen 9lmu ;esehatan /nak <;?9=:S8M pada bulan @uli "&&%,Mei "&&
mendapatkan Staphylococcus sp 5,#( setelah Acinetobacter calcoacetius ($,5*(), diikuti
Enterobacter sp (*,&1(). )i negara ma!u ditemukan hasil yang berbeda. 6akteri penyebab
terbanyak penyebab S/) adalah Streptococcus grup B (D%&( kasus), Escherichia coli,
"aemophilus in'luen$a dan Listeria monocytogenes.
1

Selain data di atas didapatkan !uga penelitian di :umah Sakit /bdul Moeloek di ?nit
4erinatologi pada bulan 3o2ember=)esember "&11, didapatkan "% sampel. Setelah dilakukan
kultur pada "% sampel penderita didapatkan hasil ("1() sampel steril, % (1*() isolat bakteri
.ram positi1, dan 1 (5"() isolat bakteri .ram negati1. 6erdasarkan hasil kultur, pewarnaan
.ram dan u!i biokimia didapatkan spesies bakteri seperti pada 0abel ", dengan spesies terbanyak
adalah seudomonas sp. ("(), dan Klebsiella sp. ("().
12
0abel ". Hasil 9denti1ikasi 9solat 6akteri 4enyebab Sepsis 3eonatorum di ?nit
4erinatologi :S/M berdasarkan ;ultur dan ?!i 6iokimia
Isolat %&mla' Sampel Presetasi +3/
Pseudomonas sp 5 "
Klebsiella sp 5 "
Staphylococcus sp % 1*
Enterobacter sp " #
Escherichia coli 1 %
Negati! +steril/ "1
%&mla' " 1&&
4ada penelitian ini didapatkan bakteri .ram negati1 lebih banyak didapatkan pada penderita
sepsis neonatorum, dimana seudomonas sp dan Klebsiella sp merupakan bakteri yang paling
banyak ditemukan sebagai penyebab sepsis neonatorum.
%
)i beberapa negara organisme penyebab tersering dari sepsis awitan dini adalah Streptococcus
grup dan Escherichia coli, sementara di :S8M pada tahun "&11 adalah Staphylococcus
epidermidis, Serratia sp serta Candida tropicalis. Di 4S56 pada tahun 2007) 20#2 yang sebagian
besar ada$ah bakteri 3ram negative seperti Acinetobacter sp, Enterobacter sp, Seratia sp,
Pseudomonas, dan $ain)$ain%#2 (ada dua tahun terakhir Divisi 7eonato$ogi 4S56 ter0adi peningkatan
hasi$ ku$tur o$eh bakteri 3ram positif 1a$aupun masih di dominasi o$eh bakteri 3ram negatif yaitu
ditemukan kuman go$ongan Staphylococcus pada tahun 20## sebesar #### - dari se$uruh hasi$ ku$tur%
Hasil "&lt&r R&ag Periatologi B&d'i Asi'
:uang perinatologi :S?) 6udhi /sih !uga melakukan pengumpulan data terhadap bayi bayi
baru lahir yang dirawat dengan ke+urigaan sepsis yang dilakukan adalah melakukan kulur darah,
sputum, dan air seni untuk men+ari mikroorganisme penyebab sepsis.
0abel $. Hasil ;ultur pada 6ulan @anuari "&1$
Ba'a Hasil Biaka %&mla'
Dara' Staphylococcus epidermidis "
Dara' Klebsiella pneumonia 1
Dara' Candida albicans 1
11
)ari hasil kultur yang dilakukan pada periode bulan @anuari "&1$ didapatkan Staphylococcus
epidermidis adalah kuman yang paling banyak ditemukan. 4ada periode @anuari "&1$ !uga
ditemukan 1 kasus yang kultur darahnya tumbuh !enis !amur yaitu Candida albicans.
0abel %. Hasil ;ultur pada 6ulan <ebruari "&1$
Ba'a Hasil (iaka 4&mla'
Sp&t&m Serratia li)ue'aciens 1
Sp&t&m seudomonas aeruginosa 1
Sp&t&m Klebsiella pneumonia "
Sp&t&m roteus sp 1
Dara' Staphylococcus epidermidis *
Dara' Klebsiella pneumonia 1
Dara' Streptococcus viridans 1
Dara' *ora+ella sp 1
Uri Serratia marcescens 1
)ari hasil kultur yang dilakukan pada periode bulan <ebruari "&1$ didapatkan Staphylococcus
epidermidis adalah kuman yang paling banyak ditemukan. Selain itu didapatkan beberapa
kuman yang tumbuh dari spe+imen sputum yaitu Serratia li)ue'aciens, seudomonas
aeruginosa, Klebsiella pneumonia, dan roteus sp. 4ada bulan 1ebruari "&1$ !uga didapatkan
kuman !enis Serratia marcescens yang tumbuh dari spe+imen urin.
0abel . Hasil ;ultur pada 6ulan Maret "&1$
Ba'a Hasil Biaka %&mla'
Dara' Staphylococcus epidermidis "
Dara' Serratia marcescens "
Dara' seudomonas aeruginosa 1
)ari hasil kultur yang dilakukan pada periode bulan maret "&1$ didapatkan Staphylococcus
epidermidis dan Serratia mercescens adalah kuman yang paling banyak ditemukan dan keduanya
didapatkan dari kultur darah.
0abel 5. Hasil ;ultur pada 6ulan /pril "&1$
Ba'a Hasil (iaka %&mla'
Dara' Candida parasilosis 1
Dara' Staphylococcus epidermidis 5
Dara' Klebsiella pneumonia 1
Dara' Enterobacter sp 1
Dara' sedumonas sp 1
Dara' Streptococcus ,-haemolyticus 1
)ari hasil kultur yang dilakukan pada bulan april "&1$ kuman yang paling banyak ditemukan
adalah Staphylococcus epidermidis. 4ada periode april "&1$ !uga didpatkan beberapa !enis
12
kuman dan !amur yang tidak pernah ditemukan pada bulan= bikan sebelumnya yaitu
Streptococcus ,-haemolyticus dan Candida parapsilosis.
0abel *. Hasil ;ultur pada 6ulan @uni "&1$
Ba'a Hasil Biaka %&mla'
Dara' Klebsiella pneumonia $
Dara' Staphylococcus epidermidis %
Dara' Candida sp 1
Dara' Escherichia coli "
)ari hasil kultur yang dilakukan bulan !uni "&1$ kuman yang paling banyak ditemukan adalah
Staphylococcus epidermidis dan Klebsiella pneumonia. Selain itu pada bulan !uni "&1$ !uga
ditemukan Escherichia coli pada biakan darah.
0abel #. Hasil ;ultur pada 6ulan @uli "1&$
Ba'a Hasil Biaka %&mla'
Dara' Staphylococcus epidermidis %
Dara' 8andida sp 1
Dara' Strepto+o++us 2iridans 1
)ari hasil kultur yang dilakukan pada bulan @uli "&1$ kuman yang paling banyak ditemukan
adalah Staphylococcus epidermidis. Selain itu pada bulan @uni "&1$ !uga ditemukan
Streptococcus viridans dan Candida sp pada biakan darah.
0abel '. Hasil ;ultur 4eriode @anuari , @uli "&1$
Hasil biakan @umlah
Staphylococcus epidermidis "
Klebsiella pneumonia #
Serratia marcescens $
seudomonas aeruginosa "
Streptococcus viridans "
Escherichia coli "
Enterobacter sp "
Streptococcus ,-haemolyticus 1
*ora+ella sp 1
Serratia li)ue'aciens 1
Candida albicans 1
Candida parasilosis 1
Selama pengumpulan data dari bulan @anuari , @uli "&1$ didapatkan mirkroorganisme yang
terbanyak adalah di perinatologi :S?) 6udhi /sih adalah Staphylococcus epidermidis. )iikuti
oleh Klebsiella pneumonia dan yang lainya.
13
Hampir seluruh penyebab
BAB I5
"ESIMPULAN
1. Mayetti, 9melda. 4ola 6akteriologis dan ?!i Sensiti2itas pada Sepsis 3eonatorum /witan
)ini. Sari 4ediatri "&1&I11()B$"5=').
". ;osim SM.9n1eksi 3eonatal /kibat /ir ;etuban ;eruh. Sari 4ediatri "&&'I11($)B"1"=#)
14
$. )epartemen ;esehatan :epublik 9ndonesia. "&&*. enatalaksanaan Sepsis -eonatorum.
)epartemen ;esehatan :epublik 9ndonesia, @akarta.
%. /priliana C, :ukmono 4, Crdian 3, 0ania <. 6akteri 4enyebab Sepsis 3eonatorum dan
4ola ;epekaannya 0erhadap /ntibiotika. Seminar 3asional Sains J 0eknologi
A.7embaga 4enelitian ?ni2ersitas 7ampung."&1$
. )!a!a S. 4enyakit penyebab kematian bayi baru lahir (neonatal) dan sistem pelayanan
kesehatan yang berkaitan di 9ndonesia. )idapat dariB
http.//digilib.litbang.depkes.go.id/go.php0id12kpkbppk-gdl-res-3445-sarima6ar-778-
neonatal9)1survei.
5. :ohsiswatmo :. ;ontro2ersi diagnosis sepsis neonatorum. )alamB ?pdate in neonatal
in1e+tion. )epartemen 9lmu ;esehatan /nak <;?9=:S8MI "&&.h. $"=%$.
7% :oeslani :), /mir 9, 3asrulloh MH, Suryani. 4enelitian /wal <aktor :esiko pada Sepsis
/witan )ini. Sari 4ediatri "&1$I1%(5)B$5$=#.
#. 67? :S?4 4ro1.)r.:.).;andou Manado.4anduan praktik klinik B Sepsis 3eonatorum.
"&1".
'. Sankar M@, /garwal :, )eorari /;, 4aul A;. 9nB Sepsis in 0he 3ewborn. )e2ision o1
3eonatology. )epartement o1 4ediatri+s. /ll 9ndia 9nstitute S+ien+es.3ew )elhiI"&&#.
1&. Maryunani /. 4uspita C. /suhan ;egawatdarutan Meternal dan 3eonatal. @akartaB 8A
0rans 9n1o Media."&1$.hal $%*=".
11. 3aher HS, ;hamel /6. 3eonatal SepsisI 0he 6a+terial 8auses and the :isk <a+tors. &nt.
:es. ;. *edical Sci. Aol. 6+2/7 1'="", @uly +,-68/
15