Anda di halaman 1dari 14

HUBUNGAN ISTIMEWA DALAM UU PERPAJAKAN

I. Definisi Transaksi Hubungan Istimewa :


Berdasarkan pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) no. 7 tentang
Pengungkapan pihak-pihak yang mempunyai Hubungan istimewa, diberikan definisi sebagai
berikut:
Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa adalah pihak-pihak yang dianggap
mempunyai hubungan istimewa bila satu pihak mempunyai kemampuan untuk
mengendalikan pihak lain atau mempunyai pengaruh signifikan atas pihak lain dalam
mengambil keputusan keuangan dan operasional.
Transaksi antara pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa adalah suatu
pengalihan sumber daya atau kewajiban antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan
istimewa, tanpa menghiraukan apakah suatu harga diperhitungkan.
Dalam penjelasan definisi tersebut diuraikan lebih lanjut bahwa termasuk sebagai
pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah perusahaan dibawah pengendalian
satu atau lebih perantara (intermediaries), perusahaan asosiasi (associated company);
perorangan yang memiliki hak suara yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota
keluarga dekat ; karyawan kunci; dan perusahaan yang dimiliki baik secara langsung
maupun tidak langsung oleh setiap orang yang berpengaruh signifikan.
Transaksi hubungan istimewa dapat terjadi antara pihak-pihak dalam wilayah suatu
negara (domestic transaction) atau melewati lintas batas negara (cross border transaction).
Transaksi secara domestik terjadi jika terjadi transfer sumberdaya atau kewajiban antara satu
pihak dengan pihak yang lain, keduanya masih berada dalam hanya dalam lingkup batas
wilayah suatu negara. Karena masih dalam wilayah kedaulatan suatu negara, tentunya masih
tunduk pada ketentuan hukum dan peraturan yang sama. Lain halnya jika transaksi melintasi
batas wilayah negara, akan membawa permasalahan yang lebih kompleks, mengingat pada
suatu transaksi tersebut akan bersentuhan dengan aturan hukum dari negara-negara yang
berbeda.

II. Aspek Perpajakan dalam Transaksi hubungan istimewa
Dalam ketentuan peraturan perpajakan, transaksi hubungan istimewa mendapat
perhatian yang khusus, terlebih jika transaksi tersebut disinyalir dilakukan untuk tujuan
penghindaran pajak dengan cara melaporkan penghasilan kurang dari yang semestinya atau
pembebanan biaya yang tidak wajar. Transaksi hubungan istimewa dapat juga menyebabkan
penentuan harga penyerahan sebagai dasar perhitungan Pajak Pertambahan Nilai menjadi
lebih kecil dari yang semestinya. Walaupun sebenarnya ketentuan perpajakan kurang
berimbang, karena hanya menitikberatkan pada transaksi yang berakibat berkurangnya
potensi penerimaan pajak, akan tetapi tidak mengatur jika transaksi hubungan istimewa
tersebut mengakibatkan penghasilan menjadi lebih besar atau pembebanan biaya menjadi
lebih kecil dibandingkan dengan transaksi dengan menggunakan harga pasar wajar.

Hubungan Istimewa menurut ketentuan peraturan perundang-undangan pajak diatur dalam:
1. Pasal 18 ayat (4) UU Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagai telah
diubah terakhir dengan Undang-undang nomor 28 Tahun 2007 sebagai berikut:
Hubungan istimewa dianggap ada apabila:
Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling
rendah 25% (dua puluh lima persen) pada Wajib Pajak lain; hubungan antara Wajib
Pajak dengan penyertaan paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada dua Wajib
Pajak atau lebih; atau hubungan di antara dua Wajib Pajak atau lebih yang disebut
terakhir;
Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih Wajib Pajak berada
di bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung; atau
terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan
lurus dan/atau ke samping satu derajat.
2. Pasal 2 ayat (2) UU Nomor 8 tahun 1984 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-
undang Nomor 42 Tahun 2010, sebagai berikut:
Hubungan istimewa dianggap ada apabila:
Pengusaha mempunyai penyertaan langsung atau tidak langsung sebesar 25% (dua
puluh lima persen) atau lebih pada Pengusaha lain, atau hubungan antara Pengusaha
dengan penyertaan 25% (dua puluh lima persen) atau lebih pada dua pengusaha atau
lebih, demikian pula hubungan antara dua Pengusaha atau lebih yang disebut terakhir
Pengusaha menguasai Pengusaha lainnya atau dua atau lebih Pengusaha berada di
bawah penguasaan. Penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung;
atau
Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan
lurus satu derajat dan/atau ke samping satu derajat

3. Pasal 9 ayat (1) Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda Indonesia dengan mitra
perjanjian, antara lain sebagai berikut:
Perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan istimewa, apabila:
a. suatu perusahaan dari suatu Negara Pihak pada Persetujuan turut berpartisipasi
secara langsung maupun tidak langsung dalam manajemen, pengawasan atau
modal suatu perusahaan dari Negara Pihak lainnya pada Persetujuan, atau
b. terdapat orang/badan yang sama yang turut berpartisipasi secara langsung
maupun tidak langsung dalam manajemen, pengawasan, atau modal suatu
perusahaan dari Negara Pihak pada Persetujuan dan suatu perusahaan dari
Negara Pihak lainnya pada Persetujuan, dan dalam tiap kasus di atas, terdapat
kondisi-kondisi yang dibuat atau diberlakukan diantara kedua perusahaan
dimaksud dalam hubungan dagang atau hubungan keuangannya yang berbeda
dengan kondisi-kondisi yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan yang
mempunyai kedudukan bebas, maka atas laba yang karena kondisi- kondisi
tadi, tidak diakui, dapat ditambahkan pada laba perusahaan tersebut dan
dikenakan pajak.
Ketentuan perpajakan terhadap wajib pajak, pengusaha atau perusahaan yang memiliki
transaksi hubungan istimewa sebagaimana dimaksud di atas adalah:
1. Penerapan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha dalam melakukan
transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa
2. Mengungkapkan transaksi-transaksi yang dilakukannya dalam lampiran Surat
Pemberitahuan Tahunan PPh
3. Wewenang Direktur Jenderal Pajak untuk melakukan perhitungan kembali
apabila Transaksi hubungan istimewa tidak menerapkan prinsip kewajaran dan
kelaziman usaha secara benar.
Sumber :
Undang-undang KUP
Undang-undang Pajak Penghasilan.
Undang-undang PPN dan PPn BM
Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER - 43/PJ/2010 Tentang Penerapan Prinsip
Kewajaran Dan Kelaziman Usaha Dalam Transaksi Antara Wajib Pajak Dengan
Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa.
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER - 69/PJ/2010 Tentang Kesepakatan
Harga Transfer (Advance Pricing Agreement)
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER - 48/PJ/2010 Tentang Tata Cara
Pelaksanaan Prosedur Persetujuan Bersama (Mutual Agreement Procedure)
Berdasarkan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 7 Pengungkapan Pihak-Pihak
Yang Mempunyai Hubungan Istimewa.

HARGA TRANSFER MENURUT UU PERPAJAKAN INDONESIA

Pengertian Harga Transfer
Harga transfer sering juga disebut intracompany pricing, intercorporate pricing,
interdivisional pricing, atau internal pricing. Pengertian harga transfer dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu pengertian yang bersifat netral dan pengertian yang bersifat peyoratif.
Pengertian bersifat netral mengasumsikan bahwa harga transfer adalah murni merupakan
strategi dan taktik bisnis tanpa motif pengurangan beban pajak. Sedangkan pengertian
peyoratif mengasumsikan harga transfer sebagai upaya untuk menghemat beban pajak dengan
taktik, antara lain menggeser laba ke Negara yang tariff pajaknya rendah.

Transfer Pricing dalam Peraturan Perpajakan Indonesia
Peraturan tentang transfer pricing secara umum diatur dalam Pasal 18 UU Nomor 36
Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (UU PPh). Pasal 18 ayat (3) UU PPh menyebutkan
bahwa Direktorat Jenderal Pajak (DJP) berwenang untuk menentukan kembali besarnya
Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan
Wajib Pajak lainnya sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi
oleh hubungan istimewa (arms length principle) dengan menggunakan metode perbandingan
harga antara pihak yang independen, metode harga penjualan kembali, metode biaya-plus,
atau metode lainnya. Hubungan istimewa dikatakan terjadi jika (i) Wajib Pajak mempunyai
penyertaan modal langsung maupun tidak langsung paling rendah 25% pada Wajib Pajak
lain; (ii) Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih Wajib Pajak berada
di bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung; atau (iii) terdapat
hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus dan/atau ke
samping satu derajat.
Aturan lebih lanjut dan detail tentang transfer pricing termuat dalam Peraturan Dirjen
Pajak Nomor 43 Tahun 2010 yang diubah dengan Peraturan Dirjen Pajak Nomor 32 Tahun
2011. Di dalam aturan ini disebutkan pengertian arms length principle yaitu harga atau laba
atas transaksi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa
ditentukan oleh kekuatan pasar, sehingga transaksi tersebut mencerminkan harga pasar yang
wajar.
Dalam Peraturan Dirjen Pajak ini juga diatur bahwa arms length principle dilakukan
dengan menggunakan langkah-langkah: (i) melakukan analisis kesebandingan dan
menentukan pembanding; (ii) menentukan metode penentuan harga transfer yang tepat; (iii)
menerapkan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha berdasarkan hasil analisis kesebandingan
dan metode penentuan harga transfer yang tepat ke dalam transaksi yang dilakukan antara
Wajib Pajak dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa; dan (iv)
mendokumentasikan setiap langkah dalam menentukan Harga Wajar atau Laba Wajar sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku

Pajak Internasional Dalam Harga Transfer
Perusahaan-perusahaan multinasional melihat harga transfer sebagai suatu isu pajak
internasional utama dan lebih dari setengah perusahaan ini, mengatakan bahwa ini adalah isu
yang paling penting. Perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia dalam arti
perusahaan-perusahaan multinasional Indonesia yang mempunyai unit (anak
perusahaan/cabang/perwakilan) di luar negeri maupun perusahaan-perusahaan multinasional
di luar negeri yang mempunyai unit (anak perusahaan/cabang/perwakilan) di Indonesia pad
aumumnya akan senantiasa berusaha dengan instrument harga transfer, mencapai sala satu
tujuannya memakisimalkan keuntungan dengan berupaya meminimalkan beban pajaknya,
terutama pajak penghasilan badan.
Upaya yang dilakukan dengan pergeseran harga dari Negara yang beban pajaknya
tinggi ke Negara yang beban pajaknya rendah atau nihil. Selain itu, diadakan pula perjanjian
bilateral di bidang perpajakan, dengan maksud antara lain untuk menghindarkan pengenaan
pajak berganda, sehingga beban pajak dapat ditekan.

RUANG LINGKUP PERPAJAKAN INTERNASIONAL

Untuk memudahkan dalam pemahaman tentang pajak internasional khususnya ditinjau dari
Subjek dan Objek Pajak, maka dapat dikategorikan menjadi 2 (dua) pandangan yaitu :
Taxing Inbound Income ; Pemajakan atas Subjek Pajak Dalam Negeri (SPDN) yang
memperoleh penghasilan yang bersumber dari luar negeri.
Taxing Outbound Income ; Pemajakan atas Subjek Pajak Luar Negeri (SPLN) yang
memperoleh penghasilan yang bersumber dari dalam negeri
Kita mengetahui bahwa negara memiliki kedaulatan untuk mengenakan pajak terhadap setiap
penghasilan setiap individu dan terdapat connecting factors antara Negara dengan suatu
transaksi/peristiwa ekonomi yang menimbulkan penghasilan. Dalam Undang- Undang pajak
menerapkan dua prinsip berdasarkan connecting factors tersebut yaitu :
Residence Principle (Azas Residensi), Hak Negara mengenakan pajak kepada seseorang
(individu atau badan) karena terdapat personal attachment, seperti: residensi, domisili,
kewarganegaraan, tempat pendirian, tempat kedudukan manajemen. (Worldwide Income)
Source Principle (Azas Sumber), Hak Negara mengenakan pajak kepada seseorang
(individu atau badan) karena terdapat economic attachment yaitu penghasilan yang
bersumber di Negara tersebut.
Beberapa prinsip dalam perpajakan internasional yang salah satunya dikemukakan oleh
Doernberg (1989) menyebut 3 unsur netralitas yang harus dipenuhi dalam kebijakan
perpajakan internasional, yaitu :
Capital Export Neutrality (Netralitas Pasar Domestik): Kemanapun kita berinvestasi, beban
pajak yang dibayar haruslah sama. Sehingga tidak ada bedanya bila kita berinvestasi di dalam
atau luar negeri. Maka jangan sampai bila berinvestasi di luar negeri, beban pajaknya lebih
besar karena menanggung pajak dari dua negara. Hal ini akan melandasi UU PPh Psl 24 yang
mengatur kredit pajak luar negeri.
Capital Import Neutrality (Netralitas Pasar Internasional): Darimana pun investasi berasal,
dikenakan pajak yang sama. Sehingga baik investor dari dalam negeri atau luar negeri akan
dikenakan tarif pajak yang sama bila berinvestasi di suatu negara. Hal ini melandasi hak
pemajakan yang sama dengan Wajib Pajak Dalam Negeri (WPDN) terhadap permanent
establishment (PE) atau Badan Uasah Tetap (BUT) yang dapat berupa cabang perusahaan
ataupun kegiatan jasa yang melewati time-test dari peraturan yang berlaku.

National Neutrality: Setiap negara, mempunyai bagian pajak atas penghasilan yang sama.
Sehingga bila ada pajak luar negeri yang tidak bisa dikreditkan boleh dikurangkan sebagai
biaya pengurang laba.

HUKUM PAJAK INTERNASIONAL

Pengertian hukum pajak ini dapat dibagi menjadi tiga bagian dari pendapat ahli hukum pajak,
yaitu:
1. Menurut pendapat Prof. Dr. Rochmat Soemitro, bahwa hukum pajak internasional
adalah hukum pajak nasional yang terdiri atas kaedah, baik berupa kaedah-kaedah
nasional maupun kaedah yang berasal dari traktat antar negara dan dari prinsif atau
kebiasaan yang telah diterima baik oleh negera-negara di dunia, untuk mengatur soal-
soal perpajakan dan di mana dapat ditunjukkan adanya unsur-unsur asing.
2. Menurut pendapat Prof. Dr. P.J.A. Adriani, hukum pajak internasional adalah suatu
kesatuan hukum yang mengupas suatu persoalan yang diatur dalam UU Nasional
mengenai pemajakan terhadap orang-orang luar negeri, peraturan-peraturan nasional
untuk menghindarkan pajak ganda dan traktat-traktat.
3. Sedangkan menurut pendapat Prof. Mr. H.J. Hofstra, hukum pajak internasional
sebenarnya merupakan hukum pajak nasional yang di dalamnya mengacu pengenaan
terhadap orang asing.
Persoalan yang terjadi dalam hukum pajak ini ialah apakah hukum pajak nasional akan
diterapkan atau tidak? Hukum pajak internasional juga merupakan norma-norma yang
mengatur perpajakan karena adanya unsur asing, baik mengenai objeknya maupun subjeknya.
Kedaulatan Hukum Pajak Internasional
Berbicara masalah Hukum Pajak Internasional, khususnya Hukum Pajak Internasional
Indonesia secara umum dapat dikatakan barlaku terbatas hanya pada subjeknya dan objeknya
yang berada di wilayah Indonesia saja. Dengan kata lain terhadap orang atau badan yang
tidak bertempat tinggal atau berkedudukan di Indonesia pada dasarnya tidak akan dikenakan
pajak berdasarkan UU Indonesia. Namun demikian, Hukum Pajak Internasional dapat
berkaitan dengan subjek maupun objek yang berada di luar wilayah Indonesia sepanjang ada
hubungan yang erat dalam hal terdapat hubungan ekonomis atau hubungan kenegaraan
dengan Indonesia.
UU No. 7 Tahun 1983 tentang PPh sebagaimana telah diubah dengan UU No. 17
Tahun 2000 (UU PPh) khususnya dalam pasal 26 diatur bahwa terhadap WP luar negeri yang
memperoleh penghasilan dari Indonesia antara lain berupa bunga, royalti, sewa, hadiah dan
penghargaan, akan dikenakan PPh sebesar 20% dari jumlah bruto. Pasal ini menunjukkan
bahwa contoh adanya hubungan ekonomis antara orang asing dengan penghasilan yang
diperoleh di Indonesia.
Dalam hukum antar negara terdapat suatu asas mengenai kedaulatan negara yang
dinyatakan sebagai kedaulatan setiap negara untuk dengan bebas mengatur kepentingan-
kepentingan rumah tangganya sendiri, dalam batas-batas yang ditentukan oleh hukum antar
negara dan bebas dari pengaruh kekuasaan negara lain. Sesuai dengan asas yang dimaksud di
muak, maka kedaulatan pemajakan sebagai spesial dari gengsi kedaulatan negera dapat
dinyatakan sebagai kedaulatan suatu negara untuk bertindak merdeka dalam lapangan pajak.

Sumber-sumber Hukum Pajak Internasional
Prof. Dr. Rochmat Soemito dalam bukunya Hukum Pajak Indonesia, menyebutkan bahwa
ada bebarapa sumber hukum pajak internasional, yaitu:
1. Hukum Pajak Nasional atau Unilateral yang mengandung unsur asing.
2. Trakat, yaitu kaedah hukum yang dibuat menurut perjanjian antar negara baik secara
bilateral maupun multilateral.
3. Keputusan Hakim Nasional atau Komisi Internasional tentang pajak-pajak
internasional.
Sedangkan dalam buku Pengantar Ilmu Hukum Pajak karangan R. Santoso Brotodihardjo,
S.H. menyatakan bahwa sumber-sumber formal dari hukum pajak internasional, yaitu:
1. Asas-asas yang terdapat dalam hukum antar negara
2. Peraturan-peraturan unilateral (sepihak) dari setiap negara yang maksudnya tidak
ditujukan kepada negara lain.
3. Traktat-traktat (perjanjian) dengan negera lain, seperti:
1. Untuk meniadakan atau menghindarkan pajak berganda.
2. Untuk mengatur pelakuan fiskal terhadap orang-orang asing.
3. Untuk mengatur soal pemecahan laba di dalam hal suatu perusahaan atau seseorang
mempunyai cabang-cabang atau sumber-sumber pendapatan di negara asing.



YURISDIKSI HUKUM PAJAK INTERNASIONAL

Berdasarkan Pasal 2 UU PPh 1984, Indonesia membangun yurisdiksi pemajakan
berdasarkan dua kaitan fiskal (fiscal allegiance) yaitu: subjektif dan objektif. Pasal 2 ayat (3)
huruf a UU PPh 1984 yang mengatur subjek pajak dalam negeri, berbunyi, Orang pribadi
yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada di Indonesialebih dari
183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan,atau orang
pribadi yang dalam satu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk
bertempat tinggal di Indonesia. Menurut ketentuan ini, orang pribadi dapat disebut Wajib
Pajak dalam negeri jika memenuhi salah satu syarat berikut: tempat tinggal atau domisili,
keberadaan, atau niat bertempat tinggal di Indonesia. Ketiga syarat ini merupakan cara
pengujian, dimanakah seseorang berdomisili.
Sedangkan untuk subjek pajak badan, ketentuan tentang domisili diatur dalamPasal 2
ayat (3) huruf b UU PPh 1984. Suatu badan dapat disebut Wajib Pajak dalamnegeri jika
memenuhi syarat sebagai berikut: badan tersebut didirikan di Indonesia, ataubertempat
kedudukan di Indonesia.
Kepastian domisili ini sangat penting karena berkaitan dengan hak
pemajakanberdasarkan asas domisili. Asas domisili yaitu asas mengenai pengenaan pajak
yangmenentukan bahwa negara tempat Wajib Pajak bertempat tinggal atau
berkedudukanlebih berhak mengenakan pajak atas hasil-hasil yang diperoleh Wajib Pajak
dalam negeriyang berasal dari sumber di mana saja sumber itu ada, baik sumber itu berada di
dalamnegeri maupun di luar negeri.
Selain asas domilisi, terdapat satu asas lagi yang berlaku dalam UU PPh 1984
danditerima secara global, yaitu asal sumber. Yurisdiksi sumber Indonesia
mendasarkankepada dua unsur, yaitu: menjalankan suatu aktivitas ekonomi secara signifikan,
danmenerima atau memperoleh penghasilan yang bersumber dari negara tersebut.
Menurut asas sumber, negara tempat sumber itu terletak, lebih berhak mengenakan pajak atas
hasil yang keluar dari sumber itu, tak pandang dimana orang yangmemiliki sumber itu berada
(di luar negeri yang mengenakan pajak). Siapapun, orangpribadi atau badan, yang menerima
atau memperoleh penghasilan, baik penghasilan dariusaha (active income) atau penghasilan
dari modal (passive income), dari Indonesia dapat dikenakan Pajak Penghasilan. Dasar
hukum asas ini adalah Pasal 2 ayat (4) UU PPh1984.
Yuridiksi adalah hak pemajakan suatu negara terhadap yang diterima atau diperoleh
olehwarga negaranya baik yang bersumber dari dalam negeri dan luar negeri maupun
olehwarga negara asing yang bersumber dari dalam negeri.Yuridiksi Pemajakan ada 2 yaitu :
1.Yuridiksi Domisili
: yaitu hak pemajakan yang didasarkan kepada siapa yangmemperoleh penghasilan (
berorientasi hanya pada subjek pajak ).
2.Yuridiksi Sumber
: yaitu hak pemajakan yang didasarkan kepada objek penghasilantersebut berada atau
diperoleh ( sumber penghasilan berada/ terletak di Indonesia,berorientasi kepada objek pajak
).


Contoh:
1. Tuan Amin seorang WNI memperoleh bunga dari Tuan Soleh di Jakarta sebesar Rp.15
juta. Jawab : Indonesia berhak memajaki Tuan Amin menggunakan yuridiksi domisili dan
juga yuridiksi sumber.
2. Tuan Steven warga negara Singapore memperoleh bunga dari Tuan Soleh di Jakartasebesar
Rp. 30 juta. Jawab : Indonesia berhak memajaki Tn. Steven berdasarkan yuridiksi sumber
danSingapore juga berhak memajaki berdasarkan yuridiksi domisili.
3.Mr. Steven warga Wn. Singapore adalah seorang pegawai sebuah konsultan keuangan
diSingapore melakukan pemberian jasa konsultasi bidang investasi keuangan pada
beberapapengusaha UKM di Indonesia. Selama tahun 2009 kegiatan dilakukan sebanyak 15
kaliselama 5 hari setiap satu kali kegiatan. Fee yang diterima Mr. Steven selama tahun
2009sebesar Rp. 500 juta. Berdasarkan yuridiksi pemajakan, negara mana yang berhak
memajaki dan berapa PPh terutang bila diasumsikan tidak ada tax treaty antara Indonesiadan
Singapore. Jawab :* Tn. Steven merupakan WPLN (Wajib Pajak Luar Negeri) karena berada
di Indonesia <183 hari ( 15 kali x 5 hari =75 hari ).* Indonesia berhak memajaki Tn. Steven
berdasarkan yuridiksi sumber dan Singaporeberhak memjaki berdasarkan yuridiksi domisili.*
PPh terutang tahun 2009 =20% x Rp. 500 juta ( tarif pajak pasal 26)=Rp. 100 juta

Metode Penghindaran Pajak Berganda Internasional
1. Dampak Pajak Berganda
Secara ekonomis pajak merupakan pengorbanan suberdaya (kemampuan ekonomis)
yang harus ditanggung oleh pengusaha (dan masyarakat). Pajak berganda sebagai akibat dari
pemajakan oleh dua ketentuan pemajakan (dari dua negara) memberikan tambahan beban
ekonomi terhadap pengusaha. Sementara, perluasan usaha ke mancanegara sudah
mengundang tambahan risiko dibanding dengan usaha dalam negeri, pemajakan berganda
telah ikut memperbesar risiko tersebut. Kalau tidak ada upaya untuk mencegah atau
meringankan beban pajak berganda tersebut, PBI dapat ikut memicu ekonomi global dengan
biaya tinggi dan menghambat mobilitas global sumberdaya ekonomis. Oleh karena itu,
tampak bahwa sudah merupakan kebutuhan internasional antarnegara untuk mengupayakan
agar kebijakan perpajakannya bersifat netral terhadap kompetisi internasional. Netralitas
tersebut dicapai dengan penyediaan keringanan atau eliminasi atas PBI.
2. Beberapa Metode Penghindaran Pajak Berganda Internasional
Secara tradisional terdapat beberapa metode penghindaran PBI, seperti (1)
pembebasan/pengecualian, dan (2) kredit (tax credit). Kedua metode tersebut merupakan
bentuk eliminasi atau keringanan PBI yang diikuti oleh kebanyakan negara.
Pembebasan/pengecualian
Metode pembebasan (exemption)/pengecualian (exclusion) berupaya untuk sepenuhnya
mengeliminasi PBI. Metode tersebut menghendaki suatu negara pemegang yurisdiksi
pemajakan sekunder (domisili) untuk dengan rela melepaskan hak pemajakannya dan
sepertinya mengakui pemajakan eksklusif di negara lain (negara sumber). Metode eksemsi
meliputi pembebasan (1) subjek, (2) objek, dan (3) pajak.
Pembebasan subjek (subject exemption) umumnya diberlakukan terhadap anggota
korps diplomatic, konsuler, dan organisasi internasional. para duta besar, anggota korps
diplomatic dan konsuler, sesuai dengan hukum internasional mendapat privelege pemajakan.
Mereka hanya dikenakan pajak oleh negara pengirimnya saja (sending state). Ketentuan
pemberian privelege (hak istimewa) tersebut diiktui oleh (hampir) semua negara secara
universal dan dikenal dengan istilah .asas reprositas. (tet) Pembebasan objek (object, income
exemption), yang lebih dikenal dengan full exemption atau exemption without progression,
diberikan dengan mengeluarkan penghasilan luar negeri dari basis pemajakan WPDN negara
tersebut. Exemption without progression (eksemsi tanpa progresi) maksudnya adalah bahwa
penghasilan luar negeri dari WPDN betul-betul dibebaskan dari pengenaan pajak dengan
mengeluarkannya (mengecualikannya) dari dasar pengenaan pajak (basis pajak) sehingga
tidak akan masuk dalam unsur penghitungan progresi (progresivitas) tarif pengenaan pajak
negara domisili.
Pilihan ketiga dari metode pembebasan ini adalah pembebasan pajak (tax exemption)
atau dikenal dengan exemption with progression. Dalam metode ini, pada prinsipnya
penghasilan luar negeri tetap dibebaskan dari pengenaan pajak domestik, namun untuk
keperluan penghitungan pajak dan penerapan tarif pajak pengaruh progresi penghasilan luar
negeri terhadap pengenaan pajak atas penghasilan global dipertahankan. Apabila negara
residen memperlakukan tarif sepadan (prporsional atau flat), maka pengaruh progresi tersebut
adalah nihil. Progresi akan berpengaruh positif atau menguntungkan wajib pajak apabila
penghasilan luar negeri negatif (rugi), karena kerugian tersebut dapat merupakan pengurang
basis penghitungan pajak atas penghasilan global. Hal ini merupakan salah satu perbedaan
utama antara metode pembebasan penghasilan (object exemption) dengan pembebasan pajak
(tax exemption).

Pengaruh progresi akan efektif di negara penganut tarif pajak progresif seperti
Indonesia.

Kredit Pajak
Metode kredit pajak terdiri dari beberapa metode, yaitu (1) Metode Kredit Penuh (full
tax credit mothode), (2) Metode Kredit Terbatas (ordinary atau normal credit mothode) dan
(3) Kredit Fiktif (mathcing atau sparing credt methode). Dalam tataran lain, sehubungan
dengan investasi pada anak perusahaan di luar negeri, dapat dibedakan antara kredit langsung
dan kredit tidak langsung.
Metode kredit penuh (full tax credit methode) mengurangkan pajak yang terutang atau
dibayar di luar negeri sepenuhnya terhadap pajak domestik yang dialokasikan atas
penghasilan tersebut.
Metode kredit pajak biasa (ordinary atau normal credit) memberikan keringanan pajak
berganda internasional yang berupa pengurangan pajak luar negeri atas pajak nasional yang
dialokasikan pada penghasilan luar negeri dengan batasan jumlah yang terendah antara (1)
pajak domestik yang dialokasikan kepada penghasilan luar negeri (batasan teoritis), dan (2)
pajak yang sebenarnya terutang atau dibayar di luar negeri (batasan faktual) atas penghasilan
dimaksud yang termasuk dalam penghasilan global.
Dalam metode kredit biasa, apabila penghasilan luar negeri diperoleh dari beberapa
negara, maka kredit pajak dapat dihitung secara bergabung (oveall) atau tiap negara (per
country limitation). Pemberian kredit bergabung lebih menguntungkan wajib pajak dengan
diperbolehkannya kompensasi antara (1) penghasilan positif dengan negatif dan (2) tarif
tinggi dengan tarif rendah (sebelum dihitung jumlah maksimum pajak yang dapat
dikreditkan). Disamping itu, atas penghasilan dari anak perusahaan luar negeri yang berupa
dividen, selain kredit atas pajak dari dividen (kredit langsung; direct tax credit) dapat pula
diberikan kredit atas pajak dari laba anak perusahaan yang terkait dengan dividen tersebut
(indirect tax credit).

PERJANJIAN PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA (P3B)

Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) adalah perjanjian internasional di
bidang perpajakan antar kedua negara guna menghindari pemajakan ganda agar tidak
menghambat perekonomian kedua negara dengan prinsip saling menguntungkan antar kedua
negara dan dilaksanakan oleh penduduk antar kedua negara yang terlibat dalam perjanjian
tersebut.
Dalam UU Pajak Penghasilan (PPh), istilah perjanjian perpajakan ini lebih dikenal
dengan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda atau biasa disingkat dengan P3B. Sampai
dengan saat ini Indonesia sudah memiliki 58 perjannjian perpajakan (tax treaty) dengan
negara lain. Ada juga beberapa P3B yang masih dalam proses sehingga belum berlaku
efektif.
Payung hukum persetujuan penghindaran pajak berganda atau P3B ini adalah Pasal
32A Undang-undang Pajak Penghasilan (PPh). Berdasarkan pasal ini Pemerintah berwenang
untuk melakukan perjanjian dengan pemerintah negara lain dalam rangka penghindaran pajak
berganda dan pencegahan pengelakan pajak.
Dari isi Pasal 32A UU PPh ini jelas bahwa dilakukannya perundingan dengan negara
lain untuk membuat perjanjian perpajakan ini memiliki dua tujuan utama yaitu pertama
menghindari pengenaan pajak berganda (avoidance of double taxation) dan yang kedua
adalah mencegah pengelakan pajak (prevention of fiscal evasion).
Di samping dua tujuan utama di atas, terdapat pula tujuan lain yang sebenarnya
merupakan akibat bila dua tujuan utama di atas dicapai. Dalam penjelasan Pasal 32A UU PPh
juga ditegaskan bahwa perjanjian perpajakan yang dilakukan pemerintah ini adalah dalam
rangka peningkatan hubungan ekonomi dan perdagangan dengn negara lain. Suatu perjanjian
perpajakan atau tax treaty bertujuan pula untuk mendorong arus modal, teknologi, dan
keahlian ke suatu negara. P3B juga akan memberikan kepastian hukum kepada Wajib Pajak,
memperlancar transaksi ekonomi antar negara dan meningkatkan kerjasama antar negara.

Menghindari Pajak Berganda (Double Taxation)
Dalam menerapkan ketentuan perpajakan, yusrisdiksi perpajakan suatu negara akan
berinteraksi dengan yurisdiksi perpajakan negara lainnya. Interaksi dua yusrisdiksi
perpajakan dua negara ini biasanya akan menimbulkan pajak berganda. Pajak berganda ini
timbul karena dua yusrisdiksi perpajakan mengenakan pajak kepada penghasilan yang sama
yang dimiliki oleh subjek pajak yang sama.
Misalkan seseorang bernama Mr. X yang merupakan warga negara A mendapatkan
penghasilan yang bersumber dari negara B. Ketentuan pajak negara A akan mengenakan
pajak atas penghasilan yang diterima oleh warganegaranya dari manapun sumber penghasilan
tersebut. Di lain pihak, ketentuan pajak negara B juga mengenakan pajak terhadap
penghasilan yang bersumber dari negaranya walaupun penerimanya bukan warga negara atau
bukan penduduk negara B. Nah dalam kasus ini Mr. X akan dikenakan pajak dua kali oleh
negara A dan negara B.
Pajak berganda juga bisa timbul jika seseorang atau badan memenuhi definisi sebagai
subjek pajak dalam negeri (residence) dua negara. Dengan kondisi ini maka orang atau badan
ini akan dikenakan pajak dua kali juga atas seluruh penghasilannya. Masalah ini biasa dikenal
dengan istilah masalah dual residence.
Untuk memecahkan masalah-masalah seperti di atas akibat penerapan ketentuan
perpajakan dua negara, maka kedua negara perlu melakukan perundingan untuk membuat
persetujuan penghindaran pajak berganda (P3B). Dalam P3B ini nantinya akan diatur tentang
hak pemajakan masing-masing negara untuk jenis-jenis penghasilan tertentu.
Dalam kasus dual residence, suatu P3B akan membuat ketentuan sedemikian sehingga
seseorang atau badan hanya akan menjadi residence (subjek pajak dalam negeri) dari satu
negara saja. Ketentuan ini biasa disebut Tie Breaker Rule yang biasanya dimuat dalam Pasal
2 P3B.
Dalam P3B juga biasanya akan diatur mengenai corresponding adjutmentdalam
kasus transfer pricing serta memuat ketentuan tentang metode penghilangan pajak
berganda. Corresponding adjutment mengandung makna bahwa jika satu negara melakukan
koreksi harga dalam suatu transasksi dengan lawan transaksi di negara lain, maka negara lain
juga harus melakukan koreksi sebaliknya agar pengenaan pajak tidak berganda.

Mencegah Pengelakan Pajak
Menghindari pajak bisa dilakukan dalam bentuk tax avoidance dan tax evasion. Tax
avoidance biasanya dilakukan masih dalam koridor ketentuan perpajakan. Apabila
penghindaran ini dilakukan masih sesuai dengan maksud dari pembuat ketentuan, maka
penghindaran ini tidak menjadi masalah. Namun demikian, jika penghindaran ini dilakukan
dengan mengakali peraturan yang tidak sesuai dengan maksud pembuat undang-undang
maka jenis penghindaran ini perlu dipermasalahkan.
Contoh dari pengindaran pajak yang mengakali ketentuan ini misalnya dengan
membuat modal sebagai pinjaman dengan harapan dividen bisa disebut bunga sehingga bisa
dibiayakan. Praktek menggunakan harga transfer (transfer pricing) dalam transaksi
internasional dengan menggeser laba ke negara dengan low tax rate juga merupakan salah
satu jenis penghindaran pajak seperti ini.
Dalam kasus lain, bentuk penghindaran pajak ini bisa berupa membuat transaksi yang
semu walaupun legal form nya benar. Transaksi semu ini dimaksudkan untuk mendapatkan
manfaat dari suatu tax treaty dimana jika transaksi dilakukan dengan cara yang seharusnya
maka dia tidak akan mendapat manfaat dari suatu tax treaty. Pendirian conduit
company, paper boxcompany atau special purpose company biasanya digunakan untuk
mendapatkan manfaat suaty tax treaty.
Penghindaran pajak dalam bentuk tax evasion bermakna penghindaran pajak dengan
melanggar ketentuan pajak seperti tidak melaporkan penghasilan atau membebankan biaya
fiktif. Dengan demikian, tax evasion berdimensi illegal dan kriminal.


Pertukaran Informasi
Untuk mencegah terjadinya penghindaran dan pengelakan pajak dalam suatu transaksi
internasional, suatu perjanjian perpajakan biasanya memuat ketentuan tentang pertukaran
informasi. Informasi dari negara lain dapat digunakan untuk menyelesaikan kasus-kasus
penghindaran atau pengelakan pajak seperti kasus treaty shopping (memanfaatkan ketentuan
tax treaty yang tidak semestinya), kasus transfer pricing ataupun kasus tinda pidana
perpajakan.
Dalam P3B OECD Model, ketentuan tentang pertukaran informasi dimuat dalam
Pasal 26. Sementara itu aturan internal di Indonesia untuk melakukan proses pertukaran
informasi diatur dalam SE-61/PJ/2009

Tujuan P3B adalah sebagai berikut:
a. Tidak terjadi pemajakan berganda yang memberatkan ikim dunia usaha;
b. Peningkatan investasi modal dari luar negeri ke dalam negeri;
c. Peningkatan sumber daya manusia;
d. Pertukaran informasi guna mencegah pengelakan pajak;
e. Kedudukan yang setara dalam hal pemajakan antar kedua negara.

Azas utama yang dijadikan landasan untuk mengenakan pajak adalah:
a. Azas domisili atau azas kependudukan;
b. Azas Sumber;
c. Azas Nasionalitas atau azas kewarganegaraan.

Metode hak pemajakan di berbagai negara, untuk menghindari pemajakan berganda,
antara lain:
a. Metode Pemajakan Unilateral
Metode ini mengatur bahwa negara Republik Indonesia mempunyai kekuatan hukum
didalamnya yang mengatur masyarakat atau badan internasional dan ditetapkan sepihak oleh
negara Indonesia sendiri, dengan kata lain tidak ada yang bisa mengatur negara kita lain
karena hail itu merupakan kewibawaan dan kedaulatan negara kita.
b. Metode Pemajakan Bilateral
Metode ini dalam penghitungan pengenaan pajaknya harus mempertimbangkan perjanjian
kedua negara (Tax Treaty). Indonesia tidak dapat sesuka hati menerapkan jumlah pajak
terutang penduduk asing atau badan internasional dua negara yang telah mengadakan
perjanjian. Justru peraturan perpajakan Indonesia tidak berlaku bilamana terdapat Tax Treaty.
c. Metode Pemajakan Multilateral
Metode ini didasarkan pada konvensi internasional yang ketentuan atau ketetapan atau
keputusan yang dihasilkan untuk kepentingan banyak negara yang ditandatangani oleh
berbagai negara, misalnya Konvensi Wina.
Metode Penghindaran Pajak Berganda adalah:
a. Pembebasan / Pengecualian;
b. Kredit Pajak;
c. Metode Lainnya.
Model-Model Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda
1. ORGANIZATION FOR ECONOMIC CO-OPERATION AND
DEVELOPMENT (OECD) MODEL
Model perjanjian penghindaran pajak berganda yang diterbitkan di tahun 1963 ini,
sama seperti draft London, memberikan prioritas hak pemajakan sebanyak mungkin
kepada negara domisili. Hal ini mencerminkan kepentingan anggota OECD yang
merupakan negara-negara maju yang menjadi tempat domisili aliran modal.

2. UNITED NATIONS (UN) MODEL
Model perjanjian penghindaran pajak berganda yang dikembangkan oleh OECD lebih
memberikan prioritas hak pemajakan kepada negara-negara maju atas penghasilan
yang diperoleh dari transaksi lintas batas negara. Hal ini tidak mengherankan karena
negara-negara merupakan tempat asalnya modal, teknologi dan sumber daya manusia.
Oleh karena itu, mereka berkeinginan agar sebagian besar hak pemajakan diberikan
kepada negara mereka atau negara di mana modal, teknologi, dan sumber daya
manusia tersebut berasal.

\Perkembangan Tax Heaven
Dua kriteria surga pajak adalah pengenaan pajak yang rendah atau nihil dan
memberikan kesempatan kepada nonresiden untuk menghindari pajak di negaranya dan
melayani aktivitas ilegal. Selain itu, surga pajak tidak melakukan pertukaran informasi
perpajakan yang efektif berdasarkan UU atau praktik administratifnya dan tidak transparan
dalam menjalankan kegiatannya.

Perkembangan Tax Heaven di Indonesia
Otoritas pajak di Indonesia lebih menekankan surga pajak adalah negara yang
mengenakan tarif pajak lebih rendah 20% dari Indonesia dan negara yang tidak mengenakan
pajak penghasilan. Juga termasuk negara yang tidak mempunyai tax treaty (P3B) dengan kita
sebagaimana ketentuan yang mengacu pada Pasal 18 Ayat (3c) UU PPh Nomor 36 tahun
2008. Dengan tidak memberikan informasi mengenai pajak untuk kepentingan perusahaan
dari negara lain, diartikan sebagai tempat pencucian uang (money laundry) yang masif.
Di Amerika banyak dipertanyakan mengapa institusi-institusi finansial yang diberikan
jaminan (bail out) pemerintah masih saja tetap beroperasi di negara atau teritori tax heaven.
Tidak berlebihan mengapa tax heaven tetap menarik minat investor asing karena uang mereka
dapat diinvestasikan dengan aman dan tetap dijaga kerahasiaannya, serta terlindung dari
institusi penyidik pajak internasional. Diduga sekitar 400 kantor bank-bank internasional
beroperasi di negara dan teritori tax heaven. Sekitar dua pertiga dari hedge fund terkenal di
bursa internasional pun mempunyai representatif office di sini termasuk kurang lebih 2 juta
perusahaan top dunia telah mendaftarkan asetnya sedikitnya 10 triliun dolar AS di wilayah
ini.
Bagi Indonesia, penghapusan tax heaven akan banyak memberi manfaat dalam
mengurangi insentif arus modal keluar yang bertujuan menghindari pajak. Dana-dana hasil
kejahatan ataupun yang dicuri dari negara oleh sekelompok orang akan kembali dan
memperkuat cadangan devisa negara, karena tidak ada tempat lagi untuk bersembunyi.
Secara tidak langsung akan memperkuat nilai tukar rupiah, dan dapat meningkatkan investasi
guna menunjang penerimaan pajak. Walaupun timbul polemik, hal tersebut setidaknya
membuka lembaran baru dan transparansi dalam sistem perpajakan internasional. Ada
tekanan dari G-20 bahwa negara yang menolak atau tidak mau bekerja sama dalam
memberikan informasi mengenai pajak akan dikenai sanksi berat, antara lain dicabut dari
keanggotaan Bank Dunia dan IMF.
Masalah kerahasiaan bank (bank secrecy) dianggap salah satu yang memperburuk krisis
keuangan global karena tax heaven yang menyembunyikan aset-aset global. Ada dugaan tax
heaven ini memberikan tempat berlindung yang nyaman bagi para pejabat
untukmenyembunyikan dana-dana ilegal hasil korupsi, ataupun pengusaha hitam yang
melarikan dana dari kejaran aparat hukum di negerinya. Dampak kerasnya OECD
menerapkan asas transparansi informasi dengan membuat daftar negara atau teritori yang
masuk daftar hitam membuat tiga negara Uni Eropa yang memiliki aturan kerahasiaan bank
akan mengubah kerahasiaan undang-undang perbankan, yaitu Luksemburg, Austria, dan
Belgia.
Sementara itu, Swiss dan Liechtenstein tetap masuk dalam grey list karena menyatakan
baru siap mengubah kerahasiaan sistem perbankannya (Associated Press, 2-04-2009).
Singapura bergegas ke luar dari daftar abu-abu (grey list) dengan akan mengamendemen UU
Pajak pada tahun ini juga. Singapura dianggap belum mengimplementasikan aturan pajak
internasional sesuai dengan standar OECD, khususnya mengenai pertukaran perpajakan
melalui Avoidance of Double Taxation Agreements (DTAs). Di luar Singapura ada 38 negara
yang dimasukkan dalam grey list (Media Indonesia. 7-04-2009).
Kemungkinan sanksi berat akan dikenakan kepada bank-bank di negara mana saja di
dunia yang tetap melakukan transaksi dengan negara surga pajak yang masuk daftar hitam
OECD. Sanksi lainya, adanya pengucilan atas tax heaven dari institusi internasional,
khususnya di bidang keuangan dan perbankan. Akan dibuat daftar dan pengenaan sanksi bagi
para investor, baik entitas maupun perorangan, yang melakukan transaksi dengan tax heaven
sehingga dijauhi dari aktivitas bisnis internasional.