Anda di halaman 1dari 20

Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Ilmu kedokteran terus berkembang. Salah satu perkembangannya terjadi
adalah terbentuknya percabangan ilmu kedokteran. Jika ilmu kedokteran semula
merupakan seni penyembuhan penyakit ( The art Offhealing) yang dilaksanakna
oleh dokter yang mampu melayani pasien yang menderita berbagai penyakit maka
kemudian sesuaia dengan kebutuhan. Oleh sebab itu sebagai mahasiswa/i
Fakultas Kedokteran, kami mencoba menyusun sebuah makalah yang berjudul
Tumbuh Kembang, Geriatri dan Degeneratif . Hal tersebut menurut kami
sangat penting untuk dibahas dalam rangka menciptakan suatu pelayanan
dibidang kesehatan yang terbaik pada seluruh masyarakat Indonesia.
Kesehatan mempunyai peran besar dalam meningkatkan derajat hidup
masyarakat, maka semua negara berupa menyelenggarakan pelayanan kesehatan
yang sebaik-baiknya. Dalam makalah ini nantinya akan dibahas tentang Tumbuh
Kembang, Geriatri dan Denegeratif pada manusia di Indonesia.
Perkembangan ilmu kedokteran yang sangat dinamis sehingga menuntut
mahasiswa untuk terus belajar dan menggali ilmu tanpa mengenal waktu,hal itu
sangat diperlukan terhadap mahasiswa yang menjadi calon dokter masa depan di
negara Indonesia, jadi konsep keilmuan yang baik maka lahirlah seorang dokter
yang kompeten dan dipercaya oleh masyarakat, itulah merupakan salah satu latar
belakang pada penyusunan makalah ini.



Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 2

SKENARIO 5

Terjatuh

Seorang perempuan umur 65 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan
nyeri pada pangkal paha kanan sehingga mengganggu bila berjalan. Keadaan ini
dialami sejak 5 hari yang lalu pada saat penderita berjalan tertatih-tatih lalu jatuh
terduduk di dalam kamar mandi. Sejak 7 tahun terakhir ini penderita
mengkonsumsi obat-obat kencing manis, tekanan darah tinggi, jantung dan
rhematik. Juga pernah serangan stroke 3 tahun lalu.

1.2 Tujuan Pembahasan
Dalam penyusunan makalah ini tentunya memiliki tujuan yang diharapkan
berguna bagi para pembaca dan khususnya kepada penulis sendiri. Dimana
tujuannya dibagi menjadi 2 macam yang pertama secara umum makalah ini
bertujuan menambah wawasan mahasiswa/i dalam mengurangi suatu persoalan
secara holistik dan tepat, dan melatih pemikiran ilmiah dari seorang mahasiswa/i
Fakultas Kedokteran, dimana pemikiran ilmiah tersebut sangat dibutuhkan bagi
seorang dokter agar mampu menganalisis suatu persoalan secara cepat dan tepat.
Sedangkan secara khusus tujuan penyusunan makalah ini ialah sebagai berikut :
1. Melengkapi tugas small group discutions skenario 5 modul 20 tentang Tumbuh
Kembang, Geriatri dan Degeneratif.
2. Menambah pengetahuan para pembaca tentang Tumbuh Kembang, Geriatri dan
Degeneratif.
3. Memahami berbagai pengetahuan tentang Tumbuh Kembang Anak .
4. Menambah khasanah ilmu pengetahuan para pembaca dan penulis.
Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 3

5. Sebagai bahan referensi mahasiswa/i Fakultas Kedokteran UISU semester 6
dalam menghadapi ujian modul.
Itulah merupakan tujuan dalam penyusunan makalah ini, dan juga sangat
diharapkan dapat berguna bagi setiap orang yang membaca makalah ini. Semoga
seluruh tujuan tersebut dapat tercapai dengan baik.

1.3 Pembatasan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini kami dihadapkan pada suatu sistem yaitu
ada 1 masalah yang harus disusun dalam suatu strukturisasi ataupun skema,
dimana pembahasan ini juga sekaligus menjadi pembatasan masalah yang akan
dibahas pada makalah ini, berikut merupakan pembatasan masalah dari skenario 6
modul 20 tentang Tumbuh Kembang, Geriatri dan Degeneratif:
1. Definisi dan klasifikasi trauma geriatri
2. Etiologi trauma geriatri
3. Tanda dan gejala trauma geriatri
4. Patogenesis trauma geriatri
5. Pemeriksaan trauma geriatri
6. Penatalaksanaan trauma geriatri
Berdasarkan di atas kami menyusun pembatasan pada makalah ini secara
sistematis dan terarah agar didapatkan suatu penyelesaian masalah yang baik.

1.4 Metode & Tekhnik
Dalam penyusunan makalah ini kami mengembangkan suatu metode
yang sering digunakan dalam pembahasan-pembahasan makalah sederhana,
dimana kami menggunakan metode & tekhnik secara deskriftif dimana tim
penyusun mencari sumber data dan sumber informasi yang akurat lainnya setelah
itu dianalisis sehingga diperoleh informasi tentang masalah yang akan dibahas
Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 4

setelah itu berbagai referensi yang didapatkan dari berbagai sumber tersebut
disimpulkan sesuai dengan pembahasan yang akan dilakukan dan sesuai dengan
judul makalah dan dengan tujuan pembuatan makalah ini.



























Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 5

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SKEMA








2.2 LO ( LEARNING OBJECTIV)
1. Mampu Menjelaskan dan Memahami Definisi dan klasifikasi trauma
geriatri
2. Mampu Menjelaskan dan Memahami etiologi trauma geriatri
3. Mampu Menjelaskan dan Memahami tanda dan gejala trauma geriatri
4. Mampu Menjelaskan dan Memahami patogenesis trauma geriatri
5. Mampu Menjelaskan dan Memahami pemeriksaan trauma geriatri
6. Mampu Menjelaskan dan Memahami penatalaksanaan trauma geriatri




Defi
nisi
&
Klasi
fikasi
Etio
logi
Pato
gene
sis
Mani
festa
si
klinis
Peme
riksa
an
Pena
talak
sana
an
Trauma Geriatri
Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 6

2.3 Jatuh
2.3.1 Definisi
1. Dampak dari garis vertikal yang melewati pusat massa tubuh manusia menjadi
tergeletak antara fondasi dan tidak tergantung waktu dan tempat. (Isaacs 1985)
2. Jatuh adalah suatu kejadian yang tidak disadari oleh seseorang yang terduduk
dilantai/tanah atau tempat yang lebih rendah.( FICSIT tahun 1993)
3. Jatuh adalah kejadian yang tidak diharapkan oleh seseorang terjatuh dari tempat
yang lebih rendah atau yang sama tingginya. (ICD 9)
Jatuh terjadi ketika sistem kontrol postural tubuh gagal mendeteksi
pergeseran dan tidak mereposisi pusat gravitasi terhadap landasan penopang pada
waktu yang tepat untuk menghindari hilangnya keseimbangan. Kegagalan ini
antara lain disebabkan oleh pergeseran pusat gravitasi tubuh yang besar, cepat dan
terjadi tiba-tiba, gangguan lingkungan serta faktor intrinsik maupun ekstrinsik.

2.3.2 Faktor Resiko
Untuk dapat memahami faktor risiko jatuh, maka harus dimengerti bahwa
stabilitas badan ditentukan atau dibentuk oleh:
1. Sistem Sensorik
Yang berperan di dalamnya adalah visus (penglihatan), pendengaran, fungsi
vestibuler, dan propioseptif. Semua gangguan atau perubahan pada mata akan
menyebabkan gangguan penglihatan. Semua penyakit telinga akan menimbulkan
gangguan pendengaran. Vertigo tipe perifer sering terjadi pada lansia yang diduga
karena adanya perubahan fungsi vestibuler akibat proses menua. Neuropati perifer
dan penyakit degeneratif leher akan mengganggu fungsi propioseptif. Gangguan
sensorik tersebut menyebabkan hamper sepertiga lansia mengalami sensasi
abnormal pada saat dilakukan uji klinik.
Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 7

2. Sistem saraf pusat (SSP)
SSP akan memberikan respon motorik untuk mengantisipasi input sensorik.
Penyakit SSP seperti stroke, Parkinson, hidrosefalus tekanan normal sering
diderita oleh lansia dan menyebabkan gangguan fungsi SSP sehingga berespon
tidak baik terhadap input sensorik.
3. Kognitif
Pada beberapa penelitian, demensia diasosiasikan dengan meningkatnya risiko
jatuh.
4. Muskuloskeletal
Faktor ini disebutkan leh beberapa peneliti merupakan faktor yang benar-benar
murni milik lansia yang berperan besar terhadap terjadinya jatuh. Gangguan
musculoskeletal menyebabkan gangguan gaya berjalan (gait) dan ini berhubungan
dengan proses menua yang fisiologis. Gangguan gait yang terjadi akibat proses
menua tersebut antara lain disebabkan oleh:
Kekakuan jaringan penghubung
Berkurangnya massa otot
Perlambatan konduksi saraf
Penurunan visus/lapangan pandang
Kerusakan propioseptif
Yang kesemuanya menyebabkan:
Penurunan range of motion (ROM) sendi
Penurunan kekuatan otot, terutama menyebabkan kelemahan ekstremitas
bawah
Perpanjangan waktu reaksi
Kerusakan persepsi dalam
Peningkatan postural sway (goyangan badan)
Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 8

Semua perubahan tersebut mengakibatkan kelambanan gerak, langkah
yang pendek, penurunan irama, dan pelebaran bantuan basal. Kaki tidak
dapat menapak dengan kuat dan lebih cenderung gampang goyah.
Perlambatan reaksi mengakibatkan seorang lansia susah/terlambat
mengantisipasi bila terjadi gangguan seperti terpeleset, tersandung,
kejadian tiba-tiba, sehingga memudahkan jatuh.
Secara singkat faktor risiko jatuh pada lansia dibagi dalam dua golongan besar,
yaitu:
a. Intrinsik
Pada lansia terjadi penurunan seistem sensorik : visus, pendengaran,
fungsi vestibuler dan propioseptif sehingga akan menimbulkan berbagai gangguan
seperti vertigo tipe perifer dan neuropati perifer. Drop attack merupakan
kelemahan tungkai bawah yang mendadak yang menyebabkan jatuh tanpa hilang
kesadaran. Kondisi tersebut seringkali dikaitkan dengan insufisiensi
vertebrobasiler yang dipicu oleh perubahan posisi kepala. Sekitar 10-20 % orang
usia lanjut mengalami hipotensi ortostatik yang sebagian yang tidak bergejala.
Namun beberapa kondisi (curah jantung rendah akibat gagal jantung atau
hipovolemia, disfungsi otonom, gangguan aliran balik vena, tirah baring lama, dan
obat-obatan) dapat menyebabkan hipotensi ortostatik yang berat sehingga memicu
timbulnya jatuh. Selain itu, berbagai penyakit terutama kardiovaskular dan
neurologis dapat berkaitan dengan jatuh.

b. Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik merupakan faktor yang berada di lingkungan yang
memudahkan orang usia lanjut mengalami jatuh, antar lain lampu ruangan yang
kurang terang, lantai licin, basah atau tidak rata, furniture terlalu rendah atau
tinggi, tangga yang tak aman, kamar mandi dengan bak mandi/closet terlalu
rendah atau tinggi, dan tak memiliki alat bantu untuk berpengangan.


Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 9

2.3.3 Etiologi
Faktor penyebab jatuh pad lansia biasanya merupakan gabungan beberapa
faktor-faktor, antara lain : ( Kane, 1994 ; Reuben, 1996 ; Tinetti, 1992 ; Campbell,
1987 ; Brocklehurst, 1987 ).
1. Kecelakaan
Merupakan faktor penyebab jatuh yang utama bagi lansia, yaitu sekitar 30-
50 % kasus jatuh.
a. Murni kecelakaan, misalnya karena jatuh terpeleset atau tersandung
sesuatu.
b. Gabungan antara lingkungan yang jelek dengan kelainan-kelainan akibat
proses menua, misalnya karena penglihatan pada lansia sudah menurun
(mata kurang awas), kemudian menabrak benda-benda yang ada di
rumah, sehingga akhirnya jatuh.
2. Nyeri kepala dan atau vertigo
3. Hipotensi orthostatik
a. Hipovolemia (curah jantung rendah)
b. Disfungsi otonom
c. Penurunan kembalinya darah vena ke jantung
d. Terlalu lama berbaring dan kurang bergerak selama berbaring
e. Pengaruh obat-obat hipotensi
f. Hipotensi sesudah makan
Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 10

4. Obat-obatan :
a. Anti hipertensi, misalnya alfa-bloker
b. Anti depresan trisiklik
c. Sedativa
d. Antipsikotik
e. Obat-obat hipoglikemik dan alkohol
5. Proses penyakit yang spesifik.
Penyakit-penyakit akut seperti :
a. kardiovaskuler
- aritmia
- stenosis aorta
- sinkope sinus karotis
b. Neurologi
- TIA
- stroke
- serangan kejang
- Parkinson
- kompresi saraf spinal karena spondilosis
- penyakit cerebelum
Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 11

6. Idiopatik ( tidak jelas sebabnya )
7. Sinkope : kehilangan kesadaran secara tiba-tiba
a. Drop attack (serangan roboh)
b. Penurunan darah ke otak secara tiba-tiba
c. Terbakar matahari
8. Faktor lingkungan
a. Alat-alat atau perabot rumah tangga yang sudah tidak layak pakai karena
sudah tua, tidak stabil, atau tergeletak di sembarang tempat.
b. Tempat tidur atau jamban yang rendah (jongkok) sehingga menyulitkan
lansia ketika akan berdiri.
c. Tempat berpegangan yang tidak kuat / susah dipegang :
- lantai yang tidak datar, baik ada trapnya atau menurun
- karpet yang kurang baik, sehingga bisa membuat jatuh, keset yang
tebal,/menekuk pinggirnya, dan benda-benda alas lantai yang licin dan
mudah tergeser.
- lantai yang licin dan basah yang tidak diperhatikan
- penerangan yang kurang baik (kurang terang atau terlalu menyilaukan)
- alat bantu jalan yang ukuran, berat, maupun penggunaannya yang tidak
tepat.


Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 12

9. Faktor situasional
a. Aktivitas
sebagian besar lansia jatuh saat melakukan aktivitas biasa seperti
berjalan, naik atau turun tangga, dan mengganti posisi. Hanya sedikit
(sekitar 5 %) yang jatuh saat melakukan aktivitas berbahaya seperti
olahraga berat bahkan mendaki gunung. Sering juga jatuh pada lansia
disebabkan karena aktivitas yang berlebihan, mungkin karena kelelahan
atau terpapar bahaya yang lebih banyak. Dapat juga terjadi jatuh pada
lansia yang imobil (jarang bergerak) ketika lansia tersebut ingin pindah
tempat atau mengambil sesuatu tanpa pertolongan.
b. Lingkungan
Sekitar 70 % jatuh pada lansia terjadi di rumah, 10 % terjadi di tangga,
dengan kejadian jatuh saat turun tangga lebih banyak dibanding saat naik,
yang lainnya terjadi karena tersandung / menabrak benda (perabot
rumah) yang tergelatak sembarangan, lantai yang licin atau tidak rata,
penerangan yang kurang.
c. Penyakit akut
Dizzines dan syncope, sering menyebabkan jatuh. Eksaserbasi akut dari
penyakit kronik yang diderita lansia juga sering menyebabkan jatuh,
misalnya sesak napas akut pada penderita penyakit paru obstruktif
menahun, nyeri dada tiba-tiba pada penderita penyakit jantung iskemik,
dan lain-lain.



Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 13

2.3.4 Pemeriksaan
Pada pasien geriatri/usia lanjut, kita harus melakukan
pemeriksaan/assesmen secara holistik/paripurna, berkesinambungan dan tepat.
Dengan maksud agar dapat meninjau keseluruhan dari gangguan fisisnya,
psikososial dan juga gangguan fungsional sehingga nantinya dapat
mengidentifikasikan masalah tersebut termasuk mengidentifikasikan faktor resiko
yang berperan serta kemudian merencanakan penatalaksanaan menyeluruh dengan
penekanan pada kemampuan fungsional pasien atau setidaknya memberikan
perhatian yang sama dengan diagnosis dan pengobatan penyakit sebab
kompleksitas masalah pada usia lanjut dapat meningkatkan resiko iatrogenik.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi :
A. Anamnesa riwayat penyakit (jatuhnya)
Anamnesa dibuat baik terhadap penderita ataupun saksi mata jatuh atau
keluarganya. Anamnesis ini meliputi :
1. Seputar jatuhnya : mencari penyebab jatuhnya misalnya apa karena terpeleset,
tersandung, berjalan, perubahan posisi badan, waktu mau berdiri dari jongkok
atau sebaliknya, sedang buang air kecil atau besar, sedang batuk atau bersin,
sedang menolwh tiba-tiba ataupun aktivitas lainnya.
2. Gejala yang menyertai : seperti nyeri dada, berdebar-debar, nyeri kepala tiba-
tiba, vertigo, pingsan, lemas, konfusio, inkontinens, sesak nafas.
3. Kondisi komorbid yang relevan : pernah menderita hipertensi, diabetes
mellitus, stroke, parkinsonisme, osteoporosis, sering kejang, penyakit jantung,
rematik, depresi, deficit rematik dll
4. Review obat-obatan yang diminum : anti hipertensi ( alfa inhibitor non
spesifik dll ), diuretic, autonomic bloker, anti depresan, hipnotik, anxiolitik,
analgetik, psikotropik, ACE inhibitor dll
5. Review keadaan lingkungan : tempat jatuh apakah licin/bertingkat-tingkat dan
tidak datar, pencahayaannya dll
Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 14

B. Pemeriksaan Fisis
1. Mengukur tanda vitalnya : Tekanan darah (tensi), nadi,
pernafasan(respirasinya) dan suhu badannya (panas/hipotermi)
2. Kepala dan leher : apakah terdapat penurunan visus, penurunan
pendengaran, nistagmus, gerakan yang menginduksi ketidakseimbangan,
bising.
3. Pemeriksaan jantung : kelainan katup, aritmia, stenosis aorta, sinkope sinus
carotis dll
4. Neurologi : perubahan status mental, defisit fokal, neuropati perifer,
kelemahan otot, instabilitas, kekakuan, tremor, dll
5. Muskuloskeletal : perubahan sendi, pembatasan gerak sendi, problem kaki
(podiatrik), deformitas dll

C. Assesmen Fungsionalnya
Sebaiknya dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebiasaan
pasien dan aspek fungsionalnya dalam lingkungannya, ini sangat bermanfaat
untuk mencegah terjadinya jatuh ulangan. Pada assesmen fungsional dilakukan
observasi atau pencarian terhadap :
1. Fungsi gait dan keseimbangan : observasi pasien ketika bangkit dari duduk
dikursi, ketika berjalan, ketika membelok atau berputar badan, ketika mau
duduk dibawah dll.
2. Mobilitas : dapat berjalan sendiri tanpa bantuan, menggunakan alat Bantu
( kursi roda, tripod, tongkat dll) atau dibantu berjalan oleh keluarganya.
Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 15

3. Aktifitas kehidupan sehari-hari : mandi, berpakaian, berpergian, kontinens.
Terutama kehidupannya dalam keluarga dan lingkungan sekitar ( untuk
mendeteksi juga apakah terdapat depresi dll )

2.3.5 Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan untuk mencegah terjadinya jatuh berulang dan
menerapi komplikasi yang terjadi, mengembalikan fungsi AKS terbaik, dan
mengembalikan kepercayaan diri mereka. Untuk penderita dengan kelemahan otot
ekstremitas bawah dan funsional, terapi difokuskan untuk meningkatkan kekuatan
dan ketahanan otot sehingga memperbaiki fungsionalnya. Terapi untuk penderita
dengan penurunan gait dan keseimbangan difokuskan untuk mengatasi
penyebabnya/faktor yang mendasarinya. Penderita dengan dissines sindrom,
terapi ditujukan pada penyakit kardiovaskular yang mendasari, menghentikan
obat-obat yang menyebabkan hipotensi postural : beta bloker, diuretik,
antidepresan, dan lain-lain. Selain itu, tidak lupa untuk memperbaiki lingkungan
untuk mencegah terjadinya jatuh.


2.3.6 Komplikasi
Komplikasi dapat berupa perlukaan, perawatan di rumah sakit, disabilitas,
risiko masuk dalam rumah perawatan dan kematian. Perlukaan yang terjadi dapat
berupa rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit (berupa robek atau
tertariknya jaringan otot, robeknya arteri/vena); patah tulang : pelvis, femur
(terutama kollum), humerus, lengan bawah, tungkai bawah, kista; hematom
subdural. Perawatan rumah sakit menyebabkan komplikasi tidak dapat bergerak
(imobilisasi) dan risiko penyakit-penyakit iatrogenic. Disabilitas yaitu berupa
penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan fisik dan penurunan
mobilitas akibat jatuh, kehilangan kepercayaan diri dan pembatasan gerak


Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 16


2.3.7 Pencegahan

a. Identifikasi faktor risiko
Pada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adanya
faktor intrinsik risiko jatuh, perlu dialakukan assesmen keadaan sensorik.
Neurologis, musculoskeletal dan penyakit sistemik yang sering mendasari/
menyebabkan jatuh. Keadaan lingkungan rumah yang berbahaya dan
dapatmenyababkan jatuh harus dihilangkan. Obat-obatan yang menyebabkan
hipotensi postural, hipoglikemik atau penurunan kewaspadaan harus diberikan
sangat selektif dan dengan penjelasan yang komprehensif pada lansia dan
kelauarganya tentang risiko terjadinya jatuh akibat minum obat tersebut.

b. Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan
Setiap lansia harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya dalam
melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi untuk mencegah terjadinya jatuh
pada lansia. Bila goyangan badan pada saat berjalan sangan berisiko, maka
diperlukan bantuan latihan oleh rebhabilitasi medik.

c. Mengatur/mengatasi faktor situasional
Fator situasional yang bersifat serangan akut/eksaserbasi akut penyakit
yang diderita lansia dapat dicegah dengan pemeriksaan rutin kesehatan lansia
secara periodik








Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 17

2.4 Fraktur
Untuk bisa terjadi fraktur pada usia lanjut sering terjadi hanya dengan
trauma ringan atau bahkan tanpa ada kekerasan yang nyata. Adanya tekanan berat
dari lantai saat jatuh hanya merupakan sebagian dari penyebab fraktur tersebut.
Pada lansia, stress utama pada tulang justru datang dari daya yang sangat kuat dari
otot yang berinsersi di tulang tersebut.


2.4.1. Jenis Fraktur

a. Fraktur sendi koksa (fraktur leher/kollum femur) merupakan jenis fraktur ini
merupakan yang terpenting dan sering terjadi. Insiden pada wanita tiga kali
dibanding pria dan osteoporosis. Merupakan faktor predisposisi utama. Fraktur
femur seringkali menjadi buruk, menyebabkan mortalitas tinggi dan
komplikasi berat dan kecacatan.

b. Fraktur pergelangan tangan (fraktur Colles) merupakan fraktur pada distal
radius biasa terjadi karena terjatuh dengan posisi tangan menahan tubuh,
Terapi dilakukan dengan mengadakan reposisi dan fiksasai gips. Tanpa
komplikasi akan sembuh dalam 6 8 minggu.

c. Fraktur kolumna vertebralis : jenis crush, multiple atau wedge (baji). Fraktur
ini sebagai akibat osteoporosis bisa terjadi dalam bentuk crush (wanita pasca
menopause) maupun bentuk multiple, seperti baji (wanita / pria sebagai akibat
osteoporosis senilis)






Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 18

2.4.2. Penatalaksanaan

a. Tindakan terhadap fraktur : untuk mengetahui perlu tidaknya dilakukan
tindakan operatif atau hanya dilakukan tindakan konvesional, perlu dilakukan
kerjasama yang erat dengan bagian ortopedi.

b. Tindakan terhadap jatuh : mengurangi faktor risiko terjadinya jatuh merupakan
salah satu cara untuk mengurangi terjadinya fraktur.

c. Tindakan terhadap kerapuhan tulang : biasanya tidak bisa mengembalikan
tulang seperti semula, tetapi bisa membantu mengurangi nyeri dan
mempercepat penyembuhan fraktur.

d. Keperawatan dan rehabilitasi saat penderita imobil : berupa pencegahan
komplikasi imobilitas (infeksi, dekubitus, konfusio) agar penderita secepat
mungkin bisa mandiri lagi.











Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 19

BAB III
PENUTUP


3.1 KESIMPULAN
Dari penyusunan makalah ini ditemukan beberapa kesimpulan yang
berkaitan dengan tujuan pembuatan dan judul dari makalah, berikut merupakan
beberapa kesimpulan yang diambil :
Pada geriatri terjadi penurunan kemampuan untuk menghadapi berbagai
jejas sehingga trauma ringan pun dapat membahayakan diri para geriatri. Jatuh
yang dialami pasien disebabkan oleh faktor intrinsik dan ektrinsik. Faktor
intrinsik berupa gangguan berjalan dan penurunan penglihatan serta pendengaran.
Sedangkan faktor ekstrinsik seperti keadaan rumah yang memiliki banyak tangga.

Fraktur mudah terjadi pada lansia karena penurunan komposisi tulang
akibat penuaan dan menopouse. Predileksi fraktur tersering pada lansia yaitu
pergelangan tangan, collum femur, dan columna vertebralis.

3.2 Saran
Dalam penyelesaian makalahkan ini kami juga memberikan saran bagi para
pembaca dan mahasiswa yang akan melakukan pembuatan makalah berikutnya :
Pembahasan yang lebih mendalam disertai gambaran-gambaran tentang
jatuh dan fraktur yang lebih jelas serta mencari solusinya
Pembahasan secara langsung dengan mencari pasien untuk dilakukan
suatu penelitian
Kombinasikan metode pembuatan makalah berikutnya

Tumbuh Kembang, Geriatri & Degeneratif Page 20

Beberapa poin diatas merupakan saran yang kami berikan apabila ada pihak-
pihak yang ingin melanjutkan penelitian terhadap makalah ini, dan demikian
makalah ini disusun serta besar harapan nantinya makalah ini dapat berguna bagi
pembaca khususnya mahasiswa/i Fakultas Kedokteran UISU semester VI/2012
dalam penambahan wawasan dan ilmu pengetahuan.