Anda di halaman 1dari 15

PENGARUH SISTEM APLIKASI PELAYANAN ELEKTRONIC DATA

INTERCHANGE (EDI) KEPABEANAN TERHADAP KELANCARAN


ARUS CONTAINER DI PELABUHAN TANJUNG EMAS SEMARANG


Marmin


ABSTRAK

Pada suatu negara yang sedang berkembang, perbaikan di bidang ekonomi
sangat diperlukan, salah satunya dengan cara peningkatan perdagangan
internasional atau ekspor impor. Dalam rangka memperlancar kegiatan
tersebut, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang menerapkan sebuah sistem dalam
pelayanan pengiriman dokumen ekspor impor yaitu sistem EDI (Electronic Data
Interchange) kepabeanan. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa pengaruh yang
sangat besar dari penerapan sistem EDI di Pelabuhan terhadap kelancaran
sistem pengiriman dokumen ekspor impor yang berdampak langsung pada
kelancaran arus container.

Kata kunci: sistem EDI, arus container


PENDAHULUAN
Di saat perekonomian Indonesia masih mengalami berbagai kendala yang
diakibatkan karena krisis ekonomi yang sampai dengan saat ini masih dirasakan
dampaknya oleh sebagian besar rakyat Indonesia, perkembangan teknologi,
informasi dan transportasi yang semakin pesat, menuntut sebuah perusahaan atau
organisasi mampu dalam menghadapi tantangan berupa persaingan bisnis yang
ketat di mana perusahaan harus mampu menjawab tantangan tersebut.
Pada saat ini dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan akan barang
konsumsi yang belum dapat dihasilkan oleh produsen di dalam negeri, maka
didatangkanlah barang-barang dari negara lain (impor). Hal ini mengakibatkan
volume perdagangan Indonesia dengan dunia internasional juga berkembang
sangat pesat dari tahun ke tahun.
Dengan meningkatnya perdagangan nasional dan internasional tersebut,
serta masuknya Indonesia dalam perdagangan dunia yang bebas dan mengarah
dalam bentuk kompetisi global serta tidak mengenal batas wilayah lagi
(borderless), maka tantangan di era ekonomi global dan perdagangan bebas itu
bukan terletak pada kualitas barang dan bukan pula harga yang kompetitif. Tetapi
yang paling kritis diantara semua ini adalah proses penanganan dokumen yang
cepat, akurat dan terotomatisasi akan mempersingkat waktu dan menurunkan
biaya perusahaan (Suranto, 2004). Oleh karena itu kecepatan pelayanan dokumen
juga sangat dirasakan perlu bagi Departemen Keuangan pada umumnya dan
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pada khususnya sebagai instansi yang
2
memberikan pelayanan jasa kepabeanan kepada masyarakat usaha (market forces)
di Indonesia (www. beacukai.co.id, 2006).
Sebelum menggunakan sistem EDI, proses pengiriman dokumen
kepabeanan masih menggunakan cara manual yaitu masih menggunakan sistem
pertukaran informasi bisnis yang dilakukan dengan cara konvensional, yaitu
menggunakan media kertas. Seiring dengan meningkatnya transaksi bisnis suatu
perusahaan tentu akan meningkat pula penggunaan kertas. Hal ini dapat
menimbulkan banyak masalah seperti keterlambatan dalam pertukaran informasi,
kebutuham akan bertambah jumlah personil yang sekaligus juga berarti
menambah beban keuangan dalam perusahaan. Fakta-fakta ini telah menyebabkan
ketidakefisienan dalam bisnis, khususnya yang berkaitan dengan pertukaran
informasi bisnis (www.Itjen.depkeu.go.id, 2006). Persoalan di atas tentu harus
dicari jalan keluarnya agar efisiensi dalam transaksi bisnis dapat ditingkatkan.
Kehadiran internet menjadi sebuah jawaban untuk mengatasi berbagai
problema di atas. Namun, jaminan keamanan dalam transaksi melalui internet
telah menimbulkan kekhawatiran orang untuk bertransaksi melalui media maya
ini. Kehadiran Elektronic Data Interchange (EDI) telah menjadi salah satu solusi
untuk membuat keefisienan dalam transaksi bisnis di internet dan sekaligus
memberikan jaminan keamanan dalam bertransaksi tersebut (www.edi-
indonesia.co.id, 2006).
Pemberlakuan sistem EDI sendiri merupakan suatu sistem komunikasi data
yang dalam pengaplikasiannya dapat diterapkan di berbagai bidang (www.edi-
indonesia.co.id, 2006). Mengenai proses pengaplikasian dan perkembangan sistem
EDI sendiri dewasa ini sedikit banyak sudah tersosialisasikan kepada publik
khususnya pihak-pihak yang bergerak dalam bidang ekspor maupun impor.
Pengiriman data-data dokumen mengenai kapal dan muatan serta pemilik muatan
merupakan contoh dari komunikasi data yang berada dikawasan pelabuhan. Hal
itu yang menyebabkan ruang lingkup pergerakan perdangangan sangat luas.
Sementara dewasa ini efisiensi, ketepatan dan kecepatan adalah sangat dibutuhkan
dalam hal komunikasi data khususnya yang menggunakan jasa pelayaran. Oleh
sebab itu, dunia teknologi komunikasi telah menghadirkan satu perubahan dan
perkembangan dalam hal proses pemindahan data. Dengan hadirnya sistem EDI
sangat membantu dalam proses containerisasi. Dan para user sistem ini
mendapatkan kemudahan dalam hal komunikasi data, sebab sistem ini telah
didedikasikan untuk efisiensi, kecepatan dan kepetepatan.
Pelabuhan Indonesia III Tanjung Emas Semarang beserta instansi khususnya
Bea dan Cukai telah menggunakan sistem ini. Karena dipandang banyak
memberikan kontribusi khususnya para user dalam hal komunikasi data
khususnya yang berkaitan dalam bidang perdangangan dan perekonomian antar
negara. Yaitu mengenai sistem aplikasi pelayanan EDI di Pelabuhan Indonesia
cabang Tanjung Emas Semarang.

PERMASALAHAN
Pengaplikasian sistem baru dalam hal komunikasi data di lingkungan
pelabuhan dengan hadirnya sistem EDI kepabeanan tentunya membawa manfaat
yang cukup besar. Hal ini berpengaruh besar terhadap peningkatan laju container.
3
Namun demikian tentunya masih ada beberapa hal yang menjadi permasalahan
yang akan dituangkan dalam beberapa variabel pertanyaan berikut ini:
1. Mengapa pihak-pihak di bidang ekspor impor (user) Semarang harus
menerapkan sistem aplikasi pelayanan EDI kepabeanan?
2. Apa saja kendala yang dihadapi dalam penerapan sistem aplikasi pelayanan
EDI kepabeanan serta bagaimana cara pemecahannya?
3. Pengaruh sistem aplikasi pelayanan EDI kepabeanan terhadap kelancaran arus
container di pelabuhan Tanjung Emas?

KERANGKA BERPIKIR
Meningkatnya transaksi bisnis dalam perdagangan nasional dan
internasional, Sistem Aplikasi Pelayanan Elektronic Data Interchange (EDI)
memiliki peran yang sangat penting terhadap kelancaran arus perdangangan itu
sendiri, terutama perdagangan menggunakan container (www.edi-indonesia.co.id,
2006). Dalam penerapannya, kegiatan pengurusan dokumen kepabeanan (ekspor
impor) dengan menggunakan Sistem Elektronic Data Interchange (EDI) tersebut
memiliki banyak kendala yang harus diambil solusinya dan dicari bagaimana cara
pemecahannya. Kendala-kendala tersebut antara lain belum keseluruhan
Perusahaan Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL), Perusahaan Pengurus Jasa
Kepabeanan (PPJK) dan Perusahaan Pelayaran, serta Agen Pelayaran
mengaplikasikan sistem EDI pada perusahaannya sendiri, banyak pihak terkait
yang belum mengetahui cara mengimplementasikan sistem EDI dan cara
operasional sistem EDI dipandang terlalu rumit dan membutuhkan keahlian
khusus di dalam pengoperasiannya.
Untuk mengantisipasi masalah tersebut guna mencapai lancarnya kegiatan
pengurusan dokumen kepabeanan, maka berbagai macam upaya dilaksanakan,
diantaranya dengan mengoptimalkan penggunaan pelayanan jasa EDI kepabeanan
bagi para Perusahaan Pelayaran, Freight Forwarding, EMKL dan terutama bagi
para eksportir dan importir, kemudian dengan melakukan pengenalan sistem EDI
kepabeanan kepada publik agar lebih mudah dipahami. Dengan langkah-langkah
tersebut diharapkan efisensi kerja dalam hal kegiatan pelayanan pengurusan
dokumen kepabenan (ekspor impor) dapat dicapai, sehingga pengiriman dokumen
user dapat lebih cepat sampai dipihak penerima, data yang dikirim lebih lengkap,
akurat dan mempunyai tingkat vaiditas yang lebih tinggi serta akses respon dari
penerima lebih cepat dan dapat mempercepat proses pengiriman barang, sebab
penyampaian dan penerimaan informasi lebih cepat. Dengan demikian, maka
kegiatan pelayanan pengurusan dokumen kepabeanan dapat terlaksana dengan
baik dan lancar yang secara otomatis akan dapat menunjang kelancaran arus
container di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif untuk memberikan
gambaran atau uraian atas suatu keadaan sejelas mungkin tanpa ada perlakuan
terhadap obyek yang diteliti. Dalam penelitian ini, untuk menggambarkan
4
pengaruh sistem aplikasi pelayanan EDI kepabeanan terhadap kelancaran arus
container di pelabuhan Tanjung Emas.

Obyek Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, untuk
mengetahui penerapan sistem aplikasi pelayanan EDI kepabeanan terhadap
kelancaran arus container di pelabuhan Tanjung Emas serta kendala yang
dihadapi dalam penerapan sistem aplikasi pelayanan EDI kepabeanan tersebut.

Teknik Pengumpulan Data
Sumber data dalam penelitian ini meliputi data primer yaitu data yang
dikumpulkan oleh peneliti dari narasumber dan dicatat, dan data sekunder yang
dikumpulkan oleh peneliti dengan mengutip data-data yang sudah ada atau
dikumpulkan orang lain, seperti riset perpustakaan dan dokumen-dokumen yang
diperlukan
Adapun untuk membuat penyampaian hasil penelitian ke dalam sebuah
tulisan yang memenuhi kriteria-kriteria yang diwajibkan, maka digunakan metode
pengumpulan data lebih dari satu, yaitu survey dan observasi (Kountur, 2004).

Metode Analisis Data
Metode analisis data dilakukan secara bertahap dan sesuai dengan prosedur
yaitu analisa kualitatif (meliputi survey pendahuluan, penelaahan dan pengujian
penerapan sistem EDI dan pelaporan), analisis dampak penggunaan EDI dan
analisis komparatif.

PEMBAHASAN
Sistem Electronic Data Interchange (EDI)
Sistem Electronic Data Interchange (EDI) muncul sekitar tahun 1980-an di
Eropa dan Amerika, dengan tujuan efisiensi pelayanan/pengurusan dokumen,
terutama untuk pelayanan jasa manufaktur mobil, transportasi, bea dan cukai,
ritel, bank, farmasi. Sekarang ini banyak bidang usaha di berbagai negara Asia
Pasific telah mengimplementasikan EDI yang berbasis VAN (Value Added
Network) yang sistem pelayanan yang berbasis pada penambahan jumlah jaringan
dan IP konektivitas antar jaringan secara protocoler melalui jaringan internet
(Internet Protocol). Ditambah lagi dengan perkembangannya yang dewasa ini
mulai memasuki wilayah pelabuhan sebagai salah satu komunitas terbesar
penggunaan EDI (Triatmodjo, 2006).
Electronic Data Interchange (EDI) adalah suatu pertukaran dokumen
elektronik yang dikembangkan untuk penyampaian dokumen pabean secara
elektronik dengan memanfaatkan jaringan EDI dan BisnisNet. Pada pelayanan
elektronik ini dokumen pabean akan lebih cepat sampai ke kantor untuk segera di
proses dan respon atau jawaban dari pengiriman tersebut akan segera diperoleh
secara elektronik melalui BisnisNet. Jadi definisi umum dari EDI (Electronic
Data Interchange) adalah pertukaran bisnis secara elektronik antar organisasi,
antar aplikasi, antar komputer dengan menggunakan format standart (www.edi-
indonesia.co.id, 2006).
5
EDI dapat diimplementasikan apabila ada suatu komuniti dimana di
dalamnya ada pihak yang disebut hub dan spoke. Hub adalah pihak yang
mewajibkan mitra kerjanya yaitu yang disebut Spoke untuk menggunakan EDI.
Untuk mengakses sistem ini setiap user harus terlebih dahulu melakukan registrasi
ke kantor pabean dan kemudian mendatangi perjanjian bilateral mengenai sistem
EDI Kepabeanan (Trading Partnership Agreement, TPA) dan dari situ TPA
mengatur hak dan kewajiban masing-masing pengguna sistem EDI.

Integrasi Sistem EDI Kepabean
Pemberlakuan sistem EDI Kepabeanan di lingkungan Pelabuhan telah
menambah efektivitas pengiriman dokumen-dokumen ekspor impor melalui
container. Bea Cukai telah mengintegrasikan EDI dan pelayanan kepabeanan
secara online (www. beacukai.co.id, 2006).
Dengan menggunakan sistem EDI maka manfaat yang telah ada selama ini
dalam penggunaan Networking / jaringan dapat lebih dioptimalkan lagi bagi
perusahaan yang bergerak di bidang kepabeanan (ekspor impor). Pada prinsipnya
dengan menggunakan sistem EDI, data-data barang impor dapat dikirim terlebih
dahulu secara elektronik oleh masyarakat usaha/market forces sebelum barang
tiba di pelabuhan indonesia ke dalam sistem komputer Direktorat Jenderal Bea
dan Cukai untuk dilakukan proses dan penyelesaian administratifnya (www.
beacukai.co.id, 2006).
Dengan demikian, keterlambatan yang berkaitan dengan pembuatan dan
pengajuan dokumen impor dapat dihilangkan (ini juga berarti bahwa data-data
barang ekspor di negara lain akan menjadi data-data barang impor di negara
tujuan), kesalahan pemasukan data dapat dikurangi dan waktu untuk memasukkan
data tidak diperlukan lagi sehingga efisiensi waktu pemrosesan barang impor
dapat lebih ditingkatkan sehingga diharapkan para pengguna jasa kepabeanan
dapat memperoleh barangnya sebelum selesainya proses administratif atau bahkan
sebelum pelunasan bea masuk dan pajak dalam rangka impor dilakukan.
Manfaat layanan elektronik ini, dokumen pabean lebih cepat sampai ke
Kantor Pelayanan Bea & Cukai untuk segera diproses. Dengan sistem ini pula
mitra bea dan cukai akan memperoleh respon berupa jawaban atas pengajuan
dokumen secara elektronik dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai.
Sistem EDI Kepabeanan yang dikembangkan Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai (www. beacukai.co.id, 2006) betujuan untuk :
1. Mempercepat proses pengurusan dokumen impor dan ekspor dalam kaitannya
dengan pengawasan dan pengumpulan penerimaan negara.
2. Meminimalkan terjadinya kolusi yang sangat didukung oleh frekuensi tatap
muka antara pengguna jasa kepabeanan dan aparat Direktoral Jenderal Bea
dan Cukai.
3. Mengikuti perkembangan teknologi informasi untuk peningkatan daya saing
dan harmonisasi sistem pertukaran data secara elektronik.
Hal tersebut dilakukan dengan menerapkan bebrapa prinsip:
1. Pengawasan waktu penerimaan dokumen, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
menetapkan standar waktu pelayanan adalah 12 menit dari mulai penerimaan
dokumen pabean sampai pada penentuan jalur hijau atau jalur merah.
6
2. Aplikasi indikator resiko, atas barang impor dilakukan pemeriksaan selektif
dengan berpedoman kepada informasi hasil intelijen.
3. Memudahkan prosedur pelayanan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah
meratifikasi konvensi Kyoto (Kyoto Convention) tentang penyederhanaan
prosedur kepabeanan.
4. Meminimkan contact antara pemakai dan penyedia pelayanan, Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai telah menyederhanakan jumlah aliran dokumen pada
kantor pelayanan Bea dan Cukai.
5. Sistem pengawasan dan pelayanan yang terbuka bagi semua pihak,
Impotir/PPJK dapat mengetahui sampai dimana dokumen mereka diproses
oleh petugas Bea dan Cukai.
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa sistem EDI bukan hanya bermanfaat
bagi bea dan cukai dalam memberikan pelayanan jasa kepabeanan tetapi juga
bermanfaat bagi perusahaan dalam menghemat biaya tinggi yang diakibatkan
karena:
1). Proses dokumen impor di bea dan cukai.
2). Ruang dan lamanya penimbunan barang di pelabuhan.
EDI Kepabeanan mempunyai beberapa subsistem yang terkait antara lain:
1). EDI Network Server (Pusat Pengelolaan Jaringan EDI).
2). Pengguna Jasa (Importir, Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan).
3). Bank Devisa, sebagai institusi yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai tempat
pembayaran pungutan impor.
4). Komputer dan operatornya di kantor pelayanan Bea dan Cukai (KPBC).
Dari subsistem tersebut maka akan dihasilkan input/masukan dan
output/keluaran dari aplikasi yang berupa:
1. Cusdec (Customs Declaration) atau pemberitahuan pabean yang dikirim oleh
importir kepada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC), berisi item-item
yang biasanya diisikan dalam dokumen barang secara manual.
2. Cusres (Customs Response) adalah dokumen UN/EDIFACT yang dikirim oleh
Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) kepada Importir sebagai respon
doumen yang telah diterima sebelumnya (atas Cusdec yang telah dikirim oleh
importir).
3. CredAdv (Credit Advise) adalah dokumen UN/EDIFACT yang berisi
pernyataan atau keterangan dari Bank Devisa tentang telah dibayarnya
pungutan impor dan penerimaan pajak.
4. Nota Pembetulan, Catatan atas kesalahan pemberitahuan dari pengguna jasa di
mana dokumen maupun pembayaran harus diperbaiki.
5. Nota Pemberitahuan, Catatan berisi pemberitahuan bagi pejabat yang
berwenang tentang barang-barang yang dilarang atau dibatasi impornya
(www.edi-indonesia.co.id, 2006).
Aplikasi-aplikasi yang telah dikembangkan dalam EDI kepabeanan adalah:
1. Modul Pemberitahuan Impor Barang
Modul Pemberitahuan Impor Barang (PIB) merupakan program aplikasi yang
digunakan oleh para importer atau freight forwader untuk membentuk dan
mengirimkan dokumen pemberitahuan atas impor barang ke Bea dan Cukai
serta menerima respon-respon dari Bea dan Cukai secara elektronik.
7
2. Modul Bank
Modul Bank yang disebut sebagai modul Credit Advice merupakan program
aplikasi yang digunakan bank untuk membentuk dan mengirimkan secara
elektronik dokumen bukti pembayaran atau credit advice.
3. Modul Pemberitahuan Ekspor Barang
Modul Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) adalah program aplikasi yang
digunakan oleh eksportir untuk membentuk dokumen pemberitahuan atas
eskpor suatu barang ke Bea dan Cukai, Bapeksta, atau Sucofindo dan
menerima respon-respon sebagai jawaban dari dokumen pemberitahuan
tersebut secara elektronik melalui jaringan EDI Indonesia.
4. Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut
Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) adalah pemberitahuan
tentang rencana kedatangan sarana pengangkut yang disampaikan oleh
pengangkut ke suatu Kantor Pabean.
5. Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut
Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut (INWARD MANIFEST) adalah
dokumen manifes yang wajib diserahkan pada saat kedatangan sarana
pengangkut di suatu pelabuhan yang berisi daftar muatan cargo alat angkut
tersebut pada saat datang di suatu pelabuhan.
6. Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut
Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut (OUTWARD MANIFEST)
adalah dokumen manifes yang wajib diserahkan pada saat keberangkatan
sarana pengangkut dari suatu pelabuhan yang berisi daftar muatan kargo alat
angkut tersebut pada saat berangkat dari suatu pelabuhan untuk menuju
pelabuhan lainnya (Suyono, 2000).

Tata Cara Berlangganan EDI melalui PT. EDI Indonesia
Menurut Triatmodjo (2006), berlangganan sistem EDI di Indonesia kini
menggunakan Network Provider Service Company atau penyedia layanan jaringan
EDI melalui PT. EDI Indonesia. Konsep yang digunakan pada pertukaran data
secara elektronik. EDI adalah klasifikasi Hub dan Spokes merupakan mitra-mitra
usaha (business partners) yang terbentuk dalam suatu komunitas. Hub umumnya
merupakan mitra usaha utama yang memiliki kemampuan dan atau pengaruh
membuat ketentuan serta kebijakan pada proses pertukaran dokumen. Para
mitranya yang terdiri dari supplier dan customer yang terkait dalam jaringan
bisnis, disebut Spokes.
Calon pelanggan dapat menyatakan kebutuhan atau rencana pengembangan
sistem dokumentasi bisnisnya dalam rangka meningkatkan efisiensi dan daya
saing perusahaannya dengan penggunaan layanan EDI ke divisi marketing dan
sales.
Tata cara untuk menjadi pelanggan jasa EDI dari PT. EDI Indonesia:
1. Calon pelanggan mengajukan permintaan tertulis ke Divisi Marketing dan
Sales dengan mencantumkan data Perusahaannya berikut dengan perusahaan-
perusahaan mitra terhadap siapa yang bersangkutan akan mempertukarkan
datanya.
8
2. Staf Executive Marketing akan mengirimkan proposal ke calon pelanggan
untuk disetujui dan proposal yang disetujui dikembalikan ke PT. EDI
Indonesia.
3. Calon pelanggan mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan oleh PT.
EDI Indonesia.
4. Calon pelanggan menyerahkan formulir pendaftaran dengan melampirkan
copy NPWP, Surat Keterangan Domisili Perusahaan, Akte Pendirian
Perusahaan dan dokumen pendukung lainnya yang dapat menunjukkan
kesepakatan/persetujuan pertukaran data secara elektronik antara pelanggan
dengan bussiness partner atau antara Hub dengan Spokes.
5. Membayar biaya pendaftaran dan menandatangani Surat Perjanjian
Berlangganan Jaringan EDI.
6. PT. EDI Indonesia akan melakukan instalansi dan penyediaan software sesuai
kebutuhan calon pelanggan disertai dengan penyerahan berita acara dan
perjanjian berlangganan.
Bagi calon pelanggan yang belum memiliki EDI Enabler Software, PT. EDI
Indonesia menyediakan EDI Enablee Software:
a. Yang dapat dioperasikan pada komputer dekstop dengan operating system
DOS, Win3.x, Win95 atau Win98.
b. EDI Enablee Software untuk versi window NT/2K, Windows 2000 Unix,
O/S 400 dll juga tersedia.
7. Membayar biaya berlangganan dan biaya volume lalu lintas (traffic) data
secara bulanan (www.edi-indonesia.co.id, 2006).
Berkaitan dengan kesepakatan antar pihak-pihak yang akan mempertukarkan
datanya, maka ketentuan selain tersebut pada butir 1 s/d 7 di atas dapat
ditambahkan oleh Hub terhadap Spokes-nya, misalnya wajib melengkapi copy
SIUPPJPT, dan lain-lain.

Tata Cara Penyelenggaraan Jasa Layanan EDI Kepabeanan
Pengusaha penyedia jasa PDE service center mengajukan surat permohonan
kepada direkur jenderal u.p. direktur informasi kepabeanan dan cukai melalui
kepada kantor wilayah direktorat jenderal bea dan cukai yang mengawasi tempat
yang dimaksud. Surat permohonan tersebut dibuat diatas kertas kop perusahaan,
dibubuhi materai Rp. 6000,00 (enam ribu rupiah), diberi tanggal dan ditanda
tangani oleh pimpinan/direktur utama perusahaan.
Pada surat permohonan dimaksud sekurang-kurangnya memuat data dan
penjelasan mengenai:
a. Nama dan alamat pemohon;
b. Nama dan alamat badan usaha;
c. Lokasi usaha dan ruang kerja yang akan digunakan sebagai tempat PDE
service center;
d. Dat perangkat PDE kepabeanan dan sarana penunjang lainnya;
e. KBPC yang akan menjadi tujuan pengiriman data melalui sistem PDE
kepabenan.


9
Surat permohonan dilampiri dengan:
a. Salinan akte pendirian perusahaan dan perubahannya yang terakhir, sebagai
badan hukum;
b. Surat ijin usaha perusahaan;
c. Bukti kepemilikan dan/atau penguasaan peralatan kerja;
d. Gambar denah lokasi usaha dan ruang kerja;
e. Dokumen lain yang diperlukan yang terkait dengan adanya kegiatan usaha
pengiriman data elektronik ke KPBC melalui sistem PDE Kepabeanan.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melakukan
penelitian atas kelengkapan dokumen yang diajukan dan pemeriksaan atas lokasi
tempat PDE Service Center sesuai dengan permohonan, meliputi pemenuhan
persyaratan sebagai berikut:
a. Pemenuhan persyaratan administrasi, meliputi:
1). Penelitian atas kebenaran dan keabsahan dokumen yang dilampirkan
sebagaimana dimaksud diatas.
2). Pengujian atas orang yang ditunjuk sebagai pengurus/penanggung jawab
perusahaan, yaitu dengan melakukan pengujian kebenaran dan
pengurus/penanggung jawab yang diberitahukan berdasarkan bukti-bukti
sebagai berikut:
a) Nama pengurus/penanggung jawab kegiatan perusahaan terdaftar pada
dokumen akte pendirian perusahaan dan perubahannya yang terakhir,
SIUP, kartu tanda penduduk atau pengenal identitas lainnya;
b) Keberadaan orang yang ditunjuk sebagai pengurus/penanggung jawab
dapat dibuktikan secara fisik atau yang bersangkutan dapat dihadirkan
pada saat proses penelitian lapangan;
c) Orang yang ditunjuk sebagai pengurus/penanggung jawab secara
administrasi dapat dibuktikan dengan jelas dan wajar serta dapat
dipertanggung jawabkan statusnya, yang dapat dilihat dari beberapa
pembuktian:
i). Status yang bersangkutan dalam perusahaan tercantum pada
struktur organisasi perusahaan;
ii). Status yang bersangkutan secara resmi ditetapkan oleh perusahaan
atau tercantum dalam anggaran dasar/anggaran rumah tangga;
iii). Yang bersangkutan memiliki NPWP perseorangan; atau
iv). Status alamat rumah atau tempat tinggal yang bersangkutan jelas.
b. Pemenuhan persyaratan lokasi tempat usaha perusahaan, meliputi:
1). Pengujian kebenaran data alamat yang diberitahukan dalam dokumen yang
dilampirkan sebagimana dimaksud diatas, yang meliputi:
a. Kebenaran alamat secara fisik sesuai dengan :
i). Surat keterangan domisili perusahaan; dan
ii). Dokumen perusahaan lainnya, seperti: akte pendirian perusahaan
dan perubahannya yang terakhir, pengesahan akte pendirian,
NPWP, SIUP dan TDP.
b. Status kepemilikan tempat usaha perusahaan dengan bukti:
i). Surat bukti kepemilikan yaitu sertifikat bangunan atau bukti
kepemilikan lainnya yang sah secara hukum;
10
ii). Surat perjanjian sewa menyewa bangunan yang sah secara hukum
(dibuat oleh kedua belah pihak dihadapan notaris atau
ditandatangani di atas materai yang cukup, dan disaksikan oleh
pihak ketiga).
2). Penelitian atas kegiatan atau aktivitas usaha perusahaan, dengan indikator
sebagai berikut:
a) Mempunyai struktur organisasi perusahaan yang jelas.
b) Adanya kegiatan aktivitas pegawai.
c) Adanya penyelenggaraan kegiatan administrasi perkantoran.
d) Hal-hal lainnya yang menunjukkan keberadaan perusahaan, misalnya
ada papan nama perusahaan, adanya asset perusahaan berupa sarana
dan prasarana perusahaan.
Kepala kantor wilayah dalam waktu selambat-lambatnya 14 hari sejak
diterima Surat Permohonan, sudah menyelesaikan kegiatan sebagaimana
dimaksud di atas dan dalam hal hasil penelitian dan pemeriksaan menunjukkan
permohonan telah memenuhi syarat maka segera meneruskan permohonan
tersebut kepada direktur informasi Kepabeanan dan Cukai.
Direktur informasi kepabeanan dan cukai atas nama direktur jenderal bea
dan cukai memberikan keputusan penetapan sebagai penyedia jasa PDE Service
Center, dalam waktu selambat-lambatnya 14 hari sejak permohonan diterima
secar lengkap.
Keputusan sebagaimana dimaksud di atas berupa:
a. Penerbitan surat Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang
penetapan sebagai penyedia jasa layanan PDE Service Center, atau
b. Surat penolakan atas permohonan sebagai penyedia jasa layanan PDE Service
Center.

Tata Cara Penggunaan Sistem EDI Kepabeanan
Bagi pengguna jasa (khususnya perusahaan pelayaran) yang belum memiliki
sendiri fasilitas sistem EDI, dapat memanfaatkan pusat pelayanan yang disebut
EDI Service Center (ESC) di alamat gedung ITI Lantai Dasar Jl. Panjaitan No. 7
Pelabuhan Tanjung Priok Telp. 43906440 Fax. 43906439.
Modul-modul pendukung akan dibangun untuk kebutuhan banyak pihak
didalam komuniti pelabuhan diantaranya:
c. Perusahaan Pelayaran,
d. Administrator Pelabuhan,
e. Syahbandar
f. Bank.
Aplikasi informasi pelayanan kapal berbasis Web akan dikembangkan untuk
memudahkan penyebaran dan akses terhadap informasi. Program interface akan
disediakan untuk kebutuhan:
a. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai,
b. Terminal Petikemas,
c. Terminal Operator/Perusahaan Bongkar Muat,
d. Imigrasi,
e. Karantina (Tumbuhan, Hewan, Kesehatan).
11
Integrasi dengan aplikasi in-house telah dilakukan untuk Cabang Pelabuhan
Tanjung Priok.

Bidang Implementasi EDI Kepabeanan
1. Pemberitahuan Impor Barang (PIB)
Penyampaian dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB/BC 2.0) oleh
importir atau kuasanya kepada KPBC (Kantor Pelayanan Bea dan Cukai)
dengan menggunakan sistem EDI telah diterapkan di Jakarta sejak tahun 1997.
Dengan menggunakan sistem EDI, importir mengirimkan CUSDEC
(Custom Declaration) yaitu dokumen standar UN/EDIFACT yang digunakan
sebagai representasi dokumen PIB kepada KPBC. Selanjutnya KPBC akan
memberikan CUSRES (Customs Response) yaitu respon-respon berupa
keputusan pabean terhadap dokumen PIB yang diterima.
2. Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)
Penyampaian dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB/BC 3.0)
oleh eksportir atau kuasanya kepada KPBC dengan menggunakan sistem EDI.
Dengan menggunakan sistem EDI, eksportir mengirimkan CUSDEC
(Customs Declaration) yaitu dokumen standar UN/EDIFACT yang digunakan
sebagai representasi dokumen PEB kepada KPBC. Selanjutnya KPBC akan
memberikan CUSRES (Customs Response) yaitu respon-respon berupa
keputusan pabean terhadap dokumen PEB yang diterima.
3. RKSP dan Manifest
Penyampaian dokumen Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut
(RSKP) / Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut (JKSP) / BC 1.0 dan
Inward/outward Manifest (BC 1.1) oleh pengangkut/Agen Pengangkut kepada
KPBC dengan menggunakan sistem EDI.
Dengan mengunakan sistem EDI, perusahaan pengangkut mengirimkan
CUSREP (Customs Report Message) yaitu dokumen standar UN/EDIFACT
yang digunakan sebagai representasi dokumen RKSP/JKSP dan CUSCAR
(Customs Cargo Message) yaitu dokumen standar UN/EDIFACT yang
digunakan sebagai representasi dokumen Inward/Outward Manifest kepada
KPBC. Selanjutnya KPBC akan memberikan CUSRES (Customs Response)
yaitu respon-respon berupa keputusan pabean terhadap dokumen RKSP/JKSP
dan Inward/Outward Manifest yang diterima.
4. Tempat Penimbunan Sementara
Tempat Penimbunan Sementara (TPS) adalah gudang tempat
penyimpanan sementara barang impor/ekspor sebelum keluar dari kawasan
pabean. Sedangkan TPS yang dimaksud pada sistem ini adalah Tempat
Penimbunan Sementara yang dikelola oleh pihak swasta dan berada di luar
kawasan pabean. Lokasi gudang yang berada di luar kawasan pabean secara
geografis memiliki letak yang terpisah dari KPBC, untuk itu diperlukan suatu
sistem yang dapat menghubungkan komputer pada gudang dengan komputer
pelayanan di KPBC.
Dengan kelebihan dan fitur yang dimiliki maka sistem EDI (Electronic
Data Interchange) digunakan sebagai media untuk memenuhi kebutuhan
12
tersebut di atas. Untuk itu dibangun sistem TPS EDI yang menghubungkan
komputer pelayanan di KPBC dengan komputer di Gate TPS.
5. Karantina
Dalam rangka pelayanan/pemeriksaan dokumen, Karantina Pertanian
sebagai salah satu komponen CIQ (Customs, Immigration and Quarantine)
sangat berkepentingan untuk memiliki akses ke dalam sistem otomasi
dokumen yan telah dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
sehingga dapat mendukung kecepatan arus barang di pelabuhan, menghindari
stagnasi, tanpa mengabaikan kewaspadaan terhadap pelaksanaan tugas pokok
dan fungsinya.
EDI Karantina adalah pertukaran data/dokumen secara elektronik antara
pihak pengguna jasa, pihak Karantina Pertanian dan pihak Bea dan Cukai.

Respon Para User dengan Hadirnya Sistem EDI
Penerapan sistem EDI ternyata mendapat sambutan yang positif dari
berbagai pihak pengguna khususnya perusahaan-perusahaan Ekspedisi Muatan
Kapal Laut (EMKL), Freight Forwarder dan Perusahaan Pelayaran. Pelayanan
Jasa pengiriman dokumen via elektronik kini telah menjadi andalan bagi
perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor.
Namun demikian, tentunya masih ada beberapa kendala yang dihadapi oleh
para eksportir maupun importer serta perusahaan penyedia jasa pengurusan
dokumen ekspor impor. Berikut adalah beberapa masalah yang dihadapi dalam
penerapan EDI (Tumbel, 2001):
a. Belum keseluruhan perusahaan EMKL, Freight Forwarder dan Perusahaan
Pelayaran mengaplikasikan sistem EDI pada perusahaannya sendiri
dikarenakan biaya pemasangan yang cukup mahal, yaitu lebih dari Rp.
12.000.000,- belum termasuk biaya abonemen per bulan. Sedangkan Bea
Cukai saat ini mewajibkan penggunaan sistem EDI untuk penyampaian
dokumen. Bea Cukai tidak akan melayani sistem manual dikarenakan terlalu
banyak prosedur yang harus dilalui dan dipandang kurang efisien.
b. Banyak pihak yang terkait yang belum mengetahui cara
mengimplementasikan sitem EDI.
c. Cara operasional sistem EDI dipandang terlalu rumit dan membutuhkan
keahlian khusus dalam mengoperasikan EDI.
Dari beberapa masalah tersebut di atas, tentunya masih banyak masalah lagi
yang belum terungkap ke permukaan mengenai penerapan sistem EDI. Sebagai
contoh mahalnya biaya pemasangan EDI maka timbul issu bahwa EDI hanyalah
bisnis monopoli yang diterapkan oleh Bea Cukai. Namun demikian telah
ditemukan beberapa ide untuk pemecahan masalah tersebut diantaranya adalah:
a. Mendompleng perusahaan lain yang sudah mengaplikasikan sistem EDI di
perusahaannya. Dalam hal ini perusahaan yang mendompleng tersebut hanya
cukup membayar biaya operasional penggunaan dan biaya lain yang
ditetapkan oleh perusahaan pemberi jasa pelayanan EDI.
b. Melakukan pengurasan jasa kepabeanan pada perusahaan penjual jasa
kepabeanan tetapi berbeda dengan PPJK. Perusahaan ini mendirikan warung
13
EDI, jadi perusahaan ini hanya menyediakan jasa fasilitas yaitu berupa warung
EDI.
c. Sosialisasi secara menyeluruh yang melibatkan media masa mengenai aplikasi
sistem EDI beserta tata cara pengaplikasiannya.
d. Pelatihan atau training yang dilakukan oleh perusahaan kepada karyawannya
dalam hal pengoperasiannya. Tentunya pelatihan ini melibatkan pihak yang
berkompeten dalam bidang teknik informatika dan pertelekomunikasian.

Pengaruh dan Manfaat Utama Penggunaan Sistem EDI Kepabeanan
Bagi kantor Pelayanan Bea dan Cukai, sistem EDI Kepabeanan yang
dikembangkan mempunyai tujuan untuk (www. beacukai.co.id, 2006):
a. Mempercepat proses pengurusan dokumen impor dan ekspor dalam kaitannya
dengan pengawasan dan pengumpulan penerimaan negara.
b. Meminimalkan terjadinya kolusi yang sangat didukung oleh frekuensi tatap
muka antara pengguna jasa kepabeanan dan aparat Direktorat Jenderal Bea
dan Cukai.
c. Mengikuti perkembangan teknologi informasi untuk peningkatan daya saing
dan harmonisasi sistem pertukaran data secara elektronik.
Hal tersebut dilakukan dengan beberapa prinsip yaitu:
a. Pengawasan waktu penerimaan dokumen, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
menetapkan standar waktu pelayanan adalah 12 menit dari mulai penerimaan
dokumen pabean sampai pada penentuan jalur hijau atau jalur merah.
b. Aplikasi indikator resiko, atas barang impor dilakukan pemeriksaan selektif
dengan berpedoman kepada informasi hasil intelijen.
c. Memudahkan prosedur pelayanan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah
meratifikasi konvensi Kyoto (Kyoto Convetion) tentang penyederhanaan
prosedur kepabeanan.
d. Meminimalkan kontak antara pemakai dan penyedia pelayanan, Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai telah menyederhanakan jumlah aliran dokumen pada
kantor pelayanan Bea dan Cukai.
e. Sistem pengawasan dan pelayanan yang terbuka bagi semua pihak, importir /
PPJK dapat mengetahui sampai dimana dokumen mereka diproses oleh
petugas Bea dan Cukai.
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa sistem EDI bukan hanya bermanfaat
bagi bea dan cukai dalam memberikan pelayanan jasa kepabeanan tetapi juga
bermanfaat bagi perusahaan dalam menghemat biaya tinggi yang diakibatkan
karena:
a. Proses dokumen di bea dan cukai.
b. Ruang dan lamanya penimbunan barang di pelabuhan.
Dengan adanya sistem EDI maka akan sangat membantu dalam hal
kelancaran sistem pengurusan dokumen khususnya dalam kegiatan ekspor impor
yang menggunakan jasa container. Berdasarkan penelitian dapat dilihat bahwa
efisiensi waktu dan biaya merupakan sebagai hal pokok dalam pengurusan
dokumen ekspor impor. Hal itu disebabkan pengurusan dokumen ekspor impor
mutlak melibatkan jasa container. Dalam kasus yang sering terjadi keterlambatan
pengiriman dokumen serta kurang validnya dokumen tersebut akan menyebabkan
14
banyak kerugian. Kerugian yang dimaksud seperti denda yang dikenakan oleh Bea
Cukai sebagai akibat dari keterlambatan (Delay). Delay adalah keterlambatan
pengiriman dokumen yang berakibat pada pengiriman container. Delay bisa
terjadi dalam arus container ke dalam maupun ke luar negeri (Suyono, 2000).
Jadi secara garis besar kecepatan pengiriman dokumen akan sangat
berpengaruh pada kelancaran arus container. Dalam hal manajemen pengurusan
dokumen EDI sangat bermanfaat karena:
a. Pengiriman data dokumen dari user dapat lebih cepat sampai di pihak
penerima.
b. Data yang dikirim mempunyai tingkat validitas lebih tinggi dibandingkan
dengan sistem sebelumnya.
c. User dapat lebih leluasa untuk menerima respon dari pihak penerima.
d. Data yang dikirim lebih lengkap dan akurat serta akses respond dari penerima
lebih cepat.
e. Mempercepat proses pengiriman barang sebab penyampaian dan penerimaan
informasi lebih cepat, sehingga dapat dilayani tanpa harus datang ke kantor
Pabean.
f. Tidak perlu proses re-entry di sisi penerima dan printing di sisi pengirim
karena pertukaran informasi dilakukan antar aplikasi.

SIMPULAN
Sistem komunikasi data telah mengalami kemajuan dengan hadirnya sistem
baru untuk keperluan pengurusan pengiriman dokumen. Sistem Elektronic Data
Interchange telah memperkenalkan beberapa fitur-fitur aplikasi yang sangat
bermanfaat, sebagai salah satu contoh adalah aplikasi EDI Kepabeanan untuk
pengurusan dokumen standar dalam kegiatan ekspor impor yang sangat kompleks.
Berikut beberapa simpulan yang dapat ditarik mengenai sistem EDI
Kepabeanan di lingkungan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang:
1. Sebelum menggunakan sistem EDI, pengurusan dokumen ekspor impor
melalui Pelabuhan Tanjung Emas Semarang masih sangat lambat dan sangat
riskan terhadap kejahatan melalui media komputer (cyber crime), karena
semakin merebaknya pembangunan situs-situs internet yang ilegal dengan
mengatasnamakan perorangan. Dan sebagai akibatnya adalah keterlambatan
arus keluar masuk container.
2. Meskipun telah diberlakukan secara wajib di kawasan Pelabuhan oleh Bea dan
Cukai, tetapi dalam pelaksanaannya masih ada beberapa pengusaha jasa
kepabeanan di lingkungan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yang belum
menggunakan sistem EDI di dalam perusahaannya. Mahalnya biaya
pemasangan EDI termasuk perangkat komputer yang digunakan adalah salah
satu kendala yang dihadapi oleh para user. Dan bagi perusahaan-perusahaan
yang telah mengaplikasikan EDI mempunyai kendala dari para karyawannya
khususnya di bagian operasional administrasi yang menangani langsung
masalah pengiriman dokumen. Banyak para karyawan pada perusahaan-
perusahaan tersebut belum bisa mengoperasikan komputer dengan
menggunakan program EDI.
15
3. Dengan berlakunya sistem EDI Kepabeanan di Lingkungan Pelabuhan
Tanjung Emas Semarang, membawa pengaruh mempercepat proses
pengurusan dokumen ekspor impor sehingga peningkatan arus container di
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang menjadi semakin bertambah.


DAFTAR PUSTAKA

________, Aplikasi Sistem EDI Kepabeanan, www. beacukai.co.id, Jakarta, 2006.

________, Implementasi EDI Kepabeanan, www.edi-indonesia.co.id, Jakarta,
2006.
________, Penyelenggaraan Pelabuhan Laut, Keputusan Menteri Perhubungan
No: KM 54 Tahun 2002. PIP Semarang, 2006.

________, Prospek Pengembangan EDI Kepabeanan di Indonesia,
www.Itjen.depkeu.go.id, Jakarta, 2006.

________, Tata cara Penyerahan dan Penatausahaan Pemberitahuan Rencana
Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifest Keberangkatan Sarana
Pengangkut. Peraturan Dirjen Bea dan Cukai No. P-12/BC/2006, Jakarta,
2006.

________, Undang-undang RI No.17 Tahun 2006, Tentang Perubahan Undang-
undang No.10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan. Citra Umbara, Bandung,
2007.

Kountur, Rony, D.M.S. Metodologi Penelitian. Jakarta, 2004.

Sudjatmiko, F.D.C, Pokok-pokok Pelayaran Niaga. PT. Gunung Agung, Jakarta,
2007.

Suharsimi, Arikunto, Prosedur Penelitian. Rineka Cipta, Jakarta, 2007.

Suranto, Manajemen Operasional Angkutan Laut dan Kepelabuhanan serta
Prosedur Import Barang, Gramedia, Jakarta, 2004.

Suyono, R.P, Shipping Pengangkutan Intermodal Ekspor Impor Melalui Laut.
PPM, Jakarta, 2000.

Triatmodjo, Bambang. Pelabuhan. Beta Offset, Yogyakarta, 2006.

Tumbel, A.H. Petikemas dan Penanganannya. Jakarta, 2001.