Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Maraknya kasus penyelewengan alokasi APBN beberapa waktu ke belakang telah
menimbulkan citra buruk bagi pelaksanaan penganggaran di Indonesia. Banyak terjadi
penyelewengan uang negara oleh pejabat berwenang. Kasus penyelewengan dana
pengadaan Alquran oleh Kementerian Agama adalah salah satu contohnya. Salah satu
penyebab terjadinya penyelewengan tersebut adalah anggaran berlebih yang mengalir
ke Kementerian Agama akibat penyusunan APBN yang tidak sesuai prioritas. Ada
sektor yang mendapat banyak anggaran, tetapi ada juga yang kekurangan anggaran
APBN. Oleh karena itu, penyusunan APBN menjadi sangat penting dan harus dibuat
dengan skala prioritas yang sesuai. Hal ini bertujuan agar tidak ada kelebihan maupun
kekurangan dana pada semua sektor di Indonesia.
Untuk itu, kami mengangkat masalah penganggaran APBN ini dalam makalah
kami agar masyarakat mengetahui bagaimana seharusnya pengalokasian penganggaran
APBN yang tepat. Dengan begitu diharapkan masyarakat dapat memantau kondisi
keuangan di negaranya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian, fungsi, dan tujuan penyusunan APBN?
2. Apa pentingnya APBN?
3. Bagaimana pentingnya alokasi APBN yang sesuai dengan prioritas?
4. Apakah ada penganggaran APBN yang tidak sesuai prioritas?
5. Bagaimana cara menyusun APBN yang sesuai dengan skala prioritas?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui APBN secara umum beserta fungsi dan tujuan penyusunannya.
2. Untuk mengetahui pentingnya APBN.
3. Untuk mengetahui pentingnya alokasi APBN sesuai dengan skala prioritas.
4. Untuk mengetahui adanya penganggaran APBN yang tidak sesuai prioritas.
5. Untuk mengetahui cara penyusunan APBN yang sesuai dengan skala prioritas.



2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian, Fungsi, dan Tujuan Penyusunan APBN
2.1.1 Pengertian APBN
APBN adalah suatu daftar yang secara sistematis memuat sumber-sumber
penerimaan negara dan alokasi pengeluaran negara dalam jangka waktu tertentu
(biasanya satu tahun). Periode penyusunan dan pelaksanaan APBN di Indonesia
dimulai dari 1 Januari sampai dengan 31 Desember tahun yang sama, yang
selanjutnya dikenal dengan sebutan tahun anggaran.
2.1.2 Fungsi APBN
Sebagai realisasi pelaksanaan pembangunan jangka pendek (satu tahun),
pemerintah pusat menetapkan APBN. Oleh karena itu, APBN mempunyai
beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut.
a. Fungsi Stabilisasi
Sebagai pedoman agar segala tindakan penerimaan dan pengeluaran
keuangan negara teratur dan terkendali, pemerintah pusat menetapkan
APBN. Hal ini bertujuan agar program pembangunan sesuai dengan aturan
yang telah digariskan di dalam APBN sehingga dapat mempermudah
pencapaian sasaran yang telah ditentukan. Dengan disusunnya APBN,
diharapkan pemerintah pusat dapat menjaga kestabilan arus uang dan arus
barang sehingga dapat mencegah terjadinya inflasi yang tinggi maupun
deflasi yang akan mengakibatkan kelesuan perekonomian (resesi).
b. Fungsi Alokasi
Dalam APBN ditentukan besar anggaran pengeluaran di setiap bidang.
Dengan demikian, melalui APBN, dapat diketahui besar alokasi penempatan
dana yang diperlukan untuk setiap sektor pembangunan, departemen, atau
lembaga. Melalui APBN pula, dapat diketahui sasaran dan prioritas
pembangunan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah pusat dalam tahun
anggaran bersangkutan.
c. Fungsi Distribusi
Pendapatan negara yang dihimpun dari berbagai sumber penerimaan akan
digunakan kembali untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara di
3

berbagai sektor pembangunan dan departemen. Penggunaan dana keuangan
negara tersebut tidak boleh hanya terpusat di satu sektor, departemen, atau
daerah, tetapi harus merata ke seluruh sektor departemen, serta ke seluruh
pelosok daerah, baik desa maupun kota.
d. Fungsi Regulasi
Sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan pengendali tingkat inflasi,
pemerintah pusat menetapkan APBN. Hal ini disebabkan jumlah penerimaan
dan pengeluaran pemerintah digunakan untuk peningkatan pertumbuhan
ekonomi negara dan masyarakat. Besar dan kecilnya alokasi dana APBN
yang digunakan berpengaruh terhadap pengendalian inflasi.
2.1.3 Tujuan Penyusunan APBN
Setiap tahun pemerintah pusat menyusun APBN. Tujuan penyusunan
APBN adalah sebagai pedoman pengeluaran dan penerimaan negara agar terjadi
keseimbangan yang dinamis, dalam rangka melaksanakan kegiatan-kegiatan
kenegaraan demi tercapainya peningkatan produksi, peningkatan kesempatan
kerja, dan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Pada akhirnya, semua itu
ditujukan untuk tercapainya masyarakat adil dan makmur, baik material maupun
spiritual bedasarkan Pancasila dan UUD 1945.

2.2 Pentingnya APBN
APBN sebagai bentuk kebijakan fiskal pemerintah akan berpengaruh terhadap
perekonomian nasional. Karena melalui APBN dapat diketahui arah, tujuan serta
prioritas pembangunan yang sedang dan akan dilaksanakan oleh pemerintah. Menurut
pengamat Ekonomi, Sjahrir, anggaran pemerintah (APBN) sangat memengaruhi
kondisi perekonomian tidak hanya di Negara berkembang seperti Indonesia, tetapi juga
di negara-negara maju lainnya.
APBN memiliki pengaruh yang besar terhadap sektor lain, seperti sektor moneter,
neraca pembayaran, dan sektor produksi.
a. Sektor Moneter
Pengaruh APBN di sektor moneter jelas besar, mengingat anggaran negara
merupakan salah satu komponen dari uang primer. Perubahan dalam komponen
tersebut akan memengaruhi jumlah uang yang beredar di masyarakat.
b. Neraca Pembayaran
Pengaruh APBN juga mempengaruhi neraca pembayaran karena beberapa hal yaitu:
4

- Sebagai komponen penerimaan negara berasal dari penerimaan sektor migas
yaitu sebagian besar dari hasil penjualan migas masuk ke kas Negara.
- Defisit APBN dan transaksi berjalan ditutupi oleh utang luar negeri. Sebagai
konsekuensinnya, sebagian komponen pengeluaran rutin digunakan untuk
pembayaran kembali utang dan bunganya.
- Komponen penerimaan pemerintah mengandung sisi impor yang besar,
misalnya bantuan proyek yang merupakan sumber untuk menutupi defisit
APBN.
c. Sektor Produksi
Bagi sektor produksi, pengaruh APBN terlihat dari penerapan kebijakan
penerimaan pajak dan pengeluaran pemerintah. Pemerintah yang menempuh
kebijakan anggaran defisit (dalam arti pengeluaran pemerintah direncanakan lebih
besar daripada penerimaan pemerintah), akan menambah pengeluaran pemerintah
(antara lain dalam bentuk subsidi). Kedua hal ini akan meningkatkan pendapatan
dan daya beli masyarakat. Akibatnya permintaan masyarakat akan barang dan jasa
cenderung meningkat. Peningkatan permintaan akan mendorong sektor dunia usaha
untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Adanya peningkatan kapasitas produksi
dalam jangka panjang akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Penyusunan APBN dapat berdampak pada peningkatan pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan pendapatan dan menghemat pengeluaran.
Adapun pengaruh APBN terhadap perekonomian masyarakat antara lain:
1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, maksudnya dapat mengetahui
besarnya GNP (Gross National Product) dari tahun ke tahun.
2. Menciptakan kestabilan keuangan atau moneter negara, karena dapat mengatur
jumlah uang yang beredar di masyarakat.
3. Menimbulkan investasi masyarakat, karena dapat mengembangkan industri-
industri dalam negeri.
4. Memperlancar distribusi pendapatan, maksudnya dapat mengetahui sumber
penerimaan dan penggunaan untuk belanja pegawai dan belanja barang, serta
yang lainnya.
5. Memperluas kesempatan kerja, karena terdapat pembangunan proyek-proyek
negara dan investasi negara, sehingga dapat membuka lapangan kerja yang baru
dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
5

APBN memang memiliki peran yang penting dan strategis. APBN dapat
menggambarkan rencana dan tujuan pembangunan sebuah negara minimal dalam satu
ke depan. APBN juga sering dijadikan acuan oleh para investor dan pelaku pasar untuk
menganalisis prospek perekonomian setahun ke depan. Selain itu, perencanaan
pendapatan dan belanja negara juga tersurat dalam APBN.

2.3 Pentingnya Alokasi APBN Sesuai dengan Skala Prioritas
Sejalan dengan amanat UU No.17/2003, diterapkan anggaran berbasis kinerja
(performance-based budgeting) di sektor publik agar penggunaan anggaran bisa dinilai
kemanfaatan dan kegunaannya bagi masyarakat. Sebagaimana dipahami, selama ini kita
menerapkan traditional budgeting atau dikenal pula sebagai line-item budgeting. Line-
item budgeting ini mempunyai sejumlah karakteristik penting, antara lain tujuan
utamanya adalah untuk melakukan kontrol keuangan, penetapannya melalui pendekatan
incremental (kenaikan bertahap), dan tidak jarang dalam praktiknya memakai
kemampuan menghabiskan atau menyerap anggaran sebagai salah satu indikator
penting untuk mengukur keberhasilan organisasi. Kelemahan lainnya terkait dengan
karakteristik penetapan anggaran dengan pendekatan incremental, yaitu menetapkan
rencana anggaran dengan cara menaikkan jumlah tertentu pada jumlah anggaran yang
lalu atau sedang berjalan. Melalui pendekatan ini, analisis yang mendalam tentang
tingkat keberhasilan setiap program tidak dilakukan. Akibatnya adalah tidak tersedia
informasi yang logis dan rasional tentang rencana alokasi anggaran tahun yang akan
datang. Apa yang sering terjadi dalam praktiknya adalah perilaku birokrat yang selalu
berusaha untuk menghabiskan anggaran tanpa terkait dengan hasil dan kualitasnya.
Sebagai respons terhadap permasalahan sistem anggaran line-item di atas, UU No.
17/2003 mengintrodusir sistem anggaran berbasis kinerja (performance based
budgeting). Anggaran kinerja memakai output measurement sebagai indicator kinerja
organisasi. Sebagai ilustrasi, dalam penentuan alokasi anggaran untuk pendidikan
dasar, maka didasarkan pada output yang ingin dicapai: berapa banyak murid SD yang
akan terdidik dalam satu tahun anggaran? Berapa persentase kelulusan murid SD yang
ditargetkan? Berapa tinggi nilai rata-rata rapor dan nilai ujian akhir nasional yang
ditargetkan? Dan seterusnya. Tujuan dari penetapan output measurement yang
dikaitkan dengan biaya adalah untuk dapat mengukur tingkat efisiensi dan efektifitas.
Alokasi APBN yang sesuai dengan prioritas dinilai sangat penting karena
berkaitan dengan tingkat efisiensi dan efektifitas dari biaya yang dikeluarkan untuk
6

tujuan-tujuan tertentu. Jika alokasi APBN sudah sesuai dengan skala prioritas, akan
timbul rasa adil yang berarti tiap-tiap sektor mendapatkan jatah sesuai dengan porsinya
masing-masing.
APBN memiliki beberapa fungsi yang di antaranya; pertama, fungsi alokasi untuk
menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya,
serta meningkatkan efisiensi. Kedua, fungsi distribusi dimana kebijakan anggaran harus
memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Ketiga, berfungsi sebagai alat untuk
memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian. Jika APBN
tidak mengalokasikan dana sesuai dengan prioritas kebutuhan negara ini, tentu saja
fungsi-fungsi yang telah disebutkan tidak dapat dicapai. Perlu dibuat skala prioritas
mengenai sektor-sektor yang ada, contohnya, karena negara Indonesia merupakan
negara agraris, sektor pertanian perlu dikembangkan lagi, sehingga anggaran untuk
sektor pertanian perlu ditingkatkan. Jika alokasi APBN sudah sesuai dengan porsi yang
dibutuhkan oleh masing-masing sektor maka dana yang dikeluarkan untuk membiayai
sektor tersebut tidak akan terbuang sia-sia atau dihabiskan tanpa memberikan suatu
hasil yang berarti.

2.4 Penganggaran APBN Tidak Sesuai Prioritas
2.4.1 Penganggaran Diprioritaskan bagi Pos-pos yang Kurang Produktif
Prioritas penganggaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
telah menjadi perbincangan banyak pihak, banyak yang mengatakan bahwa telah
terjadi kekeliruan dalam penganggaran APBN. Penganggaran APBN dinilai tidak
memiliki skala prioritas karena di satu sisi mengalokasikan dana yang besar untuk
pos-pos yang kurang produktif sementara di sisi lain menyisakan sedikit porsi
untuk pos-pos yang memberi kontribusi besar bagi pembangunan. Prioritas
tertinggi alokasi anggaran ternyata dianggap bukan untuk kebutuhan primer
masyarakat. Misalnya soal alokasi anggaran untuk Kementerian Agama,
meningkat gila-gilaan dibandingkan tahun lalu, padahal penganggaran untuk hal-
hal yang mendasar saja masih kurang. Mulai dari kebutuhan pangan, infrastruktur
yang membuka isolasi pedesaan, transportasi umum, pembenahan sistem
pertanian, pendidikan, kesehatan, mesti membutuhkan biaya yang sangat besar.
Tetapi alih-alih kepada kebutuhan dasar masyarakat, alokasi anggaran
Kementerian Agama di APBN 2014 merupakan tertinggi ke-lima setelah
Kementerian Pertahanan (Rp83,5 Triliun), Kementerian Pekerjaan Umum
7

(Rp83,3 Triliun), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Rp79,7 Triliun),
Kepolisian (Rp47,1 Triliun). Alokasi untuk Kementerian Agama mencapai
Rp45,4 Triliun. Ini jauh lebih tinggi dari alokasi anggaran untuk Kementerian
Pertanian, misalnya, yang hanya sebesar Rp16,4 Triliun. Padahal Kementerian
Agama, berdasarkan indeks integritas yang dibuat oleh KPK, termasuk
Kementerian yang terkorup (2011). Sementara untuk tahun ini, KPK juga
menyebutkan bahwa Kementerian (secara umum) adalah lembaga yang terkorup
dibandingkan lembaga-lembaga lain.
Tentu kita juga masih ingat dengan korupsi penyediaan Al Quran. Begitu
juga dengan pengelolaan haji, dimana disinyalir biaya haji Indonesia masih
termasuk yang termahal, dengan jumlah jamaah sebanyak ini (kuota terbesar se-
dunia). Alokasi yang besar APBN untuk Kementerian Agama digunakan untuk
perbaikan 15 fasilitas haji di Arab Saudi, merekrut 1500 petugas untuk Komite
Manajemen Haji dan beasiswa. Dan yang parahnya, ternyata alokasi terbesar
anggaran itu adalah untuk gaji (Rp22,5 Triliun), yang kedua untuk belanja barang
(yang sangat rawan korupsi) sebesar Rp10,6 Triliun, dan Rp11, 5 Triliun untuk
bantuan sosial. Yang penting diketahui, seharusnya Kementerian Agama tidak
perlu menyerap alokasi anggaran sebesar ini. Lembaga-lembaga bantuan sosial
berlatar agama, seperti lembaga zakat sudah begitu banyak bertebaran di
Indonesia. Seharusnya tugas Kementerian Agama mensinergiskan lembaga
semacam ini, mengaudit dan membuat lembaga-lembaga charity ini punya daya
dukung yang tajam bagi penyelesaian masalah sosial di Indonesia.
Yang paling miris, terhadap alokasi APBN ini Kementerian Agama
mendapat jatah hampir 3 kali lipat lebih tinggi dari Kementerian Pertanian.
Padahal daya saing produk pertanian Indonesia tentu sangat bergantung kepada
keseriusan pemerintah membangun sistem pertanian. Dan itu butuh dana yang
tidak sedikit. Tetapi sekali lagi, sayang, alokasinya malah diprioritaskan terhadap
pos-pos yang kurang produktif.
Pengamat ekonomi Yanuar Rizky mengungkapkan, penyusunan APBN
akan selalu tidak tepat sasaran bila politik anggaran juga tidak berubah. Sampai
saat ini pemerintah tidak memiliki prioritas terkait kebutuhan pembangunan dan
pendidikan di Indonesia. Menurut dia, penyusunan anggaran oleh pemerintah
kebanyakan tidak terprogram sehingga terlihat asal-asalan.
8

Pembangunan infrastruktur dan sektor pendidikan sangat berkaitan erat
karena keduanya sama-sama membutuhkan sumber daya manusia (SDM).
Alokasi penyusunan APBN ini makin memprihatinkan karena diperparah oleh
mental dan perilaku pejabat negara yang terlalu boros. Ditambah lagi kelakuan
pejabat negara yang tidak pro-rakyat.
Menurut pengamat ekonomi dari Indonesia Development of Economics and
Finances (INDEF), alokasi APBN tidak tepat sasaran karena salah satu sektor
yang dapat mengurangi jumlah pengangguran dan dapat membuka lapangan
pekerjaaan baru seperti sektor pertanian tidak mendapatkan alokasi anggaran
yang besar. Pemerintah hanya menganggarkan sebesar Rp20 triliun atau 4,7%
dari jumlah keseluruhan APBN. Penganggaran kecil seperti ini nantinya akan
menimbulkan masalah baru, seperti contohnya krisis pangan.
2.4.2 Habis untuk Belanja Pegawai
Dari APBN yang Rp1.300 triliun itu, sebanyak 50% nya untuk belanja
pegawai, sama halnya dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
yang hampir 90% nya adalah untuk belanja pegawai. Dari total APBD hanya Rp
60 triliun yang dianggarkan untuk infrastruktur, belum lagi jika dikaitkan dengan
masalah korupsi yang pastinya akan mengurangi jumlah 60 triliun
2.4.3 Tidak Sinkron
Selama ini alokasi anggaran tidak optimal dalam menggerakkan
perekonomian rakyat karena sejumlah program pemerintah pusat dan daerah serta
program antarinstansi di pemerintah pusat tidak sinkron. Selain itu juga terjadi
ketidaksinkronan untuk masalah mitigasi dan penanggulan bencana. Meski
sebagian besar wilayah Indonesia merupakan daerah rawan bencana, namun
alokasi dana untuk mitigasi dan penanggulangan bencana di APBN hanya
berkisar Rp7 triliun atau hanya sekitar 0,38 persen dari total belanja APBN 2014
yang mencapai Rp1.842 triliun, padahal seharusnya alokasi anggaran untuk
mitigasi dan penanganan bencana menjadi prioritas karena sebagian besar
wilayah Indonesia termasuk daerah rawan bencana, terlebih pengelolaan bencana
masuk dalam daftar 11 prioritas pembangunan nasional pemerintah.
Angka Rp7 triliun itu terlihat lebih sebagai bentuk formalitas pemenuhan
tuntutan isu bencana yang memang sedang hangat di masyarakat daripada sebagai
bentuk kesadaran pemerintah akan bahaya bencana, padahal Undang-Undang
Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana telah meletakkan
9

tanggung jawab pada pundak Pemerintah untuk penyelenggaraan penanggulangan
bencana diantaranya perlindungan masyarakat dari dampak bencana, pemulihan
kondisi dari dampak bencana, dan pengalokasian anggaran penanggulangan
bencana dalam APBN. Anggaran tersebut diperuntukkan untuk kegiatan-kegiatan
tahap prabencana (pengurangan risiko bencana), saat tanggap darurat bencana,
dan pascabencana (rehabilitasi dan rekonstruksi).

2.5 Penyusunan APBN yang Sesuai dengan Skala Prioritas
Untuk menyusun APBN sesuai dengan skala prioritas, ada beberapa prinsip yang
perlu diperhatikan seperti berikut.
- Prinsip anggaran berimbang, yaitu sisi penerimaan sama dengan sisi pengeluaran,
defisit anggaran ditutup bukan dengan mencetak uang baru, melainkan dengan
pinjaman luar negeri.
- Prinsip dinamis
1. Anggaran dinamis absolut, yaitu peningkatan jumlah tabungan pemerintah
dari tahun ke tahun sehingga kemampuan menggali sumber dalam negeri bagi
pembiayaan pembangunan dapat tercapai
2. Anggaran dinamis relatif, yaitu semakin kecilnya persentase ketergantungan
pembiayaan terhadap pinjaman luar negeri
- Prinsip fungsional, yaitu pinjaman luar negeri hanya untuk membiayai
pengeluaran pembangunan, bukan untuk membiayai pengeluaran rutin. Semakin
dinamis anggaran dalam pengertian relatif, semakin baik tingkat fungsionalitas
terhadap pinjaman luar negeri.
Selain prinsip-prinsip di atas, dalam penyusunan APBN terdapat beberapa asas
yang digunakan agar alokasi APBN dapat sesuai dengan skala prioritas, yaitu:
- Asas kemandirian, artinya pembiayaan negara didasarkan atas kemampuan
negara, sedangkan pinjaman luar negeri hanya sebagai pelengkap
- Asas penghematan atau peningkatan efisiensi dan produktivitas
- Asas penajaman prioritas pembangunan, artinya mengutamakan pembiayaan yang
lebih bermanfaat.



10

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
APBN adalah suatu daftar yang secara sistematis memuat sumber-sumber
penerimaan negara dan alokasi pengeluaran negara dalam jangka waktu tertentu. APBN
mempunyai beberapa fungsi yaitu fungsi stabilisasi, fungsi alokasi, fungsi distribusi,
dan fungsi regulasi. Tujuan penyusunan APBN adalah sebagai pedoman pengeluaran
dan penerimaan negara agar terjadi keseimbangan yang dinamis, dalam rangka
melaksanakan kegiatan-kegiatan kenegaraan demi tercapainya peningkatan produksi,
peningkatan kesempatan kerja, dan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.
Penyusunan APBN dapat berdampak pada peningkatan pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan pendapatan dan penghematan
pengeluaran. Alokasi APBN yang sesuai dengan prioritas dinilai sangat penting karena
berkaitan dengan tingkat efisiensi dan efektifitas dari biaya yang dikeluarkan untuk
tujuan-tujuan tertentu. Jika alokasi APBN sudah sesuai dengan skala prioritas, akan
timbul rasa adil yang berarti tiap-tiap sektor mendapatkan jatah sesuai dengan porsinya
masing-masing.
Dalam praktiknya, ditemukan penganggaran APBN yang tidak sesuai prioritas di
antaranya penganggaran diprioritaskan bagi pos-pos yang kurang produktif, anggaran
habis untuk belanja pegawai, dan alokasi dana yang tidak sinkron untuk
penanggulangan bencana. Untuk mengatasi hal ini, APBN harus disusun berdasarkan
skala prioritas dengan memperhatikan prinsip-prinsip dan asas-asas penyusunan APBN.










11

DAFTAR PUSTAKA


Suminto. 2004. Pengelolaan APBN dalam Sistem Manajemen Keuangan Negara. Dalam
Makalah Budget in Brief. Jakarta: Ditjen Anggaran, Depkeu.

http://adiwidia.wordpress.com/tag/ekonomi/
http://pengantarilmuekonomimakro.blogspot.com/2013/05/pengertian-fungsi-serta-tujuan-
apbn-dan.html
http://m.kompasiana.com/post/read/603126/1/ada-yang-aneh-mengenai-alokasi-Kementerian-
agama-di-apbn-2014
http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2013/10/28/ada-yang-aneh-mengenai-alokasi-
Kementerian-agama-di-apbn-2014-603126.html
http://www.ollydondokambey.com/index.php/3015-ekonom-penyusunan-apbn-tidak-tepat-
sasaran
https://www.ipotnews.com/m/article.php?jdl=APBN_Tidak_Punya_Skala_Prioritas_&level2
=newsandopinion&level3=&level4=OTHERS&id=1772562
http://www.fraksipks.or.id/content/anggaran-mitigasi-dan-penanggulangan-bencana-belum-
jadi-prioritas