Anda di halaman 1dari 7

Konsep Jurnalisme Investigasi

Jurnalisme investigasi merupakan salah satu bagian penting dalam dunia keilmuan
jurnalistik. Jurnalisme investigasi tidak hanya sekedar meliput, mencatat jawaban who, what,
where, when, how dan why, kemudian merekamnya dan membuatnya menjadi berita.
Wartawan yang menggeluti dunia investigasi harus bisa mencari data dan fakta yang lebih
mendalam yang berhubungan dengan kasus yang sedang digelutinya. Mulai dari data dan
fakta yang tampak di hadapan publik hingga data dan fakta yang belum terungkap di depan
publik.
Kasus investigasi meliputi hal-hal yang memalukan, penyalahgunaan kekuasaan,
dasar faktual dari hal-hal aktual yang tengah menjadi pembicaraan publik, keadilan yang
korup, manipulasi laporan keuangan, bagaimana hukum dilanggar, perbedaaan antara profesi
dan praktisi, hal-hal yang disembunyikan, dan lain-lain. Wartawan investigasi mencoba
mendapatkan kebenaran yang tidak jelas, samar, atau tidak pasti. Topik-topik investigasi
mereka mengukur moralitas benar atau salah, dengan pembuktian yang tidak memihak yang
didapat melalui riset atau penelitian. Tidak hanya sekedar menolak kesepakatan melainkan
juga menyatakan apakah sesuatu yang terjadi itu sesuai dengan moral atau tidak.
Robert Greene dari newsday memberikan devinisi bahwa investigasi adalah karya
sesorang atau tim untuk menguak sesuatu yang disembunyikan dari publik demi kepentingan
masyarakat. Kegiatan investigasi sendiri memiliki tiga elemen dasar. Pertama, kegiatan ini
merupakan ide orisinil dari investigatornya, bukan merupakan hasil investigasi orang lain
yang dilanjutkan oleh sebuah media. Kedua, subjek investigasi merupakan kepentingan
bersama yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Serta yang ketiga adalah bahwa
ada pihak-pihak yang mencoba menyembunyikan kasus tersebut dari publik.
Sedangkan Goenawan Mohammad menyatakan bahwa kegiatan jurnalistik
investigasi merupakan jurnalisme membongkar investigasi. Secara umum investigasi bisa
diartikan sebagai upaya pencarian dan pengumpulan data, informasi dan temuan lainnya
untuk mengetahui kebenaran atau bahkan kesalahan sebuah fakta. Umumnya memang hanya
kalangan-kalangan tertentu saja yang bisa melakukan investigasi akan tetapi tidak menutup
kemungkinan bagi masyarakat untuk bisa melakukannya sehingga kegiatan investigasi ini
bisa diperluas menjadi kegiatan publik.
Aktifitas jurnalisme investigasi mencakup fungsi-fungsi to describe, to explain, and
to persuade. Reporter investigasi mengumpulkan akumulasi materi faktual ke dalam
gambaran pengisahan yang utuh. Banyak dari berbagai materi itu yang perlu diperjelas
dengan mengurutkan kembali letaknya pada sebuah konteks, kemudian menunjukkan
keterkaitannya, sebab dan akibatnya, serta konsekuensinya.
Pada akhirnya, pekerjaan jurnalisme investigasi justru mengajak masyarakat untuk
memerangi pelanggaran yang tengah berlangsung dan dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.
Kerja jurnalisme investigasi masuk ke dalam berbagai wacana publik yang tengah bergejolak
atau berkonflik. Pada saat-saat tertentu, para juranalis investigasi ikut terlibat di dalam alur
perkembangan politik nasional
Jurnalisme Investigasi di Indonesia
Di indonesia, jurnalisme investigasi banyak dipengaruhi oleh sistem politik
keterbukaan dan kemerdekaan pers. Harian Indonesia Raya merupakan salah satu media di
Indonesia yang banyak dinilai fenomenal dalam melaporkan investigasinya. Visi jurnalisme
yang dibangun mengambil konsep advocacy jurnalism. Sebuah aliran jurnalisme baru yang
berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an. Format advocacy digunakan untuk
satu gaya jurnalistik yang teguh dalam pendiriannya untuk mencapai suatu perbaikan
keadaan.
Harian Indonesia Raya bisa dikatakan tipikal awal penerbitan pers yang
mengarahkan liputan beritanya ke dalam bentuk investigasi. Pada periode pertama penerbitan
(1949-1958), harian ini memiliki visi investigatif untuk melawan kekuasaan yang dianggap
bertanggung jawab atas semua keburukan yang terdapat dalam masyarakat. Sedangkan pada
periode kedua (1968-1974) harian ini menyoroti kasus-kasus korupsi dan penyalahgunaan
kekauasaan dalam perspektif peristiwa kemasyarakatan. Pengaruh tiga dekade kekuasaan
Orde Baru yang merepresi kehidupan pers Indonesia, telah menjadikan pengenalan istilah
investigasi tidak begitu dikenali secara utuh dalam pedoman peliputan pers Indonesia.
Laporan investigasi sendiri memang belum menjadi suatu tradisi yang melembaga di
dalam tubuh pers Indonesia. Pekerja pers Indonesia masih mengerjakan laporan jenis ini
sebagai sebuah pendekatan yang bersifat temporer.Ketertutupan politik di era lama membuat
wartawan terjebak dalam teori konspirasi yang berbau tahayul dan diilhami kemalasan. Hal
ini membuat mereka tidak terbiasa menggali dan menemukan data atau informasi empiris dari
lapangan. Jurnalisme investigasi tidak hanya menuntut keberanian namun juga keterampilan
untuk mengolah apa yang mereka temukan di lapangan.
Karakteristik Jurnalisme Investigasi
Jurnalisme investigasi memiliki beberapa karakteristik. Andreas Harsono, seorang
wartawan jurnalistik senior mengindikasikan liputan investigasi sebagai berikut:
Riset dan reportase yang mendalam dan berjangka waktu panjang untuk membuktikan
kebenaran atau kesalahan hipotesis.
Paper trail yang dilakukan untuk mencari kebenaran dan mendukung hipotesis.
Wawancara yang mendalam dengan pihak-pihak yang terkait dengan kasus yang sedang
diinvestigasi.
Pemakaian metode penyelidikan polisi dan peralatan anti kriminalitas. Termasuk metode
penyamaran serta memakai kamera tersembunyi.
Jurnalisme investigasi berbeda dengan kegiatan jurnalisme investigasi lainnya.
Liputan jurnalisme investigasi tidak berdasarkan pada agenda pemberitaan yang terjadwal.
Peliputannya pun tidak dibatasi pada tekanan-tekanan waktu. Wartawan investigasi
memaparkan kebenaran yang mereka temukan, melaporkan adanya kesalahan-kesalahan serta
menyentuh dan mengafeksi masyarakat terhadap persoalan yang ditemukan.
Jurnalisme investigasi tidak terikat dengan deadline, yang artinya seorang reporter
infestigasi tidak diminta untuk membuat laporan harian. Ia memiliki rentan waktu yang lebih
lama sehingga ada kebebasan mengembangkan bahan-bahan yang sudah diperoleh. Ia harus
menelusuri kasus tersebut sampai benar-benar tuntas serta membuat masyarakat mengetahui
akan kebenaran dari kasus tersebut.
Mengapa penting Jurnalisme Investigasi
Tujuan jurnalisme investigasi adalah memberi tahu kepada masyarakat tentang
adanya pihak-pihak yang telah berbohong atau menutup-nutupi sebuah kebohongan dari
publik. Masyarakat diharap untuk menjadi waspada terhadap pelanggaran-pelanggaran yang
dilakukan oleh berbagai pihak, setelah mendapatkan bukti-bukti yang dilaporkan. Bukti-bukti
itu ditemukan melalui pencarian dari berbagai sumber dan tipe informasi, penelaahan
terhadap data-data yang signifikan dan pemahaman terhadap data-data statistik.
Apa yang dilakukan oleh wartawan investigasi di latar belakangi oleh hasrat untuk
mengoreksi keadilan, menunjukkan adanya kesalahan. Adanya dorongan moral dalam diri
mereka untuk memberitahukan kepada masyarakat akan adanya ketidakberesan dalam
lingkungan sekitar mereka. Wartawan investigasi sering kali menarik masyarakat untuk
terlibat dalam kegiatan jurnalistik mereka.
Panduan Investigasi Jurnalistik
Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya bahwa investigasi tidak hanya sekedar
mengumpulkan data kemudian mengolahnya menjadi berita.namun ada tahapan-tahapan
tertentu yang harus dilakukan oleh wartawan investigasi untuk mensukseskan laporan
investigasinya. Seperti yang dituliskan Paul N. Williams, seorang wartawan investigasi yang
mengidealisasikan gambaran reportase investigasi secara lengkap melalui bukunya
Investigatve Reporting and Writing. Williams memberikan sebelas langkah investigative
reporting, yang terdiri dari:
1. Conception
Tahap pertama yang harus dilakukan adalah mencari ide atau gagasan. Menurut
Williams, ide atau gagasan bisa didapat melaluisaran seseorang, menyimak berbagai
narasumber eguler, membaca, memanfaatkan potongan berita, mengembangkan sudut
pandang lain dari peristiwa berita, dan observasi langsung.
2. Feasibility Study.
Setelah mempunyai konsep gagasan, langkah selanjutnya adalah mengukur kemampuan
dan perlengkapan yang diperlukan. Hal-hal yang perlu dipelajari watawan sebelum
melakukan investigasi antara lain berbagai halangan yang harus diatasi, orang-orang yang
diperlukan, kemungkinan adanya tekanan terhadap media, serta bagaimana menjaga
kerahasiaan dari media lain.
3. Go-No-Go Decision
Langkah ini merupakan pengukuran terhadap hasil investigasi yang akan dilakukan.
Setiap liputan investigasi harus memperhitungkan hasil akhir dari proyek penyelidikan
yang akan dikerjakan.
4. Basebuilding
Langkah ini berkaitan dengan upaya wartawan untuk mencari dasar pijakan dalam
menganalisis sebuah kasus.
5. Planning
Langkah perencanaan ini berkaitan dengan kerja pengumpulan, penyusunan, dan
pemilihan orang yang akan melaksanakan tugas-tugas tertentu.
6. Original Research
Kegiatan riset disini berarti kerja pencarian data, penggalian bahan, yang umumnya
terdiri dari dua kerja penelusuran, yaitu penelusuran paper trails dan penelusuran people
trails.
7. Reevaluation
Setelah segala tindakan investigasi dilaksanakan dan mendapat banyak masukan data dan
informasi, diadakan kegiatan mengevaluasi kembali segala hal yang telah dikerjakan dan
didapatkan.
8. Filling the Gaps
Pada fase ini, kegiatan investigasi mengupayakan menutupi beberapa bagian bahan yang
belum terdata.
9. Final Evaluation
Tahap evaluasi ini adalah pekerjaan mengukur hasil investigasi dengan kemungkinan
buruk atau negatif. Yang terpenting adalah mengevaluasi keakurasian pihak-pihak yang
hendak dilaporkan di dalam standar pekerjaan jurnalistik.
10. Writing and Rewriting
Pekerjaan menulis laporan memerlukankesabaran dan ketekunan, serta kemauan untuk
terus memperbaiki penulisan berita jika diperlukan.
11. Publication and Follow up Stories
Pelaporan berita investigasi biasanya tidak hanya muncul di dalam satu kali penerbitan.
Masyarakat kerap memerlukan perkembangan dari masalah yang diungkap.
Setelah memahami konsep-konsep investigasi, wartawan harus juga memahami apa
yang dikatakan seorang sumber dan memahami informasi itu untuk melindungi atau
menjamin kerahasiaan identitas sumber agar yang memberikan keterangan bisa terbebas dari
ancaman yang mungkin terjadi terhadap dirinya. Berikut adalah beberapa aturan dasar
sederhana mengenai keterangan dari sumber:
1. On the record
Semua pernyataan boleh dikutip dengan menyertakan nama serta gelar orang yang
membuat pernyataan tersebut.
2. On background
Semua pernyataan boleh dikutip tetapi tanpa menyertakan nama dan gelar orang yang
memberi pernyataan tersebut.
3. On deep background
Apapun yang dikatakan boleh digunakan tetapi tidak dalam bentuk kutipan langsung dan
tidak untuk sembarang jenis penyebutan.
4. Off the record
Informasi yang diberikan tidak boleh disebarluaskan. Dan juga tidak boleh dialihkan
kepada narasumber lain dengan harapan bahwa informasi itu kemudian boleh dikutip.
5. Affidavit
Merupakan bahan yang dapat memperkuat berita investigatif karena berbentuk pernyataan
tertulis yang dibuat dibawah sumpah dihadapan notaris publik. Keterangan affidavit
menepis kemungkinan penyangkalan narasumber yang menyatakan dirinya telah salah
dikutip.
Prinsip-prinsip dasar investigasi:
1. Tidak memihak, yang artinya adalah wartawan harus terbebas dari segala bentuk tekanan.
Tidak memihak pada pihak yang dianggap benar maupun pihak dianggap salah.
2. Akurasi data tinggi
3. Nyata, yang artinya adalah bahwa investigasi ini benar-benar dilakukan. Bukan hasil dari
konstruksi atau rekayasa wartawan semata.
4. Melibatkan sebanyak mungkin sumber, hal ini dimaksudkan agar wartawan memperoleh
banyak informasi sehingga tidak terpaku pada satu sudut pandang saja.
5. Menjamin keamanan sumber berita, jika diminta.wartawan wajib menghormatinya.