Anda di halaman 1dari 25

1

BAHAN AJAR
KEPERAWATAN KOMUNITAS

Disusun sebagai suplemen dalam mata kuliah keperawatan komunitas
















Ns. Dona Yanuar Agus Santoso, MNS
Program Studi Ilmu Keperawatan

STIKES Kendal
i

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kami telah
diberikan kesehatan dan kesempatan untuk dapat menyelesaikan BUKU AJAR
KEPERAWATAN KOMUNITAS Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Kendal ini dengan baik.
BUKU AJAR KEPERAWATAN KOMUNITAS ini bertujuan sebagai suplemen
pembelajaran dalam mata kuliah keperawatan komunitas. Selain itu bahan ajar ini disusun
untuk membekali mahasiswa keperawatan dengan kompetensi pada mata kuliah komunitas
yang meliputi knowledge, psikomotor, afektif serta kognitif.
Di periode selanjutnya buku ajar ini akan terus disempurnakan, dengan harapan untuk
dapat lebih membantu kelancaran mahasiswa dalam mempelajari tentang esensi praktik
keperawatan komunitas, maka segala kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat
dihargai untuk perubahan ke arah yang lebih baik.
Tim penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan BUKU AJAR KEPERAWATAN KOMUNITAS ini. Semoga dapat berguna
bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal.


Tim Penyusun





ii

Daftar Isi

Halaman Judul .............................................................................................................. i
Kata Pengantar ............................................................................................................. ii
Daftar Isi ........................................................................................................................ iii
Petunjuk Penggunaan Buku Ajar .................................................................................. iv
BAB I Esensi Keperawatan Komunitas ......................................................................... 1
BAB II Transkultural Keperawatan Pada Komunitas ..................................................... 9
BAB III Proses Keperawatan Komunitas ....................................................................... 15
Lampiran ....................................................................................................................... 22










Petunjuk Penggunaan Buku ajar

iii

Buku ajar ini khusus digunakan dalam mata kuliah Keperawatan Komunitas III.
Mahasiswa dapat menggunakan buku ajar ini sebagai suplemen untuk mempelajari
teori dan konsep-konsep dalam keperawatan komunitas. Isi dalam buku ajar ini telah
disesuaikan dengan silabus mata kuliah Komunitas III untuk semester VIII, yang terdiri
dari enam BAB meliputi: Esensi keperawatan komunitas, transkultural keperawatan
pada komunitas, proses keperawatan komunitas, keperawatan komunitas area khusus,
kedaruratan komunitas, dan epidemiology pada keperawatan komunitas.
Struktur BAB dalam buku ajar ini meliputi materi, soal latihan, dan referensi.
Materi dalam setiap BAB diambil dari referensi yang tercantum di akhir setiap BAB.
Setelah materi, mahasiswa dapat menemukan soal latihan yang bertujuan untuk
mengevaluasi pembelajaran, serta membangun critical thinking mahasiswa dalam
belajar.



1

BAB I
Esensi Keperawatan Komunitas

Komunitas merupakan kelompok induvidu dan kelompok yang berinteraksi satu
sama lainnya, dan memiliki persamaan nilai, minat,dan tujuan yang sama, yang
dibatasi secara geografis (Allender et al, 2010). Sebuah komunitas sering didefinisikan
oleh batas-batas geografis dan dengan demikian disebut komunitas geografis . Sebuah
kota , kota, atau lingkungan adalah sebuah komunitas geografis Status kesehatan pada
komunitas ini disebut dengan kesehatan komunitas. Kesehatan komunitas
mengidentifikasikan kesehatan kolektif dalam batas-batas geografis.
Keperawatan komunitas sebagai suatu bidang keperawatan yang merupakan
perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat (public health) dengan
dukungan peran serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan
promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan perawatan kuratif
dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada individu,
keluarga, kelompok serta masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui proses
keperawatan (nursing process) untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara
optimal, sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan (Mubarak, 2006). Proses
keperawatan komunitas merupakan metode asuhan keperawatan yang bersifat
alamiah, sistematis, dinamis, kontiniu, dan berkesinambungan dalam rangka
memecahkan masalah kesehatan klien, keluarga, kelompok serta masyarakat melalui
langkah-langkah seperti pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi
keperawatan (Wahyudi, 2010).
2

A. Sejarah dan evolusi keperawatan komunitas
Pada abad ke -19 keperawatan komunitas berfokus pada kesehatan lingkungan.
Status kesehatan induvidu, keluarga, dan kelompok dalam komunitas tidak menjadi
perhatian khusus dalam keperawatan komunitas. Selain itu fokus penanganan masalah
keperawatan hanya berfokus pada penyakit menular yang meliputi kuratif dan
rehabilitative. Seiiring berjalannya waktu, perawat komunitas menghasilkan berbagai
macam penelitian yang menghasilkan teori-teori dan modul konseptual keperawatan.
Teori system yang dikemukakan oleh betty neuman pada 1985 menjadi tolak
perubahan fokus asuhan keperawatan komunitas. Perawat memandang bahwa
interaksi induvidu, keluarga, dan kelompok pada masyarakat memberikan pengaruh
besar terhadap kesehatan komunitas. Maka dari itu, asuhan keperawatan
mengikutsertakan anggota populasi kedalam prosesnya dan dianggap sebagai partner
dalam penyelesaian masalah kesehatan.
Masyarakat Indonesia di masa kuno beranggapan bahwa penyakit itu disebabkan
oleh perbuatan makhluk halus yang jahat. Kepercayaan ini begitu mengakar pada
masyarakat, sehingga ketika ada yang sakit maka mereka akan pergi ke dukun untuk
mendapatkan pengobatan. Pengobatan yang dilakukan yaitu dengan menggunakan
mantra-mantra dan bahan-bahan tertentu yang tidak terbukti khasiatnya. Dari segi
keperawatan, orang yang sakit hanya dirawat oleh kaum wanita yang berlandaskan
kepada naluri keibuan (mother instinc). Tidak ada catatan yang menyebutkan kaum pria
ikut serta melakukan perawatan dengan alasan kaum pria tidak mempunyai kasih
sayang yang cukup untuk merawat orang sakit. Pada masa kuno ini, tidak ada catatan
sejarah yang menyebutkan perkembangan yang berarti dalam bidang keperawatan.
3

Penelitian keperawatan yang berkembang pesat saat ini menyumbangkan perubahan
besar pada konsep asuhan keperawatan di Indonesia. Meskipun model perawat
komunitas belum diterapkan di Indonesia, akan tetapi peran perawat komunitas sudah
dapat di rasakan oleh masyarakat. Pengkajian, promosi kesehatan, pencegahan dan
penanganan masalah kesehatan telah dilakukan secara langsung oleh perawat yang
bekerja di populasi.
B. Peran Community Health Nursing (CHN)
1. Pelaksana Pelayanan Keperawatan (provider of nursing care). Peranan yang
utama perawat komunitas adalah sebagai pelaksana askep kepada individu,
keluarga, dan kelompok, baik sehat atau sakit atau mempunyai masalah
kesehatan atau keperawatn di rumah, disekolah, dipanti, tempat kerja, dan lain-
lain.
2. Sebagai pendidik (health educator). Memberikan pendidikan kesehatan kepada
individu, keluarga, kelompok dan komunitas dirumah, di puskesmas, dikomunitas
secara terorganisir, untuk menanamkan perilaku hidup sehat sehingga terjadi
perubahan perilaku utk mencapai tingkat kes optimal
3. Sebagai pengamat kesehatan (health monitor). Memonitor perubahan yang
terjadi pada individu, keluarga, kelompok, komunitas untuk mengatasi masalah
kes/kep yang timbul serta dampak thd status kesehatan melalui :
Kunjungan rumah
Pertemuan-pertemuan
Observasi
Pengumpulan data
4

4. Koordinator Yankes (coordinator of servises). Mengkoordinir seluruh kegiatan
upaya pelayanan kesehatan masyarakat dalam mencapai tujuan kesehatan
melalui kerjasama dengan team kesehatan lainnya untuk menciptakan
keterpaduan dalam sistem pelayanan kesehatan.
5. Sebagai pembaharu (inovator). Pembaharu terhadap individu, keluarga,
kelompok, komunitas untuk merubah perilaku dan pola hidup sehingga tercipta
peningkatan dan pemeliharaan kesehatan
6. Pengorganisir pelayanan kesehatan (organisator). Berperan serta dalam
memberikan motivasi dalam rangka meningkatkan peran serta individu, keluarga,
kelompok, dan masyarakat dalam setiap upaya yankes yang dilaksanakan oleh
masyarakat. Misalnya : kegiatan posyandu, mulai dari tahap perencanaan,
pelaksanaan, sampai dengan tahap penilaian, ikut berpartisipasi dalam
kegiatan pengembangan dan pengorganisasian masyarakat dalam bidang
kesehatan.
7. Sebagai panutan (Role Model). Perawat harus dapat memberikan contoh yang
baik dalam bidang kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat tentang bagaimana tata cara hidup sehat yang dapat ditiru dan
dicontoh oleh masyarakat.
8. Sebagai Tempat Bertanya (counselor). Tempat bertanya oleh individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam
bidang kesehatan atau keperawatan yang dihadapi sehari-hari. Selain itu
perawat juga dapat membantu memberikan jalan keluar dalam mengatasi
masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi.
5

9. Sebagai Pengelola (Manager). Dapat mengelola berbagai kegiatan pelayanan
kesehatan dan masyarakat sesuai dengan beban tugas dan tanggung jawab
yang diembankan kepadanya. Mengkoordinasikan upaya-upaya kesehatan yang
dijalankan, melalui puskesmas sebagai institusi pelayanan dasar utama, baik di
dalam atau di luar gedung ataukah di keluarga, terhadap kelompok-kelompok
khusus seperti kelompok ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas/menyususi, anak balita,
usia lanjut, sesuai dengan peran , fungsi dan tanggung jawabnya.

C. Teori dan Model Konseptual Keperawatan
Teori dan model konseptual keperawatan merupakan landasan praktik keperawatan
yang merupakan dasar ilmiah ilmu keperawatan. Teori dan model konseptual
keperawatan memberikan tuntunan pada praktik keperawatan.
1. Pengertian teori dan model konseptual keperwatan
Teori adalah hubungan beberapa konsep atau suatu kerangka konsep, atau
definisi yang memberikan suatu pandangan sistematis terhadap gejala-gejala
atau fenomena-fenomena dengan menentukan hubungan spesifik antara
konsep-konsep tersebut dengan maksud untuk menguraikan, menerangkan,
meramalkan dan atau mengendalikan suatu fenomena. Teori dapat diuji, diubah
atau digunakan sebagai suatu pedoman dalam penelitian.
Teori keperawatan didefinisikan oleh Steven (1984), sebagai usaha untuk
menguraikan dan menjelaskan berbagai fenomena dalam keperawatan. Teori
keperawatan berperan dalam membedakan keperawatan dengan disiplin ilmu
6

lain dan bertujuan untuk menggambarkan,menjelaskan, memperkirakan dan
mengontrol hasil asuhan atau pelayanan keperawatan yang dilakukan.
Konsep adalah suatu keyakinan yang kompleks terhadap suatu objek, benda,
suatu peristiwa atau fenomena berdasarkan pengalaman dan persepsi
seseorang berupa ide, pandangan atau keyakinan. Kumpulan beberapa konsep
ke dalam suatu kerangka yang dapat dipahami membentuk suatu model atau
kerangka konsep. Konsep dapat dianalogikan sebagai batu bata dan papan
untuk membangun sebuah rumah dimana rumah yang dibangun diibaratkan
sebagai kerangka konsep.
Teori keperawatan sebagai salah satu bagian kunci perkembangan ilmu
keperawatan dan pengembangan profesi keperawatan memiliki tujuan yang ingin
dicapai diantaranya:
Adanya teori keperawatan diharapkan dapat memberikan alasan-alasan
tentang kenyataan-kenyataan yang dihadapi dalam pelayanan keperawatan,
baik bentuk tindakan atau bentuk model praktek keperawatan sehingga
berbagai permasalahan dapat teratasi.
Adanya teori keperawatan membantu para anggota profesi perawat untuk
memahami berbagai pengetahuan dalam pemberian asuhan keperawatan
kemudian dapat memberikan dasar dalam penyelesaian berbagai masalah
keperawatan.
7

Adanya teori keperawatan membantu proses penyelesaian masalah dalam
keperawatan dengan memberikan arah yang jelas bagi tujuan tindakan
keperawatan sehingga segala bentuk dan tindakan dapat dipertimbangkan.
Adanya teori keperawatan juga dapat memberikan dasar dari asumsi dan
filosofi keperawatan sehingga pengetahuan dan pemahaman dalam tindakan
keperawatan dapat terus bertambah dan berkembang.
2. Karakteristik teori dan model konseptual keperawatan
Torrest (1985) dan Chinn & Jacob (1983) menegaskan terdapat lima
karakteristik dasar teori keperawatan :
Teori keperawatan mengidentifikasikan dan mendefinisikan sebagai
hubungan yang spesifik dari konsep-konsep keperawatan seperti hubungan
antara konsep manusia, konsep sehat-sakit, konsep lingkungan dan
keperawatan
Teori keperawatan bersifat ilmiah, artinya teori keperawatan digunakan
dengan alasan atau rasional yang jelas dan dikembangkan dengan
menggunakan cara berpikir yang logis
Teori keperawatan bersifat sederhana dan umum, artinya teori keperawatan
dapat digunakan pada masalah sederhana maupun masalah kesehatan yang
kompleks sesuai dengan situasi praktek keperawatan
Teori keperawatan berperan dalam memperkaya body of knowledge
keperawatan yang dilakukan melalui penelitian
Teori keperawatan menjadi pedoman dan berperan dalam memperbaiki
kualitas praktek keperawatan
8

Daftar Pustaka

1. Allender, J. A., Cherie R., Kristine D.W. 2010. Community Health Nursing. Promoting
and protecting the publics health (7
th
edition). Wolters kluwer, Philadelphia.
2. Anderson, E.T., Judith M. 2011. Community as partner. Theory and Practice in Nursing
(6
th
edition). Wolters kluwer, Philadelphia.
3. Watkins, Diane., Judy E., Pam G. 2003. Community Health Nursing. Framework for
Practice. Bailliere Tindall, Edinburgh.
4. Butts, J.B., Karen L.R. 2011. Philosophies and theories for advance nursing practice.
Jones and Bartlett, Canada.














9

BAB II
Transkultural Keperawatan Pada Komunitas

Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang
dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil
keputusan. Sedangkan nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih
diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan
melandasi tindakan dan keputusan. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan
merupakan bentuk yang optimal daei pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada
kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan
asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan
termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan individu yang
mungkin kembali lagi (Leininger, 1991).
Dalam proses pembentukan budaya terdapat berbagai macam pengalaman dan
pengetahuan yang memandu induvidu untuk memahami dan meyakini sebuah budaya.
Pemahaman terhadap budaya tersebut, terkadang menimbulkan berbagai masalah
yang bertentangan dengan nilai-nilai kesehatan, salah satunya adalah etnosentris.
Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa
budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain.
Dengan terbentuknya etnosentris, akses pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan
seseorang akan mengalami hambatan. Akibatnya perubahan pola perilaku sehata
sebagai tujuan dari pendidikan kesehatan akan terhambat ketika induvidu memiliki nilai
yang bertentangan dalam budaya yang dianutnya dengan nilai yang terkandung
didalam pendidikan kesehatan.
10

keadaan etnosentris pada induvidu yang akan dilakukan pendidikan kesehatan
perlu dirubah menjadi etnorelativism. Etnorelativsm merupakan kondisi dimana induvidu
mampu untuk menerima konsep lain diluar budayanya. Dengan merubah etnosentris
menjadi etnorelativsm, budaya induvidu yang bertentangan dengan aspek kesehatan
akan mudah untuk dimodifikasi oleh perawata.Untuk dapat merubah keadaan
etnosentris menjadi etnorelativism, perawat komunitas perlu mempelajari tentang
etnografi. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi
pada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran
yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk
mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik diantara
keduanya.
dalam menghadapi induvidu dan keluarga yang bersikap etnosentris ini, perawat
harus dapat menunjukan care. Care merupakan fenomena keperawatan komunitas
yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku pada individu,
keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan baik aktual
maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia.
Fenomena care ini dilakukan oleh perawat komunitas dalam bentuk caring. Caring
adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan
mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau
antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.
Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,
kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung atau
memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan
11

kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, dalam keterbatasan dan mencapai
kematian dengan damai. Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga
kesehatan untuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain
karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok
lain.
Paradigma Transcultural Nursing
Leininger (1991) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagai cara
pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep
sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew and
Boyle, 2002).
1. Manusia
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan
norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan
melakukan pilihan. Menurut Leininger (2002) manusia memiliki
kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat
dimanapun dia berada.
2. Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi
kehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan
suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan
untuk menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat
diobservasi dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan
12

yang sama yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-
sakit yang adaptif (Andrew and Boyle, 2002).
3. Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang
mempengaruhi perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan
dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya
saling berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan
simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh
manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim
seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak
pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan
struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau
kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial
individu harus mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di
lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan
simbol yang menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti
musik, seni, riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.
4. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada
praktik keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar
belakang budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memnadirikan individu
sesuai dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan
13

keperawatan adalah perlindungan terhadap budaya, mengakomodasi/
negoasiasi budaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).

Perlindungan terhadap budaya
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan
dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan sesuai
dengan nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat
meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya, misalnya budaya
berolahraga setiap pagi.
Negosiasi budaya
Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk
membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan
kesehatan. Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain
yang lebih mendukung peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil
mempunyai pantang makan yang berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber
protein hewani yang lain.
Negosiasi budaya
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan
status kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya
merokok menjadi tidak merokok. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih
menguntungkan dan sesuai dengan keyakinan yang dianut.


14

Daftar Pustaka

1. Allender, J. A., Cherie R., Kristine D.W. 2010. Community Health Nursing. Promoting
and protecting the publics health (7
th
edition). Wolters kluwer, Philadelphia.
2. Anderson, E.T., Judith M. 2011. Community as partner. Theory and Practice in Nursing
(6
th
edition). Wolters kluwer, Philadelphia.
3. Watkins, Diane., Judy E., Pam G. 2003. Community Health Nursing. Framework for
Practice. Bailliere Tindall, Edinburgh.
4. Butts, J.B., Karen L.R. 2011. Philosophies and theories for advance nursing practice.
Jones and Bartlett, Canada.
5. Leinenger, M. 1991. Cultural Care Diversity and Universality: A Theory of
Nursing. New York: National League For Nursing Press
6. Andrews, M. M., Boyle, J. S. 2002. Transcultural Concept in Nursing Care.
Journal of Cultural Nursing 13(3) 178-170.













15

BAB III
Proses Keperawatan Komunitas

Praktik keperawatan komunitas didasarkan atas sintesa dari praktik kesehatan
komunitas dan praktik kesehatan komunitas, bertujuan untuk meningkatkan dan
memelihara kesehatan masyarakat dengan menekankan pada peningkatan peran serta
masyarakat dalam melakukan upaya-upaya pencegahan, peningkatan dan
mempertahankan kesehatan. Dalam konteks ini, keperawatan komunitas merupakan
salah satu upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan dimana sifat asuhan yang
diberikan adalah umum dan menyeluruh, lebih banyak tidak langsung dan diberikan
secara terus menerus melalui kerja sama. Pendekatan yang digunakan dalam asuhan
keperawatan komunitas adalah pendekatan keluarga binaan dan kelompok kerja
komunitas. Strategi yang digunakan untuk pemecahan masalah adalah melalui
pendidikan kesehatan, teknologi tepat guna serta memanfaatkan kebijaksanaan
pemerintah.

PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS
Setelah klien (individu, keluarga, masyarakat) kontak dengan pelayanan kesehatan (di rumah, di
Puskesmas), perawat melakukan praktik keperawatan dengan cara menggunakan proses keperawatan
komunitas. Sesuai dengan teori Neuman, kelompok atau komunitas dilihat sebagai klien dipengaruhi
oleh dua faktor utama yaitu komunitas yang merupakan klien dan penggunaan proses keperawatan
sebagai pendekatan, yang terdiri dari lima tahapan:


16

1. Pengkajian
Pada tahap pengkajian, perawat melakukan pengumpulan data yang bertujuan mengidentifikasi
data yang penting mengenai klien. Yang perlu dikaji pada kelompok atau komunitas adalah:
a. Core atau inti: data demografi kelompok atau komunitas yang terdiri: umur, pendidikan,
jenis kelamin, pekerjaan, agama, nilai-nilai, keyakinan, serta riwayat timbulnya kelompok
atau komunitas.
b. Delapan subsistem yang mempengaruhi komunitas (Betty Neuman):
Perumahan: Rumah yang dihuni oleh penduduk, penerangan, sirkulasi dan kepadatan.
Pendidikan: Apakah ada sarana pendidikan yang dapat digunakan untuk meningkatkan
pengetahuan.
Keamanan dan keselamatan di lingkungan tempat tinggal: Apakah tidak menimbulkan
stress.
Politik dan kebijakan pemerintah terkait dengan kesehatan: Apakah cukup menunjang
sehingga memudahkan komunitas mendapat pelayanan di berbagai bidang termasuk
kesehatan.
Pelayanan kesehatan yang tersedia untuk melakukan deteksi dini gangguan atau
merawat atau memantau apabila gangguan sudah terjadi.
System komunikasi: Sarana komunikasi apa saja yang dapat dimanfaatkan di komunitas
tersebut untuk meningkatkan pengetahuan terkait dengan gangguan nutrisi misalnya
televisi, radio, Koran atau leaflet yang diberikan kepada komunitas.
Ekonomi: Tingkat sosial ekonomi komunitas secara keseluruhan apakah sesuai dengan
UMR (Upah Minimum Regional), dibawah UMR atau diatas UMR sehingga upaya
pelayanan kesehatan yang diberikan dapat terjangkau, misalnya anjuran untuk
konsumsi jenis makanan sesuai status ekonomi tersebut.
17

Rekreasi: Apakah tersedia sarananya, kapan saja dibuka, dan apakah biayanya
terjangkau oleh komunitas. Rekreasi ini hendaknya dapat digunakan komunitas untuk
mengurangi stress.
c. Status kesehatan komunitas. status kesehatan komunitas dapat dilihat dari biostatistik dan
vital statistic, antara lain angka mortalitas, angka morbiditas, IMR, MMR, serta cakupan
imunisasi.

2. Diagnosa keperawatan komunitas atau kelompok dan analisa data
Setelah dilakukan pengkajian yang sesuai dengan data-data yang dicari, maka kemudian
dikelompokkan dan dianalisa seberapa besar stressor yang mengancam masyarakat dan
seberapa berat reaksi yang timbul pada masyarakat tersebut. Masalah kesehatan yang
ditemukan di masyarakat disampaikan dalam pelaksanaan lokakarya mini atau istilah lainnya
musyawarah masyarakat desa/RW. Data dapat disajikan dengan menggunakan grafik, table
ataupun melalui sosio drama. Berdasarkan hal tersebut diatas dapat disusun diagnose
keperawatan komunitas dimana terdiri dari: Masalah kesehatan, Karakteristik populasi,
karakteristik lingkungan.
Contoh:
a. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada komunitas di RW 04 Kelurahan
Kampung Melayu berhubungan dengan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang
pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tubuh.
3. Perencanaan (intervensi)
Tahap berikutnya dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang harus
dilakukan untuk membantu sasaran dalam upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Langkah pertama dalam tahap perencanaan adalah menetapkan tujuan dan sasaran kegiatan
18

untuk mengatasi masalah yang telah ditetapkan sesuai dengan diagnosis keperawatan. Dalam
menentukan tahap berikutnya yaitu rencana pelaksanaan kegiatan maka ada dua faktor yang
mempengaruhi dan dipertimbangkan dalam menyusun rencana tersebut yaitu sifat masalah dan
sumber/potensi masyarakat seperti dana, sarana, tenaga yang tersedia.
Dalam pelaksanaan pengembangan masyarakat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut :
a. Tahap persiapan
Dengan dilakukan pemilihan daerah yang menjadi prioritas menentukan cara untuk
berhubungan dengan masyarakat, mempelajari dan bekerjasama dengan masyarakat.
b. Tahap pengorganisasian
Dengan persiapan pembentukan kelompok kerja kesehatan untuk menumbuhkan
kepedulian terhadap kesehatan dalam masyarakat. Kelompok kerja kesehatan (Pokjakes)
adalah suatu wadah kegiatan yang dibentuk oleh masyarakat secara bergotong royong
untuk menolong diri mereka sendiri dalam mengenal dan memecahkan masalah atau
kebutuhan kesehatan dan kesejahteraan, meningkatkan kemampuan masyarakat
berperanserta dalam pembangunan kesehatan di wilayahnya.
c. Tahap pendidikan dan latihan
Kegiatan pertemuan teratur dengan kelompok masyarakat
Melakukan pengkajian
Membuat program berdasarkan masalah atau diagnose keperawatan
Melatih kader
Keperawatan langsung terhadap individu, keluarga dan masyarakat
d. Tahap formasi kepemimpinan
e. Tahap koordinasi intersektoral
f. Tahap akhir
19

Dengan melakukan supervisi atau kunjungan bertahap untuk mengevaluasi serta
memberikan umpan balik untuk perbaikan kegiatan kelompok kerja kesehatan lebih lanjut.
Untuk lebih singkatnya perencanaan dapat diperoleh dengan tahapan sebagai berikut :
Pendidikan kesehatan tentang gangguan nutrisi
Demonstrasi pengolahan dan pemilihan makanan yang baik
Melakukan deteksi dini tanda-tanda gangguan kurang gizi melalui pemeriksaan fisik dan
laboratorium
Bekerjasama dengan aparat Pemda setempat untuk mengamankan lingkungan atau
komunitas bila stressor dari lingkungan
Rujukan ke rumah sakit bila diperlukan
4. Pelaksanaan (Implementasi)
Perawat bertanggung jawab untuk melaksanakan tindakan yang telah direncanakan yang
sifatnya:
a. Bantuan dalam upaya mengatasi masalah-masalah kurang nutrisi, mempertahankan kondisi
seimbang atau sehat dan meningkatkan kesehatan.
b. Mendidik komunitasi tentang perilaku sehat untuk mencegah kurang gizi.
c. Sebagai advokat komunitas, untuk sekaligus menfasilitasi terpenuhinya kebutuhan
komunitas.
Pada kegiatan praktik keperawatan komunitas berfokus pada tingkat pencegahan, yaitu :
a. Pencegahan primer yaitu pencegahan sebelum sakit dan difokuskan pada populasi sehat,
mencakup pada kegiatan kesehatan secara umum serta perlindungan khusus terhadap
penyakit, contoh: imunisasi, penyuluhan gizi, simulasi dan bimbingan dini dalam kesehatan
keluarga.
20

b. Pencegahan sekunder yaitu kegiatan yang dilakukan pada saat terjadinya perubahan derajat
kesehatan masyarakat clan ditemukan masalah kesehatan. Pencegahan sekunder ini
menekankan pada diagnosa dini dan tindakan untuk mnghambat proses penyakit, Contoh:
Mengkaji keterbelakangan tumbuh kembang anak, memotivasi keluarga untuk melakukan
penieriksaan kesehatan seperti mata, gigi, telinga, dll.
c. Pencegahan tertier yaitu kegiatan yang menekankan pengembalian individu pada tingkat
berfungsinya secara optimal dari ketidakmampuan keluarga, Contoh: Membantu keluarga
yang mempunyai anak dengan resiko gangguan kurang gizi untuk melakukan pemeriksaan
secara teratur ke Posyandu.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan penilaian terhadap program yang telah dilaksanakan dibandingkan dengan
tujuan semula dan dijadikan dasar untuk memodifikasi rencana berikutnya. Evaluasi proses dan
evaluasi hasil. Sedangkan fokus dari evaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan komunitas
adalah:
a. Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan target pelaksanaan
b. Perkembangan atau kemajuan proses: kesesuaian dengan perencanaan, peran staf atau
pelaksana tindakan, fasilitas dan jumlah peserta.
c. Efisiensi biaya. Bagaimanakah pencarian sumber dana dan penggunaannya serta
keuntungan program.
d. Efektifitas kerja. Apakah tujuan tercapai dan apakah klien atau masyarakat puas terhadap
tindakan yang dilaksanakan.
e. Dampak. Apakah status kesehatan meningkat setelah dilaksanakan tindakan, apa perubahan
yang terjadi dalam 6 bulan atau 1 tahun.

21

Daftar Pustaka

1. Allender, J. A., Cherie R., Kristine D.W. 2010. Community Health Nursing. Promoting
and protecting the publics health (7
th
edition). Wolters kluwer, Philadelphia.
2. Anderson, E.T., Judith M. 2011. Community as partner. Theory and Practice in Nursing
(6
th
edition). Wolters kluwer, Philadelphia.
3. Watkins, Diane., Judy E., Pam G. 2003. Community Health Nursing. Framework for
Practice. Bailliere Tindall, Edinburgh.
4. Butts, J.B., Karen L.R. 2011. Philosophies and theories for advance nursing practice.
Jones and Bartlett, Canada.

Anda mungkin juga menyukai