Anda di halaman 1dari 19

1

I. PENDAHULUAN
Ekologi merupakan studi ilmiah tentang proses regulasi distribusi
kelimpahan dan saling interaksi di antara mereka, dan sebuah studi tentang desain
dari struktur dan fungsi dari ekosistem (Krebs, 1972). Istilah ekologi ini pertama
kali diperkenalkan pada tahun 1866 oleh E. Haeckel (ahli biologi Jerman).
Ekologi berasal dari dua akar kata Yunani (oikos : rumah dan Logos : ilmu),
sehingga secara harfiah bisa diartikan sebagai kajian organisme hidup dalam
rumahnya. Secara lebih formal ekologi didefinisikan sebagai kajian yang
mempelajari hubungan timbal balik antara organisme organisme hidup dengan
lingkungan fisik dan biotik secara menyeluruh. Jadi dalam hal ini dapat
disimpulkan bahwa ekologi itu adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal
balik antara makhluk hidup dan lingkungannya (biotik dan abiotik) dalam suatu
ekosistem.
Hubungan antara manusia dan lingkungan alam bagi masyarakat pedesaan
sangatlah erat. Mata pencaharian mereka adalah mengolah alam secara langsung
agar tetap bertahan hidup, sehingga keadaan alam dan sumber sumber daya akan
sangat menentukan keadaan mereka. Misalnya jenis jenis kegiatan pertanian
akan tergantung pada jenis dan keadaan tanah, ketersediaan air dan curah hujan
dan sebagainya. Selain itu di antaranya usaha atau tindakan pertanian yaitu
merupakan ekosistem yang dibuat manusia, terdapat interaksi antara tanaman
dengan manusia tersebut untuk saling menguntungkan, baik manusia maupun
tanaman itu sendiri dengan teknik budidaya tertentu. Rapatnya hubungan timbal
2

balik antara kehidupan masyarakat dan lingkungan alam menyebabkan hal ini
perlu dipahami dalam mengembangkan program bersama masyarakat. Dengan
teknik pemetaan, diperoleh gambaran keadaan sumber daya alam masyarakat
bersama masalah masalah, perubahan perubahan keadaan, potensi potensi
yang ada. Sedangkan untuk mengamati secara langsung keadaan lingkungan dan
sumber daya tersebut digunakan teknik penelusuran lokasi (Transek).
Transek adalah teknik untuk melakukan pengamatan langsung lingkungan
dan sumber daya, dengan cara berjalan menelusuri suatu wilayah mengikuti suatu
lintasan tertentu. Hasil pengamatan dan lintasan tersebut, kemudian dituangkan ke
dalam bagan atau gambar irisan muka bumi untuk didiskusikan lebih lanjut.
Menurut Rusmendro (2009) transek vegetasi alam adalah penelusuran lokasi
untuk mengetahui gambaran umum lokasi suatu tempat sehingga diperoleh hasil
keadaan sumber alam yang berpotensi untuk manusia dan dibudidayakan.
Transek ini selain bertujuan untuk mengetahui potensi alam yang ada pada
suatu tempat, tetapi juga bertujuan untuk mengetahui sebaran atau distribusi
tanaman yang terdapat pada suatu daerah tersebut, sehingga diketahui lebih dalam
potensi dan permasalahannya yang dapat dikenali dan diketahui untuk dipecahkan
agar dapat terjadi interaksi atau hubungan timbal balik antara manusia dan
tumbuhan yang saling menguntungkan baik untuk manusia dan alam itu sendiri.
Dalam penelusuran lokasi atau transek vegetasi ini juga perlu diperhatikan
keadaan iklim yang berada di daerah tersebut. Hal ini berguna untuk mengetahui
tanaman yang cocok atau mampu bertahan hidup di daerah tersebut sehingga
dapat memberikan pertumbuhan dan perkembangan yang maksimal, di antaranya
3

dari segi topografi atau ketinggian tempat, kelembaban, serta intensitas cahaya
yang diperoleh.
Tujuan praktikum ini adalah untuk menganalisis distrubusi dan jenis
tanaman yang dibudidayakan berdasarkan tingkat ketinggian tempat yang berbeda
serta pengamatan terhadap faktor faktor lingkungannya selain itu untuk
mengetahui keragaman dan distribusi agroekosistem pada wilayah pesisir pantai.













4

II. BAHAN DAN ALAT
Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah kertas plano, lahan atau
lokasi yang akan diamati, vegetasi dan lingkungan sekitar tempat praktikum.
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah ATK, Altimeter,
Termohygrometer, Soil Tester, Lux meter, kamera, transportasi.













5

III. PROSEDUR KERJA
1. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam praktikum
2. Dilakukan kembali pembahasan mengenai tujuan pelaksanaan transek
tersebut secara detail sehingga pada saat di lapang tidak terjadi kesalahan.
3. Disepakati lokasi awal pengamatan.
4. Dilakukan perjalanan pengamatan ke lokasi tempat praktikum.
5. Diamati tanaman apa saja yang dibudidayakan serta pola pertanamannya
pada titik lokasi yang telah ditentukan berdasarkan kelompok masing
masing.
6. Dibuat transek sesuai dengan jenis tanaman yang diamati.
7. Diamati juga parameter yang sudah ditentukan seperti ketinggian tempat,
kelembaban udara dan tanah, pH tanah, suhu serta intensitas cahaya.
8. Dicatat dalam buku catatan.
9. Dimasukkan data data yang diperoleh pada transek dan disesuaikan
dengan gambar yang ada.
10. Hasil pengamatan transek dipresentasikan.





6

IV. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS DATA
Terlampir




















7

V. PEMBAHASAN
Transek adalah jalur sempit melintang lahan yang akan dipelajari / diselidiki
yang bertujuan untuk mengetahui hubungan perubahan vegetasi dan perubahan
lingkungannya atau untuk mengetahui jenis vegetasi yang ada di suatu lahan
secara cepat. Menurut Oosting (1956) menyatakan bahwa transek merupakan
garis sampling yang ditarik menyilang pada sebuah bentukan atau beberapa
bentukan.
Pada pengamatan vegetasi di daerah Widarapayung Wetan Kecamatan
Binangun Kabupaten Cilacap dapat diamati dan dianalisis distribusi dan jenis
tanaman yang dibudidayakan berdasarkan tingkat ketinggian tempat yang berbeda
serta pengamatan terhadap faktor faktor lingkungannya. Untuk melakukan
pengamatan vegetasi yang ada pada lokasi pengamatan dengan ketinggian tempat
yang berbeda maka pengamatan dibagi menjadi tiga wilayah. Perbedaan wilayah
dikategorikan antara lain wilayah atas dengan ketinggian tempat 0-10 meter di
atas permukaan laut. Wilayah kedua yang dinamakan wilayah tengah dengan
ketinggian tempat 0-10 meter di atas permukaan laut. Dan wilayah ketiga yang
dinamakan wilayah bawah dengan ketinggian tempat 0-10 meter di atas
permukaan laut.
Pertumbuhan tanaman dan urutannya yang terjadi dalam suatu lahan
ditentukan oleh interaksi iklim, tanah, tanaman dan pengelolaan. Suatu jenis
tanaman akan tumbuh baik jika kebutuhan minimum akan air, energi dan nutrien
tersedia serta ada tempat untuk tumbuh. Setiap jenis tanaman memerlukan
8

susunan faktor tertentu untuk pertumbuhan yang optimal (Wisnubroto, 1999).
Faktor faktor lingkungan yaitu iklim, tanah, topografi dan biotik antara satu
dengan yang lain sangat berkaitan erat dan sangat menentukan keberadaan suatu
jenis tumbuhan di tempat tertentu, namun cukup sulit mencari penyebab
terjadinya kaitan yang erat tersebut. Persebaran suatu jenis tanaman secara tidak
langsung dipengaruhi oleh interaksi antara vegetasi dengan suhu, kelembaban
udara, dan kondisi topografi seperti ketinggian dan kedalaman tanah. Pada kondisi
lingkungan tertentu, setiap jenis tanaman tersebar dengan tingkat adaptasi yang
beragam, sehingga menyebabkan ada atau tidaknya suatu jenis tumbuhan pada
lingkungan tersebut.
Pada kegiatan budidaya pertanian, pengamatan terhadap kondisi
karakteristik tanah merupakan salah satu faktor penting. Berdasarkan hasil
pengamatan pada wilayah bawah menunjukan tekstur tanah berpasir berwarna
hitam kecoklatan. Hal ini disebabkan karena wilayah bawah berada dekat dengan
daerah pantai. Hal tersebut dapat terjadi karena kohesi dan konsistensi (ketahanan
terhadap proses pemisahan) pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air
atau angin. Dengan demikian, media pasir lebih membutuhkan pengairan dan
pemupukan yang lebih intensif (AAK, 1993). Untuk wilayah atas menunjukan
tanah berlempung yang berwarna coklat. Dan untuk wilayah tengah tanahnya
berwarna hitam kecoklatan.
Dari pengamatan disetiap wilayah dapat diketahui pola budidaya yang
diterapkan seperti jenis tanaman, pola tanam, jarak tanam, dan berbagai aspek
budidaya lainnya. Aspek budidaya dapat dianalisis dengan menganalisa faktor
9

faktor lingkungannya seperti suhu, kelembaban tanah, kelembaban udara, pH serta
intensitas cahaya. Pada pengukuran suhu dan kelembaban udara diperoleh untuk
wilayah bawah bersuhu 25C dengan kelembaban udara 91 - 92%. Untuk wilayah
tengah bersuhu 19C - 28C dengan kelembaban udara 50 - 88% sedangkan untuk
wilayah atas bersuhu 27C dengan kelembaban udara 90%. Pada umumnya suhu
di daerah pantai tinggi, hal tersebut terjadi karena adanya konveksi dari udara
dekat permukaan air laut dengan udara di dataran rendah. Jadi pertukaran suhu di
dataran rendah dengan suhu udara dekat permukaan air laut yang menyebabkan
suhu udara di dataran rendah panas. Dari ketiga wilayah tersebut menunjukkan
suhu udara yang sedang, hal tersebut terjadi karena pada saat pengamatan kondisi
cuaca mendung. Pada ketiga wilayah juga menunjukkan kelembaban udara yang
tinggi, hal tersebut terjadi selain karena kondisi cuaca yang mendung bahkan
hingga turun hujan juga dapat disebabkan karena suhu udara di daerah pantai yang
tinggi serta kandungan uap air di daerah pantai yang tinggi yang disebabkan
karena ketersediaan air yang banyak pada daerah pantai (air laut).
Pada pengukuran pH untuk wilayah bawah mempunyai pH sebesar 6,2.
Untuk wilayah tengah mempunyai pH sebesar 5,5 untuk sawah dan 6 untuk kebun
campur, sedangkan untuk wilayah atas mempunyai pH sebesar 6. Wilayah bawah
atau wilayah dekat pantai mempunyai pH paling tinggi dibandingkan wilayah
yang lain, dalam hal ini pH wilayah bawah mendekati basa. Hal ini terjadi karena
tanah pada wilayah bawah adalah tanah berpasir. Tanah pasir di daerah pantai
cenderung bersifat basa karena kandungan garamnya yang tinggi dan sedikit
partikel liat serta kurangnya bahan organik (Ashari, 1998). Kelebihan garam
10

dalam tanah dapat menurunkan potensial air larutan tanah dan menyebabkan
tumbuhan kekurangan air meskipun hidup pada lingkungan banyak air. ini
disebabkan karena potensial air di lingkungan lebih rendah daripada potensial air
jaringan, kemudian yang terjadi adalah kehilangan air bukan menyerapnya. Selain
itu organ organ tanaman seperti akar dan daun, juga memperlihatkan gejala
terbakar yang selanjutnya mengakibatkan kematian jaringan (nekrosis). Menurut
Jumin (2005) salinitas menekan proses pertumbuhan tanaman dengan efek yang
menghambat pembesaran dan pembelahan sel, produksi protein serta penambahan
biomassa tumbuhan. Tanah pada wilayah atas dan tengah menunjukkan bahwa
tanah pada wilayah tersebut merupakan tanah masam.
Cahaya merupakan suatu faktor esensial untuk fotosintesis serta cahaya juga
perlu untuk beberapa proses reproduksi. Iklim pada suatu tempat bergantung pada
lamanya penyinaran, agihan waktu, intensitas dan kualitas cahaya yang diterima.
Pengaruh cahaya terhadap fotosintesis sebagian besar bergantung pada intensitas
yang juga mempengaruhi pertumbuhan. Berdasarkan pengamatan intensitas
cahaya, pada wilayah bawah menunjukkan besar intensitas cahaya adalah 368-455
LUX. Untuk wilayah tengah mempunyai intensitas cahaya 85 - 329 LUX dan
untuk wilayah atas mempunyai intensitas cahaya sebesar 645 LUX. Keadaan
penyinaran cahaya matahari berkaitan erat dengan ketinggian dan keadaan curah
hujan. Di dataran tinggi yang mempunyai curah hujan besar, intensitas penyinaran
cahaya matahari lebih rendah dibandingkan dengan di dataran rendah. Keadaan
penyinaran matahari juga dipengaruhi oleh musim. Pada musim hujan penyinaran
cahaya matahari akan berkurang karena keadaan cuaca sering berawan (mendung).
11

Berkurangnya intensitas penyinaran cahaya matahari juga dapat disebabkan oleh
adanya naungan pepohonan yang besar di sekitar tanaman (Juanda, 2005).
Perbedaan intensitas cahaya pada ketiga wilayah tersebut dapat disebabkan karena
letak wilayah. Pada wilayah tengah menunjukan intensitas cahaya yang rendah
dibandingkan wilayah lain, hal tersebut dapat terjadi karena adanya pepohonan
naungan yang besar baik dari wilayah atas, bawah maupun wilayah tengah itu
sendiri. Sehingga intensitas cahaya yang sampai ke permukaan bumi berkurang.
Faktor iklim di dalamnya termasuk suhu udara, sinar matahari, kelembaban
udara dan angin. Unsur unsur ini sangat berpengaruh terhadap proses
pertumbuhan tanaman. Yang dimaksud dengan ketinggian tempat adalah
ketinggian dari permukaan air laut (elevasi). Ketinggian tempat mempengaruhi
perubahan suhu udara. Semakin tinggi suatu tempat, semakin rendah suhu
udaranya atau udaranya semakin dingin. Sebaliknya semakin rendah daerahnya
seperti wilayah pantai maka semakin tinggi suhu udaranya atau udaranya semakin
panas. Oleh karena itu ketinggian suatu tempat berpengaruh terhadap suhu suatu
wilayah.
Pertumbuhan suatu tanaman yang diproduksi akan selalu dipengaruhi oleh
faktor dalam maupun faktor luar dari tanaman itu sendiri. Faktor dalam dari
tanaman itu adalah genetika dari tanaman tersebut yang terekspresikan melalui
pertumbuhan sehingga diperoleh hasil, sedangkan faktor luarnya adalah faktor
biotik maupun abiotik yang meliputi unsur unsur yang menjadi pengaruh pada
kualitas dan kuantitas produksi alam, antara lain iklim, curah hujan, kelembaban,
intensitas cahaya, kesuburan tanah serta ada tidaknya hama dan penyakit.
12

Faktor lingkungan akan mempengaruhi proses proses fisiologi dalam
tanaman. Semua proses fisiologi akan dipengaruhi oleh suhu dan beberapa proses
akan tergantung dari cahaya. Suhu oprtimum diperlukan tanaman agar dapat
dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh tanaman. Suhu yang terlalu tinggi akan
menghambat pertumbuhan tanaman bahkan akan dapat mengakibatkan kematian
bagi tanaman, demikian pula sebaliknya suhu yang terlalu rendah. Sedangkan
cahaya merupakan sumber tenaga bagi tanaman. Kelembaban sendiri ada
kaitannya dengan laju transpirasi melalui daun karena transpirasi akan terkait
dengan laju pengangkutan air dan unsur hara terlarut yang nantinya akan
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Tanah juga
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Untuk pertumbuhan
tanaman yang baik, tanah dengan aerasi, drainase, serta kemampuan menyimpan
air maupun unsur hara yang baik harus memiliki komponen pasir, debu, dan liat
yang seimbang. Sehingga tanaman mampu tumbuh dalam keadaan yang optimal.
Pada pengamatan vegetasi di ketiga wilayah tersebut, ditemukan adanya banyak
gulma yang menunjukkan bahwa kondisi pada ketiga wilayah tersebut subur.
Perbedaan regional dalam topografi, geografi dan cuaca menyebabkan
terjadinya perbedaan dalam tanaman, pola tanaman, metode bercocok tanam dan
situasi sosio-ekonomi. Pola tanam dari beberapa tanaman yang ditanam terus
menerus serta keadaan iklim yang cocok akan meningkatkan dan kompleksnya
serangan hama, penyakit dan gulma. Sebagian besar pola tanam pada wilayah
pengamatan yang diterapkan adalah pola tanam tumpang sari, pola tanam
monokultur pada masing masing wilayah hanya diterapkan untuk tanaman padi.
13

Namun, untuk wilayah tengah pada tanaman cabai diterapkan pola tanam
monokultur serta tumpang sari.
Berdasarkan data hasil pengamatan, terdapat perbedaan vegetasi antar
wilayah pengamatan. Pada wilayah atas terdapat vegetasi padi, kelapa, singkong,
pisang, talas, bambu, mahoni dan albasia. Untuk padi sendiri yang dibudidayakan
meliputi varietas IR-64, Ciherang, dah Cisadane. Luas lahannya mencapai 10,5 ha
dengan jarak tanam 30x30 cm. Selain padi tanaman yang mendominasi di wilayah
atas adalah kelapa dengan 63 tanaman. Singkong yang terdapat pada wilayah atas
dapat dibilang cukup banyak dengan jumlah tanaman 43 dengan jarak tanam
30x30 cm. Untuk pisang terdapat 30 tanaman, talas sebanyak 20 tanaman dengan
jarak tanam 20x20 cm, bambu sebanyak 50 tanaman, mahoni sebanyak 12
tanaman dan albasia sebanyak 15 tanaman.
Pada wilayah tengah vegetasi yang terdapat di dalamnya meliputi singkong,
kelapa, padi, pepaya, pisang, ubi jalar, albasia, mahoni, dan cabai. Pada wilayah
tengah lebih didominasi oleh tanaman pepaya yaitu sebanyak 117 tanaman. Untuk
singkong dan kelapa sendiri mempunyai jumlah tanaman yang sama yaitu sebesar
80 tanaman dengan jarak tanam 60x45 cm untuk singkong dan 5x4 m untuk
kelapa. Tanaman padi sendiri yang dibudidayakan mempunyai luas lahan sebesar
3,5 ha dengan jarak tanam 15x25 cm. Untuk tanaman pisang terdapaat 19 tanaman,
ubi jalar sebanyak 14 tanaman dengan jarak tanam 15x10 cm, albasia sebanyak 18
tanaman dan mahoni sebanyak 35 tanaman. Untuk tanaman cabai sendiri yang
dibudidayakan mempunyai luas lahan 0,25 ha dengan jarak tanam 60x40 cm.
14

Untuk wilayah bawah vegetasi yang terdapat di dalamnya meliputi padi,
pisang, singkong, talas, kelapa dan albasia. Untuk tanaman padi sendiri yang
dibudidayakan mempunyai luas lahan sebesar 800 m
2
dengan jarak tanam 20x40
cm. Pada wilayah bawah ini lebih didominasi oleh tanaman albasia dengan jumlah
tanaman sebesar 83 tanaman. Untuk tanaman kelapa yang terdapat pada wilayah
bawah adalah sebesar 80 tanaman dengan jarak tanam 5x9 meter. Untuk tanaman
pisang pada wilayah bawah terdapat 35 tanaman dengan jarak tanam 2x3 m,
singkong dengan jumlah tanaman adalah 22 tanaman dengan jarak tanam 1x1 m
dan talas sebanyak 33 tanaman.
Tinggi tempat dari permukaan laut menentukan suhu udara dan intensitas
sinar yang diterima oleh tanaman. Semakin tinggi suatu tempat, semakin rendah
suhu tempat tersebut. Demikian juga intensitas matahari semakin berkurang. Suhu
dan penyinaran inilah yang nantinya akan digunakan untuk menggolongkan
tanaman apa saja yang sesuai untuk dataran tinggi atau dataran rendah. Ketinggian
tempat dari permukaan laut juga sangat menentukan pembungaan tanaman.
Tanaman berbuah yang ditanam di dataran rendah berbunga lebih awal
dibandingkan dengan yang ditanam pada dataran tinggi. Dari ketiga wilayah
tersebut menunjukan adanya sebaran tanaman yang berbeda. Untuk tanaman
semusim dari ketiga wilayah lebih didominasi pada wilayah tengah yaitu meliputi
singkong, padi, pisang, ubi jalar dan cabai. Namun, vegetasi yang terdapat pada
ketiga wilayah tersebut (atas, tengah, bawah) lebih didominasi oleh tanaman
semusim karena tanaman semusim cenderung mampu bertahan dan memerlukan
banyak cahaya serta tanaman semusim tidak memiliki sistem perakaran yang kuat
15

sehingga jika ditanam pada daerah dataran tinggi akan mempengaruhi kualitas
lahan karena tidak sesuai dengan kaidah konservasi. Dari vegetasi yang ada pada
wilayah pengamatan terdapat tanaman padi, kelapa, singkong, albasia, pisang
yang terletak pada wilayah atas, wilayah tengah, maupun wilayah bawah. Hal
tersebut menunjukkan bahwa tanaman tersebut mampu tumbuh dengan baik pada
semua wilayah pengamatan tanpa dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Namun ada
pula vegetasi seperti talas yang dapat tumbuh pada wilayah atas dan bawah,
mahoni pada wilayah atas dan tengah, bambu pada wilayah atas, ubi jalar dan
cabai pada wilayah tengah. Hal tersebut menunjukkan ketinggian tempat yang
menentukan suhu, intensitas cahaya serta kelembaban pada wilayah atas, tengah
dan bawah berpengaruh pada pertumbuhan tanaman - tanaman tersebut.
Perbedaan intensitas penyinaran matahari menyebabkan variasi suhu udara
di muka bumi. Kondisi suhu udara sangat berpengaruh terhadap kehidupan hewan
dan tumbuhan, karena berbagai jenis spesies memiliki persyaratan suhu
lingkungan hidup yang ideal atau optimal, serta tingkat toleransi yang berbeda
beda di antara satu dan lainnya. Dalam dunia tumbuhan, kondisi suhu udara
adalah salah satu faktor pengontrol persebaran vegetasi sesuai dengan posisi
lintang, ketinggian tempat, dan kondisi topografinya. Oleh karena itu, sistem
penanaman habitat flora seringkali sama dengan kondisi iklimnya, seperti vegetasi
hutan tropis, vegetasi lintang sedang, vegetasi gurun, dan vegetasi pegunungan
tinggi.
16

Perbedaan jenis tanaman yang dibudidayakan disebabkan karena
menyesuaikan kondisi lingkungan yang ada. Good (1953) dalam Tjondronegoro
(1979) mengemukakan 6 faktor yang mempengaruhi penyebaran tumbuhan:
1. Penyebaran keadaan iklim
2. Penyebaran faktor edafik
3. Perpindahan flora yang besar pada masa lampau dan sampai sekarang
masih terus berlangsung
4. Perpindahan tanaman ini terjadi pada fase di mana tanaman itu dapat
disebarkan (bentuk biji)
5. Dalam masa geologis perubahan iklim yang besar telah terjadi
6. Dalam masa itu juga telah terjadi perubahan dalam perbandingan daratan
dan lautan
Sistem irigasi yang digunakan untuk ketiga wilayah (atas, tengah, bawah)
adalah sistem irigasi teknis dan non teknis. Di mana sistem irigasi teknis hanya
digunakan untuk lahan padi. Sistem irigasi teknis adalah suatu sistem irigasi yang
dilengkapi dengan alat pengatur dan pengukur air pada bangunan pengambilan,
bangunan bagi dan bangunan sadap sehingga air terukur dan teratur sampai
bangunan bagi dan sadap, diharapkan efisiensinya tinggi. Untuk vegetasi yang
lain pada ketiga wilayah adalah menggunakan sistem irigasi nonteknis, di mana
pada ketiga wilayah tersebut masih mengandalkan air hujan. Adanya perbedaan
sistem irigasi tersebut menunjukkan bahwa tanaman yang dibudidayakan pada
lahan sawah di wilayah tersebut membutuhkan cukup air. Sebagai contoh tanaman
padi membutuhkan banyak air khususnya pada saat tumbuh padi harus selalu
17

tergenangi air. Agar produktivitas padi dapat efektif dalam satu satuan luas lahan,
maka dibutuhkan suplay air yang cukup melalui irigasi. tersedianya air irigasi
yang cukup terkontrol merupakan input untuk meningkatkan produksi padi.















18

VI. SIMPULAN
1. Faktor faktor lingkungan seperti suhu, intensitas cahaya, kelembaban
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman.
2. Tinggi tempat dari permukaan laut menentukan suhu udara dan intensitas
sinar yang diterima oleh tanaman, suhu dan penyinaran inilah yang
nantinya akan digunakan untuk menggolongkan tanaman apa saja yang
sesuai untuk dataran tinggi atau dataran rendah.
3. Berdasarkan hasil transek dari ketiga wilayah pengamatan yaitu wilayah
atas, wilayah tengah dan wilayah bawah, vegetasi yang ada terdapat
tanaman semusim maupun tahunan dengan pola tanam monokultur dan
tumpangsari.









19

VII. DAFTAR PUSTAKA
AAK. 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Kanisius. Yogyakarta
Ashari, S. 1998. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia Press.
Jakarta
Juanda, D. dan Bambang C. 2005. Wijen, Teknik Budidaya dan Analisis Usaha
Tani. Kanisius. Yogyakarta
Jumin, H.B. 2005. Dasar Dasar Agronomi. Raja Grafindo Persada. Jakarta
Krebs, C.S. 1972. Ecology. The Experimental Analysis of Distribution and
Abudance. Harpers and Row Publisher. New York
Oosting, H.J. 1956. The Study of Plant Community. W.H. Freeman and Company.
San Francisco
Rusmendro, H. 2009. Penuntun Praktikum Ekologi Tumbuhan. Fakultas Biologi.
Universitas Nasional. Jakarta
Tjondronegoro, P.D. 1979. Pengantar Ekologi Tumbuhan Bagian Ekologi.
Departemen Botani. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Wisnubroto, S. 1999. Meteorologi Pertanian Indonesia. Mitra Gama Widya.
Jakarta