Anda di halaman 1dari 19

PAPER

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Di awal abad ke-20, munculnya skrining pada wanita hamil untuk
penyakit menular seksual (PMS) merupakan pemicu meluasnya penggunaan
profilaksis tetes mata pada bayi baru lahir. Periode ini ditandai dengan prevalensi
oftalmia neonatorum yang jauh lebih tinggi dari tahun-tahun belakangan ini.
1
Di seluruh dunia, insidensi oftalmia neonatorum tinggi di daerah-daerah
dengan kejadian penyakit menular seksual yang juga tinggi. Insiden berkisar dari
0,1% di negara-negara yang maju dengan perawatan prenatal yang efektif,
sedangkan berkisar 10% di daerah seperti Afrika Timur.
2
Organisme biasanya menginfeksi bayi melalui kontak langsung selama
proses kelahiran. Infeksi diketahui naik ke uterus sehingga bayi yang dilahirkan
melalui seksiosesar juga dapat terinfeksi. Kemungkinan ini diperkuat oleh
kejadian ketuban pecah dini pada persalinan yang lama.
2
Pada abad ke-19 kejadian ofthalmia neonatorum telah mencapai tingkat
yang mengkhawatirkan di bangsal bersalin tidak hanya dari Eropa, tetapi juga di
Kanada. Dampak paling buruk yaitu kebutaan dari infeksi mata karena penyakit
ini pada tahun 1872-1985 di Kanada berdasarkan pemeriksaan dari 80 jurnal
medis, buku, dan artikel pada periode itu. Penggunaan profilaksis dan terapeutik
dari 2% AgNO3 diperkenalkan oleh Crede pada tahun 1880 untuk mencegah
kebutaan neonatal.
3
Tingkat oftalmia neonatorum bervariasi di berbagai belahan dunia. Dalam
satu rumah sakit di Pakistan, kejadian oftalmia neonatorum dilaporkan pada 17%.
Insiden oftalmia neonatorum di Amerika berkisar antara 1-2%, tergantung pada
karakter sosial ekonomi daerah. Epidemiologi oftalmia neonatorum berubah
ketika larutan AgNO3 diperkenalkan pada tahun 1800-an untuk mencegah
oftalmia gonokokal.
4
Klamidia adalah agen infeksi yang paling umum yang menyebabkan
oftalmia neonatorum di Amerika Serikat (40% oftalmia neonatorum disebabkan
PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



2

oleh klamidia). Sebaliknya, kejadian oftalmia neonatorum oleh agen gonokokal
telah berkurang drastis dan menyebabkan kurang dari 1% kasus konjungtivitis
neonatal. Seperti di Amerika Serikat, kejadian oftalmia neonatorum di banyak
negara lain menurun setelah larutan AgNO3 mulai dipakai. Di Eropa, insiden
jatuh dari 10% dari kelahiran sampai kurang dari 1%.
4

1.2. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan paper ini adalah untuk mengetahui segala sesuatu yang
berhubungan dengan Oftalmia Neonatorum mulai dari definisi, penyebab, gejala,
pengobatan, hingga pencegahan agar terhindar dari komplikasi. Selain itu, tujuan
penulisan paper ini adalah sebagai salah satu syarat menyelesaikan Pendidikan
Profesi Dokter di Departemen Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.


















PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konjungtiva
2.1.1. Anatomi Konjungtiva
Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang
melapisi permukaan posterior dari kelopak mata dan permukaan anterior dari
sklera.
5
Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu:
6
-
Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus. Konjungtiva tarsal sukar
digerakkan dari tarsus.

-
Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di
bawahnya.

-
Konjungtiva fornises atau forniks yang merupakan tempat peralihan
konjungtiva tarsal dan konjungtiva bulbi.

Gambar 2.1. Anatomi Konjungtiva
5
(Khurana, A.K. 2007. Disease of Conjunctiva. In Comprehensive Ophthalmology
Fourth Edition. Page 52)
PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



4

2.1.2. Histologi Konjungtiva
Secara histologis, konjungtiva terdiri atas tiga lapisan yang disebut:
5,7
1. Epitel

Lapisan dari sel epitel pada konjungtiva berbeda pada tiap-tiap regionya
seperti:
-
Konjungtiva marginal mempunya lima lapis sel epitel gepeng bertingkat.

-
Konjungtiva tarsalis mempunyai dua lapis sel epitel. Sel silindris pada
bagian superfisial dan sel gepeng pada bagian basal.

-
Konjungtiva forniks dan bulbar mempunyai tiga lapis sel epitel. Sel
silindris pada bagian superfisial, polihedral pada bagian tengah, dan sel
kuboid pada bagian basal.

-
Konjungtiva limbal mempunyai lima sampai enam lapis sel epitel
gepeng bertingkat.

Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang
mensekresi mukus yang diperlukan untuk dispersi air mata. Sel-sel epitel
basal berwarna lebih pekat dibandingkan sel-sel superfisial dan dapat
mengandung pigmen.

2. Adenoid

Disebut juga lapisan limfoid yang terdiri dari jaringan ikat, terdapat sel
limfosit di antaranya. Lapisan ini paling berkembang di forniks. Lapisan ini
belum terbentuk pada saat kelahiran sampai usia 3-4 bulan kehidupan. Oleh
sebab itu peradangan konjungtiva pada bayi ttidak menghasilkan reaksi
folikular.
3. Fibrosa
Terdiri dari jalinan kolagen dan serat elastin. Pada lapisan ini terdapat
pembuluh darah dan saraf. Lapisan ini lebih tebal dari adenoid, kecuali pada
bagian konjungtiva tarsal dimana lapisan ini sangat tipis.




PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



5


Gambar 2.2. Histologi Konjungtiva
5
(Khurana, A.K. 2007. Disease of Conjunctiva. In Comprehensive Ophthalmology
Fourth Edition. Page 52)


2.2. Oftalmia Neonatorum
2.2.1. Definisi
Oftalmia neonatorum adalah radang konjungtiva yang terjadi pada
neonatus dengan onset munculnya manifestasi dalam 28 hari pertama kehidupan.
Infeksi ini umumnya diperoleh oleh neonatus selama perjalanan melalui jalan
lahir yang terinfeksi. Kondisi ini juga dikenal sebagai konjungtivitis neonatal
yang dapat mengakibatkan berbagai macam komplikasi visual.
1,5
Kejadian oftalmia neonatorum dapat disebabkan oleh agen infeksius
maupun non-infeksius. Penyebab infeksius seperti bakteri, klamidia dan virus,
sedangkan penyebab non-infeksius adalah bahan kimia yang biasanya diberikan
sebagai profilaksis mata pada bayi baru lahir.
8

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



6

2.2.2. Etiologi dan Faktor Risiko
Infeksi dapat terjadi dalam tiga cara, yaitu sebelum kelahiran, selama
kelahiran atau setelah lahir.
5
1. Sebelum Kelahiran
Infeksi sangat jarang terjadi melalui cairan amnion pada ibu yang mengalami
rupture membran.
2. Selama Kelahiran
Ini adalah cara infeksi yang paling umum terjadi. Infeksi dari jalan lahir yang
terinfeksi terutama ketika anak lahir dengan presentasi wajah atau dengan
bantuan forceps.
3. Setelah Lahir
Infeksi dapat terjadi selama bayi baru lahir pertama kali mandi atau dari
pakaian kotor atau jari dengan lokia yang terinfeksi.

Faktor risiko untuk terjadinya ophtalmia neonatorum termasuk:
8
1. Vagintis pada ibu

2. Terdapatnya mekonium pada air ketuban saat bayi lahir

3. Ketuban pecah dini

4. Partus yang lama

5. Rendahnya tingkat lisozim dan imunoglobulin dalam konjungtiva
neonatal,

6. Kehamilan kurang dari 36 minggu,

7. Tidakan pertolongan persalinan yang tidak higienis dan steril


Etiologi konjungtivitis neonatal dapat disebabkan oleh berbagai macam
agen seperti bahan kimia atau mikroba. Meskipun beberapa agen non-infeksius
maupun infeksius dapat menginfeksi konjungtiva, penyebab paling umum
konjungtivitis neonatal adalah larutan perak nitrat (AgNO3), klamidia, gonorea,
dan infeksi virus herpes.


PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



7

1. Gonokokal
Bentuk yang paling serius dari ofthalmia neonatorum disebabkan oleh
Neisseria gonorrhoeae. Ciri khas dari bakteri ini dari pewarnaan gram adalah
bakteri diplokokus gram negatif, tidak bergerak, dengan diameter kira-kira 0,8
m. Pada keadaan tidak berpasangan kokus bakteri berbentuk seperti ginjal, bila
berpasangan bagian yang datar atau cekung saling berdekatan.
9
Manifestasi dari oftalmia neonatorum yang disebabkan bakteri gonokokal
yaitu:
2,10
-
Onset penyakit biasanya terjadi dalam 3 - 4 hari pertama kelahiran tetapi
mungkin tertunda sampai 3 minggu.

-
Dapat terjadi unilateral maupun bilateral.

-
Mata penderita akan kelihatan merah dan membengkak disertai keluarnya
sekret purulen.

-
Pada kasus berat ditandai dengan kemosis, sekret yang berlebihan, dan
ulserasi kornea yang progresif dan dapat berlanjut menjadi perforasi.


Gambar 2.3. Neisseria gonorrhoeae conjunctivitis
(American Academy of Ophthalmology. 2011. Infectious and Allergic Ocular
Disease. In Pediatric Ophthalmology and Strabismus Section 6. Page187)


PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



8

Ophtalmia neonatorum dari Neisseria meningitidis juga telah dilaporkan.
Dua organisme Neisseria tersebut tidak dapat dibedakan dengan pewarnaan gram.
Diagnosis definitif didasarkan pada kultur dari eksudat konjungtiva. Bayi yang
terinfeksi harus diperiksa untuk infeksi bersamaan dengan HIV, Klamidia, dan
Sifilis.
2

2. Klamidia
Bakteri golongan Klamidia yang paling sering menyebabkan
konjungtivitis neonatal adalah spesies Chlamydia trachomatis, disebut juga
Trachoma Inclusion Conjungtivitis (TRIC). Bakteri ini adalah organisme
intraselular obligat. Onset dari konjungtivitis pada bayi biasanya muncul sekitar
usia 1 minggu, walaupun ada kemungkinan onset bisa muncul lebih cepat
terutama pada kasus ketuban pecah dini.
2
Karakteristik dari infeksi pada mata berupa:
10

-
edema ringan, konjungtiva hiperemis dan reaksi papiler dengan eksudat
ringan sampai sedang.

-
Pada kasus-kasus berat yang biasanya jarang terjadi, diikuti dengan
munculnya sekret yang banyak serta terbentuknya pseudomembran.

Pemeriksaan baku emas untuk diagnosis adalah kultur dari kerokan
konjungtiva yang terinfeksi. Karena kuman ini merupakan organism obligat
intraselular, pada material yang akan dikultur harus terdapat sel epitel didalamnya.
Tes amplifikasi asam nukleat (reaksi rantai polymerase) lebih sensitif dari
pemeriksaan kultur. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah tes fluoresens
antibodi langsung dan enzim immunoassay.
2

3. Infeksi Bakteri Lain
Bakteri-bakteri lain yang dapat menyebabkan oftalmia neonatorum adalah
spesies gram positif seperti Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae,
Streptococcus viridans, dan Staphylococcus epidermidis. Bakteri-bakteri ini
merupakan penyebab 30-50% dari seluruh kasus oftamia neonatorum.
2,4
PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



9

Organisme Gram negatif, seperti Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae,
Serratia marcescens, Proteus, Enterobacter, dan spesies Pseudomonas, juga telah
diteliti sebagai penyebab oftalmia neonatorum.
4

4. Herpes simpleks
Virus herpes merupakan virus yang memiliki morfologi besar. Semua
virus herpes mempunyai inti DNA untai-ganda yang dikelilingi oleh protein.
Virus memasuki sel melalui peleburan dengan selaput sel setelah berikatan
dengan reseptor sel khusus berupa glikoprotein.
9
Infeksi yang disebabkan virus herpes simpleks (HSV) biasanya jarang
terjadi sehingga menyebabkan konjungtivitis neonatorum. Manifestasi klinis pada
infeksi HSV biasanya lebih lama muncul dari pada infeksi gonokokal yaitu pada
minggu pertama atau kedua kehidupan.
2,5

5. Konjungtivitis Kimiawi
Konjungtivitis karena bahan kimia biasanya ditandai dengan iritasi ringan
dan dapat sembuh dengan sendirinya, serta munculnya kemerahan pada
konjungtiva muncul pada 24 jam pertama setelah pemberian larutan perak nitrat
(AgNO3) atau antibiotik yang biasanya digunakan sebagai profilaksis mata.
2,5

2.2.3. Patofisiologi
Konjungtiva merupakan selaput lendir tipis, berdasarkan lokasi dapat
dibagi menjadi tarsal, bulbi, dan forniks. Konjungtiva terdiri dari epitel skuamosa
non-keratin, yang kaya vaskularisasi pada substantia propria (mengandung
pembuluh limfatik dan sel, seperti limfosit, sel plasma, sel mast, dan makrofag).
konjungtiva ini juga memiliki kelenjar lakrimal dan sel goblet.
4
Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang
meliputi konjungtiva sedangkan mekanisme pertahanan sekundernya adalah
sistem imun yang berasal dari perdarahan konjungtiva, lisozim dan imunoglobulin
yang terdapat pada lapisan air mata, mekanisme pembersihan oleh lakrimasi dan
PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



10

berkedip. Adanya gangguan atau kerusakan pada mekanisme pertahanan ini dapat
menyebabkan infeksi pada konjungtiva.
11
Konjungtiva pada neonatus berada dalam kondisi steril saat lahir tapi
mudah menjadi tempat kolonisasi oleh berbagai mikroorganisme yang dapat
berupa patogenik atau non-patogen. Konjungtiva neonatus rentan terhadap infeksi,
bukan hanya karena ada rendahnya tingkat agen antibakteri dan protein seperti
lisozim dan immunoglobulin A dan G, tetapi karena kelenjar air mata dan
salurannya yang baru mulai berkembang.
12
Patologi konjungtivitis neonatal dipengaruhi oleh anatomi dari jaringan
konjungtiva pada bayi baru lahir. Peradangan pada konjungtiva dapat
menyebabkan pelebaran pembuluh darah, kemosis, dan sekresi berlebihan.
Eksotoksin dari bakteri seperti yang dapat ditemukan pada spesies Streptococcus
dan Staphylococcus dapat menginduksi terjadi nekrosis, terutama bagi sel epitel
konjungtiva. Hasil nekrosis dari epitel tersebut akan menghasilkan sekret pada
mata.
1,4
Walaupun pada fase akut sebagian besar patogen akan tereliminasi, tapi
beberapa spesies dapat bertahan dari reaksi imun tersebut. Seperti pada spesies
Chlamydia trachomatis yang dapat bertahan dan hidup pada sel fagosit.
1

2.2.4. Manifestasi Klinis
Gejala klinis bervariasi sesuai dengan etiologi, sulit untuk menentukan
penyebab pasti konjungtivitis neonatal hanya berdasarkan gambaran klinis saja.
Gejala klinis bisa dinilai dari:
2,5,13
a. Berdasarkan masa inkubasi
- konjungtivitis gonokokal, terjadi 3-5 hari setelah lahir tapi dapat terjadi
dikemudian hari
- konjungtivitis klamidia, biasanya memiliki onset lebih lama dari
konjungtivitis gonokokal, masa inkubasi 5-14 hari.
- konjungtivitis kimia sekunder akibat aplikasi larutan perak nitrat biasanya
terjadi pada hari pertama kehidupan, menghilang secara spontan dalam
waktu 2-4 hari .
PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



11

- Masa inkubasi konjungtivitis lain yaitu nongonokokal, nonchlamydial
lebih panjang, menurut laporan sebelumnya. Konjungtivitis Herpetik,
biasanya terjadi dalam minggu pertama setelah lahir.

b. Berdasarkan penyebab
Gambaran klinis konjungtivitis gonokokal cenderung lebih parah dari
penyebab lain ophthalmia neonatorum, yaitu:
2,10,13

-
terdapat tanda klasik berupa konjungtivitis purulen, yang biasanya bilateral.

-
Keterlibatan kornea juga telah dilaporkan, termasuk edema difus epitel dan
ulserasi yang dapat berlanjut ke perforasi kornea dan endophthalmitis.

-
Pasien mungkin juga memiliki manifestasi sistemik misalnya, rhinitis,
stomatitis, artritis, meningitis, infeksi anorektal, septicemia.

Karakteristik dari infeksi pada mata pada oftalmia neonatorum akibat
infeksi klamidia berupa:
10,13

-
edema ringan, konjungtiva hiperemis dan reaksi papiler dengan eksudat
ringan sampai sedang.

-
Pada kasus-kasus berat yang biasanya jarang terjadi, diikuti dengan
munculnya sekret yang banyak serta terbentuknya pseudomembran.

-
Kebutaan dapat terjadi meskipun jarang dan jauh dan terjadi lebih lambat
daripada konjungtivitis gonokokal, bukan karena keterlibatan kornea seperti
pada konjungtivitis gonokokal; tetapi akibat dari bekas luka kelopak mata
dan pannus (seperti pada trachoma).

Pada konjungtivitis yang disebabkan bakteri lain dapat memberikan
manifestasi klinis berupa:
6
-
hiperemis konjungtiva

-
edema palpebra

-
adanya sekret pada mata.

Presentasi klinis konjungtivitis neonatal karena agen kimia biasanya lebih
ringan. Ditandai dengan infeksi bilateral, iritasi, dan sekret mukosa. Herpes
simpleks keratokonjungtivitis biasanya terjadi pada bayi dengan adanya vesikel
pada kornea yang dapat membentuk gambaran dendrit. Pada herpes simpleks
PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



12

umum adanya keterlibatan epitel kornea disertai vesikula pada kulit (yang
mengelilingi mata).
6,11

Tabel 2.1. Manifestasi Oftalmia Neonatorum
17
Penyebab Onset Temuan Klinis
Hasil
Laboratorium
dan Sitologi
Bahan Kimia (perak
nitrat sebagai
profilaksis)
Dalam beberapa
jam
- Hiperemis
- sekret cair maupun
mukoid
Kultur negatif

Gonokokus

2-4 hari setelah
lahir

Akut Purulen
Konjungtivitis

Gram negatif
diplokokus
intraselular pada
agar coklat dan
agar darah

Klamidia

5-14 hari setelah
lahir

- Konjungtivitis
mukopurulen lebih
jarang dari purulen
- Mukus kental

Giemsa-positif
inklusi sitoplasma
sel epitel.
Kultur negatif

Bakteri lain
(Pseudomonas
aeruginosa,
Staphylococcus
aureus,
Streptococcus
pneumoniae,
Haemophilus)

4-5 hari setelah
lahir

Konjungtivitis
mukopurulen


Kultur positif
pada agar darah,
gram positif
maupun negatif.

Herpes simpleks

5-7 hari setelah
lahir

- Blepharoconjunctivitis
- Keterlibatan kornea
- Manifestasi sistemik

Multinucleated
Giant Cell, positif
inklusi
sitoplasma, kultur
negatif.
(Lang, G.K. & Lang, G.E. 2000. Conjungtiva. Ophthalmology A Short Textbook.
Thieme Stuttgart. New York. Page 96-98)

2.2.5. Diagnosis
Studi laboratorium untuk konjungtivitis neonatal sangat penting untuk
penegakan diagnosis dan pengelolaan yang baik. Pemeriksaan kultur awal pada
agar coklat atau agar Thayer-Martin untuk N. gonorrhoeae harus dilakukan serta
agar darah untuk bakteri lain.
14,15

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



13

Pada N.gonorrhoeae dalam 24 jam kultur akan didapat koloni mukoid
cembung, mengkilat dan menonjol dengan diameter 1-5 mm. Koloni dapat
transaparan atau opak, tidak berpigmen dan tidak hemolitik.
9
Infeksi klamidia dapat dikesampingkan dengan mengambil goresan
konjungtiva kemudian diperiksa dengan pewarnaan Giemsa yang akan
memberikan hasil ungu atau pewarnaan Macchiavello yang menghasilkan warna
merah, dimana hasil tersebut kontras dengan sel inang yang berwarna biru. Selain
itu juga dapat dilakukan pemeriksaan uji antibodi langsung
immunofluorescent.
9,14
Pada konjungtivitis herpes, pewarnaan gram dapat menunjukkan hasil sel
raksasa multinukleat atau Pewarnaan Papanicolaou dapat menunjukkan inklusi
eosinofilik intranukleat pada sel epitel.
14

2.2.6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada kasus oftalmia nenonatorum lebih difokuskan pada
pemberian profilaksis selalu lebih baik daripada pengobatan kuratif.
5
a. Profilaksis pada masa antenatal, natal dan postnatal
1. Antenatal: meliputi perawatan menyeluruh ibu dan pengobatan infeksi
genital saat dicurigai terinfeksi.
5

2. Natal: merupakan waktu yang sangat penting, karena sebagian besar
infeksi terjadi selama persalinan.
5

- Proses melahirkan harus dilakukan dengan higienisitas tinggi dan
melakukan tindakan aseptik.
- Kelopak mata bayi yang tertutup harus benar-benar dibersihkan dan
dikeringkan.
3. Postnatal: langkah-langkahnya meliputi:
5,16

- Penggunaan tetrasiklin topikal 1% atau eritromisin topikal 0,5% atau
perak nitrat 1% (metode Crede 's) ke dalam mata bayi segera setelah
kelahiran.
PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



14

- Suntikan tunggal ceftriaxone 50 mg / kg IM atau IV (tidak melebihi
125 mg) harus diberikan kepada bayi yang lahir dari ibu yang tidak
diobati.
b. Pengobatan Kuratif
5,15

Pengobatan kuratif sebaiknya diberikan bila ada pemeriksaan sitologi dari
epitel konjungtiva ataupun kultur dari sekret konjungtiva sebelum memulai
perawatan.

1. Oftalmia neonatorum kimiawi adalah kondisi yang dapat sembuh dengan
sendirinya dan tidak memerlukan pengobatan apapun.
2. Oftalmia neonatorum yang disebabkan gonokokus membutuhan
pengobatan yang tepat untuk mencegah komplikasi.

Terapi topikal harus mencakup:
- Pemberian irigasi dengan larutan garam salin tiap jam sampai eksudat
dari konjungtiva bersih.
- Salep mata Bacitracin 4 kali / hari. Karena strain ini resisten terhadap
penisilin, terapi topikal dengan golongan ini tidak dapat diandalkan.
- Jika terjadi keterlibatan kornea maka salep atropin sulfat harus
diberikan.

Terapi sistemik.
Neonatus dengan gonokokal ophthalmia harus dirawat selama 7 hari
dengan satu rezim berikut:
- Ceftriaxone 75-100 mg / kg / hari IV atau IM, dibagi dalam 4 dosis
- Cefotaxime 100-150 mg / kg / hari IV atau IM, per 12 jam.
- Ciprofloxacin 10-20 mg / kg / hari atau Norfloxacin 10 mg / kg / hari.
- Jika isolat gonokokal yang terbukti rentan terhadap penisilin, kristal
benzyl penisilin G 50.000 unit untuk bayi cukup bulan dengan berat
badan normal dan 20.000 unit untuk bayi prematur atau bayi berat
badan rendah harus diberikan secara intramuskuler dua kali sehari
selama 3 hari.
PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



15

3. Oftalmia neonatorum oleh bakteri lain
Diberikan pengobatan dengan tetes antibiotik spektrum luas dan salep
selama 2 minggu.
4. Oftalmia neonatorum yang disebabkan klamidia memberikan respon yang
baik terhadap tetrasiklin topikal 1% atau eritromisin topikal 0,5%
sebanyak 4 kali sehari selama 3 minggu. Namun, eritromisin sistemik 125
mg oral, 4 kali sehari selama 3 minggu juga harus diberikan pada infeksi
yang disebabkan klamidia di konjungtiva dimana menyiratkan kolonisasi
bakteri pada saluran pernapasan bagian atas juga. Kedua orang tua juga
harus diobati dengan eritromisin sistemik.
5. Oftalmia neonatorum yang disebabkan virus herpes simpleks biasanya
merupakan penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, obat
antivirus topikal dapat mengendalikan infeksi lebih efektif dan dapat
mencegah kekambuhan. Biasanya diberikan asiklovir 20mg/kg setiap 8
jam selama 14 hari (21 hari jika keterlibatan SSP) bersama-sama dengan
terapi topikal asiklovir salep mata 3% 5 kali sehari.

2.2.7. Komplikasi
Kasus yang tidak diobati, khususnya dari ofthalmia neonatorum
gonokokal, dapat berkembang menjadi ulkus kornea, yang dapat menyebabkan
perforasi kornea.
5
Bila tidak diketahui dan tidak segera diobati, infeksi Pseudomonas dapat
menyebabkan endoftalmitis dan menyebabkan kematian. Pneumonia telah
dilaporkan pada 10-20% kasus pada bayi dengan konjungtivitis klamidia. HSV
keratokonjungtivitis dapat menyebabkan jaringan parut kornea dan ulserasi.
Selain itu, infeksi HSV yang menyebar luas sering menyebabkan keterlibatan
sistem saraf pusat.
4,5




PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



16

2.2.8. Pencegahan
Ibu hamil yang mengetahui dirinya menderita klamidia, gonorrhea,
ataupun herpes genital perlu berkonsultasi kepada dokter mengenai perlunya
pengobatan tambahan sebelum melahirkan. Umumnya oftalmia neonatorum dapat
dicegah dengan mengobati atau menghambat penularan penyakit melalui seksual
ibu. Pada akhirnya dokter kebidanan perlu mempertimbangkan kelahiran melalui
seksiosesaria bila ibu menderita infeksi vagina berat saat menjelang kelahiran
bayinya.
6























PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



17

BAB III
KESIMPULAN

Oftalmia neonatorum merupakan penyakit infeksi pada bayi baru lahir
yang insidensinya tinggi terutama pada daerah dengan insidensi penyakit menular
seksual yang tinggi pula.
Oftalmia neonatorum adalah suatu infeksi pada konjungtiva yang melapisi
kelopak mata pada neonatus dibawah usia 1 bulan. Sementara itu agen penyebab
yang paling sering menyebabkan timbulnya infeksi pada konjungtiva bayi baru
lahir ini adalah diantaranya, kuman gonokokal, klamidia, virus herpes simpleks,
serta bahan kimia seperti perak nitrat, Gejala dan perjalanan penyakit yang dapat
ditimbulkan bervariasi berdasarkan agen penyebab masing-masing.
Proses transmisi dari penyakit ini biasanya terjadi pada saat proses
kelahiran bayi dari ibu yang sudah terinfeksi sebelumnya. Maka dari itu,
pencegahan penyakit ini apat dilakukan dengan menjaga higienisitas jalan lahir
pada saat proses persalinan dan penggunaan aseptik atau pemilihan persalinan
melalui operasi seksiosesaria.
Namun pencegahan merupakan cara paling efektif untuk mengurangi
insidensi penyakit ini. Yaitu pada ibu yang sudah mengetahui bahwa dirinya
menderita penyakit genital sebaiknya segera mengkonsultasikan pada dokter
kebidanan mengenai terapi lanjutan yang akan dilakukan serta metode persalinan
yang akan dipilih guna mencegah terjadinya penulara infeksi pada bayi yang akan
dilahirkan.








PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



18

DAFTAR PUSTAKA

1. Palafox, S.K et all. 2011. Ophtalmia Neonatorum. Clinic Experiment
Ophthalmology Volume 2. Available at:
http://omicsonline.org/2155-9570/2155-9570-2-119.php
2. American Academy of Ophthalmology. 2011. Infectious and Allergic Ocular
Disease. In Pediatric Ophthalmology and Strabismus Section 6. San Fransisco.
Page 186-187
3. Milot, J. 2008. Ophthalmia neonatorum of the newborn and its treatments in
Canadian medical publications. Available at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19297783
4. McCourt, E.A. 2014. Neonatal Conjunctivitis. MedScape. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/1192190-overview
5. Khurana, A.K. 2007. Disease of Conjunctiva. In Comprehensive
Ophthalmology Fourth Edition. New Age International (P) Limited Publisher.
New Delhi. Page 52, 71-73
6. Ilyas, S., Yulianti, S.R. 2011. Mata Merah dengan Penglihatan Normal. Ilmu
Penyakit Mata. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta. Hal 126-127
7. Vaughan & Asbury. 2010. Anatomi dan Embriologi Mata, Subjek Khususyang
Berkaitan dengan Pediatri. Oftalmologi Umum. ECG. Jakarta. Hal 5-6, 360.
8. Gul, S.S. et all. 2010. Ophtalmia Neonatorum. Journal of the College of
Physicians and Surgeons Pakistan Volume 20. Pakistan Available at:
http://www.jcpsp.pk/archive/2010/Sep2010/08.pdf.
9. Jawetz et all. 1996. Neiseria, Klamidia, dan Herpesvirus. Mikrobiologi
Kedokteran. EGC. Jakarta. Page 280-282, 340-345, 412-413
10. Nelson, W.E. 1992. Textbook of Pediatric 12
th
Edition Part 2. EGC.
Philadelphia. Page 77-81, 191-193
11. Alloyna, D. 2011. Prevalensi Konjungtivitis di Rumah Sakit Umu Haji Adam
Malik Medan Tahun 2009 dan 2010. Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara. Available at:
PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : GIA CELLISA SIANOSA
NIM : 090100271



19

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/31458
12. Iyamu, E. Enabuele, O. 2003. A Survey on Ophthalmia Neonatorum in Benin
City, Nigeria (Emphasis on gonococcal ophthalmic). Published Quarterly
Mangalore Volume 2. JHAS. South India. Available at:
http://cogprints.org/3230/
13. Birmingham and Midland Eye Centre. 2009. Treatment of Ophthalmic
Infection. Available at:
http://bmec.swbh.nhs.uk/wp-content/uploads/2013/03/OPHTHALMIA-
NEONATORUM.pdf.
14. Song, J.C. 2013. Chapter 6 Neonatal Conjungtivitis (Ophtalmia Neonatorum).
Avalable at:
http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v4/v4c006.html
15. The College of Optometrists. 2012. Clinical Management Guidelines
Ophtalmia Neonatorum. Available at:
http://www.college-optometrists.org/download.cfm/docid/768CA144-45F4-
4EC6-93CC6C041AC94904
16. Lubis, C.P. 2003. Infeksi Nosokomial pada Neonatus. Bagian Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Medan. Available at:
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/2006
17. Lang, G.K. & Lang, G.E. 2000. Conjungtiva. Ophthalmology A Short
Textbook. Thieme Stuttgart. New York. Page 96-98