Anda di halaman 1dari 33

Lahirnya Nasionalisme di Indonesia

Posted by Kak Diah Posted on 14.02 with 1 comment


Indonesia telah dijajah oleh bangsa Barat sejak abad XVII, namun kesadaran nasional sebagai
sebuah bangsa baru muncul pada abad XX. Kesadaran itu muncul sebagai akibat dari sistem
pendidikan yang dikembangkan oleh pemerintah kolonial. Karena, melalui pendidikanlah
muncul kelompok terpelajar atau intelektual yang menjadi motor penggerak nasionalisme
Indonesia. Melalui tangan merekalah, perjuangan bangsa Indonesia di dalam membebaskan
diri dari belenggu kolonialisme dan imperialisme Barat memasuki babak baru. Inilah yang
kemudian dikenal dengan periode pergerakan nasional. Perjuangan tidak lagi dilakukan
dengan perlawanan bersenjata tetapi dengan menggunakan organisasi modern.


Ide-ide yang muncul pada masa pergerakan nasional hanya terbatas pada para bangsawan
terdidik saja. Selain merekalah yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi juga karena
hanya kelompok bangsawanlah yang mampu mengikuti pola pikir pemerintah kolonial.
Mereka menyadari bahwa pemerintah kolonial yang memiliki organisasi yang rapi dan kuat
tidak mungkin dihadapi dengan cara tradisional sebagaimana perlawanan rakyat sebelumnya.
Inilah letak arti penting organisasi modern bagi perjuangan kebangsaan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan lahirnya nasionalisme Indonesia. Secara umum bisa
dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor yang berasal dari dalam dan luar. Faktor dari dalam
antara lain sebagai berikut.
Seluruh Nusantara telah menjadi kesatuan politik, hukum, pemerintahan, dan berada
di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Ironisnya adalah eksploitasi Barat itu justru
mampu menyatukan rakyat menjadi senasib sependeritaan.
Munculnya kelompok intelektual sebagai dampak sistem pendidikan Barat. Kelompok
inilah yang mampu mempelajari beragam konsep Barat untuk dijadikan ideologi dan
dasar gerakan dalam melawan kolonialisme Barat.
Beberapa tokoh pergerakan mampu memanfaatkan kenangan kejayaan masa lalu
(Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram) untuk dijadikan motivasi dalam bergerak dan
meningkatkan rasa percaya diri rakyat di dalam berjuang menghadapi kolonialisme
Barat.


Kondisi itulah yang mampu memompa harga diri bangsa untuk bersatu, bebas, dan merdeka
dari penjajahan. Meskipun begitu, harus diakui bahwa munculnya kesadaran berbangsa itu
juga merupakan dampak tidak langsung dari perluasan kolonialisme. Oleh karena itu, para
mahasiswa yang menjadi penggerak utama nasionalisme Indonesia bisa disebut sebagai tokoh
penggerak dari masyarakat.

Faktor dari luar antara lain sebagai berikut.
Adanya All Indian National Congress 1885 dan Gandhiisme di India.
Adanya kemenangan Jepang atas Rusia (1905), yang menyadarkan dan
membangkitkan bangsa-bangsa Asia untuk melawan bangsa-bangsa Barat.
Munculnya paham-paham baru di Eropa dan Amerika yang masuk ke Indonesia,
seperti: liberalisme, demokrasi, nasionalisme; yang kesemuanya mempercepat
lahirnya Nasionalisme Indonesia.


Nasionalisme Indonesia muncul sebagai reaksi dari kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang
ditimbulkan oleh adanya kolonialisme. Oleh karena itu, gerakan nasionalisme pada awal abad
XX tidak bisa dipisahkan dari praktik kolonialisme sebab keduanya merupakan hubungan
sebab akibat. Hanya saja, pada tahap awal nasionalisme berkembang pada tingkat elite yaitu
kelompok bangsawan terpelajar.

Merekalah yang mula-mula memiliki kesadaran adanya diskriminasi kehidupan bangsa dan
berusaha mencarikan jawabannya. Bentuk gerakannya memiliki corak yang beragam mulai
dari yang bersifat etnis, kultural, hingga nasional. Itulah latar belakang munculnya
nasionalisme Indonesia. Meskipun banyak mengadopsi nilai dan pengertian dari luar, tetapi
nasionalisme Indonesia tetap memiliki spesifikasi tersendiri.

Tahapan perkembangan nasionalisme Indonesia adalah sebagai berikut.
Periode Awal Perkembangan
Dalam periode ini gerakan nasionalisme diwarnai dengan perjuangan untuk memperbaiki
situasi sosial dan budaya. Organisasi yang muncul pada periode ini adalah Budi Utomo,
Sarekat Dagang Indonesia, Sarekat Islam, dan Muhammadiyah.

Periode Nasionalisme Politik
Periode ini, gerakan nasionalisme di Indonesia mulai bergerak dalam bidang politik untuk
mencapai kemerdekaan Indonesia. Organisasi yang muncul pada periode ini adalah Indische
Partij dan Gerakan Pemuda.

Periode Radikal
Dalam periode ini, gerakan nasionalisme di Indonesia ditujukan untuk mencapai
kemerdekaan baik itu secara kooperatif maupun non kooperatif (tidak mau bekerjasama
dengan penjajah). Organisasi yang bergerak secara non kooperatif, seperti Perhimpunan
Indonesia, PKI, PNI.

Periode Bertahan
Periode ini, gerakan nasionalisme di Indonesia lebih bersikap moderat dan penuh
pertimbangan. Diwarnai dengan sikap pemerintah Belanda yang sangat reaktif sehingga
organisasi-organisasi pergerakan lebih berorientasi bertahan agar tidak dibubarkan
pemerintah Belanda. Organisasi dan gerakan yang berkembang pada periode ini adalah
Parindra, GAPI, Gerindo.

Dari perkembangan nasionalisme tersebut akhirnya mampu menggalang semangat persatuan
dan cita-cita kemerdekaan sebagai bangsa Indonesia yang bersatu dari berbagai suku di
Indonesia.


Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme_Indonesia
http://plengdut.blogspot.com/2012/10/kelahiran-nasionalisme-indonesia.html
http://budisma.web.id/materi/sma/sejarah-kelas-xi/latarbelakang-lahirnya-nasionalisme-
indonesia/


NASIONALISME :
sebuah tinjauan historis
Untuk mengawali sebuah bahasan biasanya digunakan terminologi-terminologi.
Terminologi yang jelas diperlukan agar terjadi kesesuaian antara pendapat yang akan
dikemukakan dengan hakikat dari pendapat tersebut.
Demikian juga ketika kita berbicara tentang nasionalisme. Nasionalisme merupakan jiwa
bangsa Indonesia yang akan terus melekat selama bangsa Indonesia masih ada. Nasionalisme
bukanlah suatu pengertian yang sempit bahkan mungkin masih lebih kaya lagi pada zaman
ini. Ciri-ciri nasionalisme di atas dapat ditangkap dalam beberapa definisi nasionalisme
sebagai berikut :
1. Nasionalisme ialah cinta pada tanah air, ras, bahasa atau sejarah budaya bersama.
2. Nasionalisme ialah suatu keinginan akan kemerdekaan politik, keselamatan dan
prestise bangsa.
3. Nasionalisme ialah suatu kebaktian mistis terhadap organisme sosial yang kabur,
kadang-kadang bahkan adikodrati yang disebut sebagai bangsa atau Volk yang
kesatuannya lebih unggul daripada bagian-bagiannya.
4. Nasionalisme adalah dogma yang mengajarkan bahwa individu hanya hidup untuk
bangsa dan bangsa demi bangsa itu sendiri.
Nasionalisme tersebut berkembang terus memasuki abad 20 dengan kekuatan-kekuatan
berikut :
(1) keinginan untuk bersatu dan berhasil dalam me-nyatukan wilayah dan rakyat; (2)
perluasan kekuasan negara kebangsaan; (3) pertumbuhan dan peningkatan kesa-daran
kebudayaan nasional dan (4) konflik-konflik kekuasaan antara bangsa-bangsa yang
terangsang oleh perasaan nasional.
Kini nasionalisme mengacu ke kesatuan, keseragam-an, keserasian, kemandirian dan
agresivitas. (Boyd C. Shafer, 1955, hal. 168).
Sebagai gejala historis nasionalisme pun bercorak ragam pula. Di Perancis, Inggris, Portugis
dan Spanyol sebagian besar nasionalisme dibangun atas kekuasaan monarik-monarki yang
kuat, sedangkan di Eropa Tengah dan Eropa Timur nasionalisme terutama dibentuk atas
dasar-dasar nonpolitis yang kemudian dibelokkan ke nation-state yang sifatnya politis juga.
Namun banyak sarjana berpendapat bahwa nasionalisme mendapat bentuk yang paling jelas
untuk pertama kali pada pertengahan kedua abad ke-18 dalam wujud revolusi besar Perancis
dan Amerika Utara.
Menurut Profesor W. F. Wertheim, nasionalisme dapat dipertimbangkan sebagai suatu bagian
integral dari sejarah politik, terutama apabila ditekankan pada konteks gerakan-gerakan
nasionalisme pada masa pergerakan nasional. Lagi pula Wertheim juga menegaskan bahwa
faktor-faktor seperti perubahan ekonomi, perubahan sistem status, urbanisasi, reformasi
agama Islam, dinamika kebudayaan, yang semuanya terjadi dalam masa kolonial telah
memberikan kontribusi perubahan reaksi pasif dari pengaruh Barat kepada reaksi aktif
nasionalisme Indonesia. Faktor-faktor tersebut telah diuraikan secara panjang lebar dalam
bab-bab buku karangannya yang berjudul : Indonesian Society in Transision: A Study of
Social Change(1956).
Pertumbuhan nasionalisme Indonesia ternyata tidak sederhana seperti yang diduga
sebelumnya. Selama ini nasionalisme Indonesia menunjukkan identitasnya pada derajat
integrasi tertentu.
Nasionalisme sekarang harus dapat mengisi dan menjawab tantangan masa transisi. Tentunya
nilai-nilai baru tidak akan menggoncangkan nasionalisme itu sendiri selama pendukungnya
yaitu bangsa Indonesia tetap mempunyai sense of belonging, artinya memiliki nilai-nilai baru
yang disepakati bersama. Nasionalisme pada hakekatnya adalah untuk kepentingan dan
kesejahteraan bersama, karena nasonalisme menentang segala bentuk penindasan terhadap
pihak lain, baik itu orang per orang, kelompok-kelompok dalam masyarakat, maupun suatu
bangsa. Nasionalisme tidak membeda-bedakan baik suku, agama, maupun ras.(Retno)

Nasionalisme: Sejarah dan Perkembangan
Nasionalisme berasal dari kata nation yang berarti bangsa. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (Ali dkk., 1994:89), kata bangsa memiliki arti: (1) kesatuan orang yang bersamaan
asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya serta berpemerintahan sendiri; (2) golongan
manusia, binatang, atau tumbuh-tumbuhan yang mempunyai asal-usul yang sama dan sifat
khas yang sama atau bersamaan; dan (3) kumpulan manusia yang biasanya terikat karena
kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti umum, dan yang biasanya menempati wilayah
tertentu di muka bumi. Beberapa makna kata bangsa diatas menunjukkan arti bahwa bangsa
adalah kesatuan yang timbul dari kesamaan keturunan, budaya, pemerintahan, dan tempat.
Pengertian ini berkaitan dengan arti kata suku yang dalam kamus yang sama diartikan
sebagai golongan orang-orang (keluarga) yang seturunan; golongan bangsa sebagai bagian
dari bangsa yang besar (ibid, 1994:970). Beberapa suku atau ras dapat menjadi pembentuk
sebuah bangsa dengan syarat ada kehendak untuk bersatu yang diwujudkan dalam
pembentukan pemerintahan yang ditaati bersama.
Kata bangsa mempunyai dua pengertian: pengertian antropologis-sosiologis dan pengertian
politis. Menurut pengertian antropologis-sosiologis, bangsa adalah suatu masyarakat yang
merupakan persekutuan-hidup yang berdiri sendiri dan masing-masing anggota masyarakat
tersebut merasa satu kesatuan suku, bahasa, agama, sejarah, dan adat istiadat. Pengertian ini
memungkinkan adanya beberapa bangsa dalam sebuah negara dansebaliknyasatu bangsa
tersebar pada lebih dari satu negara. Kasus pertama terjadi pada negara yang memiliki
beragam suku bangsa, seperti Amerika Serikat yang menaungi beragam bangsa yang berbeda.
Kasus kedua adalah sebagaimana yang terjadi pada bangsa Korea yang terpecah menjadi dua
negara, Korea Utara dan Korea Selatan. Sementara dalam pengertian politis, bangsa adalah
masyarakat dalam suatu daerah yang sama dan mereka tunduk kepada kedaulatan negaranya
sebagai suatu kekuasaan tertinggi ke luar dan ke dalam. Bangsa (nation) dalam pengertian
politis inilah yang kemudian menjadi pokok pembahasan nasionalisme (Nur dalam Yatim,
2001:5758).
Istilah nasionalisme yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia memiliki dua pengertian:
paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dan kesadaran keanggotan dalam
suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan,
dan menngabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu (Op. cit,
1994:684). Dengan demikian, nasionalisme berarti menyatakan keunggulan suatu afinitas
kelompok yang didasarkan atas kesamaan bahasa, budaya, dan wilayah. Istilah nasionalis dan
nasional, yang berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir di, kadangkala tumpang tindih
dengan istilah yang berasal dari bahasa Yunani, etnik. Namun istilah yang disebut terakhir ini
biasanya digunakan untuk menunjuk kepada kultur, bahasa, dan keturunan di luar konteks
politik (Riff, 1995: 193194).
Disamping definisi bahasa diatas terdapat beberapa rumusan lain mengenai nasionalisme, di
antaranya (Yatim, 2001:58):
1. Huszer dan Stevenson:
Nasionalisme adalah yang menentukan bangsa mempunyai rasa cinta secara alami kepada
tanah airnya.
2. L. Stoddard:
Nasionalisme adalah suatu keadaan jiwa dan suatu kepercayaan, yang dianut oleh sejumlah
besar individu sehingga mereka membentuk suatu kebangsaan. Nasionalisme adalah rasa
kebersamaan segolongan sebagai suatu bangsa.
3. Hans Kohn:
Nasionalisme menyatakan bahwa negara kebangsaan adalah cita-cita dan satu-satunya bentuk
sah dari organisasi politik, dan bahwa bangsa adalah sumber dari semua tenaga kebudayaan
kreatif dan kesejahteraan ekonomi.
Beberapa definisi diatas memberi simpulan bahwa nasionalisme adalah kecintaan alamiah
terhadap tanah air, kesadaran yang mendorong untuk membentuk kedaulatan dan kesepakatan
untuk membentuk negara berdasar kebangsaan yang disepakati dan dijadikan sebagai pijakan
pertama dan tujuan dalam menjalani kegiatan kebudayaan dan ekonomi. Kesadaran yang
mendorong sekelompok manusia untuk menyatu dan bertindak sesuai dengan kesatuan
budaya (nasionalisme) oleh Ernest Gellner dinilai bukanlah kebangkitan kesadaran diri suatu
bangsa namun ia adalah pembikinan bangsa-bangsa yang sebenarnya tidak ada (Gellner
dalam Anderson, 2002:9).
Dengan gaya berpikir antropologis, Anderson (2002:811) menawarkan pandangan yang
lebih positif tentang nasionalisme, ia menyatakan bahwa bangsa atau nation adalah komunitas
politis yang dibayangkan (imagined) sebagai sesuatu yang bersifat terbatas secara inheren
sekaligus berkedaulatan. Lebih jauh dia memaparkan bahwa bangsa disebut komunitas
karena ia sendiri selalu dipahami sebagai kesetiakawanan yang masuk-mendalam dan
melebar-mendatar, sekalipun ketidakadilan dan penghisapan hampir selalu ada dalam setiap
bangsa. Bangsa disebut sebagai komunitas terbayang (imagined community) karena para
anggota bangsa terkecil tidak mengenal sebagian besar anggota lain, bahkan mungkin tidak
pernah mendengar tentang mereka. Ia dibayangkan sebagai sesuatu yang terbatas karena
bangsa-bangsa yang paling besar sekalipun memiliki garis-garis batas yang pasti dan jelas
meski terkadang bersifat elastis. Di luar garis batas itu adalah bangsa lain yang berbeda
dengan mereka.
Dalam sejarah, nasionalisme bermula dari benua Eropa sekitar abad pertengahan. Kesadaran
berbangsadalam pengertian nation-statedipicu oleh gerakan Reformasi Protestan yang
dipelopori oleh Martin Luther di Jerman (Dault, 2005:4). Saat itu, Luther yang menentang
Gereja Katolik Roma menerjemahkan Perjanjian Baru kedalam bahasa Jerman dengan
menggunakan gaya bahasa yang memukau dan kemudian merangsang rasa kebangsaan
Jerman. Terjemahan Injil membuka luas penafsiran pribadi yang sebelumnya merupakan hak
eksklusif bagi mereka yang menguasai bahasa Latin, seperti para pastor, uskup, dan kardinal.
Implikasi yang sedikit demi sedikit muncul adalah kesadaran tentang bangsa dan kebangsaan
yang memiliki identitas sendiri. Bahasa Jerman yang digunakan Luther untuk
menerjemahkan Injil mengurangi dan secara bertahap menghilangkan pengaruh bahasa Latin
yang saat itu merupakan bahasa ilmiah dari kesadaran masyarakat Jerman. Mesin cetak yang
ditemukan oleh Johann Gothenberg turut mempercepat penyebaran kesadaran bangsa dan
kebangsaan. Hal ini penting dicatat mengingat pada sekitar tahun yang sama (15181521)
Majapahit mengalami kehancuran yang disebabkan oleh pemberontakan daerah-daerah dan
kemerosotan internal kerajaan. Majapahit pada masanya merupakan kerajaan besar yang
menguasai sebagian besar wilayah yang saat itu disebut Nusantara. Namun kebesaran ini
tidak memunculkan kesadaran berbangsa, dalam arti modern. Hal itu disebabkan tidak
adanya alat percetakan yang mengakselerasi penyadaran massal seperti yang terjadi di
Jerman.
Namun demikian, nasionalisme Eropa yang pada kelahirannya menghasilkan deklarasi hak-
hak manusia berubah menjadi kebijakan yang didasarkan atas kekuatan dan self interest dan
bukan atas kemanusiaan (Rasyidi dalam Yatim, 2001:63). Dalam perkembangannya
nasionalisme Eropa berpindah haluan menjadi persaingan fanatisme nasional antar bangsa-
bangsa Eropa yang melahirkan penjajahan terhadap negeri-negeri yang saat itu belum
memiliki identitas kebangsaan (nasionalisme) di benua Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Fakta ini merujuk pada dua hal: (1) ledakan ekonomi Eropa pada masa itu yang berakibat
pada melimpahnya hasil produksi dan (2) pandangan pemikir Italia, Nicolo Machiaveli, yang
menganjurkan seorang penguasa untuk melakukan apapun demi menjaga eksistensi
kekuasaannya. Dia menulis:
Bila ini merupakan masalah yang mutlak mengenai kesejahteraan bangsa kita,maka
janganlah kita menghiraukan keadilan atau ketidakadilan, kerahiman dan ketidakrahiman,
pujian atau penghinaan, akan tetapi dengan menyisihkan semuanya menggunakan siasat apa
saja yang menyelamatkan dan memelihara hidup negara kita itu (Kohn dalam Yatim,
2001:65).
Nasionalisme yang pada awalnya mementingkan hak-hak asasi manusia pada tahap
selanjutnya menganggap kekuasaan kolektif yang terwujud dalam negara lebih penting
daripada kemerdekaan individual. Pandangan yang menjadikan negara sebagai pusat
merupakan pandangan beberapa beberapa pemikir Eropa saat itu, diantaranya Hegel. Dia
berpendapat bahwa kepentingan negara didahulukan dalam hubungan negara-masyarakat,
karena ia merupakan kepentingan obyektif sementara kepentingan masing-masing individu
adalah kepentingan subyektif. Negara adalah ideal (geist) yang diobyektifikasi, dan
karenanya, individu hanya dapat menjadi sesuatu yang obyektif melalui keanggotaannya
dalam negara. Lebih jauh dia menyatakan bahwa negara memegang monopoli untuk
menentukan apa yang benar dan salah mengenai hakikat negara, menentukan apa yang moral
dan yang bukan moral, serta apa yang baik dan apa yang destruktif (Simandjuntak,
2003:166). Hal ini melahirkan kecenderungan nasionalisme yang terlalu mementingkan tanah
air (patriotisme yang mengarah pada chauvinisme), yang mendorong masyarakat Eropa
melakukan ekspansi-ekspansi ke wilayah dunia lain. Absolutisme negara dihadapan rakyat
memungkinkan adanya pemimpin totaliter, yang merupakan bentuk ideal negara yang
dicitakan Hegel, sebuah monarki (ibid, 2003:224). Totaliterianisme yang dianjurkan oleh
filsafat negara Hegel dapat menggiring sebuah pemerintahan menjadi pemerintahan yang
fasis. Fasisme adalah doktrin yang mengajarkan kepatuhan mutlak terhadap perintah dalam
semua aspek kehidupan nasional. Dalam sejarahnya, fasisme terkait erat dengan rasisme yang
mengunggulkan sebagian ras (suku) atas sebagian yang lain.
Menurut Hugh Purcell (2000:11) nasionalisme dan rasisme merupakan gambaran paling
terkenal dari fasisme pada tahun 1930-an. Rasisme memiliki kaitan erat dengan nasionalisme.
Keduanya berbeda pada penekanan. Rasisme menekankan superioritas suku dan nasionalisme
menekankan keunggulan bangsa (komunitas terbayang yang lebih besar dari suku). Manusia
nasionalis adalah seseorang dengan kebanggaan terhadap bangsanya yang kadang
diungkapkan dengan cara berlebihan. Nasionalisme dan rasisme memiliki keserupaan dalam
hal pengunggulan dan kebanggaan terhadap sesuatu yang secara alamiah melekat pada setiap
manusia. Yang pertama kebanggaan terhadap bangsasistem pemerintahan, suku, dan
budaya. Yang kedua kebanggaan terhadap suku.
Di Indonesia, nasionalisme melahirkan Pancasila sebagai ideologi negara. Perumusan
Pancasila sebagai ideologi negara terjadi dalam BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Di dalam badan inilah Soekarno mencetuskan ide yang
merupakan perkembangan dari pemikirannya tentang persatuan tiga aliran besar:
Nasionalisme, Islam, dan Marxis. Pemahamannya tentang tiga hal ini berbeda dengan
pemahaman orang lain yang mengandaikan ketiganya tidak dapat disatukan. Dalam sebuah
artikel yang ditulisnya dia menyatakan, Saya tetap nasionalis, tetap Islam, tetap Marxis,
sintese dari tiga hal inilah memenuhi saya punya dada. Satu sintese yang menurut anggapan
saya sendiri adalah sintese yang geweldig (Soekarno dalam Yatim, 2001:155). Dalam
artikel itu, dia juga menjelaskan bahwa Islam telah menebalkan rasa dan haluan nasionalisme.
Cita-cita Islam untuk mewujudkan persaudaraan umat manusia dinilai Soekarno tidak
bertentangan dengan konsep nasionalismenya. Dan sesuai dengan konsep Islam, dia menolak
bentuk nasionalisme yang sempit dan mengarah pada chauvinisme. Dia menambahkan, Islam
juga tidak bertentangan dengan Marxisme, karena Marxisme hanya satu metode untuk
memecahkan persoalan-persoalan ekonomi, sejarah, dan sosial.
Soekarno menghendaki agar dalam negara Indonesia agama dan negara dipisahkan.
Pemisahan itu tidak berarti menghilangkan kemungkinan untuk memberlakukan hukum-
hukum Islam dalam negara, karena bila anggota parlemen sebagian besar orang-orang yang
berjiwa Islam, mereka dapat mengusulkan dan memasukkan peraturan agama dalam undang-
undang negara. Itulah cita ideal negara Islam menurut Soekarno (ibid, 2001:156). Dengan
dasar pemikiran itulah, Soekarno mengusulkan lima asas untuk negara Indonesia merdeka.
Kelima asas itu adalah: (1) Kebangsaan Indonesia, (2) Internasionalisme atau peri
kemanusiaan, (3) Mufakat atau demokrasi, (4) Kesejahteraan sosial, dan (5) Ketuhanan.
Usulan ini menimbulkan perbedaan pendapat antara nasionalis sekuler dan nasionalis Islam
dan mendorong pembentukan sub panitia yang terdiri dari empat orang wakil nasionalis
sekuler dan empat orang wakil nasionalis Islam serta Soekarno sebagai ketua sekaligus
penengah. Pertemuan sub panitia ini menghasilkan rumusan yang kemudian dikenal dengan
Piagam Jakarta. Usulan Soekarno menjadi inti dari Piagam Jakarta dengan beberapa
perubahan: urutan kelima sila dan penambahan anak kalimat pada sila ketuhanan. Tambahan
anak kalimat yang kemudian diperdebatkan itu adalah Dengan kewajiban melaksanakan
Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Pada saat itu, Soekarno dan Agus Salim berusaha
mengakhiri diskusi tentang Piagam Jakarta dalam bentuk yang telah disepakati bersama.
Namun setelah Jepang mengalami kekalahan dan BPUPKI ditingkatkan stasusnya menjadi
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), beberapa anggota BPUPKIkhususnya
dari kalangan Islamyang aktif dan bersuara lantang tidak muncul dalam PPKI. Kondisi
tersebut memberi kesempatan kepada para nasionalis sekuler untuk merubah Piagam Jakarta
yang merupakan hasil keputusan BPUPKI. Usaha yang dilakukan untuk meyakinkan pihak
nasionalis Islam bahwa hanya konstitusi sekuler yang bisa diterima mayoritas rakyat berhasil.
Akhirnya anak kalimat yang tercantum dalam Piagam Jakarta diubah menjadi Ketuhanan
Yang Maha Esa, yang kemudian menjadi bentuk akhir Pancasiladasar bagi nasionalisme
Indonesia yang sekuler religius.
sumber : kotablitar.co.cc
Rujukan buku :
1. Ali, Lukman. Dkk. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
2. Anderson, Benedict. 1991. Imagined Community: Komunitas-Komunitas Terbayang.
Terjemahan oleh Omi Intan Naomi. 2002. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
3. Boisard, Marcel A. 1979. Humanisme Dalam Islam. Terjemahan oleh M. Rasjidi.
1980. Jakarta: Bulan Bintang.
4. Burhan, A.S. dan Muhammad, Agus (Eds.). 2001. Demokratisasi dan Demiliterisasi:
Wacana dan Pergulatan di Pesantren. Jakarta: P3M.
5. Dault, Adhyaksa. 2005. Islam dan Nasionalisme: Reposisi Wacana Universal Dalam
Konteks Nasional. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.
6. Kuntowijoyo. 1997. Identitas Politik Umat Islam. Bandung: Mizan.
7. Maududi, Abul Ala. Tanpa Tahun. Islam Kaffah: Menjadikan Islam Sebagai Jalan
Hidup. Terjemahan oleh Muhammad Humaidi. 2004. Jogjakarta: Cahaya Hikmah.
8. Purcell, Hugh. Tanpa Tahun. Fasisme. Terjemahan oleh Faisol Reza dkk. 2000.
Jogjakarta: Insist Press.
9. Riff, Michael A. (ed). 1982. Kamus Ideologi Politik Modern. Terjemahan oleh M.
Miftahuddin dan Hartian Silawati. 1995. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
10. Simandjuntak, Marsillam. 2003. Pandangan Negara Integralistik: Sumber, Unsur, dan
Riwayatnya Dalam Persiapan UUD 1945. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
11. Yatim, Badri. 2001. Soekarno, Islam, Dan Nasionalisme. Bandung: Nuansa.

Pengertian Nasionalisme

Pengertian Nasionalisme. Nasionalisme adalah suatu sikap politik dari masyarakat suatu
bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan
tujuan, dengan demikian masyarakat suatu bangsa tersebut merasakan adanya kesetiaan yang
mendalam terhadap bangsa itu sendiri.

Demikian juga ketika kita berbicara tentang nasionalisme. Nasionalisme merupakan jiwa
bangsa Indonesia yang akan terus melekat selama bangsa Indonesia masih ada. Nasionalisme
bukanlah suatu pengertian yang sempit bahkan mungkin masih lebih kaya lagi pada zaman
ini. Ciri-ciri nasionalisme di atas dapat ditangkap dalam beberapa definisi nasionalisme
sebagai berikut :

1. Nasionalisme ialah cinta pada tanah air, ras, bahasa atau sejarah budaya bersama.

2. Nasionalisme ialah suatu keinginan akan kemerdekaan politik, keselamatan dan prestise
bangsa.

3. Nasionalisme ialah suatu kebaktian mistis terhadap organisme sosial yang kabur,
kadang-kadang bahkan adikodrati yang disebut sebagai bangsa atau Volk yang kesatuannya
lebih unggul daripada bagian-bagiannya.

4. Nasionalisme adalah dogma yang mengajarkan bahwa individu hanya hidup untuk
bangsa dan bangsa demi bangsa itu sendiri.

Nasionalisme tersebut berkembang terus memasuki abad 20 dengan kekuatan-kekuatan
berikut :

(1) keinginan untuk bersatu dan berhasil dalam me-nyatukan wilayah dan rakyat;

(2) perluasan kekuasan negara kebangsaan;

(3) pertumbuhan dan peningkatan kesa-daran kebudayaan nasional dan

(4) konflik-konflik kekuasaan antara bangsa-bangsa yang terangsang oleh perasaan nasional.

Kini nasionalisme mengacu ke kesatuan, keseragam-an, keserasian, kemandirian dan
agresivitas. (Boyd C. Shafer, 1955, hal. 168).

Sebagai gejala historis nasionalisme pun bercorak ragam pula. Di Perancis, Inggris, Portugis
dan Spanyol sebagian besar nasionalisme dibangun atas kekuasaan monarik-monarki yang
kuat, sedangkan di Eropa Tengah dan Eropa Timur nasionalisme terutama dibentuk atas
dasar-dasar nonpolitis yang kemudian dibelokkan ke nation-state yang sifatnya politis juga.
Namun banyak sarjana berpendapat bahwa nasionalisme mendapat bentuk yang paling jelas
untuk pertama kali pada pertengahan kedua abad ke-18 dalam wujud revolusi besar Perancis
dan Amerika Utara.

Menurut Profesor W. F. Wertheim, nasionalisme dapat dipertimbangkan sebagai suatu bagian
integral dari sejarah politik, terutama apabila ditekankan pada konteks gerakan-gerakan
nasionalisme pada masa pergerakan nasional. Lagi pula Wertheim juga menegaskan bahwa
faktor-faktor seperti perubahan ekonomi, perubahan sistem status, urbanisasi, reformasi
agama Islam, dinamika kebudayaan, yang semuanya terjadi dalam masa kolonial telah
memberikan kontribusi perubahan reaksi pasif dari pengaruh Barat kepada reaksi aktif
nasionalisme Indonesia. Faktor-faktor tersebut telah diuraikan secara panjang lebar dalam
bab-bab buku karangannya yang berjudul : Indonesian Society in Transision: A Study of
Social Change(1956).

Pertumbuhan nasionalisme Indonesia ternyata tidak sederhana seperti yang diduga
sebelumnya. Selama ini nasionalisme Indonesia menunjukkan identitasnya pada derajat
integrasi tertentu.

Nasionalisme sekarang harus dapat mengisi dan menjawab tantangan masa transisi. Tentunya
nilai-nilai baru tidak akan menggoncangkan nasionalisme itu sendiri selama pendukungnya
yaitu bangsa Indonesia tetap mempunyai sense of belonging, artinya memiliki nilai-nilai baru
yang disepakati bersama. Nasionalisme pada hakekatnya adalah untuk kepentingan dan
kesejahteraan bersama, karena nasonalisme menentang segala bentuk penindasan terhadap
pihak lain, baik itu orang per orang, kelompok-kelompok dalam masyarakat, maupun suatu
bangsa. Nasionalisme tidak membeda-bedakan baik suku, agama, maupun ras.

Hal hal yang mendorong munculnya faham nasionalisme , antara lain :

a. Adanya campur tangan bangsa lain misalnya penjajahan dalam wilayahnya.

b. Adanya keinginan dan tekad bersama untuk melepaskan diri dari belenggu
kekuasaan absolut, agar manusia mendapatkan hak haknya secara wajar sebagai warga
negara.

c. Adanya ikatan rasa senasib dan seperjuangan.

d. Bertempat tinggal dalam suatu wilayah.

Sejarah munculnya faham nasionalisme di dunia, juga tidak lepas dari pengaruh perang
kemerdekaan Amerika Serikat terhadap Revolusi Perancis dan meletusnya revolusi industri di
Inggris. Melalui revolusi perancis, paham nasionlisme meyebar luas ke seluruh dunia.

Prinsip prinsip nasionalisme, menurut Hertz dalam bukunya Nationality in History and
Policy, antara lain :

a. Hasrat untuk mencapai kesatuan

b. Hasrat untuk mencapai kemerdekaan

c. Hasrat untuk mencapai keaslian

d. Hasrat untuk mencapai kehormatan bangsa.

Pengertian Nasionalisme dalam arti sempit
Pengertian Nasionalisme dalam arti sempit Nasionalisme dalam arti sempit adalah/
Nasionalisme dalam arti sempit yaitu/ Nasionalisme dalam arti sempit merupakan/
yang dimaksud Nasionalisme dalam arti sempit/ arti Nasionalisme dalam arti sempit/
definisi Nasionalisme dalam arti sempit.

Nasionalisme dalam arti sempit adalah perasaan kebangsaan atau cinta terhadap bangsanya
yang sangat tinggi dan berlebihan, namun terhadap bangsa lain memandang rendah.
Itulah penjelan singkat yang bisa saya sampaikan tentang Pengertian Nasionalisme dalam
arti sempit semoga bisa bermanfaat.

Pengertian Nasionalisme dalam arti luas
Pengertian Nasionalisme dalam arti luas Nasionalisme dalam arti luas adalah/
Nasionalisme dalam arti luas yaitu/ Nasionalisme dalam arti luas merupakan/ yang
dimaksud Nasionalisme dalam arti luas/ arti Nasionalisme dalam arti luas/ definisi
Nasionalisme dalam arti luas.


Nasionalisme dalam arti luas adalah perasaan cinta atau bangga terhadap tanah air dan
bangsanya yang tinggi, tetapi terhadap bangsa lain tidak memandang rendah. Dalam
mengadakan hubungan dengan bangsa lain ia selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan,
kepentingan, dan keselamatan bangsanya. Namun, ia menempatkan bangsa lain tersebut
sebagai berdiri sama tinggi duduk sama rendah.
Itulah Pengertian Nasionalisme dalam arti luas yang dapat saya sampaikan dalam
postingan ini.
Pengertian Nasionalisme Menurut Ahli
Nasionalisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berasal dari kata "Nasional" dan
"isme", yaitu paham kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat cinta
tanah air. Rasa nasionalisme juga identik dengan memiliki rasa solidaritas. Nasionalisme juga
mengandung makna persatuan dan kesatuan. Dari beberapa makna tersebut, pengertian
nasionalisme adalah paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah
negara (nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok
manusia. Menurut Soekarno, pengertian nasionalisme adalah sebuah pilar kekuatan bangsa-
bangsa terjajah untuk memperoleh kemerdekaannya. Pengertian nasionalisme dapat juga
diartikan sebagai formalisasi (bentuk) dari kesadaran nasional berbangsa dan bernegara
sendiri.

Pengertian Nasionalisme
Berikut ini beberapa Pengertian Nasionalisme Menurut Ahli:
Pengertian Nasionalisme Menurut Ernest Gellenervia: Nasionalisme adalah suatu
prinsip politik yang beranggapan bahwa unit nasional dan politik seharusnya
seimbang.
Pengertian Nasionalisme Menurut Anderson: Nasionalisme adalah kekuatan dan
kontinuitas dari sentimen dan identitas nasional dengan mementingkan nation.
Pengertian Nasionalisme Menurut H. Kohn: Nasionalisme adalah suatu bentuk
state of mind and an act of consciousness.
Pengertian Nasionalisme Menurut Ernest Renan: Nasionalisme adalah kemauan
untuk bersatu tanpa paksaan dalam semangat persamaan dan kewarganegaraan.




Semangat Nasionalisme dan Patriotisme dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-
Hari
1. Nasionalisme
Rasa kebangsaan adalah salah satu bentuk rasa cinta bahkan pusat gabungan dari berbagai
rasa cinta yang melahirkan jiwa kebersamaan pemiliknya. Rasa kebangsaan sebe-narnya
merupakan sublimasi dari Sumpah Pemuda yang menyatukan tekad menjadi bangsa yang
kuat, dihormati, dan disegani di antara bangsa-bangsa di dunia.
Rasa kebangsaan adalah suatu perasaan rakyat, masyarakat, serta bangsa terhadap kondisi
bangsa Indonesia dalam perjalanan hidupnya menuju cita-cita bangsa yaitu masyarakat adil
dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Pengertian nasionalisme ada tiga, yaitu :
1. Menurut Encylopaedia Britania, nasionalisme merupakan keadaan jiwa setia individu yang
merasa bahwa setiap orang memiliki kesetiaan dalam keduniaan ( sekuler ) tertinggi
kepada negara kebangsaan.
2. Menurut International Encyclopaedia of the Social Sciences, nasionalisme adalah suatu
ikatan politik yang mengikat kesatuan masyarakat modern dan memberi keabsahan ter-
hadap klaim ( tuntutan ) kekuasaan.
3. Nasionalisme adalah suatu paham yang menganggap bahwa kesetiaan tertinggi atas setiap
pribadi harus diserahkan kepada negara kebangsaan atau nation state.
Nasionalisme menjadi persyaratan mutlak bagi hidupnya sebuah bangsa. Ideologi
nasionalisme membentuk kesadaran para pemeluknya bahwa loyalitas tidak lagi diberikan
pada golongan atau kelompok kecil, seperti agama, ras, suku, dan budaya ( primordial ),
namun ditujukan kepada komunitas yang dianggap lebih tinggi, yaitu bangsa dan negara.
Jadi, nasionalisme sebagai ide ( ideologi ) menjadi condition sine quanon (keadaan yang
harus ada) bagi keberadaan negara dan bangsa.
Wawasan Nusantara dalam kehidupan nasional yang mencakup kehidupan politik, ekonomi,
sosial budaya, dan pertahanan keamanan harus tercermin dalam pola pikir, pola sikap, serta
pola tindak yang senantiasa mengutamakan kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan
Republik Indonesia ( NKRI ) di atas kepentingan pribadi atau golongan.
Pengertian semangat kebangsaan atau nasionalisme, merupakan perpaduan atau sinergi dari
rasa kebangsaan dan paham kebangsaan. Kondisi semangat kebangsaan atau na-
sionalisme suatu bangsa akan terpencar dari kualitas dan ketangguhan bangsa tersebut dalam
menghadapi berbagai ancaman. Dari semangat kebangsaan akan mengalir rasa kesetiaka-
wanan sosial, semangat rela berkorban, dan dapat menumbuhkan jiwa patriotisme.
Untuk mewujudkan masa depan bangsa Indonesia menuju ke masyarakat yang adil dan
makmur, pemerintah telah melakukan upaya-upaya melalui program pembangunan nasio-nal
baik fisik maupun nonfisik. Sasaran pembangunan yang bersifat fisik ditujukan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan yang bersifat nonfisik diarahkan kepada
pembangunan watak dan karakter bangsa yang mengarah kepada warga negara yang
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan mengedepankan sifat kejujuran, kebenaran,
dan keadilan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Nasionalisme Indonesia lahir karena penjajahan yang menyebabkan penderitaan dan
penindasan berkepanjangan terhadap bangsa Indonesia. Kesadaran nasional bangsa Indonesia
dipengaruhi oleh faktor dari dalam dan dari luar. Faktor dari dalam adalah keadaan yang
tertindas, terbelakang, dan penderitaan yang terus-menerus sehingga melahirkan keinginan
untuk merdeka, bebas, dan maju. Faktor dari luar adalah kemenangan Jepang atas Rusia
tahun 1905 dan gerakan kemerdekaan di negara-negara tetangga, seperti Cina, Turki, India,
dan Filipina.
Semangat kebangsaan ( nasionalisme ) di panggung politik internasional tumbuh pada awal
abad ke-20 yang ditandai dengan kebangkitan dunia Timur ( nagara Asia ), seperti India,
Cina, dan Filipina. Sedangkan di Indonesia ditandai dengan tumbuhnya berbagai organisasi
pergerakan, seperti Budi Utomo, Sarikat Islam, Indiche Partij, Perhimpunan Indonesia, Partai
Nasional Indonesia, dll.
Perkembangan nasionalisme di Indonesia melalui tahap-tahap sebagai berikut :
1. Masa perintis, yaitu masa mulai dirintisnya semangat kebangsaan melalui pembentukan
organisasi-organisasi pergerakan.
2. Masa penegas, yaitu masa mulai ditegaskannya semangat kebangsaan pada diri bangsa
Indonesia.
3. Masa pencoba, yaitu bangsa Indonesia melalui organisasi pergerakan mencoba meminta
kemerdekaan dari Belanda.
4. Masa Pendobrak, yaitu masa dimana semangat dan gerakan nasionalisme Indonesia telah
berhasil mendobrak belenggu penjajahan dan menghasilkan kemerdekaan.
Nasionalisme Indonesia berarti adanya rasa ingin bersatu, satu perangai dan nasib, serta
persatuan antara orang dan tempat. Bangsa Indonesia adalah seluruh manusia yang
tinggal secara bersama di wilayah Nusantara dari ujung barat ( Sabang ) sampai ujung timur (
Merauke ) dan memiliki Le desir detre ensemble dan charaktergemeinschaft yang telah
menjadi satu. Nasionalisme Indonesia tidak bersifat internasionalisme yang bermaksud
memperluas wilayah bangsa. Nasionalisme Indonesia tidak bersifat ekspansif karena hal itu
tidak sesuai dengan wilayah bangsa yang memiliki Le desir detre ensemble dan
charaktergemeinschft. Nasionalisme Indonesia juga tidak bersifat sempit ( daerahisme,
sukuisme, emonasionalisme ) yang hanya mementingkan atau mengutamakan kelompok,
wilayah, atau golongan tertentu dalam diri bangsa Indonesia.
Faktor-faktor penting bagi pembentukan nasionalisme Indonesia, yaitu :
1. Persamaan nasib, yaitu penderitaan bersama di bawah jajahan bangsa asing kurang lebih
selama 350 tahun.
2. Kesatuan tempat tinggal, yaitu wilayah nusantara yang membentang dari Sabang sampai
Merauke.
3. Keinginan bersama untuk merdeka, melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
4. Cita-cita bersama untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sebagai suatu bangasa.
Nasionalisme bangsa dapat ditingkatkan dan dipertahankan melalui pembentukan alat-alat
pemersatu bangsa, di antaranya adalah bahasa persatuan ( bahasa Indonesia ), bendera negara
( Sang Merah Putih ), lagu kebangsaan Indonesia Raya, lambing negara ( Garuda Pancasila ),
semboyan negara ( Bhineka Tunggal Ika ), dasar falsafah negara ( Pancasila ), konstitusi
negara ( UUD 1945 ), bentuk negara kesatuan Republik Indonesia yang berkedau-latan
rakyat, konsepsi wawasan nusantara, dan kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai
kebudayaan nasional.
Ciri-ciri nasionalisme, antara lain :
1. Memiliki rasa cinta pada tanah air ( patriotisme ).
2. Bangga menjadi bangsa dan menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.
3. Menempatkan kepentingan bersama daripada kepentingan sendiri dan golongan atau
kelompoknya.
4. Mengakui dan menghargai sepenuhnya keanekaragaman pada diri bangsa Indonesia.
5. Bersedia mempertahankan dan memajukan negara dan nama baik bangsanya.
6. Senantiasa membangun rasa persaudaraan, solidaritas, kedamaian, dan anti kekerasan antar
kelompok masyarakat dengan semangat persatuan.
7. Menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah sebagai bagian dari bangsa lain untuk mencip-
takan hubungan kerja sama yang saling menguntungkan.
2. Patriotisme
Patriotisme berasal dari kata patria, artinya tanah air. Kata patria berubah menjadi kata
patriot yang berarti seorang yang mencintai tanah air. Seorang patriotik adalah orang yang
cinta pada tanah air dan rela berkorban untuk mempertahankan negaranya. Patriotisme berarti
paham tentang kecintaan pada tanah air. Semangat patriotisme berarti semangat untuk
mencintai tanah air. Patriotisme lahir karena dilandasi oleh semangat kebangsaan atau
nasionalisme. Jadi, patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-
galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya.
Sikap patriotisme yang diwujudkan dalam semangat cinta tanah air dapat dilakukan dengan
cara :
1. Perbuatan rela berkorban untuk membela dan mempertahankan negara dan bangsa.
2. Perbuatan untuk mengisi kelangsungan hidup negara dan bangsa.
Ciri-ciri patriotisme, antara lain :
1. Cinta tanah air.
2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
3. Menempatkan persatuan, kesatuan, serta keselamatan bangsa dan negara di atas kepen-
tingan pribadi dan golongan.
4. Berjiwa pembaharu.
5. Pantang menyerah.
Perbuatan membela dan mempertahankan negara diwujudkan dalam bentuk kesediaan
berjuang untuk menahan dan mengatasi serangan atau ancaman bangsa lain yang akan meng-
hancurkan negara. Kelangsungan hidup negara dapat diwujudkan dengan kesediaan bekerja
sesuai dengan bidang dan spesialisasinya dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat
bangsa, serta pencapaian tujuan negara. Penanaman jiwa patriotisme harus dilandasi oleh
semangat kebangsaan atau nasionalisme. Sebaliknya, jiwa nasionalisme dalam setiap pribadi
warga negara perlu dilanjutkan dengan semangat patriotik untuk mencintai dan rela
berkorban demi kemajuan bangsa.
3. Pentingnya Nasionalisme dan Patriotisme
Negara kebangsaan dibangun atas dasar nasionalisme. Selanjutnya, nasionalisme yang
tertanam dalam diri setiap warga negara akan mmperkuat tegaknya negara kebangsaan.
Gerakan untuk senantiasa mencintai dan membela bangsanya dari ancaman negara lain atau
ancaman kehancuran melahirkan patriotisme. Antara nasionalisme dengan patriotisme juga
terdapat kaitan yang amat erat. Karena itu, nasionalisme dan patriotisme sangat penting bagi
kelangsungan hidup negara kebangsaan.
Suatu negara yang warga negaranya memiliki semangat kebangsaan dan jiwa patrio-tisme
maka warga negara tersebut dapat diandalkan untuk membela, berjuang maju, dan bersedia
mengisi kemajuan dan kelangsungan bangsanya. Sebaliknya, suatu negara yang warga
negaranya tidak memiliki semangat nasionalisme ataupun patriotisme maka dalam
perilakunya tersebut mudah sekali untuk melakukan tindakan yang dapat menghina nama
baik bangsa, menjual harga diri bangsa, merendahkan martabat bangsa, dan tidak lain yang
berakibat melemahkan kelangsungan dan kewibawaan negara.
Contoh perilaku dan tindakan yang dapat meningkatkan nasionalisme dan patriotisme, antara
lain :
1. Menjalankan dan mempertahankan kegiatan yang bersifat kerukunan di masyarakat,
misalnya acara pernikahan, kematian, kelahiran, dan syukuran.
2. Menjaga ketertiban masyarakat dengan mematuhi aturan yang dibuat bersama.
3. Mengikuti siskamling dan kerja bakti.
4. Menerima dan menghargai perbedaan antarsuku bangsa, misalnya berteman dengan siswa
dari suku lain.
5. Mengikuti kegiatan PON, Jambore Nasional, MTQ, pertukaran pelajar, dan misi kesenian.
6. Menghindari tindakan provokatif yang tidak bertanggung jawab.
7. Mematuhi hukum dan aturan yang telah disepakati negara.
8. Menjaga nama baik dan kebanggan atas negara sendiri di luar negeri, misalnya ketika
belajar atau bekerja di negara lain.
9. Bersedia membela negara dari ancaman negara lain.
10. Aktif memberi usul, saran, tanggapan, dan kritik terhadap penyelenggara negara.
11. Ikut mengawasi jalannya pemerintahan, baik di daerah maupun di tingkat pusat.
12. Membela nama baik keluarga, nama baik dan keselamatan sekolah, atau membela
masyarakat sekitar kita.
DAFTAR PUSTAKA
Budiyanto. 2004. Kewarganegaraan Untuk Kelas X SMA. Jakarta : Erlangga.
Depdikbud. 1994. PPKn Untuk Kelas 1 SLTA. Jakarta : Ditjen Dikdasmen, Depdikbud.
Jutmini, Sri dan Winarno. 2004. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Kelas 1 SMA.
Surakarta : Tiga Serangkai.
Suparyanto, Yudi dan Amin Suprihatini. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Kelas X
SMA. Klaten : Cempaka Putih.
Suprihatini, Amin dkk. 2005. Kewarganegaraan Untuk Kelas X SMA Jilid 1. Klaten :
Cempaka Putih.



Sejarah Paham / Ideologi Nasionalisme, Pengertian, Arti, Tokoh, Contoh, Gerakan

Artikel dan Makalah tentang Sejarah Paham / Ideologi Nasionalisme, Pengertian, Arti,
Tokoh, Contoh, Gerakan- Paham nasionalisme berkembang dan menyebar dari Eropa ke
seluruh dunia pada abad 19 dan 20. Pada intinya nasionalisme menitikberatkan kecintaan
pada bangsa dan negara. Menurut Otto Bouer, nasionalisme muncul karena adanya
persamaan sikap dan tingkah laku dalam memperjuangkan nasib yang sama, sedangkan Hans
Kohn berpendapat bahwa nasionalisme adalah suatu paham yang menempatkan kesetiaan
tertinggi individu kepada negara dan bangsa. Sementara itu, Ernest Renant menyatakan,
nasionalisme ada ketika muncul keinginan untuk bersatu. (Baca juga : Perkembangan
Ideologi / Paham Baru dan Pengaruhnya Terhadap Kesadaran dan Pergerakan Nasionalisme
di Indonesia)

Prinsip-prinsip nasionalisme juga dianut oleh kaum pergerakan nasional Indonesia setelah
disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang heterogen. Berdasarkan pertimbangan
heterogenitas itu, Indische Partiij (1992), mengembangkan paham nasionalisme Hindia.
Pengembangan paham itu bertujuan mempersatukan penduduk bumiputera, Arab, Cina, dan
keturunan Belanda.

Nasionalisme timbul menjadi kekuataan penggerak di Eropa Barat dan Amerika Utara pada
abad ke-18, selanjutnya paham itu tumbuh dan berkembang ke seluruh Eropa pada abad ke-
19, hingga awal abad ke-20. Pada abad ke-20, nasionalisme menjalar dan berkembang ke
wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Atas dasar itu abad ke-19 dapat disebut zaman
pertumbuhan dan perjuangan nasionalisme modern Asia, Afrika, dan Amerika Latin,
sehingga pertumbuhan dan perkembangannya telah melahirkan banyak negara merdeka di
dunia. Tumbuh dan berkembangnya nasionalisme modern, pada dasarnya disebabkan karena
struktur sosial tradisional dengan sistem hubungan yang didasarkan pada persamaan
persamaan yang bersifat primordialistik itu dipandang tidak cocok lagi dengan perkembangan
keadaan alam dan zaman karena basis dasarnya dinilai terlalu konservatif dan dapat
menimbulkan hal-hal yang bersifat chauvinistik atau nasionalisme yang berlebihan,
antagonistik, serta ketertutupan negara terhadap pengaruh negara lain.

Selain itu, sebab lain lahirnya nasionalisme adalah penaklukan negara bangsa lain oleh
negara tertentu yang mengakibatkan kesengsaraan bagi masyarakat negara bangsa yang
ditaklukan. Oleh sebab itu, nasionalisme sering diasosiasikan sebagai ekspansinisme,
imperialisme, dan peperangan.

Tumbuh dan berkembangnya pemikiran nasionalisme modern itu tidaklah dipelopori oleh
kalangan politikus atau negarawan, tetapi oleh para ahli ilmu pengetahuan dan budayawan
seperti pelopor dan pemikir nasionalisme modern di Eropa Barat antara lain John Locke, J.J.
Rousseau, John Gottfried Herder, dan lain-lain.


Anda sekarang sudah mengetahui Sejarah Nasionalisme. Terima kasih anda sudah
berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Suwito, T. 2009. Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas
XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 368.



PERKEMBANGAN NASIONALISME DI INDONESIA

Pengaruh dari dalam (I nternal)
Kenangan kejayaan masa lampau
Penderitaan dan kesengsaraan akibat Imperialisme
Munculnya gol. Cendikiawan
Kemajuan dalam bidang politik
Pengaruh dari luar (Eksternal)
Kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905
Pergerakan Nasional di India (Mahatma Gandhi: Ahimsa=dilarang membunuh/anti
perang, Hartal=gerakan mogok, Satyagraha=gerkan untuk tidak bekerjasama dengan
kolonial Inggris, Swadesi=gerkan untuk memakai produk dalam negeri sendiri)
Gerakan kebangsaan Filipina yang dipimpin oleh Dr. Jose Rizal
Gerakan Nasional RRC dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen.
Pergerkan Turki Muda (1908) yang dipelopori oleh Mustafa Kemal Pasha
Pergerakan Nasionalisme Mesir (1881-1882) yang di pelopori oleh Arabi Pasha.
Ideologi yang berkembang pada masa Pergerakan Nasional
Liberalisme
Diperkenalkan oleh orang-orang Belanda. Paham ini intinya adalah suatu paham yang
mengutamakan kemerdekaan individu atau kebebasan kehidupan masyarakat.
Nasionalisme
Diperkenalkan oleh organisasi politik yang muncul di Indonesia. Inti dari paham ini adalah
rasa cinta tanah air, Indonesia.

Komunisme
Paham ini lawan dari paham Liberalisme, yakni mengutamakan kepentingan bersama
daripada kepentingan pribadi. Paham ini berprinsip sama rata sama rasa.
Diperkenalkan oleh Sneevliet (komunis Belanda).
Demokrasi
Ideologi demokrasi pertama kali muncul di Yunani. Demos: Rakyat Kratos: Pemerintah, jadi
demokrasi berarti pemerintahan dari rakyat.
Pan-Islamisme
Paham ini bertujuan mempersatukan umat Islam sedunia. Paham ini merupakan gerakan yang
radikal dan progresif.
Organisasi Pergerakan Nasional
Boedi Oetomo
Pada tanggal 20 Mei 1908, Soetomo dan kawan-kawan mendirikan Boedi Oetomo. Ketuanya
Adipati Tirtokoesumo dan wakilnya adalah Dr. Wahidin Soedirohusodo.
Perhimpunan Indonesia (PI)
Pada tahun 1908 para mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda mendirikan Indische
Vereeniging . pada tahun 1922 diubah namanya menjadi Indonesische Vereeniging
(Perhimpunan Indonesia). Pemimpin PI antara lain: G. Mangunkusumah, Moh. Hatta, Iwa
Kusumah Soemantri, Sastro Mulyono dan M. Sartono).
Sarekat Islam (SI)
Pada tahun 1909 didirikan Sarekat Dagang Islam yang dipimpin oleh RM. Tirtoadisuryo.
Pada tahun 1911 dipinpin oleh H. Samanhudi. Pada tahun 1912 SDI diubah namanya menjadi
SI dibawah pimpinan HOS Cokroaminoto. Pada tahun 1920. SI menjadi dua yakni SI Merah
(Cikal bakal PKI) dibawah pimpinan Semaun dan SI Putih dibawah pimpinan HOS
Cokroaminoto.
Indische Partij (IP)
Tiga serangkai (Douwwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Surjoningrat) adalah
tiga tokoh pendiri IP pada tahun 1912
Partai Komunis Indonesia (PKI)
Pada tahun 1914 Sneevliet mendirikan organisasi yang bercorak Marxist dengan nama
Indische Social Demokratische Vereeniging (ISDV). Sneevliet kemudian berhasil
mempengaruhi semaun dari SI mendirikan SI Merah dan bergabung dengan ISDV
menbangun PKI pada tahun 1920.
Partai Nasional Indonesia (PNI)
Pada tahun 1927 PNI didirikan oleh Soekarno di Bandung. Dasar perjuangan PNi adalah
sosio-nasonalisme, sosio-demokratis dan marhaenisme.
Partai Indonesia (Partindo)
Merupakan pecahan dari PNI, setelah Soekarno dipenjara. Didirikan pada tahun
1931dipimpin oleh sartono SH.
PNI Pendidikan
Merupakan pecahan dari PNI, setelah Soekarno dipenjara. Didirikan pada tahun
1931dipimpin oleh Moh. Hatta dan Sutan Syahrir
Partai Indonesia Raya (Parindra)
Cikal bakal Parindra adalah Indische Studie Club di pimpin oleh Dr. Soetomo. ISC diubah
menjadi Partai Bangsa Indonesia (PBI) pada tahun 1931. PBI kemudian bergabung dengan
Boedi Oetomo kemudian menjadi Parindra pada tahun 1935 dak ketuannya Dr. Soetomo dan
berpusat di Surabaya.

Gagasan Persatuan dan Kesatuan Bangsa
o Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)
Munculnya PPPKI dipelopori oleh Soekarno . gagasan ini muncul akibat kegagalan PKI
menumbangkan kekuasaan pemerintah Kolonial Belanda. Pada tanggal 17-18 Desember 1927
dibandung diadakan pertemuan oleh berbagai organisasi (PSI, BO, PNI, Pasundan
o Kongres Pemuda
PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) didirikan pada tahun 1926. Pada tanggal 30
April-2 Mein 1926 diadakan Kongres Pemuda I yang dipimpin oleh Moh. Tabrani dari Jong
Java. Kongres diadakan oleh jong Java, Jong Soematera Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun,
Jong Minahasa, Jong Batak, dan Jong Islamieten Bond. Tujuan Kongres adalah membentuk
badan sentral, memajukan paham persatuan kebangsaan dan mempererat hubungan diantara
semua perkumpulan pemuda kebangsaan.
Penyelenggaraan kongres pemuda II diadakan tiga kali rapat: pertama dilakukan di Gedung
Katholik Jonglingen Bond di Waterloopein. Kedua tanggal 28 Oktober 1928 pagi digedung
Oost Java Bioscoop di Koningsplein Noor dan rapat ketiga pada tanggal 28 Oktober 1928
malam di gedung Indonesische Clubhuis Kramat 106 Jakarta. Kongres ini berhasil
menetapkan ikrar sumpah pemuda:
Kami putra-putri Indonesia mengaku bertanah tumpah darah satu tanah air Indonesia;
Kami putra-putri Indonesia mengaku berbangsa satu bangsa Indonesia;
Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia;
Pada malam penutupan kongres pemuda II untuk pertama kalinya diperdengarkan lagu
Indonesia Raya oleh penggubahnya Wage Rudolf Soepratman
o Gabungan Politik Indonesia (GAPI)
Soetarjo mengajukan usul kepada pemerintah Hindia Belanda agar diadakan konferensi
kerajaan Belanda yang membahas status politik Hindia-Belanda. Usul ini kemudian dikenal
dengan Petisi Soetarjo pada tanggal 15 Juli 1936. Petisi ini ditolak Belanda, sehingga MH.
Thamrin membentuk GAPI pada tanggal 21 Mei 1939.
GAPI hendak mengadakan aksi, menuntut pemerintah dengan mengadakan parlemen yang
disusun dan dipilih oleh rakyat Indonesia dan kepada parlemen itulah pemerintah harus
bertanggung jawab.
Satu-satunya kaum nasionalis yang dipenuhi oleh pemerintah ialah pembentukan komisi
Visman pada bulan Maret 1941. Panitia ini bertugas menyelidikisampai dimana kehendak
rakyat Indonesia sehubungan dengan perubahan pemerintah. Namun hasil dari komisi visman
sangat menjengkelkan karena komisi ini berpendapat bahwa rakyat Indonesia masih ingin
tetap dalam ikatan dengan kerajaan Belanda.
o Peristiwa-peristiwa Penting dan Kebijakan Keras Pemerintah Kolonial terhadap
Indonesia
Indische Partij menentang perayaan kemerdekaan negeri Belanda
Penyebaran paham Sosialis oleh ISDV
Pemberontakan PKI tahun 1926 dan 1927
Propaganda Bung Karno melalui PNI
Tuntutan GAPI tentang Indonesia berparlemen
Pembentukan Identitas Nasional dan terbentuknya Nasionalisme Indonesia
Penggunaan kata atau istilah Indonesia dikemukakan oleh beberapa tokoh, diantaranya:
J.R. Logan (Inggris);ia menyebut Indonesia didalam artikel pada majalah yang dipimpinnya
pada tahun 1850
Tokoh-tokoh yang mempopulerkan Istilah Indonesia didunia Internasional antara lain: Adolf
bastia (1884), Van Volenhoven, Snouck Hurgronje dan Kern.
Tokoh-tokoh dari Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda pada bulan Januari 1924
mengganti organisasinya dari yang semula bernama Indische Vereeniging
menjadiIndonesische Vereeniging.
Sumpah Pemuda menjadikan Indonesia sebagai Identitas kebangsaan yang diakui oleh
setiap suku bangsa di Nusantara.

PERKEMBANGAN NASIONALISME
DI INDONESIA

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Sejarah Islam Indonesia
Dosen Pengampu: M. Rikza Chamami, M.Si


Disusun Oleh:
Amri Khan 103111109
Nisvi Nailil Farichah 103111082
Noor Aini 103111083
Nova Fitri Rifkhiana 103111084
Nur Hayati 103111085
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012


PERKEMBANGAN NASIONALISME DI INDONESIA
I. PENDAHULUAN
Abad XX adalah abad nasionalisme, artinya sejak awal sampai dengan penutupan abad ini
timbul kesadaran berbangsa. Hal ini dapat dilihat dalam sejarah bahwa ternyata kesadaran
bangsa Indonesia sudah mengawali abad ini dan bahkan kesadaran ini masih diikuti oleh
bangsa-bangsa Semenanjung Balkan yang menginginkan terciptanya nasion sendiri yang
merdeka. Yang terakhir ini ternyata baru berlangsung menjelang penutupan abad XX. Jelas
kiranya bahwa keinginan bersama untuk membebaskan diri dari dominasi etnik lain terjadi
secara universal.
Nasionalisme Indonesia mempunyai ciri khas yang berbeda dengan nasionalisme mana pun
di penjuru dunia ini. Nasionalisme Indonesia murni nerupakan bentuk perlawanan terhadap
kolonialisme. Sudah selayaknya kalau dominasi sosio-politik kolonialisme Belanda itu
membangkitkan perlawanan melalui organisasi yang diatur secara modern. Memang
organisasi modern itu sebenarnya adalah dampak modernisasi yang dilakukan oleh
pemerintah kolonial sendiri. Kebangkitan nasional adalah dampak yang tidak disadari oleh
pemerintah, seperti munculnya banyak organisasi yang di dalam makalah ini kita akan
membahas hal tersebut.
II. RUMUSAN MASALAH
1.
1. A. Apa Pengertian Nasionalisme?
2. B. Bagaimana Sejarah Nasionalisme Sebelum Kemerdekaan?
3. C. Bagaimana Sejarah Nasionalisme Sesudah Kemerdekaan?

1. III. PEMBAHASAN
1. A. Pengertian Nasionalisme
Nasionalisme adalah sebuah paham yang direalisasikan dalam sebuah negara yang
mendambakan kepentingan bersama, yaitu kepentingan bangsa (nation), walaupun mereka
terdiri dari masyarakat yang majemuk. Bangsa mempunyai pengertian totalitas yang tidak
membedakan suku, ras, golongan, dan agama. Diantara mereka tercipta hubungan sosial yang
harmonis dan sepadan atas dasar kekeluargaan. Kepentingan semua kelompok
diinstutionalisasikan dalam berbagai organisasi sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan.
Upaya penggalangan kebersamaan ini sering kali bertujuan menghapus superioritas kolonial
terhadap suatu bangsa yang telah menimbulkan berbagai penderitaan selama kurun waktu
yang cukup lama.
Nasionalisme sendiri mengandung makna suatu sikap mental di mana loyalitas tertinggi dari
individu adalah untuk negara-bangsa; atau sikap politik dan sosial dari kelompok-
kelompok suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, bahasa, dan wilayah, serta
kesamaan cita-cita dan tujuan, dan dengan demikian mersakan adanya kesetiaan yang
mendalam terhadap bangsa.
Dalam konteks ini, kata kunci dalam nasionalisme adalah supreme loyality terhadap
kelompok bangsa. Kesetiaan ini muncul karena adanya kesadaran akan identitas kolektif yang
berbeda dengan yang lain. Pada kebanyakan kasus, hal itu terjadi karena kesamaan
keturunan, bahasa atau kebudayaan. Akan tetapi , ini semua bukanlah unsur yang subtansial
serba yang paling penting dalam nasionalisme adalah adanya kemauan untuk bersatu. Oleh
karena itu, bangsa merupakan konsep yang selalu berubah, tidak statis, dan juga tidak
given, sejalan dengan dinamika kekuatan-kekuatan yang melahirkannya.nasionalisme tidak
selamnya tumbuh dalam masyarakat multi ras, bahasa, budaya, dan bahkan multi agama.
Amerika dan Singapura misalnya, adalah bangsa yang multi ras; Switzerland adalah bangsa
dengan multi bahasa; dan Indonesia, yang sangat fenomenal, adalah bangsa yang yang
merupakan integrasi dari berbagai suku yang mempunyai aneka bahasa, budaya, dan juga
agama. [1]
1. B. Sejarah Nasionalisme Indonesia Sebelum Kemerdekaan
Nasionalisme Indonesia yang dalam perkembanganya mencapai titik puncak setelah Perang
Dunia ke II yaitu dengan di prolkamasikannya kemerdekaan Indonesia berarti pembentukan
nation Indonesia berlangsung melalui proses sejarah yang panjang. Timbulnya nasionalisme
Indonesia mempunyai kaitan erat dengan kolonialisme Belanda yang sudah beberapa abad
lamanya berkuasa di Indonesia. Usaha untuk menolak kolonialisme inilah yang merupakan
manifestasi dari penderitaan dan tekanan disebut nasionalisme Indonesia. Tahun 1799
pemerintah hindia belanda mengeksploitasi ekonomi dan penetrasi politik sampai pada tahun
1830 dengan memperkenalkan sistem administrasi dan birokrasi sewa tanah tetapi
mengalami kegagalan. Kemudian diganti dengan sistem tanam paksa yang mengintensifkan
sistem tradisisonal yang terdapat dalam ikatan feodal, ini terjadi pada pertengahan abad XIX.
Kemudian pada awal abad XX menggantinya dengan politik balas budi atau politik etis.
Dalam politik etis terdapat usaha memajukan pengajaran bagi anak-anak indonesia. Sehingga
memunculkan beberapa respons yang positif dari generasi bangsa Indonesia, diantaranya:
1. Budi Utomo.
Secara historis, semangat nasionalisme Indonesia sudah mulai terasa sejak berdirinya Boedi
Oetomo yang merupakan keprihatinan dr. Wahiddn sudiro husodo yang dikembangkan oleh
Sutomo mahasiswa Stovia serta rekan-rekannya untuk mendirikan Budi Utomo di Jakarta
pada tanggal 20 Mei 1908, ini menampilkan fase pertama dari Nasionalisme Indonesia dan
menunjuk pada etno nasionalisme dan proses penyadaran diri terhadap identitas diri bangsa
Indonesia.
1. Sarekat Islam
Sarekat islam adalah organisasi yang bertujuan menghidupakan kegiatan ekonomi pedagang
islam jawa yang diikat dengan agama yang pengaruhnya jauh lebih besar dari pada Boedi
Oetomo, namun berkembang menjadi gerakan nasionalisme.. Didirikan pada tahun 1912 oleh
H. Samanhudi. Dalam waktu kurang dari satu tahun SI menjadi organisasi raksasa yang
mengakibatkan pemerintah Hindia Belanda menjadi resah akan keberadaannya.
Sarekat Islam mengalami percepatan kemajuan yang merata hampir di seluruh Indonesia.
Akan tetapi, sifat keterbukaan organisasi ini telah memicu terjadinya perpecahan di tubuh SI
sehingga lahirlah SI Putih dan SI Merah. Jika SI Putih tetap mengutamakan ideologi
islam dan Pan-Islamisme sebagai landasan untuk mempersatukan bangsa maka SI Merah di
bawah pimpinan Semaun, Darso, dn Tan Mlaka memiliki kecenderungan yang
berbeda.Golongan kiri dalam SI inilah yang akhirnya menjadi cikal-bakal lahirnya partai
komunis Indonesia (23 Mei 1920), dalam hal yang menyangkut dasar partai, PKI berpegang
teguh prinsip sosialisme, internasionalisme,dan menganggap nasionalisme. Sebagai musuh
utama. Oleh karena itu, dalam konperensi SI (Maret 1921), Fahrudin-wakil ketua
Muhammadiyah mengedarkan brosur yang menyatakan bahwa Pan-Islamisme tidak mungkin
berhasil jika tetap bekerja sama dengan golongan komunis.[2]
1. Partai Nasional Indonesia (PNI)
Sejarah mencatat bahwa PKI berhasil menempatkan diri sebagai partai terbesar sehingga
mendorongnya melakukan pemberontakan kepada pemerintah Belanda pada 13 November
1926. Pemberontakan PKI ini telah meyebabkan banyak tokoh pergerakan nasional harus
dibuang ke Tanah Merah, Digul Atas, dan Irian Jaya.
Sesudah PKI dinyatakan sebagai partai terlarang oleh pemerintah Belanda, Soekarno
merasakan perlunya bangsa Indonesia memiliki partai sebagai wadah baru yang mampu
menampung gerakan nasionalisme modern yang radikal. Pada 4 Juli 1927, lahirlah Partai
Nasional Indonesia (PNI) yang diawali oleh berdirinya Algeemene Study Club (1925).
Ideologi partai ini adalah nasionalisme radikal, sebagaimana tuisan Soekarno dalam
Nasionalisme, Islamisme, dan marxisme (1926). Tulisan tersebut merupakan respons
Soekarno atau tulisan H.O.S Tjokroaminoto tentang Islam dan Sosialisme. Ketiga kekutan
ideologi tersebut, yakni Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme, merupakan landasan
pergerakan nasional secara garis besar, dan oleh Soekarno dianggap sebagai alat pemersatu
bangsa Indonesia. Ketiga tersebut kemudian terkenal dengan singkatan NASAKOM.[3]
1. Indische Partij
IP adalah organisasi campuran yang menginginkan kerjasama orang Indo dengan orang
Bumiputra. Organisasi ini didirikan oleh E.F.E Douwes Dekker alias setyabudi di Bandung
pada tanggal 25 Desember 1912. Oganisasi ini melalui kesatuan aksi dpat mengubah sistem
yang berlaku dengan antitesis antara penjajah dan terjajah.
1. Muhammadiyah
Agama Islam adalah lambang persatuan rakyat, makadari itu K.H. Ahmad Dahlan di
yogajakarta pada 18 November 1912 menjadikan Muhammadiah sebagai organisasi yang
bertumpu pada cita-cita agama dengan aliran modernis islam dan memperbaiki agama bagi
umat islam Indonesia. Organisasi ini melakukan perbaikan melalui 3 bidang yaitu,
keagamaan, pendidikan, dan kemasyarakatan. Pembaharuan pada bidang keagamaan adalah
memurnika dan mengembalikan sesui pada aslinya (Al-Quran dan Sunnah). Pembaharuan
pada bidang pendidikan mencakup perbaikan dan pembentukan muslim yang berbudi, alim,
luas pengetahuan dan faham masalah ilmu dunia dan masyarakat dengan sistem pendidikan
yang menggabungkan cara tradisional dan cara modern. Perbaikan pada bidang
kemasyarakatan dengan mendirikan rumahsakit, poliklinik, rumah yatim piatu yang dikelola
oleh lembaga. Pada tahun 1923 berdirilah Pertolongan Kesengsaraan Umum (PKU) yang
merupakan bentuk kepedulian sosial dan tolong menolong sesama muslim.
Di samping organisasi politik terdapat pergerakan keagamaan bersifat nasionalisme seperti
Muhammadiyah di Jogjakarta pada 18 November 1912 yang didirikan oleh KH. Ahmad
Dahlan dengan tujuan memajukan pendidikan berdasarkan agama Islam dengan mendirikan
sekolah-sekolah agama, masjid, langgar, dan rumah sakit. Setelah itu lahir Nahdhatul Ulama
di Surabaya pada 31 Januari 1926, organisasi ini merupakan respon atas maraknya semangat
nasionalisme dan respon terhadap kebijakan dan langkah SI dan Muhammadiyah yang tidak
mengikutsertakan golongan tradsional dalam konggres Islam sedunia di Kairo.
1. Kelompok Katolik lahir Indiche katholieke Partij (IKP).
Pada November 1918 yang bertujuan memajukan bangsa berdasarkan agama katolik. Pada
Setember 1917 lahir Christelijke Ethische Partij (CEP) yang bertujuan menjadikan agama
Kristen sebagai dasar dalam menyusun negara dan memerdekakan bangsa Indonesia dari
penjajahan Belanda. Pada 22 februari 1925, berdiri dari umat Nasrani Partai Katolik Djawi di
Djogjakarta, partai ini terbuka untuk semua Golongan tidak dibatasi dari orang Jawa saja
dengan menjadikan bahasa Melayu, sebagai bahasa resmi partai.
1. Nahdlotul Ulama
Berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya, sebagai organisasi sosial keagamaan yang
didirikan oleh para ulama, pemegang teguh salah satu dari 4 madzhab, berhaluan Ahlus
Sunnah Wal-Jamaah, bertujuan mengembangkan dan mengamalkan ajarang islam serta
memperhatikan maslah sosial, ekonomi, dan sebagainya dalam rangka pengabdian kepada
umat manusia. Pusat-pusat NU ada di Surabaya, Kediri, Bojonegoro, Bondowoso, Kudus.
1. Perhimpunan Indonesia
Dipimpin oleh Iwa Kusuma Sumantri, J.B.Sitanala, Moh. Hatta, Sastra Mulyono, D. Mangun
Kusumo, dan Majalah Indonesia Merdeka. PI bertujuan menyadarkan para mahasiswa agar
mempunyai komitmen yang bulat tentang persatuan dan kemerdekaan indonesia sebagai Elite
Intelektual dan Prfesional harus bertanggung jawab untuk memimpin rakyat melawan
penjajah, membuka mata rakyat belanda bahwa pemerintah kolonial sangat opresif dan
meyakinkan rakyat Indonesia tentang kebenaran perjuangan kaum Nasionalis,
mengembangkan Edeologi yang bebas dan kuat diluar pembatasan Islam dan komunisme.
Empat pikiran pokok PI tahun 1965 yaitu: kesatuan Nasional, solidaritas, Non koperasi, dan
suadaya.
1. Kongres pemuda dan Sumpah pemuda
Para pelajar dan mahasiswa dan beberapa organisasi bergabung dalam PPPI (Perhimpunan
Pelajar-Pelajar Indonesia) pada tahun 1926 dan melakukan kongres pemuda Perdana pada
bulan mei 1926 dengan mengesampingkan perbedaan sempit berdasarkan daerah dan
menciptakan kesatuan seluruh bangsa Indonesia. Kongres pemuda kedua tanggal 26-28
Oktober 1928 yang dihadiri oleh sembilan organisasi pemuda beserta sejumlah tokoh politik.
Diantaranya Soekarno, Sartono, dan Sumaryo. Ini merupakan puncak ideologi integrasi
Nasional dan peristiwa Nasional yang belum pernah terjadi terbukti dengan pengucapan
sumpah setia dengan bunyi sebagai berikut:
1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia
2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa pemersatu, bahasa indonesia.
Dalam penutupan kongres di kumandangkan lagu Indonesia Raya untuk mengiringi
pengibaran bendera merah putih. Tiga sumpah diatas mengandung tiga pengertian yang
merupakan kesatuan yaitu pengertian wilayah, bangsa yang merupakan massa dan bahasa
sebagai alat komunikasi yang homogen. Kesatuan dalam pluralisme sosial-budaya itulah
yang menjadi cita-cita Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda memang tidak identik dengan
nasionalisme, tetapi mengintegrasikan potensi bangsa, yang berarti pula sejalan dengan
hakikat nasionalisme sebagai faktor integratif bagi berbagai potensi kultural masyarakat. [4]
1. Partai Indonesia
Pada tanggal 1 mei 1931 pendirian PARTINDO di bawah pimpinan Sartono adalah lanjutan
PNI ysng telah dibubarkan, dengan tujuan mencapai satu negara Republik Indonesia Merdeka
dan kemerdekaan akan tercapai jika ada persatuan seluruh bangsa Indonesia. PARTINDO
adalah partai politik yang menghendaki kemerdekaan Indonesia yang didasarkan atas prinsip
menentukan nasib sendiri, kebangsaan, menolong diri sendiri, dan demokrasi.
1. Organisasi pemuda dan kepanduan
Kaderisasi pemimpin yang dibutuhkan oleh negara denganciri Regionalisme sebagai
perkumpulan kedaerahan yang terjun kelapangan sosial politik. Trikoro Darmo didirikan
tanggal 7 Maret 1915 di Jakarta oleh dr. R. Satiman Wiryo Sanjoyo, Kaderman, dan Sunardi
serta beberapa pemuda lainnya yang mempunyai cita-cita cinta tanah air, memperluas
persaudaraan dan mengembangkan kebudayaan jawa. Tapi pada tahun 1915 berubah menjadi
Jong Java yang orientasinya lebih luas mencakup Jaya Raya, Milisi, dan pergerakan rakyat
pada umumnya. Sedangkan pda ahir tahun 1928 Jong Java dibubarkan dan diganti dengan
Indonesia Muda dengan maksud menempuh orientasi Nasionalis yang sebenarnya.
Pada tahun 1927 di Bandung, didirikan pemuda Indonesia. Pada 9 Desember 1917 di Jakarta
didirikan Jong Sumatranen Bond dengan tujuan memperkokoh ikatan sesama murid Sumatra
dan mengembangkan kebudayaan Sumatra. Tahun 1918 didirikan Jong Minahasa dan Jong
celebes. Keinginan bersatu dari berbagai organisasi kepanduan adalah refleksi dari keinginan
untuk bersatu guna merealisasikan perasaan kebangsaan, bukan hanya dikalangan pemuda
dan organisasi politik, tetapi juga tampak terang dikalangan kepanduan. [5]
Era pergerakan Nasional lahir juga organisasi kedaerahan seperti pasundan (1920), srikat
Sumatra (1918), perkumpulan orang Ambon, perkumpulan orang Minahasa (Agustus 1912),
perkumpulan kaum Betawi (1 Januari 1923). Dikalangan pemuda lahir organisasi para
pemuda seperti: Jong Java (7 Maret 1915), Jong Sumatren bond (9 Desember 1917), Jong
Mina Hasa (1918), Jong Ambon, Jong Cebelles, Jong Islamieten Bond, dan Perhimpunan
Indonesia tahun 1922 di Belanda.
Jadi, masa Nasionalis Indonesia tumbuh dari perasaan senasib dan sependeritaan akibat
penjajahan. Walaupun dari suku, agama, dan ras yang majemuk tetapi satu bangsa dan
berusaha membebaskan diri dari penderitaan tersebut dengan cita-cita mewujudkan masa
depan yang lebih baik.[6]
1. C. Sejarah Nasionalisme Indonesia Sesudah Kemerdekaan
Nasionalisme pada masa kemerdekaan dan pasca kemerdekaan secara umum dibentuk
dengan cara menciptakan suatu common enemy yakni musuh bersama bagi bangsa
Indonesia. Dengan hal tersebut maka rasa memiliki bangsa Indonesia yang ingin menjaga
negaranya dari musuh yag ingin memeceah kesatuan Republik Indonesia akan terpupuk dan
menjadikan semangat nasionalisme. Bung Karno memaknai musuh bersama bangsa
Indonesia adalah kolonialisme dan neo-kolonialisme.
Pada masa awal kemerdekaan Indonesia bentuk gerakan nasionalisme adalah dalam wujud
perlawanan fisik dan upaya diplomasi bangsa Indonesia dalam upaya untuk mempertahankan
kedaulatan RI.
Adapun bentuk-bentuk dari wujud nasionalisme rakyat Indonesia yaitu: Peristiwa
pertempuran tanggal 10 November 1945 di Surabaya, peristiwa Bandung Lautan Api,
Palagan Ambarawa, Konferensi Linggar Jati, Konferensi Renville, serta KMB. Termasuk di
dalamnya upaya penanggulangan pemberontakan dari dalm negeri seperti: DI/ TII, PRRI/
Permesta, RMS baik Belanda maupun para pemberontak adalah sama-sama musuh bersama
bangsa Indonesia yang harus dilawan demi menegakkan kedaulatan negera RI. Pada tahun
1963, Soekarno menentang pembentukan Negara Federasi Malaysia karena menganggap itu
sebagai proyrk neo-kolonialisme Inggris yang dapat membahayakan revolusi Indonesia yang
belum selesai.
Maka pada saat itu bangsa Indonesia di kondisikan untuk kemudian menganggap Malaysia
sebagai musuh bersama bangsa Indonesia dan harus dilawan, yang kemudian melahirkan
ultimatum Ganyang Malaysia. Tahun 1966, gerakan nasionalisme Indonesia dimanifestasikan
dengan menciptakan musuh bersama PLI danOrla.[7]
Dalam era Reformasi 1998-2003, gerakan nasionalisme menampakkan wujudnya dalam
wajah yang baru dan berbeda dari model nasionalisme pada masa rezim Soekarno yakni
dalam bentuk perlawanan terhadap represi politik rezim yang berkuasa dan dalam perlawanan
daerah terhadap pusat. Tragedi 12 Mei 1998 terjadi penembakan mahasiswa Trisakti, dan 1
Januari 2001 saat diberlakukannya OTODA merupakan momentum puncak dari gerakan
nasionalisme pada masa transisi menuju demokrasi di Indonesia.
Ada beberapa masa nasionalisme yang dialami Indonesia setelah kemerdekaan, diantaranya:
1. Nasionalisme kaum muda pasca kemerdekaan 1945
Gerakan mahasiswa angkatan 1998 orde reformasi adalah penggugatan atas penyelewengan
pemerintahan dan penguasa dalam mengatur negara. Gerakan mahasiswa tahun 1996
organisasi mahasiswa berorientasi politik berafiliasi dengan partai politik tertentu dan para
aktifisnya memiliki hubungan emosional dan historis dengan para elit politik nasional, ini
terlepas dari gejala yang muncul sejak zaman sistem demokrasi liberal atau sistem demokrasi
parlementer ditahun 1950-1959. Dekrit presiden 1959 dibawah pemerintahan Soekarno pada
masa sistem demokrasi terpimpin. Kesatuan aksi mahasiswa Indonesia (KAMI) pada tanggal
25 Oktober 1965 untuk melancarkan perlawanan terhadap kekuatan PKI dan antek-anteknya
sampai puncaknya runtuh pada rezim Soekarno sebagai orde lama. Tahun 1973 kembali
terjadi aksi mahasiswa, keraguan akan strategi pembangunan orde baru dan berlanjut dengan
peristiwa Malari tahun 1974 dengan isu anti monopoli produksi Jepang. Gerakan mahasiswa
di era 1980-an memunculkan isu lokal sebagai akibat ketidak adilan dalam pembangunan
terhadap rakyat yang diangkat ke permukaan sebagai isu nasional yang bersifat sporadis dan
fragmentaris.
Nilai perjuangan pada angkatan 1998 dalam simpul perubahan sejarah politik negara, nilai-
nilai perjuangan yang diangkat lebih kepada isu konkrit berkaitan dengan penyimpangan dan
penyelewengan penyelenggara pemerintah serta pembangunan yang dirasakan
masyarakatdengan tidak bersistem.
1. Nasionalisme kaum muda di Indonesia era reformasi
Peran mahasiswa sebagai ujung tombak muncul belakangan sebelum gerakan moral yang
dilakukan mahasiswa telah terjadi sebelumnya seperti gerakan mahasiswa tahun 1971 (aksi
penolakan TMII), 1974 peristiwa Malari (aksi penolakan monopoli Jepang), aksi 1978 (protes
atas sidang MPR). Akan tetapi gerakan perubahan sosial oleh angkatan 1998 membuktikan
reformasi mengalami mati suri. Keberadaan KAMMI mengingatkan kita dengan peran HMI
pada tahun 1966 saat runtuhnya rezim orde lama dan tampilnya pemerintahan orde baru,
dimana tokoh mahasiswa HMI masuk dalam dalam gerbong pemerintahan baru sebagai sub
ordinasi kekuasaan Suharto. [8]
1. Penegakan hukum dan HAM sebagai realitas simbolik
Penegakan hukum di Indonesia saat ini baru sebatas slogan belaka dan belum dilaksanakan
secara optimal. Penyebab utamanya adalah karena pejabat dan aparat penegak hukum masih
terdiri dari orang-orang lama yang mereka sendiri belum bersih dan juga oarang-orang yang
bermasalah. Penegakan hukum semestinya dimulai dari pucuk pimpinannya dan dari aparat
yang bersentuhan langsung dengan persoalan tersebut.
Barkaitan dengan pelanggaran hukum dalam kehidupan sehari-hari (legalisasi perjudian),
seorang muslim yang menjadi pejabat negara harus memiliki sikap untuk mendahulukan
kepentingan masyarakat secara umum. Seorang pemimpin harus mempunyai ketegasan dalam
menjalankan kaidah hukum tanpa pandang bulu. Oleh karena itu, penegakan hukum dan
HAM tidak boleh menjadi realitas simbolik belaka. Dan untuk menjamin semua itu posisi
hukum menjadi sangat penting.
1. Sparatisme dengan topeng agama
Subjek penelitian berpendapat bahwa konflik Aceh bukanlah konflik agama melainkan murni
termotifasi kepentingan politik dengan topeng agama, yakni konflik vertikal anatara GAM
yang ingin memisahkan Aceh dari pangkuan NKRI. Apalagi Aceh sudah menjadi sebuah
daerah yang istimewa yang bernama Nangrue Aceh Darussalam, dimana aturan hkum, sosial
dan budaya diupayakan sangat Islami. Dan itu adalah bentuk pemberian hak yang sangat
istimewa karena tidak diberikan kepada daerah-daerah lain. Dengan adanya gerakan
sparatisme yang ada di sana tentu sangat mengganggu mantapnya nasionalisme Indonesia.
Dan untuk menyelesaikan kasus sparatis yang ada di Aceh perlu melakukan dialog dan
akomodasi politik anatra kedua belah pihak dengan tujuan agar kepentingan Indonesia dan
kepentingan GAM bisa mendekati titik temu yang akan melenjutkan solusi konflik di sana.
Para Ulama berpendapat bahwa GAM memang ingin merdeka dan ingin menjadikan Aceh
sebagai negara Islam dengan dasar Amar maruf nahi munkar. Akan tetapi, dalam pandangan
para Ulama hal itu tidak perlu dilakukan dengan cara memberontak dan menebarkan
kerusakan.
1. Demokrasi, civil society dan pluralitas: civilian politics yang masih tertunda
Banyak pihak memyamakan istilah civil society dengan masyarakt madani. Akan tetapi dala
prespektif para Ulama menggunaka istilah masyarakat mutammidin daripapada menyebut
masyarakat madani, karena mereka berargumen bahwa terjemahan yang benar dari civil
society adalah kosa kata tersebut (masyarakat tamadun).
Adapun wacana pluralitas, mendasarkan pandangannya pada pernyataan al-Quran bahwa
Tuhan telah menciptakan manusia dengan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Perbedaan
antar komunitas tersebut bukan untuk saling merugikan melainkan agar perbedaan tersebut
bisa menjadi potensi untuk merealisasikan kebijakan.
Sedangkan wacana demokrasi para Ulama sepakat bahwa padananterm demokrasi dalam
Islam adalah kosa kata musyawarah. Mereka mengimplementasikan teknis demokrasi dalam
proses pemilihan seorang pemimpin. Dengan demikian, yang paling penting dari masalah
demokrasi adalah adanya keseimbangan antara kedaulatan rakyat dan kedaulatan negara.
Oleh karena itu diharapkan agar semua pemimpin pemerintahan dan masyarakat segera
meluruskan ulang masalh visi kebangsaan, konsepsi kewarganegaraan dan penciptaan
keadilan sosial secara serius dan lebih transparan dalam prespektif civilian politics.[9]
1. Tantangan global dan kepemimpinan kaum muda
Nasionalisme lama cenderung bercorak emosional, tidak rasional, sloganistik, heroik, reaktif
dan konfrotatif. Nasionalisme baru lebih bercorak realistis, mengedepankan pertimbangan
rasional, bersifat komprehensif, solutif, menomorsatukan aspek kualitas sumber daya
manusia, dan kemampuan untuk berkompetisi, khususnya di arena global di tengah derasnya
arus globalisasi dunia. Tantangan inilah yang sedang dihadapi pemuda Indonesia baik
tantangan eksternal maupun tantangan internal. Tantangan eksternal diantaranya
kecenderungan pengaruh negatif ideologi global bagi kalangan muda terpelajar yang
cenderung menjadi birokratis dan menjadi sekrup ideologi penjajah yang menindas
bangsanya sendiri. Isu HAM, demokratisasi, kebebasan, keterbukaan dan pasar bebas sebagai
wujud keinginan perubahan dalam masyarakat, harus disikapi secara kritis, responsif dan
antisispasi dengan kemampuan kita memilih dan memilah.
Dalam menghadapi pengaruh global (politik barat) yang tidak semuanya positif, kita harus
mempunyai nilai-nilai unggulan budaya yang menjadi perhatian untuk dikembangkan yakni
nilai-nilai budaya bangsa yang positif bukan yang negatif termasuk juga dalam menyerap
nilai-nilai budaya dari luar sebagai kenyataan dari prises globalisasi budaya bangsa yang
terus berlangsung dengan perubahan yang begitu cepat dan sangat bervariasi serta
kecenderungan terjadinya disorientasi terhadap budaya bangsa suatu negara.
Tantangan internal idealisme masyarakat Indonesia terkini, mengenai fenomena dan tuntutan
hidup yang harus dipenuhi karena sulit meraih kesempatan hiduo yang lebih layak pada
berbagai aspek termasuk mendapatkan pendidikan yang baik, masalah kemiskinan bangsa
Indonesia, tekanan budaya yang hedonis, materialisme dan pragmatis mengakibatkan kaum
muda kita untuk mencari jalan keluar dengan cara pola hidup jalan pintas, menganut budaya
tisu dan meraih kenikmatan hidup yang fatamorgana. Melihat kondisi seperti itu maka posisi
dan peran pemuda menghadapi globalisasi adalah dengan tiga cara:
1. Pemahamn yang baik dan benar akan hakekat dan makna globalisasi, berikut manfaat
dan mudharatnya. Dengan ini diharapkan pemuda dapat mengetahui dimana dan
bagaimana memposisikan diri serta perannya sebagai generasi masa depan bangsa
secara tepat.
2. Kepandaian dan kecerdasan pemuda dalam menyikapi dan memerankan diri ditengah
arus globalisasi yang diharapkan dengan pemahaman yang baik serta mendalam,
muncul pola sikap dan kebijakan yang tepat ketika merespon ekses-eksesnya.
3. Faktor kemampuan pemuda untuk memperkuat jaringan kerjasama yang saling
menguntungkan serta sinergitas dengan berbagai komponen strategis dalam
globalisasi, khusus dengan kalangan elemen pemuda dunia dari berbagai mancanegara
baik di tingkat regional maupun internasional untuk bersama-sama merumuskan dan
mengimplementasikan agenda bersama.[10]
1. IV. KESIMPULAN
Nasionalisme adalah sebuah paham yang direalisasikan dalam sebuah negara yang
mendambakan kepentingan bersama, yaitu kepentingan bangs (nation), walaupun merek
terdiri dari masyarakat yang majemuk. Wujud Nasionalisme warga negara Indonesia
sebelum kemerdekaan diantaranya banyak terbentuknya organisasi nasionalisme seperti Budi
Utomo, Sarekat Islam, Partai Nasional Indonesia (PNI), Indische Partij, Muhammadiyah,
Kelompok Katolik lahir Indiche katholieke Partij (IKP), Nahdlotul Ulama, Kongres pemuda
dan Sumpah pemuda, Partai Indonesia Organisasi pemuda dan kepanduan.
Wujud nasionalisme rakyat Indonesia setelah kemerdekaan yaitu: Peristiwa pertempuran
tanggal 10 November 1945 di Surabaya, peristiwa Bandung Lautan Api, Palagan Ambarawa,
Konferensi Linggar Jati, Konferensi Renville, serta KMB, upaya penanggulangan
pemberontakan dari dalam negeri seperti: DI/ TII, PRRI/ Permesta, RMS baik Belanda
maupun para pemberontak, tahun 1963 Soekarno menentang pembentukan Negara Federasi
Malaysia. Selain itu juga dapt berupa Nasionalisme kaum muda pasca kemerdekaan 1945, era
reformasi, Penegakan hukum dan HAM sebagai realitas simbolik, Sparatisme dengan topeng
agama ,Demokrasi, civil society dan pluralitas: civilian politics yang masih tertunda, serta
Tantangan global dan kepemimpinan kaum muda.
1. V. PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami buat. Kami menyadari dalam penulisan makalah ini
masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang konstruktif
sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini
dapat memberikan sedikit manfaat bagi pembaca pada umumnya dan pemakalah pada
khususnya. Amin.
DAFTAR PUSTAKA

Maschan Moesa, Ali. Nasionalisme Kyai. Jogjakarta: LKIS. 2007
Suhartono. Sejarah Pergerakan Nasional. Jogjakarta: Pustaka pelajar. 2001.
Syam, Firdaus. Membangun Peradaban Indonesia.Jakarta: Gema Insani. 2009.
Wahidin, Samsul. Pokok-pokok Pendidikan Kewarganegaraan. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
2010

[1] Ali Maschan Moesa, Nasionalisme Kyai, Jogjakarta: LKIS, 2007. Cet. I hlm. 28-29
[2] Ibid, hlm. 35
[3] Ibid, hlm. 35
[4]Ibid, hlm. 36
[5] Suhartono, Sejarah Pergerakan Nasional, jogja: pustaka pelajar, 2001. Cet. II hlm. 29-39
[6] Ali Maschan Moesa, Op. Cit,hlm. 37
[7] Samsul Wahidin, Pokok-pokok Pendidikan Kewarganegaraan, (Jogjakarta: Pustaka
Pelajar, 2010), cet. I, hlm. 174-176
[8] Firdaus Syam, Membangun Peradaban Indonesia, (Jakarta: Gema Insani, 2009), hal. 105-
108
[9] Ali Maschan moesa, Nasionalisme Kiai, Jogjakarta: LKIS, 2007. Cet. I hlm. 247-260
[10] Firdaus Syam,Op. Cit, hal. 110