Anda di halaman 1dari 4

Pendidikan Cerdas Perpustakaan Memadukan Tiga Kecerdasan (IQ,EQ,SQ) Posted by:

Pemustaka on 24 July 2012 in Artikel Perpustakaan Leave a comment PENDIDIKAN


CERDAS PERPUSTAKAAN; MEMADUKAN TIGA KECERDASAN (IQ,EQ,SQ)
MEMBANGUN MASYARAKAT CINTA PERPUSTAKAAN YANG BERKARAKTER A.
Pendahuluan Sejak 1945 bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya, terlepas dari
belenggu penjajahan asing. Dalam tujuan pendirian negara, bangsa ini memilik harapan besar
untuk tercapainya perlindungan segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, kemajuan dan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan perdamaian. Akan tetapi, sudah
64 tahun negeri ini merdeka, cita-cita tersebut serasa masih jauh dari harapan. Betapa banyak
pulau-pulau yang telah kita lepaskan. Tidak hanya Sipadan dan Ligitan tetapi banyak pulau
lain lepas gara-gara tidak bernama. Keadaan masyarakat saat ini sedang dilanda kemiskinan,
kebodohan dan krisis karakter, sebagai cara mengatasi itu adalah ilmu pengetahuan yang
cukup untuk bekal kehidupan artinya peran perpustaan disini dituntut untuk memperengkap
koleksi dan buku-buku khazanah ilmu terapan. Namun apa kenyataan yang berada di
lingkungan sekitar kita, perpustakaan dilingkungan masyarakat kurang diperhatikan
pemerintah seperti Perpustakaan Masjid Baiturrahmad Pringgodani Mrican Caturtunggal
Depok Sleman Yogyakarta terdapat taman bacaan namun koleksi yang ada di perpustakaan
itu amatlah kuno tahun 1970 an, dengan keadaan seperti ini apakah bisa cita-cita bangsa
kita terwujud?. Dengan keadaan ituah perpustakaan sangat berperan dalam mendukung cita-
cita negara Indonesia, yaitu terera daam UUD 1945 mencerdaskan kehidupan bangsa
dengan membentuk karakter budaya membaca di lingkungan masyarakat dan menanamkan
budaya membaca sejak awal pendidikan, maka dari permasalahan diatas maka disini saya
menggangkat judul: Pendidikan Cerdas Perpustakaan; Memadukan Tiga Kecerdasan
(IQ,EQ,SQ) Membangun Masyarakat Cinta Perpustakaan Yang Berkarakter B. Pengertian
Karakter Menurut Simon Philips dalam Buku Refleksi Karakter Bangsa (2008:235), karakter
adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap,
dan perilaku yang ditampilkan. Pendapat lain berasal dari Doni Koesoema A (2007:80) yang
menganggap bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri
atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-
bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan juga bawaan
seseorang sejak lahir. Hal yang selaras disampaikan dalam Buku Refleksi Karakter Bangsa
(2008:233) yang mengartikan karakter bangsa sebagai kondisi watak yang merupakan
identitas bangsa. Imam Ghozali menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlaq,
yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri
manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi. Winnie yang juga dipahami oleh
Ratna Megawangi, menyampaikan bahwa istilah karakter diambil dari bahasa Yunani yang
berarti to mark (menandai). Istilah ini lebih fokus pada tindakan atau tingkah laku. Ada dua
pengertian tentang karakter. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku.
Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut
memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka
menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter
erat kaitannya dengan personality. Seseorang baru bisa disebut orang yang berkarakter (a
person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral. Sedangkan definisi
karakter menurut Victoria Neufeld & David B. Guralnik yang dikutip oleh I Gede Raka
adalah distinctive trait, distinctive quality, moral strength, the pattern of behavior found in an
individual or group. Kamus Besar Bahasa Indonesia belum memasukkan kata karakter, yang
ada adalah kata watak yang diartikan sebagai: sifat batin manusia yang mempengaruhi
segenap pikiran dan tingkah laku; budi pekerti; tabiat. Dari pendapat di atas disimpulkan
bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan netral. Jadi,
orang berkarakter adalah orang yang mempunyai kualitas moral (tertentu) positif. Dengan
demikian, pendidikan membangun karakter, secara implisit mengandung arti membangun
sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau
yang baik, bukan yang negatif atau yang buruk. Hal ini didukung oleh Peterson dan
Seligman, dalam Gedhe Raka (2007:5) yang mengaitkan secara langsung character strength
dengan kebajikan. Character strength dipandang sebagai unsur-unsur psikologis yang
membangun kebajikan (virtues). Salah satu kriteria utama dari character strength adalah
bahwa karakter tersebut berkontribusi besar dalam mewujudkan sepenuhnya potensi dan cita-
cita seseorang dalam membangun kehidupan yang baik, yang bermanfaat bagi dirinya dan
bagi orang lain. C. Mewujudkan Masyarakat Cerdas Perpustakaan Yang Berkarakter; Peran
IQ, EQ, dan SQ 1. IQ (Intelectual Quention) Hakikat pendidikan Ada ungkapan yang
menyatakan bahwa harapan besar masyarakat terletak pada karakter tiap individu. Ungkapan
ini bila diartikan secara lebih luas mengandung makna bahwa tiap individu berperan dalam
pembangunan peradaban. Hal ini karena masyarakat sendiri terdiri dari individu sehingga
untuk membangun masyarakat, peran tiap individu sangat dibutuhkan. Di dalam
lingkungannya, individu dituntut untuk beradaptasi. Adaptasi yang dilakukan oleh manusia
ini akan membentuk peradaban, sesuatu yang membedakan manusia dengan makhluk hidup
lainnya. Peradaban ini berupa sistem-sistem simbolik (matematika, bahasa, musik), budaya,
serta aturan-aturan sosial yang dibuat oleh manusia dan mengarahkan tingkah laku manusia
dalam beradaptasi dengan lingkungannya yang dalam arti yang sangat luas adalah dunianya.
Vygotsky (dalam Miller, 1999) dalam perkembangan dan adaptasi manusia dalam lingkungan
tempat tinggalnya, fungsi kognisi manusia berperan di dalamnya. Pengendalian kognisi
manusia ini diatur dalam suatu fungsi mental yang disebut sebagai higher mental function.
Higher mental function ini berkembang melalui proses internalisasi, dimana hal-hal yang ada
di luar individu menjadi bagian dari individu itu sendiri. Hal yang diinternalisasi oleh
manusia adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk hidup dan internalisasi ini mampu terjadi bila
individu di masa awal hidupnya mendapatkan guidance dari orang-orang di sekitarnya.
Guidance inilah yang termanifestasikan dalam pendidikan. Salah satu bentuk yang harus di
kembangkan adalah berkarya dan menciptakan hal-hal yang baru dalam peradapan
(matematika, bahasa, musik). Untuk itulah, dalam pendidikan formal, upaya pengenalan
terhadap budaya, watak dan karakter budaya membaca harus terus menerus di kembangkan.
Di perguruan tinggi misalnya, universitas harus mampu menunjukkan wajah baru sebagai
pusat penelitian dan pengabdian masyarakat. Dari sisi IQ, upaya ini merupakan cara jitu
untuk meningkatkan kemampuan otak manusia dalam mencipta. Budaya mencipta inilah
yang masih asing ditelinga masyarakat Indonesia. Ini dikarenakan, masyarakat umumnya
hanya menerima bukan membuat. Kondisi semacam ini yang seharusnya di ubah. IQ adalah
penunjang utama yang menggerakkan keberhasilan manusia, termasuk dalam daya cipta
budaya membaca dan menulis. Sayangnya, dari 10 % kemampua otak, manusia baru
mengunakan 3%. Seandainya mampu memanfaatkan 6% saja dari kemampuan tersebut,
sudah pasti akan lebih genius dari Einstein. Memaksimalkan kekuatan IQ memang menjadi
konsekuensi dalam menciptakan masyarakat yang berkarakter budaya membaca di Indonesia.
Dengan demikian, harus mengikutsertakan manusia yang kreatif. Mengenai kreatifitas,
seorang sastrawan, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) pernah menulis bahwa kreatifitas bukan
ditentukan masyarakat, tetapi individu itu sendiri. Disamping itu untuk menciptakan individu
yang kreatif, sikap hidup juga meski diubah. Salah satunya STA mrnyinggung bahwa budaya
orang melayu yang terlalu halus, membuat mereka terkesan menjadi lemah. Lebih jelas
dikatakan, kita harus mengubah orientasi estetis itu menjadi orientasi progresif. Jalan ini tak
lain adalah pendidikan segala bidang. Selain itu, manusia Indonesia juga harus dibentuk
untuk mempunyai rasa percaya diri dan berdaulat. Dua hal ini yang secara psikologis akan
mendukung munculnya sikap progresif. Sikap progesif ditunjukan dengan aktif dalam
berkarya. Sebagai makhluk pemikir, manusia harus terus menerus diarahkan untuk
menyingkap rahasia dunia baru serta meghargai hasil pemikiran karya anak bangsa. Ini
penting. Mengapa Indonesia miskin pustakawan yang secara konsep mengabdikan dirinya
terhadap cerdas perpustakaan?, ini salah satunya adalah disebabkan rendahnya penghargaan
terhadap pustakawan Indonesia. Tidak heran, mereka banyak yang alih profesi, hal ini senada
dengan kurang minatnya siswa SMA yang masuk kedalam jurusan ilmu perpustakaan
Universitas Isam Negeri Yogyakarta. Kondisi ini harus segera disikapi. IQ adalah alat
pencipta budaya membaca yang bukan hanya berharga, tetapi sekaligus butuh penghargaan.
2. EQ (Emotional Quetion) EQ pertama diperkenalkan oleh Daniel Goleman. Dia
menganalisis perang di Jerman. Sebuah tetis diajukan dengan mengatakan bahwa Jerman
sebagai negara dengan IQ tertinggi di dunia, berbanding lurus dengan kekejamannya di
dunia. Apakah ini yang dinakaman kecerdasan?, demikian dia berpendapat. Goleman
Kemudian berpendapat bahwa IQ saja tidak cukup, untuk memberi label bahwa seseorang
dikatakan cerdas. Ada satu komponen yang belum tersentuh, yakni emosi (EQ). Inti dari EQ
adalah bahwa manusia harus punya kekuatan batin dan hati dalam rangka mengelola emosi
dan membangun relasi positif. Berkaitan dengan cerdas perpustakaan, pandangan jangan
hanya diarahkan pada produk perpustakaan yang berbentuk fisik, tetapi juga perpustakaan
yang berbentuk non fisik yang berhubungan dengan manusia sebagai pencipta dan
menjalankan perpustakaan itu sendiri. Perlu diingat bahwa perpustakaan mengandung nilai
filsafah hidup, orientasi, sikap, dan identitas. Dalam penjabaran yang lebih konteks, filsafah
hidup mengajarkan manusia untuk bisa selaras dengan lingkungan. Menurut Umar Khayam,
mapan keselarasan akan mendukung kemapanan dunia dan filsafah yang menyatu dalam
hidup manusia. Keselarasan akan menghindarkan kerusakan. Demikian dengan pendidikan
EQ hendaknya mempelajarkan sikap budaya membaca dan menimbulkan niatan
keperpustakaan yang menjadikan manusia mengerti akan arti hidup dan kehidupan. Orientasi
mengarahkan pada perubahan yang lebih baik dalam kehidupan manusia yang didukung
sikap peka dan terbuka terhadap perubahan. Sedangkan identitas adalah pembentukan budaya
yang mengukuhkan nilai-nilai lokal masyarakat. Kepekaan sosial hanya dapat dibangun
ketika manusia memiliki sikap simpatik dan empatik dengan lingkungan sekitar. Inilah yang
sebenarnya dikembangkan dalam EQ. Dengan bangunan yang kuat dari kekuatan EQ itulah,
manusia akan berjalan secara manusiawi dan selaras dengan lingkungan. Gabungan yang kuat
antara emosi, cipta, dan karya, akan membentuk masyarakat sadar pentingnya budaya
membaca dan perpustakaan, sekaligus mampu mengimplementasikan secara cerdas. 3. SQ
(Spiritual Quetion) SQ dikembangkan melalui penelitian mendalam oleh Danah Zohar pada
tahun 1932, sehingga tercipta buku 7 Habits oleh Stephen Covey. Inti SQ adalah bagaimana
manusia mampu memaknai apa yang dikerjakan dan dihasilkan. Dengan demikian, akan
terwujud sebuah empati yang beralas pada titik pribadi manusia sebagai makhluk ciptaan
Tuhan. Inilah yang dinamakan titik kulminasi Tuhan atau dikenal dengan nama God Spod.
Taufik pasiak menuliskan, Luar biasa bagi yang bersih hatinya, titik tuhan ini akan kelihatan
bersinar. Dalam era globalisasi ini agama selalu dikesampingkan bahkan nyaris
ditinggalkan. Selain itu, manusia saat ini melakukan tindakan yang anarkis dengan alasan
agama, suku, ataupun budaya. Tak lagi menghiraukan budaya gotong royong yang dijunjung
negara sejak dahulu dan tak menghiraukan keragaman adalah anugrah dari Tuhan. Kondisi
yang semacam ini sebenarnya menjadi bahaya terhadap masa depan negara dan manusia.
Kedamaian tak akan terwujud jika manusia tak bisa menghormati satu sama yang lainnya,
STA sebenarnya pernah mengingatkan dengan menuliskan, Karena agama bersifat ritual
rasio lalu mendepaknya. Agama dan rasio berjalan sendiri-sendiri. Setelah berjalan lama
sekali, jiwa manusia menjadi kosong, nilai-nilai itu membatu dan kering. Nilai-nilai
kehidupan yang kering tersebut, harus disuburkan kembali dengan kembali kepada titik
Tuhan sebagai pengendali segalanya. Manusia dan Tuhan tak bisa dipisahkan, demikian
dengan imu pengetahuan yang bersumber dari ide, tak akan bisa muncul tanpa bimbingan
Tuhan. Manusia terkadang tidak menyadari karena begitu kuatnya dorongan akal, tetapi titik
Tuhan betapapun kecil akan tetap terlihat. Inilah kekuatan agama yang memberikan daya
spiritual kepada manusia dan ciptaannya. Dengan melihat betapa mudahnya manusia jatuh
dalam lubang kerusakan, maka agama tetap harus menjadi counter dalam menciptakan
masyarakat yang sadar akan karakter kebiasaan membaca di Indonesia ini. perpustakaan
dimaknai bukan semata-mata perpustakaan dalam golongan sempit saja, tetapi didalam
perpustakaan, terkandung misi penyelamatan bumi, negara dan manusia. Dalam Islam, ini
sesuai dengan tugas manusia yakni sebagai pemimpin memakmurkan bumi, maka dengan
demikian pembangunan bangsa yang cerdas perpustakaan, keragaman, dan berkarakter
budaya membaca akan dapat terwujud. D. Kesimpulan Penerapan pendidikan cerdas
perpustakaan; memadukan tiga kecerdasan (IQ, EQ, SQ) membangun masyarakat cinta
perpustakaan yang berkarakter secara benar, menjadi syarat utama dalam upaya mewujudkan
masyarakat cerdas perpustakaan. Sebaliknya, pengunaan cerdas perpustakaan yang tidak
benar, justru menyebabkan kerusakan terhadap manusia dan lingkungannya. Untuk itulah
diperlukan dukungan secara psikologis dari manusia yang tertuang dalam tiga kecerdasan:
IQ, EQ, dan SQ. IQ adalah penunjang utama yang menggerakkan keberhasilan manusia,
termasuk dalam daya cipta konsep perpustakaan. Dengan pembangunan yang kuat dari EQ,
perpustakaan akan berjalan secara manusiawi dan selaras dengan lingkungan. Sedangkan
dalam SQ terkandung makna bukan semata-mata perpustakaan dalam golongan sempit saja,
tetapi didalam perpustakaan, terkandung misi penyelamatan bumi, negara dan manusia. E.
Saran Saran yang dapat dimunculkan diantaranya adalah: 1. Penerapan pendidikan karakter
budaya membaca sejak dini. 2. Peningkatan pelayanan perpustakaan masyarakat. 3.
Penambahan koleksi buku-buku khasanan ilmu terapan. 4. Pembelajaran peningkatan (IQ,
EQ, dan SQ). F. Kepustakaan Christopher Paterson and Martin E.P. Seligman, 2004,
Character Strengths and Virtues : A Handbook and Classification, Oxford University Press.
Doni Koesoema A. (2007). Pendidikan Karakter, Strategi Mendidik Anak di Zaman Global.
Jakarta: Grasindo. Gede Raka. 1997. Makalah Seminar Nasional Pendidikan Karakter di
Universitas Negeri Yoyakarta. Pendidikan Membangun karakter. Guru Besar, Fakultas
Teknologi Industri, Institut TeknologI Bandung. Hernowo, 2007, Melejitkan Kemampuan
Otak, Bandung:Mizan. Kompas, 27 Juni 2009, 10 Obyek Ilmiah Yang Mengubah Dunia.
Mochtar Lubis, Rebut Kembali Rasa Percaya Diri Kita Prisma. Reni Nuryanti, 2009, Cerdas
Berteknologi Dalam Mengunakan Teknologi. Alumnus program Paskasarjana UGM, Jurusan
Sejarah. Dalam Makalah Lomba Karya Tulis Bappeda sleman Yogyakarta. Reni Nuryanti,
Januari 2009, Triple Question Method; Alternatif Mewujudkan Pemimpin Cerdas dan
Visioner. Pewara Dinamika. Sultan Takdir Alisjahbana, 1984 No 11, Terlalu Halus, Itulah
Kelemahan Kita, Prisma. Taufik Pasiak, 2003, Rahasia Kekuatan IQ, EQ dan SQ, Bandung:
Mizan. Umar Khayam, Maret 1987 Keselarasan dan Kebersamaan; Suatu Penjelajahan
Awal. Umi Puji Lestari, 2009. Makalah Panduan OSPEK Mahasiswa Baru Universitas
Negeri Yogyakarta tahun 2009.Pendidikan Dalam Membangun Bangsa Indonesia Yang
Berkarakter Direktur Education Center Badan Ekxsekutif Mahasiswa Universitas Negeri
Yogyakarta Republik Mahasiswa Seluruh Indonesia. Victoria Neufeld (Editor in Chief) &
David B. Guralnik (Editor in Chief Emeritus), 1991, Webster New World Dictionary, Third
College Edition Prentice Hall. Wuryadi, 2009. Pendidikan Untuk membangun Bangsa dan
Wataknya. Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta. Y.B. Mangunwiaya, 1985, Tantangan
Berat Akibat Teknologi. Prisma. Yustisia Rachman, Rimas Kautsar, Fitri Arlinkasari, 2007,
Pusgerak BEM UI. Penulis: Teguh Wiyono

Sumber: http://www.pemustaka.com/pendidikan-cerdas-perpustakaan-memadukan-tiga-
kecerdasan-iq-eq-sq.html