Anda di halaman 1dari 26

19 Oktober, 2010

Mineral Tanah Jarang


Tanah
jarang memegang peranan yang sangat penting dalam kebutuhan material produksi modern
seperti dalam dunia superkonduktor, laser, optik elektronik, glass dan keramik. Untuk memenuhi
kebutuhan material produksi tersebut, keperluan tanah jarang dari tahun ke tahun terus
meningkat. Jadi pada konteks ini, di lingkungan perlu di tingkatkan tindakan pencegahan dan
dengan demikian penting prosedur analisis yang sensitif untuk pengukuran tanah jarang dalam
tanah menjadi semakin penting. Di dalam mineral, unsur tanah jarang mempunyai sifat kimia
dan fisik yang mirip sehingga penentuan tanah jarang tanpa pemisahan sangat sulit untuk
dilakukan.
Penelitian ini difokuskan pada pengukuran unsur tanah jarang sampel monasit dan senotim yang
diperoleh dari limbah pertambangan dengan menggunakan instrumen inductively coupled
plasmas optical emission spectrometry (ICP-OES) yang dilengkapi dengan detektor charge
coupled device (CCD), dimana sebelumnya memakai microwave untuk membantu destruksi
sample dan mengeluarkan efek matrik dengan mempergunakan kolom resin penukaran ion basa
kuat DOWEX AG 1 W-X8.
Unsur tanah jarang (UTJ) banyak kegunaannya dalam industri berteknologi tinggi, dan
sumbernya cukup banyak tersedia di Indonesia termasuk yang ada di Pulau Bangka dan Pulau
Belitung, terdapat terutama sebagai mineral monasit dan senotim dalam tailing penambangan
timah. Penelitian pendahuluan ini bertujuan akhir untuk mengembangkan metode pemisahan dan
analisis UTJ ringan dengan kromatografi cair melalui pembentukan kompleks dengan
dibutilditiofosfat (DBDTF) dan dibutilditiokarbamat (DBDTK), sebagai senyawa pembentuk
kompleks baru bagi unsur-unsur tersebut. Untuk itu telah dipelajari retensi senyawa-senyawa
kompleks tersebut pada sistem-sistem kromatografi dengan kolom polar dan non-polar.
Penelitian meliputi pembuatan kedua ligan, pembentukan dan ekstraksi senyawa-senyawa
kompleks UTJ-ligan, pengamatan sifat retensi, percobaan pemisahan, dan aplikasi metode yang
dikembangkan untuk pemisahan UTJ dalam sampel mineral. Hasil-hasil penelitian menunjukkan
bahwa unsur-unsur serium, lantanum, praseodimium, dan neodimium dapat dipisahkan satu dari
yang lainnya sebagai senyawa kompleks dibutilditiokarbamat dengan kromatografi cair kinerja
tinggi (KCKT) menggunakan kolom C18, fasa gerak campuran metanol-asetonitril pada laju alir
0,75 mL/menit, dan deteksi eluat menggunakan detektor ultraviolet pada 210 nm. Sementara itu
pada penggunaan ligan dibutilditiofosfat, kolom kromatografi yang sama dengan fasa gerak
campuran biner kombinasi metanol-asetonitril atau metanol-air, dari empat unsur yang diteliti
hanya serium yang mengalami retensi. Walaupun demikian penggunaan dibutilditiofosfat lebih
memudahkan dan menyederhanakan pemisahan dan analisis serium, yang merupakan komponen
utama dalam sampel monasit, secara kromatografi cair, karena tingginya resolusi antara serium
dengan unsur-unsur yang diteliti lainnya. Penelitian-penelitian tentang pemisahan, analisis, dan
pemurnian UTJ dengan menggunakan metode kromatografi cair dengan kolom penukar ion dan
kolom fase terbalik melalui pembentukan pasangan ion atau kompleks.
Di Indonesia, mineral monasit yang banyak tersedia berupa hasil samping industri tambang
timah, belum diolah lebih lanjut untuk memperoleh unsur-unsur tanah jarang murni, karena
penguasaan kita tentang teknologinya masih perlu ditingkatkan dan dimantapkan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengembangkan metode pemisahan dan pemurnian unsur-unsur yang bernilai
ekonomis tinggi ini dalam usaha memenuhi kebutuhan sendiri, antara lain untuk
mengembangkan material superkonduktor. Makalah ini menguraikan hasil penelitian tersebut
untuk memisahkan dan memurnikan unsur-unsur tanah jarang yang terkandung dalam monasit
dengan metode ekstraksi melalui pembentukan kompleks dengan ligan baru,
dibutilditiokarbamat. Penelitian yang telah dilakukan meliputi proses pelarutan melalui destruksi
sampel monasit, penyiapan untuk memperoleh campuran unsur tanah jarang total, pemisahan
serium dengan metode oksidasi dan pengendapan, kajian proses ekstraksi, yang dilanjutkan
dengan pemurnian secara ekstraksi menggunakan ligan tersebut di atas. Dengan menggunakan
metode oksidasi dan pengendapan sebagai proses pra-pemisahan, telah diperoleh produk serium
pada skala kilogram dengan kemurnian antara 70-75% dan rendemen 60%, yang kemudian
dimurnikan lebih lanjut dengan metode ekstraksi dengan dibutilditiokarbamat untuk memperoleh
serium pada skala fraksi kilogram dengan kemurnian mendekati 100% dan efisiensi ekstraksi
antara 80-100%. Logam tanah jarang (LTJ) itu sebenarnya bukan unsur yang langka di kerak
bumi. Jumlahnya bisa mncapai 200x lipat jumlah emas di bumi. Bahkan kelimpahannya itu mirip
dengan logam-logam lain yg sering dipake di industri, macam besi, nikel, kobalt, tembaga, dll.
Mengapa logam2 ini dinamakan logam tanah jarang?
meskipun banyak di kerak bumi, dia jarang berada dalam bentuk senyawa murni. Pasti dalam
bentuk mineralnya (persenyawaan dengan fosfat, karbonat, dll). Orang jaman dulu tidak tahu
cara memisahkan LTJ dari senyawa-senyawa itu dr mineralnya, makanya dinamakan unsur
tanah jarang. Bukan karena kelimpahannya yang jarang
Logam tanah jarang dalam sistem periodik unsur (SPU) berada pada deret Lantanida mulai dari
La-Lu,


Di Indonesia kita punya 2 jenis mineral yang mengandung LTJ ini. Nama mineralnya monasit
dan senotim Monasit dan senotim ini di Indonesia adanya di sepanjang pantai kepulauan Bangka,
Belitung, Singkep, sama di Rirang Kalbar. Selain dalam bentuk pasir, mineral ini di Bangka sana
terdapat sebagai sisa penambangan timah
Praseodinium
Sejarah
Pada tahun 1841, Mosander mengekstrak tanah jarang didymia dari lantana; pada tahun 1879,
Lecoq de Boisbaudran mengisolasi tanah baru, samaria, dari didymia yang didapat dari mineral
samarskit. Enam tahun kemudian, pada tahun 1885, von Welsbach memisahkan didymia
menjadi dua komponen, praseodymia dan neodymia, yang memberikan senyawa garam dengan
warna yang berbeda. Sebagaimana unsur tanah jarang lainnya, senyawa unsur ini dalam larutan
meiliki garis atau pita spektrum absorsi yang cukup nyata dan tajam, hanya sedikit saja yang
lebarnya hanya beberapa angstrom.
Sumber
Praseodimium terdapat bersamaan dengan unsur tanah jarang dalam berbagai mineral. Monazit
dan bastnasit adalah sumber komersial yang utama untuk logam tanah jarang. Logam ini baru
dapat dihasilkan dalam kondisi relatif murni pada tahun 1931.
Produksi
Tekhnik ekstraksi pelarut dan pertukaran ion telah mengarah pada isolasi yang lebih mudah
untuk unsur tanah jarang, sehingga biaya pun bisa ditekan pada beberapa tahun terakhir.
Praseodimium dapat dibuat dengan beberapa metode, seperti reduksi kalsium terhadap senyawa
praseodimium korida atau florida anhidrat.
Kegunaan
Logam alloy alam, digunakan sebagai pemantik rokok, mengandung logam praseodimium
sebanyak 5%. Oksida unsur tanah jarang, termasuk Pr
2
O
3
adalah di antara zat yang paling
banyak dihasilkan. Bersamaan dengan unsur tanah jarang lainnya, praseodimium digunakan
bahan inti pada busur bunga api karbon yang digunakan dalam industri pembuatan film untuk
penerangan studio dan proyeksi. Garam praseodimium digunakan untuk mewarnai kaca dan
enamel; ketika dicampur dengan bahan tertentu lainnya, praseodimium menghasilkan warna
kuning bersih yang kuat dan tidak lazim pada kaca. Kaca didymium, yang mana praseodimium
adalah penyusunnya, adalah pewarna untuk pelindung mata tukang las.
Sifat-sifat
Praseodimium lunak, seperti perak, mudah ditempa. Lebih resisten terhadap korosi dalam udara
daripada europium, lantanum, cerium atau neodium, tapi unsur ini membentuk lapisan oksida
hijau yang mengelupas bila terpapar dengan udara. Seperti unsur tanah jarang lainnya, unsur ini
harus disimpan terlindung dari sinar matahari, dalam minyak mineral atau plastik bersegel.

OPTIMASI PEMISAHAN UNSUR TANAH JARANG DARI MINERAL MONASIT
DENGAN METODE SOLVENT IMPREGNATED RESIN (SIR)
OPTIMATION SEPARATION OF RARE EARTH ELEMENTS FROM MONAZITE
MINERALS WITH SOLVENT IMPREGNATED RESIN (SIR) METHODE

Banyaknya kegunaan Logam Tanah Jarang (LTJ) saat ini, telah memicu pengembangan metode
pemisahan baru. Pengembangan tersebut umumnya didasarkan pada metode ekstraksi cair-cair.
Namun metode tersebut masih terbatas pada skala laboratorium. Metode pemisahan terbaru yang
dapat diterapkan dalam skala industri adalah metode Solvent Impregnated Resin (SIR). Pada
metode SIR, ligan pengekstrak diamobilkan pada suatu polimer resin yang netral melalui ikatan
Van der Waals. Pada penelitian ini dilakukan optimasi SIR dan pemisahan LTJ dengan non LTJ
mineral monasit. Uji kinerja SIR meliputi uji kapasitas dan stabilitas SIR. Kondisi terbaik
pemisahan LTJ diperoleh dengan menggunakan ligan pengekstrak campuran TBP dan D2EHPA
1:3, pH fasa umpan 3,2; laju alir fasa umpan 1 mL/menit, dan konsentrasi eluen HCl 1 M. Pada
kondisi ini LTJ dapat dipisahkan dengan baik.
Logam tanah jarang
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah
dirapikan, tolong hapus pesan ini.
Logam tanah jarang (LTJ) merupakan unsur yang terletak di dalam golongan lantanida dan
termasuk tiga unsur tambahan yaitu Yttrium, Thorium dan Scandium . unsur yang termasuk
dalam logam tanah jarang adalah sebagai berikut:
Symbol Nama Unsur No Atom Symbol Nama Unsur No Atom
Y Yttrium 39 Gd gadolinium 64
Sc Scandium 21 Tb terbium 65
La Lanthanum 57 Dy dysprosium 66
Ce Cerium 58 Ho holmium 67
Pr Praseodymium 59 Er erbium 68
Nd neodymium 60 Tm thulium 69
Pm promethium 61 Yb ytterbium 70
Sm Samarium 62 Lu lutetium 71
Eu Europium 63 Th Thorium 90
Table 1 Nama-nama Unsur Logam Tanah Jarang
Pemasukkan yttrium, torium dan skandium ke dalam golongan logam tanah jarang dilakukan
dengan alasan kesamaan sifat.
Logam tanah jarang tidak ditemukan di bumi sebagai unsur bebas melainkan dalam bentuk
senyawa kompleks karbonat ataupun fosfat.

Daftar isi
[sembunyikan]
1 Sejarah
2 Sumber
o 2.1 Aplikasi logam tanah jarang
o 2.2 Peluang logam tanah jarang
3 Sifat-sifat umum
o 3.1 Valensi yang beragam
o 3.2 Sifat magnetik dan spektra
o 3.3 Bilangan Koordinasi dan Stereokimia
4 Keberadaan dan cara mengisolasinya
o 4.1 Sc, La, Y, & Tm
o 4.2 Promethium, Europium
o 4.3 Cerium
o 4.4 Unsur yang lebih ringan nomor massanya
5 Keadaan trivalensi
o 5.1 Oksidasi dan Hidroksida
o 5.2 Halida
o 5.3 Ion akuo, Garam okso dan Kompleks
6 Keadaan tetravalensi
7 Keadaan divalensi
8 Referensi
[sunting] Sejarah
Sesuai namanya, unsur-unsur ini jarang ditemukan di bumi. Jika ditemukan selalu dalam jumlah
yang sangat kecil. Kelompok logam ini pertama kali ditemukan pada tahun 1787 oleh seorang
letnan angkatan bersenjata Swedia bernama Karl Axel Arrhenius. Ia mengumpulkan mineral
hitam ytteribite dari penambangan feldspar dan quartzkuarsa di dekat Desa Ytterby, Swedia.
Kemudian, mineral ini berhasil dipisahkan oleh J. Gadoli pada tahun 1794, dengan memperoleh
mineral Ytterbite. Selanjutnya, nama mineral tersebut diganti menjadi Gadolinite.
Penemuan unsur baru ini, tentunya memicu penelitian yang membuahkan penemuan unsur-unsur
logam tanah jarang lain.
Tahun 1804 Klaproth dan rekan-rekannya menemukan ceria yang merupakan bentuk oksida dari
Cerium.
Tahun 1828, Belzerius memperoleh mineral thoria dari mineral thorite
Tahun 1842 Mosander memisahkan senyawa bernama yttria menjadi tiga macam unsur melalui
pengendapan fraksional menggunakan asam oksalat dan hidroksida. Unsur tersebut adalah
Yttria, Terbia dan Erbia.
Tahun 1878, berkat petunjuk M. Delafontaine, Boisbaudran mampu memperoleh samarium.
Tahun 1885, Welsbach memisahkan praseodymium dan neodymium yang terdapat pada
samarium.
Tahun 1886, Boisbaudran memperoleh gadolinium dari mineral Ytterbia yang diperoleh J.C.G de
Marignac tahun 1880
Pada 1907 dari Ytterbia yang diperoleh Marignac, L. de Boisbaudran mampu memisahkan
senyawa tersebut menjadi Neoytterium dan Lutecium. P.T. Cleve mampu memisahkan tiga
unsur dari erbia dan terbia yang dimiliki Marignac. Ia memperoleh Erbium, Holminium dan
Thulium. L. De Boisbaudran, mampu memperoleh unsur lain bernama Dysporsia
[sunting] Sumber
Logam tanah jarang tidak ditemukan berupa unsur bebas dalam lapisan kerak bumi (earths
crust). Namun ia berbentuk paduan membentuk senyawa kompleks. Sehingga logam tanah jang
harus dipisahkan terlebih dahulu dari senyawa kompleks tersebut. rare earth elemen yang harus
dipisahkan terlebih dahulu.
Secara umum, rare earth ditemukan dalam bentuk senyawa kompleks phospat dan karbonat. Di
bawah ini adalah beberapa contoh mineral logam tanah jarang yang ditemukan di alam.

o Bastnaesite (CeFCO
3
). Merupakan sebuah fluoro-carbonate cerium yang mengandung
6070% Oksida logam tanah jarang seperti Lanthanum and Neodymium. Mineral
bastnaesite merupakan sumber logam tanah jarang yang utama di dunia. Bastnaesite
dtemukan dalam batuan cabonatite, dolomite breccia, pegmatite dan amphibole skarn.
o Monazite ((Ce,La,Y,Th)PO
3
) Merupakan senyawa phospat logam tanah jarang yang
mengandung 50-70% Oksida LTJ. Monasite diambil dari mineral pasir berat yang
merupakan hasil samping dari senyawa logam berat lain. Monasite memiliki kandungan
thorium yang cukup tinggi. Sehingga mineral tersebut memiliki sifat radioaktiv. Thorium
tersebut memancarakan radiasi berupa sinar . Sinar ini memiliki tingkat radiasi yang
rendah. Sehingga dengan menggunakan slembar kertas saja, maka akan terhindar dari
radiasi yang dipancarkan.
o Xenotime (YPO
4
) merupakan senyawa ittrium phosphat yang mengandung 54-65% LTJ
termasuk erbium, cerium dan thorium. Xenotipe juga mineral yang di temukan dalam
mineral pasir berat seperti pegmatite dan batuan leleh (igneous rocks)
o zircon, merupakan senyawa a zirconium silicate yang didalamnya ditemukan thorium,
ittrium dan cerium.
Dalam memperoleh mineral diatas, tidak bisa didapatkan dengan mudah. Karena jumlah mineral
tersebut sangat terbatas. Telebih lagi, mineral diatas tidak terpisah sendiri,tetapi ia tercampur
dengan mineral lain. Seperti contohnya pada kepulauan bangka Belitung, mineral ini merupakan
hasil samping dari penambangan timah. Sehingga sebelum memperoleh mineral di atas, maka
diperlukan proses pemisahan terlebih dahulu.
Mineral-mineral yang mendominasi dalam senyawa logam tanah jarang diatas adalah
Lanthanum, Cerium, Neodymium. Sehingga mineral ini, menjadi ekonomis untuk dilakukan
proses ekstraksi. Sehingga pemanfaatan ketiga mineral ini, sangat tinggi dibanding mineral
logam tanah jarang lainnya.

[sunting] Aplikasi logam tanah jarang
Logam tanah jarang telah banyak digunakan pada berbagai macam produk. Penggunaan logam
tanah jarang ini memicu berkembangnya material baru. Material baru dengan menggunakan
Logam Tanah Jarang memberikan perkembangan teknologi yang cukup signifikan dalam ilmu
material. Perkembangan material ini banyak diaplikasikan di dalam industri untuk meningkatkan
kualitas produk mereka. Contoh perkembangan yang terjadi pada magnet. Logam Tanah Jarang
mampu menghasilkan neomagnet, yaitu magnet yang memiliki medan magnet yang lebih baik
dari pada magnet biasa. Sehingga memungkinkan munculnya perkembangan teknologi berupa
penurunan berat dan volume speaker yang ada. Memungkinkan munculnya dinamo yang lebih
kuat sehingga mampu mengerakkan mobil. Sehingga dengan adanya logam tanah jarang,
memungkinkan munculnya mobil bertenaga listrik yang dapat digunakan untuk perjalanan jauh.
Oleh karenanya mobil hybrid mulai marak dikembangkan.
Selanjutnya aplikasi logam tanah jarang ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Aplikasi Unsur LTJ
Permintaan LTJ
2005
Pertumbuhan pemakaian Logam Tanah
Jarang
Magnet Nd, Pr, Dy, Tb, Sm 17,170 ton
motor listrik pada mobil hybrid
Power steering elektrik
Air conditioners
Generator
Hard Disk Drives
Baterai NiMH La, Ce, Pr, Nd 7,200 ton
Baterai Mobil Hybrid
Baterai Rechargeable
Auto Catalysis Ce, La, Nd 5,830 ton
Gasoline and hybrids
diesel fuel additive
Untuk peningkatan standar
emisi otomotif global
Fluid Cracking
Catalysis
La, Ce, Pr, Nd 15,400 ton
Produksi minyak
Peningkatan kegunaan
minyak mentah
Phosphors
Eu, Y, Tb, La,
Dy, Ce, Pr, Gd
4,007 tons
LCD TV dan monitor
Plasma TV
Energy efficient compact
fluorescent lights
Polishing Powders Ce, La, Pr, mixed 15,150 ton
LCD TV dan monitor
Plasma TV dan display
Silicon wafers and chips
Glass additives
Ce, La, Nd, Er, Gd,
Yb
13,590 ton
Kaca optic untuk
kamera digital
Bahan fiber optic
Table 2 Pemanfaatan Logam tanah jarang di indutri
Dalam aplikasi metalurgi, penambahan logam tanah jarang digunakan dalam pembuatan Baja
High Strength, low alloy (HSLA), baja karbon tinggi, superalloy, stainless steel. Karena logam
tanah jarang memiliki kemampuan untuk meningkatkan kemampuan material berupa kekuatan,
kekerasan dan peningkatan ketahanan terhadap panas. Cotohnya pada penambahan logam tanah
jarang dalam bentuk additif atau alloy pada paduan magnesiaum dan alumunium, maka kekuatan
dan kekerasan paduan tersebut akan meningkat dengan signifikan.
Pemanfaatan logam tanah jarang yang lain berupa pelat armor, korek gas otomatis, lampu
keamanan di pertambangan, perhiasan, cat, lem. Untuk instalasi nuklir, logam tanah jarang
digunakan dalam detektor nuklir dan pengkounter, rod kontrol nuklir.
[sunting] Peluang logam tanah jarang
Walaupun kita jarang mendengar nama logam tanah jarang, pemanfaatannya sudah sangat
banyak di dunia industri. Berbagai macam pemanfaatan dari logam tanah jarang, menyatakan
bahwa material ini merupakan material masa depan. Karena material ini menjadi pemicu
lahirnya teknologi baru yang masih akan terus berkembang seperti LCD, magnet dan baterai
hybrid. Hal ini mengakibatkan permintaan logam tanah jarang yang akan terus meningkat.
Berdasarkan penelitian pasar oleh BBC report untuk Lynas Co. menyatakan bahwa permintaan
logam tanah jarang akan terus meningkat hingga menjadi 10% pada tahun 2010 . Sehingga
industri logam tanah jarang menjadi sebuah industri yang menjanjikan yang akan terus
berkembang di masa depan.
Logam Tanah Jarang juga bersifat tidak tergantikan. Hal ini disebabkan sifat Logam Tanah
Jarang yang unik. Sehingga sampai saat ini, tidak ada material lain yang mampu
menggantikannya. Jika ada, kemampuan yang dihasilkan tidak sebaik material logam tanah
jarang. Sifat logam tanah jarang yang digunakan sebagai material berteknologi tinggi dan belum
ada penggantinya, membuat logam tanah jarang manjadi material yang vital
Negara Tiongkok merupakan produsen utama logam tanah jarang di dunia. Tahun 2005, mereka
mampu memproduksi 43,000,000 ton. Kapasitas produksi ini merupakan 50% dari produksi
logam tanah jarang dunia. Perkembangan logam Tanah jarang di China dimulai sejak tahun
1985. Saat itu, China sudah berhasil mengolah dua deposit logam tanah jarangnya. Depositnya di
bayan Obo yang megandung iron-niobium-LTJ. Sehingga setelah mereka melakukan pemisahan
besi dan niobium, maka didapatkan logam tanah jarang. Mereka mengolah Logam Tanah Jarang
tersebut sehingga dapat dimanfaatkan.
Selanjutnya, dengan produksi logam tanah jarang yang besar tersebut, China mampu mendorong
pertumbuhan teknologi industrinya. Kemudian dia mulai mendirikan industri elektronik nasional
yang dapat bersaing dengan industri elektronik luar dengan kemampuannya menggunakan
material Logam Tanah Jarang. Saat ini, China tidak hanya menguasai pasar barang elektronik
seperti komponen komputer, televisi, monitor dan handycam. Tapi hampir semua lini industri
dengan harga yang sangat kompetitif. Seperti industri baja, otomotif dan manufaktur lainnya.
Potensi besar dari logam tanah jarang tersebut akan sangat menguntungkan jika Indonesia turut
serta untuk mengembangkannya. Terlebih lagi, pasir monasite sebagai sumber logam tanah
jarang, hanya dijadikan sebagai sampah pembuangan timah. Sehingga sangat luar biasa
keuntungan yang didapat, ketika sampah dijadikan material yang jika dilakukan pemprosesan
lanjut memiliki nilai jual yang melebihi emas.
Tentunya proses pemanfaatan ini, membutuhkan bantuan dan dukungan dari pemerintah. Yaitu
dengan penetapan regulasi yang mendukung pengolahan mineral logam tanah jarang seperti
pembuatan sarana dan prasarana, perlindungan pemasaran sebagai inkubator awal industri
nasional, dan yang utama bantuan permodalan untuk pendirian industri ini. Karena pendirian
industri pertambangan yang kompetitif, memerlukan permodalan yang tinggi. Hal ini bertujuan
untuk membeli peralatan berefisiensi tinggi sehingga menurunkan biaya (cost) produksi sehingga
memiliki harga jual yang kompetitif.
Pemanfaatan logam tanah jarang ini mampu membuka Indonesia terhadap penguasaan dan
pengembangan teknologi. Terutama teknologi elektronik yang selama berpuluh-puluh tahun ini
masuk dan berkembangnya industri-industri elektronik asing selama di Indonesia, namun tidak
menghasilkan transformasi teknologi elektronik yang signifikan. Kemudian adanya ini mampu
meningkatkan kualitas industri metalurgi di Indonesia dengan dihasilkannya spesifikasi baja dan
logam paduan baru tentunya dengan kualitas yang lebih baik. Kemudian masih banyak lagi
manfaat besar yang dapat diperoleh Indonesia dari pengolahan logam ini yang mampu
meningkatkan perkembangan teknologi di Indonesia
[sunting] Sifat-sifat umum
Secara tegas, keempat belas unsur diatas mengikuti La yang mana elektron-elektron 4f
ditambahkan berurutan pada konfigurasi La. Istilah lantanida sendiri diambil dari kata unsur
lanthanum yang mana unsur-unsur yang lainnya mengikuti unsur lanthanum ini. Unsur
Lanthanum adalah prototip bagi kempat belas unsur berikutnya. Penurunan yang tajam dalam
jari-jari atom dan ion dari unsur-unsur ini disebut dengan istilah pengerutan lantanida. Unsur-
unsur lanthanida memiliki keelektropositifan yang tinggi dengan potensial M
3+
/M mulai dari -
2,25 V (Lu) sampai -2,52 V (La).
Yttrium, yang terletak di atas La dalam golongan III A memiliki ion +3 yang mirip dengan inti
gas mulia; sehubungan dengan pengaruh pengerutan lantanida, jari Y
3+
dekat pada nilai bagi
Tb
3+
dan Dy
3+
. Akibatnya, Y terdapat pada mineral Lantanida. Unsur yang lebih ringan dalam
golongan IIIA ini yaitu Skandium. Meskipun ia memiliki jari-jari ionik yang lebih kecil dan
memperlihatkan sifat kimia intermediat antara jari-jari ionik Al dan Y dan lantanida.
[sunting] Valensi yang beragam
Lantanida tertentu membentuk ion-ion +2 atau +4. Ion +2 mudah dioksidasi dan ion +4 mudah
direduksi menjadi +3. Penjelasan yang sederhana bagi keberadaan valensi ini adalah bahwa kulit
yang kosong terisi setengah atau terisi penuh sangat stabil. Fenomena yang mirip ini
berhubungan dengan entalpi pengionan unsur deret transisi pertama dan kulit 3d yang terisi
setengah menjadi penyebab atas kestabilan mangan (II). Bagi lantanida, tingkat oksidasi IV
untuk cerium memberikan Ce
4+
dengan konfigurasi kulit f yang kosong dari f
14
. Konfigurasi f
7

yang terisi setengah dari Gd
3+
dibentuk oleh reduksi menghasilkan Eu
2+
atau oksidasi
menghasilkan Tb
4+
. Faktor-faktor lain yang terlibat, dengan demikian diperlihatkan oleh adanya
banyak ion +2 yang distabilkan dalam kisi CaF
2
dan Kompleks Pr
4+
dan Nd
4+
.
[sunting] Sifat magnetik dan spektra
Ion lantanida yang memiliki elektron tidak berpasangan berwarna dan paramagnet. Terdapat
perbedaan mendasar dari unsur grup d dalam hal bahwa elektron-elektron 4f adalah elektron
dalam dan terlindung sangat efektif dari pengaruh gaya luar oleh tumpukan kulit 5s
2
dan 5p
6
.
Dengan demikian, hanya terdapat pengaruh yang benar-benar lemah dari medan ligan . Sebagai
hasilnya, transisi elektron antara orbital-orbital f menimbulkan pita-pita serapan yang sangat
sempit, sama sekali tidak mirip dengan pita lebar yang dihasilkan dari transisi d-d, dan sifat
magnetik ion-ion sedikit dipengaruhi oleh sifat kimia sekelilingnya.
[sunting] Bilangan Koordinasi dan Stereokimia
Hal ini adalah kekhasan ion M
3+
bahwa bilangan koordinasi lebih dari enam adalah biasa. Sangat
sedikit unsur terkoordinasi enam diketahui, namun bilangan koordinasi 7,8,9 adalah penting.
Dalam ion [Ce(NO
3
)
6
]
2-
, Ce dikelilingi oleh 12 atom oksigen dari gugus khelat NO
3
.
Penurunan jari-jari dari La ke Lu juga memeliki pengaruh bahwa struktur kristal yang berbeda
dan bilangan koordinasi yang berbeda dapat terjadi untuk bagian-bagian yang berbeda dari
golongan lantanida. Sebagai contoh, atom logam dalam triklorida La-Gd terkoordinasi 9,
sedangkan klorida dari Tb Lu memiliki sejenis struktur AlCl
3
dengan logam yang terkoordinasi
oktahedral. Perbedaan yang mirip dalam bilangan koordinasi terjadi bagi ion dalam larutan
[sunting] Keberadaan dan cara mengisolasinya
[sunting] Sc, La, Y, & Tm
Skandium adalah unsur yang sangat biasa yang melimpah seperti As dan dua kali kelimpahan
Boron. Meskipun demikian, ia tidak mudah tersedia, sebagian disebabkan oleh langkanya bijih
yang kaya, dan sebagian lainnya karena sulitnya dalam pemisahannya. Ia mungkin dipisahkan
dari Y dan lantanida yang mungkin bergabung dengan mineral Sc dengan cara penukar kation
yang menggunakan asam oksalat sebagai pengelusi.
Unsur-unsur lantanida, termasuk La dan Y, mula-mula dikenal sebagai Unsur Tanah jarang-
keberadaannnya dalam campuran oksida. Mereka sebenarnya bukan unsur-unsur jarang dan juga
kelimpahannya absolutnya relatif tinggi. Jadi, walaupun yang paling langka, Tm adalah sama
umumnya dengan Bi, dan lebih umum daripada As, Cd, Hg atau Se. Sumber utamanya adalah
mineral monazite, pasir gelap yang berat dengan komposisi beragam. Monazite sesungguhnya
adalah lantanida ortofosfat, tetapi dapat mengandung sampai 30% thorium. La, Ce, Pr dan Nd
biasanya terdapat sebanyak 90% kandungan lantanida suatu mineral dengan Y dan unsur-unsur
yang lebih berat sebagai sisanya. Mineral yang mengandung lanthanida dalam tingkat oksidasi
+3 biasanya sedikit sekali mengandung Eu yang disebabkan oleh kecenderungannya
menghasilkan keadaan +2 dan seringkali terdapat dalam mineral golongan Ca.
[sunting] Promethium, Europium
Promethium terdapat hanya hanya dalam jumlah runutan bijih Uranium sebagai fragmen Fisi
spontan dari
238
U. Garam
147
Pm
3+
merah jambu dalam jumlah miligram, dapat diisolasi dengan
metode penukar-ion dari produk fisi dalam simpanan bahan bakar reaktor nuklir di mana
147
Pm
(-, 2,64 tahun) dibentuk. Lantanida dipisahkan dari unsur lain dengan pengendapan oksalat atau
fluorida dari larutan HNO
3
, dan dari satu sama lain dengan penukar ion dalam resin.
Cerium dan Europium biasanya dipisahkan pertama kali. Cerium dioksidasi menjadi Ce (IV) dan
kemudian diendapkan dari HNO
3
6M sebagai ceric iodat atau dipisahkan dengan ekstraksi
pelarut. Europium direduksi menjadi Eu
2+
dan dipisahkan dengan pengendapan sebagai EuSO
4
.
Perilaku penukar ion pertama-pertama tergantung kepada jari-jari ion terhidrasi. Seperti dengan
alkali, ion terkecil secara kristalografi yaitu Lu memiliki jari-jari terhidrasi terbesar, sedangkan
La memiliki jari-jari terhidrasi terkecil. Dengan demikian, La adalah yang paling kuat terikat dan
Lu yang paling lemah ikatannya. Dan urutan elusinya adalah Lu menuju La. Kecenderungan ini
dipertegas oleh penggunaan zat pengompleks pada pH yang tepat; ion dengan jari-jari terkecil
juga membentuk komplek terkuat , dan dengan demikian , pilihan terhadap fase akua bertambah.
Ligan pengompleks yang khas adalah -hidroksiisobutirat, (CH
32
<CH(OH)COOH,EDTAH
4
dan
asam-asam hidrokso dan amino karboksilat lainnya. Dari eluat, ion-ion M
3+
diperoleh kembali
dengan pengasaman dengan HNO
3
encer dan penambahan ion oksalat, yang mengendapkan
oksalat secara benar-benar kuantitatif. Ini kemudian dipijarkan menjadi oksidanya.
[sunting] Cerium
Cerium (IV) juga Zr(IV), Th(IV) dan Pu(IV) mudah diekstraksi dari larutan HNO
3
oleh tributil
fosfat yang dilarutkan dalam kerosen atau pelarut inert lainnya dan dapat dipisahkan dari ion-ion
lantanida +3. Nitrat Lantanida +3 juga dapat diekstraksi dalam kondisi tertentu bertambah
dengan bertambahnya nomor atom; ia lebih tinggi dalam asam kuat dan konsentrasi NO
3
-
yang
lebih encer.
[sunting] Unsur yang lebih ringan nomor massanya
Unsur-unsur yang lebih ringan (La Gd) diperoleh dengan reduksi triklorida dengan Ca pada
1000
o
C atau lebih. Bagi Tb, Dy, Ho, Er, Tm, dan juga Y, trifluorida digunakan karena klorida
terlalu mudah menguap. Pm dibuat dengan mereduksi PmF
3
dengan Li. Eu, Sm, dan Yb
triklorida direduksi hanya menjadi dihalida oleh Ca. Reduksi oksida +3 dengan La pada suhu
tinggi menghasilkan logam logamnya .
Logamnya putih keperakan dan sangat elektropositif. Mereka bereaksi denga air melepaskan
hidrogen , berlangsung lambat dalam keadaan dingin, dan cepat pada pemamasan . mereka
bernoda jika kena udara dan mudah terbakar menghasilkan oksida M
2
O
3
; cerium adalah
perkecualian menghasilkan CeO
2
. Batu api yang lebih ringan adalah campuran logam,
kebanyakan cerium. Yttrium tahan terhadap udara meskipun sampai 1000
o
C menyebabkan
pembentukan suatu lapisan oksida pelindung. Logam-logamnya bereaksi dengan H
2
, C, N
2
, Si, P,
S, halogen, dan nonlogam lainnya pada suhu tinggi.
Banyak sifat fisika logam berubah perlahan-lahan sepanjang deret, kecuali bagi Eu dan Yb dan
kadangkala Sm dan Tm. Penyimpangan terjadi dengan lantanida yang memiliki kecenderungan
besar untuk berada dalam keadaan +2; asumsikan bahwa unsur-unsur ini cenderung
menyumbangkan hanya dua elektron pada pita konduksi logam, jadi meninggalkan inti yang
lebih besar dan menghasilkan gaya ikatan yang lebih rendah. Perlu dicatat juga, Bahwa Eu dan
Yb larut dalam amonia.
[sunting] Keadaan trivalensi
[sunting] Oksidasi dan Hidroksida
Oksida Sc
2
O
3
kurang basa dibandingkan oksida lainnya dan sangat mirip Al
2
O
3
; ia sama-sama
larut secara amfoter dalam NaOH menghasilkan ion skandat [Sc(OH)
6
]
3-
. Oksida unsur lainnya
mirip CaO dan menyerap CO
2
dan H
2
O dari udara membentuk berturut-turut karbonat dan
hidroksida. Hidroksida, M(OH)
3
, benar-benar senyawaan yang kebasaannya menurun dengan
naiknya Z, seperti yang diharapkan dari penurunan jari-jari ion. Mereka diendapkan dari larutan
akua dengan basa sebagai massa gelatin. Mereka tidak amfoter.
[sunting] Halida
Halida Skandium sekali lagi juga merupakan perkecualian. Fluoridanya mirip AlF
3
, menjadi
larut dalam HF berlebihan menghasilkan ion ScF
6
3-
; Na
3
ScF
6
adalah seperti kryolit. Meskipun
demikian , ScCl
3
bukanlah katalis Friedel-Craft seperti AlCl
3
dan tidak berperilaku sebagai asam
lewis; strukturnya seperti FeCl
3
. Fluorida lantanida adalah penting karena ketidak larutannya.
Penambahan HF atau F
-
mengendapkan MF
3
bahkan dari larutan 3M HNO
3
dan merupakan uji
khas ion lanthanida fluorida dari lantanida yang lebih berat agak larut dalam HF berlebih yang
menyebabkan pembentukan kompleks. Fluorida dapat dilarutkan kembali dalam HNO
3
3M jenuh
dengan H
3
BO
3
yang menghilangkan F
-
sebagai BF
4-
. Kloridanya larut dalam air, yang mana
mereka mengkristal sebagai hidrat. Klorida anhidrat dibuat paling baik dengan reaksi
M
2
O
3
+ 6NH
4
Cl 2MCl
3
+ 3H
2
O + 6NH
3

[sunting] Ion akuo, Garam okso dan Kompleks
Skandium membentuk suatu ion heksa-akuo [Sc(H
2
O)
6
]
3+
yang mudah terhidrolisis. Skandium -
diketon merupakan suatu oktahedral seperti dengan Al dan tidak seperti lantanida. Bagi lantanida
dan yttrium, ion akuo, [M(H
2
O)
n
]
3+
, memiliki bilangan koordinasi melampaui 6 seperti
[Nd(H
2
O)
9
]
3+
. Ini mudah terhidrolisis dalam air:
[M(H
2
O)
n
]
3+
+ H
2
O [M(OH)(H
2
O)
n-1
]
2+
+ H
3
O
+

Kecenderungan menghidrolisis bertambah dari La ke Lu, yang konsisten dengan penurunan jari-
jari ion. Begitu pula Yttrium terutama Y(OH)
2+
. Bagi Ce
3+
, meskipun demikian, hanya sekitar
1% ion logam dihidrolisis tanpa membentuk suatu endapan, dan kesetimbangan utama Nampak
sebagai:
3Ce
3+
+ 5H
2
O [Ce
3
(OH)
5
]
4+
+ 5H
+

Dalam larutan akua, kompleks fluoride yang agak lemah, MFaq
2+
dibentuk. Anion kompleks
tidak dibentuk, suatu keistimewaan yang membedakannya dari lantanida +3 sebagai suatu
golongan unsure aktinida +3 yang membentuk kompleks anionic dalam larutan HCl kuat.
Kompleks yang paling stabil dan umum adalah kompleks dengan ligan oksigen pengkhelat.
Pembentukan kompleks yang larut dalam air dengan sitrat dan asam hidrokso lainnya,
dimanfaatkan dalam pemisahan penukar ion seperti disebutkan di atas. Kompleks biasanya
memiliki bilangan koordinasi lebih besar daripada 6.
Ligan -diketon seperti asetilaseton khususnya adalah penting, karena beberapa -diketon
terfluorinasi memberikan kompleks yang mudah menguap dan cocok untuk pemisahan
kromatografi gas. Pembuatannya bila -diketon dengan cara kuno menghasilkan spesies yang
terhidrasi atau tersolvasi seperti M(acac)
3
.C
2
H
5
OH.3H
2
O, memiliki bilangan koordinasi 6.
Pengeringan yang lama diatas MgClO
4
memberikan M(-diketon)3 yang sangat higroskopis.
Kegunaan penting kompleks Eu dan Pr -diketon yang larut dalam pelarut organic seperti yang
diturunkan dari 1,1,1,2,2,3,3-heptafluoro-7,7-dimetil-4,6-oktanedion, adalah sebagai pereaksi
penggeser dalam spektrometri nmr. Kompleks paramagnet melindungi kembali proton dari
molekul yang rumit, dan memperbaiki secara besar-besaran pemisahan garis resonansi dapat
diperoleh.
Manfaat lain senyawaan lantanida bergantung kepada sifat spektroskopinya. Y dan Eu dalam kisi
oksida atau silikat memiliki sifat fluoresensi atau luminisensi, dan fosfornya digunakan dalam
tabung televisi berwarna. Dalam kisi CaF
2
, ion-ion +2 memperlihatkan keaktifan laser seperti
halnya garam Eu (-dik)
4-

[sunting] Keadaan tetravalensi
Cerium (IV). Ini satu-satunya lantanida +4 yang ada dalam larutan akua demikian juga dalam
padatan. Dioksida, CeO
2
, diperoleh dengan pemanasan (Ce(OH)
3
, atau garam okso dalam air .
Ini tidak reaktif dan dilarutkan dengan asam hanya dengan adanya zat pereduksi H
2
O
2
, SnII, dan
sebagainya) menghasilkan larutan Ce
3+
. Hidrat Ceric oksida, CeO
2
.nH
2
O adalah endapan gelatin
berwarna kuning yang diperoleh melalui perlakuan larutan Ce(IV) dengan OH-; Ia larut kembali
dalam asam.
Ion ceric dalam larutan diperoleh dengan oksidasi Ce
3+
dalam HNO
3
atau H
2
SO
4
dengan S
2
O
8

atau bismuthat. Sifat kimianya mirip dengan larutan Zr
4+
, dan aktinida +4, Jadi Ce
4+

menghasilkan fosfat yang tidak larutdalam HNO
3
4M, dan iodat tidak larut dalam HNO
3
6M,
demikian juga oksalat yang tidak larut. Endapan fosfat dan iodat dapat digunakan untuk
memisahkan Ce
4+
dari lantanida trivalensi
Ion terhidrasi jingga kekuningan [Ce(H
2
)
n
]
4+
, adalah asam yang cukup kuat, mudah terhidrolisis,
dan mungkin hanya terdapat dalam larutan HCLO
4
kuat. Dalam pembentukan kompleks asam
lainnya bertanggung jawab atas potensial:
Ce(IV) + e Ce(III) E
o
= +1,28 V (2M HCl) + 1,44 V (1M H
2
SO
4
) + 1,61 V (1M HNO
3
),
+ 1,70 V (1M HClO
4
)
Perbandingan potensial H
2
SO
4
, yang mana pada konsentasi SO
4
besar, spesies utama adalah [Ce(
SO
4
)
3
]
2-
, terhadap potensial oksidasi dalam air:
O
2
+ 4H
+
+ 4e 2H
2
O E
o
= +1,229 V Memperlihatkan bahwa larutan asam Ce(IV)
yang biasanya digunakan dalam analisis adalah metastabil. Cerium (IV) digunakan sebagai
pengoksidasi dalam analisis dan dalam kimia organik, dimana biasanya digunakan dalam asam
asetat. Larutannya mengoksidasi aldehida dan keton pada atom karbon-. Benzaldehida
menghasilkan benzoin.
Kompleks anion sangat mudah dibentuk. Standar analitik ceric amonium nitrat yang dapat
dikristalkan dari HNO
3
, mengandung anion heksanitratocerat, [Ce(NO
3
)
6
]
2-

Praseodymium (IV) dan Terbium (IV). Ini hanya ada dalam oksida dan fluorida. Sistem
oksida sangat rumit dan non stoikiometri. Potensial Pr(IV)/Pr(III) diperkirakan +2,9 V sehingga
tidaklah mengherankan bahwa Pr(IV) tidak ada dalam larutan akua.
[sunting] Keadaan divalensi
Keadaan +2 diketahui dalam senyawaan larutan maupun padatan Sm, Eu dan Yb seperti tabel
dibawah ini.
Ion Warna E (V) Jari-Jari Kristal (A)
Sm
2+
Merah-Darah -1,55 1,11
Eu
2+
Tak Berwarna -0,43 1,10
Yb
2+
Kuning -1,15 0,93
Yang paling kurang stabil adalah Tm
2+
dan Nd
2+
, namun ion +2 dari semua lantanida dapat
dibuat dan distabilkan dalam kisi-kisi CaF
2
atau BaF
2
dengan reduksi, misalnya, MF
3
dalam
CaF
2
dengan Ca.
Ion europous dapat dibuat dengan mereduksi larutan akua Eu3+ dengan Zn atau Mg. Ion-ion lain
memerlukan penggunaan amalgam Na. Ketiganya dapat dibuat dengan reduksi elektrolitik dalam
larutan akua atau dalam lelehan halida.
Ion-ion Sm
2+
dan Yb
2+
sangat mudah dioksidasi dengan air. Eu
2+
dioksidasi oleh udara. Ion Eu
2+

mirip dengan Ba
2+
. Jadi sulfat dan karbonatnya tidak larut sedangkan hidroksidanya larut.
Kestabilan kompleks Eu
2+
dengan EDTA
4-
adalah intermediat antara kompleks Ca
2+
dan Sr
2+
.
Senyawaan kristal Sm, Eu, dan Yb biasanya isostruktur dengan analog Sr
2+
atau Ba
2+
. Jadi sulfat
dan karbonatnya tidak larut sedangkan hidroksidanya larut. Kestabilan kompleks Eu
2+
dengan
EDTA
4-
adalah intermediet antara kompleks Ca
2+
dan Sr
2+
. Senyawaan kristal Sm, Eu, dan Yb
biasanya isostruktur dengan analog Sr
2+
atau Ba
2+

[sunting] Referensi
1. Cotton, F Albert & Wilkinson, Geoffrey. Basic Inorganic Chemistry. Jhon Wiley and Son. 1976
2. Prakash, S. Advance Chemistry of Rare Earth Elements. New Delhi: S. Chand. Co (PVT). 1975,
3. Moris, B. Rare Earths. PIRSA Minerals - Mineral Resource Potential - Rare Earth Elements.htm.
2006
4. Gordon B. Haxel, James B. Hedrick, and Greta J. Rare Earth ElementsCritical Resources for
High Technology http://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/rare_earths/. US
Geological Survey
5. W., Christopher. S. Study of the Rare Earth Resources and Markets for the Mt. Weld Complex.
Washingon : BBC Research.
6. http://www.mii.org/rareearths.html
7. Bayliss, Peter, A, A. Levinson. A system of nomenclature for rare-earth mineral species: Revision
and extension. http://www.minsocam.org/. Department of Geology and Geophysics, The
University of Calgary. Canada. 1988

Wiki: Logam tanah jarang (1/2)
Logam tanah jarang (LTJ) merupakan unsur yang terletak di dalam golongan lantanida dan
termasuk tiga unsur tambahan yaitu Yttrium, Thorium dan Scandium . unsur yang termasuk
dalam logam tanah jarang adalah sebagai berikut:
Table 1 Nama-nama Unsur Logam Tanah Jarang
Pemasukkan yttrium, torium dan skandium ke dalam golongan logam tanah jarang dilakukan
dengan alasan kesamaan sifat.
Logam tanah jarang tidak ditemukan di bumi sebagai unsur bebas melainkan dalam bentuk
senyawa kompleks karbonat ataupun fosfat.
Daftar Isi:
1. Sejarah
2. Sumber
3. Sifat-sifat umum
4. Keberadaan dan cara mengisolasinya
5. Keadaan trivalensi
6. Keadaan tetravalensi
7. Keadaan divalensi
8. Referensi
Symbol Nama Unsur No Atom Symbol Nama Unsur No Atom Y Yttrium 39 Gd gadolinium 64 Sc Scandium
21 Tb terbium 65 La Lanthanum 57 Dy dysprosium 66 Ce Cerium 58 Ho holmium 67 Pr Praseodymium 59
Er erbium 68 Nd neodymium 60 Tm thulium 69 Pm promethium 61 Yb ytterbium 70 Sm Samarium 62 Lu
lutetium 71 Eu Europium 63 Th Thorium 90
1. Sejarah
Sesuai namanya, unsur-unsur ini jarang ditemukan di bumi. Jika ditemukan selalu dalam jumlah
yang sangat kecil. Kelompok logam ini pertama kali ditemukan pada tahun 1787 oleh seorang
letnan angkatan bersenjata Swedia bernama Karl Axel Arrhenius. Ia mengumpulkan mineral
hitam ytteribite dari penambangan feldspar dan quartzkuarsa di dekat Desa Ytterby, Swedia.
Kemudian, mineral ini berhasil dipisahkan oleh J. Gadoli pada tahun 1794, dengan memperoleh
mineral Ytterbite. Selanjutnya, nama mineral tersebut diganti menjadi Gadolinite.
Penemuan unsur baru ini, tentunya memicu penelitian yang membuahkan penemuan unsur-unsur
logam tanah jarang lain.
Tahun 1804 Klaproth dan rekan-rekannya menemukan ceria yang merupakan bentuk oksida dari
Cerium.
Tahun 1828, Belzerius memperoleh mineral thoria dari mineral thorite
Tahun 1842 Mosander memisahkan senyawa bernama yttria menjadi tiga macam unsur melalui
pengendapan fraksional menggunakan asam oksalat dan hidroksida. Unsur tersebut adalah
Yttria, Terbia dan Erbia.
Tahun 1878, berkat petunjuk M. Delafontaine, Boisbaudran mampu memperoleh samarium.
Tahun 1885, Welsbach memisahkan praseodymium dan neodymium yang terdapat pada
samarium.
Tahun 1886, Boisbaudran memperoleh gadolinium dari mineral Ytterbia yang diperoleh J.C.G de
Marignac tahun 1880
Pada 1907 dari Ytterbia yang diperoleh Marignac, L. de Boisbaudran mampu memisahkan
senyawa tersebut menjadi Neoytterium dan Lutecium. P.T. Cleve mampu memisahkan tiga
unsur dari erbia dan terbia yang dimiliki Marignac. Ia memperoleh Erbium, Holminium dan
Thulium. L. De Boisbaudran, mampu memperoleh unsur lain bernama Dysporsia
2. Sumber
Logam tanah jarang tidak ditemukan berupa unsur bebas dalam lapisan kerak bumi (earths
crust). Namun ia berbentuk paduan membentuk senyawa kompleks. Sehingga logam tanah jang
harus dipisahkan terlebih dahulu dari senyawa kompleks tersebut. rare earth elemen yang harus
dipisahkan terlebih dahulu.
Secara umum, rare earth ditemukan dalam bentuk senyawa kompleks phospat dan karbonat. Di
bawah ini adalah beberapa contoh mineral logam tanah jarang yang ditemukan di alam.

o Bastnaesite (CeFCO
3
). Merupakan sebuah fluoro-carbonate cerium yang mengandung
60-70% Oksida logam tanah jarang seperti Lanthanum and Neodymium. Mineral
bastnaesite merupakan sumber logam tanah jarang yang utama di dunia. Bastnaesite
dtemukan dalam batuan cabonatite, dolomite breccia, pegmatite dan amphibole skarn.
o Monazite ((Ce,La,Y,Th)PO
3
) Merupakan senyawa phospat logam tanah jarang yang
mengandung 50-70% Oksida LTJ. Monasite diambil dari mineral pasir berat yang
merupakan hasil samping dari senyawa logam berat lain. Monasite memiliki kandungan
thorium yang cukup tinggi. Sehingga mineral tersebut memiliki sifat radioaktiv. Thorium
tersebut memancarakan radiasi berupa sinar . Sinar ini memiliki tingkat radiasi yang
rendah. Sehingga dengan menggunakan slembar kertas saja, maka akan terhindar dari
radiasi yang dipancarkan.
o Xenotime (YPO
4
) merupakan senyawa ittrium phosphat yang mengandung 54-65% LTJ
termasuk erbium, cerium dan thorium. Xenotipe juga mineral yang di temukan dalam
mineral pasir berat seperti pegmatite dan batuan leleh (igneous rocks)
o zircon, merupakan senyawa a zirconium silicate yang didalamnya ditemukan thorium,
ittrium dan cerium.
Dalam memperoleh mineral diatas, tidak bisa didapatkan dengan mudah. Karena jumlah mineral
tersebut sangat terbatas. Telebih lagi, mineral diatas tidak terpisah sendiri,tetapi ia tercampur
dengan mineral lain. Seperti contohnya pada kepulauan bangka Belitung, mineral ini merupakan
hasil samping dari penambangan timah. Sehingga sebelum memperoleh mineral di atas, maka
diperlukan proses pemisahan terlebih dahulu.
Mineral-mineral yang mendominasi dalam senyawa logam tanah jarang diatas adalah
Lanthanum, Cerium, Neodymium. Sehingga mineral ini, menjadi ekonomis untuk dilakukan
proses ekstraksi. Sehingga pemanfaatan ketiga mineral ini, sangat tinggi dibanding mineral
logam tanah jarang lainnya.
2. 1. Aplikasi logam tanah jarang
Logam tanah jarang telah banyak digunakan pada berbagai macam produk. Penggunaan logam
tanah jarang ini memicu berkembangnya material baru. Material baru dengan menggunakan
Logam Tanah Jarang memberikan perkembangan teknologi yang cukup signifikan dalam ilmu
material. Perkembangan material ini banyak diaplikasikan di dalam industri untuk meningkatkan
kualitas produk mereka. Contoh perkembangan yang terjadi pada magnet. Logam Tanah Jarang
mampu menghasilkan neomagnet, yaitu magnet yang memiliki medan magnet yang lebih baik
dari pada magnet biasa. Sehingga memungkinkan munculnya perkembangan teknologi berupa
penurunan berat dan volume speaker yang ada. Memungkinkan munculnya dinamo yang lebih
kuat sehingga mampu mengerakkan mobil. Sehingga dengan adanya logam tanah jarang,
memungkinkan munculnya mobil bertenaga listrik yang dapat digunakan untuk perjalanan jauh.
Oleh karenanya mobil hybrid mulai marak dikembangkan.
Selanjutnya aplikasi logam tanah jarang ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Aplikasi Unsur LTJ Permintaan LTJ
2005
Pertumbuhan pemakaian Logam Tanah
Jarang
Magnet Nd, Pr, Dy, Tb, Sm 17,170 ton motor listrik pada mobil hybrid
Power steering elektrik Air conditioners
Generator
Hard Disk Drives
Baterai NiMH La, Ce, Pr, Nd 7,200 ton Baterai Mobil Hybrid
Baterai Rechargeable
Auto Catalysis Ce, La, Nd 5,830 ton Gasoline and hybrids
diesel fuel additive Untuk peningkatan
standar
emisi otomotif global
Fluid Cracking La, Ce, Pr, Nd 15,400 ton Produksi minyak
Catalysis
Peningkatan kegunaan minyak mentah
Phosphors Eu, Y, Tb, La,
Dy, Ce, Pr, Gd
4,007 tons LCD TV dan monitor
Plasma TV Energy efficient compact
fluorescent lights
Polishing Powders Ce, La, Pr, mixed 15,150 ton LCD TV dan monitor
Plasma TV dan display Silicon wafers
and chips
Glass additives Ce, La, Nd, Er, Gd,
Yb
13,590 ton Kaca optic untuk
kamera digital Bahan fiber optic
Table 2 Pemanfaatan Logam tanah jarang di indutri
Dalam aplikasi metalurgi, penambahan logam tanah jarang digunakan dalam pembuatan Baja
High Strength, low alloy (HSLA), baja karbon tinggi, superalloy, stainless steel. Karena logam
tanah jarang memiliki kemampuan untuk meningkatkan kemampuan material berupa kekuatan,
kekerasan dan peningkatan ketahanan terhadap panas. Cotohnya pada penambahan logam tanah
jarang dalam bentuk additif atau alloy pada paduan magnesiaum dan alumunium, maka kekuatan
dan kekerasan paduan tersebut akan meningkat dengan signifikan.
Pemanfaatan logam tanah jarang yang lain berupa pelat armor, korek gas otomatis, lampu
keamanan di pertambangan, perhiasan, cat, lem. Untuk instalasi nuklir, logam tanah jarang
digunakan dalam detektor nuklir dan pengkounter, rod kontrol nuklir.
2. 2. Peluang logam tanah jarang
Walaupun kita jarang mendengar nama logam tanah jarang, pemanfaatannya sudah sangat
banyak di dunia industri. Berbagai macam pemanfaatan dari logam tanah jarang, menyatakan
bahwa material ini merupakan material masa depan. Karena material ini menjadi pemicu
lahirnya teknologi baru yang masih akan terus berkembang seperti LCD, magnet dan baterai
hybrid. Hal ini mengakibatkan permintaan logam tanah jarang yang akan terus meningkat.
Berdasarkan penelitian pasar oleh BBC report untuk Lynas Co. menyatakan bahwa permintaan
logam tanah jarang akan terus meningkat hingga menjadi 10% pada tahun 2010 . Sehingga
industri logam tanah jarang menjadi sebuah industri yang menjanjikan yang akan terus
berkembang di masa depan.
Logam Tanah Jarang juga bersifat tidak tergantikan. Hal ini disebabkan sifat Logam Tanah
Jarang yang unik. Sehingga sampai saat ini, tidak ada material lain yang mampu
menggantikannya. Jika ada, kemampuan yang dihasilkan tidak sebaik material logam tanah
jarang. Sifat logam tanah jarang yang digunakan sebagai material berteknologi tinggi dan belum
ada penggantinya, membuat logam tanah jarang manjadi material yang vital
Negara Tiongkok merupakan produsen utama logam tanah jarang di dunia. Tahun 2005, mereka
mampu memproduksi 43,000,000 ton. Kapasitas produksi ini merupakan 50% dari produksi
logam tanah jarang dunia. Perkembangan logam Tanah jarang di China dimulai sejak tahun
1985. Saat itu, China sudah berhasil mengolah dua deposit logam tanah jarangnya. Depositnya di
bayan Obo yang megandung iron-niobium-LTJ. Sehingga setelah mereka melakukan pemisahan
besi dan niobium, maka didapatkan logam tanah jarang. Mereka mengolah Logam Tanah Jarang
tersebut sehingga dapat dimanfaatkan.
Selanjutnya, dengan produksi logam tanah jarang yang besar tersebut, China mampu mendorong
pertumbuhan teknologi industrinya. Kemudian dia mulai mendirikan industri elektronik nasional
yang dapat bersaing dengan industri elektronik luar dengan kemampuannya menggunakan
material Logam Tanah Jarang. Saat ini, China tidak hanya menguasai pasar barang elektronik
seperti komponen komputer, televisi, monitor dan handycam. Tapi hampir semua lini industri
dengan harga yang sangat kompetitif. Seperti industri baja, otomotif dan manufaktur lainnya.
Potensi besar dari logam tanah jarang tersebut akan sangat menguntungkan jika Indonesia turut
serta untuk mengembangkannya. Terlebih lagi, pasir monasite sebagai sumber logam tanah
jarang, hanya dijadikan sebagai sampah pembuangan timah. Sehingga sangat luar biasa
keuntungan yang didapat, ketika sampah dijadikan material yang jika dilakukan pemprosesan
lanjut memiliki nilai jual yang melebihi emas.
Tentunya proses pemanfaatan ini, membutuhkan bantuan dan dukungan dari pemerintah. Yaitu
dengan penetapan regulasi yang mendukung pengolahan mineral logam tanah jarang seperti
pembuatan sarana dan prasarana, perlindungan pemasaran sebagai inkubator awal industri
nasional, dan yang utama bantuan permodalan untuk pendirian industri ini. Karena pendirian
industri pertambangan yang kompetitif, memerlukan permodalan yang tinggi. Hal ini bertujuan
untuk membeli peralatan berefisiensi tinggi sehingga menurunkan biaya (cost) produksi sehingga
memiliki harga jual yang kompetitif.
Pemanfaatan logam tanah jarang ini mampu membuka Indonesia terhadap penguasaan dan
pengembangan teknologi. Terutama teknologi elektronik yang selama berpuluh-puluh tahun ini
masuk dan berkembangnya industri-industri elektronik asing selama di Indonesia, namun tidak
menghasilkan transformasi teknologi elektronik yang signifikan. Kemudian adanya ini mampu
meningkatkan kualitas industri metalurgi di Indonesia dengan dihasilkannya spesifikasi baja dan
logam paduan baru tentunya dengan kualitas yang lebih baik. Kemudian masih banyak lagi
manfaat besar yang dapat diperoleh Indonesia dari pengolahan logam ini yang mampu
meningkatkan perkembangan teknologi di Indonesia
3. Sifat-sifat umum
Secara tegas, keempat belas unsur diatas mengikuti La yang mana elektron-elektron 4f
ditambahkan berurutan pada konfigurasi La. Istilah lantanida sendiri diambil dari kata unsur
lanthanum yang mana unsur-unsur yang lainnya mengikuti unsur lanthanum ini. Unsur
Lanthanum adalah prototip bagi kempat belas unsur berikutnya. Penurunan yang tajam dalam
jari-jari atom dan ion dari unsur-unsur ini disebut dengan istilah pengerutan lantanida. Unsur-
unsur lanthanida memiliki keelektropositifan yang tinggi dengan potensial M
3+
/M mulai dari -
2,25 V (Lu) sampai -2,52 V (La).
Yttrium, yang terletak di atas La dalam golongan III A memiliki ion +3 yang mirip dengan inti
gas mulia; sehubungan dengan pengaruh pengerutan lantanida, jari Y
3+
dekat pada nilai bagi
Tb
3+
dan Dy
3+
. Akibatnya, Y terdapat pada mineral Lantanida. Unsur yang lebih ringan dalam
golongan IIIA ini yaitu Skandium. Meskipun ia memiliki jari-jari ionik yang lebih kecil dan
memperlihatkan sifat kimia intermediat antara jari-jari ionik Al dan Y dan lantanida.
3. 1. Valensi yang beragam
Lantanida tertentu membentuk ion-ion +2 atau +4. Ion +2 mudah dioksidasi dan ion +4 mudah
direduksi menjadi +3. Penjelasan yang sederhana bagi keberadaan valensi ini adalah bahwa kulit
yang kosong terisi setengah atau terisi penuh sangat stabil. Fenomena yang mirip ini
berhubungan dengan entalpi pengionan unsur deret transisi pertama dan kulit 3d yang terisi
setengah menjadi penyebab atas kestabilan mangan (II). Bagi lantanida, tingkat oksidasi IV
untuk cerium memberikan Ce
4+
dengan konfigurasi kulit f yang kosong dari f
14
. Konfigurasi f
7

yang terisi setengah dari Gd
3+
dibentuk oleh reduksi menghasilkan Eu
2+
atau oksidasi
menghasilkan Tb
4+
. Faktor-faktor lain yang terlibat, dengan demikian diperlihatkan oleh adanya
banyak ion +2 yang distabilkan dalam kisi CaF
2
dan Kompleks Pr
4+
dan Nd
4+
.
3. 2. Sifat magnetik dan spektra
Ion lantanida yang memiliki elektron tidak berpasangan berwarna dan paramagnet. Terdapat
perbedaan mendasar dari unsur grup d dalam hal bahwa elektron-elektron 4f adalah elektron
dalam dan terlindung sangat efektif dari pengaruh gaya luar oleh tumpukan kulit 5s
2
dan 5p
6
.
Dengan demikian, hanya terdapat pengaruh yang benar-benar lemah dari medan ligan . Sebagai
hasilnya, transisi elektron antara orbital-orbital f menimbulkan pita-pita serapan yang sangat
sempit, sama sekali tidak mirip dengan pita lebar yang dihasilkan dari transisi d-d, dan sifat
magnetik ion-ion sedikit dipengaruhi oleh sifat kimia sekelilingnya.
3. 3. Bilangan Koordinasi dan Stereokimia
Hal ini adalah kekhasan ion M
3+
bahwa bilangan koordinasi lebih dari enam adalah biasa. Sangat
sedikit unsur terkoordinasi enam diketahui, namun bilangan koordinasi 7,8,9 adalah penting.
Dalam ion [Ce(NO
3
)
6
]
2-
, Ce dikelilingi oleh 12 atom oksigen dari gugus khelat NO
3
.
Penurunan jari-jari dari La ke Lu juga memeliki pengaruh bahwa struktur kristal yang berbeda
dan bilangan koordinasi yang berbeda dapat terjadi untuk bagian-bagian yang berbeda dari
golongan lantanida. Sebagai contoh, atom logam dalam triklorida La-Gd terkoordinasi 9,
sedangkan klorida dari Tb - Lu memiliki sejenis struktur AlCl
3
dengan logam yang terkoordinasi
oktahedral. Perbedaan yang mirip dalam bilangan koordinasi terjadi bagi ion dalam larutan
4. Keberadaan dan cara mengisolasinya
4. 1. Sc, La, Y, & Tm
Skandium adalah unsur yang sangat biasa yang melimpah seperti As dan dua kali kelimpahan
Boron. Meskipun demikian, ia tidak mudah tersedia, sebagian disebabkan oleh langkanya bijih
yang kaya, dan sebagian lainnya karena sulitnya dalam pemisahannya. Ia mungkin dipisahkan
dari Y dan lantanida yang mungkin bergabung dengan mineral Sc dengan cara penukar -kation
yang menggunakan asam oksalat sebagai pengelusi.
Unsur-unsur lantanida, termasuk La dan Y, mula-mula dikenal sebagai Unsur Tanah jarang-
keberadaannnya dalam campuran oksida. Mereka sebenarnya bukan unsur-unsur jarang dan juga
kelimpahannya absolutnya relatif tinggi. Jadi, walaupun yang paling langka, Tm adalah sama
umumnya dengan Bi, dan lebih umum daripada As, Cd, Hg atau Se. Sumber utamanya adalah
mineral monazite, pasir gelap yang berat dengan komposisi beragam. Monazite sesungguhnya
adalah lantanida ortofosfat, tetapi dapat mengandung sampai 30% thorium. La, Ce, Pr dan Nd
biasanya terdapat sebanyak 90% kandungan lantanida suatu mineral dengan Y dan unsur-unsur
yang lebih berat sebagai sisanya. Mineral yang mengandung lanthanida dalam tingkat oksidasi
+3 biasanya sedikit sekali mengandung Eu yang disebabkan oleh kecenderungannya
menghasilkan keadaan +2 dan seringkali terdapat dalam mineral golongan Ca.
4. 2. Promethium, Europium
Promethium terdapat hanya hanya dalam jumlah runutan bijih Uranium sebagai fragmen Fisi
spontan dari
238
U. Garam
147
Pm
3+
merah jambu dalam jumlah miligram, dapat diisolasi dengan
metode penukar-ion dari produk fisi dalam simpanan bahan bakar reaktor nuklir di mana
147
Pm
(-, 2,64 tahun) dibentuk. Lantanida dipisahkan dari unsur lain dengan pengendapan oksalat atau
fluorida dari larutan HNO
3
, dan dari satu sama lain dengan penukar ion dalam resin.
Cerium dan Europium biasanya dipisahkan pertama kali. Cerium dioksidasi menjadi Ce (IV) dan
kemudian diendapkan dari HNO
3
6M sebagai ceric iodat atau dipisahkan dengan ekstraksi
pelarut. Europium direduksi menjadi Eu
2+
dan dipisahkan dengan pengendapan sebagai EuSO
4
.
Perilaku penukar ion pertama-pertama tergantung kepada jari-jari ion terhidrasi. Seperti dengan
alkali, ion terkecil secara kristalografi yaitu Lu memiliki jari-jari terhidrasi terbesar, sedangkan
La memiliki jari-jari terhidrasi terkecil. Dengan demikian, La adalah yang paling kuat terikat dan
Lu yang paling lemah ikatannya. Dan urutan elusinya adalah Lu menuju La. Kecenderungan ini
dipertegas oleh penggunaan zat pengompleks pada pH yang tepat; ion dengan jari-jari terkecil
juga membentuk komplek terkuat , dan dengan demikian , pilihan terhadap fase akua bertambah.
Ligan pengompleks yang khas adalah -hidroksiisobutirat, (CH
32
<CH(OH)COOH,EDTAH
4
dan
asam-asam hidrokso dan amino karboksilat lainnya. Dari eluat, ion-ion M
3+
diperoleh kembali
dengan pengasaman dengan HNO
3
encer dan penambahan ion oksalat, yang mengendapkan
oksalat secara benar-benar kuantitatif. Ini kemudian dipijarkan menjadi oksidanya.
4. 3. Cerium
Cerium (IV) juga Zr(IV), Th(IV) dan Pu(IV) mudah diekstraksi dari larutan HNO
3
oleh tributil
fosfat yang dilarutkan dalam kerosen atau pelarut inert lainnya dan dapat dipisahkan dari ion-ion
lantanida +3. Nitrat Lantanida +3 juga dapat diekstraksi dalam kondisi tertentu bertambah
dengan bertambahnya nomor atom; ia lebih tinggi dalam asam kuat dan konsentrasi NO
3
-
yang
lebih encer.
4. 4. Unsur yang lebih ringan nomor massanya
Unsur-unsur yang lebih ringan (La -Gd) diperoleh dengan reduksi triklorida dengan Ca pada
1000
o
C atau lebih. Bagi Tb, Dy, Ho, Er, Tm, dan juga Y, trifluorida digunakan karena klorida
terlalu mudah menguap. Pm dibuat dengan mereduksi PmF
3
dengan Li. Eu, Sm, dan Yb
triklorida direduksi hanya menjadi dihalida oleh Ca. Reduksi oksida +3 dengan La pada suhu
tinggi menghasilkan logam - logamnya .
Logamnya putih keperakan dan sangat elektropositif. Mereka bereaksi denga air melepaskan
hidrogen , berlangsung lambat dalam keadaan dingin, dan cepat pada pemamasan . mereka
bernoda jika kena udara dan mudah terbakar menghasilkan oksida M
2
O
3
; cerium adalah
perkecualian menghasilkan CeO
2
. Batu api yang lebih ringan adalah campuran logam,
kebanyakan cerium. Yttrium tahan terhadap udara meskipun sampai 1000
o
C menyebabkan
pembentukan suatu lapisan oksida pelindung. Logam-logamnya bereaksi dengan H
2
, C, N
2
, Si, P,
S, halogen, dan nonlogam lainnya pada suhu tinggi.
Banyak sifat fisika logam berubah perlahan-lahan sepanjang deret, kecuali bagi Eu dan Yb dan
kadangkala Sm dan Tm. Penyimpangan terjadi dengan lantanida yang memiliki kecenderungan
besar untuk berada dalam keadaan +2; asumsikan bahwa unsur-unsur ini cenderung
menyumbangkan hanya dua elektron pada pita konduksi logam, jadi meninggalkan inti yang
lebih besar dan menghasilkan gaya ikatan yang lebih rendah. Perlu dicatat juga, Bahwa Eu dan
Yb larut dalam amonia.
5. Keadaan trivalensi
5. 1. Oksidasi dan Hidroksida
Oksida Sc
2
O
3
kurang basa dibandingkan oksida lainnya dan sangat mirip Al
2
O
3
; ia sama-sama
larut secara amfoter dalam NaOH menghasilkan ion skandat [Sc(OH)
6
]
3-
. Oksida unsur lainnya
mirip CaO dan menyerap CO
2
dan H
2
O dari udara membentuk berturut-turut karbonat dan
hidroksida. Hidroksida, M(OH)
3
, benar-benar senyawaan yang kebasaannya menurun dengan
naiknya Z, seperti yang diharapkan dari penurunan jari-jari ion. Mereka diendapkan dari larutan
akua dengan basa sebagai massa gelatin. Mereka tidak amfoter.
5. 2. Halida
Halida Skandium sekali lagi juga merupakan perkecualian. Fluoridanya mirip AlF
3
, menjadi
larut dalam HF berlebihan menghasilkan ion ScF
6
3-
; Na
3
ScF
6
adalah seperti kryolit. Meskipun
demikian , ScCl
3
bukanlah katalis Friedel-Craft seperti AlCl
3
dan tidak berperilaku sebagai asam
lewis; strukturnya seperti FeCl
3
. Fluorida lantanida adalah penting karena ketidak larutannya.
Penambahan HF atau F
-
mengendapkan MF
3
bahkan dari larutan 3M HNO
3
dan merupakan uji
khas ion lanthanida fluorida dari lantanida yang lebih berat agak larut dalam HF berlebih yang
menyebabkan pembentukan kompleks. Fluorida dapat dilarutkan kembali dalam HNO
3
3M jenuh
dengan H
3
BO
3
yang menghilangkan F
-
sebagai BF
4-
. Kloridanya larut dalam air, yang mana
mereka mengkristal sebagai hidrat. Klorida anhidrat dibuat paling baik dengan reaksi
M
2
O
3
+ 6NH
4
Cl 2MCl
3
+ 3H
2
O + 6NH
3

5. 3. Ion akuo, Garam okso dan Kompleks
Skandium membentuk suatu ion heksa-akuo [Sc(H
2
O)
6
]
3+
yang mudah terhidrolisis. Skandium -
diketon merupakan suatu oktahedral seperti dengan Al dan tidak seperti lantanida. Bagi lantanida
dan yttrium, ion akuo, [M(H
2
O)
n
]
3+
, memiliki bilangan koordinasi melampaui 6 seperti
[Nd(H
2
O)
9
]
3+
. Ini mudah terhidrolisis dalam air:
[M(H
2
O)
n
]
3+
+ H
2
O [M(OH)(H
2
O)
n-1
]
2+
+ H
3
O
+

Kecenderungan menghidrolisis bertambah dari La ke Lu, yang konsisten dengan penurunan jari-
jari ion. Begitu pula Yttrium terutama Y(OH)
2+
. Bagi Ce
3+
, meskipun demikian, hanya sekitar
1% ion logam dihidrolisis tanpa membentuk suatu endapan, dan kesetimbangan utama Nampak
sebagai:
3Ce
3+
+ 5H
2
O [Ce
3
(OH)
5
]
4+
+ 5H
+

Dalam larutan akua, kompleks fluoride yang agak lemah, MFaq
2+
dibentuk. Anion kompleks
tidak dibentuk, suatu keistimewaan yang membedakannya dari lantanida +3 sebagai suatu
golongan unsure aktinida +3 yang membentuk kompleks anionic dalam larutan HCl kuat.
Kompleks yang paling stabil dan umum adalah kompleks dengan ligan oksigen pengkhelat.
Pembentukan kompleks yang larut dalam air dengan sitrat dan asam hidrokso lainnya,
dimanfaatkan dalam pemisahan penukar ion seperti disebutkan di atas. Kompleks biasanya
memiliki bilangan koordinasi lebih besar daripada 6.
Ligan -diketon seperti asetilaseton khususnya adalah penting, karena beberapa -diketon
terfluorinasi memberikan kompleks yang mudah menguap dan cocok untuk pemisahan
kromatografi gas. Pembuatannya bila -diketon dengan cara kuno menghasilkan spesies yang
terhidrasi atau tersolvasi seperti M(acac)
3
.C
2
H
5
OH.3H
2
O, memiliki bilangan koordinasi 6.
Pengeringan yang lama diatas MgClO
4
memberikan M(-diketon)3 yang sangat higroskopis.
Kegunaan penting kompleks Eu dan Pr -diketon yang larut dalam pelarut organic seperti yang
diturunkan dari 1,1,1,2,2,3,3-heptafluoro-7,7-dimetil-4,6-oktanedion, adalah sebagai pereaksi
penggeser dalam spektrometri nmr. Kompleks paramagnet melindungi kembali proton dari
molekul yang rumit, dan memperbaiki secara besar-besaran pemisahan garis resonansi dapat
diperoleh.
Manfaat lain senyawaan lantanida bergantung kepada sifat spektroskopinya. Y dan Eu dalam kisi
oksida atau silikat memiliki sifat fluoresensi atau luminisensi, dan fosfornya digunakan dalam
tabung televisi berwarna. Dalam kisi CaF
2
, ion-ion +2 memperlihatkan keaktifan laser seperti
halnya garam Eu (-dik)
4-

6. Keadaan tetravalensi
Cerium (IV). Ini satu-satunya lantanida +4 yang ada dalam larutan akua demikian juga dalam
padatan. Dioksida, CeO
2
, diperoleh dengan pemanasan (Ce(OH)
3
, atau garam okso dalam air .
Ini tidak reaktif dan dilarutkan dengan asam hanya dengan adanya zat pereduksi H
2
O
2
, SnII, dan
sebagainya) menghasilkan larutan Ce
3+
. Hidrat Ceric oksida, CeO
2
.nH
2
O adalah endapan gelatin
berwarna kuning yang diperoleh melalui perlakuan larutan Ce(IV) dengan OH-; Ia larut kembali
dalam asam.
Ion ceric dalam larutan diperoleh dengan oksidasi Ce
3+
dalam HNO
3
atau H
2
SO
4
dengan S
2
O
8

atau bismuthat. Sifat kimianya mirip dengan larutan Zr
4+
, dan aktinida +4, Jadi Ce
4+

menghasilkan fosfat yang tidak larutdalam HNO
3
4M, dan iodat tidak larut dalam HNO
3
6M,
demikian juga oksalat yang tidak larut. Endapan fosfat dan iodat dapat digunakan untuk
memisahkan Ce
4+
dari lantanida trivalensi
Ion terhidrasi jingga kekuningan [Ce(H
2
)
n
]
4+
, adalah asam yang cukup kuat, mudah terhidrolisis,
dan mungkin hanya terdapat dalam larutan HCLO
4
kuat. Dalam pembentukan kompleks asam
lainnya bertanggung jawab atas potensial:
Ce(IV) + e Ce(III) E
o
= +1,28 V (2M HCl) + 1,44 V (1M H
2
SO
4
) + 1,61 V (1M HNO
3
),
+ 1,70 V (1M HClO
4
)
Perbandingan potensial H
2
SO
4
, yang mana pada konsentasi SO
4
besar, spesies utama adalah [Ce(
SO
4
)
3
]
2-
, terhadap potensial oksidasi dalam air:
O
2
+ 4H
+
+ 4e 2H
2
O E
o
= +1,229 V Memperlihatkan bahwa larutan asam Ce(IV)
yang biasanya digunakan dalam analisis adalah metastabil. Cerium (IV) digunakan sebagai
pengoksidasi dalam analisis dan dalam kimia organik, dimana biasanya digunakan dalam asam
asetat. Larutannya mengoksidasi aldehida dan keton pada atom karbon-. Benzaldehida
menghasilkan benzoin.
Kompleks anion sangat mudah dibentuk. Standar analitik ceric amonium nitrat yang dapat
dikristalkan dari HNO
3
, mengandung anion heksanitratocerat, [Ce(NO
3
)
6
]
2-

Praseodymium (IV) dan Terbium (IV). Ini hanya ada dalam oksida dan fluorida. Sistem
oksida sangat rumit dan non stoikiometri. Potensial Pr(IV)/Pr(III) diperkirakan +2,9 V sehingga
tidaklah mengherankan bahwa Pr(IV) tidak ada dalam larutan akua.
7. Keadaan divalensi
Keadaan +2 diketahui dalam senyawaan larutan maupun padatan Sm, Eu dan Yb seperti tabel
dibawah ini.
Ion Warna E (V) Jari-Jari Kristal (A)
Sm
2+
Merah-Darah -1,55 1,11
Eu
2+
Tak Berwarna -0,43 1,10
Yb
2+
Kuning -1,15 0,93
Yang paling kurang stabil adalah Tm
2+
dan Nd
2+
, namun ion +2 dari semua lantanida dapat
dibuat dan distabilkan dalam kisi-kisi CaF
2
atau BaF
2
dengan reduksi, misalnya, MF
3
dalam
CaF
2
dengan Ca.
Ion europous dapat dibuat dengan mereduksi larutan akua Eu3+ dengan Zn atau Mg. Ion-ion lain
memerlukan penggunaan amalgam Na. Ketiganya dapat dibuat dengan reduksi elektrolitik dalam
larutan akua atau dalam lelehan halida.
Ion-ion Sm
2+
dan Yb
2+
sangat mudah dioksidasi dengan air. Eu
2+
dioksidasi oleh udara. Ion Eu
2+

mirip dengan Ba
2+
. Jadi sulfat dan karbonatnya tidak larut sedangkan hidroksidanya larut.
Kestabilan kompleks Eu
2+
dengan EDTA
4-
adalah intermediat antara kompleks Ca
2+
dan Sr
2+
.
Senyawaan kristal Sm, Eu, dan Yb biasanya isostruktur dengan analog Sr
2+
atau Ba
2+
. Jadi sulfat
dan karbonatnya tidak larut sedangkan hidroksidanya larut. Kestabilan kompleks Eu
2+
dengan
EDTA
4-
adalah intermediet antara kompleks Ca
2+
dan Sr
2+
. Senyawaan kristal Sm, Eu, dan Yb
biasanya isostruktur dengan analog Sr
2+
atau Ba
2+

8. Referensi
1. Cotton, F Albert & Wilkinson, Geoffrey. Basic Inorganic Chemistry. Jhon Wiley and Son. 1976
2. Prakash, S. Advance Chemistry of Rare Earth Elements. New Delhi: S. Chand. Co (PVT). 1975,
3. Moris, B. Rare Earths. PIRSA Minerals - Mineral Resource Potential - Rare Earth Elements.htm.
2006
4. Gordon B. Haxel, James B. Hedrick, and Greta J. Rare Earth ElementsCritical Resources for
High Technology http://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/rare_earths/. US
Geological Survey
5. W., Christopher. S. Study of the Rare Earth Resources and Markets for the Mt. Weld Complex.
Washingon : BBC Research.
6. http://www.mii.org/rareearths.html
7. Bayliss, Peter, A, A. Levinson. A system of nomenclature for rare-earth mineral species: Revision
and extension. http://www.minsocam.org/. Department of Geology and Geophysics, The
University of Calgary. Canada. 1988

Anda mungkin juga menyukai