Anda di halaman 1dari 488

PEnpTNDAHAN KaLoR

UNTUK MAHASISWA TEKNIK


Raldi Artono Koestoer
Penerbit
Salemba Teknika
"-1
I
i .
:l
I
:ll
i '..,
I
i
r ,.,
M wtthtklUq-
PERPI N DAHAN KALOR
UNTUK MAHASISWA TEKNIK
Relor AnroNo KoEsroER
@ 2002, Penerbit Salemba Teknika
Grand Wijaya Center Blok D-7
Jl. Wijaya 2, Jakafta 12160
Telp.
Faks.
Email
Website
(021) 721-0238, 7 25-8239
(02t) 721-0207
salemba@centrin. net. id
http ://www.salembateknika,com
H ak cip t a dilin ilun gi llndang-un dang. Di la ra n g mem perba nya k
apa pun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk
penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari Penerbit. ;
sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk
memfotokopi, merekam, atau dengan sistem
Koestoer, Raldi Aftono
Perpindahan Kalor Untuk Mahasiswa Teknik /
RaldiArtono Koestoer
-
Edisi Peftama - Jakarta: Salemba Teknika, 2002
1jil.: 26 cm
ISBN :979-9549-20-5
1. Teknik L ludul
KATA PENGANTAR
BUKU PERPINDAHAN KALOR UNTUK
MAHAS'SWATEKNIK
Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya buku Perpindahan Kalor
untuk Mahasiswa Teknik ini naik cetak juga. Mulai dari usaha pertama tahun 1992
kami memulainya dengan membuat diktat Perpindahan Kalor Konveksi yang
digunakan untuk keperluan internal di
Jurusan
Teknik Mesin Fakultas Teknik Uni-
versitas Indonesia. Buku ini disusun berdasarkan pengalaman mengajar Perpindahan
Kalor Dasar sejak tahun 1985. Awalnya di dua jurusan
yaitu Teknik Mesin dan
Teknik Gas Petrokimia. Dengan bertambah banyaknya jumlah mahasiswa yang
mengikuti kuliah, maka pengajaran untuk mata kuliah ini pun dipisah untuk masing-
masing jurusan, dan kami melanjutkannya untuk jurusan Teknik Mesin.
Dengan didukung penelitian di bidang Perpindahan Kalor yang dilaksanakan
di laboratorium, baik melalui skripsi tingkat 51 maupun sekarang juga untuk tingkat
52, bertambahlah pengetahuan kami, baik dalam bidang teori maupun praktik.
Berdasarkan peralatan yang tersedia di laboratorium. Penelitian kami berkembang
pada poros-poros tertentu yaitu: Konduktivitas Kalor bahan padat, pendidikan
(boiling), pengembunan (condensation), Penukar Kalor (Heat Exchanger). Banyak
hal yang telah dilakukan dalam pengembangan perpindahan Kalor sebagai ilmu
dan Penukar Kalor sebagai peralatan industri. Di antaranya melalui kegiatan
laboratorium inilah dibentuk Himpunan AhIi Perpindahan Kalor Indonesia (HAPKI)
tahun 1.994,bersama rekan-rekan peneliti dari LTMP (Laboratorium Termodinamika
dan Mesin Propulsi) Serpong dan ITB.
Beberapa seminar dan konperensi di Indonesia yang erat kaitannya dengan
Perpindahan Kalor menjadi sumber yang tiada habis untuk acuan buku ini, di
antaranya Seminar Perpindahan Kalor dan Massa biasanya diselenggarakan oleh
Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada, biasanya diselenggarakan setahun sekali.
Konperensi internasional yang patut dicatat dalam bidang ini, diselenggarakan oleh
ITB yaitu, Fluid and Thermal Energy Conference (1994,1997 dan2000, tiga tahun
]
sekaii;.
' a
I
Beberapa mantan murid di UI yang Tugas Akhirnya menjadi bahan juga dari
I
3:*ffi **;;l?:,liTi,*,**r'[:xT,1'"]?'#*#;*x-ffi
ffi:ly
vi KATA PENGANTAR
ini, Zulkifli dan Budi Setiyawan. Masih banyak lagi yang tak mungkin kami sebutkan
satu persatu. Kepada mereka kami ucapkan banyak terima kasih semoga mereka
berhasil dalam menapaki karier sebagai professional sejati. Daftar publikasi atau
makalah yang pernah kami buat dalam kurun waktu 1984 sampai dengan 1998 dapat
dilihat
pada webpage http: / /www.ene.ui.ac.idl-koestoer.
Tentu buku ini masih jauh dari sempurna, tetapi kami telah berusaha semaksimal
mungkin untuk berkontribusi, baik pada perkembangan ilmu pengetahuan maupun
khususnya pada perkembangan ilmu Perpindahan Kalor di Indonesia. Kritik dan
saran yang membangun sangat kami harapkan untuk menyempurnakan buku ini
di masa yang akan datang. Semoga yang telah dirintis ini dapat berguna bagi generasi
muda bangsa kita yang akan menghadapi tantangan berat nanti.
Depok, 2002
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
.............v
DAFTAR ISt ...............,.......
................ vii
DAFTAR GAMBAR ..........
............... xiii
DAFTAR TABEL
.. xxi
DAFTAR SIMBOL
xxiii
BAGIAN SATU
BAB 1
1.1 Aliran Viskos
....... 1
1.2 Lapisan Batas Laminar Pada PIat Rata ......... ........... 2
1.3 Persamaan Energi Lapisan Batas .......,..6
1.4 Lapisan Batas Kalor ........
.......................
g
1.5 Bilangan Nusselt
.................12
BAB 2 KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR...... ...............15
2.1 Aliran Melalui Plat Rata
....... 15
2.1.1 Logam Cair Dalam Aliran Laminar ................. 15
2.1.2Fluida Umum Dalam Aliran Laminar .............. 16
2.1 .3 Aliran Turbulen
........... 20
2.2 Alian Menyilang Silinder
....29
2.2.1 Koefisien Seret
...........23
2.2.2Koetisien Perpindahan Kalor
........29
2.2.3Variasi h (e) Di Sekitar Sitinder ...................... 31
2.3 Aliran Menyilang Bola .........
.................. 39
2.3.1 Koefisien Seret.
..........
gg
I
l
2.3.2 Koefisien Perpindahan Kalor
........
g4
I
2.4 AlianMenyilang SitinderTak Bundar......
................ 36
I
2.5 Aliran Menyilang Berkas Tabung
.......... 40
)
-1
r
Viii PERPINDAHAN KALOR
2.5.1 KorelasiPerpindahan Kalor .......... 42
2.S.2Korelasi PenukaranTekanan.............. ...........45
2.5.3 Logam Cair ................ 46
2.6 Perpindahan Kalor Dalam Aliran Kecepatan Tinggi ................... 51
BAB 3 KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN ....57
3.1 Aliran Laminar
3.1.1 Panjang Masuk Kalor dan Hidrodinamik ..............
3.1.2 Aliran Berkembang Penuh
3.1.3 Aliran Berkembang Penuh
3.2 AliranTurbulen
3.2.1 Faktor Gesekan dan Penurunan Tekanan...............
3.2.2Korelasi Empiris
3.3 Aliran PadaTabung Non Silinder
3.4 Perpindahan Kalor Logam Cair,..,......
3.4.1 Fluks Kalor seragam...........,
3.4.2 Temperatur Dinding Seragam
3.4.3 Daerah Masuk Ka|or.........
3.4.4 Efek Konduksi Kalor Aksial .....,..........
3.5 Saluran Dengan Penampang Berubah
57
57
59
62
65
65
67
72
75
76
77
77
77
83
BAB 4 KONVEKSI BEBAS ..........85
4.1 Korelasi PlatVertikal ........,....... .............85
4.1.1 Temperatur Dinding Seragam ...... 86
4.1.2 Fluks Kalor Seragam .......... ..,...... 89
4.2 Korelasi Plat Horizontal ..........................,.. ............. 90
4.2.1Temperatur Dinding Seragam ...... 91
4.2.2Fluks Kalor Seragam .,........ ......... 91
4.3 Korelasi Plat Miring ............. 93
4.4 Korelasisilinder Panjang .... 94
4.4.1 SilinderVertikal ..........94
4.4.2 Silinder Horizontal.............. .......... 95
4.5 KorelasiBola.......... ............. 98
4.6 Korelasi Logam Cair .......... ................... 99
4.7 SilinderBerputar ............... 100
4.7.1 Gabungan Konveksi Alamiah dan Konveksi Paksa Rotasi ............. 102
DAFTAR ISI ix
4.7.2 Gabungan Konveksi Alamiah, Rotasi dan Aliran Bebas .................. 103
DAFTAR PUSTAKA
....................10s
BAGIAN DUA
BAB 5 KONDUKTIVITAS KALOR GAS DAN UAP .................109
5.1 Mekanisme Konduksi KalorZalGas dan Uap.......... .........,..... 109
5.2 Teori Konduktivitas Kalor Pada Gas Monoatomik.............. ...... 110
5.3 Teori Konduktivitas Kalor PadqGas Poliatomik ..... 111
5.4 Pengaruh TemperaturTerhadap Konduktivitas Kalor Gas PadaTekanan Rendah....... 116
5.5 Pengaruh Tekanan Terhadap Konduktivitas Kalor Gas .......... .. 117
5.6 Konduktivitas Kalor Gas Campuran PadaTekanan Rendah .... 1 1g
5.7 Pengaruh Temperatur dan Tekanan Terhadap Konduktivitas Kalor Campuran Gas ..... 121
BAB 6 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT CAIR .............. ..........123
6.1 Mekanisme Konduksi Kalor Pada ZalCai ............ 129
6.2 Perkiraan Konduktivitas Kalor PadaZatCair Murni .................124
6.3 Pengaruh TemperaturTerhadap Konduktivitas Kalor ZalCa'r ................... 126
6.4 Pengaruh Tekanan Terhadap Konduktivitas Kalor Zat Cair ..... 127
6.5 Konduktivitas Kalor DariCampuranZalCair.......... ................. 129
BAB 7 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT ........... .........133
7.1 Mekanisme KonduksiKalorZat Padat ................... 133
7.2 Konduktivitas Kalor Logam dan Paduan ............... ................... 134
7.2.1Logam Murni ............ 134
7.2.2Logam Paduan ......... 135
7.2.3Persamaan-Persamaan Konduktivitas Kalor Logam dan Paduan....................... 139
7.3 Konduktivitas Kalor Non Logam .......... 140
7.3.1 Materiallsolasi .........141
T.3.2MalerialBangunan (Keramik)...... .... . .......149
BAB 8 EKSPERIMEN DAN PERANGKAT LUNAK
KONDUKTIVITAS KALOR .........1.45
8.1 Pengaruh Unsur Nikel Antara 3
-
5 % Terhadap Konduktivitas Kalor Perunggu
Aluminium Pada Kondisi As Cast dan Solution Treatment (Gunawan, A., 1992). ....... 145
,:'-1'-'.t''-=
r
PERPINDAHAN KALOR
BAB 9
Pengaruh Variabel Komposisi Fe (1"/", 4"h,6/o) Terhadap Konduktivitas Kalor
Perunggu Aluminium (Sari, D.G., 1995)
................ 147
Perbandingan Angka Konduktivitas Kalor Material Bangunan lndonesia Standar
Ashrae (Darwan, A,. 1991) ,.. .
..149
Penelitian Konduktivitas Kalor Material Bangunan dan Pengaruh Pemakaian Jenis
KeramikTerhadap Beban Pendingin (Winarno, A., 1994) ........ 1SO
Pen garu h Pe ru bahan Stru ktu r M ikro Terhadap Konduktivitas Kalor Al-Zn
(Nasser, S.A., 1996) .........
..............,... 1S3
Ulasan Perangkat Lunak Data Base Konduktivitas Kalor "Therm" ........... 155
6.6.1 Cara Pengoperasian .......... ........ 156
6.6.2 Ulasan ..............
....... 161
sTUDr KASUS
1.............. ros
8.2
8.3
8.4
8.5
8.6
9.1 Karakteristik Konduktivitas Kalor Campuran Gas N, dan CO, 163
9.1.1 Perhitungan
.............. 163
9,1.2 Gambar Hasil Perhitungan (Hasil PerhitunganTerlampir) ... ..................... 169
9.1.3 Pembahasan
............ 120
9.2 Karakteristik Konduktivitas Kalor Campuran Cairan Benzena dan Aseton .................. 171
9.2.1 Contoh Perhitungan ............ ....... 111
9.2.2Gambar Hasil Perhitungan (Hasil PerhitunganTerlampir)..... . . .................... 179
9.2.3 Pembahasan
............174
BAB 10 KESIMPULAN
................177
DAFTAR PUSTAKA
...........181
BAGIAN TIGA
BAB ll TEORI DASAR RADIASI ..............183
1 1 .1 Pengertian Radiasi .............. ................ 183
'l
1 .2 Sifat-sifat Radiasi .............. 185
11 .2.1 Hukum Perpindahan Wien ........ 186
11.3 Daya Emisi ........ ................ 187
11.3.1 Spektrum Daya Emisi Benda Hitam ........... 1BZ
11.3.2 Daya EmisiTotal Benda Hitam ................... 189
1 1 .3.3 Spektrum Daya Emisi Benda atau Permukaan Tidak Hitam ........... 191
1 1 .4 lntensitas Radiasi ................ ................ 191
l
DAFTAR ISI xi
1 1 .5 Distribusi Planck
............... 194
11.6 Emisi Band .........
............... 195
11.71rradiasi..............
..........,.... 198
1 1.8 Karateristik Radiasi dari Permukaan yang Bertingkah Laku Seperti Benda Hitam ...... 199
11.8.1 Emisi Permukaan
... 1gg
11.8.2 Absorpsivitas (penyerapan)
..... 2Og
11.8.3 Refleksivitas (Pemantulan)
........... .............. 2Os
l l.S.4Transmisivitas
......... 2Og
11.9 Radiositas ...........
.............. 210
BAB 12 RADIASI PADA BENDA PADAT, CAIR DAN GAS ....211.
12.1 Radiasi Pada Benda Padat dan Cair ...211
12.1.1Sifat-Sifat Radiasidari Logam
....................211
12.1.2 Sifat-Sifat Radiasidari Non Logam
.............214
12.2 Radlasi Pada Gas ..........
...216
BAB 13FAKTORPANDANG..............
.........221.
13.1 Faktor Bentuk Radiasi
......221
13.2 Hubungan Antara Berbagai Faktor Bentuk ...........227
13.3 Pertukaran Kalor antara Benda -TakHitam
..........291
13.4Bidang SejajarTak Berhingga
.............241
,
13.5 Perisai Radiasi
..................249
13.6Jaringan Radiasi Untuk Medium yang bersifat Absorpsi dan Transmisi .......... ...........249
l3.TPertukaran Radiasi dengan Permukaan Spekular .................. 255
l3.SPertukaran Radiasi dengan Mediayang BersifatTransmisi, Refleksi, dan Absorpsi .263
BAB 14 PERHITUNGAN PERPINDAHAN KALOR DENGAN FORMULASI
NUMERIK DAN SOFTWARE ........... ..............267
14.1 Formulasi untuk Penyelesaian Numerik ...............267
14.2 Perhitungan dengan Menggunakan Metode Numerik .............221
14.3 Perhitungan dengan Menggunakan Software ........... .............. 2Zs
BAB 15HUBUNGAN EMISIVITAS DENGAN KONDUKTIVITAS .....,....277
15.1 Latar Belakang Penelitian
15.2Tujuan Penelitian
15.3 Metode Penelitian
277
277
278
I
Xii PERPINDAHAN KALOR
15.4 Ruang Lingkup .................278
15.5 Deskripsi Peralatan dan Prosedur Pengambilan Data ............ 279
15.6 Batasan Pengujian ............ 281
15.7 Pengolahan dan Analisa Data.......... ... 282
15.8 Kesimpulan Hasil Penelitian .......... ...... 286
BAB 15RANGKUMAN........... .....289
DAFTAR PUSTAKA ....................291
soAL-soAL............ .....293
LAMPIRAN.............. ....374
TENTANG PENULIS............. .,....465
INDEX ........467
L--
1
BAGIAN SATU
Gambar 1-1
Gambar 1-2
Gambar 1-3
Gambar 1-4
Gambar 1-5
Gambar 1-6
Gambar 1-7
Gambar 2-1
Gambar 2-2
Gambar2-3
Gambar2-4
Gambar 2-5
Gambar 2-6
Gambar 2-7
Gambar 2-8
Gambar 2-9
Gambar 2-10
Gambar 2-11
Gambar2-12
Gambar 2-13
Gambar 2-14
DAFTAR GAMBAR
Lapisan batas di atas plat rata (19)........... .................. 1
Unsur volume kendali untuk neraca gaya pada lapisan besar laminar........ 3
Unsur volume kendali untuk analisis energi lapisan batas laminar............. 6
Profilsuhu pada lapisan batas kalor........ .................. I
Volume kendali untuk analisis energi lapisan batas laminar ...... I
Lapisan batas hidrodinamika dan lapisan batas kalor diatas plat rata..... 11
Distribusi suhu lapisan batas turbulen untuk fluida yang mengalir melalui
plat datar panas (13) .......... ....14
Lapisan batas kalor dan kecepatan untuk perpindahan kalor logam cair
diatas plat rata (19) .......... ...... 15
Lapisan batas kalor dan kecepatan untuk fluida umum (19) ...................... 17
Aliran di sekitar silinder
t
19I .......................... .......... 23
Aliran melintasi baii
[9]
..........23
Koefisien seret untuk silinder
[21]
.......... .................24
Angka Nusselt rata-rata untuk aliran udara menyilang silinder
tunggal
[16]...........
................... 28
Nilai Nu untuk aliran menyilang silinder
1241..........
................... 29
Variasi Nu pada Re yang rendah
t4l
............ ............. 31
Variasi Nu pada Re yang tinggi
t41.............
................ 32
Variasi nilai Nusselt lokaldarisilinder dalam aliran silang
[19]
.................32
Foto-foto interferometer aliran udara menyilang silinder
17]
............
Koefisien seret untuk bola
[21].
.r...............
Nilai Nu untuk aliran menyilang bola
[24]
Nilai Nusselt untuk berbagai geometri saluran
33
33
34
38
r
XiV PERPTNDAHAN KALOR
Gambar2-15
Gambar2-16
Gambar2-17
Gambar2-18
Gambar2-19
Gambar 2-20
Gambar2-21
Gambar 2-22
Gambar 2-23
Gambar3-1
Gambar 3-2
Gambar 3-3
Gambar 3-4
Gambar3-5
Gambar3-6
Gambar 3-7
Gambar 3-8
Gambar 3-9
Gambar 3-10
Gambar 3-11
Gambar 3-12
Gambar 3-13
Gambar 3-14
Gambar 3-15
Gambar3-16
Gambar3-17
Nilai Nusselt rata-rata pada
*
=
0*
t8]............. ........... 3g
Nilai Nusselt rata-rata pada
*
=
45*
18]............ ..........
gg
Variasi nilai Nusselt rata-rata terhadap berbagai sudut serang
.
[g]..........
39
Visualisasialiran disekitar prisma
t8]
............
......... 40
Nu VS Re untuk
*
=
10* dan 20*
t81............. ............... 40
Susunan berkas tabung (a) Segaris (b) Selang-seting ............... 41
Faktor koreksiuntuk persamaan (2-38)
[25]...........
..................... 45
Faktor gesekan fdan faktor koreksiZuntuk susunan berkas tabung
segaris
[19]
..........
.................... 45
Faktor gesekan f dan faktor koreksiZuntuk susunan berkas tabung
selang-seling
[19] ................... 46
Panjang masuk kalor dan hidrodinamik
[19]
(a) Perpindahan kalor dimulai pada sisi masuk saluran
(b) Perpindahan kalor dimulaisetelah daerah pemanasan.........................
Sg
Perkembangan lapisan batas hidrodinamik untuk aliran dalam
tabung
[19]........... .................... s9
Angka Nusselt lokal dan rata-rata untuk alira laminar dalam sitinder
11g]
60
Angka Nusselt lokaldan rala-rata untuk laminar antara dua plat
sejajar
t91l
..........
..................... 61
Angka Nusselt lokaldan rata-rata untuk aliran dalam tabung segi
empat
t911........... ..................... 61
Angka Nusselt rata-rata untuk aliran berkembang penuh dalam
silinder
[91]........... ................... 62
Angka Nusselt rata-rata untuk aliran berkembang penuh dua plat
sejajar
t19l
..........
..................... bs
Faktor gesekan untuk aliran dalam silinder
t19]...........
............. 66
Korelasibilangan Nusselt logam cair
[19]
............... 76
Efek Konduksikaloraksial[19]...........
....7A
Nusselt lokal untuk fluks kalor seragam
[14]
........... ................... 78
Nu vs Pe untuk f luks kalor seragam
t14]........... ....... Z9
Nusselt lokal untuk suhu dinding seragam
[14]
...... 79
Nu vs Pe untuk suhu dinding seragam
[14]
.............. Zg
Perbandingan beberapa korelasi
[19] .....
gI
Perkembangan aliran dalam saluran
tl5]........... ......
g3
Nusselt rata-rata vs Reynolds
[15] ..........
g4
Gambar 4-1
Gambar 4-2
Gambar 4-3
Gambar 4-4
Gambar 4-5
Gambar 4-6
Gambar 4-7
Gambar 4-8
Gambar 4-9
Gambar 4-10
Gambar 4-11
Gambar 4-12
DAFTARGAMBAR XV
Lapisan batas di atas plat rata vertikal
[19]
.......... ..................... 86
Korelasi untuk plat vertikal
[16]
.............. 90
Konsep positif dan negatif pada plat miring
tsl
............ ........... 93
Rasio bilangan Nusselt untuk silinder vertikal terhadap plat vertikal
[19]95
Korelasi untuk silinder horisonta!
t2]
............ .......... 96
Perbandingan korelasisilinder horisontal
[16]
.......... .............. 98
Nusselt rata-rata untuk logam cair
[23]
................... 99
Beberapa korelasi logam cair
[23]
........ 100
Nu vs Re untuk aliran yang dominan
[11]
.............. ................. 101
Nu vs Re untuk rotasi yang dominan
[11]..............
.................. 102
Gabungankonveksialamiahdanrotasit11l..........
................. 103
Gabungan ketiga mekanisme
[11]
......... 103
BAGIAN DUA
Gambar 5-1
Gambar 5-2
Gambar 5-3
Gambar 5-4
Gambar 5-5
Gambar 6-1
Gambar 6-2
Gambar 6-3
Gambar6-4
Gambar 7-1
GambarT-2
Gambar 7-3
GambarT-4
GambarT-5
GambarT-6
GambarT-7
Hubungan antara Eucken terhadap temperatur ............... ...... 111
Hubungan antara berat molekul dan konstanta ......... ............ 116
Hubungan antara temperatur terhadap konduktivitas kalor gas............ 117
Hubungan antara kerapatan gas dengan konduktivitas kalor gas......... 118
Hubungan antara fraksi molterhadap konduktivitas gas campuran ..... 120
Hubungan temperatur terhadap konduktivitas kalor pada cairan
klorotrifluo rometan ............127
Pengaruh tekanan terhadap konduktivitas kalor zal cair ......127
Korelasi Missenard untuk konduktivitas kalor zal cair pada tekanan
tinggi
................... 128
Konduktivltas kalor campuran zat murni ................. 129
konduktivitas kalor dari beberapa logam murni ..... 135
Laju penurunan nilai konduktivitas kalor akibat kenaikan temperatur
pada logam murni .............,.. 136
Beberapa bentuk, ukuran dan orientasibutir. ........ 137
Arah hantaran kalor pada butir dan batas butir......... .............. 137
Pengaruh temperatur terhadap logam paduan ....... 138
Konduktivitas kalor beberapa materialisolasi dan bahan bangunan .....141
Hubungan antara kerapatan dan nilaikonduktivitas kalor .....142
:.."=
XVi PERPINDAHAN KALOR
Gambar 8-1
Gambar 8-2
Gambar 8-3
Gambar 8-4
Gambar 8-5
Gambar 8-6
Gambar 8-7
Gambar 8-8
Gambar 8-9
Gambar 8-10
Gambar 8-11
Gambar 9-1
Gambar 9-2
Gambar 9-3
Gambar 9-4
Gambar 9-5
Gambar 9-G
175
BAGIAN TIGA
Gambar 11-1
Gambar 11-2
Konduktivitas kalor perunggu aluminium pada kondisi as Cast.............. 146
Konduktivitas kalor perunggu aluminium pada kondisi solution
treatment .............. 146
Konduktivitas kalor perunggu aluminium pada kondisi as Cast......... ..... 147
Konnduktivitas perunggu Alumunium pada kondisi solution treatment . 1 48
Konduktivitas kalor perunggu alumunium pada kondisi Homogenisasi. 148
Perbandingan antara hasilpengukuran dan ASHRAE.............................. 149
Konduktivitas kalor kayu......... ................ 150
Konduktivitas kalor kaca......... ................ 151
Konduktivitas kalor keramik ................. 152
Konduktivitas kalor semen .. 153
Harga konduktivitas kalor pada berbagaijenis pendingin ..... 154
Harga konduktivitas kalor N2-CO2 pada berbagai komposisi ....................'t 69
Hubungan antara temperatur terhadap konduktivitas kalor N2
-
CO2 . .. ..169
Hubungan tekanan terhadap konduktivitas kalor gas N.
-
COr............................ 170
Harga antara konduktivitas kalor Benzena-Aseton pada berbagai
komposisi .................. ........... 173
Hubungan temperatur terhadap konduktivitas kalor Benzena-Aseton .... 174
H ubungan antara tekanan terhadap kondu ktivitas kalor Benzena-Aseton
Spektrum gelombang elektromagnet (sumber ref:6 hal 13)..................... 185
Hubungan antara panjang gelombang terhadap temperatur
(sumber : ret 4hal711).............. ............ 186
Gambar 11-3 lrradiasi matahari yang memasuki bumi ( sumber: ref. 6 hal 16
).............
187
Gambarll-4 Metodepembuatanruangtertutupbendahitam ... 190
Gambar 11-5 Proyeksi sinar radiasi yang mengenai suatu permukaan seluas dApada ....
panjang gelombang /dan arah (q,fl
[sumber
: ref.6 hal 15] ...192
Gambar 11-6 Hubungan antara daya emisi benda hitam dengan intensitas
[sumber
: ref.6 hal 17] ......... 193
Gambar 11-7 Hubungan antara panjang gelombang terhadap temperatur
[sumber:
ret2hal T].............. ................. 194
Emisi radiasi dari benda hitam pada panjang gelombang 0
-
I
[sumber
: ret.4 hal 713
]
............... .......... 195
Gambar 11-8
DAFTAR GAMBAR XVii
Gambar 11-9 Fraksi daritotalemisi benda hitam pada panjang gelombang ( 0
-
!)
sebagaifungsi lT
I
sumber: ref. 4hal716
]
............... .............. I96
Gambar 11-10 Hubungan antara nilaiemisivitas spectrat benda konduksiatau non
konduksi terhadap g
[sumber
: ret.4hal720l ......... 201
Gambar 11-11 Nilai normal emisivitas dari beberapa material terhadap arah datangnya
sinar.
[Sumber
: ref.4 hal720l ................202
Gambar 11-12a Hubungan antara temperatur terhadap total, normal emisivitas untuk
beberapa material
[sumber
:ret.4hal721l ............2O2
Gambar 11-12b Nilaitotal, normalemisivitas dari beberapa benda
[sumber
: ret.4hal722) ........ 203
Fungsipemantulan bidirectional ........... ................. 206
Refleksidiffuse
... 206
Refleksispecular ................. 206
Proses penyerapan, pemantulan dan transmisioleh sebuah
permuka4n
.....r..r.r..,.............. 209
Spektral, normal refleksivitas pada temperatur ruang untuk aluminium,
tembaga
[sumber
: ref.6 hal93] ............212
Total, normal emisivitas dari beberapa logam yang dilapisi sebagai
fungsi daritemperatur
[sumber
: ref.6 hal 101]. ....212
Spectral, normal emisivitas untuk aluminium dengan permukaan yang
mempunyaiperbedaan perlakuan
[sumber:
ref.6 hal114]......................213
Total, hemispherical emisivitas dari beberapa logam yang dilapisi
sebagaifungsi daritemperatur
[sumber
: ref.6 hal 97] ..........213
Emisivitas dari bahan-bahan konduktor dan non konduktor (a) es basah;
(b) kayu;(c) gelas (d) kertas; (e) tanah liat; (f) oksida tembaga; (g) oksida
aluminium
[sumber:
ref.6 hal93] ........214
Spectral, normal refleksivitas dari MgO pada temperatur ruang
[sumber:
ref.6 hal 103] .......214
Spectral, normal refleksivitas darisilikon pada temperatur ruang
[sumber
: ref.6 hal 105] ........215
lndeks refraktif dari beberapa material
[sumber
: ref.6 hal 106] .............. 215
Absorpsidalam lapisan gas........... .......218
Absorpsivitas monokromatik untuk uap air. Untuk panjang gelombang
antara 0,8 sampai4 m, suhu uap 127o C,tebal lapisan 109 cm;gelombang
4 sampai34 m; (a) suhu 127" C,tebal lapisan 109 cm; (b) suhu 127"C,tebal
lapisan 104 cm; (c) suhu 127o C, tebal lapisan32,4 cm;(d) suhu 81o C, tebal
lapisan 32,4 cm, campuran arus udara dengan lapisan uap air kira-kira
setebal4 cm;(e) suhu kamar,lapisan udara basah dengan lapiasn uap
kira-kira setebal 7 cm......... .. 219
Gambar 11-13
Gambar 11-14
Gambar 11-15
Gambar 11-16
Gambar 12-17
Gambar 12-18
Gambar 12-19a
Gambar 12-19b
Gambar 12-20
Gambar 12-21
Gambar 12-22
Gambar 12-23
Gambar 12-24
Gambar 12-25
-Al
Xviii PERPINDAHAN KALOR
Gambar 13-26
Gambar 13-27
Gambar 13-28
Gambar 13-29
Gambar 13-30
Gambar 13-31
Gambar 13-32a
Gambar 13-32b
Gambar 13-33
Gambar 13-34
Gambar 13-35
Gambar 13-36
Gambar 13-37
Gambar 13-38
Gambar 13-39
Gambar 13-40
Gambar 13-41
Gambar 13-42
Gambar 1'3-43
Bagan unsur bidang yang digunakan untuk menurunkan faktor bentuk
radiasi
[sumber
: ret.2 hal 405] ............. 221
Sistem koordinat bola yang digunakan untuk menurunkan faktor
bentuk radiasi
[sumber
:ret.2 hal407] .....,............221
Pandangan elevasi luas yang ditunjukkan dalam gambar (26)
[sumber
: ret.2 hal 406] ....... 221
Faktor bentuk radiasiantara dua siku-empat sejajar
[sumber
: rel.4 hal 799] ....... 222
Faktor bentuk radiasi untuk radiasiantara dua piring sejajar
{sumber
:rel.4 hal799l .......223
Faktor bentuk radiasi antara dua siku-empat tegak lurus dengan
satu sisi bersama
I
sumber : rel.4 hal 800
]
............... ............. 223
Faktor bentuk radiasi untuk dua silinder konsentrik dengan panjang
berhingga ( silinder luar ke silinder itu sendiri)
[
sumber
=
ref .2 hal 411
1224
Faktor bentuk radiasi untuk dua silinder konsentrik dengan panjang
berhingga (silinder luar ke silinder dalam)
[
sumber : ret.2 hal 4111....... 224
Bagan yang menuniukkan beberapa hubungan antara faktor bentuk ..... 226
Bagan siku empat tegak lurus dengan sisi bersama ................................ 226
Gambar bagan siku empat tegak lurus dengan dua sisi bersama ..........,227
Unsur yang menggambarkan " tahanan permukaan " dalam metode
jaringan
radiasi ...231
Unsur yang menggambarkan " tahanan ruang " dalam metode
jaringan
radiasi ...............r. .................. 231
Jaringan radiasi untuk dua permukaan yang saling melihat dan tidak
melihat permukaan yang lain ..................232
Jaringan radiasi untuktiga permukaan yang saling melihat satu sama
lain, tetapi tidak melihat sesuatu permukaan lain. .................. 233
(a)skema(b) jaringan............ ............235
Jaringan radiasi untuk dua permukaan yang melingkungi permukaan
krtiga yang tidak melakukan konduksitetapi melakukan radiasi
kembali ...............237
(a)skematik(b) jaringan
radiasi ........238
Radiasi antara dua bidang sejajar tak berhingga dengan perisai dan
tanpa perisai ........242
Gambar 13-44 Jaringan radiasi antara dua bidang sejajar yang dipisahkan oleh sebuah
perisai radiasi. ...,243
Gambar 13-45 Jaringan radiasi untuk contoh kasus 3.7 ............ .., 247
Gambar 13-46
Gambar 13-47
Gambar 13-48
Gambar 13-49
Gambar 13-50
Gambar 13-51
Gambar 13-52
Gambar 13-53
Gambar 13-54
Gambar 13-55
Gambar 13-56
Gambar 13-57
Gambar 13-58
Gambar 13-59
Gambar 13-60
Gambar 13-61
Gambar 13-62
Gambar 13-63
Gambar 13-64
Gambar 13-65
Gambar 15-66
Gambar 15-67
Gambar 15-68
Gambar 15-69
Gambar 15-70
Gambar 15-71
Gambar 15-72
Gambar 15-73
DAFTAR GAMBAR XiX
Sistem radiasi yang terdiri dari medium yang bersifat transmisi diantara
dua bidang (a) skema (b), (c) jaringan
radiasi ........248
Jaringan radiasitotal untuk sistem pada gambar 45 ........ ....... 250
Sistem radiasiyang terdiri dari dua lapisan transmisiantara dua bidang250
Unsur
jaringan
untuk radiasi yang ditransmisi antara dua bidang .......... 251
Unsur
jaringan
untuk radiasiyang ditransmisioleh medium ke bidang1252
Unsur
jaringan
untuk pertukaran radiasi antara dua lapisan transparan 253
Jaringan radiasi total untuk sistem dalam gambar 48 .............................. 253
Unsur
jaringan yang menggambarkan persamaan (133) ........ 255
...........255
Unsur
jaringan yang menggambarkan persamaan (136) ........ 256
l
Sistem dengan sebuah permukaan spekular baur ......... ......... 256
Unsur
jaringan
untuk persamaan 141 .......... ...'....... 257
Jaringan radiasi lengkap untuk sistem dalam gambar 56 ........................257
Sistem dengan dua permukaan spekular baur ...... 258
Unsur
jaringan yang menuniukkan pertukaran antara permukaan 1
dan 4 dalam gambar 59 ............ .............. 259
Unsur
jaringan yang menunjukkan pertukaran antara permukaan 1
dan 3 sesuai dengan gambar 59 ............. ................ 259
Jaringan radiasi lengkap untuk sistem pada gambar 59 .......................... 259
Sistem fisis untuk menganalisis lapisan-lapisan yang bersifat transmisi
dan refleksi.............. .............. 261
Unsur
jaringan yang menggambarkan persamaan (1a9) ........262
Jaringan radiasi lengkap untuk sistem dalam gambar 63 ........................ 263
Peralatan perpindahan kalor radiasi ......277
Konstruksi radiometer termopil pada peralatan ......... ............. 278
Konstruksi termopil .............. 278
Keterangan data ukuran ........279
Grafik fungsi emisivitas terhadap temperatur ............... .......... 281
Grafik fungsi konduktivitas terhadap temperatur.......... ........... 281
Grafik emisivitas terhadap konduktivitas............ .... 282
Grafik emisivitas lawan konduktivitas pada temperatur konstan ............ 282
-1.
BAGIAN
Tabel 2-1
Tabel2-2
Tabel2-3
Tabel2-4
Tabel2-5
Tabel 2-6
Tabel 3-1
Tabel3-2
Tabel 3-3
Tabel 4-1
Tabel4-2
Tabel 4-3
Tabel4-4
BAGIAN
Tabel 5-1
Tabel5-2
Tabel5-3
Tabel5-4
Tabel 6-1
Tabel6-2
DAFTAR TABEL
SATU
Harga C untuk persamaan (2-16) ....------.--.-...-..24
Konstanta C dan n untuk persamaan (2'24) .... 36
Perbandingan harga Nusselt untuk berbagaigeometri
..................... 37
Konstanta Co dan n untuk persamaan (2'34) .................... 43
Faktor koreksi C1 untuk persamaan (2-61) ....'. 43
Konstanta C2 dan eksponen m untuk persamaan (2-37) ....-..--..---..--- 44
Panjang masuk kalor Lt dan hidrodinamik Lh untuk aliran laminar dalam
tabung
..........' 59
Perbandingan korelasiteoritis dan empiris angka Nusselt rata-rata untuk
aliran dalam silinder
...'. 65
Angka Nusselt dan faktor gesekan untuk aliran laminar berkembang
penuh
pada berbagai bentuk penampang.............
.---- 73
Konstanta C dan n untuk persamaan 4'2 ........... .............. 87
Konstanta C dan n untuk persamaan (4'12) ..................... 91
Bilangan Grashof transisi
............... 94
Konstanta C dan n untuk persamaan 4'20 ......... ................ 96
DUA
Harga konduktivitas kalor beberapa
gas dan uap berdasarkan kenaikan
berat molekul(Jacob, Max.,1957).
................ 110
Kapasitas panas darienergidalam C,,......................
'.
. .....'.............114
Persamaan f
=
(Tr
)................
........ 115
Hubungan antara fraksi molterhadap faktor q .............. ...--.,--.-.....-- 121
Konduktivitas kalor beberapa zalcair pada tekanan 1 atm ............124
Faktor-faktor H dan N untuk persamaan Robbins dan Kingrea........................ 125
XXii PERPINDAHAN KALOR
Tabel 6-3
Tabel6-4
Tabel 8-1
TabelS-2
TabelS-3
Tabel 8-4
Tabel 9-1
Tabel9-2
Tabel 10-1
Tabel 10-2
Harga-harga A dalam persamaan Missenard ................. 129
Harga-harga Si untuk Anion dan Kation dalam persamaan
Jamieson dan
Tudhope
..... 191
Konduktivitas kalor beberapa bahan bangunan ............ 149
Komposisimaterial Al-Zn ............ 1Sg
Jenis fluida pendingin
.................. 154
Harga konduktivitas kalor pada berbagai pendingin ......... .............. 154
Sifat-sifat darigas N2 dan CO2 ......... ............. 163
Sifat-sifat cairan Benzena dan Aseton murni ................. 171
Harga konduktivitas kalor zat cair..... ............. 178
Harga konduktivitas kalor zat
[adat
............. 178
BAGIAN TIGA
I
Tabel 11-l Nilai F (0 D I
)
sebagai fungsi dari IT ............... 196
Tabel 12-2 Emisivitas masing-masing materia!............. ..280
BAGIAN SATU
Simbol
DAFTAR SIMBOL
Keterangan Satuan
A
c
CD
c
p
cv
d
D
DH
f
h
n
L
m
Luas penampang
Paneis spesifik
Koefisien gaya hambat
Panas spesifik pada tekanan konstan
Panas spesifik pada volume konstan
Diameter
Kedalaman atau diameter
Diameter hidraulik
Koefisien gaya gesek
Percepatan gravitasi
Kecepatan massa
Koefisien perpindahan kalor
Koefisien perpindahan kalor rata'rata
Panjang
Massa
Laju aliran massa
Tekanan
Laju perpindahan kalor
Kalor
m
kJ/kg.K
kJ/kg.K
kJ/kg.K
m
m
m
g
m
(7=-
A
m
P
q
o
mls2
Kg/m2.s
Wm2.oC
Wm2.oC
m
kg
kg/s
Pa
Watt
KJ
-4
XXiV PERPINDAHAN KALOR
t
t,T
u
U
V
Greeks
a
p
Ar
n
lt
v
p
Group dimensional
Ec
u2
Ketebalan
Temperatur
Kecepatan
Koefisien perpindahan panas total
Kecepatan
Difusivitas termal
Ekspansi termal volumetrik
Perbedaan temperatur
Efisiensi
Viskositas
Viskositas kinematik
Massa
jenis
m
m/s
W/m2.K
m/s
m2ls
K-1
K
kg/s.m
m2ls
kg/m3
Bilangan Eckert
Bilangan Grashof
Bilangan Graetz
Bilangan Nusselt
Bilangan Peclet
Bilangan Prandtl
Bilangan Rayleigh
G,
c
o(T*
-
T*)
g.g(f.
-T*)*'
2
7)
d
I.
G,
=
Re'Pr
^r -
h'x
tv,
-
k
Pe
=
Re.Pr
o
-cov
,"
-- ,k
Ba=Gr.Pr
E--
DAFTAR SIMBOL XXV
D
-
pu'x
O"
=? BitanganReynolds
s,
=!
-
BilanganStanton
'
p.c
pu
Subscript
b
d
f
i
L
o
m
Dievaluasi pada kondisi borongan
Berdasarkan diameter
Berdasarkan kondisi film
Kondisi awal atau sisi dalam
Berdasarkan
panjang
Plat
Kondisi akhir atau sisi luar dalam
Kondisi aliran rata-rata
Dievaluasi pada kondisi sekitar
Dievaluasi
pada suhu dinding
Dievaluasi
pada kondisi aliran bebas
s
W
BAGIAN DUA
Simbol
DAFTAR SIMBOL
Keterangan Satuan
A
c
cD
c
p
cv
d
D
DH
f
Luas penampang
Panas spesifik
Koefisien gaya hambat
Panas spesifik pada tekanan konstan
Panas spesifik pada volume konstan
Diameter
Kedalaman atau diameter
Diameter hidraulik
Koefisien gaya gesek
Percepatan gravitas
Kecepatan massa
Koefisien perpindahan kalor
Koefisien perpindahan kalor rata-rata
Panjang
Massa
Laju aliran massa
Tekanan
Laju perpindahan kalor
Kalor
m
kJ/kg.K
kJ/kg.K
kJ/kg.K
m
m
m
h
n
L
m
g
m
(z=-
A
m
P
q
o
m/s2
Kg/m2.s
Wm2.oC
Wm2.oC
m
kg
kg/s
Pa
Watt
KJ
xxvilt
t
t,T
u
U
V
Greeks
a
p
Ar
rl
p
v
p
Group dimensional
EC
u'-
PERPINDAHAN KALOR
Ketebalan
Temperatur
Kecepatan
Koefisien perpindahan panas total
Kecepatan
Difusivitas termal
Ekspansi termal volumetrik
Perbedaan temperatur
Efisiensi
Viskositas
Viskositas kinematik
Massa
jenis
m
m/s
W/m2.K
m/s
m2ls
K-1
K
kg/s.m
m2ls
kg/m3
Bilangan Eckert
Bilangan Grashof
Bilangan Graetz
Bilangan Nusselt
Bilangan Pecklet
Bilangan Prandtl
Bilangan Rayleigh
Gr=
Gr=
c
r(T*.
-
T,)
gF$*
-
T*) x3
v2
aePr!
L
N..
=
hx
K
Pe= He Pr
o
-cr\
, -
--
'k
Ra= Gr Pr
>_.
R"
=9!)(
p
DAFTAR SIMBOL XXiX
Bilangan Reynolds
Bilangan Stanton
h
Dt
=-
9cpu
Subscript
b
d
f
i
L
o
m
Dievaluasi pada kondisi borongan
Berdasarkan diameter
Berdasarkan kondisi film
Kondisi awal atau sisi dalam
Berdasarkan panjang plat
Kondisi akhir atau sisi luar dalam
Kondisi aliran rata-rata
Dievaluasi pada kondisi sekitar
Dievaluasi pada suhu dinding
Dievaluasi pada kondisi aliran bebas
s
w
e
-:a'u
DAFTAR
SIMBOL
BAGIAN TIGA
Simbol Keterangan
Satuan
Kalor
Konduktivitas
Konveksi
Temperatur
Energi
Massa
Kecepatan cahaya
Frekuensi
Panjang gelombang
Emissivitas
Absorsivitas
Transmisivitas
Vektor posisi
Vektor arah
Sudut polar
Sudut azimut
Sudut solid
lntensitas energi
Luas permukaan
W
Wm.K
W/m2 K
K
Wlm2
kg
m/s
Hz
um
derajat
derajat
deralat
Wlmz
m2
r
I
)
I
XXXii PERPINDAHAN KALOR
F*, Faktorpandang
KONSTANTA
H
ca
6
Konstanta Planck
Konstanta Radiasi
Konstanta Boltzman
6.625 x 1fis Js
2897.8 pm
5.669 x 10{Wm2 Ka
Perpindahan Kalor Konveksi
BAGIAN SATU:
BAB 1 DASAR.DASAR KONVEKSI
BAB 2 KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR
BAB 3 KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN
BAB 4 KONVEKSI BEBAS
DAFTAR PUSTAKA
I
BAB 1
Perhatikan aliran di atas piat rata seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Dari
tepi depan plat terbentuk suatu daerah di mana pengaruh gaya viskos makin
meningkat. Gaya-gaya viskos ini biasa diterangkan dengan tegangan geser f, antara
lapisan-lapisan fluida.
Jika
tegangan ini dianggap berbanding lurus dengan gradien
kecepatan normal, maka kita dapatkan persamaan dasar untuk viskositas,
DASAR-DASAR
KONVEKSI
( 1-1)
1.1 ALIRAN VISKOS
Gambar 1-1
Lapisan atas di
atas plat rata (19)
du
,_vdv
Konstanta proporsionalitas,r.r disebut viskositas dinamik.
Lapisan Batas
Laminar
Lapisan Batas
Turbr"rlen
u
Tebal Lapisa
Lapisan Buff
Batas 6(I)
i+
-+
+
--+
-+
..>
Tebal
Lapisan
Batas 6 (x)
l+-.-
!
t
U*xc
a
Rr,
Lapisan
Turbulen
,-+
,+
-)
r,ffi$
)
PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Daerah aliran yang terbentuk dari tepi depan plat itu, di mana terlihat pengaruh
viskositas disebut lapisan batas. Untuk menandai posisi y di mana lapisan batas
itu berakhir, dipilih suatu titik sembarang. Titik ini biasanya dipilih sedemikian
rupa pada koordinat y di mana kecepatan menjadi 99 persen dari nilai arus bebas
u*, jadi u
=
0,99 tt*
Pada permulaan, pembentukan lapisan batas itu laminar, tetapi pada suatu
jarak kritis karena sifat-sifat fluida, gangguan-gangguan kecil pada aliran itu
membesar dan mulailah terjadi proses transisi hingga akhirnya aliran menjadi
turbulen. Karakteristik aliran ini ditentukan oleh kuantitas suatu besaran yang
disebut bilangan Reynolds. Untuk aliran melintas plat rata seperti pada gambar
di atas, bilangan Reynolds didefinisikan sebagai:
R
='*'
tl
Dengan u-
=
kecepatan aliran bebas (m/s)
a
=
jarak dari tepi depan plat (m)
a
=
viskositas kinematik fluida (m'/s)
(1-2)
Transisi dari aliran laminar menjadi turbulen terjadi apabila Re > 5.10s.
Walaupun untuk tujuan analisis angka Reynolds kritis untuk transisi di atas
plat rata biasa dianggap 5.10s, namun dalam situasi praktis nilai kritis ini
sangat bergantung pada kekasaran permukaan dan tingkat keturbulenan arus
bebas. Tapi untuk aliran sepanjang plat rata, Iapisan batas selalu turbulen
untuk Re
>
4.106.
Pada daerah aliran turbulen, lapisan yang sangat tipis dekat plat bersifat
laminar (laminar sublayer), dan di sini aksi viskos dan perpindahan kalor
berlangsung dalam keadaan seperti laminar. Lebih jauh dari permukaan plat,
terdapat aksi turbulen, tetapi aksi viskos molekul dan konduksi kalor masih
penting. Daerah ini disebut lapisan buffer (buffer layer). Lebih jauh lagi, aliran
menjadi sepenuhnya turbulen, dan mekanisme utama penukaran kalor dan
momentum melibatkan bongkah-bongkah makroskopik fluida yang bergerak
kemana-mana di dalam aliran itu. Dalam bagian yang sepenuhnya turbulen ini,
terdapat viskositas pusaran (eddy aiscosity) dan konduktivitas kalor pusaran
(eddy thermal conductiaity).
Kesulitan pokok dalam penyelesaian analisis aliran turbulen ialah bahwa sifat-
sifat pusaran ini berbeda-beda dalam lapisan batas, dan variasinya hanya dapat
ditentukan dari data percobaan. Semua analisis aliran turbulen pada akhirnya harus
mengandalkan data percobaan karena tidak ada teori yang benar-benar memadai
untuk meramalkan tingkah laku aliran turbulen.
1,. !
,r,l1,
Lglp,iSANrl BATAS LA M I NArB,:,l,:rPA DA
Perhatikanlah unsur volume kendali seperti tampak pada gambar di bawah ini.
Persamaan gerakan untuk lapisan batas dapat kita turunkan dengan membuat
neraca gaya dan momentum pada unsur volume itu.
l-
Gambar 1-2
Unsur volume
kendali untuk
neraca gaya
pada lapisan
besar laminar.
BAB 1
'
DASAR.DASAR KONVEKSI 3
Untuk menyederhanakan analisis kita andaikan:
1. Fluida tak mampu mampat dan aliran tunak
2. Tidak terdapat perubahan tekanan diarah tegak lurus plat.
3. Viskositas tetap
4. Gaya geser-viskos di arah y dapat diabaikan.
Kita terapkan hukum kedua Newton tentang gerak.
sE _d(mV)x
UT
dT
Hukum Newton kedua tentang gerak dalam bentuk seperti di atas. Berlaku
untuk sistem yang massanya tetap. Dalam dinamika fluida tidak selalu mudah
bekerja dengan unsur massa, oleh sebab itu kita menggunakan unsur volume kendali
seperti pada Gambar L-2, di mana massa dapat mengalir ke dalam dari satu sisi
dan keluar dari sisi lain volume itu yang mempunyai kedudukan tetap dalam
ruang. Untuk sistem ini neraca gaya dapat dituliskan sebagai berikut:
: F, - tambahan fluks momentum pada arah r
Fluks momentum pada arah x adalah hasil perkalian aliran massa melalui satu
sisi tertentu dari volume kendali dan komponen r kecepatan pada titik itu.
Massa yang masuk dari muka kiri unsur itu per satuan waktu adalah:
pu dy
Jika
kita andaikan satu-satuan kedalaman pada arah z.
Jadi
momentum masuk
pada muka kiri per satuan waktu adalah:
l_.
L *Lao
I 0u"
.lau a(ar).'l
ujxt_+_t_tdu I
lav
avlav)"
)
u
--)
0u
^dx
dx
*
il.ar\a
ox)
-0u
-udx_
'0y
u +
p
pdy
PERPINDAHAN
KALOR
KONVEKSI
Massa
yang
pudyu=pu2dy
keluar
dari
muka
kanan:
of, *
*0.l*
dan
momentum
yang
keluar
dari
muka
kanan
adalah:
ol_, *#o-f",
Aliran
massa
yang
masuk
dari
muka
bawah
adalah:
Pts dx
Aliran
massa
keluar
dari
muka
atas
adalah:
ol, *
Pn, lnr
L
ay
',
j"^
Neraca
massa
pada
unsur
itu
memberikan
pudy
+pudx
=ol , **nrl*
_pl
o *
L
ay
l"
,1"_
atau
**9=n
dx
dy
-
(1_3)
Persamaan
ini adalah
p.ersamaan
kontinuitas
untuk
Iapisan
batas.
r?ii ii[f
iiil***fl"j*1,h
dur
;#,;,i#"ntum
pada
arah
x yang
keluar
dari
muka
atas
iarah:
pau
dx
dan
mome"r"*
f,rl;.;;i'J
ir",
of' *
*r, lr*
n
ol , *
!0, lr.
L
dy
"j
L
dy-)
Bagi
kita
hanya
mo
p".n,,i
u"' I#
Hi:il"#:,t,:
ii?
llXt
:f
s
penting.
k arena
say
a y ansmeni
a d i
s
ay a y an
I
d i s e b a b k a n
"
r
"h
;;;;;T,,'u::T
#
g:;,i:,l
f:*"H,1ffi
,
#;;
!r, lo,
dy"
J
BAB 1 N DASAR.DASAR KONVEKSI 5
tekanan pada muka kiri p dy, d.anpada muka kanan
-
[,
.
(*)-)-
sehingga
gaya tekanan netto pada arah gerakan adalah:
- Lor
o,
dx
Gaya geser-viskos pada muka biwah adalah:
0u
-
u-clx
'0y
Dan gaya geser pada muka atas:
^,
d'u
F-;
dy'
t-
* pl,
L
dx dy
-
**
*
= olu
*
{a*
)'
,,
-
puzdy
oo.lt du
-l
?dv ll
, *
?ay lar -
puudx
dy
.lL
dy
l
ua*l
L
.
i-(L)0,1
lav
aylav
)" l
Gaya geser-viskos netto pada arah gerakan adalah jumlah kedua gaya di atas:
02u
Gaya geser-viskos netto
= V
UaxAY
Dengan menyamakan jumlah gaya geser-viskos dan gaya tekanan dengan
perpindahan momentum pada arah x, kita dapatkan:
Disederhanakan dengan menggunakan persamaan kontinuitas (1-3) dan
mengabaikan diferensial order kedua, kita dapatkan:
F__-I
I du dul d'u do
Olu +-+Lt
-
l-u----l-
't
0x av
)
0y' 0x
(1-4)
Persamaan ini adalah persamaan momentum untuk lapisan batas laminar dengan
sifat-sifat tetap.
Persamaan ini dapat diselesaikan secara eksak untuk berbagai kondisi batas.
Metode aproksimasi yang disajikan oleh von Karman (1946) memberikan hasil
sebagai berikut:
r
6 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
6 4,64
-
=
------i--i
(1_5)
,
Rei,.
Perhatikanlah unsur volume kendali seperti tampak pada gambar di bawah ini.
Untuk menyederhanakan analisis, kita andaikan:
L. Aliran tunak tak mampu-mampat
2. Viskositas, konduktivitas kalor, dan kalor spesifik tetap
3. Konduksi kalor pada arah aliran (arah x) dapat diabaikan
Lalu, untuk unsur tersebut dapat kita buat neraca energi:
Energi dikonveksikan pada muka kiri + energi dikonveksikan pada muka
bawah
+ kalor dikonduksikan pada muka bawah + kerja viskos netto pada unsur
+ energi dikonveksikan pada muka kanan + energi dikonveksikan pada
muka atas
+ kalor dikonduksikan dari muka atas.
Besaran energi konduksi dan konveksi ditujukan pada Gambar 1-3 di atas, dan
suku energi untuk kerja viskos dapat diturunkan sebagai berikut, kerja viskos dapat
1.3 PERSAMAAN ENERGI
i.LAPISAN
B,ATAS
Gambar 1-3
Unsur volume
kendali untuk
analisis energi
Iapisan batas
laminar.
l_,
I
l
r *
{ay\a,
dvl
(,
* Lor\,,
I
dx
)-
),
dy
ar)
-l
ay)
do
0y
0u
F_
0x
dy
,)[
d.)
tly
l
AT
_K
AU
^
dy
p vcrT dx
L--
BABl * DASAR.DASAR KONVEKSI
dihitung sebagai hasil perkalian antara gaya geser-viskos netto dengan jarak
perpindahan gaya ini dalam satuan waktu. Gaya geser-viskos ialah hasil perkalian
gaya geser dengan luas dx.
0u
uuro*
Dan jarak perpindahan per satuan waktu terhadap unsur volume kendali dx dy
adalah:
du
urro'
Sehingga energi viskos netto yang diserahkan pada unsur itu adalah:
--2
*l + |
oroy
'lav)
Neraca energi dengan besaran-besaran yang ditunjukkan pada Gambar 1-3, dan
mengandalkan satu satuan tebal pada arah z, serta mengabaikan diferensial orde
kedua, menghasilkan
r2-
ko'=drdu +
oy'
J
eC
rl,
AT
-tU-=-
dy
.(#|
AT
i
.r(Y.9l]0, n,
=
[a'
tu
))
persamaan kontinuitas:
dx dy
Dengan menggunakan
Dan membagi dengan
AT
n- +
'0y
9=o
dy
peroleh:
a2T u la,
=N-r---l-l-
0y' pcp
l)y
+
ita
du
a.
Pcr'k
AT
0-
0y
(1-6)
(1-7)
Persamaan ini adalah persamaan energi lapisan batas laminar. Bagian kiri
menunjukkan energi netto ke dalam volume kendali, dan bagian kanan
menunjukkan jumlah kalor netto yang dihantarkan ke luar volume kendali dan
kerja viskos yang dilakukan atas unsur itu. Suku kerja-viskos hanya penting
pada kecepatan tinggi karena nilainya relatif kecil dibanding suku-suku lain,
apabila kita mengkaji aliran kecepatan rendah.
[8
PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
1 ;4''LAPISAN BATAS KALOR
Lapisan batas kalor (thermal boundary layer) kita definisikan sebagai daerah di
mina terdapat gradien suhu dalam aliran. Gradien suhu itu adalah akibat
Proses
pertukaran kalor antara fluida dan dinding.
Perhatikanlah sistem pada gambar di bawah ini. Suhu pada dinding adalah 7,,,
dan suhu pada fluida di luar lapisan batas kalor adalah T- sedang tebal lapisan
batas kalor adalah d,.
Gambar 1-4
Profil suhu
pada
lapisan batas
kalor.
_T
(x,y)
-7,"
tu
0
Kalor
Tebal Laplsan Batas
Pada dinding kecepatan aliran
berlangsung secara konduksi.
adalah:
adalah noI, dan
Jadi
fluks kalor
perpindahan kalor ke fluida
setempat persatuan h)as q",
4
-
^,
-
;-4
A
,AT
-K-
0y
] 0.0.,
(1-8)
(1-e)
Dengan menggabungkan
Dari hukum pendinginan Newton,
4"=h(T,,-7*)
Di mana h adalahkoefisien perpindahan kalor konveksi.
kedua persamaan tersebut, kita dapatkan:
I
I
I
t.-
I
I
{
't
k (ar
ftv)
tL
-
-
Tr,
-T *
'
Sehingga kita hanya perlu menemukan gradien suhu pada dinding untuk menilai
koefisien perpindahan kalor, Hal ini berarti kita harus mendapatkan suatu
persamaan tentang distribusi suhu.
Kondisi yang harus dipenuhi oleh distribusi suhu itu adalah:
T
=
T, pada
07
=
0 pada
T
=
Too pada
Dan dengan menuliskan Persamaan
maka
BAB 1.i. DASAR-DASAR KONVEKSI
A=0
A=6,
A=6,
(1-7)padaU=0tanpa pemanasan viskos,
(a)
(b)
(c)
azT
-=0
dy'
paday=g (d)
karena kecepatan harus sama dengan noi pada dinding.
Kondisi (a) sampai (d) dapat dipenuhi oleh polinominal
dalam hal profil kecepatan, sehingga
kubus sebagaimana
T_To
=
T*_T,U
(1-10)
di mana 0
_=
T
-
{,.
sekarang kita hanya tingal menemukan persamaan untuk d,,
yaitu tebal lapisan batas kalor. Persamaan itu bisa didapatkan dengan analisis
integral persamaan energi untuk lapisan batas.
Perhatikan volume kendali yang dibatasi oleh bidang-bidang 1,2,A-A, dan
dinding seperti pada gambar di bawah ini, Kita andaikan bahwa lapisan batas kalor
lebih tipis dari lapisan batas hidrodinamik, seperti pada gambar. Suhu dinding
adalah 7,,, suhu aliran bebas T* dan kalor yang dilepaskan ke fluida pada panjang
dx adalah dq_.
Sekarang kita buat neraca energi:
Energi yang dikonversikan ke dalam
+ kerja viskos dalam unsur + perpindahan kalor pada dinding
+ energi yang dikonversikan ke luar
r r3
3u 1l a I
_L__tLt
26, ZLa,
]
0
0_
Gambar 1-5
Volume kendali
untuk analisis
energi lapisan
batas laminar.
v
L_-,
d,
q-)
dul
1O PERPINDAHAN KALoR KoNVEKSI
Energi yang dikonversikan ke dalam melalui bidang 1 adalah:
H
,r,
[ur
dy
Aliran massa melalui bidang A-A adalah:
Dan energi yang dikonversikan ke luar melalui bidang 2
pcpl'1 ur dy
I
-
+[
pcp'lur ay
fax
Lb
"
)
drl'
6
J
Dan perpindahan kalor
Kerja viskos netto yang
Dan perpindahan kalor melalui dinding:
klio,
av
)a*
melalui dinding dengan energi yang sama dengan
Cp r,#lio,, ay
far
dilakukan di dalam unsur itu adalah:
f , ,2 I
-L
t[#)"
l*
dq*
= -o
o-
#l
J
IID
Dengan menggabungkan besaran-besaran energi ini sesuai dengan
Persamaan (1-10) dan mengumpulkan suku-sukunya, kita dapatkan:
(r
* -
r
t,, *
). #ll(*\
*
l=
AT
ay
d lH.
d-l
!
(1-1 1
)
Persamaan ini adalah persamaan energi integral lapisan batas untuk keadaan
sifat-sifat tetap dan suhu aliran bebas tetap.
Plat yang dalam perhatian kita tidak perlu dipanaskan pada keseluruhan
panjangnya. situasinya dapat kita lihat pada Gambar L-6 di bawah ini, di mana
lapisan batas hidrodinamik terbentuk pada tepi depan plat, sedang pemanasan
baru dimulai pada x
=
xo.
Gambar 1-6
Lapisan batas
hidrodinamika
dan lapisan
batas kalor di
atas plat rata.
BAB 1 * DASAR.DASAR KONVEKS! 11
1__.
u
_.-.--..-.>
T
Penyelesaian akhir dari persamaan untuk tebal lapisan batas kalor adalah sebagai
berikut:
(7-1,2)
Pr disebut sebagai angka Prandtl yakni parameter yang menghubungkan
ketebalan relatif antara lapisan batas hidrodinamika dan lapisan batas kalor.
Angka Prandtl juga merupakan penghubung antara medan kecepatan dan medan
suhu.
n..
u
tllp
_CpV
'''=a=klpcp= k
(1-13)
dengan C,
=
kapasitas kalor
lr =
viskositas dinamik
k
=
konduktivitas kalor
Kembali pada analisis kita, kita mempunyai
E=L=
1
pr_1t31
,_(&)',n)'''
"5
7.026
L [r] l
,.
k(arlay) ar 3k
h
=
r;
-i:
=
,t
=
, ss
(1-14)
Dengan memasukkan tebal lapisan batas hidrodinamik dari Persamaan (1-5)
dan menggunakan Persamaan (1.-12), kita dapat
'3/+
l-1/3
I | 1r-rs;
))
an mengalikan kedua belah
Iompok tak berdimensi pada
h,
= 0,332k Pr(1.
l"'1, -(
'
[r,, L
\,
Persamaan ini dapat dibuat tak berdimensi deng
persamaan dengan x/k, sehingga menghasilkan ke
bagian kiri
12 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
*,r=
T
(1-16)
(1,-1,7)
xo
=
0 maka
yang disebut bilangan N.usselt, menurut Wilhelm Nusselt yang banyak
memberikan sumbangan dalam teori perpindahan kalor konveksi
Akhirnya kita dapatkan
Na,
=
0,332Pr113 Re
xo
x
,lrl
,-(
147+ 1-t/:
))
Untuk plat yang dipanaskan pada keseluruhan panjanBnya,
Persamaan L-17 menjadi;
Nr,
=
0,332.Pr1/3.Re1/2 (1-18)
Tampak di sini bahwa bilangan Nusselt merupakan fungsi dari bilangan Reynolds
dan Prandtl.
Perpindahan kalor antara batas benda padat dan fluida terjadi karena adanya
suatu gabungan dari konduksi dan transport massa. Kecepatan perpindahan
energi bergantung pada gerakan massa. Kecepatan perpindahan energi
bergantung pada gerakan pencampuran partikel-partikel fluida. Untuk
memindahkan kalor dengan cara konveksi melalui fluida pada laju tertentu,
diperlukan gradien suhu yang lebih besar di daerah di mana kecepatan rendah
daripada di daerah di mana kecepatan tinggi.
Dengan menerapkan pengamatan-pengamatan kualitatif ini pada
perpindahan kalor dari dinding padat ke fluida, kita dapat menggambarkan
profil suhunya secara kasar. Di dekat dinding kalor hanya dapat mengalir dengan
cara konduksi karena partikel-partikel fluida tidak bergerak relatif terhadap
batas. Lebih jauh dari dinding, gerakan fluida membantu transport energi itu
dan gradien suhu akan kurang curam, dan akhirnya menjadi rata di aliran utama.
Gambar di bawah ini menunjukkan aliran udara melewati plat datar. Distribusi
suhu yang ditunjukkan dalam gambar ini menggambarkan pemikiran-pemikiran
di atas secara kualitatif.
Pembahasan di atas mengarah pada suatu cara untuk menentukan laju
perpindahan kalor antara dinding padat dan fluida, karena pada bidang antara
(yaitu, pada y
=
0
)
kalor mengalir hanya dengan cara konduksi, maka laju aliran
kalor dapat dihitung dari persamaan:
k A9!-
0y
q
--
V=0
(1-1e)
BAB 1 * DASAR.DASAR KONVEKSI 13
Untuk keperluan perekayasaan pengertian koefisien perpindahan kalor konveksi
akan lebih memudahkan. Dengan menyamakan persamaan di atas dengan hukum
pendinginan Newton atau Persamaan (1-9) kita peroleh:
=hA(r.-r-) (1-20)
y=0
Karena besarnya gradien suhu dalam fluida akan sama berapapun suhu
acuannya, maka kita dapat menulis DT
=
0 (T
-
T,) dengan memasukkan suatu
dimensi panjang karakteristik sistem r untuk menunjukkan geometri benda dari
mana kalor mengalir, kita dapat menuliskan Persamaan (1-20) di atas dalam bentuk
tak berdimensi sebagai
a
=-kAL
'0y
l
Gabungan koefisien perpindahan kalor konveksi h panjang karakteristik x, dan
konduktivitas kalor fluida k dalam bentuk
tl
dir"brt bilangan Nusselt. Bilangan
x
Nusselt adalah suatu besaran yang tak berdimensi.
Pengkajian terhadap Persamaan (L-21) menunjukkan bahwa bilangan Nusselt
dapat ditafsirkan secara fisik sebagai perbandingan antara gradien suhu yang
langsung bersinggungan dengan permukaan terhadap suatu gradien suhu acuan
(T*
-
T-)/ x.
Distribusi suhu bagi fluida yang mengalir melewati suatu dinding yang panas,
seperti digambarkan dengan garis penuh dalam Gambar 1-7, menunjukkan bahwa
gradien suhu fluida hanya terdapat dalam suatu lapisan yang relatif tipis q, di
dekat permukaan. Sekarang kita akan menyederhanakan gambaran yang
sebenarnya dengan pengganti distribusi suhu yang sebenarnya dengan garis lurus
terputus-putus. Garis terputus-putus tersebut menyinggung kurva suhu yang
sebenarnya pada dinding dan secara fisik menunjukkan distribusi suhu dalam
suatu lapisan-hipotetik fluida setebal 6,, yang dalam hal tiada gerakan sama sekali
memberikan tahanan kalor yang sama dengan lapisan batas yang sebenarnya pada
aliran kalor. Dalam lapisan tanpa gerakan ini, kalor hanya dapat mengalir dengan
cara konduksi dan laju perpindahan kalor per satuan luas adalah:
ar
-l
-^-l
hx
_
da
)r=o
_
k
Tr,
-T*
x
,[*
)
(1.-21)
q-
A
r&;I-=h(r*-r,)
Dari persamaan di atas dapat dilihat bahwa h dapat dinyatakan sebagai
(1-22)
14 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
(7-23)
dan bilangan Nusselt sebagai
Nu
=hi=_ (1,_24)
k6,
Gambaran ini menunjukkan bahwa semakin tipis lapisan batas 6,, maka akan
semakin besar konduktansi konveksinya. Untuk memindahkan sejumlah besar kalor
secara cepat, kita mengusahakan untuk memperkecil tebal lapisan batasnya
sebanyak mungkin.
Dari Persam aan (1-24) dapat kita ketahui bahwa secara fisik bilangan Nusselt
dapat diartikan sebagai kebalikan (inaerse) terhadap tebal lapisan batas kalor'
h
=k
6,
Gambar 1-7
Distribusi suhu
lapisan batas
turbulen untuk
fluida yang
mengalir melalui
plat datar
panas (13)
Nilai y di mana
(Tu-T)=99%(r*-T*)
BAB2
KONVEKSI PAKSA
MELALUI
PERMUKAAN
LUAR
2.1'] ALIRAN MELALUI PLAT RATA
Seperti yang telah dibahas pada dasar konveksi, jika pemanasan dimulai dari
tepi depan plat maka lapisan batas kecepatan dan kalornya akan berkembang
secara bersamaan, dan ketebalan relatifnya tergantung pada besarnya angka
Prandtl.
Angka Prandtl untuk logam cair sangat rendah yakni berkisar 0,01; oleh karena
it-u lapisan batas kalornya jauh lebih tebal dari pada lapisan batas kecepatan
(q >> d). Hal tersebut dapat kita lihat pada gambar di bawah ini.
)u-
-_t
........*T-
Lapisan batas kecepatan kalor
Y
L-
U.
6(r)
e(x, y)
Gambar 2-1
Lapisan batas
kalor dan
kecepatan untuk
perpindahan
kalor logam cair
di atas plat
rata (19)
I
I
16 PERPINDAHAN KALoR KONVEKSI
Secara analisis penentuan harga koefisien perpindahan kalor untuk kasus ini
serupa pada Bagian 1.4 yakni dengan menggunakan persamaan energi integral
lapisan batas. Dari penyelesaian persamaan integrasi tersebut didapat bahwa:
(2-1)
Hubungan ini dapat dibuat dalam bentuk tak berdimensi sebagai
Koefisien perpindahan kalor dapat dinyatakan dengan
,^ _-k(ar
1ay\
_
3K
_3A F_
rLx__T_T=_rq
_
8
{."
Nlr,
=
T
=
0,530( Re,.Pr
)'l:-=
0,S3OPe1l2
6 4,64
;
=
R"lTr
Maka kita dapat menghitung 6/ 6
,:
! = #J
p,
=
1,64,m
6f
Ja
Karena untuk logam cair Pr
=
0.01; maka kita peroleh
f
=
o,roa
(2-2)
(2-4)
(2-5)
(2-6)
(2-3)
Pe
=
Re'Pr yang disebut sebagai bilangan Peclet.
Dengan menggunakan persamaan berikut untuk tebal lapisan batas
hidrodinamik,
yang menunjukkan bahwa untuk logam cair 6 << 6,
Berbeda dengan logam cair; fluida yang umum seperti udara (Pr
=
0.7)
atau air memiliki angka Pr > 1. Oleh karena itu lapisan batas kecepatannya
lebih tebal dari pada lapisan batas kalor. Hal tersebut dapat kita lihat pada
Gambar 2-2 di bawah ini.
8crr
U*
BAB 2
.:.
KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR 17
Gambar 2-2
Lapisan batas
kalor dan
kecepatan untuk
fluida umum (19)
-+u
----+
kaior
Y
L
l.
" *
Bagian dengan perpindahan kalor
Bag,ian tanpa
1,,* t*
perpindahan kalor
7..=T-
e=,
-,,
'l _'l
Lapisan batas kecepatan
Penentuan harga koefisien perpindahan kalor untuk kasus ini telah kita bahas
pada Bagian L.4, hasilnya kita tuliskam kembali sebagai berikut:
Nr*
=
0,332'Pt1/3'11st
tz
yang berlaku pada jangkauan Re < 5 x 105.
(2-7)
Untuk menghitung koefisien perpindahan kalor dengan menggunakan
persamaan di atas, sifat-sifat fluida dievaluasi pada suhu film, yakni rata-rata
aritmetik antara suhu dinding dan suhu aliran bebas, T,= (T*+ T*)/2.
Dalam praktek biasanya kita menggunakan harga ratalrata koefisien perpindahan
kalor sepanjang plat mulai r
=
0 sampai x
=
L, jadi:
I
h(x)dx
=zn(x)l
l,
=l
(2-B)
Dengan demikian angka Nusselt rata-rata untuk aliran laminar sepanjang plat
rata adalah:
Nu
=
0,664 Pr1/3
.Rer/2
(2-e)
Perlu diperhatikan bahwa Persamaan (2-9) berlaku untuk fluida yang memPunyai
angka Prandtl antara 0,6 sampai 50. Persamaan tersebut tidak berlaku untuk
fluida yang mempunyai angka Prandtl sangat rendah seperti logam cair, dan
yang mempunyai angka Prandtl sangat tinggi seperti minyak berat atau silikon.
Churchill dan Ozoe (1) telah mengkorelasikan sejumlah besar data yang meliputi
rentang angka Prandtl yang cukup luas, dan mendapatkan hubungan sebagai
berikut untuk aliran laminar di atas plat rata yang isotermal:
0,3387 Re
ll 2
.
Pr
l
lt
IL
h
=
L!
Nu,
=
[, *
(
0,0468
)"' l''o
L
l.Pr
) )
untuk Re
r'Pr
> 100 (2-10)
f
18 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Untuk kasus fluks kalor tetap, angka 0,3387
diganti dengan 0,0207. Sifat-sifat fisik fluida
) Contoh Kasus 2-1
Suatu plat rata bujur sangkar berukuran 20 x 20 cm2 dijaga pada suhu tetap
120"C. Fluida pada suhu 80C mengalir di atasnya dengan kecepatan 0,1m/s. Berapa
kalor yang dilepas plat tersebut
jika fluidanya adalah:
(a) Air raksa
(b) Udara
(c) Minyak mesin
]awab:
Suhu film, 7
=
(80 + 120)/2= 100'C.
Sifat-sifat fisik pada suhu film adalah:
(a)
Air Raksa
Bilangan Reynolds adalah:
diganti dengan 0,4637; dan 0,0468
dievaluasi pada suhu film.
Bilangan Peclet adalah:
Pe*
=
Re, 'Py
=
(2,2 x 10s) (0,01,62)
=
3564
Bilangan Nusselt adalah:
Re..
=
u*L
-
(o,r
)(
o,z
)-
=
2,2 x 105
' u 0,0928x 10-"
perpindahan kalor adalah:
=
2
.h,
=
(2) (1663)
=
3326
Na,
=9,539
Pe*1lz
=
0,530
0564)112 =
31,64
h
=yruk
_
(at,o+)(to,sr)
=1663
"x
L 0,2
koefisien
h
0,0928 x 10-6
Air Raksa
0,0317 23,1.2 x 1.0-6
0,203 x 10-4 0,1.37
Minyak Mesin
L-
Nilai rata-rata
BAB
2 * KONVEKST
PAKSA
MELALUI
PERMUKAAN
LUAR
19
Sehingga
perpindahan
kalor
total menjadi:
Q =na(T*-T*)
=
(3926)
(0,2),
(1,20 _
BO)
=
5322 W
(b)
Udara
Bilangan
Reynolds
adalah:
Rr,
-
u*L
=
(0,1X0.2)
,,
nI;;#
=
865
Bilangan
Nusselt
adalah:
N;
=
0,664Pr1/3.Re112
=
0,664(O,OOS)t/3
G6S)rt,
=
17,2g
i
=Nr.k
_(tz,zs)(o,ogt7)
_ .
L
--l)- =
s
Sehingga
perpindahan
kalor
total menjadi:
Q =T.a
(T*-T*)
=
g)
(A,2)2
(120 _
80)
=5W
(c)
Minyak
Mesin
Bilangan
Reynolds
adalah:
Re,=T=(o,l)(q,z)=e85
5ilrTrt#Ei?,o*"dtl
untuk
minyak
mesin
cukup
besar,
maka kita gunakan
Bilangan
Nusseli
adalah:
rrr,,
0,3397 Re
t
12 . pr
t
l3
I
, .
(9,9
')"'
l"o
L
(,Pr)l
/
20 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Nr, -
0,3387 (OAS
1'r'
(ZZe
1'
t
'
0,0468
276
Nu, k (69,1.6)(o,tz7
)
0,2
=
69,16
=47
[,.(
I,, ]"-
hr=
Nilai rata-rata koefisien perpindahan kalor adalah:
h=2h,=(2)(47)=94
Sehingga perpindahan kalor total adalah:
q
=he(T,,-T-)
=
(94) (0,2), (120
-
B0)
=150W
Dari hasil hitungan tampak bahwa perpindahan kalor terbesar terjadi pada fluida
logam cair, hal ini disebabkan oleh besarnya konduktivitas kalor logam cair.
Hasil perhitungan kita buat dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Korelasi untuk aliran turbulen sepanjang piat rata telah dikembangkan oleh
Whitaker (24) dengan bentuk sebagai berikut:
Nu,
=
0,029 Re*o'8' Pro'43 (2-1,1,)
Dalam praktiknya, lebih disukai menggunakan harga koefisien perpindahan
kalor rata-ratah sepanjang plat mulai 0
<
x
<
L. Pada aliran turbulen, selalu dimulai
oleh lapisan batas laminar. Oleh karena itu perata-rataan harus digunakan untuk
memperoleh harga rata-rata koefisien perpindahan kalor.
Misalkan aliran laminar pada jangkauan 0
<
x
<
c dan turbulen pada daerah
c
<
x
<
L. Koefisien perpindahan kalor lokal bagi kedua daerah tersebut adalah:
n:
=
o,zzzlL)l
tll2
u*xl'
,)
l!-
Pr
113
pada 0
I
x
<c (laminar
)
BAB 2 * KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR
h,,
=
o,o2gl
yll y=l1o''
,ro,n pada c
1
x
1L ( turbulen
) '
Lx.lL
a
)
Koefisien perpindahan kalor rata-rata /r sepanjang daerah plat 0 < x
didefinisikan sebagai:
21
<L
!A*
*\nlarl
xcxl
Bilangan Nusselt rata-rata sepanjang daerah laminar dan turbulen setelah proses
integrasi didapat:
Nu
=
0,036 Pr0,a3 (Rero,a
-
Re.o.8) + 0,664
prl/3
Recoj (2-12)
Harga Nu pada persamaan di atas tergantung pada harga Reynolds kritis untuk
peralihan dari laminar ke turbulen, untuk angka Reynolds kritis Re,
=
2.19s
persamaan di atas menjadi:
N,
= 0,036 Pro,a3 (Re.o,t
-
17.400) + 297 Pr1/s (2-13)
Whitaker
124)
menyarankan persamaan berikut untuk lebih mempertahankan
ketergantungan sifat-sifat fluida terhadap temperatur.
,
=
Il':o
(2-1,4)
Semua sifat dievaluasikan pada suhu aliran bebas kecuali
!r,,
dievaluasi pada
suhu dinding. Untuk gas koreksi viskositas dapat diabaikan,"dan semua sifat
dievaluasi pada suhu film.
Persamaan (2-14) di atas memberikan angka Nusselt rata-rata pada daerah
laminar dan turbulen pada plat rata yang sesuai untuk fluida-fluida seperti udara,
air hingga minyak mesin pada jangkauan:
2.1,0s < Re. < 5,5 x 106
0,7<Pr<380
0,26<(lt_/tt*)<3,5
) Contoh Kasus 2-2
Udara atmosfir pada T,
=
275 K dan u,
=
20 m/ s mengalir sepanjang plat rata
dengan panjang L
=
1,5 m yang dijaga pada suhu dinding T,
=
325 K.
(a) Tentukan koefisien perpindahan kalor rata-rata h sepanjang daerah aliran
laminar.
NLt-
=
0,036Pr0'* (nr.o''
-
oz00
)[
#1*
r
22 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
(b) Berapa koefisien perpindahan kalor rata-rata (h
)
sepanjang plat L
=
1,5 m
1c;
Hitung perpindalian kalor total pada plat jika lebarnya zD
=
1' m'
Asumsikan transisi terjadi pada Re.
=
2.1.05
Tf
=
(275 + 325)/2 =
300 K
Sifat-sifat fisik udara pada suhu film 300 K adalah:
k
=
0,026 W/m.oC, ts
=
15,69 x 1'0a rnz/s Pr
=
0'708
untuk Re,
=
2.1gs, lokasi r. di mana transisi terjadi adalah:
o 3s-- (rs,og * ro-uXz r. rou)
=
o,1s7m
X6
='
,*
20
(a) Koefisien perpindahan kalor rata-rata untuk lapisan batas laminar didapat
dari Persamaan
(2-9)
f t I
h
=
0,6641;
]r,
112
Re,lt2
=
0,6641ffi)(o,zos )'t'(2,,
rou)'/'
(b) Bilangan Reynolds pada L
=
1,5 m adalah:
Re,
=
1'*L
=
( zo
)(
t,s
I
=
1,91x 1.06
' 7J L5,69 x 10-"
Koefisien perpindahan
kalor rata-rata h sepanjang L
=
1'5
* dengan
mengabaikan ktreisi viskositas, kita peroleh dari Persamaan
(21a):
n
=
o,ozol
u
frro'+a
(Rero'8
-
92oo
)
'
lx I
=
0,036[
ry1(o,zoay'" [(r,x
x t0'f'',= e200
]
'
L
1,5
l
=
50,4W/m2."C
(c) Perpindahan kalor total menjadi:
4 =wtng*-T-)
=
(1) (1,5) (50,4) (325
-
275)
=
3780 W
i._
BAB 2 * KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR 23
2.2 ALIRAN IT,IENYILANG
S!.LINDER
Pengetahuan mengenai perpindahan kalor untuk aliran menyilang silinder
penting dalam beberapa kasus dalam praktik, seperti perhitungi.t pe.pirduhur,
k1lol pada sayap pesawat terbang yang kontri depir,r,ya mendetaii bentuk
silinder. Tetapi penentuan koefisien perpindahan kalor uniuk hal ini sangat sulit
karena kompleksnya pola-pola aliran disekitar silinder tersebut. Gambar di
bawah ini mengilustrasikan karakteristik aliran di sekitar sebuah silinder dalam
aliran silang.
Gambar 2-3
Aliran di sekitar
silinder
[
19
]
1l_
r^r
-zf:t:')''--
=V
Re<4
Unseparated
flow
@@ru
4<Re<60
60<Re<5000
Re>5000
Pair of vortices in periodic
vortices
Highly turbulent
the wake
wake
Penyelesaian analisis dan numerik telah diberikan oleh Hartree (1937) d,an
diperoleh bahwa kecepatan pada sisi-sisi lapisan batas meningkat sebanding
dengan x menurut hubungan:
U*=V x-
Q-1,5)
dengan m
= fr/
(2
- B)
dan
Bn
adalah sudut baji. Dari pemecahan lapisan batas
laminar diketahui pula bahwa bilangan Nusselt iokal dapat dinyatakan
sebagai:
Nr,
=
C Re,1/2
C adalah fungsi dari bilan gan Pr dan
B,
dan
Tabel 2-1.
Pendekatan penyelesaian analisis untuk kasus
seperti gambar di bawah ini.
(2_L6)
harganya dapat dilihat pada
ini adalah aliran melewati baji
Gambar 2-4
Aliran melintasi
baii
[e]
/
24 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Tabel2-1 Harga Cuntuk Persamaan (2-16)
Koefisien seret untuk benda tumpul (permukaan tegak lurus terhadap aliran)
didefinisikan oleh:
Gayaseret -
FD ,, O* (2-17)
dengan C, adalah koefisien seret dan A adalah luas bidang frontal yang
berhadapan deng;an aliran, untuk silinder adalah produk perkalian antara
diameter dengan panjang. Nilai-nilai koefisien seret untuk silinder diberikan
sebagai fungsi bilangan Reynolds dalam Gambar 2-5 di bawah ini.
2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0.1
Gaya seret pada silinder itu diakibatkan oleh tahanan gesek dari apa yang disebut
seret bentuk (form drag) dan seret tekanan (pressure drag) yang disebabkan oleh
100
80
60
40
20
10
B
6
4
Gambar 2-5
Koefisien seret
untuk silinder
[21]
a
U
6
-o
(d
a)
o
o
V
iiii,,;r'iiii:'rlill.l
I
ffi6ti,,.,,i.K...l
:i . .:f ..lili,ri'r,rrll.li
1:r;:,:...:1;;z:;,/6ir?:1,ilyi!;i::.,16iffiir,*$;ioi::iliiliiiliili\:illiilii:illI.0.
10
0
0,2
0,5
1,0
0
0,111
0,333
1,000
0,292 0,307 0,332 0,585 0,730
0,331 0,348 0,378 0,669 0,851
0,384 0,403 0,440 0,792 1,013
0,496 0,523 0,570 1.,043 1.,344
6 6
\-.
BAB 2 T. KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR 25
daerah tekanan rendah di bagian belakang silinder yang ditimbulkan oleh proses
pemisahan aliran. Pada angka Reynolds yang rendah tidak terjadi pemisahan aliran,
semua seret disebabkan oleh gesek viskos. Pada angka Reynolds di atas 1000, seret
bentuk yang disebabkan oleh aliran terpisah turbulen menjadi lebih besar. Sedangkan
pada angka Reynolds sekitar 105 aliran lapisan batas mungkin menjadi turbulen
yang menyebabkan profil kecepatan menjadi lebih curam, dan pemisah aliran
menjadi sangat terlambat. Akibatnya, seret bentuk menjadi berkurang, dan ini
terlihat dari patahan pada kurva di sekitar Re
=
3.10s. Penalaran yang sama juga
berlaku pada bola. Tingkah laku yang serupa terlihat pada benda tumpul lainnya
seperti silinder elips dan daun angin (airfoil).
) Contoh Kasus 2-3
Fluida pada 80"C mengalir dengan kecepatan aliran bebas 10 m/s menyilang
silinder dengan diameter 5 cm. Tentukan koefisien seret dan gaya seret per meter
panjang tabung untuk:
(a) Udara pada 1 atm
(b) CO, pada 1 atm
(c) Air
(d) Etilena glikol
(e) Minyak mesin
Sifat-sifat fisik fluida pada B0oC:
Udara
CO,
Air
Etilena Glikol
Minyak Mesin
0,991.
1,525
97L,2
1.,078
825
21.,07 x 1.0-6
11,38 x 10-6
3,68 x 104
2,98 x 1.0-6
0,375 x 1,0-4
(a)
Udara pada L atm
Angka Reynolds adalah:
Re
=!& -
(10)(0,05)
=z,4xroa
2L,07 x 1.0-6
Dari Gambar 2-5 didapat C,
=
Gaya seret per meter panjang
1,2
tabung adalah:
26 PERPINDAHAN KALoR KoNVEKSI
FDfL
=OCo9!'*
2g
=
( o,os
11
r,z
1@ff!{1,9.)'
(2)(e,B)
=
o,3N/m
(b)
CO, pada 1 atm
Angka Reynolds adalah:
Re
=u-D -
(10)(0,05)
=4,4x-r.oa
a 1.7,38 x 10-'
Dari Gambar 2-5 didapat Co= 1,3
Gaya seret per meter panjang tabung adalah:
FDfL
=Orr#
-6
=
(o,os)(1p)g#?gl
(2
)(e,B )
=
0,5 N/m
(c)
Air
Angka Reynolds adalah:
Re
=,*D -
(10
)(0,05)
=
1.4 x 106
u
3,68 x 10-'
Dari Gambar 2-5 didapat Co
=
0,4
Gaya seret per meter panjang tabung adalah:
FDfL
=Orr*
'd
=
(o,os
)(o,n)!ryYrL
'
12 )(9,8 )
=
99 N/m
(d)
Etilena Glikol
Angka Reynolds adalah:
BAB 2 * KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR 27
R"
=,-D -
(to)(o.os-)
=
1.7 xTos
a 2,98 x 10-o
Dari Gamb ar 2-5 didapat C,
=
Gaya seret per meter panjang
FDfL
=
(e)
Minyak Mesin
Angka Reyncilds adalah:
Re=
u*D
=
( to
)(
o,os
)
a 0,375 x 10-a
7,4
tabung adalah:
,)
DC^PU;
./o
( o,os
)(
r,+
)
0,385N/m
(t,ozl
)(ro )'
(2)(e,8)
=
1.,4 x 7Oa
Dari Gambar 2-5 didapat C,
=
1,2
Gaya seret per meter panjang tabung adalah:
FDfL
=
Orr#
6
=
(o,os
;1r.2
t$4],(
19f-
'''
t
Q)Q,s)
=
253N/m
Hasil perhitungan di atas kita tabelkan sebagai berikut:
Udara
CO,
Air
Etilena glikol
Minyak mesin
1,2
1,3
0,4
1,4
1,2
0,3
0,5
99
0,385
253
r
28 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Gambar 2-6 d,i bawah ini menunjukkan korelasi koefisien perpindahan kalor
rata-rata h untuk
Pemanasan
dan pendinginan udara menyilang silinder tunggal
dari Mc. Adams
(16).
Gambar 2-6
Angka Nusselt
rata-rata untuk
aliran udara
menyilang silinder
tunggal
[16].
Drr
l(e
=
-'
pada
gambar di atas sifat-sifat fisik dievaluasi pada temperatur film..Korelasi
ini untuk"gas tidak menunjukkan, secara eksplisit, keterangannya- pada bilangan
Prandtl, kirena kebanyakan gas memiliki nilai Prandtl yang tidak-jauh berubah
terhadap perubahan temperatur. Oteh karena itu telah banyak dilakukan penelitian
untuk tebin memperhitungkan
Pengaruh
angka Prandtl ini'
Whitaker
(2a) ielah meigko.elasikan
koefisien perpindahan kalor rata-rata untuk
berbagai fluida baik gas *i.rprn zat cair yang menSalir menyilang silinder tunggal
dengan bentuk persamaan sebagai berikut:
600
400
200
100
80
nl
60
*rl
o 40
=l
,,
20
5 10
z8
6
1
2
1
0.8
0.5
0.6
0.7
Nu
= [o,4Rro,u*
yang berlaku pada
jangkauan:
o,o6 Re
zrz)nro,*
[
I=
]o'"
\, ur,
,
(2-18)
40<Re
0,67 < Pr
< 10s
< 300
< 5,2
p-
$,
2 1 6s1.02 4 6s10 2 4 687022 4 681032 {
I
0,25 <
BAB 2 * KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR 29
sifat-sifat fisik untuk pers'dmaan di atas dievaluasi pada suhu aliran bebas kecuali
pada suhu dinding. Untuk gas koreksi viskositis dapat diabaikan, dan sifat
fluida dievaluasi pada suhu film. Pada Persamaan (2-18) terdapat ketergatungan
bilangan Nusselt pada dua bilangan Reynolds berbeda. Untuk Re
0,s
mJrupuiun
kontribusi dari karakteristik daerah lapisan batas laminar dan untuk'Re2/3
merupakan kontribusi dari daerah aliran balik di sekitar silinder.
Cambar 2-7 menunjukkan korelasi data eksperimental dari berbagai peneliti
untuk berbagai macam fluida. Tampak bahwa Persamaan (2-18) sesuai d"engan data
eksperimental yang ada dalam jangkauan
t 2S%.
10r
rrrrlltlt
I
O
ai', Etilena ;1ikot
A Nit.ogen
E ei,
! air
A udr.,
I rro.a
V.A,ir,
Parafin, Irlinl ak
-a*d#
I
--{fiF-
r I I tl
?
"*#
fr
u*g{,"..,
V
['*
I
I
(3-18)
,t'
t
Gambar 2-7
Nilai Nu untuk
aliran menyilang
silinder
[24]
8
r
\ 1(,
1.0
Suatu korelasi yang lebih
dan Bernstein
[3]
untuk
menyilang silinder dalam
Nz
=0,3+
0,62Re)'12 Pr1l3
l, *(
Re
I
( 282000
105 10{
102 103
R"
= "'D
a
umum dan lebih terperinci diberikan oleh Churchill
koefisien perpindahan aliran rata-rata bagi aliran
bentuk sebagai berikut:
It
*
lo,+1tr )ztz)rtt )"']
-"
(2-1,9)
yang berlaku pada rentang 102 < Re < 107 dan
pr
> 0,2.
Rumus ini memberikan hasil yang agak lebih rendah sekitar 2O'h daridata rentang
angka Reynolds antara 20.000 dan 400.000; untuk rentang ini disarankan
menggunakan rumus sebagai berikut:
30 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
N7=0,3+
O,62Re1l2 .Pr'l3
l,.(
Re
L
\
282000
)"']
[,
k
=
0,0262 W/m."C
Angka Reynolds menjadi:
(2-20)
fluida udara, air, hingga natrium cair,
konstan maupun fluks kalor konstan.
o
=
15,69 x 10-6 m2/s Pr
=
0,708
.[#]''')
Persamaan 2-1,9 dan 2-20 berlaku untuk
baik untuk kondisi temperatur dinding
Semua sifat dievaluasi pada suhu film.
) Contoh Kasus 2-4
Udara atmosfir pada T_
=
250 K dan kecepatan aliran bebas u^= 30 m/s mengalir
melintas silinder yang berdiameter D
=
2,5 cm. Permukaan silinder dijaga pada
temperatur seragam 350 K. Hitunglah:
(a). Koefisien perpindahan kalor rata-rata h
(b). Laju perpindahan kalor tiap 1 m panjang silinder.
Suhu film, Tt= (250 + 300)/2
=
300 K.
Sifat-sifat fisik pada suhu film:
Re=
(so
)(
o,o2s
)
=
47.801
1.5,69 x 70-6
(a) Koefisien perpindahan kalor rata-rata h dapat kita tentukan dengan meng-
gunakan Persamaan (2-18):
Nu
= 10,4
Reo,s + 0,06 Re2/3
7
Pro,A
= [
0,4 (47.801)0s + 0,06 (47.801)'/'] (0,708)0,4
=
745
(t+s)(o,ozoz)
=
1.52{m2.'C
0,025
(b) Laju perpindahan kalor menjadi:
q'-- h (nDL) (7,-T-)
=
( 152
)
(x x 0,025 x i
)
( 350
-250 )
=
11.93 W /m
Jika
kita gunakan Persamaan (2-20) sebagai perbandingan, maka hasilnya dapat
kita lihat pada tabel sebagai berikut:
uD
-=
a
rfll t
ta_
D
E-
Gambar 2-8
Variasi Nu pada
Be yang rendah
[4]
BAB 2 * KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR 31
,1N41111s.,.;,1
.\rrd':,,t,,,,,,Wl.*l...J
Whitaker
Churchill-Bernstein
745
150
1,52
1,57
1193
r232
Pada pembahasan di atas perhatian hanya kita fokuskan pada penentuan
koefisien perpindahan kalor rata-rata saja. Pada kenyataannyi koefisien
perpindahan kalor lokal h(0) bervariasi terhadap sudut
g
di sekitar silinder.
Pada titik stagnasi 0
=
0 nilai tersebut cukup besar, kemudian berkurang secara
seragam hingga lapisan batas terpisah dari permukaan dinding atau lapisan
batas berubah menjadi turbulen; kemudian peningkatan terjadi lagi pada bagian
belakang silinder.
Variasi koefisien perpindahan kalor lokal h terhadap sudut 0 di sekitar silinder
telah diselidiki oleh Eckert dan Soehngen (1942) untuk bilangan Reynolds yang
rendah dan oleh Giedt (1,949) untuk bilangan Reynolds yang tinggi. Distribusi
tersebut dapat kita lihat pada gambar di bawah ini.
Untuk mengilustrasikan rumitnya mekanisme perpindahan kalor disekitar
silinder, kita perhatikan gambar di bawah ini. Pada angka Reynold yang agak rendah
(70.800 dan 101.300) titik minimum koefisien perpindahan kalor terjadi di sekitar
titik pisah. Kemudian terjadi peningkatan pada bagian belakang silinder sebagai
akibat gerakan
Pusaran
turbulen (eddy viscosity) pada aliran yang menjadi terpisih.
Pada angka Reynolds yang lebih tinggi terdapat dua titik minimum. Yang peitama
terjadi pada titik transisi dari lapisan batas laminar ke turbulen yakni pada sudut
0
=
80o, dan kedua terbentuk ketika lapisan batas turbulen memisah yakni pada
sudut 0
=
1300.
Arah Aliran
----'
Gambar 2-9
Variasi Nu pada
Be yang tinggi
[4].
Gambar 2-10
Variasi nilai
Nusselt lokal
dari silinder
dalam aliran
silang
[19].
32 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Arah Aliran
300
200
100
0
g 20 40 6080100120140i60180
0" Dari titik stagnasi
Gambar 2-11 menunjukkan medan suhu di sekitar silinder
Panas
yang
ditempatkan melintang dalam aliran udara. Garis-garis gelap adalah garis suhu
tetap. Tampak pada gambar daerah aliran terpisah yang terbentuk di belakang
silinder pada angka Reynolds yang lebih tinggi, dan medan turbulen yang terdapat
di daerah tersebut.
ol
ol&
-l
il
(E
-v
o
I
o
@
z
500
400
Re
=
219.000
BAB 2
....
KONVEKS! PAKSA MELALUT PERMUKAAN LUAR 33
Re
= 597
Diameter 38.1
mm
Re
=
120 Diameter 25.4 mm
Re
=
23 Diameter 72.7 mm
Gambar 2-11
Foto-foto
interferometer
aliran udara
menyilang
silinder
[7].
2.3, ALIRAN MENYILANG BOLA
Gambar 2-12
Koefisien seret
untuk bola
[21].
(2-
F
A
a
U
o
o
o
o
o
V
r____ry,,ffiffi
Re
=
85 Diameter 72.7 mm Re
=
218 Diameter 25.4 mm Re
=
1600 Diameter 38.1 mm
Karakteristik aliran menyilang bola agak serupa dengan yang ditunjukkan pada
Gambar 2-2 untuk silinder tunggal. Oleh karenanya ketergantungan pada
koefisien seret serta koefisien perpindahan kalor diharapkan serupa dengan
silinder.
Jika
F, adalah gaya seret yang disebabkan oleh aliran menyilang bola, maka
koefisien seret C, didefinisikan oleh hubungan berikut:
pu:
"2
21)
Dengan A adalah luas frontal, yakni n
=
(nD
2
/
4) dan u_ adalah kecepatan aliran
bebas, F/A adalah gaya seret tiap satuan luas bola. Gambar 2-1,2 di bawah ini
menunjukkan koefisien seret rata-rata C, untuk aliran menyilang bola.
Perbandingan Gamb ar 2-1,2 dengan Gambar 2-5 untuk silinder tunggal
memperlihatkan karakteristik umum yang serupa.
400
200
100
60
40
20
10
6
4
2
1
0.6
0.4
0.2
0.1
0,06
022
161032
-
u*D
[g
=-
7)
6
10-:
2 461052
34 PERPINDAHAN KALoR KoNVEKS!
Untuk aliran gas menyilang bola, Mc. Adams
[16]
merekomendasikan korelasi
sederhana sebagai berikut:
Nu
=
0,37 Reo'6 untuk 17 <Re < 70.000 (2-22)
Dimana sifat-sifat fisik fluida dievaluasi pada suhu film.
Suatu korelasi yang lebih umum untuk fluida gas dan zat cair yang mengalir
menyilang bola telah diberikan oleh Whitaker
[24]
dalam bentuk sebagai berikut:
(2-23)
yang sesuai pada:
3,5 < Re < 8' 104
0,7<Pr<380
1.<v* <3,2
ll,,
dan sifat-sifat fisik dievaluasi pada suhu aliran bebas, kecuali
1,r,,
dievaluasi pada
suhu dinding. Untuk gas koreksi viskositas dapat diabaikan, tetapi sifat-sifat
fisik dievaluasi pada suhu film.
Garnbar 2-13 3
'o'
Nilai Nu untuk
--:
l-
aliran menyilang
i
bola
[24]. :
&10
N
I
2
a
Nr,
=
z+fo,+Reo's+ o,o6Rez/z)rr*[f
)"'
-
u.D
r\e=-
7)
I
A uau
O Air
E Uda
ra, Air, Minyak
ra
#
*f
#**tr
fr
,Y#
_fi
df'
{
"{-
I
1.0 10 10? 103 10{ 105
L
1.0
BAB 2 * KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR 35
Persamaan (2-23) untuk bola dan Persamaan (2-18) untuk silinder memiliki
bentuk yang sama kecuali untuk konstanta 2.
Jika
Re
-
0 (tanpa aliran),
Persamaan (2-23) memiliki nilai batas Nusselt
=
2, yang menyatakan keadaan
konduksi kalor dalam keadaan tunak dari bola pada temperatur seragam ke
sekelilingnya.
) Contoh Kasus 2-5
Fluida pada 20oC mengalir dengan kecepatan 1 m/s melintasi bola
berdiameter 2,5 cm yang dijaga pada suhu 100'C. Tentukan laju aliran kalor
dari bola ke fluida jika:
(a) Udara pada 1 atm
(b) Air
Tr= (20 + 100)/2
=
50oC
Sifat-sifat fisik pada suhu film:
Sifat-sifat fisik air pada T-:
a
=
1,01.10-0 nlf s k
=
0,602 W/m."C Pr
=
7
Angka Reynolds adalah:
(a) Udara
(b) Air
Hasil perhitungan untuk
ini:
B,
=U*D =
a
^
u*D
l<e
=-=
7)
(r)(o,ozs)
=
1315
19.10-6
( r
)(
o,ozs)
=
24.752
1,01
.
10-6
kedua fluida di atas kita buat dalam bentuk tabel berikut
1.81.10r 1,95.10-s
4,79.10
7
4,71.70
4
2,83.10
4
r
36 PERPINDAHAN KALoR KoNVEKSI
2.4 ALIRAN MENYILANG' SILINDER TAK BUNDAR
Nu C Re"
Tabel 2-2 Konstanta C dan n untuk Persamaan (2-24)
Hasil eksperimen untuk harga koefisien perpindahan kalor rata-rata 7-, untuk
aliran udara silinder tak bundar dengan berbagai bentuk geometri telah
dikorelasikan oleh
Jakob [10]
dengan hubungan sebagai berikut:
no
t-
^
(2-24)
).. :::..:ta:a' ::::::,:.t
:t:::)at:)a,::a,./:f: i l a:.::aa..:.aa..
i:::''::,,:,,,:..::,:.li,..tllll,,:,,:l:',::*l:{a,l::a::.,.:
iiilii i r.ii' l,rli t': li., iril:lllilrll'i:i,::
irill,.;l,rFlilidil\l.l'
\::,;,::':.,:,;;:;:,;:,:,:;;,1;;1,1:,,11,,,ri1,:,'1::,1:,,,,,
rrt,trl,ii,tliitlt:r,r:1,.: j|lljllllrl,.r,,:i,,
t:t,t:::.:..1,::)::i.t alllll]l ;i :a.::::.:a:
a
.:,,.,,llNA,,1:,,,rt,,,,, r
.:t::::t
::j iL l:.i a.,' ::::,,.::: ::: ::,:l:a
iislill-i:,::.i:, r:
ll;,;;;,P',,';,1
rt!try&i
'n
"',
ffi l$ff tt;]ll,llr:1lr'rltll.t:riitriiiiiliiilliiirliii::iiii:
1$$$ry
Udara
Air
27,5 32 20 20,5
284
24
6839
15
4295
rrrrrrtirrrrr.rrjr..,. i..-:,..,.r,...-.,..r...: ., ., r..:?:r
,
r
i
Gr$,'dinet,;iii:ll:;:r:
'- U*D !;r
rre
-
-
a
$iitrlltlr,:lllr:'iDZ\ltlt[ie;@!l:::l|
*,ir,:,,,r4,:titt.ti::lll,iilillr,.rrrararirrsi.ri-i.i,:,.,
::1:i ir'i-,fl:!:tt.;;l .\;;;,;,,,,,,;;
:'::a.:'::::',:,:L::1:.:a:lllLtl:,::l:ll:::,:.).a,.,:.,,4;li{|:l:.t:t,,",:,:,,1,t',::;::..
OE
5.000
-
100.000 0.588 0.222
2.500
-
5.000 0.612 0.224
o3
2.500
-
7.500 0.624 0.261
Ctr
5.000
-
100.000 0.638 0.138
etr
5.000
-
19.500 0.538 0.744
rE
5.000
-
100.000 0.675 0.092
I
BAB 2
.I.
KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR 37
Tabel 2-2 Konstanta C dan n untuk Persamaan (2-24) (lanjutan)
ilr,iir::.iia.il...lt:..l.,.,,:tliriiiiilililii,Efu,,
lrrl,rli;r;i,iAllG,t,rlirrrrilrirriiitrlltrrliiri:r,:
'r,ril1.r1.:,',iil':lllrlllrlrlilrlri:i i.li:':. l'riq,,:!fr,rrrl:... ..,,
TE
2.500
-
8.000 0.699 0.160
tl
4.000
-
15.000 0.731, 0.205
erE
19.500
-
100.000 0.782 0.035
0l
3.000
-
15.000 0.804 0.085
Pada TabeL 2-3 di bawah ini akan kita lihat perbandingan harga Nusselt untuk
beberapa geometri penampang silinder pada jangkauan bilangan Reynolds antara
10.000 hingga 100.000.
Tabel 2-3 Perbandingan harga Nusselt untuk berbagai geometri
Penyelidikan harga koefisien perpindahan kalor rata-rata khususnya untuk
prisma segi empat baru terbatas pada sudut serang 0o dan 45o sa1a, yakni seperti
yang dilakukan oleh Reiher (1925) dan Hilpert (1933). Dalam penyelidikan
eksperimentalnya,Igarashi
[B]
meneliti hal tersebut pada berbagai sudut serang
Nu
Re
I.o
so sE 5o so
10000 50,91 49,93 46,L1. 51,33 49,19
20000 77,98 75,05 73,62 80,81 76,55
30000 100,18 95,26 96,79 1,1,0,96 99,15
40000 199,67 112,81 1.1.7,54 138,96 1.19,1.2
50000 743,1.9 128,63 136,64 1.65,45 1.37,35
60000 1,65,83 r43,1.9 154,54 190,80 154,29
70000 187,74 1.56,77 171,66 275,25 1,70,24
80000 209,04 169,58 1.87,66 238,94 1.85,37
90000 229,83 181,74 203,1.9 261,99 799,84
100000 250,78 193,35 21.8,1.7 284,49 21.3,74
38 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
a dan menentukan pada sudut berapa terjadinya nilai Nusselt maksimum dan mini-
mum. Harga Nusselt rata-rata prisma segi empat untuk ct
=
0o dan 45' dari Igarashi
ditunjukkan dalam gambar di bawah ini yang dibandingkan terhadap Reiher dan
Hilpert seperti yang dikutip oleh
jacob
dalam buku teksnya
[10].
250
Gambar 2-14
Nilai Nusselt
untuk berbagai
geometri saluran.
Gambar 2-15
Nilai Nusselt
rata-rata pada
s
=
0'
[18]
200
i
1s0
100
50
0
60
Re (r 1.000)
Dapat dilihat pada Gamb ar 2-1.5 bahwa untuk sudut a,
=
0o hasil yang diperoleh
Igarashi berada antara Reiher dan Hilpert dan nilainya 40'/" lebih tinggi dari Hilpert.
Sedangkan pada sudut d,
=
45" Gambar 2-16 hasilnya mendekati Reiher. Persamaan
umum yang dapat digunakan untuk kasus ini adalah:
o
Untuk ct
=
0"; N,
=
0,14 Reo'66
o
Untuk a
=
45o; Nu
=
0,27 Reo'ss
(2-25)
(2-26)
z
[_
Re vs Nrr
I Igarashi 0=0'._+
I Hilpert
-
Nu
=
0'14 Reqoo
Gambar 2-16
Nilai Nuselt
rata-rata pada
s
=
45o
[8]
Gambar 2-17
Variasi nilai
Nusselt rata-
rata terhadap
berbagai sudut
serang a
[8]
BAB 2 * KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR 39
250
200
150
100
50
0
Gambar 2-17 di bawah ini menunjukkan variasi nilai Nusselt rata-rata terhadap
berbagai sudut serang yang berbeda. Di atas sudut cr,
=
L2o nilai Nusselt rata-rata
semakin berkurang dengan bertambahnya sudut serang a; dan pada harga a,
=
L5"
harganya sama dengan G
=
0o. Kemudian pada c(
=
20"
-
25o nilai Nusselt rata-rata
mencapai maksimum dan di atas o
=
25" akan berkurang kembali dengan
bertambahnya sudut serang a.
15 20 25 30
Sudut serang o
200
175
150
z
I Igarashi ct
=
45"
----* C
I
O=t5mm g D=20mm
e
D=30mm
40 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Gambar 2-18
Visualisasi
aliran di sekitar
Nilai Nusseit rata-rata sebagai
ct
=
10" dan a
=
20o dapat dilihat
yang didapat Igarashi dinyatakan
.
Untuk a=10o;
.
Untuk a=20o)
fungsi bilangan Reynolds untuk sudut serang
pada Gamb ar 2-19 di bawah ini. Dan korelasi
dengan hubungan sebagai berikut:
N,
=
0,15 Reo'6a
lJa
=
0,133 Reo'67
(2-27)
(2-28)
Gambar 2-19
Nu vs Ee untuk
a
=
10o dan
a
=
20"
l8l
2.5 ALIRAN MENYILANG'BERKAS TABUNG
:
z
Karakterisitik perpindahan kalor dan penurunan tekanan dari berkas tabung
memiliki sejumlah aplikasi dalam mendesain alat-alat penukar kalor dan
peralatan perpindahan kalor dalam industri. Misalnya suatu jenis penukar
kalor yang terdiri dari susunan berkas tabung di mana suatu fluida mengalir
s=0"
cx
=
10" cr
=
45"
A cr
=
20"
ffi = 6,133 71,
o.o,
Na
=
0,15 Re0'64
L-
BAB 2 * KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR 41
Gambar 2-20
Susunan berkas
tabung
(a) Segaris
(b) Selang-seling
dalam tabung sedang fluida lain mengalir meyilang tabung-tabung tersebut.
Biasanya susunan berkas tabung adalah segaris dan selang-seling seperti
tampak pada Gambar 2-20 di bawah ini. Karikteristik g"o*"ttinyutiturldul
oleh pit melintang (trnnsaerse pitch) S, dan pit memanjang (longitudinal pitch)
s. antara pusat tabung, pit diagon al (diagonal pitch) s, adalah
larak
diagonal
antara pusat tabung yang susunan selang-seling.
-
Bilangan Reynolds didasarkan atas kecepatan maksimum yang terjadi pada
berkas tabung, yakni kecepatan yang melaiui bidang aliran yang mlnimr-. Lru,
bidang ini tergantung pada susunan geometri tabung.
Jadi
bilangan Reynolds
adalah:
Re
=
DG-ut"
p
dengan C-oo" adalah kecepatan aliran massa maksimum, yakni:
(2-2e)
(2-31)
G-ukr=Pil-ur"
Q-30)
Jika
a- adalah kecepatan aliran bebas diukur pada titik sebelum fluida memasuki
berkas tabung, maka kecepatan aliran maksimum untuk berkas tabung susunan
segaris adalah:
tr
sT
umaks-"*gr_D=
S- ID
Lt-- ''
*
srlD-7
dengan s, adalah pit melintang dan D adalah diameter Iuar tabung. Tampak
bahwa (s,
-
D) adalah bidang aliran minimum untuk berkas tabung rrcrr.rurt
segaris antara tabung yang berdekatan pada garis melintang tiap panjang tabung.
Untuk berkas tabung selang-seling bidang aliran minimum dapat terjadi antara
tabung yang berdekatan pada baris melintang atau baris diagonal. Untuk kasus ini
NO
ttqo
PLL
666
mao
(a)
6
co
N
d
I
s,
{s.
(b)
o
6
!
6
m
I
s,J
6
6
=+
r
42 PEBPINDAHAN KALOR KONVEKSI
perlu dicek untuk menentukan u-uk .]adi kecepatan aliran maksimum untuk berkas
tabung susunan selang-seling adalah:
u*uk"
="-**il=?;#j
(2-32)
Kecepatan aliran massa maksimum G^uu. seperti yang didefinisikan pada
Persamaan (2-30) dapat juga dihitung dengan rumus berikut:
-M
u
maks -
-7-
A
'-mln
(2-33)
dengan M adalah laju aliran massa total melalui berkas tabung dalam kg/s dan
A-.n luas total bidang aliran minimum.
Pola-pola aliran melalui susunan berkas tabung sangat rumit sehingga sebetulnya
tidak mungkin untuk menaksir koefisien perpindahan kalor dan penurunan
tekanan secara analisis murni. Oleh karena itu pendekatan eksperimentai adalah
satu-satunya alternatif untuk menentukan koefisien perpindahan kalor.
Grimison
[6]
mengkorelasikan sejumlah data perpindahan kalor untuk udara,
untuk susunan berkas tabung segaris dan selang-seling yang memiliki 10 baris
melintang atau lebih dalam arah aliran dengan hubungan sebagai berikut:
(2-34)
dalam jangkauan angka Reynolds 2000 < Re < 40.000.
Hubungan ini telah digeneralisasikan untuk fluida selain udara dengan
memasukkan pengaruh angka Prandtl dalam bentuk:
Nu
=
1,13 Re' Prl/3
untuk 2000 < Re < 40.000; Pr > 7; dan N
>
10.
(2-35)
Harga-harga konstanta C, dan eksponen n ditabelkan pada Table 2-4 di bawah
ini. Semua sifat-sifat fisik dievaluasi pada suhu film.
jika jumlah tabung dalam baris kurang dari 10, maka perbandingan koefisien
perpindahan kalor h, untuk N < 10 dapat ditentukan dengan menggunakan
hubungan berikut:
H,
=
C, h*.ro untuk 1
<
N
<
10
Faktor koreksi C, dapat dilihat pada Tabel 2-5
Nu
=.,[,"il,*
)"
(2-36)
'.
:: l'ili
llll.:l,9,:i;t..
,,
.:::.. ,d..,::,,'
1
1-.25.;,.
i,,,,,i
llrllrrr,,rl.I:5l:r:
..4 n
,3.0
c
,,::,::i.:::/x :,\:,,
: ) a:.:t :a: :,,:
:
::,:::::::a,:l:.
:.l llrrl i
_:ji:
:
']l,,'c
::::.:,,:'..-C.,:::
:,:,,1.:*l
''
t
',,t'
lil '.ri:lr'
Segaris
1.25 0.386 0.592 0.305 0.608 0.i11 0.704 0.0703 0.752
1.5 0.407 0.586 0.278 0.620 0.172 0.702 0.0753 0.744
2.0 0.464 0.570 0.332 0.602 0.254 0.632 0.220 0.648
3.0 0.332 0.601 0.396 0.584 0.415 0.518 0.377 0.608
Selang-seling
0.6 0.236 0.636
0.9 0.495 0.577 0.445 0.581
1.0 0.552 0.558
7.725 0.531 0.565 0.575 0.560
1.25 0.575 0.556 0.561 0.554 0.576 0.556 0.579 0.562
1.5 0.501 0.568 0.511 0.562 0.502 0.568 0.542 0.568
2.0 0.448 0.572 0.462 0.568 0.s35 0.556 0.498 0.570
?n
0.334 0.592 0.395 0.580 0.448 0.562 0.467 0.574
BAB 2 * KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAH 43
Tabel2-4 Konstanta Co dan n untuk Persamaan (2-34)
Tabel 2-5 Faktor koreksi C' untuk Persamaan (2-36)
Zukauskas
[25]
merangkum dari beberapa peneliti dan menyarankan korelasi
berikut ini r-rntuk koefisien perpindahan kalor untuk aliran menyilang susunan berkas
tabung:
Pr
PA
,li{
:iirl'rr'Nrl,,r;i: 1f::::1
iif-l
).;..*,',,:t'
:)ir3
t:..i::i;lr:::::
:.,.,5]::::,
-:.,.::5'-
.7
Q
r'rlii
9,
Segaris 0.54 0.80 0.87 0.90 0.92 0.94 0.96 0.98 0.99
Selang-seling 0.58 0.7s 0.83 0.89 0.92 0.95 0.97 0.98 0.99
l,irr
=
CrRe' Pro''o(
l.
(2-37)
44 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
dengan Pr,u adalah angka Prandtl yang dievaluasi pada suhu dinding, dan untuk
n adalah sebagai berikut:
n=0 untukgas
n
=
0,25 untuk zat cair
yang sesuai pada jangkauan 0,7 < Pr < 500 dan N
>
20. Untuk zat cair sifat-sifat
fisik dievaluasi pada suhu borongan rata-rata, dan koreksi viskositas
diperhitungkan. Sedangkan untuk gas sifat-sifat fisik dievaluasi pada suhu film
dan koreksi viskositas dapat diabaikan.
Persamaan (2-37) berlaku untuk susunan berkas tabung yang memiliki jumlah
tabung N
=
20 baris atau lebih, dalam arah aliran.
]ika
jumlahnya kurang dari 20,
maka angka Nusseltnya dapat diperoleh dari hubungan berikut:
Nr,
=
C, Nr,
=
ru
(2-38)
Dimana faktor koreksi C, diberikan pada Gambar 2-21 untuk susunan tabung
segaris dan selang-seling.
Persamaan (2-37) memberikan hasil yang lebih sesuai dengan data-data
eksperimental untuk jangkauan data yang cukup luas, baik untuk laju aliran massa,
angka Prandtl dan susunan bekas tabung.
Jadi
persamaan ini lebih baik digunakan
dari pada Persamaan (2-38).
Tabel 2-6 Konstanta C, dan eksponen m untuk Persamaan (2-37)
ilWmii:lilillii:W
Segaris
10
-
10, 0,8 0,40
102 103 Dikerjakan sebagai
tabung tunggal
103
-
105 0,27 0,63
2.1.0s
-
106 0,21 0,84
10 102 0,9 0,40
102
-
103 Dikerjakan sebagai
tabung tunggal
Selang-seling
103
-
2.105
,,rt[
+)
9.69
L
.2
,SL
103
-
2.10s 0,40
9,69
L
,2
'sl
2.10s
-
106 0,022 0,84
Sumber : Zukauskas
[25]
BAB 2 * KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR
102<Re<10e
\
\_
-2
A
/i
\Re>10,
Segaris
Selang-seling
I
,
I
45
Gambar 2-21
Faktor koreksi c3
untuk
Persamaan (2-38)
t25I
dengan
M
=f
NG2maks,
'2p
1,7
1,0
0,9
O,B
0,7
0,6
t0
N
Zukauskas
[25]
mengkorelasikan persamaan berikut untuk penurunan tekanan
yang disebabkan oleh gesekan fluida yang penurunan tekanin disebabkan oleh
gesekan fluida yang mengalir melalui susunan berkas tabung:
18 16 74 12
(2-3e)
f
G
N
Z
(z
=
faktor gesekan
=
pu^uk"
=
kecepatan aliran massa maksimum
[kg/mr.s]
=
jumlah tabung dalam arah aliran
=
faktor koreksi untuk efek konfigurasi susunan berkas tabung
=
1 untuk susunan bujur sangkar dan segi tiga sama sisi).
68L042 46 870s2 4 681,062 4
Re
Gambar 2-22
Faktor gesekan
f dan faktor
koreksi Z untuk
susunan berkas
tabung
segaris
[191
10
8
6
4
1.0
8
6
4
2
0.1
6
I
\
i.
\
x
101 2 4 6Btjr2 4 687032 4
46 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Gambar 2-23
Faktor
gesekan
f dan factor
koreksi Z untuk
susunan berkas
tabung selang-
seling
[19]
100
8
6
4
2
10
8
6
4
2
1.0
B
6
4
2
1.0
8
6
4
Hoe, Dropkin, dan Dwyer (1,957) mengkorelasikan sejumlah data perpindahan
kalor untuk air raksa yit g tt e.,galir menyilang susunan berkas tabung dengan
hubungan sebagai berikut:
Nu
=
4,03 + 0,228
(Re Pr)o'ez
(2-40)
dengan
jangkauan 20.000 < Re < 80.000. sifat-sifat fisik dievaluasi pada suhu
ratalrata dari suhu borongan dan suhu dinding'
Dalam percobaannya, niereka menggunakan 60
-
70 baris tabung dengan ukuran
0,5 inchi ying disusun segi tiga sama sisi dengan rasio pit-diameter 7,375.
) Contoh Kasus 2-6
Air pada T,
=
24"c dipanaskan hingga Tz
=
74oc dengan melewatkannya
melalui susunan berkas ta6ung selang-seling. Diamater luar tabung D
=
2,5 cm
dan dijaga pada suhu pe.mukaur, ieragu* 7,,
=
100oC' Pit melintang dan
memanjangnya adalah:
s, s
?=r,U6ur.-J-=2
Kecepatan aliran u* air sebelum memasuki berkas tabung adalah u*
=
0,3 m/s'
a). Tentukan koefisien perpindahan kalor rafa-rataT
bj. ee.apa
jumlah Uarii tibung N yang diperlukan dalam arah aliran untuk
memanaskan air tersebut.
(r=
sr/ u, xL= sL
in=s,r/D
xr/ x,
1.0
1012 46810'z2 4681032 4
\-
To
=
(24 + 79 /2 =
49"C
BAB 2 * KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR 47
Sifat-sifat air pada suhu borongan rata-rata 49oC adalah:
cp
=
41741/kg:C p
=
989 kglm3 Pr
=
3,64
k
=
0,644 W/m."C
lt =
5,62 x 10-4 kglm.s
Pada T,
=_
100oC, Pr
=
1,74. Kecepatan maksimum untuk susunan tabung
selang-seling dapat ditentukan dengan Persamaan (2-31) atau (2-32)
tergantung mana yang memberikan u^uu" terbesar. Untuk ini u-uu, diberikan
oleh Persamaan (2-31):
S- ID
ilmaks
=
U
*
-O
_
1=
03
2
=0.6mls
'2-1 t
Kecepatan maksimum aliran massa G^uu, menjadi:
G-uk"
= 0
il-ur.,
=
(989) (0,6)
=
593,4 kg/m2.s
Bilangan Reynolds adalah:
Re=
( o,ozs
)(sgg,+)
=
2,64 x lOa
5,62 x 70-a
=
0,377
a). Persamaan (2-37) dapat digunakan untuk menentukan lz dengan asumsi
N
>
20. Untuk susunan tabung selang-seling, dengan SL/D
=
2, Sr/D
=
1,5
ltau !r
/Sr= 2/1,5 < 2 dan Re
=
2,64 x 104, konstanta C, dan ekiponen rn
dari Persamaan (2-37) diperoleh dari Tabel 2-6:
D G*uk.
-
tr
c,
=
ops(
+
)"
=
ops(
#)"
Nlz
n (o,ozs)
0,644
h
=
016
=+ =
o,37tReo,6 Pr'*(+)''-
=
0,377 (26.400
)o,u 13,6+ 1o,ru
( ?'9+.
)'
t
o
\
7,74
)
=
8230W
f
m2 .'C
b). Kita gunakan keseimbangan energi untuk menentukan jumlah baris melintang
N yang diperlukan:
(Perpindahan
kalor dari tabung ke air)
=
(Kalor yang di bawah oleh air)
A,h LT*
=
M ,, (Tz- T1) (a)
l--
48 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
dengan:
M
=
A* u* p
=
laju aliran massa totat
[kgls]
A
* =
bidang aliran sebelum memasuki berkas tabung
=
LmS,
A
"
=
permukaan perpindahan kalor total
m
N
L
ST
LT*
Tu T,
Untuk
(nDLm
)h =
(L^s,
)(, *p,
o )G,
-
r,
)
=
(n DL) (N) (z)
=
jumlah tabung per baris
=
jumlah baris
=
panjang tabung
=
pit melintang
=
beda suhu antara fluida dan pemukaan dinding
=
temperatur air masuk dan keluar
menentukan LT
*digunakan
beda temperatur logaritmik rata-rata:
LT^-
L(r,,-rr)lQ.-rr)l Tr-7,
h[(r,,
-Tr)l(r,, -rr)]
Inl(r,,
-rr)l Q* -rr)l
ttl
=
jumlah pipa per baris
Persamaan (a) menjadi:
Tz-Tr
tr
6
ln
[(r,,-
r
r) I
(T,,
-
r
r))
Penyelesaian untuk N diperoleh:
N-
=
u*Y,
\"(
t,
-',
l
h
) lr.-rr)
(o,z)(gag)(+tz+)
.)hr
i00
-
24
)
8230
J [100-74)
103 .'. Diperlukan 103 baris tabung
lSr(
;oI
!rr>(
n\
107,8
=
Jika
untuk kasus yang sama digunakan susunan tabung segaris maka perbedaan
hasilnya kita lihat pada tabel berikut:
r
=
jumlah baris
Selang-seling
Segaris
BAB 2
.I.
KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR 49
) Contoh Kasus 2-7
Udara pada tekanan atmosfir dan temperatur T,
=
325 K mengalir melalui berkas
tabung dengan susunan segaris. Diameter luar tabung D
=
1,9 cm dan dijaga pada
suhu dinding seragam Tw
=
375 K. Pit melintang dan pit memanjang adalah:
Berkas tabung terdiri dari panjang tabung L
=
0,75 m, jumlah baris N
=
15 baris
dalam arah aliran, dan m
=
20 tabung tiap baris. Kecepatan udara tepat sebelum
memasuki berkas tabung u*
=
8 rn/s.
(a). Tentukan penurunan tekanan AP
(b). Berapa koefisien perpindahan kalor rata-rata h
(c). Berapa temperatur udara keluar T,
(d). Tentukan laju perpindahan kalor total q
Karena temperatur keluar I, belum diketahui maka suhu borongan tidak dapat
ditentukan.
Sifat-sifat fisik udara dievaluasi pada suhu rata-rata sebagai berikut:
(7, + T,)/2
=
(375 + 325)/2
=
350K
cp
=
1009
I /kg.'c
p
=
0,998 kglm3 Pr
=
0,697
k
=
0,03 w/m.'C
u =
2,075 x 10-s kglm.s
Kecepatan aliran maksimum ditentukan oleh Persamaan (2-32):
sr
-S. -.,
DD
,maks
=
r*
=SlJo
^
=
B]-
=
16mls
*srlD-1,
2-1,
t
Kecepatan aliran massa maksimum G_^,_^ meniadi:
G-uk.
=
pil-ak,
=
(0,998
X
16
) =
15,97 kg/m2. s
(o,otg
)(ts,gz )
Re=
D G
-rt,
2,075 x 1.0-5
=
14.623
7-
50 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
(a). Persamaan (2-39) kita gunakan untuk menentukan
Penurunan
tekanan.
Faktor gesekan/ di dapat dari Gamb ar 2-22, untuk Re
=
14.623 dan X,.
=
sr/ D
=
2
maka diperoleh
f
=
0,i2 Faktor koreksi Z, uniltk X,
=
X,
=
1 maka:
LP
=f
NGz^^Y"7
'2p
_
o))Os)(ts,gz)'
=
42zN/m2
v'--
(z)(o,sqa)
'
(b). Koefisien perpindahan kalor rata-rata ditentukan oleh Persamaan
(2-37).
Untuk susunan segaris dengan Re
=
L4,623, koefisien C, dan eksponen m didapat
dari Tabel 2-6; C,
=
0,27 dan m
=
0,63.
i o
=
0,27 Reo'63 Pro'36
k
=n
QP
'l
=
0,27 (t+,ozz)o'63 (0,69710'u6
0,03
h
=
157,5w/m2. "C
( Perpindahan kalor dari
)
I
p"r*rkurn tabung ke udara
.J
4
=
Ash AT*- MCr(T2-T)
dengan:
M
=
A*il*
P =
laju aliran massa total
[kg/s]
A*
=
bidang aliran sebelum memasuki berkas tabung
=
LmSr
As =
permukaan perpindahan kalor total
=
(n DL) (N) (iz)
AT
^
=
beda suhu antara fluida dan permukaan dinding
T' f
,
=
temPeratur air masuk dan keluar
Untuk menentukan AT, digunakan beda temperatur logaritmik rata-rata:
Nu=
(c). Untuk menghitung temperatur keluar Tr,kita gunakan keseimbangan energi.
_
[
ralor yang dibawa
)
I
oleh udara
)
lG* -rr)l(r,, -rr)l
Tz-7,
l-
LT^=
m[(r.
-rr)lQ, -rr))
In[(r,
-r,)lQ* -rr))
BAB 2 * KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR
Persamaan (a) menjadi:
51
nDLNm h
Tr-7 ,
h[(r,,
-
Tr)
I
(r,,,
-
r
r))
=
(Lms,
)(r-pc
,)G,
-
r,)
lnT*
-
T'
Tru
-
T,
=rN
D
sr
h375
-
325
=
(r,
)(ts )1
375
-T2
',2
Tz
=
343,5K
h
u*QC
p
r57,5
( s
)(o,ra )(
roos
)
Laju perpindahan kalor total dapat dihitung dengan:
Q
=
M co (Tr- Tr)
dengan M
=
A*u*p
=
(LmSr)u* g
=
(0,75) (20) (2 x 0,019) (8) (0,998)
=
4,557 kg/s
]adi
perpindahan kalor total q adalah: q
=
(4,551) (1009) (343,5
-
325)
=
84,95 Kw
Jika
untuk kasus yang sama kita gunakan susunan tabung selang-seling maka
perbedaan hasilnya dapat kita lihat pada tabel berikut ini:
2.6..PERPINDAFIAN KALOR'DALAM,,,,ALIHAN KECEPATA;{I,,.I..1;P6,Q.1......:.........).
Aliran kecepatan tinggi yang mendekati atau melebihi kecepatan suara banyak
dipakai dalam aplikasi misalnya pada pesawat terbang kecepatan tinggi atau
misil. Dalam hal ini pengaruh efek kompresibilitas atau efek lesapan viskos dan
pengaruh variasi sifat terhadap temperatur menjadi sangat penting.
52 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Laju perpindahan kalor pada plat rata dengan kecepatan tinggi dapat dihitung
dengan hubungan yang sama seperti yang digunakan untuk aliran tak mampu
mampat kecepatan rendah. Koefisien perpindahan kalor rata-rata didefinisikan
kembali dengan hubungan:
4,=h*(7,-7,,)
(2-41,)
dengan T*
=
temperatur dinding
T,*
=
temperatur dinding adiabatik
h
- =
koefisien perpindahan kalor lokal pada kecepatan rendah
Pada persu-ru.r di atas tampak bahwa temperatur dinding adiabatik 7,,
menggantikan temperatur aliran bebas T- yang biasa digunakan dalam aliran
kecepatan rendah.
Untuk menggunakan Persama an (2-41) di atas, koefisien perpindahan kalor lokal
didapat dari korelasi seperti aliran melalui plat rata pada kecepatan rendah. Misalnya
untuk aliran lapisan batas laminar, h, adalah:
Nil,
Sedangkan untuk
Untuk jangkauan
0,332Pr113 Re1/2 untuk Re,
(
5.10s
(2-42)
=h** =
k
lapisan batas turbulen adalah:
angka Reynolds 5.105 < Re, < 107:
h'
=
o,02961o9 Rer-o'2 Pr'2lz
9u*c p
Untuk jangkauan angka Reynolds L07 < Re, < 10e:
hr
=
0,185
(1og Re,
)'2'584
Pr-213
Qu*c p
Untuk jangkauan angka Reynolds 2J,0s < Re, < 5.10s:
0,029
Re
,o'8
Pro'43
Temperatur dinding adiabatik 7,,
Tr*
=T*+
didefinisikan sebagar:
dengan r adalah faktor pemulihan
sebagai berikut:
hr*
=
k
(2-43)
(2-44)
(2-45)
(2_46)
dengan bilangan Prandtl
u2
2Co
i.__
yang dihubungkan
BAB 2
.i.
KONVEKSI PAKSA MELALUI PERMUKAAN LUAR 53
laktor
pemulihan ini penting jika
kita mempertimbangkan
ide-al T- dengan kecepatan u*yaig diperrambat iecara adiabatik
nol. Konversi energi kinetik gal ideal ke energi dalam akan
temperatur gas:
Tryu'-
l_= I
.)a
'"p
dengan T* disebut temperatur stagnasi
.
Dalam lapisan batas kecepatan tinggi mungkin terdapat gradien suhu yang
cukup berarti dan karena itu terdapai perbedaan sifat-sifat"yang cukup d"ru.
melintas lapisan batas tersebut. Dengan demikian untuk kecepatJn tinggi sifat-
sifat fluida dievaluasi pada temperatur rujukan sebagai berikut:
Aliran laminar
Aliran turbulen
7
=
p71/2
0,6 < Pr < 1.5
r ? 1,9 Prl/3 Pr*
f
=
Pr1/3
(2-47)
(2-48)
(2-4e)
temperatur gas
pada kecepatan
menghasilkan
(2-s0)
T,
=
T* + 0,5 (7,"
-
I_) + 0,22 (7,,,,- T*) (2-sl)
) Contoh Kasus 2-8
Udara pada tekanan p
- 1/30 atm, temperatur T*= 2SO K, dan kecepatan
u*=^6!0 m/s mengalir melintas plat rata yang panjangnya L
= 0,g m dan lebar
w.= 0-,3 m'-Berapa pendinginan
yang diperiukan untuk irenlaga agar permukaan
plat berada pada temperatur re.agu.rt 7,,
=
300 K.
Sifat-sifat udara pada 300 K:
Pr
=
0,708 cp= 1006l/kg."C
BAGIAN:LAMINAR
Faktor pemulihan r:
r
- Pr1/2
=
(0,708)1/2
= 0,841
Temperatur dinding adiabatik T,:
To,u
=T*+
r
*
=250 +
g,g41-6f{j,-=
400,5K
2C,
2 x 1006
Temperatur rujukan T,:
a
54 PERPINDAHAN KALoR KoNVEKSI
T,
=
I_ + 0,5 (7.
-
T_) + 0,22 (7,,
-
T-)
=
250 + 0,5 (300
-
250) + 0,22 (400,5
-
250)
=
308,1 K
Sifat-sifat udara pada Tr
= 308 K dan p
=
1/30 atm adalah:
1'1^!5
=
o,o383kg/*' k
=0,0269(m.'C o=-
30
LL =
1,998x 10-5kg/m.s cp
=
1007J/kg.'C
Pr
=
0,71.0
Misalkan transisi terjadi pada bilangan Reynolds kritis Re.
=
5.16s, maka:
x,
- -v -
Re
,
-
:,??2:
'9=:(s
rou
) =
0,43 m
'
p,r-
'
0,0383 x 600'
/
Koefisien perpindahan kalor rata-rata untuk lapisan batas laminar sepanjang
0
<
X
<
0,43 m adalah:
1-
h
=
n
o,64 Re
,tl '
pr'I
t
xc
=
o:?.2'
e,64)(s.1os lt2 1o,7to1tt3
0,43
=
26,2(m2'C
Perpindahan kalor sepanjang daerah aliran laminar adalah:
4'
=
xo X,h
1T*-7,*)
=
(0,3) (0,43) (26,2) (300
-
400,5)
=-340W
BAGIAN .TURBULEN
Faktor pemulihan r:
r
=
Pr1/3
=
(0,708)1/3
=
0,897
Temperatur dinding adiabatik 7,,,,:
L
BAB 2 * KONVEKSI
PAKSA MELALUI PERMUKAAN
LUAR 55
Tn,u
=
T*+ r
*
=
250 +
g,g91-(f4-
=
409,4K
'2C,
2 x 1006
Temperatur
rujukan Tr:
Tr
=
7* + 0,5 (7,_
T_) * 0,22 (7,*_T*)
250 + 0,5 (300
-
250) + 0,22 (409,4
-
250)
=
310K
Koefisien
perpindahan
kalor lokal untuk aliran turbulen dapat kita tentukan
dari Persamaan (2-43):
h,
=
0,0296pu
*c p
pr
213
Re
,-o,z
(o,ozoo)(o,oass)(ooo
)(1,007)(o,zt7-rrrf ,
o,osse * ooo
'l-o''
=
sz,BX-u2 wf m2.og
(' 7'998 x lo-t
)
Nilai rata-rata
h, sepanjang 0,43 < X < 0,g adalah:
h
=
--
l---
o'f
,, o,
=
SB,4wf mr."C
0,8
-
0,43
o,qz
Perpindahan
kalor sepanjang daerah turbulen adalah:
4, =
Tw (L
-
X,) (7,
-
7,,)
=
58,4 (0,3) (0,8
-
0,43) (300
-
409,4)
= -709,2
W
Pendinginan
total adalah penjumlahan
dari perpindahan
kalor daerah laminar +
daerah turbulen:
q
=
q' *
4' =
340 + 709
=
7049 W
BAB 3
KONVEKSI PAKSA
DALAM PIPA DAN
SALURAN
Untuk
Perencanaan
dan penerapan dalam perekayasaan, biasanya korelasi data
empiris sangat banyak manfaat praktisnya daripada kita memecahkan suatu
masalah aliran secara analisis. Kasus-kasus seperti aliran laminar yang belum
berkembang penuh, sistem aliran di mana sifat-sifat fluida sangat berubah
dengan temperatur dan sistem aliran turbulen yang rumit; dapat saja diselesaikan
secara analisis tetapi penyelesaian itu sangat merepotkan. Pada bab ini akan
disajikan rumus-rumus empiris yang penting untuk aliran dalam pipa beserta
batasan-batasannya.
Pada saat membahas aliran melalui permukaan luar, kita hanya meninjau apakah
aliran tersebut laminar atau turbulen. Tetapi, untuk masalah aliran dalam tibung
kita harus memperhatikan apa yang disebut aliran berkemba.,g per,rh
hidrodinamik dan kalor serta aliran berkembang seragam. Namun sebelumnya
kita akan membahas tentang apa yang disebut panjang masuk kalor
hidrodinamik.
Panjang masuk hidrodinamik L, didefinisikan sebagai panjang yang diperlukan
dari depan tabung/saluran untuk mencapai kecepatln *utrirr,,i*
gg%
d.ari
besaran aliran berkembang penuh. Sedanfkan pan;ang masuk kalor L, adalah
58 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
panjang yang dibutuhkan dari awal daerah perpindahan kalor untuk mencapai
ingka Nusselt lokal Na, sama dengan 1,05 kali nilai aliran berkembang penuh.
]ika
perpindahan kalor ke fluida dimulai segera setelah fluida memasuki saluran,
lapisan batas kalor dan kecepatan mulai berkembang dengan cepat, maka L,, serta
L, keduanya diukur dari depan saluran seperti tampak pada Gambar 3-1,a di bawah
ini. Dalam beberapa situasi perpindahan kalor ke fluida dimulai setelah daerah
isotermal. Untuk kasus ini L,, diukur dari depan saluran karena lapisan batas
kecepatan-mulai berkembang segera setelah fluida memasuki saluran, tetapi- L,
diuklr dari lokasi di mana perpindahan kalor dimulai karena lapisan batas kalor
mulai berkembang pada daerah pemanasan. Untuk
jelasnya dapat kita lihat pada
Gambar 3-1b di bawah ini.
Pemanasan
Gambar 3-1
Panjang masuk
kalor dan
hidrodinamik
[19]
(a) Perpindahan
kalor dimulai
pada sisi masuk
saluran
(b) Perpindahan
kalor dimulai
setelah daerah
pemanasan
,oJ
0
Lh
o)
Panjang masuk kalor dan hidrodinamik untuk aliran laminar dalam saluran,
beberapa di antaranya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Dalam tabel ini D,
adalah- diameter hidraulik dan bilangan Reynolds didasarkan atas diameter
hidraulik ini.
(3-1)
dengan A adalah luas penampang aliran dan P adalah perimeter basah. Untuk
tabung silinder n
= @/4)D2
dan P
=
fiD-
Dapat kita lihat dari tabel bahwa panjang masuk hidrodinamik L, hanya
tergantung pada bilangan Reynolds, sementara panjang masuk kalor L, tergantung
pada bilangin Peclet Pe yang merupakan perkalian antara bilangan Reynolds dan
Prandtl. OGh sebab itu untuk fluida yang memiliki angka Prandtl yang tidak jauh
berbeda, L, dan L,nya sama. Sedangkan untuk fluida yang angka Prandtlnya sangat
berubah karena iemperatur, seperti minyak motor, maka L, >> Lo; dasar untuk
logam cair yang memiliki angka Prandtl sangat rendah maka L, << Ln.
D,
=4A
"P
Daerah
l-
iGeo'rnbtil'r;,ir'
0.056 0.033 0.043
0.011 0.008 0.01,2
1-
a/b
=
0.25 0.075 0.054 0.042
alb
=
0.50 0.085 0.049 0.057
a[b
=
1,.0 0.09 0.041 0.066
BAB 3 * KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN 59
Tabel 3-1 Paniang masuk kalor L, dan hidrodinamik Ln untuk aliran laminar
dalam tabung
Perhatikanlah aliran dalam tabung dengan jari-jarir"seperti tampak pada gambar
di bawah ini. Fluida memasuki tabung dengan kecepatan seragam. Pada saat
fluida kontak dengan permukaan dinding tabung, efek viskos menjadi penting
dan lapisan batas berkembang dengan bertambahnya .r. Perkembangan ini terjadi
bersamaan dengan menyusunnya daerah aliran invisid diakhiri dengan
bergabungnya lapisan batas pada garis pusat tabung.
fika
lapisan-lapisan batas
tersebut telah memenuhi seluruh tabung maka dikatakan aliran berkembang
penuh (fully
deueloped).
Gambar 3-2
Perkembangan
lapisan batas
hidrodinamik
untuk aliran
dalam tabung
[19]
Daerah Aliran Invisid
Daerah lapisan batas
Daerah aliran
x/dh >l berken.rbang penuh
Daerah pintu masuk Hidrodinamik
60 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Bilangan Reynolds untuk aliran dalam tabung didefinisikan sebagai:
dengan p
=
U=
p=
l-L =
R
=Q'D
tr
kerapatan fluida
[kglm3l
kecepatan aliran
[m/s]
diameter tabung
[mJ
viskositas dinamik
[kglm.sl
(3-2)
(3-3)
untuk Re > 2300 aliran tersebut biasanya turbulen'
Gambar 3-3 memperlihatkan angka Nusselt lokal dan rata-rata untuk aliran
berkembang, penuh datam silinder yang di plot terhadap parameter tak berdimensi
(x/D)
/
(Re.ptr), dengan r adalah jarak aksial sepanjang saluran diukur dari awal daerah
pemanasan.
inversi dari parameter ini disebut angka Graetz:
Gambar 3-3
Angka Nusselt
lokal dan rata-
rata untuk aliran
laminar dalam
silinder
[19]
100
8
6
4
3
2
10
8
6
4
3
2
1
100
8
6
4
J
2
Ero
8
6
4
3
2
Gr'
=
xlD
Re.Pr
iu z z 4s67,ro4 2 3 4567810-3 2 3 4567810-'123 45 67 8 7012 3 45678700
(G,)-' a (x
/ D) / Re Pr
Dalam gambar di atas, angka Nusselt diberikan untuk kondisi temperatur
dinding dai fluks kalor konstan. Dapat kita iihat bahwa nilai asimtot untuk fluks
kalor k"onstan adalah 4,36 dan untuk temperatur dinding konstan adalah3,66'
Gambar 3-4 memperlihatkan angka Nusselt lokal dan rata-rata untuk aliran
laminar berkembang penuh antara dua plat sejajar yang diplot terhadap parameter
tak berdimensi
(x/bi)/(Re Pr) dengan D, adalah diameter hidraulik dan r adalah
jarak sepanjang plat dirkrr dari awal pemanasan dalam arah aliran' Nilai Nusselt
diberikan untuk kondisi temperatur dinding dan fluks kalor konstan. Nilai asimtot
untuk fluks kalor konstan aditah 8,24 dan temperatur dinding konstan adalah 7,54.
Gambar 3-5 memperlihatkan angka Nusselt lokal dan rata-rata untuk aliran
laminar berkembang penuh dalam tabung segi empat yang gip_toJ terhadap
parameter tak berdimeisi
(x/Do)/(Re Pr). Nilai asimtot untuk fluks kalor konstan
udrtuh 3,61 dan untuk temperatur dinding konstan adalah 2,98'
L
BAB 3 {. KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN 61
10
8
10,
8
6
4
J
2
Gambar 3-4
Angka Nusselt
lokal dan rata-
rata untuk
laminar antara
dua plat
sejajar
[91]
Gambar 3-5
Angka Nusselt
Iokal dan rata-
rata untuk aliran
dalam tabung
segi empat
[91]
6
4
3
z
z
10
B
6
4
10
8
6
4
3 456787042 34567810-3 2 3 4567870-123 45 67 81,042 3456781,00
t2
11
10
lou
I
Lo
[,_
tal
t1
rat2
tl
I
I r
\
\
L
t-
I
\,,
til
<onstan
III
a
3u
.l
-r>
:]
Y,,tt
-\
T,
konstan
il ilt
8
:7
z
6
5
4
3
2
3.608
2.976
567891.02 2 3 4567891,01 2 3 4
(Gz1-,
- (x
/ D,,) / Re Pr
Untuk aliran dalam tabung sifat-sifat fluida di evaluasi pada suhu borongan T,
yaitu suhu fluida yang dirata-ratakan energinya di seluruh penampang tabung.
Suhu borongan ini digunakan karena untuk aliran dalam tabung tidak terdapat
kondisi aliran bebas u*.
) Contoh Kasus 3-1
_
Etilena glikol pada 60'c dengan kecepatan 4 cm/s memasuki silinder yang
diameter dalamnya 2,5 cm. Temperatur dinding dijaga pada suhu 100.C dengan
mengkondensasikan uap pada permukaan luar tabung.
Jika
panjang tabung 6 m
tentukanlah harga koefisien perpindahan kalor rata-ratanya.
Sifat-sifat fisik fluida pada suhu borongan 60.C adalah:
cp= 2562
I /kg:C
a
=
4,75. ,g-o
pz/s
0 =
1088 kg/m3
k
=0,26
W/m."C
(G,)-'a(x/D,,)/RePr
Pr= 51
62 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Gambar 3-6
Angka Nusselt
rata-rata untuk
aliran berkembang
penuh dalam
silinder
[91]
R,
=
P
D
=
(0,0-4X0,-0-?5)
--
2L0 (aliran adatah laminar)
u 4,75.1.0-"
Untuk fluida dengan angka Prandtl yang cukup besar maka panjang masuk
hidrodinamiknya cukup pendek dibandingkan dengan panjang masuk kalor.
Jadi
Gamb ar 3-3 dapat digunakan untuk menghitung angka Nusselt rata-ratanya.
Pertama-tama kita hitung parameter
xlD
=
600125
=03224
RePr (210)(s1)
Kedua, angka Nusselt rata-rata untuk temperatur dinding konstan. Dengan
(x/D)/(Re Pr) 0,0244 dapat diperoleh dari Gambar 3-3 yakni
Nu
=
hD
k
-
qq
dengan demikian h dapat dihitung sebagai berikut
h
=
s.5!
=5.5
0'26
-
57,2wlm2.oc
'
D 0,025
Pada saat pemanasan dimulai segera setelah fluida memasuki saluran, seperti
pada GamLar 3-la, profil temperatur dan kecepatan mulai berkembang secara
i"rugu-. Berbagai masalah perpindahan kalor untuk aliran yang berkeTb1g
p"nrtr telah dipLcahkan kebanyakan secara metode numerik untuk aliran dalam
tabung segi empat.
Gambar 3-6 memperlihatkan angka Nusselt rata-rata untuk aliran laminar
berkembang penuh dalam silinder untuk kondisi temperatur dinding konstan.
Angka Nusselt untuk aliran berkembang penuh lebih tinggi dari pada aliran
al*
il
tz
100
B
7
6
5
4
3
2
10
8
7
6
5
4
J
2
100
8
Z
5
4
3
2
3 456789 2 3456789
0.01
(Grf'-
@/D)/RePr
10
8
7
6
5
4
J
2
0.1
3 456789 2
0.001
BAB 3
....
KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN 63
berkembang hidrodinamik. Tampak pada gambar bahwa untuk fluida yang memiliki
angka Prandtl cukup besar, angka Nusselt untuk aliran berkembang penuh sangat
dekat dengan aliran berkembang hidrodinamik dan kalor. Angka Nusselt asimtot
pada aliran berkembang penuh hidrodinamik yakni 3,66.
Gambar 3-7 memperlihatkan angka Nusselt rata-rata untuk aliran berkembang
penuh dalam saluran antara dua plat sejajar pada kondisi temperatur dinding
konstan.
Berbagai korelasi empiris telah dikembangkan untuk menaksir angka Nusselt
rata-rata untuk aliran laminar berkembang penuh pada daerah masuk untuk silinder.
Salah satunya diberikan oleh Hausen (19a3) untuk kondisi temperatur dinding
konstan sebagai berikut:
: 0,068 Re.Pr (dlL)
Nu=3,66+ffi
Hubungan ini berlaku untuk jangkauan Gz < 1.00 dan semua
pada borongan rata-rata. Dapat kita lihat bahwa angka Nusselt
tetap 3,66 bilamana tabung cukup panjang.
Qlo
(3-4)
sifat dievaluasi
mendekati nilai
Gambar 3-7
Angka Nusselt
rata-rata untuk
aliran berkembang
penuh dua plat
sejajar
[19]
100
o
8
6
5
4
3
2
10
q
I
Z
l
lz
o
z
bat
6
a
3,0001 0,001
Seider dan Tate (7936) mengusulkan rumus empiris yang agak sederhana untuk
aliran laminar dalam silinder pada temperatur dinding konstan dengan bentuk
sebagai berikut:
Nlr
=
(3-s)
Dalam rumus ini sifat fluida ditentukan pada suhu borongan rata-rata kecuali
V,,
yang ditentukan pada suhu dinding. Persamaan ini berlaku untuk Re.Pr
(d/L) > 1.0.
2 3 456789
0,01
^-,
xlD
^
RePr
t.sel
Rr. P,j'"f
_.,a
lo''o
.
I
LID
.l
[p, .J
t rr=@ I I ll lr
untuk aliran berkembang
7
64 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
) Contoh Kasus 3-2
Minyak mesin didinginkan dari Ti
=
120"C T,
=
BO"C sambil mengalir dengan
kecepatan rata-rata 0,04m/ s melalui silinder dengan diameter dalarn 2,5 cm. Dinding
tabung dijaga pada temperatur konstan T,
=
40oC. Tentukan panjang tabung yang
diperlukan.
To= (120 + 80)/2
=
100'C
Sifat-sifat fisik fluida suhu borongan rata-rata 100"C adalah:
cp
=
2200
J /kg."C
p
=
840 kg/m3 Pr
=
276
a
=
2.1.0-s m/s k
=
0, 1,37 W
/m.'C
Angka Reynolds menjadi
R
=rD
_(0,04)(0,925) _50
a 2.1,0-"
sehingga aliran adalah laminar.
Dalam menentukan angka Nusselt dapat digunakan Gambar 1-36 atau
Persamaan (3-4) dan (3-5). Sebelumnya kita tentukan dulu angka Graetz:
Re.Pr (50)(276) 13.800
",=6=-ff=ff
(a)
karena panjang tabung L belum diketahui maka G. belum dapat dihitung.
Kita gunakan keseimbangan energi untuk mendapatkan L.
(X"'1b",,
)8,
-
r")
=
i
lnor)tr
AT=
T,-To
m
[(r, -
rJe,
-
r,,)
]
Persamaan (b) kita susun dalan bentuk parameter tak berdimensi
1 _I
!-Reprff,-f)=NuaAT
4
. I U'
D
(50) (276) (%) (i20 - sol
=
ruu
I
lr
'D
dari Persamaan (c) kita dapat AT
=
5 7,7L
;
maka
: 2397.3
ltly
=
-----------:-
LID
(b)
(c)
(d)
L
(e)
BAB 3 + KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN 65
Dengan menggabungkan Persamaan (a) dan (e) kedalam
persamaan
(1-g1) kita
peroleh:
2391.,3
dimana$=0,17
rata-rata dan suhu
Pemecahan untuk
pada suhu borongan
|
=
+tO,Zatau L
=
(410,2)(0,025)
=
10,3m
D
Tabel perbandingan angka Nusselt rata-rata yang dihitung dari Persamaan
(3-4) dan (3-51) serta yang diperoleh dari Gambar 3-6, dipat dilihit pada Tabel (3-2).
Tabel 3-2. Perbandingan korelasi teoritis dan empiris angka Nusselt rata-rata
untuk aliran dalam silinder.
LID
dan
trr, =
0,21
dinding.
L/D member
,.ru I
rE.aoo.l'/'
I
o,iz.1n'o
I
LID
.l [o,zr_1
adalah viskositas fluida
ikan:
3.2 ALIRAN TURBULEN
Aliran turbulen penting sekali dalam aplikasi di bidang rekayasa karena termasuk
dalam sebagian besar aliran fluida dan masalah-masalah perpindahan kalor yang
mencakup segi-segi praktis.
Penurunan tekanan Ap sepanjang tabung L dapat ditentukan menurut hubungan
berikut ini:
-L ou2
LD - t
-'
'
'D 2
l
j
;t
(3-6)
r
66 PERPINDAHAN KALOB KONVEKSI
dengan
/
adalah faktor gesekan. Untuk aliran laminar dalam silinder harga
f
= 64/Re. Sedangkan untuk aliran turbulen harga
/
ditentukan oleh rumus
berikut:
f =
(1,821og Re
-
1.,64)-2
0.1
0.
0.08
0.
0.
0.05
04
Gambar 3-8
Faktor gesekan
untuk aliran
dalam silinder
tl
el
0.03
0.02 ulq
0.01s
B
o.or
j
0.008 uo
0.006 3
0.004
:
j
0.002
&
0.001
0.0008
0.0006
0.0004
0.0002
0.0001
0.000,05
0.000,01
;;;#;>s::"
Bilangan Reynolds, Rep
fi=
o'ooo,oos
Selain menggunakan rumus di atas, faktor gesekan dapat juga didapat dengan
menggunakan diagram Moody seperti Gambar 3-8.
D Contoh Kasus 3-3
Udara pada tekanan 1 atmosfir dan 300 K dengan kecepatan u
=10
rn/ s mengalir
dalam tabung yang berdiameter 2,5 cm. Hitunglah penurunan tekanan tiap 100 m
panjang tabung untuk (a) pipa licin dan (b) pipa baja komersial.
Sifat-sifat udara atmosfir pada 300 K adalah:
p
=
1,1774kg/m3
Angka Reynolds:
a
=
16,84 .10-6m2/s
R,=UD
a
(10) (0,02s)
=
_
=
u,846
16,84 x 10-"
BAB 3 * KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN 67
Aliran adalah turbulen. Kekerasan relatif untuk baja komersial adalah:
I 0,0045
;=T=o'ools
Faktor gesekan/pada Re
=
1.4,846 untuk pipa licin dan baja komersial ditentukan
dari Gambar 3-B; diperoleh:
f
=
0,028 untuk pipa licin
f
=
0,031,5 untuk pipa baja komersial
(a) Penurunan tekanan untuk pipa licin adalah:
A,n
=.
-r
f ++
= 0,028
J99-0"1774-)OO2)
= 6,e5kN/.,.,,
D 2 0,025 2
(b) Penurunan tekanan untuk pipa baja komersial adalah :
An
=
f ++
= 0,0315
Joo
(7'7774)002)
= 7,42rN/m2
Banyak korelasi-korelasi empiris yang telah dikembangkan untuk menentukan
koefisien perpindahan kalor. Beberapa diantaranya yang banyak digunakan
dalam rekayasa akan disajikan di bawah ini
A. Persamaan Colburn
(1,933).
Angka Nusselt untuk aliran turbulen dalam tabung licin dapat ditentukan dengan
menggunakan Colbum seperti berikut ini:
Nu
=
0,023 Reo,a Pr1/3 (3,8)
Persamaan ini cocok untuk digunakan pada jangkauan
0,7<Pr<160
Re > 10.000
I
i
> 0O(pipalicin)
D
\rr
Sifat-sifat fluida dievaluasi pada suhu borongan rata-rata.
B. Persamaan Dittus-Boelter
(1930)
Sedikit perbedaan dari persamaan Colbum, Dittus-Boelter menyarankan
persamaan berikut:
Nu
=
0,023 llso,s Pyn (3-9)
1-
68 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
^,
_ l0,4untukpemanasan(*
>To)
rY
-
lo,guntukpemanasan(I,
<7,
)
Jangkauan
penggunaan persamaan ini serupa dengan persamaan Colbum.
C.
persamaan
Sieder_Tate
(1936)
Untuk situasi di mana pengaruh variasi sifat-sifat fluida cukup berperan, Sieder-
Tate menyarankan penggunaan
Persamaan
berikut:
NU=
Persamaan ini sesuai untuk
(3-10) 0,027 Reo'8Or"
[*l
Ir,.,
0,7 <
Re>
L
D
digunakan pada
jangkauan:
Pr < 1.6.700
10.000
60 (pipa ticin)
Semua sifat-sifat dievaluasi pada suhu borongan rata-rata T, kecuali
P,
dievaluasi
pada suhu dinding.
D. Persamaan Petukhov [20].
Persamaan-persamaan
sebelumnya cukup sederhana namun kesalahan
maksimum bisa mencapai kurang lebih 25% dalam jangkauan 0,67 < Pr < 100 dan
cocok digunakan untuk tabung-tabung licin. Suatu korelasi yang lebih tepat yang
luga
cociok digunakan untuk tabung-tabung kasar telah dikembangkan oleh
Petukhov dengan bentuk sebagai berikut:
Nu
=
ne.pr
(f_\[U)'
* (8
)lv*
)
X
=
1,07 + 12,7 (fr'''
-
,)(t)"
(3-11a)
(3-11b)
n
=
0,11 untuk
Pemanasan
(T,> Tb)
0,25 untuk
Pendinginan
(7, < T,,)
0 untuk gas
Persamaan di atas cocok untuk
jangkauan:
104 <
2<
0,08 <
Re<
Pr<
Vr,
I
&r
5.106
140 (5 - 6%kesalahan) 0,5 < Pr < 2000(10%kesalahan)
40
L
BAB 3 i. KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN 69
Semua sifat fluida kecuali dievaluasi pada suhu borongan. Viskositas rasio
V,/Vu
< 1 jika fluida dipanaskan
V,/Vo
> 1 jika fluida didinginkan.
Faktor gesekan dalam Persamaan (3-11) dapat dihitung dengan meng-
gunakan Persamaan (3-7) untuk tabung licin atau didapat dari diagram Moody
atau Cambar 3-B untuk tabung licin maupun tabung kasar.
Dari keempat persamaan bilangan di atas yang digunakan untuk menentukan
bilangan Nusselt bagi aliran turbulen dalam tabung maka persamaan petukhov
adalah yang paling sesuai dan cocok digunakan baik untuk tabung licin maupun
kasar. Selain itu jangkauannya
pun cukup luas.
E. Persamaan Nusselt
(1931)
Dari studi eksperimentalnya, Nusselt menyarankan persamaan berikut untuk
lebih memperhatikan efek sisi masuk.
Nu
=
0,036 Reo'8
P
=
985 kglm3
Vt =
4,7L. 10+ kglm.s
K
-- 0,651, W/m."C
V,, =
2,82. 10r kg/m.s
Nu
=
5 + 0,016Ren.Prb
a
=
0,88
- ro''n=
dan b
= 0,33 * 0,g s-o'ee'
'
4+Pr
,r','(?)'' untuklo <
!
< 400
D
(3-12)
(3-13)
dengan L adalah jarak yang diukur dari awal pemanasan. Semua sifat dievaluasi
pada suhu borongan rata-rata.
F. Persamaan Notter-Sleicher
(1972)
Penentuan angka Nusselt untuk aliran turbulen yang berkembang penuh
hidrodinamik dan kalor dapat menggunakan persamaan berikut ini:
yang sesuai pada jangkauan:
0,1 <Pr<lOa 104<Re<106
Persamaan (3-12) cocok digunakan dalam mempertimbangkan efek angka
Prandtl, dan persamaan ini lebih baik digunakan dari pada Persamaan (3-11).
) Contoh Kasus 3-4
Air mangalir dengan kecepatan rata-rata u
=
2 m/s dalam silinder yang
diameter dalamnya D
=
5 cm. Tabung adalah baja komersial yang dijaga pada
temperatur dinding T,
=
100"C dengan cara mengkondensasikan uap pada
permukaan luarnya. Temperatur borongan rata-rata fluida adalah 60"C. Tentukanlah
harga koefisien perpindahan kalor h dengan menggunakan persamaan Petukhov.
Sifat-sifat fluida pada temperatur 600.C:
L,
zs
D
Pr
=
3,02
70 PERPINDAHAN KALoR KoNVEKSI
dengan
maka
dan
Angka Reynolds:
^
puD (9Bs)(2)(0,0I)
=
204.000 xc=l-=-Lrrxlo-*
Untuk pemanasan maka n
=
0,11dan viskositas rasio menjadi
( p,
)o'" 1
4,7t\''"
trl
=l;u) =1'06
Kekasaran relatif tabung baja komersial adalah:
)" 0.0045
-o==i-=o'ooo9
Faktor gesekan diperoleh dari Gambar 1-38 yakni
f =
0,0205
Persamaan Petukhov menjadi:
Nu
_
(2,04 x 105)(3,02)
[0'0305)(r,oe)
x[6)
x
=
1.,07 + 12,7 (3,0221s
-
rr(!#*)'
Ntt
=
945,28
h
=
Nu
L
=
945,280'657 - e.zo7 w/m2 'C
D 0,05
t
D Contoh Kasus 3-5
Contoh Kasus 3-5 akan kita selesaikan untuk tabung licin dengan menggunakan
Persamaan:
(a) Notter-Sleicher;
(b) Petukhov;
(c) Sieder-Tate;
(d) Dittus-Boelter.
L-
BAB 3
...
KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN 71
Sifat-sifat fluida pada temperatur 60oC
p
=
985 kglm3
*6 =
4,71, x 10-a kglm.s Pr
=
3,02
k=0,65L W/m."C
V,=2,82
x 10-a kglm.s (pada T,
=
100"C)
Faktor gesekan untuk pipa licin pada Re
=
2,04 x.10s diperoleh dari Gambar 3-B
yaitu
f =
0,0752
(a)
Persamaan Notter-Sleicher
a=o.BB
-
o'24
=0.88 -
o'24
=0,846
4+Pr 4+3,02
b
=
0,33 + 0,5e-o'6 Pr
=0,4L2
Nz
=
5 + 0,016
Q,o+
,10t
)o'tnu
(3,02)0,n"
=
7BB
h
=7880:9 =
fi.260w/m2.'C
0,05
(b)
Persamaan Petukhov
Nrr
_
(2'04 x 10s) (3'02)
[O'OISZ )(
+'Zr
)O',1'
x ( B
)\2,82)
dengan
Maka
x
= l,o7 + 1,2,z
b,or','
-
r)(o'*u'l'
Ntt
=
740
h
=
74o0'651 - 9635w/m2.'c
0,05
(c)
Persamaan Sieder-Tate
Nu
=
o,o27
Q,o+
*10'l't
Q,oz)Yu
(
*)"' /
\
12,92 )
Nu
=
742
h
=
7429*
=
s661.wf m2!C
0,05
r
72 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
(d)
Persamaan Dittus-Boelter
Nu
=
o,o2zQ,o+ r 1otl't (z,oz)o,n
Nu
=
633
y=6gg9f{1
=8242(m2.'C
0,05
Untuk lebih mempermudah hasilnya dibuat dalarn tabel berikut:
Notter-Sleicher
Petukhov
Sieder-Tate
Dittus-Boelter
788
740
742
OJJ
1,0.260
9.635
9.661.
8.242
Dari hasil di atas dapat kita lihat adanya perbedaan hasil sekitar 1.7o/" antara
persamaan Sieder-Tate dengan persamaan Dittus-Boelter, hal ini disebabkan adanya
faktor (Vo/1t,")0,4, data persamaan Sieder-Tate. Dengan demikian untuk fluida-fluida
yang viskositasnya sangat berubah terhadap perubahan temperatur maka sebaiknya
gunakan persamaan Sieder-Tate, sedangkan untuk kebanyakan gas persamaan
Dittus-Boelter sudah sangat memadai.
Koefisien perpindahan kalor untuk aliran turbulen pada pipa kasar lebih tinggi
dari tabung licin hal ini disebabkan oleh pengaruh kekasaran terhadap lapisan batas
viskos. Persamaan Petukhov cocok digunakan untuk tabung kasar karena adanya
faktor
/
dalam persamaan tersebut. Perbedaan tersebut dapat kita lihat dari hasil
pada Contoh Kasus 3-4 dan 3-5 di atas.
3.9 ALIRAN
pADA
TABUpe
,1|elrl.SILINDE,R
Banyak penerapan dalam perekayasaan yang melibatkan aliran dalam saluran
yang penampangnya tidak berbentuk lingkaran. Misalnya aliran udara pendingin
pada ducting yang berbentuk persegi panjang, Untuk hal ini maka perpindahaan
kalor didasarkan atas diameter hidraulik Dr.
Shah dan London
l22l
telah menghimpun informasi perpindahan kalor untuk
aliran laminar yang berkembang penuh di dalam saluran dengan berbagai bentuk
penampang seperti pada Tabel (3-3).
Dalam tabel di atas digunakan tatanama sebagai berikut:
Nr,
=
angka Nusselt rata-rata untuk suhu dinding seragam,
NUr,
=
angka Nusselt rata-rata untuk fluks kalor seragam dalam arah aliran,
dan suhu dinding seragam pada penampang aliran tertentu.
BAB 3 * KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN 73
NUr,
=
angka Nusselt rata-rata untuk fluks kalor seragam baik pada arah aliran
maupun sekeliling saluran.
f
R,
=
produk perkalian faktor gesek dengan angka Reynolds.
Tabel 3-3 Angka Nusselt dan faktor gesekan untuk aliran laminar berkembang
penuh pada berbagai bentuk penampang.
) Contoh Kasus 3-5
Udara pada tekanan atmosfir dan 350 K mengalir dengan kecepatan rata-rata
0,5 m/s. Udara dipanaskan dari dinding tabung yang dijaga pada temperatur
seragam dengan cara mengkondensasikan uap pada permukaan luarnya. Hitunglah
faktor gesekan koefisien perpindahan kalor dan penurunan tekanan untuk panjang
tabung 10 m jika:
(a) Tabung segi empat dengan sisi b
=
2,5 cm.
(b) Tabung silinder dengan diameter D
=
2,5 cm.
Nu*
"'r;-r
-t
,-lliE'r.] : : .:f, t:ri:ri:rlfi
,,:lifi:il,,.rll',,,,,
r i,,::lillllt
qYffi
'.rii:rrrrlrrri,lrr:,rr,r" .ra!,r,,r,rrriir.l\lrilitllilrrr...,.
3.657 4.364 4.364 64.00
3.34 4.002 3.862 60.22
,i17\.
2b
-
J5
L / \zn 2
2a
2.47 3.111 1.892 53.33
,,
I-l *=
1
2a
2.976 3.608 3.091 56.91.
2b
=L
2a2
3.391 4.1,23 3.01.7 62.20
2b 1.
2a4
3.66 5.099 4.35 74.8
2bl-2b
=!
T2o
8
s.597 6490 2.904 82.34
t2b )h
-=0 :)n
T-"
7.541 8.235 8.235 96.00
sst
Insulated
b
--u
a
4.861 5.385 96.00
7
74 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Rr=uDu -
(0'5)(0'025),
=691
u 20,79 x 10-"
Dari Tabel 3-3 untuk tabung segi empat kita peroleh:
f
Re
= 56,91.
f
=9# =s,47
x 1o-2
or=#
=b =2,5cm
N
ur
=
2,976
h
=
2.976L
=
2,976
!41
=
3,57w1m2."C
'
Dh 0,025
Sifat-sifat udara pada 350 K:
a
=20,79x10-6m2/s
(a) Tabung segi empat
Diameter hidraulik:
Angka Reynolds:
dan
Penurunan tekanan:
(b) Tabung silinder
Diameter hidraulik:
k
=
0,03 W/m.'C p
=
0,998 kg/ m3
Lp=f
LPu'=9,47x
' 'Dhz
=
4,73N/*,
^ ^-2
10 (0,998)(0,52
)
0,025 2
Dt=
(nla)D2
=
Dl4
=
6,25 x 10-3 m
nD
uDh
=(o,s)(o,zsrto*)
a 20,79 x !0-6
Angka Reynolds
Re=
=
150
-:
BAB 3 {. KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN 75
Dari Tabel 3-3 untuk tabung silinder kita peroleh:
fRe=64
42,7 x 10-2
dan
h
=
3,657
,L,
=
u,uil
dyr*
=
17,55w
f
m2 3C
Penurunan tekanan
f
Na,
Lp=
64
150
=
3,657
_a
,LPu'
'otz
= 42,7 x 10-2
- ^-'o
,
(0,998)(0,52)
=
gL,23N/rr.,,
LL" t. Lv
6,25 x 10-3 2
Beberapa tahun terakhir ini banyak perhatian dicurahkan kepada perpindahan
kalor logam cair karena tingginya laju perpindahan kalor yang dapat dicapai
dengan media ini. Laju perpindahan kalor yang tinggi ini disebabkan oleh
tingginya konduktivitas kalor logam cair dibandingkan dengan fluida lain; oleh
karena itu logam cair sangat sesuai untuk situasi di mana sejumlah besar energi
harus dikeluarkan dari ruang yang relatif kecil, seperti pada reaktor nuklir. Di
samping itu, logam cair masih tetap berada dalam keadaan cair pada suhu yang
tinggi dari pada kebanyakan fluida konvensional seperti air dan bahan-bahan
pendingin organik. Hal ini juga memungkinkan perancangan alat penukar kalor
yang kompak.
Logam cair tidak mudah ditangani karena sifatnya korosif dan reaksi hebat yang
mungkin terjadi apabila bersentuhan dengan air atau udara; namun demikian
keuntungan dalam penerapan perpindahan kalor lebih mencolok dari pada
kekurangan tersebut, dan untuk penanganannya telah dikembangkan puia teknik-
teknik yang sesuai.
Geometri
f
lp
[N/m'?l
hL\N /m2."Cl
Tabung segi empat
Tabung silinder
9,47 x 1,0-2
42,7 x 1.0-2
4,73
85,23
3,57
17,55
r-
76 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Rumus-rumus empiris yang dapat digunakan untuk menghitung bilangan Nusselt
bagi logam cair pada aliran berkembang penuh dalam tabung untuk kondisi fluks
kalor seragam adalah sebagai berikut:
o
Persamaan Lubarsky dan Kaufman
(1955).
Untuk jangkauan
L02 < Pe < 10a dan L/D > 50.
NLL
=
0,625 Peo'4 (3-14)
e
Persamaan Skupinsky, Tortel dan Vautrey
(1965).
Untuk jangkauan
3,6. 1-03 < Re < 9,05.105; 102 < Pe < 10a dan L/ D > 60.
Nu
=
4,82 + 0,01,85 Peo,827
o
Persamaan Azer dan Chao
(1960).
Untuk jangkauan
Pr < 1. dan 2. 1.03 < Pe < 1,5. 104.
Nu
=
7 + 0,05 Peo,77 Pro,25
o Persamaan Notter dan Sleicher
(1972).
Untuk jangkauan
0,004 < Pr < 0,0L dan 10a < Re < 106.
(3-1s)
(3-16)
Nu
=
6,3 + 0,0167 Peo'8s Pro'og (3-1,7)
Persamaan (1-90) menghasilkan nilai Nusseit yang lebih rendah dari Persamaan
(3-16) oleh karenanya persamaan ini agak konservatif Dalam percobaannya
Skupinsky dkk menggunakan campuran sodium-pottassium.
Gambar di bawah ini memperlihatkan sebaran data pemasaran logam cair dalam
tabung silinder pada kondisi fluks kalor seragam. Luasnya sebaran data tersebut
disebabkan sukarnya eksperimen dengan logam cair karena sifat-sifatnya seperti
yang telah dijelaskan di atas.
Gambar
Korelasi
Nusselt
cair
[19]
3-9
bilangan
logam
Data para
Penelili:
Air Raksa,
Natrium Cair
Bismul Cair,
Bi-Ms Cair.
BAB 3 * KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN 77
Rumus-rumus empiris yang dapat digunakan untuk menghitung bilangan
Nusselt bagi logam cair pada aliran berkembang penuh dalam tabung untuk
kondisi temperatur dinding seragam adalah sebagai berikut:
o
Pcrsamaan Seban dan Shimazaki (1951).
Untuk jangkauan
Pe >
'j.00
dan LID > 50.
Nu=5+0,025Pe0,8
(3-18)
o
Persamaan Notter dan Sleicher
(lg72t.
Untuk jangkauan
0,004 < Pr < 0,01. dan Re < 500.000.
Nu
=
4,8 + 0,0156
peo,8s pro'08
o
Persamaan Azer dan Chao
(1961).
Untuk jangkauan
Pr <l danPe < 15.000.
(3-1e)
Nr7
=
5 + 0,05 Peo,77 Prozs (3-20)
Persamaan Sleicher dan Tribus (1922).
Untuk jangkauan
pr
< 0,05.
Nu
=
4,8 + 0,015 Peo,el Pro,3o
e-21,)
Sleicher, Awad, dan Notter (1973) menyarankan persamaan berikut untuk daerah
masuk kalor pada kondisi fluks kaior dan temperatur dinding seragam.
Untuk x/D > 4 dan pada jangkauan
0,004 < Pr < 0,1:
N,'
=
(3-22)
Logam cair memiliki konduktivitas kalor yang tinggi. OIeh karena itu pada daerah
masuk kalor di mana gradien temperatur dalam arah aksial tinggi, konduksi
kalor pada arah aksial menjadi sangat penting. Secara umum elek konduksi
aksial pada fluida dapat diabaikan untuk Pe > 1.00; kondisi ini menjadi sangat
penting bagi logam cair untuk aliran laminar.
Gambar di bawah ini memperlihatkan pengaruh konduksi kalor aksial pada
fluida terhadap nilai Nusselt lokal Nu, pada daerah pintu masuk kalor untuk ulirurt
laminar dalam tabung silinder pada kondisi fluks kalor konstan. Konduksi kalor
aksial menjadi penting untuk Pe < 100, dan efek ini akan mengurangi nilai Nusselt
lokal dalam daerah masuk kalor dan akibatnya panjang daerafi kaloi akan menjadi
sangat pendek.
rur[r *
-?-)
|
*lo)
78 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Q.l* r<
l2
10-2 10-r
2(Gz)4
=2(x/D)/(RePr)
Mengingat akan pengaruh konduksi kalor aksial tersebut, Lee
[14]
memberikan
korelasi bilangan Nusselt lokal terhadap koordinat aksial untuk beberapa bilangan
Prandtl pada kondisi fluks kalor dan temperatur dinding seragam.
Pada Gambar 3-11 di bawah ini dapat dilihat bahwa untuk setiap pasangan
bilangan Prandtl dan Peclet, bilangan Nusselt mendekati nilai asimtot konstan
tertentu untuk nilai x yang mendekati tak terhingga.
10,
7
4
Nu
2
10
7
.o
0)
z
rd
"V
o
J
Gambar 3-10
Efek Konduksi
kalor aksial
[19]
Gambar 3-11
Nusselt lokal
untuk fluks
kalor seragam
[14]
4
1.0
z 471622 471612 471,
x=4X/PeD
10,
7
4
Nu
2
10
7
L a t10 z 4716'z2 471612 477
x=4X/PeD
(b\ 4-=konstan
'
Pr
=
0.004
a
=
konstan
(u)
p,i
=
o.oor
Pr
=
100
x=4X/PeD
K)'4,=
kohstan
Pr
=
0.01
@)
[-,==5:o;"""
x=4X/PeD
70L
-t
BAB 3 * KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN 79
Gambar 3-12
Nu vs Pe untuk
fluks kalor
seragam
[14]
Gambar 3-13
Nusselt lokal
untuk suhu
dinding
seragam
[14]
Gambar 3-14
Nu vs Pe untuk
suhu dinding
seragam
[14]
7
4
Nu2
10
7
4
7
4
Nu2
1
10-
4[
rri
7
4
Nu2
10
7
4
2 47t0424716t2471
x=4X/PeD
x
=
4X/ PeD
2 47rc)2 4\612 471
x=4X/PeD
t0'2
47rc22 471612 471
x=4X/PeD
10
t0 2 4 7L02
re
*;3333i
o^ojq6\o
oo'
(a)
f
=
konstan
(b)
t,,
=
konstan
Pr
=
0006
-)s1g2n
AJ(
--'Tanoa A.C
(c) l,
=
konstan
Pr
=
0.01
-Dengan
A)t
--.Ta4pa A.C
(d) f,,,
=
konstan
Pr
=
0.02
-Dengan
A.
--.Tanpa A.C
f,
=
konstan
Pr
= 0.02
0.01
Rc=1ooo
qqqq
5000
0.001
2 4 7703
80 PERPTNDAHAN KALoR KoNVEKSI
Pada Gambar 3-11 dapat kita lihat bahwa semakin besar angka Peclet semakin
besar pula angka Nusseltnya untuk aliran berkembang penuh. Pada daerah pintu
masuk kalor, pertambahan angka Peclet akan mengurangi efek konduksi kalor aksial.
Pada Gambar 3-13 kecenderungan kurva bilangan Nusselt aliran berkembang
penuh terhadap bilangan Peclet untuk kondisi temperatur dinding kalor seragam.
Pengaruh konduksi kalor aksial pada daerah aliran berkembang penuh dapat
diabaikan.
Karena pengaruh konduksi kalor aksial berpengaruh pada bilangan Peclet <
100, maka untuk keaadaan ini Lee memberikan korelasinya untuk Pe < 100 sebagai
berikut:
Untuk q,, konstan Na
=
3,01 Re
0,0833
Untuk 7... konstan Nu
=
2,77 Rc
o,o6s6
D Contoh Kasus 3-7
Cairan NaK (56% Na) mengalir dengan kecepatan u*
=
3 m/s dalam tabung
berdiameter 2,5 cm dan dipanaskan oleh dinding tabung yang dijaga pada suhu
dinding seragam T*
=
720"C. Tentukan koefisien perpindahan kalor pada lokasi di
mana suhu borongan rata-rata Tu
=
95'C dan aliran berkembang penuh.
Sifat-sifat fisik NaK (56% Na) adalah:
(3-23)
(3-24)
P =
887 kg /m3
k
=
25,6 W/m"C
Angka Reynolds adalah:
It =
0,58 x 10-3 kglm.s
Pr
=
0,026
Re
=Pu*D
_
(887)(3)(o'o?5)
=
115.ooo
It
0,58 x 10-'
dan
Pe
=
Re.Pr
=
(115.000) (0,026)
=
2990
Persamaan Seban dan Shimazaki
(3'L8):
Na=5 +O,025Peo'8
=
5 + 0,025(2990)0'8
=
Z0,l
h
=
NuL
D
=
2o,t#
=
zo.sgz(m."C
0,025
Persamaan Sleicher dan Tribus
(3-2Dz
BAB 3 T. KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN 81
Persamaan Sleicher dan Tribus
(3-21):
Na
=
4,8 + 0,0L5 Peo'e| Pro'30
=
4,8 + 0,015 (2990)0,e1 (0,026)0,30
=
72,1
h
=
Nu
|
=
tz,t#
=
tz.B87@m.'C
D 0,025
Persamaan Azer dan Chao
(3-20):
Na
=
5 + 0,05Peo'77 Pro'25
=
5 + o,o5(z99qo'7'10,02610''s
=
14,5
h
=
NuL
=
M5
25'6
-
14.848W/m."C
D 0,025
Persamaan Notter dan Sleicher
(3-19):
Nu
=
4,8 + 0,0156Pe0'85 Pr0'08
=
4,8 + o,ots(2990)0'85
(0,026)0'08
=
15,3
h
=
Nu*
=
1s,a
P3 =
$.667(m.'C
D 0,026
Persamaan (3-19) memberikan hasil diantara persamaan lainnya. Perbandingan
keempat persamaan di atas dengan hasil eksperimen untuk NaK diberikan pada
gambar di bawah ini. Dari keempat persamaan di atas, persamaan Notter dan
Sleicher cocok untuk digunakan.
100
Seban-Shimazaki
Notter-Sleicher
Azer-Chao
Sleicher-Tribus
Percobaan
Gambar 3-15
Perbandingan
beberapa
korelasi
[19]
Nl
10
200 1000
7
82 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
) Contoh Kasus 3-B
Dengan menggunakan hasil pada Contoh Kasus 3-7 di atas, hitunglah koefisien
perpindahan kalor untuk daerah masuk kalor pada lokasi 5 dan 10 diameter dari
pintu masuk.
Persamaan (3-22) dapat kita gunakan:
tr,=t(t
\.
untuk x
=
5
hr=
r\
+-l
xlD I
soaz(t
15.824wf
2)
+-l
5t0.025 I
)
m. \-
untuk x
=
10
h
=15.667(r*
'
)=rr.rnrwlm.'C
'
[
1010,025
)
) Contoh Kasus 3-9
Bismut cair mengalir dengan lafu 4,5 kgls melalui tabung baja tahan karat yang
diameternya 5 cm. Bismut masuk pada suhu 415'C dan dipanaskan hingga 440"C
sambil melewati tabung.
Jika
sepanjang tabung itu terdapat fluks kalor tetap dan
suhu dinding tabung 20.C di atas suhu borongan bismut, berapakah panjang tabung
yang diperlukan untuk melaksanakan perpindahan kalor.
Sifa1-sifat bismut ditentukan pada suhu borongan rata-rata (415 + 440)/2
=
427,5,C.
lt =
1,34. 10r kglm s c,
=
0,149 kJlkg.'C
k
=
75,6 W/m.'C Pr
=
0,013
Perpindahan kalor total dihitung dari:
4
=
m cp DTo
=
(4,5) (1,49) (440-41.5)
=
16,76
yy,
Angka Reynolds dan angka Peclet adalah:
(0,05)(4,5)
Re=
Pe=
dG=
p
Re.Pr
ln
(0,05)2
f
+1t,2+.to-311
=
(85.520X0,013)
=
1.111
i
l-
85.520
-l
BAB 3 * KONVEKSI PAKSA DALAM PIPA DAN SALURAN 83
Koefisien perpindahan kalor dihitung dari
persamaan
(3-15)
Nu
=
4,82 + (0,0185)(1 .1lt)0,827
=
1.0,93
h
=
N':k
-
(10'93)(15'6)
=
3470(m2..C
d 0,05
Luas permukaan total dihitung dari:
4 =
hA (T*_ Tb)
dengan beda suhu 20"C; maka:
A=
16'760
=0,24Gm2
(3410) (20)
Luas ini dapat kita nyatakan sebagai panjang tabung
A
=
TEdL dan t
=
0116_.
=
t,57 m
n (0,05)
3.5 SALURRN .DENGA'N]:PENAMPANG
BERUBAH
Liou dan Hwang
[15] menyelidiki karakteristik perpindahan kalor dalam saluran
penamPang persegi panjang di mana terjadi pemisahan aliran daerah masuk
saluran serta adanya gangguan aliran sepanjang saluran. Pada kondisi aktual
hal ini terjadi antari tul p"ulu proses pendinginan sudu-sudu turbin, aliran pada
nosel, atau pada saluran dengan adanya perubahan penampang geometri.
Gambar di bawah ini memperlihatkan pengaruh bilangan neynotJs dan Prandtl
terhadap pemisahan aliran, sirkulasi aliran, seita perkembingan-lapisan batas kalor
Gambar 3-16
Perkembangan
aliran dalam
saluran
[15]
(a) Re
=
12.500, PR
=
10.0 < X/D,<2.0 (c) Re
=
72.600,PR
=
10.0 < X/D,<2.0
(b) Re
= 33.000, PR
=
10.0 < X/ D, <2.0 (d) Re
=
12.600, PR
=
70, 7.0 < X / D, <2.3
84 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
pada daerah masuk saluran yang diakibatkan oleh penampang geometri saluran
secara tiba-tiba pada daerah masuk saluran dan sepanjang saluran.
Liou dan Hwang menyarankan korelasi berikut untuk jangkauan
5. 103 < Re < 5.104.
.
Untuk faktor gesekan:
f
=
4,745 Re-o'1se Pr4'36e
o
Untuk bilangan Nusselt rata-rata:
Ni
=
0,224 Reo'6s6 Pr-o'l2r
(3-2s)
(3-26)
Gambar 3-17
Nusselt rata-rata
vs Reynolds
[15]
Re x L0.000
Liou dan Hwang juga mendapatkan hasil perbandingan panjang bilangan Nusselt
rata-rafa dengan bentuk korelasi sebagai berikut:
Y=t*
Nu
bilangan Nusselt rata-rata
panjang Nusselt rata-rata
koordinat aksial
diameter hidraulik
1.844f
rL)
lD' )
(3-27)
dengan:
Nu=
N'=
p
X=
Dh=
O Dillus-Boelter
Nu-
=
0,244 Reo'oa, Pr4,t2
N77
=
0,023 Reo'o, Pro'4
i--
BAB 4
KONVEKSI BEBAS
Pada bagian ini pembahasan difokuskan pada konveksi bebas atau konveksi
alamiah, yakni konveksi yang terjadi karena fluida yang mengalami proses
pemanasan berubah densitasnya (kerapatannya) dan bergerak naik. Gerakan
fluida dalam konveksi bebas terjadi karena gaya apung (buoynncy
force)
yang
dialaminya, apabila kerapatan fluida di dekat permukaan perpindahan kalor
berkurang sebagai akibat proses pemanasan. Gaya apung itu tidak akan terjadi
apabila fluida tersebut tidak mengalami suatu gaya dari luar seperti gaya
gravitasi, walaupun gravitasi bukanlah satu-satunya medan gaya luar yang dapat
menghasilkan arus konveksi bebas. Gaya apung yang menyebabkan arus
konveksi bebas disebut gaya badan (body
force).
4';,1 .,KORELASI PLAT'VEHTIKAL
Perhatikan plat rata vertikal pada Gambar 4-1. di bawah ini. Apabila plat itu
dipanaskan, terbentuklah suatu lapisan batas konveksi bebas seperti terlihat
pada gambar. Profil kecepatan pada lapisan batas ini seperti profil kecepatan
pada lapisan batas konveksi paksa. Pada dinding, kecepatan adalah nol, karena
terdapat kondisi tanpa gelincir (no slip) kecepatan itu bertambah terus sampai
mencapai suatu nilai maksimum, dan kemudian menurun lagi hingga nol pada
tepi lapisan batas, karena kondisi arus bebas
{free
stream) tidak ada pada sistem
konveksi bebas. Perkembangan awal lapisan batas adalah laminar, tetapi pada
suatu jarak tertentu dari tepi depan, bergantung pada sifat-sifat fluida dan beda
suhu antara dinding dan lingkungan, terbentuklah pusaran-pusaran dari transisi
ke lapisan batas turbulen.
Pada sistem konveksi bebas kita akan sering bertemu dengan bilangan tak
berdimensi baru yang disebut bilangan Grashof, Gr, yang didefinisikan sebagai:
86 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
dengan
Gambar 4-1
Lapisan batas
di atas plat rata
vertikal
[19]
Gr,,=
gTQ,
-
r)t
percepatan gravitasi,
[ms']
dimensi karakteristik,
[m]
viskositas kinematik,
[m'/s]
koefisien ekspansi volume,
[K-1]
{
@o tar1,
1/T (khusus gas ideal); T adalah
(4-1)
1
u-
8=
L=
U_
u=
suhu mutlak
6
6
.l
a) Dinding b) Dinding
panas dingin
penyelesaian
secara analisis konveksi bebas sangat rumit oleh karenanya korelasi
data eksperimental lebih berguna dalam menentukan harga koefisien
perpindahan kalor.
1 ,. .
^
fU". Adams
[16]
mengkorelasikan
nilai Nusselt rata-rata untuk kondisi
temperatur dinding seragam dengan bentuk:
N"=+=c(Grr.Pr)ua
(4-2)
Konstanta C dan n dapat dilihat pada Tabel 4-1 di bawah ini. Sifat-sifat fisik
dievaluasi pada suhu iilr.t f. Pada rumus di atas terdapat produk perkalian
antara bitangan Grashof d6ngan bilangan Prandtl yang disebut bilangan
Rayleigh (Ra).
L
T>T
BAB 4 * KONVEKSI BEBAS 87
Rar= 6,7'r.P,
-
80(rw -
r)t
(4-3)
u.cl
Tabel 4-1 Konstanta Cdan n untuk
persamaan
4-2
*$ffi ffiiffi
Laminar
Turbulen
104
-
10e
10e
_
1013
0,59
0,10
1/q
1/z
Sumber Mc. Adams
[16]
NU
=
0,68 +
0,67 Rarll+
(4-4)
i
*@,+oz plif
sedangkan untuk daerah turbulen yang berlaku pada jangkauan
L0-
1
< Ra, < 1"012
bentuknya adalah;
0,387 Rarl
l
6
Bentuk korelasi yang lebih rumit disarankan oleh Churchill dan Chu
[2]
dengan
dua_persamaan beritut untuk konveksi bebas pada plat vertikal dengan tlmpera'tu,
dinding seragam. untuk daerah Laminar pada jangkauan
10-1 < Rari 10e dan sesuai
untuk semua angka Prandtl bentuknya adalah:
Nu
-'-
=
0,825 +
(4-5)
[,
* ( 0,4s, pyif
ru
Sifat-sifat fisik fluida pada kedua persamaan di atas dievaluasi pada suhu film.
Meskipun Persamaan 4-5 berlaku untuk kedua daerah alirin laminar dan
turbulen, tetapi untuk daerah aliran laminar Persamaan 4-2 akan memberikan
hasil yang lebih sesuai.
L Contoh Kasus 4-1
sebuah plat bujur sangkar vertikal berukuran 0,4 x 0,4 m dijaga pada suhu
seragam T,
=
400 K pada udara atmosfir yang tidak bergerak dengan T_
=
300 K.
Berapa koefisien perpindahan kalor rata-rata h sepanjang keseluruhu., plat.
1=
(300 + a00)/2
=
350 K
Sifat-sifat fisik udara pada suhu 350 K adalah
a=20,75 x 10-6m2/s
k
=
0,03 W/m."C
Pr
=
0,697
fr =
1/Tr= 2,86 x 10-3 K-'
88 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Bilangan Grashof pada L
=
0,4 m menjadi:
Persamaan (4-2):
r_.
g0(T,,
-r-)r'
u,L=0.4:-------r-
'
71
'
_
(
g,s
)
(2,s0 x ro-'
)(
+oo
-
goo)
(
o,+
)'
(zo,zs x 10-6f
=
4,16 x 108
Ll
Nu
=
",-
=
0,59
(Gr,
Pr
)1I
+
k
h
=
0,59(o,og
)(+,to'108
x o,ogz )'/n
4,4
=
5,77 (m2.'C
Persamaan (4-4):
l,/il
=
hL
=0.68
+
9'oz(+'lo'to8xo'ogzYl-
k
"'"" '
[,
* (0,+oz1o,ooz)erc)ttv
,- _
( o,o3
)(zz,ot )
0,4
=
5,45Wm2.oC
Tampak bahwa Persamaan 4-2 dan 4-4 memberikan hasil yang tidak terlalu
berbeda.
) Contoh Kasus 4-2
Plat vertikal dengan L
=
5 m tinggi, danw
=
1,5 m lebar salah satu sisi dindingnya
diisolasi dan sisi dinding lainnya dijaga pada suhu seragam T,= 400 K yang berada
pada udara atmosfir diam dengan T-= 300 K. Berapa rugi kalor dari plat?
7
=
(300 + a0U/2
=
350 K
Sifat-sifat fisik udara pada 350 K serupa dengan Contoh Kasus 4-1 di atas.
Bilangan Grashof pada L
=
5 m menjadi:
,-_ _gB(r*-r_)r'
\rt
L=s - ----J-
BAB4 * KONVEKSIBEBAS
_
(g,s
)(z,so
* ro-')(+oo
-
soo
)(sr)
(zo,zsx 1o-5f
=
B,\37 x 1011
Dengan demikian kita gunakan Persamaan 4-5:
T12
h
=
Ll
o.rru * -
o3B7 (Gr
''
Pr
)116
|
L
L
[r
+ (0,+oz1n,
)e
trc
]8
t2?
)
fr
n
=
ryl
o,rr, *
o,lsz (p'Bz' toll x o'og7-)1-t-6
l'
=
u,u, wf m2.C
s
L-'--*
[,
* (0,+oz1o,eo7)orrc]arz'
]
t
Kerugian kalor adalah:
4 =h(T.-T*)A
=
(5,51) (5 x 1,5) (400
-
300)
=
4,733 kW
> 4.1.2 FIuks Kalor Seragam
Dua korelasi berikut dapat digunakan untuk menentukan bilangan Nusselt lokal
lugi
plll vertikal pada kondisi fluks kalor seragam. Dalam jangkauan 105 < Gr
v,
Pr < 101r untuk daerah laminar bentuk korelasinya adalah:
Nu,
=
0,60 (Grf, Pr1'rt (4-6)
Sedangkan pada jangkauan
2.1013 . GrlPr < 1.016 untuk daerah turbulen bentuk
korelasinya sebagai berikut:
Nu,
=
0,568 (Grf, Prlo'" (4-7)
Dengan Gr
]
adalah bilangan Grashof yang dimodifikasi yang didefinisikan
sebagai:
89
4r,
X
(4-8)
dengan q, adalah fluks kalor dinding konstan. Adapun nilai Nusselt rata-rata
untuk Persamaan 4-6 dan Persamaan 4-7 bertrrut-turut adalah:
. a
0(r,
_T_)*,
Gri=GrrNu,=r-T
k (7,,
-T_)
I Fq*xn
ko2
90 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Nu
=
1,25 Nu,
Nu
=
1,136 Nu,
(4-e)
(4-10)
Sifat-sifat fisik fluida dievaluasi pada suhu film.
Persamaan 4-4 dapat juga digunakan untuk kondisi fluks kalor seragam
dengan menggunakan modifikasi bilangan Grashof dan bentuknya adalah sebagai
berikut:
-1
tA /- \
Nu "-
(lu,
-
0,68)=
o,oz
(cr
[ -
Pr
)1tt
(4-11)
|
-
10,+oz1t'r)et$)4te
4,2r,
:KoREtAsl',PLAT,,|-loHlzoNTAL
Bilangan Nusselt rata-rata untuk konveksi bebas pada plat horizontal tergantung
padalpakah permukaan plat menghadap ke atas atau ke bawah dan apakah
-p".*.rkuun
plat lebih panas atau lebih dingin daripada fluida di sekitarnya.
Gambar 4-2
Korelasi untuk
plat vertikal
[16]
z
bo
BAB4 * KONVEKSIBEBAS
> 4.2.1Temperatur
Dinding Seragam
Bilangan Nusselt rata-rata untuk konveksi bebas pada plat horizontal dan kondisi
temperatur dinding konstan dikorelasikan oleh Mc. Adam
[16]
dengan bentuk
sebagai berikut:
Nu
=
C(Grr.Pr)' (4-1,2)
di mana konstanta C dan eksponen n dapat dilihat pada Tabel4-2 di bawah ini:
Sumber : Mc. Adams
[16]
Panjang karakteristik L plat dapat diambil sebagai panjang sisi untuk plat bujur
sangkar, rata-rata kedua sisi untuk plat persegi panjang, dan 0,9D untuk cakram
Iingkaran dengan diameter D. Untuk aliran turbulen 7- tidak tergantung pada
panjang karakteristik. Untuk kasus permukaan plat panas menghadap ke biwah
dan permukaan dinginnya menghadap ke atas, daerah aliran tuibulen tidak akan
tercapai meskipun pada nilai Grr.Pr
=
3 x 1010.
untuk plat horizontal dengan permukaan panas menghadap ke atas bentuk
korelasinya adalah sebagai berikut:
Nil
= 0,1.3 (Grr.Pr)1/3
Nr;
=
0,1.6 (GrtPr)l/3
Sedangkan untuk plat horizontal dengan permukaan panas menghadap ke bawah
bentuk korelasinya adalah:
Nrz
=
0,58 (Grr,Pr)l/s
106<Grr.Pr<1011
Dalam persamaan di atas semua sifat, kecuali dievaluasi pada yang didefinisikan
sebagai:
91
Grr.Pr<2x108
5 x 108 <Grr.Pr < 101r
(4-1.3)
(4-14)
(4-1s)
Tabel 4,-2 Konstanta C dan n untuk Persamaan (4-12)
Permukaan plat atas panas,
bawah dingin
70s
-
2.10?
2.107
-
3.1010
0,59
0,1.4
1/+
1./3
Laminar
Turbulen
Permukaan plat bawah panas,
atas dingin
3.10s
_
3.1010 0,27 1./4 Laminar
T,
=
T,
-
0,25 (7,
-
T_) (4-76)
92 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
) Contoh Kasus 4-3
Plat bujur sangkar berukuran 0,5 m x 0,5 m dengan salah satu permukaannya
diisolasi dan permukaan lainnya dijaga pada temperatur seragam 7,
=
3gS K yang
ditempatkan pada udara diam pada tekanan atmosfir dan T_
=
315 K. Hitunglah
koefisien perpindahan kalor rata-rata Jr untuk orientasi:
(a) Plat horizontal, permukaan panas menghadap ke atas.
(b) Plat vertikal.
(c) Plat horizontal permukaan panas menghadap ke bawah.
7
=
(385 + 315)/2
=
350 K
Sifat-sifat fisik udara pada temperatur 350 K adalah:
v
=
2,076 , ,O-s ,12/s Pr
=
0,697
k
=
0,03 W/m.oC
fr =l/Tt=2,86
x 10-3K-1
Bilangan Grashof untuk L
=
0,5 m menjadi:
Gr, -
I
gG,
-
r-
)r',
=
5,7 x 108
a) Untuk plat horizontal dengan permukaan panas menghadap ke atas kita
tentukan dengan Persamaan 4-72 dan Tabel4-2. Untuk kondisi aliran turbulen
maka:
zr2
(q,s
)(z,so
, ro-')(gss
-
srs
)(o,s')
(z,oze x ro-5
)'z
b) Untuk plat vertikal kita tentukan dengan Persamaan 4-2 dan Tabel4-1. Untuk
kondisi aliran turbulen maka:
l"r
Nu
=
!:;
=
0,"14(Grr.pr
)t
I
3
n
=
W
$)+)(s,r.
1os x 0,6s7'lt
3
=
6,I7SW/m2.'C
l"t
Nu=T=0,59(Grr,Pr)1ta
l,
=
#(
o,so
)(s,z.108
x 0,6s7'lt
4
=
5
Wm2.
oc
BAB4 * KONVEKSIBEBAS 93
c) Untuk plat horizontal dengan permukaan panas menghadap ke bawah kita
tentukan dengan Persamaan 4-1,2 dan Tabel 4-2.
Nr=ry=0,27(Grr.nr)1la
1.
h
=
9P
6,zz 1(5,7
.to8 x 0,692lta
0,5'
/\
'
=
2,29wf m2."C
Hasil ini menunjukkan bahwa untuk ketiga orientasi di atas dengan plat bujur
sangkar. Nilai koefisien perpindahan kalor rata-rata h tertinggi dicapai oleh
plat horizontal dengan permukaan panas menghadap ke atas dan terendah
dihasilkan oleh plat horizontal dengan permukaan panas menghadap ke bawah.
4..3
,KORELASI
PLAT MIRING
Orientasi kemiringan plat apakah permukaannya menghadap ke atas atau ke
bawah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi bilangan Nusselt.
Untuk membuat perbedaan ini Fuji dan Imura
[5]
memberikan tanda sudut q
sebagai berikut:
a. Sudut 0 adalah negatif
iika
permukaan panas menghadap keatas, seperti
diperlihatkan pada Gambar 4-3a.
b. Sudut 0 adalah positif jika permukaan panas menghadap ke bawah,
seperti diperlihatkan pada Gambar 4-3c.
Gambar 4-3b menggambarkan sudut 0
-
-
90o untuk permukaan
Panas
menghadap ke atas sudut 0
-
+ 90' jika permukaan panas menghadap ke bawah.
Gambar 4-3
Konsep positif
dan negatif
pada plat
miring
[5]
PermukaanY
Permukaan
panas bawah
(b)
Berdasarkan penyelidikan eksperimen oleh Fuji dan
plat miring dengan permukaan panas menghadap
jangkauan + 0 < B0';1Qs < Grr.Pr < i.011 dalam daerah
korelasinya adalah:
Nrr
=
0,56 (GrtPr cos e)1/4
(a) (c)
Imura
[5]
untuk
ke bawah pada
laminar bentuk
0= + 90o
Permukaan
panas bawah
(4-17)
94 PERPTNDAHAN KALOR KONVEKSI
Untuk plat dengan kemiringan yang kecil (80" < 0 < 90') dan permukaan panas
menghadap ke bawah maka Persamaan 4-1'5 dapat digunakan.
Untuk plat miring dengan permukaan
Panas
menghadap ke atas dalam
jangkauan Gr,Pr < 1011
;
Grt> Gr,; dan
-15"
< 0 <
-75"
bentuk korelasinya
adalah:
N,
=
0,145f(Grr.Pr)trt
-
(Gr,'Pr)1/31 + 0,56 (Gr,.Pr cos 0)1/4
Nilai bilangan Grashof transisi Gr" tergantung pada sudut kemiringan 0, seperti
tabel di biwah ini. Semua sifat untuk Persamaan 4-1,7 dan 4-18, kecuali
p,
dievaluasi pada 7. - T,- 0,25 (7,
-
T-).
Tabel 4-3 Bilangan Grashof transisi
-
150
-
300
-
600
-
75"
5.10e
2.10e
108
105
Sumber: Fuji dan Imura
[5]
(4-18)
Untuk fluida-fluida dengan angka Prandtl 0,7 atat lebih, silinder vertikal dapat
diperlakukan sebagai plat vertikal
jika:
,!
lou,,
< 0,025
\Gro )'
dengan L adalah panjang silinder dan D diamater. Persamaan 4-2 dapat
digunakan untuk menentukan nilai Nusselt rata-ratanya.
Gambar 4-4a di bawah ini memperlihatkan perbandingan nilai Nusselt
lokal untuk silinder vertikal terhadap plat vertikal sebagai fungsi parameter
E = QJT/Cr)/4)
(x/R) untuk beberapa nilai Prandtl yang berbeda-. Disini R
adatah jari-jaii silinder. Sedangkan Gambar 4-4b memperlihatkan perbandingan
nilai Nusselt rata-ratanya. Tampak pada gambar bahwa penyimpangan semakin
besar jika bilangan Grashof atau Prandtl semakin kecil. Untuk silinder vertikal
pada icondisi fluks kalor seragam nilai Nusselt lokalnya dapat ditentukan dari
Persamaan 4-6 dan 4-7.
-Cebecl
[31]
E o Sperrow
BAB 4
.I.
KONVEKSI BEBAS 95
6
5
4
10
9
8
7
6
q
=l
,+
^
t-:
dld
Gambar 4-4
Rasio bilangan
Nusselt untuk
silinder vertikal
terhadap plat
vertikal
[19]
012345
,
zJz ( x
\
s=Zttrl
R.,1
(a) Bilangan Nusselt lokal
0123 4 5
,_2J1
(L\
'- Zttr[ R
.i
(b) Bilangan Nusselt rata-rata
Korelasi dan eksperimental untuk
horizontal isotermal, diusulkan
jangkauan
10-
4
< Rro . 112 dengan
Nu'''
-
nilai Nusselt rata-rata bagi silinder
oleh Churchill dan Chu
[2]
dalam
bentuk sebagai berikut:
0,387 Rarll6
f
, * ( o,SselPr
1o
t
rcfa/
zz
Gambar 4-5 memperlihatkan perbadingan Persamaan 4-L9 dengan data
eksperimental untuk udara dan air.
Morgan
[17]
memberikan korelasi yang lebih sederhana untuk silinder horizontal
isotermal yang mencakup tebaran data 10-
10
< RaD < 1012 dengan korelasi:
C.Rar'
(4-20)
Konstanta C dan eksponen n dapat dilihat pada Tabel 4-4
(4-1,9)
: n.O
IVU=-=
k
96 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Gambar 4-5
Korelasi untuk
silinder
horizontal
[2]
10, 10r
\o
o
I
z
101 104 707
Ra
r/
11
+ (0,559
/ Pr)'
/tol10
/ 9
Tabel 4-4 Konstanta C dan n untuk Persamaan 4-20
D Contoh Kasus 4-4
Suatu tabung berdiameter 3,6 cm dan panjangnya 0,4 m dijaga pada temperatur
seragam T*= 400 K, ditempatkan vertikal dalam udara diam pada tekanan atmosfir
dan T_
=
300 K. Tentukan koefisien perpindahan kalor rata-rata h dan kerugian
kalor ke udara.
0,675
1.,02
0,850
0,480
0,1.25
0,058
0,148
0,188
0,250
0,333
10-
10 _
10-2
10-2
-
102
102
-
104
L04
-
L07
107
_
1012
T,= (400 + 300)/2 =
350 K
BAB4 * KONVEKSIBEBAS 97
Sifat-sifat udara pada suhu 350 K adalah:
a
=
2,076 x 10-s m2/s Pr
=
0,697
k
=
0,03 W/m.
"C fr =
1/Tr= 2,86 x 10-3 K-1
Bilangan Grashof pada L
=
0,4 m menjadi:
Cry=s.+=
8p(r, -
?:)L'
uz
=
4,16 x 1,08
Diameter tabung dibanding dengan panjangnya sangat kecil, dengan demikian
dapat diperlakukan sebagai plat vertikal. Efek ketrampilan silinder ditentukan dari
Gambar 4-4b. Parameter ( untuk x
=
L
=
0,4 rn adalah:
-
2J2
(
P
-
_t
t -
Gt'ln
I
\ =
0,44
t#)
L
R
)_
)-
(+to r1o')'/n
2"[,
dari Gambar 4-4 untuk
=
0,44 dan Pr
=
0,697, kita peroleh:
{ ft )sil
++_
=
l.l
\h )p,
-''
Jadi
koefisien perpindahan kalor rata-rata silinder adalah 1,1 kaliSlat vertikal.
Dari Contoh Kasus 4-1 untuk kondisi yang sama diketahui bahwa h plat vertikal
=
5,77 W/m2."C maka
(h)sil
=
(1.,1.) (5,77)
=
6,4 W /m2."C
]adi
kerugian kalor adalah:
4
=
nDLn
g,-r*1
=
n (0,036) (0,4) (6,4) (400
-
300)
=29W
D Contoh Kasus 4-5
Bandingkan bilangan Nusselt rata-rata udara untuk silinder horizontal
isotermal dari Persamaan 4-19 dan 4-20 pada bilangan Rayleigh Ra,
=
L03,105 dan
1010. Konstanta C dan n di dapat dari Tabel 4-4 untuk menentukan NZ dari
Persamaan 4-20:
Ra,
=
1gz
;
N7
=
0,850 (103)0,188
=
3,15
98 PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Ra,
=
19s
;
Nu
=
0,480 (1Os;o'zso
=
8,54
Rao
=
lgto
;
Ni
=
0,125 (10t0;o'sas
=
267,25
Untuk udara Pr
=
0,7 maka N7 dari persamaan 4-19 adalah :
Rao
=
1gs
;
Ra, - 105
;
Ra,
-
1010
;
Nu
=
2,61
Nu
=
7,76
Ni
=
240,1.
Perbedaan hasil memperlihatkan bahwa korelasi yang lebih terperinci dari
Persamaan 4-19 memberikan nilai Nusselt rata-rata sekitar 17
-
10 % lebih rendah
dari korelasi yang sederhana dari Persamaan 4-20. Gambar 4-6 memperlihatkan
perbedaan tersebut.
Gambar 4-6
Perbandingan
korelasi silinder
horizontal
[16]
') ')
1,8
1,4
:
1,0
z
bo
0,6
0,2
-0,2
Nilai Nusselt rata-rata
(1960) dengan berbagai
untuk bola isotermal ke udara
bentuk sebagai berikut;
E
Churcill C
disarankan oleh Yuge
BAB 4
.:.
KONVEKSI BEBAS 99
2 + 0,43Rao1la
(4-21,)
Untuk 1 < Ra, < LOs dan Pr
=
L
Untuk rentang angka Rayleigh yang lebih tinggi, hasil eksperimen dengan
dari Amato dan Tien (1972) menyarankan korelasi berikut:
N7=2+0,50Rlr1tt
(4-22)
Untuk 3.10s < Rao < 8.108. Sifat-sifat pada kedua persamaan di atas dievaluasi
pada suhu film. Untuk Ra
-
0, kedua persamaan memberikan N7
=
2 yang
merupakan konduksi murni melalui fluida stagnan tak berhingga yang
mengelilingi bola.
M=ho
=
k
{:B:.,,::;',:}(g/jfiEuASl.LOGA[I:lltt,CAtln
Sugiyama, Ma dan Ishigiro
[23]
mempelajari karakteristik perpindahan kalor
konveksi bebas logam cair disekitar silinder horizontal. Dan mendapatkan
korelasi berikut ini untuk jangkauan 47 < Gr .Pr 77.000; Gr 7 1,5 x 108; dan rentang
angka Prandtl 0,004 < Pr < 0,02.
Nu
=
1,11 (Gr.Pr2)a,1e6 (4-23)
10
l*
lz
Gambar 4-7
Nuselt rata-rata
untuk logam
cair
[23]
A
E
Pr
=
0,004
Pr -- 0,02
6 Pr=0,07
,/
,{
./o^
%
100 101 10,
Gr Pr2
103 104 10s
1OO PERPINDAHAN KALOR KONVEKSI
Untuk kondisi fluks kalor seragam/ ternyata hasil yang diperoleh 5
-
7% Lebrh
tinggi dari pada kondisi temperatur dinding seragam/ tetapi perbedaan ini tidak
terlalu besar. Dengan demikian Persamaan 4-23 di atas dapat digunakan untuk
kondisi temperatur dinding maupun fluks kalor seragam.
Perbandingan lain yang dapat digunakan adalah korelasi yang diusulkan oleh
Hyman (1953) dengan bentuk:
Na
=
0,53(Gr.Pr2)o'o2s (4-24)
Serta oleh Borishanski (1967) dengan bentuk korelasi sebagai berikut:
Nu
=
0,67(Gr.Prz)o'o2s
(4-25)
300
Gr.Pr
2
Pada Gambar 4-8 di atas tampak bahwa korelasi yang diusulkan oleh Hyman
dan Borishanski memiliki nilai yang lebih rendah dari pada yang diusulkan oleh
Sugiyama. Dari ketiga persamaan di atas yang lebih sesuai digunakan adalah
Persamaan 4-23 seperli yang diusulkan oleh Sugiyama, karena kedua persamaan
Iainnya kurang mempertimbangkan pengaruh nilai Gr .Pr2 yang rendah yang sangat
penting bagi logam cair.
Gambar 4-8
Beberapa
korelasi Iogam
cair
[23]
Perpindahan kalor dari silinder berputar cukup
praktek, misalnya pada pendinginan mesin-mesin
banyak digunakan dalam
berputar dan pada industri
A Sugiyama
E Borishanskii
15
|' E I NDEf}.,B,E Rr
g7Ai'fi,;:',,l:::,,:
BAB 4 * KONVEKSI BEBAS 101
kertas'
Jones,
Poulikakos, dan Orozco
[11]
menyelidiki karakteristik perpindahan
kalor konveksi gabungan terhadap silinder bbrputar yang ditemputtu" dalam
terowongan angin berkecepatan rendah.
Dalam hal ini terdapat tiga keadaan sebagai berikut:
a. Konveksi paksa disebabkan aliran bebas
b. Konveksi paksa disebabkan rotasi silinder
c. Konveksi bebas
,< Untuk kondisi perpindahan kalor dimana konveksi paksa yang disebabkan
aliran bebas paling dominan; maka bentuk korelasi uilan-gan Nusselt
keseluruhan adalah:
Nu
=
0,046 Reo'76 (4-26)
60
:
z
Gambar 4-9
Nu vs Be untuk
aliran yang
dominan
[11]
30
20
r2345678910
Re x 1000
syarat konveksi paksa dimana aliran bebas paling dominan adalah:
(Pr1/2.Re1/2)/R61/a
> 2 dan
llsl/2/Reu2 > 2
^
Dza
Dengan lle,=
;
=
bilangan Reynolds rotasi
ar
=
Kecepatan angular sitinder (1/S)
1O2 PERPINDAHAN KALoR KoNVEKSI
a Untuk kondisi perpindahan kalor dimana konveksi paksa yang disebabkan
rotasi silinder paling dominan maka korelasi bilangan Nusselt keseluruhan adalah:
Nil
=
0,5 Re,,,o,t (4-27)
syarat konveksi paksa dimana rotasi paling dominan adalah:
1Pr|12.Re1j2) /
Ret/a > 2
a
Jika
rotasi silinder sangat rendah maka korelasi untuk silinder horizontal
pada Bagian 1.2 dapat digunakan.
Jones
dkk mengusulkan persamaan
berikut untuk 2 rpm dan Re,,
=
25.
Nu
=
0,27 Rao'33 (4-28)
60
50
Gambar 4-10
:
Nu vs Fle untuk
z
rotasi yang
dominan
[11]
30
20
10
12345678910
Re x 1000
Untuk kondisi dimana mekanisme konveksi alamiah dan konveksi paksa rotasi
bersama-sama mempengaruhi perpindahan kalor pada silinder berputar, maka
korelasi bilangan Nuselt keseluruhan adalah sebagai berikut:
Nu
=
0,1 (Re2 + Rej + 2Ra1o,zo (4-29)
^/
Gambar 4-11
Gabungan
konveksi
alamiah dan
rotasi
[11]
Gambar 4-12
Gabungan ketiga
mekanisme
[11]
BAB 4 * KONVEKSI BEBAS 103
(Re'?,+2*Ra)
Untuk kondisi dimana ketiga mekanisme ini, konveksi alamiah, konveksi paksa
akibat rotasi dan konveksi paksa akibat aliran bebas, secara bersainaan
TemPgngaruhi
perpindahan kalor pada silinder berputar, maka korelasi bilangan
Nusselt keseluruhannya adalah:
Nu
=
0,1 (Re2 + Rej + 2Ra)o'sd (4-30)
z
(Re'?+Re|+2*Ra)
DAFTAR PUSTAKA
1. Churchill, S.W., dan H.Ozoe, Correlation
for
Laminar Force Conaection in
Flow Oaer an lsothermal Flat Plate and in Deaeloping and Fully Deoeloped
Flow in Isothermal Tube,
J.Heat
Transfer. Vol. 95, 1.973.
2. Churchill, S.W., dan H.H. Chu, Correlating Equations
for
Lamniar and Tur-
bulent Free Conaection
from
a Vertical Plate and a Horizontal Cylinder,
Int.
J.
Heat Mass Transfer, vol. 1,8, 1,975.
3. Churchill, S.W., dan M. Bernstein. A Correlating Equation
for
Forced Con-
oection
from
Gases and Liquids to a Circular Cylinder in Cross Flow,
J.
Heat Transfer, vol. 99, 1977.
4. Eckert, E.R.G., dan R.M. Drake, Analysis of Heat and Mass Transfer,
McGraw HiIl Book Company, New York,1,972.
5. Fuji, T., dan H. Imura, Natural Conztection Heat Transfer
from
a Plate with
Arbitrary Inclination,Int. H. Heat Mass Transfer, vol. 1.5, 1972.
6. Grimison, E.D., Correlation and Utilization of New Data on Flow Resis-
tance and Heat Transfer
for
Cross Flow of Gases ooer Tube Banks, Trans.
ASME, vol.59,1937.
7. Holman,
!.P.,
Peprindahan Kalor, Ter. Ir, E.
]asjfi,
M.Sc., edisi 6, Erlangga,
Jakarta,
L988.
8. Igarashi, T., Heat transfer From A Square Prism to an Air Stream, Int.
J.
Heat Mass Transfer, vol. 28, 1985.
9. Incropera,
J.P.,
dan D.P. de Witl, Fundamentals of Heat Transfer,
)ohn
Wiley
and Sons, Indiana, 1981.
10.
Jakob,
M., Heat Transfer, vol. 1, john Wiley and Sons Inc., New York,1949.
106 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
11.
]ones, J.,
D. Poulikakos, dan
J.
Orozco, Mixed Conaection
from
a Rotating
Cylinder Placed in a Low-Speed Wind Tunnel, Int.
J.
Heat and Fluid Flow.
Vol. 9. 1988.
12. Kays, W.M., Conaectiae Heat and Mass Transfer, McGraw-Hill Book Com-
pany, New York, 1.972.
L3. Kreith,F., Prinsip-prinsip Perpindahan Panas, terj. Arko Prijono, M.Sc., Edisi
3, Erlangga,
Jakarta,
L991.
14. Lee Shong-Leih, Liquid Metal Heat Transfer in Turbulent Pipe Flouts, in
Nicholas P. Cheremisinoff
(eds), Hand Book of Heat and Mass Transfer,
vol. 1, Gulf Publishing Company, Houston, Teaxas, 1986.
15. Liou Tong Miin, dan Hwang
Jenn-|iang ,
Derteloping Heat Transfer and Fric-
tion in a Ribbed Rectangular Duct with Flow Separation at Inlet,
].
Heat
Transfer, vol. 1.14, 1972.
L5. Mc Adams, W.H., Heat Transmission, McGraw-Hill Book Company, New
York, 1954.
17. Morgan, V.T., The Oaernll Conaectiae Heat Transfer
from
Smooth Circular
Cylinder, in T.F. Irvine dan
J.P.
Hartnett (eds), advances in Heat Transfer,
vol. 1.6, Academic, New York. 1'975.
18. Novianto, Wahytdi, Analisa Dan Optimasi Energi Tangki Penyimpan Aspal,
Skripsi Sarjana Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok. L993.
19. Ozisik, M.N., Heat Transfer A Basic Approach, McGraw-Hill Book Com-
parry, New York, 1985.
20. Pethukov,8.S., Heat Transfer snd Friction in Turbulent Pipe Elow with
Variable Physical Properties, in
J.
P. Hartnett and T'F. Irvine (eds), Ad-
vances in Heat Transfer, Academic, New York,1970.
2L. Schlicting, H., Boundary Layer Theory, Ttht ed., McGraw-Hill Book Com-
pany, New York, 1.979.
22. Shah, R.K. dan A. L. London, Laminar Flow Foreed Conaection in Ducts,
Academic, New York, 1.978.
23. Sugiyama, K., Y. Ma, dan R. Ishiguro, Laminar Natural Conaection Heat
Transfer
from
a Horizontal Circular Cylinder to Liquid Metals,
J.
Heat Trans-
fer, vol. 113, 1991..
* DAFTAR PUSTAKA 107
24. Whitaker, S., Forced Conaection Heat Transfer Correlations
for
Flow in Pipe,
Past Flate Plates, single cylinder, single spheres, and Flow in
packed
Beds
and Tube Bundles, AICHEJ.
|.,
vol. L8, 1.972.
25.
26.
Zainal, A., Bilangan Nusselt Pada
Sarjana Fakultas Teknik Universitas
Zukauskas, A., Heat Transfer
from
Transfer, vil. B, 1972.
Perpindahan Kalor Kontseksi, Skripsi
Indonesia, Depok, 1993.
Tubes in Cross Flow, Advance Heat
Konduktivitas
Kalor Zat Padat,
Cair dan Gas
BAGIAN DUA:
BAB 5 KONDUKTIVTTAS KALOR GAS DAN UAP
BAB 6 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT CAIR
BAB 7 KONDUKTIVITAS KALOR ZNI PADAT
BAB 8 EKSPERIMEN DAN PERANGKAT LUNAK
KONDUKTIVITAS KALOR
BAB 9 STUDI KASUS
BAB 10 KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
1 1O KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
perpindahan energi terhadap unit ruang yang ditempati menjadi sangat kecil.
Ha[ ir,i menyebabkan konduktivitas kalor gas paling kecil dibandingkan dengan
zat cair dan zat padat (Jacob, M., 1957).
Konduktivitas kalor gas dan uap akan berkurang dengan makin bertambahnya
berat molekul, seperti terlihat pada Tabel (5-1).
5.2 TEOR] KONDUKT1VITAS
KALOR PADA GAS MONOATOMIK
Untuk gas monoatomik, perpindahan molekul yang terjadi pada gas monoatomik
dianggip hanya sebagai-geiak translasi, tidak terdapat derajat kebebasan untuk
g"rulloiuri dan getaian. Persamaan konduktivitas kalor pada gas monoatomik
adalah:
kM
=2.s
$-2)
ILu
di mana: ft
=
konduktivitas kalor, (kal/cm s K)
M
=
berat molekul (g/mol)
T
=
temperatur,
(K)
C,
=
kaPasitas kalor, (kal/mol K)
I =
viskositas,
(g/cm.s)
Tabe! 5-1 Harga konduktivitas kalor beberapa gas dan uap
berdasarkan kenaikan berat molekul (Jacob, Max., 1957).
.:: $iiei$ryffi
1
Hidrogen
Helium
Metana
Amonia
Uap Air
Nitrogen
Etilen
Udara
Etana
Oksigen
Karbondioksida
Benzene
Karbon Tetraklorida
H2
He
CH,
NH,
Hro
N2
a:,
CrHu
o2
CO,
CH-
bb
cc14
2
4
1,6
17
18
28
26
29
30
32
44
78
154
0,171.3393
0,0553824
0,0302875
0,021.4606
0,0244028
0,0167877
0,0240567
0,0179992
0,0244028
0,0140186
0,0086535
0,2146068
0,1678779
0,0295949
0,0224991.
0,0309795
0,0266527
0,031.1.526
0,0318448
0,031.3256
0,020941.4
0,0174800
0,0086535
Gambar 5-1
Hubungan antara
faktor Eucken
terhadap
temperatur
BAB 5 * KONDUKTIVITAS KALOR GAS DAN UAP 111
Nilai dari
t
#
aisebut sebagai faktor Eucken. Hubungan antara
tr l4
1g1h34ap
\C,
qC,
temperatur ditunjukkan oleh Gambar (5-1).
Dari Gambar (5-1) terlihat bahwa untuk gas monoatomik nilai dari
t
I
nC,
mendekati nilai teoritis yaitu 2,5. Untuk gas-gas selain gas monoatomik terlihat
bahwa faktor Eucken lebih kecil dari 2,5.
2,3 2,4 2,45 2,50 2,55 2,60
o
o
o.
o
F
Faktor Eucken
k M
TC,
10
5.3 TEORI KONDUKTIVITAS KALOR PADA GAS POLIATOMIK
a. Model Eucken dan Modifikasi Eucken
Persamaan untuk gas poliatomik didasarkan
dan energi dalam, yaitu:
pada pemisahan energi translasi
\,C,,
+
Et*Ct,
(s-3)
faktor berht Eucken untuk energi translasi
)\
faktor berat Eucken untuk energi dalam
kapasitas kalor untuk energi translasi
3/2 R
kapasitas kalor untuk energi dalam
C,
-
C,,
KM
_=
n
?
5r,
?
L-
rrnt
C
C
1nl
C.
di mana:
112 KoNDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
e
9i.t =
Mpo
Dengan metode substitusi di dapat:
kM 1sR
r-
("
_3R)
ts_+)
n
"=
4
n
6i'tIL'-
2
)
Melalui eksperimen, Eucken memilih
8", =
1,0 sehingga dihasilkan:
K M 9P
n+
Persamaan ini dikenal sebagai persamaon Eucken untuk gas poliatomik.
Nilai dari
8,",
dapat juga dicari dari persamaan:
(s-s)
(s-6)
di mana: p
=
kerapatan molal, (mol/cm3)
D
=
koefisien difusi, (cm2/s)
Untuk gas poliatomik dengan nilai
\,^,=
1,32 sehingga Persamaan (5-4) menjadi :
kM
=1,32c,,+3,52=3,52+7'32cP
$-7)
NY
Persamaan di atas sering disebut dengan "modifikasi Eucken".
Perhitungan dengan modifikasi Eucken lebih besar dari persamaan Eucken, dan
perbedaan menjadi lebih besar ketika C, bertambah di atas nilai gas monoatomik.
Biasanya nilai eksperimen dari konduktivitas kalor dari gas (kr), terletak diantara
nilai k dari kedua persamaan itu, kecuali untuk gas polar di mana hasil perhitungan
nilai k sangat besar.
b. Analisa Mason dan Monchick
Persamaan ini menggunakan format yang sama dengan Persamaan (5-3), dengan
perluasan pada (,, dan (,.,, yaitu;
F
=5[
,-19[1-?MPd]j+l
,rq
'"-,L
'-anl
,1
)Rz,-_]
''-
t,^,=4ie[,-n[ t-?Mpo)
.-,
I tu-r,
n
L
n[ 5 11
)C^,2*,)
di mana: C.o,
=
kapasitas kalor dari energi rotasi.
Cr",
=
F, R/2
BAB 5 * KONDUKTIVITAS KALOR GAS DAN UAP 113
F,
=
deraiat kebebasan dari rotasi eksternal
Z,ot
=
jumlah tumbukan untuk mengubah kuantum
sebuah energi rotasi dari energi translasi.
Dengan nilai dari Z,"ryang besar, persamaan di atas menjadi
\,, =
2,5 dan
Er, =
{f
sama seperti persamaan modifikasi Eucken.
Jika
Persamaan (5-8) dan (5-9)
disubstitusikan dengan Persamaan (5-3) dan diasumsikan (.".
=
1,32 maka:
kM
=7,g2c,,+3,s4-o'8q6c'ot
(5-10)
t] Z,or
Persamaan ini hanya digunakan untuk molekul poliatomik yang nonpolar.
Kelebihan dari persamaan ini adalah perhitungan yang akurat untuk tumbukan
rotasi.
c. Analisa Bromley
Persamaan ini mempunyai format yang sama seperti Persamaan (5-3), dengan
modifikasi
E,,
dan perluasan
Lin.C,,,
seperti berikut ini:
k M
=
(z,s
-o)C,,+ FCuiu+
yc.ot*cr, (5-11)
q
di mana: Cuiu
=
:'1tl'":::";#ffi';"li*u'u"
p2
=
C,
-
3R
-
C., untuk molekul non linear
C,-
=
kapasitas kalor dari energi rotasi dalam, pada Tabel (5-2)
a"
=
kolfisien polar
=
3,0 pb(Ls"b-8,75
-
R ln Tr) (5-1,2)
AS,,
=
entropi aktual pada titik didih, (kal/g-mol K)
R
=
5.987 (kal/g-mol K)
Tb
=
titik didih normal, (K)
P
:
,HJT:.i,T:fi:i liffil mo,eku, non rinear
Y
r
l:31
-3,:Z|i',;llxl
il:,:I,i lT;',i^"",
114 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
Dari uraian di atas untuk
Persamaan
Bromley di dapat kesimpulan bahwa:
Untuk molekul linear:
F,=2 C,,o,=R Cuiu=C,-5R/2 0=1'3
kM
=1,30c,+z,s-!
(5-13)
I
-
lr
Untuk molekul nonlinear,
F,= 3 C,,,r= 3R/2 c'iu
=
c,
-
3R
-
Ci,
0 =
1'3
k M
= LgoC,
+ 3,66
-
o,3C
,, -
99
-
3o
(5-14)
\
-'-- u
"
T,
di mana: T,
=
pengurangan temperatur, TfT,
Tabel 5-2 Kapasitas kalor dari energi rotasi dalam C,,
!i!iffi;es,iffi
f *f,fi$$ &$,.$
W5'OnS
$6'ffi
&p# $'p,.,$
,4&{,M
$t$:5
-cH2-cH2-
2,64 3,18 2,74 2,39 2,1.2 1.,90 1,73 1,,60 1.,5L
cH3-cH2- t,74 2,1.0 2,17 2,09 1,96 1.,82 1,69 1,,59 L,51
I
R-C_H
I
1,76 2,1-2 2,L9
)1)
2,00 L,B5 1,77 1,62 i,55
I
R_C-
I
1,60 1,99 2,1.8
))q
2,1.8 2,08 1,,96 1,85 1,76
=CH-CH=
') n'')
2,02 1.,82 1,65 1,50 1,40 1,32 1,26 \,27
=C-C=
0,81 0,92 0,76 0,60 0,48 0,39 0,35 0,32 0,3L
R-C=
I
1.,91 2,15 2,1.0 1.,95 1,79 1,,65 1.,54 1,46 L,3B
CH.-C=O
I
R
7,79 1.,52 1.,34 1,24 1,18 1,10 1,,09 1,08 1,06
-cHr-oH
1,4 L,35 1,25 1.,20 1,18 1,16 1,1.5 1.,1.4 1.,1.3
RCHr-O-CH2R 2,24 2,33 2,26 2,09 1,,91 1.,71 1,66 1,55 1.,47
d. Analisa Misic dan Thodos
Pada persamaan ini konduktivitas kalor merupakan fungsi dari pengurangan
temperatur (7,), dan kapasitas kalor (C,) dari uap.
Konduktivitas metana, naptalena dan hidrokarbon aromatik, dengan 7,.1, dicari
dengan persamaan.
k
=
4,45x 10-6 ,,9-
Konduktivitas semua senyawa hidrokarbon yang lain dengan T, > 1
k
=
(ro-,X 1.4,s2r,
-
s,t4)',t?
T
-11
6
M1l2
l._
L
p 213
BAB 5 * KONDUKTIVITAS KALOR GAS DAN UAP 115
di mana:
e. Metode perkiraan Roy - Thodos
Persamaan dasar yang digunakan dapat ditulis sebagai berikut:
kf=(kf),,+().f)^,
di mana: (k f),,
=99,6
X 10-6(s0'0a6arr-e
-0'241'2rt)
(k f)*,
= lf Q,)
Hubungan untuk
f
=
(T,), ditunjukkan pada Tabel (5-3)
Tabel 5-3 Persam^ n S
=
(T,)
(5-18)
(5-ie)
(5-15)
(s-16)
(5-1,7)
Hidrokarbon Saturasi
Olefin
Asitelin
Naptalena dan Aromatik
Alkohol
Aldehida, keton, Eter, Ester
Amino dan Nitrat
Halida
Senyawa siklik
-
0.1,52 T, + 5.1,91 7,2
-
0,039 T,3
-
0,225 T, + 1,,065 7,2
-0,190
T,j
-
0,068 T, + 5.215 T,2
-
0,1.83 T,3
-
0,354 T, + 1.,501 7,2
-
0,147 7,3
1.,000 T,2
-
0,082 T, + 1,045 T,2
-
0,037 7,3
0,633 T:
-
0,367 T:
-
0,1.07 T,
-
1.,330 T,2
-
0,223 7,3
-
0,354 T,
-
1.,501. 7,2
-
0,L47 7,3
1 16 KoNDUKTIVITAS KALOR zAT PADAT, CAIR DAN GAS
Sedangkan untuk mencari konstanta ( tergantung pada jenis ikatan antara
molekulnya dan tipe substitusi pada rantai atomnya. Salah satu cara untuk
mendapatkan ( khususnya pada hidrokarbon adalah dengan membuat grafik pada
Gambar (5-2) di mana terdapat hubungan antara berat molekul dan konstanta (.
Gambar 5-2
Hubungan antara
berat molekul
dan konstanta (.
/
O Paraffin
lA
ISUPdfalrut
fl
Olefin dan diolel
I
Naphthalene
flAromatik
/
/
/
I
f
J
35
25
x
15
10
50
Berat Molekul
Pada tekanan rendah, konduktivitas kalor gas bertambah dengan kenaikan
temperatur. Pada daerah temperatur yang kecil, hubungan konduktivitas
terhadap temperatur (k Vs T
)
mendekati linear, seperti yang ditunjukkan pada
Gambar (5-3). Nilai dari dk/dT berubah dari kira-kira 42 sampai 726 mW /m."C.
Material dengan nilai k yang besar biasanya mempunyai nilai dk/ dT lebih besar.
Biasanya nilai dari dk/dT, untuk daerah temperatur yang luas lebih besar.
Persamaan yang lebih akurat untuk memperkirakan variasi temperatur terhadap
daerah temperatur yang luas adalah:
100
5.4 P EN GARU H.I TEM P-ERATU R TE R HADAP KO N DU KTIVITAS
I KALOR..GAS PADA TEKANAN'RENDAH
dimanan=1,8
k-"
(
r" )'
u.-lr. I
rt
\
,./
(5-20)
BAB 5 * KONDUKTIVITAS KALOR GAS DAN UAP 117
100
Ethone
-1
pane
Itulett vt
[H"*u"
hylene
lcoho
0xrde
"4
-/
>
-
.Z
*
?
-/
4
-4
Acdtonitrilr
-*/
ffi
50
40
160 140 1,20 100 40
u20
rd
Li 60
O
?
-v
3so
+40
O an
\/ Jt,
70
180 200
Gambar 5-3
Hubungan
antara
temperatur
terhadap
konduktivitas
kalor gas
-,Ether
ffi,ffil!
ocelate
etate
-)
44V
-
Ethyl nitrate'
e
z'lrJitro methan,
lt
frietnuJ #"'"
!thvlamir
L cr.r.i lexane
z
v
7
Benzene
z 4
XR:etaldehr de
:f,
-/
,-.a:l
Ethvlidene chloride
#
i,nJ,",'r" dichllorirte
-Methy
bromide
100 120 740
Temperatur,'C
Konduktivitas kalor dari semua gas, bertambah dengan kenaikan tekanan,
walaupun pada daerah temperatur rendah pengaruhnya relatif kecil. Di bawah
ini terdapat tiga daerah tekanan, di mana pengaruh dari tekanan berbeda.
60
50
20
200 160 80 60
5;5
'PENGARUHTTEffiNAN
,.,,,,,,,J(ALOR.GAS,.
,,.,
,,,,
,
KONDUKTIVITAS
1 18 KONDUKTTVTTAS KALoR zAT PADAT, cAIB DAN GAS
Tekanan sangat rendah
(di
bawah 1 mm Hg)
Pada daerah ini, lintasan dari molekul besar dibanding dengan ukuran sel,
dan nilai dari k hampir sebanding dengan tekanan.
Tekanan rendah
(1
mm Hg
-
10 atm)
Konduktivitas kalor bertambah kira-kira 1,"/o pada tiap-tiap 1 atm, sehingga
kenaikan tekanan pada daerah ini dianggap terialu kecil dan sering dianggap
tidak berpengaruh terhadap konduktivitas.
Tekanan tinggi
(>
10 atm)
Pada daerah ini kenaikan kecil dari tekanan dan temperatur akan sangat
berpengaruh terhadap nilai k, khususnya pada daerah kritis. Untuk
memperkirakan pengaruh dari tekanan terhadap k, digunakan persamaan
Stiel dan Thodos. Persamaan ini mengasumsikan bahwa k tergantung pada
T
",
P,, V,, M dan p. Untuk data pada 20 zal nonpolar termasuk gas diatomik,
CO, dan hidrokarbon, didapat hubungan seperti yang ditunjukkan oleh
Gambar (5-4). Analisa perhitungan dari kurva tersebut adalah:
Gambar 5-4
Hubungan antara
kerapatan gas
dengan
konduktivitas
kalor gas
100
BO
60
50
40
O in
x
U
(n
g
ro
\R
r!
.t)
N5
L
IJ
2
O Argon
E Xenon
ONiirosen
lOxyoEn
0Caibon monoxl<
fCarbon dioxl6
r I\/arh^no
{
i-
le
f Ethylena
YEthbna
A Propona
+ n-Butona
#
ir,5:r",:r
D n-Notona
*gvelohexona
x
1I
$'
P Denzena
V Tol u ena
t
.J
)r
ol'
I
o
,t
il
r
T
M
P
K
=
T
c1/rr
M1/2 f P.2/3
in Kelvins
=
molecular
weight
in atmospheres
in cal/cm s K
'l
I
I
0
10
0.8
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.2 0.3 0.4 0.6 0.8 10
p,= p/p,
0.04 0.06 0.10
BAB 5 * KONDUKTIVITAS KALOR GAS DAN UAP 119
(k
-
k") I Z5
=
(14,0 x 10-8) (e
o,sts
pr
-
7) pr < 0,5 (5-21)
(k-k") lZs
=
(13,0 x 10-8) (e0,67 pr-1,069) 0,5
< pr <2,0 (5-22)
(k
-
k") I 25 --
(2,976 x L0-8) (s
t,rss
pr + 2,01,6) 2,0
< pr <
2,8 (5-23)
Keakuratan dari kurva masih diragukan untuk zat polar atau Hidrogen dan
Helium. Kemungkinan kesalahannya sekitar 10 sampai 20%. (Reid,R.C.,1.977).
5.6 KONDUKTIVITAS KALOR GAS CAMPURAN PADA TEKANAN
RENDAH
Konduktivitas gas campuran biasanya tidak selalu merupakan fungsi linear dari
fraksi molnya. Nilai dari konduktivitas campuran gas dipengaruhi oleh :
o
Polaritas
.
Ukuran molekul
/berat
molekul
Pada umumnya, jika molekul pokok cukup berbeda dalam polaritas,
konduktivitas campuran adalah lebih besar dari perkiraan pada fraksi mol
rata-rata.
Unttrk molekul nonpolar terdapat kecenderungan yang berlawanan dan lebih
nyata pada berat molekul yang berbeda. Beberapa bukti dari kecenderungan ini
dapat dilihat pada Gambar (5-5) yaitu:
.
Argon-Benzena (sama-sama nonpolar dan berbeda ukuran molekul)
o
Metanol-n-Hexana(berbedapolaritas)
o
Benzena
-
Hexana, Eter
-
Kloroform (seimbang antara ukuran dan
polaritas)
Konduktivitas kalor campuran gas pada tekanan rendah, dapat ditentukan dari
persamaan-persamaan berikut ini.
a. Persamaan Wassiliewa
Didapat persamaan sebagai berikut:
n
k*=
Z
Uiki
n
2
y
iAii
i=r
konduktivitas kalor gas campuran
konduktivitas kalor gas murni
Fraksi mol dari komponen i dan j
sebuah fungsi yang dapat ditentukan dengan
modifikasi yang akan dijelaskan selanjutnya.
(s-24)
k
m
t-
,(.
I
V
',11,
A.
tl
di mana:
beberapa
120 KONDUKTIVITAS KALOR zAT PADAT, oAIR DAN GAs
Gambar 5-5
Hubungan antara
fraksi mol
terhadap
konduktivitas
gas campuran
Argon-Benzena
\ \ 12s.c
\\
\ 1
100,6"C
\
\ 78.C\
25 50 75 100
Persen Mol Benzena
Benzena-Hexana
I
xi.. \
\
\
87,7"C\
\
25 50 75 100
Persen Mol Benzena
25 50 75 100
Persen Moi Metanol
25 50 75 100
Persen Mol Eter
56
54
52
50
48
46
44
42
40
3B
Jt)
34
60
50
48
46
44
+l
40
38
36
58
48
46
44
35
62
60
58
56
54
52
50
4B
46
44
42
U
(s
a
o
6
J
cd
x
'o
o
V
48
20
Eter-Kloroform
ll./
,1,
1
I
2
./
b. Modifikasi Mason dan Saxena
Modifikasi ini dapat digunakan untuk campuran gas polar atau polar-
nonpolar, di mana nilai dari A,, dapal dihitung dengan:
di mana: M=
1-
K=
Ir
^
[t+(t,,,fk,, 1)','(*,lM
j)'tof
^,
=
l )
berat molekul
nilai konduktivitas kalor molekul murni
exp(0,0+6+7,,)
-
exp (-
0,2412T,
i)
(s-25)
(5-26)
1-
Ktri
,r"
=t,
f,
Modifikasi Linsay
Modifikasi ini lebih
adalah:
dan Bromley
akurat digunakan pada campuran polar, di
Metanol-Hexana
izr.a;c\
98,4"C
78.C
c.
mana nilai dari
5.7 PENGARUH TEMPERATUR DAN TEKANAN TERHADAP
KONDUKTIVITAS KALOR CAMPURAN GAS
BAB 5 * KONDUKTIVITAS KALOR GAS DAN UAP 121
I f ,:r/t
=tl2)2
o,,
=1]
,.1!r(
Y+1""r+s,
l'r'*t=" (s-27)
+[-
Lr,Ir,J
r+s,]
Jr+sr
\J-
di mana:
n =
viskositas gas murni
S
=
konstanta Sutherland
Si
=
1,5 Tb
T
o ,
=
temperatur titik didih, dari zat L
Si
=
S,,
=
C, (S,.Si)'/', dan C,
=
0,73
d. Metode Empiris Brokaw
Dari hasil perbandingan dengan eksperimen, metoda ini lebih cocok digunakan
untuk campuran polar atau sesama nonpolar. Persamaan yang diturunkan adalah:
kn
= 4k,,r+
(1,-q)k*R (5-28)
Di mana: k*r=
Atk,
+ yrk, dan
+ = +
-
+,
k*n k\ k2
4
adalah parameter yang diberikan pada Tabel (5-4), sebagai sebuah fungsi dari
fraksi mol dari gas yang berat molekulnya lebih rendah.
Tabel 5-4 Hubungan antara fraksi mol terhadap faktor g
0 0,32 0,6 0,5
0,1 0,34 0,7 0,55
0,2 0,37 0,8 0,61
0,3 0,39 0,9 0,69
0,4 0,42 0,95 0,74
0,5 0,46 1 0,8
a. Pengaruh temperatur
Bentuk dari kurva k terhadap komposisi biasanya tidak berubah besar dengan
perubahan temperatur. Tetapi kadang-kadang sebuah campuran yang menunjukkan
simpangan negatif pada temperatur rendah, dapat menunjukkan simpangan positif
122 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
pada temperatur yang tinggi. Istilah penyimpangan ini adalah berhubungan dengan
t.r.ru fraksi mol-rata-rata. Hubungan empiris dapat dinyatakan oleh Saxena dan
Gupta dengan persamaan:
k
^
(rr)
=
k
*(r, ).i, , ,ffi
g-2s)
Persamaan ini lebih akurat terutama untuk camPuran gas ringan.
b. Pengaruh tekanan
Dari hasil eskperimen dan teoritis menunjukkan bahwa kenaikan tekanan akan
memperbesar niiai konduktivitas campuran gas. Untuk hasil yang lebih teliti
biasanya digunakan hubungan stiel din Thodos seperti yang digunakan pada
gas murni.
BAB 6
KONDUKTIVITAS
KALOR ZAT CAIR
Mekanisme fisis konduksi kalor dalam zat cair secara kualitatif tidak berbeda
dengan gas, namun situasinya menjadi jauh lebih rumit karena molekul-
molekulnya lebih berdekatan satu sama lain, sehingga medan gaya molekul
(molecular
force field)
lebih besar pengaruhnya pada pertukaran energi dalam
proses tumbukan molekul (Holman,
J.P,1991.).
Konduktivitas kalor pada zal cair lebih besar daripada gas dan uap. Harga-harga
konduktivitas kalor zat cair k.) secara umum adalah 0,086 dan 0,924 (W
/m."C),
sedangkan untuk zat organik yang berkisar antara 0,105 dan 0,178 (W
/rnoC),
pada
temperatur di bawah titik didih normal. Pada NH, dan molekul-molekul yang sangat
polar, mempunyai harga 2 hingga 3 kali lebih besar dari konduktivitas kalor zat
organik. Air raksa dan air murni mempunyai konduktivitas kalor yang paling tinggi
diantara semua zat cair, kecuali logam cair (Donald, R.P, 1987).
Beberapa harga konduktivitas kalor dari beberapa cairan ditunjukkan
oleh Tabel 6-1. Beda antara harga-harga sifat transfer dalam fase gas dan
fase cair menunjukkan perubahan nyata dalam mekanisme perpindahan
energi (momentum dan massa), yaitu:
y
=
1o hingga 1oo
Kg
rt
=
1o hingga 1oo
rl8
6.1 MEKANISME
124 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
Tabel 6-1 Konduktivitas kalor beberapa zat cair
pada tekanan 1 atm (Reid,.C, 1977)
i.]i1il'E::($slW
Hidrogen
Argon
n-Hexana
p-Xylene
Nitrobenzena
Asam Asetik
Aseton
Kloroform
Gliserol
Air
Parafin
NaCl
Air Raksa
HTS (KNOr-NaNOr-NaNOr)
-253
-190
20
20
20
20
20
20
20
20
25
20
100
150
0,1.1.844
0,1.2642
0,1.2220
0,13650
0,1.51.62
0,15708
0,1.61.70
0,L1634
0,291.06
0,60060
0,1.3692
0,57540
9,240
0,57L20
6'.2 PER,KIRAAN,KOND,UKTIVImS,
KALOR,PADA,,ZAT,CAIR MURNI
Hampir semua teknik perkiraan nilai konduktivitas kalor zat cair merupakan
rumus empiris dan dilakukan dengan pengujian yang terbatas. Di bawah ini akan
dijelaskan beberapa teknik perkiraan konduktivitas kalor pada zat cair murni:
a. Metode Robbins dan Kingrea
Persamaan yang diusulkan untuk memperkirakan nilai konduktivitas kalor
adalah:
(6-1)
di mana: kL
=
konduktivitas kalor zat cair normal (kal/cm.s.K)
T
,
=
temperatur tereduksi (T
/T,)
C, =
kapasitas kalor molal zat cait, (kal/mol K)
p
=
kerapatan zat cair molal (mol/cm3)
AS
=
LH,b/Tb+ R In (273/Tb)
LH,a
=
kalor penguapan molal pada titik didih normal (kal/mol)
T
b
=
titik didih normal, (K)
Parameter H dan N didapat dari Tabel (6-2).
kt=
(sa,o
-
4,94H
)1.0-3
As
[ry)'.,0n"
BAB 6
.i.
KONDUKTIVITAS KALOR ZAT CAIR 125
Tabel 6-2 Faktor-faktor H dan N untuk persamaan Robbins dan Kingrea
Hidrokarbon tak bercabang
Paraffins 0
Olefins 0
Ring 0
Cabang CH. 1
2
.)
1
2
a
J
Cabang CrHu 1 2
Cabang CrH, 1 2
Cabang CrH, 1 2
Substitusi F 1
2
1.
2
Substitusi Cl 1,
2
3 atau 4
1
2
3
Substitusi Br 1
2
4
6
Substitusi I 1 5
Substitusi OH 1 (iso)
1 (normal)
2
1 (tertier)
1
-1
0
5
Substitusi Oksigen
Keton Aldehid 0
Asam, Ester 0
-O- (Eter) 2
Substitusi NH, 1 1
Di mana H tergantung pada struktur molekul dan N pada kerapatan zat cair
pada 20'C. Metode ini tidak berlaku untuk senyawa anorganik atau mengandung
belerang. Kesalahan biasanya kurang dari 5"/o (Reid, R.C., 1977).
126 KONDUKTIVITAS KALoR zAT PADAT, cAIR DAN GAS
b. Metode Sado dan Riedel
Persamaan yang diusulkan adalah:
20(1,
-T,Yt'
(6-2)
3 + 2o(t
-r,uyt:
di mana:
=
temperatur tereduksi T
/T,
lr
=
l. / I
D' .
=
berat molekul
=
temperatur titik didih normal
Persamaan di atas lebih sesuai untuk senyawa hidrokarbon. Data yang
diperlukan adalah temperatur, temperatur kritis, titik didih dan berat molekul.
c. Metode Missenard
Rumus yang diusulkan adalah:
Kr=
3 + 20Q
-rryt:,
(6-3)
3 + 2o(t
-
zzz
lrrYtu
,_ [
2,64x1.0-3
,t,=l-
" I Mtlz
L rt
3+
T
f
T
rb
M
T,
".,
I
di mana:
k
ro
Persamaan ini
kro
po
N
90 x 10-6
Fo
p")',t',C
,o
=6
=
konduktivitas zat cah pada 0'C (kallcm.s.K)
=
kerapatan zal cair pada 0"C.
=
banyaknya atom dalam molekul
tidak dapat digunakan untuk air.
6rg
pEN
G AB U-H,|,TE
[,1p
E R AT U R 7E R H ADAR,IKON D U l(Tt VtmS
Konduktivitas kalor dari kebanyakan cairan berkurang dengan kenaikan
temperatur, kecuali untuk air,larutan encer dan molekul multihidroksi. Di bawah
atau dekat titik didih normal, penurunan itu hampir linier dan untuk rentang
temperatur yang sempit sering dinyatakan dengan:
kr=kro[1 +o(T-70)] (6-4)
di mana: kro
=
konduktivitas kalor pada suhu To.
G
=
konstanta yang nilainya antara
-
0,0005 dan
-
0,002 K-
1
Sedangkan untuk daerah rentang temperatur yang luas digunakan persamaan:
k,
=
5,04 x 10-
5
11.
+ 20
/3
(1
-
T,1zrt1 (6-5)
BAB 6 * KONDUKTIVITAS KALOR ZAT CAIR 127
Gambar 6-1
Hubungan
antara k,
terhadap f
untuk cairan
Chlorotrif Iuoro
metana (F-13)
Gambar 6-2
Pengaruh
tekanan
terhadap
konduktivitas
kalor zat cair
720
100
80
60
40
o
-Yrl
'5\
.r>
'Oi
v
- - -l- - -
l---L
--
J-
--L---l- - -
lttrlt
- -\- -
J
- - -
L
- - -r- - -
l.
- - -r- - -
I \-I I I I I
tt\-ltll
- - -t- - -
J
- - -1-- -
J-
- -
J-
- - -t- - -
ttt-\t lt
rrtr\rr
- - -r- - -
-l
- - -L - -
J-
- -A-- - -t- - -
trrrr\l
tlrlll
- - -t- - -
J
- - -t- - -
J-
- -
t
- - -l- - -
tltlll
tltlll
20
-1.20 -100 -80 -60 -40 -20
Temperatur
(
Pada tekanan sampai 40 atm, pengaruh dari tekanan pada konduktivitas kalor
cairan diabaikan, kecuali dekat titik kritis.
Cara yang paling akurat dalam memperkirakan pengaruh tekanan terhadap
konduktivitas kalor adalah metode Lenoir yaitu:
k,
/k, =
l,
/1,
(6-6)
di mana: k2, k1
=
konduktivitas kalor pada T dan tekanan P, serta P,
lu l,
=
faktor konduksi, adalah fungsi dari temperatur tereduksi
dan tekanan tereduksi (untuk mencari l, dan l, dapat
digunakan Gambar 6.2).
sl .
.l'v
D
Tekanan Tereduksi
'
P,
20
Teml )eri r
0,8
0,7
0,6
J-
=
0,5
100
128 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
Hasil pengujian yang pernah dilakukan untuk 12 cairan baik polar mauPun
nonpolar menunjukkan kesalahan hanya sekitar 2
-
4% (Reid, R.C., 1977).
Persamaan yang lain yang dapat digunakan untuk menentukan pengaruh
tekanan terhadap nilai konduktivitas kalor pada zat cair adalah
Persamaan
Missenard yaitu:
K. (P,)
=
kr (tekanan rendah) (1, + A P,0'7) 6-7)
Di mana: k, (P,)
=
konduktivitas kalor pada tekanan tinggi
A
=
adalah parameter yang didapat dari Tabel 6-3 yaitu
fungsi dari P, dan T,
Korelasi dari persamaan itu ditunjukkan oleh Gambar 6-3
Tabel 6-3 Harga-hatga A dalam persamaan Missenard
Gambar 6-3
Korelasi
Missenard
untuk
konduktivitas
kalor zat cair
pada tekanan
tinggi
1l
3l""'
10
Tekanan Tereduksi
100
P
i
0,036
0,018
0,015
0,01.2
0,038
0,025
0,020
0,017
0,038
0,027
0,022
0,01.7
0,038
0,031
0,024
0,019
0,038 1,038
0,032 0,032
0,025 0,025
0,020 0,020
Iem
I
Pel
r uksi
I
0,8
0,7
0,6
4
z
v
NE
BAB 6 * KONDUKTIVITAS KALOR ZAT CAIR 129
5.5 KONDU 1(TIVITAS.,,:,
gr0*.:,Dt
tR,li: AMIP,RA'N ZAT CAIR
Konduktivitas kalor sebagian besar zat cair organik cenderung berkurang darr
harga perhitungan berdasarkan rata-rata fraksi mol (atau fraksi berat).
Konduktivitas kalor untuk beberapa campuran zat cair dapat dilihat pada
Gambar 6-4.
Berikut ini dijelaskan beberapa persamaan konduktivitas kalor pada campuran
zat cait:
a. Persamaan Filippov
Hubungan empiris yang diusulkan adalah:
k
-k
1
:+=cw3+rr(1-c )
Kz- Kt
(6-8)
di mana: w2=
c=
fraksi berat komponen 2
konstanta campuran, jika nilai dari percobaan tidak
tersedia, dipilih nilai C
=
0,72
0,2 0,4 0,6 0,8
Fraksi berat cairan pertama
-X-
Benzena-Hexafluorobenzena,50oC
4,-
Asetik onhidrid karbon tetraklorida,50'C
---t--
Anilin-Nitrobenzena, 0
"C
Metanol-Aseton,50
"C
:
L
o
(!^
JU
dtr
'-\
.t>
v
Gambar 6-4
Konduktivitas
kalor campuran
zat cair
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
- - - - -t- -
tl
ltl
lr!
tl
tl
It
- - -
J-
- - -r- - - -
!
I
I
I
I
I
130 KONDUKTTVITAS KALoR zAT PADAT, cAIR DAN GAS
b. Hubungan Power - Law
Persamaan ini dapat digunakan untuk campuran biner maupun untuk komponen
banyak, yaitu:
n
k'*=
Lwiki
$-9)
j=1
di mana:
r
=
konstanta yang tergantung pada rasio k2/kr Pada kebanyakan
sistem 1
<
k2/k1
<
2, dan pada rentang ini harga r
= -2
menghasilkan kesesuaian yang wajar antara konduktivitas kalor
perkiraan dengan percobaan.
c. Persamaan Ll
Persamaan yang diusulkan adalah:
k*
=
\
X Qr 0i
ka
(6-10)
tJ
dengan: k,,
=
2 (k,' + k;
t|- t
x ,V,
d,- ' '
"
\ x,a,
-tl
l
xi
=
fraksi mol dari komponen I
0, =
fraksi mol dari I
V,
=
volume molar dari cairan i (cm3/mol)
Untuk campuran biner 1 dan 2 persamaan di atas menjadi:
k*
= Q?
k, + 2Q,
Qrkr,
+
Qlk,
L juga menemukan bahwa suku V, dalam persamaan di atas dapat digantikan
dengan volume-volume kritis untuk sistem zat cair yang tidak mengandung air,
tanpa pengaruh bermakna terhadap harga-harga yang dihasilkan.
d. Persamaan
|amieson
dan Tudhope
Konduktivitas kalor campuran untuk larutan-larutan ionik encer, biasanya
menurun dengan bertambahnya konsentrasi garam yang dilarutkan. Perkiraan
konduktivitas kalornya adalah:
k*(zo'c
)=
k,
,obo"r)
-
hE
oi
-
ci (6-i1)
di mana: k*
=
konduktivitas kalor dari larutan ion pada temperatur 20"C
krro
=
konduktivitas dari air pada suhu 20'C
BAB 6
.i.
KONDUKTIVITAS KALOR ZAT CAIR 131
ci
=
konsentrasi dari elektrolit (g-mol/1)
oi
=
koefisien yang merupakan karakteristik dari tiap ion,
seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6-4.
Tabel 6-4 Harga-harga oi untuk Anion dan Kation dalam
persamaan Jamieson dan Tudhope
oH- 20,934 H+
Li*
Na*
K+
NHn*
Mg*
Ca2*
Sr2*
Ba2'
Ag*
Cu2*
Znz*
Pb2*
C02*
A13*
Tb4*
0,000
-7,560
-11,630
-9,304
-0,5815
-3,954
-7,676
-1.0,470
-1.6,280
-1.6,280
-9,304
-11,630
-32,560
-43,61.0
cl-
Br-
r
NO;
NO;
Cr o;
Cl 0;
Br O1
C Or'-
si o32-
S or'-
S Oo'-
S, O.'-
Cr Oo2-
Cr, Or2-
P On'-
Fe (CN)u!
Asetat-
Oksalat2-
-5,466
-17,445
-27,447
-4,652
-6,978
-14,189
-1.7,445
-1.4,189
-7,560
-9,300
-2,326
1,1.63
8,1.4L
-1.,1.63
L5,930
-20,930
1.9,610
-22,9\0
-3,489
Untuk mendapatkan
Persamaan ini hanya
konsentrasi tinggi:
k* pada temperatur yang lain digunakan Persamaan 6-12.
dapat digunakan pada larutan asam kuat dan alkali pada
k*V)
=
k*Qo"r);#I)
(6-1,2)
BAB 7
KONDUKTIVITAS
KALOR
ZAT PADAT
/;:1,..,,
rrffi5,(ANiSME,,,,
-
UK:S.[,,::K6SO.H.,,Z, AO'JAr',
Energi kalor pada zat padat dihantarkan melalui dua mekanisme berikut:
1. Melalui angkutan elektron bebas
Di mana elektron bebas yang bergerak didalam struktur kisi-kisi bahan,
disamping dapat mengangkut muatan listrik, dapat pula membawa energi kalor
dari daerah bersuhu tinggi ke daerah bersuhu rendah. Elektron ini disebut
juga gas
elektron.
2. Melalui getaran kisi
(phonon)
Pada mekanisme ini energi berpindah sebagai energi getaran dalam struktur
kisi bahan. Getaran kisi-kisi adalah gelombang tetap (standing waves) yang bergerak
melalui material dengan kecepatan suara (Eckert, E.R.G., 1'972).
Maka persamaan konduktivitas kalor pada zat padat dapat ditentukan sebagai
berikut:
k
=
kr, + kr1,
V-1)
di mana: k
-
konduktivitas kalor
k,r
=
konduktivitas listrik
k
r,
=
konduktivitas getaran kisi-kisi (phohon)
134 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
Konduktivitas kalor yang teliti dari benda padat harus didapatkan melalui
pengukuran langsung (eksperimental). Hal ini mengingat banyaknya faktor yang
susah diukur atau diperkirakan. Dalam benda berongga, konduktivitas kalor sangat
tergantung dari fraksi rongga, ukuran rongga dan fluida yang terdapat di dalam
rongga. Dalam material kristal (logam), phase dan ukuran kristal adalah penting
dan pada material amorphous derajat orientasi molekul harus dipertimbangkan
(Geiger, P., 1973).
Pada umumnya, logam adalah konduktor kalor yang lebih baik dari nonlogam
dan material kristal menghantar kalor lebih baik dari material amorphous. Bahan
zat padat berongga yang kering (dry porous) adalah sangat sulit menghantarkan
kalor sehingga sangat cocok untuk isolasi kalor.
T.2
.KONDUKTIVITAS.KALOR .LOGAM
DAN PADUAN
Sifat yang paling mencirikan logam adalah konduktivitas kalor dan
konduktivitas listriknya yang tinggi. Sebagai contoh logam konduktor yang
paling baik adalah tembaga sedangkan yang paling buruk adalah timbal,
padahal kehambatan (resistiaity) timbal, hanya dua belas kali kehambatan
tembaga. Sebagai perbandingan, bahan bukan logam seperti intan
mempunyai kehambatan kira-kira satu milyar kali lebih besar dari tembaga
(Smallman, R.E., 1981). Sangat besarnya perbedaan konduktivitas antara
logam dan nonlogam adalah karena pada logam yang mengalami beda
potensial, elektron-elektron dapat bergerak bebas, sementara pada bahan
nonlogam tidak demikian.
Pada logam murni kontribusi konduktivitas elektron lebih besar daripada
kontribusi konduktivitas phonon (k,, > k,o), dan mempunyai elektron
bebas yang lebih banyak daripada logam'paduan dan nonlogam. Pada
logam murni kontribusi k", adalah kira-kira 100 kali dari kontribusi k
pada temperatur kamar sehingga konduktivitas phonon dapat diabaikaPr{
(V1ack, L.H.V, 1985). Harga konduktivitas kalor-kalor logam murni
berkisar antara 52
-
1,40 W/m"C (Kreith, F., 1976).
Hubungan antara konduktivitas kalor (k) dan konduktivitas listrik (o) pada
logam murni, dinyatakan dengan persamaan Wiedemann Franz, yaitu:
k
--Lo
oT
=
konduktivitas kalor (Watt/cm.K)
=
konduktivitas lisrik (/A cm)
=
Temperatur (K)
=
konstanta lorenzt (2,45 x 10-8 W Q
/K'
(7-2)
Dari persamaan di atas terlihat bahwa ratio konduktivitas listrik dan kalor hampir
sama untuk semua logam pada temperatur yang sama.
di mana: k
o
T
Lo
Gambar 7-1
k
konduktivitas
kalor dari i
6
beberapa
:E
logam murni
E
1l
/
U
v
BAB 7
'
KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT 135
Logam murni mempunyai nilai konduktivitas kalor yang paling besar diantara
semua zat. Konduktivitas kalor pada logam cukup bervariasi, yang tertinggi adalah
perak (426W
/m.oC),
disusul dengan tembaga (386 W/m."C). Konduktivitas kalor
dari beberapa logam dapat dilihat pada Gambar 7-1., dan untuk beberapa logam
murni yang lain terdapat pada lampiran.
Temperatur,
.(J
100 300 500 700 900 1100 1300
-
Padat
---Cair
\o,
7,2
1,0
25
ur
H
U
0,E
o-
0,6
E
0,4
0,2
1
1
0 400 800 1200 1600 2000 2400
Temperatur, "F
Pada temperatur kamar struktur kisi dari logam murni sangat teratur. Dengan
naiknya temperatur akan mengakibatkan ketidakteraturan dalam struktur lattice
dan dengan kenaikan yang tebih besar dapat menghancurkan struktur kisi, hal ini
menyebabkan penyebaran elektron yang bergerak melalui kisi sehingga mengurangi
nilai konduktivitas kalor.
Secara umum kenaikan temperatur pada logam murni akan mengakibatkan
penurunan nilai konduktivitas kalor, seperti yang terlihat pada Cambat 7-2.
Harga konduktivitas kalor pada logam paduan berkisar antara 1,4-120 W/m'C
(Kreith, F., 1976). Harga konduktivitas kalor pada logam paduan tergantung
atas:
.
Komposisi bahan
o
Perlakuan panas (heat treatment)
o
TemPeratur
136 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
a. Komposisi bahan
Harga konduktivitas kalor pada logam paduan jauh lebih rendah daripada logam
murni. Penambahan unsur paduan akan mengurangi jumlah elektron bebas dalam
logam, selain itu penambahan unsur paduan akan merusak struktur lattice pada
logam murni (Sari, D.G, 1972). Hal ini juga mengakibatkan penyimpangan elektron
yang merambat.
Gambar 7-2
Laju penurunan
nilai konduktivitas
kalor akibat
kenaikan
temperatur pada
logam murnl
50 100 150 200 250
Temperatur"C
b. Perlakuan panas
(heat
treatment)
Heat treatment adalah suatu kombinasi pemanasan dan pendinginan logam
atau paduan dalam keadaan zat padat sehingga didapat sifat-sifat dan kondisi yang
diinginkan.
Perlakuan kalor akan menyebabkan perubahan struktur mikro yang meliputi:
- ukuran butir
- bentuk phase
- orientasi butir
- bentuk butir
AI
Ag
Cu
Mg
Zn
Pb
w
Fe
Ni
o
-v
-Y
0.9
16
6 nQ
-o
o
e-
tltll
tltll
tltll
--r--'1 --F--l--
--+-
I
I
I
__!_
I
I
I
I
--f-
I
I
I
i\
l__l
tt
lt
tt
tl
t---t
tt
tt
tt
ffi rt
:r\-,
;r-2<
L
7
\
;>1-.
Gambar 7-3
Beberapa bentuk,
ukuran dan
orientasi butir.
Gambar 7-4
Arah hantaran
kalor pada butir
dan batas butir,
untuk butir
besar (a) dan
butir-kecil (b)
BAB 7 * KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT 137
Meskipun dimungkinkan untuk menghasilkan logam tanpa struktur kristal,
bahan yang kini digunakan dalam rekayasa adalah logam kristalin. Tiap volume
yang mempunyai orientasi tersendiri disebut butir, dan daerah yang tidak teratur
antara butir disebut batas butir. Lebar batas butir sekitar dua atau tiga atom
(Vlack, L.H.V., 1985).
Butir yang memiliki diameter yang lebih besar menyebabkan jumlah batas butir
yang tegak lurus lebih sedikit. Pada batas butir terdapat daerah transisi yang tidak
searah dengan pola dalam butir-butir yang terbentuk. Sehingga bila kalor merambat
melewati batas butir akan terhambat oleh daerah transisi, baru setelah itu
perambatan kalor dilanjutkan ke butir berikutnya. Penambahan paduan juga akan
menyebabkan semakin banyaknya batas butir sehingga akan menaikkan tahanan.
Ukuran butir yang terbentuk sangat dipengaruhi oleh laju pendinginan dalam
proses heat treatment. Laju pendinginan juga mempengaruhi bentuk dendrit
(struktur pertumbuhan butir yang terbentuk dari inti logam, bentuknya mirip
pohon). Bentuk dendrit yang besar dan merata akan meningkatkan harga
konduktivitas kalor logam.
Pendinginan udara
Pada pendinginan udara terbuka, udara
akibat perbedaan rapat jenis udara dingin
udara dingin menekan udara panas, dan
ditinggalkan oleh udara kalor.
yang terkena konveksi selalu naik keatas
lebih tinggi dari udara kalor, sehingga
dengan cepat menempati ruang yang
138 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
Pada akhirnya gradien suhu yang disediakan oleh udara selalu tinggi. Hal ini
menyebabkan laju perpindahan kalor dari sample adalah besar. Besarnya laju
perpindahan kalor ini mengakibatkan bentuk butir yang relatif kecil-kecil dan
struktur dendrit yang kecil, tidak sempurna dan tidak merata.
Pendinginan air
Pendinginan yang menggunakan air, seperti halnya dengan udara, karena
volume yang terbatas dan viskositas yang lebih tinggi dari udara, kuantitas Iaju
perpindahan kalor lebih kecil bila dibandingkan dengan pendinginan udara.
Pendinginan dengan air mengakibatkan bentuk butir yang sedang dan struktur
dendrit transisi tetapi tidak tersebar rata.
Pendinginan oli
Dibandingkan dengan medium pendingin di atas, minyak oli paling tinggi
viskositasnya, sehingga partikel-partikel oli paling lambat bergerak meninggalkan
permukaan kalor dan pada akhirnya gradien suhu yang disediakan oli merupakan
yang paling kecil.
Dari uraian di atas terlihat bahwa pendinginan dengan oli akan menghasilkan
bentuk butir yang paling besar dan dendrit yang paling sempurna. Hal ini
mengakibatkan pendinginan dengan oli menghasilkan nilai konduktivitas yang lebih
besar (Nasser, S.A., 1996)
c. Pengaruh temperatur
Pengaruh temperatur terhadap konduktivitas kalor paduan, sulit diramalkan
karena pada beberapa keadaan, paduan (misalnya paduan nikel) konduktivitas kalor
naik dengan naiknya temperatur sedangkan pada keadaan lain (misalnya paduan
besi) akan terjadi sebaliknya. Hal ini dapat kita lihat pada Gambar 7-5 di bawah ini.
Temperatur,
oC
100 300 500 700 900 1100
45
0,20
0,18
0,16
Gambar 7-5
Pengaruh
temperatur
terhadap logam
paduan
(!
J
.6
J
v
U
U
0,74
fr
0.12 z
)(
0,10
0,08
0,06
0,04
600 1000 1400 1800
Temperatur,'F
Si Mn Cr Ni
1 Pure Iron
2 0,23 0,1,7,0,63
3 0,32 0,18 0,55 0,77 3,4
40,502,20 0,30 - 1,3
5 0,73 0,77 0,25 13,00 0,1
6 0,08 0,68 0,37 79,10 8,1
i Anil
i Cast
i Anil
BAB 7 * KONDUKTIVITAS
KALOR
ZAT PADAT
139
Paduan
Daritahunketahunparailmuwanmencobamemprediksibesarnya
konduktivitas
kalor dari berbagai
macam logam, sehingga
didapat
Persamaan
berikut
(Sari, D.G., 1,992):
a. Powell dan Groose
Konduktivitas
kalor dari logam murni atau paduart,
zat padat atau liquid dapat
diperkirakan
dari
Persamaan
berikut:
1,
=
(z,ot, 1o-u)L -
(z x to-")(r
lP,Y
C"p
g7C
r
92
+
MT
(7-3)
di mana:
k-
p,=
C=
P
p=
M=
konduktivitas
kalor
(Watt/cm''C)
tahanan
listrik
(A.cm)
kalor
ienis
(callg'C)
kerapatan
(g/cc)
g/g:atom
atau g/g-mol
lrrit"t
paduan
luiakan
berat atom rata-rata)
b. Eucken
Persamaan
konduktivitas
kalor pada
menuniukkan
OoC.
temperatur
rendah,
subscriPt
o
diturunkan
terhadaP
T
,
c. Drudg r
-
r^.^ :^-^l- L^L.c rr
Menyatakan
bahwa nilai konduktivitas
proporsional
terhadap
iarak
bebas dari
elektron.
kTo
4=-
koT
dk
krTo
-
=
------';-
dT T'
(7-4)
(7-5)
(7-6)
(7-7)
di mana:
K -
c-
,
-
k
=.l,L)'
"-i,r-"[u.,|
konstanta
Boltzman
muatan dasar elementary
charge
electron
Ku
=
22,g
-
4,68 C
-
7,81 Mn ' 15'62 Si
Ko
=
29,5
-
4,68 C
-
4,81 Mn
-
9'63 Si
rumus empiris
untuk baja temPa dengan 0'15
-
1''5o/" C
d. Simidu
Mengemukakan
pada f
=
30oC.
140 KoNDUKTIVITAS KALoR zAT PADAT, CAIR DAN GAS
K,
=
31,0
-
7,45 C
-
7,50 Mn
-
1'4,98 Si (7-B)
C, Mn, Sl, adalah kandungan elemen tersebut dalam persen, subscript u, a, dar.
q adalah as casf, annealing dan quenching. Akibat pengaruh temperatur k,,
diberikan dalam persamaan ini:
k,,,= ku,ro
[1
+
p (f
-
30)]
dengan:
0 =
koefisien temperatur
e. Honda dan Simidu
Mengukur koefisien temperatur pada baja karbon sebagai berikut:
(7-e)
f . Smith dan Palmer
Memberikan persamaan untuk paduan logam sebagai berikut:
l=
t._
ka
I L-
k,T
- "n '
krT
LrkrT + a
(7-10)
o
6'
di manaL danaadalah
L
a
a
Powell
Menambahkan nilai untuk paduan
paduan besi,
paduan aluminium,
paduan magnesium
Pada bahan non-logam
getaran kisi (phonon)
konstan, untuk paduan tembaga:
=
5,71 x 10-e Q.kal/seco.C2
=
0,018 kal/sec.cm.oC
lainnya yaitu:
L,
=
6,25 x 10-
e
Lo
=
5,02 x 10-
e
L,= 52,26 x 10-e
a
=
0,006
a
=
0,003
a
=
0,026
(7-1,1)
(7-12)
(7-13)
7 -g KON DUKTIVITAS I1(ALOR"NON',,,:,,LOGAM
f ("c) 100 200 300 400 500 600 700 800 900
_
10-6
p
0 50 100 150 200 250 300 350 400
perpindahan kalor hampir seluruhnya dilakukan oleh
(Eckert, E.R.G., 1,972).
Jadi
pengaruh dari kontribusi
BAB 7
.i.
KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT 141
elektron dapat diabaikan. Hal ini mengakibatkan rendahnya konduktivitas
kalor pada bahan isolator. Pada bahan isolator dan material bangunan
biasanya merupakan material berpori. Material berpori dapat mengandung
gas atau cairan didalam pori-porinya.
Sebagaimana kita ketahui bahwa gas adalah pemindah kalor yang lebih buruk
dibandingkan cairan. Pada material yang mengandung gas dan bertemperatur yang
tinggi, kalor dapat berpindah melalui radiasi. Pada material yang berpori yang
mengandung cairan juga harus memperhitungkan kadar air yang terkandung
didalamnya. Selain itu konduktivitas kalor akan turun dengan naiknya porositi serta
akan naik dengan bertambahnya kerapatan. Gambar 7-6 menunjukkan harga
konduktivitas kalor pada material isolasi dan material bangunan.
MgOAl,O,
(A) 3200'F lnsulating firebrick
(B) 3600'F insulating firebrick
(C) 2800'F insulating firebrig
Diatcaik eazth insulating brick:
1. Coarie pores
2. Medium pores
3. Fine pores
loose Mg O Power
1000 2000
Temperatur,'F
Berdasarkan struktur fungsinya, isolasi kalor dapat digolongkan atas 3 bagian
(Pratt, A.W., 1981) yaitu:
o
bentuk serat (fibrous)
o
bentuk butiran (granular)
o
bentuk sel (cellular)
0,1
Gambar 7-6
Konduktivitas
kalor beberapa
material isolasi
dan bahan
bangunan
0,05
0,02
0,01
0,005
0,002
0,001
0,0005
0,002
0,0001
U
I
.J
I
o
6
J
6
-v
E
o
v
3000
142 KONDUKTIVITAS KALOR zAT PADAT, CAIR DAN GAS
Harga konduktivitas kalor material isolasi berkisar antara 0,034
-
0,21 W
/
m" .C
(Kreith, F.1976). Gambar 7-6 menunjukkan bahwa kenaikan temperatur akan
meningkatkan harga konduktivitas kalor material isolasi.
a. Material berserat
(fibrous
material)
Untuk menentukan konduktivitas kalor dari bahan ini dapat digunakan
persamaan Schumeister, di mana pada bahan jenis ini dianggap merupakan
campuran antara serat dan udara. Persamaan tersebut adalah:
k^=x(krar+krar)+
v ,
!!?-
z' t
krur+kra,
(7-14\
di mana:
kt
,
k2
=
konduktivitas kalor dari udara dan serat
ar, oz
=
fraksi volume dari udara dan serat
x +y
=
1, dan diasumsikan r
=
1/3 dan y
=
2/3, sedangkan
untuk bahan kapas, wol dan rayon, diasumsikan x
=
0,21
dan y
=
0,79
Pengaruh dari kerapatan material berserat terhadap temperatur ditunjukkan
pada gambar di bawah ini, di mana: A (Kapuk), B (bagasse), C (Cork board),
D (Slag wool), E (mineral Wool).
Gambar 7-7
Hubungan
antara kerapatan
terhadap nilai
konduktivitas kalor
U
l)
x
o
6^
)1J
(6
J(
'6 1
o
u
100 150 200
Kerapatan gr/cm3
Gambar di atas mempunyai karakteristik nilai konduktivitas yang menurun
pada kerapatan yang rendah dan naik lagi pada kerapatan yang tinggi. Hal ini
menunjukkan bahwa pengaruh perplndahan kalor secara konveksi sangat besar
pada kerapatan rendah. Contoh yang umum dari material berserat adalah : Asbetos
wool, glass wool, slag wool dan bahan-bahan lain yang menggunakan tumbuhan
sebagai bahan baku.
50
BAB 7 * KONDUKTIVTTAS KALOR ZAT PADAT 143
b. Material bentuk butiran
(granular
material)
Pada bahan butiran dianggap merupakan campuran antara zatpadat dan cairan
yang terdapat pada rongga bahan. Contoh dari bahan bentuk butiran adalah: gabus
dan batu apung.
Untuk arah aliran kalor yang sejajar dengan bahan butiran, memberikan harga
yang paling besar pada nilai konduktivitas, dinyatakan dalam persamaan berikut:
k-
=
konduktivitas dari cairan yang terdapat pada rongga.
Pada arahlrr.un yang seri terdapat aliran kalor menghasilkan nilai yang
minimum yaitu:
k-
k,k*
(7-1,6)
-itr^+(t-f)t<,
Sedangkan untuk susunan butiran secara umum, baik acak mauPun gabungan
dari seri dan sejajar dapat digunakan persamaan:
k
=
k(1-t) kf
(7-1,7)
c. Material lembab
(damp
material)
Pada material lembab, konduktivitas kalor merupakan gabungan antara
Proses
konduksi dan difusi, yaitu:
k
=
ko + k, Q-18)
Di mana: ko
=
konduktivitas kalor udara
k,
=
konduktivitas kalor equivalent dari rongga lembab akibat
perpindahan kalor latent.
t ..
=
D^o
(
p
)ro,
(7-1,s)
"
R,T[r
_p,
)dx
di mana: Dui,
=
koefisien difusi untuk uap air
P
=
tekanan udara
P,
=
tekanan
Parsial
dari uaP air
R,
=
konstanta gas untuk uap air
x
=
panjang koordinat
Material ini biasanya mencakup material yang berbentuk sel yaitu seperti bahan
plastik dan polisterene.
Bahan keramik biasanya terdiri atas unsur logam dan nonlogam. Perpindahan
energi kalor pada keramik berbeda dengan bahan logam.
144 KoNDUKTIVITAS KALoR zAT PADAT, CAIR DAN GAS
Dua faktor yang sangat mempengaruhi perbedaan itu adalah:
o
keramik mempunyai sangat sedikit elektron bebas
o
phase keramik yang relatif transparan dibandingkan dengan logam
Kekurangan elektron menyebabkan rendahnya harga konduktivitas kalor dan
sifat transparansinya menyebabkan adanya perpindahan kalor secara radiasi
khususnya pada temperatur tinggi (Vlack, L.H.V., 1964). Harga konduktivitas kalor
pada keramik berkisar antara 0,034
-
2,6 W
/m'C
(Kreith, F. 1,976).
Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai konduktivitas kalor pada keramik
yaitu:
a. Struktur Phase
Phase kristal mempunyai nilai konduktivitas yang lebih tinggi daripada amor-
phous pada komposisi yang sama. Hal ini disebabkan keteraturan pada struktur
kristal akan menyebabkan panjang lintasan rata-rata yang lebih besar.
b. Struktur Mikro
Ada beberapa variasi dari struktur mikro yang dapat mempengaruhi nilai
konduktivitas kalor yaitu:
- bentuk butir
- orientasi butir
- porositas
- kualitas phase
c. Temperatur
Kenaikan temperatur menyebabkan ketidakteraturan pada struktur lattice,
sehingga hal ini akan mengakibatkan berkurangnya nilai konduktivitas kalor.
BAB B
EKSPERIMEN DAN
PERANGKAT
LUNAK
KONDUKTIVITAS
KALOR
Seperti yang dijelaskan dalam bab sebelumnya, sangat sukar untuk
memperkirakan harga konduktivitas kalor pada paduan logam dan cara yang
paling baik adalah dengan mengukur langsung. Dalam uraian ini akan diulas
beberapa penelitian harga konduktivitas kalor yang dilakukan di jurusan
Mesin FT-UI.
gr.1
a. Komposisi material
a. Cu (85%)
b. Cu (84%)
c. Cu (83%)
Al (10%)
Al (10%)
Al (10%)
Fe (2%) Ni (3%)
Fe (2%) Ni (4%)
Fe (2%) Ni (5%)
146 KoNDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
b. Gambar hasil pengukuran
o
(B
J
6:'>
(t|.J
.E\
J>
.d
o
v
70
60
50
40
Gambar 8-1
Konduktivitas
kalor Perunggu
Aluminium
pada
kondisi As Cast
Gambar 8-2
Konduktivitas
kalor Perunggu
Aluminium
pada
kondisi Solution
Treatment
80 1,20 160
Temperatur
c. Ulasan
.
Paduan Perunggu Aluminium memiliki harga konduktivitas kalor yang
cenderung naik dengan kenaikan temperatur.
.
Penambahan unsur nikel akan mengakibatkan
Penurunan
harga
konduktivitas kalor baik pada kondisi As cast maupun solution treatment.
.
Konduktivitas kalor pada kondisi solution treatment, lebih kecil daripada
kondisi As cast. Hal ini disebabkan adanya perubahan fase a dan
p
menjadi
martensit akibat proses solution treatment.
Kondisi As Cast
?tt
40
tt
--L--J--J--
tll
--f---t---1--
_-t__J---r--
ttt
Kondisi Solution Treatment
lll
---r----i----l-'--
:_t_--J---J--
tll
tll
---+---+---+--
ttl
_ _
-
t-
_ _ _t-
-
_ _t
- -
ttl
ttl
Ni 3%
Ni 4%
A Nis%
BAB 8 * EKSPERIMEN DAN PERANGKAT LUNAK KONDUKTIVITAS KALOR 147
'
Hasil ulasan terhadap mikrostruktur dan diagram fase menunjukkan bahwa
pada kondisi As cast, paduan membeku membentuk fase a dan
B.
Sedangkan
pada proses solution treatment dalam media celup air menghasilkan fase
B
martensit yar.g homogen dengan sebagian liecil fase a yar.g tidak
bertransformasi menjadi fase
B
mengendap dibatas butir.
Sifat dan struktur kristal di atas adalah sebagai berikut:
a larutan padat
B
fase antara
a. Komposisi material
a. Cu (87%), Al (10%), Ni (2%), Fe (1%)
b. Ct (84"h), Al (10%), Ni (2%), Fe ( %)
c. Cu (82%), Al (10%), Ni (2%), Fe (6%)
b. Ulasan
Berdasarkan gambar terlihat bahwa konduktivitas kalor pada kondisi ini sangat
bervariasi, yang paling besar terdapat pada unsur Fe 1"h, kemudian 6o/o dan terakhir
4%.
Jadi
sulit dikatakan bahwa penambahan unsur Fe akan menurunkan
konduktivitas kalornya.
fr,
lunak
bcc keras
warna terang
warna gelap
Gambar 8-3
Konduktivitas
kalor Perunggu
Aluminium pada
kondisi As Cast
U
6
.v
6
(B
J
v
1,20 160
Temperatur
oC
O Fe L% t Fe 4yo
A
Fe6o/"
-
Linear (Fe 6%)
-
Linear (Fe 1olo)
-
Linear (Fe 4%\
Kondisi As Cast
- -t- -
lrl
148 KoNDUKTtvrrAs KALoR zAT
pAoAl
cAtR DAN GAS
1,20 L60
Temperatur
"C
. Fe1% I Fe47" A Fe6%
-
lins31 (Fe 6%)
-
Linear (Fe 4%)
-
Linear (Fe 1%)
Kondisi Homogenisasi
120
Temperatr.rr'C
o Fe 1% I Fe 4"/" Fe 6o/o
-
Linear (Fe 6%)
-
Linear (Fe 1.,/.)
-
ling31 (pg {7o)
Solution Treatment
Pada kondisi ini, semakin tinggi kandungan Fe, semakin kecil nilai konduktivitas
kalornya. Kenaikan temperatur menyebabkan turunnya konduktivitas kalor untuk
Fe 1,% dan 4ok, sedangkan pada Fe 6"/o nilai konduktivitas cenderung konstan.
Homogenisasi
Pada kondisi ini, penambahan unsur Fe cenderung meningkatkan nilai
konduktivitas kalor. Kenaikan temperatur akan menyebabkan kenaikan
konduktivitas pada Fe 6% dan penurunan pada Fe 4"k dan cenderung konstan pada
Fe 1o/o.
Pada penelitian ini dilakukan perlakuan panas yang tidak umum digunakan
yaitu di mana solution treatment dan homogenisasi dilakuka terpisah, sehingga
tidak terjadi perubahan fasa yang berarti dalam struktur mikro paduan (umumnya
solution treatment kemudian didinginkan secara cepat sehingga terjadi perubahaan
fasa). Proses ini hanya akan mengubah bentuk butir, di mana butir itu sendiri adalah
individu kristal dan perubahan bentuk butir ini mempengaruhi konduktivitas kalor
seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya.
-50 \,
?i45
>{0
J)
J JU
6
r25
820
E1s
i10
E5
On
Vu
Gambar 8-4
Konduktivitas
Perunggu
Alumunium pada
kondisi Solution
Treatment
Gambar 8-5
Konduktivitas
kalor Perunggu
Alumunium
pada kondisi
Homogenisasi
200 760 40
\ 100
Y80
s
d-
J60
o i-i
.:t
40
!
i20
3o
v
Kondisi Solr,rtion Treatment
tt
tt
8.3 PERBANDINGAN ANGKA KONDUKTIVITAS KAIOR.
MATERIAL BANGUUAru INDONESIAI'$1ANDAR ASHRAE
(DARWAN, A., 1991)
BAB 8 * EKSPERIMEN DAN PERANGKAT LUNAK KoNDUKTIVITAS KALoR 149
Ulasan gambar struktur mikro tidak dilakukan pada penelitian ini karena tidak
terjadi perubahan fasa yang berarti yang diakibatkan oleh proses perlakuan panas
yang tidak umum di atas.
Konduktivitas kalor material bangunan merupakan fenomena yang memegang
peranan penting khususnya dalam pengkondisan udara. Hal ini karena sebagian
panas yang akan dipindahkan berasal dari perambatan/konduksi panas dari luar
melalui material bangunan.
a. Perbandingan hasil pengukuran dan ASHRAE
Tabel 8'1 Konduktivitas kalor beberapa bahan bangunan
];i\l]iillli{iii|1$l(onduktivitas
kalor
""
"-;--:-:
l\!iiii$S#$,p:r7'''
:"'
.;, Pengukuran
(W/m.'C) (W/m."C)
51
=
Kaca rav-ban medium shadine 1,000 0,992
52
=
Kaca rav-ban hieh shadine 1,000 1,038
53
=
Kaca biasa 1,000 0,982
54
=
Batu bata 0,720 0,886
55
=
Adukan semen 0,720 0,743
56
=
Kavu iati 0,180 0,204
S7
=
Gipsum 0,430 0,406
SB
=
Plvwood 0,180 0,1.93
59
=
Asbestos 0,L70 0,380
S10
= Stvrofoam 0,040 0,049
511
=
Aluminium 100,0 96,571,
7,200
1,000
Gambar 8-6
Perbandingan
antara hasi!
pengukuran
dan ASHRAE
U
6
-v
6
J1
v
0,800
0,600
0,400
0,200
0,000
51 52 53 54 55 56 57 SB 59 S1O
Material
150 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
b. Ulasan
Dari hasil perbandingan di atas terlihat bahwa perbedaan antara hasil
pengukuran dan hasil ASRAE sangat kecil. Sehingga akan menghasilkan perbedaan
Lebin pendingin yang kecil juga. Hasil studi kasus pada penelitian ini dengan
menghitung beban pendingin pada suatu gedung (membandingkan hasil perhitungan
denjan tt enggrttakan maierial ASHRAE dan material hasil pengukuran)
menghasilkan perbedaan beban pendingin sekitar 3,8o/.-
-
Slhingga dipat disimpulkan bahwa data-data dari ASHRAE dapat digunakan
untuk kondisi di Indonesia.
Gambar 8-7
Konduktivitas
kalor kayu
Adapun material yang diukur dalam
bangunan seperti: semen/ kayu, kaca dan
a. Gambar/ulasan hasil pengukuran
1,,8
1,6
1,4
7,2
1,,0
0,8
0,6
0,4
0,2
0,0
penelitian ini adalah material-material
keramik.
Kayu
(6
J
30
'ts\
r>
E
v
80 100 1,20
Temperatur'C
-|kayujati
+kaYukalimantan
150 140
b. Ulasan kayu
Perbedaan kerapatan dan arah serat kayu memegang peranan penting terjadinya
perbedaan konduktivitas kalor untuk tiap jenis kayu. Kayu Kalimantan pada suhu
iendah mempunyai harga konduktivitas yang tinggi disebabkan seratnya-masih
rapat. Kenaikln temperatur sampai titik tertentu menurunkan konduktivitas karena
densitas kayu menurun, sehingga banyak ruang kosong yang terisi udara yang
konduktivitasnya lebih kecil dari zat padat. Kayu ini baik untuk daerah bersuhu
dingin sehinggi kalau memakai pemanas akan terjadi pertukaran
Panas
yang kecil
dengan lingkungan dan panas yang dibutuhkan akan lebih sedikit.
BAB 8 * EKSPERIMEN DAN PERANGKAT LUNAK KONDUKTIVITAS KALOR 151
Kayu jati lebih stabil densitasnya dengan adanya kenaikan temperatur. Untuk
daerah yang menggunakan kayu sebagai penyekat ruangan bisa mempergunakan
kayu jati untuk daerah panas dan dingin.
c. Ulasan kaca
Dari gambar terlihat bahwa kaca bening mempunyai konduktivitas rata-rata
1,38 W/m'C, lebih tinggi dari kaca ray-ban (rata-rata 0,95 W
/m"C), dengan pola
garis yang hampir sama.
Diperkirakan ada faktor warna yang berpengaruh pada kaca. Sifat trasparan
pada kaca bening menyebabkan panas yang ditransmisikan relatif lebih besar.
Penggunaan pada gedung-gedung yang ruangannya dikondisikan lebih baik
memakai kaca ray-ban daripada kaca bening, demikian juga untuk mobil. Kaca
bening baik digunakan untuk tempat yang tidak langsung kena sinar matahari.
Kaca
0,8
0,7
0,6
0,5
0,4
0,3
Gambar 8-8
Konduktivitas
kalor kaca
0,2
0,1
0,0
20 40 50 80 100 1,20 140
Temperatur
"C
kaca beni
*-kaca ray-ben
d. Ulasan keramik
Jika
dilihat dari harga konduktivitas kalor maka keramik termasuk bahan
bangurtan yang tahan panas dan bisa dijadikan sebagai bahan isolator. Karakteristik
konduktivitas keramik berguna dalam pemilihan material bangunan. Untuk daerah
Panas
kita dapat memilih jenis keramik DK tile yang mempunyai konduktivitas
rata-rata 0,158 W/moC, karena temperatur ruangan dapat dipertahankan pada suhu
rendah, sehingga kebutuhan beban pendingin dapat ditekan. Begitu pula sebaliknya
untuk daerah dingin, penggunaan keramik super Italia yang konduktivitasnya relatif
besar dapat meneruskan panas dari bawah tanah, sehingga akan menekan panas
yang diperlukan dari pemanas.
160
\
\
\
a
L\
Gambar 8-9
Konduktivitas
kalor keramik
152 KONDUKTIVTTAS KALoR zAT PADAT, cAIR DAN GAS
Keramik
B0 100 120
Temperatur'C
*- DK tile {- Roman tile -# OK tile
-F
Asia tile
fr
fta tlt"
-{
super italia
c. Ulasan semen
Perbedaan harga konduktivitas antara semen murni dan semen pasir karena
perbedaan komposisi dan densitas. Perbedaan ini juga akan menyebabkan porositas
benda berbeda (porositas semen pasir lebih tinggi dari semen murni) Porositas
tinggi menyebabkan banyak fluida yang terjebak, yang menyebabkan konduktivitas
menurun karena konduktivitas fluida lebih kecil dari konduktivitas zat padat.
Bentonit mempunyai konduktivitas paling tinggi (rata-rata 7,2W
/m.oC) diantara
semen, semen pasir, tanah merah dan gibs. Hal ini juga disebabkan densitas Bentonit
yang tinggi (tetapi berdasarkan hasil pengujian Bentonit tidak tahan terhadap
temperatur tinggi). Sebenarnya penggunaan konduktivitas kalor rata-rata tidak dapat
dipakai untuk suatu harga konduktivitas kalor.
d. Ulasan secara umum:
a Perbandingan antara data ASHRAE dan pengukuran menunjukkan hasil
tidak terlalu besar perbedaannya.
a Berdasarkan harga konduktivitasnya, bahan-bahan penelitian termasuk
bahan isolator.
U
r 1.5
C
6
J
6
.v 1,0
'd
nq
BAB 8
.i.
EKSPERIMEN DAN PERANGKAT LUNAK KONDUKTIVITAS KALOR 153
Semen
/,5
20 40 60 B0 100 720 140 760
an
U
o
1,)
(6
J
6
i
1,0
i
o
v Gambar 8-10
Konduktivitas
kalor semen
0,5
0,0
8.5 PENGARUH PERUBAHAN STRUKTUR MIKRO TERHADAP
KONDUKTIVITAS KALOR AL--ZN
(NASSER,
A.S., 1996)
Temperatur {
+Semenmurni -o-Semenpasir +Tanahmerah + Gibs
JfrBentonit
Salah satu jenis perlakuan panas adalah dengan pendinginan material
berdasarkan jenis media pendingin yang digunakan. Dengan media pendingin
yang berbeda menyebabkan perubahan struktur mikro material. Perubahan
struktur mikro ini akan menyebabkan perubahan harga konduktivitas kalor.
a. Komposisi material
Tabel 8-2 Komposisi material Al-Zn
AI Fe Cu V Ni in
97,17 0,0855 0,0021 0,01 1 1 0,0032 0,0637
Si Ti Zn Pb Zr
0,1.367 0,0048 2,641 0,0016 0,0011
154 KONDUKTIVITAS KALOR zAT PADAT, cAIR DAN GAS
b. Sifat-sifat fluida pendingin
c. Hasil pengukuran
Tabel 8-4 Harga konduktivitas kalor pada berbagai pendingin
d. Gambar hasil pengujian:
E
(!
J
(d
x
v
90
80
70
60
50
40
30
20
0
Gambar 8-11
Harga
konduktivitas
kalor pada
berbagai
jenis
pendingin
80 L20 160 200
Temperatur'C
{-air 4oli 4-udara
Tabel 8-3 Jenis fluida pendingin
Minvak motor 0,1.45
0,61.3
Udara
40'c
g0'c
120.C 160"C 200'c
Air 31,32 35,9 36,24 34,81 33,66
Minyak 81.,71 77,36 75,L 72,25 70,5
Udara 24,8 31,71- 31,74 31,59 29,66
I
L--J.---!---t---r-
tlltt
ttltt
r--T--1--'1 ---r-
ttttt
8i6
.
."' ,.,1 ':
;,:
BAB 8
.i.
EKSPERTMEN DAN PERANGKAT LUNAK KONDUKTIVITAS KALOR 155
e. Ulasan gambar:
Hasil pengujian dari rentang temperatur 80oC sampai 200"C menunjukkan
kecenderungan yang menurun. Hal ini disebabkan peningkatan tahanan. Bila
temperatur dinaikkan, ion mulai berisolasi disekitar posisi rata-ratanya. Pergerakan
ini meningkatkan energi sistem. Peningkatan energi menyebabkan jarak antara ion
bertambah sehingga jumlah loncatan elektron yang mengantarkan kalor berkurang.
Perlakuan panas di atas mengakibatkan perubahan bentuk struktur pada bentuk
butir dan struktur dendritnya yaitu:
a Pendinginan dengan oli menyebabkan bentuk butir yang besar-besar
dan struktur dendrit yang sempurna dan terdistribusi merata.
a Pendinginan dengan air mengakibatkan bentuk butir yang sedang dan
struktur dendrit transisi tetapi tidak tersebar rata.
a Pendinginan dengan udara mengakibatkan bentuk butir yang relatif
kecil-kecil dengan struktur dendrit yang kecil-kecil tidak sempurna dan
tidak merata.
Dengan bentuk butir yang besar dan struktur dendrit yang lebih merata akan
dihasilkan hambatan kalor yang relatif kecil. Hal inilah yang menyebabkan harga
konduktivitas kalor dengan pendingin oli lebih besar dibandingkan dengan
pendinginan air dan udara.
Nama perangkat lunak : THERM 1.1
Pembuat
Sumber
: Robert A. Bailey, Ph.D
: Download dari internet (Januari 1.997)
Therm adalah program database mengenai sifat termal dari material. Sifat termal
yang dapat ditampilkan adalah:
- Konduktivitas kalor
- Kapasitas panas (Co)
- Kerapatan (p)
Database ini berisikan 1145 jenis material, yang lebih menekankan pada zat
padat dan paduannya. Database ini terdiri dari 3 file yang diakses secara acak
yaitu:
- Thermdat. DBF
- Thermdx. DBF
- Thermref. DBF
156 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
Untuk mengaktifkan perangkat lunak ini, yaitu dengan mengetik kata "Therm"
pada direktori yang mengandung file Therm.exe dan ketiga file yang disebutkan
di atas. Maka tampilan yang muncul adalah sekilas mengenai perangkat lunak
ini, kemudian dengan menekan space bar maka tampilan berikutnya adalah:
Would you like to read the on-line instructions for THERMy/n
Jika
kita memilih "y(yes\", maka akan ditampilkan keterangan secara umum
mengenai perangkat lunak ini, sedangkan bila kita memilih n (no) maka tampilannya
adalah sebagai berikut:
Please make selection
Proceed to database selection.
Print summary of all materials in database
Change units.
Change code for material formatting.
Your database file thermidx.dbf is dated 03-05-1987
Default Settings :
Format material properties for topaz3d
Units :
Length -m
Mass - kg
Energy -
I
Temperature -
oC
Use 1 u.,a J to position cursor vertically, and <CR> to make selection.
Dari tampilan di atas yang pertama kita perhatikan adalah bagian "default
setting", yaitu meliputi jenis format material dan satuannya.
Jika
kita ingin
mengubah sistim satuan, yaitu dengan menggerakkan kursor ke samping
"Change units" (setiap pilihan harus diakhiri dengan menekan ENTER), maka
tampilannya adalah:
BAB 8 * EKSPERIMEN DAN PERANGKAT LUNAK KONDUKTIVITAS KALOR 157
Length
Cminftmmm
Mass
gkglb
Time 1
sec min hr
Energy 1
cal Btu erg
I
Temperatur 1
oc 01 oK oR
t
Use 1 ur,a J to position cursor vertically, and
*
to change preferred units
Sedangkan untuk menentukan format yang
kursor ke "Change code
for
material
formatting",
kita pilih, yaitu dengan menggeser
maka tampilarLnya adalah:
Do you want to format this material for trump, taco2d, topazZd,
or topaz3d?
Kita memilih salah satu jenis format di atas dengan mengetik salah satu format
yang tersedia. Setelah sistem satuan dan jenis format sudah sesuai dengan yang
kita inginkan, maka sekarang tinggal 2 pilihan lagi dalam menu utama yaitu:
"Print Summary of all material" yaitu untuk mencetak semua daftar material
yang terdapat di database.
"Proceed to database selection", pilihan ini akan menampilkan 3 pilihan yaitu:
Input key word(s) in material name, sort, or end?
158 KONDUKTIVTTAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
"end"
Jika
kita ingin keluar dari sistem yaitu dengan
mengetikkan kata "end" pada tampilan di atas.
Dengan mengetik nama material, misalnya
"Silver" maka tampilan yang muncul adalah
semua material pada database yang mengandung
kata " Silver", seperti berikut:
"Material name"
Untuk mengetahui lebih jauh sifat yang kita inginkan dari berbagai material di
atas, yaitu dengan menggerakkan kursor ke material yang kita inginkan (misalkan
dipilih "Silver") kemudian tekan ENTER, maka tampilannya adalah:
THERM found
Choice Material Name
8 possible matches in search
ROOM Temp.
Rho
Kg/m3
8.800E+03
8.800E+03
1.050E+04
9.300E+03
1.050E+04
6.500E+03
5.560E+03
8.000E+03
Cp
I/kg'C
k
J/sec
m'C
1. Copper alloy nickel silver
2. Nickel silver
3. Silver
8. Silver (liquid)
5. Silver alloys, streling and coin
6. Silver antimony telluride
(snte 25pc)
7. Silver chloride (AgCl)
8. Silver selenide (AgrSe)
I
Use I and I to position cursor vertically, PgUp and PgDn to view more
choices, <CR> to make selection, and <esc> to escape to search menu
without selection.
3.766E+02 3.34728+01.
3.7668+02 3.3472E+0'1.
2.360E+02 8.26778+02
2.887E+02 2.51048+02
2.510E+02 3.5982E+02
2.092E+02 9.83248-01
3.556E+02 1.13398+00
2.803E+02 8.368E-01
Silver
Density
Specific Heat
Conductivity
Transition Temperature
Laten Heat of Transition
Specific Heat Temperature
J /kg "C
0.0
41,.84
OC
-273.1.5
-250.0
10500.0
235.9776
426.768
960.8
104600.0
Conductivity
J/sec
moC
1.5062.4
1.7991..2
kg/m3
J/kg'c
J/sec
moC
OC
I /us
Temperature
OC
-269.0
-267.0
BAB 8 * EKSPERIMEN DAN PERANGKAT LUNAK KONDUKTTVITAS KALOR 159
158.808
202.924
221,.752
238.304
251.04
288.696
292.88
-200.0
-150.0
-100.0
0.0
400.0
960.8
221,2.0
1,0041,.6
5020.8
1715.44
836.8001
476.976
430.952
418.4
359.824
359.824
to return to Use PgDn to view Reference. <Esc>
Format material
-259.0
-253.0
-243.0
_233.0
-175.0
-100.0
0.0
350.0
960.8
previous menu, F1
Untuk menampilkan referensi dari data tersebut, dengan menekan PgDn akan
ditampilkan sebagai berikut:
References:
Tuolokian Y S
perry j h
weast re
meadamas w h
kelley k k
stull d r
smithells c j
tipton c r jr
hampel c a
thermophysical prop of high temp solid matls
Materials engr matl selector issue
chemical engineers hanbook 4th ed
hanbook of chemistry and physics 47 th ed
heat transmission 3'd ed
enthalphy plot dwg k 38745 bu mines 584
thermodynamic properties of the elements acs
metals reference book 4th ed vol 3
the reactor hanbook 2"d ed vol 1
rare metal hanbook 2"d ed
1,967
1,967
L963
1966
1954
1,960
1,956
1.967
1960
t961,
c "Sort"; Untuk menampilkan material berdasarkan range penyortiran yang
kita inginkan, yaitu dengan mengetikkan kata "sott" maka tampilannya
adalah:
You can sort the database finding materials which satisfy a minimum and
maximum criteria for either density, capacity, conductivity, or transition
temperature.
Exit sort and list materials which have satisfied all sort criteria.
Sort materials by density.
Sort material by capacity.
Sort material by conductivity.
Sort material by transition temperature.
160 KONDUKTIVITAS KALOR zAT PADAI CAIR DAN GAS
Usu 1 u.ra I to position cursor to desired sort criteria.
<CR>to select sort criteria, and <Esc> to escape to search menu without sort.
Misalkan kita ingin mendapatkan material yang mempunyai konduktivitas antara
300 sampai 350 W/moC, maka dengan memilih "Sort material by conductivity",
dan memasukkan nilai range di atas, kemudian memilih "Exit sort and list material
which have satisfied all sort criteria" maka akan menampilkan:
Input minimum value for conductivity (J/sec m"C)? 300
Input maximum value for conductivity (J/sec m"C)? 350
THERM found 3 possible matches in search
Room Temp. Rho Cp k
Choice Material Name Kglm3
I /kg'C I/sec
m"C
1. Chromium copper (cu bal, cr0,5)8.880E+03 3.7668+02 3.26358+02
2. copper alloy (cu bal, cr0,5) B.BB0E+03 3.7668+02 3.2635E+02
3. Gold 1.930E+04 1.280E+02 3.1798E+02
+l
Use I and l to position cursor to desired sort criteria, PgUp and PgDn
to view more choices.
Sama seperti yang dijelaskan sebelumnya, untuk mengetahui lebih jauh sifat
material yang kita inginkan (misalnya harga konduktivitas pada berbagai
temperatur), yaitu dengan menggerakkan kursor ke samping material tersebut
(kemudian tekan ENTER).
Dari uraian di atas terlihat bahwa pemakaian perangkat lunak ini akan
mempermudah untuk mendapatkan harga konduktivitas kalor, khususnya zat
padat dan paduannya. Penentuan harga konduktivitas kalor di atas, dapat
dilakukan berdasarkan nama material maupun sebaliknya.
Penentuan harga konduktivitas kalor pada perangkat lunak di atas dapat juga
dilakukan dengan penyortiran bersama-sama dengan harga kapasitas panas dan
kerapatan material.
'asuqulpp
leruroJ
ue8uap ue{nlua}rp Sued
leru;oJ
ere}ue ueepaqrad
}EqrTJa}
Tepr}
eSSurqas'>1eq Suern>18ued rnleradural depeqral role{ s}rlr}>lnpuoT
ryye.r8
uepdtuel
rlradas ue8uernla>1 ederaqaq redundruar.u qrseur sple rp
{unl
1e13uera4
'(rurnru
lerad) J.u/M 97tr
rcdurcs (uope5 se8)
3.ru71,4 700'0
erElu resDlraq qElepe sElp rp
,,tr\lUgHL,
'aspqeiep
Iunl
1e18uurad
up>IresepJag
Iprraleu
sulr^q{npuo4 e8re11
Lgl
Ho-rvv svll^llvnoNov )vNn'l tvxcNVHSd NVo Nfl/ulH]dsy3 * I
gvE
BAB 9
STUDI KASUS
9,.1 KARAKTERISTIK KONDUKTIVITAS KALOR CAMPURAN
N2 DAN CO'
GAS
Pada studi kasus ini akan dihitung
dan CO, akibat pengaruh:
komposisi
temperatur
tekanan
harga konduktivitas kalor campuran gas N,
Persamaan-persamaan yang digunakan adalah persamaan yang sudah dijelaskan
pada bab sebelumnya.
Dari tabel (terlampir) didapat sifat-sifat gas pada keadaan murni sebagai
berikut:
Tabel 9-1. Sifat-sifat dari gas N2 dan CO,
Konduktivitas kalor (k)
(1. Atm,300 K)
0,02620 0,01.657
Berat molekul (BM)
Viskositas (
n )
N.s/m2
164 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
ffd',,*
""$iffiil,,iffi,ryry1W
ffi1fiffi
$ulittil:tiu:ii$iiliiitiilliilliit{trutl6}:}-{i}lll1lil'lliii,li*,q
Titik didih normal (Tr) K 77,4 194,7
Temperatur kritis (T.) K 1.26,2 304,2
Tekanan kritis (P.) Atm 33,5 72,8
Volume kritis (V.) Cm3/gr-mol 89,5 94
Faktor kompresibilitas kritis (2,) 0,29 0,274
1. Pengaruh Komposisi
Contoh perhitungan dilakukan pada fraksi mol N,
=
0,4 (Tekanan 1 atm,
Temperatur 300 K)
a. Metode Empiris Brokaw
k*=4k^r+(1
-l)k-o
di mana:
k
-
=
konduktivitas kalor camPuran
8as
Ai
=
fraksimol
q
=
parameter Brokaw (terdapat pada Tabel 2.4)
k
-'l
=',;,i\,i,{;!;,+
(0,6)(0,01657)
=
0,02042
1/k^o
= !r/kr+Ur/k,
=
(0,4)
/
(0,0262) + (0,6)
/
(0,01.657)
k
*p.
=
0,01942
Dari Tabel 1-4, untuk fraksi mol N,
=
0,4 (berat molekul lebih kecil), didapat
4
=
0,42
Maka: k,,
=
(0,42)(0,020a\ +
$ -
0,42)(0,01.942)
k*
=
0,01819
=
L8,19 x 10-3 W/m.oC
b. Metode Linsay
-
Bromley:
,- Atkt Azkz
"*=
,r'riuf,r- ,* 4r^
(.
dimana: A,,=1] ,-I
!r( Y-)'/nr
*s,
l"'1'T
+s"
o,t=41
'-1,r..Ir,) r.\]
Jr-s,
S,
=
L,5 Tr,
=
(1.,5) (77,4)
=
116,1 K
BAB 9 * STUDI KASUS 165
S,
=
1.,5 Tb2
=
(1,5) (1.94,7)
=
292,05
Srr= Sr,
=
(S, Sr)'/'= (116,1) (292,05)
=
1,84,L38
^ -
Ll
",
Io,rs
( ++,ot
1'to
300 + 116
.]"'l'
,oo * 184,138
n"-4l
'-Lolsl
zeri,s) 3oo.rrLos-]
J
300.1i6'1
A-tz
=
72678
^ -
L[.,
Io,rs
( ze,orc)'/n aoo + 292,051"'l'roo * 1.84,138
n"-+l
'-10/8[
44,01
.]
300+116
I
J
3oo+zsLls
Ax= 0'75308
maka:
k*=,
(.0,4),(0,026?-)
*
(o,o)(o,otosz)
@'@
k*
=
0,02006
=
20,06 x 10-3 (m."C
c. Metode Mason dan Saxen:
Sama seperti metode Linsay-Bromley, perbedaan hanya terletak pada harga
A' dan Ar'
o,,
=l
r + (1",,
,
luo i)','
(*,
lM
j)'tn
,j -lw
L,,
,
f;
exp (o.o+o+r,,
) -
"*p
(-o,z+tzr,,
)
ui
T .rl6 Mtl2
T-- L
r_---.;;-
Prt'"
r,
=
(t26,2)t
t0
(28,073)t
12
(32,5)-2
t3
=
t,t4
r,
=
(zo+,2)1
15
(44,01)1
12
Qz,e1-'
t'
=
0,986
L,,,,
_
(o,oao
)"rp
( 0,0464(z,zzz
) ) -
"*p
(-o,z+tz(z,zrr
))
^--
x.- ,
# =
1,8502
L,r,
j
166 KONDUKTIVITAS KALoR zAT PADAT, cAIR DAN GAS
maka:
^
_l
1 + (1,8502l/2 (28,013144,01)1t4
1
^rr-
L )
Atz
=
1',3554
, [
1 + (0,5048
ytz
1M,ollz8,oe)1t4 1
/lll
-
| |
" tz
L
t8(
7 + M,o1z
l2t,ot3)11t2
]
Ao
= 0,7327
maka:
,. Arkt Azkz
n-=
"ai'fi-
Y'*a,*
k*=, \0,4)(0,026?)
(0,6)(0,01657)
@-6
k*
=
19,\7 x L0-3 (m.'C
2. Pengaruh Temperatur
Untuk contoh perhitungan dilakukan pada temperatur 400 K (tekanan tetap L
atm, dan fraksi mol N,
=
0,4).
Sesuai dengan persamaan Saxena dan Gupta (Persamaan 5-29) yaitu:
k*t,)=k*(t,)y,#B * y,m
di mana:
k^(T2)
=
konduktivitas kalor campuran gas pada temperatur 400 K
k-(T)
=
konduktivitas kalor rata-rata campuran gas pada temperatur
300 K
=
0,01934 W/m..C (dari hasil perhitungan sebelumnya)
kt(T)
=
konduktivitas masing-masing gas pada temperatur T, dan T,
=
harganya didapat dari lampiran
! i
=
fraksi mol masing-masing gas
maka:
k
*(4ooK ) =
( o,o1ss4)[ o,+.9$P * o,o
9'92a61
) '- -- / \ -,- --
0,0262
'
","
0,07657
)
k, ( 400K
) =
0,027089
=
27,089 x 10-3 (m.'C
Jadi
konduktivitas kalor campuran gas N2-Co2 pada temperatur 400 K adalah
27,089 x 10-3 W/m.'C (di mana fraksi mol N,
=
0,4 dan Tekanan 1 atm).
BAB 9 * STUDI KASUS 167
3. Pengaruh Tekanan
Untuk menentukan pengaruh tekanan digunakan persamaan Stiel dan Thodos.
a. Menentukan konduktivitas kalor N, dan CO, pada beberapa tekanan
(temperatur
konstan
=
300 K).
Untuk contoh perhitungan dilakukan pada gas N, pada tekanan 100 atm.
'
Volume 1 mol N, pada tekanan 100 atm dan temperatur 300 K adalah
di mana:
Z
=
faktor kompresibilitas, untuk T,
=
T/7,
=
300/126,2
=
2,337 dan
Pr
=
P/P,= 1.00/33,5
=
2,985 dari gambar (terlampir) didapat Z
=
0,28
R
=
konstanta gas
=
82,06 Atm cm3/mol K
maka:
V_
(0,28)(82,06)(300)
= 201,86 cm3
(100)
4 116M112
Konstantar=,ff=(726,2)1l6(28,o1g)1l2(33,5)-2l3=1,14
lc
Kerapatan tereduksi pr
=
v,/v
=
(89,5)/(201,86)
=
0,4433
Untuk pr < 0,5 maka dari Persamaan (5-21),
(k
-
ko) I Z,s
=
(1.4,0 x 1g+;
1so'sase' -
1) (41,8,6)
(k
-
0,0262) (1,141) (0,29)s
=
(14,0 x 104) (so'ssst0'4433\
-
1) (418,6)
k
=
0,03290
=
32,90 x 10-3 W/m.'C
Maka konduktivitas kalor N, pada tekanan 100 atm dan temperatur 300 K
Adalah 32,90 x 10-
3
W/m.'C.
b. Menentukan konduktivitas kalor campuran N2-CO2 pada beberapa
tekanan.
Untuk contoh perhitungan dilakukan pada campuran dengan tekanan 100 atm
(fraksi mol N,
=
0,4 dan 7
=
300 K).
Kondisi kritis campuran:
Tr*
= UtTc(Nz)* AzTr(coz)
=
(0,4) ( 126,2) + (0,6) (304,2)
=
233 K
V,*
=
(0,4) (89,5) + (0,6) (94)
=
92,2 cm3
ZRT
P
168 KONDUKTIVITAS KALOR zAT PADAT, cAIR DAN GAS
M,,
=
(0,4) (28,01,3) + (0,6) (44,01.)
=
37,6
Z,*
=
(0,4) (0,29) + (0,6) (0,274)
=
0,2804
P,o,='4Y=W=58,14atm
. _r")lu
rqlt,
_
(zzg)rtu (y_^,2)rt,
=
1.013
'
-
p,;,t
158,14
p,
-
"'
Volume campuran,
rf
z^ RT_
,*=-n=
di mana: Z*
=
faktor kompresibilitas campuran
Z.
=
ArZ,
+
AzZr=
(0,4) (0,82) + (0,6) (0,23)
=
0,466
Maka:
u*
-
@,qoo)(az,oo)(goo)
= 11.4,7 cm3
100
Kerapatan tereduksi, gr
=
V,. /V. =
(92,2)/(11,4,7)
=
0,8036
Unttrk 0,5 < pr < 2,0 dari persamaan (1-22)
(k*
-
k:) I Z
s
=
(13,0 x 10-8) (e0'67
pr
-
1,069) (418,6)
(k,,,
-
0,07986) (1,013) (0,2804)
=
(13,0 x 10-u) (eo'67
(0'8036)
-
1,069) (418,6)
k^
=
0,03946
=
39,46 x 10-3 W/m."C
maka konduktivitas kalor campuran gas N,
-
CO, pada tekanan 100 atm
adalah:
39,46 x 10-3 W/m."C (fraksi mol N,
=
0,4 dan T
=
300 K).
BAB 9 * STUDI KASUS 169
Crafik Komposisi terhadap Konduktivitas kalor Gas N2-
c02
(Tekanan 1 atm, temperatur 300 K)
0,4 0,6 0,8
Fraksi mol N,
--#Brokaw {-
Linsay
4-Mason
Crafik Temperatur terhadap Konduktivitas Kalor Gas N,
-
CO,
(tekanan 1 atm, fraksi mol N,
=
0,4)
35
30
25
20
15
10
5
0
500
Temperatur K
-|-N,
--#CO,
-*-N,-CO,
25
U
ts
i20
O
o
JZ lJ
(6
.v
r 10
v
Gambar 9-1
Harga
konduktivitas
kalor N,
-
CO,
pada
berbagai
komposisi
Gambar 9-2
Hubungan
temperatur
terhadap
konduktivitas
kalor N,
-
CO,
1a
0,2
U
!
o
.6
J
'6
o
v
+---
I
I
I
+---
I
I
I
I
T---
I
I
I
T---
I
I
I
T---
I
I
I
ttl
III
rtl
---t- - - - -l- - - -t- - - -l- --
I
I
I
---{----
I
I
I
I
I
I
I
I
t-
I
I
I
t-
I
I
I
-t-7-
I
I
I
-l
I
I
I
-t
I
I
I
-l
I
I
I
I
-t - -
I
I
I
{-
-
I
I
I
-t- -
I
I
I
I
---
t
---
I
I
I
---r---
I
I
I
---r---
I
I
I
-ttt
ttt
170 KONDUKTIVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
Dari perhitungan dan gambar di atas terlihat bahwa:
1. Komposisi
Perkiraan konduktivitas campuran N,
-
CO, dengan
Persamaan
Brokaw
cenderung lebih rendah dibandingkan dengan
Persamaan
Linsay dan Bromley.
Sifat-sifai gas yang mempengaruhi nilai konduktivitas kalor dengan berbagai
komposisi adalah:
- berat molekul
- viskositas
- kondisi kritis
2. Temperatur
Dengan persamaan Saxena dan Gupta terlihat bahwa konduktivitas kalor
"u*p..rur,
gai adalah linear dan kelinearan ini bersesuaian
juga dengan konduktivitas
kaloi gas murni N, dan CO, yang didapat dari lampiran (Holman,I.P.1991). Harga
konduktivitas kalor gas dengan persamaan Saxena dan Gupta hanya tergantung
pada fraksi mol masing-masing gas murni.
Grafik Tekanan terhadap Konduktivitas Kalor Gs Nr-CO,
(temperatur 300 K, fraksi mol N,
=
0,4)
Gambar 9-3
Hubungan
tekanan
terhadap
konduktivitas
kalor gas
N2
-
CO2
100 150 200
Tekanan ( atm
)
*N, -#Co, --#Nr-Co,
3. Tekanan
Dengan mempergunakan persamaan Stiel dan Thodos dari Gambar (9-3) terlihat
bahwa kenaikan lekinan lebih berpengaruh pada gas CO, dibanding gas Nr. Sifat-
sifat gas yang berpengaruh yaitu kondisi kritis:
- tekanan kritis
- temperatur kritis
- volume kritis
1
J
a
l!
J
v
ttlll
- - -
.I
- - - -t- - - - r - - -
-'t-
- - -J - - -
rrf-Tl
tittl
ttllll
r/1 lll
t/rll
---rl ---t ----r---'1 ;--
r---
ll_-4,
1
I I __--a I
--/-1---_**----ti-
Yrl
tllll
BAB 9 {. STUDI KASUS 171
Pada studi kasus ini akan dihitung harga konduktivitas kalor campuran cairan
Benzena dan Aseton, akibat pengaruh:
- komposisi
- temperatur
- tekanan
Persamaan-persamaan yang digunakan adalah persamaan yang sudah dijelaskan
pada bab sebelumnya.
Dari tabel (terlampir) didapat sifat-sifat cairan pada keadaan murni sebagai
berikut:
Tabel 9-2 Sifat-sifat cairan Benzena dan Aseton murni
ffiffi s'3,$ffiffi
*
1&Ila:ii.:..:.-,....
. :... ......
$nteionlqHp)
Konduktivitas kalor (k)
(1 Atm,30'C)
W/m."C 0,1.7653 0,75922
Titik didih normal (7"
)
K 353,3 329,4
Temperatur kritis (7"
)
K 526,1 508,1
Tekanan Kritis (P"
)
atm 48,3 46,4
Beratjenis(p) gr
/ cm3 259 209
1.. Pengaruh komposisi
Contoh perhitungan dilakukan pada fraksi berat Benzena
=
0,4 (Tekanan 1 atm,
Temperatur 30 "C).
a. Persamaan Fillipov:
k,^-!'=cwi+*r(1
-c )
kr- k,
'
di mana: C
=
konstanta campuran
=
0,72
w
2
=
fraksi berat zal kedua
k_-0,7592
/
0,1765
-
0,1.592
( o,o
)(
i,
-
0,72)
x 10-3 W/m."C
maka:
k,,= 0,L6662
=
L66,62
172 KoNDUKTIVITAS KALoR zAT PADAT, CAIR DAN GAS
b. Persamaan Power-Law
kl,
= 2.W
iki
l=t
berlaku ur-rtuk 7
.
k,
/kr.2
di mana:
y
= ry, =
i,r
jadi persamaan ini dapat digunakan
[-r 0,159'_
r
=
konstanta campuran
= -2
maka: k;'
=
70
tk t2
+ wrk;2
k,,
=
((0,4)(0,15921-z + (0,6)(0,1.765)-z1z
k,n
=
0,1.6896
=
L68,96 x 10-3 W/m."C
c. Persamaan Li
k.
= Ql
k, + ZErQrkr, +
0:
k,
di mana:
400 gramBenzena=
;$
=225,9 cm
O,B85
600 gram Aseton
=
ffi
=
759,5cm3
maka: fraksi volume Bettzelra,
Qr=
-31*
=
0,2292
759,5 + 225,9
fraksi volume Aseton,
Qr=
(1
-
0,2292)
=
0,7708
k,,
=
21k;t +k;t)-l
kr,
=
2 ((0,1.592)-1 + (0,L765)-')-'
=
0,7674
k,,
=
(0,2292)2 (0,1592) + 2(0,2292) (0,7708) (0,1,674) + (0,7708)2 0,7765)
k.
=
0,1'6992
=
1,69,92 x 10-3 W/m."C
2. Pengaruh temperatur
Contoh perhitungan dilakukan pada temperatur 40oC (pada fraksi berat
benzena 0,4 dan tekanan 1 atm)
a. Menghitung pengaruh temperatur terhadap masing-masing zat cair pada
keadaan murni (contoh perhitungan pada Benzena).
kr= kro (1 + o (T
-
To)
Gambar 9-4
Pengaruh
komposisi
terhadap
konduktivitas
kalor Benzena-
Aseton
BAB 9 * STUDI KASUS 173
Di mana:
o
=
konstanta berkisar antara
-0,0005
sampai -.O,OO2
= -0,00L25
k,.o
=
konduktivitas kalor benzena pada temperatur 30oC
=
0,1.59224 W/m."C
maka: kl
= Q,159224)
(1
-
0,00125 (40
-
30))
kl
=
0,14290
=
1.42,9 x 10_3 W/m.'C
(konduktivitas
kalor Benzena pada temperatur 40"C).
dan dengan cara yang sama didapat nilai konduktivitas kalor Aseton sebesar
kz
=
158,44 x 10-3 w/m.'C.
b. Menghitung pengaruh temperatur terhadap konduktivitas campuran Benzena
dan Aseton (untuk
contoh perhitungan dilakukan pada campuran dengan
menggunakan persamaan
power
law).
k,r'= wrkr'+wrk;2
k*
=
((0,4)(0,142907-z * (0,6)(0,1584)-r)-0,s
k.
=
0,1,5164
=
151,64 x 10-3 W/m.'C
Grafik Komposisi terhadap Konduktivitas kalor Gas
Benzena-Aseton
( tekanan 1 atm, temperatur 30.C
= 0,4
)
1,78
776
774
772
1,70
168
766
164
762
160
158
0,2 0,4 0,6 0,8 1
Fraksi berat Benzena
-...}Filippov
--1_Li
-,1-Power-Law
U
A
O
o
6
6
rd
o
v
llttt
tttt
- - r - - - t - - - -t - - - - r - - -
tttt
ttt
- +
- - - -r- - - -
F
- - -
174 KoNDUKTIVITAS KALoR zAT PADAT, CAIR DAN GAS
Dari perhitungan dan gambar di atas terlihat bahwa:
1. Komposisi:
Dalam perhitungan harga konduktivitas campuran cairan Benzena dan Asetory
perkiraan persamaan Filippov dan Power Law berada di bawah harga berdasarkan
fraksi mol rata-rata (gambar cekung) sedangkan persamaan Il lebih mendekati
harga berdasarkan fraksi mol rata-rata (linear).
2. Temperatur
Dari hasil perhitungan dan Gambar (9-5) terlihat bahwa kenaikan temperatur
akan mengakibatkan penurunan nilai konduktivitas kalor secara linear pada
campuran cairan Benzena dan Aseton. Seperti pada pengaruh komposisi,persamaan
Power Law juga mempunyai perkiraan nilai konduktivitas yang lebih besar
dibandingkan dengan persamaan Ll dan Filippov.
Grafik Temperatur terhadap Konduktivitas kalor Gas Benzena-
Aseton
( tekanan 1 atm, fraksi berat Benzena
=
0,4
)
225
Gambar 9-5
Pengaruh
temperatur
terhadap
konduktivitas
kalor
Benzena-Aseton
U

2oo
o
o
E
17s
r!
.V
!
5
1s0
v
1,25
30 40
Temperatur K
--1-Filippov
-;-Li
4-Power-Law
60 50 10
3. Tekanan
Kenaikan nilai konduktivitas kalor pada cairan sangat tergantung pada
temperatur dan tekanan kritisnya (T. dan P.). Dari Gambar 9-2 dan 9-3 terlihat
bahwa T. dan P,yang kecil (kondisi yang besar, karena ,,=t,r,=
f
)
utu"
Gambar 9-6
Pengaruh
tekanan
terhadap
konduktivitas
Benzena-Aseton
BAB 9
.S.
STUDI KASUS 175
menghasilkan kenaikkan konduktivitas yang lebih besar. Dalam Gambar (9-6) ini
tidak terlihat perbedaan kenaikan yang jelas pada cairan Benzena dan Aseton karena
perbedaan kondisi kritis kedua cairan itu tidak terlalu besar.
Grafik Tekanan terhadap Konduktivitas kalor Gas
Benzena-Aseton
( temperatur 30'C, fraksi berat Benzena
=
0,4
)
Tekanan ( atm )
-*Benzena ---a-Aseton
-1-Campuran
U
E1
6
i4
6
J
II
v
85
751
65
155
I
I
- - -t- - -
_ _ _t_
I
I
I
I
I
I
I
I
t_
I
I
I
I
-r
I
I
I
I
t-
I
I
I
I
I
I
I
I
f
I
I
---l--
It
tlt
ttt
- -
-t
- - - T - - --r - -
I
f
I
I
t
I
I
I
I
I
I
_t
I
I
I
I
I
--J
I
I
I
4
I
I
I
I
I
I
I
I
t-
I
I
I
I
I
I
I
I
I
- - -t-
I
I
I
I
0 100 200 300 400 500 600
BAB 1O
KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu:
.
Konduktivitas kalor mempunyai karakteristik tertentu untuk zat padal, zat
cair dan zat gas. Secara umum harga konduktivitas kalor dari yang paling
kecil ke besar adalah zat gas/uap. Zat cair dan zat padat. Zat dalarn keadaan
murni mempunyai konduktivitas kalor yang lebih besar dibanding dengan
paduan atau campuran.
o
Zat padat mempunyai konduktivitas kalor paling besar, hal ini disebabkan
terdapatnya elektron bebas yang cukup besar, di mana elektron memegang
peranan paling besar dalam perpindahan kalor.
Harga konduktivitas kalor zat gas dan uap umumnya berkisar antara 0,004
sampai 0,02L4 W/m."C.
Pada zat gas dan uap kenaikan temperatur dan tekanan akan meningkatkan
nilai konduktivitas kalor ( tekanan berpengaruh pada tekanan < 1 mm Hg atau > 10
atm, sedangkan pada tekanan normal pengaruh tekanan diabaikan).
Pada umumnya gas yang mempunyai berat molekul yang lebih kecil akan
mempunyai harga konduktivitas kalor yang lebih besar.
Jadi
gas monoatomik
mempunyai konduktivitas kalor yang lebih besar dibandingkan gas poliatomik dan
gas campuran.
Kenaikan viskositas zat gas dan uap'akan memperbesar harga konduktivitas
kalornya.
Perbedaan polaritas campuran dua gas, akan menghasilkan nilai konduktivitas
kalor yang cenderung lebih besar berdasarkan harga fraksi mol rata-ralanya,
sedangkan untuk campuran yang sama-sama polar akan terdapat kecenderungan
sebaliknya. Dari persamaan-persamaan konduktivitas kalor yang diuraikan
sebelumnya terlihat bahwa jenis ikatan berpengaruh terhadap besarnya nilai
konduktivitas kalor.
178 KoNDUKTIVITAS KALoR zAT PADAT, CAIR DAN GAS
Daerah harga konduktivitas kalor zat cair adalah sebagai berikut:
Tabel 10-1 Harga konduktivitas kalor zat cair
Zat cair secara umum 0.086
-
0,924
Zat organik 0,105
-
0,178
Air raksa, air, NH, dan larutan polar 0,201.
-
0,924
Kenaikan tekanan akan mengakibatkan naiknya nilai konduktivitas kalor (berlaku
untuk tekanan > 40 atm, atau pada titik kritis, dibawah tekanan itu pengaruh tekanan
diabaikan).
Pada zat cair, kenaikan temperatur akan menurunkan harga konduktivitas
kalornya (kecuali pada air raksa, air dan larutan yang sangat polar adalah sebaliknya).
Zat cair yang mempunyai tekanan kritis dan temperatur kritis yang lebih kecil
akan menghasilkan kenaikan konduktivitas kalor yang lebih besar (akibat pengaruh
tekanan).
Pada larutan ionik, penambahan konsentrasi garam akan mengakibatkan
penurunan harga konduktivitas kalor larutan.
Daerah harga konduktivitas kalor zat padat secara umum adalah sebagai
berikut:
Tabel 10-2 Harga konduktivitas kalor zat padat
Logam murni 52
-
426
Logam paduan L4 120
Logam cair 8,6 76
Material bangunan/ keramik 0,034
-
2,6
Material isolasi 0,034
-
0,3
Harga konduktivitas kalor zat padal pada umumnya turun dengan kenaikan
temperatur, kecuali pada material isolasi di mana kenaikan temperatur akan
memperbesar harga konduktivitas kalornya, Pada paduan logam sangat sukar
diperkirakan karena banyaknya faktor yang sukar untuk diperkirakan, seperti
distribusi dan ukuran rongga serta pengaruh heat treatment. Kendala ini
BAB 10 * KESIMPULAN 179
menyebabkan konduktivitas kalor pada paduan relatif sulit diperkirakan secara
teoritis.
Jadi
cara yang paling baik adalah dengan melakukan pengukuran langsung.
Harga konduktivitas kalor logam berbanding lurus dengan harga konduktivitas
kalor listriknya.
Jadi
material yangmerupakan penghantar listrik yang baik, juga
akan merupakan penghantar panas yang baik.
Jenis
heat treatment akan mempengaruhi struktur mikro material. Proses
pendinginan material akan menghasilkan bentuk butir dan dendrit yang berbeda.
Bentuk butir yang besar dan dendrit yang merata, akan menghasilkan harga
konduktivitas kalor yang lebih besar (hal ini mengingat terdapat lebih sedikit batas
butir, sedangkan batas butir merupakan penghambat laju aliran kalor). Bentuk butir
ini, tergantung pada jenis fluida pendingin yang digunakan, pendinginan dengan
oli (viskositas besar) akan menghasilkan bentuk butir yang lebih besar serta ukuran
dendrit yang lebih sempurna dibandingkan dengan pendinginan air dan udara.
Hasil pengukuran nilai konduktivitas kalor untuk beberapa material bangunan,
yang pernah dilakukan di jurusan Mesin FT-UI, menunjukkan perbedaan yang relatif
kecil dibandingkan dengan material standar ASHRAE. Sehingga penggunaan daftar
material ASHRAE dalarn pengkondisian suatu ruangan, dapat digunakan tanpa
menghasilkan perbedaan beban pendingin yang besar.
Arah hantaran kalor yang sesuai dengan arah serat atau butir akan menghasilkan
nilai konduktivitas kalor yang lebih besar dan peningkatan kerapatan serat juga
akan memperbesar nilai konduktivitas kalor.
Perangkat lunak database "Therm", berisikan 1145 material yang konduktivitas
kalornya berkisar dari 0,004 (gas Radon) sampai 426 W
/m"C
(Perak Murni). Hal
ini akan sangat membantu untuk mendapatkan harga konduktivitas kalor secara
cepat, khususnya untuk zat padat dan paduannya.
DAFTAR PUSTAKA
August, E.M, Karakteristik Konduktioitas Kalor Pada Zat Padat, Cair dan
Gas, Tugas Sarjana Mesin FTUI, 1.997.
Darwan, Aha, Perbandingan Angka Konduktirtitas Material Bangunan di
Indonesia dengan standard ASHRAE, Tugas Sarjana Mesin FTUI, 1991.
Geiger, Poirer, Transport Phenomena in Metalursl, Addision Wesley Pub-
lishing Company Inc, L973.
Gunawan, Anang, Penelitian Pengaruh Llnsur Nikel 3-5% terhadap
Konduktiaitas Kalor Perunggu Aluminium Psda Kondisi As Cast dan Solu-
tion Treatment, Tugas Sarjana Mesin FTUI, 1992.
Holman,
J.P,
Perpindahan Kalor, terj. E.
Jasifi, Jakarta
: Erlangga, 1.998
Isachenko, Y.A., Heat Transfer, MIR Publisher Moscow, 1.963.
Jacob,
Max, and George A. Hawkins, Elements of Heat Transfer,
John
Wiley
and Son, 1949.
Kingrey W.D., Introduction to Ceramlc,
John
Wiley and Sons Inc, 1960.
Kreith, Frank, Principle of Heat Transfer, third edition, Harper Row Pub-
Iisher,1,976.
10. Nasser, syarif Abdul, Pengaruh Perubahan struktur Mikro Terhadap
Konduktiaitas Kalor AL-Zn, Tugas Sarjana Mesin FTIJI, 1996.
L1. Perry, Robert H, and Don Green: Perry's Chemical Engineer's Handbook
6th Ed. Singapore : Mc Graw-hill Book Co,1984.
1.
,
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
182 KONDUKTTVITAS KALOR ZAT PADAT, CAIR DAN GAS
1,2. Pratt, A.W., Heat Transmission in Buildings, New York:
John
Wiley and
Sons,1981.
13. Reid, Robert C., Prausnitz john M, and Sherwood Thomas K., The proper-
ties of Gases and Liquids: Mc Graw-Hill Book Inc, 1,997.
14. Sari Desi Gumilan, Pengaruh Variable Komposisi Fe terhadap Konduktiaitas
Kalor Perunggu Aluminium, Tugas Sarjana Mesin FTUI, 1.992.
15. Smallman, RE, Metalurgi Physic Modern,
Jakarta,
PT. Gramedia, 1.991..
16. Vlack, Lawrence H. Van, Material
for
Engineering Concept and Applica-
tion, Addision Wesley Publishing Company Inc. 1985.
17. Winarno, Agus, Penelitian Konduktiztitas Kalor Material Bangunan,
Penelitian Pengaruh Pemakaian Keramik Terhadap
lenis
Pendingin, Tugas
Sarjana Mesin FTUI, 1994.
Proses Perpindahan Kalor
Secara Radiasi
BAGIAN TIGA:
BAB 1.1 TEORI DASAR RADIASI
BAB 12 RADIASI PADA BENDA PADAT, CAIR DAN GAS
BAB 13 FAKTOR PANDANG
BAB 14 PERHITUNGAN PERPINDAHAN KALOR DENGAN
FORMULASI NUMERIK DAN SOFTWARE
BAB 15 HUBUNGAN EMISIVITAS DENGAN
KONDUKTIVITAS
BAB 16 RANGKUMAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB 11
11.1 PENGERTIAN RAD1ASI
TEORI DASAR
RADIASI
(1 1-1)
Radiasi adalah proses perpindahan panas melalui gelombang elektromagnet atau paket-
paket energi
(photon)
yang dapat di bawah sampai pada jarak yang sangat jauh tanpa
memerlukan interaksi dengan medium
(ini
yang menyebabkan mengapa perpindahan
panas radiasi sangat penting pada ruang aakum), di samping itu jumlah energi yang
dipancarkan sebanding dengan temperatur benda tersebut. Kedua hal tersebut
yang membedakan antara peristiwa perpindahan panas konduksi-konveksi
dengan perpindahan panas radiasi. Ketergantungan dari perpindahan panas
radiasi terhadap temperatur yang membedakannya dengan konduksi-konveksi
dapat dilihat dari persamaan di bawah ini:
Konduksi q*=-kdt
dx
Konveksi q
=
h (T
-
7*
)
di mana T-
=
Temperatur referens (1,1-2)
Radiasi
4=(Tn-Tl)
(11-3)
Dari persamaan di atas dapat kita lihat bahwa ketergantungan k dan h terhadap
nilai temperatur tidak terlalu besar, berbeda dengan radiasi yang sangat tergantung
dengan perubahan temperatur. Peristiwa perpindahan panas radiasi pada suhu
tinggi dapat kita lihat pada aplikasi pembakaran (dapur api, nosel roket, motor
bakar).
184 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
Radiasi elektromagnet terdiri atas beberapa jenis,
di mana radiasi termal
adalah salah satu jenis dari radiasi ini. Radiasi ini merambat dengan kecepatan
cahaya (3 x L010 m/s). Kecepatan ini sama dengan hasil perkalian antara panjang
gelombang dengan frekuensi radiasi:
C=7V
kecepatan cahaya (m/s)
panjang gelombang (pm)
frekuensi (Hz)
(1,1,-4)
Seperti telah disebutkan di atas bahwa radiasi thermal adalah proses perpindahan
panas melalui paket-paket energi yang disebut photon (kuantum), di mana menurut
postulat Planck setiap kuantum mengandung energi sebesar:
h
=
6.625 x 10-34
/
s
Setiap kuantum dapat kita anggap sebagai suatu partikel yang mempunyai
energi, massa dan momentum, seperti halnya molekul gas.
Jadi
pada hakekatnya,
radiasi dapat digambarkan sebagai " gas photon " yang dapat mengalir dari satu
tempat ke tempat lain. Dengan menggunakan hubungan relastivistik antara massa
dan energi, dapatlah kita turunkan suatu persamaan untuk massa dan energi dari
"partikel" tersebut:
E=mc2=h|s
m
=
ho/c
2
Momentum
=
c (ha/c2)
=
ln/c (1 1-s)
Frekuensi dari cahaya tidak akan berubah pada saat cahaya tersebut memasuki
suatu medium ke medium lain selama energinya tetap.
Laju energi yang dipindahkan tergantung kepada beberapa faktor yaitu:
1. Temperatur (permukaan yang mengemisi dan yang menerima radiasi)
2. Emisivitas (permukaan yang teradiasi)
3. Refleksi, absorpsi, dan transmisi.
4. Faktor pandang (aiew's
factor)
antara permukaan yang mengemisi dan
yang menerima radiasi (sudut pandang antara manusia terhadap sumber
radiasi)
Tergantung kepada sifat-sifat yang dimilikinya gelombang elektromagnet dapat
dikelompokkan seperti ditunjukkan oleh gambar di bawah ini:
di mana f
=
)-
V.
BAB 11
....
TEORI DASAR RADIASI 185
Panjang Gelombang 1,, prir
bD.!6trtr
J T <<
'.-z
v
Gambar 11-1
Spektrum
Gelombang
elektromagnet
(sumber ref: 6
hal 13)
10e 108 707 106 l.0s 10{ 103 10, 10 1
Nomor Gelombangq, p.ma
I.trrrrrr
101e 1018 1017 1016 101s 1014 1013 1012 101r
Frekuensi zr, Hz
Dari gambar di atas dapat kita lihat bahwa daerah radiasi termal terletak dalam
rentang kira-kira 0,1 sampai 100 pm. Sedangkan cahaya yang tampak oleh indera
penglihatan manusia terdapat dalam rentang yang sangat sempit yaitu 0,4 sampai
0,7
1trn.
Cahaya tampak ini terdiri atas ungu, biru, hijau, kuning dan merah.
11.2 SIFAT.SIFAT RADIASI
Pada gelombang elektromagnet berjalan melalui suatu medium (atau vakum)
dan mengenai suatu permukaan atau medium lain maka sebagian gelombang
akan dipantulkan, sedangkan gelombang yang tidak dipantulka.,ikur,
-e.,embus
ke dalam medium atau permukaan yang dikenainya.
pada
saat melalui me-
dium gelombang secara berkelanjutan akan mengalami pengurangan.
-
Jika
pengurangan tersebut berlangsung sampai tidak ada lagi gelombang yang
akan menembus permukaan yang dikenainya maka permukaan ini disebut se6ugal
benda yang bertingkah-laku seperti benda hitam.
Jika
gelombang melalui suatu medium tanpa mengalami pengurangan hal ini
disebut sebagai benda (permukaan)
transparan dan jika hanya sebigian dari
gelombang yang mengalami pengurangan hal ini disebut sebagai permuliaan semi
transparan. Apakah suatu medium adalah benda yang bertingkah laku seperti benda
hitam, transparan atau semi transparan tergantung kepada ketebaLn lapisan
materialnya. Benda logam biasanya bersifat seperti benda hitam. Benda non l-ogam
umumnya memerlukan ketebalan yang lebih besar sebelum benda ini bersifat seperti
benda hitam.
-Permukaan
yang bersifat seperti benda hitam tidak akan memantulkan cahaya
radiasi yang diterimanya, oleh karena itu kita sebut sebagai penyerap paling baik
atau permukaan hitam.
]adi
permukaan yang tidak memantulkan-ridiasi akan
terlihat hitam oleh kita karena tidak ada sinar radiasi yang dipantulkan mengenai
mata kita.
Liner
186 PROSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
Untuk memperlihatkan bahwa permukaan hitam akan menyerap dan
menghasilkan energi radiatif lebih besar dari benda lain pada temperatur yang sama,
dapat ditunjukkan dengan menggunakan hukum Kirchoff:
"Bayangkan dua dinding hitam identik yang dibatasi oleh isolasi panas dan
masing-masing berisi satu obyek kecil di mana satu berwarna hitam dan yang lainnya
tidak. Setelah beberapa saat sesuai dengan hukum thermodinamika kedua, kedua
obyek tersebut akan mempunyai temperatur yang seragam. Hal ini menjelaskan
bahwa setiap bagian dari permukaan (juga obyek) menghasilkan energi sebesar
energi yang diserap. Kedua obyek tersebut menerima energi radiasi yang sama
besar, tetapi selama obyek hitam menyerap lebih banyak energi (semaksimum
mungkin) maka obyek ini akan menghasilkan energi lebih banyak daripada obyek
tidak hitam ".
Benda hitam merupakan penyerap dan penghasil energi radiasi yang baik pada
setiap panjang gelombang dan arah radiasi.
Dari Gambar 1.1.-2 di bawah ini dapat kita lihat bahwa distribusi spectrol benda
hitam, mempunyai panjang gelombang maksimum yang tergantung kepada
temperatur.
Gambar 11-2
hubungan
antara paniang
gelombang
terhadap
temperatur
(sumber: ref 4
hal 711)
ll.]
10,
108
107
106
10s
10{
10r
102
10t
100
1 n-l
10{
10-3
10-{
0.1 0.2 0.4 0.6 1 2 4 6 1,0 20 40 60 100
Wavelength, i., pm
I T=C^
maKs 5
di mana C:
=
konstanta radiasi (2897.8 p"m)
(1 1-6)
Persamaan (11-6) menunjukkan bahwa daya emisi spektral maksimum terletak
pada panjang gelombang yang makin pendek dengan pertambahan temperatur.
Daya emisi yang dapat dilihat oleh mata manusia terletak pada panjang gelombang
0l
3
C!
OB
6f
'a d'
.rc
';>
0)
6
t
o
p-
(,
Visible spectral region
tr^""T=2898pm.K
Solar radiation
BAB 11 r'. TEORI DASAR RADIASI 187
7
x
0,5 pm. Pada panjang gelombang 2.9 ptrn temperatur 1000 K merupakan radiasi
dengan emisi terlemah di mana emisi ini masih dapat dilihat oleh mata manusia
sebagai cahaya merah.
11.3 DAYA EMISI
Gambar 1 1-3
lrradiasi matahari
yang memasuki
bumi (sumber:
ref.6 hal 16)
Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai radiasi ini maka, perlu dijelaskan
bahwa tanda,,t menunjukkan perbedaan antara spectral dan total. Tanda ' atau 0
menunjukkan antara directionsl dengan hemispherical.
Setiap medium secara berkelanjutan akan menghasilkan radiasi elektromagnet
secara acak ke seluruh arah di mana lajunya tergantung dari temperatur lokal dan
sifat-sifat material (struktur permukaan, merupakan faktor kritis) di mana secara
umum permukaan kasar akan mempunyai sifat refleksi rendah, serta emisivitas
dan absorpsi tinggi. Hal ini berlaku sebaliknya untuk permukaan yang licin atau
dipoles.
Fluks kalor radiasi yang dihasilkan dari sebuah permukaan disebut sebagai
daya emisi, E. Secara lengkap total daya emisi, hemispherical dapat kita definisikan
sebagai berikut:
Laju di ntana rndiasi yang dihasilkan per satunn luas pada semua pnnjang gelontbnng
yang mungkin dan pada semua arah ynng mungkin.
E
=
I;
EL(X)dX
Sejak lama para ilmuwan mempelajari teori untuk memperkirakan spectrum
emisi dari matahari, di mana dari hasil penelitian itu kita ketahui bahwa matahari
dapat mencapai sifat benda hitam pada temperatur 5762 K.
Spectrnl, fluks matahari yang sampai ke bumi atau solar irradiation untuk kondisi
ekstrateresterial dan massa udara satu ditunjukkan oleh Gamb ar 1\-2 di bawah
ini: (catatan bahwa radiasi matahari akan mengalami pengurangan pada saat dia
memasuki atmosfer).
(11-7)
q
2000
a
6
E E 1500
3
1000
.J
3. soo
(n
Blackbody emissive power at 5762K,
normalized to 1353 W/m'?
Extraterrestrial solar spectrum, 1353 W/m'z
"Air mass one" solar spectrum
isiblq yr",6r,
7.4 7.6 7.8 2.0 2.2
Wavelength 7., pm
188 PROSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
Perbedaan antara total dan spectral daya emisi suatu permukaan adalah:
1. Spectral, daya emisi Ev
Energi emisi
Waktu . permukaan . frekuensi
2. Spectral, daya emisi Et1
Energi emisi
Waktu . permukaan . No gelombang
3. Spectral, daya emisi E^
Energi emisi
Waktu . permukaan . panjang gelombang
4. Total, daya emisi E
Energi emisi
Waktu . permukaan
Daya emisi E^ digunakan untuk menghitung daya emisi dari suatu permukaan
yang bersifat menyerap atau menghasilkan energi radiasi. Daya emisi Er1 digunakan
untuk menghitung radiasi pada gas. Daya emisi Eu digunakan untuk menghitung
energi radiasi di mana tidak terjadi perubahan frekuensi dari sinar radiasi tersebut
pada saat melewati suatu permukaan menuju permukaan lainnya.
Dari postulat Planck yang dikenal dengan teori statistik quantum, dia
mengasumsikan bahwa sebuah molekul dapat menghasilkan photon hanya pada
tingkat energi tertentu. Planck menemukan distribusi daya emisi spectral benda
hitam yang sekarang dikenal sebagai Hukum Planck, untuk suatu permukaan
benda hitam yang dikelilingi oleh medium transparan dengan indek refraktif
,
n
sebagai:
E
ou
(T
,uy =
=]fuu'n'
''W7o
-\
(11-8)
E
ox
(7, tr
) =
--;
ZnhCo
2
n'T@n3
n
=konstan
(11-9)
E
on(T,r ) =
-2nhco
znz
Yrr'
*'ffi:7
n
=
konstan
(11-10)
Di mana: Co
=
cepat rambat cahaya di ruang hampa
Cl
=
2nhC:=3.7419 x 10-16Wm2
C2
=
h Co/k
=
14'388
Pm.
K
ft
=
konstanta Boltzmann (1.3806 x 1043
j/K)
7)
=
frekuensi
BAB 11 N TEORI DASAR RADIASI 189
Hubungan antara Eou, Eo^ dan Er, dapat dilihat dari persamaan di bawah ini:
dtt
Eo (T
Co Co
_-_m
n)'- n
"
-99-[r*14L1ax=
n),.'L n d)")
9r[,
-
\41a,
n
I
n dnl
) = I;
Eoudv
= Ji
E
o^d)" = Ii
Eondn (11-11)
atau
E,.. dv
=
E,, d),,
=
E,._ dr1
bv bL 0rl
(11.-1,2)
Persamaan ini lebih sering digunakan hanya jika indeks refraktif tidak tergantung
kepada frekuensi, panjang gelombang dan nomor gelombang, yaitu pada kondisi
di ruang vakum di mana n
=
1 atau medium gas di mana n
=
l.Persamaan itu juga
dapat diterima untuk medium semi transparan di mana nilai 1,52 <n < 1,,68 diantara
panjang gelombang 0,2 s/ d 2,4 pm diasumikan z
=
konstan.
Total daya emisi dari benda hitam dapat digambarkan dari persamaan di bawah
ini
E,0
) = ii"
E
bx1 ,x)dtr =
C
fl,r
n
li
6_ffik4
(11-13)
Eb(T)=n2^cTa (11-14)
di mana
,
=
nnC',
=
s.67ox 1o-8 ry ,
1{rn, m'Kn
t
=
Konstanta Boltzmann
Seringkali diperlukan perhitungan untuk memperoleh nilai daya emisi antara
dua panjang gelombang, misalnya antara ),, dan 7r:
ftl
r
o,ax
=
A
fflt*:i $!3=n,r
n
f
(nxr
) =
##
= r{,
(;fu),
(n}"r
) =
I Et.^,
e'dE
(11-1s)
(11-16)
eL- l
190 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
sehingga
E
b2dx
= [7 @Xrr) - f
(nxrr))n2t
-a (1,7-17)
Persamaan terakhir merupakan fungsi dari variabel tunggal, nAT yang dapat
dilihat nilainya pada tabel yang terdapat pada lampiran.
Permukaan dari benda hitam adalah permukaan yang paling ideal yang
mempunyai sifa t-sifa t:
1. Benda hitam menyerap semua radiasi yang disengaja (irradiasi) tanpa melihat
panjang gelombang dan arah datangnya sinar (bersifat diffuse).
2. Pada semua temperatur dan panjang gelombang yang diijinkan, tidak ada
permukaan yang dapat menghasilkan energi lebih banyak daripada benda
hitam.
3. Walaupun emisi radiasi yang dihasilkan oleh benda hitam adalah fungsi dari
panjang gelombang dan temperatur, tetapi tidak tergantung kepada arah
datangnya sinar.
Tidak ada satu permukaanpun yang dapat menyamai permukaan benda hitam
karena bagaimanapun
juga setiap permukaan pasti akan memantulkan radiasi yang
diterimanya walaupun sangat kecil. Pendekatan terbaik adalah dengan suatu
eksperimen dengan membuat suatu celah seperti pada Gambar 11-4, di mana
perbandingan antara besarnya ruang dengan celah tersebut cukup besar. Suatu
sinar yang masuk akan dipantulkan beberapa kali sebelum lepas dari celah kecil
tadi. Pada setiap pantulan sebagian energi akan diserap, tergantung kepada
absorptivitas dinding tersebut. Setelah beberapa kali pantulan maka praktis seluruh
radiasi yang masuk melalui bukaan akan diserap, sehingga pada saat sinar tadi
akan meninggalkan ruang tidak ada lagi radisi yang dapat dipaniulkan dan terlihat
oleh mata kita.
Gambar 11-4
Metode
pembuatan
ruang tertutup
benda hitam.
Radiasi yang masuk
rtr,
J n,
BAB 11
.i.
TEoRI DASAR RADIASI 191
Permukaan hitam adalah permukaan ideal di mana tidak ada satu bendapun
yang dapat mengikuti sifat-sifat dari benda hitam ini. Permukaan yang tidak
hitam disebut sebagai permukaan aktual yang menghasilkan dan menyerap
radiasi lebih sedikit dari permukaan hitam. Daya emisi total dari permukaan
aktual pada temperatur T dapat dihitung dengan:
E
=
Ea= oTa (11-18)
di mana e
=
emissivitas dari permukaan aktual. (mengenai emisivitas ini akan
kita bahas pada bab selanjutnya).
Daya emisi, spectral dari benda tidak hitam ini dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan di bawah ini:
E^
=
t^ E,,.= t^(C, l-
st"cz/^r
-
17
Di mana tr
=
emisivitas monokromatik
Hubungan antara E dengan E, dapat dilihat di bawah ini:
E
=
E.ET
4
=
l;
ExdX
=
[f,
e7E67d). (1 1-20)
atau
e
=
(1
I
,r
n)!;
erno^ax (11,-21)
Jika
e^ tidak tergantung kepada ). maka E
=
tt permukaan yang mempunyai
kondisi seperti inilah yang kita sebut sebagai permukaan kelabu. Sifat permukaan
kelabu ini sering digunakan dalam proses perhitungan radiasi karena perhitungan
menjadi lebih mudah, tetapi perlu diingat bahwa tidak semua permukaan dapat
dikategorikan sebagai permukaan kelabu.
(1 1-19)
11.,4 INTENSITAS RADIASI
Laju dari emisi yang berasal dari dA, dan menuju dA, disebut sebagai Intensitas
spectral 1, dari radiasi emisi.
Jadi
definisi dari intensitas spectral I^ adalah:
Laju di mana energi radiasi yang dihasilkan pada panjang gelombang ),, pada
arah (0, <p) persatuan luas permukaan emisi normal terhadap arah (0, <p)persatuan
sudut dQ dan persatuan panjang gelombang d),.
dq
I
x,,
(X,0,
Q) =
dA, cos d1dQd)"
(11-22)
192 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADTASI
Gambar 11-5
Proyeksi sinar
radiasi yang
mengenai suatu
permukaan
seluas dA pada
panjang
gelombang l,
dan arah (0, q)
[sumber:
ref. 6
hal 15I
d.i mana dA
n
=
rzsinTdTdq
d9=
r2sin0d0dq
r'
dQ
=
sin 0d0d<p
Perbedaan antara intensitas spectral dan total:
(11-23)
=
Laju energi radiasi/waktu/luas normal terhadap
sinar/ sudut solid/panjang gelombang.
=
Laju energi radiasi/waktu/luas permukaan
dgt
=
dAun
r-
normal terhadap sinar/sudut solid.
Persamaan yang menghubungkan antara intensitas spectral dengan intensitas
total adalah:
1. Intensitas spectral, l^
2. Intensitas total, I
t (,
,3) =
IfrIi Q,3,x)Ax
Di mana r
=
vektor posisi
$
=
satuan vektor arah
(1,1,-24)
Jika
pada daya emisi hanya tergantung kepada vektor posisi (permukaan
aktual/sebenarnya) dan panjang gelombang, pada intensitas selain pada kedua
hal itu juga tergantung kepada vektor arah (permukaan yang diproyeksikan
terhadap arah normal).
Hubungan antara daya emisi dengan intensitas dapat dilihat dengan
mengintegrasikan persamaan di atas pada semua arah dari permukaan yang terkena
Gambar 11-6
Hubungan
antara daya
emisi benda
hitam dengan
intensitas.
[sumber:
ref. 6
hal 171
BAB 11 * TEORI DASAR RADIASI 193
radiasi. Misalkan kita mengatakan bahwa energi yang dihasilkan dari permukaan
seluas dApada arah S dan pada sudut solid dQ
=
sin 0 d0 dq maka intensitas dapat
didefinisikan sebagai:
I (r, i) dAp dA
=
I (r, 9) dA cos 0 sin 0 d0 d<p (11-25r
di mana dAp
=
proyeksi luasan dA arah normal terhadap sinar datang.
]ika
persamaan tersebut diintegrasikan pada semua arah yang mungkin maka
akan diperoleh total energi yang dihasilkan dari luasan dA, setelah terlebih dahulu
dibagi dengan luasan dA ilu sendiri:
E (r)
= !:^fftzt
(r,o,q)cos0sin0d0ds
--
!3^
t (r
j)Ae
ao (11-26',
=dAcos0
Eo^(r, L)
=
n lo^(r, L)
emisi dan
dituliskan
(11-271
Persamaan yang memperlihatkan bahwa intensitas radiasi yang
meninggalkan suatu permukaan hitam (permukaan di mana intensitas yang
meninggalkan permukaan tidak tergantung kepada arah atau diffuse) dapat
ditunjukkan di bawah ini:
Iu (r, X)
=
Eur(r, )")
/
n (1 1-28)
Directional, spectral daya emisi dapat diketahui dengan membandingkan antara
hemisphere, spectral intensitas (laju energi per satuan sudut solid, per safuan luasan
normal terhadap sinar datang) dengan directional, spectral fluks yang dihasilkan:
E 'o^ (r,1, 0, g) dA
=
Iu (r, )')dAp (11,-29)
Persamaan tersebut (11-26) juga berlaku untuk hubungan antara
intensitas spectral dari suatu permukaan. Hubungan tersebut dapat
sebagai berikut
atau
E 'o^(r, tr, 0, <p)
=
Io^(r, ),) cos 0 (i 1-30)
194 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
11.5 DISTRIBUSI,PLANCK
Persamaan (11-30) menunjukkan bahwa directional, spectral fluks yang dihasilkan
dari sebual'r permukaan atau benda hitam bervariasi terhadap cosinus dari sudut
polar (cos 0). Ini dikenal dengan hukum Lambert atau lntkum cosine.
I
bx(X,T )=
2hc ?
Ls[exp(hCo
/
]"kr
)-1)
(11-31)
Di mana kostanta Planck (6.6256 x 1Oia
J.s)
konstanta Boltzmann (1.3805 x 10-'?3
J/K)
kecepatan cahaya di ruang vakum
temperatur absolut dari benda hitam.
Benda hitam adalah benda yang bersifat diffuse (pengemisi hamburan) maka
spectral, daya emisi adalah:
Er^(l,T
)=
cl
tus[exp(c
z/
xr)-1)
(1 1-32)
di mana C,
=
konstanta radiasi I (2nhC"2)
( 2nhC"2
) =
3.742 x 108 WPm/m2
C,
=
h C"/k
=
7.439 x 10a pm. K
Dari persamaan-persamaan di atas distribusi Planck yang ditandai dengan Gambar
11-7 untuk temperatur tertentu dapat dijelaskan sebagai berikut:
h-
t-
A=
Co --
'f
10e
108
107
Gambar 11-7
Hubungan
antara paniang
gelombang
terhadap
temperatur
[sumber:
ref 2
hal 7l
106
105
10r
103
702
101
100
1 0-1
1 O-'z
I0-4
0.2 0.4 0.6 7 2 4 6 10 20 40 60 100
panjang gelombang, )", pm
daerah cahava terlihat
2..,,7
=
2898 prm.K
radiasi matahari
0.1
BAB 11 * TEORI DASAR RADIASI 195
Emisi radiasi berkelanjutan sesuai dengan panjang gelombang.
Meningkat sesuai dengan peningkatan suhu.
Bagian spectral di mana terdapat konsentrasi radiasi yang tergantung
kepada temperatur, maka bersamaan dengan peningkitan iadiasi-,
panjang gelombang akan semakin pendek dan temperatur semakin
meningkat.
Fraksi penting matahari dihasilkan pada saat matahari mencapai kondisi
benda hitam, yaitu pada temperatur 5800 K (fraksi ini merupikan fraksi
yang dapat dilihat oleh mata manusia). Pada temperatur ?
<
800 K,
emisi lebih banyak terjadi pada spectrum sinar inframerah di mana
bagian ini tidak terlihat oleh mata.
11.6 EMISI, BAND
Gambar 11-8
Emisi radiasi
dari benda hitam
pada panjang
gelombang
0
-
l,
[sumber:
ret.4
hal 7131
Fraksi total emisi benda hitam pada interval panjang gelombang tertentu
(band) sangat penting untuk diketahui. untuk temperatur yang diinginkan,
fraksi ini digambarkan oleh perbandingan dari bagia. yu.g dihitamkan
terhadap luasan total di bawah kurva pada Gambar 11-8 di bawah ini
F1o-1,;
),
ftr o^ax
F.
t!
J;Eil,il,
oT
a
-
gr
t-rya
(lr
)=/(),r )
ol"
selama integrasi (EbL/T
s)
merupakan fungsi yang dipilih untuk fungsi panjang
gelombang
-
temperatur hasil dari LT, maka integral dari Persa*iur.(1f-35)
dapat digunakan untuk memperoleh nilai F,o
_
^,
sebigai fungsi dari )"7 (hasilnya
dapat dilihat pada Tabel 11-1 dan Gambu.'it-g)
(1 i-3s)
Gambar 11-9
Fraksi dari total
emisi benda
hitam
pada
panjang
gelombang
(0
-
I) sebagai
fungsi If
[sumber:
rel.4
hal 7161
196 PROSES PERPTNDAHAN KALOR SECARA RADIASI
1.0
0.8
:
0.6
I
3
tr.
0.4
0.2
"o
4 8 tz t6 20
l.T x 10-3 pm.K
hasil yang diperoleh melalui Tabel L1-L dapat dipergunakan untuk mendapatkan
fraksi ,adiusi antara 2 paniang gelombang ()', dan trr)
fr,
r,
o^dx -
$'r o^Ax
t_
r().,+).r)-
(1.1+12)--if n
(11-36)
=
F1o-Lr)
-
F1o-r,)
Tabel 11-1 Nilai F,o-^,sebagai fungsi dari lf
/
/
200 0,00000 0.375034 x 1.0-27 0,00000
400 0,00000
0.490335 x 10-13 0,00000
600 0,00000 0.104046 x 10-4 0.000014
800 0.000016 0.991126 x 10' 0.001.372
1000 0.000321 0.118505 x 10-s 0.01.6406
1200 0.002134 0.523927 x 10
5
0.072534
1400 0.007790 0.'t3441,1, x 104 0.186082
1600 0.01.971.8 0.249L30
0.344904
i800 0.039341 0.375568
0.51,9949
2000 0.066728 0.493432
0.683L23
2200 0.100888 0.589649 x 104 0.8L6329
2400 0.1,40256 0.658866
0.912155
2600 0.183120 0.701,292
0.970891.
2800 0.227897 0.720239 0.997123
BAB 11
.t.
TEORI DASAR RADIASI 197
2898 0.250108 0.722318 x 104 1.000000
3000 0.273232 0.720254 x 10-4 0.9971,43
3200 0.318102 0.705974 0.977373
3400 0.361,735 0.681544 0.943551
3500 0.403607 0.650396 0.900429
3800 0.443382 0.61.5225 0.851.737
4000 0.480877 0.578064 0.800291
4200 0.516014 0.540394 x 10{ 0.748139
4400 0.548796 0.50323s 0.696720
4600 0.579280 0.467343 0.647004
4800 0.607559 0.433109 0.59961.0
5000 0.633747 0.400813 0.554489
5200 0.658970 0.370580 x 10{ 0.513043
5400 0.680360 0.342445 4.474092
5600 0.701.046 0.316376 0.438002
5800 0.7201.58 0.292301 0.404671,
6000 0.73781.8 0.2701,21 0.373965
6200 0.7541,40 0.249723 x 10{ 0.345724
6400 0.769234 0.230985 0.31,9783
6600 0.7831.99 0.2L3786 0.295973
6800 0.7961.29 0.198808 0.2741.28
7000 0.808109 0.183534 0.242090
7200 a.819217 0.170256 x 10-4 0.235708
7400 0.829527 0.i58073 0.278842
7600 0.839102 0.1.46891. 0.203360
7800 0.848005 0.1.3662L 0.1,891.43
8000 0.856288 0.1.271.85 0.176079
8500 0.874608 0.L06772 x 10-4 4147819
9000 0.890029 0.90L463 x 10{ 0.1,24801"
9500 0.903085 0.765338 0.105956
10000 0.91,4199 0.653279 0.090442
198 PRoSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
11.7 IRRADIASI
Laju perpindahan panas radiasi per satuan panjang gelombang yang memasuki
suatu luasan dA, dari arah S, pada sudut solid dQ:
Ir(r, )u, d,
)
(cos 0i dA) dQt
di mana pengertian intensitas di atas adalah laju perpindahan panas per satuan
luas permukaan normal terhadap sinar datang dan per satuan sudut solid.
Laju perpindahan
Panas
yang memasuki suatu permukaan seperti yang
dijelaskan di atas jika dibagi dengan satuan luas permukaan dA dan per satuan
sudut solid, ini disebut sebagai spectral, directional irradiasi,
Hr(r,L,9,)
=
l^(r,1., $,) cos 0, (1.1.-37)
Irradiasi adalah fluks kalor yang senantiasa menuju ke dalam suatu permukaan.
Kesetimbangan irradiasi diperoleh pada keadaan di mana:
1 1000 0.931890 0.483321 x 10
s
0.066973
10500 0.923710 0.560522 0.077600
1 1000 0.931890 0.483321. x 10-s 0.066913
1 1500 0.939959 0.41.8725 0.057970
12000 0.945098 0.364394 0.050448
13000 0.9551.39 0.279457 0.038689
14000 0.962898 0.21,7641. 0.030131
1s000 0.969981 0.171.866 x 10's 0.023794
1 6000 0.973874 0.737429 0.01.9026
18000 0.980860 0.908240 x 10-n 0.012574
20000 0.985602 0.62331.0 0.008629
25000 0.99221,5 0.276474 0.003828
30000 0.995340 0.1.40469 x 10
6
0.001945
40000 0.997967 0.473891, x 10
7
0.000656
50000 0.998953 0.201605 0.000279
75000 0.99971.3 0.4L8597 x 10-8 0.000058
100000 0.999905 0.135752 0.000019
BAB 11
'
TEORI DASAR
H.=H.....+H. +H
4 AreileKsr aDsorp5, /.transmtsl
Spectral, hemispherical irradiasi adalah fluks kalor radiasi pada sebuah permukaan
per satuan panjang gelombang dari semua arah yang mungkin.
H
r.(r,L)=lr*H'x(r,X,e ,)ao, =fr"1^(r,).,e
,)cos
0,de, (11-39)
Total, directional irradiasi adalah total irradiasi per satuan luas permukaan dan
per satuan sudut solid pada seluruh panjang gelombang.
H' (r)=
Ii
I
^(,
,).,i
,)cos
O,d), (1 i-40)
Total, hemispherical irradiasi adalah total irradiasi per satuan luas permukaan
pada semua arah dan pada semua panjang gelombang pada spektrun yang ada:
H (r)=jfrJo"I^ (,
,X,3,)cos 0,de,il, (11,-41)
Setelah kita ketahui bersama tidak ada satu permukaan pun yang dapat
menyamai permukaan benda hitam dalam menghasilkan radiasi pada temperatur
yang sama. Untuk itu sangat baik memilih permukaan benda hitam sebagai
acuan yang menggambarkan emisi dari permukaan yang sebenarnya.
Sifat dari permukaan radiasi (emisivitas) didefinisikan sebagai perbandingan
radiasi yang dihasilkan oleh permukaan terhadap radiasi yang dihasilkan oleh
permukaan benda hitam pada temperatur yang sama. Emisivitas mempunyai
nilai yang berbeda tergantung kepada panjang gelombang dan arahnya. Nilai
emisivitas bervariasi dari 0 sampai dengan 1, di mana benda hitam mempunyai
nilai emisivitas 1.
Kita definisikan spectral, directional emisivitas e'tr (tr, 0, rp, T) dari permukaan
pada temperatur T sebagai:
Perbandingan intensitas dari radiasi yang dihasilkan pada panjang gelombang
l" dan arah (0, rp) terhadap intansitas radiasi yang dihasilkan oleh benda hitam pada
T dan ), yang sama.
I
, .x(X,0,
q,T
)
RADIASI 199
(1 1-38)
11'':8 KARAKTERISTIK RADIASI DARI PERMUKAAN YANG
BERTINGKAH LAKU SEPERTI BENDA HITAM
e'r( )",0,e,7 ) =
Io16,T)
(11-42)
2OO PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Ketidakberadaan variable arah (0, rp) pada penyebut dari Persamaan (11'-42)
menunjukkan bahwa intensitas dari benda hitam tidak tergantung kepada arah
radiasi.
Definisi dari total, directional emisivitas e' dari suatu permukaan pada temperatur
T sebagai:
Hubungan antara spectral,hemispherical emisivitas denganspectral, directionalhemi-
spherical dapat ditunjukkan dengan
Persamaan
di bawah ini:
(11-45)
Definisi dari spectral, hemispherical emisivitas e^ dari suatu permukaan pada
temperatur T sebagai:
perbandingan
emisi radiasi yang dihasilkan pada panjang gelombang ),, pada
semua urah yrng mungkin terhadap emisi radiasi yang dihasilkan oleh benda
hitam pada T dan ), yang sama.
e(o,q,T)=ry#
fr" ff' 't
^F
,),,9,<p)cos
o sin ododrp
fr" ff/
2
e^V
,)",e,<p)I orcososinododq
d
"V
')")
e^ ()",7
)=+fi" ff'
2
e.(r ,x,0,
<p)cos lsin 0d0dq
e)=;B
(11-43)
(1.1.-44)
(1.1.-46)
(1.1.-47)
(11-48)
er ()", T
)=
Definisi dari total, hemispherical emisivitas t^ dan suatu permukaan pada
temperatur T sebagai:
Perbandingan emisi radiasi yang dihasilkan dari rata-rata semua panjang
gelomban g, pada semua arah yang mungkin terhadap emisi radiasi yang
dihasilkan oleh benda hitam pada T yang sama.
atau
atau
6 \ ffr
e^ ()",r
)t b .L(x,T Yl,
e(i/=T (1,1,-49)
BAB 11
.I.
TEOR! DASAR RADIASI 201
.
Perhitungan untuk mendapatkan nilai emisivitas suatu permukaan pada
berbagai material yang dilapisi dapat dilakukan dengan eksperimen (data hasil
eksperimen dapat dilihat pada BAB 15)
Directional, emisivitas yang bersifat diffuse nilainya adalah konstan tidak
tergantung kepada arah. Nilai ini sering digunakan sebagai pendekatan terhadap
nilai emisivitas dari berbagai permukaan.
variasi dari nilai directional, emisivitas eu dengan 0 ditunjukkan oleh
Gambar 11-10 untuk material yang bersifat kondui<si dan non konduksi.
Gambar 11-10
Hubungan antara
nilai emisivitas
spectral benda
konduksi atau
non konduksi
terhadap 0
[sumber:
ret.4
hal 7201
Untuk konduktor eo konstan kira-kira pada batas e
<
40'. Setelah kondisi ini
maka eo akan meningkat sesuai dengan peningkatan 0 tetapi akhirnya menurun
sampai nilai 0.
Pada material non konduktor eo mendekati konstan kira-kira pada
g
<
70o, diluar
itu akan menurun secara tajam dengan peningkatan nilai 0.
Nilai emisivitas hemispherical tidak terlalu berbeda dengan nilai normal
emisivitas pada besar 0
=
0o. Perbandingan nilai (e/e,) adalah 1< (e/e,) <
1,9
untuk material konduktor, dan 0,95
< (e/e,) <
1,0 untuk material non konduktor
sehingga dapat dikatakan bahwa r
=
r,
Distribusi spectral, normal emisivitas dari beberapa naterial dapat ditunjukkan
pada Gambar 11-11 di bawah ini :
Nilai e^ bervariasi dengan nilai ), tergantung kepada apakah material tersebut
bersifat konduktor atau non konduktor.
Nilai total, normal emisivitas e, dapat ditunjukkan oleh Gambar 11-12a dan
1,1,-1,2b di bawah ini.
non konduksi
2O2 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Gambar 11-11
Nilai normal
emisivitas dari
o'8
beberapa
g;
material terhadap 3l
o'e
arah datangnya
E A
sinar.[Sumber:
!E 0.4
ret.4 hal72O)
6't
o.2
\
I
-...r
I
)lllcon
:artidq-
1000 K
x
+
x
u
?
I
,
'1
aluminui
1 \exide
1a0Q K
\
I
.t
'1 Stainless stee
1200 K heavilv
--rAr-^A
'
\
- |
Sfaln{ess steel, 800 F
EOO f
lighty exidized
{glgrtg".
1600 K.
..,.
0.1 0.2 0.4 0.6 1 2 4 6 70 20 40 60 100
Wavelength, ),, prr
1.0
0.3
Gambar 11-12a .}
Hubungan antara
'i
0.2
temperatur
$
terhadap total,
E
normat emisivitas i
untuk beberapa
*
o'1
material
[sumber:
ret. 4 hal 7211
0
JT /o
d,(a
cm K)1/2
- - -
Theoretical(Hagen-Rubens)
f Tungsten
A Tantalum
0 Niobium
f
Platinum
X Gold
;.*-
-{l
p.4
9Ei'-
^
.
r
."';
o
t
A Silver
O Copper
O Zine
tr Tin
0.0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5
Gambar 11-12b
Nilai total, normal
emisivitas dari
beberapa benda.
[sumber:
ret.4
hal 722)
BAB 11 * TEORI DASAR RADIASI
f
logam yang dipoies, foils dan films
-
Iogamyangdipoles
f
logam
243
0 0.05 0.10 0.15
Beberapa kesimpulan yang dapat diperoleh dari gambar tersebut adalah:
o
Emisivitas dari permukaan metalic umumnya kecil, hanya sekitar 0.02 untuk
emas dan perak yang dilapisi.
.
Keberadaan dari layers oxide sangat penting dalam meningkatkan emisivitas
dari permukaan metalic. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan nilai 0.1 untuk
stainless steel yang teroksidasi ringan dengan nilai yang hampir mendekati
0.5 untuk stainless steel yang teroksidasi berat.
o
Emisivitas dari non konduktor umumnya besar, melebihi nilai 0.6
o
Emisivitas dari konduktor meningkat dengan peningkatan temperatur,
walaupun demikian emisisvitas juga tergantung kepada sifat-sifaf khusus
dari material. Emisivitas dari non konduktor mungkin meningkat atau
menurun dengan peningkatan temperatur.
Kesimpulan terakhir yang dapat kita ambil bahwa emisivitas dari suatu mate-
rial sangat tergantung kepada sifat atau ciri khas dari permukaan material tersebut
yang dipengaruhi oleh proses manufacturing, perlakuan panas, serta reaksi kimia
dengan lingkungan sekitarnya.
Tidak seperti halnya emisivitas, absorpsivitas atau refleksivitas dan
transmisivitas bukanlah bagian dari sifat-sifat permukaan, karena ketiga hal ini
tergantung kepada radiasi yang datang ke permukaan. Absorpsi adalah proses
pada saat suatu permukaan menerima radiasi di mana tidak semua energi
diserap oleh permukaan tersebut, melainkan ada sebagian yang dipantulkan
ataupun ditransmisikan. Akibat langsung dari proses penyerapan ini dapat
dirasakan dengan terjadinya peningkatan energi dari dalam medium yang terkena
proses tersebut. Absorpsivitas adalah:
-
logam, tidak dilapisi
logam, teroksidasi
oksida, keramik
karbon,grafit
I
mineral, kaca
I
sayuran, air dan kulit
I
cat khusus
f
204 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
fraksi dari energi yang diserap
jumlah total energi radiasi yang datang menujupermukaan.
Spectral directional absorpsivitas o,'1. pada permukaan (pada lokasi r)
didefinisikan sebagai:
(11-50)
]ika
kesetimbangan thermodinamik lokal dapat di atasi maka nilai o'1, tidak
akan berubah walaupun Hi menurun atau meningkat. Pada kondisi ini kita dapat
mengetahui bahwa spectril, directional absorpsivitas tidak tergantung kepada
radiasi eksternal dan dia akan merupakan sifat-sifat permukaan yang tergantung
kepada temperatur lokal, panjang gelombang, dan arah datang. Karenanya jika
keietimbangan thermodinamik lokal dapat di atas, spectral directional absorpsivitas
adalah benar-benar menjadi sifat permukaan yang nilainya sama dengan spectral,
dir ect ional emisivitas.
a;(7, 7, 0,
E) =
E;(T, 7, 0,
Q)
(11-s1)
Spectral, hemispherical absorpsivitas pada permukaan (pada lokasi r) dapat
didefinisikan sebagai:
cr^(r,)')
=H=!*' -
L*a^-(r'x'!')t
^\'
rx'i')c!s
0'dQ'
tt)=-Hx
=
i11-52,1
Jika
radiasi yang datang bersifat dffise (radiasi yang datang i^ tidak tergantung
kepada 9) maka akan diperoleh persamaan seperti di bawah ini:
ax| ,)i=L
!3" ![' 'o
xF ,).,0i ,rp)cos 0; sin 0,d<p,
TE
(11-53)
Dengan mensubstitusikan Persamaan (1,1,-47) dengan Persamaan (11-51) kita
peroleh hubungan:
cr^ (7, tr)
=
e^ (T, I)
o^Q,I,s,
)=
+f
Dari Persamaan (11-54) dapat diambil kesimpulan bahwa spectral, directional
emisivitas dan spectral, directional absorpsivitas akan sama nilainya jika dan hanya
jika irradiasi bersifat diffuse (tidak tergantung kepada arah datangnya irradiasi).
Total, directional absorpsivitas pada suatu permukaan didefinisikan melalui
persamaan di bawah ini:
(11-s4)
, /
^
\ Ii
cr^
(r
,)",3
,)I ,(r
,e
,Yx
u t, ,J r ,--
-
\'
t-
t t
li/^(r
,e
,Y)"
(11-55)
BAB 11
.i.
TEoRI DASAR RADIAS! 205
Total, directional absorpsiaitas akan sama nilainya dengan total, directional emisivitas
jika radiasi yang datang bersifat kelabu dan berada pada temperatur lokal yang
sama (T).
d' (7,0,
Q) =
e' (7, 0, <P) (11-56)
Total, hemispherical absorpsivitas pada sebuah permukaan dapat didefinisikan
dari persamaan di bawah ini:
(1,1,-57)
(1 1-58)
ffJ rncos
gidslid\
Nilai fofal, hemispherical absorpsivitas dan emisivitas akan sama hanya untuk
permukaan yang bersif at diffuse, dan kelabu atau irradiasi (insiden radiasi) berasal
dari permukaan hitam pada temperatur yang sama.
o(T)=e(T) (11-se)
Seperti yang telah kita ketahui bahwa tidak semua permukaan bersifat diffuse
dan kelabu, sehingga hukum di atas tidak dapat berlaku mutlak, contohnya nilai
absorpsivitas dari radiasi matahari berbeda dengan nilai emisivitasnya untuk
temperatur radiasi yang rendah. Hal ini disebabkan oleh perbedaan dari distribusi
panjang gelombang di mana nilai emisivitas e^ bervariasi terhadap panjang
gelombang tersebut.
Refleksivitas dari suatu permukaan tergantung kepada dua arah, yaitu arah
datang irradiasi s", dan arah dari energi yang dipantulkan d,, sehingga kita
mengenal sifat bidirectional. Akibat langsung terhadap medium yang terkena
proses pemantulan tidak dapat dirasakan oleh indera kita.
Fluks kalor per satuan panjang gelombang yang memasuki suatu luasan
permukaan dA dari arah 6, dan sudut solid dQ, dapat dituliskan sebagai berikut:
H
;
dq
=
I^ (r, tr, s,) cos 0i d{2i (11-60)
dari persamaan di atas sejumlah fraksi o,'^ akan diserap oleh permukaan dan
akan ada yang dipantulkan pada semua arah yang mungkin (tbtal sudut solid
2n). Karenanya secara umum ada sejumlah fraksi yang akan dipantulkan pada
sudut solid dQ, pada arah $, seperti yang ditunjukkan oleh gambar tt-i3 di
!yah-ini.
Fraksi yang dipantulkan ini kita beri tanda sebagai p,,7(r,X, it, ,)
{o,
sehingga kita akan memperoleh jumlah
energi yang dipantulkan pada'arah
dQ. sebagai:
dl^(r,)", ,) dgli= (H'^dO) p';(r,?'.,
i,,
g,)
dQi (11-61)
Gambar 11-13
Fungsi
pemantulan
bidirectional
206 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
Spectral, bidirectional refleksi g"^ (r, ),, S, S,) dapat didefinisikan dari persamaan
di bawah ini:
rl.^\
Pr\r,t',st)=
I
^(r
,),,3')cos 0,dQ,
(71.-62)
Pemantulan ini dibagi menjadi dua yaitu pemantulan specular dan pemantulan
diffuse. Pemantulan diffuse jika arah dari irradiasi tidak diperdulikan, intensitas radiasi
yang dipantulkan tidak tergantung dari sudut pantul (radiasi dipantulkan dengan
intensitas sama ke segala arah). Sedangkan pemantulan spectilar yaitu jika arah dari
sudut irradiasi sama dengan arah sudut pantul.
Permukaan halus akan lebih bersifat speuilar daripada permukaan kasar,
sedangkan permukaan kasar akan lebih bersif at diffuse daripada permukaan halus.
Sinar irradiasi
Radiasi dipantulkan dengan intensitas
)rang
sama
Gambar 11-14
Refleksi diffuse
Sinar irradiasi Sinar yang dipantulkan
Gambar 11-15
Refleksi specular
Qi,(r ,X,3,
atau
I
^(r
,x,3
,)
H
^(,
,X)/ n
)=
BAB 11 * TEORI DASAR RADIASI
I ,npx(, ,)",3
,
,3\
^(r
,),,3i
)cos
0,de,
207
(11,-63)
(11-6e)
pf.' (,
,L,e
,)= I zngx(r
,),,e
,
,3
,)cosl,d{11
(1,1,-64)
jika
refleksi tidak tergantung kepada $, dan ,4, dan memantulkan sejumlah
radiasi tanpa memperhatikan arah datang irradiasi (diffuse reflector) maka
(Persamaan 1,1-64) dapat ditulis sebagai berikut:
oo^
(r, tr)
=
np^ (r, X) (11-65)
Pada permukaan yang merupakan pemantul terbaik maka permukaan ini akan
memantulkan semua irradiasi ke segala arah sehingga spectral, hemispherical-
directional refleksivitas didefinisikan sebagai:
pf
?,x,i,):#XA=
(11-66)
Untuk irradiasi yang bersifat diffuse (intensitas datang tidak tergantung kepada
arah 6,), maka Persamaan (11-66) dapat ditulis ulang sebagai berikut:
pf' (r,X,e,)=
I rnpxQ,),,e;,s, )cos
Oid}i
(11-67)
Dari hubungan " saling " pada refleksi bidirectional diperoleh hubungan antara
spectral, directional-hemispherical dengan spectral, hemispherical-directional sebagai
berikut:
Qo^
(r, )u, $.)
=
pt'
Q,
).,
,)
(11-68)
Spectral, hemispherical refleksivitas didefinisikan sebagai fraksi dari total irradiasi
yang datang dari semua arah dan dipantulkan kembali ke semua arah yang mungkin.
Dari Persamaan (11-63) dapat kita ketahui jumlah fluks kalor yang dipantulkan ke
semua arah untuk sebuah sudut datang irradiasi, dengan mengintegrasikan
persamaan tersebut serta H
i
sendiri terhadap semua sudut datang irradiasi,
didapatkan:
o.
(r
. )")
-
L*pr^'
(r
,)",e
.,Y)''(r
,.)",e
,Ye-,
r^\
''-/
LnH'^(r,)',e ,\Q,
_l
,np^'^(r
,X,3,Y'r(r ,),,6,)cos O,de,
LnI x(r
,)",3,
)cos
O,de,
Untuk intensitas irradiasi yang tidak tergantung kepada arah (diffuse
irradiation) Persamaan (11-6a) dapat disederhanakan sebagai berikut:
208 PROSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
Total, hemispherical
-
directional
p(,
,3,)=
1
p,,(r,l)=;l
r"o
rn?,L,s, )cos
oidoi
Hubungan antara sp ectr al, hemispherical absorpsivitas dengan
dilihat pada persamaan di bawah ini:
Q^(r,)")=1-ar(r,tr)
Fungsi total, bidirectional refleksivitas
, t i
^ ^
\ Iip^'(r,),,ei,6,trr(r,),,CiYX
P), \'
,
ru,S
i
ri
r )=
fff r(r
,7",C
iyX
Total, directional-hemispherical refleksivitas
p (,
,3,)=
Ji
1^ (r
,)",e
i)dx
refleksivitas
p'
?
,,)=
Iipi'
(r,x,c,\
znl t
(r, )., 6,
)cos
gidQi
dx
li [ ,^I x(r
,X,3,)cos 0,de',d),
Total, hemispherical refleksivitas
Iip^(,
,X)l
,nlx(,
,X,e
,)cos
o,dQ,)"
(11-70)
refleksivitas dapat
(1,1,-71)
(1,1-72)
(11-73)
(71-74)
(17-75)
Ii L^I,(r
,).,e
,)cos
0,dQ,d).
Proses penyerapan dan pemantulan ini akan sangat mempengaruhi warna dari
suatu medium yang akan kita lihat. Sebagai contoh, warna daun yang kita lihat
adalah hijau. Hal ini terjadi karena daun mempunyai chlorophyl (zat warna hijau
daun) di mana zat warna yang sangat kuat diserap adalah warna biru dan merah
sedangkan warna yang paling banyak dipantulkan adalah warna hijau.
Pada permukaan bertemperatur tinggi (Ts
=
1000 K) tidak akan ada warna
yang diemisikan, bagian ini terletak pada spectrum inframerah di mana tidak ada
sinar yang dapat dilihat oleh mata manusia.
Permukaan akan terlihat berwarna hitam jika permukaan tersebut menyerap
semua sinar irradiasi yang datang dan akan terlihat putih jika permukaan tersebut
memantulkan semua sinar irradiasi yang datang.
Transmisivitas adalah fraksi dari jumlah
energi radiasi yang ditransmisikan per
jumlah total energi radiasi yang diterima suatu permukaan.
BAB 11 * TEORI DASAR RADIASI
Seperti halnya refleksivitas, transmisivitas selain merupakan fungsi temperatur
dan panjang gelombang (atau frekuensi) juga tergantung kepada arah datang dan
perginya sinar irradiasi.
Spectral, hemispherical transmisivitas dapat didefinisikan melalui persamaan
di bawah ini:
-
H
^.,,
(tr)
'r^
=
H^(l)
Total, hemispherical transmisivitas:
H,,
Hubungan antara total dengan spectral hemispherical transmisivitas:
(11-76\
(1,1,-77)
(11-78)
_ _
I;
H
^,,
(xY)"
_
.lil
r^H
^
(IEl
'-
t;H,(xw
-
rHmEl-
Gambar 11-16
Proses
penyerapan,
pemantulan
dan transmisi
oleh sebuah
permukaan.
Jika
suatu permukaan yang mendapatkan sinar irradiasi, dan selama permukaan
tersebut dapat menyerap, memantulkan dan mentransmisikan sinar yang datang,
maka jumlah dari ketiga sifat tersebut harus sama dengan satu.
cx,+p+r=1 (11-79)
Untuk permukaan hitam yang menyerap semua sinar irradiasi yang datang
makaO=1.dan0= r=0.
Radiasi yang ditransmisikan
210 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
1.1,9 RADIOSITAS
Radiositas adalah jumlah
seluruh energi radiasi yang meninggalkan permukaan.
Radiositas berbeda dengan daya emisi.
Spectral, radiositas adalah laju radiasi pnda pnnjang gelombang )" yang
meninggalkan luas permukann per satuan interual panjang gelombang d 7.
Jika
radiositas dihitung sebagai radiasi yang meninggalkan permukaan dari
semua arah, radiositas dapat disebut sebagai jumlah
dari emisi dan refleksi.
/,
(r)=
fi" !:,'
1
r,,,, 6,0, 9)cososinodor/9
(11-80)
Pengertian dari total radiositas adalah laju dari setnus radiasi ynng meninggalkan
suatu permttkann pada semua panjang gelombnng.
I =fflx(xEx
]ika
permukaan bersif at diffuse reflector dan diffuse emitter maka:
I^(l)=nI).,,*,
atau
[=nl.
'
1., e + f
(1 1-81)
(11-82)
(1 1-83)
BAB 12
RADIASI PADA
BENDA PADAT,
CAIR DAN GAS
12.1 RADIASI PADA BENDA PADAT DAN CAIR
..: '
:
Ada beberapa material padat dan cair yang dapat menyerap energi radiasi secara
perlahan-lahan sampai pada jarak tembus yang masih dapat dilihat oleh indera
penglihatan manusia, material ini tidak dapat disebut sebagai permukaan yang
bertingkah laku seperti benda hitam (opaque surface). Mereka disebut sebagai
permukaan semitransparan. Sebagai contoh sebuah lapisan film yang
membiarkan sejumlah photons merambat sampai ketebalan 100 pm, maka ma-
terial film ini dapat disebut sebagai material semitransparan.
Material semitransparan ini hampir tidak bersifat konduktor, karena hanya
mempunyai sedikit elektron bebas.
Material padat murni dengan bentuk yang sangat tidak teratur, secara perlahan
akan meyerap radiasi tetapi tidak akan menghamburkannya.
Jika
kristal padat
terkena atau berisi molekul atau pertikel asing, maka material itu akan
menghamburkan radiasi tersebut sebaik material tersebut menyerap radiasi.
Logam umumnya merupakan konduktor elektrik yang sangat baik, hal ini
disebabkan karena memiliki jumlah elektron bebas yang sangat banyak.
Pada gambar di bawah ini dapat kita lihat data spectral, normal refleksivitas
dari tiga logam yaitu aluminium, tembaga dan perak.
212 PRoSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIAS!
Gambar 12-17
Spektral, normal
refleksivitas
pada temperatur
ruang untuk
aluminium,
tembaga
[sumber:
ref. 6
hal 931
Gambar'12-18
Total, normal
emisivitas dari
beberapa logam
yang dilapisi
sebagai fungsi
dari temperatur
[sumber:
ref. 6
hal 101I
1.00
A.
o noq
q
J
o
U
E
0.90
U
a)
q
3
0.8s
2
0.80
0.3
o
a.)
d
o
o
F
0.1
0.5 0.1
oE
0.0 0.2 0.3
Jr / o,,(Q cm 14;'rz
7-"'
periment
Lgen-Rubens
ude theory:
oE
AE
A
J\"
\,
'2r1'
oEr
oo
AI Cu A9
r,
[10lsHzl
y (701'Hzl
eo
[-l
3.0i
1.2
1.0
l
2.25
4.55
5.6
2.22
4.30
3.4
- - -
Theoretical(Hagen-Rubens)
I Tungsten
A Tantalum
r
."
0 Niobium
f
Platinum a.""9
X Gold
??- |
.-
o
-.{
I
A Sriver
-E
-.4
6 Copper
d
Hr..t lZine
A'
O
Tin
BAB 12 * RADIASI PADA BENDA PADAT, CAIR DAN GAS 213
0
0.0 0.3 0.4 0.5
,/77-oo,(QcmK)'/'
Total, normal alau hemispherical emisivitas dapat dihitung dengan
mengintegrasikan nilai-nilai spectral pada semua panjang gelombang yang mungkin
dengan daya emisi dari benda hitam sebagai fungsi berat (weight
function).
Pada
saat daya emisi dari benda hitam berada pada kondisi maksimum yang. terus
berpindah kepada panjang gelombang yang lebih pendek seiring dengan
peningkatan temperatur (Wien Displacement), disimpulkan bahwa permukaan yang
lebih panas akan mengemisikan fraksi energi yang lebih besar pada panjang
gelombang yang lebih pendek, di mana nilai emisiaitas spectral akan meningkat yang
menyebabkan terjadinya peningkatan pada nilai emisivitas total.
J
0.8
(6
Gambar 12-19a
Spectral, normal
emisivitas untuk
aluminium dengan
permukaan yang
mempunyai
perbedaan
perlakuan
[sumber:
ref. 6
hal 1141
Gambar 12-19b
Totat,
hemispherical
emisivitas dari
beberapa logam
yang dilapisi
sebagai fungsi
dari temperatur
[sumber:
ref. 6
hal 971
'=
u.6
o 0_4
tr
E o.z
(r)
0.3
0.2
0.1
a
x
q
o
d
I
o
o.
E
o
ad
o
F
0.5 0.2 0.1
Arumini)Lultra-hieh
Aluminum'
-"'* ":9"
commercial
vacuum evaporatid
- - Theoretical (Hagen-Rubens) )
rr,.---r^-
l^
-r
I Tungsten
A Tantalum
0 Niobium
O Molybdenum
^r
*
o
l-^ .1,'
a
-l'
rL-
;
Gold
A Silver
O Copper
O Zine
tr Tin
O Lead
* O,"rr"":-qa
T
'q'o
f;b
,"{i^
trj
214 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Benda non logam hanya mempunyai sedikit elektron bebas. Di samping itu benda
non logam tidak mempunyai daya refleksi setinggi benda logam. Hal lain yang
menjadi perbedaan mendasar dari benda logam yang biasanya mempunyai
sifat kondrrktor yang baik adalah bahwa konduktor memancarkan energi pada
sudut azimut yang besar (dapat dilihat pada Gambar 72-20 di bawah). Pada
Gambar 12-21 dapat kita lihat nilai refleksivitas dari beberapa benda non logam
pada temperatur ruang.
(a)
Gambar 12-20
Emisivitas dari
bahan-bahan
konduktor dan
non konduktor
(a) es basah;
(b) kayu; (c) gelas
(d) kertas;
(e) tanah liat;
(f) oksida tembaga;
(g) oksida
aluminium
[sumber:
ref. 6
hal 931
Gambar 12-21
Spectral, normal
refleksivitas dari
MgO pada
temperatur ruang.
[sumber:
ref. 6
hal 1031
0.8 0.6 0.4
0, degrees
50 40
0.2
(b)
50
Panjang gelombang, ),, pm
16,67 72,5 10
600 800
Jumlah
gelomb ang,,r,,, cma
1.00
a-
rJ
0
a
r!
E
o
z
0.60
0.40
0.20
0.14 0.12 0.10 0.08 0.06 0.04 0 .0200.02 0.04 0.06 0.080.10 0.120.14
o Experimental
-
Theoretical
eo
=
3'01
ar= 7.702 x 1013 Hz
ur,
=
3.089 x 1013 Hz
Y, =
2.284 x 10rr Hz
u2
= 1.9L9 X 1013 Hz
u,2= 1.702 x 10rr Hz
y,
= 3.070 X 1013 Hz
1,. t,
BAB 12 * RADIASI PADA BENDA PADAT, CAIR DAN GAS 215
P doped, impurity 7.5 x 1019 cm{
'lafluence
of heat Heavily
treat- doped,
As, 0.3 x 10te
Bulk, polished
k oxklized
0.1 0.2 0.40.60.81 2 4 6 810
Wavelength ),, pm
40 60 80 100
Untuk permukaan dari benda non logam yang terlihat halus sifat-sifat radiasi
dapat dihitung dari nilai nilai indeks refraktif. Nilai-nilai indeks refraktif dari
material semitransparan pada temperatur ruang sebagai fungsi dari panjang
gelombang dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Wavelength ),, pm
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa untuk material kristalin menunjukkan
sifat-sifat spectral yang sama yaitu nilai indeks refraktif menurun secara cepat pada
bagian cahaya yang terlihat oleh mata, kemudian mendekati konstan pada bagian
pertengahan dari sinar infra merah dan setelah itu kembali menurun dengan cepat.
6
1.0
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0.0
Gambar 12-22
Spectral, normal
refleksivitas dari
silikon pada
temperatur ruang.
[sumber:
ref. 6
hal 1051
Gambar 12-23
lndeks refraktif
dari beberapa
material
[sumber:
ref. 6
hal 1061
J
o
!
G
o
z
e 3.0
.v
o
'o
J
(6
o
t 2.0
Fused silica
216 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
seperti pada medium padat atau cair, gas juga dapat menyerap dan
-"^*ur,.urkan
energi radiisi. Gelombang elecktromagnet dapat bertingkah-laku
seperti gelombang partikel. Partikel yang terdiri atas atom atau molekul-molekul
gur ..,"i1buwa sejumlah energi tertentu yang terdiri aJas energi kinetik (energi
iranslasi dari molekul) dan energi dalam. Molekul tersebut seringkali melepaskan
sebuah photon (menurunkan tingkat energi dalamnya) yang kemudian akan
diserap tleh molekul lain untuk meningkatkan tingkat energi dalamnya.
Poitulat mekanika quantum menjelaskan bahwa elektron hanya akan
mengelilingi nukleus (inti itom) pada orbit yang dijjinkan, dan selama gerakan ini
elektion tidak memancarkan atau menyerap energi (melepaskan atau menangkap
photon). Untuk dapat berpindah orbit maka elektron tersebut harus melepaskan
utu, *".,u.rgkap sejumlah photon. Berdasarkan phostulat ini juga disebutkan.pafwa
sejumlah
"ri"rgl
ying diserap atau dipancarkan pada frekuensi tertentu (hal ini
berarti pada panjang gelombang tertentu pula).
E=hf
(1,2-84)
Ada tiga bentuk peralihan energi radiasi yang terjadi pada dua tingkat energi
dalam satu atom:
L. Penyerapan
hf
Atom dalam keadaan E1 akan naik ke E2
elektromagnet)
2. Pemancaran Spontan
dengan menyeraP photon (gelombang
Atom dalam keadaan
photon hf.
E2-E1=hf
E2=E1+hf
E2 dapat bertransisi ke EL dengan memancarkan
BAB 12 {. RADIASI PADA BENDA PADAT, CAIR DAN GAS 217
3. Pemancaran Terangsang
E2+hf=E1+2hf
Atom dalam keadaan E2 jika dirangsang dengan photon hf dapat bertransisi ke
E1 dengan memancarkan photon hf.
Pertukaran radiasi antara gas dengan suatu permukaan perpindahan kalor jauh
lebih kompleks. Berbeda dengan kebanyakan benda padat, gas dalam banyak hal
bersifat transparan terhadap radiasi.
Jika
gas menyerap atau memancarkan radiasi,
hal ini biasanya terjadi pada pita panjang gelombang yang sempit. Beberapa gas
seperti
\,
O, dan gas-gas lain dengan struktur molekul simetri non polar, biasanya
bersifat transparan terhadap radiasi pada suhu rendah, sedangkan COr, HrO, dan
berbagai gas hidrokarbon memberikan radiasi yang cukup berarti.
Absorpsi radiasi dalam lapisan-lapisan gas dapat diuraikan secara analitis seperti
di bawah ini. Sebuah berkas radiasi monokromatik dengan intensitas I l. menimpa
lapisan gas dengan tebal dx, Berkurangnya intensitas sebagai akibat absorpsi pada
lapisan itu diandaikan sebanding dengan tebal lapisan dan intensitas radiasi pada
titik itu.
Jadi:
dl.
= -
a),1 )" dx (12-8s)
Di mana konstanta kesebandir.gan a.\ disebut sebagai koefisien absorpsi
monokromatik. Integrasi persamaan ini menghasilkan:
tii;
?=
r{-a.dx
(12-86)
atau
(12-87)
Persamaan (1,2-87) disebut sebagai hukum Beer dan memberikan rumus lapuk-
ekponensial yang biasa dijumpai pada analisis radiasi yang berhubungan dengan
absorpsi. Tranmisivitas monokromatik dapat dinyatakan sebagai:
Ttr-enL'
Jika
gas tersebut bersifat non-refleksi, maka:
I
r.,
lro
t^* d,^= 1
(12-88)
218 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
dan
d^=1-enL'
(1,2-89)
?dx
Seperti telah disebutkan di atas, gas sering menyeraP pada pita panjang
gelombang yang semPit, seperti terlihat pada Gamloa:"
1.'-25. Kurva-kurva ini
irenunjukkin pengiruh ketebalan lapisan gas terhadap absorpsivitas
monokromatik.
Gambar 12-24
Absorpsi dalam
lapisan
gas
E
(E
oE
tE
q,i
SE
t!
CL,i e CL
Gv;(E
J-o i
=
=$t
X c
-EF
=(E
=-tro o
E ,q'a
^i=
- (E
E o i-
OAE
E
'6
:<: P
gE$g
3s
Ft
@-.!l O
:Esos
i: o-
(E
S'AH H
c
(E;!,
(E-E
=
PE
"
5
oQ)o o
E;E F
o.
I-^
gN
E E
P;;E
'5E
e
=
EaEE
x
-s^^
=;j$r
o
=
trcD-
:T fi
E
'd
8'4o
sf;#
II
-,
!!t 6) o
i or'-
o
5 E
o._s
.vtf
E Eol G
G OF.=
EE
=rc
oolts
;r;:
L9r\R
9oY5
p
Eo
--
ii
-L--
3=63*
:E
3E,"$
0.(EetrX
b; s s6
i E,eE
g
ro
C\t
I
(\t
(E
.ct
E
(E
o
BAB 12 * RADIASI PADA BENDA PADAT, CAIR DAN GAS 2,19
c.t
@
N-'
60
6
-!
=E
o.E
bo
6!
'e
Nrt
A
\o
100'a. Persen
BAB 13
FAKTOR
PANDANG
Masalah yang sering timbul jika kita ingin mendapatkan suatu persamaan umum
untuk pertukaran energi antara dua permukaan jika kedua permukaan tersebut
mempunyai temperatur yang berbeda. Masalah tersebut adalah bagaimana
menentukan jumlah energi yang meninggalkan permukaan yang satu dan
mencapai permukaan yang lain.
Untuk menentukan nilai tersebut, maka kita perlu mendefinisikan suatu faktor
bentuk radiasi sebagai berikut:
Fr-,
=
fraksi energi yang meninggalkan
permukaan 2.
Fr-,
=
fraksi energi yang meninggalkan
permukaan 1.
F,,-n= fraksi energi yang meninggalkan
permukaan r.
Energi yang meninggalkan permukaan 1 dan sampai pada permukaan 2
sebesar:
Er_r= EorArFr,
(13-90)
Energi yang meninggalkan permukaan 2 dan sampai pada permukaan 1
sebesar:
permukaan 1 dan mencapai
permukaan 2 dan mencapai
permukaan m dan mencapai
;;',;',;t)
Er-,
=
EorArF,
(13-e1)
222 PRoSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIAS!
Jika
permukaan tersebut adalah permukaan hitam, maka seluruh radiasi yang
menimpa permukaan itu akan diserap, dan pertukaran energi netto ialah:
EorArFrr- EorArFr,
= Qr_,
(1,3-92)
Jika
kedua permukaan tersebut mempunyai temperatur yang sama, maka tidak
akan terjadi pertukaran kalor, artinya
Qr_r. =
0, sehingga:
E-E
Lbt
-
Lb2
A,F,,
=
4,F,, (13-e3)
sehingga
Q,
-,
=
ArF
r,
(Eo,
-
Eor)
=
ArFrr(Eo,
-
Eor)
0.3-94)
Persamaan (13-93) disebut sebagai hubungan resiprositas yang secara umum
berlaku untuk dua permukaan m dan n:
A*F*,= AnPn* (13-95)
walaupun hubungan itu diturunkan untuk permukaan hitam tetapi persamaan
tersebut juga berlaku untuk permukaan lain selama permukaan tersebut bersifat
baur (diffuse).
Sekarang kita akan menentukan persamaan umum untuk F, atau Frr. Unfuk itu
perhatikan Gambar (1,3-26), pada gambar itu kita mendapatkan unsur luas dA, dan
dA, sudut 0, dan ?ryang diukur antara garis normal (tegak lurus) terhadap bidang
dengan garis yang menghubungkan kedua unsur luas tersebut (r
).
Proyeksi dA,
pada garis antara kedua pusat: dArcos
0,. Jika
kita mengandaikan bahwa kedua
permukaan tersebut bersifat baur (dffise) yaitu intensitas radiasi yang dipancarkan
sama besar ke segala arah, maka energi yang meninggalkan dA, pada arah yang
ditunjukkan oleh sudut 0, ialah:
dq,
=
IodArcos o, (13-96)
di mana 1, adalah intensitas radiasi benda hitam. Radiasi yang sampai ke suatu
unsur luas dA, pada jarak r dari A, adalah:
,An
dq
r=
IadA.,coser;f (13-e7)
Besaran
doun
^"nunjukkan
sudut padat yang berhadapan dengan bid.ang dA,.
r-
Intensitas dapat kita peroleh dalam istilah daya emisi dengan mengintegrasikan
Persamaan (1,3-97) pada setengah bola yang melingkupi unsur Luas dA, (lihat
Gambar 13-27).
dAr= r2sin qded0
sehingga
Sekarang
oleh:
Eb dA'
=';ii;li"
'r'
Eo=Tllu
kita perhatikan kembali Gambar
BAB 13 * FAKTOR PANDANG 223
sin 0 cos 0d 0d <P (13-98a)
(13-e8b)
(1,3-26). Unsur lras dA, diberikan
dA, - cos 0, dA,
Gambar 13-26
Bagan unsur
bidang yang
digunakan untuk
menurunkan
faktor bentuk
radiasi.
[sumber:
ret.2 hal 4051
Gambar 13-27
Sistem koordinat
bola yang
digunakan untuk
menurunkan
faktor bentuk
radiasi.
[sumber:
ret.2 hal 4071
Gambar 13-28
Pandangan
elevasi luas
yang ditunjukkan
dalam Gambar (13-26)
[sumber:
ret.2
hal 4061
= cosor ,oror4!42(r,- Er)
Tar
-
Normal
.8
dA, cos
Q,
224 PROSES PERPTNDAHAN KALoR SEcARA RADTASI
sehingga energi yang meninggalkan dA, dan sampai di dA2 adalah:
dq.,-r= E, cos01 cos Or44!+
TV-
sebaliknya energi yang meninggalkan dA, dan sampai di dAl adalah:
dq
r.-,=
Ebzcos0r rorO.,44!
fi1'-
sehingga pertukaran energi bersih (netto) adalah:
4 netl-z=
(Eur- Ear)l^,
I^,
cos0, cos0,
oot:!'
NT
1.0
0.7
0.5
0.4
(1,3-ee)
(13-100)
(13-101)
Untuk dapat menyelesaikan persamaan di atas tersebut maka kita harus
mengetahui bentuk geometrik dari permukaan yang mengalami pertukaran radiasi.
Beberapa faktor bentuk radiasi dapat kita lihat dari gambar grafik di bawah ini:
Gambar 13-29
Faktor bentuk
radiasi antara
dua siku-empat
seiaiar
[sumber:
ret. 4
hal 7991
0.
0.2
0.1
0
0
0.04
0.03
0.02
0.01
0.2 0.3 0.5 1.0 2 3 4 5 10 20
xfi-
BAB 13
.S.
FAKTOR PANDANG 225
Gambar 13-30
Faktor bentuk
radiasi untuk
radiasi antara
dua piring
seiajar.
[sumber:
ret. 4
hal 7991
Gambar 13-31
Faktor bentuk
radiasi antara
dua siku-empat
tegak lurus
dengan satu sisi
bersama.
[sumber:
ret. 4
hal 8001
24
0.4 0.6 0.8 1
0.4 0.6 0.8 1
Gambar 13-32a
Faktor bentuk
radiasi untuk
dua silinder
konsentrik
dengan panjang
berhingga
(silinder luar
ke silinder itu
sendiri)
[sumber:
rel.2 hal 4111
Gambar 13-32b
Faktor bentuk
radiasi untuk
dua silinder
konsentrik
dengan panjang
berhingga
(silinder luar ke
silinder dalam).
[sumber:
ret.2
hal 4111
226 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
1n
0.9
0.8
0.7
0.6
-r 0.5
0.4
0.3
n)
0.1
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.7 0.8 0.9 1.0
) Contoh Kasus 13.1
Dua plat hitam sejajar ukuran 0.5 x 1.0 m terpisah pada jarak 0.5 m. Salah satu
plat berada pada temperatur 1000'C. Berapa pertukaran kalor radiasi antara
kedua plat tersebut?
Penyelesaian:
Perbandingan yang digunakan dengan menggunakan Gambar (1,3-29) ialah:
Y 0.5
-=_ D 0.5
x 1.0
_=_
D 0.5
=
1.0
=
2.0
BAB 13 * FAKTOR PANDANG 227
(13-104)
total yang mencapai
sehingga Fr,
=
0.285. Perpindahan kalor dapat dihitung dengan menggunakan
Persamaan (13-94)
yaitu:
4t2 =
ArFr, (En
-
Eb)
=
6 A, Fe (Tt4
-
Trn)
=
(5.669 x 10-,) (0.5) (0.285) (1,2734
-7734)
=
18.33 kW (62.540 Btu/h).
Beberapa persamaan yang menghubungkan faktor-faktor bentuk dapat diperoleh
dengan memperhatikan sistem yang digambarkan pada Gambar 1&33 dibawah
ini' Misalkan kita ingin mengetahui faktor bentuk untuk radiasi dari bidang A.
terhadap bidang gabungan Ar.r, faktor bentuk ini dapat kita peroleh dengan
menyusun persamaan yang sederhana yaitu:
Fr-r.r= Fr-, * Fr-, (13-102)
artinya, faktor bentuk total adalah jumlah
dari faktor-faktor bentuk yang
membentuknya. Persamaan (13-102) dapat pula kita tulis sebagai:
ArFr-r,r= ArFr-, * ArFr-,
dengan menggunakan hubungan resiprositas
A, F,
- r,r.
=
Ar,, F
r.r.
-,
ArEr-,
=
ArFr-,
ArFr-,
=
ArFr-,
sehingga persamaan itu dapat ditulis kembali sebagai:
A',.,, F
r,r.-,
=
A, F,
-,
+ A, F
r-,
dari Persamaan (13-104)
dapat kita simpulkan bahwa radiasi
permukaan adalah jumlah
radiasi dari permukaan 1 dan 2.
(13-103)
228 PROSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
r
'3-r,2
ArF
r-r,,
Ar,rF
r,r-,
A1
A"
F.-, + F.-,
ArFr_.,+ AsF.,_2
ArFr_r* Ar.Fr_,
A2
Gambar 13-33
Bagan yang
menuniukkan
beberapa
hubungan
antara faktor
bentuk
Gambar 13-34
Bagan siku
empat tegak
lurus dengan
sisi bersama
s-_- ,
Pada Gambar (1,3-34) kita dapat memperoleh faktor bentuk dari F,_, dengan
menggunakan faktor bentuk yang diketahui, untuk siku empat tegak lurus dengan
satu sisi bersama.
Sesuai dengan Persamaan (13-102) hubungan di atas dapat kita tuliskan sebagai
berikut:
Fr-r.r= Fr-r+ Fr-.,
Gambar 13-35
Gambar bagan
siku empat
tegak lurus
dengan dua
sisi bersama
BAB 13 * FAKTOR PANDANG 229
Baik nilai F,
- ,.,
maupun nilai F,
- ,
dapat ditentukan dari Gamb ar 1.3-31
,
sehingga
F,
_.
dapat dengan mudah ditentukan dari dimensi-dimesi yang diketahui.
Sekarang kita akan mencoba menyelesaikan persoalan yang lebih rumit pada
Gambar 13-35 di bawah ini. Kita ingin mendapatkan persamaan untuk F,
_ o
dengan menggunakan faktor-faktor bentuk seperti yang telah kita bahas pada
persoalan di atas. Sesuai dengan Persamaan (73-1,02), dapat kita tuliskan:
Ar.r. F
r.r- r.o
=
A, F
r -r,n
I A, F,
- r,n
(a)
Untuk faktor bentuk F
r,,
_
rn
dan F,
- ,,n
dapat kita
dan F,
_.,0
dapat dituliskan sebagai:
peroleh dari Gambar 1.3-31,
ArFr-u.n= ArF,-, + ArFr_n
Ar,rFr,r-r= A, Fr-. * ArFr-..
dari persamaan (c) ArFr_, dapat diselesaikan, kemudian hasilnya disisipkan ke
dalam persamaan (b), dari sini dapat kita peroleh persamaan A, F,
_.,0
yang akan
kita masukkan ke dalam persamaan (a) di mana akan kita peroleh persamaan
baru yaitu:
(b)
(c)
A',,, Fr,r-r,n
=
Ar,, F
r,r-,
-
ArFr
- u
* A, F
r, -,
t ArFr-
r,o
dari persamaan (d) semua faktor bentuk, kecuali F,
-,
dapat
Gambar 13-31 sehingga,
(d)
ditentukan dari
Fr-a
=
ftor,rrr,z-t,+*
ArFr-r- Ar,rFr,r-r- ArFr-r,n)
(13-105)
Dalam pembahasan di atas diandaikan bahwa benda-benda itu tidak dapat
melihat dirinya sendiri, artinya:
Fr= Fr,
=
Fr,
=
Fnn= 0
23O PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Supaya persamaan di atas lebih bersifat umum, kita harus memasukkan juga
kemungkinan bahwa permukaan tersebut merupakan permukaan lengkung yang
dapat melihat dirinya sendiri. Persamaan umumnya menjadi:
fi
I F..
=
1.0
j=t
(13-106)
di mana F,, ialah fraksi energi total yang meninggalkan permukaan I yang sampai
pada permukaan
j.ladi untuk lengkung tiga permukaan dapat kita tuliskan:
Frr+Frr+Frr=1,0
Di mana F,, adalah fraksi energi yang meninggalkan permukaan 1 dan menimpa
dirinya sendiri.
) Contoh Kasus 13.2
Dua silinder konsentrik yang memPunyai diameter 10 dan 20 cm' Panjangnya
20 cm. Hitunglah faktor bentuk antara ujung-ujung terbuka silinder tersebut.
Penyelesaian:
Gambar 13-36 dapat kita gunakan untuk menyelesaikan soal di atas, di mana
ujung-ujung yang terbuka kita namakan permukaan 3 dan 4. Kita ketahui bahwa
l/r,
=
2X/10 =
2,0 dan rr/r,
=
0,5; sehingga dengan melihat Gambar L3-36 kita
dapatkan:
Fr,
=
0,43 Fr,
=
0,33
Dengan menggunakan hubungan resiprositas (Persamaan 13-95) kita dapatkan
ArFrr= Ar.F^ dan F,,
=
(d2/d) Frr= (20/1,0) (0.43)
=
0.86
Untuk permukaan 2 kita daPatkan:
Frr+ Frr+ F.,.+ Fro= 1..0
Dari hubungan simetri antara Fu
=
Ern, sehingga
F
r,
=
F
ru
= Q,
/ 2) (1,
-
0,43
-
0,33)
=
0,12
Dari hubungan reiprositas diperoleh
A,F,,= 4,E,,
(n20.20)
E-
t
32-
0,12
=
0,64
10')
4
202
dan
n(
Fgo
=
1
-
0,1.87
-
0,64
=
0,173
13.3 PERTUKARAN KALOR AN
BAB 13 * FAKTOR PANDANG 231
kita lihat bahwa Fr,
=
Fr,
- F*= 0 dan untuk permukaan 3
Frr+ Frr+ F.n
=
1,0
Jika
besaran
{,
dapat ditentukan, maka besaran Frnyang dicari dapat dihitung.
Untuk permukaan 1:
Frr+ Fr, + Fr,
=
1,0
dan dari simetri Fr,
=
F* maka dapat kita peroleh nilai Frr, yaitu
F,,
=
( t / 2) (1.- 0,86)
=
0,07
Dengan menggunakan hubungan resiprositas kita dapatkan:
ArF
r, =
AzF
st
F,,
= lgr#lik
o,o7
=
0,187
(
nl20'- 10' I \
t
---z-
j
dengan menggunakan nilai tersebut ke dalam persamaan (a) akan kita
peroleh:
Perhitungan perpindahan kalor radiasi antara permukaan-permukaan hitam
cukup mudah karena semua energi radiasi yang menimpa permukaan itu
diserap. Masalah pokoknya ialah menentukan faktor-bentuk geometri; tetapi
apabila faktor itu telah ditentukan, perhitungan pertukaran kalor menjadi sa.,git
sederhana. Bila benda itu ialah benda-benda tak hitam (non black bodies), maka
situasinya menjadi lebih pelik, karena tidak seluruh energi yang jatuh di
permukaan itu akan diserap; sebagian akan dipantulkan kembali ke permukaan
perpindahan kalor yang lainnya, dan sebagian mungkin akan dipantulkan ke
luar sistem itu sama sekali. Masalahnya akan lebih rumit lagi jika energi radiasi
tersebut dipantulkan berulang kali diantara permukaan-permukaan perpindahan
kalor itu.
Sekarang kita mengandaikan bahwa semua permukaan tersebut bersifat baur
(diffuse)
dan mempunyai suhu seragam, mempunyai sifat refleksi dan emisi
konstan pada seluruh permukaan serta memiliki iifat-iradiasi dan radiositas yang
seragam pada setiap permukaan. Pertama-tama kita akan mendefinisikan dua
istilah baru yaitu:
232 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIAS!
G : iradiasi (irradiation)
Total radiasi yang menimpa suatu permukaan per satuan waktu
Per
satuan
luas.
|
: radiositas (radiocity)
Total radiasi yang meninggalkan suatu permukaan
Per
satuan waktu
per satuan luas.
Atau dengan kata lain radiositas adalah
jumlah energi yang
-dipSncarkan
(emisi) ,e-.tu et
"rgi
yang dipantulkan
(refleksi) apabila tidak ada energi
yang diteruskan
(transmisi):
I=
eEb+PC
(1,3-1.07)
Di mana e ialah emisivitas dan E, daya emisi benda hitam. Karena kita
mengandaikan nilai transmisivitas sama dengan nol, maka reflesivitas dapat
kita nyatakan sebagai:
P=L-c=1.-t
Sehingga:
I =
Eo+ (1
-
e)G
(13-108)
Energi netto yang meninggalkan permukaan itu ialah selisih antara radiositas
dan irradiasi:
l=t-G
-eEo+
(t-u)c
-c
Jika
kita nyatakan G dengan
/
maka dari Persamaan (13-108) kita peroleh
o =f;@o- t)
atau
Eu-l
n-L
'1
-
(
1
-
e\
[* ]
(13-1oe)
Sekarang kita berikan suatu interpretasi yang berguna untuk Persamaan
(13-109)
liku
denominator
(penyebut) dianggap sebagai tahanan permukaan
terhadap perpindahan kalor radiasi, dan numerator (pembilang) sebagai
beda potensial serta aliran kalor sebagai " arus "
,
maka,jaringan unsur- itu
dapaf digambarkan seperti pada Gambar 1,3-36 untuk mengSambarkan
situasi fiJis yang ada. Hal ini merupakan langkah pertama dalam metode
analisis
jaringan yang akan kita bahas lebih lanjut.
BAB 13 * FAKTOR PANDANG 233
Gambar 13-36
unsur yang
menggambarkan
" tahanan
permukaan "
dalam metode
iaringan
radiasi.
Gambar 13-37
Unsur yang
menggambarkan
" tahanan ruang "
Dalam metode
jaringan
radiasi.
1-E
,A
1
4,E,,
Sekarang kita tinjau pertukaran energi radiasi antara dua permukaan /, dan Ar.
Dari seluruh radiasi yang meninggalkan permukaan 1, jumlah yang mencapai
permukaan 2 ialah
I,A,F,,
Dan dari seluruh energi yang meninggalkan permukaan 2, yang sampai di
permukaan 1 ialah:
I,A,F,,
Pertukaran energi netto antara kedua permukaan itu ialah:
4r_z= IrArFrr- IrArFr,
(13-i10)
di mana
4,F,,
=
4,F,,
sehingga
4r.z= Ur- Ir)
ArFr,
=
(/,
- Ir)
ArF^
atau
r _f
Tt_z=#
(13_111)
7lA1FD
234 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Dengan demikian kita dapat menyusun unsur jaringan yang menggambarkan
Persamaan (13-111) seperti terlihat pada Gambar 13-37. Kedua unsur jaringan
yang ditunjukkan pada Gambar L3-36 dan L3-37 menggambarkan pokok-pokok
dari metode jaringan
-
radiasi ( radiation-netzuork method
).
Untuk menyusun
jaringan suatu soal perpindahan-kalor-radiasi tertentu, kita hanya perlu
menghubungkan "tahanan-permukaan" (1
-
e)/eA ke setiap permukaan, dan
"tahanan ruang" 1,
/
A-F
*_,
antara potensial radiositas. Umpamanya, dua
permukaan yang hanya saling bertukar kalor saja dan tidak ada yang lain akan
dapat digambarkan dengan jaringan seperti pada Gambar 13-38. Dalam hal ini,
perpindahan-kalor netto ialah beda potensial menyeluruh dibagi dengan jumlah
semua tahanan.
Eor'Ea,
4 n"t=
(1- e,)lerAr+ 1,f AiD+ (1- er)ferA,
rg14
-rf 1
(13-112)
4net=
(1- er)lerAr+ 1.f Ain+ (1- er)ferA,
Suatu soal tiga-benda ditunjukkan pada Gambar 1'3-37. Masing-masing benda
itu bertukaran kalor dengan dua permukaan lain. Pertukaran kalor antara benda
1 dan 2 ialah:
4 t-z
sedangkan antara benda 1 dan 3.
Ll
t-z -
--+
Gambar 13-38
Jaringan radiasi
untuk dua
permukaan yang
saling melihat
dan tidak melihat
permukaan yang
Iain.
-
Ir- I,
(
t )
t_t
IA'r" .,J
Ir- It
( r)
I
o't,,
.,l
1 -
t,
arAt
1,
A,F,,
1
-
tz
L2t t2
Gambar 13-39
jaringan
radiasi
untuk tiga
permukaan yang
saling melihat
satu sama lain,
tetapi tidak
melihat sesuatu
permukaan
lain.
BAB 13
...
FAKTOR PANDANG 235
Untuk menentukan perpindahan kalor dalam soal seperti ini, kita harus
menghitung nilai-nilai radiositas. Hal ini dapat dicapai dengan melakukan metode
analisis standar yang digunakan dalam teori rangkaian arus searah (de circuit
theory). Metode yang paling sederhana adalah menerapkan hukum Kirchhoff pada
rangkaian tersebut yang menyatakan bahwa jumlah
semua arus yang memasuki
suatu node adalah nol. Contoh Kasus 13.3 adalah ilustrasi penggunaan metode
ini untuk soal tiga benda.
) Contoh Kasus 13.3
Dua buah plat sejajar ukuran 0,5 x 1,0 m berjarak 0,5 m satu sama lain. Plat
yang satu dipelihara pada suhu 1000'c, dan yang satu lagi pada suhu 500" c.
Emisivitas plat itu masing-masing 0,2 dan 0,5. Kedua plat itu terletak di dalam
sebuah ruang yang sangat besar yang dinding-dindingnya dipelihara pada
temperatur 27' C. Kedua plat tersebut saling bertukaran kalor juga terhadap ruangan
itu sendiri, tetapi hanya permukaan plat yang saling berhadapan yang perlu
diperhatikan dalam analisis ini. Tentukan perpindahan netto energi ke setiap plat
dan juga terhadap ruangan itu.
Penyelesaian:
Soal ini merupakan soal tiga benda, dua plat dan sebuah ruang, sehingga jaringan
radiasi ialah seperti pada Gambar 13-39. Data yang diketahui:
Tr
=
1000oC=1,273K Ar= A,
=
0,5 m2
Tr=500"C=773K er=0,2
Ts=27" C=300K Er=0,5
Karena ruangan luasnya sangat besar, maka tahanan (1
-
er)
/
erA. dapat dianggap
sama dengan nol, sehingga kita peroleh nilai Eor=
Ir.
r'attoi bentuk diberikan
dalam Kasus 13.1:
236 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Frr= 0,285
=
F^
Frr=1-Frr=0,7'l'5
Frr=1-Frr=0,715
Tahanan dalam jaringan itu dapat kita hitung dengan menggunakan persamaan
tahanan dalam ruang dan tahanan bidang yang ada:
1-e,
_
1.-0,2
_ei
,n, (oa1s$
-
'''
'-
t,
= .]=..9!5_, =z,o
EzAz ( 0,5
)(
0,5
)
11
=
-
=
7n13
ArFr, ( 0,5
)(
0,285)
11
=
-
-
27o',7
ArFr, (0,5)(0,715)
11
=- =
2,797
AzFrt (0,5)(0,715)
Dengan menganggap (1- er)/erA. nol, maka kita mendapat jaringan seperti pada
Gambar 13-38. Untuk menghitung aliran kalor pada masing-masing permukaan,
maka kita harus menentukan niiai radiositas
/,
dan
/r.
sesuai dengan hukum Kirchhof
maka
jaringan ini dapat kita selesaikan dengan membuat jumlah arus kalor yang
memasuki node
/,
dan
/,
adalah nol:
Node l.Er,t-lr *lr-1, *Eat-1, -o
(a)
8,0 7,018 2,797
Node z,
I!-J-'*'':=J'+E'
-l'=o
(b)
7,018 2,797 2,0
Dengan menggunakan persamaan daya emisi dari benda hitam kita akan
memperoleh nilai:
Ear= xTra
=
5,669 x 10-8 x 12734
=
148,87 kW/m2
BAB 13
.}
FAKTOR PANDANG 237
T,= 270 C
o
r'
Tr
=
1000"C
(a)
Gambar 13-40
(a) skema
(b)
iaringan
D:
Err= oT
!=
I,
o)
Eor= oTra
=
5,669 x 10-8 x 773a
=
20,241' kw/m'?
Er.
=
oTrn
=
5,669 x L0-8 x 3004
=
0,4592 kW/m2
Dengan menyisipkan nilai-nilai Eur,Eurdan E* ke dalam persamaan (a) dan (b),
kita akan mendapatkan dua persamaan dengan dua faktor yang tidak diketahui,
yaitu
/,
dan
/,
yang dapat diselesaikan secara serentak, dan memberikan hasil:
Ir =
33,469 kW/m2
I, =
15,054 kW/m2
Kalor total yang dilepas dari plat 1 ialah:
Ear-
I,
,r,
-
fl
_-,
I
t'"n,]
1.48,87
-
33,469
8,0
=
1.4,425kW
238 PROSES PERPINDAHAN KALOR SEcARA RADIASI
Kalor total yang dilepas dari plat 2 ialah:
E,,2-
Iz
-
4z- 7-- : -
lI-tz I
l-l
I e,A, I
Kalor total yang diterima ruang
20,247
=
2,594kW
2,0
33,649
-0,4592
15,054
-0,4592
=
17,020kW
2,797 2,797
Dari sr-rdut neraca kesetimbangan maka kita mesti mendapatkan
4t= 4r
+ clz
Karena energi netto yang dilepaskan kedua plat tersebut seharusnya diserap oleh
ruangan itu.
jenis
persoalan lain yang dapat dengan mudah diselesaikan dengan
menggunakan metode jaringan radiasi adalah soal dua permukaan rata yang saling
bertukar kalor, tetapi berhubungan dengan permukaan ketiga yang tidak menukar
kalor, artinya permukaan ketiga ini diisolasi sempurna. Namun walaupun demikian
permukaan ketiga ini mempengaruhi proses perpindahan kalor, karena ia menyerap
dan meradiasikan kembali energi kedua permukaan yang saling bertukar kalor.
Jaringan
untuk sistem ini ditunjukkan oleh Gambar 13-41,. Perhatikan bahwa node
/,
tidak dihubungkan dengan tahanan permukaan radiasi karena permukaan ketiga
tidak bertukaran energi dengan permukaan lairLnya. Perhatikan pula bahwa untuk
nilai tahanan ruang tertulis:
r _1 r
t73- L-112
Frr=L-F,
Karena permukaan ketiga melingkungi kedua permukaan lain sepenuhnya.
Jaringan
pada Gambar 13-40 merupakan suatu jaringan parallel sederhana, yang
dapat diselesaikan untuk perpindahan kalor sebagai:
rAr(7",4-f;)
-/ net (13-1 13)
Ar+ Ar+
-2A$p
-
A,-AIF;f-
.(
l-r)*
[" )
er( 1.
A,t ;
,))
Persamaan (13-113) hanya berlaku ttntuk permukaan yang tidak melihai dirinya
sendiri, artinya F,, dan Frr= 0
BAB 13
.i.
FAKTOR PANDANG 239
Gambar 13-41
Jaringan radiasi
untuk dua
permukaan yang
melingkungi
permukaan
ketiga yang
tidak melakukan
konduksi tetapi
melakukan
radiasi kembali.
I,
EzAz
) Contoh Kasus 13.4.
Dua buah siku-empat 50 x 50 cm dipasang tegak lurus satu sama lain dengan
sebuah sisi sekutu. Salah satu permukaan mempunyai suhu T,
=
1000 K, El= 0,6
sedangkan permukaan yang lain diisolasi dan berada dalam keseimbangan radiasi
dengan ruang sekelilingnya yar.g berada pada suhu 300 K. Tentukan sudut
permukaan yang diisolasi dan kalor yang dilepas permukaan yang 1000 K.
Penyelesaian:
jaringan
radiasi dan skema untuk soal ini ditunjukkan oleh Gambar 73-42, di
mana permukaan 3 ialah ruang kamar dan permukaan 2 ialah permukaan yang
diisolasi. Ingat bahw a
I, =
Ear.hal ini dikarenakan ruangan tersebut sangat besar
sehingga nilai tahanan ruangnya (1
-
er)/erAr= 0. Karena permukaan 2 diisolasi,
perpindahan kalornya nol dan
I, =
Eor.Dari Gamb ar 13-29 kita dapat mengetahui
faktor bentuk dari:
Frr= Frr= 0,2
Oleh karen& Fr,
=
Frr= 0, kita dapatkan:
Frr+ Frr=2,0 dan Fr,
=
1
-0,2=0,8 =F*
A,
=
Ar.
=
(0,5)2
=
0,25 m2
Nilai tahanan yang lain:
E
1
-
s,
,r4
l'
1
4,F,,
1-e,
=
0,4
=2.662
etAr (0,6)(0,25)
111,
ArF
ru
ArF
r,
( 0,25
)
( 0,8
)
11
_
^nn
A,.Fr, (0,25)( 0,2)
- ^"'"
=
5r0
Gambar 13-42
(a) skematik
(b) jaringan
radiasi
240 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Ir=
Eo,
Juga
kita dapatkan:
Eo,
= $,669
x 108) (1000)4
=
5,669 x L0a W
/rn2
Iu =
Eor= (5,669 x 10-8) (300)4
=
459,2W/m2
Rangkaian keseluruhan merupakan susunan seri-paralel dan perpindahan kalor
adalah:
r
"b
t
(b)
E _tr
Lb7
u
=-
' R"kiu
Nilai tahanan keseluruhan adalah:
R"ki,
=
2,667 +
=
6,833
I
-+
5
1
(r0 + 5,
kalor yang terjadi:
56690
-
459,2
a =J=8,229kW
' 6,933
sehingga perpindahan
BAB 13 * FAKTOR PANDANG 241
Perpindahan
kalor ini dapat pula dituliskan:
^
-
Ea,-
I,
z -
11 -
e;
,e
dengan memasukkan
semua niiai yang diketahui,
8229=56690-11
(1_ 0,6)
(0^6 >< 02O
8229=56690-:r1
2,667
I r=
34,745W1^'
maka didapatkan:
Nilai
/,
dapat diperoleh dengan membagi tahanan antara
/1
dan
/,
sehingga
Ir- Iz
-
It- Iz
20 Z0+S
I z=
731.6
=
Ebz= oTrn
Temperatur
dari permukaan
yang diisolasi:
(
zile \r/+
"=[i,66r;Az )
=see'4K
Bila kita perhatikan
dua. buah. bidang sejajar tak--berhin gga, At d.an Arsama
;
sehingga faktor bentuk radiasi ,d'uluh-rutu
karena?-ri
radia"si yang
meninggalkan
bidang yang satu akan menc-apai bidang yang lain.
Jaring*.yu
s.1ma
:e.perti
pada Gambar 13-38.
perpindahan
kalor"
ier
iatuan-luas"dapat
diperoleh dari Persamaan (13-1,12)
dengan membuat A, !
Ardan F,,
=
1,0 jaii:
q o(T.,n
-
T,n)
A 1,ler +
Uer -
1
(13-1 14)
242 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Bila dua silinder panjang konsentrik saling bertukaran kalor kita dapat
menggunakan Persamaan (13-1i2) lagi. Persamaan ini dapat kita gunakan dengan
mengingat bahwa Fr,
=
1,0.
]adi:
oAr(Tra
-
rll
q=
(13-115)
1.
f
er+ (ArlAr)(1.le.r- 1)
Perbandingan luas A1/A2 dapat diganti dengan perbandingan diametet dr/d,
bila kita memperoleh benda-benda berbentuk silinder.
Persamaan (13-1,1,4) sangat penting bila diterapkan pada kasus limit benda
cembung (conaex) yang dilingkungi seluruhnya oleh permukaan cekung (concaae)
yang luas. Dalam hal ini A1/Az
-
0 sehingga dari Persamaan (13-114) diperoleh
hubungan sederhana sebagai berikut:
4
=
6 A, t1 (714
-
Trn) .
(13-11.6)
Persamaan ini dapat diterapkan dengan mudah untuk menghitung rugi energi-
radiasi dari benda panas dalam ruang yang besar.
) Contoh Kasus 13.5
Sebuah hemisfer (setengah bota) berdiameter 30 cm seperti pada gambar
mempunyai suhu tetap 500' C dan diisolasi pada permukaan belakangnya.
Emisivitasnya adalah 0,4. Hitunglah pertukaran energi radiasi dengan ruang
besar yang mempunyai suhu 30o C. Hitunglah pertukaran radiasi netto.
Penyelesaian:
Benda ini diketitingi seluruhnya oleh lingkungan besar di mana permukaan bola
itu tidak cembung; artinya, dapat melihat dirinya sendiri, oleh karena itu disini kita
tidak boleh menggunakan Persamaan (1.3-1.1.6). Pada gambar di bawah ini, kita
gunakan permukaan dalam bola itu sebagai permukaan 1, dan lingkungannya
sebagai permukaan 2. Kita ciptakan pula permukaan khayal3 yang menutup bukaan
itu. Sesungguhnya pada soal ini kita hanya mempunyai dua permukaan saja
(permukaan 1 dan 2), sehingga kita dapat menggunakan Persamaan (13-112) untuk
menghitung perpindahan kalor.
]adi,
Eo,
=
oTra
=
o (773)a
=
20241. W /m'
Eo,
=
6Tra
=
o (303)a
=
478 W /m'
A,
=
2nr'
=
(2) n (0,L5)'z
=
0,14'J.4 m2
1-er
etAt
0,6
karena Ar
-
*
(0,4)(0,1.4L4)
=
10,61
1
-
e"
sehingga:
ur;
-
o
hemisfer
berisolasi
Sekarang kita perhatikan bahwa semua
yang sampai ke permukaan 2 akan
Fr,
=
F,r. Kita ingat bahwa
ArFrr
=
A. F,
Tetapi, karena nilai F.,
=
1,0 sehingga
BAB 13 * FAKTOR PANDANG 243
O
tingt,rngan pada temperatur 30'C
radiasi yeng meninggalkan permukaan 1
mengenai pula permukaan 3, artinva
F F
A-\ fir2
Frt= 1.rt
=
-
=
-
=
0,5
A
^-ft
'
t L1 LlLl
jadi
=
1"4,L4
AtFp (0,1.41.4)( 0,5
)
sehingga dapat dihitung perpindahan-kalor dengan
besaran dalam Persamaan (1,3-11,2):
menyisipkan besaran-
q=
20247
-
478
10,61 +14,14+0
=
799tN
1'3;5' PERISAI RADIASI,,,
Salah satu cara untuk mengurangi perpindahan kalor radiasi antara dua
permukaan tertentu ialah dengan menggunakan bahan yang mempunyai refleksi
tinggi. Cara lain ialah menggunakan perisai radiasi (radiation shield) antara
244 PRosEs PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
permukaan-permukaan yang bertukaran kalor. Perisai ini tidak menyampaikan
dan tidak mengambil kalor dari sistem keseluruhan, ia hanya menambahkan
suatu tahanan lagi dalam lintas aliran kalor, sehingga memperlambat
perpindahan-kalor menyeluruh.
Perhatikanlah dua buah bidang sejajar tak berhingga pada Gambar 1,3-43. Telah
kita perlihatkan bahwa pertukaran kalor antara kedua permukaan itu dapat dihitung
dengan Persamaan (13-114).
s/A
-+
Pensar
(b)
Sekarang perhatikan dua bidang yang sama, tetapi dengan sebuah perisai radiasi
yang ditempatkan diantara keduanya, seperti pada Gambar 13-43b. Akan kita hitung
perpindahan-kalor untuk kasus kedua ini, dan kita bandingkan hasilnya dengan
perpindahan-kalor tanpa perisai.
OIeh karena perisai tidak menyerahkan ataupun mengambil kalor dari sistem
itu, perpindahan kalor antara plat L dan perisai harus sama dengan perpindahan
kalor antara perisai dan plat 2, itu adalah nilai perpindahan kalor menyeluruh.
Jadi,
Gambar 13-43
Radiasi antara
dua bidang
seiaiar tak
berhingga
dengan perisai
dan tanpa perisai
(a)
(q\
=(
!-')
=q
IA.J,-, lA),-,
A
q
_
o(Tr4-Tr4)
_
cQ!-r|)
A 1.fer+ tler-'L lfer+ 1.ler- |
(13-117)
Satu-satunya faktor yang tidak dapat diketahui dalam Persamaan (13-117) ialah
temperatur perisai Tr.
Iika
temperatur ini sudah kita dapatkan, maka
perpindahan kalor akan dapat dengan mudah dihitung.
Jika
emisivitas ketiga
permukaan itu sama, artinya t,
=
tz
=
ts, kita dapat hubungan sederhana:
Trn
='h.
(Tra + Tra) (13-118)
BAB 13
.:.
FAKTOR PANDANG 245
Dan perpindahan kalor adalah:
t
PoQl -
rr4)
1.
le,
+ 1.
le, -
1.
Tetapi, oleh kareno t,
=
t2, maka dapat kita lihat bahwa aliran kalor ini hanyalah
separuh dari aliran kalor yang terjadi apabila tidak terdapat perisai di situ.
Jaringan
radiasi yang berkaitan dengan situasi pada Gambar 13-43b diberikan
pada Gambar 13-44.
Soal-soal perisai
-radiasi
rangkap dapat dikerjakan dengan cara yang sama
dengan yang diuraikan di atas. Bila emisivitas masing-masing permukaan itu
berbeda, maka perpindahan kalor menyeluruh dapat dihitung dengan sangat mudah
dengan menggunakan jaringan radiasi seri dengan sejumlah unsur yang diperlukan,
seperti yang pada Gambar 13-44
Eo,
I, I,
E',
I, I,
q_
A
Gambar 13-44
Jaringan radiasi
antara dua
bidang seiaiar
yang dipasahkan
oleh sebuah
perisai radiasa.
1- er
gt
1 1-eg L-tg
1
F,, e3 3 F
rr.
1-ez
r2
Jika
emisivitas semua permukaan sama, kita bisa mendapatkan hubungan yang
cukup sederhana untuk perpindahan kalor bila permukaan yang kita persoalkan
itu berupa bidang sejajar tak berhingga. Umpamakan jumlah perisai ialah r. Dari
jaringan radiasi sistem itu, terlihat bahwa semua "tahanan permukaan" sama karena
emisivitas sama. Terdapat n + L "tahanan ruang", dan jumlahnya satu karena faktor
bentuk radiasi ialah satu untuk bidang-sejajar tak berhingga. Tahanan total dalam
jaringan itu tentulah
R(n p6risai)
=
( 2n + 2)T + (n +1)(1)
=
(r
Tahanan bila tidak terdapat perisai ialah
*e(
?
(
-')
R ( tanpa perisai
)
Kita lihat bahwa tahanan dengan menggunakan perisai besarnya n + 1 kali
tahanan tanpa perisai.
|adi,
11_2
=l*--1=I-1.
ttt
(
X
)
dengan perisai
=
":[
k)""0^perisai
(13-11e)
246 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Jika
suhu permukaan perpindahan kalor dibuat sama untuk kedua kasus (dengan
perisai atau tidak tanpa perisai radiasi). Metode jaringan-radiasi dapat pula
diterapkan pada soal-soal perisai yang melibatkan sistem silinder. Dalam hal
itu, kita harus menggunakan hubungan luas yang semestinya.
Hendaklah diingat bahwa analisis di atas, yang menyangkut bidang sejajar tak
berhingga, dilakukan atas dasar per satuan luas, karena di sini setiap bidang sama.
) Contoh Kasus 13.6
Dua bidang paralel yang sangat luas, yang mempunyai emisivitas 0,3 dan 0,8
masing-masingnya, saling bertukaran kalor. Tentukan
Persen Pengurangan
perpindahan kalor apabila di antara kedua bidang itu ditempatkan perisai radiasi
aluminium yang diupam (t
=
0,04).
Penyelesaian:
Perpindahan kalor tanpa perisai diberikan oleh:
q
=
. ?(Tr4 --,7|)
- = o,z79o(Tl
-
Trn)
A 1,ler+ l
ltr-
1
)aringan
radiasi untuk soal dengan perisai ditunjukkan pada Gambar 1.3-44.
Tahanannya ialah:
1-e,
_1-0,3
=2,333
t1 0,3
1-e
_1-0,04
=24,0
13 0,04
1-e,
=',-9't =0,25
e2 0'8
Tahanan total adalah:
2,333 + (2) (24,0) + (2) (1) + 0,25
=
52,583
dan perpindahan kalor
,-4-4,
q
_o\tt
tz)
=o,ol9o2agirr^l
V
-
sLsB3
sehingga perpindahan kalor berkurang 93,2 persen.
BAB 13 * FAKTOR PANDANG 247
) Contoh Kasus 13.7
Dua buah silinder konsentrik pada Contoh Kasus 13.2 mempunyai Tr
=
1000 K,
t,= 0,8. e,
=
0,2 ditempatkan dalam sebuah ruang besar pada 300 K. Silinder luar
berada pada keseimbangan radiasi. Hitunglah suhu silinder luar dan kalor total
yang dilepas dari silinder dalam.
Penyelesaian:
]aringan
untuk soal ini diberikan pada gambar di bawah ini. Ruang dianggap
sebagai permukaan 3, karena ruang tersebut sangat besar maka nilai
/, =
Eor.
Dalam soal ini kita harus memperhitungkan bagian dalam maupun bagian luar
permukaan 2, di sini kita gunakan subskrip I dan o untuk menandai kedua
besaran itu. Faktor-faktor bentuk didapat dari Contoh Kasus 13.2 yaitu:
F
r,
=
0,86
Fr.,= (0,12)
=
0,24
A,
=
fi (0,1) (0,2)
=
0,06283 m2
Az
=
n (0,2) (0,2)
=
0,12566 m2
Eor= (5,669 x 10-8) (1000)4
=
5,669 x 10a W/m2
Eor= (5,669 x 108) (300)4
=
459,2W/m'
Nilai-nilai tahanan untuk soal di atas adalah:
Frr= (2x0,07)=0,14
Fr
n=
1r0
= 33,16
1-er
=3.979
1
=T!3.7
trA, ArF
*
1-c
, o2
=
31,g3
EzAz
1
=
18.51
ArF.,,
ArF
rs,
1
=
7,958
ArFr*
]aringan
ini dapat diselesaikan sebagai suatu rangkaian seri-paralel untuk
mendapatkan perpindahan kalor, di mana kita juga harus mengetahui nilai
mencari
I' I,
dan
Ir".
Kita jumlahkan semua arus yang masuk ke setiap node
dan kita buat masing-masingnya nol.
248 PROSES PERPTNDAHAN KALoR SECARA RADIASI
Nodel,
'o!
,,,1
,
-Eu,,
- I,
*
In - I,
-
g
3,979 11.3,7 19,51
Node/,,
It- Izi
-Eot-
Ir,
*1,
- Ir,
=o
18,51 33,16 (2)(31,83)
Nodel.-
Ets-
Izo
*lzr-
Iro
-g
7,958 (2)(31.,93)
Penyelesaian ketiga persamaan itu memberikan
/r =
50.148W/m'
Izi =
27 .811'N
/
m'
Iu =
3498W
/m'
Perpindahan kalor dapat dihitung menggunakan persamaan di bawah ini:
a = l!r-
I
t
-
56690
-
50,148
=
1644W
'
(r-er)
3,979
elL,
Dari jaringan kita lihat bahwa
,
-
I zi
+
I u
-
2781'1' + 3498
Ebz=-T=T=15655\Nl^'
dan
(
sess
rl/a
l"=l- I
=724.9K
'
[
5,669 x 10-o
)
|ika
silinder luar tidak berada di sifu dan berperan sebagai "perisai", maka rugi
kalor dan permukaan 1 dapat dihitung dari Persamaan (13-116) sebagai
4
=
ErAt (Eil
-
E,.)
-
(0,8 x 0,06283 x 56.690
-
459,2)
=
2856 W
BAB 13 * FAKTOR PANDANG 249
7-a,
EzAz
Gambar 13-45
Jaringan radiasi
untuk Contoh
Kasus 13.7
L .2
,,A,
Jr=
Eo.
13,6 JARINGAN
ABSORPSI
RADIASI UNTUK
DAN TRANSMISI
MEDIUM YANG BERSIFAT
Dalam pembahasan terdahulu telah ditunjukkan metode-metode yang dapat
digunakan untuk menghitung perpindahan kalor radiasi antara permukaan-
permukaan yang dipisahkan oleh permukaan yang sepenuhnya transparan.
Banyak soal praktis yang melibatkan pula perpindahan kalor melalui medium
yang bersifat absorpsi di samping transmisi. Berbagai bahan kaca merupakan contoh
ini, contoh lain adalah gas.
Sebagai permulaan marilah kita tinjau suatu kasus sederhana, di mana
terdapat dua permukaan yang tidak bersifat transmisi dan saling melihat satu
sama lain serta tidak ada permukaan lain. Disamping itu kita andaikan ruang
diantara kedua permukaan itu berisi medium yang bersifat transmisi dan
absorpsi. Soal praktisnya mungkin berupa situasi di mana dua bidang luas
dipisahkan oleh gas yang bersifat absorpsr, atau oleh lembaran kaca maupun
plastik yang bersifat transparan. Situasi seperti ini digambarkan dalam bentuk
skema pada Gambar 1,3-46 di bawah ini. Medium yang transparan ditandai de-
ngan subkrip m.Kita andaikan bahwa medium itu tidak bersifat refleksi, sehingga
dari identitas Kirchhoff berlaku,
a.m+ xm *
=
l-
=
Em+ Tn (13-120)
Pengandaian bahwa medium itu bersifat non-refleksi adalah sahih (valid) untuk
gas, untuk plat kaca dan plastik hal ini mungkin tidak seluruhnya benar, di mana
nilai refleksi sebesar 0,1 merupakan hal yang biasa untuk berbagai bahan kaca.
Di samping itu sifat-sifat transmisi kaca biasanya terbatas pada pita gelombang
yang semPit, yaitu antara 0,2 dan 0,4 pm.
Jadi
analisis berikut ini sangat merupakan
idealisasi di mana tujuan utamanya adalah menjadi suatu permulaan bagi
penyelesaian soal-soal di mana kita harus memperhatikan transmisi radiasi.
250 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
1
ArF
rr(1 -
")
(b) unsur radisi untuk radiasi transmisi melalui medium
1
ArF
r*8,,
(c) unsur jaringan untuk pertukaran radiasi antara medium dan permukaan
Kembali ke analisis tadi, kita ingat bahwa medium itu dapat memancarkan dan
meneruskan radiasi dari permukaan satu ke permukaan yang lain. Tugas kita ialah
menentukan unsur
jaringan yang harus digunakan untuk menyatakan kedua proses
pertukaran. Energi yang dihansmisi dapat dianalisis sebagai berikut. Energi yang
meninggalkan permukaan 1 yang ditransmisi melalui medium dan sampai di
permukaan 2 adalah
I
,ArF ,.rx *
Dan yang meninggalkan permukaan 2 dan sampai pada permukaan L adalah
I
rArF rrx^
Pertukaran energi netto antara kedua permukaan tersebut dalam proses
transmisi adalah
(a)
2
Gambar 13-46
Sistem radiasi
yang terdiri dari
medium yang
bersifat transmisi
diantara dua
bidang (a) skema
(b), (c)
jaringan
radiasi
BAB 13 * FAKTOR PANDANG 251
41 -2t.uns^isi
=
AtFnx^(lr-lr)
=
ArFr{-(lr-lr) ( 1- t,)
Y 1-2 transmisi -
I r- I,
(1,3-1,21,)
(+)t'-"r
Sekarang kita perhatikan proses pertukaran antara permukaan satu dan
medium transmisi. Karena medium ini kita andaikan non refleksi, energi yang
meninggalkan medium (selain dari energi transmisi yang telah diperhitungkan)
adalah persis sama dengan energi yang dipancarkan medium
I* =
E* Eo,
Dan dari energi yang meninggalkan meCium itu, jumlah yang mencapai
permukaan 1 adalah
A^F
^r].
=
A.F
^,
E.t Eo^
Dari energi yang meninggaikan permukaan 1, jumlah yang mencapai transparan
itu adalah
I
,ArF ,^
a.*
= f
,ArF ,*E^
Di sini perlu kita catat bahwa absorpsi pada medium berarti radiasi yang
menimpa sudah "mencapai" medium. Sesuai dengan hubungan itu di atas
pertukaran energi netto antara medium dan permukaan 1 adalah perbedaan
antara jumlah
energi yang dipancarkan oleh medium ke permukaan 1 dan energi
absorpsi yang keluar dari permukaan 1.
Jadi
4 m
- hett
=
A*F
-re*Ea*
- I
rArF r*e*
Dengan menggunakan hubungan resiprositas kita peroleh
ArFr-
=
A-F-t
Ea*
- I,
a *-:*"t=
1
ArF
r*E*
(1,3-1,22)
Jaringan
radiasi total dapat dilihat pada Gambar (13-47)
Jika
medium transpor dijaga pada suhu tetap, maka Er,
menurut
E.
=6Ta
bm
potensial ditetapkan
252 PROSES PERPTNDAHAN KALOR SECARA RADIASI
ArFp(1
-e,)
I,
Gambar 13-47
Jaringan radiasi
total untuk
sistem pada
Gambar 13-45
1
-
t,
cA
u11r1
-'I
ArF
,,,
e
n,
Gambar 13-48
Sistem radiasi
yang terdiri
dari dua lapisan
transmisi antara
dua bidang
I
ArF
,^e
^
Di lain pihak apabila tidak ada energi yang diberikan pada medium, maka Er.
akan menjadi node yang mengapung, di mana potensialnya ditentukan oleh
unsur-unsur lain pada jaringan itu.
Pada kenyataannya, fakor-faktor bentuk radiasi Fr_r, Fr_*, dan Fr_. mempunyai
nilai 1 dalam contoh ini, sehingga persamaan perpindahan kalor dapat sedikit
disederhanakan, akan tetapi, faktor bentuk ini harus tetap dimasukkan ke dalam
persamaan tahanan jaringan agar analisis kita dapar bersifat umum.
Bila kita mempunyai persoalan pada proses pertukaran kalor antara permukaan-
permukaan kelabu melalui gas yang bersifat absorpsi, kesulitan utama ditemukan
dalam menentukan nilai dari transmisivitas dan emisivitas gas. Sifat-sifat ini selain
merupakan fungsi temperatur gas juga merupakan fungsi ketebalan lapisan gas,
artinya transmisi radiasi dari lapisan gas yang tipis lebih besar daripada lapisan
gas yang tebal.
Perhatikan situasi fisis pada Gambar 13-48 di bawah ini. Dua buah permukaan
yang melakukan radiasi dan absorpsi dipisahkan oleh dua lapis media yang transmisi
dan absorpsi. Lapisan-lapisan ini mungkin merupakan dua helai media transparan,
seperti kaca. Kedua lapisan pemisah ini kita tandai dengan subskrip m dan n.
2
BAB 13 * FAKTOR PANDANG 253
Pertukaran energi antara permukaan 1 dengan m diberikan oleh
4 t._* =
ArFr*e*l
t-
A*F*tE*Eb^
=
Ir-Eo*
(1,3-123)
1
4F*%
dan antara permukaan 2 dan n ialah
4 2_ n =
ArF
rnE* I , -
AnF
,rErE bu
=
Ir-
Eu,
(1.3-1.24)
(t)
t_l
I
Arrr,e,,
)
Dari energi yang meninggalkan permukaan 1, jumlah yang sampai pada
permukaan 2 adalah
4r-z=
ArFrrlrX,,Xn= ArFrrl
,(1
-
e,) (1
-
e,)
dan dari energi yang meninggalkan permukaan 2, jumlah yang sampai pada
permukaan 1 adalah
4z_t =
AF.,l2T,T.
=
ArFrrlr(1- e,) (1
-
e,,)
sehingga pertukaran energi netto melalui transmisi antara permukaan 1 dan 2
adalah
41-2transmisi=
ArFt.(1
-
Em)0
-
er)(lt-
I) =
It-lz
(1,3-1,25)
(tlarrrr)(l- e*
Xr
*
u,
)
unsur jaringan
yang menggambarkan transmisi ini digambarkan pada
Gambar 1.3-49.
Aio(1.
-
e,,
)(1 -
e,,
)
Gambar 13-49
Unsur
jaringan
untuk radiasi
yang ditransmisi
antara dua
bidang
Dari seluruh energi
n adalah
yang meninggalkan permukaan 1, jumlah
yang diserap oleh
Qt_n =
A,F,,7^En
=
ArF,,lr(7
-
Er) E,
254 PROSES PERPINDAHAN KALOR SEcARA RADIASI
demikian pula,
4r
-
n
=
ArF
rrl ,T*
=
ArF
rrerEor(1
-
e.)
karena
In =
E,Eo,
pertukaran kalor netto antara permukaan 1 dan n adalah
4 t-nnetto=
AtFr, (7
-
e*)e,(l
t-
Eu-)
=',,',/',-' l"
-,-
(13-726) - on /
(l
lA1F1,)(1 -
e.
)e,
unsur
jaringan yang menggambarkan situasi ini ditunjukkan pada Gambar 13-50.
Gambar 13-50
Unsur
jaringan
untuk radiasi
yang ditransmisi
oleh medium ke
bidang 1
AlFh(7
-
e",)e"
Dengan cara yang serupa, pertukaran netto antara permukaan 2 dan m adalah
I z-
Ea*
(1,3-1,27)
-t
z-mnet
(.
lAzF2*)(1 -
e,)e.
Dari seluruh radiasi yang meninggalkan m, jumlah yang diserap r adalah
4.,
= I
^A^F
rrd,
=
A*F
^rE^ErEo^
dan a
=AF
eeE.
tn fr n nfr n m on
sehingga pertukaran energi netto antara m dan n adalah
4 mnnet=
A^F*rE^8,(Ea*
n \
to^
-J!
-
(13-128)
' -
Lb')=
lrJA^F*n)E*En
untuk jaringan yang menggambarkan perpindahan energi ini diberikan pada
Gambar 13-51.
BAB 13 * FAKTOR PANDANG 255
Gambar 13-51
Unsur
jaringan
untuk pertukaran
radiasi antara
dua lapisan
transparan
Gambar 13-52
Jaringan radiasi
total untuk
sistem dalam
Gambar 13-48
1
An F
n ,En,E,
ArFrr(1
-
e,,
)(1 -
e,
)
I,
Bentuk akhir jaringan untuk keseluruhan proses perpindahan-kalor ditunjukkan
pada Gamb ar 13-52, di mana telah ditambahkan tahanan permukaan.
jika
kedua
permukaan yang bersifat transmisi (m dan n) dipelihara pada temperatur tertentu,
maka penyelesaian jaringan itu menjadi relatif lebih mudah karena hanya ada dua
potensial
/,
dan
Iryang
perlu ditentukan untuk mengetahui berbagai besaran
perpindahan kalor. Dalam hal ini kedua lapisan transmisi itu akan menyerap atau
melepaskan sejumlah energi tertentu, tergantung pada temperatur lapisan itu
sendiri.
Apabila tidak ada energi netto yang diserahkan ke lapisan transmisi, node Er,
dan Er, harus dibiarkan "mengapung" dalam analisis itu, untuk soal demikian
diperlukan empat persamaan node untuk meyelesaikannya.
E E
1
A-E
-"r,,r-
ArFr, (1,
-
e-)e,
ArFr,, (1
-
e,
)e,,
'..',P,-E/:i,RT,U1KAR.A,N
Dalam semua pembahasan di
antara permukaan-permukaan
atas, kita hanya membahas pertukaran radiasi
yang bersifat baur. Bahkan faktor bentuk yang
256 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
kita definisikan dengan Persamaan (13-105) berlaku hanya untuk radiasi baur,
karena dalam menurunkan hubungan itu kita anggap radiasi tidak mempunyai
satu arah tertentu. Dalam bagian ini, analisis akan kita lanjutkan dengan
memperhitungkan berbagai bentuk geometri yang sederhana yang melibatkan
permukaan yang mungkin memberikan refleksi spekular (sudut pantul sama
dengan sudut datang irradiasi). Sebetulnya tidak ada permukaan yang benar-
benar diffuse atau spekular.
Dengan menganggap bahwa semua permukaan yang kita perhatikan disini
memancarkan radiasi secara baur, tetapi memantulkan radiasi secara spekular, sebagian
secara baur. Oleh karena itu, kita anggap bahwa refleksivitas itu merupakan jumlah
dari komponen spekular dan komponen baur.
0 = P,
+
P,
(13-129)
Kita anggap pula bahwa identitas Kirchhoff masih berlaku di sini, sehingga
t=0=1-p (13-130)
Kalor netto yang dilepas dari suatu permukaan adalah selisih antara energi
dipancarkan dan energi yang diserap:
4=A(eEr-oG)
(13-131)
Kita definisikan radiositas baur (dffise radiosity)
/,
sebagai jumlah
energi yang
bersifat baur (dffise energy) yang meninggalkan suatu permukaan per satuan
luas per satuan waktu, atau
Io=eEo+ooC
(L3-1.32\
Dengan mendapatkan G dari Persamaan (1,3-L32) dan menyisipkannya ke dalam
Persamaan (13-131) kita dapatkan
eA r- /
q
=;[r,(u+pn)-1")
jika dituliskan dalam bentuk lain,
Ea-lol(1-p,)
(13-133) q=
polLeA(t
-
p,)l
di mana ,
- 0,
digunakan untuk menggantikan e + pr. Dengan mudah terlihat
bahwa Persamaan (13-133) dapat digambarkan dengan unsur jaringan
seperti
pada Gambar 13-53. Pemeriksaan sepintas akan menunjukkan bahwa unsur
jaringan ini dapat disederhanakan menjadi seperti pada Gambar 1.2-36, untuk
kasus permukaan di mana terdapat pemantulan secara baur semata-mata, yaitu
untuk p,
=
0
BAB 13 {. FAKTOR PANDANG 257
Gambar 13-53
Unsur
jaringan
yang
menggambarkan
Persamaan (13-133)
Gambar 13-54
Io
E'
V'Vv
1-e'
go
eA (1
-
ps)
a
Sekarang marilah kita hitung pertukaran radiasi antara dua permukaan difusi
spekular. Untuk sementara, kita andaikan bahwa kedua permukaan itu tersusun
seperti pada Gambar 13-54. Dalam susunan ini, setiap radiasi baur yang
meninggalkan permukaan 1 yang dipantulkan secara spekular oleh permukaan
2, tidak akan terpantul balik secara langsung kepermukaan 1. Hal ini penting
sekali, karena untuk eliminasi pantulan demikian, kita hanya memperlihatkan
pertukaran baur langsung antara kedua permukaan itu.
Untuk kedua permukaan dalam Gambar 1.3-54, permukaan baur diberikan oleh
4r-z= IroArFr,
(1
- Pr,)
4z-t= IrArFr,
(1
- Pr,)
(13-134)
(13-13s)
Persamaan (13-134) menunjukkan radiasi baur yang meninggalkan permukaan
1 dan sampai di permukaan 2 serta dapat memberikan sumbangan pada
radiositas permukaan 2. Faktor 1
-
p, menunjukkan fraksi yang diserap ditambah
fraksi yang dipantulkan secara baur. Penambahan faktor ini sangat penting
karena kita hanya meninjau pertukaran radiasi secara baur, untuk sementara
kita mengabaikan sumbangan refleksi spekular. Permukaan netto diberikan oleh
selisih antara Persamaan (13-134) dan (13-135). Unsur jaringan yang
menggambarkan Persamaan (13-134) ditunjukkan pada Gambar 13-55.
I, l(1- Pzs ) - I zo I 0 - Pr,)
4p=
lllAf
D(1 -
pr,)(1
-
pr,)l
(13-136)
258 PROSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
-+
4p
Ain('
-
pr.
)(1 -
p:.
)
Pada Gambar 13-56 di bawah ini terdapat ruang pengurung dengan empat
permukaan panjang. Permukaan 1,,2 dan 4 memberikan refleksi baur, sedangkan
permukaan 3 mempunyai komponen refleksi spekular dari komponen refleksi baur.
Garis-garis putus menggambarkan bayangan cermin permukaan 1,2 dan 4 pada
permukaan 3. (refleksi spekular memberikan bayangan cermin). Nomenklatur 2
(3) menandai bayangan cermin permukaan 2 pada cermin 3.
Gambar 13-55
Unsur
jaringan
yang
menggambarkan
Persamaan (13-136)
Gambar 13-56
Sistem dengan
sebuah
permukaan
spekular baur
1,2,4 : permukaan refleksi baur
3 : permukaan refleksi spekular baur
Sekarang perhatikan radiasi dari 2 yang mencapai 1. Terdapat radiasi baur
Iangsung
(4,
-
,)r,rrr, rangsung
= I
rArF r,
(1'3-1'37)
sebagian dari radiasi baur dari 2 dipantulkan secara spekular pada 3 dan
menimpa L. Radiasi yang dipantulkan spekular ini bertindak sebagai energi baur
(dffirse energy) yang datang dari permukaan 2 (3). jadi,
dapat kita tuliskan
(4r
-
,)r"n"or, spek*lar
= I,
Art, Fr(r),
Pr,
(13-138)
Faktor-bentuk radiasi Fr,r,, ialah faktor-bentuk antara permukaan 2(3) dan
permukaan 1. Refleksivitas pr, disisipkan di sini karena hanya fraksi radiasi ini
yang sampai ke 1. Tentu saja Ar= Ar(r\. Sekarang kita dapatkan
4z_.r= IrA2(Fr,
+ pr, Fr1r1r)
Penalaran yang sama menghasilkan
(13-13e)
4r_z= IlAr(F,,*
pr, Frr,r) (13-140)
Jika
Persamaan (13-139) dan
hubungan resiprositas ArFr,
=
BAB 13 * FAKTOR PANDANG 259
(13-140) digabungkan dan dengan menggunakan
ArFr' maka akan kita dapatkan
(13-141)
ialah Gambar 1,3-57.
4n=
Ir- L
1.1
lAl
(Frz +
Pr,
Fr1alz
)l
Unsur jaringan yang menggambarkan Persamaan (13-141)
Gambar 13-57
Unsur
jaringan
untuk
Persamaan 13-141
Gambar 13-58
Jaringan radiasi
lengkap untuk
sistem dalam
Gambar 13-56
7-ez
EzAz
Ar(F
rn
+ pss Fzrsl,r
)
1-et
e,A.
In
\
1- g:s
\
Io
/
Qso
e.Ar(1 + p..,
) A.Fn.(l + pr,
)
permukaan 3 semata-mata
I
,o=
erE
o,
Ar(F
,,
+
0ss
Frrgrz
)
Unsur-unsur jaringan
analog dapat dikembangkan untuk radiasi antara
permukaan-permukaan lain pada Gambar 1.3-56, sehingga jaringan lengkapnya
menjadi seperti pada Gambar i3-58. Perlu diingat bahwa unsur yang
menghubungkan
/r,
merupakan modifikasi sederhana yang ditunjukkan dalam
Gambar 13-55, karena g,,
= 0r, =
pr,
=
0. Suatu pengamatan yang menarik untuk
jaringan ini ialah untuk kasus pr,
=
0.
Ar(F
r,
+ gss Frrstz)
1
-
e,
ttAt
1
A,Frr(1 + pr,
)
AlF.,+ pgsFrrerz)
ArFrr(1 + pr,
)
Dalam hal ini
spekular, dan
260 PROSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
Sehingga hanya tiga parameter yang tidak diketahui, yaitu
I' Irdan Io,bila
permukaan 3 bersifat refleksi-spekular semata-mata.
Sekarang, soal ini kita buat setingkat lagi lebih sulit, dengan membuat
ruang-kurung itu mempunyai dua permukaan spekular-baur, seperti pada
Gambar 13-59. Dalam hal ini terbentuk bayangan rangkap seperti pada gambar.
Permukaan 1(3,2) ialah bayangan permukaan 1 terlihat dan 3, kemudian 2. Dengan
kata lain, itulah permukaan 1(3) pada cermin 2. Pada lokasi itu juga terdapat
permukaan 1(2,3) yang merupakan bayangan permukaan 1(2) pada cermin 3.
Gambar 13-59
Sistem dengan
dua permukaan
spekular baur
1, 4 : permukaan refleksi baur
2,3 : permukaan refleksi spekular baur
Soal ini lebih rumit karena di sini kita harus memperhatikan bayangan spekular
rangkap. Perhatikan pertukaran antara permukaan 1 dan 4. Energi baur yang
meninggalkan 1 mungkin sampai pada 4 melalui lima cara:
1(2,3)
Langsung:
Refleksi pnda permukaan 2 saja:
Refleksi pada permukaan 3 saja:
Refleksi pada permtrkaan 2 lalu 3:
Refleksi pndn permukaan 3 lalu 2:
I,A,F,,
IrA',Frrrtn Pu
I
rArF rt tn
Pr"
I
rA,
Pr" Pr"
F
r(r,s\n
]
rA,
Pr, Pu,
F
r.t ,4n
Faktor bentuk yang terakhi., F,,r.r,n ialah nol karena permukaan 1(3,2) tidak dapat
melihat permukaan 4, kalau melihat melalui cermin 2. Di lain pihak, F,,r,.,n tiduk
nol, karena permukaan 1(2,3) dapat melihat permukaan 4 ketika melihat melalui
cermin 3.
Jumlah
semua suku tersebut ialah
4t
-
t
= I
1At
(Fu i
Pz,
F,.@q+
4,
F,rrln t
9r, 2uF,,r,r,o)
Demikian pula
(13-142)
4q-t=IrAn(F''* PuFntt,
I
Pr"Fno,+ Pt,P
r,Fntu,ztr)
(13-143)
jika
kedua persamaan ini dikurangkan satu sama lain, dan kita terapkan
hubungan resiprositas, maka kita dapatkan unsur jaringan seperti pada
Gambar 13-60.
Gambar 13-60
Unsur
jaringan
yang menunjukkan
pertukaran antara
permukaan 1
dan 4 dalam
Gambar 13-59
Gambar 13-61
Unsur
jaringan
yang menunjukkan
pertukaran antara
permukaan 1
dan 3 sesuai
dengan Gambar 13-5
Gambar 13-62
jaringan
radiasi
lengkap untuk
sistem pada
Gambar 13-59
Izo
/'
\A,l"'
1-P"
1
@
Jn
1-p:s
BAB 13 I. FAKTOR PANDANG 261
1
A, (F,,. p"Fl(a,, - phJ@, -
fu,p".f ffia)
Sekarang mariiah kita perhatikan pertukaran baur antara permukaan 1 dan 3.
Dari energi yang meninggalkan L, jumlah yang disumbangkan untuk radiositas
permukaan 3 ialah
Qr_z= IrArFrr(1-
pr,) +
IrA,
pr"Fr(r\t (1
-
p,) (13-1aa1
Suku pertama menunjukkan pertukaran langsung, dan suku kedua pertukaran,
sesudah satu refleksi spekular melalui cermin 2. seperti juga tadi faktor 1
- P:,
dimasukkan agar refleksi spekular dari permukaan 3 tidak diperhitungkan.
Refleksi ini, tentulah nanti diperhitungkan dalam suku-suku lain. Energi baur
dari3kelialah:
4z
-
t
= Iro
A. Fr, +
IroArQr.,Frt
t,
(13-145)
Suku pertama ialah radiasi langsung, dan suku kedua radiasi setelah refleksi
spekular pada cermin 2. Gabungan Persamaan (1,3-1,44) dan Persamaan (13-145)
memberikan unsur jaringan seperti pada Gambar 13-61.
4rt
-+
4rz
-+
262 PRoSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
A
B
C
D
E
F
C
H
I
T
1- sr
etAt
1
1
-
e,
,A^
1
ffi
1,
ffi
1
An(l
-
pr,
)(Fn,
+ pe,Fnrrla)
1
Ar(1
-
pr,
)(Fr,
+ ps,Frrslz)
Pso
'+f1
-pJ
1
ArFrr.(1
-
pr,
)(r
* pr,
)
9zo
;A,o
- ;;
Kedua unsur di atas merupakan contoh khas untuk ruang-kurung
Gambar 13-59, di mana unsur-unsur lain dapat diturunkan dengan analogi lengkap.
Jika
permukaan 2 dan 3 reflektor spekular murni, artinya
P2p=P3p=0
maka kita dapatkan
I2p =
ErEo,
I3p =
ErErt
di mana jaringan itu melibatkan dua parameter yang tidak di ketahui, yaitu
/,
dan
Jn,
dalam kasus ini.
Gambar 13-63
Sistem fisis
untuk
menganalisis
!apisan-lapisan
yang bersifat
transmisi dan
ref leksi
BAB 13 * FAKTOR PANDANG 263
(1,3-1,46)
(1,3-147)
Sekarang kita perhatikan suatu lanjutan sederhana dari penyajian dalam
Bagian 13.7 dan 13.8 untuk menganalisis medium di mana modus-modus
refleksi, transmisi dan absorpsi semuanya penting. Seperti dalam Bagian 13.7,
kita analisis dua bidang baur sejajar yang diantara keduanya terdapat suatu
medium yang dapat menyerap, melewatkan, dan memantulkan radiasi. Agar
bersifat umum, kita andaikan bahwa permukaan medium yang melakukan
transmisi memPunyai komponen refleksi baur dan komponen spekular. Sistem
ini digambarkan pada Gambar 13-63
7
tt/A
---',
2
Untuk medium m yarrg melakukan transmisi, berlaku
ar*9.o*P.:*x,r=1
demikian juga,
t^= a-
Radiositas difusi permukaan tertentu suatu medium didefinisikan oleh
I
*o
=
E-Eo- +
e^oG
di mana G ialah iradiasi permukaan tertentu. Ingat bahwa
/,D
tidak lagi
menunjukkan energi baur total yang meninggalkan permukaan.
"Sekarang
/j,
!1"y1
menunjukkan emisi dan refleksi baur-. Energi yang ditransmisi fkan
diana-lisis dgngan menggunakan suku-suku baru. seuagaimana sebelum ini,
pertukaran kalor ditulis
4=A(eEr-aG) (13-148)
264 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Dengan menyelesaikan G dari Persamaan (1,3-1,47) dan menggunakan
Persamaan (1,3-1,46) didapatkan:
Eo*-l*"1$-x*-Q*s)
q-
g^,
llE^A,,(l -
r*
- P,s )]
(1.3-149)
Unsur
jaringan yang menggambarkan Persamaan (1,3-1,49) ditunjukkan pada
Gambai 1.3,-e4. Unsur ini sangat serupa dengan Gambar 13-53 kecuali disini
kita harus memperhitungkan transmisi.
Gambar 13-64
Unsur
jaringan
yang
menggambarkan
Persamaan (13-149)
I o,o
r"
W"
1-"'-P"
o-.^
e^A,,(1'+'c^-P,,5)
Pertukaran energi yang ditransmisi antara permukaan 1 dan 2 sama dengan
Bagian L3.7 yaittt:
-
I'- I,
Lt |
1l ArF
1rr*
(13-150)
Pertukaran kalor antara permukaan 1 dan m dihitung dengan cara berikut.
Dari seluruh energi yang meninggalkan permukaan 1, jumlah yang mencapai m
dan menyumbang ke radiositas baur m ialah
Qr
-
*
= I,
A, E
r,,
(1
-
'c*
-
p,,) (13-151)
Energi baur yang meninggalkan m mencapai L ialah
4^-t=l*oA^F*t
(13-152)
Setelah mengurangkan Persamaan (13-151) dari (13-152), dari hubungan
resiprositas,
ArF
rn,
=
A^F
*,
Kita peroleh:
L-I*, l(1 -r^-9^s)
4 t*
=
t
llArF r-o -
"^
-
pil] (13-153)
BAB 13
.I.
FAKTOR PANDANG 265
Unsur jaringan
yang menggambarkan Persamaan (13-153) sangat serupa dengan
Gambar 13-55. Persamaan yang serupa dengan Persamaan (13-153) dapat pula
kita tuliskan untuk pertukaran radiasi antara permukaan 2 dan m.
jariigan
lengkapnya dapat digambarkan pada Gambar 1.3-sz.
perlu
dicatat bahwa
l^,
menunjukkan radiositas baur di sebelah kiri m, sedangkan
/-,
menunjukkan
radiositas baur disebelah kanan m.
lika
m berada pada suhu tetap tertentu, maka
/,
dan
/,
harus didapatkan sebagai
penyelsaian
Persamaan-persamaan
node jaringan itu. Di lain pihak, jika tidak ada
energi netto yang disampaikan ke m, maka Er, merupakan node yang mengapung,
dan jaringan
itu menjadi suatu susunan seri-paralel sederhana. Temperatur m harus
diketahui untuk dapat menyelesaikan jaringat Er*.
Gambar 13-65
jaringan
radiasi
lengkap untuk
sistem dalam
Gambar 13-63
I^o 7
,Fr,
(1
-
r^
-
p,,s)
I,,O
7-x--Prls
1-Tr,-o,s
e^A* (L
-
x^
-
g,s) e,,A* (-l
-
x*
-
p^s)
Analisis dapat kita lanjutkan selangkah lagi, dengan membedakan transmisi
spekular dan transmisi baur. Transmisi spekular ialah di mana radiasi yang datang
diteruskan lurus melalui bahan sedang transmisi difusi ialah bila radiasi yang dutur,g
menyebar pada waktu melalui bahan itu, sehingga bila keluar di balik bahan itu
dalam orientasi yang rambang (random) dalam ruang. Sebagaimana dengan energi
yang dipantulkan, diandaikan bahwa transmisi dapat dinyatakan sebagai komponen
spekular dan komponen baur.
x=Ts+T,D (13-154)
Radiositas baur dapat didefinisikan dengan Persamaan (13-147), pertukaran
energi netto dengan permukaan yang mentransmisi diberikan oleh
Persamaan (13-149).
1
AE +
/Llt
12tn|
E
BAB 14
PERHITUNGAN
PERPINDAHAN
KALOR DENGAN
FORMULASI
NUMERIK DAN
SOFTWARE
14.1 FORMULASI
Metode jaringan yang kita gunakan untuk menganalisis soal-soal radiasr
merupakan akal yang efektif untuk memandang pertukaran radiasi antara
permukaan. Untuk soal-soal yang sederhana, yang tidak melibatkan terlalu
banyak permukaan, metode jaringan menghasilkan penyelesaian yang dapat
dicapai dengan agak mudah. Tetapi, apabila soal itu melibatkan banyak
permukaan perpindahan kalor, maka akan lebih menguntungkan bila kita
menyusun suatu prosedur penulisan persamaan node. Untuk prosedur itu kita
perhatikan permukaan-permukaan buram, kelabu dan baur saja. Neraca energi-
radiasi untuk suatu permukaan buram tertentu dapat ditulis:
268 PROSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
Energi netto yang dilepas permukaan
=
energi yang dipancarkan
-
energi yang diserap.
Atau atas dasar satu satuan dengan pengandaian benda kelabu seperti biasa,
L=eE,.
-
q,G
AU
Perhatikan permukaan ke-1, maka iradiasi total ialah jumlah semua iradiasi G,
I
dari permukaan-permukaan j yang lain.
Jadi,
untuk r
=
cl
-/\
4,
=r.l
e,.
-tG.
I
q='[',,-
1",
)
(14-15s)
Tetapi, iradiasi dapat dinyatakan dengan
ArlrF,i-- G,A, (14-1.56)
Dari resiprositas, kita dapatkan
A,F,,= 4,F,1
sehingga persamaan-persamaan itu dapat kita gabungkan dan diperoleh
a, f \
?=u,lro,
-LF,,l
il
04-1s7)
^i
( /
)
Perpindahan kalor pada setiap permukaan ditentukan dengan menggunakan
radiositas
/,.
Parameter-parameter ini diperoleh dengan mengingat bahwa
perpindahan kalor dapat pula dinyatakan sebagai:
l=
l,-G, =l
i -LF,ill (14-158)
Aii
Dengan menggabungkan Persamaan (14-157) dan (14-158) kita dapatkan:
I , -(t-si ))F, I
1
=eiEo,
(14_159)
J
Dalam persamaan di atas, perlu dicatat bahwa penjumlahan harus dilakukan
untuk semua permukaan dalam ruang-kurung itu. Untuk ruang-kurung tiga
permukaan, dengan i
=
1 penjumlahan itu menjadi
\F,il
i =F.,J t+Fn] z+F.ul z
l
(14-160)
BAB 14 * PERHITUNGAN PERPINDAHAN KALOR DENGAN FORMULASI NUMERIK DAN
SOFTWARE 269
Tentu saja, jika permukaan 1 cembung, F
r,
=
0 dan kita harus membuat semacam
penyederhanaannya.
Persamaan-persamaan node untuk radiositas dapat pula diturunkan dari node-
node dalam formulasi jaringan. Pada setiap node
/,,
neraca energi memberikan
f;tu
u, -1,)*IF,
(l
,-1,)=o 04-161)
r-tt
I
kembali, kita akan mendapatkan untuk setiap
/,
persamaan yang setara dengan
Persamaan (1,4-159).
Jika
seluruh persamaan sudah kita buat, maka dapat
dinyatakan dalam bentuk matriks sebagai berikut:
l,AlUI=[C]
di mana
[A] =
Penyelesaian untuk
sehingga:
[]=
It
Ii
[c]=
(1,4-1,62)
c1
ci
radiositas diperoleh dengan mendapatkan inversi
[A]
[/]=[A]-'[C]
|bfi
bD b|
inversi
IA 1-'dapat
dituliskan sebagai:
1e1-' -la"
b" b"
sehingga radiositas yang tidak diketahui dapat ditulis sebagai:
Ir=
brrc, + brrC, + ... + brC,
I,=
b,,C, + b,rCr+ ... + b,,C,
Untuk mendapatkan matriks inversi dan melakukan perhitungan untuk
mendapatkan
/-
sudah tersedia sub rutin komputer yang sudah baku. Laju
perpindahan kalor pada setiap permukaan ke-I dihitung dari
4r'
=.''
(En,-1,)
Ai r-E;
(14-163)
270 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Dalam merumuskan persamaan node, harus diingat bahwa untuk
permukaan yang diisolasi tidak terdapat perpindahan kalor netto. Maka dari
Persamaan (14-1.63) dapat dilihat:
E
o,
= I,
untuk permukaan yang diisolasi
(1.4-1.64)
Dari sudut pandang praktis, skema iterasi Gauss-Seidel mungkin merupakan
prosedur numerik yang paling efisien untuk menyelesaikan perangkat persamaan
/,.
Untuk skema Gauss-seidel persamaan-persamaan di atas harus disusun dalam
bentuk eskplisit untuk
/,.
Penyelesaian
/,
dari Persamaan (L4-1,59) dan pemecahan
suku F,, menghasilkan:
I,
.z.F
i1 I
,,rr,]
Ii
=(r -
e;)
1
l+(1
-e,)F,,li+e,Eo,
1-F,,(t-r,)
(L4-16s)
Untuk permukaan yang berada pada keseimbangan radiasi, q,/ A,
=
0 dan
/r
=
Ell dapat disubstitusi ke dalam Persamaan (14-165) sehingga diperoleh:
[(r-,,)EFri*
,
,=,
I, =
T+
1Z,F,,l
i
untuk
4i
Ai
- 0
0,4_1.66)
Dari Persamaan (14-163) dapat kita peroleh hubungan seperti di bawah ini:
1-e,
Q i
r _t
Lai
=J,*
, i
G4-167)
Jika
nilai ini disubstitusikan ke dalam Persamaan (14-1,59), maka nilai untuk
radiositas
I,
dapat kita peroleh:
I, =;F,[ou,t, ,
,.T)
(14-168)
Singkatnya di bawah ini akan kita gariskan prosedur perhitungan untuk
menyelesaikan numerik perpindahan kalor radiasi antara permukaan-permukaan
kelabu yang bersifat baur.
Prosedurnya adalah:
1. Menentukan nilai F,, dan e- untuk semua permukaan,
2. Menentukan nilai E, untuk semua permukaan pada temperatur yang
ditentukan.
3. Merumuskan persamaan-persamaan node untuk
/,
dengan menggunakan:
a. Persamaan (1,4-L64) untuk permukaan dengan T,yang ditentukan
b. Persamaan (14-1,65) untuk permukaan dalam neraca radiasi
U, =
Eo,)
BAB 14 * PERHITUNGAN PERPINDAHAN KALOR DENGAN FORMULASI NUMERIK DAN
SOFTWARE 271
c. Persamaan (14-167) untuk permukaan dengan
4,
tertentu.
4. Menyelesaikan persamaan-persamaan tersebut untuk
/,.litu
mengikuti iterasi
Gaus-Seidel maka hal yang harus dilakukan:
a. Mengandaikan nilai awal1,. Untuk perhitungan dengan menggunakan
mesin besar maka nilai awal ini dapat digunakan nol. Untuk perhitungan
dengan mini komputer atau cara perhitungan singkat gunakan rekaan
awal yang terbaik.
b. Hitung kembali semua nilai
/,
sesuai dengan langkah 3, dengan selalu
menggunakan nilai-nilai terbaru untuk perhitungan ini.
c. Hentikan perhitungan apabila suatu presisi 6 yang memuaskan sudah
dicapai, yaitu di mana
Ii*',-li
< 6
di mana n adalahjumlah iterasi.
5. Menghitung nilai q, dan T, dengan menggunakan:
a. q, dari Persamaan (14-163) utuk permukaan abu-abu, dan persamaan
(14-158) untuk permukaan hitam dengan temperatur T, yang ditentukan.
b. T, dan
I, =
Eo,
=
o T
!
untuk permukaan neraca radiasi
c. T- dengan menggunakan Er. didapat dari Persamaan (14-167) untuk
permukaan dengan
4iyang
telah ditentukan.
Persamaan-persamaan tersebut dapat ditulis dalam bentuk berikut, jika inversi
matriks lebih dikehendaki daripada cara iterasi:
1,ft -
F,,(1
-e, )l-
(t
-
ei)ZF
ii I
i
=
eE
u,
1=t
I ,$-F,,)-
l.F,il ,
=o
l=r
I,(t-F,,)- EF,il
,=T
J=t
Ai
(L4-1.65a)
$a-166a)
(14-168a)
Setelah kita membahas mengenai bagaimana menyelesaikan proses perpindahan
kalor radiasi secara numerik, di bawah ini kita akan membahas suatu kasus yang
akan kita selesaikan dengan menggunakan perhitungan biasa dan dengan
menggunakan software.
Sebuah kotak berbentuk kubus mempunyai rusuk 1m. Kondisi permukaan atas:
T
=
100'C, E
=0,7.
Permukaan bawah: T
=
4OoC, e
=
0,5. Ke-empat sisi yang lain
272 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIAS!
mempunyai E
=
0,6. Dua sisi saling berhadapan mempunyai T
=
70"C sedang
dua sisi lain mempunyai T
=
60"C. Hitunglah perpindahan kalor radiasi untuk
masing-masing sisi dengan menggunakan metode numerik.
Penyelesaian:
Keterangan gambar:
1 : permukaan depan
2 : permukaan belakang
3 : permukaa kanan
4 : permukaan kiri
5 : permukaan atas
6 : pemukaan bawah
(T
=70"C,e=0,6)
(T=70"C,e=0,6)
(T
=
60" C, e -- 0,6)
(T=50"C,e=0,6)
(T
=
100' C,e
=
0,7)
(T=40"C,r=0,5)
penyelesaian:
Sebelum kita menyelesaikan kasus di atas, perlu terlebih dahulu kita memberikan
batasan yang jelas mengenai permukaan yang saling mengalami perpindahan
kalor. Permukaan di sini kita batasi sebagai permukaan yang bersifat kelabu
dan bersifat baur (diffuse) dan tiap permukaan tidak dapat melihat dirinya
sendiri.
Langkah-langkah penyelesaian berikutnya adalah:
1.. Menentukan nilai F-, dan nilai e, untuk tiap permukaan dengan menggunakan
Gambar 14-29 dan 14-31 kita dapat memperoleh faktor bentuk atau faktor
pandang untuk setiaP sisi permukaan.
Frr= Fr,
=
Fr,
=
Fnn= Fuu
=
Fuu
=
0
Fr,
=
Fr,
=
Frs
=
Fru= Frr= Fro= Fru= Fru
=
Fgs
=
Fru= Fou= Fnu= 0,2
Fr,= Frn= Fso-- 0,2
2.
Nilai emisivitas untuk tiap permukaan dapat dilihat
Menentukan besarnya energi yang diPancarkan oleh
temperatur permukaan yang telah ditentukan.
pada gambar di atas.
tiap permukaan untuk
w
/m' Eb,
=
6 Trn
=
5.669 X 10-8.(343)4
=
784,6626
BAB 14 * PERHITUNGAN PERPINDAHAN KALOR DENGAN FORMULASI NUMEHIK DAN
SOFTWARE 273
Eb2= o Trn
=
5.669 x 10{ .(343)4
=
784,662 W/m'
Ebu
=
6 Tr^
=
5.669 x 10-8 .(333)4
=
697,081.2W /rn'
Ebn= 6 Tnu
= 5.669 x 10{ .(333)4
=
697,081.2tN
/m'
Ebu
=
6 Trn
= 5.669 x 10-8 .(373)4
=
1.097,341W
/m'
Ebu
=
6 Tun
= 5,669 x 10-8 .(313)4
=
544,1064W
/rn'
Merumuskan persamaan-persamaan untuk node
/,
dengan menggunakan
Persamaan (14-158a) untuk permukaan dengan temperatur yang telah
ditentukan.
IrLl -F11(1 -
t,)l
-
(1
-
e1)lF',l2+ F,J, + FrJn+ F,Ju + FrJuT
=
ErEb,
IrU -
F22(1
-
er)l
-
(1
-
e2)lF2rlr+ FrJr+ FrJn+ FrJr+ FrJ)
=
ErEb,
Irll -F33(1 -
t3)l
-
(1
-
s3)[F31l1 + Frrlr+ FrJr+ FrJ, + FrJ61
=
erEb,
I
n[t
-
F
44(7 -
s4)]
-
(1
-
E4)lF
4rl t
+ F
n
l,
+ F
nJ ,
+ F
nJ ,
+ F
nJ )
=
erEb,
IuU -Fss(1 -
es)l
-
(1
-
ss)[Fs1/, + F5rlr+ FrJ. + FrJ, + FrJ)
=
ErEb,
Iu[t-
F66(1
-tJ] -
(1
-
s6)[F61l1 +Furlr+ FuJr+ FuJ, + Fuulrl
=EuEbu
Menyelesaikan persamaan di atas dengan menggunakan metode matriks
yaitu:
lAl [B] = [c]
lBl = [A]-1 [C]
I,- $ -
0.6)
10.2 I,
+ 0.2
l,
+ 0.2
ln
+ 0.2
lu
+ 0.2
lul =
470,7975
I,- Q -
0.6)
[0.21r+
0.2lr+ 0.2ln+ 0.2l, + 0.2Ju]
=
470,7975
Ir- 0 -
0.6)
10.21,
+ 0.2lr+ 0.2ln + 0.2l, + 0.2l)
=
4L8,2487
In- 0 -
0.6)
10.2 I,
+ 0.2
l,
+ 0.2
l,
+ 0.2
Is
+ 0.2
l) =
41.8,2487
/u -
(1
-
0.7)
[0.2 I,
+ 0.2
l,
+ 0.2
l,
+ 0.2
lu
+ 0.2
l) =
768,139
Iu- $ -
0.5)
[0.21,
+ 0.2l, + 0.2l, + 0.2
J,
+ 0.2lul
=
272,0532
a
J.
4.
274 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
1.000
-
0.08
-
0.08 1.000
-
0.08
-
0,08
-
0.08
-
0.08
-
0.06
-
0.06
-
0.10
-
0.10
tal
-
0.08
-
0.08
-
0.08
-
0.08
1,000
-
0.08
-
0.08 1.000
-
0.05
-
0.06
-
0.10
-
0,10
-
0.08
-
0.08
-
0.08
-
0.08
-
0.08
-
0.08
-
0.08
-
0.08
1.000
-
0.06
-
0.10 1.000
[c, ]
470.7975
470.7975
418.2487
41,8.2487
768.139
272.0532
II ,
It
Iz
Iz
In
Is
Io
la l' [c,]
1.049 0.123
0.123 L.049
0.1.23 0.123
0.123 0.123
0.094 0.094
0.151 0.151
0.123 0.123
0.123 0.123
1..049 0.123
0.123 1.049
0.094 0.094
0.151 0.151
0.126 0.121
0.126 0.121
0.126 0.121
0.126 0.121
1.039 0.093
0.1554 1.058
470.7975
470.7975
418.2487
41.8.2487
768.L39
272.0532
784.6399
784.6399
735.9836
735.9836
991,.1313
675.2910
Ir=784.6399W/m2
Ir=787.6399W/m2
Ir=735'9836W/m2
Io=735'9836W/m2
Ir=991'131'3W/m2
Io=675'29L0W/m2
5. Setelah nilai radiositas diperoleh maka dapatlah kita hitung nilai perpindahan
kalor dari suatu permukaan dengan menggunakan Persamaan (1,4-156)
lr ,)=
BAB 14 {. PERHITUNGAN PERPINDAHAN KALOR DENGAN FORMULASI NUMERIK DAN
SOFTWARE 275
CA
4t= #(rur-
r
-
tr
.A
a
"
-
:2::2-(fA"
-
l-Ez
.A
qu=
#(eur_
r
-
s
qn=jL(cun-
I
-
tq
cA
4s=#(ruo_
I
-
ts
.A
qu=#(rar_
l-Es
/,)=
L)=
/r)=
In)=
/,)=
I)=
f#
Qa+oozo
f#
(7846626
ffi*geroa-
f+#gozoa-
Y#
Qooz.z+ -
se1.ts)
=
2.33 x 106.21.
=
247.8vt
f#
g++.u
-
67s.zs)= 1 * (- :rlt,ts)=
-131.1e\\'
-
784.$99)
=
1.5 x 01227
=
0.03 \4I
-
784.6399)
=
1.5 x 0,0227
=
0.03 \\
rc5.95)
=
1.5 x (- as.g)
= -
58,35 W
n5.98)
=
1.5 x (-
gA.q)
= -
58.35 \4'
Neraca energi menyeluruh adalah jumlah dari seluruh perpindahan kalor yang
terjadi di mana kalor yang terjadi di mana kalor yang dilepaskan oleh tiap
permukaan tersebut seharusnya diserap oleh ruangan (ruang kurung antara
permukaan).
1n",u,u = 4t+ 4z+ 4s+ 4s+ 4s+ 4o
=
0.03 + 0.03 + -58.35 + -58.35 + 247.8 +
-13L.1.9
= -
0.00107 W
lifi5tpffixifrxcAN DEryclfi.ffiNGffN,,.bd'ntNnier
DATA MASUKAN
Dimensi ruang m
Tinggi ruang 1.00
Lebar ruang 1.00
Panjang ruang 1.00
276 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIAST
HASIL KELUARAN
Faktor Pandang antara Permukaan-permukaan
Depan 1 0.6 70
Belakang 2 0.6 70
Kanan J 0.6 60
Kiri 4 0.6 60
Atas 5 0.7 100
Bawah 6 0.5 40
a
*:::;1
.:a':a:)aaaa:raaaaal:ljj a@?:\
7
o
0.2 0.2 0.2 0.2 0.2
2 0.2 0 0.2 0.2 0.2 0.2
a
J 0.2 0.2 0 0.2 0.2 0.2
4 0.2 0.2 0.2
n
0.2 0.2
5 0.2 0.2 0.2 0.2 0 0.2
6 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0
Perpindahan Kalor:"
_,
@@(watts) ;:_-
Depan 784.6399 0.8
Belakang 784.6399 0.8
Kanan 735.9836
-
57.6
Kiri 735.9836
-
57.6
Atas 991,.1,31,3 248.7
Bawah 675.291
-
130.6
BAB 15
HUBUNGAN
EMISIVITAS
DENGAN
KONDUKTIVITAS
f,5.i1'-. 94, 4h, BEIaKANG,,
pEu
eurtarv
iis:2ri TUJ UA N,,
p
E ru r ulunru
Dalam perencanaan dan pembuatan sebuah alat perpindahan kalor yang baik
perlu diperhatikan ketiga mekanisme perpindahan kalor yang mungkin terjadi.
Yaitu konduksi, konveksi dan radiasi. Ketiganya dapat menjadi dasar
pertimbangan di dalam pemilihan bahan yang akan digunakan. Karakteristik
perubahan emisivitas bahan merupakan sifat termal yang perlu diketahui jika
kita ingin merencanakan sebuah alat perpindahan kalor di mana proses
perpindahan kalor radiasi menjadi proses paling dominan.
Untuk lebih memahami karakeristik perubahan emisivitas material khususnya
metal sebagai fungsi temperatur maka perlu diadakan suatu penelitian di
laboratorium. Karena metal merupakan penghantar kalor yang baik maka perlu
diketahui hubungan antara emisivitas suatu material dengan konduktivitasnya.
Penelitian ini bertujuan untuk:
278 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Memperkenaikan dan menjelaskan salah satu metode pengukuran emisivitas
normal permukaan nyata metal.
Mendapatkan harga emisivitas dari beberapa
jenis pelat yang dijual secara
komersial di pasaran.
Mempelajari hubungan karakteristik
temperatur.
Mempelajari hubungan karakteristik
konduktivitas kalor metal.
.iIIiI EfODE,,] P.EN E LIT IA N,
,1,t.ar'
fi $ANG' Ll r.rG kU P
1.
2.
.-) .
4.
perubahan emisivitas metal terhadap
perubahan emisivitas metal terhadap
I Sebelum dilakukan penelitian, terlebih dahulu diadakan seleksi material yang
akan dipakai dalam penelitian' Seleksi ini didasarkan pada:
.
Material yang digunakan berbentuk pelat dengan ketebalan 2 mm'
o Ketersediaan material di pasaran
o Nilai konduktivitas yang mewakili tiga daerah nilai tinggi, sedang dan
rendah.
Setelah material yang dibutuhkan tersedia, selanjutnya material-material
tersebut dipotong berbentuk lingkaran dengan diameter 19 cm sesuai dengan
spesifikasi peralatan uji.
pelat
ini kemudian dipanaskan oleh sebuah pemanas elektrik sampai satu
nilai temperatur tertentu. Panas yang diberikan kepada pelat ini dapat diatur
besarnyioleh sebuah regulator temperatur. Energi
Panas
yang diterima oleh
pelat kemudian diradiasikan ke segala arah.
i,unm yang dipancarkan oleh pelat ini kemudian ditangkap oleh sebuah
radiorneteitermopil.
Radiometer termopil ini terhubung langsung dengan
mili volt meter yang dapat menunjukkan besarnya fluks energi radiasi yang
diterima. Setelah didapat data dari hasil pengukuran di atas maka dapat
dihitung harga emisivitas normal pelat tersebut. Harga emisivitas normal
ini kemudian dibandingkan dengan konduktivitas kalor dari material yang
sama. Konduktivitas kilor yang dipakai sebagai pembanding didapat dari
buku referensi. Perbandingan ini dapat dilihat pula dalam bentuk grafik
antara emisivitas normal dengan konduktivitas untuk
jangkauan
temperatur 125'C sampai dengan 425' C.
Dalam penelitian ini perlu diadakan pembatasan masalah untuk memperjelas
ruang lingkup pembahasan. Adapun pembatasan tersebut ialah:
r Dalam penelitian ini emisivitas yang akan diukur adalah emisivitas normal,
yaitu emisivitas untuk pancaran radiasi yang arahnya tegak lurus permukaan
Lahan. Hal ini sesuai dengan spesifikasi peralatan yang digunakan.
I Penelitian ini dilakukan hanya untuk material penghantar kalor.
I Karena sulit untuk mendapatkan sampel dengan dimensi sesuai dengan
spesifikasi alat uji (plat dengan tebal 2 mm), maka pada penelitian awal ini
BAB 15 * HUBUNGAN EMISIVITAS DENGAN KONDUKTIVITAS 279
Gambar 15-66
Peralatan
perpindahan
kalor radiasi
digunakan hanya 5 jenis
sampel. sebagai sampel dipilih tembaga, kuningan,
seng, aluminium dan stainless steel yang mewakiti tiga daerah hintaran kilor
yaitu tinggi, sedang dan rendah.
r
Standar kekasaran permukaan bahan yang digunakan adalah seperti apa
ad.anya dari pelat yang ada di pasaran. Ini untuk menghindari perubahan
sifat emisivitas akibat perlakuan terhadap permukian matLrial, dan
kekasaran pada kondisi ini bisa dianggap mendekati sama antara pelat-pelat
komersial.
Pengukuran radiasi-kalor pada umumnya merupakan pengukuran fluks energi
radiasi. Deteksi fluks ini dapat dilaksanakan dengan .t
"Lkrku.,
pengukuran
atas suhu sebuah pelat tipis yang terkena radiasi. Pelat ini biasanya dih]tamkan
supaya dapat menyerap sebagian besar energi radiasi yang menimpanya, dan
dibuat setipis mungkin untuk meminimumlur, kapasitas-kaiornya.
iambar
termopil yang lebih..terperinci
dapat dilihat pada Gimbar 15-68. Termopil ini
dibuat dalam 104 lilitan per inchi perak konitantan yang dipasangkan di utu,
untuk mengadakan suatu percobaan eksperimental dalam mengamati
karakteristik perubahan emisivitas metal diperlukan peralatan yang cukup
memadai- dan prosedur tertentu. Percobaan ini menggunakan sebuih peralatan
perpindahan kalor radiasi (radiation heat transfer experimental apparatis) untuk
mengamati fenomena radiasi yang terjadi. Data-data yang akan diambil pada
pengujian ini adalah temperatur permukaan sampel, temperatur radiometer,
f.luks yang diterima radiometer dalam mili-volt, dan variasi jarak
yang
digunakan. Diagram skematik dari peralatan perpindahan kalor radiasi adalah
seperti terlihat pada Gambar 15-66. Peralatan ini menggunakan radiator termopil
sebagai detektor radiasi dan disusun seperti Gambai-tS-e6.
Sam
surf
Conical
Shield
l-t
E
uple
Digita
Multi
Volt
Meter Couple Setector
280 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SECARA RADIASI
rumahan berbentuk silinder yang bagian dalamnya dihitamkan. Dua buah pelat
tipis aluminium yang dihitamkan ditempelkan pada sambungan itu. Perisai
belakang mempunyai celah yang sempit sehingga pelat pada sambungan panas
dapat terkena energi radiasi dari sampel. Sedangkan pelat pada sambungan
dingin dijaga pada temperatur lingkungan. Beda suhu antara pelat sambungan
panas dengan pelat sambungan dingin menunjukkan fluks energi yang diterima.
Perisai Konica
Lembu Pemanas
Perisai Belakang
lat Tembaga
Gambar 15-67
Konstruksi
radiometer
termopil pada
peralatan
Kawat Hubungan Daya
Contoh
Lilitan
Pemanas
Kawat konstantan bersepuh perak
Penerima dari bilah aluminium hitam jelaga
rmukaar
Konstantan terbuka
Isolator bakelit
Kumparan tembaga
Data-data yang akan diambil dalam penguiian ini adalah:
Gambar 15-68
Konstruksi
termopil
1. L (mm)
2. Emv (f,)
3. Emv (f,)
4. Emv (R)
:
]arak
antara radiometer dengan perisai kerucut.
: Nilai temperatur permukaan sampel dalam mV.
; Nilai temperatur radiometer correction dalam mV.
: Nilai radiometer dalam mV.
Gambar 15-69 berikut. Keterangan data yang akan diambil dapat dilihat pada
Rumus yang digunakan dalam pengujian
'f
-
+ an/)
L
1 -
L
7
-
Lt J
Tr= tr-273
,
r-
(ts-1,69)
(ls-1,70)
Faktor bentuk:
FRO
=
12+I]
(15-1.71)
Gambar 15-69
Keterangan
data ukuran
BAB 15 * HUBUNGAN EMTSTVITAS DENGAN KONDUKTIVITAS 281
Emisivitas
C Emo (R)
Er=
4,8810-8 FROgI
-Trn)
(1.s-172)
c adalah konstanta kalibrasi kepekaan radiometer yang besarnya 76,58
Kcal/ m2
/
lr:.v.
Karena adanya keterbatasan kemampuan dari peralatan yang digunakan dalam
pengujian ini, maka perlu adanya batasan-batasan dalam pengambilan data.
Batasan-batasan ini meliputi:
o
Elemen pemanas memiliki rentang temperatur sampai 400'C.
o
Radiometer termopil mulai bisa mendeteksi fluks radiasi dengan baik
pada temperatur di atas 100.C.
o
Variasi faktor bentuk yang dapat dilakukan untuk pengukuran terdapat
beberapa jarak. Tetapi tidak semua jarak dapat dideteksi dengan baik
oleh karena adanya kemungkinan timbulnya kerugian radiasi dan
konveksi dari lingkungan peralatan. Atas dasar hal-hal tersebut, maka
pengambilan data dilakukan dengan kondisi sebagai berikut:
o
Data diambil dalam jangkauan temperatur 1.zs
-
4zs"c, dengan kenaikan
50"C dan tenggang waktu 10 menit tiap temperatur.
o
Faktor bentuk dipilih dengan variasi jarak
terdekat yaitu 275, 250 d,an
225 mm.
.
Pengujian dilakukan tiga kali untuk tiap jenis
sampel
mot2
282 PROSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
1 5.7.'.. PE N GOLAHAN,. DAN, ANALISA.
.
DArA
Data yang diperoleh dari hasil pengujian akan dihitung faktor bentuk (FRO)
serta nilai emisivitas normal. Untuk tiap-tiap sampel dibuat perhitungan yang
dilakukan dengan menggunakan Persamaan 15-1.69 sampai 1,5-1,72. Pada
perhitungan tersebut didapat 3 nilai emisivitas untuk tiap nilai temperatur, hal
ini karena adanya 3 variasi jarak yang diberikan untuk tiap nilai temperatur.
Untuk mendapatkan 1 nilai emisivitas pada 1 nilai temperatur maka untuk
tiap-tiap varisi jarak diambil rata-ratanya. Tabel lengkap nilai emisivitas
normal masing-masing sampel pada tiap-tiap nilai temperatur diberikan pada
Tabel 15-2.
Untuk penelitian ini harga konduktivitas yang akan digunakan sebagai
pembanding emisivitas diambil dari referensi 3. Dari tabel pada referensi tersebut
didapat harga konduktivitas untuk beberapa nilai temperatur.
Tabel 15-2 Emisivitas masing-masing material
Dengan menghubungkan beberapa harga konduktivitas pada temperatur sekitar
400 sampai 700 K yang merupakan jangkauan temperatur pengukuran emisivitas,
maka didapat persamaan konduktivitas yang merupakan fungsi temperatur.
Adapun persamaan-persamaan tersebut adalah:
Stainless Steel
Kuningan
Seng
Aluminium
Tembaga
Pada grafik di bawah dapat dilihat hubungan antara emisivitas dengan
temperatur untuk sampel-sampel yang diuji.
:K=0,015 T+1.0,6
:K=0,06 T+113
:K=-0,04 T+1.27
:K=-0,055 T+262
:K
= -
0,0675T + 420
::L.aaa..l:.1:a1t ::l :..: - r.:r.i,.il.irlrll:irlll{liirl
rrAld?iunidnii:
.r r,,rraiilllllliillrllilli::,1:.llli:ilr,llr:,4'
T]einrH]t,ga
398 0.227 0.1,766 0.1 15 0.071 0.042
423 0.230 0.1401 0.097 0.073 4.044
473 0.211 0.1627 0.074 0.075 0.048
523 0.207 0.1,422 0.075 0.078 0.056
573 0.209 0.1 698 0.081 0.080 0.060
623 0.21.8 0.1,790 0.070 0.083 0.060
673 0.202 0.1820 0.067 0.086 0.064
698 0.21,3 0.1896 0.061 0.087 0.066
BAB 15 * HUBUNGAN EMISTVITAS DENGAN KONDUKTIVITAS 283
GRAFIK EMISIVITAS Vs TEMPERATUR
Gambar 15-70
Grafik fungsi
emisivitas
terhadap
temperatur
Gambar 15-71
Grafik fungsi
konduktivitas
terhadap
temperatur
6
E
El
0,250
0,200
0,150
0,1 00
0,050
0,000
400
350
300
250
200
150
100
50
0
a
I
a
I I
a
500 550 600 650
Temperatur (K
)
GRAFIK KONDUKTIVITAS Vs TEMPERATUR
350 450
I Stainless Steel
I Seng
O Kuningan
A Alumunium
O Tembaga
Y
E
16
JZ
t
o
V
i Stainless Steel
I Seng
O Kuningan
A Alumunium
I Tembaga
550 650
Temperatur (K
)
750
Dari Gamb ar 15-70 di atas dapat dilihat bahwa untuk tiap-tiap sampel, harga
emisivitas merupakan fungsi linear dari temperatur. Seng, aluminium dan
tembaga memiliki emisivitas sebagai fungsi temperatur bergradien positif
sedangkan stainless steel dan kuningan memiliki emisivitas sebagai lungsi
temperatur bergradien negatip. Hal ini ternyata berbanding terbalik dengan
fungsi konduktivitas terhadap temperatur yang dimiliki oleh tiap-tiap mateiial
seperti terlihat pada Gambar 15-71.
ludl
grafik fungsi konduktivitas terhadap temperatur dapat ditihat,
konduktivitas mempunyai fungsi linear pula terhadap temperatur. Pada grafik
ini terlihat fungsi linear konduktivitas untuk stainless iteel dan kuningan
mempunyai gradien garis negatif, sedangkan seng, aluminium dan tembaga
memiliki fungsi linear konduktivitas bergradien positif.
Hal ini sangat menarik untuk ditinjau lebih jauh, oleh karena itu dibuat grafik
antara emisivitas terhadap konduktivitas seperti terlihat pada grafik di bawah.
Pada grafik tersebut dapat dilihat bahwa untuk setiap sampel, hurgu emisivitas
284 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
memiliki fungsi linear pula terhadap konduktivitas. Untuk setiap sampel yang
diuji persamaan garis yang didapat memPunyai gradien negatif yang berarti
semakin besar harga konduktivitas satu sampel maka semakin kecil harga
emisivitas sampel tersebut.
GRAFIK EMISIVITAS VS KONDUKTIVITAS
Gradien 15-72
Grafik emisivitas
terhadap
konduktivitas
Gambar 15-73
Grafik emisivitas
lawan
konduktivitas
pada temPeratur
konstan
0,250
0,200
0,150
0,100
0,050
0,000
100 200 300 400
KONDUKTIVITAS (W/M.K)
GRAFIK EMISIVITAS VS KONDUKTIVITAS
0,250
0,200
0,150
0,1 00
0,050
0,000
50 100 150 200 250 300
KONDUKTIVITAS (W/M.K)
Pada Gambar 1,5-73 dipetakan grafik antara emisivitas dengan konduktivitas
pada temperatur konstan untuk tiap sampel yang diuji. Pada grafik ini hanya
ditampilkln tiga titik temperatur karena grafik ini bertujuan untuk menunjukkan
bahwa terdapat hubungan antara konduktivitas dengan emisivitas suatu
material. Pada grafik terlihat semakin besar nilai konduktivitas suatu ma-
terial maka harga emisivitas akan semakin kecil. Dari kedua grafik
terdahulu. Dapat dilihat bahwa emisivitas tidak hanya merupakan fungsi
konduktivitas saja tetapi juga merupakan fungsi temperatur. Untuk
mendapatkan hubungan emisivitas dengan konduktivitas dalam suatu
pe.sa*iun yang
juga merupakan fungsi temperatur maka akan dibuat sebuah
pendekatan fungsi kuadrat.
(/)
F
(n
!l
Ir.l
O Stainless Steel
I Seng
O Kuningan
A Alumunium
O Tembaga
cn
F
(/)
-l
El
BAB 15
'
HUBUNGAN EMISIVITAS DENGAN KONDUKTTVITAS 285
Persamaan didapatkan melalui penyelesaian matematik dengan menggunakan tiga
titik data.
Persamaan dasar fungsi kuadrat adalah:
U=ax2+bx+c
Dengan memasukkan harga data yang ada ke dalam persamaan di atas, untuk
satu nilai temperatur maka akan didapatkan tiga persamaan:
Untuk T
=
423K
V =
emisivitas bahan
.x
=
konduktivitas bahan
Untuk x
=
110,080 dan y
=
0,1401, maka:
0,7401
=
12117,6064 a + 1,1,0,080 b + c
Untuk x
=
238,735 dan y
=
0,073 maka:
0,073
=
56994,4 a + 238,735 b + c
Untuk x
=
397,448 dan y
=
0,044 maka:
(1,5-1,73)
(ls-174)
0,044--L53231,5367 a +391,448b + c (15-l7S)
M1k9 didapatkan hubungan emisivitas dengan konduktivitas pada temperatur
423 K yaitu:
A =
1,1.781. 10-6. x2
-
9,327104 + 0,2285 (1,5-1,76)
P_"-"9_rl
cara yang sama didapat dua persamaan lain untuk temperatur
573 K dan 698 K.
! =
2,084 70-6 x2
-
1,4077 10-3+0,2937 (1,5-1,77)
A
=
2,4855 10-6 x2
-
L,6259 10-3 + 0,3269 (15-1,78)
Telah didapatkan tiga persamaan yang mewakili tiga titik temperatur. Dari ketiga
persamaan itu akan dibuat sebuah persamaan yang mewakili tiap titik
temperatur.
Pada ketiga persamaan di atas (15-176), (1s-177) dan (15-128) dapat dilihat bahwa
harga konstanta semakin tinggi dengan naiknya temperatur. Dapat dilihat
ternyata harga konstanta bergantung terhadap temperatur. Untuk mendapatkan
hubungan antara konstanta dengan temperatur, rniku dibuat hubungan fungsi
linear terhadap temperatur.
Untuk tiga titik konstanta pertama 1.,i.71. 10-6, 2,084
j.0-6,
2,4g55 10-6
Didapat persamaan konstanta fungsi temperatur pertama yaitu:
A
=
4,7542 1,0-e T
-
8,3292 10-7 (1.s-1,7e)
286 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Untuk tiga titik konstanta kedua
-9,327
1.0-4,
-1,4077
10-3,
-1,6259
10-3 didapat
persamaan konstanta fungsi temperatur kedua yaitu:
B
= -2,6L89
1,0-6 T + 1,751 10a (15-180)
Untuk tiga titik konstanta ketiga 0,2285, 0,2937, 0,3263 didapat
Persamaan
konstanta fungsi temperatur ketiga yaitu:
C=3,5564104 T +0,078L (15-181)
Dengan diketahuinya fungsi temperatur di atas maka dapat dibuat persamaan
umum emisivitas, konduktivitas dan temperatur.
tn=Ak-2+Bk+C
Dengan memasukkan harga konstanta di atas, maka didapat:
e,
=
(4,754210-e T
-
8,3292 1.0r)A k-2 + (-2,61,89 10-6 + 1,751 104)
k+ (3,556410-47 +7,8110-2)
(15-182)
Dengan adanya rumus pendekatan ini maka nilai emisivitas bahan akan dapat
dihitung untuk pelat yang ada di pasaran.
1 5.8i. KESIMP-ULAN,.I.IASIL PENELITIAN
Dari analisis grafik yang telah dibahas sebelumnya dapat ditarik beberapa
kesimpulan antara lain:
1. Harga emisivitas normal pada tiap-tiap nilai temperatur untuk masing-
masing material yang diuji diberikan pada tabel di bawah ini.
2. Harga konduktivitas material pada tiap-tiap nilai temperatur untuk masing-
masing material yang diuji.
W:I:
398 0.227 0.1,766 0.1 15 0.071 0.042
423 0.230 0.1401 0.097 0.073 0.044
473 0.211 0.1,627 0.074 0.075 0.048
523 0.201 0.1422 0.075 0.078 0.056
573 0.209 0.1,698 0.081 0.080 0.060
623 0.218 0.1.790 0.070 0.083 0.060
673 0.202 0.1 820 0.067 0.086 0.064
698 0.21,3 0.1896 0.061 0.087 0.066
BAB 15 I. HUBUNGAN EMISIVITAS DENGAN KONDUKTIVITAS 287
3. Harga emisivitas normal suatu material merupakan fungsi konduktivi::.
dan temperatur dengan persamaan pendekatan sebagai berikut:
e,,= (4,7542 L0-e T
-
8,329219'z1kz + (-2,6789 10i + 1,7a1 lC-
k + (3,5564 10-1 T + 7,81, 1.0-2)
Dengan e, adalah emisivitas normal bahan, temperatur (T) dalam K dan
konduktivitas termal (k) dalam W/m.K.
Batasan-batasan pemakaian persamaan pendekatan ini adalah:
I Berlaku untuk metal
I Batasan temperatur 125 sampai 425 "C.
r Kondisi permukaan, seperti yang ada di pasaran, halus tetapi tidak di
poles
4. Harga emisivitas normal metal mempunyai hubungan pendekatan iinear
dengan temperatur. Untuk seng, alumunium tembaga harga emisivitas
normal naik dengan meningkatnya temperatur sedangkan untuk stainless
steel dan kuningan harga emisivitas normalnya turun denngan naiknr a
temperatur.
5. Harga konduktivitas metal juga mempunyai hubungan linear dengan
temperatur. Untuk seng, aluminium dan tembaga harga konduktivitas turun
dengan meningkatnya temperatur. Sebaliknya harga konduktivitas stainless
steel dan kuningan akan naik seiring dengan naiknya temperatur.
6. Semakin tinggi harga konduktivitas suatu material maka akan semakin rendah
harga emisivitasnya.
7. Dengan diketahuinya hubungan emisivitas normal dengan konduktivitasnya
maka hubungan ini dapat dijadikan dasar untuk penelitian lebih lanjut.
Dengan diketahuinya htrbungan ini pula maka dapat pula digunakan untuk
bahan pertimbangan dalam penentuan jenis material yang akan digunakan
untuk peralatan yang berhubungan dengan perpindahan kalor, khususnya
yang memperhitungkan perpindahan kalor radiasi.
;? $,ehg1P$
XW.l
iillQ)i
ldiididi0.d)
;3.
aff
tembaga
(,W/m."C
398 1.6,570 111,080 136,880 240,71.0 393,1 35
423 1.6,945 110,080 138,380 238,735 391,4-1S
473 77,695 108,080 141,380 235,985 388,07,:
523 78,445 106,080 144,380 233,235 384,69S
573 79,195 104,080 147,380 230,485 38 1,3r3
623 79,945 102,080 150,380 227,735 377,9),
673 20,695 100,080 153,380 224,985 371,i;:
698 27,070 99,080 154,880 223,670
?7) t(=
BAB 16
RANGKUMAN
|RANGKUMAN
Berdasarkan
uraian-uraian
yang ada pada bab-bab sebelumnya, maka akan
diambil beberapa kesimpulan yang berhubungan dengan pror"i radiasi.
1' Radiasi adalah
Proses
perpindahan kalor melalui gelombang elektromagnetik
di_ mana temperatur merupakan faktor yur,g puf.g domiian dalam
iror",
ini.
2.Laju dari energi yang dipindahkan bergantung kepada beberapa faktor yaiiu:
I Emisivitas dari permukaan yang terkena radiasi.
r
Temperatur dari permukaan
I
Refleksi, transmisi dan absorpsi dari permukaan
I
Faktor pandang antara permukaan yang teradiasi dengan arah datangnya
radiasi.
3. Radiasi elektromagnet
terdiri dari beberapa jenis
di mana radiasi termal
merupakan salah satu jenis
radiasi elektrornagnet yang terletak pada rentang
0.1 samp-ai dengan 100 pm dan radiasi yang terlihat o-Ieh mata ierletak padi
rentang 0.4 sampai dengan 0.7 pm.
4. Permukaan hitam merupakan permukaan yang paling ideal yang mempunyai
sifat:
r
Permukaan ini menyerap semua sinar iradiasi y'.g jatuh
pada
permukaannya.
r
Permukaan hitam menghasilkan
energi jauh
lebih besar dari permukaan
lain pada temperatur dan panjang gelombang
yang diijinkan.
r
Emisi radiasi yang dihasilkan oleh benda hitam ini tidak tergantung
kepada arah datangnya sinar iradiasi.
290 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIAS!
5. Emisivitas adalah perbandingan dari jumlah energi radiasi yang dihasilkan
atau diemisikan oleh suatu permukaan hitam.
6. Absorpsivitas, refleksivitas dan transmisivitas bukanlah merupakan sifat dari
permukaan karena ketiga hal tersebut tergantung kepada arah datangnya
sinar iradiasi.
T.Absorpsiaitas: perbandingan dari jumlah energi iradiasi yang diserap
terhadap
jumlah total energi yang menimpa suatu permukaan'
Refleksioitas: perbandingan dari jumlah energi iradiasi yang dipantulkan
terhadap
jumlah total energi yang menimpa suatu permukaan.
Transmisiaitns: perbandingan dari jumlah energi iradiasi yang
ditransmisikan terhadap
jumlah total energi yang menimpa suatu permukaan.
B. Refleksi dapat dibagi dua
Yaitu:
r Refleksi hamburan (diffuse)
Jika
sinar iradiasi yang datang dipantulkan sama besar ke segala arah.
I Refleksi specular
]ika
sudut datang iradiasi sama dengan sudut pantul iradiasi.
9. Radiositas adalah jumlah seluruh energi yang meninggalkan permukaan.
10. Radiasi yang melalui suatu medium atau permukaan akan mengalami
pengurangan.
]ika
pengurangan itu hanya sebagian maka permukaan itu
disebut sebagai permukaan semi transparan,
jika tidak mengalami
pengurangan sama sekali maka permukaan itu disebut selag1i permukaan
transpara., dan jika pengurangan berlangsung samPai tidak ada lagi energi
radiaii yang diteruskan maka permukaan ini disebut sebagai permukaan
yang bertingkah laku seperti benda hitam (opaque surface). sifat ini
lergantung kepada ketebalan lapisan permukaan. Benda logam umumnya
beriifat seperti benda hitam sedangkan benda non logam harus mempunyai
ketebalan yang lebih besar untuk dapat bersifat seperti benda hitam.
11. Dua buah permukaan yang mempunyai temperatur berbeda akan mengalami
proses perpindahan kalor, untuk menentukan besarnya energi
_yarlg
Lerpindih dari satu permukaan ke permukaan yang lain maka kita harus
mempertimbangkan nilai faktor pandang dan emisivitas dari permukaan
tersebut.
1.
6.
5.
2.
J.
4.
7.
8.
9.
DAFTAR PUSTAKA
Holman,
J.P.
Experiment Method For Engineers atau metode pengukuran
teknik terj E.
Jasfi. Jakarta
: Erlangga, 1.985.
Holman,
J.P,
Heat Transfer. Sixth Edition. McGraw-Hill Ltd, 1,986.
Holman,
J.P.
Thermodynnmics. Third Edition. McGraw-Hill Ltd, 1980.
Incorpera, Frank.,P., and David P. De wltt. Fundamental of Heat Transfer,
Canada:
John
Willey & Sons. Inc,1987.
Koestoer, Raldi Artono. Hubungan Emisiaitas dan Konduktiaitss Metal Pada
langkauan
Temperatur 125
-
425" C. Fakultas Teknik Universitas Indonesia
jurusan Teknik Mesin, Depok, 1991.
Modest, Michael F. Radiatioe Heat Transfer. New York : Mc Graw Hill
Book Company,1,993.
Ozisik, M. Necati. Basic Heat Transfer. Tokyo : Mc Graw Hill International
Book Company,1,987.
Rohsenow, Waren M., and
James
P Harnett. Hand Book of Heat Transfer.
New York : Mc Graw Hill Book Company, 1973.
Sparrow, E. M., and R. D. Cess. Radiation Heat Trans/er. New York :
Wadswort Publishing. Co. Inc., 1996.
SOAL DAN PENYELESAIAN
PERPINDAHAN KALOR
(BAGIAN -
1)
01. Tembaga dan baja (AISI 304) digunakan sebagai bahan dinding untuk
pendingin cair nozel roket. Bagian luar dinding suhunya dijaga agar tetap
150'C, gas pembakaran yang keluar dari nozzle adalah 2750
'C,
dengan
h
=
2.104 W /m2 K dan radius nozzle jauh lebih besar dibandingkan tet'al
dinding. Temperature maximum tembaga dan besi adalah 540
"C
dan 980 'C.
Tentukan ketebalan maximum masing-masing material? Apabila ketebalar.
maksimum material tercapai, bahan apa yang sebaiknya dipakai?
Penyelesaian:
Diketahui:
Baja AISI 304
h
=
2.1.04 W/mzK
,ro
=
2750'C
kr= 25,4 W/m.K
Tu
=
980
"C
Tembaga
kz= 383 W/m.K
T,
=
540 "C
Ditanya:
ketebalan masing-masing logam?
logam yang sebaiknya digunakan?
lawab;
Qtonr"L"i = Qi.on,uui, = Qkon,t"-bugu
Qkon'uki =
h LT
a.
b.
a.
Qko.t"t
si
Qkon.,eksi
(baia)
3,54.707
x..
bala
2.10a W
/m2
.K (2750
-
980)"C
3,54.1.07
Qronauksi
(baja atau tembaga)
kdT/dx
25,4W
/mK
(980
-
SaD/ dx
0,000316 meter
h
To
=
2.104 W/m2K
=
2750
"C
AISI 304
k,
=
25'4
294 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Q,"^bugu
3,54 . L07
X-
I embaga
kdT/dx
383 W/m.K (540
-
750)
/
dx
0,004 meter
b. Logam yang sebaiknya digunakan adalah logam tembaga karena mempunyai
konduktivitas yang lebih tinggi daripada AISI 304.
02. Pendinginan yang disebabkan oleh angin dihubungkan dengan kenaikan
perpindahan kalor dari tubuh manusia dengan udara sekitar. Diperkirakan
iebil dari lapisan lemak adalah 3 mm dan temperatur bagian dalamnya
konstan 36. a. Pada hari biasa koefisien konveksi dari udara luar adalah 25
W /m,
K sedangkan pada hari yang berangin sampai dengan kecepatan 30
Km/jam koefisien konveksi adalah 65\N /m2
K. Dalam hal ini suhu dari udara
Iuar adalah
-
15" C.
a. Tentukan ratio dari panas yang hilang per luas permukaan dari kulit pada
hari biasa dan hari berangin?
b. Berapa suhu dari permukaan kulit pada hari biasa dan hari berangin?
c. Pada suhu berapa udara luar pada hari biasa untuk menghasilkan
Panas
yang hilang sama besar dengan pada keadaan hari berangin yang bersuhu
-
15.C.
Penyelesaian:
Diketahui:
7,,
=
36oC=309K
T*
= -15"C=258K
H'a
=
25W/mz K
H'a
=
65W/rr.2K
x
=
3x10-3m
k - 0,2W/m.K
Ditanya:
Q/A,Ts
danTcd -
....?
I
awab:
b. Pada keadaan hari biasa
Q/A
kond
= Q/
A konv
Q/A
kond
=
k (T*
-
T,)/ x
Q/Akonv=h(7,-T)
Q/Akond=Q/Akonv
k (T*- T,)/x
=
h (T,- T)
0,2 (309
-
T,)/g x L0-3
=
h (T,
-
258)
3mm
T.
=36"C
-)
T*
Ts
= -15
.C
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR
.295
0,2 (309
-
T,)/g x 10-3
=
25 (T
-
258)
61,8
-
0,27"= 0,075 T,-'1.9,35
-0,275
T,
= -81,15
T'= 295'09 K
T"= 22'09
oc
Pada keadaan hari berangin
Q/Akond= Q/Akonv
Q/Akond=k(7,,-7")/*
Q/A
konv
=
h (7,- T)
Q/
Akond
= Q/
Akonv
k (7,,-7,)/x
=
h (7,-T)
0,2 (309
-
T,)/g x 10-3
=
h (T,- 258)
0,2 (309
-T")/g
x 10-3
=
55 (7,
-
258)
61.,8
-
0,2 T,
=
0,195 T,
-
50,31
-
0,395 T,
= -112,11
T'= 283'82K
T'
=
1o'82
"C
a.
Q/
A pada hari biasa
=
0,2 (309
-
295,A9)/3 x L0-3
=
927,33W /m2
b.
Q/
A pada hari berangin
=
0,2 (309
-
283,82)/)/3 x't0-3
=
].678,7 W
/m,
..
Rasio perbandingan
=
927,33/1.678,7
c.
Q*i.a =h(7,-T)
=
65 (283,82
-
258)
=].678,3
W
Q*ina =Q.ul-
1.842,75
=25
(283,82-f
)
T,o= 2'l'0'1'L K
T,a
=-62'89"C
03. Seb rah plat baja sepanjang 1 m (k
=
50 w/m.K) sisi-sisinya diisolasi pada
kondisi permukaan atas bertemperatur 100'C dan peimukaan bawah
296 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
didinginkan secara konvektif dengan suatu fluida bertemperatur 20"C. Dalam
keadaan tunak dan tidak ada pembangkitan kalor, sebuah termokopel yang
berada di tengah plat menunjukkan temperatur 85"C.
Berapa nilai koefisien konveksi di permukaan bagian bawah?
Penyelesaian:
Diketahui:
x
=
1m,
k - 50 W/m.K,
7",u,
=
100'C,
T,rn
=
85"C,
T*
=
20oC,
Ditanya: h
=
.....?
I
awab:
Konduksi (sampai tengah)
100.c
T-= 20"C,h
-----+
-----+
4 ,-LT
ALx
q
-
(ss-1oo)_
-!-
= -
trn-
-
A 0,5
Suhu sisi bawah
Konveksi
4 ,.LT
ALx
15oo=-uo
-ss)
0,5
, --15ooxo'5
+85= 70"c
50
4
=h
xAxAT
L=hxLT
A
1500
=
h(70
-
20)
h
=
30(m.K
w
1500
,
m'
N SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 297
04. Sebuah dinding kolektor pasif terbuat dari PCM dengan ketebalan L tertutup
oleh dua struktur permukaan. Asumsikan kondisi tunak untuk penyerapan
ladlaf
solar pada salah satu permukaan dijaga pada suhu 7,,, di atas suhu
leleh PCM. Bagian padat dan cair dipisahkan oleh dinding ya;gjelas. Cairan
memiliki temperatur Tm dan disifati oleh resirkulasi penggerak bouyancy
yang menjaga kesamaan konveksi pada dinding dengan permukaan (s, 1)
dan bagian padat, fluks radiasi sebesar q" rad
=
1000 W
/rn, diberikan pada
dinding S,, temperatur lingkungan dan koefisien konveksi sebesar T
,r=
T
,,
=
20o C dan h,
=
hr= 20 W
/rn2
K, temperatur dan korfisien konveksi'bagian
cair PCM adalah 7,,
= 50o C dan h,,
=
1.0'N
/m,
K dan konduktivitas thermal
bagian padat PCM k,
=
0,5
'N
/rnK.
Hitung suhu permukaan 7,,,.
Jika
tebal
total PCM L
=
0,10 m, berapa tebal lapisan cair? Hitung temperatur
permukaan
{. r.
Penyelesaian:
Diketahui:
4 ,^a
ttt
T-,h,
,L
ttt
T-,r, lt,
l\\\\\\
liquid PCM
T
r, l'
Lrulr' T
r,z
= " " "?
q"
T
,,
J,,
hu,
k
n
L
1000 W/m2
T
,z=
20'C
hz
=
20 W/m'K
10 W/m'?K
0,5 W/mK
0,10 m
Ditanya:
I
nwab:
q"
1000
Tr,t
q"
1000
Tr,z
h2A (7,,'
-
T,')
(7,,,
-
20)/0,0s
70" c
(7,,r- T
,r)/(1/hrA)
(7,,r- 20)/O,OS
70" c
q,,
=
(7,,r_ T*)/(L/k,)
L,
=
0,01 m
Lu
=
0,1
-
0,01
=
0.09 m
05. Dinding sebuah bangunan terdiri dari bata 100 mm, fiberglass 100 mm,
gipsum 10 mm, panel pinus 6 mm.
Jika
h,"
=
10 W/m2. K dan ho,,,
=
70
W
/m'. K. Berapa total hambatan dan koefisien keseluruhan-untuk
perpindahan panas?
298 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Penyelesaian:
Diketahui:
Xr
=
0.1 m kr= 0.69 W/m.K
Xz
=
0.1 m kz= 33 W/m.K
Xs
=
0.01 m k,
=
0,48 W/m.K
Xn
=
0.006 m kr= 0.'l'47 W/m.K
Ditanya: R,n dan U
=
.......?
lawab:
1. R,n
=
1/ A (xr/k, + xr/k, + xr/k, + xn/kn1/h,u, + 1/h,^)
=
1/A (0.1,/0.69 + 0.1,/33 + 0.01/0.48 + 0,006/0,1.47 + L/10 + 1/70)
R,r.A= 0.3289 K.m2lW
2.U=1./RnA
=
1/0.3289
=
3.039 W/m2.K
06. Sebuah rumah memiliki dinding yang terbuat dari kayu, kaca fiber dan
dinding plaster. Pada saat musim dingin, koefisien konveksi adalah ho
=
60
W
/m2.K
dan h,
=
30 W/mz K. Luas keseluruhan dinding adalah 350 m2
a. Tentukan rangkaian tahanan panas dari dinding tsb, termasuk efek
konveksi dari dalam dan luar dinding!
b. Tentukan total panas yang hilang dari dinding!
c.
Jika
angin berhembus dengan sepoi-sepoi, ho menjadi
=
300 W/m2.K,
tentukan persentasi kenaikan panas yang hilang!
h^=10 w/m2. K
h
=70
w/m2. K
Penyelesaian:
Diketahi:
q"
=
1000 W/m'?
ho
=
60 W/m2'K
hi
=
30 W/m2'K
A
=
350m2
Ditanya:
a. Rangkaian
=
.......?
b.q
=
.'....'..."?
c.PersentaseQ=....7
lawab:
Fiber glass
:;:;:;:$;
Plywood
200c
rtf
1mm 2mm
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 299
Gambar di atas dapat disederhanakan dengan rangkaian dibawah ini:
t
/
(h, A) Lp/ (Kp A) Lb/ (Kb A) L"/ (K, A) I
/
(ho A)
Dari Tabel A.3-A.9 (Incropera), di dapat Ko
=
0,17 W/m.K, K,
=
0,1.2 W
/m.K,
Ka
=
0,046 W/m.K.
a) rR,
=1/Atl/h
+ l/ho+ Lo/Ku+ L,/K,+ Le/Kpl
=
1/350
1L/30
+ 1/60 + 0,1/0,046 + 0,02/0,L2 + 0,01./0,171
= 0,006998 K/W
q
=
LT/2R,
=
T*,0
-
T*,r/LRt
=
(-15
-
20)/0,006998
=
5001,43 Watt
Q =
LT/ZR,
Jika
ho
=
300 W/m' K, maka:
p
=
(35
-350)/U./300
+ 10/300 + 0,1/0,046 + O,O2/0,1.2 + 0,01./0,1.7
=
5002,65447 Watt
Persentasi kenaikan
=
100% (5002,65447
-
SOO1,43)/5001,43
=
0,02459o/o
07. Sebuah dinding komposit pada rumah terdiri atas tiga lapisan seperti pada
gambar, dengan nilai T_,
r
=
20oC dan h,
=
30 W/m2.K. Kondisi luir dinding
dirumuskan dengan hubungan temperatur terhadap waktu sbb:
T-,0 (K)
=
273 + 5 sin (2nt/24) 0<f<12jam
7
_, o
(K)
=
273 + 11 sin (2il
/2a)
1.2
<
t
<
24 jarrt
Dengan ho
=
60 W/m2.K. Perubahan energi dalam pada tembok dapat diabaikan.
Tentukan energi panas yang hilang tiap hari, apabila luas tembok 200 m2!
b)
c)
Penyelesaian:
Diketahui:
n Plester, kp Kavu lapis, ks
K,
=
0'17
Ko
=
0,038
K,
=
0'1
A
=
200m2
3OO PROSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIAST
Ditonya:
Jawnb:
dengan
)
Q,=UALT
U=
U=
U=
U=
U=
1
/ 11 /
hi) + (kp/Kp + Lb
/
Kb) + (Ls
/
Ks) + (1
/ho)l
l(1/30)
+ (0,01
/0,1.7)
+ (0,1
/0,038)
+ (0,02/0,12) + 97/6011'
{0,0333
+ 0,059 + 2,631. + 0,767 + 0,01,7}:
3,04-1
0,329
0<l<72jam,
72<t
<24iam,
273 + 5 sin(12 x2n/24)
273+5sin3,14
273+(5x0,0549)
273,27 K
273 + ll sin (24 x 2n/24)
273 + 17 sin 6,28
273+(11x0,109)
274,20 K
'f
.r
t-
maka harga q,:
0 < f < 72 jam
12St<24jam
UAAT
0,329 x 200 x (293
-
273,27)
7298,23 W
0,329 x 200 x (293
-
274,20)
7237,04 W
sehingga q, totat
=
,fr#il237,04
08. Batang baja silinder (AISI 1010), dengan diameter 50 mm diberi perlakuan
panas dengan melewatkan melalui oven dengan panjang 5 m dimana suhu
udara dijaga pada suhu 750 "C. Batang dimasukkan pada suhu 50
'C
dan
mencapai suhu 600'C pada sumbu pusat sebelum keluar dari oven. Koefisien
konveksi sebesar 125 w /m2
K, hitung kecepatan dimana batang harus lewat
melalui oven!
Penyelesaian:
q,=
* SOAL DAN PENYELESAIAN
PERPINDAHAN
KALOR 301
Diketahui:
D=
L=
T*=
Tr=
T,
=_
h-
t-
^=
G=
Ditanya:
A=
lawab:
Penyelesaian:
Diketahui:
Gambar:
Asumsi:
1. Kondisi tunak
510{m
5m
1,023 K
323 K
600
"c
B73K=00
125 W
/m2 K
63,9 W
/m K
18,8 10-6 rn2/dtk
... ,..?
=
873/(T
_Ti)
=
873/(7023
-
323)
=
1,247
=
63,9
/125 x 25 10-3
=
20,45
dapat diperoleh nilai Fo
=
50,02
Ti=75'C
-----)
Oven ?
=
75"6
Tr'""
=
600'C
silinder
oo/ oi
k/hro
berdasarkan
tabel
sehingga
Fo
= u'c/roz
50,02
=
18,8 10-6 r/(25 tg-s1z
|
=
1,652,89 detik
Maka kecepatan
silinder melewati oven adalah:
V
=
S/.c
V
=
5/1.662,89
=
3 10-3 m/detik
09' Dengan melihat transistor tipe surface mount yang diilustrasikan
daiam
gambar. Buatlah
kontruksi ringkaian
thermal, tutistan tanggapan
untuk
temperatut
Tc, dan evaluasikan
7c untuk dua situasi dimarr"a"uiara
diam
dan pasta konduktif
diisi pada celah.
kotak transistor
kawat timah
papan rangkaian
3O2 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Ditanya:
2. Konduksi satu drmenst
3. Sifat-sifat konstan
4. Radiasi diabaikan
5. Kotak transistor isothermal
Tc
=
.....?
lawab:
Udara Diam
1/hA\
Tf
1/hAl
T- t/hA1
Pastd
a) Untuk Udara Diam
)RTr
1.lhAr+ rlhA,
rRrr =(+.!*)
IRTz = UhAt
4,
=4t*42
4,
4t
k
rA,
k
rAz
k
,4,
a---
LLL
T,
-Tro ,
T,
-T*
--
)RTr IRTz
4,
*r,u%*'ulo'
I
+ r
*(hA)
tzLt
tc
-
hAt
+3k1A2 +hA,
2L
L/kl2
L/krAz
.S.
SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 303
b) Untuk Pasta Konduktif
1 k
"A.
k.A" k
"A"
k
"A
2
=-T-
IRT,LLLL
10. Sebuah dinding komposit memisahkan gas pada suhu 2600
'C
dengan cairan
pendingin pada suhu 100
'C.
Dimana koefisien konveksi gas dan cairan
masing-masing 50 dan 1000 W /m2
K. Dinding tersebut terdiri dari komposisi
dari lapisan Beryllium Oksida pada sisi gas dengan tebal 10 mm dan
lempengan Stainless Steel (AISI 304) pada sisi cairan dengan tebal L0 mm.
Tahanan antara Beryllium Oksida dengan Steel adalah 0,05 m2 K/W.
Berapakah rugi kalor per unit luas dari komposit tersebut?
>RT1 =
)RT2 =
4, =
.r
tc
-
Penyelesaian:
Diketahui:
hr
=
50 W/m2 K
h,
=
1000 W/m2 K
R".
=
0,05 m2 K/W
kl
=
272W/mK
k,
=
1'4,9 W/mK
Ditanya:
q/A
= ""'?
I
awab:
k
rA,
+ 3k
tA2
1.lhA1
4r+ 4z
T,
-T,a .
T,
-T*
IRTr )RTz
t
(k
rA,
+ 3k
1A)
+ r
*(ner)
tlc+tsb
L
k
rA,
+_3k
rA,
+ hAl
L
Gas 2600 C
hr= 50W /m2K
airan 100 C
,=1000W/m2K
a@,
-
ro)
q-
llhr+ l.r
rlkr
* R", + Lxrlkz+ 1lh2
304 PROSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
q-
A(2873
-
zzz)
f50
+ to-2
f
zrz + 0,05 + z.to-z
ft+,9
+ 7lto}o
q
lA
=
34540,383L4W1^'
11. Dua pelat dari baja anti karat 10 mm dipengaruhi oleh kontak tekanan l bar
dibawah kondisi vakum dimana selisih temperatur total pelat 100'C. Berapa
flux panas melalui pelat-pelat tersebut?
Berapa temperatur kontak dua bidang pelat?
R,..
=
10-: N/m2mm
selisih temperatur dua
bidang pelat:66.22K
Asumsi:
1. Kondisi berada dalam keadaan tunak
2. Kondisi pelat satu dimensi
3. Properti konstan
Ditnnyn:
1. Flux panas (q/A) W
/m' =
......1
2. Temperatur kontak dua pelat
=
......1
I
nwnb:
1. Dengan melihat tabel 3.1. buku
fundamental
of heat and mass transfer edisi
ketiga, karangan Frank P. Incropera dan David P. De Witt. Bahwa untuk 1
bar tahan panasnya adalah 6,25 x 10+ N/m2. Untuk lebih mudahnya kami
mengambil tahan panasnya R,,. : 10 x 10{ N/m'.
q/A
=
LT/R
=
700
/ 1,01
=
10s W/m2
Jadi
flux panas yang melalui pelat-pelat tersebut adalah L0-s W/m2
2. Dengan melihat tabel A, buku yang sama dengan di atas diketahui bawah
baja anti karat AISI 320
=
1,5,1, W/m.K sehingga
Penyelesaian:
Diketahuui:
L
=10mm
p
- Lbar=10sN/m2
AT
=
100"C=100K
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 305
q/A
=
kx AT/L
AT
=
q/ AxL/k
=
10sx 10 x10-3/15,1
=
66.22 K
]adi
temperatur kontak dua bidang pelat adalah 66,22 K
72. Bila diketahui sebuah dinding komposit terdiri dari 2 material yang berbeda,
konduktivitas termal Ku
=
0,1 W/m,K, Ko
=
0,04 W/m.K dengan ketebalan
Ln
=
10 mm dan Lt
=
20 mm. Tahanan kontak pada permukaan dua material
bersuhu 200
"C
dengan h
=
10 W/m, K. Sedangkan material B berhubungan
dengan fluida bersuhu 40 'C denganh
=
20 \N
/m2
K.
a. Tentukan aliran perpindahan kalor pada dinding dengan tinggi 2 m dan
lebar 2,5 m?
b. Gambar distribusi temperatur?
Penyelesaian:
Diketahui:
Kn
=
hn
=
.r
,l
AY
=
-'-12
Kb
=
hb
=
nX=
-.'2.1
T2
=
1/h'
=
Ditanyn:
Jawab:
0,1 W/m.K
10 W/m2.K
473 K
10 mm
0,04 W/m.K
20
rN
/rnz.K
20 mm
313 K
0,3 m2 K/W
a.q
=
.......?
b. Distribusi temperatur
Tr-7,
,*F,j
2.5 m
AX,' 7
kuA hrA
1 Ax,, 1
hoA k
oA
hrA
760
0,02 + 0,02 + 0,06 + 0,1 + 0,001
761.,9W
a. q=
306 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIAST
b.
473 K
13. Sebuah chip sllikon yang berada dalam kondisi steady-state, memindahkan
seluruh energi yang dihamburkannya ke aliran cairan dengan h
=
1000 W
/
m2 K dan T
=
25'C. Chip dan aliran dipisahkan oleh lapisan plat aluminium
dengan ketebalan 2 mm. Contact Resistance permukaan chip aluminium
adalah 0,5. 10-4 m2 K/W.
Jika
luas permukaan chip adalah 100 mm2 dan suhu
maxsimum yang mampu diterima chip adalah 85oC, berapa energi maksimum
yang mampu dihamburkan chip tersebtt?
Penyelesaian:
Diketahui:
h - 1000 W/m2 K
T
=
25oC
R.
=
0,5 x 10a m2 K/W
t, c
A
=
100 mm2
T
=
85oC
c
Ditanya:
Energi maksimum dihamburkan chip (q,)
=
.....?
I
awab:
Asumsi:
L. Kondisi berada dalam kondisi steady-state
2. Radiasi permukaan diabaikan
3, Konduksi plat alminium adalah satu dimensi
Fluida
T_h
Aluminium Cover
4, =
Rtot
=
4r=
T,
-T*
IR,o,
R,,. *LlkA+1.lhA
V, -r*)e
R,,..*Llk+1.1h
(k
=
237 W/m2.K untuk aluminium murni pada T
=
tal of Heat Transfer, Frank P. lncropera,
John
Wiley
300 K, tabel ,A'1, Fundamen-
I Sons)
R,,. *Llk + 1,lh
Qzzle
+ 85)
-
(2rc,L6
+ 25)K
0,5 x 10-a m2 xfw + 0,002 m1237
{m.K
*
ryrooow/-rx
=
60115,8 x 10-a Wl^,
=
2,798 x tOs W/m2
q,
=q!lA
_",1),i:
i:;y".'f':on^'
14. Kira-kira 104 komponen elektrik ditempatkan di atas sirkuit tunggal (keping),
{:Tgu"
kehilangan panas elektrik sebeiar 30.000 w
/mr. Kepingllpis tersebut
didinginkan secara konveksi pada permukaan ruarnya, dengai ho
=
10oo w
/
m2. K dan
I=.0
=
20oC, serta disambung dengan pupu., sirkuit"pada'permukaan
lfamnya.
Hambatan panas kontak antara keping dan papan iaatarr 10{ m2.K/
I,
k-"l"l.ulan papan dan konduktivitas panas adaiah Lu
=
S mm dan
ka
=
1.
-w
/m. Permukaan luar papan berhubungan dengan uii.ur., udara, di
mana hi= 40W/m2.K dan T_,r
=
20oC
(a) Buat sketsa sirkuit pada kondisi steady state. Dalam bentuk variable
tahanan, temperatur dan flux.
(b) Pada kondisi stead-y state, untuk kehilangan panas
4,=
30.00 W/m2
berapa temperatur keping?
Penyelesaian:
__!9gt""t
T-.,
=
20"C
=
293,75 K Keping,
4. =
30.000 W/m,
ft,
=
1.000 w,/mr. K
4t
4z
papan,ko=1Wlm
------J
I_.,
=
20.C
=293,1.5K:hr=49 W/m2. K
4
r=
qi
=
.t.
SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 307
(r.
-
r-)
30.000 W
/m,
20"C
=
293,1,5 K
1w/^
40 W
/m2.K
A=
tc
.r
I^
k.
=
b
h.
= I
Diketahui:
308 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
T_,,
=
ho=
R,,,
=
Lb=
Ditnnya:
(a) Sketsa sirkuit?
(b) T
=
.....?
lawnb:
a. Sketsa Sirkuit:
,4'
-
4'
,
b. Analisisi
4,= 4r* 4z
4, =
F, -
T-,0)/ro *
0. -r-,, )
R,,. *\Llk)+\tlh1
30.000
= 0. -
293,L5)1000 +
T,
-
293,L5
1o-a + (s. to-'/t) + (t7+oy
30.000
= E. -293,15)1000
+ (7.
-293,1.5)33,22
30.000
= v, -299,L5)1099,22
@, -293,t5) =
29,035
T,
=
322,785K
T,
=
49,035oC
15. Sebuah dinding silinder mempunyai radius Rl dan Ro yang temperaturnya
dijaga Tl dan To. Konduktivitas termal tergantung pada suhu yang dinyatakan
dalam k
=
ko (l + aT), dimana k, dan n konstan. Buatlah perhitungan transfer
kalor per unit panjang dan hitung resistansi dari dinding tube?
20oC
=
293,1.5 K
1.000 W/m'z.K
10r m2.K/W
5mm=5. 10-3m
.i.
SOAL DAN PENYELESAIAN
PERPINDAHAN
KALOR 309
Penyelesaian:
Diketahui:
gambar di samping
Ditanya: q/L danR
=
....?
lawab:
q
q
tt IIi
lX:
dxlA
= -lli
rc ()ar
dRl2nR
= -!li
k
v)dr
dimanak=k"(l+aT)
q
l2xt
lnR
lX'
-
-ko@
+ tlzrr)l?,
b.
Q =
LTIR
n
=
tTle
R= Q-r,)*m(n,7n,)
16' Pengukuran
menunjukkan
bahwa konduksi dalam keadaan tunak melalui
tembok tanpa dihasilkannya
panas.menghasirkan
pembagian
temperatur
secara konveks sedemikian
luiu,
sehingga"temperat,'r
titik iengah adarah r
lebih tinggi daripada
yang diperkirakari"unt"t
i"-u"gian
temperatur secara
linear. Dengan *u.,gisrmsikan
bahwa konduktivitri
tn".*ri
-"*p""rri
ketergantungan
linear pada temperatur
K
=
Ko (1 + C.T), di mana c, konstan,
kembangkan
hubungan
untuk mengevaruuri
o'dir,yriukr.,
dalam aro, 7,, Jan
72.
qll
=
Penyelesaian:
Diketahui:
Gambar:
Ditanya:
a.
=
.......?
lawab:
Formula q
/ a
Ji
dx
= - I,l,
K
e)
dt
untuk k
=
ko
q/a(x-x,)=-k"(7,_Ti)
310 PROSES PERPINDAHAN KALoR SECARA RADIASI
untuk k
=
k, (1 + crT
)
4
/ s
@ -
x,)
=
k"l(T,- T,) *
th.
a(7,2
-
T,')
xr= 0; xz= L/2
q/a L/2
=
K,
[{f, -
fr) *
th.
a(Tr'-Tr')
4/aL/Z=K"(Tr-Tn)
K"(Tr-Tn)
=
K,
[{f, -
Tr) *
rh
u (Tr'-Tr,)
K,(71-74- f, + T.)
=lhcL(Tt2-T32)
Ko LTo
=
7/2.
a. (Tt2
-
Ts2)
Xz=
"L
L x'= 7
q
/ a L/2
=
/(,
t(T, -
Tr) +
th.
a (Tr'
-
Tr')l
q/a L/2
=
K,(Tn-Tr)
K" (T
n-
Tr)
=
K,
[(7, -
Tr) +
rh
a (Tr'
-
Tr')
K" (Tr- T2- T, + Tr) -
7h.
u. (732
-
Tz2)
K" AT"=
r/2'
e-(Tsz
-
722)
th.
a (Tr'
-
Tr')
=
r/2.
u. (Ts2
-
722)
2 Tr2
=
Tr'
-
Tr'
.r
z_"r 2/.)
_T 2/)
,3
-
tt lL-
t2
/L
Tr= Trz
/2 -T22/2
o.
=
2 Ko T
"/2T
t,
-
T
r,
-
Tr'
d"
=
4 KO AT'/7,,
_7,,
17. Gunakan metode analisa konduksi alternatif untuk memperoleh pernyataan
dari tahanan termal silinder yang berlubang dengan daya hantar kalor k,
iari-jari
dalam dan luar masing-masing r, dan ro dan panjang L.
Penyelesaian:
Diketahui: k
Ditanya: R,n
=
....?
lawab:
R.
I
R
o
L
,'!
h=l!
uQ)dr
Luas permukaan silinder A
=
2lIrL
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 311
q
'?dr
-l-=
2nL
1.,
r
4
r,-'o
=
2nL ri
To
-k ldr
Ti
-k Q" -Ti)
2nkL
Q, -7,)
q-
lnL
ri
-
T,-To
,1
=
R,
tnL
n
T,-To ri
l\t,
= =
2rrkL
18. Sebuah pemanas elektrik tipis dilihat sepanjang permukaan luar tabung
silinder yang memiliki suhu permukaan dalam sebesar 5'C.
Jari-jari
dinding
dalam dan luar tabung masing-masing 25 mm dan 75 mm dan k
=
10 W/m.K.
Tahanan kontak termal antara pemanas dan permukaan luar tabung
R,.
=
0,01 m.K/W, permukaan luar dari pemanas dialiri fluida dengan suhu
-10"C
dan h
=
100 W/m.K. Tentukan daya pemanas per satuan panjang
tabung yang dibutuhkan untuk menjaga suhu pemanas To
=
25oC.
Penyelesaian:
Diketahui:
T.
=
I
T=
o
T*=
h=
t-
,,(
=
f=
cr
D-
I\-
ta
Ditanya:
Daya
J
awab:
5"C,r=25mm
25oC, ro= 75 mm
-10"c
100 W/m'?.K
10 W/m.K
100 mm
0,01 m.K/W
persatuan panjang tabung
T,
-T*
ln(rs
lr,) .
ln(r,,
f
rs) 1
2tlkL ztlkL LfIr,,hL
=
263K
=298K
lilitan
pemanas
4, =
312 PRoSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
278
-
263
0,0175 + 0,01 + 0,076
344,83W
lm
19. Urethane (k
=
0,026 W /mK)
digunakan untuk mengisolasi tangki silinder
dengan ketebalan isolasi 40 mm, tinggi tangki 2m dan diameternya 0,8 m T-
=
10oC da h
=
1,0
rN
/m2
K, jika suhu dalam dipertahankan 55"C dan biaya
energi $ 0,15/kwh berapa biaya yang dibutuhkan untuk memelihara air
dalam tangki?
Penyelesaian:
Diketahui:
k - 0,026W/mK
l,
=
40mm
t,
=
2m
d - 0,Bm
T
=
283K
T.
=
32BK
Ditanya:
O
-
I
awab:
q
= lLnL
(T
-T,)\/l$n
(ro/r,)/k) + (i/r"h)l + 2Q
-T)l/l(1'/h
A) + (dx/k A))
=
1.45,25 + 27,61
=
1.72,86 Walt
Konsumsi energi tiap hari:
Q =
24.60' .60" q
=
1,4935,L04 kwh
Biaya yang dibutuhkan
=
14935,1.04 x 0,15
= fi
2240
20.Arus listrik sebesar 700 A mengalir melalui kabel baja yang mempunyai di-
ameter 5 mm dan hambatan listrik sebesar 6 x 10r Q/m (per meter dari
panjang kabel). Kabel berada lingkungan yang mempunyai temperatur 30oC,
dan koefisien total diasosiasikan dengan konveksi dan radiasi antara kabel
dan lingkungan yang diperkirakan 25 W/m2.K
a.
Jika
kabel tersebut terbuka, berada temperatur permukaan?
b.
Jika
lapisan isolator tipis dipasangkan pada kabel, dengan hambatan
kontak 0,02 m2.K/ W, berapa temperatur isolator dan permukaan kabel?
c. Terdapat beberapa pertimbangan mengenai kemampuan isolator terhadap
kenaikan temperatur. Berapa tebal isolator (k
=
0,5 W/m.K) akan jatuh
pada nilai terendah dari temperatur isolator maksimum? Berapa besarnya
temperatur maksimum ketika ketebalan digunakan?
4,
=
L
=
T.=328K
, SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 313
Penyelesaian:
Diketahui:
Ditnnya:
I
awab:
I
- 700A
d
- 0.005 m
R/L
=
6x10-aQ/m
T
=
30oC
H,
=
h
-..+h-,=25W/m2.K I conv lad
R,.
=
0,02 m2'K/W
a) T*
=
.....?
b) Tk"b"t, Ti"oluto,
= " "'?
c) Ll
=
.....?
a) q
=
P=12R
=
(700 A)'z 6 x 10-a W
/m =
42 L Walt
q
=
htA(7.-T)
42 L watt= 25
\N
/m2
K) (0,005 n Lm) (7,,
-
gO)
"C
T,= 36,95
"c
-
AQt
-Tz)
Ol f\r.
=
tl
T
-7. =R"q
,,
-
A
Tz
-T,, =
+
.11
dari (1) dan (2) didapat: T,
-7,, =
Y
.
h
=
a(R.-
* t)
A.
LL
'
=
-!14-
(o,o2mz r/w + ry
0,005nLm
'
'
O1 -30)'C-502'C
)L
Tr
=
187'79"C
kemudian didapat T,
=
135,63
"C
(1)
(2)
314 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SECARA RADIAST
c) Al=
kA
Q1 -T2)
q
0,5 \{/m,K 0,005 nLm (183,79
-
135,63)" C
42LW
=
0,00975m
21. Sebuah pengukuran radiasi kalor (seperti yang terlihat pada gambar) terbuat
dari logam tipis timah konstantan yang dianggap benda hitam dan dalam
bentuk disk dengan radius R dan tebal f . Pengukuran diletakkan pada
lingkungan tertutup. Flux radiasi yang diserap oleh kertas timah q"
disebarkan pada lingkungan terluar dan pada cincin tembaga besar yang
berfungsi sebagai penyimpan kalor pada temperatur T (R). Dua kabel tembaga
diletakan pada pusat dari timah dan pada cincin tembaga sebagai termokopel
yang digunakan untuk pengukuran perbedaan temperatur antara pusat kertas
timah dan sisi terluar timah,
Lr=T(0)
-T(R)
Tentukan persamaan diferensial umtuk menentukan distribusi temperatur
pada kertas timah dengan kondisi tunak. Selesaikan persamaan untuk
mendapatkan expresi hubungan AT dengan q". Pertukaran radiasi antara
kertas timah dan sekelilingnya dapat diabaikan.
Penyelesaian:
Diketahui: AT
=
T (0)
-
T (R)
Gambar:
Ditanya:
4
=
.....?
I
awab:
a. Kondisi batas pada r
=
0 T
=
T(0)
padar=r, T=T(rr)
padar=R T=T(R)
Persamaan Umum: q
-
-
kA dT/dr
q
= -2lIkrL
dT
ldr
(r
_ 'r \
q
= 2nkrLl
'|
,'i' I
|
Lnrlr1.
)
b.
4
masuk
=
4
keluar
4radiasi=qkonveksi
enclosure
Copper
ring
Copper
wires
q
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPTNDAHAN KALOR 315
Znkt
O,o, -
Trol)
ln(Ro
)
22.Diameler dinding tipis pipa baja0,2 m, digunakan untuk mentransportasikan
uap panas jenuh pada tekanan20bar didalam ruangan untuk udara suhunya
25"C sedangkan koefisien konveksi diluar pipa adalah 20 \N
/m2.K.
a. Berapa panas yang hilang perpanjang dari tabung pipa (tanpa isolasi)?
Berapa panas yang hilang perpanjang jika diisolasi oleh pelapis tebal
50 mm (magnesia 85%) ditambahkan? Baja dan magnesia diasumsikan
mempunyai emisi 0,8 dan tahanan uap panas diabaikan.
b. Harga pembangkit dan instalasi isolasi diketahui berturut-turut, $
4/1,0'
j
dan $ 100/m dari panjang pipa.
]ika
uap panas dioperasikan 7500 jam/
tahun, berapa tahun diperlukan untuk membayar investasi tersebut?
Penyelesaian:
Diketahui:
D
=
0,2m
P
=
20bar
7",,
=
25
"C
H
=
20W/m2K
Ditanya:
a.
-
q, (tanpa isolasi)
-
q, (dengan isolasi)
b.
Jumlah
tahan untuk membayar investasi?
I
nwab:
Asumsi
1. Kondisi berada dalam keadaan tunak.
2. Kondisi satu dimensi.
a.1. q
- LA(LT)
q
- hx3,14xDx1xAT
q/\
=
hx3,l4xDxAT
=
20 x 3,1.4 x 0,2 x 75
=
942 \N
/m
panas yang hilang perpanjang jika diisolasi dengan magnesia 85%
a.2. q/1.
=
AT x 3,1.4 x D/R + 85% x k x 3,1.4x D x LT/L + e(o x
3,L4xDx(3734-2984)
cara mencari R dengan memakai persamaan garis serta sumber data dari tabel
sbb:
7s
=
100'
20 bar
?.,.
=
25"C
h
=
20W /mzK
s=0,8
316 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
nilai k
=
j-
{,,
=:-+ didaparduapersamaanyaitu:
Xr-X, Yr-Y,
r
30 X2- 29Xr= 29
-
0,26 X2- 1,26 X,
=
20 sehingga didapat rangenya 79,9
-
28,85
maka R dari 20 bar mempunyai range 79,9
-
28,85 x 10-, N/m,, diambil
20 x 10-a N/m2
q/1
=75x3,14x
0,8 x 5,67 x
q/1.
=
2,355 x 104
0,2/(20 x L0-n) + 85'/" x 156 x 3,14x0,2 x75/(50 x 10-3) +
10-8 x 3,14x0,2x1.,1.5 x 1010
+ 12,5 x 104 + 0,03276 x 103
b.
=
148877,6 W
/m
=
7500 jamltahun
=
7500 x 3600 detik/tahun
=
2,7 x 107 detik/tahun
=
(2,7 x 107 detik/tahun) x (148877,6 W
/m)/ga
x 10,
J)/($100/m)
=
10,0492 tahun
23. Pelapisan bakelite digunakan pada batang konduksi berdiameter 10 mm, di
mana permukaannya dipertahankan pada suhu 200'C. Batang berada di dalam
fluida bersuhu 25"C, dengan koefisien konveksi 140 W /m2.K. Berapakah jari-
jari kritis pelapisan? Berapakah perpindahan kalor rata-rata persatuan panjang
untuk batang dengan lapisan bakelit pada jari-jari kritis? Berapa banyak
bakelite yang ditambahkan untuk mengurangi perpindahan kalor sebesar
25o/. pada batang?
Penyelesaian:
Diketahui:
D=
Y=
,1
T.=
I
T*=
h-
Ditanya:
10 mm
5 mm
=
0,005 m
200"c
25.C
140 W/m'?.K
T,
=
200"c
=
473,1.5 K
,G-
\,
lawab:
r,,, g,/L, (r
-
r,,) untuk q,/L sebesar 75'/"?
Skematik sirkuit:
L,,(rofrr)
2nkl
Asumsi: bahan Bakelite tidak
semen (k
=
2,08 W/m.K)
Analitis:
2242,125
L, (to/0,005)
ro
f
0,005
ditemukan dalam tabel, bahan diganti dengan asbes
.i.
SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 317
T"
1
,*"k
r,,
=kfh =2,081140 =0,014m
(
2nk
-
2nror'lc',
-,-l
q,lL
=
lrlr",a, )
(
2rr2.og
-
ll
-
|
-----------i-
r
'
r t
[.L,(0,014/0,005)
q,lL
=
29B9,5Wlm
2fr o,oo5x r+o)trzsl
Agar perpindahan kalor berkurang 25% (q,/L menjadi 2242,125 W
/m),
maka:
q,lL=
2nk
-+
L,(ro
f
r,)
2lr2,0B
zrrroh)tr,
-
r-l
+ 2rro,oo5r+oJrrzsl
L,(ro
10,005)
=
1,55
=
4,72
=
4,72x0,005
=
0,0236m ro
Asbes semen yang ditambahkan: /
-
r,,
=
0,0236
-
0,01,4
=
0,0096 m
24. Limbah radioaktif (k,*
=
20 W/m) disimpan dalam baja (k,,
=
15 W/m K)
berbentuk bola dengan jari-jari dalam 0,5 m dan luar 0,6 m. panas yang
dibangkitkan dari limah
Q
=
105 W/rrr'. Bagian luar dialiri air dengan
h
=
1000
'N
/m
K dan T*
=
25'C.
a. Hitung temperatur permukaan luar dengan kadaan tunak T,,o!
b. Htung temperatur permukaan dalam dengan keadaan tunak 7,,,!
c. Tentukan distribusi temperatw, T (r) dalam limbah radioaktif! Hasilnya
mengandur'Lg rt, T,.t,K,.,dan q (sumber), hitung temperatur pada r
=
0r.
318 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SECAHA RADIAST
Penyelesaian:
Diketahui:
k,*=20W/m
k,,
=
15 W/m K
ti
=
0,5 m
lo
=
0,6 m
h
-
1000 W/m.K
T*=25,C
Ditanya:
d' 7",o-
""'?
b'7,,,-
""'?
c' 7, -
""'?
I
nwab:
4
konduksi
4t& (l,t
-
T,,o)
T
------------+
-----------+
----.--+
a) Karena diasumsikan kondisi tunak, maka pada kontrol volume permukaan
luar berlaku laju kalor yang menuju permukaan tersebut sama dengan laju
kalor yang meninggalkan permukaan tersebut dengan cara konveksi,
4t=42
qaPnrl
=hA[,,, -T-)
q a\nrf
=
h 4nrl
O,.o -
7-
)
q
llh
rf
lrl
=7,,s -
25
.r
1os (0.5)3
rro _
"
+25
3. 1000 (0,6)'
b) Untuk menentukaflT,,t, prinsipnya sama dengan point (a), hanya kontrol
volumenya saja yang beda
4t. =
q 4l3nrl
=
q 4l3nrl
=
1lr,
-
llro
4r* (1,,,
-
T,,o)
q r?(r"
-
rt)
.
-
3k-- ,:-
*T''o
=T''l
10s
(0,5)2 (0,6
-
0,5)
i
''1
=
3115 o^5
T i
s',
Tr.i.
=
129,16"C
n SoAL DAN PENYELESATAN PERPINDAHAN KALoR 319
c) T(r)=
1. d
(,dr\
a
Rumusdasar:
-;-
lr': l+j_=0
r'drl d,
)
k
Maka:
d
(
"dT\
a
^
-l
r
'
-
I
-
_ _L v
z
dr\ d,
)
k
,rt___q 13 +C.
dr3kr
Batas kondisi:
drl
I -0
dr
l.
=o
r (ri)
=r,,i =
_# _(#).
r,
r,,i
=
#_#*r,
Tr,i
=-#*',
C"
=7
, *4'''
. 5,'
2k
(1)
T (r,)
=
7,,
,
Dari persamaan (1) dan (4), maka
Ct
=
!-r3
Dari persamaan (2), (4), (5), maka:
(3)
(4)
(5)
T(r\=-
qrz
-
qr2
+T , *
4ri2
6K
r,
3K
,*
5't
2Krw
Sehingga:
320 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
qr'
4r i2
r?-
2K
rru
2K
r*
4".-
'
(r,'-r'\+T
ZKnut'
t
-s't
25. Beberapa komponen ditempatkan pada papan IC, besar panas yang hilang
terus meningkat. Tetapi kenaikan ini dibatasi oleh temperatur yang diijinkan
beroperasi pada chip, yaitu sebesar 75'C. Untuk memaksimumkan
Panas
yang hilang maka disusun fin tembaga ukuran 4 x 4 yang bergabung dengan
permukaan luar chip yang panjang sisinya 1.2,7 mrn.
a. Gambar sirkuit termal dari papan chip tsb, dengan asumsi dimensi satu,
keadaan tunak dan tahanan hambatan antara pin dan chip diabaikan,
b. Untuk kondisi seperti pada soal 3.21, hitung laju panas yang hilang pada
chip ketika pin ditempatkan! Berapa besar
4.
untuk T,
=
75" C? Diameter
pin 1,5 cm dan panjangnya 15 mm.
Penyelesaian:
Diketahui:
A-
J
L=
c
T=
c
D=
p
L=
p
Ditanya:
a. Gambar sirkuit termal
1-?
u.Ll
,_.,....
I
awab:
a). Pada sirkuit terjadi konduksi konveksi dari pin, konveksi dari bagian dalam
clip, tahanan hambat antara chip dan papan, konduksi dalam papan dan
konveksi dari permukaan papan dengan udara.
4x4=1.6
12,7 mm
75 "C
1,5 cm
15 mm
.|.SoALDANPENYELESAIANPERPINDAHANKALoRS2I
Tahanan
termal untuk pin chip board:
Untuk
fin tunggal:
R66 =?,
dimana dari text book didapat:
4r
Q1=(hPkAc)Y'0a
dengan,
P
=
nD
sinhmL
+ (l'/*t
)coshml
cosh ntL + (h/mt<)sinh
ml
Ac
=
O,25nDz
hP 4h
=
"'
-
kAc kD
4hL
-
tP
ffil=-
KD
hD
4=-
mk 4L,
dan,
(hPkAc
)%
=
(hnDk
%"o')%
iadi
=
nD
,{h kD
2
D
( 4hLp\
%
"'[ kD
,J
,,"r[k)
.
Untuk 16 fin
Rfitt'
'
Untuk exPosed base
Rr*
n
Rr*
16
R
fi., =
i
W' -
+nDz)
322 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Untuk tahanan hambat
(chip + board)
R,"
=
R'.
w2
Tahanan konduksi
Pada PaPan:
Rbou.d =
#
Tahanan konveksi antara papan dengan udara
R,
,.o.t
1
=-
hw2
R,,o,
=
R',
to^
R.r=#
Untuk sirkuit
Paralel:
R"q'it
=
b). q,=
4t
+
4z
+R +R.
conv Doalq
Lb1
*
vr*'
-
,,*'
Maka:
ho (V'l'
-
4rED'))
lro
l- +
LRr*
4ND\7
4,
*
n'3
4
T,
-T-,o
To
-T*,0
lrc
t_
LR,*
=o'
Rt*
+ hoV'l'
-
=
hoAf 0a
R,I LU
w
2
Kow'
1
-^
h,w'
4 max,fin
dimana
Af
=
nDPLp
jadi,
4
^u*,,
=
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALoR 323
T,
-T*,o
To
-T-,^
-1
R"I
_1
w2
Lb
_!
KW2
1
-------.----:
hiw '
16
no(no
r*
+
|ika
T.
=
75"C; maka besar
+ ho ({
2
-
4nD21
(348,15
-
293,75)
,D;'l
4)
a:
4t
=
+
vur/rooot"2,25
1O-3 + 0,25 n2,2510-6
)
+
(348,15
-
293,1.5)
tooo ((1.,2710-3)2
-
4n2,2510-u)
r'
10-4
__L
(127 rc-3)2
4, =
\026,41W
5.10-3
1.(12,710-3
)2
40 (12,7 10
-3
)
2
26.Lapisan khusus pada bagian dalam pipa plastik, terkena radiasi dari sumber
radiasi panas yang dimasukkan kedalam pipa. Celah udara antara sumber
radiasi panas dengan bagian dalam dinding pipa menghantarkan heat
flux
yang merata,
4",
yang diserap dinding bagian dalam pipa. Temperatur
dinding luar pipa dijaga tetap pada temperatur yang seragarrr,7,,r. Tentukan:
a. Persamaan distribusi temperatur I
or,
pada dinding pipa dalam simbol
4"''
T'''T" f' dan k!
b.
Jika
rr= 25 mrrr, 12
=
38 mm, berapa tenaga yang diperlukan per-satuan
panjang untuk menjaga temperatur dalam pipa tetap sebesar 150'C,
sementara temperatur luar tetap sebesar 25'C, dengan kunduktifitas panas
dinding pipa sebesar k
=
10 W/m.K.?
k
=
10 W/m.K
324 PROSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
Penyelesaian :
a) Asumsi : silinder cukup panjang, sehingga suhu dianggap sebagai fungsi
dari radius pipa saja.
Sehingga persamaan differential menjadi sebagai berikut :
(d'T/dr') + (dT/dr x 7/r) + (q/k)
=
0 (1)
Kondisi batas T
=T,.2,padar =
12, dar. kalor yang diterima sama dengan kalor
yang dilepas dipermukaan.
Qn(rr)2L= -k
2nrrL(dT
/dr) lr =
r,
karena fungsi suhu harus kontinu dipusat silinder, maka
dT/dr=0,padar=0
persamaan 1 dapat dituliskan kembali sebagai :
r (d2T
/dr2)
+ (dT
/ dr)
= -qr
/k, diintegrasikan dua kali menjadi
7=-qr2/4k+Crlnr+C,
dari kondisi batas yang kedua maka
dT/dr
f
r
=
rz=
-qrr/2k
+ Cr/r, dimana nilai C,
=
0
Dari perhitungan diatas, maka nilai C, harus nol, karena pada r
=
0 fungsi
logaritma menjadi tidak berhingga.
Dari kondisi batas pertama, maka :
T
=
T,,r=
-q(rr)'/4k
+ C, pada r
=
r,
Sehingga C,
=
7,,, + q(rr)z/4k
Penyelesaian akhir distribusi suhu menjadi
T (r)
-7,,2=
q/4k
{(rr)2 -
rrl,karena q"
=
q/A, maka menjadi
T (r)
-
T,,z
=
q"
/4k l(rr)2 -
rrl.
b) Diketahui :
r'
=
0'025 m
12
=
0'038 m
7,.
r
=
1500C
T -= 25oC
'. a
k
=
10 W/m.K
(2)
Ditanya :
lawab:
{. SOAL DAN PENYELESAIAN
PERPINDAHAN
KALOR
325
^
lt _
Ll /
L
-
q,/L
=
2nk (7,,r-7,,r)/ln(r,/rr)
=
7850/0,4L87
=
L8,75 kW /m
27. Sebuah pipa yang panjang dengan tebal yang sangat tipis' dilew'l'^l1B
y-1"9
menjaga ugr. ,"rif"raturiindlng
pipa me.ita puda temperatur
500. K.. Pipa
dilapisi dengan lapisan isolasi yang ierbuat
$a11
d'ua material yang berbeda'
AdanBsisipertemuanantaradtramaterialdianggapmemilikicontactre.
sistance yu.,g ,u^lui iurr,
(infinite) dan seluruh bagian luar berhubungan
a""gu" .iaur"u denlgan T-
=
300 K dan h
=
25 W/m'K'
(a) Gambarkan
thermal circuit dari system tersebut. Beri keteranganl
(b) Untuk kondisi tersebut, berapa Heat loss total dari pipa?
Berapa temperatur
luar kedua permukaan
isolasi?
Penyelesaian
:
Diketahui :
Tr,
r=
500 K
12 =
100 mm
T-=300K
Tt
=50mm
h
=
25 W/m2K
Ko= 2 W/m'K
KB -- 0,25 W/m'K
Ditnnya :
(a) Gambar sirkuit sYstem
(b) Heat loss total, T,,rt^,, T,,rtu,
lawab
:
Asumsi :
1. Kondisi berada dalam kondisi steadystate
2. Radiasi
Permukaan
diabaikan
3. Contact resistance diabaikan
4. Konduksi isolasi dianggap merata
(b) Heat loss Total
=50mm
rz
=
100 mm
,/
?,,, =
500 x
326 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
T.',
-T-
,R,
Rr,a
=
Rt,"o.d,A * Rt,.o.r,A, Rr,B
=
Rr,co.d,B * Rt,.o^u,B
?t1 k^ +1l2fl
R,,A
=
ln(r,
frr)t
fit
-*
rzL h
=
ln(1oo/5o
lfnzr
+ t/no).L 2s
=
0,241L + L1il0,1L 25
)il
LKa
+
UZ|I
r"Lh R.,B
=
ln(r,
f
rr)/
i, 1t2
=
1n(100/5011nO,zSt + ynolL2s
=
7,ouL
LlRt=L10,24+Lf1.,01.
=
1,25L10,2424
Rt
=
0,2L
q
lL
=
q
=
(500
-
300)l(0,21L)
=
1000
Wm
Temperatur luar isolasi
Ll
cond,A -
Ll
conv,A
lznLKt([,,r -T
\
,ff
=
(r
s'z'A -
r-) h (q2)2Trr' L
2 (500
-
T
s,z,a )i(100/50) =
(f
s,z,A -
300) 25.0,L
2,89(500
-Ts,z,a) =
2,57,,r,A
-
750
'5,39Tr,2,A
=
2195
Ts,z,e
=
407,24K
4 cond,B -
Ll
conv,B
lzttLKB(r,,1 -T,,2,8)
_rr _T
;-r
=\ts,2,8 -, -)h(U2)2frrrL
0,25 (500
-
T
s,z,s )/(100/50) =
(
s,z,B -
300) 25.0,1.
0,36 (500
-
T,,z,n)
=
2,57,,r,8
-
750
2,86T
s,2,8 =
930,34
Ts.z.B
=
325,29K
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOH 327
28. Sebuah silinder Almunium yang berongga, dengan pemanas listrik
ditengahnya, digunakan dalam test untuk menetukan konduktivitas sebuah
bahan isolator.
Jari-jari
lingkaran dalam dan luar masing-masing 0,15 m dan
0,18 m dan test dilakukan pada kondisi steady state, dimana suhu permukaan
dalam dipertahankan 2500C. Ketebalan permukaan isoiator yang dipasang
pada permukaan luar silinder adalah 0,1,2 m. System tersebut terletak dalam
suatu ruangan dengan suhu 200C dan koefesien konveksinya 30 W/mr.K.
Jika
kalor yang dilepas pemanas listrik tersebut 80 W, tentukan thermal con-
ductivity insulatornya.
Penyelesaian :
Diketahui :
t=
,1
v-
,2
t,
=
.r
rs,
1-
,1.
t2
.|
I
^- 5,J
.|
,3
K^,
=
Ditanya :
lawab
:
0,15 m
0,18 m
0,18+0,1.2=0,3
2500C
=
523 K
suhu permukaan luar Almunium
suhu permukaan insulator
20oC= 293 K
(pada 600K)
=
231. V/mK
K.=
tns
4, =UrAr([,,, -T*
At
=
2nrtL
s)
Ur
=
Ut
=
"
lr," *
"
t.ba
Ko, 17 Kir* rshz
7
0,15
,
0,18 0,15
,
0,3 0,15 1
-rir
-ri.
231 0,15 K
i.,
o,L8 0,3 30
1 Kt.,
0,0,6zg5 +
0,077
o,o1,67\sK
^"
+ 0,077
'
K,.,
=
2nr.L
=
2n0,15L
=
0,9425L
=
qr
f
L (laju alir kalor per satuan panjang)
=
2firrU
t
(f
,,, -T *,r)
u1
A1
qrl
qr1
328 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SECARA RADIASI
80
= 0,9425:
:r ;:-5in' : ::=
(sz3
-
2gg)
0,01.6785Ki.. + 0,077'
K*,
=
6,1,9'1'0-3
(i^,
* 0,0284
0,9938K
*, =
0,0284
K
i., =
0,0286 W/mK
29. Sebuah transitor sebagai sumber panas berbentuk setengah bola dengan
ro
=
0,L mm dilapisi dengan zat silicon (k
=
125 W/mK). Lapisan silicon
dijaga pada suhu lingkungan T
=
27
0C
kecuali bagian atas yang diisaolasi.
Bagaimana distribusi temperatur dari zat tersebut dan hitung suhu
permukaan dengan sumber panas
4
=
4W l.
Penyelesaian :
Diketahui :
Ditanya :
/o
=
0,1 mm
k
=
1.25 W/mK
I-=300K
4 =
4W
a. Distribusi temperatur
hT- ?
",
.0
lawab
:
Luas setengah bola
=
1/2(4nr2)
=
2nr2
Asumsi :
1. Kondisi tunak
2. Dimensi Satu
3. Panas yang hilang dari lapisan atas diabaikan
4. Tahanan kontak diabaikan
Analisa: a.
q
= -kA+
dr
q
-
-k
(2nr')+
' 'dr
+'i+=-k'idr
zfr
'"
r'
'o
+(L-
1)=k(ro
-r_)
Znlr, r*
)
:Q::
.l
$
i.E'\
:i:;::
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 329
Karena r* z
*,
maka persamaannya menjadi :
q
Znro
q
R,r,
=
k (lo
-
I-)
_
(7,
-T_)
('/r*r,)
1
2t*ro
b.
Jika 4 =
4W, maka
4 W
=
(7,
-
300)K x 2n x 1.25 W /m.K
x 10-am
++ (7,
-
300) K
= 50,9 K
<=fo=350,9K=351 K
or
7g0c
30. Berdasarkan susunan komposit pada gambar yang mengalami konveksi.
Bagian tengah dinding membangkitkan panas sebesar
4r,
=
4.700 W
/m3,
sedangkan bagian lain tidak membangkitkan panas. Hitung temperatur T,
dan 7, serta flux panas melalui dinding A dan B !
Penyelesaian :
Diketahui :
T
- 250C
h -- 1000 W/m2.K
T*
h
K
K.
K
=251N /m.k
=
15 W/m.k
=
50 W/m.k
lt
AA
I I L
=3ow/m.k
I I
r,
=
eo wzm.t
L,=20W
/m.k
330 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
Ditnnya :
Tr,Trdanq=......?
lawab
:
-7,-Tz
T2-25
0,06115 1i 1000
Menghasilkan: T,-5 T,
=-1OO
q[
=,^' '
T.t
-Tz
lbLb -
LJK,
4.106 10.061
=7,
-T:-
'
0,0611,5
Menghasilkan : 960
=
Tt- Tz
Persamaan (1) dan (2) didapat :960 + T2- 5T2+ 100
=
0
T.,= 2650C
Tt= 960 + 265
T'= 12250C
Persamaan fluks panas melalui dinding A dan B adalah :
(1)
(2)
,
T_
-7,
"'^ -
LolK
n
]adi
:
4'A =
2sl2s
-
122s1
A-
op3
4i=700W
/m'
4n-,i =
qo'
-
qu'
4a-,s=
1'06
-24.1,04
4e-,n=760'1'03W /m2
Z NVICVE
332 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
01. Sebuah benda dengan konduktivitas termal k
=
1,2W/mK' Dengan temperatur
permukaan dalam luarnya masing-masing 600"C dan 60oC. Tentukan faktor
bentuk
(S) dan arus kalor persatuan panjang (q).
Penyelesaian:
Diketahui:
Ditanya:
k
=
\,2WlmK
Ti
=
873K
To
=
333K
S dan q
=....
?
lawab:
Titik:
2.60+60+Tr+Tn-472=A
3. 60 + 60 +Tn+Tr-4Tr=g
4. 60 + 60 + Tu + Tu- 474-- 0
5. 60 + Tu+ 60 +Tn-4Tu=g
6. Tr+Tr+ 60 + 600
-
4Tu=g
7. Tu+ T, + 60 + 600
-
4Tr=
g
1..2T2+60+600-4Tn=0
B. 2Tz+ 60 + 600
-4
Tu
=
0
T.r T2 T3 T4 T, T6 T7 T8
42000000--660
1.4100000=-660
0 1 I 1 0 0 .0 0 - -660
001.41000=-660
00014000--660
00001'410=-660
000001-41--660
00000024=-660
T
r=
T
r=T r=
T
n=Tu=T u=
Tr= Tr=339
q cond Tr-7, 600
-
330 330
-
600
=
k'Lx =
1,2 .0,25 ------------- + 0,25 ------'------'
L Ly 0,25 0,20
=1671
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPTNDAHAN KALOR 333
4=S.k.LT
167
=
S 1,2.540
s
-- 0,257
02. Sebuah pipa panas dibenamkan dalam material yang konduktivitasnya 0,15
W/mK. Gunakan
fluks
plot method, tentukan shape
factor
dan panas yang
dibutuhkan yang dipindahkan persatuan panjang ketika pipa dan permukaan
luar bersuhu 150"C dan 350'C
Penyelesaian:
Diketahui:
k
=
0,15WlmK
T
=
150oC
P
4
=
350'C
S danq
=.....2
Ditanya:
lazuab:
Fluks P/of disederhanakan menjadi 1./2 dari benda sebenarnya (karena
memperhatikan garis simetri), dengan M
=
15, dan N
=
7,
Shape
factor:
S
=
q.
M1) /N
=
2. (151)
/7
=
4,281
S/1
=
4,28
sedangkan menurut tabel S
= QnD /Coshr {(D
2
+ d2
-
42
'z)
/2Ddl
S /L =
(2n)/Cosh'
l(D'+
d2
-42')/zoa1
S /
L
=
(2II)/Cosh-1{ (80'z + 202
-
4.702)
/ 3200
$ /
L= 4,77
4
=
S.k (T;72)
dengan S
=
4,77
4
=
4,77 .0,5 (150
-
35)
4
=
274,275 W
0.3 Sebuah penyangga pendukung terbuat dari material dengan konduktivitas termal
75 W/mK memiliki penampang lintang seperti pada gambar. Bagian permukaan
akhir memiliki perbedaan suhu 7,100'CdanT
,=0"
yang sisi-sisinya diisolasi.
a. Dengan menggunakan metode flux plot, hitung suhu pada titik P!
b. Hitung laju perpindahan panas yang melalui penyangga per satuan panjang!
Penyelesaian:
334 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
Diketahui:
Ditanya:
T,
=
100"C
T,
=
0"C
k
=
7SWlm.K
a.Tp
=...7
b.q/1=...?
lawab:
a. tlr=k A (Tz-T1)
4r=kA(Tp-T1)
T
=
50'C
P
b'
4 =
skLT
4
-
nM r-^-
- -
/
-Al_\r
1N
q17
=
7.ap.75.50
q11
=
35000W/m
04. Sebuah kolam tumpuan panjang berpenampang lintang trapezoida diisolasi
dengan baik pada sisi-sisinya. Dan temperaturnya dipelihara 100.C pada
permukaan atas dan 0'C pada permukaan bawahnya. Kolom dibuat daribala
AISI 1010 dan lebar permukaan atas 0,3m dan bawah 0,6m.
a. Cunakan metode plot-flux, untuk menentukan perpindahan kalor per unit
panjangkolom.
b.
iika
kolom trapezoida diganti dengan sebuah batang berpenampang lintang
segi empat panjang dengan lebar 0,3m dan dibuat dari bahan yang sama,
berapa tinggi batang H untuk memberikan sebuah hambatin thermal
equivalent.
Penyelesaian:
Diketahui:
4r=
clz
T-T=T-T
2ppt
l,
L
p
T
Tb
=
0,3m
=
0,6m
=
0,3m
=
100"C
=
OoC
+-0.2m*1
,.r[
L
0,3 m
e
0,3 m

f\

u,6 m
,,, ,.l
1"
.i.
SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 335
Ditanya:
a' q/l=...?
h t- ?
lazuab:
Dari gambar yang terdapat pada transparan diketahui: M
=
6; N
=
5, k
=
63,9 W
/
m.K
(dari tabel)
a. q
- M/N.1.k(T,-Tb)
q/I
=
M/N.k(7,-Tb)
q/L
=
6/5.6,39.10A
q/1
=
7668W/m
b.R,..o.a
=Trr-Trr/
q
=L/kA
05. Dua buah batang prisma dengan lubang di tengahnya, dibuat dari baja karbon.
Panjang batang tersebut 1 meter dan kedua ujungnya diisolasi. Tentukan sftrrpi
factor
masing-masing batang, dan tentukan panas per unit panjang dari batang,
jika T,= 500 K dan Tr= 300 K
Gambar penampang kedua buah batang (dimensi dalam mm)
,,,I
Flooi
l--To-l
Penyelesaian:
Batang 1
Diketahui:
n
=4
nt=6
Ditanyn:
S & q/L=....?
8 m.L/n
(Bx6xL)/4
12L
lawab:
t=
Adiabatis
336 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SECARA RADTASI
q
q/L
s.k(Tf T2)
(12L).(60,s). (s00
-
300)
145200W
/m
Batang 2:
Diketahui:
n=6
m=5
Ditanya:
S &q/L=....?
lawnb:
S -
(8x5xL)/6
=
6,67L
q
=
Sk (T1
-Tr)
=
(6,67L) x (60,5)x (200)
q/L
=
80666,67W/m
06. Dua dimensi, ukuran bujur sangkar dengan sisi 1 M dipertahankan pada
temperatur yang sama, T,
=100"C
dan 7,
=
0oC, pada batasnya dan diisolasi di
bagian lainnya.
Gunakan metode plot flux untuk memperkirakan laju perpindahan kalor per satuan
panjang, jika konduktivitas thermal
=
50 W/mK
Penyelesaian:
Diketahui: Dimensi dan konduktivitas thermal dari bujur sangkar
Ditanya: Laju perpindahan kalor per satuan panjang (q)
Jawab:
Asumsi: L. Kondisi tunak (steady state)
2. Konduksi dua dimensi
3. Sifat-sifat konstan
4. Sistem terisolasi dengan baik
T1
T2
!
!
-'-'t-'-'-'
i
Tr
T1
T,
T2
I
i
-'-'!-'-'-
I
* SoAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALoR 337
Analisa
Karena Tr, Trmaka arah aliran konduksi dari r, keT, dari gambar didapat:
N,o,nt= 76,Mror^r=12
maka q
=
M/NktT
=
12/16.50.100 W
/m
=
3750 W/m
N'otu'= 79'M,,,u,=1'2
maka
4 =
L2/19.50.100W/m
=
31.57,9W
/m
07. Bentuk lingkaran dua dimensi yang ditunjukkan pada gambar di ban-ah
dipertahankan pada temperatur yang seragam pada bagian pembatas mereka
Gunakan metode alur fluks untuk memperhitungkan faktor bentuk.
Penyelesaian:
Diketahui: Bentuk lingkaran dua dimensi pada temperatur yang seragam.
Ditanya: Faktor bentuk S dengan metode alur fluks?
lawab:
1, Kondisi steady state
2. Konduksi dua dimensi
3. Sifat-sifat tetap
a)
lTz
338 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Dengan M
=
5
N
=
5, sehingga M/N
=5/5 =1.
)adi
faktor bentuk untuk seluruh lingkaran adalah
s
=Ml =1.1 =1
N
dengan M= 6
N
=
8, sehingga M/N
=
6/8
=3/
4
jadi
faktor bentuk untuk seluruh lingkaran adalah
3141,
08. Sebuah pipa yang digunakan untuk menyalurkan minyak mentah berada di
bawah permukaan tanah sedalam 1,5 m ke garis sumbu pipa, sedangkan pipa itu
sendiri berdiameter 0,5 m dan diisolasi dengan lapisan cellular glass setebal
100 mm.
Berapa rugi panas yang dihasilkan persatuan panjangpipa dengan kondisi suhu
minyak yang mengalir 120'C, sedangkan suhu dalam tanah tersebut 0"C?
b)
MI
(-
N
Penyelesaian:
Diketahuai:
k
=
0,038 W/m C
D=0,5m
4 =
...?
Perm tanah
Ditanya:
* SoAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALoR 339
lawab:
2nclr
-
T-)
;rt=klh,h=kfr,
7
+_
rr+h
!_=
k2fr?i
-
T
-)
I p,?old+
np,3s/,rr)+ t
!
=
z,sw1*
09. Dengan menggunakan hubungan tahanan kalor, tentukan faktor bentuk da1
geometri di bawah ini:
(a) Dinding datar, Cylinder shell, dan spherical shelt.
(b) Bola isotermal dengan diameter D, pada medium tak-berhingga.
Penyelesaian:
(a) 1. Dinding datar, faktor bentuknya
AlL, denganbatasan untuk aliran satu dimensi.
-.F
(a) 2. Cylinder shell, faktor bentuknya :
+,,denganbatasan:
L >> r.
r,lh l
lt' ./
O-
L
h(2D/")*n('r/\*,
\
/'o)
l/,0)
0,038.2n(120
-
0)
I
q
(a) 3. Spherical shell, faktor bentuknya ,
4rlror,
'
fo-ri
340 PROSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
(b) Bola Isotermal dengan diameter D, dalam medium tak berhingga, faktor
bentuknya adalah:4nr.
10. Sebuah pemanas listrik dengan panjang 100 mm dan diameter 5 mm dimasukkan
ke dalam sebuah lubang yang dibor tegak lurus permukaan suatu material yang
besar yang mempunyai konduktivitas 5 W/mK. Hitung temperatur yang dicapai
pemanas saat menghamburkan 50W dengan permukaan balok pada temperatur
25.C.
Penyelesaian:
Diketahui:
L
=100mm=0,1
m
D=Smm=5.10-3m
k
=
5 W/m.K
4 =
50w
T
-?\oC=298K -2
Ditanya:
T= ?
'1
lawab:
L >> D; sehingga shape faktor
=
2n.L
/
ln(4L
/
D)
4
=
S.k.(T;T
2)
Tr= Tr+ q/ (s'k)
T,
=
298 +50
/
(2n 0
,1. /
(In 4.0
,1, / 5 .1.0-3))
T,
=
298 + (21.9
,1. / 3,1.4)
T,=364f=95oC
11. Sebuah tungku pembakaran berbentuk kubik, dengan dimensi luar 0,35 m,
disusun dan refractory brick
(fireclay).
Jika
ketebalan 50 mm, permukaan dalam
bertemperatur 600'C dan temperatur luar 75oC.
Hitung kerugian kalor tungku!
Penyelesaian:
Diketahui:
f
=50mm=0,05m
T,
=
600'C
Tz= 75oC
t D
=
5.10-r
-
'
SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 341
1,5 W/m.k
7
J
cl
=
...?
1= (10+77,5)/2
L
=
73,75
=
0,7375 (diambil rata-ratanya)
Sr
=
12.M1lN
=
12. 7 .0,1.375
/ 3
= 3,85
S,
=
B (0,151)
=
8 (0,15.0,05)
=
0,06
S,+S,
=3,86+0,06=3,91
4 =
Sk(Tr+Tr)
=
3,91.1,,5(600
-75)
=
3079,125
12. Sebuah gulungan konstanta panjang memiliki diameter 1 mm di las pada
permukaan blok tembaga, membentuk sambungan termokopel. Gulungan
memiliki fin, tempat panas mengalir dari permukaan, dengan temperatur
sambungan T- dan temperatur blok 7,.
Jika
gulungan berada di udara pada suhu
25"C dan koefisien konveksi 10 W/m'zK. Hitung kesalahan pengukura" (7,
*
T"
)
untuk termokopel, ketika blok pada suhu 125.C.
Penyelesaian:
Diketahui:
h
=
10 W/m2K
T_= 25"C
T"= 125"c
k
=
401Wlm.K
ft=
M_
N-
0,35 m
<---t
'ruI
"'-
Tr
=
6oo'C
Ditanya:
lawab:
Asumsi:
342 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
D
=
0,001m
Ditanya: kesalahan pengukura" (l-7,)
=
lawab:
4.o^a
*
?ronu= 4ro,
k(T"-7,)+h(7,
401(12s -
l)
*
-T-)=sk(7,-7,)
10 (7,
-25) =
2.0,001.401
=
49895
=
127,35'C
I
Thermocouple
-25)
(Ti
391.,8 Tj
Ti
T,-7,=1.27,35-1'25
=
? ?6"C
rtvv
-
13. Sebuah alat elektronik, berbentuk sebuah disk berdiameter 20 mm, mempunyai
daya 100 W, kemudian dipasangkan pada sebuah blok besar terbuat dari
almunium paduan 2024, yang temperaturnya dipelihara pada suhu 27"C.
Pengaturan pemasangan diatur sedemikian rupa sehingga hambatan kontak yang
terjadi sebesar 5. 10-sm2 K/W pada bidang pemisah antara alat dan blok. Hitung
suhu alat yang akan dicapai, asumsikan semua daya dari alat dialirkan secara
konduksi ke blok.
Penyelesaian:
Diketnhui:
D=
v
Tb=
Rt"
=
Ditanya:
20 mm
100 w
300 K
5.10-s.m2K/W
lawnb:
q"x
RI"
R'
RI"
qx
Ta
=
...?
qx/ A
Ta-Tb/q"x
1/Sk
1/ SKA
Sk (Tn
-Tb)
k
=
1/5.1/Rt"A
k
=
3,14. 16'+75.10{.4.L0-2
k
=
1.57 W/mK
(Ta
-Tb) =
qx
/Sk
* SOAL DAN PENYELESAIAN PEBPINDAHAN KALOR
=
100.4.L0-2.157
=
15,9
T,
=
15,9-3,09
=
315,9K
343
14. Sebuah komponen elektronik penghasil tenaga berbentuk bulat tipis, berdiameter
D
=
10 mm. Salah satu permukaannya direkatkan pada balok almunium (k
=
131
W/m.K) yang sangat besar. Tahanan termal pada permukaan yang direkatka:.
R"t,c
=
0,5 x 10rm'K/W. Permukaan alumunium yang tidak terekat dijaga pa;;
temperatur tetap Tb
=
25oC. Permukaan lainnya terkena aliran udara dengan niiai
h
=25
W/m2.K dan T-
=25"C.
(a) Cambarkan rangkaian temperatur dari sistem beserta keterangan tahana:.
termal, arah aliran panas (s), dan T, serta T_
(b)
lika
temperatur komponen: elektronik T. < 100'C, berapa batas maksirr,r.r::.
tenaga yang terdapat pada komponen tersebut?
Penyelesaian:
Diketahui:
D=
K=
R't,c
=
.|
I_
h=
.|
,b
A=
=
10 mm
=
0,01 m
273W
/m.K
0,5-r x 10-a m2K/W
25"C
25 W/m'?K
25'C
fir2
a)
(3,14) (0,005)'?
=
7,85 x 10-a m2
Ditanya: a) Sketsa analogi rangkaian listrik
b) Bila 7.. 100.C berapa P ijin max.
lawab:
4t
1/h
T.
Rt,c
1/ sk
----+
----)
----) D Kompo:le:.
6lekt rtrn: i
344 PRoSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
b) Dari tabel untuk disk dengan diameter D dan T, di atas medium semifinite
termal dengan konduktifitas k dan T, adalah:
S
=2D
S
=2x
0,01
=
0,02rn
Rr,.o.d
=1/Sk= {(0,02)
(273)l-1
=
0,21m2K/W
4'
= 4t-4'dengan:
Qt =
h.A(7,-T_) =
(25)(0,000075X100
-25)=0,1'47W
4,
=
(7,-T
o)A
/
R" t,c+ (7,
-
Tr)/R,,-".
=
(700
-25)(7,85
x 10-s) (0,5 x 104)- (100
-25)/0,21
=
1.17,75 + 357
,14 =
474,89 W
P
=
474,89 W
15. Anggap suatu konfigurasi nodal seperti pertunjukkan pada gambar, turunkan
persamaan
finite
difference di dalam kondisi tunak, untuk situasi di bawah ini:
a. Batas diisolasi
b. Batas dianggap terjadi heat flux yang konstan
Penyelesaian:
Diketahui: Gambar:
D itany a: Penurunan rumus?
lawab:
Asumsi: 1. kondisi tunak (steady state)
2. konduksi dua dimensi
3. sifat-sifat konstan
4. heat generation internal diabaikan
Analisa
A
Jika
batas diisolasi (konveksi diabaikan)
DariE. +E
=0
4
Lqt-+(m,n)+0=0
I =1-
m,n+1,
m,n
h, T_
m,n-L
i. SOAL DAN PENYELESAIAN PEBPINDAHAN KALOR 345
Akibat konduksi
4
(m
-
1, n) -+ (m, n)
=
k (Ly t) (T,_
r,,-7.,,)
/ Lx
4
(m, n
-
1)
-+
(m, n)
=
k (Lx
/
2 1) (T
^,,,,
-
T
^,,)
/
Ly
Q(m+1,n)-+(m,n)=g
Q
(m, n- 1) A ) (m, n)
=
k (Lx
/
2 1) (T
^,,
_r-
T
^,,)
/
Lx
sesuai ketentuan bahwa jumlah Persamaan 1.1 sampai 1.4 harus sama dengan 0
dengan Lx= LU
maka persamaan menjadi:
kLy (T*_r,n)/ tx-k|y (T^,,)/ Lx +
lk\,x/2(7,^,,,r)/
Ly
-k
Lx/2(T^,,,)/ Lyl
=
kLx/2.(7,,.,_r)/ Ly
-kL,xT,,,,n/
Ly
=0
kT
-k.T
+k/2.7 .-k/2.T +k/2.7 .-k/2.T -0
m-ttn tn,n m,n+t n,n m,n-l ' m,n
kT .n+k/2.7 .+k/2.T .-2kT
=Q m-t, m,n+t m.n-t m,n
b. Apabila batas dianggap terjadi heat flux maka terjadi konveksi.
q
*+
(m, n)
=
h(Lx.l) (T
*-
T
*,,)
karena permukaan yang terkena konveksi
=
2Ar maka
dengan menjumlahkan dengan hasil konduksi didapat:
2 T,
_ r, n
* T
*, n * t
* T
_,,
_,t
+
{4h
(Lx 1)T
*l
/ k
-
2(hLx
/ k + 2)T
^.,
=
0
dikali dengan 2 / k didapat;
kT +k/Z.T .+k/2.7 --zkT =2h(Lx1)(T-T
)=0
m-ttn m,n+t m,n-t nt,n 6 m,n,
16. Pertimbangan konfigurasi nodal seperti pada gambar. Turunkan persamaan fi-
nite difference dalam kondisi steady state untuk kondisi di bawah ini.
a) Pembatas atas dari pojok luar diisolasi sempurna dan sisi pembatas terjadi
proses konveksi (T*,h)
b) Kedua pembatas pojok luar terisolasi sempurna. Bagaimana hasil ini
dibandingkan dengan Persamaan (4.47)
(T^,n_r* Tn
_r,n)
+ 2(h Lx)
/k.T*- 2 (h L,x
/k
+ 1).T
n.n=
0
346 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SECARA RADIASI
Penyelesaian:
Diketahui: Gambar:
Ditanya:
Persamaan finite difference untuk nodal
lawab:
Asumsi: 1. Kondisi steady state
m-7,n h,T*
-:
^,1 l
'-t
*;,')*''
Lv
=
^,
v,n Ll
I m,n_7
"l
Lo'J
l-> x, m
2. Kondisi dua dimensi
3. Sifat-sifat konstan
4. tidak ada panas internal yang dihasilkan
a) Kalor mengalir dari node m,n dengan cara konduksi dan konveksi.
Aliran kalor dengan konduksi:
4 f
-
kALT
/
Lx
=
k (Ly
/
2L) (T
*_r,,-
T
*,,)
/
Lx
4z= -kALT /
Ly
=
k (A,x
/2L)
(T
^,n_r-T*,,)
/
Ly
Aliran kalor dengan konveksi
4 z
=
hALT
=
h (Ly
/
2L) T
*-
T
*,,
Keseimbangan energi
=
4r* 4z* 4z
{
9r)r
* -,,,
-
r
*,n
* r(
Arr\r
^,n-,
-
r,,,
[2 )
tr (2
)
ty
* n(
Lr)f-
-
''''
=
o
[2 )
^r
L,x
=
Ly, masing-masing suku dibagi KL/2
T,
_r.n -
T
*,n
* T
^,n_t
-
T
*,,
*
ft--
T
*,,)
=
o
didapat: (r,,-t.n *Tn,,,-r, .
Tr-
(ry
* z).r,,.,
=
o
b)
n-L,n
yffi*q,
^'ll
t
-''l'l
LY=^x
v,n
i L
a'
Jm'n-7
t_, X, m
{. SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 347
Kalor mengalir ke node m, nhanyadengan cara konduksi
4 t
= -
kALT
/ Lx
=
k (Ly
/2L)
(T
n, _r,, -
T
*,,)
/
Lx
4z = -
kALT
/
Ly
=
k (A,x
/2L)
(T
^,,
_, -
T
*,,)
/ ty
Keseimbangan energi
=
cl, *
4, =
0
k (Ly
/
2L) (T
n,
_
r,, -
7,,,,)
/ Lx + k (Lx
/
2L) (7,n,
n
_,t -
7.,,)
/ Ly
=
O
Lx
=
Ly, masing
-masing
suku dibagi (K, L)/2
T
n,
-
t, n
-
T
r,,,
* T
n,,,,
-,
-
7,n,,
=
0
Didapat: (7,,
-
r,n
* 7,,,
n
_r)
+2.7,,,
n
=
o
Hasil yang didapat dibandingkan dengan
persamaan
4.47
Persamaan 4.47:
(r*-t
n
* r*,u-,) * 2ryr-
-
r(ry + t)r^,,,
= o
maka:
T.-
t,n
* Tr,,-t
_
.T
Z rm,n
T._r,n * 7,,,,_r 2(hLxlk + 1)Tn,n_zhLxlkT_
(7,,,n)o= (h.Lx/k +1) (T*,,),- (h.Lx/k. T*)
di mana (7,,,,)o
=
Temperatur node pada soal b.
(7,,,n),
=
Temperatur node pada persamaan.
17. Berdasarkan pada definisi control volume yang tepat untuk node di dekat
permukaan kurva dengan temperatur yang tidak sami
lhhat
gambar), dapatkan
Persamaan 4.48!
Persamaan 4.48 (lncroperk,
Introduction to Heat Transfer, p 191)
2
r
--2
,
-.,*--2--r,-(?*l)r..,=6
,-1tm+7'n*
*rt*,n-.-* n{o*u', b(b+1)
-
(, o)
348 PRoSES
PERPTNDAHAN
KALoR
SEoARA RADIASI
Penyelesaian:
Diketahui:
Gambar
Ditanyn: Penurunan
persamaan
4.4g
lawab:
m--1,,n
dT
) _'(^
*t,n1-Tt
ax
J(m +7,n)-+T, Lx + aLx
dr
1
T6,ny
-rr
ax
) (m
,n)->7,
aLt
dr
1
r6,n
-t1
-
rz
a!
)@t,n-7)-->7,
Ly +bLy
dr
I
16,11
-rz
dl
)@,n)-+7,
b Ly
.
..r
T(m+1,n)-71
T@,n)- T1,
!___t _ Lx + aLx
aA,x
dr'
J*,,
ax
T. _T T r
_'l!*l,n)
-'
l,(^,n)
- t1
-
-;r@
.i
-
-;;r--
T
_
t
(m +1,n)
_
Tl
_T(n,,n)
_;r@+tr_
r;*r*7_
,*,
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALoR 349
. r
T(m,n-t)-Tz
_T(*,r\-Tz
d'Tl Ly+bLy bLy
;7
)*,,
=
ov
'(*,r-t)
-Tz T2
T@,n)
Tz
ir;
-
i';
-T1m,n-t1
T2
T@,r)
-
i'n
-b)
iT
LY2
=
t'2
Persamaan Laplace
{+
.
*
=
o
dx' dy'
T\nt+t,n\
*
__rL_
*T:*,n-,tt *
__Iz__ _(!
.l)h.,,,)= o
a+7 a(a+7) 7+b b(b+1)
[a
b1r""""'
18. Rencana pertimbangan titik nodal dalam daerah permukaan isotermal sepertl
gambarberikut
Gunakan Persamaan 4.48 (lihat no. 17)konfigurasi di atas untuk mengisi
persamaan finite-difference pada node 0.
Penyelesaian:
Diketahui:
s -- LX/2
6
=
ty/Z
Ditanya:
a. persamaan untuk noda o?
b. persamaan untuk noda yang lain?
350 PROSES PERPINDAHAN KALoH SECARA RADIASI
lawab:
Astrmsi:
1. kondisi tunak
2. kondisi dua dimensi
3. konstan properti
4. pembangkit energi dalam yang seragam
a. 0= 2/(a+ 1)T,,0+ 2/(b+ 1) + To,_, +2/a(a-1)7, +2b(b+L)Tz-Q/n+2b)Too
0
=
2
/
(3
/
2)T
r. o
+2
/
(3
/
2)T
o,
_1
+ 2
/
(3
/
4) T, + 2
/
(3
/
4)7,
-
(4
-
4) T
o o
0=7,+Tr+Tr-37,
sehingga persamaan yang didapat: 0
=
T,+ Tr+Tr-3To
b, Persamaan untuk node yang lain
Node2:
To+Tr-2Tr=
g
Node 1:
T, + T.-2T
r=
0
Node 3:
fr*fr-2T.=Q
Node 2
Tr+ T.-2T
r=
0
19. Sirip satu dimensi dengan penampang yang uniform, diinsulasi pada ujungnya,
r
=
L (lihat gambar). Temperatur pada dasar sirip T, dan fluida T di mana
koefisien heat transfer h dan konduktivitas thermal k, diketahui.
(a) Tentukan persamaan finite difference untuk setiap titik dalam m.
(b) Tentukan persamaan finite difference untuk titik n, terletak pada ujung
yang diinsulasi di firana /
=
L.
Penyelesaian:
Diketahui:
Gambar:
'
SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN
KALOR 351
Ditanya:
(a) 0 (x),0/ 0oqr untuk setiap titik dalam z.
(b) 0 (x), 0/00 qr untuk titik n, terletak pada ujung yang diinsulasi
dimana x
=
L.
lazuab:
(a) Untuk sirip satu dimensi dengan penampang uniform;
d
2
T
1 4rz
-
1rp (T
-
T
*)
/ kA,
=
0
di mana excess temperatur:
0 (x)
=T
(x)
-T-
Karena 7 konstan, maka d0/ dx
=
dT
/
dx sehingga kita dapatkan:
d20/dx2-m20=O
dimana:
m2
=hP /kA,.
f(ar9na
Persamaan
di atas linier, homogen, persamaan diferensial tingkat dua
j.:
:::
koefisien konstan, maka akan di dapat:
0 (x)
=
Cre*' + Cr
-n"
^
Pada dasar sirip (x
=
o);
0 (0)
=
To-T*= 0
o
dan pada ujung sirip (x
=
L)
LA,(T(L)- T_)
= -
kAdT
/
dx
l,
=,
dari persamaan (1):
0u= 0o= C, * C, dan
h (Cre"'L * Cre
-'nL1
=
km (Cze
-nL
-
Qrs
ntL)
(b) Untuk kasus B diasumsikan heat loss konvektif dari ujung sirip dap::
diabaikan, di mana ujung tersebut dianggap adiabatik.
do/dxl,=.=o
sehingga:
Cr,.,-Cre-.1.-0
352 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
kemudian kita dapatkan distribusi temperatur
u''
o
==".ril';;,::;t::*
1,/coshmL
dengan menggunakan distribusi temperatur ini, jumlah panas pada sirip
q,=
6lhrke,l
ootanhmL
20. Diperkirakan temperatur (K) pada node sistem dua dimensi permukaan B
dipertahankan pada suhu konstan dan permukaan A mengalami konveksi. Hitung
laju kalor yang keluar dari permukaan A per satuan tebal. Hitung konduktivitas
panas bahan (C)!
Penyelesaian:
Diketahui: Gambar:
Ditanya:
a
o.
4a
_
...,
b. C
=
...?
Iawab:
+ T
=300K
+
+
h=10W/m2K
4o
= Eh
dX
$ -r*)
=
1.0.0,2
[(356 -
435) + (337
-300)
.1./2)
=
l49r// /m
Panas yang hilang di A
=
Panas yang hilang di B
4e
=4s
4n
= )KdydT/dx
dY
=dx
149
=
K[(s00-43s)+ (500
-3s6)1./2]
K
=
1.,08759W/m.K
21. Sebuah batang penghantar yang berbentuk balok dengan ukuran (20 x 30) mm'z
dengan konduktivitas panas (k)
=
20 Watt/m.K dan q
=
5 x 107 W /m'ketika
permukaannya dijaga pada suhu 27
"C.
Gunakan
finite
difference method dengan
jarak grid sebesar 5 mm untuk menghitung distribusi temperatur pada batang.
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR
Penyelesaian:
Diketahui:
k
=
2jWlmk
4
=
5'L07rN
/m3
Ditanya: distribusi temperatur
=
.. . ?
lawab:
353
Suhu dipermukaannya dijaga agar tetap pada 27oC penampang melintang
20 mm x 30 mm. Dibagi dalam bidang grid (5 x 5) mm2 seperti pada gambar sehingga
terdapat 15 node (1-15).
Persamaan untuk node 1-15 adalah:
0
=
T
^
* t, ut
T
^
-t,
n*
T
^,,
* r
* T
^,
n-r* 4 @x'
dy) / k + 4T
*, n
q (dx'dy)/k
=
5.107W /m3
(25.10{m'?)
/20W /mK= 62,5K
Seianjutnya persamaan untuk node dapat ditulis sebagai berikut:
T2 +300+ 300+ T,o +62,5
T3 +7, +300+Te +62,5
T4 + T, + 300 + T, + 62,5
Ts +7. +300+T7 +62,5
300+7, +300+T6 +62,5
300+7, + Ts + Tru +62,5
T6 +7, + T4 + Tro +62,5
Tz +Tn + T3 *T,, +62,5
TB *Tro + T2 + Tr, +62,5
Ts +300+ T1 + T\ +62,5
Tr, + 300 + Tro + 300 + 62,5
Trr*7,,+Te+300+62,5
47,
-o
47,
-o
473
-o
4Tn
-0
4Tu -0
47/ -o
47,
=g
47,
=o
4Tn
-0
4Tro
=
o
4Tr,
=
o
4Tr,
=
o
1 2 J c 5
10 9 8 7 6
11 12 13 14 15
354 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
Trn * T,
T'- * Tre
300 + 7,n
62,5
-
4Trr=0
62,5
-
4Trr=0
62,5
-
4Tr,=0
T
6
T7
T
300
300
300
+
+
+
Dengan menggunakan notasi matrik, penanaman untuk node diatas dapat ditulis
dalam bentuk:
-4
1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0
1
-4
1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0
0 1
-4
1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0
0 0 1.
-4
1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0
0 0 0 1
-4
1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0 0 0 0 |
-4
1 0 0 0 0 0 0 0 1
0 0 0 1 0 1
-4
1 0 0 0 0 0 1 0
0 0 1 0 0 0 1.
-4
1 0 0 0 1 0 0
0 1 0 0 0 0 0 1
-4
1 0 1 0 0 0
1 0 0 0 0 0 0 0 |
-4
1 0 0 0 0
0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
-4
1 0 0 0
0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 I
-4
1 0 0
0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1
-4
1 0
0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1.
-4
1
0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1
-4
T1
T2
T3
T4
Ts
T6
T7
T8
Te
Trc
Trr
Tn
TB
Ttt
Tts
-
662,5
-362,5
-362,5
-362,5
-662,5
-362,5
-
62,50
-62,50
-62,50
-362,5
-662,5
-362,5
-362,5
-362,5
-
662,5
Dengan cara matematis, maka matriks tersebut dapat dipecahkan, sehingga didapat
T, sampai dengan Tru sebagai berikut:
T1
T2
T
3
T4
T-
5
T
6
T7
T8
Ts
7,0
Tn
=
463,2455"K
=
61.9,3298'K
=
655,9553'K
=
619,3298'K
=
463,2455'K
=
57L,L524'K
=
633,1.1.84'K
=
660,1.619 "K
=
633,1.1.84'K
=
577,1524"K
=
463,2456"K
I. SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 355
Tr,
=
61'9'3299
"K
Tl.
=
655,9554'K
Trn
=
619,3299'K
'
Tru
=
463,2456"K
22. Sebuah corong asap memiliki jarak dinding 300 mm. Dinding dibuat dari bahan
batu bata dengan tebal 150 mm dan k
=
0,85 w/mK. Hitung panas yang hilang
darkorong asap persatudiiparijhjrgrdi mana suhu dalam aijila paaa SSO dan 25
oC.
Gunakan jarak
grid 75 mm.
Penyelesaian:
Diketahui:
f
=
150mm
K
=
0,85W/m.k
T1
=
350
Tz
=
25oC
M
=
N =75mm
Ditanya:
q/I=""?
lawab:
Asumsi:
1. Kondisi tunak.
2. Radiasi antara permukaan luar dengan lingkungan diabaikan.
3. 2 dimensi.
Node 1 272+ 375
-
4Tr=
g
Node 2 T, + T, + 375
-
4Tr= 0
Node 3 Tr.+ Tn+ 375
-
473= 0
Node 4 273+ 50
-
4To=g
Iterasi:
Ktlt2t3t4
0 190 185 165 100
1 186,25 192,50 163,75 95,00
2 195,00 1.81.,25 162,97 94,39
3 184,38 1.80,74 162,66
g3,gg
4 1.94,1.2 190,51 1.62,43 93,83
300 mm
+---+
'ruI,,'*
T'
=
350'c
356 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
5 184,01
6 1.83,95
7 1.83,92
B 183,91
9 1.83,90
10 183,89
180,39
1.80,34
180,31
180,31
1.80,28
1.80,28
L62,34
1.62,28
1.62,25
1.62,24
1.62,23
162,23
93,72
93,67
93,64
93,63
93,62
93,62
L
I
q
I
1_
I
=
rol o,uvr,\tz
. rr4u . rr\tz .
"T';u)
L
=
s(0,8s)(0,5(183,89 -
25) + (180,28
-
25) + (t62,23
-
25) + (93,62
-
25))
=
2995,91 Watt =
3KW
23. Sebuah batangan pejal diisi dengan pipa pemanas yang seragam. Pada keadaan
tunak, fluida melewati pipa yang dijaga pada suhu Tr
=
400 K dan permukaan
atassertabawahdijagapadasuhuTr=300K'Gunakantekniknumerikdengan
jarak grip Lx
=
N
i
pS
ai mana D + 50 mm untuk menghitung-distribusi
iemperatur pada batangan tersebut (batangan terbuat dari granit) dan hitung
juga panas yang hilang persatuan panjang pipa!
Penyelesaian:
Diketahui:
Tt
=
400K
T2
=
300K
M
=
La=D/S
D
=
50mm
Bahan -
granit, k=2,79 W/(mK)
T
=300K
D/5
=
10 mm
(g
-o
d
l!
Symmetry
adiabat
symmetry adiabat
1 3 4 5 6
7
'9 1o 11 1,7*
13 4(
400
17 81
20 1
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 357
Ditanya:
a. distribusi temperatur
b. q tiap pipa
lawab:
Asumsi:
1. Kondisi tunak, konduksi dimensi 2
2. Tidak ada pembangkitan panas dari dalam
3. Radiasi antara bagian luar dengan lingkungan diabaikan
4. Tahanankontakdiabaikan
Node 1,: 2T
r+
T, + 300
-
4Tt=0 (sama dengan node 6)
Node 2: Tr+ Tr+ Tr+ 300
-
4Tr= 0 (sama dengannode 3, 4 dan 5)
Node 20: T
r,
+ T
rr-
2T
ro=
0
Node 9:Tr+ T, + Tro +T$-4T2= 0 (sama dengan node 8, \0,14,15 dan 18)
Node 7:Tr+ Trr+2Tr-4Tz= 0 (sama dengan node 13, 17 dan21)
Dari diagram kita dapat:
20
a
=b =
5
-
=0.5
10 10
30mm
-
25mm
L_
)_
= 0,5
30- 7,09
-=
10
0,709
10
dari node 16:
T,s T,o Ti,
a+1. b+1, a(a+1)
Ts T,o 2Trn
--4'r
=
7,5 1,5 0,75
.#n-(;.i)''=o
0
=
Tru + Tro + 1600
-
6T16= 0
node 12 :Tu+ L,5Trr+ 400
-
3,5 TD= 0 (sama dengan node 22)
node 11 : 1,4187
u
+ 1,212 (7,0 + 7,r) + 800
-
5,841T
i=
0 (sama dengan node 19)
Dengan menggunakan metode iterasi Gauss-Seidel didapat:
Tl= O,STrr-t + 0,257f
-1
+ 75 (1)
Tl= 0,25Tro-1 + 0,25Tuk-1 + O,25Trk-1 + 75 (2)
T!=0,25Tru +0,25Tnk-1+O,25Tnk-t +75 (z)
358 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA HADIASI
TI= 0,25Trk + 0,25Trk-l + 0,25Trok-l +75
T
[
=
0,25T
nr
+ 0,25T
uk-l
+ 0,25T
rrk
- 1
+ 75
T
[=
0,5T
ur
+ o,25T
rrk-.
+ 75
Tl= 0,25Tru-1 + 0,25Trk + 0,25Trrk-1
T
[
=
0,25T
ro
+ 0,25T
rk
+ 0,25T
rk
-1
+ 0,25T
rrk
- 1
T
[
=
0,25T
rk
+ 0,25T
uk
+ 0,25T
rok
-
1
+ 0,25T
rrk
-1
T
lo
=
0,25T
nk
+ 0,25T
rk
+ 0,25T
rrk
-
|
+ 0,25T
rrk
- |
Tlr= 0,25Trk + 0,25Trok + 0,25Trrk-1 + 136,96
T
l,
=
0,25T
uk
+ 0,428T
rrk
+ 114,28
Tlr= 0,21Trnk + 0,25Trk + 0,25Trrk-1
Tlu= 0,25Trk + 0,25Tr^k + 0,257*k-r + 0,25Trrk-l
Tlr= 0,25Trk + 0,25Trnk + 0,25Truk-1 + 0,25T
rnk-l
T
lu
= 0,1,67T
rrk
+ 0,167T
rok
+ 266,67
Tlr= 0,5Trrk + 0,25Trrk + 0,257,0k-1
Tlu= 0,25Trnk + 0,2\Trrk + 0,25Trrk-l + 0,25Trrk-r
Tln= 0,25Trrk + 0,25Trrk + 0,25Trrk-1 + 1,65,26
T
lo
=
0,25T
rrk
+ 0,25T
rrk
- 1
T!r= 0,25Trrk + 0,25Trok + 0,25Trrk-1
T
\=
0
,25T
rrk
+ 0,4287
$
+ 174,28
(2)
(2)
(1)
(3)
(4)
(4)
(4)
(s)
(6)
(3)
(4)
(4)
(7)
(3)
(4)
(s)
(B)
(3)
(6)
q_
1
q_
1
q_
1
M
c,-- z.) *
La
(r1-
rn)
d\y"^
'1'1)
t
d'x
'
-'
1,5(400
-
388) + 1,5(400
-
388) +
(400
-
366) + (400
-
386) + 1,41.(400
-
368)
1,41(400
-
384)
606,72k
=
606,72 x 4,74
=
1692,75W
lm
Suatu permukaan yang datar dan berbentuk groove dijaga pada temperatur yang
seragam 7r
=
200"C. Hitung laju perpindahan kalor per lebar groove (w) ketika
permukaan yang terendah bersuhu Tz= 20nC, Konduktivitas thermalnya 15W/m
K dan jarak/spasigrooue 0,16 m. Gunakan metodefinite differencedenganspace
increment 40 mm.
Permukaan pipa dijaga pada suhu 7,.
=
400 K dan tahanan kontak antara pipa dan
slab diabaikan, maka q pipa hanya dipengaruhi oleh konduksi.
Uz(b
+ l)Ly
ff
_
Tr) +
aLx
\rin
%(a
-+.b)^t (r"
-
r,o) -
Y#(L
-
r1r)
0Ly
-[
-[
24.
* SoAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 359
Penyelesaian:
Diketahui: Gambar:
h
=
j.S
W/mK
Ditanya:
4
=
...?
lawab:
160 mm
faomm=lx
40mm=Ar
Nodel: 100 + 20 +72+200-4Tr=0
Tz- 4T
t+
420
=
0
Node 2: 200 + 20 + T
r+
T
r-
4Tr=
g
220 + Tr+ Tr_4Tr= 0
Node 3: Tz- 4T3+ 420
=
0
Jadi
didapat T,
=
T,
Ta
=
135'71'4oC
T,
=
Tr= 135,7
oC
Tz
=
122'857
oC
Per satuan lebar:
q,z= k(Ly.1)#
=
15(200
-
122,857)
=
1157,1'45w
4n=
15(135,71.4
-
122,857)
=
192,855W
4nz=
\5(20
-
122,857)
= -1542,855W
4at=
k(Ly.tl[(a
-
a)]
= flzoo -
1.35,71.4)
=
482,1.45w
tul \ J
'1.
Lx
)
2'
15
Qr=
|(200
-
135,71.4)
=
482,1.45W
4t=
15(20
-
135,71'4)
= -1735,71'W
4n=
15(122,857
-
1.35,7L4)
= -192,855W
4az= 9,n=
482,415W
4 8 =
9.a1.
= -
1'82,'l'45W
4gz=
q.fl=
-7735,71W
Qzs= lzt= -192,855W
1q
4n=
|Q0
-
200)
= -1350W
360 PROSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
tr,=
feo
-
2oo)
= -1350w
u,=
feoo
-
zo)
=
1350w
ouz=feoo -
122,857)
=
s78,s7w
Teg= 4ai =
1350W
4a,
=
4az =
578,57 W
Laju panas per satuan lebar dari:
1. Permukaanb-c-d (259
oC)
Af
a
=2k
J--=s
at
*4
cz
*
4 as
=482,1,45+\157,145+ 482,145=2121,,435W
'Ly'
2. Permukaan j-i-h-g (200C)
4 = 4r+ 4ir* 4n
*
4gt+ 4ft
= -1350 -1735,71-1.542,855 -1.735,71. -
1350
= -7714,355W
3. Permukaana-b (200
oC)
4
=
4,i*
qor= 1350 + 578'57
=
1'928'5725W
4. Permukaand-e (200
oC)
4 =
4og+
qrr= 1'350
-
578'5725
=
1928'5725W
25. Suatu batang panjang dengan penampang kotak dibuat dari dua bahan dengan
konduktivitas temal ke= 15 W/mK dan k,
=
1 W/mK dan tebalnya
Le
=
50 mm dan Lr
=
100 mm, Iebarnya
=
300mm. Ketiga sisi batang tersebut
berada pada kondisi konveksi dengan T_
=
100
0C
dan h
=
30 W/m2K. Hitung laju
di mana kalor hilang per unit panjang batang tersebut dengan menempatkan
koil pendingin pada permukaan bawahnya dengan T,
=
OoC
Penyelesaian:
Diketahui:
lir'l
+
T*,h
T;
k^
=
15W/mK
ka
=
lW
/mK
La= 50mm
I
.l
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 361
Lg
=
100mm
4'
=
loooc
h
=
30Wlm2K
4=ooC
lawab:
Asumsi:
1. Kondisi tunak (steady state).
2. Konduksi dua dimensi.
3. Sifat-sifatnya konstan (homogen).
4. Tidak ada pertambahan panas.
Untuk node2,3,4:
1
=
1
=
koA
=15'0'01?5 =3.75wrK
R, * R*- Lx 50' 10-'
1
_
=
hA
=
30. (25. 10+)
=
30WK
R,*
1 ko 15.0,05
-
=
---a
=
-
:
JOryK
R,
-
Ly 0,025
Untuk node6,7,8:
1 1 15. 0,025
_=_=
=75WlK
R.- Rr* 0,05
=]-==1-=15'0,05=3oWK
Rr* Rr- 0,025
Untuk node 10, 1,1,,1,2:
l.
_
1
_15.0,0125
+1.0,0125
_^r^rt
R..-&-- 0P5
-+vYl
1
=
15' 0,05
=
3o w/K
R, * 0,025 '
1
_
1.0,05
_)r^ttr.
R,
-
0,025
t
Untuk node L4, L5, L6, 1.8, 1.9, 20, 22, 23, 24:
362 PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIAST
Untuk node 1:
Untuk node 5:
Untuk node 9:
1.
__
1
=1.0,025=0.5w/K
R^* R,
-
0,05
1
=
1
=
1.0,05
=2WlK
R,* R,- 0,025
-]-
-
hA
=
3o(o,o1,zs) =
o,37sw
lK
Rr-
1
_
koA
=
i5(0,0125)
=
7.5W lK
R, * Ax 0,025
+ =
hA
=
3o(o,o1s)
=
g,7511vtr
1*
Ru*
1
=
koA
=
15(0,025)
=
30wiK
R,
-
Ly 0,01,25
-!-='u1o{3u)=1sryK
R, * 0,025
+ =
30(0,025)
=
0,75W
lK
R*-
1
=
7
=15(0,025) =15W/K
R, * R,,- 0,025
1
=
hA
=
3O(0,0L25 + 0,0125)
=
0,75W
lK
R.-
1 15 ' 0,0125 + 1' 0,0125
-
= =
}VrllK
R- * 0,025
1
=15(0,025) =15W/K
R, * 0,025
t
1
=
1(0,025)
=
1W/K
R,
-
0,025
Untuk node 13, 17,21.:
.t.
SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 363
1
=1(0,025)=1W/K
R, * 0,025
t
1
-
=
30(0,025)
=
0,75W
lK
R.-
1 1 1(0,025)
_=_=
=1W/K
R,
-
Rn * 0,025
t
Dengan persamaan:
Qi
+
E QilR,i)
'r- l
'
)
(uR,i)
l
maka
T1
=
3,62 + 7,25 + 0,19Tr+ 0,787,
T2
=
0,7T, + 7,32 + 0,lT
r+
0,78T
u
T3
=
0,LTr+ 7,32 + 0,1T
o+
0,787,
T4
=
0,2Tr+7,32+0,78T,
Ts
=
6,12 +0,337, +0,33Tu+0,337,
T6
=
0,1,T
r+
0,4Tr+ 0,17, + 0,4T
ro
T,
=
0,1.Tr+0,4Tr+0,17, +0,47,
T,
=
0,27,+0,4To+0,47*
Ts
=
15 +0,1Tu+0,8710+0,057*
Tro
=
0,1.Tr+ 0,75Tr+ 0,1Trr+ 0,057,u
Tr,
=
0,1,Tro+ 0,75Tr+ 0,'LTD+ 0,05Tru
Tr,
=
0,2Trr+ 0,75Tr+ 0,051.
Tr,
=
75 + 0,27Tr+ 0,27Tro+ 0,277'
Trn
=
0,1T
rr+
0,4T
ro+
0,1"7,u + 0,47
*
Tr,
=
0,1T
ro
+ 0,4T
r,+
0,1T
r,+
0,47
*
T
ru
=
0,2T
r,
+ 0,4T
rr+
0,4T1,9
Tr,
=
75 + 0,27Trr+ 0,27Trr+ 0,277^
Trr
=
0,1.Trr+ 0,4Trn+ 0,1Trr+ 0,47,
T
r,
=
0,1T
rr+
0,4T
ru+
0,1,7
20
+ 0,47
*
Tro
=
0,2T
rn
+ 0,4T
r,
+ 0,4T
ro
364 PROSES PERPINDAHAN KALoR SEcARA RADIASI
Tr,
=
75 + 0,27T
r,
+ 0,27Trr+ 72,84
To
=
0,7Trr+ 0,4Trr+ 0,1Tru+ 109,26
Tu
=
0,1Trr+ 0,4Trr+ 0,1.Trn+ 109,26
Trn
=
0,2Tru+ 0,4Tro+ 109,26
Sehingga kita dapat 24 persamaan node dengan 24 suhu yang tidak diketahui.
Dengan metode perhitungan, kita akan mendapatkan nilai T, sampai Tro.
Aliran kalor yang keluar dari muka atas batang didapatkan dari penjumlahan
rugi konveksi pada node itu.
26. Sebuah kabel transmisi panjang yang bertegangan dipendam dengan kedalaman
2 m (jarak permukaan tanah ke pusat kabel). Kabel tersebut dilapisi oleh lapisan
super konduksi (tenaga dissipasi nol) yang berada dalam pipa tipis berdiameter
0,1 meter.
|arak
antara kabel dan pipa, diisi dengan cairan nitrogen pada
temperatur TTk.Jrkapipa dilapisi dengan sebuah super insulator (ki
=
0,005 W/
m-k) dengan ketebalan 0,05 m dan permukaan bumi (k,= 1,,2 W/mK) pada 300 K.
Berapa besar beban pendingin (W/m) yang harus dicapai oleh sebuah pendingin
nitrogen per satuan panjang pada (q
/
L)?
Penyelesaian:
Diketahui: Gambar:
=7,2W/m.K
=300K
Lapisan superinsulator k-
=
0,005 W/m.K
Pipa didalamnya terdapat kabel superkonduksi dan
cairan nitrogen dengan besat T
1=
77 K
Ditanya: q/L............?
lawab:
Silinder yang dipendam dalam tanah
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPTNDAHAN KALOR 365
g=-4-)
4=ksAT;R- =LT
Ln(2Dlrr)' '
- -'-'8
q
T1
Ln (r,
/
rr)
k
r2nL
T2
Ln (2D
/
rt)
kf2nL
q
/
L=
z
=
1.0m
D=2m
2n(l
* -T r)
Ln (r,
/
rz)
.
ki
Ln (2D
/
rr)
kr
=
9,ggg
Wm
27. Sampah radio aktif ditampung dalam kontainer spheris, pusat dari kontainer
yang dibenamkan dalam tanah sedalam 10 meter dari permukaan bumi.
Diameter luar kontainer 2 meter dan panas yang dilepurkun dari pancaran
radioaktif adalah 500 watt.
Jika
suhu peimukain tanah adalah 200C. Blrapakah
temperatur permukaan luar kontainer pada kondisi tunak?
Penyelesaian:
Diketahui:
366 PRoSES PERPINDAHAN KALoR SECARA RADIASI
lawab:
Asumsi:
1. Kondisi tunak
2. Konduksi dua dimensi
3. Konstanproporsi
2nD
=_
1-D
l4z
2ll" 2
1.
-
214" 10
12'56
-1,1..96m
1,05
4
=
Sk(T;T2)
Tr-Tr= q/ Sk
Tr-Tr= 500 /
(11.,96 x 0,8)
Tz=72'3oC
28. Sebuah fluida panas mengalir melalui lubang sirkuler yang terbuat dari besi tuang
berbentuk pelat (A) dengan ketebalan La
=
30mm yang bersentuhan dengan pelat
penutupnya (B) yang ketebalannya La
=
7,Smm. Lubang sirkuler tersebut
berdiameter D
=
L5mm dan jarak
antar lubangnya L"
=
60mm. Konduktivitas
Panas
dari material adalah Ko= 20W
/mK dan Ke=75 W/mK. Tahanan kontak
antara material A dan B adalah R"t,c
=
2x1.0am2.K/w. Fluida panas tersebut
bersuhu Ti
=
1500C dan koefisien konveksinya 1000W/rrrr. K.
pelat
penutup
menghadap ke udara terbuka di mana T-
=250C
dan koefisien konveksinya 200
W
/rr:?.K
Pertanyaan:
a. Tentukan besarnya laju perpindahan kalor dari sebuah lubang sirkuler
tersebut per unit panjang dari pelat rata tersebut sampai ke permukaannya
(q,,
,)?
b. Tentukan besarnya temperatur permukaan luar dari pelat penutup (Tr)?
c. Berikan Komentar Anda bila jarak antar lubang diubah apa efeknya
terhadap Trdanq!
Cover
Plate, B
ft
Contact
resistancE
Penyelesaian:
Diketahui:
LA
LB
D
Lo
=
30mm
=
7,5 mm
=
15mm
=
60mm
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 367
KA
=
20W
/m'K
KB
=
75W
/m
T_
=
25oC
R"t,c
=
2.1,04m2.K/W
Ti
=
1500C
Ditanya:
d.4"
,=
...?
b' T.
= "'z
lawnb:
Mencari faktor bentuk S
S - 2.3,1,4L/Un(82/3,14.D)l;z=Le/2=30/2
S/L
=
2. 3,'14/[n(8,15/13,1.4. 1.5)l
=
6,722
4r"r/ 4, =
S
4ro, =
h,(7,_7.,.) A
=
1000 (150 + 273-Tt)3,1.4(D/2)L
cl'o'
=
9966-23'56T1
4i
= 4ro,.S =
(9966-23567) 6,722
a. Mencari
4l:
R,
=
Rr-Rr-R,,-Ru
R,
=
L(KA)
-
(LA/2) (KALIL)
=
15 . ,g-t
y
e0.
60 . 10{)
=
125.10-aK/W
R
=
).10-4/L=2.10-aK/W
"3
Rn
=
1
/
(h. A)
=
1/ (h . Lo . L)
=
Lr/ (K . Lo . L)
=
7,5
/
(75. 60)
=
0,1.67 .10-4 K/W
R,
=
1
/
(h.A)
=
1.
/
(h . Lo . L)
=
1/ (200.
60 . 10'3)
=
833.10'aK/W
R,
=
0'96067K/W
4,
=
(T
r-
f
_)
/
nt
=
(?,
- 1273
+ 2Sl)
/ 0,96062
(1) & (2)
(1)
(2)
368 PRoSES PERPINDAHAN
KALoR SEcARA RADIASI
(T
1
-
298)
/ 096067
=
(9966
_
29,56)
/ 6,722
Tt=394,39K=1210C
maka
4i =
(7,- T_)/R,= (394,99
-ZgB)/0,9601,67
4i =
100,38W/m
b. Mencari 7:
4i=hL.Lo(7,-T-)
100,38
=
200 L. 60 . 10-3(7,
-
Z9g)
maka T,-300K-33.3650C
c. Bila jarak
antar lubang (t,) diubah maka ,-ku". *"Tpengaruhi
besar q, dan 7,.
Bila L,diperbesar maka T,danqrakan
semakin kecil. ban"sebaliknya.
't
29' Konfigurasi silinder dua dimensi seperti yang diperlihatkan, jarak/radial
(Ar)
dan sudut/angular (a,a) dannode-node
yur[."iugam. Batas p ad.a r
=
r, pudu
temperatur uniform T radius yang ditunjuk adalah adiabatis (diisolasi)'dan
diekspos ke permukaan konveksi (T
=
k). Turunkan persamaan finite di ference
untuk (a) noda, (b) noda 3, (c) noda 1.
Penyelesaian:
Diketahui:
Gambar
Ditanya:
a). Node 1;
b). Node 2;
c). Node 3;
lnwab:
Temperatur permukaan sama, yaitu pada I,
Node2
4, _r=
k (Lr.L) (T
r-
T
r)
/
(r
r+
Ar) sin <D
4r_r=
k (Lr.L) (Tr-Tr)
/ {rr+
Ar) sin
(D
Q u -r=
k (r, + ZLr) sin O.L (T
r-
T
r)
/ Lr
clrt-z= k . r, sin O.L (Tri-Tr)
/
Lr
temperature
surface, I,
/
4
4vz*42_z*4s_z+Qrrz=0
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR 369
k (Lr.L)$r-72) k (Ar.L)(f
,-72)
k (rr+2Lr)sin<DL g5
-72)
k r, sin @Lg7-Tz)
:--A
(r, + Ar
)sin
<D '
(r1 + Ar
)sin
@
'
Ar
'
L,r
dtt rlt d",.gr" Ar^k L ,1 ri" O)
L2r
Qr-T.r)
L2r (ts-Tz)
.
(rr +2Lr)(fr-Tz)
. *
ffi-;ffi*.-ff+(1,-rz)
Bilu
"
A"
- oun
?t
+2Lr)
diabaikan,maka
rr' + rrLr sin"@ 11
Tr-Tr+ Tr-Tr+ Tr-Tr+ Trr-Tr=0
T, + Ir+ Tu+ Trr-4Tr=0
Analogi dari persamaan di atas
Node L
(Tn
-Tr) /Z+
(7rr
-Tr) /Z
+ (Tz
-7,)
+ (T*,n-
4 ) =
0
Tn-7, +Tri
-7,
+2Tr-27, +27*,h
-27, =g
27, +Tn +Tr, +2T*,h
-
47,
=g
Node 3
(7.
-
Tr)
/2+
(&r
-Tr) /2
+ (Tz
-7r)
+ 0
=
0
Tu
-Tu
*Tri
-Tu
+27,
-2T, =
g
27,, +7, +Tr,
-
47,
-g
30. Sebuah batang berbentuk balok dengan 0,4 x 0,6 m dengan konduktivitas termal
1,5 W/m.K. Dua dari sisi-sisinya dijaga pada temperatur 200 Celcius. Satu sisi
adiabatis dan sisi yang lain mengalami proses konveksi dengan
T-
=
30'C danh
=
50 W/m'z.K. Gunakan teknik numerik yang sesuai dengan jarak
grid 0,1 m untuk menghitung distribusi temperatur pada batang dan laju kalor
antara batang dan cairan tiap satuan panjang batang.
Penyelesaian:
Diketahui:
A
=
0,4x0,6m
K
=
1,5 W/m.K
T
=
200'C
L =
3o'C
h
=
SjWlm.K
nsulated
Uniform temperature,
T
=
200"C
T
lt l
+++
Uniform
temperature,
T
=
200'C
37O PROSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIAST
Ditanya:
a. Distribusi temperatur
b.q
lawab:
Langkah 1:
1. Persamaan untuk noda pada batang
[Node
2, 3, 4, 5, 6,7, 8, L4, L7, 1,8, 19, 22, 23, 241
0=T +T
"+T
+T .-47
-
m,n mn+l m-l,n m,n-l m,n
ambil T, sebagai Tm,n maka
Tn+200+Tr-18-4Tr=0
2. Persamaan untuk node yang mengalami proses konveksi:
[noda
5,L0,L5,20,25]
T
*,, =T
* -''n
+ (f
^''--'
+T
*'' *')f2
+ B'T
*
2+8,
dimana B
=
(h dx) /U= 50 (0,1)/1,5
=
10
/ 3ambil T
u=
7.,,
maka: 16Ts= 37, + 300 + 3/2 Tro + 300
3. Persamaan untuk noda yang diisolasi
[noda
1,6, L1
,16
21'7
0
=
T*,n
*t
* T.,n-tt 2T--r,r- 4T*,n
ambil TrsebagaiT.,,
maka:
200 + Tu+ 2Tr- 4Tr=
g
Langkah 2:
Untuk menghitung temperatur pada tiap noda, digunakan metode iterasi Gauss-
Seidel, maka di dapat:
Tt
=
1/+1200+Tr+2Trl
Tz
=
l/qlTr+
T, + Tn + 200]
T3
=
l/ElTz+
Tn + ?, + 200]
T4
=
lAlTs+
T, + T, + 2oo]
Ts
=
1/16
[3To
+ 600 + 3/2Tro)
T6
=
1/+lT.t+Trr+2Tr7
* SOAL DAN PENYELESAIAN PEBPINDAHAN KALOR 371
Tz
=
Yq,lTr+Tu+ Tr, + TrJ
T,
=
l/tfTg+
T, + T, + Trrl
Te
=
l/+lTrc+
Tu + T, * f,.]
Tro
=
3/'16[Tr+YzTu+1/zTru+ 1oo]
Tr,
=
L/+lTu+Tru+2Trr)
Tp
=
7/+fT,
+ Trr+ Trr+ Trrl
Trs
=
YE[T,*+ T, +Trr+Trr)
Tu
=
VEIT*+T.+ 7,. +
lrJ
Tru
=
3/16lTrn+1/zTro+1/2. Tro + 100]
Tro
=
l/nlTrr+Trr+2Tu)
Tv
=
l/t[T,r+
7,, +Tru+T.,l
T
,s=
7/n
[Tr,
* 7r. + T
r,
+ T
rr)
Tr,
=
r/qfTro+Trn+
7r, + Tr.l
Tro
=
3
/
L6
fT
r,
+
rh.T
r,
+
th.Tru
+ 1oo]
Tn=1/+[2oo+Trr+2Trrl
Tn
=
YE
lTrr+
T
,rrn+
?r, + 200]
Tx
=
7/s
[200
+ Trn+ Trr+ Trrl
Tzn
=
'/+fTrr+Trr+
Tr, + 200]
T*
=
3/16[Trn+
th.Tro+
200]
Asumsi pertama untuk T,
-
T
ruadalah:
T,
=
199oC, T,
=
7980C, 7s
=
1 980C, T
n
=
198o C, T
s
=
1970C
T
i
L97,50 C, T
z
=
1970C, T
e
=
197
0C,
T
s
=
1970C, T
ro
=
19 6,50 C,
T
rr=
1960C, T
rr=
195,50C, T
n=
'L95,50C,
T
rn=
195,50C, T
ru
=
1,950C,
T
ru=
197
,SoC,T
rr=
1970C,T
re=
197oC,Trr= 1970C,Tzo= 196,50C,
Trr= 1990C, Tzz= 198oC, T
zs=
1980C, Tze= 1980C, Tzs= 197
,50C,
Temperatur tersebut distribusi ke persama an T
r-
T
ru.
Dengan menggunakan metode itersai Glauss-Siedel, maka didapat dis::.1-:-
temperatur setelah iterasi keenam:
T, : 198,365o Tr: 1,98,334"C T
r:',1,98,326"C
T
n:
1,98,674C
Tu : 92,99"C Tr:197,084"C Tr:196,88"C Tr, 1,96,944'C
T, : 170,498"C Tr, : 77,62"C Trr: 1,96,39"C T
rr:
196,459"C
T
r,
: 195,82"C T,n : 175,21'C T
rul.
75,44"C T
ru:
196,27oC
372 PBOSES PERPINDAHAN KALOR SECARA RADIASI
T
r,
: 196,79'C Tr, : 196,87"C Tr, : 171,,09'C Tro : 78,63"C
Trr:'1,98,29'C Trr: 1,98,5'1,"C Tr, : 197,99"C ?rn : 1.98,58'C
Tru:91.,81"C
b. Pada batang hanya terdapat satu sisi yang menghantarkan panas ke lingkungan:
4
=2hdy V -r*l
q
=
50(0, 1){92,99
-
30 + 77,62
-
30 + 75,44
-
30 + 78,63
-
30 + 1
/
2193,81- 301
}
4
=5162,99
+ 47,62+ 45,44+ 48,63 + 31,905)
Q
=1182,925{m
Maka laju perpindahan panasnya
=
LL82,925W /m
* SOAL DAN PENYELESAIAN PERPINDAHAN KALOR
Daftar Simbol
A }uas/area,m2
D diameter, m
h koefisienkonveksi,W/m2.K
k konduktivitas panas, W/m.K
L panjang, m
p tekanan, N/m2
q lapperpindahanpanas,W
q' laju perpindahan panas persatuan panjang, W/m
q" fluks panas,Yrl
/rn'
R, tahanan panas, K/W
R,.. tahanankontak, K/W
r jari-jari,m
S faktor bentuk
T temperatur, K
V volume, m3
o thermal diffusitivity,m2/ s
A perbedaan temperatur, K
Subscript
cond Konduksi
conv Konveksi
i bagiandalam
o bagian luar
rad radiasi
sur lingkungan
@
aliran bebas
t NvHldruv'l
LAMPIRAN
Lampiran A1
Sifat-sifat Zat Padat
Lampiran A.2
Data Base Konduktivitas Zat Padat
Lampiran B
Sifat-sifat Zat Cair
]enuh
Lampiran C
Sifat-sifat Zat Gas
Lampiran D
Konstanta Fisika
Lampiran D
Konstanta Fisika
Lampiran E
Faktor Konveksi
Lampiran A. Sifat-sif at Zat-Padat/Logam
Material Sifat pada
T
=
20"C
Cp T K T
Besi
Berat jenis, p
7870,001. kglm3
Kalor spesifik,
447,688
I /kg'C
Konduktivitas
kalor, K
77,96487
J/s.m.
Cp
oC
0
-273.75
0
-273.1)
4,6028
-252,6
978.64
-262
77,12801
-217,5
167.36
-200
143,51.1.2
-195.8
104,6
-762
184,51.1.4
-183
81,588
-73
245,608
-762
71,965 25
349,364
-106
29,288 800
41.0,032
-51
31.38 1 300
439,32 0
803,328 763
Nikel
Berat jenis, p
8900,0 kglm3
Kalor spesifik Cp
4+3,504
J
/kg"C
Konduktivitas
kalor, K
87,86401
J/s.m.'C
0
-273.15
251,.04
-210
5,0208
-252,6
1,25.52
-1
80
93,721.6
-277,5
1.04,9
-1
00
259,9264
-162
87,864 0
353,7296
-51
54,392 350
405,8 355 77,404 1280
Tembaga
Berat jenis, p
894,0 kg/m3
Kalor spesifik, Cp
348,928
J
/kg'C
Koncluktivitas
kalor, K
397,48
]/s.m. "C
0
-273.15
7112,8
-269
7,9496
-252,6
t0460
-267
41,84
-240
L4225,6
-263
121,336
-217,5
1401,6,4
-258
r97,0664
-195.8
B3B6
-253
231,7936
-183
598,241
-243
275,7256
-162
1840.96
.ZCJ
338,0672
-106
778,2241
-21,3
372,7944
-41
606,6807
-200
383,2544 0 447,668
-720
502,08 1083 401,,664 0
334,72 1083
376 LAMPIRAN
Material Sifat pada
T
=
20'C
Cp T K T
Silikon
Berat jenis, p
2330,0 kg/m3
Kalor spesifik, Cp
702,91.21/kg'C
Konduktivitas
kalor, K
725,52
J/s.m. "C
686,776 0 0
-273,L5
807,51.2 100
1)q) )
-253
853,536 200 627.6
-795
937,216 600 292.88
-1
10
1033,449 r41.2 138,072 0
1046 1,627 96,232 100
1062,736 2727 55,647 300
39,748 500
31,38 727
29,288 900
Seng
Berat jenis, p
71.410,001 kglm3
Kalor spesifik, Cp
399,1.1,2
J /kg"C
Konduktivitas
kalor, K
1.1. 1.,71.28
J/s.m. "C
383,928 0 112,5496 0
400,4088 100 t09,6208 100
449,78 400 105,8552 240
457,872 419 1,01,,2528 300
570,448 4L9,5 92,8848 41.9,4
527,148 907 60,2496 419,5
59,41.28 500
58,1.576 600
Aluminium
Berat
jenis,
2968 kg/m3
Kalor spesifik Cp
920,48
J/kg'C
Konduktivitas
kalor, K
225,936
]/s.m'C
0
-273,15
380,744
-269
10,041,6
-252,6
71,r,2801
-266
41,,84
-240
7004,16
-263
180,3304
-217,5
1.589,92
-253
340,996
-195,8
t589,92
-243
543,92
-1,62
836,9001
-223
774
-100
598,31.2
-213
889,56 0 292,88
-1,73
1129,68 500 238,488
-100
t267,752 660 225,936 0
227,752 400
209,2 660
LAMPIRAN 377
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kg/m*3
]/kg"C |/sec
moC
1
2
J
4
5
6
7
B
9
10
1,1
1,2
13
14
i5
16
17
1B
19
20
21
22
ZJ
abs resin (low k)
abs resin (high k)
acetyl (delrin)
acrylic (lucite, plexiglass)
acrylic (high k)
actinium
air
alkyd isocyanate foam
(density 0.16)
allyl, cast resins (high heat
capacity)
allyt, cast resins (low heat
capacity)
alum (KrSO4.A12(SO1)3. 2H
2o-)
(crystal)
alumina brick, fused (A1rO3 96)
(22 p)
alumina brick, high (AlrO" 53)
(20 p)
alumina brick, high (A1rO, 83)
(28 p)
alumina brick, high (AlrO. 87)
(22 p)
alumina porcelain, high
aluminum
aluminum (liquid)
aluminum alloy (A184.0, average
trtmt)
aluminum alloy (4184.0, cast or
tempd)
aluminum alloy (,4184.0, wrot or
annld)
aluminum alloy (4190.0, cast or
tempd)
aluminum alloy (4192.0, wrot or
annld)
1040,00
1040,00
1420,00
1200,00
1200,00
10100,00
1,29
160,00
1300,00
1300,00
1800,00
2900,00
2330,00
2570,00
2850,00
3400,00
2698,00
2360,00
2700,00
2700,00
2700,00
2700,00
2700,00
1506,00
1506,00
1.464,00
1297,00
1423,00
1.25,50
1004,00
1674,00
2343,00
1088,00
1548,00
753,1.0
753,10
753,1.0
753,10
795,00
920,50
1084,00
B7B,60
878,60
878,60
87B,60
878,60
0,1.4
0,27
0,23
0,15
o?5
72,55
0,03
0,05
0,2L
0,21
2,09
3,70
1,38
1.,51
2,93
18,83
225,94
92,05
725,52
83,68
146,44
104,60
1.67,16
378 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kg/m*3
f/kg"C ]/sec
m"C
24
25
26
27
28
29
30
31
JZ
JJ
34
35
36
37
3B
39
40
41:
42
aluminum alloy (4'193.0, average
trtmt)
aluminum alloy (,{194.0. cast or
tmtd)
aluminum alloy (A196.0, average
trtmt)
aluminum alloy (4196.0, wrot or
annld)
aluminum alloy (,4196.5, cast or
tempd)
aluminum alloy (,4198.0, average
trtmt)
aluminum alloy (,4'198.5, cast or
tempd)
aluminum alloy (,4'199.0, average
trtmt)
aluminum alloy (.4199.0, wrot or
annld)
aluminum alloy (4199.2, cast or
tempd)
aluminum alloy (a199.8, cast or
tempd)
aluminum alloy 2024-5-t4
(annealed)
aluminum alloy 7075-t6
(annealed)
aluminum alloy 7075-t6
(as received)
aluminum alloy 7079
aluminum alloys (Al, Mg 2.5-5.0)
aluminum alloys 2024-t4 and
24s-24 (ar)
aluminum fluosilicate (topaz
)
(a-axis)
aluminum fluosilicate (topaz)
(a-axis)
10700,00
2700,00
2700,00
2700,00
2700,00
2700,00
2700,00
2700,00
2700,00
2700,00
2700,00
2700,00
2780,00
2801,00
2801,00
2740,00
2660,00
2780,00
3540,00
3540,00
10700,00
B7B,60
87B,60
B7B,60
B7B,60
878,60
B7B,60
878,60
B7B,60
B7B,60
B7B,60
979,60
B36,BO
836,80
836,80
795,00
878,60
836,80
1,255,00
1255,00
3,3472E-01,
746,44
125,52
167,36
1.BB,2B
1.46,44
1BB,28
167,36
209,20
209,20
1BB,28
)oq )o
175,73
163,18
121,34
121,34
1.25,52
1.18,41.
19,25
22,05
LAMP!RAN 379
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kg/m*3
llkg"C J/sec
m"C
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
5B
59
60
61,
aluminum
(a-axis)
aluminum
eB d)
aluminum
d
= 0.5)
aluminum
d
=
1.9)
aluminum
100 d)
aluminum
(polyxtal,
aluminum
xtaf)
fluosilicate (topaz)
nitride (aln) (prs axis,
oxide (AlrO3) (foam,
oxide (A1rO3) (foam,
oxide (AlrO3) (polyxtal
oxide (A1rO3)
s5 d)
aluminum
cr 77)
aluminum
cr 30)
aluminum
(ortho)
aluminum
(trict)
aluminum
(100d)
americium
oxide (AlrO3) (single
oxide + cr (AlrO, 23,
oxide + cr (AlrO. 70,
silicate (Al2O3.SiO2)
silicate (AlrO3.Sior)
silicate (Al2O3.2SiOr)
ammonia (NHr) (gas)
ammonia (NHJ (liquid under
pressure)
ammonium bromide (NHnBr)
(prsd 8 kb)
ammonium chloride ((NH4C1)
(prsd B kb)
analcite (NarO.AlrO3.4SiOr.4H20)
(xtal)
andalusite (A12O3.4SiO) (ortho
xtal)
antimonv
3540,00
3200,00
500,00
1900,00
3980,00
2200,00
3980,00
5900,00
5900,00
3140,00
3650,00
3200,00
1L 700,00
0,77
618,00
2430,00
1530,00
2260,00
3140,00
6696.00
1.255,00
732,20
778,20
778,20
778,20
778,20
778,20
502,1.0
627,60
769,90
769,90
765,70
125,50
2084,00
4686,00
1004,00
1678,00
1.339,00
769,90
207,10
)) o;
?;1i
0 rll
;1i
38.1y
77,1:
43,93
J6 i--
9.:-
1 1,4,I
17,31
6,2E
12,51
oo,
0,05
2,51
2,57
3,43
11,00
18,41
380 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kg/m*3
f/kg'C
j/sec
m'C
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
/J
74
75
76
77
78
79
80
B1
82
83
B4
85
antimony (liquid)
antimony telluride (SbrTer)
(cpr, n dr)
antimony telluride (SbrTe.)
(polyxtal)
argon (gas)
arsenic, grey
arsenic telluride (AsrTer)
artifical material 1 (d=c=k=0)
(v zone nilt)
artifical material 2 (d-c=O,
artifical material 3 (d=c=k=1)
artifical material 4 (d=c=1,
k=10**9)
artifical material 5 (d=1,
c=k=10**9)
artifical material 6 (d=e=k=tm=
hm=1)
artifical material 7 (dektm
=
1,
hm
=
10**9)
astitine
baratol h.e. (tnt 26, ba nitrate 76)
barium
barium boride (bab 6)
barium fluoride (BaFr) (single
crystal)
barium nitrate (Ba (no3) 2)
(prsd B k8)
barium sulfate (BaSO) (crystal)
barium titanate (BaO.TiOr)
(sintcred)
barium titanate (BaO TiOr) (100 d)
barium titanate (BaO TiO")
(+mn,nb ox)
berkelium
6500,00
6500,00
6500,00
\,78
5730,00
6000,00
0,00
0,00
1000,00
1000,00
1000,00
1000,00
1000,00
7500,00
2600,00
3500,00
4340,00
4890,00
3240,00
4500,00
5900,00
5900,00
5900,00
12000,00
255,20
209,20
209,20
518,80
330,50
234,30
0,00
0,00
4184,00
4184,00
4,1.8E+1.2
41.84,00
4184,00
139,30
803,30
188,30
1.255,00
439,30
B7B,60
669,40
439,30
439,30
439,30
125,50
20,92
3,3L
4,60
0,02
4,1.8
?qg
0,00
4,78E+11
418,40
4,1.88+1.1.
4,18E+11
41.8,40
4L8,40
0,42
0,50
33,47
44,77
11,30
1,30
1,67
3,39
4,18
1,30
12,55
LAMPIRAN 381
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kglm*3
]/kg"C ]/sec
moC
90
91
B6
87
B8
B9
92
93
94
95
96
97
9B
99
100
101
102
i03
1.04
105
1,06
1,07
108
709
110
beryl ( 3beo.al2o3.6sio2
)
beryllium
beryllium + beo (be, beo 0.6-1.7)
beryllium alloy (be96.5) (as
received)
beryllium alloy (be96.5) (annealed)
beryllium alloy (be98*5) (as
received)
beryllium alloy ( be98.5) (annealed)
beryllium alloy (be99.5)
beryllium aluminosilicate (beryl)
beryllium carbide (be2c) (hp or snt)
beryllium copper (cu bal, be
0.38-0.s5)
beryllium copper (cu bal, be1.7-1..9)
beryllium nitride (be3n2) (prsd
3.4 kb)
beryllium oxide (beo) (76 pc dens)
beryllium oxide (beo) (96 pc dens)
beryllium oxide + be (beo, be 3-12)
beryllium oxide + be + nio (be 7,
nio 7)
beryllium oxide r-be + si
beryllium oxide porcelain 4811
beta-spodumene (1i2o.a12o3.4 sio2)
(tet)
bismuth
bismuth (liquid)
bismuth telluride (bi2te3-p)
(plane dr)
bismuth telluride sulfide (bi2te2s)
boride z cermet (zrb2 81-87,
mosi2 13)
2650,00
1848,00
1840,00
1840,00
1840,00
1823,00
1.823,00
1840,00
2650,00
2100,00
8750,00
8260,00
1.700,00
2300,00
2900,00
2850,00
2975,00
2900,00
2900,00
3100,00
9750,00
10000,00
7700,00
6800,00
5200,00
1255,00
1841,00
1820,00
1799,00
1.799,00
1799,00
L799,00
1841,00
1255,00
1423,00
397,50
397,50
1255,00
1.046,00
1.046,00
1088,00
1039,00
1046,00
1004,00
1255,00
12\,30
\42,30
1,54,40
1,75,70
502,1.0
6,26
8+,1 0
779,97
11,
.h
775,;3
133,.iy
l5Sgg
15-1,61
(r
li
23,13
??0 rr(
1 0E,
0
136,0;
?E5
11
209,20
758,99
192,16
1.25,52
1,05
8,37
10,98
2,51
2,38
20,92
,I
382 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kg/m"3
J/kg'C ]/sec
m'C
111
1,1,2
113
114
115
116
777
118
119
120
121
1,22
123
1.24
1,25
126
1.27
128
129
130
131
1.32
133
borolite 101 cermet (ZrBr93-96,
b 4-7)
boron
boron carbide (BrC) (dense)
boron carbide (BnC) (porous)
boron nitride (BN) (perp pr axis,
e5 d)
boron nitride. (BN) (prs axis,
e4 d)
boron nitride (BN 80, c 20) (prs
axis)
boron nitride (BN 97, BNrO3 2)
(pu.p p)
boron nitride (BN 97, BNrO3 2)
(prs ax)
boron silicide (BrSi)
brass, aluminum (Ct76, 2n22, Al2)
brass, cartridge (Ct70, Zn30)
brass, leaded
brass, muntz metal
brass, red, cast (CuBS, ZnS, PbS,
Sn3)
brass, red, wrought (CuBS, Zn 15)
brass, tin (naval and admiralty)
brass, yellow (Cu65, Zrl35)
brick, dirome (CrrO, 32)
brick, chrome magnesite (see ref
47)
brick, diatomaceous earth (accr
strata)
brick, diatomaceous earth (high
burn)
brick, diatomaceous earth
(molded, frd)
5300,00
2500,00
2400,00
2000,00
2100,00
2100,00
1,620,00
2100,00
2100,00
2460,00
8600,00
8570,00
9500,00
9400,00
8750,00
8750,00
8460,00
8470,00
3200,00
3000,00
440,00
590,00
610,00
460,20
1130,00
920,50
920,50
795,00
795,00
795,00
795,00
795,00
1.046,00
376,60
41.8,40
376,60
376,60
376,60
376,60
376,60
376,60
627,60
753,1.0
795,00
795,00
795,00
27,6L
2,09
28,45
77,75
32,84
20,92
19,04
28,87
L5,06
9,83
100,42
1.00,42
117,15
1.25,52
71.,97
146,44
11.2,97
117,15
1,L7
2,09
0,09
0,23
0,24
*
LAMPIRAN 383
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kg/m*3
)/kg'C J/sec
moC
734
135
736
737
138
139
740
1,41,
742
143
144
145
146
1,47
749
150
151
152
153
1,54
155
156
157
brick, diatomaceous earth (prll
strata)
brick, diatomaceous earth
(use to 1100)
brick, diatomaceous earth
(use to 950c)
brick, egyptian fire (SiO, 64-77)
brick, fired carbon
brick, forsterite (MgO 58 SiO, 38)
(2op)
brick, fused alumina (AlrO3 96)
(22 p)
brick, hard fired silica (SiO,
e4-95)
brick, high alumina (AlrO, 53)
(20 p)
brick, high alumina (AlrO, 83)
(28 p)
brick, high alumina (AlrO, 87)
(22 p)
brick, kaolin insulating (d
=
0.30)
brick, kaolin insulating (d
=
0.43)
brick, magnesite (MgO 87)
brick, magnesite b (93) (22.6 p)
brick, magnesite c (86) (17.8 p)
brick, magnesite spall res
(Mgo Be)
brick, masonry, medium
brick missouri fireclay
brick, normal fireclav (22 p)
brick, siliceous (SiO, 89 AlrO3 9)
(25p)
brick, siliceous fireclay (23 p)
brick, sillimanite (22 pc porosity)
4401,00
600,00
440,00
950,00
1470,00
2760,00
2900,00
1500,00
2330,00
2570,00
2850,00
300,00
430,00
2530,00
2760,00
2920,00
2670,00
2000,00
2000,00
1980,00
1930,00
2000,00
231,0,00
795,00
795,00
795,00
732,20
707,1"0
795,00
753,1.0
753,1.0
753,1.0
753,1.0
753,10
774,00
774,00
836,80
B36,BO
B36,BO
B36,BO
836,80
753,L0
732,20
753,1.0
753,10
711,30
0,1.4
0,22
0,09
0,31
3,60
1,00
3,70
1.,67
1,38
1,57
)q7
0,08
0,25
3,85
4,81
3,68
3,47
0,77
1,00
1,30
0,94
1.,09
1,46
384 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kg/m*3
)/kg"C J/sec
m"C
158
L59
160
161,
1,62
163
164
1,65
1,66
167
168
169
770
177
772
173
174
1,75
176
177
178
1,79
180
181
182
183
184
185
186
brick, stabilized dolomite (22 p)
brick, vermicr.rlite
bromine (gas)
bronze (Cu75, Sn25)
bronze, aluminum (Cu92, AIB)
bronze, architectural
bronze, commercial
bronze, manganese
bronze, phospher 10 percent
bronze, phospher 1.25 percent
bronze, phospher 5 percent
bronze, silicon, high
bronze, silicon, low
bronze, tin (cast), high leaded
bronze, tin (cast), leaded
butadiene-acrylonitrile rubber + C
butyl rubber
cadmium
cadmium (liquid)
calcite CaCO.) (crystal) (c axis)
calcite (CaCOr) (crystal) (a axis)
calcium
calcium boride (CaBu)
calcium carbonate (CaCOr) (calcite)
(c)
calcium carbonate (CaCOr) (calcite)
(a)
calcium carbonate (CaCOr) (natural)
calcium fluoride (CaFr) (mineral
aggar)
calcium fluoride (CaFr) (single xtal)
calcium magnesium carbonate
(CaMgC,Ou)
2700,00
485,00
7,59
8800,00
7900,00
8500,00
8800,00
8360,00
8780,00
8900,00
5860,00
8530,00
8750,00
9200,00
8700,00
1340,00
900,00
8650,00
8000,00
2770,00
2770,00
1550,00
2460,00
2770,00
2710,00
2610,00
3180,00
3180,00
2700,00
B36,BO
B36,BO
234,30
376,60
376,60
376,60
376,60
376,60
376,60
376,60
376,60
376,60
376,60
376,60
376,60
1443,00
1.966,00
230,10
263,60
836,80
B36,BO
656,90
1255,00
B36,BO
B36,BO
B36,BO
1167,00
1167,00
920,50
1.,67
0,L7
0,00
188,28
77,13
121,34
1,88,28
1.04,60
50,21.
205,02
71,13
33,47
54,39
41,84
50,27
0,42
0,09
92,05
34,73
4,39
3,85
125,52
39,L6
4,39
3,85
2,26
4,02
9,62
2,93
LAMPIRAN 385
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kg/m*3
]/kg'C J/sec
m"C
1.87
188
189
190
191.
792
1,93
194
195
196
797
19B
1,99
200
207
202
203
204
205
206
207
208
209
210
217
212
273
274
275
calcium oxide (CaO) (pressed 91
dens)
calcium oxide (CaO) (packed pwd,
so d)
calcium sulfate dihydrate (CaSOr.
4HrO)
calcium titanate (CaO.TiOr)
califomium
carbon, amorphous (carbon stock)
carbon diamond gem quality type 1
carbon, graphite (typical k)
carbon brick fired
carbon dioxide
carbon monoxide
cellulose acetate (high k)
cellulose acetate (low k)
cellulose acetate butyrate (high k)
cellulose acetate butyrate (low k)
cellulose nitrate (pyroxylin)
cellulose proprionate (low k)
cellulose proprionate (high k)
cellulose triacetate
cerium
cerium boride
lCeBu)
(99.0 pc den)
cerium oxide (CoOr) ( prsd, sntrd)
cerium sulfide (CeS)
cerium sulfide (CerSr)
cesium
cesium (liquid)
chalk (av prop)
chlorine (gas)
chrome alum (Crr(SOr)3.KrSO
4.24H2)
3030,00
7700,00
2320,00
4100,00
i2000,00
1510,00
3510,00
2250,00
1470,00
1,98
1,25
1300,00
1300,00
1200,00
1200,00
1380,00
1200,00
1200,00
1300,00
6790,00
4700,00
5100,00
5930,00
5200,00
1.870,00
1840,00
1540,00
3,21
1.826,00
753,10
753,1.0
1088,00
728,00
125,50
707,10
506,30
707,10
707,1.0
878,60
1046,00
7464,00
1464,00
1464,00
1464,00
7464,00
7464,00
7464,00
7464,00
1.92,50
627,60
351,50
292,90
343,10
230,-1.0
251,00
.920,50
477,00
1339,00
13,81
o 1-)
1
1,60
I? ;;
6?S
EJ?
qA
167,36
3,60
0,01
0n'
0,3:
0,1,
3,3172E-A1
0,1.7
o)7
0,77
0,33
0,25
10,89
33,89
11.,72
8,37
0,59
41.,84
25,1.0
0,84
0,01
2,09
30
386 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kg/m*3
)/kg'C J/sec
m'C
216
21.7
218
219
220
227
222
223
224
225
226
227
228
229
230
231
232
233
zJ*
235
236
ZJ/
238
239
240
241
242
243
244
245
246
chrorne brick (Cr,O, 32)
chrome magnesite brick (see ref 4)
chrome-nickel-iron superalloys
chromium
chromium carbide + Ni (Cr (x) c (y),
chromium copper (Cu Bal, Cr0.5)
chromium nitride (Cm) (prsd, 100)
chromium nitride (Cr,N) (prsd, 100)
chromium silicide (CrSir)
cobalt
cobalt alloy (Co64, Cr30, w6)
cobalt alloy he-1049
cobalt alloy hs-21 (as cast)
cobalt alloy lis-21 (aged)
cobalt alioy hs-23
cobalt alloy lis-25 (1-605) (wroug)
cobalt alloy hs-27 (as cast)
cobalt alloy hs-30 (422-19) 9 as c)
cobalt alloy hs-31 (x-40
)
(as cas)
cobalt alloy hs-36 ( cast
)
cobalt alloy jessop g-32
cobalt alloy j-1 570
cobalt alloy k-42b
cobalt alloy multimet (n-155) (lo)
cobalt alloy multimet (n-155) (wr)
cobalt alloy s-590 (wrought)
cobalt alloy s-816 (wrought)
cobalt alloy v-36 (wrought)
cobalt alloy wi-52
cobalt alloy wi-52 (Cr coated sam)
cobalt nickel oxide (46COO.46NiO.)
3200,00
3000,00
8000,00
7760,00
6700,00
BBBO,OO
6100,00
6500,00
5000,00
8860.00
8440,00
8846,00
8300,00
8300,00
8540,00
9150,00
8210,00
8310,00
8610,00
9040,00
8260,00
8400,00
8400,00
9215,00
8215,00
8350,00
8680,00
8600,00
8400,00
8400,00
6500,00
627,60
753,1.0
439,30
447,70
502,10
376,60
698,70
627,60
493,70
422,60
418,40
351,50
422,60
422,60
478,00
384,90
41.8,40
418,40
418,40
384,90
41.8,40
418,40
41.8,40
435,10
435,70
41.8,40
41.8,40
4L8,40
478,40
41.8,40
753,70
7,L7
2,09
23,43
87,86
11,30
326,35
12,13
22,59
7,95
84,94
1.2,55
14,64
12,55
32,64
73,39
9,20
11,17
1.2,55
12,55
9,37
14,64
1.0,04
1.2,55
1,6,32
1.2,97
72,97
L2,g7
12,55
25,10
1.9,67
3,60
LAMPIRAN 387
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kg/m*3
]/kg"C ]/sec
m'C
1247
lrnr
t:::
lru,
t:::
lrrn
|
,u'
lzse
lru,
t:::
lru,
lro,
lru,
lru,
I
264
265
266
267
268
269
270
277
272
273
274
275
276
277
cobalt oxide (COO)
cobalt silicide (COS)
colombium alloy (Cb6l,ta29,w70,zr)
colombium alloy (CbBO, w15, mo5)
colombium alloy (CbBS, ti70, zr5)
colombium alloy (Cb95, ta5)
composition b-3 h.e. (rdx 60, tnt)
composition c-4 h.e. (rdx 90, bin)
concr ie, cinder
concrete, lightweight
concrete, stone (1 -2-4 mix)
concrete, 1-4 dry
copPer
copper/ wrought (etp, dhp, te0.5.)
copper alloy (Cu Bal, Be 0.38-0.55)
copper alloy (Cu Bal, Be 7.7-1.9)
copper alloy (Cu Bal, Cr0.5)
copper alloy (Cu70, Ni30)
copper alloy (Cu90, Ni 10)
copper alloy (Cu99.4, A\0.3, Zn}.)
copper alloy constantan (Cu55, ni)
copper alloy manganin
copper alloy nickel silver (Ni 10)
copper gilding metal (Cu95, ZnS)
copper lithium oxide (96CuO. TiO)
copper oxide (CuO) (tenorite)
copper sulfate (CuSOr) (crystal)
copper sulfate hydrate (CuSOr.5Hr)
cordierite (2MgO.2Al2O3.5SiOr)
|
cork, ground
I
cork, ground, regranulated
I
6460,00
6600,00
70700,00
9600,00
7770,00
9000,00
1725,00
1590,00
1600,00
950,00
2300,00
2300,00
8940,00
8900,00
8750,00
8260,00
BBBO,OO
8900,00
8900,00
8900,00
8890,00
8700,00
8800,00
8850,00
6300,00
6500,00
3606,00
2284,00
2100,00
150,00
130,00
702,90
595,80
200,90
246,90
255,20
251.,00
1356,00
11,72,00
656,90
656,90
656,90
656,90
384,90
376,60
397,50
397,50
376,60
376,60
376,60
376,60
397,50
376,60
376,60
376,60
669,40
535,60
753,1.0
1172,00
774,00
2008,00
2008,00
70,04
9,62
41,77
50,27
)q )q
44,77
0,26
0,26
0,33
o)1
10;
0,75
397,4E
376,56
?ro ni
1OE,7E
?r6 1i
)q )c)
47,81
217,57
22,78
22,78
cJrl/
230,72
1.5,27
17,99
2,09
l
2,261
I
)))t
;:;;t
0,04
|
388 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kg/m*3
]/kg"C
j/sec
m'C
278
279
280
281.
282
283
284
285
286
287
288
289
290
291,
292
293
294
295
296
297
298
299
300
301
302
303
304
305
306
307
308
cupronickel (Cu70, Ni30)
cupronickel (Cu90, Ni10)
curium
dandelion 35
datb h.e. (diamino trinitrobenzen)
deuterium
deuterium oxide (DrO) (liquid)
diabasic glass (artificial)
diallyl phthalate (dapon)
diatomaceous earth brick (accr st)
diatomaceous earth brick (high bu)
diatomaceous earth brick (molded)
diatomaceous earth brick (prll st)
diatomaceous earth brick (use to)
diatomaceous earth brick (use to)
dolomite (CaMg(COr)r) (avg prop)
dolomite brick, stabilized (22 p)
dysprosium
egyptian fire brick (SiOr 64-71)
einsteinium
epoxy, der 332 (c), hysol 6000-op
epoxy, glass fiber filled (molded)
epoxy, silica filled, cast
epoxy, unfilled, cast
epsomite (MgSOn.TH,O) (crystal)
erbium
ethyl cellulose (wide range of c)
ediyl
,vinyl
acetate
europium
europium boride (EuBu) (93.0 pc d)
fermium
8900,00
8900,00
7000,00
6430,00
1795,00
0,18
1100,00
2400,00
1650,00
440,00
590,00
610,00
440,00
600,00
440,00
2700,00
2700,00
8556,00
950,00
12000,00
1210,00
1900,00
1800,00
1200,00
1680,00
9060,00
1150,00
1200,00
5300,00
4600,00
12000,00
376,60
376,60
125,50
418,40
!255,00
7113,00
4205,00
753,70
1130,00
795,00
795,00
795,00
795,00
795,00
795,00
920,50
936,80
\73,20
732,20
1.25,50
7172,00
795,00
1004,00
1046,00
1506,00
167,80
2092,00
2301,00
175,70
627,60
1.25,50
29,29
41,84
12,55
7,70
0,25
0,1.4
0,56
1,1.7
0,31
0,09
0,23
0,24
0,1.4
0,22
0,09
2,93
1,,67
10,04
0,31.
1.2,55
0,1.9
0,1.7
0,63
0,1.9
2,43
9,62
0,23
0,08
12,55
23,01.
1.2,55
LAMPIRAN 389
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kg/m*3
J/kg'C ]/sec
m"C
|
30e
I sro
| ,,,
1,,,
t,,,
lrrn
l,o
l,u
1,,,
I,,,
I
1379
l,,o
lzzt
322
323
324
325
326
327
328
329
330
331
332
JJJ
334
335
336
337
338
339
fiberfax paper (carborundum
co,)
fireclay brick, missouri
fireclay brick, normal (22 p)
fireclay brick, siliceous (23 p)
flint glass
fluid, heat sink (d=1, c=k=10**9)
fluid, well stirred (d=c=1, k=10*)
fluorine (gas)
fluorocarbons, cfe and ctfe
fluorocarbons, fep
fluorocarbons, tfe (teflon)
foamed glass (d=0.144)
forsterite (2MgO
SiOr) (100 pc den)
forsterite brick (MgO 58 SiOr 38)
francium
fused silica glass
fused qtartz glass (SiOr)
gadolinium
gadolinium boride (GdBJ (95.6 pc)
gadolinium oxide (GdrO3) (monoc)
gallium
gallium (liquid)
germanium (intrinsic, p-type)
germanium (n-type)
glass (see ref 27, pp e5-e8) (avg)
glass, borosilicate crown
glass, ceramic pyroceram 9606
glass, ceramic, pyroceram 9608
glass, diabase (artificial)
glass, flint
glass, foamed (d=0. 144)
324,00
2000,00
1980,00
2000,00
2400,00
1000,00
1000,00
1,70
2120,00
2200,00
2170,00
144,00
3200,00
2760,00
12000,00
2200,00
2200,00
7870,00
5000,00
7640,00
5907,00
6090,00
5325,00
5325,00
2300,00
2520,00
2600,00
2500,00
2400,00
2400,00
144,00
732,20
753,1.0
732,20
753,1.0
502,1.0
4,\BE+\2
4184,00
815,90
920,50
1,172,00
1004,00
753,L0
836,80
795,00
142,30
744,80
744,80
230,1.0
627,60
290,00
372,40
398,70
322,20
322,20
836,g0
669,40
)
782,40
I
I
807,50 I
75sfi
I
502,10
I
753fi I
0,03
1,00
1,30
L,0g
0,75
4,18E+11
4,78E+71
0,03
n ri
0,25
0,25
0,03
5,E6
1,00
1? ii
1,3,q
1,3S
1,38
20,50
]
10,0+
|
I
33,47
|
n,471
5g,58
|
58,58 I
1,05
I
1,051
3,971
2,051
u7l
0,751
0,03
|
390 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kgim*3
]/kg"C J/sec
m"C
340
341.
342
343
344
345
346
347
348
349
350
351
352
353
354
355
356
357
358
369
360
361,
JOZ
363
364
365
366
367
368
369
glass, fused quartz (sio2)
glass, fused silica or vitrous silica
glass, lead
glass, lime window
glass, obsidian
glass pyrex
glass, soda plate
glass, soda-lime
glass, vycor
gold
gold (liquid)
granite (av prop) (see ref 51
)
granite (high k)
granite (low k)
gypsum (CaSOr.4HrO) (mineral)
(high d)
gypsum (CaSOn.4HrO) (artificial)
hafnium
hafnium boride (HfBr)
hafnium carbide (HfC)
hafnium nitride (HfN) (hp strd
78-92 d)
hafnium oxide (HfOr) (monoc)(94 d)
heavy water (DrO) (liquid)
helium (gas)
hematite (FerOr)
holmium
hydrogen (gas)
ice (HrO) (solid)
indium
indium (liquid)
indium alloy (In25
,
5n37.5, Pb37.5)
2200,00
2200,00
3040,00
2480,00
2400,00
2220,00
2500,00
2300,00
2190,00
19300,00
17240,00
2650,00
2650,00
2650,00
2320,00
271,0,00
13200,00
11200,00
12600,00
10850,00
9100,00
1100,00
0,18
5240,00
8800,00
0,09
91.7,00
7300,00
7030,00
8690,00
744,90
744,80
502,1.0
753,1.0
753,1.0
728,00
753,1.0
753,10
744,90
128,00
148,50
836,80
836,80
836,80
1088,00
1088,00
142,30
251,00
198,30
209,20
272,00
4205,00
5188,00
627,60
165,30
14230,00
4217,00
238,50
266,10
238,50
1,38
1,38
1,13
L,32
1,,37
1.,1.3
1.,21.
1,,34
1.,34
3L7,98
767,36
2,51
3,97
L,72
1.,30
0,75
22,78
41,84
29,29
L,72
1.,67
0,56
0,15
72,55
1.0,04
0,1.9
2,09
23,43
43,93
56,90
LAMPIRAN 391
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kg/m*3
J/kg'C J/sec
m'C
370
372
J/3
374
c/)
376
J/ /
378
379
380
381
382
383
384
385
386
387
388
389
390
391,
392
393
394
395
396
397
398
499
indium antimonide (InSb)(imp 0.16
indium antimonide (InSb) (imp
0.33-1..2)
indium arsenide (InAs) (pure,
s-doped)
indium telluride (In Ter)
iodine (solid)
iridium
iron (0 to 3000 deg c)
iron (-273 to 763 deg c)
iron (-51 to 1537 deg c)
iron, ductile (Mg containing)
iron, ductile (Mg containing, heat
res)
iron, ductile (0.06 mg)
iron, grey cast, ferritic (2.3-3.0 c)
iron, grey cast, ferritic (3.2-3.8 c)
iron, grey cast pearlitic (2.3-3.0 c)
iron, grey cast, pearlitic (3.0-3.2 c)
iron, grey cast pearlitic (3.4 c)
iron, grey cast, pearlitic (3.7-3.8 c)
iron, grey cast pearlitic (4.12 c)
iron, ingot (Fe99.9+)
iron, ni-hard types 1 and 2 (kovar)
iron, ni-resist type d2 (cast)
iron, ni-resist type 3 (cast)
iron, ni-resist, type 4 (cast)
iron, ni-resist, types 1 and 2 (cast)
iron, ni-tensyliron (cast heat treat)
iron, nodular cast, ferritic base
iron, nodular cast, pearlitic base
iron, malleable (2.5 c)
7000,00
7000,00
6000,00
4629,00
4930,00
22500,00
7870,00
7970,00
7970,00
7200,00
7200,00
7430,00
7790,00
190,00
7190,00
7790,00
1190,00
7790,00
7190,00
7870,00
7700,00
74L0,00
7400,00
7400,00
7300,00
7200,00
7200,00
7200,00
7200,00
21.7,60
21,7,60
251,00
200,80
217,60
1.29,70
447,70
447,70
447,70
460,20
460,20
460,20
460,20
60,20
460,20
460,20
460,20
460,20
460,20
447,70
460,20
460,20
460,20
502,10
460,20
460,20
460,20
460,20
527,70
16,32
77,73
26,7E
1
'\A
0,110
746,11
71,97
71 0:
77,73
33 0i
2E,E;
?? J-
iLr,:1
71,i1
l1,si
in
a.l
58
-,S
66,91
79,50
77,73
74,23
13,39
?q ??
37,66
39,75
46,02
37,66
37,66
51,05
392 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kg/m*3
]/kg'C ]/sec
m"C
400
401,
402
403
404
405
406
407
408
409
410
411,
412
413
41,4
415
41,6
41,7
418
419
420
421,
422
423
424
425
426
427
428
429
430
iron, wrought (various)
iron alloy invar (Fe64, Ni36)
iron oxide (FerOr) (hematite)
iron oxide (FeO FerOr) (magnatite)
iron silfide (FeSr) (single crystal)
kaolin brick, insulating (d
= 0.30)
kaolin brick, insulating (d
=
0.43)
krypton (gas)
kyanite (AlrO3.SiOr) (tricl crystal)
lanthanum
lanthanum boride (laBu) (99.5 pc
dense)
lawrencium
lead
lead (liquid)
lead (0.07 ca)
lead, antimonial (Pb, Sb 4-6) (hard)
Iead, antimonial (Pb, Sb B-9)
lead, antimonial (Pb, Sbl)
lead, tellurium
lead alloy (Pb37.5, Sn37.5, In25)
lead alloy (Pb39.2, Sn60.B) (solder)
lead alloy (Pb50, Sn50) (solder)
lead alloy (Pb60, Sn40) (solder)
lead glass
lead oxide (pbo) (yellow)
lead telluride (pbte) (polyxtal)
lead telluride (pbte) (single crystal)
limestone (dense, dry)
limestone (HrO 15.3)
lithium
lithium
(liouid)
7700,00
8000,00
5240,00
5200,00
5000,00
300,00
430,00
0,37
3650,00
6200,00
4600,00
12000,00
1 1350,00
10600,00
1 1350,00
10960,00
10700,00
1 1350,00
1 1350,00
8690,00
8500,00
8890,00
9200,00
3040,00
8000,00
8160,00
8160,00
2500,00
1650,00
530,00
s08,00
460,20
514,60
627,60
652,70
556,50
774,00
774,00
246,90
769,90
1.92,50
627,60
125,50
129,70
150,60
129,70
1.33,90
L33,90
729,70
729,70
238,50
1.96,60
213,40
230,10
502,10
205,00
150,60
150,60
920,50
920,50
3515,00
4226,00
58,58
1O,BB
12,55
5,02
37,91.
0,08
0,25
0,01
1.7,32
13,81
47,70
12,55
34,37
16,32
34,31
29,71.
26,99
34,31.
34,31
56,90
50,21.
46,02
47,28
1,13
2,93
2,34
2,09
1,67
0,92
71,13
42,26
LAMPIRAN 393
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kglm*3
]/kg'C ]/sec
m"C
431
I 432
I
433
494
435
436
437
438
439
440
441,
442
443
444
445
446
447
448
449
450
451,
452
453
454
455
lithium aluminum silicate
(b-spodumene)
lithium cobalt nickel oxide
(B-a6-46 m)
lithium copper oxide (41io.96cuo)
lithium hydride (lih) (cast, vac
voids)
lithium hydride (lih) (powder
compact)
Iithium hydride (lih) (cast, gas
voids)
lithium fluoride (lif) (single crystal)
lithium fluoride (lit96) (plastic bnd)
lithium manganese selenide
(97mn.31i.-)
lithium nickel oxide (51io.95nio)
lithium tetraborate (li2o.2b2o3)
(epox)
lutetium
1x-o4-1 h.e. (hmx 85, viton a 15)
lx-04 h.e. (hmx 85, viton a 15)
lx-07 h.e. (hmx 90, viton a 10)
lx-09 h.e. (hmx 93, dnpa 4.6, fefo
2.4)
lx-10 h.e. (hmx 95, viton a 5)
magnatite (FeO.FerOr)
magnesite a brick (MgO 90) (1a.5 p)
magnesite b brick (MgO 93) (22.6 p)
magnesite brick (MgO 87)
l
magnesite brick, spall res (MgO B9)l
magnesite c brick (MgO SO) (rZ.S p)l
magnesium
I
I
magnesium (liquid)
|
3100,00
6500,00
6300,00
700,00
700,00
700,00
2640,00
2460,00
5500,00
6600,00
2140,00
9850,00
1865,00
7870,00
1.870,00
1840,00
1860,00
5200,00
3080,00
2760,00
2530,00
2670,00
2920,00
1740,00
1.570,00
1255,00
753,1.0
669,40
4184,00
4184,00
4184,00
1,632,00
1.632,00
384,90
711,30
1 130,00
150,60
1172,00
1,023,00
1,049,00
1056,00
1056,00
652,70
B36,BO
B36,BO
B36,BO
B36,BO
B36,BO
1004,00
1.339,00
7,05
3,60
15,27
12,97
71,09
10,01
? Ar-l
13,1S
1.rr
10,-ro
0,39
0,45
0,50
051
0,51
5,02
4,91
4,E1
3,E5
3,47
3,68
1.50,62
3,68
394 LAMPIRAN
NAMA MATERIAL
456
457
458
459
460
461
462
463
464
465
466
467
468
469
470
471
472
473
magnesium alloy (lvlg, Ag25,Ce2,
2r0.6)
magnesium alloy amlO0a (casting)
magnesium alloy az3l (x,s)
(wrought)
magnesium alloy az3l b(p,r)
(wrought)
magnesium alloy az6l a (x), azm
(wrought)
magnesium alloy az63a(ac,f)
(casting)
magnesium
alloy azB0a(x,frgd)
(wrought)
magnesium alloy azBT a(t4)
(casting)
magnesium alloy az855(x)
(wrought)
magnesium alloy azgla,b (dc)
(casting)
magnesium alloy azglc(ac) (casti
magnesium alloy az92a(ac)
(casting)
magnesium alloy a3a (wrought)
magnesium alloy a8(ac or st)
(casting)
magnesium alloy bz33a (ac,ah)
(casting)
magnesium alloy ek30a,h8l2
(casting)
magnesium alloy ek33a, hSll
(casting)
magnesium
alloy ek4la(t5,t6)
(casting)
magnesium
alloy hk3la(h24)
(casting)
magnesium
alloy hk3 la(o)(casting)
1820,00
1810,00
1775,00
1770,00
1800,00
1835,00
1800,00
1800,00
1900,00
1810,00
i810,00
1825,00
1770,00
1810,00
1830,00
1790,00
1830,00
1810,00
7790,00
1790,00
962,30
1025,00
983,20
1004,00
1025,00
1025,00
962,30
7004,00
\025,00
1025,00
'1025,00
1025,00
1025,00
1025,00
1025,00
1025,00
1025,00
1025,00
7025,00
1,025,00
172,97
58,58
83,68
83,69
75,11
71,13
54,39
54,39
79,50
54,39
54,39
54,39
1,OB,7B
83,69
100,42
104,60
LAMPIRAN
395
NO NAMA MATERIAL
Rho
Cu k
kg/m*3
llkg'C |/sec
m'C
1476 |
magnesium alloy hk3la(t6)(casting)
l+ZZ I
magnesium
altoy hm2l a(oh24)
I I
(wrought)
l+za [
*rg.,"rirm altoy hm3 1 a
I I
(wrought)
l+zo |
*ugr,"rirm alloy hz32a(ac),zt 1
I I
(casting)
f
+so
|
*rg.,"rirm alloy magnox a l2(x)
I I
(wrought)
f
nS,
|
*ug.,urirm alloy ml (ac) (casting)
l+AZ I
magnesium alloy m I (x,s)
I I
(wrought)
f
+aa
|
*rS."rirm atloy m I a (wrought)
l4B4 |
magnesium alloy pe (wrought)
l4B5 |
magnesium alloy za(ac) (casting)
1486 |
magnesium
alloy zet)a(o,h24)
|
I I
(wrought)
I
lnl, I
magnesium a|oy ze4ta(ts,ht)
|
I I
(casting)
|
f
+SA
|
*uS.,"ri..m altoy zh42 (casting)
I
l4B9 |
magnesium alloy zh62a(ac),t26
I
I I
(casting)
|
l+lo |
-rg.,"rirm
alloy zk20a(wrought)
|
497
|
magnesium alloy zkila,hl)7
I
|
(casting)
|
4g2
|
*ugnurlum alloy zk60a,b, zw6
I
|
(casting)
|
4g3
| -ug.urirm
alloy zre0(e230)
|
|
(casting)
|
4g4
[
*rg.,"rirm alloy zrel(aa) (castingl
I
4g5
|
magnesium altoy zty(x) (hk 11)
|
|
(wrought)
|
496
|
*ugnerium
atloy zwl(x) (2k11)
I
|
(wrought)
|
4g7
|
magnesium attoy zw3(x) (2k31)
|
|
(wrought)
|
1790,00
7780,00
1820,00
1830,00
7750,00
1760,00
1760,00
1760,00
1760,00
1750,00
1760,00
1820,00
1860,00
1860,00
1900,00
1810,00
1830,00
1800,00
1800,00
1760,00
1800,00
1900,00
1025,00
1025,00
1025,00
1025,00
1025,00
7025,00
1025,00
1025,00
1025,00
1025,00
1025,00
962,30
962,30
962,30
7025,00
1.02L,00
1046,00
1.025,00
1,025,00
|
s6230
I
I
1025,00
I
g62,3ol
92,05
738,07
101,60
104,60
777,la
729,7 :
1ll
1^
i _i_
111:-
11 - a- !
L\-,-
I
131,S1
10s., i
1{r.-
1i:::
125.;l
110,6S
117,7a
700,12
1.00,12
721,31
733,89
125,52
IT
396 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Cts k
kg/m*3
llkg"C ]/sec
m"C
498
499
500
501
502
503
504
505
506
507
508
509
510
511
512
513
51.4
515
516
577
518
51,9
magnesium alloy 1959 (Mg,Ce4.33)
magnesium alloy 1960 (Mg,Ce6.7)
magnesium alloy 1961 (Mg,Ce11.85
magnesium alloy 1964 (Mg,CeS,
Co2,Mn0.B)
magnesium alloy 1992 (Mg,Ce4.45,
Co3)
magnesium aluminate (MgO.AlrOr)
(xta1)
magnesium aluminate (MgO.AlrOr)
(1oo d)
magnesium aluminum silicate
(cordierit)
magnesium oxide (MgO) (polyxtal,
100 d)
magnesrum
crystal)
magnesium
(100 d)
magnesium
(commerc)
magnesium
magnesium
(crystal)
oxide (MgO) (single
silicate (2MgO.SiOr)
silicate (MgO.Si02)
silicide (MgrSi)
sulfate (MgSOr)
magnesium sulfate hydrate
(MgSOn.THrO)
magnesium titanate porcelain
manganese
manganese oxide (MnO) (single
xtal)
manganese oxide (MnrOn) (87 pc
dense)
manganese selenide (97MnSe.3lise)
manganese silicide (MnSi2)
manganese telluride (95MnTe.5
MnAs)
1780,00
1760,00
1740,00
1.764,00
\740,00
3600,00
3600,00
2100,00
3580,00
3580,00
3200,00
3000,00
1970,00
2660,00
1680,00
2900,00
7400,00
5400,00
4200,00
5500,00
5240,00
5700,00
1004,00
1004,00
962,30
1004,00
962,30
81.1,70
81.1,70
774,00
920,50
920,50
836,80
836,80
836,80
1.255,00
1506,00
753,1.0
481.,20
602,50
627,60
384,90
5B5,BO
401,70
129,70
118,83
96,23
1,21.,34
729,70
\4,23
1.5,06
2,21
61,92
69,04
5,86
3,35
7,91.
2,51.
2,43
1,BB
6,69
L0,04
4,L8
2,80
7,20
1,26
LAMPIRAN 397
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca
kg/m"3
]/kg"C |/sec
n'C
520
527
522
523
524
525
526
527
528
529
530
531
532
533
534
535
536
537
538
539
540
541
542
543
544
545
546
manganese telluride (99MnTe.NaTe)
manganin (CuB4, Ni4, Mn12)
marble (av prop) (see ref 51)
marble dielectric (xtal) (CaCO3 99.99
melamine (high dons high k)
melamine (low dens, low k)
melamine, alpha cellulose filled
melamine, asbestos filled (mst
e5-205)
melamine, cellulose filled (mst
e5-205)
melamine, fabric or flock filled
melamine, glass fiber filled (mst
205)
mendelevium
mercury (liquid)
mercury chloride (HgClr)(prsd B kb)
methane (CHr) (gas)
methyl methacrylate
mica (single crystal) (a or b axes)
mica (single crystal) (c axis)
mica (single crystal) (synthetic)
(e8d)
mica brick (red or white)(avg prop)
mica insulating powder
mock h.e. 1m-04-0 h4-048-a294-3
mock h.e. lm-04-0 h7-048-a522.1.
mock h.e. rm-O4-bg (lx-04-1 mech
mock)
mock h.e. 90010 (pbx-9404 mech
mock)
molybdenum
molybdenum alloy (mo bal, fe 0.25)
5700,00
8700,00
2700,00
2700,00
2000,00
1400,00
1500,00
1850,00
1450,00
1520,00
1900,00
12000,00
13500,00
5440,00
0,72
1180,00
2800,00
2800,00
2790,00
680,00
330,00
1700,00
1.700,00
7870,00
1780,00
10200,00
10200,00
401.,70
376,60
B7B,60
978,60
1674,00
1.674,00
1674,00
1.674,00
7674,00
1674,00
1.674,00
125,50
138,10
284,50
2259,00
1464,00
836,80
836,80
836,80
836,80
836,80
962,30
1109,00
962,30
7255,00
246,90
276,70
-ri
i,13,E9
738,07
398 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kg/m*3
]ikg"C ]/sec
m"C
547
548
549
550
551
552
553
554
555
556
557
558
s59
560
561
562
563
564
565
566
567
568
569
570
571,
572
573
I
I
lsrq
molybdenum alloy (Mo70, w30)
|
molybdenum alloy (Mo99.5, Ti0.5)
|
molybdenum beryllide (MoBel2)
|
molybdenum carbide (MorC)
|
molybdenum nitride (MorN) (pr
I
srd 100d)
molybdenum selenide
lMoSer)
molybdenum silicide (MoSir)
molybdenum telluride (MoTer)
mulberry (u90, nb7.5, 212.5)
mullite (3AlrO3.2SiOr) (100 pc
dense)
neodymium
neodyminum boride (NdB6) (97.3
pc dense)
neon (gas)
neoprene rubber
neptuninm
nickel
nickel alloy (Ni35,Cr20,Fe45)
nickel alloy (Ni60,Crl6,Fe24)
nickel alloy (Ni62,CrI2,Fe26)
nickel alloy (Ni99.5) low c, 220,225
nickel alloy a (Ni99.4) (annealed)
nickel alloy caliten
nickel alloy chlorimet 3
nickel alloy constantan
(Ni45, Cu55
nickel alloy corrosist
nickel alloy d and e
nickel alloy duranickel (and -r)
(hard)
nickel alloy duranickel
(and -r)
(soft)
9940,00
10200,00
2916,00
9000,00
8000,00
5000,00
6260,00
5500,00
16500,00
3200,00
7000,00
4800,00
0,90
1250,00
18000,00
8900,00
7950,00
8250,00
8200,00
8890,00
8890,00
8220,00
8940,00
8890,00
7800,00
8800,00
8260,00
8260,00
200,80
255,20
1088,00
347,30
309,60
301,20
418,40
225,90
746,40
765,70
196,60
627,60
1.029,00
2176,00
125,50
443,50
460,20
460,20
460,20
460,20
439,30
460,20
384,90
397,50
460,20
460,20
435,L0
435,1.0
1.23,01
117,15
47,84
20,92
17,75
2,30
45,19
2,01.
10,46
6,28
72,97
47,28
0,05
0,1.9
1'
qE
87,86
1.2,97
1.3,39
1.3,39
60,67
66,94
13,81
12,55
22,1.8
20,92
44,77
19,67
1.8,41
LAMP!RAN 399
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kglm*3
J/kg'C |/sec
m"C
7920,00
8800,00
9240,00
8940,00
7900,00
8790,00
8220,00
8230,00
8740,00
8580,00
8310,00
8010,00
8230,00
8300,00
8470,00
8310,00
8280,00
8480,00
8170,00
8370,00
7910,00
8000,00
8400,00
8630,00
8835,00
8835,00
8480,00
8490,00
8465.00
|1575 |
nickel alloy durimet 20 (cast)
l*, I
nickel alloy hasteltoy a (annealed)
1577 |
nickel alloy hastetloy b
ISZS I
nickel alloy hasteltoy c
ISZO I
nickel alloy hasteltoy d
ISAO I
nickel alloy hasteltoy n and inor-B
llJ
l581 |
nickel alloy hastetloy r-235
lsSz I
nickel alloy hasreltoy x
I
sB3
J
nickel alloy hy mu B0
l5B4 |
nickel alloy illium g
l58s I
nickel alloy illium t
l586 |
nickel alloy illium r
lsaz I
nickel altoy incoloy e01
ISSS I
nickel alloy inconet (cast)
ISSO I
nickel alloy inconel (wrought,
I I
annld)
590
|
nickel alloy inocnel w
591
|
nickel alloy inconet x and x-750
5g2
|
nickel alloy inconel 600 (annealed)
t'
593
|
nickel alloy inconetT00
594
I
nickel ,ltoy i.,con et ZO2 (annealed)
595
|
nickel alloy inconel 713c (cast)
t'
596
|
nickel alloy invar (hot-rolled
or
I
frgd)
5g7
|
nickel atloy k-42b
598
|
nickel alloy monel (cast)
I
599
|
nickel alloy monel (cold-drawn)
600
|
nickel alloy monel (hor-rolled)
601
|
nickel alloy monel, h (as cast)
602
|
nickel alloy monel h (cast, ver
I
comp)
603
|
nickel alloy monel, k- (annealed)
460,2C
393,3A
380,70
384,90
451,,90
397,50
439,30
426,80
447,70
439,30
460,20
451,90
4-1.8,40
451,90
451,90
439,30
439,30
456,L0
460,20
460,20
447,70
514,60
418,40
439,30
431.,00
431.,00
439,30
439,30
426,80
20,92
9,62
10,46
70,46
)o
q)
1.0,75
orn
9,83
33,39
72,13
72,97
72,73
73,39
10,+6
]
13,31
I
ru,nl
ru,nl
15,06
I
D,551
D,551
DfiI
1O,BB
I
12,55
I
26,79
|
rc),gl
22,681
20,g2l
26,781
1,7,74l|
f,
4OO LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kgim*3
]/kg'C J/sec
m'C
604
605
606
607
608
609
610
671,
612
613
614
61,5
61.6
6L7
618
619
620
621,
622
623
624
625
626
627
628
629
630
631,
nickel alloy monel, kr (annealed)
I
nickel alloy monel, r (hot-rolled)
|
nickel alloy monel, s (cast, all cond)
nickel alloy monel weldable alloy
nickel alloy monet 400
nickel alloy monel 403 (hot-rolled)
nickel alloy multimet (n-155)
(low c)
nickel alloy multimet (n-155)
(wrought)
nickel alloy m-252 (gej-1500)
nickel alloy nichrome v(ni80, cr 20)
nickel alloy nimonic ds
nickel alloy nimonic 100
nickel alloy nimonic 105
nickel alloy nimonic 75
nickel alloy nimonic B0
nickel alloy nimonic BOa
nickel alloy nimonic 90
nickel alloy nimonic 95
nickel alloy permanickel
nickel alloy rene 41
nickel alloy udimet 500 (wrought)
nickel alloy waspalloy
nickel attoy 330 (Ni99.55) (annealed
nickel cobalt oxide (46NiO.46COO.
BLiO)
nickel lithium oxide (95NiO.sLiO)
nickel oxide (NiO) (polyxtal,
68-74 d)
nickel oxide (nio) (polyxtal,
88-100 d)
nickel oxide (nio) (single xtal)
8450,00
8840,00
8360,00
8630,00
8830,00
8860,00
8215,00
8215,00
8210,00
8360,00
791.0,00
8000,00
7990,00
8350,00
8250,00
8170,00
8250,00
8060,00
8750,00
8230,00
8050,00
8200,00
8850,00
6500,00
6600,00
5000,00
6400,00
6810,00
439,30
439,30
439,30
439,30
439,30
439,30
435,10
435,10
439,30
431,00
460,20
460,20
460,20
460,20
460,20
418,40
43L,00
460,24
443,50
422,60
439,30
418,40
460,20
753,1.0
71.1.,30
602,50
602,50
602,50
18,83
|
I
25.941
,l
79,67
)
26,78
25,94
24,81.
16,32
12,97
9,62
13,39
1.4,23
11,30
10,88
12,97
1.1.,72
1L,72
12,55
11,26
57,74
10,33
10,88
11,30
60,67
3,60
1.3,1.8
9,83
1.2,97
46,02
LAMPIRAN 401
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
ks/m*3
]/kg'c ]/sec
m"C
632
633
634
635
636
637
638
639
640
64L
642
643
644
645
646
647
648
649
650
651
652
653
654
655
656
657
658
nickel silver (Cu Bal, Ni 10-20)
nickel zinc ferrite (Ni(Zn)O.FerOr)
niobium
niobium alloy (Nb61,, Ta2B, Y,ll},
2r0.5)
niobium alloy (NbB0, W15, MoS)
niobium alloy (Nb85, Til}, Zr5)
niobium alloy (Nb95, Ta5)
niobium beryllide (NbBel2) (hp,
e3-e7d)
niobium beryllide (NbrBe, 7)
niobium boride (NbBr) (pressed,
sntrd)
niobium carbide (NbC)
niobium nitride (NbN)
niobium nitride (NbrN)
niobium silicide (Nbsir)
nitric oxide (no) (gas)
nitrile rubber
nitrocellulose h.e. (1.2.7 n)
nitrogen (gas)
nobelium
nylon 6,11,66,610
(polycaprolactam)
nylon, glass filled
obsidian glass
orthoclase (k2o.AIrOr.6SiOr)
(crystal)
osmium
oxygen (gas)
palladium
pbx-9011 h.e. (hmx 90, estane 10)
8800,00
4700,00
8570,00
10700,00
9600,00
7770,00
9000,00
2800,00
3200,00
6800,00
7600,00
8360,00
8310,00
5290,00
1,,34
1000,00
1580,00
1,21
12000,00
1120,00
1400,00
2400,00
2600,00
22570,00
\,43
11400,00
1770,06
376,60
606,70
267,80
200,80
246,90
255,20
25L,00
1105,00
920,50
418,40
355,60
401.,70
322,20
460,20
966,50
1966,00
1,255,00
1,042,00
125,50
1527,00
L339,00
753,1.0
1255,00
129,70
795,00
242,70
1172,00
33,47
3,72
50,21.
44,77
50,21.
29,29
44,77
23,01.
31,38
16,74
33,17
4,18
7,95
41,84
0,02
0,24
0,23
0,03
12,55
0,24
0,21
1.,37
4,18
85,77
0,03
76,1.5
0,43
402 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kg/m"3
]/kg'C J/sec
m'C
659
660
661,
662
663
664
665
666
667
668
669
670
671,
672
673
674
675
676
677
678
679
680
681
682
683
684
685
pbx-9404-03 h.e. (hmx 94, nc 3,
bind 3)
petn h.e.
phenolic, cast, asbestos filler
phenolic, cast, no filler
phenolic, molded (high density, k)
phenolic, molded (low density, k)
phenolic resin, pressed, types 40,
50
phenol-formaldehyde + phenol-
furfurat
phenoxy
phosphorus (white)
plaster, building (molded, dry)
plastic laminate, various types
plate glass
platinum
plutonium
plutonium alloy (delta phase)
plutonium carbide (puc) (arem or
cast)
plutonium nitride (pun)
plutonium phosphide (p"p) (90 pc
dense)
plutonium sulfide
plut(xlium uranium oxide (puo2.4
uo2) see
polonium
polyallomer
polycarbonate, various fillers
polyester, glass fiber reinforced,
tac
polyethylene, high density
polyethylene, low density
1836,00
1.760,00
1700,00
1310,00
3000,00
1240,00
1380,00
1280,00
1250,00
1820,00
1250,00
1800,00
2500,00
21.400,00
L9200,00
15750,00
13500,00
14250,00
9890,00
10590,00
10600,00
9320,00
900,00
1350,00
1230,00
950,00
920,00
1004,00
1674,00
1255,00
1464,00
1255,00
7255,00
1255,00
1.674,00
1674,00
740,60
1088,00
1255,00
753,10
133,90
L33,90
133,90
1.84,1.0
188,30
230,1.0
230,10
263,60
\21,30
2092,00
1.674,00
1130,00
2301,00
2092,00
0,43
0,21.
0,35
0,1.7
0,67
0,17
0,38
0,21
0,LB
4,78
0,43
0,27
7,21.
69,04
8,20
7,07
7,11.
13,81
5,44
9,62
7,61
L,67
0,L3
0,1.9
0,18
0,50
0,33
LAMPIRAN 403
NO NAMA MATERIAL
Rho Cts k
kg/m*3
J/kg'C ]/sec
moC
686
687
688
689
690
691,
692
693
694
695
696
697
698
699
700
701
702
703
704
705
706
707
708
709
710
771
772
713
polyethylene, medium density
polyimide, h-film, kapton
polymethyl methacrylate
polypropylene, copolymer
polypropylene, filled
polypropylene, moplin
polystyrene, foamed-in-place, rigid
polystyrene, general purpose
polystyrene, modified
polystyrene, prefoam ed, rigid,
dow q 103
polystyrene foam (d
=
0.038)
(1 atni)
polystyrene foam (d
=
0.046)
(vacuum)
polystyrene foam (d
=
0.046)
(1 atm)
polysulfone
polyurethane foamed-in-place,
rigid
polyurethane foam flexible
polyurcthane rubber 1-100
polyvinyl alcohol
polyvinyl butyral
polyvinyl carbazole
polyvinyl chloride acytate, flexible
polyvinyl chloride acytate, rigid
polyvinyl chloride, flexible
polyvinyl chloride, rigid
polyvinyl tp x-r
polyvinylidene chloride
polyvinylidene chloride film
polyvinylidene fluoride (kynar)
935,00
1420,00
1180,00
910,00
1270,00
910,00
100,00
1050,00
1080,00
40,00
38,00
46,00
46,00
1250,00
40,00
60,00
1250,00
1.250,00
1 100,00
1 180,00
1200,00
1400,00
1500,00
1400,00
830,00
1700,00
1690,00
L760,00
2301,00
1130,00
1464,00
2343,00
1925,00
1925,00
1130,00
1,423,00
7339,00
1 130,00
1 130,00
1130,00
1130,00
1255,00
1.674,00
1757,00
1674,00
1.255,00
1.674,00
1297,00
1.674,00
1004,00
1674,00
1004,00
2176,00
7339,00
1339,00
1381,00
0,4\
7,\3
0,21
0,13
0,18
0,13
0,03
0,13
0,08
0,04
0,03
0,01
0,03
0,04
0,29
0,79
0,08
0,15
0,17
0,1.7
0,1.7
0,25
0,77
0,13
0,13
0,t3
0,26
0,03
404 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kg/m*3
)ikg"C
j/sec
m"C
774
715
716
71.7
718
71,9
720
721
722
723
724
725
726
727
728
729
730
731
732
733
I
1734
lrru
I
lrro
l,u,
1,,,
I
lzzq
I
porcelain, high alumina
I
porcelain, high zircon
I
porcelain, magnesium titanate
I
porcelain, ordinary
I
porcelain 4811 (beo)
|
porcelain 576
I
potassium
I
potassium (liquid)
|
potassium alum (k2so 4.a12(so4)
3.24h2o)
potassium aluminum silicate
(orthoclas)
potassium bromide (kbr) (prsd
8 kb)
potassium bromide(kbr) (single
xtal)
potassium bromide (kbr 50, kcl 50)
potassium bromide (kbr 75, kcl 25)
potassium bromide (kbr 90, kcl 10)
potassium chloride (kcl) (prsd B kb)
potassium diloridc (kcl) (sylvite
xtal)
potassium chloride (kcl 50, kbr 50)
potassium chloride (kcl 50, nacl 50)
potassium chloride (kcl.75, kbr 25)
potassium chloride (kcl 90, kbr 10)
potassium chromate (k2o.2cro3)
(m axis)
potassium chromate (k2o.2cro3)
(s axis)
potassium fluoride (kf) (prsd 8 kb)
potassium iodide (ki) (prsd 8 kb)
potassium fmocyanide (k4fo(cn)
6.3ii2o)
3400,00
3900,00
2900,00
3400,00
2900,00
3400,00
862,00
820,00
1800,00
2600,00
2750,00
2750,00
2360,00
2550,00
2660,00
1980,00
L990,00
2360,00
2070,00
21.60,00
2050,00
2680,00
2680,00
2480,00
3130,00
1850,00
795,00
585,80
753,80
753,L0
1004,00
753,1.0
753,10
820,1.0
1548,00
1.255,00
435,1.0
435,1.0
537,40
477,00
447,70
686,20
686,20
531.,40
769,90
598,30
648,50
920,50
920,50
861.,90
305,40
1130,00
19,83
5,86
1,88
2,09
125,52
11,30
97,07
62,34
2,09
4,18
3,81.
4,81.
2,51.
2,09
2,89
8,37
6,99
2,5L
7,11.
3,31.
5,02
1,,72
2,09
7,1.1.
2,89
1.,72
LAMPIRAN 405
NO NAMA MATERIAL
Rho Czt k
kg/m*3
]/kg"C ]/sec
moC
740
747
742
743
744
745
746
747
748
749
750
751
752
753
754
755
756
757
758
759
760
767
762
763
764
765
766
767
76R
potassium nitrate (kno3)
(pr 8000 kb)
praseodymium
praseodymium boride (prb6)
(95 pc dens)
promethium
protactinium
pyrex glass
pyroceram 9606 ceramic glass
pyroceram 9608 ceramic glass
pyrophyllite (parallel to bedding)
pyrophyllite (perpend to bedding)
qtartz crystal, a axis (sio2)
qrartz crystal, c axis (sio2)
quartz flour, fine (dry)
quartz flour, fine (h2o 21 pe)
quartz glass, fused (sio2)
quattz powder, coarse (h2o 2a)
qrartz sand (dry) (av prop)
(see ref)
quartz sand (wcl.) (h2o a-23)
(av prop)
radium
radon gas
rattan
rheniam
rhodium
rock or stone (average properties)
rubber, buna, with carbon black
rubber, butyl
rubber, dielectric mix
rubber, high k
rrrhhpr nafrrral
21.09,00
6800,00
4600,00
7200,00
15400,00
2220,00
2600,00
2500,00
2800,00
2800,00
2650,00
2650,00
BBO,OO
1820,00
2200,00
1.870,00
1600,00
1.700,00
5000,00
9,73
15000,00
21000,00
12400,00
2600,00
1000,00
900,00
1100,00
1100,00
q?o
oo
B36,BO
1.96,60
627,60
188,30
1\4,60
728,00
782,40
807,50
B36,BO
B36,BO
753,1.0
753,1.0
744,80
1.464,00
744,80
1590,0(
753,70
753,1.0
113,40
93,72
539,70
138,10
242,70
836,80
7757,00
1.966,00
2092,00
2092,00
)o9) no
2,09
77,72
47,00
12,55
72,55
1,13
3,97
2,05
4,77
2,43
6,49
77,72
0,17
)))
1,38
1,L3
0,33
1.,67
12,55
0,00
4,1'8
60,67
1.50,62
1,76
0,24
0,09
4,21
0,29
0.14
406 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kg/m*3
J/kg'C J/sec
moC
769
770
771
772
//J
774
775
776
777
778
779
780
781,
782
783
784
785
786
787
788
789
790
791,
792
793
794
795
rubber, natural, foam
rubber, neoprene
rubber, nitrile
rubber, polyurethane elastomer
1-100
rubidium
rubidium (liquid)
rubidium chloride (rbcl)(prsd 8 kb)
rubidium iodide (rbi) (prsd B kb)
ruthenium
samarium
samarium boride (smb6) (96.8 pc
dense)
samarium sulfide (sms)
sand (dry) (d
=
1.36 to 1.84) (av
prop)
sand, northway (h2o 4-10) (av
Prop)
sand, quartz (wet) (h2o 4-23) (av,
proP)
sandstone (av prop) (see ref 51)
sandstone (high density)
sandstone (low density)
sapphire (a12o3) (polyxtal) (100
Pc
d)
sapphire (al2o3) single xtal) (av dir)
scandium
selenium (g.ey)
shale (av prop) (see ref 51)
silica brick, hard fired (sio2 94-95)
silica glass, fused or vitrous
siliceous brick (sio2 89, al2o3 9)
(25p)
silicon
100,00
1250,00
1000,00
1250,00
1500,00
1475,00
2800,00
3550,00
12200,00
7500,00
4900,00
6010,00
1600,00
1700,00
1700,00
2300,00
2600,00
2200,00
3980,00
3980,00
3000,00
4790,00
2400,00
1800,00
2200,00
1930,00
2330,00
2092,00
2176,00
1.966,00
1.674,00
376,60
384,90
431,00
234,30
234,30
179,90
627,60
292,90
753,10
B36,BO
753,10
962,30
962,30
962,30
778,20
778,20
552,30
322,20
836,80
753,L0
744,80
753,70
702,90
0,04
0,79
0,24
0,29
50,21
.)0
10
2,09
3,31.
1.04,60
12,55
1.3,91.
3,77
0,33
0,84
L,67
7,51.
4,18
1,,84
38,49
43,93
12,55
0,75
1.,67
1,,67
1,38
0,94
1.25,52
LAMPIRAN 407
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kg/m"3
Iikg'C |/sec
moC
796
797
798
1799
l,nn
Ln,
l rn,
l,ou
l ron
|
'o'
I
uou
807
BOB
809
810
811
81.2
813
81,4
815
816
877
B1B
819
920
821
822
silicon boride (siba)
silicon carbide (sic)(brick al2o3 1.7)
silicon carbide (sic) (carbofrax
brick)
silicon carbide (sic) (foam, in
vacuum)
silicon carbide (sic) (frit bnd brick
silicon carbide (sic) (kt grade)
silicon carbide (sic) (nitride
bonded)
silicon carbide (sic) (powder, in air)
silicon carbide (sic) (powder, in he)
silicon carbide (sic) (refractory
d-30)
silicon carbide (sic) (rextal, 65-70d)
silicon carbide (sic) (rextal, B0-1
00d)
silicon carbide (sic) (single xtal)
silicon carbide (sic) (single xtal)
silicon carbide (sic) (slf bnd, he
atm)
silicon carbide + si (sic 76, si 24)
I
silicon nitride (si3n4) (70 pc dense)
|
silicon nitride (si3n4) (85 pc a".,r")
|
I
silicon oxide (sio2) (foam, 1 atm
I
air)
|
silicon oxide (sio2) (fused quartz)
|
silicon oxide (sio2) (quartz, a axisl
I
silicon oxide (sio2) (quartz, c axis)
|
silicon telluride (site)
|
silicone foam, flexible (1rl)
|
silicone foam, rigid, various
I
silicone rubber, high k (see ref 5)
|
silicone rubber, low k
(see
ref 5) I
2460,00
251.0,00
2700,00
460,00
2700,00
3100,00
2660,00
1585,00
1585,00
2700,00
2070,00
2900,00
3210,00
3210,00
3100,00
2500,00
2200,00
2300,00
160,00
2200,00
2650,00
2650,00
3920,00
250,00
300,00
1300,00
1300,00
1046,00
677,80
677,80
677,80
677,80
677,80
677,80
677,80
677,90
677,80
677,80
677,80
677,80
677,80
677,90
836,80
690,40
690,40
744,80
744,80
753,10
753,L0
334,70
1339,00
1339,00
1255,00
1255,00
9,93
77,72
21,76
0,10
46,02
779,97
47,84
0,25
0,69
41,84
78,47
51,88
87,86
489,53
1.67,36
60,67
1,55
7,95
0,06
7,38
6,49
1.1.,72
6,28 )
I
0.171
,l
0,08I
0,75l|
0,141
408 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Cts k
kg/m*3
|/kg"C J/sec
moC
823
824
825
826
827
828
829
830
831
832
833
834
835
836
837
B3B
839
840
841
842
843
844
845
846
847
B4B
849
silicone rubber, medium k (see
ref 5)
silicone rubber, rlv 521 and 093@9
silicone, molded, various fillers
sillimanite brick (22 pc porosity)
silver
silver (liquid)
silver alloys sterling and coin
silver antimony telluride (snte 25
pc)
silver chloride (agcl) (single crystal)
silver selenide (ag2se)
slate (av prop) (see ref 51)
soda-lime glass
sodium
sodium (liquid)
sodium aluminum silicate hydrate
(xtal)
sodium bromide (nabr) (prsd B kb)
sodium, chorate (nacto3) (crystal)
sodium chloride (nacl) (clear
crystal)
sodium chloride (nacl) (opaque,
impure)
sodium chloride (nacl 50, kcl 50)
sodium fluoride (naf) (prsd 8 kb)
soil (av props) (see refs)
soil, clay (wct)
soil, fine quartz flour (dry)
soil, fine quartz flour (h2o 21 pe)
soil, loam (dry) (av prop) (see refs)
soil, loam (h2o 4-27 pc) (av, see
refs)
1300,00
1400,00
1800,00
2310,00
10500,00
9300,00
10500,00
6500,00
5560,00
8000,00
2760,00
2300,00
970,00
930,00
2260,00
3203,00
2490,00
21.65,00
21.65,00
2070,00
2559,00
1300,00
1500,00
BBO,OO
1820,00
1200,00
1600,00
\255,00
1.255,00
1046,00
711,30
236,00
2BB,7O
25\,00
209,20
355,60
280,30
B36,BO
753,1.0
1213,00
1381,00
1339,00
510,40
920,50
870,30
870,30
769,90
1113,00
1.046,00
2929,00
744,80
1.464,00
B36,BO
1040,00
0,33
0,27
0,77
1,46
426,77
251.,04
359,82
0,98
1,73
0,84
1,BB
1.,34
733,89
84,52
3,43
2,51.
1,13
8,16
q6,
7,11
10,50
0,84
1,51
0,1.7
)))
0,25
0,42
LAMPIRAN 409
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kg/m*3
J/kg'C J/sec
m"C
I 850
Lo,
lru,
I
u',
1,,-
I
ass
I tru
I
857
I u,,
Bs9
860
861
862
863
864
865
866
867
B6B
869
870
871
872
6/3
871
975
876
877
878
soil, nears surface (see ucrl-50309)
soil sandy dry
soil- sandy (h20 B)
solid, regulating (d=c=k=tm=1,
hm=10"*9)
solid, unit latent heat (d=c=k=tm=
hm=l)
solid, unit property (d
- c
=
k - 1)
snor,v, fresh
sr1ow, packed
solder (pb37.5, sn37.5, in25)
solder (pb39.2, sn60.B)
solder (pb50, sn50)
solder (pb60, sn40)
spinel (mgo.a12o3) (single
crystal)
spinel (mgo.al2o3) (100 pc dense
potyx)
steam (h2o) (gas) (satd)
steam (h2o) (gas) (I atm)
steatite (mgo.sio2) (commercial
grades)
steel, alloy and mild (4730,4340)
steel, alloy, cast
steel, carbon, type 7020 (0.2 - 0.6 c)
steel, free cutting, eutectoid
steel, high speed (ml, m10, m-2, ti)
steel, multimet (n-155) (low c)
steel, multimet (n-155) (wrought)
steel, stainless (cr 12-73, ni 0-3)
steel, stainless (cr L6-26, ni 8-36)
steel, stainless ea 15, ca40 (cast)
steel, stainless cb30, cc50 (cast)
steel, stainless ck, ch, hi (cast)
2000,00
1650,00
1750,00
1000,00
1000,00
1000,00
100,00
550,00
8690,00
8500,00
8890,00
9200,00
3600,00
3600,00
0,60
0,60
3000,00
7750,00
7830,00
7860,00
7830,00
8200,00
8215,00
8215,00
7750,00
8000,00
7670,00
7530,00
7730,00
I
I
962,30
795,00
104,00
4184,00
4184,00
4184,00
2092,00
2092,00
238,50
796,60
213,40
230,70
817,70
811,70
1883,00
1966,00
B36,BO
502,1.0
460,20
460,20
460,20
460,20
435,10
435,L0
431,00
502,70
460,20
502,70
502,70
0,a 1
0,tc
0, t:
l 1 E,-r
416,{_
0,02
0,02
3,35
41,84
46,02
7\,13
46,02
35,56
1.6,32
1.2,97
23,43
14,64
25,70
27,76
1,4,23
410 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kg/m*3
)/kg"C J/sec
moC
879
880
BB1
BB2
BB3
BB4
BB5
886
887
BBB
BB9
890
897
892
893
894
895
896
897
898
899
900
901
902
903
904
905
906
907
908
909
steel, stainless cf (cast)
steel, stainless cn-7m (cast)
steel, stainless ha (cast)
steel stainless he, hd (cast)
steel, stainless he (cast)
steel, stainless hf (cast)
steel, stainless hh, hl, hk (cast)
steel, stainless ht (cast)
steel, stainless hu (cast)
steel, stainless hw (cast)
steel, stainless series 300
steel, stainless series 400
steel, stainless 17-4ph
steel stainless 17-7ph
steel, stainless 19-9d1
steel, stainless 201 and 202
steel, stainless 304
steel, stainless 321 and 347
steel, stainless 430, 430f and 431
steel, stainless 446
steel stainless 501 and 502
steel, tool, tungsten carbide ca2
steel tool, tungsten carbide ca4
steel, ultra high strength type
300-m
strontium
strontium sulfate (srso4) (crystal)
strontium titanate (sro.tio2) (100 d)
strontium titanate (srotio2) (80 d)
strontium titanate + co (co L0)
strontium titanate + co (co 20)
strontium titanate + co (co 30)
7750,00
8040,00
7720,00
7550,00
7680,00
7750,00
7730,00
7960,00
8030,00
8150,00
8000,00
7750,00
7750,00
7600,00
7800,00
7700,00
7920,00
7920,00
7750,00
7600,00
7900,00
14000,00
14000,00
7840,00
2600,00
3960,00
5110,00
4000,00
5500,00
5800,00
6200,00
502,10
460,20
502,1.0
502,70
585,BO
502,L0
502,1.0
460,20
460,20
460,20
502,70
431.,00
334,70
334,70
502,1.0
502,10
502,1.0
460,20
460,20
460,20
460,20
209,20
209,20
447,70
301,20
5B5,BO
535,60
535,60
502,1.0
502,70
502,1.0
L6,17
20,92
10 to
30,96
17,15
23,01
18,83
1.9,67
L5,48
13,39
14,64
23,43
74,64
76,74
1.3,39
16,32
1.4,64
13,81
1.6,74
22,93
37,66
54,39
1.1,2,97
57,74
83,68
1,80
5,86
?Eq
4,60
6,28
6,69
t^-
*
LAMPIRAN 411
NO NAMA MATERIAL
Rho Cts k
kg/m*3
J/kg"C J/sec
moC
910
971,
91.2
913
91.4
91,5
9L7
91,8
91,9
920
921
922
923
924
925
926
927
928
929
930
931,
932
933
934
935
936
937
938
940
strontium titanate + co (co 40)
styrene-butadiene rubber + carbon
blk
sulfur
sulfur dioxide (so2) (gas)
talc
tantalum
tantalum alloy (ta89
,
w9, hf2)
tantalum alloy (ta90, w 10)
tantalum alloy (ta98, crt}.7, 2r0.7)
tantalum alloy (ta99.5, nb0.5)
tantalum antimonide (tasb)
tantalum beryllide (tabel2) (hp)
tantalum beryllide (ta2bel7)
tantalum boride (tab) (psd, sntr,
85d)
tantalum boride (lab2)
tantalum carbide (tac)
tantalum carbide + we cermet k60l
tantalum nitride (tan)
tantalum nitride (ta2n)
tantalum silicide (tasi2)
tatb h.c. (triamino-trinitro-benzene)
technicium
teflon
teflon, reir forced
tellurium
terbium
terbium boride (tbb6)
Qa3
pc
dense)
tetryl h.e.
thallium (liquid)
6600,00
1000,00
2000,00
2,93
2790,00
16600,00
16950,00
76960,00
1.6660,00
16500,00
14000,00
4100,00
5000,00
12100,00
12000,00
14000,00
15300,00
74360,00
15860,00
8830,00
1880,00
1 1500,00
2170,00
1.990,00
6240,00
8250,00
5000,00
1710,00
11290,00
502,1.0
1757,00
771,30
636,00
815,90
138,10
92,05
1,33,90
138,10
138,10
1.67,40
774,00
878,60
209,20
225,90
190,00
209,20
205,00
125,50
313,80
1047,00
242,70
1004,00
974,90
200,80
1.82,40
627,60
1255,00
150,60
1.0,46
0,24
0,28
0,01
2,97
77,13
40,59
54,39
41,84
45,1.9
18,83
41,84
)a )q
177,75
86,79
22,78
66,94
7,95
1.0,46
37,03
0,80
1.2,55
0,25
0,41
3,35
8,37
20,08
0,29
24,69
I
412 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kg/m*3
]ikg"C J/sec
m'C
941,
942
943
944
945
946
947
948
949
950
957
952
953
954
955
956
957
958
959
960
961.
962
963
964
965
966
967
968
969
970
thorium
thorium boride (ThB4)
thorium boride (ThB6)
thorium carbide (ThC) (80 pc
thorium carbide (ThC,) (69 pc
dense)
thorium oxide (ThOr) (96-100
dense)
thulium
tin
pc
dense)
tin (liquid)
tin alloy (Sn37.5, Pb37.5,1n25)
tin alloy (Sn40, Pb60) (solder)
tin alloy (Sn50, Pb50) (solder)
tin alloy (Sn60.8, Pb39.2) (solder)
tin oxide (SnO2) (93-95 pc dense)
tin telluride (SnTe 25, AgSbTe2 75)
tin telluride (SnTe 60, AgSbTe2 40)
tin telluride (SnTe 80, AgSbTe2 20)
titanium
titanium allov (Ti Ba,, Alr, Mnr)
titanium alloy (Ti Ba. Alr, Cu, Zrr)
titanium alloy (Ti Ba,, A1,,, Cun, Snr)
titanium alloy (Ti Ba,, Aln, Mc, v1)
titanium alloy (Ti Ba, Aln, v1, Mo0,6)
titanium alloy (Ti Ba,, Aln, v2, Mol)
titanium alloy (Ti Ba,, A1r, v3, Mol.S)
titanium alloy (Ti Ba,, Aln, 213.5)
titanium alloy (Ti Ba,, Alr, Sn2.5)
titanium alloy (Ti Ba,, Al' Sn, Zrr)
titanium alloy (Ti Ba,, Al' v4)
titanium alloy (Ti Ba,, Alr, Mo,, v1)
1 1680,00
8450,00
6800,00
8500,00
6600,00
9600,00
9300,00
731.0,00
6850,00
8690,00
9200,00
8890,00
8500,00
5560,00
6500,00
6500,00
6500,00
4500,00
4500,00
4500,00
4500,00
4500,00
4500,00
4500,00
4500,00
4500,00
4480,00
4600,00
4450,00
437000
117,20
493,70
627,60
171,50
221,80
234,30
159,80
225,90
242,70
238,50
230,L0
21.3,40
196,60
343,10
209,20
209,20
209,20
523,00
543,90
543,90
523,00
523,00
543,90
543,90
543,90
523,00
543,90
502,1-0
523,00
543,90
38,49
15,90
43,L0
8,79
24,48
11,72
8,37
61.,09
33,47
56,90
47,28
46,02
50,27
31,38
0,98
\,78
2,59
20,92
9,62
9,20
7,95
7,53
8,37
8,37
7,95
7,53
7,1.1
7,95
7,71
5,86
LAMPIRAN 413
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kg/m*3
]/kg"C )/sec
m'C
4600,00
4500,00
4600,00
5100,00
4900,00
4600,00
4580,00
4520,00
4600,00
4600,00
4760,00
4650,00
4680,00
4840,00
4840,00
4600,00
4600,00
4500,00
2200,00
4300,00
4560,00
4740,00
5500,00
5420,00
5500,00
6000,00
1971 |
titanium alloy (Ti Bat, Cr3.4, Mo2.1)
1972 |
titanium altoy (Ti Bat, Sn4.B, ,4'14.5)
lOzZ I
titanium attoy (Ti Bat, Sn5.5, Alr)
1974 |
titanium alloy (Ti Bat, vl4, cr10, A1r)
1975 |
titanium alloy (Ti Bat,vl1, Al2.B)
1976 |
titanium alloy (Ti Bat, Zr3, Alr)
1977 |
titanium alloy cloom (rcl30a)
I I
(nin7.e)
l97B I
titanium alloy hylite 40 cl30am,
I I rel3ob
lrr, I
utr.,i.,rr, altoy hylite 50 (imi550)
tt
l9B0 |
titanium alloy hylite 51 (imi551)
l981 |
titanium alloy hytite 55 (imi)
l9B2 |
titanium alloy hylite 50 (imi)
l9B3 |
titanium alloy hylae 65 (imi)
lea4 I
X,ii,,*
alloy imi 67e (sn11., Zr5,
]
IOSS I
titr,'rir..r alloy imi 680 (Sn1 1, Ir
I
|
'"'
I
Xl",l'"-
atroY rmi 680 (5n1r' Mo4'
I
986
|
titu,-,lr* alloy tit4Oa (Fc, Cr, Mor)
I
987
|
titanium alloy til50a (Cr2.7, Fel.4)
|
eBB
I
il;:;t''"
ailoY tir55a (Ar" Fe" Cr,'
I
glg
I
titu.,lr* beryllide (ribet2) (hp, 95d)
|
990
|
titanium boride (tib2) (hp, 95 pc
I
I
dens)
I
991
|
titanium carbide (TiC) (93 pc dense)
|
992
|
titanium carbide (TiC) (96 pc dense)
|
ee3
I
[t:,i;;*
carbide + Co (Co1B'
Nbc'
I
gg4
|
titunirrn carbide + Co (TiC B0,Co20)
I
gg5
|
titrrir* carbide + NBc + Ni
I
996
|
tita,",ium carbide + Ni or Co (avg
I
I
p.op)
I
523,00
523,00
523,00
527,20
527,20
523,00
523,00
543,90
523,00
521,001
523,00
523,00
523,00
481,20
481,20
523,00
543,90
543,90
l
1423,00
I
669,40I
569,00 I
569,00
I
5$,so I
543,90
I
5$.go I
qooi,zo
I
76,32
7,53
o?n
7qa
E,3;
9,96
1O,ES
7,i)
6,5,
(-.:-:
7,71
17,72
75,94
977
23,85
25,10
76,32
31,38
31,38
35,56
cc,+/
)q )q
414 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kg/m*3
]/kg'C |/sec
m"C
997
998
999
1000
1001
7002
1 003
1004
1005
1006
1007
1008
1009
1010
101 1
701,2
1013
1,01,4
1015
1016
1,01,7
1018
1.01,9
1,020
1,021,
1,022
1,023
titanium carbide cermet k138a
titanium carbide cermet k151a
titanium carbide cermet k161b
titanium carbide cermet kl62b
titanium carbide cermet kl63bl
titanium carbide cermet k764b
titanium carbide cermet k165
titanium nitride (TiN) (hp, 70-90
dens)
titanium oxide (TiOr) (rutile, a axis)
titanium oxide (TiOr) (rutile, c axis)
titanium oxide (TiOr) (rutile, 100 d)
tnt h.c. (2,4,6-trinitrotoluene) (cast)
topaz (2alfo.SiOr) (a-axis)
topaz (2alfo.SiOr) (c-axis)
tourmaline
tritium gas
tungsten
tungsten alloy (W75, Re25)
tungsten alloy (W90, Ni6, Cu2-4)
tungsten boride (WB)
tungsten carbide (WE)
tungsten carbide cermet carboloy,
BB3
tungsten carbide cermet carboloy
905
tungsten carbide cermet carboloy
999
tungsten carbide cermet Ca, tool
steel
tungsten carbide cermet Ca, tool
steel
tungsten carbide cermet k6 and
lc96
5600,00
5800,00
6000,00
6000,00
6300,00
6600,00
5700,00
4500,00
4250,00
4250,00
4250,00
1550,00
3540,00
3540,00
3100,00
0,27
19300,00
1.9700,00
76700,00
16000,00
15600,00
14950,00
15100,00
15250,00
14000,00
14000,00
14900,00
543,90
543,90
627,60
543,90
543,90
543,90
543,90
602,50
686,20
686,20
686,20
1.372,00
1255,00
1.255,00
836,80
4728,00
133,90
1.33,90
1.33,90
175,70
184,1.0
209,20
209,20
209,20
209,20
209,20
209,20
26,36
)) 4q
23,43
1.9,25
1.9,67
20,09
17,15
25,1.0
8,79
\3,39
8,95
0,26
1.9,25
22,05
4,60
0,10
1.96,65
64,85
77,40
4,60
41.,84
100,42
100,42
121.,34
54,39
112,97
700,42
LAMPIRAN 415
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kg/m*3
]/kg'c J/sec
moC
1024
1,025
1026
1,027
1,028
1,029
1030
1031
1032
1033
1034
1035
7036
7037
1038
1039
1040
1,041,
7042
7043
1,044
1045
1046
1047
1048
1,049
1050
1051
tungsten carbide cermet k60l
tungsten carbide cermet k70l
tungsten carbide cermet k8Ol
(we + ni)
tungsten carbide cermet k92
tungsten carbide cermet k94 and
tungsten oxide (Wo3) (polyxtal.
porous)
tungsten selenide (WSe2)
tungsten silicide (WSi2) (hp, 95
dense)
tungsten telluride (WTe2)
tungsten titanium carbide km
tungsten titanium carbide k2s
tungsten titanium carbide k2l
tungsten titanium carbide k4h
tungsten titanium carbide k5h
tungsten titanium carbide kBI
tungsten titanium carbide k84
tungsten titanium carbide kg6,
k7h, I-,3h
uranlum
uranium
uranium
uranium
uranium
uranium
uranium
(eutectic)
uranium
uranium
uranium
uranium
k1
alloy mulberry
alloy (U82, Zrl B)
alloy (U90, Fsl 0)
alloy (U90, Mo10)
alloy (U93, FsS, Zr2)
alloy (U94.4, Cr5.6)
alloy (U95, Zr5)
aLloy (U96, Nb4)
alloy, (U97, Fs3)
alloy (U98.5, Zrl,5)
15300,00
14000,00
14800,00
13800,00
14100,00
7160,00
10000,00
9400,00
12000,00
1.2900,00
1.2900,00
12300,00
12500,00
1 1500,00
11600,00
11700,00
1 1 100,00
19100,00
16500,00
14100,00
1.7200,00
17250,00
17600,00
18500,00
1 7500,00
1.7700,00
i8300,00
18600,00
209,20
209,20
209,20
209,20
209,20
309,60
225,90
307,90
175,70
376,60
376,60
376,60
376,60
376,60
376,60
376,60
376,60
117,20
146,40
1.67,40
1.33,90
733,90
125,50
110,50
125,50
125,50
125,50
\17,20
66,94
53,97
82,01.
74,06
91.,63
25,1.0
3,43
40,59
1,59
59,83
52,72
44,35
46,86
35,56
42,68
53,1.4
28,03
26,44
1.0,46
10,88
15,06
12,34
20,08
28,45
18,83
22,80
21.,34
22,59
)
416 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kg/m*3
]/kg'C J/sec
m'C
1052
1 053
1054
1055
1056
1056
1.057
1058
1059
1060
1,067
1,062
1,063
1064
1065
1,066
1067
1068
1,069
1070
Llranlum
61 d)
uranium
uranium
cast,99d)
uranium
types)
uranium
e0d)
uranium
e0d)
uranium
uranium
dense)
uranium
97 dens)
uranium
uranium
100 psi)
uranium
4200 psi)
uranium
(e7 d)
uranium
(e2 d)
uranium
(e1 d)
uranium
(e4 d)
uranium
uranium
vol)
uranium
vol)
uranium
(5e p)
beryllide (UBe13) (sntrd,
bcpri de (UB4)
carbide (UC) (arcm or
carbide (UC) (avg var.
carbide (UC) (sintered,
carbide (UC) (sintered,
carbide (UCr)
nitride (UN) (hp, 95-98
oxide (UOr) (polyxtal,
oxide (UOr) (since crystal)
oxide (U.Og) (prsd at
oxide (U3O8) (prsd at
oxide + cr (UO, B0 vol)
oxide + mo (UO, 70 vol)
oxide + mo (UO, B0 vol)
oxide + mo (UO, B0 vol)
oxide + nb (UOr 80 vol)
oxide + st steel (UO, 70
oxide + st steel (UO, B0
oxide + zr (UOr 43,zr 57)
2700,00
9380,00
13600,00
13500,00
1 2300,00
12300,00
1 1 300,00
13800,00
10600,00
10960,00
8000,00
8300,00
10000,00
10000,00
10000,00
10000,00
10000,00
10000,00
10000,00
4000,00
B36,BO
502,L0
202,90
202,90
202,90
202,90
234,30
1BB,3O
242,70
242,70
276,L0
276,1.0
334,70
334,70
334,70
334,70
334,70
334,70
334,70
259,40
20,92
5,02
20,08
23,85
77,36
17,36
33,47
13,81
1.0,04
10,46
0,30
0,54
15,90
20,08
13,81
1"8,41.
9,62
7,95
7,95
73,39
LAMPIRAN 417
NO NAMA MATERIAL
Rho Co k
kg/m*3
J/kg"C J/sec
moC
1,073
1074
t071,
r072
1075
1A76
7077
1078
1,079
1080
1081
1082
1083
1084
1085
1086
7097
1088
1089
1090
1091
1092
1093
7094
1095
1,096
1097
uranium oxide + zr (UOrB0,zr 20)
uranium plutonium oxide (4UOr.
PuOr) see
uranium silicide (U3Si)
urea-formaldehyde, alpha cellulose
fllr
urea-formaldehyde, molded
vacuum, conducting (d=c=0,
k= 1 0**9)
vacuum insulating (d=c=k=0)
vanadium
vanadium beryllide (VBe12) (85 pc
dens)
vanadium boride (VBr)
vanadium carbide (VC)
vanadium nitride (VN) (pr, strd.
100 d)
vermiculite expanded
(d
=
0.19-0.25)
vermicuiite expanded (d
=
0.3)
vermiculite brick
vermiculite instrlating pow der
vitrous silica glass
vycor glass
water (HrO) (gas) (satd)
water (H.O) (gas) (1 atm)
water (HrO) (liquid)
water (HrO) (solid) lice)
water, heavy (DrO) (liquid)
window glass, lime
wood, balsa (across grain)
wood balsa (across grain)
wood, cypress (across grain)
8774,00
1 0600,00
15450,00
1500,00
1500,00
0,00
0,00
6100,00
1900,00
5070,00
5600,00
6100,00
220,04
300,00
485,00
270,00
2200,00
2190,00
0,60
0,60
1000,00
91.7,00
1100,00
2480,00
130,00
320,00
460,00
242,70
263,60
1.75,70
1674,00
1.674,00
0,00
0,00
460,20
1.464,00
667,1.0
51B,BO
585,BO
753,70
753,70
836,80
B36,BO
744,80
744,80
1883,00
1.966,00
41.84,00
4277,00
4205,00
753,1.0
2307,00
2301,00
2301,00
1O,BB
7,61
76,71
0,38
0,73
4,18E+11
0,00
30,79
30,96
56,90
36,40
12,73
0,07
0,07
0,1.7
u, )../.
1,38
7,34
0,02
0,02
0,60
2,09
0,56
1.,32
0,05
0,08
0,10
418 LAMPIRAN
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
kg/m*3
f/kg'C |/sec
m"C
1098
1099
1 100
1 101
'1.702
1103
1704
1 i05
11.06
1,707
1 108
1109
1110
1111
1172
1113
1L74
1115
11,1,6
1L1,7
1118
1119
1120
1.121,
1,1,22
1123
1,1,24
1125
1726
wood, mahogany (across grain)
wood, maple (across grain)
wood, norway pine (across grain)
wood, oak, red, black (across grain
wood oak, white, live (across grain
wood, oregon pine (across grain)
wood, pine (with grain)
wood, spruce (across grain)
wood, spruce (with grain)
wood, teak (across grain)
wood, virginia pine (across grain)
wood white fir (across grain)
wood white pine (across grain)
xenon
ytterbium
ytterbium boride (ybb6) (90.6 pc
dens)
yttrium
ytlrium boride (yb6) (98.4 pc
dense)
yttrium oxide (y2o3) (95-100 pc
dense)
zilloy 15
zinc
zinc (liquid)
zinc alloy aqtm b69
zinc antimonide (znsb)
zinc ferrite (zno.fe2o3) (pr, frd, ac)
zine oxide (zno) (prsd, fired, 100 d)
zinc sulfide (zns) (cubic crystal)
zine-aluminum alloy astm 23
zinc-aluminum-copper alloy
astm ?5
540,00
770,00
550,00
610,00
825,00
510,00
550,00
410,00
410,00
640,00
540,00
450,00
530,00
5,89
7000,00
5000,00
4470,00
3600,00
5000,00
7780,00
7740,00
6800,00
7140,00
6300,00
5330,00
5630,00
4100,00
6600,00
6700,00
2301,00
2301,00
2301,00
2385,00
2395,00
2301.,00
2301.,00
1255,00
1.255,00
2301.,00
2301.,00
2301.,00
2301.,00
158,60
149,50
627,60
292,90
627,60
447,70
407,70
389,10
502,1.0
393,30
272,00
585,80
493,70
472,80
418,40
418,40
0,13
0,18
0,15
0,15
0,27
0,71
0,34
0,L3
0,23
0,17
0,L4
0,1.1
0,1.3
0,01
8,37
25,10
72,55
,o ,q
74,23
104,60
1.7\,77
59,4\
107,53
2,34
4,02
27,20
25,94
172,97
L08,7B
LAMPIRAN 419
NO NAMA MATERIAL
Rho Ca k
ke/m*3
I/kg'C [/sec
m"C
1127
1728
1129
1 130
1 131
1.1.32
1733
L134
1 135
7136
1,1,37
1 138
1139
7140
L1.41.
1.742
7743
11.44
1145
zirecon (zro2.sio2) (single crystal)
zircon porcelain, high
zirconium
zirconium alloy 3zi (zr97,all,sn 1.,
mol)
zirconium aiioys zircalloy 2 and 3
zirconium beryllide (zrbeL3)
zirconium boride (zrb2) (hp,97 pc
den)
zirconium boride + boron (borolite
101
)
zirconium boride + mosi2
(boride z)
zirconium carbide (zrc) (hp or snt,
e4d)
zirconium llydride (zrh + zrh2)
zirconium nitride (zin) (pr sr
BB-e0 d)
zirconium nitride (zrn) (pr sr 93 d)
zirconium oxide (y2o3 1,2, zr 8)
(e7 d)
zirconium oxide (zioT) (monoc.,
100 d)
zirconium oxide (zro2 96, cao 6,
e1 d)
zirconium oxide + ti cermet
zt-15-m
zirconium silicate (zro2.sic2) (xtal)
zirconium silicate (zro2.sio2)
(100 d)
4600,00
3900,00
6500,00
6460,00
6560,00
2750,00
5900,00
5300,00
5200,00
6000,00
6300,00
6500,00
6800,00
5500,00
5560,00
5080,00
5700,00
4600,00
4600,00
543,90
595,80
284,50
284,50
292,90
1138,00
41.8,40
460,20
502,10
368,20
309,60
384,90
384,90
439,30
456,10
456,1.0
443,50
543,90
543,90
4,78
5,86
31,38
8,37
13,81
39,75
25,L0
27,61
?0
g')
5),+,
1E,-11
70,16
8,79
2,47
1,95
7,59
6,28
4,1.8
6,28
42O LAMPIRAN
Lampiran B.1 Sifat-silal Zal-cair Jenuh
Lampiran B.1 Sifat-sifat Zat-cair Jenuh
T
0c
Cppkp
kl/kg.
oC
kg/.s x 10e w/m.s kg/m3
Cppkp
kJ/kg.
oC
kg/.s x 10e w/m.s kg/m3
Amonia, NH" Karbon dioksida, CO"
-50
4,463 1.,61.7678 0,547 703,69 1.,84 9,7771.42 0,0855 156,34
-40
4,467 1,703645 0,547 691.,68 1,88 9,472627 0,1011 11.7,77
-30
4,476 7,755400 0,549 679,34 7,97 9,203076 0,11.76 076,76
-20
4,509 7,749842 0,547 666,69 2,05 8,977304 0,1151 0,32,39
-10
4,564 1,,681349 0,543 635,55 2,78 8,702477 0,1.099 983,38
0 4,635 1,716085 0,54 640,1 2,47 8,583240 0,1.045 926,99
10 4,71,4 7,701521. 0,531 626,L6 3,L4 8,515148 0,0977 860,03
20 4,798 1,704038 0,527 611,75 5 8,489780 0,0872 772,57
30 1,89 7,708796 0,507 596,37 36,4 7,472625 0,0703 597,81
40 4,999 1.,708794 0,493 580,99
50 5,L7 1.,71.0090 0,476 564,33
T
0c
CppkP
kj/kg.
oC
kg/.s x 10e w/m.s kg/m3
T
0c
CppkP
kl/ke.
oC
ke/.s x 10e w/m.s ke/m3
Sulfur dioksida, SO. Minaak motor
-50
1,3595 3,224876 0,242 1560,84 0 1,796 0,00021 0,747 899,1.2
-40
7,3607 3,624551 0,235 1536,81 20 1,BB 0,00099 0,745 BBB,23
-30
1,361,6 4,098760 0,23 1.520,64 40 1,964 0,00365 0,1.44 876,05
-20
1,3624 4,594444 0,225 1488,6 60 2,047 0,00010 0,74 864,04
-10
1,3628 5,081979 0,21.8 7463,61 BO 2,1.31 0,00023 0,138 852,02
0 1,,3636 5,5971.20 0,211 7438,46 100 2,21.9 0,00041 0,1.37 840,01
10 1,,3645 6,088405 0,204 1.41.2,57 t20 2,307 0,00067 0,135 828,96
20 1,3653 6,601.904 0,1.99 L386,4 140 2,395 0,00102 0,133 81.6,94
30 1,3662 7
,154368
0,1.92 1.359,33 160 2,483 0,00144 0,1.32 805,89
40 1,,3674 7,683352 0,185 1.329,22
50 1,,3683 8,019135 0,1.77 1299,1
LAMPIRAN 421
Lam pi ra n B. 1 S if at-s i t at Zat-cair J en u h (t a n
j
uta n
)
TOC
|
., p
E
I
w/m.s kg/m3
0
20
l
Air-raksa. Hq
0,1403
10g,go5
9,2 13628,22
0,1394
179,71,43 8.69 11\7q oJ
50
0,L386
129,8638
9,4 13505,g4
100
0,1373
144,2303
10,51 13384,58
150
0,1365
155,5015
11,49 1,3264,26
200
0,1.57
163,901.9
12,34 t3144,91
250
0,1.357 770,2692
1.3,07 1,3025,6
315,5
0,134
190,891.5
14,02 1,2817
422 LAMPTRAN
Lampiran 8.2 Sifat-sifat air (Sifat-sifat Zat-cair Jenuh)
T
0F
T
0c
Cp
(k]/kg.
oC)
tr
kg/m.s
K
Wm.s
p
ke/m3
32 0 4,225 1,79 x 70-3 0,566 999,8
40 4,44 4,208 1,55 0,575 999,8
50 10 4,L95 1.,37 0,585 999,2
60 1.5,56 4,186 1.,72 0,595 998,6
70 27,11 4,179 9,8 x 10r 0,604 997,4
80 26,67 4,179 8,6 0,61.4 995,8
90 32,22 4,1.74 7,65 0,623 994,9
i00 37,78 4,174 6,82 0,63 993,0
110 43,33 4,L74 6,16 0,637 990,6
r20 48,89 4,174 5,62 0,644 988,9
130 54,44 4,179 5,13 0,649 985,7
140 60 4,179 4,77 0,654 983,3
150 65,55 4,183 4,3 0,659 980,3
160 71,77 4,186 4,01 0,665 977,3
170 76,67 4,191 3,72 0,668 973,7
180 82,22 4,195 3,47 0,673 966,2
190 87,78 4,199 3,27 0,675 966,7
200 93,33 4,204 3,06 0,678 963,2
220 1.04,4 4,216 2,67 0,684 955,1
240 115,6 4,229 2,44 0,685 946,7
260 126,7 4,25 2,1,9 0,685 937,2
280 137,8 4,271. 1,98 0,685 928,1
300 148,9 4,296 1.,86 0,684 918,0
350 176,7 4,377 1,,57 0,677 890,4
400 204,4 4,467 1,,36 0,665 859,4
450 232,2 4,585 1,,2 0,646 825,7
500 260 4,731 1.,07
785,2 0,61.6
550 287,7 5,024 9,51 x l0-3 735,5
600 31.5,6 5,703 8,68 678,7
LAMPIRAN 423
Lampiran C.l Sifat-sifat Zat-gas, Viskositas Gas ( x 10{ kg. s/m2)
Suhu
0c
Udara N2 02 H2 Ar He NO CO CO, SO, Suhu
0c
HrO
-100 1,205 1,77 1,32 0,63 1,43 7,4 7,22 7,74 100
1 a')
0 L,757 1,69 1,96 0,96 2,14 1,Bg 1,3 1,68 1,39 7,29 i50 1,+1
100 2,222 2,73 2,5 1,05 2,75 2,3L 2,34 2,15 1,85 7,73 200 7,65
200 2,63\ 2,52 2,97 1,,22 3,28 2,69 2,79 2,56 2,26 2,L5 250 1,86
300 3 2,98 3,4 1,39 3,76 3,04 3,L9 2,93 2,62 2,52 300 2,06
400 3,348 3,2L 3,B 1,54 4,21 3,36 3,56 3,27 2,95 2,97 400 2,4E
500 3,672 3,52 4.77 7,69 4,63 3,92 3,59 3,27 3,2 500
1? i-
600 3,979 3,8L 4,52 1,83 5,02 4,25 3,Bg 3,56 315 600 3,31
700 4,27 4,08 4,86 1,96 5,4 4,57 4,L8 3,84 3,79 700
800 4,54 4,34 s,L8 2,09 5,76 4,Bg 4,46 4,11 4,07 800 l,1J
900 4,8 4,59 5.48 2,27 6,1 5,1,7 4,72 4,37 4,34 900 {,:r:
i
1000 5,06 4,84 5.77 2,33 6,42 5,44 4,96 4,62 4,59 1000
1a-
1 100 5,31 5,09 6.05 2,45 6,74 5,7 5,2 4,86 4,84
1200 5,56 5,33 6,33 2,56 7,05 5,9 5,44 5,09 5,08
1300 5,81 5,57 6.61, 2,67 7,35 6,27 5,68 5,37 5,37
1400 6,05 5,81 6,89 2,78 7,65 6,47 5,91, 5,54 5,53
1500 6,29 6,04 7,76 2,Bg 7,94 6,73 6,74 5,76 5,75
424 LAMPIRAN
Lampiran C.2 Sifat-sifat Zat-gas, Bilangan Shuterland dan Konduktivitas Kalor
Gas (kcal/m.h.oC)
Suhu
0c
C0, HrO N2 02 Ar Udara
S 253 534 1.04 727 124 109
Berat
molekul 44,07 18,016 28,076 32 3g,gg1 28,962
K
0
200
400
600
800
1000
7200
0,0131 0,0145 0,0206 0,0212 0,0743 0,021.1
0,0274 0,0287 0,0325 0,0346 0,215 0,0338
0,0407 0,0476 0,043 0,0474 0,0285 0,0447
0,0528 0,0715 0,217 0,0585 0,0328 0,0534
0,0633 0,995 0,0588 0,0683 0,0375 0,0602
0,072 0,1315 0,0642 0,0766 0,0413 0,0655
0,0798 0,77 0,0697 0,094 0,0446 0,0696
LAMPIRAN 425
c
C
C
c
ro
$
i
O
LO
v1
.i
O
$
ro
o\
O
ts
l+1
alcrl
z ls
-l
l-r I \O
1
t!
l-+r
Z 5 IS
I
rt lo
r.
lo.
r!
l.o
'll I .\l
D ls
z
z
o
U
o
(D
(D
i
U
c
q
v
c
o
LT
\
ar
cr
c(
c.
a.
C
cr
c(
aa
6
C
\c
o
=+
c)
cC
N
c.l
H
o\
\o
.1
O
\o
@
LO
il
d
oo
@
H
c.l
O
o\
$
N
o
co
\o
=d'
N
O
CO
.$
N
O
C
U
C
o
tr
\
cr
f.
c\
C
\c
6
C
LC
(a
c)
C
ca
q
C
H
O
q
O
ro
O
N
rl
d
N
N
co
N
O
N
ro
LO
N
cO
o\
-i'
N
O
@
$
$
N
U
\
c
t
\
cr
LT
c.
C
ca
t.
6
C
cc
LC
C
cC
N
cC
n
C
LO
O
c\
O
@
o\
N
i
co
co
ro
C\
O
LO
ro
LO
c.{
O
N
cO
LO
N
O
\o
CA
vr
N
O
C
(
\
U
\
c
o
L.
cr
C
t.
c\
C
o
ca
r
c\
C
C\
d
\c
n
C
N
s
-+
c!
c
C..l
.i
O
co
N
@
i
co
\o
\o
c\
O
o'\
O
\o
o{
O
@
@
LO
C\
O
Ll)
LO
ro
N
O
(
C
o
\
c
L.
ct
\
cr
c(
.'
C
\c
o
r
c\
C
\c
C
N
n
C
\c
C
L'
q
C
N
o\
N
C\
O
@
N
o\
i
@
\o
N
N
O
\o
\o
\o
N
O
rf
-+1
\o
C\
O
\o
N
O
U
C
o
o
a
c
D.
C
LT
d
C.
o
c(
c\
C
o
c.
C
D.
\c
N
C
(a
L'
L'
n
C
cO
N
cO
c.{
O
C\l
N
i
co
LO
@
N
O
aO
N
N
O
o\
o\
\o
N
O
ro
\o
\o
N
O
cr
o
U
C
(.
o
a
C
o
ar
l.r
cr
o
\c
o
c.
C
\c
o
\c
C\
C
C..l
C
cc
.-i
vr
o\
LO
.!
O
\o
.+
v
c.{
O
\o
O
O
N
O
co
o\
N
O
N
N
f-..
N
ro
N
N
-s
S
N
N
O
!
(
U
cr
F.
C
cr
C
o
cr
tr
c\
C
1..
v
c(
.\
C
oc
a\
\c
n
C
rc
q
C
t
CO
O
c\
O
N
o\
c.{
O
co
N
@
o.l
O
N
o\
N
N
O
@
tr)
N
N
O
C
v
cr
o
v
C
cr
C
C.
1..
t.
o
C
v
C
o
C\
C
o
rc
\c
n
C
C
\c
LC
N
rf
ro
O
..t
O
N
LO
O
co.
O
\o
@
N
O
L.-
@
N
O
o\
N
o't
c
f'
cr
cr
C
cr
C
o
C
c(
C\
C
C\
o
C\
=J
cc
\c
cl
C
c!
C
\c
c.l
C
@
\o
o
C\
O
N
o\
O
co
LO
o
o\
N
O
ro
t\
@
N
c>
co
@
N
O
)
u
U
c
v
F.
cr
cr
cr
af
C
v
C.
C\
C
.+
tr-
o
C\
C
\c
C
N
C
s.r
a\
O
rf
co
o
o.l
O
\o
co
co
O
N
co
N
O
o\
O
N
O
N
\o
@
N
O
c
t-J
v
c
s
cx
cr
o
v
cr
C
o
c(
6
C
o
q
C
LC
a\l
N
cl
Fl
N
\o
a\
O
c.l
o\
O
N
N
N
tri
a
O
\o
\o
o\
c.t
O
$
c\
O
o\
co
c-l
O
\
c
f.
v
c
\
v
c(
d
a
c(
cr
C
o
v
c(
c\
C
C\
C
{
C
.+
=t
t.
q
C
N
o\
\o
a\
O
t
O
Fl
C\
O
vl
O
N
e
o
El
o\
o\
N
O
\o
o\
c\
O
o\
C{
O
c
L.
a
f.
c
\
o
c(
v
C
c.
cr
C
c\
o(
c(
c.
C
C\
$
C
{
C
CC
\c
N
c]
C
N
N
C\
O
o\
O
Fi
c{
O
N
N
co
O
N
O
co
o
N
co
o\
N
O
CO
o\
N
O
o
c
c
cr
c
\!
o
cx
C.
C
v
C
cr
C
c(
L-.
a\
C
a\
d
N
I
C
rc
q
C
a.l
ro
N
o?
O
"*'
co
O
co.
O
vi
c)
O
(>
o.l
ro
o\
a.l
O
\
c
a
c(
C'
c
ar
C
C
f-.
c.
C.
cr
C
o
C
c\
C
F..
N
C
{
C
N
o.
N
q
O
c..l
c\
O
N
N
N
O
rf
ro
O
co
O
N
O
co
O
o\
\o
N
O
t
!
!
c
o
f'
c,
C
cr
\
C
tr
C.
cr
C
c\
c\
o
c\
C
C\
o
C
{
C
cc
*
c.i
c
\o
N
r<
\
O
o\
N
e
O
\o
\o
O
e
O
N
O
CO
O
\o
@
o\
O
U
c
v
C
U
o
C
o
d
C
C.
\r
o
cr
C
c\
cr
o
6
C
N
C
{
C
v
co
cc
q
C
H
co
c...,1
o
\o
o
ao
co
o
co
O
co
O
LO
O
co
O
o?
O
f.
o
c
\{
c
\(
U
o
C
o
o
t.
C\
cr
C
o
cr
C\
C
C.
{
C
cc
Lr)
(-..t
.$
co
N
O
N
co
co
O
rf
O
c.l
\o
O
co
O
<ti
Fl
O
co
O
N
o\
o'\
-+r
O
N
LO
.f,
@
N
e
O
o,
=+
o,
N
$
N
(a
T,
al
N
co
N
O
\o
co
co
co
O
O
Fl
co
O
N
a
co
O
<'l
N
c
^l
cc
C
f.-
,c
(...l
Ll]
5
11.
N
aa
al
c.,
tr.
L'
_-
a'.
-4.
ca
ro
=+
ac
c'l
N
co
@
O
co
LO
co
O
co
O
5 rr
(n
o- O
O
O
O
o
c{
O
O
CO
O
O
-d1
O
ro
C
O
\o
O
O
N
O
O
@
O
O
o,
O
O
O
O
ri
O
N
H
O
O
co
rf
o
<''
rf
o
O
LO
H
O
O
\o
O
C>
N
rl
O
O
@
O
O
O
O
O
N
a
N
o
o)
.l<
:\
G
o
t<
J
,6
o
CL
a
L
o
G
Y
.ti
G
ct
I
G
N
(E
=.o
I
G
=
a
a?
o
L
(E
L
'6.
E
G
,/
426 LAMPIRAN
d
o
i
z
o
U
o
(n
o
tt)
U
z
(!
Li
1S
zx
6
ti
(g
E
D
N
-1
Fl
N
O
\o
LO
O
LO
O
N
N
$
<'1
o\
N
O
N
\o
o\
c{
O
c\l
<1
cO
O
o\
c.l
O
N
<r
c.l
O
rl
\o
co
co
O
CO
N
r{
cO
O
co
O
CO
O
ro
<1
O
cO
O
@
o\
N
O
LO
co
O
LO
O
rl
Lo
N
<r
rf
O
cO
cO
O
o\
\o
o\
N
o
vl
F(
cO
O
\o
rf
o\
N
O
co
dl
ri
N
c.l
N
co
co
O
cO
cO
rl
cO
O
N
o\
O
cO
O
ro
ta)
O
cr)
O
@
.tl
a.l
N
o
o\
O
-1
ro
O
rl
@
N
<'l
@
o
.O
cO
O
\o
N
o,
N
O
\o
LO
ri
CO
O
@
N
N
O
rO
<'
N
O
@
co
co
O
<''
cO
O
@
O
co
O
\o
\o
O
cr)
O
N
O
o.t
N
O
o\
cO
F(
Lo
O
\o
O
co
.+'
v'
$1
cO
q
O
N
co
N
O
CO
\o
co
O
-ii
<r
o\
N
O
@
"$1
rf
N
o
co
co
O
o\
<1
CO
O
\o
cO
O
\o
N
O
O
\o
cO
co
N
C)
rr
\o
-1
Lo
O
co
=1,
co
co
O
\o
@
o\
c.l
O
tr\
rl
cO
O
\o
r.)
o\
N
O
ro
Fl
N
O
o'\
CO
cO
O
ro
ro
rl
co
o
ro
o.l
il
.o
O
\o
@
O
CO
O
N
co
tr-
O
o\
LO
O
LO
CO
co
-+
N
cr)
co
o
N
o\
o\
(\
O
N
N
ri
co
O
\o
o\
N
O
ro
N
O
@
O
$
co
O
c-.1
\o
rr
O
co
co
O
co
o\
O
co
O
CO
o
dl
N
o
N
N
ro
O
@
co
vl
\o
N
co
co
O
\o
N
rf
@
ri
co
O
$
@
o\
N
O
ri
LO
N
O
N
-l
<,'
co
O
o\
\o
ri
O
ro
-1
cr)
O
rl
O
\o
co
$
N
o
<tl
N
N
ro
O
wl
.tl
co
co
co
O
N
O
O
CO
LO
@
rl
O
N
o\
o\
N
O
co
LO
N
O
\o
N
dl
co
O
co
N
r'1
co
O
dl
rl
co
O
N
O
rf
co
O
o\
\o
dr
N
O
co
N
N
LO
C{
$
<'r
co
co
co
O
\o
O
O
co
O
N
o\
rf
co
O
N
O
O
co
LO
N
O
\o
co
.t'
O
\o
N
rf
co
O
\o
vl
rl
co
O
<,t
$
rf
co
O
N
O
@
O
N
O
N
N
q
v]
.t'
O
O
co
rl
O
@
N
N
\o
O
O
@
\o
O
-tl
\o
rl
O
.+1
.+'
N
C)
co
N
\o
rf
@
N
dr
\o
@
N
t']y
o
O
N
..l
O
O
co
N
O
O
d'
N
O
O
ro
N
O
O
\o
c{
O
O
N
c.l
O
O
@
N
c>
O
N
O
O
o
co z
tr
(g
J
tr
(E
o
E')
5
=\ (E
o
.!<
,:<
,6
o
CL
a
o
G
Y
o
(g
E')
I
(g
N
G
=o
I
G
=
a
a?
o
tr
(E
.=
o.
E
(g
!-_
LAMPIRAN 427
Lampiran D. Konstanta Fisika
1 ft
=
0,30480610 m
1 lb
=
453,5924277 g
g.
=
9,80665 m/s2
1 gal
=
231. in3
1 Liter
=
0,001 m3
=
0,13368055 ft3
1 atm
=
101325 N/m'
=
3,785472 x 10-3 m3
1 mm Hg
=
(1/7$0) atm
=
3,785412liter
=
733,3324 N/m'
T (0oC)
=
273,15 +
0,010 K Keterangan:
R
=
8,31.439 t 0,00034 go
= Standar gravitasi
abs.joule/derajat.mol atm
=
Standar tekanan
atmosfir
=
1,98719 +
0,00013 mm.Hg (tekanan)
=
Standar
cal/derajat mol milimeter
air raksa
=
0,0820567
+
0,0000034 int
=
Internasional
liter. Atm/derajat.mol abs
=
Absolut atau mutlak
N
=
(6,02283 x.0,022) x 1023
R
=
Konstaiita gas
perlmol
h
=
(6,6242t0,0044) x 1023
joule.sec
N
=BilanganAvogadro
=
Konstanta Planc
', 1 I.T.cal
=
(7/860)
=
0,001.1.6279 I.T
=
Intemasional tabel
int. Watt
/jam uap
=
4,18605 int. joule
cal
=
Termokiniia kalori
=
4,18674 abs. joule
Btu
=
I.T British Thermal
=
1,000654 cal Unit
1 cal
=
4,184 abs.
Joule
lb (berat)
=
Berat 1 lb pada
=
4,1833 int. joule
gravitasi standar
)
428 LAMPIRAN
=
41,,2929 cm3. atm in
=
U.S inch
0,0412929 t 0,0000020 ft
=
U.S foot
liter. atm
(1 ft
=
12 in)
1l.T cal/g =
1,8 Btu/lb lb
=
Pound
1 Btu
=
25L,9961.T calgal =
U. S gallon
0,29301.8 int. watt. jam
=
252,16L cal
t hourse
Power
:;l^Z:X,ff'::f""
754,70 abs.watt
1 in =
(1/0,3937)
=
2.54 cm
Lampiran E. Faktor konversi dari unit lain ke unit Sl
Kuantitas
Unit lain
Pania
mi12 km2
acre ha
m2
mm2
Volume acre. ft
cm3
Nilai kalor, enthalphy Btu/lbm
LAMPIRAN 429
Unit SI Faktor Konversi
km 3,048 x 10-1
2,54 x 1.01
2,54
2,54 x 1.01
3,048 x 101
2,589988
4,046856 x 70'
1x10{
8,361,274 x 7rt
9,290304 x 1,'
6,451.6 x lQ:
1,233482 x i
7,6+551e
.
'-
2,8316E1
.
,
1,638706
^
kI /ks 2,326000
4,18-1 x i0
I/k
9,224111
kJlm' 3,725895 x l0'
MIlm' 4,784
kJlm'
kTlm3
ft
ln
lrl
m2
m'?
m3
m3
m3
l-ra
ft2
in2
ft3
in3
asis masa)
Nilai kalor, enthal
(basis-padat
dan cair)
kalor, enthalpy
S
cal /
calllbm
Btu/ ft3
callml
cal / ml
kcal/m3
kJ/
Nilai
(basis
4,784 x 701
4,184
Kapasitas kalor
(basis massa)
spesirik tcwh/(kg.oC) k]/(kg, K) 3,6 x 101
Entlirophy spesirik Btu/(lbm.
0R)
kJl(ksK) 4,1868
call(g.K) kIl(ke, K) 4,t84
Btu/(Ibm.
oF)
kJlft p, K) 4,j.86
kcal/(kg.
oF)
K) 4,184
Kapasitas kalor spesifik Btu/(Ib.mol.0F) kll(kmol. K) 4,1g6g
(basis mol)
430 LAMPIRAN
Lampiran E. Faktor konversi dari unit Iain ke unit Sl (laniutan)
Kuantitas Unit lain Unit SI Faktor Konversi
Temperatur
0R
K 5/e
0F 0c
5 /9
(oF-32\
Beda Temperatur
oF
K,
oc
5/g
Tekanan atm Mpa 1.,01,325 x L0-i
kpa 1.,01.325 x 1.02
bar 1.,01.325
bar Mpa 1,0 x 10-1
kPa 10 102
mmHg (0oC)
=
torr
MPU 6,894757 x 10-3
bar 6,994757 x 10-2
pmHg (OoC) kPa 3,37685
p bar kPa 2,4884 x 10-1
cmH.O (4oC) kPa 180638 x 10-2
lbf
/
ft2 (psf) kPa 4,788026 x 10-2
mHg (0oC) Pa 7,33324 x 10-l
bar Pa 1,0 x 10-1
dvn/cm2 Pa 1,0 x 10-l
Densitas Lbm/ft3 kelm3 1,601846 x 101
g/
cm3 ks,/m3 1,0 x 103
Volume spesifik ft3/lbm m3/ks, 6,242796 x 10-2
Laju aliran (basis massa) lbm/s kg/s 4,535924 x 10-1
Ibm/min ksls 7,559873 x 10-3
lbm/h ks,/ s 1.,259979 x 10-a
Laju aliran
(basis volume)
ft3 /h m3/s 7,865791. x 10-6
L/s 7,865791. x 10-3
ft3lmin dm'/s 4,71.9474 x 10-1
ft3/s dm3/s 2,831685 x 101
Laju aliran
/
Area lbm/(s. ft'z) kgl(s. m') 4,882428
(basis massa)
Ibm/(s. ft'z) kgl(s. m') 1.,356230 x 10-3
LAMPIRAN 431
Lampiran E. Faktor konversi dari unit lain ke unit Sr (lanjutan)
Kuantitas
Unit lain Unit SI Faktor Konversi
ft3
/
(s. ft2) m/s
3,048 x 10-1
ft3l(min. ftr) m/s
5,06 x 10-3
Energi, Keria
therm kI 1,055056 x 105
kwh 2,930777 x 701
hp.h kI 2,684520 x 703
kwh 7,456999 x 10-'
ch.h atau CV.h kI 2,647780 x 103
kwh kJ 3,6 x 103
Chu kJ 1,8991.07
kwh
5,275280 x 10r
Btu
kJ 1,055056
KWh 2,9307171 x 70t
Energi Kerja
kcal
kI 4,194
cal kI 4,184 x 70-3
fl.lbf
kl 1,355818 x 10-3
l kI 1,0 x 10-3
(Ibf .ft2)
/ s2 kI 4,214011 x 10-5
erg
J 1.,0 x 10-7
kgf.m
I 9,806650
Energi permukaan
erg/ cmz mJ
/
m2 1.,0
Energi impak spesifik (kgfm)/cm,
J/r
z
9,g06650 x 10-3
(Ibf .fl)
/in2
J/cmz
2,1,01522 x 10-3
Usaha
tr
kw 3,516953
Btu/s
kw 1,055056
hhp
kW 7,46043 x 10-1
(hiyd horse power)
hp (electric)
KW 7,46 x 1,0-1
hp[(550, t,lbfls)] kW 7,456999 x 10-l
ch atau CV KW 7,354999 x 10-1
Btulmin
KW 1.,758427 x L0-'
(ft.tbf)
/ s KW 1,355818 x 10-3
432 LAMP!RAN
Lampiran E. Faktor konversi dari unit lain ke unit SI (lanjutan)
Kuantitas Unit lain Unit SI Faktor Konversi
kcal/h W 1,1622222
Btu/h W 2,930711 x 10-1
(ft.lbf)/min W 2,259697 x 10-2
Usaha/area Btu/(s.ft'?) kW/m2 1,135653 x 101
cal/(h,cm2) kW/m'z 1,L62222 x 10-2
Btu/(h.fl'z) kW
/m2 3,1. 54597 x 10-3
Kecepatan knot km/h 1.,852
mi/h km/h 7,609344
fl/ s m/s 3,048 x 10-1
cm/s 3,048 x 101
Kecepatan ft/nin m/s 5,08 x 10-3
ft/h mm/s 8,466667 x 10-2
in/ s mm/s 2,54 x 101
inlmin mm/s 4,233333 x 10-r
Frekuensiputaran r/rnin r/s 1,666667 x 10-2
rad/s 1,0471.98 x 10-1
Percepatan ft/s2 m/s2 3,048 x 10r
cmf s2 3,048 E x 10-1
rpm/ s rad/ s2 1,047198 x 10
1
Momentum
(lbm.ft)/s (ks.m)/s'
1,382550 x 10-1
Caya ksf N 9,80650 x 10-1
tbf N 4,448222
dvn mN 1,0 x 10-2
Momen lentur, torsi (lbf fl)/in N.m 9,806560
(lbf.in)/in N.m 1,355818
ksf
/m N.m 1,2129848 x 10-1
Momen inersia lbm.ft2 kg.m' 4,21.401.1. x 10-2
Tegangan kgf
/mm2 Mpa 1,378951. x 101
lbf
/ft'?(psi)
Mpa 6,894757 x 10-3
bf / ft2 kPa 4,788026 x 10-2
lbf /inz kPa 1,0 x 10-1
LAMPIRAN 433
Lampiran E. Faktor konversi dari unit lain ke unit Sl(lanjutan)
Kuantitas Unit lain Unit SI Faktor Konversi
Diffusivitas ftz/s mz/s 9,290304 x 10-2
m2/s mm2,/s 1,0 x 106
Tahanan kalor (0C.m'z.h)/kcal (K. m')/ 8,604208 x 102
(kw)
(oF.ftr.h)/btu (K. m')/
(kw)
1,767702 x 1,02
Fluks kalor Btu/(h.ft2) kW/m2 3,154591 x 10-3
Konduktivitas terma (cal.cm)/ W/(m. K) 4,L84 x 102
(s.cm2.oC)
(Btu.ft)/
(h.ftr.
oF)
w/(m. K) t,730735
(kJ.m)/
(h.m'z.K)
6,230646
(kcal.m)/
(h.m'z.
oC)
w/(m.K) 1,1.62222
(Btu.in)/
(h.ftr.oF)
W/(m.K) 1,442279 x 10
1
(cal.cm)/
(h.cm2.oC)
W/(m.K) 1,1.62222 x 10-1
Koefisien perpindahan call(s. cm2.0C) kW/(m,K) 4,L84E x 701
kalor
Btul/ (s.ft2.oF) kW/(m2.K) 2,044775 x 701
call(h.ft'z.oF) kW/(m'.K) 1,762222 x 10-2
Btu/(h.ft'?.oF) kw/(mr.K) 5,678263 x 10-3
Btu/(h.ftr.oF) kw/(m,.K) 5,678263 x 10-3
kcal/(h.ft'?.oF) kW/(m'.K) 1,1.62222 x 10-3
Tegangan Permukaan dyrr/s mN/m 1
Viskositas dinamik (lbf.s)/in'z Pa.s 6,894757 x 10-3
(Lbf .s)
/
ft'z Pa.s 4,788026 x 1.01
(kef.s)/m'z
Pa.s 9,806650
lbm/(ft.s) Pa.s 7,4881,64
(dyn.s)/in2 Pa.s 1,0E-01
cP Pa.s 1,0E-03
Viskositas kinematik ft2
/s m2/s 9,290304 x 10-2
/
434 LAMPIRAN
Lampiran E. Faktor konversidari unit lain ke unit St(tanjutan)
Kuantitas Unit lain Unit SI Faktor Konversi
in2/s mm'/s 6,4516 x 702
Permeabilitas darcy pm2
9,869233 x 10-1
milidarcy pm2
9,869233 x 10-a
Fluks termal Btul(h.ft'z) W
/mt 3,752
Btu/ (s.ft'?) W /m2 1,135 x 104
cal(s.cm2) W /m2 4,184 x 104
u_
a
i
Z NVHIdIAIVI
TABEL
Tabel A1
Daya Emisi Permukaan Benda Hitam
Tabel ,{2
Total Emisivitas dari Beberapa Material
Tabel B1
Katalog Faktor Pandang
LAMPIRAN 437
TABEL A1 : Daya Emisi Permukaan Benda Hitam
nAT
1000
1 100
1200
1300
1400
1500
1600
7700
1800
1900
2000
2100
2200
2300
2400
2500
2600
2700
2800
2900
3000
3100
3200
3300
3400
3500
3600
3700
3800
3900
4000
4100
4200
4300
4400
4500
\/nT
(cmr/K
10.0000
9.0909
O.JJJJ
7.6923
7.1429
6.6667
6.2500
5.8824
5.5556
5.2632
5.0000
4.7619
4.5455
4.3478
4.7667
4.0000
3.8462
3.7037
3.5714
3.4483
J.JJJJ
3.2258
3.7250
3.0303
2.9412
2.9571,
2.7778
2.7027
2.631,6
2.5641
2.5000
2.4390
2.391,0
2.3256
2.2727
2.2222
Kl
Eb^/A3T
5
W
/m'im Ks]
Eb,1/A375
[W/m2
cm-t Ks
0.00211 x 10-8
0.00586
0.01343
0.02657
0.04691,
0.07567
0.1 1356
0.76069
0.21,666
0.28063
0.35143
0.42774
0.50815
0.591.25
0.67573
0.76037
0.8441,1,
0.92604
1,.00542
1,.081,62
7.1.5420 x 10-8
1.22280
1,.2871,9
7.34722
1.49283
1,.45402
1.50084
1,.54340
1.58181
1,.61,623
1,.64683
1.67380
1.69731
1.71758
1.73475
1,.7491,2
f
(nAr
)
0.00032
0.00091
0.00213
0.00432
0.00779
0.01285
0.01.972
0.02853
0.03934
0.05210
0.06672
0.08305
0.1 0088
0.12002
0.14025
0.16 i 35
0.18311
0.20535
0.22788
0.25055
0.27322
0.29576
0.31809
0.34009
0.36172
0.38290
0.40359
0.42375
0.44336
0.46240
0.49085
0.49872
0.51,599
0.53267
0.54877
0.56429
0.02110 x 10-11
0.04946
0.09329
0.75724
0.23932
0.33631
0.44359
0.55603
0.66872
0.77736
0.87858
0.96994
1,.04990
1.71768
7.7731.4
7.21659
1.24868
7.27029
1,.28242
1,.2861,2
7.28245 x 10-11
7.27242
1..25702
1,.2371,1,
1,.21,352
1,.1,8695
1.15806
1.12739
1,.09544
1,.06261,
1.02921
0.99571
0.96220
0,92892
0.89607
0.86376
438 LAMPIRAN
Tabel : Daya Emisi Permukaan Hitam (Laniutan)
nhT
K
\/nT
(cmr/K
2.1739
2.1,277
2.0833
2.0408
2.0000
1.9608
1,.9231,
1.8868
1.8519
1.8182
1.7857
7.7544
1,.7241.
1.6949
1,.6667
1..6393
1.61.29
1,.5873
L.5625
1.5385
1,.51,52
1,.4925
1.4706
1.4493
1.4286
1.4085
1.3889
1,.3699
1,.3514
1.3333
1.3158
1.2987
1.2321,
1.2658
1.2500
1,.23.46
4600
4700
4800
4900
5000
5100
5200
5300
5400
5500
5600
5700
5800
5900
6000
6100
6200
6300
6400
6500
6600
6700
6800
6900
7000
71,00
7200
7300
7400
7500
7600
7700
7800
7900
8000
8100
Eb^/A3Ts
W /m2 im Ks
0.83212
0.801.24
0.771.17
0.74197
0,7'1.366
0.68628
0.65983
0.63432
0.60974
0.58608
0.56332
0.54146
0.52046
0.50030
0.48096
0.46242
0.44446-
0.42760
0.41128
0.39564
0.38066
0.36631,
0.35256
0.33940
0.32679 x 10-1r
0.31.471
0.30315
0.29207
0.291,46
0.271,29
0.26155
0.25221
0.24326
0.23468
0.22646
0.21857
E. /AJT,
on'
W
/m'cm-1
K
1..76078
1.76994
1.77678
1.,781.46
1.7941,6
1,.78502
1.78419
1,.781,81,
1.77800
1.77288
1.76,658
1.75919
1..75081.
1.74154
1..731.47
1.72066
1,.70921
1,.6971,6
1.68460
1..671,57
1.65814
1,64435
1,.63024
1,.61,587
1..601.27 x 10-8
1.58548
1,.571,52
1,.55644
1,.541,26
1,.52600
1,.51.069
1.49535
1.48000
1.46465
1.44933
1.43405
f
(il.r)
0.57925
0.59366
0.60753
0.62083
0.63372
0.64606
0.65794
0.66935
0.68033
0.69087
0.70101
0.71076
0.7201,2
0.7291,3
0.73778
0.7461.0
0.7541,0
0.761,80
0.76920
0.77637
0.783L6
0.78975
0.79609
0.80219
0.80807
0.81373
0.91918
0.82443
0.82949
0.93,436
0.83906
0.84359
0.84796
0.85218
0.85625
0.8601,7
\
LAMPIRAN 439
Tabel : Daya Emisi Permukaan Hitam (Lanjutan)
nAT
mKI
8200
8300
8400
8500
8600
8700
8800
8900
9000
9100
9200
9300
9400
9500
9600
9700
10,000
1.0,200
"1.0,400
10,600
10,800
11,000
11,200
11,400
11.,600
11,800
1.2,000
1.2,200
1.2,400
1,2,600
72,800
13,000
73,200
73,400
13,600
13,800
\/nT
(cm-l/K)
7.2195
1.2048
1.1905
1,.1,765
1.1618
1.1.494
1..1.364
1,.1236
1,1111
1.0989
1.0870
1,.0753
1.0638
1.05f6
7.041,7
1.0309
1.0000
0.9804
0.961.5
0.9434
0.9259
0.9091
0.8929
0.8772
0.8621.
0.8475
0.8333
0.81.97
0.8065
0.7937
0.781.3
0.7692
0.7576
0.7463
0.7353
0.7246
Eb^/A3T
s
[W/m2
im K5]
0.21101
0.20375
0.19679
0.190L1
0.18370
0.L7755
0.171.64
0.1.6596
0.16051
0.15527
0.15024
0.1.4540
0.1.4075
0.1.3627
0.1,3L97
0.12783
0.11632
0.10934
0J.0287
0.09685
0.09126
0.08606
0.08121
0.07670
0.07249
0.06856
0.06480 x 10-11
0.061.45
0.05823
0.05522
0.05240
0.04976
0.04728
0.04494
0.04275
0,04069
E. /AJT,
0n'
lW /m2 cm-i K3I
f
(nAr
)
1,.41,882
1,.40366
1.38857
1..37357
1.35866
1.34385
L.3291.6
1.31458
1.30013
1.28580
1.271,61,
1.25755
1..24363
1..22995
1..21622
1..20274
1.1.8941.
1.1.3759
1..L1.260
1,.08822
1,.06446
1.04130
1.01.874
0.99677
0.97538
0.95456
0.9430 x 10-8
0.91458
0.89540
0.87674
0.85858
0.94392
0.82374
0.80702
0.79076
0.77493
0.86396
0,86762
0.87115
0.87456
0.87786
0,88105
0.89473
0.8871.1,
0.88999
0.89277
0.89547
0.89807
0.90060
0.90304
0.90541
0.90770
0.90992
0.9i813
0.921,88
0.92540
0.92872
0.93184
0.93479
0.93758
0.94021,
0.94270
0.94505
0.94728
0.94939
0.95139
0.95329
0.95509
0.9s680
0.95843
0.95998
0.961,45
-a
44O LAMPIRAN
Tabel : Daya Emisi Permukaan Hitam (lanjutan)
nLT
lpmKl
14,000
14,200
74,400
14,600
14,800
15,000
1.5,200
15,400
15,600
15,800
16,000
76,200
16,400
1.6,600
16,800
1.7,000
17,200
17,400
1.7,600
17,800
18,000
18,200
18,400
18,600
1B,BOO
19,000
79,200
79,400
79,600
19,800
20,000
21.,000
22,000
23,000
24,000
25,000
\/nT
(cmr/K)
0.7143
0.701,2
0.6944
0.6849
0.6757
0.6667
0.6579
0.694
0.6410
0.6329
0.6250
0.6773
0.6098
0.6024
0.5952
0.5882
0.5814
0.5747
0.5682
0.5618
0.5556
0.5495
0.5435
0.5376
0.5319
0.5263
0.5208
0.5155
0.5102
0.5051
0.5000
0.4762
0.4545
0.4348
0.4767
0.4000
Eb^/A3T
s
W /m2 im Ks
Eb,1/A3Ts
W
/m'cm-'
K3]
0.75954
0.74456
0.72998
0.77579
0,70798
0.68853
0.67544
0.66270
0.65029
0.63820
0.62643
0.67496
0.60379
0.59290
0.58228
0.571,94
0.56186
0.55202
0.54243
0.53308
0.52396
0.51506
0.50638
0.49790
0.48963
0.48155 x 10-8
0.47367
0.46597
0.45845
0.45111
0.44393
0.41,043
0.38049
0.35364
0,329,8
0.30767
f
(nAr
)
0.96285
0.9641.8
0.96546
0.96667
0.96783
0.96893
0.96999
0.971,00
0.97796
0.97288
0.97377
0.97467
0.97542
0.97620
0.97694
0.97765
0.97834
0.97899
0.97962
0.98023
0.98081
0.98737
0.981.91.
0.98243
0.98293
0.98340
0.98397
0.98431.
0.98474
0.98515
0.98555
0.98735
0.98886
0.9901,4
0.99123
0.99217
0.03875
0.03693
0.03520
0.03358
0.03205
0.03060
0.02923
0.02794
0.02672
0.02556
0.02447
0.02343
0.02245
0.021,52
0.02063
0.01,979
0.01899
0.01823
0.01.751,
0.07682
0.01.61.7
0.01555
0.01496
0.01.439
0.01385
0.01334 x 10-11
0.01285
0.01238
0.01193
0.01151
0.01110
0.00931
0.00786
0.00669
0.00572
a.00492
\
Tabel : Daya Emisi
permukaan
Hitam (Lanjutan)
LAMPIRAN
441
0.99297
0.99367
0.9912ct
0.994E1
0.9952ct
0.99571
0.996Ct7
0.9961i
0.9966Y
0.9969 )
0 .997 1>
v.)/t 1
0.er: : "
0.99r-:
0.vv-:l
0.v,9r ^
0.9yS1-
0.99,r3
-
0.99E.+:
0.99S 5 1
0.99E61
0.99E6c)
0.99977
0.99884
0.9989A
26,000
27,000
28,000
29,000
30,000
31,000
32,000
33,000
34.000
35,000
36,000
37,000
38,000
39,000
40,000
47,000
42,000
43,000
11,000
45,000
46,000
47,000
48,000
49,000
50,000
0.3946
0.3704
0.3577
0.3448
0.3333
0.3226
0.3725
0.3030
0.2941
0.2857
0.2778
0.2703
0.2632
0.2564
0.2500
0.2439
0.2381
0.2326
0.2273
0.2222
0.2174
0.2128
0.2083
0.2047
0.2000
0.00426
0.00370
0.00324
0.00284
0.00250
0.00221
0.00196
0.00175
0.00156
0.00140
0.00726
0.00113
0.00103
0.00093
0.00084
0.00077
0.00070
0.00064
0.00059
0.00054
0.00049
0.00046
0.00042
0.00039
0.00036
0.28792
0.26999
0.25366
0.23875
0.2251.0
0.27258
0.20706
0,1.90.45
0.1 8065
0.1,715B
0.16317
0.15536
0.14810
0.14732
0.13501
0.1291.0
0.12357
0.1 1839
0.1 1352
0.10895
0.1,0461
0.10059
0.09677
0.09315
0.08974
\/nT
(cm-1/K)
Eb^/A3Ts
lWlm'im
E. /A375
u4'
[W/m2
cm-t
f
(nAr
)
-r'
442 LAMPIRAN
TABEL A2 : Total Normal Emisivitas dari Beberapa Material
Temperatur Total normal
o(
emissivitva
A. Metals and their oxides
Aluminium
Pelat dipoles sangat licin,
kemurnian 98.3%
Pelat komersial (dijual di pasaran)
Dipoles kasar
Pelat kasar
Dioksida pada suhu 6000 C
Teroksida berat
Aluminium oksida
Al-permukaan dipoles
Aluminium paduanb
Paduan 75 ST : A, Br,
Paduan 75 ST : A'
Paduan 75 ST : 8,"
Paduan 75 ST: C'
Paduan 24 ST: A, Bt,
Paduan 24 ST: A'
Paduan 24 ST : B,'
Paduan 24 ST: C'
Permukaan diwarnai, dipanaskan pada
Tembaga
Baja
Antimony, dipoles
Bismuth, terang
Kuningan
Dipoles sangat licin
73.2% Cu,26.7o/" Zn
62.4% Cu., 36.8o/". Zn. 0.4o/o Pb,
0.3% Al
82.9% Cu, 1.7.0"/o Zn
Dipoles
Pelat gulung, permukaan alami
225-575
100
100
40
200-600
95-500
275-500
500-825
40
25
230-480
230-425
230-500
25
230-485
230-505
230-460
suhu 6000 C
200-600
200-600
35-260
75
245-355
255-375
275
100
40-315
22
0.039-0.057
0.09
0.18
0.055-0.07
0.11-0.19
0.20-0.31
0.63-0.42
0.42-0.26
0.216
0.11, 0.10, 0.08
0.22-0.1,6
0.20-0.18
0.22-0_15
0.09
0.17-0.15
0.20-0.16
0.16-0.13
0.18-1-19
0.52-0.57
0.28-0.31
0.34
0.029-0.031
0.030-0.037
0.030
0.06
0.10
0.06
ts\-
-.l
LAMPIRAN 443
TABEL A2 : Total Normal Emisivitas dari Beberapa Material (Lanjutan)
Peiat gulung, digosok dengan batu
asah kasar
Plat tumpul
Dioksida dengan pemanasan pada
suhu 6000 C
Chromium (lihat paduan nikel untuk baja
Dipoles
Tembaga
Dipoles secara hati-hati dengan
tembaga elektrolit
Dipoles
Komersial diasah, dipoles,
pits remaining
Cornmercial, scraped shiny, not
mirror-1ike
Pelat dipanaskan untuk waktu yang
dilindungi dengan lapisan oksida
yang tebal
Pelat dipanaskan pada 6000 C
Oksida seperti tembaga
Tembaga lumer
Dow metalb
A, 81, C
Ac
B,.
C.
Emas, murni, dipoles sangat licin
lnconelb
Types X and B: surface A,B2,C
Type X: surface A'
Type X: surface Br'
Type X: surface C'
Typc B: surface A"
Type B: surface Br"
Type B: surface C.
Temperatur
['c]
22
50-350
200-600
Total normal
emissivitya
0.20
0.22
0.61-0.59
Ni-Cr)
40-1100
100
BO
115
100
1,9
22
lama,
25
200-600
800-1100
1,075-1,275
25
230-400
230-425
230-405
225-625
25
230-BB0
230-455
230-900
230-BB0
230-950
230-1000
0.08-0.36
0.075
0.018
0.023
0.052
0.030
0.072
0.78
0.57
0.66-0.54
0.16-0.13
0.1.5, 0.15, 0.1.2
0.24-0.20
0.16
0.21-0.18
0.018-0.035
0.1.9-0.21,
0.55-0.78
0.60-0.75
0.62-0.73
0.35-0.55
0.32-0.51
0.35-0.40
444 LAMPIRAN
TABEL A2 : Total Normal Emisivitas dari Beberapa Material (Lanjutan)
Temperatur Total normal
oC
emissivitya
Besi dan baja (tidak termasuk baja tahan
Permukaan logam (atau lapisan oksida
Besi elektrolit, dipoles sangat licin
Baja, dipoles
Besi, dipoles
Besi. dipoles kasar
Iron, freshly emeried
Besi tuang dipoles
Cast iron, newly turned
Besi tuang, dibubut dan dipanaskan
Besi tempat, dipoles sangat licin
Baja tuang dipoles
Baja lembaran
Besi lembaran halus
Baja lunakb : A, Br, C
Mild steelb: A'
Mild steelb: Br'
Mild steelb: C'
Permukaan yang teroksida
Pelat besi, diasinkan, kemudian
berkarat merah
Pelat besi, berkarat
Besi, permukaan kelabu gelap
Lembaran baja gulung
Besi yang teroksidasi
Besi cor, dioksid pada 6000 C
Baja, dioksida pada 6000 C
Permukaan halus, dioksida dengan
besi elektrolit
Oksida besi
Besi leleh kasar
Pelat baja
Kuat, lapisan oksida kasar
Rapat, lapisan oksida terang
Pelat tuang, halus
Pelat tuang, kasar
karat)
yang sangat tipis)
175-225
100
425-1025
100
20
200
22
BB0-990
40-250
770-1,035
935-1100
900-1040
25
230-1065
230-1050
230-1065
0,052-0,064
0.066
0.14-0.38
0.1.7
0.24
0.27
0.44
0.60-0.70
0.28
0.52-0.56
0.55-0.61
0.55-0.60
0.12, 0.15, 0.10
0.20-0.32
0.34-0.35
0.27-0.31,
0.61
0.69
0.31
0.66
0.74
0.64-0.78
0.79
0.78-0.82
0.85-0.89
0.87-0.95
0.80
0.82
0.80
0.82
20
20
100
21
100
200-600
200-600
125-525
500-1200
925-1,115
25
25
23
ZJ
\
LAMPIRAN 445
TABEL A2 : Total Normal Emisivitas dari Beberapa Material (Lanjutan)
Besi tuang, kasar, teroksidasi
secara kuat
Besi tempa, teroksidasi ringan
Pelat baja, kasar
Permukaan-permukaan lumer
Besi tuang
Baja lunak/ltrmer
Baja, beberapa perbedaan dengan
0,25 - 1,,2"/. C (permukaan teroksidasi
ringan)
Baja
Besi murni
Armco iron
Timah hitam
Murni (99,96%), tidak teroksidasi
Teroksidasi kelabu
Dioksidasi pada 1500 C
Magnesium
Magnesium oksida
Magnesium, dipoles
Mercury
Molybdenum
Filament
Berat, dipoles
Dipoles
Monel metalb
Oxidized at 600"C
K Monel 5700: A, Br, C
K Monel 5700: A'
K Monel 5700: Br'
K Monel 5700: C'
Temperatur Total normal
oQ
emissivitva
0.9s
0.94
0.94-0.97
40-250
20-360
40-370
1300-1400
1600-1800
L560-1710
1500-1650
7520-1.650
1.51.5-1,770
1520-1,690
1,25-225
25
200
275-825
900-1.705
35-260
0-100
725-2595
100
35-260
540-1370
2750
200-600
25
230-875
230-955
230-975
0.29
0.28
0.27-0.39
0.42-0.53
0.43-0.40
0.42-0.15
0.40-0.,11
0.057-0.075
0.28
0.63
0.55-0.20
0.20
0.07-0.13
0.09-0.12
0.096-0.202
0.071
0.05-0.08
0.10-0.18
0.29
0.41,-0.46
0.23, 0.1.7, 0.74
0.46-0.65
0.54-0.77
0.35-0.53
-a
446 LAMPTRAN
TABEL A2 : Total Normal Emisivitas dari Beberapa Materia! (Lanjutan)
Nikel
Menyepuh perak secara galvanis,
dipoles
Murni (98.9% Ni, f Mn), dipoles
Dipoles
Menyepuh perak secara galvanis,
tanpa dipoles
Kawat
Pelat, dioksida dengan pemanasan
pada 6000 C
Oksida nikel
Nikel paduan
Nikel
-
krom
Nikel
-
tembaga, dipoles
Kawat nikrom, terang
Kawat nikrom, teroksidasi
Perak - nikel, dipoles
Nikelin (1.8-32% Ni; 55-68% Cu; 20% Zn)
(teroksidasi kelabu)
Tipc ACI-HW (60% Ni; 12% Cr), halus,
hitam mengikat lapisan oksida secara
adhesi
Platina
Murni, pelat dipoles
Berbentuk bilah
Filamen
Kawat
Perak
Dipoles, murni
Dipoles
Baja tahan karatb
Dipoles
Type 301: A, 82. C
Type 301: A"
Type 30 1: Br'
Type 301: C'
Temperatur
['c]
23
225-375
100
20
185-1005
200-600
650-1255
50-1035
100
50-1000
50-500
100
20
270-560
225-625
925-1,625
27-1,225
225-1,375
225-625
40-370
100
100
25
230-950
230-940
230-900
Total normal
emissivitya
0.045
0.07-0.087
0.072
0.11
0.0,96-0.1.86
0.37-0.48
0.59-0.86
0.64-0.76
0.059
0.65-0.79
0.95-0.98
0.135
0.262
0.89-0.82
0.054-0.104
0.12-0.1.7
0.036-0.192
0.073-0.1.82
0.020-0.032
0.022-0.031
0,052
0,074
0.21, 0.27, 0.16
0.57-0.55
0.54-0.63
0.51-0.70
LAMPIRAN 447
TABEL A2 : Total Normal Emisivitas dari Beberapa Material (Lanjutan)
Temperatur Total normal
oQ
emissivit
Type 316: A, 82. C
Type 316: A'
Type 316: Br"
Type 316: C"
Type 347: A, 82. C
Type 347: A'
Type 347: Br'
Type 3.47: C'
Type 304: (8% Cr;18% Ni)
Perak bercahaya, kasar, coklat setelah
Pemanasan
Setelah 42jam dipanaskan pada 5250 C
Type 310 (25% Cr 20% Ni)
Coklat, berbercak teroksidasi
dari dapur api
Allegheny metal no. 4, Dipoles
Allegheny alloy no. 66.Dipoles
Tantalum filament
Thorium oxide
Timah
Besi sepuh timah, berwarna terang
Berwarna terang
Komersial lapisan pelat besi
-
timah
Tungsten
Filamen, berumur panjang
Filamen
Lapisan yang dipoles
Seng
Komersial (dijual dipasaran)
99,1.o/" murni, dipoles
Fioksidasi dengan pemanasan
pada 4000 C
Besi lembaran yang digalvaniskan,
cukup terang
Besi lembaran yang digalvaniskan,
teroksidasi kelabu
25
230-870
230-1050
230-1050
25
230-900
230-475
230-900
215-490
21,5-525
21,5-525
100
100
1340-3000
275-500
500-825
25
50
100
27-3300
3300
100
225-325
400
27
25
0.28,0.28,0.1.7
0.57-0.66
0.52-0.50
,
0.26-0.31
0.39,0.35,0.1.7
0.52-0.65
0.51-0.65
0.49-0.64
0.44-0.36
0.62-0.73
0.90-0.97
0.13
0.11
0.19-0.31
0.59-0.36
0.36-0.21,
0.043,0.064
0.06
0.07, 0.08
0.032-0.35
0.39
0.066
0.045-0.053
0.11
0.23
0.28
448 LAMPIRAN
TABEL 42 : Total Normal Emisivitas dari Beberapa Material (Laniutan)
Temperatur Total normal
["C]
emissivitya
Seng, lembaran yang telah digalvaniskan 100 0.27
B. Tahan Api, material bangunan-, cat, dan material yang lain
Alumina (99.5-85% AlrOr; 0-1.2'/. SiOr; 0-L% FerOu)
Akibat dari ukuran rata-rata
serat kayu
10 pm
50 pm
100 pm
Alumina on Inconel
Alumina-silica (memperlihatkan
akibat dari Fe)
80-58% AlrOr; L6-38% SiOr; 0.4% FerO,
36-26% AlrOr; 50-60% SiOr; 1..7% FerO,
61,'/o AlrO.; 35o/, SiOr;2.9"k FerO..
Asbes
Papan
Kertas
Batu bata
Merah, kasar, kekasarannya teratur
Grog brick, glazed
Bangunan
Tanah liat tahan api
Batu bata tahan api berwarna putuh
Karbon
Filamen
Pelat kasar
Graphitized
Candle soot
Arang para
-
dilapisi kaca air
Lapisan tipis pada pelat besi
Lapisan tebal
Arang para, 0.075 mm atau lebih tebal
Arang para, lapisan bijih besar
Lamablack, other blacks
1010-1565
540-1100
1010-1565
0.30-0.18
0.39-0.28
0.65-0.45
0.65-0.45
ZJ
35-370
20
1 100
1000
1000
1100
1040-1405
100-320
320-500
100-320
320-500
95-270
1,00-275
20
20
40-370
100-500
50-1000
0.61,-0.43
0.73-0.62
0.78-0.68
0.96
0.93-0.94
0.93
0.75
0.45
0.75
0.29
0.526
0.77
0.77-0.72
0.76-0.75
0.75-0.71
0.952
0.96-0.95
0.927
0.967
0.945
0.84-0.78
0.96
\.=
LAMPIRAN 449
TABEL A2 : Total Normal Emisivitas dari Beberapa Material (Lanjutan)
Temperatur Total normal
oC
emissivitva
Craphit, ditekan, permukaan dikikir
Carborundum (87'/. SiC; density
2.3 g/ crn3)
Lantai beton
Beton kasar
Email, lumeran berwarna putih, pada
baut solder
Kaca
Halus
Pirex, timah hitam, soda
Cypsum, dengan ketebalan 5 mm
atau pelat yang dihitamkan
Es
Halus
Kristal kasar
Magnesit batu tahan api
Marmer, bercahaya kelabu, dipoles
Cet, Lak, Pernis
250-510
1010-1400
1000
3B
20
0.98
0.92-0.81.
0.53
0.94
0.90
0.94
0.95-0.85
0.903
0.966
0.9E5
036
0.93
0.906
0.875
0.821
0.91.
0.80-0.95
0.96-0.98
0.92-0.96
20
260-540
20
0
0
1000
20
100
100
Email putih dipernis pada plat besi kasar 72
Lak berwarna hitam, disemprot pada besi 25
Black shiny shellac on tinned iron sheet 20
Black matte shellac 75-1,45
Lak hitam atau putih 35-95
Flat black lacquer 35-95
Cat oli, 16 perbedaan untuk semua warna 100
Cat aluminium dan lak
L0'/" A1,22'/. lacquer body, on rough or
Permukaan kasar atau halus
Other Al paints. varying age and
Al content
Al lacquer, varnish binder, on rough 20
plate
Cat aluminium, setelah pemanasan 150-315
pada 3250 C
Lapisan lak, 0.025-0.37 mm
pada aluminium paduan 35-150
0.52
0.27-0.67
0.39
0.35
0,87-0.97
450 LAMPIRAN
TABEL A2 : Total Normal Emisivitas dari Beberapa Material (Laniutan)
Temperatur
Total normal
['c]
emissivitya
Clear silicone vehicle coatings, 0.025-0.375
On mild steel
On stainless steels. 31'6, 301.. 347
On Dow metal
On AI alloys 24 5T,75 ST
Aluminum paint with silicone vehicle,
two coats on Inconel
Kertas
Putih
Tipis, ditempel
Pada
garPu atau
pelat yang dihitamkan
Atap
Plester, kapur kasar
Porselen, berkilap
Kwarsa
Kasar, lumer
Kaca, tebal 1.98 mm
Kaca, tebal 6.88 mm
Tidak tembus cahaYa
Karet
Keras, pelat berkilaP
Lunak, kelabu, kasar
Batu pasir
Serpentin, dipoles
Silica
(98% SiOr; bebas Fe) akibat dari
ukuran serat kaYu
10 pm
70-600
Pm
Karbida silikon
Batu tulis
Arang para, lilin
Air
Kayu
Serbuk gergaii
Kayu oak, diketam
Pohon
mm
260
260
260
260
260
35
20
20
10-88
20
20
280-840
280-840
280-840
23
25
35-260
23
1010-1565
0.66
0.68,0.75, 0.75
0.74
0.77, 0.82
0.29
0.9s
0.92,0.94
0.91
0.91
0.92
0.93
0.90-0.41
0.93-0.47
0.92-0.68
0.94
0.86
0.83-0.90
0.90
0.42-0.33
0.62-0.46
0.83-0.96
0.67-0.80
0.95
0.95-0.963
0.75
0.90
0.94
150-650
35
90-260
0-100
35
20
70
LAMPIRAN 451
TABEL A2 : Total Normal Emisivitas dari Beberapa Material (Lanjutan)
u
: Pada temperatur dan emisivitas terbaca yang dipisahkan oleh sebuah garis
hubung, mereka mempunyai hubungan linear dimana untuk mendapatkan
nilai emisivitas dari temperatur yang diinginkan dapat digunakan
interpolasi linear.
b
: Indentifikasi pada perlakuan permukaan : A, dibersihkan dengan toluene,
kemudian metanol; 8,, dibersihkan dengan sabun dan air, toluene, dan
metanol; B, dibersihkan dengan sabun abrasi dan air, toluene, dan
metanol; C, dipoles, dibersihkan dengan sabun dan air.
'
: Hasil setelah proses pemanasan dan pendinginan diulang.
Temperatur
["c]
240-500
500-830
Total normal
emissivitya
Zirconium silicate
0.92-0.80
0.80-0.52
452 LAMPIRAN
TABEL 81 : KATALOG FAKTOR PANDANG
Elemen bidang differensial dri seriap panjang Z
sampai panjang bidang tak terhingga dari lebar
differensial pada garis sejajar, bidang terdiri
atas elemen yang bukan bidang tangkap.
tF
cos
0d 0
Ilf
'i '.
=
-
u,_uz
2
Elemen planar diferensial terhadap diferensi cincin
sejajar koaksial sejajar terhadap elemen.
R=rll
,'tF,.,-=
2R
dR
-,
dt_d,
6
+ R,
1,
dA"
ru
Elemen planar diferensi dan pada keadaan normal
sumbu horisontal cincin ke dalam/terhadap sumbu
cincin diferensial.
Elemen di atas permukaan pada silinder sirkuler
kanan terhadap cincin diferensial koaksial pada
dasar silinder
Z
x
=z
lrt,
R
=rrf
r,
=L+22
+R2
2Z(X
-
2R
2
)R
dR
=-ffiax
dF.. ,"
dA,
Elemen-elemen bidang diferensial pararei dalam
bidang potong.
Y
=a
lx
Y sin2
qdY
dF
ar-az=
2(1 +Y
2
-ZY
cosQ)3/z
LAMPIRAN 453
Bidang dari panjang b terbatas dan dari lebar
diferensial terhadap bidang diferensial dari
panjang yang sama pada garis sejajar yang
dihasilkan.
B
=blr
dF
at-az
=tan-1 ,
#r,
Elemen cincin diferensial terhadap elemen ring
dalam piringan satu sumbu.
R
=rrf
r2, L
=llrt
2RL2(L2+R2+1)dR
dFat
-d2
UL'
+R2 + 1)2
-4R21zlz
Elemen ring di dasar terhadap keliling elemen
cincin pada bagian dalam dari silinder sirkuler
sebelah kanan.
\z-
1\-
dF,. ."=
xlrz, R
=rrf
r,
2x(x2 +Rz
-t)dx
[(x'+R2
+1)2
-4R']t'
Dua elemen cincin di bagian dalam pada silin.ier
sirkuler sebelah kanan.
X
=xl2r
dF
nr-0,
_t
_L
##1*,
10
Elemen planar diferensial terhadap siku-siku
segiempat sejajar normal terhadap elemen pojok
dari siku-siku segiempat.
A
=
a/c, B
=
b/c
1[
z"l
A ,B
tan
'--.-
,lt+ A'
B-1
*---ptan'
Jt+s'
Al
:l
Jt+n')
For-,
-a
454 LAMPIRAN
11 Elemen planar diferensial terhadap siku-siku
segiempat daiam 90" terhadap elemen bidang.
X=alb, Y
=cfb
For-.',
1( _, 1
-
-l
tan
'n[
Y
,1)
ta".
'
x\Y,
)
lao^^
rd
12
Elemen planar difernsial terhadap piringan sirkuler
pada bidang sejajar terhadap elmen; normal
terhadap elemen melalui pusat pringan.
H
=hlr
E_
L
dl-z-
H2 +L
13
Elemen planar differensial terhadap piringan
sirkuler pada bidang sejajar terhadap elemen.
F
r r_,
=hla
=1+
_1[
-rl
H
Z
14
Elemen planar diferensial terhadap piringan
sirkuler, bidang datar terdiri atas elemen dan
piringan yang berpotongan pada sudut 90 derajat; L
lebih besar sama dengan r.
=hll ,
R=rll
=1+Hz
+R2
ff^'
A2
f,6 H
Z
-r]
H[ z
_t-
2l"tz,
-4r<,
15
L=l/r, H=h/r
Elemen planar diferensial terhadap silinder sirkuler
sebelah kanan pada penjang dan radius terbatas;
normal terhadap elemen yang melalui ujung
silinder dan tegak lurus terhadap sumbu horisontal
silinder.
*
--'-
L
j
LAMPIRAN 455
+H)2+L2
-H)2+lz
X=(1
Y=(1
-
L [r
ttr
c =
-l-tan
nH
lL
_r L
.X-2H. _,
E?H_tl l
--:T------:_tan '-l '_tan-.
Ju'-1
JxY
lr1ru+ty
H LI
H .1
]
;
i
'il-'^'
76
E1emen planar diferensial terhadap bola pejai;
normal terhadap pusat elemen melalui pusat dari
bola pefal.
,,2
"
[r \
,
nr-, -li
)
77
19"
Elemen planar diferensial terhadap bola pejal; garis
singgung terhadap elemen melalui pusat dari boi:.
pejal.
ht
I
'a,q
),_g
=hlr
1[
=
-
I tan-'
nl
H
r JH'? 1-,'
Ju'-1
H-
18
Elemen planar diferensial terhadap bola pej.rl;
bidang elemen tidak memotong bola pejal.
E
L
dl-2
0s
rf
COS.-
h
/,2
lr\
=l
-
I cose
lh)
19
Elemen planar diferensial terhadap bola pejal.
L=llr, H
=hfr
H
>1.
F..
^
--
u L-t
(L' +H2flz
H
ni
-rl
-7<H
<7: For_r-
-4
456 LAMPIRAN
20
Elemen diferensial pada bidang longitudinal di
dalam silinder terhadap permukaan silinder.
Z
=zl2R,
Frr-r=L+H
H
Z2
=hlZR
-l ,) (H
-Z)'
*l
21
Elemen diferensial pada bidang
dalam silinder sirkuler sebelah
dasar silinder.
longitudinal di
kanan terhadap
Z
=zlr
Z2+2 Z
E
t
d7-7
22
Eiemen diferensial pada permukaan dari silinder
sirkuler sebelah kanan terhadap piringan pada
dasar silindet r2 < rr
zfr1, R=rrfr,
!+zz +R2
F,1
Z_
X_
1- z = -r]
x ZI
_)
2l
Z3
Bilah diferensial tidak terbatas terhadap bidang
sejajar tidak terbatas dengan lebar terbatas; bidang
terdiri atas bidang potong terhadap sudut o.
F,1
cosQ-X
2rfi.+X2
-2X
cosq
X=xll
1
\-z
2
l*o-^('
lK,-"
l, .
la
-L-,t
t
Elemen bila diferensial pada panjang tertentu
terhadap biah panjang yang tidak terbatas dengan
lebar terbatas; melewati bagian dari .A2 (tetapi tidak
tegak lurus terhadap kertas) bidan dari dA1 tidak
memotong 42.
For_2=|sin@r-sin@,)
i{'
i.--_
'\
LAMPIRAN 457
25
^,^9I
dArl
/____i_L
l.--b........._{
A=alr, B=bfr
-A
ts,-
-
=
AZ D/
h, +17
Elemen bilah diferensial pada panjang tertentu
terhadap silinder panjang sejajar tak hingga; r < A.
26 Bidang elemen diferensial terhadap siku-siku
segiempat pada bidang 90' terhadap bidang bilah.
X=n/c, Y=b/c
"(_
F,t
r-t =-!l Jr +y
2
tan-l
nrI
.
-1
\,
XY
-r
-
tan A + --,-
[flfl
,lt + x2 l1.Y'
Y)
Jl- x'
)
27
u
l-c+{
1
T
-
1[
-,
bt.
"=
ltan
nI
Bidang elemen diferensial terhadap siku-sikr-r
segiempat pada bidang 90' terhadap bidang bilah.
X=a/b, Y=c/b
y'(x2
+Y2 +11
g2 +t,1x'*Y')
A1
1*Lr'
Y2
Elemen bilah diferensial terhadap bagian luar dari
silinder sirkular sebelah kanan pada panjang yang
terbatas; bilah dan silinder adalah sejajar dan sama
panjang; bidang terdiri atas bidang yang tidak
memotong silinder.
s/r, X=x/r, H=h/r
H2+52+X2_1
H2_52_X2+1.
s-
A_
B_
2H
17
i
,lA\ 4H
'z
,B
COS.:
AJs2 +x2
458 LAMPIRAN
29 Elemen bilah diferensial dari berbagai panjang di
bagian luar dari silinder terhadap bidang dari
panjang dan lebar yang terbatas.
For-r=i(t * cos o)
dA,
30 Elemen ring diferensial pada permukaan piring
terhadap bola pejal koaksial.
R'r=rrfn Rr=rrfa
E_
t
dt-2 -
(1 + Rf
;a/z
I
J
R;
31 Eleman cincin diferensial di bagian dalam silinder
sirkuiar sebelah kanan terhadap piring sirkular
pada bagian akhir dari silinder.
X
=x
l2r
Xz +!
E _ Z
_V
L 11 a
-
Jxz +t
k-zr-{
5T
h
ol
,i" L
k-zo-d
Dua panjang yang tidak terbatas, secara langsung
berhadapan sejajar dari lebar yang terbatas.
H
=hlw
Fr-z=Fz-t=JI+H'z
-H
JJ Dua plat panjang yang tidak terbatas dengan lebar
h dan w yang tidak sama, mempunyai satu ujung
yang sama, pada sudut 90'.
H
F."
=hlw
=!( r*
)\
"
-rlr-r')
34 Dua plat panjang yang tak terbatas dengan lebar
terbatas w, mempunyai ujung yang sama,
membentuk sebuah alur seperti baji dengan
sudut o,.
CT,
2
*+
F,
"=F..=1-sin
LAMPIRAN 459
qP
Silinder sejajar dengan
diameter yang sama.
panjang tak terbatas dari
X
F.
" -x)
)
-1
,
s
2r
1,( .
-r
1
--l Sln
-+ ?i[ x
36
Dua silinder sejajar tidak terbatas dari radius yang
berbeda.
R=rr/rr, S=s/rr,
C=1+R+S
F.^
1
2n
+(R
r-
tn* Jc' -1R
+ t;'
-
-1)cos-1?-,o
!6l
-(RlF
+1)cos-1?-,o + 1) cos-1
44}
,
C)
37
a)
^,;i)1
2 l_i
I FrJ
l.- b,-.1
Bagian luar dari silinder dengan panjang r.an*
tidak terbatas terhadap tempat yang tidak
simeteris, siku-siku segi empat sejajar dengan
panjang yang tidak terbatas; r
<
a.
Br=b1fa, Bz=bzla
F
t-2
=l
(trr,-ta
1 -
tan
-rB,
)
2TL'
38
ffit
Identik, sejajar, siku-siku berhadapan secara
langsung.
X=a/c, Y=b/c
* xr[l*Y'tun-' =
'
I,^[
nxYl
I
(1 + X
'11t
+v
21
)'''
X
F,^
L+Xz +Yz
,hir
""-o]
Y
-
X tan-1X
-Y
1+X2tan-1
39
+Y
-1
Dua siku-siku segi empat terbatas dengan panjang
yang sama/ mempunyai satu ujung yang sama dan
saling membentuk sudut 90".
460 LAMPIRAN
A
W
l.-zr_4
w
1
tan
'
H=h/1, W=w/l
F."
+1m
4
+
I
+l
1
1
"W
lt+
1
w
I
r)
n
2
+
H
(1
T
1
w
t'
W
+
+H tan
|
*'t,
L(*'
-1
L-"1n1*'r^ -'glV
w
2
+ru')
1*'[,, fl+H2 +W
2)
l'' ])
wa;i\)lWl
I]
n
Piringan terhadap piring koaksial sejajar dari
radius yang tidak sama
Rt=
X_
f_
41
Permukaan yang lebih luar dari silinder terhadap
piringan berbentuk gelang pada bagian akhir
silinder
R=rr/rr, L=l/rr,
A=L2+R2-1,
B=L2-R2+1
A
r_
l t ,
--
8RL
1[
-.A
1
+
-l
cos
,"1 B 2L
fA;lr--
-,
AR A l
1/-Rl---+cos' B
- sin-'R_l
42
Permukaan
bagian dalam dari silinder sirkular
sebelah kanan terhadap dirinya sendiri.
H
=hlZr
Fr-r
=7+H -
LAMPIRAN 461
43
I@
iL5fi
Berdasarkan kepada silinder sirkuler sisi sebelah
kanan terhadap permukaan dari silinder.
H
F
r_, -Hl
=h
l2r
=r,
I
44
Bagian dalam dari panjang yang terbatas, silinder
koaksia sirkuler sebelah kanan terhadap dirinl,a
sendiri.
R=rr/r, H=h/rt
E
'1-t
H2 +4Rz
-H
JiR'+H:
t( z
+-l
-tan
nIo
H2 +4(Rz
4R
.
-1
srn
n
2
+q(nz
-t)
^
)\
. _,R'-Zll
-SIn
'.-l
I
R' ll
))
-7)-2H2
f
R2
H
45
Bagian dalam lingkaran silinder sirkuler sebelah
kanan dari panjarig terbatas terhadap bagian luar dari
bagian dalam silinder koaksial sirkuler
R=rr/rr, H=h/rr,
H2 +R2
-1
1l
-1
--<cos
^
nl
Hz
-R2
+l
H2 +R2
-1
H2
-R2
+1
R(H. +Rt- 1)
4H
lll
o))
2H
H2
-R2
+1
2H
1
COS
, .
-1
sln
-
46
Bagian dalam dari silinder sirkuler sebelah kanan
bagian luar dengan panjang terbatas terhadap ruang
yang berbentuk gelang di antara silinder koaksial
=hlrz,
R
=r"rf
r,
=Jt-p\
R(1-R'+H')
H
X
Y-
1-R2 +H2
462 LAMPIRAN
F
t-z
=*
{o(,,"-'
f
-
tu,'-'
T).f
[,t^-'rro ' -
t)
-si.,-'n ]
*
t( l+
sin-lR l-
@
[r * ri.,-,
y
)
4Hl2
)
4H
[2 )
,,tL+H'zln,
-,--.,(
"
2R'H'_)ll
*
n
L,
*
""
[t
-;r-;;r11
47 Bola pejal terhadap siku-siku segiempat, r < d.
Dr=dfl1, D2=dfl2
1
I;.
^=-tan'
4Tt ol +o) +oiol
/-t-l
48 Bola pejal terhadap piringan koaksial.
R=rla
49 Bola pejal terhadap bagian dalam permukaan dari
silinder sirkular koaksial; bola pejal dilihat dari
silinder.
R
=
rla
_1
L-
Jt + R'
509# Bola pejal terhadap kerucut koaksial.
S=s/rr, R=rr/r,
untuktrl
>
sin-1
_ ,[_
F.
^
=
-l
I
'-z
2l
1+S +RcotQ
s +1
LAMPIRAN 463
51
A
e e do 5'6*
_.4
Bidang tidak
l-_
11
^ -
?.;
,H-l
terbatas
1[.o,-'
.I
barisan silinder.
trr
1.0
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
00
0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.8 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 8.0 10.0
t/R.
Gambar D-1
View factor between parallel, coaxial disks of uncqual radius
(Configuration 40).
R,
=
rr/ a Rr= rr/ a
/6
'5
-/ 4
I!
t/ /
J
'2'.5
tt /
II I
l.u
I tt I I
tt I 5-
tt /
tt I
7.25
_,-
tt I I
tt I I
1.U
tt I tt 0.8
tt I I
/t /
// / t/ 0.6
/ /t 0.5
0.4
*
4ffi
0.3
464 LAMPIRAN
0.9
0.8
0.7
0.6
10.5
ti
0.4
0.3
n,
0.1
0
X
Gambar D-2
View factor between
parallel, directly opposed rectangles
(Configuration 38).
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0.4 0.5 0.6 0.8 1.0
H
2.0 3.0
,1.0
5.0 6.0 8.0 10.0
Gambar D-3
View factor between
(Configuration 39).
X=n/c
Y
=b/c
perpendicular rectangles with common edge
fturnilG Pmuils
Raldi %rtono
(Xoesloer
adalah dosen program 51 dan 52 di
jurusan Teknik Mesin, Universitas Indonesia dengan mata kuliah
Perpindahan Kalor Dasar, Pengukuran Teknik, Metodologi Penelitian,
Transport Phenomena, serta Boiling dan Kondensasi. Di samping itu,
penulis adalah juga anggota juri untuk disertasi Ph.D Universitas
Hasanuddin (1988), Institut Teknologi Bandung (1994),dan Universitas
Indonesia (1988). Penulis juga mengepalai beberapa organisasi dan tim
penelitian, antara lain seperti Ketua Himpunan Ahli Perpindahan Kalor
Indonesia (HAPKD (1994-sekarang), Kepala Laboratorium Perpindahan
Kalor
Jurusan
FTUI (1994-sekarang), Kepala tim riset Thermal Boundary
Layer (kerja sama dengan Toray Science Foundation
Jepang),
(1989-7990),dan anggota Majelis
Penelitian Perguruan Tinggi (MPPT) Direktoratlenderal Pendidikan Tinggi (1994-sekarang).
Selama perjalanan kariernya, Penuiis aktif dalam berbagai penelitian. Beberapa
karyanya telah dipublikasikan di berbagai jurnal dan procedding daiam dan luar negeri.
Selain itu, ada pula beberapa buku yang pernah dihasilkan, seperti PengukuranTeknik (7997)
dan Perpindahan Kalor secara Radiasi (1997). Selain itu, Penulis juga menjadi pembicara seminar,
antara lain di KIPNAS IV (1986), Pusat Antar-Universitas Heat and Mass Transfer (7987,
1988,1990,1991, dan 1997) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, CAFEo-Conference of
AseanFederation of EngineeringOrganizationdiSingapura (1993), Brunei Darussalarr.(1994),
Thailand (1995), Malaysia (1996), Technische Universitat Chemnitz-Zwickau.
Jerman
(7996),
Trabzon International Energy and Environtment Symposium, Thailand (7995),dan American
Society of Mechanical Engineering (ASME) di Boston, Amerika (1995).
Penulis memiliki beberapa keahlian, antara lain pengembangan aplikasi metode
numerik dalam perpindahan kalor, computer aided design pada heat exchanger, tubular,
penelitian teknologi konversi gas (manajemen riset), dan pengembangan sofware pada piate
heat exchanger, serta peneltian boiling dan kondensasi. Beberapa prestasi pernah ya.tg
diraihnya, antara lain juara I11 kompetisi peneliti Universitas Indonesia di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi tahun 1989 dan juara ll peneliti terbaik Universitas Indonesia di
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tahun 1990.
465
A
Absorpsi, 203
Absorpsivitas, 203
Aliran Berkembang Penuh, 57, 59
Aliran berkembang seragam, 57
Aliran fluida, 65
Aliran Turbulen, 2, 20, 65
Aliran Viskos, 1
Aluminium, 281
Analisa Bromley, 113
Analisa Mason dan Monchick,
1t2
Analisa Misic dan Thodos, 115
Angka Prandtl, 11
B
Batas butir, 137
Benda (permukaan)
transparan, 185
Benda hitam, 194
Bidang sejajar tak-berhingga, 247
Bilangan Grashof, 85
Bilangan Nusselt, 12
Bilangan Peclet, 16
Bilangan Reynolds, 2
Butir, 1,37
D
Daya emisi, 187
Directional, 187
Directional irradiasi, 198, 799
E
Emisivitas, 287
Eucken, 139
INDEX
F
Faktor Eucken, 111
Fltrks Kalor Seragam, 76
G
Gas elektron, 133
Cas monoatomik, 170, 177
Gas poliatomik, 177
Gaya apung, 85
Gaya badan (body force), 85
Caya geser-viskos, 7
Gaya tekanan pada unsur,
,1
Gaya viskos, 1
Gesek viskos, 25
Ceser viskos, 4
Cradien suhu, 8
H
Heat treatment, 136
Hemispherical, 1,87
Hemispherical irradiasi, 199
Honda, 140
Hubungan Power - Law, 130
Hukum Beer, 21,7
Hukum cosine, 194
Hukum Kirchoff, 186
Hukum Lambert, 194
Hukum Newton, 3
Hukum Perpindahan Wien, 186
Htrkum Planck, 188
Hukum thermodinamika, 186
I
Intensitas spectral, 191
Irradiasi, 198
K
Kaufman, 76
Kecepatan aliran bebas, 41
Kecepatan aliran massa, 41
Koefisien seret, 24
Konduksi, 275
Konduksi Kalor Aksial, 77
Konduktivitas kalor, 134
Konduktivitas kalor pusaran
(eddy thermal conducti), 2
Konveksi, 275
Konveksi alamiah, 85
Konveksi bebas, 85
Konveksi Paksa Rotasi, 102
L
Laju aliran massa total, 42
Laminar (laminar sublayer), 2
Lapisan batas kalor (thermal
boundary layer), 8
Lapisan buffer (buffer layer), 2
Lapisan fluida, 1
Logam kristalin, 137
M
Metode aproksimasi, 5
Metode Empiris Brokaw, 127, 764
Metode Lenoir, L27
Metode Missenard, 126
Metode perkiraan Roy -
Thodos, 115
Metode Robbins dan Kingrea, 124
Metode Sado dan Riedel, 126
468 PERPINDAHAN KALOR
Modifikasi Linsay dan
Bromley, 120
Modifikasi Mason dan
Saxena, 120
N
Neraca energi menyeluruh, 273
Nilai kondukt\vitas, 276
P
Palmer, 140
Panjang masuk hidrodinamik, 57
Pemantulan diffuse, 206
Pemantulan specular, 206
Perisai radiasi (radiation
shield), 241
Permukaan kelabu, 191
Permukaan semi transparan, 185
Persamaan Azer dan Chao 76, 77
Persamaan Bromley, 114
Persamaan Colbum, 67
Persamaan Dittus-Boelter, 67
Persamaan Eucken, 112
Persamaan Filippov, 129
Persamaan
]amieson,
130
Persamaan
]amieson
dan
Tudhope, 130
Persamaan Li, 130
Persamaan Lubarsky, 76
Persamaan Lubarsky dan
Kaufman, 76
Persamaan Missenard, 128
Persamaan Notter dan
Sleicher, 76, 77
Persamaan Notter-Sleicher, 69
Persamaan Nusselt, 69
Persamaan Petukhov, 68
Persamaan Seban dan
Shimazaki, 77
Persamaan Sieder-Tate, 68
Persamaan Skupinsky, 76
Persamaan Sleicher danTribus, 77
Persamaan Wassiljewa, 119
Photon (kuantum), 184
Powell, 140
R
Radiasi, 1,83, 275, 287
Radiasi elektromagnet, 184, 287
Radiositas, 210
Refleksi hamburan, 288
Refleksi specular, 288
Refleksivitas, 288
S
Seng, 281
Seret bentuk (form drag), 24
Seret tekanan (pressure drag),
Simidu, 139, 1,40
Smith, 140
Spectral, 187, 198
Spectral, radiositas, 210
Struktur Mikro, 144
Struktur phase, 144
T
Tembaga, 281
Temperatur, 144
Total, L87
Transmisi ditusi, 263
Transmisi spekular, 263
Transmisivitas, 208, 288
Tudhope, 130
V
Viskositas pusaran (eddy
viscosity), 2
Von Karman, 5
24