Anda di halaman 1dari 3

Unifikasi Hukum Waris Nasional

LATAR BELAKANG
Pemikiran ke arah perlunya suatu pengaturan mengenai Hukum Waris Nasional telah dimulai
sejak tahun 1960 sebagai mana dinyatakan dalam ketetapan MPRS no.II/1960 agar supaya
ada undang-undang mengenai Hukum Waris. Persoalan ini kemudian dikembangkan pula
sebagai salah satu topik pembahasan Seminar hukum Nasional 1 tahun 1963. Seminar
tersebut telah berhasil merumuskan beberapa kesepakatan berkenaan dengan Hukum Waris
Nasional antara laintentang perlu mengadakan kodifikasi dan untuk unifikasi hukum
kewarisan.
Di bidang hukum waris, kenyataan menunjukan adanya perbedaan antara daerah Hukum
Adat yang satu dengan lainnya, kaitannya yang erat dengan sistem kekeluargaan (patrilineal,
matrilineal dan parental), jenis dan status harta yang akan diwariskan.
Sedangkan Hukum Islam sepanjang menyangkut dalil-dalil yang pasti tidak diragukan lagi
kebenrannya walaupun masih kurang pemahaman tentang hal tersebut. Tetapi yang
berkenaan soal-soal itjihad masih banyak didasarkan pada penafsiran lama yang kurang
cocok dengan keadaan di negara kita sekarang sehingga melahirkan praktek yang
kelihatannya seakan-akan umat islam tidak melaksanakan hukum waris islam sebagaimana
mestinya.
Perbedaan yang terdapat pada masing-masing hukum tersebut terdapat dalam kaidah-kaidah
hukum yang berkenaan dengan kedudukan anak angkat sebagai ahli waris, penggantian
tempat dalam warisan, kedudukan janda, cara dan ketentuan pembagian waris, serta sifat
kekeluargaan yang melandasi proses pewarisan dimaksud.
Perbedaan tersebut tidaklah perlu untuk ditonjolkan akan tetapi harus diperkembangkan
sedemikian rupa sehingga dapat mempertemukan titik-titik persamaan antara satu dengan
yang lainnya melalui penetepan asas-asas Hukum Waris, baik yang diambil dari Hukum
Islam, hukum Adat, maupun Hukum Barat untuk dirumuskan menjadi Hukum waris
Nasional. Sehingga dengan demikian hukum-hukum dimaksudkan menjadi bahan baku yang
penting bagi Hukum Waris Nasional.
Hukum Waris yang akan dibentuk nanti seberapa mungkin harus dapat diseragamkan dengan
menuangkannya ke dalam kodifikasi hukum waris yang bersifat unifikasi yaitu dalam hal-hal
yang menyangkut masalah formalitas dan segi administrasi yang bersifat netral.
Untuk hal-hal yang tidak memungkinkan untuk diseragamkan, tetap dibiarkan apa adanya
sekarang dengan tetap memperlakukan Hukum Adaat dan Hukum agamanya masing-masing
sesuai dengan apa yang telah dilakukan dengan UU No.1/1974 tentang perkawinan.
Segi-segi yang diseragamkan guna diatur dalam Hukum Waris Nasional adalah berkenaan
dengan :
1. Pengertian mengenai pewarisan
2. Pengertian mengenai pewaris, ahli waris, baik ahli waris menurut hukum maupun ahli
waris berdasarkan surat wasiat.
3. Pengertian mengenai surat wasiat
4. Tatacara pembuatan surat wasiat
5. Kecakapan untuk membuat surat wasiat.
6. Pengertian tentang hibah wasiat dan penetapan ahli waris.
7. Pengertian tentang pembatasan kewenangan pewaris untuk membuat wasiat dalam
kaitannya dengan legitime Portie.
8. Pelaksana Wasiat, wewenang dan tugasnya.

Asas-asas hukum yang perlu diperhatikan dalam penyusunan Hukum Waris Nasional ini
adalah sebagai berikut :
1. Hukum Waris adalah berdasarkan asas parental/bilateral
2. Dimungkinkan adanya penggantian waris dalam hal ahli waris meninggal lebih
dahulu dari si pewaris.
3. Adanya kemungkinan untuk saling mewaris antara suami dan isteri.
4. Ditetapkan pembagian yang adil dan seimbang antara pihak laki-laki dan wanita
sebagai ahli waris.
5. Anak angkat berhak untuk meneruskan waris dari orang tua angkatnya, kecuali bagi
mereka yang beragama Islam. Anak angkat dapat menerima sebagian harta orang tua
angkatnya melalui hibah atau wasiat.
6. Ahli waris bertanggung jawab atas hutang Pewaris sampai batas jumlah harta
peninggalan.
7. Pembagian waris dapat dimungkinkan untuk dilakukan setiap saat bilamana para ahli
waris menghendakinya.
8. Anak yang masih dalam kandungan dan lahir hidup diakui haknya untuk menerima
warisan.
9. Hak waris menjadi hilang karena telah melakukan pembunuhan terhadap pewaris.
10. Perlu diatur hak waris dari anak yang lahir diluar kawin.