Anda di halaman 1dari 7

DEFINISI KEJAKSAAN

Kejaksaan R.I. adalah lembaga negara yang melaksanakan kekuasaan negara, khususnya di
bidang penuntutan. Sebagai badan yang berwenang dalam penegakan hukum dan keadilan,
Kejaksaan dipimpin oleh Jaksa Agung yang dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada
Presiden. Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi, dan Kejaksaan Negeri merupakan kekuasaan
negara khususnya dibidang penuntutan, dimana semuanya merupakan satu kesatuan yang
utuh yang tidak dapat dipisahkan.
Mengacu pada Undang-Undang No. 16 Tahun 2004 yang menggantikan UU No. 5 Tahun
1991 tentang Kejaksaan R.I., Kejaksaan sebagai salah satu lembaga penegak hukum dituntut
untuk lebih berperan dalam menegakkan supremasi hukum, perlindungan kepentingan umum,
penegakan hak asasi manusia, serta pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
Di dalam UU Kejaksaan yang baru ini, Kejaksaan RI sebagai lembaga negara yang
melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan harus melaksanakan fungsi, tugas, dan
wewenangnya secara merdeka, terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh
kekuasaan lainnya (Pasal 2 ayat 2 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004).
Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, Kejaksaan dipimpin oleh Jaksa Agung yang
membawahi enam Jaksa Agung Muda serta 31 Kepala Kejaksaan Tinggi pada tiap provinsi.
UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia juga mengisyaratkan bahwa
lembaga Kejaksaan berada pada posisi sentral dengan peran strategis dalam pemantapan
ketahanan bangsa. Karena Kejaksaan berada di poros dan menjadi filter antara proses
penyidikan dan proses pemeriksaan di persidangan serta juga sebagai pelaksana penetapan
dan keputusan pengadilan. Sehingga, Lembaga Kejaksaan sebagai pengendali proses perkara
(Dominus Litis), karena hanya institusi Kejaksaan yang dapat menentukan apakah suatu
kasus dapat diajukan ke Pengadilan atau tidak berdasarkan alat bukti yang sah menurut
Hukum Acara Pidana.
Pada Masa Hindia Belanda
Pada Masa hindia Belanda, badan-badan yang ada relevansinya dengan Jaksa dan
kejaksaan antara lain adalah Pengadilan Negeri (Landraad). Pengadilan Negeri ini adalah
pengadilan sehari-hari bagi penduduk Bumiputera atau yang dipersamakan baik dalam
perkara sipil (perdata) maupun pidaana. Pengadilan justusu (raad van Justitie) adalah
pengadilan sehari-hari bagi golongan eropa dan merupakan pengadilan banding bagi
landraad. Pengadilan Justisi ini juga berwenang untuk memutuskan perselisihan wewenang
untuk mengadili (jusrisdictie geschillen). Mahkamah Agung adalah pengadilan tertinggi yang
mempunyai wewenang antara lain mengadili perkara banding dari perkara-perkara yang
diputus raad van justitie, memutus perkara-perkara yang diminta kasasi dan memutus dalam
tingkat pertama dan terakhir perkara-perkara yang termasuk golongan forum privilegiatum,
seperti para pejabat tinggi tertentu dan para Sultan Serta perselisihan-perselisihan wewenang
mengadili jurisdictie geschillen antara pengadilan-pengadilan tingkat bandung, antara
pengadilan sipil dan militer dan antara pengadilan swapraja.
1

Dalam ketiga jenis peradilan tersebut ada pegwai-pegawai yang diberi wewenang selaku
pengemban tugas dari suatu lembaga (badan atau dinas) negara yang dinamaka Openbaar
Ministerie yang mempunyai tugas pokok antara lain:
1. Mepertahankan segala peraturan negara
2. Melakukan penuntutan segala tindak pidana
3. Melaksanakan putusan pengadilan pidana yang berwenang

Pada masa pemerintahan hindia belanda, kejaksaan lebih terlihat sebagai perpanjangan
tangan penguasa penjajag negeri ini pada saat itu, khususnya dalam menerapkan delik-delik
yang berkaitan dengan hatzaai artikelen yang terdapat dalam wetboek van strafrecht (Wvs)

Pada masa pemerintahan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang sejak tanggal 8 maret 1942 sampai 16 agustus 1945
ditetapkan 6 jenis badan perdilan umum di Jawa dan Madura, yaitu
1. Saikoo Hooin (Pengadilan Agung atau Mahkamah Agung)
2. Kootoo Hooin (Pengadilan tinggi)
3. Tihoo Hooin ( Pengadilan tinggi)
4. Keizai Hooin (pengadilan kepolisian)
5. Ken hooin (pengadilan kabupaten)
6. Gun Hooin (pengadilan kawedanaan)

Pada masa pemerintahan Jepang digariskan bahwa kejaksaan diberi kekuasaan untuk
1. Mencari (menyidik) kejahatan dan pelanggaran
2. Menuntut perkara
3. Menjalankan putusa pengadilan dalam perkara kriminal
4. Mengurus pekerjaan lain-lain yang wajib dilakukan menurut hukum.


1
Padmo Wahjono, Indonesia Negara berdasarkan atas Hukum, Ghalia Indonesia, jakarta, 1986.
Dengan demikian penyidikan menjadi salah satu tugas umum kejaksaan sejak dari
Tihoo kensatsu kyoku hingga kootoo kensatsu dan saiko kensatsu kyoku.
Selain melakukan perbuahan dalam jenis badan peradilan, pihak Jepang juga mengubah alat
penuntut umumnya. Magistraat dan officier van justitie ditiadakan. Tugas dan wewenang
mereka dibebankan kepada penuntut umum Bumiputera (Jaksa) dibawah pengawasan Kepala
kantor kejaksaan bersangkutan, seorang jaksa Jepang. Dengan demikian, jaksa menjadi satu-
satunya penuntut umum.

Seluruh kejaksaan mula-mula ada dibawah perintah dan koordinasi Sihoobucoo
)Direktur departemen kehakiman) dan kemudian Cianbucoo (direktur keamanan) yang untuk
tingkat pusat ada di gunseikanbu dan untuk tingkat daerah di kantor-kantor karesidenan
(syuu). Dengan demikian, jaksa di daerah tidak lagi diperintah langsung oleh residen, tetapi
melalui para kepala kejaksaan pengadilan setempat yang bertanggung jawab kepada direktur
keamanan (cianbucco)

Masa refolusi fisik

Kedudukan kejaksan republik indonesia dalam sistem ketatanegaraan dapat dilihat
sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan negara indonesia melalui beberapa fase.
Pada masa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnyapada tanggal 19 agustus 1945, Rapat
panitia persiapan kemerdekaan memutuskan mengenai kedudukan kejaksaan dalam struktur
Negara Republik Indonesia dalam lingkungan Departemen Kehakiman. Secara Yuridus
formal Kejaksaan Republik Indonesia sudah ada sejak kemerdekaan Indonesia
diproklamasikan.
Kedudukan kejaksaan dalam struktur kenegearaan negara Republik Indonesia adalah
selaku alat kekuasaan eksekutif dalam bidang yustisial yang sudah berakar sejak zaman
kerejaan maajapahit, matram, cirebon serta zaman penjajahan.
Istilah kejaksaan dipergunakan secara resmi oleh Undang-undang balantentara
pendudukan Jepang No.1 Tahun 1942, yang kemudian diganti oleh Osamu Seirei No.3 Tahun
1942, no 2 Tahun 1944, dan no 49 thun 1944. Peraturan tersebut tetap dipergunakan dalam
Negara Republik Indonesia Proklamasi berdasarkan pasal II Aturan Peralihan UUD 1945
yang diperkuat oleh peraturan Pemerintahan no 2 Tahun 1945.
Berdasarkan Pasal II aturan peralihan UUD 1945 jo PP No.2 Taahun 1945, ketentuan
yang digarskan oleh Osamu Seirei No.3 Tahun 1942 menegaskan bahwa Jaksa yang menjadi
satu-satunya pejabat penuntut umum tetap berlaku di Negara Republik Indonesia Proklamasi.

Masa Periode Konstitusi RI Serikat (1949-1950)
Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS) (27 Desember 1949-17 Agustus 1950), Sejak
bulan Januari 1950, Jaksa Agung RIS telah aktif menjalankan tugasnya, walaupun perihal
Jaksa Agung baru diatur kemudia dalam KRIS dan dalam Undang-Undang no.1 tahun 1950
tentang susunan dan kekuasaan serta jalannya peradilan Mahkamah Agung Indonesia
Undang-undang Mahkamah Agung (UUMA).
Sesuai dengan susunan kenegaraan RIS sebagai negara federal yang komponennya
terdiri dari alat-alat perlengkapan negara tingkat pusat (federal) dan tingkat daerah bagian,
maka struktur organisasi Kejaksaan terdiri dari Kejaksaan Tingkat Pusat dan Tingkat Daerah-
daerah bagian.

Masa Demokrasi Parlementer (1950-1959)
Pada masa republik Indonesia (17 Agustus 1950-5 Juli 1959), kedudukan kejaksaan sama
seperti pada masa RIS, yaitu masuk dalam struktur Departemen kehakiman. Sesuai dengan
statusnya dalam Negara Kesatuan, wewenang jaksa Agung, yang diantara lain tertera dalam
Pasal 156 ayat 2, 157 ayat 1 dan pasal 158 ayat 3 KRIS serta pasal 22 ayat 2 dan pasal 31
ayat 1 UUMA, tidak berlaku bagi jaksa agung pada Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Dengan berdirinya Negara kesatuan RI, Kejaksaan Agung dari bekas Negara Bagian
Republik Indonesia semestinya bubar dan tidak berfungsi lagi. Namun tidak demikian
kenyataannya. Kejaksaan Agung di bekas negara Bagian Republik Indonesia tidak jelas
kapan dibubarkan, namun menurut surat Jaksa Agung Tanggal 28 Feburuari 1951 dapat
diketahui bahwa Kejaksaan Agung tersebut masih ada kendatipun pekerjaan yang
diperbolehkan untuk ditangani hanya kasus-kasus lama yang belum terselesaikan dan bukan
pekerjaan baru.

Masa demokrasi terpimpin (1959-1965)
Pada masa setelah Dekrit Presiden (5 Juli 1959-11 Maret 1966) terjadi perubahan dalam
status kejaksaan dari lembaga nondepartemen di bawah Departemen Keham=kiman menjadi
lembaga yang berdiri sendiri, yang dilandaskan pada Putusan Kabinet Kerja 1 tanggal 22 Juli
1960, yang kemudian diperkuat dengan keputusan Presiden no 204 tahun 1960 Tanggal 15
Agustus 1960 yang berlaku surut terhitung mulai tanggal 22 Juli 1960. Peristiwa ini didahului
dengan berubahnya kedudukan Jaksa Agung dari pegwai tinggi Departemen Kehakiman
menjadi Menteri ex oFficio dalam kabinet kerja 1 dan kemudian Menteri dalam Kabinet kerja
II, III, dan IV Kabinet Dwikora dan kabinet Dwikora yang disempurnakan, yang merupakan
Jaksa Agung pertama yang menyandang status Menteri, Walaupun hanya menteri ex officio.

Masa Orde baru (1966-1998)
Pada masa orde baru, kejaksaan selain mengaalami beberapa perubahan dalam kekuasaannya
juga mengalami beberapa kali perubahan pimpinan, organisasi dan tata kerjanya.
Perubahan pimpinan pertama kali terjadi pada tanggal 27 Maret 1966 dengan
digantinya Menteri/Jaksa Agung Sutardhio oleh brigjen. Sugih Arto.
Pembaruan mengenai pokok-pokok organisasi kementerian Kejaksaan :
1. Menteri/jaksa agung memimpin langsung kementerian kejaksaan dengan dibantu oleh
tiga orang Deputi Menteri/Jaksa Agung, masing-masing dalam bidang-bidang
intelijen/operasi khusus dan pembinaan dan seorang pengawas umum (inspektur
jendral).
2. Ketia deputi dan pengawas umum dalam melaksanakan tugasnya dipimpin dan
dikoordinasikan oleh menteri/jaksa Agung.
3. Dibawah para Deputi ada direktorat-direktorat, bagian, biro dan seksi, sedangkan di
bawah pengawasan umum hanya ada inspektorat-inspektorat.
Masa orde Reformasi (1998-sekarang)
Pada masa orde reformasi, selain terjadi 6 (enam) kali pergantian Jaksa Agung dala satu
periode dan juga penambahan fungsi yang berkaitan dengan tugas dan wewenang, Jaksa
Agung diberi lagi kewenangan melakukan penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran
HAM dengan keluarnya Undang-Undang No.26 tahun 1999 tentang peradilan Hak Asasi
Manusia. Disamping itu, pengurangan terhadap tugas dan kewenangan penyidikan dan
penuntutan berkaitan dengan tindak pidana koruosi dengan dibentuknya Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) pada tanggal 29 Desember 2003 berdasarkan
Keppres no 266/M/2003 yang merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang no 20 tahun
2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Tugas dan Wewenang Kejaksaan RI sebagai berikut:
2

1. Mengembangkan budaya hukum melalui penciptaan kesadaran hukum dan kepatuhan
hukum dalam kerangka supremasi hukum dan kepatuhan hukum dalam kerangka
supremasi hukum.
2. Menegakan hukum secara konsisten yang berkeadilan, berkepastian hukum dan
berkemanfaatan
3. Mewujudkan peradilan yang mandiri dan bebas
4. Menyelenggarakan prosesn peradilan yang cepat, mudah, murah dan terbuka serta
bebas KKN
5. Menyelesaikan pelanggaran hukum dan HAM yang belum ditangani secara tuntas.

Kedudukan Kejaksaan RI

Menurut pasal 24 ayat 1 UUD 1945
3
, ditegaskan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh
sebuah Mahkamah Agung dan badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan
kehakiman. Undang-undang RI no 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia
pasal 2 menegaskan bahwa:
4

1. Kejaksaan Republik Indonesia yang selanjutnya dalam Undang-undang ini disebut
kejaksaan adalah lembaga pemerintah yang melaksanakan kekuasaan negara di
bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang.
2. Kekuasaan negara sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilaksanakan secara merdeka
3. Kejaksaan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 adalah satu dan tidak terpisahkan.

Permasalahan Antar Lembaga Negara kejaksaan dengan Polisi :
5

Koordinasi berkas perkara antara Kejaksaan dan penyidik Kepolisian pada tahap
prapenuntutan.
Pertanggungjawaban penguasaan penahanan antara Kejaksaan dan Pengadilan terhadap
status pengalihan penahanan selama pemeriksaan di persidangan dan peralihan pada saat
pelimpahan berkas perkara ke pengadilan.

2
DR.Marwan Effendy, S.H Kejaksaan, Posisi dan fungsinya dari perspektif hukum halaman 111
3
UUD 1945 Republik Indonesia
4
Undang-undang RI no 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia
5
http://www.kejaksaan.go.id/unit_kejaksaan.php?idu=28&idsu=35&idke=0&hal=1&id=54&bc= diunggah pada
tanggal 26 Pebruari pada pukul 15.40 WIB
Dualisme kewenangan penuntutan antara Kejaksaan dan KPK terhadap perkara tindak
pidana korupsi.
Bahwa permasalahan tersebut terjadi karena masih adanya tumpang tindih konsepsi yang
berhubungan dengan tugas dan kewenangan Kejaksaan yaitu:
Sistem peradilan pidana terpadu yang dianut dalam KUHAP menimbulkan permasalahan
sehubungan dengan kewenangan penuntutan Kejaksaan dan subsistem penegakan hukum
lainnya yaitu Kepolisian dalam hal penyidikan dan Pengadilan dalam proses peradilan.
Kedudukan Kejaksaan dalam konteks hukum nasional berdasarkan Undang-Undang No. 16
Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI menempatkan lembaga ini berada di lingkungan eksekutif
yang menyebabkan Kejaksaan tidak mandiri dan independen.
Pengurangan dan pembatasan kewenangan oleh Undang-undang, baik di bidang penyidikan
maupun dalam bidang penuntutan. Hal ini dapat dilihat dengan terbentuknya Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi berdasarkan Keppres No 266/M/2003 sebagai tindak
lanjut Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 yang memiliki kewenangan yang demikian besar,
berdampak terhadap struktur ketatanegaraan yang semakin membengkak, yang
mengesampingkan asas dominus litis (sebagai pengendali proses perkara) dan prinsip een
on deelbaar (Kejaksaan satu dan tidak terpisah-pisah).