Anda di halaman 1dari 3

Recycle Aluminium

Aluminium adalah salah satu unsur paling banyak di dunia dan merupakan logam terbanyak
digunakan kedua di dunia. Aluminium banyak digunakan pada bidang transportasi, makanan dan obat-
obatan, kemasan, konstruksi, dan dalam bidang elektronik. Aluminium biasanya dihasilkan dari
pengolahan bijih bauksit melalui proses bayer dan hall heroult. Selain itu, aluminium juga dapat
dihasilkan dari scrap atau limbah. Sebanyak 33% aluminium yang dihasilkan di AS merupakan hasil dari
recycle aluminium scrap. beberapa alasan mengapa dilakukan proses recycle aluminium dari scrap
antara lain:
Aluminium 100% dapat direcycle dan tidak mengalami pengurangan sifat dan kualitas selama
proses recycle berlangsung.
Aluminium hanya membutuhkan 5% energy yang dibutuhkan untuk membuat aluminium primer
(dari bijih bauksit)
Aluminum tidak mengalami degradasi struktur logamnya karena struktur atomnya tidak berubah
selama pelelehan sehingga dapat direcycle berulang kali
Recycle aluminium dari scrap dapat menghemat penggunaan sumber daya alam
Ramah lingkungan karena selain mengurangi jumlah barang-barang yang tidak terpakai juga
dapat mengurangi emisi gas karbon dioksida yang dihasilkan dari proses hall heroult.
Scrap dapat dibedakan menjadi dua yaitu new scrap dan old scrap. New scrap adalah scrap
yang dihasilkan dari proses ekstraksi dan casting yaitu skimming dan dross, sisa-sisa material hasil
machining, dan bahan-bahan lain yang tidak terpakai yang dihasilkan dari tahap produksi. Sedangkan old
scrap adalah scrap yang berasal dari produk-produk aluminium yang telah digunakan dan sudah tidak
terpakai. Baik new scrap dan old scrap merupakan bahan baku untuk proses recycle aluminium.


Gambar.1. Diagram Alir Proses Produksi Aluminium
Tahap-tahap recycle Al antara lain :
1) Pengumpulan scrap
Scrap dikumpulkan dari bekas barang-barang sehari-hari maupun dari hasil sampingan ekstraksi
aluminium.
2) Treatment
Segala material ikutan pada scrap dibersihkan dan dikelompokkan menurut kandungan
paduannya terutama untuk hasil akhir berupa produk wrought alloy. Dari proses pemisahan ini
bisa terjadi kehilangan aluminium 2% 10%. Scrap yang telah dibersihkan kemudian dicacah
atau dipadatkan agar dapat lebih mudah dalam proses handling, lalu dikelompokkan kembali
menurut kandungan alloynya. Pemisahan aluminium dengan unsure Fe dapat dilakukan dengan
magnetic separation, atau jika scrapnya berukuran besar seperti blok mesin maka scrap tersebut
difragmentasi lalu dilakukan pemisahan Fe secara termal dengan memasukkannya ke dalam
furnace. Cara lain untuk memisahkan aluminium dengan material ikutannya adalah berdasarkan
massa jenis dan konduktivitasnya. Material non-logam juga dapat dipisahkan dengan cara
diuapkan.
3) Melting
Pemilihan furnace yang tepat ditentukan berdasarkan kandungan oksida dan kandungan
material lainnya (contoh : zat organic), geometri scrap (rasio massa : luas permukaan), dan
kondisi operasinya. Jenis furnace yang dapat digunakan antara lain dry hearth, closed-well,
electric induction, rotary furnace, atau tilting furnace. Yang paling sering digunakan adalah jenis
rotary furnace. Furnace memiliki regenerative burner yang dapat mengurangi jumlah energy
yang dibutuhkan dan mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan. Furnace juga dilengkapi
dengan jet stirrer yang dapat menjaga temperature dan komposisi dengan cara mengatur
sirkulasi dalam furnace. Ke dalam furnace juga dimasukkan salt yang berguna untuk mengurangi
terbentuknya oksida ketika proses sebagai hasil dari reaksi antara aluminium dengan oksigen di
udara.
4) Refining
Logam cair hasil dari melting furnace dimasukkan ke dalam holding furnace untuk dilakukan
proses refining dengan refining agents. Contohnya klor untuk menghilangkan unsure Ca dan Mg,
dan dengan proses degassing.
5) Casting
Logam cair yang telah direfining kemudian dicasting menjadi bentuk ingot (4 25 kg). aluminium
oksida yang terperangkap juga dapat disaring keluar pada proses casting. Saat logam mengalir
ke dalam cetakan, logam tersebut didinginkan dengan jet cooling water di sekeliling dan di dasar
cetakan. Aluminium ingot tersolidifikasi secara bertahap selama kurang lebih 3 jam. Selain itu,
produk aluminium bisa berbentuk wrought alloy, logam cair dimasukkan ke billet dan rolling
slab.

Sebanyak lebih dari 70% produk aluminum casting digunakan untuk mobil, contohnya untuk cylinder
head, blok mesin, piston, gearbox, tempat duduk, dan sebagainya. Selain itu, aluminium banyak
digunakan dalam bidang elektronik, konsumsi sehari-hari dan konstruksi.

Gambar.2. Persentase Penggunaan Casting Alloy dan Wrought Alloy di Eropa Barat

Penggunaan aluminium dalam kehidupan sehari-hari dapat ditemukan di mesin cuci, eskalator,
dan peralatan elektronik. Untuk produk wrought alloy seperti foil, sheet, dan extrusion dapat ditemukan
di atap dan tirai dinding pada bangunan, kemasan makanan dan obat-obatan, kaleng minuman, jendela,
pintu, truk trailer, kereta, dan body mobil.


Referensi :
http://www.oea-alurecycling.org/de/verband/oea_eaa_aluminium_recycling.pdf
http://www.ecomena.org/recycling-aluminium/
http://www.novelis.com/en-us/Pages/The-Recycling-Process.aspx